• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Ekonomi Pengembangan Domba Garut Berbasis Daya Dukung Pakan Hijauan di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Ekonomi Pengembangan Domba Garut Berbasis Daya Dukung Pakan Hijauan di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EKONOMI PENGEMBANGAN DOMBA GARUT

BERBASIS DAYA DUKUNG PAKAN HIJAUAN

DI KECAMATAN CIKAJANG KABUPATEN GARUT

AULIA PUTRI ADHNIEY

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Ekonomi Pengembangan Domba Garut Berbasis Daya Dukung Pakan Hijauan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

AULIA PUTRI ADHNIEY. Analisis Ekonomi Pengembangan Domba Garut Berbasis Daya Dukung Pakan Hijauan di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut. Dibimbing oleh RIZAL BAHTIAR.

Kecamatan Cikajang merupakan salah satu daerah sentra peternakan domba Garut di Kabupaten Garut. Untuk mengembangkan usahaternak domba secara optimal diperlukan perhitunga kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia (KPPTR) menggunakan metode Nell dan Rollinson 1974. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa di Kecamatan Cikajang telah terjadi over populasi sebesar 4 264.01 ST sehingga untuk memenuhi hijauan pakan ternak (HMT) peternak mencari hijauan dari luar kecamatan dan melakukan subtitusi pakan. Usaha yang dijalankan peternak di Kecamatan Cikajang masih skala peternakan rakyat sehingga dalam perhitungan kelayakan usaha menggunakan analisis pendapatan mengalami kerugian sebesar Rp 8 143 164.81. Oleh karena itu, karya ilmiah ini dibuat untuk memberikan rekomendasi dalam pengembangan usahan ternak domba Garut agar usaha layak. Hasil penelitian menggunakan analisis biaya manfaat menunjukkan bahwa pengembangan usaha baik menggunakan modal sendiri maupun dana pinjaman dalam jangka waktu 10 tahun layak untuk digunakan. Hasil analisis menunjukkan penggunaan modal sendiri (5.57%) nilai NPV sebesar Rp 86 541 955.96, Net B/C sebesar 3.37, IRR sebesar 26.21% dan payback period selama 17 bulan. Sedangkan menggunakan modal pinjaman (12%) NPV sebesar Rp 47 258 120.28, Net B/C sebesar 2.58, IRR sebesar 18.96% dan payback period selama 16 bulan.

Kata kunci: domba Garut, preferensi, kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia (KPPTR), analisis pendapatan (R/C), analisis biaya manfaat (ABM)

Garut known as sheep farm centers. One of sheep farm centers in Garut is District of Cikajang. The increament capacity of ruminant livestock population (KPPTR) showed that Cikajang thread over population by 4 264.01 AU. It meaned they have to find out another pasture to fulfilled the animal need. Their

farms maintained traditionally. By using income analys (R/C), they lost Rp 8 143 164.81. By using benefit cost analys (ABM) showed that to develop the

business take 10 years. The result of invesment (5.57%), NPV is Rp 86 541 955.96, Net B/C is 3.37, IRR is 26.21% and the payback periods is 17 months.While using capital loan (12%), NPV is Rp 47 258 120.28, Net B/C is 2.58, IRR is 18.96% and payback periods is 16 months.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

ANALISIS EKONOMI PENGEMBANGAN DOMBA GARUT

BERBASIS DAYA DUKUNG PAKAN HIJAUAN

DI KECAMATAN CIKAJANG KABUPATEN GARUT

AULIA PUTRI ADHNIEY

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

Judul Skripsi : Analisis Ekonomi Pengembangan Domba Garut Berbasis Daya Dukung Pakan Hijauan di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut Nama : Aulia Putri Adhniey

NIM : H44090011

Disetujui oleh

Rizal Bahtiar, S.Pi, M.Si Pembimbing

Diketahui oleh

Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT Ketua Departemen

(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “Analisis Kelayakan Ekonomi Pengembangan Domba Garut Berbasis Daya Dukung Pakan Hijauan di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Rizal Bahtiar, S.Pi, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan kepada penulis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Ir. Ujang Sehabudin dan Bapak Benny Osta Nababan S.Pi, M.Si selaku dosen penguji atas saran dan masukannya dalam penulisan karya ilmiah ini. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Ista dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Garut, Bapak Kanda dan para peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang yang telah membantu dalam pengumpulan data dalam penelitian. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada ayah (Suroso, S.Pd), ibu (Supriyatin, S.Pd), kakak (Rosya Satria Firdhaust, S.T) dan Moh Ali Hamdan, S.Pt yang selalu memberi dukungan dan mendampingi dalam pembuatan karya ilmiah ini serta teman-teman ESL 46 atas doa dan dukungannya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat

(10)

DAFTAR ISI

1.4 Ruang Lingkup Penelitian ... 3

II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.6 Manfaat Ekonomi Usaha Ternak Domba Garut ... 8

2.7 Penelitian Terdahulu ... 10

III KERANGKA PEMIKIRAN ... 12

IV METODE PENELITIAN ... 14

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 14

4.2 Jenis dan Sumber Data ... 14

4.3 Metode Pengumpulan Data ... 14

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 15

4.4.1 Analisis Manfaat Ekonomi ... 15

4.4.2 Analisis Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia (KPPTR) ... 16

4.4.3 Analisis Pendapatan ... 17

4.4.4 Analisis Biaya Manfaat ... 18

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 21

5.1 Keadaan Geografis Lokasi Penelitian ... 21

5.2 Kependudukan Lokasi Penelitian ... 22

5.3 Potensi Peternakan di Lokasi Penelitian ... 23

5.4 Kondisi Peternakan Domba Garut di lokasi Penelitian ... 24

5.4.1 Sistem Perkandangan Domba Garut ... 24

5.4.2 Sistem Pemeliharaan Domba Garut ... 25

5.4.3 Sistem Perkawinan Domba Garut ... 28

5.4.4 Tenaga Kerja ... ... 29

(11)

VI HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32

6.1 Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia (KPPTR) ... 32

6.1.1 Startegi Pemenuhan Kebutuhan Hijauan Ternak Domba Garut di Kecamatan Cikajang ... 34

6.1.2 Manajemen Pembukaan Lahan Budidaya Pakan Hijauan di Kecamatan Cikajang ... 35

6.2 Analisis Pendapatan Peternak Domba Garut di Kecamatan Cikajang ... 35

6.3 Analisis Kelayakan Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Domba Garut ... 37

6.3.1 Penentuan Harga Pengembangan Usaha Peternakan Domba Garut ... 38

6.3.2 Analisis Biaya dan Penerimaan Pengembangan Usaha Peternakan Domba Garut ... 38

6.3.3 Analisis Finansial Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Domba Garut ... 43

VII SIMPULAN DAN SARAN ... 45

7.1 Simpulan ... 45

7.2 Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 47

LAMPIRAN ... 49

(12)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Produksi daging Kabupaten Garut 2011 ... 2

2 Matriks metode analisis data ... 15

3 Sumber hijauan makanan ternak di Kecamatan Cikajang dan nilai konversi kesetaraan ... 16

4 Nilai Satuan Ternak (ST) ... 17

5 Penggunaan lahan di Kecamatan Cikajang ... 22

6 Mata pencaharian penduduk Kecamatan Cikajang ... 23

7 Populasi domba Garut di daerah sentra budidaya dan pembibitan domba Garut... 23

8 Jenis ternak ruminansia dan unggas di Kecamatan Cikajang ... 24

9 Curahan kerja per bulan peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang .... 30

10 Persebaran usia peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang ... 30

11 Tingkat pendidikan peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang ... 31

12 Jenis pekerjaan peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang ... 31

13 Populasi riil ternak ruminansia di Kecamatan Cikajang ... 32

14 Konversi hijauan pakan di Kecamatan Cikajang ... 33

15 Analisis Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia (KPPTR) .... 33

16 Perhitungan pendapatan rata-rata per tahun peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang tanpa memasukan upah tenaga kerja ... 36

17 Perhitungan pendapatan rata-rata per tahun peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang dengan memasukan upah tenaga kerja ... 36

18 Total peneriman dan jumlah bakalan yang dijual per tahun ... 39

19 Total peneriman dan jumlah indukan yang dijual per tahun ... 40

20 Total peneriman dan jumlah domba tidak produktif yang dijual per tahun . 40 21 Biaya investasi usaha pengembangan peternakan domba Garut ... 41

22 Biaya variabel usaha pengembangan peternakan domba Garut ... 42

23 Hasil analisis kelayakan ekonomi usaha pengembangan peternakan domba Garut... 43

24 Hasil analisis kelayakan ekonomi usaha pengembangan peternakan domba Garut... 44

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Diagram alur kerangka berfikir ... 13

2 Peta Kecamatan Cikajang ... 21

3 Pola penyediaan hijauan pakan ternak ... 26

4 Suplemen perawatan domba Garut ... 27

5 Pakan hijauan penawar cacingan dan mencret ... 28

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Peta Lokasi Penelitian ... 49

