• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancang Bangun Mesin Pemeras Santan Sistem Screw Press

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Rancang Bangun Mesin Pemeras Santan Sistem Screw Press"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANG BANGUN MESIN PEMERAS SANTAN

SISTEM SCREW PRESS

SKRIPSI

OLEH:

FEBRINA MEDYANTI BR SINAGA 110308041

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

RANCANG BANGUN MESIN PEMERAS SANTAN

SISTEM SCREW PRESS

SKRIPSI

OLEH:

FEBRINA MEDYANTI BR SINAGA 110308041/KETEKNIKAN PERTANIAN

Skripsisebagai salah satu syarat untuk dapat melakukanpenelitian di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Achwil Putra Munir, STP, M.Si Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si

Ketua Anggota

Mengetahui,

Ainun Rohanah, STP, M.Si

Ketua Program StudiKeteknikan Pertanian

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

RANCANG BANGUN MESIN PEMERAS SANTAN

SISTEM SCREW PRESS

SKRIPSI

OLEH:

FEBRINA MEDYANTI BR SINAGA 110308041/KETEKNIKAN PERTANIAN

Skripsisebagai salah satu syarat untuk dapat melakukanpenelitian di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Achwil Putra Munir, STP, M.Si Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si

Ketua Anggota

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(4)

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan draft yangberjudul “Rancang Bangun Mesin Pemeras Santan Sistem Screw Press” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Achwil Putra Munir, STP, M.Siselaku ketua komisi pembimbing dan

kepadaBapak Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Untuk penyempurnaan skripsi ini, maka kiranya penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersikap membangun agar kedepannya dapat memperoleh hasil yang lebih baik.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, semoga draft ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, September2015

(5)

ABSTRAK

FEBRINA MEDYANTI BR SINAGA: Rancang Bangun Mesin Pemeras Santan Kelapa Sistem Screw Press, dibimbing oleh ACHWIL PUTRA MUNIR dan SAIPUL BAHRI DAULAY.

Selama ini cara memperoleh santan masih menggunakan cara tradisional yaitu diperas langsung dengan menggunakan tangan. Namun, belakangan ini mulai dikembangkan alat berupa pemeras santan secara manual yaitu menggunakan sistem kempa hidrolik. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) maka manusia berusaha untuk menciptakan atau membuat suatu peralatan yang lebih efisien dan praktis. Oleh karena itu dalam penelitian ini, penulis berusaha untuk mempermudah pekerjaan dalam pemerasan santan kelapa dengan cara merancang mesin pemeras santan kelapa yang memiliki kapasitas lebih besar agar lebih efektif dan efisien dalam pemerasan santan tersebut. Mesin pemeras santan kelapa ini memiliki cara kerja yakni dengan memasukkan kelapa parut ke dalam saluran pemasukankemudian parutan kelapa dibawa menuju saringan berbentuk tabung silinder yang terdapat komponen ulir pembawa. Kemudian dihasilkan santan dan ampas yang keluar secara terpisah. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas efektif alat 11,25 Kg/jam. Biaya pokok sebesar Rp. 787,022/Kg untuk tahun pertama, Rp. 792,205/Kg untuk tahun kedua, Rp. 797,777/Kg untuk tahun ketiga, Rp. 803,769/Kg untuk tahun keempat, Rp. 810,204/Kg untuk tahun kelima. BEP sebanyak 490Kg pada tahun pertama, 516 Kg pada tahun kedua, 544Kg pada tahun ketiga, 575Kg pada tahun keempat, 608Kg pada tahun kelima. IRR sebesar 47,46%.

Kata kunci : rancang bangun mesin, pemeras santan, santan kelapa, komponen ulir.

ABSTRACT

FEBRINA MEDYANTI BR SINAGA:Design of Coconut MilkExtractor with Screw Press System, Supervised by ACHWIL PUTRA MUNIR and SAIPUL BAHRI DAULAY.

Until now,obtain coconut milk was still obtain using conventional method which is handpressed. Later on, manual coconut milk extractor is develop using hydrolic press system. With the development of science and technology in this modern age, people trying to create or make a new, more efficient and practical equipment.Therefore, in this research, the author tried to ease theextraction of coconut milk by designing coconut milk extractor with screw press system which has larger capacity which be more effective and efficient in coconut extraction. The coconut milk extractorworked by enter shredded coconut into hopper then shredded coconut iscarried toward tubular filtercontained screw press. After that the milk is produced and the dregs out separately.The results showed that the effective capacity of the equipment was 11,25 kg/hour. Primary cost was Rp. 787,022/Kg for the first year, Rp. 792,205/Kg for the second year, Rp. 797,777/Kg for the third year, Rp. 803,769/Kg for the fourth year, and Rp. 810,204/Kg for the fifth year. BEP was 490Kg in the first year, 516 Kg in the second year, 544Kg in the third year, 575Kg in the fourth year and 608Kg in the fifth year. The IRR was 47,46%.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Febrina Medyanti Br. Sinaga, dilahirkan di Medan pada tanggal 8Mei 1994 dari ayah Dirman Sinaga dan ibu Netti Tiodora. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Santo Thomas 1 Medan dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur tertulis. Penulis memilih Program Studi Keteknikan Pertanian, Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif mengikuti organisasi Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian (IMATETA) sebagai anggota, dan sebagai asisten Termodinamika tahun 2014.

(7)

ii

Tujuan Penelitian ... 3

Kegunaan Penelitian ... 3

Batasan Masalah ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Kelapa ... 4

Sejarah tanaman kelapa ... 4

Botani tanaman kelapa ... 5

Jenis kelapa ... 5

Kondisi perkelapaan di Indonesia ... 6

Santan ... 7

Manfaat santan ... 9

Komponen Mesin Pemeras Santan Kelapa Sistem Screw Press ... 10

Saluran pemasukan bahan ... 10

Motor listrik ... 10

Saluran pengeluaran ... 16

Logam yang Digunakan ... 16

Mekanisme Pembuatan Mesin ... 17

Prinsip Kerja Mesin Pemeras Santan Sistem Screw Press ... 19

Kapasitas Kerja Alat dan Mesin Pertanian ... 20

Analisis Ekonomi ... 20 Waktu dan Tempat Penelitian ... 27

Bahan dan Alat Penelitian ... 27

Metodologi Penelitian ... 27

Persiapan Penelitian ... 27

Prosedur Penelitian ... 28

Parameter Penelitian ... 29

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32

(8)

Perancangan Alat dan Prinsip Kerja yang Diharapkan ... 32

Pemilihan Bahan ... 33

Pengukuran dan Pemotongan Bahan ... 33

Perakitan Bahan ... 34

Finishing ... 34

Proses Pemerasan ... 35

Kapasitas Efektif Alat ... 36

Analisis Ekonomi ... 38

Biaya pemakaian alat ... 38

Break even point ... 39

Net present value ... 39

Internal of return ... 39

KESIMPULAN DAN SARAN ... 41

Kesimpulan ... 41

Saran ... 41

(9)

iv

DAFTAR TABEL

No Hal

(10)

v

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal

1. Flowchart pelaksanaan penelitian ... 44

2. Spesifikasi alat ... 46

3. Kapasitas kerja mesinpemeras santan sistem screw press ... 47

4. Analisis ekonomi ... 48

5. Break even point ... 53

6. Net present value ... 55

7. Internal rate of return ... 58

8. Gambar proses penelitian ... 60

9. Gambar teknik mesinpemeras santan sistem screw press ... 61

10.Gambar mesinpemeras santan sistem screw press ... 69

(11)

ABSTRAK

FEBRINA MEDYANTI BR SINAGA: Rancang Bangun Mesin Pemeras Santan Kelapa Sistem Screw Press, dibimbing oleh ACHWIL PUTRA MUNIR dan SAIPUL BAHRI DAULAY.

Selama ini cara memperoleh santan masih menggunakan cara tradisional yaitu diperas langsung dengan menggunakan tangan. Namun, belakangan ini mulai dikembangkan alat berupa pemeras santan secara manual yaitu menggunakan sistem kempa hidrolik. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) maka manusia berusaha untuk menciptakan atau membuat suatu peralatan yang lebih efisien dan praktis. Oleh karena itu dalam penelitian ini, penulis berusaha untuk mempermudah pekerjaan dalam pemerasan santan kelapa dengan cara merancang mesin pemeras santan kelapa yang memiliki kapasitas lebih besar agar lebih efektif dan efisien dalam pemerasan santan tersebut. Mesin pemeras santan kelapa ini memiliki cara kerja yakni dengan memasukkan kelapa parut ke dalam saluran pemasukankemudian parutan kelapa dibawa menuju saringan berbentuk tabung silinder yang terdapat komponen ulir pembawa. Kemudian dihasilkan santan dan ampas yang keluar secara terpisah. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas efektif alat 11,25 Kg/jam. Biaya pokok sebesar Rp. 787,022/Kg untuk tahun pertama, Rp. 792,205/Kg untuk tahun kedua, Rp. 797,777/Kg untuk tahun ketiga, Rp. 803,769/Kg untuk tahun keempat, Rp. 810,204/Kg untuk tahun kelima. BEP sebanyak 490Kg pada tahun pertama, 516 Kg pada tahun kedua, 544Kg pada tahun ketiga, 575Kg pada tahun keempat, 608Kg pada tahun kelima. IRR sebesar 47,46%.