2 Kuesioner Penelitian Peternak Domba Garut ... 50 3 Perhitungan Kapasitas Pengembangan Populasi Ternak Ruminansia

(KPPTR) ... 54 4 Perhitungan Ternak Ruminansia (Domba Garut) Kekurangan Pakan

Hijauan... 55 5 Perhitungan Tambahan Hijauan yang Dibutuhkan untuk Memenuhi

Pakan Hijauan Domba Garut... 56 6 Rincian Analisis Pendapatan Rata-Rata Per Tahun Peternak Domba

Garut ... 57 7 Biaya Variabel Usaha Pengembangan Peternakan Domba Garut Selama

Umur Proyek (10 Tahun) ... 58 8 Cash Flow Usaha Pengembangan Peternakan Domba Garut

Menggunakan Modal Pribadi (5,57%) ... 59 9 Cash Flow Usaha Pengembangan Peternakan Domba Garut

Menggunakan Modal Pinjaman (12%) ... 61

(14)

1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris dengan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2011 mencapai 242 325 638 jiwa dan diperkirakan akan terjadi peningkatan setiap tahunnya (World Bank 2013)1. Meningkatnya pertumbuhan penduduk setiap tahunnya mengakibatkan permintaan kebutuhan pangan terus meningkat khususnya protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi nasional. Tingginya kebutuhan protein hewani secara tidak langsung akan meningkatkan permintaan daging pada tingkat nasional. Salah satu ternak yang mampu memenuhi kebutuhan protein hewani nasional adalah domba sehingga diperlukan peningkatan jumlah domba untuk memenuhi kebutuhan gizi nasional pada tahun-tahun berikutnya.

Populasi domba di Indonesia tahun 2007 sampai 2011 terus meningkat dari 9 514 184 ekor menjadi 11 371 630 ekor domba (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Republik Indonesia 2012). Peningkatan populasi domba tersebut tidak tersebar merata pada semua daerah sehingga hanya beberapa daerah tertentu yang berpotensi untuk dijadikan sentra usaha peternakan domba. Hal ini disebabkan iklim dan topografi pada tiap daerah berbeda-beda sehingga tidak semua daerah cocok sebagai sentra budidaya domba.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dirjen Peternakan dan Keswan Kementrian Pertanian RI (2012), populasi domba terbesar di Indonesia terdapat di Provinsi Jawa Barat yaitu sebanyak 6 768 735 ekor pada tahun 2011 dan Kabupaten Garut merupakan salah satu populasi domba terbesar di Provinsi Jawa Barat yaitu 788 582 ekor pada tahun 2011.

Tingkat konsumsi daging masyarakat di Kabupaten Garut tergolong tinggi, terlihat pada tahun 2011 tingkat produksi daging yang sering dikonsumsi masyarakat Garut mencapai 10 545 172 kg (Badan Pusat Statstik Kabupaten Garut 2012). Jenis daging yang sering dikonsumsi masyarakat Garut adalah daging

1

(15)

2

ayam, daging sapi, daging domba dan daging kambing. Adapun data produksi daging di Kabupaten Garut 2011 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Produksi daging Kabupaten Garut 2011

Jenis Ternak Produksi Daging (Kg)

Ternak Besar

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut (2012)

Hal ini menunjukkan bahwa permintaan masyarakat terhadap daging khususnya daging domba tergolong tinggi. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai peluang usaha yang berpotensi mampu meningkatkan pendapatan bagi peternak domba di Kabupaten Garut.

Pada tahun 2009 Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan Kecamatan Cikajang sebagai salah satu daerah sentra peternakan domba Garut terbesar. Namun, masih kecilnya skala usaha yang dilakukan peternak dengan sistem peternakan rakyat mengakibatkan masih rendahnya tingkat pendapatan peternak. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kelayakan usaha peternak domba Garut dan strategi yang dapat dilakukan dalam upaya pengembangan usahaternak domba Garut di Kecamatan Cikajang dengan melihat daya dukung pakan hijauan agar masyarakat yang menjalankan usahaternak domba Garut dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada seefisien mungkin sehingga memperoleh manfaat yang lebih besar.

1.2 Perumusan Masalah

(16)

3 Dalam pengembangan ternak domba Garut agar mencapai kondisi optimal perlu diketahui daya dukung hijauan pakan yang tersedia di Kecamatan Cikajang agar pemenuhan pakan ternak domba Garut tidak mengalami kekurangan. Masih sederhananya pola pemeliharaan ternak domba Garut menjadi sorotan yang penting untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha yang dijalankan dan strategi yang mampu diterapkan dalam upaya pengembangan usaha peternakan domba Garut.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1 Mengidentifikasi pengembangan ternak domba Garut di Kecamatan Cikajang berdasarkan ketersediaan hijauan pakan ternak

2 Menganalisis tingkat kelayakan usaha peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang dilihat dari pendapatan

3 Menganalisis tingkat kelayakan strategi pengembangan usaha peternakan domba Garut di Kecamatan Cikajang menggunakan analisis finansial

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Adapun ruang lingkup dan batasan-batasan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1 Objek penelitian ini adalah peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang. 2 Aspek sosial yang dibahas adalah karakteristik peternak domba Garut dan

sistem pemeliharaan domba Garut di Kecamatan Cikajang.

3 Aspek ekonomi yang dikaji adalah kelayakan usaha peternak domba Garut dan strategi pengembangan usaha peternakan domba Garut agar usaha yang dijalankan peternak tidak mengalami kerugian.

4 Umur usahaternak domba Garut adalah 10 tahun, ditentukan dari ketahanan kandang secara teknis.

(17)

4

6 Biaya yang dianalisis adalah biaya investasi dan biaya operasional. 7 Analisis kelayakan ekonomi menggunakan harga pasar.

8 Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga dipesito dan suku bunga pinjaman bank pada tahun 2012, yaitu 5.57%. dan 12% Tingkat suku bunga tersebut digunakan sebagai alternatif peternak dalam menjalankan usaha menggunakan modal sendiri atau pun modal pinjaman.

(18)

5

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Domba

Domba merupakan ruminansia kecil pemakan rumput. Perbedaan domba dengan kambing yaitu domba memiliki kelenjar di bawah mata yang menghasilkan sekresi air mata (kelenjar suborbitalis), tidak memiliki ligamen telinga sehingga tidak dapat memanjat. Di celah kuku (kelenjar intergigitalis) keluar sekresi yang berbau khas disaat berjalan, tanduk panjang melengkung dan tumbuh melingkar (Sutama 2009). Karakteristik khas dari domba adalah memiliki bulu keriting lebat yang digunakan sebagai termoregulator (pengatur suhu tubuh) pada musim dingin dan panas (Widodo 2010).

2.2 Domba Garut

Domba di Indonesia yang dikenal ada beberapa jenis. Secara umum kategori domba dapat dikelompokan menjadi dua yaitu domba ekor tipis dan ekor gemuk. Domba Garut merupakan keturunan campuran antara domba lokal ekor tipis (DET), domba kaapstad (ekor gemuk) dari Afrika Barat Daya dan domba merino dari Australia. Populasi domba ini banyak tersebar di daerah Jawa Barat khususnya di Kabupaten Garut. Domba Garut terkenal sebagai domba aduan (Sutama 2009). Ciri-ciri fisik domba Garut antara lain:

1 Badan agak besar. Domba jantan dewasa mempunyai bobot 60 sampai 80 kg, sedangkan yang betina mempunyai bobot 30 sampai 40 kg.

2 Domba jantan memiliki tanduk yang cukup besar, melengkung kearah belakang, dan ujungnya mengarah kedepan sehingga berbentuk seperti spiral. Pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu.

3 Domba betina tidak memiliki tanduk.

4 Ekornya pendek dan pangkalnya agak besar (gemuk). 5 Lehernya agak kuat.

6 Bentuk telinganya kecil dan terletak dibelakang pangkal tanduk.

7 Bulu lebih panjang dan halus jika dibandingkan dengan domba asli, berwarna putih, hitam, cokelat, atau kombinasi dari ketiga warna tersebut.

(19)

6

2.3 Hijauan Pakan

Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia sehingga dalam peningkatan produksi ternak ruminansia harus diikuti dengan penyediaan hijauan pakan yang cukup dalam jumlah maupun kualitas. Hijauan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan baik segar maupun awetan yang berasasl dari padang penggembalaan atau rumput, tegalan, pematangan serta pinggiran jalan (Syamsu et al. 2006). Sedangkan Dwiyanto et al. (2000) menyatakan bahwa hijauan pakan yang tersedia di pedesaan adalah rumput unggul, rumput lapangan dan leguminosa.

Pengembangan ternak khususnya ternak ruminansia masih tergantung pada kecukupan tersedianya pakan hijauan baik jumlah, kualitas, dan kesinambungannya sepanjang tahun. Hijauan pakan yang digunakan untuk ternak ruminansia sering mengalami kekurangan terutama musim kering dengan mutu yang rendah. Selain itu, penggunaan lahan untuk tanaman pakan masih bersaing dengan tanaman pangan karena tanaman pakan belum menjadi prioritas (Sajimin et al. 2000). Pemenuhan kebutuhan hijauan makanan ternak menjadi kendala karena sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia mengalami penurunan sekitar 30%. Hal ini dikarenakan perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanaman pangan, dan tanaman industri (Djajanegara 1999).

2.4 Pemanfaatan Limbah Ternak Domba

(20)

7 Daur ulang limbah ternak berperan dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan secara bersamaan juga meningkatkan produktivitas tanaman. Kotoran ternak mempunyai nilai pupuk (padat dan cair) yang tinggi dan mudah terdekomposisi (Susanto 2002).

Limbah ternak khususnya domba mengandung bahan organik yang dapat menyediakan zat hara bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi) dan dampak penggunaan pupuk hasil olahan limbah ternak dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (soil condotion). Dengan pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak dapat tercapai suatu konsep peternakan yang ramah lingkungan.

2.5 Usahaternak Domba

Usahaternak domba memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan usahaternak lainnya. Keuntungan tersebut antara lain, modal yang lebih rendah baik dalam pemakaian lahan maupun dalam sistem pemeliharaannya. Menurut Mulyono (2003), ditinjau dari keadaan bibit, makanan dan pengelolaan ternak, peternakan dibagi menjadi peternakan tradisional dan modern. Ciri-ciri peternakan tradisional diantaranya:

1 Tidak dilandasi pada perhitungan ekonomi 2 Hasil untuk keperluan sendiri

3 Pada umumnya berskala kecil

4 Teknologi yang digunakan tidak berkembang, bahkan bersifat statis tradisional

Sedangkan pada peternakan modern mempunyai ciri-ciri:

1 Menggunakan teknologi baru (bibit, pakan dan pengelolaan) yang dilandasi dengan penemuan ilmiah

2 Memanfaatkan prinsip-prinsip manajemen perusahaan selalu berkembang ke depan

3 Bertujuan komersil dan berorientasi ke pasar.

(21)

8

1 Badan yang relatif kecil dan pertumbuhan yang cepat sehingga tingkat reproduksi dan produksi lebih tinggi

2 Modal usaha cepat berputar karena mudahnya dalam hal pemasaran

3 Ternak domba tidak memerlukan lahan yang luas apalagi dapat dilakukan kemitraan dengan pihak pengadaan pakan

4 Tenaga kerja lebih efisien karena ternak suka bergerombol

5 Proses perkembangbiakan dapat diatur (terpola) karena induk dapat dilakukan penjadwalan estrus

Skala usaha yang dianjurkan adalah 8 sampai 12 ekor induk dengan harapan setiap kali melahirkan akan memperoleh anak sapih sekitar 12 sampai 18 ekor.

2.6 Manfaat Ekonomi Usahaternak Domba Garut

Pada umumnya peternakan domba di Indonesia berbentuk peternakan rakyat yang ditentukan oleh keterlibatan tenaga kerja keluarga (Mubyarto 1982). Peranan peternakan domba di daerah pedesaan berfungsi sebagai usahatani berupa tabungan, sumber pupuk untuk memperbaiki kesuburan tanah secara tidak langsung, dan dapat meningkatkan status kepemilikan.

Gittinger (2008), mendefinisikan proyek sebagai suatu kegiatan yang mengeluarkan uang/biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil dan yang secara logika merupakan wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan, pembiayaan, dan pelaksanaan dalam suatu unit. Proyek dapat dilihat sebagai satu kesatuan ruang/tempat dan waktu, masing-masing dengan nilai ekonomi, finansial dan dampak sosial yang tergabung dalam satu kesatuan. Pemilihan proyek sebagian didasarkan kepada indikator-indikator nilai-nilai biaya dan hasil-hasilnya. Kegiatan proyek dapat berbentuk investasi baru atau perluasan ataupun perbaikan dari proyek yang sudah ada. Suatu proyek dapat dilaksanakan oleh instansi pemerintah, badan-badan swasta atau organisasi-organisasi sosial maupun perorangan.

(22)

9 penting dari kedua analisis ini. Adapun perbedaan tersebut adalah: 1) dalam analisis ekonomi pajak dan subsidi akan diperlakukan sebagai pembayaran transfer. Sedangkan dalam analisis finansial pajak dianggap sebagai biaya dan subsidi sebagai hasil (return); 2) dalam analisis finansial harga yang biasa digunakan adalah harga pasar. Harga ini sudah memperhatikan pajak dan subsidi. Dari harga ini kita dapat memperoleh data yang dapat digunakan dalam analisis ekonomi. Akan tetapi, dalam analisis ekonomi kita boleh mengubah harga pasar sedemikian sehingga analisis kita dapat lebih mencerminkan secara tepat nilai-nilai sosial dan ekonomi. Harga yang telah disesuaikan ini disebut dengan harga bayangan (shadow price); 3) dalam analisis finansial, bunga pinjaman merupakan biaya proyek dan bunga modal dianggap sebagai manfaat atas investasi. Pada analisis ekonomi, bunga modal tidak dipisahkan atau dikurangkan dari hasil bruto (Gray et al. 2007).

Dalam analisa proyek, tujuan analisis harus disertai dengan definisi mengenai biaya-biaya dan manfaat-manfaat. Secara sederhana suatu biaya adalah segala sesuatu yang mengurangi suatu tujuan, dan suatu manfaat adalah segala sesuatu yang membantu suatu tujuan (Gittinger 2008). Dalam analisis ekonomi apa saja yang secara langsung atau tidak langsung menambah konsumsi barang-barang atau jasa-jasa sehubungan dengan proyek digolongkan sebagai benefit proyek. Sebaliknya, apa saja yang mengurangi persediaan barang-barang atau jasa-jasa konsumsi baik secara langsung maupun tidak langsung sehubungan dengan proyek digolongkan sebagai biaya proyek ( Gray et al. 2007).

(23)

10

2.7 Penelitian Terdahulu

Hardyastuti (2008) melakukan penelitian dengan judul “Strategi Pengembangan Wilayah Kabupaten Grobogan sebagai Sentra Produksi Sapi Potong”, tujuan penelitian tersebut yaitu mengetahui kapasitas peningkatan populasi ternak sapi potong dan tingkat kepemilikan sapi potong di Kabupaten Grobogan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Grobogan memiliki potensi yang cukup untuk dapat dikembangkan menjadi sebuah sentra produksi ternak. Akan tetapi terdapat kendala dalam ketersediaan sumberdaya, diantaranya sumberdaya pakan dalam penyediaan hijauan. Berdasarkan analisi KPPTR, nilai total KPPTR Kabupaten Grobogan adalah -20164,1 ST. Hal tersebut menunjukkan bahwa di Kabupaten Grobogan memiliki populasi sapi potong yang sudah terlalu banyak atau terjadi over population. Meskipun nilai total KPPTR menunjukkan nilai negatif, tetapi tidak semua wilayah di Kabupaten Grobogan memiliki nilai KPPTR negatif. Analisis KPPTR menunjukkan bahwa Kabupaten Grobogan memiliki sepuluh kecamatan yang memiliki nilai positif. Kesepuluh kecamatan ini masih memiliki potensi untuk dapat ditingkatkan populasi sapi potongnya sebesar nilai tersebut dan dapat dijadikan sebagai sentra produksi bibit ternak sapi maupun sapi siap potong.

Penelitian yang dilakukan memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian Hardyastuti (2008) dengan judul “Strategi Pengembangan Wilayah Kabupaten Grobogan sebagai Sentra Produksi Sapi Potong”. Persamaan berupa menganalisis kapasitas peningkatan populasi ternak disuatu daerah tertentu dan yang membedakan adalah pada penelitian Hardyastuti (2008) analisis dilakukan secara keseluruhan satu kabupaten, hanya ingin mengetahui jumlah kapasitas populasi di Kabupaten Grobogan menggunakan perhitungan KPPTR tidak langsung. Sedangkan pada penelitian ini, penulis melakukan analisis kapasitas peningkatan ternak dilakukan secara langsung dan lebih spesifik di Kecamatan Cikajang dengan tujuan pengaplikasian perhitungan kelayakan usahaternak berdasarkan ketersediaan pakan hijauan dinilai dengan analisis biaya dan manfaat.

(24)

11 tersebut layak secara ekonomi. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai NPV sebesar 4 180 266.575 menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh petani selama umur proyek adalah sebesar Rp 4 180 266.575 menurut nilai sekarang. IRR sebesar 229.04% artinya bahwa keuntungan bersih yang diperoleh akan bernilai nol pada tingkat suku bunga atau diskonto 299.04 % dan Net B/C sebesar 4.137 bahwa setiap pengeluaran Rp 1 akan menghasilkan penerimaan bersih sebesar Rp 4 137. Namun secara riil bahwa dengan keuntungan tersebut belum mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup petani sehari-hari dengan tanggungan keluarga umumnya sebanyak 3 sampai 5 orang.