Kata kunci : rancang bangun mesin, pemeras santan, santan kelapa, komponen ulir.

ABSTRACT

FEBRINA MEDYANTI BR SINAGA:Design of Coconut MilkExtractor with Screw Press System, Supervised by ACHWIL PUTRA MUNIR and SAIPUL BAHRI DAULAY.

Until now,obtain coconut milk was still obtain using conventional method which is handpressed. Later on, manual coconut milk extractor is develop using hydrolic press system. With the development of science and technology in this modern age, people trying to create or make a new, more efficient and practical equipment.Therefore, in this research, the author tried to ease theextraction of coconut milk by designing coconut milk extractor with screw press system which has larger capacity which be more effective and efficient in coconut extraction. The coconut milk extractorworked by enter shredded coconut into hopper then shredded coconut iscarried toward tubular filtercontained screw press. After that the milk is produced and the dregs out separately.The results showed that the effective capacity of the equipment was 11,25 kg/hour. Primary cost was Rp. 787,022/Kg for the first year, Rp. 792,205/Kg for the second year, Rp. 797,777/Kg for the third year, Rp. 803,769/Kg for the fourth year, and Rp. 810,204/Kg for the fifth year. BEP was 490Kg in the first year, 516 Kg in the second year, 544Kg in the third year, 575Kg in the fourth year and 608Kg in the fifth year. The IRR was 47,46%.

(12)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara tropika yang terkenal karena hasil kelapanya berlimpah, bahkan pernah menjadi pengekspor kelapa terbesar di dunia.Tanaman kelapa merupakan tanaman asli daerah tropis dan dapat ditemukan di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari pesisir pantai hingga daerah pegunungan tidak terlalu tinggi. Di samping dapat memberikan devisa bagi negara, tanaman kelapa juga merupakan mata pencarian jutaan petani yang mampu memberikan penghidupan keluarganya (Warisno, 2002).

Tanaman kelapa yang juga disebut dengan pohon kehidupan yang merupakan tanaman yang serba guna, karena dari setiap bagian tanamannya dapat diambil hasilnya untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup manusia. Daging buah kelapa dapat dipakai sebagai bahan baku menghasilkan santan, minyak kelapa, dan kelapa parut kering (desiccated coconut), sedangkan air kelapa dapat dipakai membuat cuka dan nata de coco. Tempurung kelapa dapat dimanfaatkan untuk membuat karbon aktif, charcoal, kerajinan tangan.Batang kelapa dapat digunakan sebagai atap kerangka bangunan, dan lidinya dapat digunakan sebagai sapu lidi dan bahan anyaman (Suhardiyono, 1988).

(13)

Khusunya didalam proses pengolahan kelapa menjadi santan dilakukan proses pemerasan pada daging kelapa parut. Proses pemerasan disini yaitu untuk memisahkan kelapa parut kering (ampas) dengan cairan yang diperoleh pada saat proses pemerasan kelapa parut yang dinamakan santan. Proses pemerasan santan dapat dilakukan dengan cara manual ataupun dengan menggunakan alat pengepres seperti screw press, hydraulik press dan sebagainya.

Salah satu hasil olahan daging kelapa adalah santan kelapa yang merupakan hasil perasan dari lapisan putih lembaga atau endosperm. Santan merupakan bahan baku untuk berbagai jenis masakan. Serta banyak juga yang menjadikan santan sebagai bahan baku untuk pembuatan minyak goreng. Berdasarkan pengamatan, untuk memperoleh santan masih banyak yang menggunakan cara tradisional yaitu dengan memeras langsung dengan tangan dan disaring menggunakan saringan. Ataupun dengan sistem press hydrolik yang menggunakan plat atau seperti dongkrak yang parutan kelapanya dimasukan kedalam tabung lalu dipress dengan menggunakan tenaga manusia. Cara tersebut dinilai tidak efisien, menghabiskan banyak waktu, membutuhkan tenaga kerja yang banyak, serta jika ditinjau dari segi kebersihan tidak memenuhi standar kesehatan (Hazwi, 2010).

(14)

dalam keadaan tetap segar, tidak memerlukan tenaga dan biaya yang besar, serta diharapkan berdampak pada pemanfaatan bahan baku menjadi lebih optimal sehingga dapat mendorong perkembangan industri dalam bentuk komoditi lain, seperti industri santan instan.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendesain, membuat dan menguji mesin pemeras santan kelapa sistem screw press sehingga dapat mengoptimalkan pemerasan santan kelapa.

Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :

1. Bagi penulis yaitu sebagai bahan untuk menyusun skripsi yang merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Sumatera Utara.

2. Bagi mahasiswa, sebagai informasi pendukung untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai mesin pengepres santan kelapa metode screw press.

3. Bagi masyarakat, sebagai bahan informasi dalam pengoptimalan pemerasan santan kelapa bagi pihak yang membutuhkan.

Batasan Masalah

1. Pembuatan dan pengujian mesin hanya pada komoditi kelapa parut. 2. Komponen-komponen kelistrikan tidak dibahas atau tidak dijelaskan. 3. Kerangka pada mesin serta berbagai macam sambungan yang ada

(15)

4

TINJAUAN PUSTAKA

Kelapa

Sejarah tanaman kelapa

Kelapa (Cocos nucifera) merupakan jenis palem yang paling dikenal dan tersebar di daerah tropis.Kata Coco (Coquo) pertama kali digunakan digunakan oleh Vasco de Gama, kata ini berhubungan dengan dengan kera atau wajah aneh seperti tempurung kelapa bermata tiga.Kelapa (Coconut) dikenal dengan berbagai sebutan seperti Nux Indica, Al djanz al kindi, ganz-ganz, nargil, narle, tenga,temuaidan pohon kehidupan.Dalam menentukan asal usul tanaman kelapa

belum ada kesepakan di antara para ahli, beberapa bukti yang saling berkaitan dan bertentangan sehingga harus dipertimbangkan untuk menentukan asal-usul tanaman kelapa (Suhardiyo, 1988).

(16)

Botani tanaman kelapa

Kelapa merupakan salah satu anggota keluarga palmae.Biasanya tinggi optimum mencapai 30 m dengan diameter 20-30 cm. Daunnya sekitar 6 m panjangnya dan berakar serabut. Jumlah bunga betina yang terbuahi pada tanaman kelapa yang produksinya baik rata-rata 120 buah per tahun atau 30,3% dari bunga betina yang terbentuk. Buah kelapa mencapai berat maksimum 3-4 kg.Buah kelapa normal terdiri dari kulit luar, sabut, tempurung, kulit daging buah, air kelapa, dan lembaga (Palungkun, 1999).

Adapun klasifikasi tanaman kelapa (Cocos nucifera) menurut literatur Suwanto dan Octavianty (2010), adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Palmaeles

Famili : Palmae Genus : Cocos

Spesies : Cocos nucifera L.

Jenis kelapa

Tanaman kelapa menurut varietasnya dibagi menjadi tiga golongan sebagai berikut:

1. Varietas dalam (tall variety)

(17)

tandan/pohon/tahun atau sekitar 90 butir. Golongan kelapa ini meliputi kelapa bali, jepara dan banyumas.

2. Varietas genjah (dwarf variety)

Daging buah tebal, rapuh dan kandungan minyaknya rendah, umur mulai berbuah 3-4 tahun, produktivitas tandan sekitas 18 tandan/pohon/tahun atau sekitar 140 butir. Golongan kelapa ini meliputi kelapa gading, raja, dan puyuh.

3. Varietas hibrida

Merupakan varietas kelapa persilangan antara varietas dalam dengan varietas genjah.Daging buah tebal, keras dan kandungan minyaknya tinggi.Umur mulai berbuah 3-4 tahun, produktivitas tandan sekitar 140 butir/pohon/tahun.

(Warisno, 2002).

Gambar 1. Susunan buah kelapa

Kondisi perkelapaan di Indonesia

(18)

0,305 juta ha (8,20%), Maluku dan Papua 0,289 juta ha (7,80%), dan Kalimantan 0,277 juta ha (7,50%). Kelapa diusahakan para petani baik di kebun maupun pekarangan (Nogoseno, 2003).

Komoditi kelapa telah lama dikenal dan sangat berperan bagi kehidupan bangsa Indonesia baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun aspek sosial budaya.Komoditi ini hampir di seluruh Indonesia dan luas arealnya terus meningkat. Dari seluruh luas areal perkebunan kelapa, sekitar 97,4% dikelola oleh perkebunan rakyat yang melibatkan sekitar 3,1 juta keluarga petani, sisanya sebanyak 2,1% dikelola perkebunan besar swasta dan 0,5% dikelola perkebunan besar negara. Rata-rata produksi kelapa Indonesia dari perkebunan rakyat pada periode 2000–2005 adalah sebesar 3.036.759 ton pertahun, sedangkan rata-rata produksi dari hasil prediksi selama 2006–2009 adalah 3.187.695 ton, atau meningkat sekitar 5% (Disbun Lampung Barat, 2007).