(25)

12

III KERANGKA PEMIKIRAN

Usaha peternakan domba merupakan salah satu sektor usaha yang memiliki peluang dan potensi yang sangat besar bagi Indonesia. Salah satu faktor yang mendukung pengembangan usaha ini yaitu tersebarnya populasi domba yang hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Belum berkembangnya usahaternak ini disebabkan karena sebagian besar masih menerapkan sistem tradisional berupa peternakan rakyat dalam pengembangannya dan hampir sebagian besar peternak hanya menjadikan ternak domba sebagai usaha sampingan.

Provinsi Jawa Barat merupakan daerah dengan tingkat populasi domba terbesar di Indonesia, salah satunya yaitu di daerah Garut. Daerah ini merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan peternakan domba karena sumberdaya alam dan letak geografisnya sangat mendukung. Kondisi ini telah lama dimanfaatkan oleh warga setempat untuk membudidayakan domba hingga saat ini. Akan tetapi, pengembangan usahaternak domba di Garut belum berkembang secara optimal. Selain itu, kurangnya informasi-informasi dan masih terbatasnya ilmu pengetahuan mengenai pengembangan peternakan domba menyebabkan warga belum mampu untuk mengembangkan usahaternak domba secara optimal dan belum dikembangkannya usahaternak domba Garut di luar Jawa Barat sehingga tingkat preferensi permintaan domba Garut masih sedikit di pasaran. Untuk itu dibutuhkan analisis kelayakan usaha dan strategi pengembangan usahaternak domba yang sesuai agar pengembangan usahaternak domba dapat terlaksana dengan baik.

(26)

13

Gambar 1 Diagram alur kerangka berfikir

Analisis Manfaat Ekonomif

(27)

14

IV METODE

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat untuk pengambilan data peternak domba Garut. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2013. Namun, dalam pengambilan data di lapang dilakukan selama bulan Maret 2013.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuesioner secara intensif kepada peternak domba Garut serta observasi lapang terhadap pengambilan data sampel terhadap ternak ruminansia yang ada di Kecamatan Cikajang meliputi ternak ruminansia dewasa, muda dan anak. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut, Monografi Kecamatan Cikajang, Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Garut, penelitian terdahulu, beberapa literatur dan informasi dari media online.

4.3 Metode Pengumpulan Data

Penentuan responden peternak domba Garut menggunakan metode non-probability yaitu teknik purposive sampling. Purposive sampling yaitu teknik memilih responden secara sengaja sesuai dengan kriteria untuk dijadikan sampel (Juanda 2007). Pemilihan responden dilakukan dengan memilihan peternak di Kecamatan Cikajang yang beternak domba Garut galur murni dan jenis kandang yang digunakan berjenis kandang panggung.

(28)

15 4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data bertujuan untuk menyederhanakan data dalam bentuk yang mudah dipahami dan diinterpretasikan. Analisis data yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan bantuan program komputer yaitu Microsoft Office Excell 2007. Data diolah dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif serta disajikan dalam bentuk tabel, gambar dan perhitungan matematis. Metode analisis data yang digunakan dalam menjawab tujuan penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Matriks metode analisis data

No Tujuan Penelitian Sumber Data Metode Analisis Data 1 Karakteristik

Wawancara intensif Analisis biaya dan manfaat

4.4.1 Analisis Manfaat Ekonomi

Perubahan pendapatan peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang dilihat dengan perhitungan pendapatan rata-rata berdasarkan kelompok pekerjaan. Pendapatan rata-rata hanya beternak domba Garut didapatkan dengan mengurangi pendapatan total peternak domba Garut dan pendapatan peternak diluar beternak domba Garut. Rumus perubahan pendapatan sebagai berikut:

ITP = ITot - INonTP

Keterangan:

∆ITP = Perubahan pendapatan rata-rata peternak dari beternak domba Garut

ITot = Pendapatan total peternak domba Garut

INonTP = Pendapatan rata-rata peternak selain beternak domba Garut

(29)

16

Gaut. Hasil analisis dapat menunjukkan apakah pendapatan yang diperoleh merupakan pekerjaan utama bagi peternak. Persentase proporsi pendapatan yang diperoleh dari peternak dapat dihitung dengan rumus:

% I

TP

=

Keterangan:

% ITP = Peresentase proporsi pendapatan rata-rata peternak dari beternak domba

Garut terhadap total pendapatan

ITP = Pendapatan rata-rata peternak dari beternak domba Garut

Soehadji (1995) dalam Soetanto (2002) menjelaskan persentase tipologi usaha terhadap pendapatan total seseorang, yaitu:

1 Usaha yang mendatangkan proporsi pendapatan kurang dari 30% disebut sebagai usaha sambilan.

2 Usaha yang mendatangkan proporsi pendapatan antara 30-70% disebut sebagai cabang usaha.

3 Usaha yang mendatangkan proporsi pendapatan antara 70-100% disebut sebagai usaha pokok.

4.4.2 Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia (KPPTR)

Metode Nell dan Rollinson (1974) menghitung produksi pakan hijauan selama satu tahun dari suatu wilayah berdasarkan jumlah hijauan yang tersedia di wilayah tersebut. Perhitungan potensi penyediaan hijauan di Kecamatan Cikajang dikonversi terhadap potensi padang rumput alami, kemudian dilakukan perhitungan potensi penyedia hijauan berdasarkan satuan ternak (ST).

Tabel 3 Sumber hijauan makanan ternak di Kecamatan Cikajang dan nilai konversi kesetaraan

No Sumber Hijauan Nilai konversi kesetaraan

(30)

17 1 Daya dukung lahan (KPPTR Maksimum)

Rumus =

Keterangan:

-Potensi hijauan pakan (BK) dengan satuan kg/tahun -Konsumsi ternak sebesar 6.29 kg BK/ST/hari

2 KPPTR Efektif (ST) = KPPTR Maksimum – POPRIL Keterangan:

-POPRIL adalah populasi riil ternak ruminansia (ST) pada tahun tertentu Tabel 4 Nilai Satuan Ternak (ST)

Sapi Kerbau Domba Kambing

Dewasa 1 1 0.14 0.14

Muda 0.5 0.5 0.07 0.07

Anak 0.25 0.25 0.035 0.035

Sumber: Nell dan Rollinson (1974)

4.4.3 Analisis Pendapatan

Analisis pendapatan dilakukan untuk mengetahui manfaat langsung dari adanya usahaternak domba Garut. Persamaan pendapatan dinyatakan dalam rumus berikut (Hermanto, 1989):

Π

= TR – TC Keterangan:

Π

= Pendapatan (rupiah) TR = Total penerimaan (rupiah) TC = Total biaya (rupiah)

Penerimaan diperoleh dari hasil penjualan output. Adapun rumus penerimaan sebagai berikut:

TR = Q x P Keterangan:

TR = Total penerimaan (rupiah)

(31)

18

Biaya total merupakan penjumlahan biaya variabel dan biaya tetap. Adapun rumus biaya total sebagai berikut:

TC = TFC + TVC Keterangan:

TC = Total biaya (rupiah) TFC = Total biaya tetap (rupiah) TVC = Total biaya variabel (rupiah)

Imbangan biaya penerimaan dinyatakan dalam benruk R/C (return and cost). Rumus perhitungan R/C sebagai berikut:

ratio tunai =

ratio total =

Keterangan:

TC1 = Biaya tunai (rupiah)

TC2 = Biaya tidak tunai (rupiah)

TR = Total penerimaan (rupiah) TC = Total biaya (rupiah)

Jika nilai R/C > 1, maka usahaternak domba Garut layak atau efisien

Jika nilai R/C < 1, maka usahaternak domba Garut tidak layak atau tidak efisien. 4.4.4 Analisis Biaya Manfaat

Penilaian kelayakan suatu investasi dilakukan dengan membandingkan biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh dari proyek dalam jangka waktu tertentu. Untuk menganalisis suatu investasi terlebih dahulu membuat aliran kas tunai (cash flow). Layak tidaknya proyek dinilai dengan kriteria kelayakan investasi , yaitu NPV, Net B/C, IRR dan Payback Period.

1 Net Present Value (NPV)

Net present value merupakan nilai sekarang dari arus pendapatan yang ditimbulkan oleh investasi. Rumus yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah sebagai berikut (Gray et al, 1993):

(32)

19 Keterangan:

Bt = Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke-t (rupiah) Ct = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t (rupiah) n = Umur ekonomis proyek (tahun)

i = Tingkat suku bunga (%) t = Tahun investasi (t=0,1,2...,10)

Proyek dikatakan layak jika NPV > 0. Jika NPV = 0 proyek mengembalikan persis sebesar opportunity cost faktor produksi modal. Jika NPV < 0, maka proyek tidak layak karena keuntungan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan jadi lebih baik tidak dilaksanakan.

2 Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Nilai Net B/C adalah perbandingan antara present value dari net benefit yang positif dengan present value dari net benefit negatif (Kadariah, 1999). Persamaan perhitungannya adalah sebagai berikut (Gray et al, 1993):

⁄ ∑

Bt = Manfaat yang diperoleh pada tahun ke-t (rupiah)

Ct = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t (rupiah)

n = Umur ekonomis proyek (tahun) i = Tingkat suku bunga (%)

t = Tahun investasi (t=0,1,2....,10)

Proyek dikatakan layak jika Net B/C ≥ 1. Net B/C =1 memiliki arti NPV = 0, sedangkan Net B/C < 1 memiliki arti NPV < 0 yang berarti proyek tidak layak untuk dijalankan.

3 Internal Rate of Return (IRR)

(33)

20

Keterangan:

NPV1 = NPV yang bernilai positif (rupiah)

NPV2 = NPV yang bernilai negatif (rupiah)

i1 = Tingkat bunga yang menghasilkan NPV1 (%)

i2 = Tingkat bunga yang menghasilkan NPV2 (%)

4 Payback Period

Payback period adalah alat analisis untuk mengukur seberapa lama investasi dapat kembali, dirumuskan sebagai berikut:

PP =

Keterangan:

PP = Jumlah waktu (tahun/periode) yang diperlukan untuk mengembalikan modal investasi

I = Jumlah modal investasi

(34)

21

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1 Keadaan Geografis Lokasi Penelitian

Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten yang terletak di wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Garut terletak diantara 6°57’34” -

7°44’57” LS dan 107°24’3” - 108°24’34” BT dengan luas wilayah sekitar 3 065.19 Km2 (BPS Kabupaten Garut, 2012). Secara umum sebagian besar

wilayah Kabuaten Garut merupakan daerah dataran tinggi dengan kondisi alam berbukit dan berupa pegunungan yang memiliki iklim tropis dengan curah hujan tinggi serta hari hujan yang banyak. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar luas wilayahnya dipergunakan sebagai lahan pertanian dan peternakan.

Kabupaten Garut terdiri dari 42 kecamatan dengan potensi sumberdaya yang berbeda-beda. Berdasarkan sumberdaya serta data yang diperoleh, lokasi penelitian ditetapkan di Kecamatan Cikajang.

Kecamatan Cikajang merupakan kecamatan yang terletak di Garut bagian selatan. Secara geografis, Kecamatan Cikajang terletak pada ketinggian 1 200 – 1 300 meter dari permukaan air laut dengan suhu udara mencapai 18°C. Selain itu, Kecamatan Cikajang termasuk dalam iklim tropis dengan rata-rata curah hujan 186 mm/tahun. Kecamatan Cikajang yaitu sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Cisurupan dan Cigedug, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Banjarwangi, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cihurip dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Pakenjeng dan Pamulihan (Monografi Kecamatan Cikajang, 2012).

(35)

22

Kecamatan Cikajang terletak sekitar 26 km dari Ibu Kota Kabupaten Garut. Luas wilayah Kecamatan Cikajang sekitar 12 039.09 Ha2, terdiri dari 12 Desa, 35 Dusun, 107 Rukun Warga (RW) dan 483 Rukun Tetangga (RT). Dengan topografi wilayah berupa dataran tinggi dengan kemiringan lahan datar 81.99%, lahan bergelombang 14.99% dan lahan curam sebesar 3.02% (BPS Kabupaten Garut, 2012).

Pemanfaatan lahan di Kecamatan Cikajang sebagian besar berupa perkebunan dan hutan. Luas lahan perkebunan seluas 4 261 Ha atau 34.10% dan pemanfaatan hutan seluas 3 218 Ha atau 25.75%. Perkebunan sebagian besar dikelola oleh perorangan atau kepemilikan pribadi sedangkan hutan merupakan tanah milik pemerintah UPTD Kehutanan yang dikelola bersama masyarakat setempat. Data penggunaan lahan di wilayah Kecamatan Cikajang dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Penggunaan lahan di Kecamatan Cikajang

No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Presentase (%)

1 Perkampungan 943 7.55

2 Industri 2 0.02

3 Persawahan 218 1.74

4 Tegalan/Kering semusim 901 7.21 5 Kebun campuran 1 771 14.17

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut (2012)

5.2 Kependudukan Lokasi Penelitian

(36)

23 hingga 9 559 jiwa atau 37.78% dari jumlah penduduk. Sektor pertanian di Kecamatan Cikajang meliputi bertani, berkebun dan beternak. Selain dari sektor pertanian, mata pencaharian penduduk Kecamatan Cikajang yaitu pedagang sebesar 26.11%, penjual jasa 5.90%, PNS/ TNI/ Polri 2.84%, dan buruh sebesar 27.37%. Penyebaran penduduk menurut mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 6 (Monografi Kecamatan Cikajang, 2012).

Tabel 6 Mata pencaharian penduduk Kecamatan Cikajang

No Mata Pencaharian Jumlah Presentase (%)

1 Petani 9 559 37.78

5.3 Potensi Peternakan di Lokasi Penelitian

Sektor peternakan menjadi salah satu mata pencaharian warga di Kabupaten Garut. Peternakan ruminansia khususnya Domba Garut merupakan salah satu ternak yang banyak dibudidayakan warga Garut. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut 2012, terdapat empat daerah sentra budidaya dan pembibitan Domba Garut, yaitu Kecamatan Cikajang, Kecamatan Cisurupan, Kecamatan Kadungora, dan Kecamatan Leles. Sentra budidaya dan pembibitan Domba Garut terbesar terdapat pada Kecamatan Cikajang, yaitu sebanyak 40 495 ekor.

Tabel 7 Populasi domba Garut di daerah sentra budidaya dan pembibitan

(37)

24

Selain sebagai sentra budidaya dan pembibitan Domba Garut, jenis ternak ruminansia yang terdapat di Kecamatan Cikajang adalah sapi perah, sapi potong, kerbau, dan kambing. Selain itu, terdapat juga ternak unggas terdiri dari itik, dan ayam buras. Populasi ternak di Kecamatan Cikajang dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8 Jenis ternak ruminansia dan unggas di Kecamatan Cikajang

No Kecamatan Jumlah (ekor)

1 Sapi Perah 4 366

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut (2012)

Para peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang bergerak dalam bisnis breeding dan penggemukan. Bisnis breeding atau yang sering disebut pembibitan dilakukan oleh peternak untuk menghasilkan bibit domba Garut murni. Harga bibit domba Garut untuk jantan sebesar Rp 2 000 000 dan bibit domba Garut betina berkisar Rp 750 000 sampai Rp 1 500 000 tiap ekor tergantung pada kualitas dan performa. Untuk usaha pembesaran, harga domba Garut berkisar Rp 3 000 000 hingga Rp 7 000 000 saat usia afkir. Dengan harga tersebut, sektor peternakan domba Garut di Kecamatan Cikajang diharapkan mampu membantu perekonomian warga.

5.4 Kondisi Peternakan Domba Garut di Lokasi Penelitian

Kecamatan Cikajang merupakan daerah sentra pengembangan dan pembibitan domba Garut terbesar di Kabupaten Garut. Domba Garut yang dibudidayakan di Kecamatan Cikajang merupakan domba tipe laga atau tangkas. Pada usia afkir domba ini sering dijual oleh para peternak sebagai domba pedaging.

5.4.1 Sistem Perkandangan Domba Garut

(38)

25 mungkin dan sebaik mungkin sehingga cepat menjadi gemuk. Pemeliharaan secara intensif, ternak memperoleh perlakuan yang lebih teratur dalam pemberian pakan dan pembersihan kandang.

Jenis kandang yang digunakan peternak di kecamatan ini adalah kandang panggung terbuat dari kayu dan lantai beralaskan bambu. Lantai kandang memiliki jarak dengan tanah sehingga kotoran domba berada di bawah kandang sehingga mempermudah peternak dalam pembersihan kandang. Menurut Sutama (2009) lantai kandang dibuat 0.5-1.5 m di atas permukaan tanah. Perputaran udara dalam kandang panggung lebih terjamin dan kolong kandang dapat dipergunakan sebagai tempat penampung feses, urine dan makanan sehngga menghemat tenaga dan waktu dalam pmbersihan kandang.

Kandang yang digunakan peternak di Kecamatan Cikajang berbentuk sekat, masing-masing domba dewasa memiliki satu ruangan tersendiri agar ruang gerak lebih leluasa. Untuk pejantan ukuran kandang rata-rata 0.8 m2 dan untuk betina 1.2 m2. Menurut Sutama (2009) luas kandang untuk jantan dewasa 2 m2, betina dewasa 1.5 m2, betina bunting/menyusui 2 m2, anak sapihan 0.7 m2dan jantan/betina muda 1 m2.

Pembersihan kandang dilakukan sekitar 1 minggu sampai 1 bulan sekali pada hari Jumat. Pembersihan kandang hanya membersihkan kotoran-kotoran yang ada di dalam kandang masing-masing domba dan pembersihan kotoran yang ada di bawah kandang. Hasil pembersihan kotoran domba dikumpulkan di tempat tertentu untuk dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Pupuk kandang tersebut digunakan sebagai pupuk organik di kebun masing-masing peternak sebelum melakukan penanaman. Selain itu, ada juga peternak yang menjual pupuk kandang ke petani lintas kecamatan.