Santan

Santan adalah cairan yang diperoleh dengan melakukan pemerasan terhadap daging buah kelapa parutan.Santan mempunyai peranan sebagai bahan untuk menambahkan cita rasa gurih pada makanan, misalnya pada pengolahan daging, ikan, ayam, dan pembuatan berbagai macam kue.Salah satu bahan masakan yang banyak dipakai di Indonesia adalah santan kelapa.

(19)

sesuai dengan standart mutu agar dapat dikelola lebih lanjut (pengawetan) dan menghasilkan nilai ekonomis yang tidak rendah (Palungkun, 1999).

Cara manual pemerasan santan yaitu dengan menggunakan tenaga manusia untuk memeras kain pembungkus yang berisi parutan kelapa.Pemerasan ditahan sampai aliran santan berhenti. Dengan cara ini diperoleh santan perasan pertama sedikit lebih daripada 50% berat daging buah kelapa parutan mula-mula. Ampas yang dihasilkan masih dapat memberikan sejumlah santan lagi, dengan cara menumbuk ampas tersebut dengan mortar kayu, memeras hasil tumbukan setelah menambah air sesuai dengan proporsi yang dikehendaki (misalnya 2 bagian ampas : 1 bagian air) selanjutnya diperas ulang kemudian hasil yang diperoleh dapat dicampur dengan perasan pertama (Suhardiyono, 1988).

Dengan memperbesar tekanan, dapat menaikkan jumlah santan yang diperoleh, walaupun dalam jumlah terbatas. Dibawah ini menunjukkan pengaruh tekanan terhadap santan yang diperoleh seperti yang diyatakan dalam tabel berikut Tabel 1. Pengaruh tekanan terhadap santan yang diperoleh

Tekanan Santan yang diperoleh

Kg/cm2 Press tangan

Psia Press tangan

ml/100 gr

daging buah Range

140 2.000 63,7 62,5 – 67,5

350 5.000 73,1 70,0 – 77,5

700 10.000 77,1 75,0 – 82,5

910 13.000 79,0 77,5 - 83,5

Untuk memperoleh santan yang lebih banyak, dilakukan dengan penambahan air. Walaupun dengan adanya penambahan air atau tidak, jumlah minyak di dalam santan kira-kira sama (Suhardiyono, 1988).

(20)

air yang ditambahkan dapat mempengaruhi jumlah minyak yang diperoleh bukan jumlah santan. Santan yang diperoleh dari proses higienis dapat disimpan dalam keadaan tetap segar dan baik selama 3-4 hari jika ditempatkan kedalam lemari pendingin segera setelah di ekstraksi (Suhardiyono, 1988).

Santan mudah mengalami kerusakan fisik berupa pemisahan emulsi menjadi dua fase, yaitu fase kaya minyak (krim) dan kaya air (skim).Pemisahan emulsi tersebut umumnya terjadi dalam waktu 5-10 jam sejak pembuatan santan Hal ini disebabkan oleh kandungan air dan lemak yang tinggi pada santan sehingga emulsi menjadi tidak stabil.Sifat ini merupakan masalah utama pada industri pengolahan santan yang menyebabkan penilaian konsumen terhadap produk menjadi rendah (Tangsuphoom dan Coupland, 2005).

Apabila proses pemerasan kelapa parut menjadi santan tidak higienis maka akan terdapat beberapa bentuk kerusakan yang akan terjadi pada santan yaitu terjadi perubahan aroma dan menguningnya santan. Kerusakan yang terjadi pada santan dapat berupa pemisahan fase, koagulasi lemak, off flavor, maupun oksidasi lemak.Bentuk kerusakan, terutama ketengikan yang paling penting adalah disebabkan oleh oksigen udara terhadap lemak. Dekomposisi lemak oleh mikroba hanya dapat terjadi jika terdapat air, senyawa nitrogen dan garam mineral, oksidasi oleh oksigen udara terjadi spontan jika bahan yang mengandung lemak dibiarkan kontak dengan udara (Ketaren, 2005).

Manfaat santan

(21)

tubuh karena mengandung vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, yaitu vitamin A, D, E, dan K serta provitamin A (karoten).Di samping itu, santan mengandung sejumlah asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.Manfaat kesehatan dari santan dikaitkan dengan kandungan asam laurat yang diduga bersifat antibakteri, antifungi, dan antivirus, disamping berkhasiat mengendalikan kolesterol jahat dan bermanfaat bagi kesehatan jantung (Sinaga, 2011).

Menurut (Ketaren, 1986) kandungan zat pada daging buah kelapa menyebabkan dapat diolah menjadi produk kebutuhan manusia.

Tabel 2. Kandungan zat pada daging buah kelapa setiap 100 gram bahan Kandungan zat Buah muda Buah setengah tua Buah tua

Komponen Mesin Pemeras Santan Kelapa Sistem Screw Press

Saluran pemasukan bahan

Merupakan saluran pemasukan bahan untuk selanjutnya dilakukan pengolahan dengan proses pemerasankelapa parut oleh screw press.

Motor listrik

(22)

bahwa kutub dari magnet yang senama akan tolak-menolak dan kutub-kutub tidak senama akan tarik-menarik. Maka dapat memperoleh gerakan jika kita menempatkan sebuah magnet pada sebuah poros yang dapat berputar, dan magnet yang lain pada suatu kedudukan yang tetap(Soenarta dan Furuhama, 2002).

Keuntungan penggunaan tenaga listrik melalui motor listrik antara lain motor listrik konstruksinya sederhana dan kompak, pengambilan tenaga listrik mudah, membutuhkan pemeliharaan dan perawatan yang sederhana, cara pengoperasiannya sangat mudah yaitu hanya dengan memutar kontak, suara dan getaran tidak menjadi gangguan,menghasilkan tenaga yang halus dan seragam dan dapat menyesuaikan dengan beban (Rizaldi, 2006).

Adapun kekurangan motor listrik yakni, membutuhkan sumber daya, kabel harus dapat dihubungkan dengan stop kontak, dengan demikian tempat penggunannya sangat terbatas oleh panjang kabel, kalau dipergunakan baterai sebagai sumber daya maka beratnya akan menjadi besar, secara umum biaya listrik motor listrik ini lebih tinggi daripada harga bahan bakar minyak dan untuk menghasilkan daya yang sama dihasilkan oleh sebuah motor pembakaran, maka motor listrik akan lebih berat (Soenarta dan Furuhama, 2002).

Puli

(23)

transmisi penggerak dikalikan diameternya adalah sama dengan putaran roda transmisi yang digerakkan dikalikan dengan diameternya.

Pemasangan pulley antara lain dapat dilakukan dengan cara:

- Horizontal, pemasangan pulley dapat dilakukan dengan cara mendatar di mana pasangan pulley terletak pada sumbu mendatar

- Vertikal, pemasangan pulley dilakukan secara tegak dimana letak pasangan pulley adalah pada sumbu vertikal. Pada pemasangan ini akan terjadi getaran

pada bagian mekanisme serta penurunan umur sabuk. (Mabie and Ocvirk, 1967).

Sabuk V

Sabuk bentuk trapesium atau V dinamakan demikian karena sisi sabuk dibuat serong, supaya cocok dengan alur roda transmisi yang berbentuk V. Kontak gesekan yang terjadi antara sisi sabuk V dengan dinding alur menyebabkan berkurangnya kemungkinan selipnya sabuk penggerak dengan tegangan yang lebih kecil dari pada sabuk yang pipih. Dalam kerjanya, sabuk V mengalami pembengkokan ketika melingkar melalui roda transmisi. Bagian sebelah luar akan mengalami tegangan, sedangkan bagian dalam akan mengalami tekanan. Susunan khas sabuk V terdiri atas :

1. Bagian elastis yang tahan tegangan dan bagian yang tahan kompresi, 2. Bagian yang membawa beban yang dibuat dari bahan tenunan dengan daya

rentangan yang rendah dan tahan minyak sebagai pembalut. (Smith dan Wilkes, 1990).

(24)

mudah untuk mendapatkan perbandingan putaran yang diinginkan. Transmisi tersebut telah digunakan dalam semua bidang industri, misalnya mesin-mesin pabrik, otomobil, mesin pertanian, alat kedokteran, mesin kantor dan alat-alat listrik. Kekurangan yang ada pada sabuk ini adalah terjadinya slip antara sabuk sehingga tidak dapat dipakai untuk putaran tetap atau perbandingan transmisi yang tetap (Daryanto, 1984).

Sabuk banyak digunakan dalam mesin-mesin pertanian. Hal ini dikarenakan sabuk memiliki beberapa kelebihan. Sularso dan Suga (2004), menyatakan bahwa bila dibandingkan dengan transmisi roda gigi atau rantai, sabuk V bekerja lebih halus dan tidak bersuara. Untuk mempertinggi daya transmisi, dapat dipakai beberapa sabuk V yang dipasang sebelah menyebelah. Namun, sabuk V juga memilik kelemahan yaitu :

- Tidak dapat digunakan pada jarak yang panjang

- Tidak cocok untuk beban yang berat pada kecepatan rendah

- Hanya dapat menghubungkan poros–poros yang sejajar dengan arah putar yang sama.

Ulir penggerak

(25)

dongkrak mobil, ulir penggerak pada mesin bubut, ulir penggerak pada mesin pres, tempat tidur rumah sakit, kontrol reaktor nuklir, C klem dan lain sebagainya. (Achmad, 2006).