5.4.2 Sistem Pemeliharaan Domba Garut

(39)

26

atau wortel ada juga yang dicampur dengan dedak atau singkong. Hal tersebut tergantung masing-masing peternak dalam pemberian pakan.

Dalam satu hari hijauan yang diperlukan domba Garut di Kecamatan Cikajang rata-rata mencapai 6 kg berat segar hijauan per ekor. Peternak dalam menyediakan hijauan pakan melakukan cara cut and carry (Gambar 3). Menurut Natasasmita dan Mudikdjo (1979), sistem cut and carry adalah makanan diaritkan dan diberikan di kandang.

(a) (b)

Gambar 3 Pola penyediaan hijauan pakan ternak

Perawatan domba Garut yang dilakukan peternak di Kecamatan Cikajang pada umumnya terdiri dari pemandian, pencukuran bulu, pemberian suplemen, dan pencegahan penyakit. Frekuensi pemandian domba pejantan dilakukan satu sampai empat minggu sekali dan khusus domba betina atau indukan dimandikan setelah melahirkan anaknya. Pencukuran bulu untuk pejantan berkisar satu sampai tiga bulan sekali karena pertumbuhan bulu pejantan lebih cepat dibandingkan dengan betina. Sedangkan pencukuran bulu betina bisa dilakukan tiga sampai lima bulan sekali.

Dalam perawatan domba Garut (Gambar 4), peternak juga memberikan suplemen untuk domba agar nafsu makan tetap terjaga, suplemen yang biasa diberikan adalah gayemi. Untuk pencegahan penyakit, peternak setiap tiga bulan sekali memberikan obat cacing kepada masing-masing domba. Obat cacing yang digunakan adalah albenol-2 500 bolus. Untuk domba muda, satu tablet untuk empat domba dan untuk domba dewasa satu tablet untuk dua domba diberikan tiga bulan sekali.

(40)

27

(a) (b)

Gambar 4 Suplemen perawatan domba Garut. (a) gayemi; (b) albenol-2 500 bolus Dalam penanganan penyakit domba Garut para peternak di Kecamatan Cikajang masih bersifat tradisional. Penyakit yang sering diderita adalah kudis, kembung, cacingan, dan mencret. Penyakit kudis bersifat menular yang berpindah melalui kontak dengan domba yang terinfeksi. Menurut Mulyono (2003), penyakit kudis disebabkan oleh Sarcoptes scabei, Psoroptes communis var. ovis, Choriopteso ovis. Untuk penyembuhan, peternak hanya memandikan domba secara rutin setiap hari menggunakan air hangat dan bagian kudis dioles oli bekas agar tidak gatal.

Penyakit kembung pada domba Garut di Kecamatan Cikajang biasanya terjadi karena pola pemberian pakan hijauan yang tidak teratur. Menurut Mulyono (2003), penyakit kembung terjadi karena domba tidak mampu menghilangkan gas yang dihasilkan pada lambung pertama (rumen). Gas timbul akibat domba terlalu banyak makan hijauan legum, pemberian pakan tidak teratur, domba terlalu lapar dan makan hijauan yang masih berembun. Peternak di kecamatan Cikajang dalam menangani penyakit kembung pada domba masih tradisional yaitu diberi minum air kelapa secara berkala sampai sembuh.

(41)

28

cacingan dan mencret yaitu hindari pakan hijauan yang telah tercemari oleh siput, hindari memotong hijauan yang masih berembun dan jangan meletakkan potongan rumput di atas tanah.

(a) (b)

Gambar 5 Pakan hijauan penawar cacingan dan mencret. (a) daun jambul kuda; (b) daun kaliandra

5.4.3 Sistem Perkawinan Domba Garut

Sistem perkawinan ternak domba Garut khususnya di Kecamatan Cikajang masih bersifat alami. Ketika domba betina birahi tetapi peternak tidak memiliki pejantan maka peternak akan meminjam pejantan dari peternak lain tanpa dipungut biaya. Pada kondisi baik, pejantan dalam satu minggu dapat mengawini 3 betina.

Untuk menghasilkan bibit unggul, para peternak tidak sembarangan mengawinkan dombanya. Peternak harus melihat silsilah keturunan agar menghindari perkawinan sedarah atau imbreeding. Menurut Mulyono (2003), jangan mengawinkan antara induk dan pejantan yang masih ada hubungan darah (kembaran, induk, ayah, adik, kakak, dan sebagainya) karena akan menurunkan kualitas genetik atau depresi mnbreeding.

Peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang dalam mengawinkan domba Garut sudah terpola dengan baik. Hal ini terbukti setiap dua tahun domba Garut mampu 3 kali beranak. Pola perkawinan domba Garut yang telah diterapkan peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang mulai mengawinkan hingga mengawinkan lagi membutuhkan waktu 8 bulan sehingga dalam waktu 2 tahun domba Garut dapat beranak sebanyak 3 kali.

(42)

29 kegagalan dalam proses perkawinan, domba betina dan pejantan dijadikan dalam satu kandang oleh petrnak. Rata-rata domba bunting selama 147 hari. Setelah 2-3 bulan dari melahirkan domba Garut sudah terlihat tanda-tanda birahi lagi dan siap untuk dikawinkan. Ketika domba siap untuk dikawinkan kembali, anakan domba siap untuk disapih. Adapun kalender perkawinan untuk mempermudah mengetahui siklus perkawinan domba Garut di Kecamatan Cikajang dapat dilihat pada Gambar 6.

`

Sumber: Data primer diolah (20013)

Gambar 6 Kalender perkawinan domba Garut di Kecamatan Cikajang 5.4.4 Tenaga Kerja

(43)

30

Tabel 9 Curahan kerja per bulan peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang

No Jenis Kegiatan Curahan Waktu (Jam/Bln) 1 Pengambilan Rumput 120

2 Pemberian Pakan 90

5.5 Profil Peternak Domba Garut

Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia peternak responden di Kecamatan Cikajang beragam, mulai dari kelompok usia kurang dari 29 tahun hingga kelompok usia diatas 60 tahun. Dari seluruh responden sebagian besar 20.00% adalah golongan usia 40 – 44 tahun sebanyak 6 orang. Hal ini membuktikan bahwa mulai menurunnya minat masyarakat usia muda untuk mengembangkan usahaternak Domba Garut. Persebaran usia peternak dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Persebaran usia peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang

No Golongan Usia (Tahun) Jumlah Peternak (Orang) Presentase (%)

1 < 29 2 6.67

Sumber: Data primer diolah (2013)

(44)

31 bantuan berupa penyuluhan tentang tatacara dan perawatan beternak domba yang baik dan benar.

Tabel 11 Tingkat pendidikan peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang

No Tingkat Pendidikan Peternak (Orang) Presentase (%) 1 Tidak Sekolah 4 13.33 bermatapencaharian tunggal sebagai peternak saja. Sebagian besar dari responden memiliki pekerjaan selain beternak domba Garut, sebesar 60.00% berprofesi sebagai petani sayur - sayuran. Jenis pekerjaan peternak domba Garut dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Jenis pekerjaan peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang

No Jenis Pekerjaan Peternak (Orang) Presentase (%)

1 Peternak 5 16.67

(45)

32

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia (KPPTR) Kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia di Kecamatan Cikajang dihitung berdasarkan metode Nell dan Rollinson (1974) menggunakan pendekatan potensi lahan sebagai sumber dan penyedia hijauan bagi ternak ruminansia. Perhitungan satuan ternak dilakukan dengan cara perkalian populasi ternak dengan koefisien satuan ternak. Selain itu, perhitungan potensi lahan sebagai sumber penyedia hijauan makanan ternak ruminansia dilakukan dengan menghitung potensi luas lahan dalam menghasilkan hijauan, satuannya adalah berat kering (BK). Perhitungan populasi rill ternak ruminansia di Kecamatan Cikajang dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Populasi riil ternak ruminansia di Kecamatan Cikajang

Jenis Ternak Kelompok Umur Satuan Ternak Populasi Riil Ternak (ST)

Sapi Dewasa 1 2 580.04

Total Satuan Ternak 7 634.33

Sumber: Data primer diolah (2013)

(46)

33 sebesar 3 370.32 ST sehingga KPPTR efektif diperoleh sebesar -4 264.01 ST (Tabel 15).

Tabel 14 Konversi hijauan pakan di Kecamatan Cikajang

No Sumber Hijauan Luas (Ha) Konversi Hijauan (ton BK/Ha/th) 1 Persawahan 281.00 327.00 2 Galengan Sawah 6.54 98.10 3 Tegalan/Kering semusim 901.00 135.15 5 Perkebunan 6 032.00 4 524.00 6 Padang, semak 16.00 240.00 7 Hutan 3 218.00 2 413.50 Jumlah 10 391.54 7 737.75

Sumber: Data primer diolah (2013)

Dalam perhitungan, nilai KPPTR di Kecamatan Cikajang memiliki nilai negatif (Tabel 15). Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi over population sehingga produksi hijauan makanan ternak (HMT) Kecamatan Cikajang tidak mampu memenuhi kebutuhan ternak yang ada. Kebutuhan hijauan ternak di Kecamatan Cikajang yang tidak tercukupi disebabkan oleh fluktuasi produksi hijauan. Produktivitas hijauan akan sangat menurun ketika musim kemarau tiba. Selain itu, Kecamatan Cikajang merupakan salah satu daerah sentra pembibitan dan produksi Domba Garut terbesar di Kabupaten Garut sehingga suatu hal yang mungkin apabila terjadi over population yang berdampak pada kurangnya hijauan makanan ternak (HMT) ruminansia.

Tabel 15 Analisis Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia (KPPTR) Kecamatan Cikajang

Analisis Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia (KPPTR) Produksi Hijauan (ton BK/ha/th) 7 737.75 KPPTR Maksimum (ST) 3 370.32 Populasi Satuan Ternak (ST) 7 634.33 KPPTR Efektif (ST) - 4 264.01

Sumber: Data primer diolah (2013)

(47)

34

ternak ruminansia. Pengurangan jumlah populasi ternak ruminansia dengan melakukan penjualan ternak keluar daerah bahkan luar kabupaten telah dilakukan para peternak di Kecamatan Cikajang sehingga membantu mengurangi terjadinyan over population.

6.1.1 Strategi Pemenuhan Kebutuhan Hijauan Ternak Domba Garut di Kecamatan Cikajang

Berdasarkan hasil analisis KPPTR, diperoleh nilalai KPPTR Efektif di Kecamatan Cikajang sebesar - 4 264.01 ST yang menandakan telah terjadi over population di Kecamatan Cikajang. Hal ini berarti hijauan yang ada di Kecamatan Cikajang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pakan hijauan ternak ruminansia. Apabila dianalisis lebih lanjut, maka jumlah ternak (asumsi Kecamatan Cikajang sebagai sentra domba) sebanyak 30 458 ekor domba dewasa mengalami kekurangan pakan hijauan (Lampiran 4).

Dalam sistem pemeliharaan intensif ketersediaan pakan harus bersifat continue. Apabila kekurangan pakan hijauan dibiarkan begitu saja maka mengakibatkan pertumbuhan domba tidak optimal. Sehingga diperlukan penambahan hijauan berupa meningkatkan produksi hijaun dalam Kecamatan Cikajang maupun mendatangkan hijauan dari luar Kecamatan Cikajang yang memiliki surplus produksi hijauan.

(48)

35 6.1.2 Manajemen Pembukaan Lahan Budidaya Pakan Hijauan di

Kecamatan Cikajang

Pembukaan lahan budidaya hijauan di Kecamatan Cikajang untuk memenuhi 30 458 ekor domba dewasa sebaiknya dilakukan oleh Pemerintah Kecamatan Cikajang di bawah pengawasan UPTD Peternakan, mengingat luas lahan yang diperlukan sebesar 652.64 hektar. Apabila dikelola perseorangan oleh peternak maka hasilnya tidak akan maksimal. Adapun beberapa kendala apabila dibudidayakan perseorangan yaitu sebagai berikut: (1) waktu tunggu antara tanam dan panen lama; (2) luas lahan apabila dibagi dengan peternak yang ada sangat tidak efektif; (3) penanganan yang relatif lebih sulit; (4) pemerintah kurang berpartisipasi aktif dalam perkembangan peternakan.

Lahan budidaya hijauan seluas 652.64 hektar dapat memanfaatkan lahan komunal (tidak terpakai) yang ada di Kecamatan Cikajang agar lahan termanfaatkan sehingga menjadi lahan produktif. Lahan budidaya hijauan dapat ditanami rumput gajah (Pennisetum purporeum L.), tanaman rumput pendek, seperti brachiaria sp., beberapa leguminosa semak, seperti Centrosema pubescens, Pueraria phaseoloides, Calopogonium mucunoides, dan leguminosa pohon, seperti (Caliandra haematocephala Hassk), turi (Sesbania grandiflora Pers.), gamal (Gliricidia sepium) dan lamtoro (Leucaena leucocephala). Hal tersebut bertujuan selain sebagai lahan budidaya hijauan dapat digunakan sebagai lahan penggembalaan.

Pola penanaman budidaya hijauan seluas 652.64 hektar dibuat pola petak 5 000 m2, petak yang dihasilkan adalah 1305 petak. Apabila setiap hari panen satu petak maka pemanenan dapat terus berlangsung (continue) setiap hari sesuai dengan umur rumput produktif (45 hari). pembuatan pola petak ini bertujuan ketika pemanenan waktunya bisa berselang dan ada waktu tumbuh untuk petakan yang pertama kali dipanen. Pola tanam seperti ini disebut dengan manajemen panen.

(49)

36

peternak domba Garut dapat dilihat pada Tabel 16. Biaya yang dikeluarkan oleh peternak domba di Kecamtan Cikajang terdiri dari biaya tunai dan biaya non tunai (Lampiran 6).

Tabel 16 Perhitungan pendapatan rata-rata per tahun peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang tanpa memasukan upah tenaga kerja

Uraian Peternak Domba Garut perhitungan pendapatan rata-rata peternak domba Garut akan bernilai positif yang artinya usaha yang dijalankan selama ini tidak mengalami kerugian atau layak untuk dijalankan.

Akan tetapi, ketika upah tenaga kerja dimasukkan ke dalam perhitungan maka peternak domba Garut memperoleh pendapatan atas biaya total negatif dan R/C atas biaya total kurang dari satu (Tabel 17). Hal ini menunjukkan bahwa peternak domba Garut mengalami kerugian sebesar Rp 8 143 164.81 per tahun sehingga usaha yang dijalankan oleh peternak domba Garut tidak layak untuk dijalankan karena mengalami kerugian.

Tabel 17 Perhitungan pendapatan rata-rata per tahun peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang dengan memasukan upah tenaga kerja

(50)

37 Kerugian yang dialami oleh peternak domba Garut disebabkan karena selama ini biaya tenaga kerja dalam pencarian pakan dan perawatan domba tidak diperhitungkan. Tenaga kerja berasal dari keluarga peternak sendiri sehingga upah tenaga kerja diabaikan. Hal ini menunjukkan bahwa peternak domba Garut di Kecamatan Cikajang masih bersifat tradisional atau menerapkan sistem peternakan rakyat.

6.3 Analisis Kelayakan Strategi Pengembagan Usaha Peternakan Domba Garut di Kecamatan Cikajang

Estimasi kelayakan ini dilakukan sebagai salah satu pengembangan usaha peternakan tradisional di Kecamatan Cikajang agar usaha yang dijalankan oleh peternak domba Garut layak atau menguntungkan. Mengingat bahwa berdasarkan perhitungan yang telah dijelaskan di profil peternak Domba Garut (Bab 5) diketahui bahwa peternakan domba Garut yang dijalani peternak di Kecamatan Cikajang termasuk cabang usaha. Oleh karena itu, perlu adanya tinjauan dari sisi kelayakan ekonomi agar pengembangan usaha peternakan domba Garut di Kecamatan Cikajang bersifat keberlanjutan.

(51)

38

6.3.1 Penentuan Harga Pengembangan Usaha Peternakan Domba Garut Dalam penelitian ini penentuan harga yang digunakan dalam inflow maupun outflow adalah harga pasar. Harga lahan di Kecamatan Cikajang per meter adalah Rp 62 500.00. Lahan yang dipergunakan untuk usahaternak domba Garut seluas 100.00 m2 sehingga diperoleh harga lahan Rp 6 250 000.00.

Harga pupuk kandang diperoleh dari harga jual pupuk kandang di Kecamatan Cikajang. Pupuk kandang dijual tiga bulan sekali, satu truk menghasilkan 1 200 kg pupuk kandang dengan harga Rp 200 000.00 sehingga diperoleh harga per kilogram yaitu Rp 170.00.

Harga upah tenaga kerja pada penelitian ini masuk dalam kategori tenaga kerja tidak terdidik. Buruh termasuk dalam kategori tenaga kerja tidak terdidik. Upah tenaga kerja buruh di Kecamatan Cikajang sebesar Rp 25 000.00/hari sehingga pada penelitian ini harga tenaga kerja sebesar Rp 25 000.00/hari.

6.3.2 Analisis Biaya dan Penerimaan Pengembangan Usaha Peternakan Domba Garut

Identifikasi biaya dan manfaat proyek dilakukan terlebih dahulu untuk membuat cashflow. Dalam pembuatan cashflow dibutuhkan dua komponen, yaitu komponen arus penerimaan (inflow) dan komponen arus pengeluaran (outflow) a Komponen Arus Penerimaan (inflow)

Komponen arus penerimaan (inflow) yang diperoleh dihitung dari penjumlahan manfaat-manfaat yang diterima peternak domba Garut. Manfaat yang diterima terdiri dari manfaat penjualan bakalan, penjualan indukan, penjualan domba tidak produktif, dan penjualan pupuk kandang dengan beberapa asumsi.