Poros

Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pully, flywheel, engkol, sprocket dan elemen pemindah lainnya. Poros bisa menerima beban lenturan, beban tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri-sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya (Budi, 2012).

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan sebuah poros, yaitu:

1. Kekuatan poros

Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau lentur atau gabungan antara puntir dan lentur.Juga ada poros yang mendapat beban tarik atau tekan.Kelelahan tumbukan atau pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter poros diperkecil atau bila poros mempunyai alur pasak, harus diperhatikan.Sebuah poros harus direncanakan hingga cukup kuat untuk menahan beban-beban di atasnya.

2. Kekakuan poros

Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup tetapi jika lenturan atau defleksi puntirnya terlalu besar akan mengakibatkan ketidaktelitian (pada mesin perkakas) atau getaran dan suara.

(26)

Bila putaran suatu mesin dinaikkan maka pada suatu harga putaran tertentu dapat terjadi getaran yang luar biasa besarnya.Putaran ini disebut putaran kritis.Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya.Poros harus direncanakan hingga putaran kerjanya lebih rendah dari putaran kritisnya.

4. Korosi

Bahan-bahan tahan korosi harus dipilih untuk poros propeler dan pompa bila terjadi kontak dengan fluida yang korosif.

5. Material poros

Poros-poros yang dipakai untuk meneruskan putaran tinggi dan beban berat umumnya dibuat dari baja paduan dengan kulit yang sangat tahan terhadap keausan seperti baja khrom nikel, baja khrom nikel molibden, baja khrom dan baja khrom molibden, dan lain-lain.

(Sularso dan Suga, 2004).

Bantalan

Menurut Sularso dan Suga, (2004)Bantalan adalah elemen mesin yang mampu menumpu poros berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secara halus, aman dan tahan lama. Bantalan harus cukup kokoh untuk menghubungkan poros serta elemen mesin lainnya agar bekerja dengan baik.Bantalan dapat diklasifikasikan berdasarkan pada:

1. Gerakan bantalan terhadap poros Bantalan luncur dan bantalan gelinding 2. Beban terhadap poros

(27)

Speed reducer

Speed reducer (gearbox)adalah jenis motor yang mempunyai sistem

reduksi yang besar. Gearbox bersinggungan langsung ke dalam motor, dan secara bersamaan rangkaian ini mengurangi kecepatan keluaran (outputspeed).Speed reducer digunakan untuk menurunkan putaran. Dalam hal ini perbandingan speed

reducer putarannya dapat cukup tinggi.

i =N1

N2 ...(1)

dimana:

i = Perbandingan reduksi N1 = Input putaran (rpm) N2 = Output putaran (rpm) (Nieman, 1982).

Saluran pengeluaran

Saluran pengeluaran berfungsi untuk tempat keluaran bahan yang telah selesai diperas. Jumlah saluran pengeluaran terdapat dua, yaitu: saluran pengeluaran untuk santan dan saluran pengeluaran untuk ampas.

Logam yang Digunakan

(28)

1. Baja tahan karat ferit

Baja ini mengandung unsur karbon yang rendah (sekitar 0,04% C) dan sebagian besar dilarutkan dalam besi. Sementara itu, unsur lainnya yaitu kromium sekitar 13%-20% dan tambahan kromium tergantung pada tingkat ketahanan karat yang diperlukan.

2. Baja tahan karat austenit

Baja ini mengandung nikel dan kromium yang amat tinggi, nikel akan membuat temperatur transformasinya rendah, sedangkan kromium akan membuat kecepatan pendinginan kritisnya rendah.

3. Baja tahan karat martensit

Baja ini mengandung sejumlah besar unsur karbon. Baja yang mengandung 0,1% C, 13% Cr, dan 0,5% Mn. Ini dapat didinginkan untuk memperbaiki kekuatannya, tetapi tidak menambah kekerasan.

Mekanisme Pembuatan Mesin

Motor listrik sering digunakan sebagai tenaga penggerak dibandingkan dengan jenis tenaga-tenaga yang lain karena dapat disesuaikan. Dalam pekerjaan bengkel alat dan mesin, benda kerja yang akan dijadikan dalam bentuk tertentu sehingga menjadi barang siap pakai dalam kehidupan sehari-hari, maka dilakukan proses pengerjaan dengan mesin–mesin perkakas, antara lain mesin bubut, mesin bor, mesin gergaji, mesin frais, mesin skrap, mesin asah, mesin gerinda, dan mesin yang lainnya (Daryanto, 2007).

(29)

- Mesin bubut digunakan untuk mengerjakan bidang-bidang silinder, bidang rata, bidang tirus, berbentuk lengkung, dan membubut ulir sekrup.

- Mesin frais pahatnya berbentuk melingkar dan dipasang sumbu/poros utama dan berputar bersama-sama gerakan mesin, benda kerja berjalan sepanjang alas mesin baik secara gerak mendatar maupun melintang.

- Mesin sekrap bekerja dengan cara benda kerja dijepitkan dan dapat digeser dengan arah melintang terhadap sumbu mesin, sedangkan pahatannya dipasang pada deretan yang bergerak sepanjang sumbu mesin secara bolak-balik.

- Mesin bor digunakan untuk membuat saluran pada benda kerja, memperluas saluran (reamer), membor saluran penahan (countersink) yang berbentuk tirus. Sistem kerjanya, pahat yang berupa mata bor berputar dan menekan benda kerja sampai tembus dan bersaluran.

- Mesin gergaji untuk memotong benda kerja yang panjang.

- Mesin gerinda adah mesin asah untuk menajamkan semua macam pahat, baik pahat bubut, pahat sekrap, pahat tangan, pahat bor dan lain sebagainya (Daryanto, 2007).

(30)

sering sekali tergantung pada bahan yang dipakai untuk pembuatannya. Bahan yang digunakan untuk pembuatan peralatan usaha tani dapat diklasifikasikan dalam logam dan non logam (Smith dan Wilkes, 1990).

Penyatuan komponen menggunakan alat pengikat. Alat pengikat adalah alat/sarana untuk mengikat benda benda, seperti baut-baut, sekrup-sekrup, mur-mur, pena, pasak, ring, kunci, batang baut (stud), ring pembentuk, paku keling, dan lain-lain. Kegunaannya untuk mempermudah pembuatan, mempermudah perbaikan suatu komponen mesin/ konstruksi lainnya, mempermudah perawatan dan perbaikan dengan membuka ikatan suatu pertemuan (ikatan) dapat dipisahkan ke dalam bagian-bagian tersendiri untuk memudahkan pemeriksaan, perbaikan dan pergantian. Alat pengikat juga memberikan keselamatan, karena alat pengikat yang menahan getaran tidak mengakibatkan kelonggaran, tidak dipengaruhi temperatur yang tinggi, dapat melawan karat, dan akan tahan selama bagian-bagian digabungkan (Daryanto, 2003).

Baut dapat digunakan untuk membuat konstruksi sambungan tetap, sambungan bergerak, maupun sambungan sementara yang dapat dibongkar/dilepas kembali. Bentuk uliran batang baut untuk baja bangunan pada umumnya ulir segi tiga (ulir tajam) sesuai fungsinya yaitu sebagai baut pengikat.Sedangkan bentuk ulir segi empat (ulir tumpul) umumnya untuk baut-baut penggerak atau pemindah tenaga misalnya dongkrak atau alat-alat permesinan yang lain (Sularso dan Suga, 2004).

Prinsip Kerja Mesin Pemeras Santan Sistem Screw Press

(31)

silinder datar. Di dalam tabung silinder terdapat komponen ulir pembawa (screw) yang selalu berputar dan akan membawa parutan kelapa menuju saringan. Semakin bertambah banyaknya kelapa parut yang masuk dalam silinder screw, tekanan terhadap bahan semakin besar sehingga secara otomatis akan memeras cairan dalam bahan. Perasan air santan akan keluar melalui saluran saringan. Sedangkan ampas parutan akan keluar melalui sisi lain. Santan segar yang keluar kemudian ditampung dalam wadah dan siap untuk dikemas ataupun dikonsumsi (Palungkun, 1999).

Kapasitas Kerja Alat dan Mesin Pertanian

Menurut Daywin, dkk. (2008), kapasitas kerja suatu alat atau mesin didefinisikan sebagai kemampuan alat dan mesin dalam menghasilkan suatu produk (contoh: ha, Kg, lt) persatuan waktu (jam). Dari satuan kapasitas kerja dapat dikonversikan menjadi satuan produk per kW per jam, bila alat/mesin itu menggunakan daya penggerak motor. Jadi satuan kapasitas kerja menjadi: Ha.jam/kW, Kg.jam/kW, Lt.jam/kW. Persamaan matematisnya dapat ditulis sebagai berikut:

Kapasitas alat = Produk yang dihasilkan (Kg)

Waktu (Jam) ………...….(2) Analisis Ekonomi

(32)

output yang dihasilkan. Semakin banyak produk yang dihasilkan maka semakin

banyak bahan yang digunakan (Soeharno, 2007).

Biaya pemakaian alat

Biaya pokok ialah biaya yang diperlukan suatu alat/mesin pertanian untuk setiap unit produk dan diperlukan data kapasitas alat/mesin yang bersangkutan. Biaya produksi atau biaya pokok adalah biaya dari tiga unsur biaya yaitu biaya langsung, tenaga kerja langsung dan over head pabrik. Biaya-biaya ini secara langsung berkaitan dengan biaya pembuatan produk secara fisik yang dikeluarkan dalam rangka kegiatan proses produksi sehingga disebut juga dengan production cost. Biaya produksi terdiri dari biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja

langsung, biaya bahan tak langsung, biaya tenaga kerja tak langsung, dan biaya tak langsung lainnya.Ada dua kelompok biaya pemakaian alat atau mesin yang umum dibicarakan, yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Jumlah biaya tetap tidak dipengaruhi oleh jam kerja alsin, sedangkan biaya tidak tetap sangat dipengaruhi oleh alat dan mesin (Giatman, 2006).

Biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang selalu harus dikeluarkan tanpa memandang aktivitas produksi yang sedang dilaksanakan dan tidak tergantung pada banyak sedikitnya produk yang akan dihasilkan, misalnya: biaya penyusutan, biaya pajak, dan lain-lain (Halim, 2009).

(33)

juga, misalnya: biaya perbaikan, pemebelian bahan, sewa alat, upah buruh, dan lain-lain (Waldiyono, 2008).

a. Biaya tetap

Biaya tetap terdiri dari:

1. Biaya penyusutan (metode sinking fund)

Selama suatu alat dipakai harus dianggap nilainya berkurang menyusut dan dibutuhkan suatu biaya untuk menutupnya yakni biaya penyusutan.Maka, begitu alat tidak berdaya guna lagi saat itu pula sudah tersedia biaya sebagai pengganti alat tersebut yang dikumpulkan selama umur pemakaian alat.Penyusutan tidak selamanya bergantung pada umur daya guna alat.Bisa pula terjadi akibat perubahan zaman, perubahan keadaan pasar, dan hadirnya alat dengan teknologi terbaru yang lebih ekonomis.

Menurut Waldiyono (2008), menyatakan bahwa salah satu cara untuk mengitung biaya penyusutan yaitu menggunakan metode penanaman dana (Singking fund methods). Dimana biaya penyusutan kecil di awal dan sangat besar pada akhir umur pemakaian. Maka, kecilnya dana penyusutan pada awal pemakaian mungkin akan menguntungkan karena pada saat itu produksinya belum maksimal, tapi akan terasa berat pada akhir umur pemakaian yang dimana dana produksinya minimum.

(34)

Dn = (P – S) (A/F, i%, n) (F/A, i%, n - 1)...(3) dimana:

Dn = Biaya penyusutan pada tahun ke-n (Rp/tahun) P = Harga awal (Rp)

S = Harga akhir, 10% dari harga awal (Rp) N = Perkiraan umur ekonomis (tahun) n = Tahun ke-n

i = Tingkat bunga modal (%/tahun) 2. Biaya bunga modal dan asuransi,

Diperhitungkan untuk mengembalikan nilai modal yang ditanam sehingga pada akhir umur peralatan diperoleh suatu nilai uang yang present value nya sama dengan nilai modal yang ditanam. Persamaan yang

digunakan: I =i(P)(n+1)

2n …...………...…………...………...(4) dimana:

i = Total persentase bunga modal dan asuransi P = Harga awal alat/mesin (Rp)

n = Umur ekonomi (tahun) (Daywin, dkk., 2008).

3. Biaya pajak

Di beberapa literatur menganjurkan bahwa biaya pajak alat dan mesin pertanian diperkirakan sebesar 2% pertahun dari nilai awalnya(Waldiyono, 2008).

(35)

Biaya tidak tetap terdiri dari:

1. Biaya perbaikan untuk motor listrik sebagai sumber tenaga penggerak. 2. Biaya karyawan/operator yaitu biaya untuk gaji operator. Biaya ini

tergantung kepada kondisi lokal, dapat diperkirakan dari gaji bulanan atau gaji pertahun dibagi dengan total jam kerjanya

(Daywin, 2008).

Break even point

Break even point (BEP) umumnya berhubungan dengan proses penentuan

tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing). Selanjutnya dapat berkembang sendiri(self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol.

Analisis BEP juga digunakan untuk:

1. Hitungan biaya dan pendapatan untuk setiap alternatif kegiatan usaha.

2. Rencana pengembangan pemasaran untuk menetapkan tambahan investasi untuk peralatan produksi.

3. Tingkat produksi dan penjualan yang menghasilkan ekuivalensi (kesamaan) dari dua alternatif usulan investasi.

Manfaat perhitungan BEP adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan.Untuk mendefinisikan antara titik impas pada keuntungan (P) nol dan titik impas dengan kontribusi keuntungan, keuntungan sebelum pajak (P) perlu diperhatikan, yakni:

S =FC + P

(36)

dimana:

S = Sales variabel (produksi) (Kg/tahun) FC = Fix cash (biaya tetap) (Rp/tahun)

P =Profit (keuntungan) (Rp) dianggap nol untuk mendapat titik impas. SP =Selling per unit (penerimaan dari tiap unit produksi) (Rp)

VC = Variabel cash (biaya tidak tetap) per unit produksi (Rp) (Waldiyono, 2008).

Net present value

Net present value adalah selisih antara present value dari investasi nilai

sekarang dari penerimaan kas bersih dimasa yang akan datang. Identifikasi masalah kelayakan financial dianalisis dengan menggunakan metode analisis finansial dengan kriteria investasi.Net present value adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan.

Net Present Value (NPV) adalah metode menghitung nilai bersih (netto)

pada waktu sekarang (present). Asumsi present yaitu menjelaskan waktu awal perhitungan bertepatan dengan saat evaluasi dilakukan atau pada periode tahun ke nol (0) dalam perhitungan cash flow investasi.Cash flow yang benefit saja perhitungannya disebut dengan present worth of benefit (PWB), sedangkan jika yang diperhitungkan hanya cash out (cost) disebut dengan present worth of cost (PWC). Sementara itu NPV diperoleh dari PWB dikurangi PWC, yakni:

NPV = PWB – PWC...(6) dimana:

(37)

PWB = Present worth of benefit PWC = Present worth of cost

Untuk mengetahui apakah rencana suatu investasi tersebut layak ekonomis atau tidak, diperlukan suatu ukuran atau kriteria tertentu dalam metode NPV, yaitu:

NPV > 0 artinya investasi akan menguntungkan/ layak NPV < 0 artinya investasi tidak menguntungkan (Giatman, 2006).

Internal rate of return

Dengan menggunakan metode IRR akan mendapatkan informasi yang berkaitan dengan tingkat kemampuan cash flow dalam mengembalikan investasi yang dijelaskan dalam bentuk persen periode waktu. Logika sederhananya menjelaskan seberapa kemampuan cash flow dalam mengembalikan modalnya dan seberapa besar pula kewajiban yang harus dipenuhi (Giatman, 2006).

Menurut Purba (1997), menyatakan bahawa IRR ini digunakan untuk memperkirakan umur pemilikan suatu alsin pada tingkat keuntungan tertentu.IRR adalah suatu tingkatan discount rate, dimana diperoleh B/C ratio = 1 atau NPV = 0. Dihitunglah harga IRR dengan menggunakan rumus berikut :

IRR = p% + X

(38)
(39)

28

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni2015 s/d Juli 2015 di Laboratorium KeteknikanPertanian Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Bahan dan Alat Penelitian

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelapa parut, air, pelat stainless steel, screw press stainless steel, pelat besi,baut, mur, roda, baja, skrup, motor listrik, puli, sabuk V, kabel, cat dan thinner.

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mesin las, mesin bubut, mesin bor, mesin gerinda, gergaji besi, martil, obeng, meteran, kunci pas, kunci ring, ember, stopwatch, kalkulator dan komputer.

Metodologi Penelitian

Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah studi literatur (kepustakaan), dan melakukan pengamatan tentang mesin pemeras santan sistem screw press.Selanjutnya dilakukan perancangan bentuk dan pembuatan

(perangkaian) komponen-komponen mesin pemeras santan sistem scew press.Setelah itu, dilakukan pengujian mesin dengan pengamatan parameter.

Persiapan Penelitian

a. Pembuatan mesin

(40)

- Dirancang bentuk mesin pemeras santan sistem screw press. - Digambar serta ditentukan ukuran mesin.

- Dipilih bahan yang akan digunakan untuk membuat mesin pemeras santan sistem screw press.

- Dilakukan pengukuran terhadap bahan-bahan yang akan digunakan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan pada gambar teknik.

- Dipotong bahan sesuai ukuran.

- Dibentuk dan dilakukan pengelasan plat bahan untuk membentuk kerangka mesin.

- Digerinda permukaan yang terlihat kasar karena bekas pengelasan.

- Dihubungkan komponen bahan yang telah dibuat sesuai dengan urutan proses.

- Dilakukan pengecetan untuk menambah daya tarik mesin dan memperpanjang umur pemakaian.

- Dipasang sabuk V untuk menghubungkan motor listrik dengan puli pemeras

b. Persiapan bahan

- Disiapkan kelapa parut sebagai bahan utama yang akan diperas. - Ditimbang bahan utama (kelapa kering).

- Bahan siap diperas menggunakan mesin pemeras santan sistem screw press.

Prosedur Penelitian

1. Disiapkan kelapa parut.

(41)

3. Dimasukkan bahan kesaluran pemasukan.

4. Dihidupkan mesin pemeras santan sistem screw press. 5. Ditunggu sampai bahan terperas sempurna.

6. Ditampung santan dan ampas yang masing-masing terpisah ditempat yang berbeda.

7. Dicatat waktu yang dibutuhkan mesin untuk pemerasan santan. 8. Dilakukan perlakuan sebanyak tiga kali pengulangan.

9. Didokumentasi proses pengerjaan. 10.Dilakukan pengamatan parameter.

Parameter Penelitian

1. Kapasitas efektif alat (Kg/jam)

Kapasitas alat dilakukan dengan menghitung banyaknya kelapa parut yang telah terpres (Kg) tiap satuan waktu yang dibutuhkan selama proses pemerasan (Jam).Hal ini dapat dihitung menggunakan persamaan (2) pada tinjauan pustaka

2. Analisis ekonomi

a. Biaya pemeras santan

Perhitungan dilakukan dengan cara menjumlahkan biaya tetap dan biaya tidak tetap, atau lebih dikenal dengan biaya pokok.

- Biaya tetap

Biaya tetap terdiri dari:

(42)

Dalam perhitungan ini, besarnya suku bunga bank yang digunakan adalah 7,5%. Hal ini dapat dihitung menggunakan persamaan (3) pada tinjauan pustaka.

2. Biaya bunga modal dan asuransi

Hal ini dapat dihitung menggunakan persamaan (4) pada tinjauan pustaka.

- Biaya tidak tetap

Biaya tidak tetap terdiri dari: 1. Biaya perbaikanmesin 2. Biaya listrik

3. Biaya operator b. Break even point

Manfaat perhitungan titik impas (break even point) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Hal ini dapat dihitung menggunakan persamaan (5) pada tinjauan pustaka.

c. Net present value

(43)

d. Internal rate of return

(44)

33

HASIL DAN PEMBAHASAN

Mesin Pemeras Santan Kelapa

Pada penelitian ini dilakukan pemerasan pada kelapa parut dengan menggunakan mesin pemeras santan kelapa sistem screw press dimana pengoperasian mesin dilakukan oleh operator manusia dan pemerasan kelapa parut menggunakan motor listrik 2 HP sebagai tenaga penggeraknya. Motor listrik akan menggerakkan ulirpemeras untuk memeras sehingga menghasilkan santan. Mesin pemeras santan sistem screw press ini memiliki dimensi panjang 96 cm, lebar 55 cm, dan tinggi 117 cm.

Perancangan Mesin dan Prinsip Kerja yang Diharapkan

(45)

Pemilihan Bahan

Pemilihan bahan dan spesifikasi dari alat mempengaruhi kinerja alat yang dirancang.Bahan-bahan teknik yang digunakan dalam perancangan alat adalah stainless steel, baja dan besi, pada waktu pemilihan bahan diusahakan bahan yang

dipakai adalah bahan yang kokoh dan mampu mendukung kinerja alat. Namun juga diusahakan mudah diperoleh untuk menjaga kesinambungan bahan baku apabila ada usaha untuk memproduksi alat dalam jumlah besar. Pemilihan bahan yang berkualitas dan terjangkau sangat mempengaruhi biaya produksi alat.

Menurut Smith dan Wilkes(1990), menyatakan bahwa kekuatan, keawetan, bergantung terutama pada macam dan kualitas bahan yang digunakan untuk pembuatannya.Keberhasilan atau kegagalan alat sering sekali tergantung pada bahan yang dipakai untuk pembuatannya. Bahan yang digunakan untuk pembuatan peralatan usaha tani dapat diklasifikasikan dalam logam dan non logam

Pengukuran dan Pemotongan Bahan

Bahan yang sudah tersedia diukur dengan meteran sesuai dengan dimensinya masing-masing.Kemudian dipotong dengan gergaji besi atau gerinda sesuai dengan ukuran yang sudah digambar.Pengukuran dan pemotongan bahan dilakukan dengan teliti supaya hasil potongan baik. Menurut Daryanto (2007), menyatakan bahwa cara kerja beberapa mesin yang digunakan untuk mengerjakan logam, yaitu:

(46)

- Mesin bor digunakan untuk membuat lubang pada benda kerja, memperluas lubang (reamer), membor lubang penahan (countersink) yang berbentuk tirus. - Mesin gergaji untuk memotong benda kerja yang panjang.

- Mesin gerinda adah mesin asah untuk menajamkan semua macam pahat, baik pahat bubut, pahat sekrap, pahat tangan, pahat bor dan lain sebagainya

Perakitan Bahan

Bahan-bahan yang telah dipotong selanjutnya dirakit.Pada bahan stainless steel, hasil potongan disatukan dengan menggunakan pematrian. Pada bahan besi

dan baja, dapat disatukan dengan menggunakan las atau baut dan mur. Bila bahan ini selesai disatukan, selanjutnya adalah merakit menjadi satu semua bahan-bahan yang telah siap menjadi satu dimana bagian-bagiannya terdiri dari rangka, saluran masukan, silinder saringan, ulir penggerak dan saluran pengeluaran bahan.

Menurut Daryanto (2003), menyatakan bahwa penyatuan komponen menggunakan alat pengikat seperti baut-baut, sekrup-sekrup, mur-mur, ring, kunci,paku keling, dan lain-lain. Kegunaannya untuk mempermudah pembuatan,perawatan, dan perbaikan dengan membuka ikatan suatu pertemuan (ikatan) dapat dipisahkan ke dalam bagian-bagian tersendiri untuk memudahkan pemeriksaan, memberikan keselamatan karena alat pengikat yang menahan getaran tidak mengakibatkan kelonggaran.

Finishing

(47)

pengecatan akan menambah daya jual alat karena orang akan semakin tertarik melihatnya.

Proses Pemerasan

Bahan yang digunakan ialah kelapa parut selanjutnya dimasukkan ke dalam hopper. Hopper pada alat ini berfungsi untuk tempat pemasukan bahan dan berat bahan yang akan di uji coba sebesar 1 kg. Selanjutnya bahan akan diteruskan pada saluruan pemeras yang terbuat dari bahan stainless steel. Bahan akan jatuh ke bagian silinder saringan didalamnya terdapat ulir penggerak. Pada bagian pemeras terdapat 8 buah ulir (screw) dengan tebal 0,3 cm, jarak antar screw 4,5 cm.

Setelah bahan terperas, maka hasil perasan tersebut ditandai dengan bentuk ampas kelapa yang remah kemudian ditampung pada wadah pengeluaran ampas dan hasil berupa santan kental akan ditampung pada wadah pengeluaran santan yang terbuat dari bahan stainless steel.

(48)

optimal dan sesuai dengan standart mutu agar dapat dikelola lebih lanjut (pengawetan) dan menghasilkan nilai ekonomis yang tidak rendah.

Santan adalah cairan yang diperoleh dengan melakukan pemerasan terhadap kelapa parut.Santan mudah mengalami kerusakan fisik apabila proses pembuatan santan dilakukan tidak higienis. Keruskan terjadi dalam bentuk perubahan warna, aroma. Menurut Tangsuphoom dan Coupland(2005), santan mudah mengalami kerusakan fisik berupa pemisahan emulsi menjadi dua fase, yaitu fase kaya minyak (krim) dan kaya air (skim). Hal terjadi dalam waktu 5-10 jam sejak pembuatan santan disebabkan oleh kandungan air dan lemak yang tinggi pada santan sehingga emulsi menjadi tidak stabil.Sifat ini merupakan masalah utama pada industri pengolahan santan yang menyebabkan penilaian konsumen terhadap produk menjadi rendah.Menurut Ketaren (2005), apabila proses pemerasan kelapa parut menjadi santan tidak higienis maka akan terdapat beberapa bentuk kerusakan yang akan terjadi pada santan yaitu terjadi perubahan aroma dan menguningnya santan. Kerusakan yang terjadi pada santan dapat berupa pemisahan fase, koagulasi lemak, off flavor, maupun oksidasi lemak.Bentuk kerusakan, terutama ketengikan yang paling penting adalah disebabkan oleh oksigen udara terhadap lemak.

Kapasitas Efektif Alat

Mesin pemeras santan sistem screw press menggunakan motor listrik dengan daya 2 HP dengan putaran motor listrik 1400 rpm, pada speed reducer menggunakan perbandingan 1:60, kapasitas efektif alat sebesar 11,25 kg/jam.

(49)

keselamatan kerja sangat perlu diperhatikan, keselamatan kerja dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mengindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama proses kerja.

Kapasitas efektif alat diperoleh dengan melakukan pemerasan pada kelapa parut sebanyak tiga kali ulangan, kemudian dihitung kapasitas efektif alat rata-rata.Kapasitas efektif suatu alat menunjukkan produktivitas alat selama pengoperasian tiap satuan waktu.Dalam hal ini, kapasitas efektif alat diukur dengan membagi banyaknya bahan yang diperas (Kg) terhadap waktu yang dibutuhkan selama pengoperasian alat (Jam). Menurut Daywin, dkk. (2008), menyatakan bahwa kapasitas kerja suatu alat atau mesin didefinisikan sebagai kemampuan alat atau mesin dalam menghasilkan suatu produk (contoh: ha, Kg, lt) per satuan waktu (jam).

Tabel 3. Data kapasitas kerja alat pemeras santan sistem screw press Ulangan Berat

(50)

Dari hasil penelitian, didapatkan waktu pemerasan tercepat sebesar 4,24 detik pada sampel 3. Waktu pengupasan terlama sebesar 6,57 detik pada sampel 1. Yang menyebabkan perbedaan pada waktu pemerasan kelapa parut adalah human error.

Analisis Ekonomi

Biaya pemakaian alat

Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini.Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan. Harga bahan baku kelapa parut Rp. 7.000/Kg dan harga penerimaan yang diperoleh untuk santan kental dari pasaran sebesar Rp. 4.000/Kg.

Dari penelitian yang dilakukan (Lampiran 4), diperoleh biaya untuk memeras kelapa parut berbeda tiap tahun.Hal ini disebabkan perbedaan nilai biaya penyusutan tiap tahun sehingga mengakibatkan biaya tetap alat tiap tahun berbeda juga. Diperoleh biaya pemerasan kelapa parut dengan mesin ini sebesar Rp. 787,022/Kg untuk tahun pertama, Rp. 792,205/Kg untuk tahun kedua, Rp. 797,777/Kg untuk tahun ketiga, Rp. 803,769/Kg untuk tahun keempat, Rp. 810,204/Kg untuk tahun kelima yang merupakan hasil perhitungan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap kapasitas jam kerja mesin pemeras santan sistem screw press.

(51)

11.659.776/tahun. Besarnya penerimaan dari tiap Kg pemerasan kelapa parut sebesar Rp. 4.000/kg (asumsi dari lapangan)

Break even point

Menurut Waldiyono (2008), manfaat perhitungan titik impas adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan.Pada kondisi ini, income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan (Lampiran 5), dapat diketahui produksi 490 Kg pada tahun pertama, 516 Kg pada tahun kedua, 544 Kg pada tahun ketiga, 575 Kg pada tahun keempat, 608 Kg pada tahun kelima.

Net present value

Net present value (NPV)adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur

suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan.Dari percobaan dan data yang diperoleh (Lampiran 6) pada penelitian dapat diketahui besarnya NPV dengan suku bunga 7,5% adalah Rp. 219.411.582,3 dan suku bunga bank coba-coba 9,5% adalah Rp. 207.854.348,1. Hal ini berarti usaha ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih dari nol. Hal ini sesuai dengan pernyataan Giatman(2006), yang menyatakan bahwa kriteria NPV> 0, berarti investasi akan menguntungkan.

Internal rate of return

(52)
(53)

42

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Kapasitas alat pada mesin pemeras santan sistem screw press dengan dimensi panjang 96 cm, lebar 56 cm, dan tinggi 117 cm adalah 11,25 kg/jam

2. Mesin memiliki biaya pokok sebesar Rp. 787,022/Kg untuk tahun pertama, Rp. 792,205/Kg untuk tahun kedua, Rp. 797,777/Kg untuk tahun ketiga, Rp. 803,769/Kg untuk tahun keempat, Rp. 810,204/Kg untuk tahun kelima.

3. Mesin mencapai titikBEP apabila telah memeras 490 Kg pada tahun pertama, 516 Kg pada tahun kedua, 544 Kg pada tahun ketiga, 575 Kg pada tahun keempat, 608 Kg pada tahun kelima.

4. Investasi akan menguntungkan karena bunga yang digunakan bank 7,5% menghasilkan nilai NPV sebesar Rp.219.411.582,3

5. Internal rate of return pada alat ini adalah sebesar 47,46%.

6. Kelebihan mesin ini memiliki hasil perasan yang cukup optimal yaitu sekitar 75% (1 kg kelapa parut => 750-800 ml santan kental) dan tingkat pengaturan lubang pengeluaran ampas yang dapat diatur.

Saran

(54)

43

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Z., 2006. Elemen Mesin 1. PT Refika Aditama, Bandung. Amanto, H. dan Haryanto, 1999. Ilmu Bahan. Bumi Aksara, Jakarta. Budi, S., 2012. Poros Daryanto, 1984. Dasar-Dasar Teknik Mesin. Bina Aksara, Jakarta.

Daryanto, 2003. Alat Pengikat Pada Elemen Mesin. Bina Adiaksara, Jakarta. Daryanto, 2007. Dasar-Dasar Teknik Mesin. Rineka Cipta, Jakarta.

Daywin, F. J., R. G. Sitompul, dan I. Hidayat, 2008. Mesin-Mesin Budidaya Pertanian di Lahan Kering. Graha Ilmu, Jakarta.

Disbun Lampung Barat 2015].

Giatman, M., 2006. Ekonomi Teknik. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Halim, A., 2009. Analisis Kelayakan Investasi Bisnis: Kajian dari Aspek Keuangan. Graha Ilmu, Yogyakarta.

Hazwi, 2010.Perancangan dan Pembuatan Alat Penguji Tekan (hidraulic screw press) Pada Proses Pengolahan Minyak Kelapa.http: repository.usu.ac.id.pdf. [16 Februari 2015].

Ketaren, S., 1986.Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI Press, Jakarta.

Ketaren, S., 2005.Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI Press, Jakarta.

Mabie,H. H. and F. W. Ocvirk, 1967.Mechanics and Dynamic of Machinery. Jhon Wiley & Sons, Inc., New York.

Nieman, G., 1982. Elemen Mesin: Desain dan Kalkulasi dari SambunganBantalan dan Poros. Penerjemah Bambang Priambodo, Erlangga, Jakarta.

Nogoseno, 2003.Reinventing Agribisnis Perkelapaan Nasional.Konferensi Nasional Kelapa V. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.

(55)

Purba, R., 1997. Analisa Biaya dan Manfaat. PT. Rineka Cipta, Jakarta. Rizaldi, T., 2006. Mesin Peralatan. USU Press,Medan.

Sinaga, J., 2011. Pengertian Higiene dan Sanitasi.

Smith, H. P. dan L. H. Wilkes, 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. GajahMada University Press, Yoyakarta.

Soeharno, 2007. Teori Mikroekonomi. Andi Offset, Yogyakarta

Soenarta, N. dan S. Furuhama, 2002. Motor Serbaguna. Pradnya Paramita, Jakarta.

Stolk, J dan C. Kross., 1981. Elemen Mesin: Elemen konstruksi dari bangunan mesin. Penerjemah Handersin dan A. Rahman. Erlangga, Jakarta.

Suhardiyono. L, 1988. Tanaman Kelapa Budidaya dan Pemanfaatannya. Kansius, Yogyakarta.

Sularso dan K. Suga, 2004.Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Pradnya Paramita. Jakarta.

Suwanto dan Y. Octavianty.2010. Budidaya 12 Tanaman Perkebunan Unggulan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tangsuphoom, N.And J.N. Coupland. 2005. Effect of heating and homogenization on the stability of coconut milk emulsions. Journal of Food Science. 70 (8): 466-470.

Waldiyono, 2008. Ekonomi Teknik (Konsep, Teori dan Aplikasi). Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

(56)

45

LAMPIRAN

Lampiran 1.Flowchart pelaksanaan penelitian

Mulai

Merancang bentuk alat

Menggambar dan menentukan dimensi

alat

Memilih bahan

Mengukur bahan yang akan digunakan

Memotong bahan yang digunakan sesuai dengan

dimensi pada gambar

Merangkai alat

Mengelas alat

Mengecat alat

a

Menggerinda permukaan alat yang kasar

(57)

a

Menguji alat

Data

Selesai b

Layak?

Mengukur parameter

(58)

Lampiran 2. Spesifikasi mesin pemeras santan sistem screw press 1. Dimensi mesin

Panjang = 96 cm

Lebar = 55 cm

Tinggi = 117 cm

2. Bahan

Ulir Penggerak = Stainless steel

Rangka = Baja

Alas = Stainless steel

3. Dimensi ulir penggerak

Diameter = 10 cm

Panjang = 36 cm

Jarak antar ulir = 4,5 cm

Tebal ulir = 0,3 cm

Jumlah ulir = 8 buah

4. Motor Listrik

Tenaga = 2 HP

Kecepatan tanpa beban = 1400 rpm 5. Speed reducer (gearbox)

(59)

Lampiran 3. Kapasitas kerja mesin pemeras santan sistem screw press

(60)

Lampiran 4.Analisis ekonomi efektif berdasarkan tahun 2015)

2. Perhitungan biaya produksi a. Biaya tetap (BT)

1. Biaya penyusutan metode sinking fund Dn = (P-S) (A/F, i, N) (F/P, i, n-1)

dimana:

Dn = Biaya penyusutan pada tahun ke-n (Rp/tahun) P = Harga awal (Rp)

S = Harga akhir, 10% dari harga awal (Rp) N = Perkiraan umur ekonomis (tahun) n = Tahun ke-n

(61)

Tabel Perhitungan biaya penyusutan dengan metode sinking fund

2. Bunga modal dan asuransi I =i(P)(N+1)

2N

dimana:

i = Tingkat bunga modal dan asuransi (7,5% pertahun) P = Harga awal (Rp)

N = Perkiraan umur ekonomis (tahun) I = 7,5% (Rp. 7.000.000)(5+1)

(62)

Tabel Perhitungan biaya tetap tiap tahun 1 1.166.224,50 315.000 140.000 1.621.224,500 2 1.253.696,76 315.000 140.000 1.708.696,762 3 1.347.721,57 315.000 140.000 1.802.721,578 4 1.448.830,53 315.000 140.000 1.903.830,530 5 1.557.425,01 315.000 140.000 2.012.425,016 b. Biaya tidak tetap (BTT)

1. Biaya perbaikan dan pemeliharaan alat

Ppa =1,2% 100

x

P -S

100 Jam

x

Wt

dimana:

Ppa = Biaya perbaikan dan pemeliharaan alat pertahun (Rp/tahun) P = Harga awal alat (Rp)

S = Harga akhir alat, 10% dari harga pembelian (Rp) Wt = Jam kerja pertahun (Jam/tahun)

Ppa = 1,2% 100

x

Rp. 7.000.000 – Rp. 700.000

100 Jam x 1.500 Jam/tahun = Rp. 1.134.000/tahun

2. Biaya listrik

Motor listrik 2 HP = 1,492 kW Jumlah pemakaian 1 hari = 5 jam

Biaya listrik per tahun = 1,492 kW x 1.500 jam x Rp. 1.352/kWh = Rp. 3.025.776/tahun

(63)

Uop = Upah operator per jam (Rp/jam) BO = Biaya operator pertahun (Rp/tahun) Wt = Jam kerja per tahun (Jam/tahun) Uop = Rp. 1.500 jam/tahun x Rp. 5.000/jam

= Rp. 7.500.000/tahun

Total biaya tidak tetap = Biaya perbaikan + biaya operator + biaya listrik = Rp. 1.134.000 + Rp. 3.025.776 + Rp. 7.500.000 Btt = Biaya tidak tetap (Rp/tahun)

Tahun Biaya tetap (Rp/tahun)

Biaya tidak tetap (Rp/tahun)

Biaya total (Rp/tahun) 1 1.621.224,500 11.659.776 13.281.000,50 2 1.708.696,762 11.659.776 13.368.472,76 3 1.802.721,578 11.659.776 13.462.497,58 4 1.903.830,530 11.659.776 13.563.606,53 5 2.012.425,016 11.659.776 13.672.201,02 d. Biaya pokok pengepresan santan

(64)

k = Kapasitas kerja alat (Kg/jam) TabelPerhitungan biaya pokok tiap tahun

Tahun Biaya total (Rp/tahun)

Wt (Jam/tahun)

k (Kg/jam)

BP (Rp/kg)

1 13.281.000,50 1.500 11,25 787,022

2 13.368.472,76 1.500 11,25 792,205

3 13.462.497,58 1.500 11,25 797,777

4 13.563.606,53 1.500 11,25 803,769

(65)

Lampiran 5.Break even point

P = Profit (keuntungan) (Rp) dianggap nol untuk mendapat titik impas. VC = Variabel cash (biaya tidak tetap) per unit produksi (Rp)

SP = Selling per unit (penerimaan dari tiap unit produksi) (Rp) Biaya tidak tetap = Rp. 11.659.776/tahun

= Rp. 7.773,184/jam Kapasitas produksi = 11,25 Kg/jam

Maka, VC = Rp. 7.773,184/jam : 11,25 Kg/jam = Rp. 690,949/Kg

SP = Rp. 4.000/Kg (asumsi pengerjaan di lapangan) P = 0 (dianggap nol untuk mendapat titik impas) TabelPerhitungan BEP

1 1.621.224,500 4.000 690,949 489,941

2 1.708.696,762 4.000 690,949 516,370

3 1.802.721,578 4.000 690,949 544,785

4 1.903.830,530 4.000 690,949 575,340

5 2.012.425,016 4.000 690,949 608,157

Produksi mengalami titik impas (break even point) saat mesin menghasilkan santan sebanyak:

Tahun 1 = 490 Kg/tahun

(66)

Tahun 3 = 544 Kg/tahun

Tahun 4 = 575 Kg/tahun

(67)

Lampiran 6.Net present value NPV = PWB - PWC

dimana:

PWB = Present worth of benefit PWC = Present worth of cost

NPV > 0 artinya investasi akanmenguntungkan/layak NPV < 0 artinya investasi tidak menguntungkan Maka,

Investasi = Rp. 7.000.000

Nilai akhir = Rp. 700.000

Suku bunga bank = 7,5%

Suku bunga coba-coba = 9,5%

Umur alat = 5 tahun

Penerimaan dari tiap Kg = Rp. 4.000/Kg

Kapasitas alat = 11,25 Kg/jam

Penerimaan = 11,25 Kg/jam x Rp. 4.000/Kg

= Rp. 45.000/jam

Pendapatan = Penerimaan× jam kerja per tahun = Rp. 45.000/jam x 1.500 jam/tahun = Rp.67.500.000/tahun

Pembiayaan = BTT x Jam kerja per tahun

(68)

PWB (present worth of benefit) 7,5%

Pendapatan = Rp. 67.500.000/tahun (P/A, 7,5%, 5) =Rp. 67.500.000/tahun(4,0459)

PWC (present worth of cost) 7,5% Investasi = Rp. 7.000.000

Pembiayaan = Rp. 11.659.776/tahun (P/A, 7,5%, 5) =Rp. 11.659.776/tahun (4,0459) =Rp. 47.174.287,72

PWC = Rp. 7.000.000 +Rp. 47.174.287,72 = Rp. 54.174.287,72

NPV 7,5% = PWB - PWC

= Rp. 237.585.870- Rp. 54.174.287,72 = Rp. 219.411.582,3

PWB (present worth of benefit) 9,5%

Pendapatan = Rp. 67.500.000/tahun (P/A, 9,5%, 5) =Rp. 67.500.000/tahun(3,8397)

(69)

=Rp. 700.000(0,6352) =Rp. 444.640/tahun

PWB = Rp. 259.179.750/tahun + Rp. 444.640/tahun = Rp. 259.624.390

PWC (present worth of cost) 9,5% Investasi = Rp. 7.000.000

Pembiayaan = Rp. 11.659.776/tahun (P/A, 9,5%, 5) =Rp. 11.659.776/tahun(3,8397)

=Rp. 44.770.041,91/tahun

PWC = Rp. 7.000.000 + Rp. 44.770.041,91 = Rp. 51.770.041,91

NPV7% = PWB - PWC

= Rp. 259.624.390 - Rp. 51.770.041,91 = Rp. 207.854.348,1

(70)

Lampiran 7. Internal rate of return

Berdasarkan harga dari NPV = X (positif) atau NPV= Y (positif) dan NPV = X (positif) atau NPV = Y (negatif), dihitunglah harga IRR dengan menggunakan rumus berikut :

IRR = p% + X

Karena keduanya positif, maka digunakan persamaan

(71)

Lampiran 8. Gambar proses penelitian

Gambar 1. Kelapa parut

(72)

Lampiran 9. Gambar teknik mesin pemeras santan kelapa sistem screw press

(73)
(74)
(75)
(76)

\

(77)
(78)
(79)

SKALA 1:16

(80)

Lampiran 10. Gambar mesin pemeras santan kelapa sistem screw press

Gambar 3. Tampak depan

Gambar 4. Tampak belakang

(81)

Gambar 6. Tampak samping kanan

Gambar 7. Tampak atas

(82)

Gambar 9.Saluran pengeluaran santan

Gambar 10. Saluran pengeluaran ampas

(83)
(84)

Lampiran 11. Tabel suku bunga 1. Tingkat suku bunga 7,5 %

Gambar

Gambar 1. Susunan buah kelapa
Tabel 1. Pengaruh tekanan terhadap santan yang diperoleh Tekanan Santan yang diperoleh
Tabel 2. Kandungan zat pada daging buah kelapa setiap 100 gram bahan Kandungan zat   Buah muda Buah setengah tua Buah tua
Tabel 3. Data kapasitas kerja alat pemeras santan sistem screw press
+7

Referensi

Dokumen terkait

MESTN PEMERAS SANTAN T'JIE &#34;PRESSING SCREV &#34;. TER.EADAI PEMERAS

Biaya produksi terdiri dari biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan tak langsung, biaya tenaga kerja tak langsung, dan biaya tak langsung lainnya.Ada

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa perlakuan pengujian rasio diameter puli pada alat pemeras santan sistem screw press memberikan pengaruh sangat nyata

Dalam perancangan ini, tidak lupa juga harus memperhatikan prinsip kerja alat yang akan dirancang dimana prinsip kerja yang diharapkan bekerja dengan menggunakan

Hasil pengujian alat pemeras santan tipe ulir daya horizontal penggerak manual memiliki kapasitas rata-rata 13 kg/jam dan rendemen pemerasan santan rata-rata

Dari pengujian DMRT diperoleh bahwa diameter puli pada alat pemeras santan sistem screw press memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas efektif alat dan

Dari pengujian DMRT diperoleh bahwa diameter puli pada alat pemeras santan sistem screw press memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kapasitas efektif alat dan

kapasitas efektif alat pemeras santan sistem screw press , sehingga diperlukan analisa lanjutan yaitu dengan menggunakan Duncan multiple range test (DMRT) untuk mengetahui