(52)

39 50% lahir, sisanya dipelihara untuk dijadikan indukan dan persentase jual indukan sebesar 50% baik jantan maupun betina.

Penjabaran arus penerimaan usaha pengembangan peternakan domba Garut adalah sebagai berikut:

1 Manfaat Penjualan Bakalan

Nilai penjualan bakalan domba Garut diperoleh dari perkalian antara harga dan jumlah penjualan. Bakalan dijual pada kisaran usia 8 sampai 10 bulan dengan harga yang berbeda antara bakalan jantan dan betina. Harga bakalan jantan mencapai Rp 1 500 000.00 sedangkan harga bakalan betina Rp 1 000 000.00. Jumlah penjualan bakalan setiap tahunnya mengalami peningkatan berdasarkan asumsi-asumsi yang telah ditentukan diawal sehingga terjadi peningkatan penerimaan setiap tahunnya. Total penerimaan dan jumlah bakalan yang dijual setiap tahunnya dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18 Total peneriman dan jumlah bakalan yang dijual per tahun

Tahun Ke- Jumlah Bakalan (ekor) Total Penjualan (Rp)

1 0 0

Total penerimaan 224 500 000

Sumber: Data primer diolah (2013)

2 Manfaat Penjualan Indukan

(53)

40

Tabel 19 Total peneriman dan jumlah indukan yang dijual per tahun

Tahun Ke- Jumlah Indukan (ekor) Total Penjualan (Rp)

1 0 0

Total penerimaan 183 000 000

Sumber: Data primer diolah (2013)

3 Manfaat Penjualan Domba Garut Tidak Produktif

Nilai penjualan domba Garut tidak produktif diperoleh dari perkalian antara harga dan jumlah penjualan. Domba tidak produktif dijual pada usia 10 bulan dengan harga yang sama antara bakalan jantan dan betina. Harga penjualan domba tidak produktif Rp 650 000.00. Jumlah penjualan domba tidak produktif setiap tahunnya mengalami perubahan berdasarkan asumsi-asumsi yang telah ditentukan diawal. Total penerimaan dan jumlah domba tidak produktif yang dijual setiap tahunnya dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Total peneriman dan jumlah domba tidak produktif yang dijual per tahun

Tahun Ke- Jumlah Domba

Tidak Produktif (ekor) Total Penjualan (Rp)

(54)

41 4 Manfaat Penjualan Pupuk Kandang

Penjualan pupuk kandang diperoleh dari perkalian antara harga dengan volume penjualan pupuk kandang. Harga 1 kg pupuk kandang sebesar Rp 170.00. Dalam analisis, penjualan pupuk kandang dilakukan tiga bulan sekali dimana dalam waktu tiga bulan peternak domba Garut mampu menghasilkan pupuk kandang hingga 2 400 kg sehingga dalam satu tahun penerimaan yang diperoleh dari penjualan pupuk kandang sebesar Rp 1 632 000.00.

b Komponen Arus Pengeluaran (outflow)

Biaya yang dikeluarkan dalam pengembangan usaha peternakan domba Garut diperoleh dari dana pribadi dan pinjaman kredit bank. Komponen arus pengeluaran (outflow) terdiri dari biaya investasi, biaya operasional dan biaya perawatan. Berikut rincian komponen arus pengeluaran (outflow) dalam pengembangan usaha peternakan domba Garut:

1 Biaya Investasi

Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan di awal proyek dan tidak habis dalam satu periode dalam pelaksanaan pengembangan usaha. Biaya investasi yang dikeluarkan terdiri dari biaya pembuatan kandang pada awal tahun dan penambahan pembuatan kandang pada tahun kelima dikarenakan adanya peningkatan jumlah domba. Selain itu, terdapat biaya pembelian tempat pakan, sabit, sarung tangan, sepatu but, alat pencukur bulu, dan alat pembuat tanduk.

Total biaya investasi yang dikeluarkan pada tahun pertama sebesar Rp 8 337 500.00. Rincian biaya investasi dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21 Biaya investasi usaha pengembangan peternakan domba Garut

Komponen Biaya (Rp) Tahun Re-investasi

Kandang 7 500 000 10

Tempat Pakan 57 500 1,2,3,...,10

Sabit 70 000 5,10

Sarung Tangan 20 000 1,2,3,...,10 Sepatu But 150 000 3,6,9 Pencukur Bulu 440 000 3,6,9 Pembuat Tanduk 100 000 3,6,9 Total Biaya Investasi 8 337 500

(55)

42

2 Biaya Operasional

Biaya operasional terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mendukung pelaksanaan pengembangan usaha peternakan domba Garut. Biaya operasional terdiri dari biaya pembelian bibit domba Garut yang dibeli di awal tahun, biaya pembelian pakan tambahan, pembelian suplemen penambah nafsu makan “gayemi”, pembelian obat cacing “albenol-2 500 bolus”, pembelian sabun dan obat-obatan. Selain itu, sewa mobil untuk transportasi dalam penjualan domba ke pasar dan biaya penerangan atau pemanfaatan listrik. Biaya variabel yang dikeluarkan setiap tahun dalam usaha pengambangan peternakan domba mengalami peningkatan sesuai dengan asumsi yang telah ditetapkan diawal. Total biaya variabel yang dikeluarkan setiap tahun dapat dilihat pada Lampiran 7. Biaya variabel yang dikeluarkan peternak dalam usaha pengembangan peternakan domba Garut pada awal tahun dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22 Biaya variabel usaha pengembangan peternakan domba Garut

Tahun Ke- Total Biaya (Rp)

(56)

43 bekerja selama 360 hari sehinga biaya yang dikeluarkan untuk satu tenaga kerja selama satu tahun sebesar Rp 9 000 000.00.

Biaya perawatan kandang dikeluarkan untuk perbaikan kandang. Perbaikan kandang dilaksanakan tiga tahun sekali dengan biaya yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp 13 333.00.

6.3.3 Analisis Finansial Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Domba Garut

Penilaian kelayakan pengembangan usaha peternakan domba Garut dilakukan dengan analisis biaya dan manfaat berdasarkan pada perhitungan kriteria cashflow yaitu dengan menghitung NPV, BCR, IRR dan Payback Period (Lampiran 8). Penilaian dilakukan berdasarkan asumsi-asumsi yang telah ditetapkan. Penilaian yang dilakukan tidak lain adalah memberikan rekomendasi kepada peternak domba Garut dalam melaksanakan usaha pengembangan peternakanan domba Garut agar dalam pelaksanaan usahanya layak untuk dijalankan.

Hasil penilaian kelayakan usaha pengembangan peternakan domba Garut menggunakan modal pribadi dengan asumsi tingkat bunga deposit (5.57%) dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23 Hasil analisis kelayakan ekonomi usaha pengembangan peternakan domba Garut

No Kriteria Kelayakan Hasil Analisis Kelayakan 1 NPV 86 541 955.96 Layak

2 Net B/C 3.37 Layak

3 IRR 26.21% Layak

4 Payback Period 1 tahun 5 bulan Layak

Sumber: Data primer diolah (2013)

Gambar

Gambar 1  Diagram alur kerangka berfikir
Tabel 3 Sumber hijauan makanan ternak di Kecamatan Cikajang dan nilai
Tabel 6 (Monografi Kecamatan Cikajang, 2012).
Gambar 6  Kalender perkawinan domba Garut di Kecamatan Cikajang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Upaya yang dilakukan oleh peternak dalam mengatasi masalah penyediaan pakan tambahan konsentrat ialah dengan memberikan sisa ampas tahu atau tempe bagi ternak domba dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa energi metabolis dalam pakan domba Garut jantan fase pertumbuhan di peternakan Lesan Putra telah mencukupi kebutuhannya namun pemanfaatan

Pada pengembangan wisata agro di Barudua limbah peternakan bisa menjadi bahan baku pen- dukung usaha pertanian berupa pupuk kompos demikian juga dengan limbah organic

Berdasarkan hasil survai yang dilakukan di Kecamatan Panumbangan, permasalahan yang dihadapi dalam Upaya Pengembangan Agribinis Ternak Domba Melalui Perbaikan Mutu

Hasil analisis kelayakan investasi pada Tabel 2, kondisi adanya introduksi pakan silase daun singkong menunjukkan bahwa investasi yang dilakukan pada usaha ternak domba di

Hasil analisis kelayakan investasi pada Tabel 2, kondisi adanya introduksi pakan silase daun singkong menunjukkan bahwa investasi yang dilakukan pada usaha ternak domba di

Strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal berdasarkan matriks SWOT adalah mengadakan kerjasama dalam hal

Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Domba Rakyat (Kasus Desa Cigudeg Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor). Progran Studi Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas