• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KONFLIK TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA KOPERASI UNIT DESA SUMBER REJO PASURUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH KONFLIK TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA KOPERASI UNIT DESA SUMBER REJO PASURUAN"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KONFLIK TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA KOPERASI UNIT DESA SUMBER REJO

PASURUAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang

Sebagai Persyaratan untuk Mendapatkan Gelar Sarjana ( S-1 ) Manajemen

Oleh:

ROFIK YANUARI ARIF NIM : 06.610.222

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)
(3)

LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Rofik Yanuari Arif

Nim : 06610222

Fakultas : Ekonomi

Jurusan : Manajemen

Tempat Tanggal Lahir : Pasuruan, 14 Januari 1988

Instansi : Universitas Muhammadiyah Malang

Menyatakan bahwa karya ilmiah ( skripsi ) dengan judul:

“PENGARUH KONFLIK TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA KOPERASI UNIT DESA SUMBER REJO PASURUAN”

Adalah bukan karya tulis ilmiah ( skripsi ) orang lain, baik sebagian atau seluruhnya, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah saya sebutkan dengan benar.

Demikian surat kutipan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar , saya bersedia mendapatkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Malang, 12 Desember 2013

Yang Menyatakan

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah

melimpahkan rahmat serta hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

tepat pada waktunya.

Skripsi yang berjudul “PENGARUH KONFLIK TERHADAP KINERJA

KARYAWAN PADA KOPERASI UNIT DESA SUMBER REJO PASURUAN” disusun untuk memenuhi serta melengkapi syarat memperoleh gelar Kesarjanaan di bidang Ekonomi,

program studi Manajemen pada Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis berusaha memberi sebaik mungkin namun

demikian, penulis menyadari akan kemampuan dan keterbatasan pengetahuan serta

pengalaman penulis. Skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan serta

dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada yang

terhormat:

1. Dr. H. Nazaruddin Malik, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

Muhammadiyah Malang.

2. Dra. Aniek Rumijati, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah

Malang.

3. Dra. Sandra Irawati, MM, selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah sudi meluangkan

waktuya untuk mengoreksi serta memberikan petunjuk yang sangat bermanfaat guna

(5)

4. Dra. Titiek Ambarwati, MM, selaku Dosen Pembimbing Pendamping yang penuh

kesabaran telah memberikan bimbingan serta petunjuk hingga selesainya penulisan

skripsi ini.

5. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu

terselesaikannya skripsi ini baik materiil maupun spirituil.

Akhirnya segala amal baik yang telah mereka berikan kepada penulis semoga mendapat

balasan dari Allah SWT. dan penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Malang, April 2013

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

SURAT PERNYATAAN ... iii

KARTU KENDALI KONSULTASI... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Batasan Masalah... 7

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7

1. Tujuan Penelitian ... 7

2. Kegunaan Penelitian ... 8

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Penelitian Terdahulu ... 9

B. Landasan Teori ... 10

1. Pengertian Kinerja ... 10

(7)

3. Pengukuran Kinerja ... 12

4. Definisi Konflik ... 14

5. Jenis Konflik... 15

6. Sumber Dan Sebab-Sebab Terjadinya Konflik ... 17

7. Proses Konflik ... 20

8. Pengaruh Antara Konflik dan Kinerja Karyawan ... 28

9. Kerangka Pikir ... 30

10. Hipotesis ... 30

BAB III. METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ... 32

B. Jenis Penelitian ... 32

C. Populasi dan Sampel ... 32

D. Data dan Sumber Data ... 33

E. Teknik Pengumpulan Data ... 33

F. Definisi Operasionalisasi dan Pengukuran Variabel ... 34

G. Uji Instrumen ... 37

H. Metode Analisis Data ... 38

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 41

1. Sejarah KUD Sumber Rejo Pasuruan ... 41

2. Kepengurusan KUD Sumber Rejo Pasuruan ... 45

3. Bidang Usaha ... 48

4. Prestasi KUD Sumber Rejo Pasuruan ... 51

5. Stuktur Organisasi KUD Sumber Rejo Pasuruan... 52

B. Gambaran Karakteristik Responden ... 57

1. Jenis Kelamin Responden ... 57

(8)

3. Tingkat Pendidikan Terakhir Responden ... 59

4. Masa Kerja Responden ... 60

5. Status Perkawinan Responden ... 61

C. Uji Instrumen ... 61

1. Uji Validitas ... 61

2. Uji Reliabilitas ... 64

D. Hasil Analisis Data ... 65

1. Hasil Analisis Rentang Skala ... 65

2. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda ... 75

3. Pembahasan ... 82

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 86

B. Saran ... 86

(9)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Diagram Hubungan Konflik dan Kinerja Karyawan ... 29

Gambar 2.2 Kerangka Pikir Penelitian ... 30

Gambar 4.1 Stuktur Organisasi KUD Sumber Rejo Pasuruan ... 52

Gambar 4.2 Kurva Daerah Penerimaan Dan Penolakan H0 Untuk Uji F (Simultan) ... 80

Gambar 4.3 Kurva Daerah Penerimaan Dan Penolakan H0 Secara Parsial... 81

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Target dan Realisasi Jumlah Nasabah ... 4

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu Dengan Penelitian Sekarang ... 10

Tabel 3.1 Rentang Skala ... 39

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 57

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 58

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 59

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja ... 60

Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan ... 61

Tabel 4.6 Uji Validitas Variabel Konflik antar Individu (X1) ... 62

Tabel 4.7 Uji Validitas Faktor Konflik antar kelompok (X2) ... 63

Tabel 4.8 Uji Validitas Kinerja Kerja Karyawan (Y) ... 63

Tabel 4.9 Hasil Uji Reliabilitas... 64

Tabel 4.10 Kinerja Karyawan (Y) ... 65

Tabel 4.11 Kinerja Karyawan (Y) ... 67

Tabel 4.12 Konflik Antar Individu ... 68

Tabel 4.13 Konflik Antar Individu ... 70

Tabel 4.14 Konflik Antar Kelompok ... 72

(11)
(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Angket Penelitian

2. Skor Hasil Penelitian

3. Hasil Distribusi Frekuensi

4. Hasil Uji Validitas

5. Hasil Reability

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Penerbit PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Atmosoeprapto, Kisdarto, 2001, Produktivitas Aktualisasi Budaya Perusahaan, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta.

Hafidhuddin dan Tanjung, 2003, Manajemen Syariah Dalam Praktik, Gema Insani, Jakarta.

Ibrahim Indrajaya, Adam, 2010, Teori Perilaku dan Budaya Organisasi, Cetakan Pertama, Penerbit PT. Refika Aditama, Bandung.

Mangkunegara, Anwar Prabu, 2000, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Cetakan Kedua, PT. Remaja Rosdakarya Offset, Bandung.

Rahmawati, 2012, Pengaruh Konflik Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Atri Distribusindo Divisi Nokia Malang, Skripsi Universitas Muhammadiyah Malang.

Robbins, Stephen, 2002, Teori Organisasi, Edisi Ketiga, Cetakan Ketiga, Penerbit: Prentice Hall Inc.

Siagian, S.P, 2002, Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan Kesembilan, Penerbit Bumi Aksara: Jakarta.

Sugiyono, 2012, Metode Penelitian Bisnis. Cetakan ke IV, Bandung: CV. ALFABETA.

(14)

Wahjono, Imam Sentot, 2010, Perilaku Organisasi, Cetakan Pertama, Penerbit Graha IlmuYogyakarta.

Winardi, 2002. Azas-Azas Manajemen. Cetakan Pertama, Jakarta: Rineka Cipta.

Widayat dan Amirullah, 2002, Riset Bisnis, Edisi Pertama, Malang: CV. Cahaya Press.

Widayat, 2004, Metode Penelitian Pemasaran, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit, CV. Cahaya Press, Malang.

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Perusahaan pada dasarnya mempunyai ketergantungan pada aspek

sumber daya manusia yang dimiliki. Sumber daya manusia memiliki faktor

kendali yang dapat menentukan kelangsungan perusahaan. Dapat dikatakan

demikian karena faktor sumber daya manusia dalam hal kualitasnya akan

menentukan kualitas perusahaan tersebut yang nantinya berpengaruh terhadap

kelangsungan hidup perusahaan. Dukungan atas upaya perusahaan untuk

meningkatkan jaminan kemampuan para karyawan untuk untuk meningkatkan

kinerja para karyawan. Pencapaian kinerja merupakan suatu proses yang

direnacanakan sehingga pencapaian kinerja para karyawan menunjukkan

jaminan bahwa upaya pencapaian tujuan perusahaan dapat tercapai secara

maksimal.

Salah satu cara didalam pengelolaan sumber daya manusia ini adalah

melalui manajemen konflik. Berkumpulnya suatu individu-individu didalam

suatu kelompok dengan latar belakang, status, tujuan, persepsi yang berbeda

untuk bekerjasama pasti akan menimbulkan konflik besar maupun kecil

sehingga bisa dikatakan sudah menjadi bagian dari aktivitas organisasi.

Keberadaan konflik ini bisa merusak maupun membantu perusahaan

didalam pencapaian tujuan. Konflik yang tidak teratur akan bersifat merusak

(16)

2

yang terjadi dengan baik, maka prestasi karyawan akan meningkatkan kinerja

dan tujuan perusahaan pun dicapai. Kenyataan tersebut menjadikan konflik

sebagai sarana dalam pencapaian kinerja karyawan. Terdapat tiga bentuk

dalam manajemen konflik yaitu meliputi stimulasi atau merangsang konflik

dalam satuan-satuan organisasi dimana pelaksanaan kegiatan lambat karena

tingkat konflik rendah. Yang kedua yaitu adanya pengurangan atau penekanan

konflik hal tersebut dikarenakan konflik yang terjadi terlalu tinggi atau dapat

menurunkan kinerja karyawan dan yang terakhir yaitu dengan melakukan

penyelesaian konflik.

Pada dasarnya jenis konflik terbagi menjadi dua yaitu konflik antar

individu dan konflik antar kelompok (Winardi, 2002:154). Konflik antar

individu disebabkan adanya perbedaan sifat, sikap dan latar belakang

seseorang yang nantinya menyebabkan perselisihan dan persaingan.

Selanjutnya konflik antar kelompok disebabkan adanya perbedaan tujuan,

skala prioritas, yang nantinya akan menyebabkan perselisihan dan persaingan

diantara kelompok atau departemen. Kedua konflik apabila dikendalikan

dengan baik oleh pihak manajemen maka dapat mendukung usaha perusahaan

dalam pencapaian perusahaan, namun demikian apabila tidak dilakukan

pengelolaan atas konflik yang terjadi maka dengan sendirinya akan

menghambat usaha pencapaian tujuan perusahaan tersebut.

Konflik antar individu dapat terjadi pada suatu perusahaan karena

adanya perbedaan sikap pribadi seorang karyawan, adanya usaha karyawan

(17)

3

seorang karyawan atas pekerjaan rekan kerja. Sedangkan konflik antar

kelompok terjadi karena adanya perbedaan skala prioritas setiap kelompok,

adanya ketidaksesuaian antara peran dan status dalam suatu kelompok kerja

serta konflik tersebut terjadi karena adanya kesalahan komunikasi yang terjadi

antar kelompok.

Pengaruh konflik terhadap kinerja karyawan bisa positif ataupun negatif.

Jika konflik dalam organisasi relatif rendah maka kinerja (prestasi) juga

kecenderungan rendah, karena persaingan maupun tantangan untuk

meningkatkan kinerja rendah, namun hal ini tidak berlaku pada setiap

organisasi bahkan ada organisasi tanpa suatu konflik punya kinerja (prestasi)

yang tinggi karena kesadaran anggotanya. Seiring dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan dunia manajemen. Konflik tidak lagi dipandang sebagai

suatu hal yang ditakuti, atau sesuatu hal yang perlu dihindari, sebaiknya

sekarang konflik dipandang sebagai hal yang bisa membantu dan juga

memperbesar kinerja organisasi. Kondisi tersebut merupakan tugas seorang

manajer untuk mengelola tingkat konflik dan menyelesaikan agar hasil

organisasi dapat secara optimal dilakukan oleh karyawan.

Pada kenyataan konflik yang terlalu tinggi di perusahaan akan

menyebabkan terjadinya penurunan atas kinerja yang dicapai oleh

elemen-elemen yang terdapat diperusahaan, namun demikian apabila perusahaan

mampu mengelola atas konflik yang terjadi maka dengan sendirinya akan

memacu para karyawan untuk bekerja secara maksimal di perusahaan. Apabila

(18)

4

dapat sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan. Dengan demikian

secara umum dapat diketahui terdapat kaitan yang erat antara konflik yang

terjadi baik konflik individu atau konflik antar kelompok dengan kinerja yang

dapat dicapai oleh perusahaan.

Koperasi Unit Desa Sumber Rejo Pasuruan merupakan salah satu

koperasi yang memiliki beberapa unit usaha yaitu meliputi simpan pinjam,

distributor pupuk yang bekerja sama dengan PT. Petrokimia Gresik, saprodi

dan melakukan pembudiyaan ikan lele. Namun demikian usaha yang terbesar

yaitu mengenai usaha simpan pinjam, dimana dalam perkembangannya unit

ini menunjukkan adanya permasalahan, dimana para karyawan tidak mampu

mencapai target jumlah nasabah yang telah ditetapkan oleh manajemen

Koperasi Unit Desa Sumber Rejo Pasuruan. Adapun untuk membuktikan

kondisi tersebut maka diajukan data mengenai target dan realisasi jumlah

nasabah mulai tahun 2005 sampai 2011, yang secara lengkap disajikan pada

tabel 1.

Tabel 1.1

Target dan Realisasi Jumlah Nasabah

Tahun Target Realisasi Penyimpangan

(19)

5

Berdasarkan data mengenai target dan realisasi jumlah nasabah

menunjukan adanya penurunan atas pencapaian target jumlah nasabah yang

ditetapkan. Jumlah nasabah dapat digunakan sebagai dasar penentuan kinerja

para karyawan, hal tersebut dengan pertimbangan bahwa tolak ukur dari

pencapaian kinerja koperasi yaitu terkait secara langsung dengan pencapaian

jumlah nasabah. Atas dasar pertimbangan tersebut maka data jumlah nasabah

merupakan ukuran dalam pencapaian kinerja para karyawan dalam bekerja di

koperasi. Ketidakmampuan para karyawan tersebut diindikasikan karena

terjadinya konflik pada koperasi. Hasil survey awal menunjukkan bahwa

konflik yang terjadi di koperasi yaitu selama ini terjadi persaingan antar

kelompok untuk mendapatkan nasabah sehingga menyebabkan terjadi

perselisihan.

Selain itu pemicu terjadinya konflik yaitu para karyawan bagian simpan

sering mencari nasabah diluar wilayah kerjanya sehingga terdapat karyawan

lain yang merasa dirugikan. Kenyataan tersebut juga melanggar ketentuan yang

ditetapkan oleh perusahaan dimana setiap kelompok atau bagian kerja memiliki

wilayah kerja sendiri-sendiri. Kondisi tersebut juga didukung dari hasil

wawancara yang dilakukan kepada seorang karyawan bagian simpan pinjam

dimana kesimpulan dari hasil wawancara tersebut yaitu sering terjadi

permasalahan antar karyawan yang terdapat dibagian simpan pinjam terutama

dalam proses untuk mendapatkan nasabah yaitu terjadi saling serobot wailayah

kerja sehingga akan merugikan karyawan yang lain. Namun demikian konflik

(20)

6

kategori optimal, dimana konflik yang terjadi mampu meningkatkan

pencapaian kinerja karyawan, dimana realisasi jumlah nasabah menunjukkan

adanya peningkatan.

Konflik antar departemen terjadi pada Koperasi Unit Desa Sumber Rejo

Pasuruan karena perbedaan kepentingan atas target kerja yang akan dicapai,

dimana selama unit distributor pupuk memiliki kemampuan yang lebih baik

dalam pemenuhan target yang ditetapkan dibandingkan oleh departemen

saprodi. Selain itu penyebab terjadinya konflik yaitu adanya perangkapan

jabatan terjadi di bagian distributor pupuk sehingga menyebabkan adanya sikap

kurang fair pimpinan terhadap pencapaian kinerja yang selama ini dicapai.

Sikap karyawan tersebut menjadikan antar karyawan diperusahaan sering

mengalami terjadinya permasalahan sehigga konflik dapat terjadi dikarenakan

sikap dari pimpinan tersebut.

Secara umum dapat dikatakan bahwa konflik yang terjadi pada

karyawan menunjukkan kemampuan karyawan dalam bekerja diperusahaan

serta kemampuan para karyawan untuk mengendalikan setiap permasalahan

yang terjadi di koperasi. Kondisi tersebut tercermin dari terjadinya konflik

antar individu dan antar kelompok kerja karyawan dalam menjalankan aktivitas

atau tugas dari masing-masing karyawan. Berdasarkan uraian di atas, maka dari

(21)

7

B. Perumusan Masalah

1. Bagaimana kinerja karyawan pada Koperasi Unit Desa Sumber Rejo

Pasuruan?

2. Bagaimana konflik yang terdiri dari konflik antar individu dan konflik

antar kelompok pada Koperasi Unit Desa Sumber Rejo Pasuruan?

3. Apakah konflik yang terdiri dari konflik antar individu dan konflik antar

kelompok mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja

karyawan pada Koperasi Unit Desa Sumber Rejo Pasuruan?

4. Diantara variabel konflik yang terdiri dari konflik antar individu dan

konflik antar kelompok manakah yang mempunyai pengaruh dominan

terhadap kinerja karyawan pada Koperasi Unit Desa Sumber Rejo

Pasuruan?

C. Batasan Masalah

Pada penelitian ini topik penelitian yaitu mengenai jenis konflik yaitu konflik

antar individu dan konflik antar kelompok pada tahap IV, pengukuraan kinerja

karyawan dengan menggunakan obyek penelitian yaitu karyawan bagian unit

simpan pinjam.

(22)

8

a. Untuk mendeskripsikan kinerja karyawan pada Koperasi Unit Desa

Sumber Rejo Pasuruan.

b.Untuk mendeskripsikan konflik yang terdiri dari konflik antar individu

dan konflik antar kelompok pada Koperasi Unit Desa Sumber Rejo

Pasuruan.

c. Untuk menganalisis konflik yang terdiri dari konflik antar individu dan

konflik antar kelompok mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

kinerja karyawan pada Koperasi Unit Desa Sumber Rejo Pasuruan.

d.Untuk mengetahui variabel konflik yang terdiri dari konflik antar

individu dan konflik antar kelompok manakah yang mempunyai

pengaruh dominan terhadap kinerja karyawan pada Koperasi Unit Desa

Sumber Rejo Pasuruan.

2. Kegunaan Penelitian

a. Bagi Koperasi Unit Desa Sumber Rejo Pasuruan

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak koperasi dalam upaya peningkatan kinerja karyawan melalui penerapan manajemen konflik.

b. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dapat dijadikan perbandingan serta sebagai bahan acuan atau referensi

(23)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil penelitian Rahmawati (2012) dengan judul penelitian

yaitu Pengaruh Konflik Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Atri

Distribusindo Divisi Nokia Malang. Teknik analisis data yang digunakan yaitu

analisis rentang skala dan regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan

bahwa konflik antar individu dan antar kelompok pada PT. Atri Distribusindo

Divisi Nokia Malang rendah. Kinerja karyawan pada PT. Atri Distribusindo

Divisi Nokia Malang tinggi. Konflik mempunyai berpengaruh yang signifikan

terhadap kinerja karyawan pada PT. Atri Distribusindo Divisi Nokia Malang.

Variabel konflik antar individu mempunyai pengaruh yang lebih kuat terhadap

kinerja karyawan pada PT. Atri Distribusindo Divisi Nokia Malang.

Hasil penelitian Widyaningsih (2009) dengan judul: Pengaruh Konflik

Terhadap Kinerja Karyawan Pada Perusahaan Kecap Cemara Food Blitar.

Alat analisis yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah menggunakan

rentang skala, regresi linier berganda dengan menggunakan uji F dan uji t.

Berdasarkan hasil uji F dan t dapat diketahui bahwa konflik yang terdiri dari

konflik antar individu dengan konflik antar kelompok mempunyai pengaruh

yang signifikan baik secara simultan maupun parsial terhadap kinerja

(24)

10

Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian

sekarang dapat disajikan pada tabel 1.

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu Dengan Penelitian Sekarang

Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 1. Rahmawati (2012)

dengan judul penelitian yaitu Pengaruh Konflik Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Atri Distribusindo Divisi Nokia Malang

2. Widyaningsih (2009) dengan judul:

Pengaruh Konflik Terhadap Kinerja Karyawan Pada

3. Rofik Yanuari Arif (2012) dengan judul: Pengaruh Konflik Terhadap Kinerja Karyawan

 Untuk mengetahui

pengaruh konflik

terhadap kinerja.

 Untuk variabel konflik

yang berpengaruh

dominan terhadap

kinerja.

.Untuk mengetahui

pengaruh konflik

terhadap kinerja.

 Untuk variabel konflik

yang berpengaruh

dominan terhadap

kinerja.

Untuk mengetahui

pengaruh konflik

terhadap kinerja.

 Untuk variabel konflik

yang berpengaruh

dominan terhadap

kinerja.

 Variabel bebas adalah konflik.

 Variabel Terikat yaitu kinerja karyawan.

 Lokasi Penelitian PT. Atri Distribusindo Divisi Nokia Malang

 Variabel bebas yaitu konflik.

 Variabel terikat yaitu kinerja karyawan.

 Lokasi Penelitian Perusahaan Kecap Cemara Food Blitar

 Variabel bebas yaitu konflik.

 Variabel terikat yaitu kinerja karyawan.

 Lokasi Koperasi Unit Desa Sumber Rejo Pasuruan

Konflik mempunyai

berpengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT. Atri Distribusindo

Divisi Nokia Malang.

Variabel konflik antar

individu mempunyai

pengaruh yang lebih kuat terhadap kinerja karyawan pada PT. Atri Distribusindo Divisi Nokia Malang

Konflik yang terdiri dari konflik antar individu dengan

konflik antar kelompok

mempunyai pengaruh yang

signifikan baik secara

simultan maupun parsial terhadap kinerja karyawan

pada Perusahaan Kecap

Cemara Food Blitar

-

B. Landasan Teori 1. Pengertian Kinerja

Mangkunegara (2000:67) mengatakan pengertian kinerja adalah: “Hasil

(25)

11

melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan

kepadanya”. Menurut Atmosoeprapto (2001:1) menyatakan bahwa: Secara

umum kinerja merupakan perbandingan antara keluaran (output) yang dicapai

dengan masukan (input) yang diberikan. Kinerja juga merupakan hasil dari

efisiensi pengelolahan masukan dan efektivitas pencapaian sasaran.

Efektivitas dan efisiensi yang tinggi akan menghasilkan produktivitas kerja

yang tinggi

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja, menurut

Mangkunegara (2000:67) adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor

motivasi (motivation).

1. Faktor kemampuan

Secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan

potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + skill ). Artinya pegawai

yang memiliki IQ diatas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang

memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan

sehari-hari maka ia akan lebih mudah untuk mencapai kinerja yang

diharapkan.

2. Motivasi

Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam

menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang

menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi

(26)

12

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja

karyawan dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal seorang

karyawan. Faktor eksternal tersebut sangat erat kaitannya dengan situasi atau

kondisi kerja pada suatu perusahaan atau organisasi. Apabila dikaitkan dengan

permasalahan konflik karyawan masuk dalam faktor motivasi, dimana

mengenai masalah situasi (situation) kerja menjadi salah satu penyebab

terjadinya konflik kerja karyawan di perusahaan.

3. Pengukuran Kinerja

Secara umum pengukuran kinerja berarti perbandingan yang dapat

dibedakan dalam tiga jenis yang sangat berbeda. Seperti yang dikemukakan

oleh Sinungan (2000:23) yaitu:

1) Perbandingan-perbandingan antara pelaksanaan secara historis yang tidak

menunjukkan apakah pelaksanaan sekarang ini memuaskan, namun hanya

mengetengahkan apakah meningkat atau berkurang serta tingkatannya.

2) Perbandingan pelaksanaan antara satu unit (perorangan, tugas, seksi,

proses) dengan lainnya. Pengukuran seperti ini menunjukkan pencapaian

relatif

3) Perbandingan pelaksanaan sekarang dengan targetnya, dan inilah yang

terbaik sebagai memusatkan perhatian pada sasaran atau tujuan.

Penerapan standar diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja

karyawan sesuai sasaran yang diharapkan sekaligus melihat besarnya

(27)

13

hasil yang diharapkan olah karena itu adanya suatu standar yang baku

merupakan tolak ukur bagi kinerja yang akan dievaluasi.

Sedangkan menurut Atmosoeprapto (2001: 6) menyatakan bahwa

“Kinerja tidak dapat diukur secara kuantitatif semata-mata, sehingga

mempunyai nilai mutlak, melainkan menggambarkan keragaman dari suatu

kegiatan”. Ada dua titik kunci untuk mengukur keragaman pada setiap situasi

atau kegiatan, yaitu meliputi:

1. Lebih memusatkan pada hasil akhir daripada kegiatan-kegiatan. Sebagai

contoh, bagi bisnis yang berorientasi pada keuntungan, sasaran nilai dolar

penjualan lebih berarti daripada jumlah penjualan yang tercapai.

2. Berfikir pada perbandingan dari “kenyataan” terhadap “yang seharusnya”.

Meskipun pada output yang “tangible” dan dapat diukur secara

kuantitatif, hasil bagi output terhadap input saja kurang berarti apabila

tidak diperbandingkan dengan hasil bagi atau sasaran yang diharapkan.

Menurut Mangkunegara (2000:67) terdapat tiga metode yang digunakan

dalam rangka pengukuran kinerja para karyawan atau pegawai pada

perusahaan, yaitu:

1. Mutu atau kualitas produk.

Pada pengukuran ini perusahaan lebih mendasarkan pada tingkat kualitas

produk yang telah dihasilkan para pegawai atau karyawannya. Pengukuran

melalui kualitas ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana seorang

karyawan perusahaan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab

(28)

14

2. Kuantitas atau jumlah produk.

Pengukuran melalui kuantitas atau jumlah produk yang dihasilkan ini erat

kaitannya dengan kemampuan seorang karyawan dalam menghasilkan

produk dalam jumlah tertentu. Kuantitas ini secara langsung juga

berhubungan dengan tingkat kecepatan yang dimiliki oleh seorang

karyawan dalam menghasilkan produk.

3. Ketepatan waktu

Ketepatan waktu dalam menghasilkan suatu produk menjadi salah satu

sarana untuk mengukur tingkat kinerja yang telah dicapai oleh seorang

pegawai. Dalam pengukuran ini anggaran perusahaan dapat dijadikan

ukuran atau barometer untuk mengetahui tingkat kinerja yang telah dicapai

seorang karyawan.

4. Definisi Konflik

Menurut Wahjono (2010:161) konflik adalah: “Suatu proses yang

mulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi

secara negatif, atau akan segera akan mempengaruhi secara negatif,

sesuatu yang menjadi perhatian pihak pertama”. Adapun menurut

Indrawijaya (2010:109) konflik yaitu: “Segala macam bentuk hubungan

antar manusia yang bersifat berlawanan (antagonistik).

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dikatakan bahwa

konflik merupakan suatu kondisi dimana terjadi pertentangan antar

kelompok maupun individu yang dapat memberikan dampak positif

(29)

15

5. Jenis Konflik

Menurut Winardi (2002:154) konflik dapat dibagi menjadi dua

yaitu meliputi:

a. Konflik antar pribadi atau individu

Konflik yang timbul antar individu yang biasanya disebabkan

adanya perbedaan sifat, sikap dan latar belakang seseorang yang nantinya

menyebabkan perselisihan dan persaingan. Mengenai perbedaan sikap

pribadi akan menimbulkan perbedaan cara pandang dalam proses

penyelesaian pekerjaan dan pada akhirnya menimbulkan perbedaan sikap

pada masing-masing karyawan. Konflik antar individu terjadi karena

adanya sikap ketidakpuasan atas pekerjaan rekan kerja, hal tersebut

dikarenakan adanya anggapan dari seseorang karyawan mengenai hasil

kerja yang dicapai oleh rekan kerja belum sepenuhnya sesuai dengan

keinginan karyawan tersebut. Selain itu adanya keinginan untuk terlibat

dalam pekerjaan rekan sekerja juga menjadi pemicu terjadinya konflik

antar individu, hal tersebut dikarenakan seorang karyawan akan merasa

bahwa dianggap kurang mampu dalam bekerja di perusahaan. Adapun

yang terakhir yaitu mengenai permasalahan komunikasi antar individu,

dimana dengan adanya kesalahan dalam berkomunikasi akan menjadikan

karyawan salah mempersepsikan atas tugas dan tanggungjawab yang harus

diselesaikan dan pada akhirnya menjadi pemicu terjadinya konflik

(30)

16

b. Konflik antar kelompok atau departement

Konflik yang timbul antar kelompok, biasanya disebabkan adanya

perbedaan tujuan, skala prioritas, yang nantinya akan menyebabkan

perselisihan dan persaingan diantara kelompok atau departemen. Pada

dasarnya konflik antar kelompok tersebut terjadi karena terjadi karena

adanya perbedaan tujuan dan skala prioritas, hal tersebut dapat

membuktikan bahwa setiap kelompok kerja memiliki tugas dan kewajiban

yang berbeda dengan kelompok lain. Kondisi tersebut menjadikan adanya

perbedaan prioritas kerja yang akan dilakukan oleh masing-masing

kelompok dan hal tersebut dapat memicu terjadinya konflik antar

kelompok.

Selanjutnya konflik antar kelompok terjadi karena adanya

ketidaksesuaian antara peran dan status yang dimiliki oleh masing-masing

kelompok. Hal tersebut dikarenakan pada perusahaan terdapat pembagian

tugas sesuai dengan jabatan masing-masing bagian, ketidaksesuaian antara

peran dan status tersebut dengan sendirinya akan menimbulkan gap pada

setiap kelompok yang ada dan pada akhirnya menimbulkan konflik.

Adapun yang terakhir yaitu mengenai kesalahan informasi yang diterima

antar kelompok, dalam hal ini adalah tingkat kejelasan atas informasi yang

diberikan oleh pimpinan terhadap masing-masing kelompok atas tugas

yang harus diselesaikan. Dengan terjadinya kesalahan informasi maka

(31)

17

6. Sumber dan Sebab –Sebab Terjadinya Konflik

Menurut Robbins (2002:457) terdapat beberapa sumber terjadinya

konflik, yaitu:

a. Saling ketergantungan pekerjaan.

Kesalingtergantungan pekerjaan merujuk pada sejauh mana dua unit

dalam sebuah organisasi saling tergantung satu sama lain pada

bantuan, informasi, kerelaan atau aktivitas koordinasi lain untuk

menyelesaikan tugas masing-masing secara efektif.

b. Ketergantungan pekerjaan satu arah

Ketergantungan pekerjaan satu arah artinya bahwa keseimbangan

kekuasaan telah bergeser. Potensi konflik pada ketergantungan satu

arah mempunyai arti yang penting, jika mengetahui bahwa ia jauh

lebih sering terdapat pada organisasi dari pada saling ketergantungan

satu arah mempunyai arti yang penting, jika mengetahui bahwa ia jauh

lebih sering terdapat pada organisasi daripada saling ketergantungan.

c. Diferensial horisontal yang tinggi.

Makin besar perbedaan yang terjadi diantara unit, makin besar pula

kemungkinan timbulnya konflik. Jika unit-unit organisasi amat

differensial, maka tugas yang dilakukan masing-masing unit dan sub

lingkungannya yang ditangani oleh masing-masing sub unit cenderung

tidak sama. Pada gilirannya akan mengakibatkan terjadinya perbedaan

(32)

18

d. Formulasi yang rendah

Peraturan mengurangi konflik dengan mengurangi kedwi-artian.

Formalisasi yang tinggi membangun cara-cara yang distandarisasi bagi

unit-unit untuk saling bergaul. Penetapan mengenai peran harus jelas

sehingga para anggota unit tersebut mengetahui apa yang diharapkan

dari yang lain. Sebaliknya jika formalisasi rendah, potensi terjadinya

pertikaian mengenai batas-batas kekuasaan akan meningkat.

e. Ketergantungan pada sumber bersama yang langka.

Potensi konflik dipertinggi jika dua unit atau lebih tergantung pada

sumber daya yang langka seperti ruang gerak fisik, peralatan, dana

operasi, alokasi anggaran modal atau jasa-jasa staf yang

disentralisasikan.

f. Perbedaan dalam kriteria evaluasi dan sistem imbalan.

Makin banyak evaluasi dan imbalan manajemen yang menekankan

prestasi setiap departeman secara terpisah-pisah dari pada secara

tergabung maka makin besar pula konfliknya. Preferensi terhadap

unit-unit produksi terhadap pekerjaan yang lama dan ekonomis dengan

imbalan yang menyertainya, berlawanan dengan imbalan yang

diberikan kepada unit-unit penjualan untuk penyampaian yang cepat

kepada para langganan.

g. Pengambilan keputusan partisipatif

Pengambilan keputusan secara bersama, dimana mereka yang akan

(33)

19

mengambil keputusan, akan mendorong terjadinya konflik. Proses

keputusan yang partisipatif memberi kesempatan yang lebih besar

untuk mengutarakan perselisihan yang ada dan untuk menimbulkan

ketidaksepakatan. Kemungkinan khususnya bisa terjadi jika perbedaan

nilai yang sebenarnya terdapat di antara para peserta.

h. Keanekaragaman Anggota

Keanekaragaman anggota akan menyebabkan karyawan yang tidak

dapat bekerja dengan tenang akan bersama-sama. Keanekaragaman

tersebut meliputi latar belakang, nilai-nilai, pendidikan, umur,

pola-pola sosial akan lebih mengurangi hubungan antar pribadi antara

wakil-wakil unit dan pada gilirannya akan mengurangi jumlah kerja

sama antara masing-masing unit.

i. Ketaksesuaian status

Konflik terstimulasi jika terjadi ketaksesuaian dalam penilaian atau

karena adanya perubahan dalam hirarki status.

j. Ketakpuasan peran

Ketaksesuaian peran erat hubungannya ketaksesuaian status.

Ketakpuasan peran dapat berasal dar sejumlah sumber, salah satunya

(34)

20

k. Distrosi komunikasi

Salah satu sumber konflik adalah kesukaran komunikasi, khususnya

komunikasi vertikal. Jika diteruskan ke atas dan ke bawah di dalam

hirarki komunikasi itu peka terhadap kedwi-artian distorsi.

7. Proses Konflik

Proses konflik dapat dilihat sebagai terdiri atas lima tahap: oposisi atau ketidakcocokan potensial; kognisi dan personalisai; maksud; perilaku; dan hasil.

Tahap I Tahap II Tahap III Tahap IV TahapV

Oposis Kognisi dan Maksud Perilaku Hasil

Ketidakcocokan Personalisasi Potensial

Sumber: Robbins (2002:127)

Adapun masing-masing bagian dapat diuraikan sebagai berikut:

Tahap I: Oposisi atau Ketidakcocokan Potensial

Langkah pertama dalam proses konflik adalah adanya kondisi yang

menciptakan kesempatan munculnya konflik itu. Kondisi itu tidak perlu

langsung mengarah ke konflik, tetapi salah satu kondisi itu harus muncul.

Demi sederhananya, kondisi ini (yang dapat dipandang sebagai kasus atau

konflik) telah dimampatkan ke dalam tiga kategori umum: komunikasi,

struktur, dan variabel pribadi.

(35)

21

Komunikasi. Salah satu mitos utama yang kebanyakan dari kita sandang adalah bahwa komunikasi yang buruk merupakan alasan utama dari

konflik-konflik. Kemungkinan semacam itu bukanlah tidak masuk akal, bila

masing-masing dari kita diberi waktu untuk berkomunikasi. Tetapi, tentu saja, konflik

yang buruk pastilah bukan sumber dari semua konflik, meskipun ada cukup

banyak bukti yang memberi kesan bahwa masalah-masalah dalam proses

komunikasi berperan dalam menghalangi kolaborasi dan kesalahfahaman.

Suatu tinjauan riset mengemukakan bahwa kesulitan semantik, pertukaran

informasi yang tidak cukup, dan bisingan dalam saluran komunikasi semuanya

merupakan penghalang terhadap komunikasi dan anteseden yang potensial

bagi konflik. Secara khusus, bukti menunjukkan bahwa kesulitan semantik

timbul sebagai akibat perbedaan dalam pelatihan, persepsi selektif, dan

informasi tidak memadai mengenai orang lain. Riset memperlihatkan lebih

lanjut suatu penemuan yang mengejutkan: potensial untuk konflik meningkat

bila atau terlalu sedikit atau terlalu banyak terjadi komunikasi. Rupanya, suatu

peningkatan komunikasi bersifat fungsional sampai suatu titik, setelah itu

mungkin terjasi komunikasi berlebihan, dengan suatu kenaikan resultan dari

potensial konflik itu. Jadi telalu banyak maupun terlalu sedikit informasi dapat

meletakkan fundasi untuk konflik. Selanjutnya, saluran yang dipilih untuk

komunikasi dapat berpengaruh merangsang oposisi. Proses penyaringan yang

terjadi ketika informasi dilewatkan diantara anggota-anggota dan

(36)

22

ditetapkan sebelumnya, menawarkan kesempatan yang potensial bagi

timbulnya konflik.

Struktur. Digunakan istilah struktur, dalam konteks ini, untuk mencakup variabel seperti ukuran, derajat spesialisasi dalam tugas yang diberikan kepada

anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi, kococokan anggota tujuan, gaya

kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara

kelompok-kelompok. Riset menunjukkan bahwa ukuran dan spesialisasi bertindak

sebagai kekuatan untuk merangsang konflik. Makin besar kelompok akan

makin terspesialisasi kegiatannya, makin besar kemungkinan terjadinya

konflik. Masa kerja dan konflik telah ditemukan sebagai berbanding terbalik.

Potensial konflik cenderung paling besar dimana anggota kelompok lebih

muda dan di mana tingkat keluarnya karyawan tinggi. Makin besar

kedwiartian dalam mendefinisikan dengan cermat dimana letak tanggung

jawab untuk tindakan, makin besar potensial munculnya konflik. Kedwiartian

yurisdiksional semacam itu meningkatkan percekcokan antarkelompok untuk

mendapatkan kendali sumber daya dan teritori. Kelompok-kelompok di dalam

organisasi mempunyai tujuan yang beraneka. Keanekaan tujuan di antara

kelompok-kelompok ini merupakan sumber utama konflik. Bilamana

kelompok di dalam suatu organisasi mengupayakan tujuan akhir yang

berlainan, beberapa yang secara inheren berlawanan, terdapatlah kesempatan

konflik yang meningkat. Ada sesuatu indikasi bahwa suatu gaya

kepemimpinan yang terutup meningkatkan potensial konflik, tetapi bukti itu

(37)

23

merangsang konflik. Riset cenderung membenarkan bahwa partisipasi dan

konflik sangat berkaitan, tampaknya karena partisispasi mendorong

digalakkannya perbedaan. Sistem imbalan juga ditemukan sebagai

menciptakan konflik bila perolehan satu anggota mengorbankan seorang lain.

Akhirnya, jika suatu kelompok bergantung pada suatu kelompok lain atau bila

kesalingtergantungan memungkinkan suatu kelompok memperoleh sesuatu

atas pengorabanan yang lain, maka kekuatan-kekuatan yang berlawanan akan

dirangsang.

Variabel Pribadi. Jadi kategori terakhir dari sumber-sumber konflik yang potensial adalah faktor-faktor pribadi. Seperti dinyatakan, faktor itu mencakup

sistem nilai individual tiap orang dan karakteristik kepribadian yang

menyebabkan isdiosinkrasi dan perbedaan individual. Bukti menandakan

bahwa tipe kepribadain tertentu mendorong ke konflik potensial. Paling

penting, dan agaknya variabel yang paling terabaikan dalam telaah konflik

sosial, adalah sistem nilai yang berbeda, perbedaan nilai merupakan

penjelasan yang terbaik dari isu-isu yang beraneka seperti prasangka,

ketidaksepakatan mengenai sumbangan seseorang kepada kelompok dan

imbalan yang layak diterimanya, dan penilaian dari apakah buku tertentu ada

baiknya. Dan beda sistem-sistem nilai merupakan sumber yang penting guna

menciptakan potensial untuk konflik.

Tahap II: Kognisi dan Personalisasi

Jika kondisi-kondisi yang disebut dalam Tahap I mempengaruhi secara

(38)

24

oposisi atau ketidakcocokan menjadi teraktualkan dalam tahap kedua.

Kondisi anteseden hanya dapat mendorong ke konflik bila satu pihak atau

lebih dipengaruhi oleh, dan sadar akan adanya, konflik itu. Seperti dicatat

dalam definisi mengenai konflik, diperlukan persepsi. Oleh karena itu, satu

pihak atau lebih harus sadar akan eksistensi kondisi anteseden. Tetapi,

karena suatu konflik dipersepsikan tidaklah berarti itu dipribadikan

(dipersonalkan). Hendaknya diingat dua pokok. Pertama, Tahap II penting

karena disitulah isu-isu konflik cenderung didefinisikan. Inilah tempat dalam

proses dimana pihak-pihak memutuskan mengenai apakah konflik itu. Dan

pada gilirannya, pembuatan pengertian ini penting karena cara suatu konflik

didefinisikan menempuh suatu jalan panjang menuju penetapan jenis hasil

yang mungkin menyelesaikannya. Jadi definisi suatu konflik penting, karena

lazimnya itu menggambarkan perangkat penyelesaian yang mungkin. Pokok

kedua adalah bahwa emosi memainkan peran utama dalam membentuk

persepsi. Misalnya, emosi yang negatif telah dijumpai sebagai menghasilkan

penyederhanaan berlebihan dari isu-isu, mengurangi kepercayaan, dan

penafsiran yang negatif terhadap perilaku pihak yang lain. Sebaliknya,

perasaan yang positif telah dijumpai sebagai meningkatkan kecenderungan

melihat hubungan yang potensial diantara unsur-unsur suatu masalah,

mengambil pandangan yang lebih luas dari situasi, dan mengembangkan

(39)

25

Tahap III: Maksud

Maksud (intensi) berada diantara persepsi serta emosi orang dan perilaku terang-terangan mereka. Maksud merupakan keputusan untuk

bertindak dalam suatu cara tertentu. Banyak sekali konflik ditingkatkan

semata-mata karena satu pihak menghubungkan maksud yang keliru pada

pihak yang lain. Disamping itu, lazimnya ada banyak sekali kemelesetan

antara maksud dan perilaku, sehingga perilaku tidak selalu mencerminkan

dengan tepat maksud-maksud seseorang. Dengan menggunakan dua dimensi

kekooperatifan dan ketegasan dapat diidentifikasikan lima maksud

penanganan konflik: bersaing, berkolaborasi, menghindar, mengakomodasi,

dan berkompromi. Bersaing. Bila seseorang berusaha memenuhi kepentingannya sendiri, tidak peduli dampaknya terhadap pihak-pihak lain

pada konflik itu, ia sedang bersaing. Berkolaborasi. Bila pihak-pihak dalam konflik masing-masing berhasrat untuk memenuhi sepenuhnya kepentingan

dari semua pihak, kita mempunyai kooperasi dan pencarian hasil yang

bermanfaat secara timbal balik. Dalam berkolaborasi, maksud dari pihak-pihak adalah memecahkan masalah dengan memperjelas perbedaan

bukannya dengan mengakomodasikan berbagai sudut pandangan.

Menghindar. Seseorang mugkin mengakui bahwa suatu konflik ada dan ingin menarik diri dari dalamnya atau menekannya. Mengakomodasi. Bila satu pihak berusaha untuk memuaskan seorang lawan, pihak tersebut

mungkin bersedia menaruh kepentingan lawan itu di atas kepentingannya

(40)

26

untuk mengorbankan diri. Berkompromi. Bila tiap pihak pada konflik itu berusaha melepaskan sesuatu, terjadilah sharing, yang menghasilkan suatu

hasil yang kompromis. Dalam berkompromi tidak ada pemenang atau pecundang yang jelas. Sebaliknya, ada kesediaan untuk menjatah obyek

konflik itu dan menerima baik suatu pemecahan yang memberikan kepuasan

tidak sepenuhnya kepentingan dari kedua belah pihak. Oleh karena itu

karakteristik yang khas pada kompromi adalah bahwa tiap pihak bermaksud

untuk melepaskan sesuatu.

Tahap IV: Perilaku

Bila kebanyakan orang memikirkan situasi konflik, mereka

cenderung memusatkan perhatian pada Tahap IV. Karena disinilah konflik

itu tampak nyata. Tahap perilaku mencakup pernyataan, tindakan, dan reaksi

yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkonflik. Perilaku konflik ini biasanya

secara terang-terangan berupaya untuk melaksanakan maksud-maksud tiap

pihak. Tetapi perilaku-perilaku ini mempunyai suatu kualitas rangsangan

yang terpisah dari maksud-maksud. Sebagai hasil salah perhitungan atau

tindakan yang tidak terampil, kadangkala perilaku terang-terangan

menyimpang dari maksud-maksud yang orisinil.

Tahap V: Hasil

Jalinan aksi-reaksi dari pihak-pihak yang berkonflik menghasilkan

konsekuensi. Hasil ini dapat fungsional, dalam arti konflik itu menghasilkan

suatu perbaikan kinerja kelompok, atau disfungsional dalam arti merintangi

(41)

27

Hasil Fungsional. Bagaimana mungkin konflik bertindak sebagai sesuatu

kekuatan untuk meningkatkan kinerja kelompok. Sukar untuk

membayangkan suatu situasi dimana agresi yang terbuka atau keras dapat

bersifat fungsional. Tetapi ada sejumlah contoh di mana mungkin untuk

membayangkan bagaimana rendah atau moderatnya tingkat-tingkat konflik

dapat memperbaiki keefektifan dari suatu kelompok. Karena sering orang

merasa sulit untuk memikirkan contoh-contoh darimana konflik dapat

konstruktif.

Konflik bersifat konstruktif bila konflik itu memperbaiki kualitas keputusan,

merangsang kreatifitas dan inovasi, mendorong perhatian dan keingintahuan

di kalangan anggota kelompok, menyediakan medium yang melaluinya

masalah-masalah dapat disampaikan dan ketegangan diredakan, dan

memupuk suatu lingkungan evaluasi diri dan perubahan. Bukti

mengemukakan bahwa konflik dapat memperbaiki kualitas pengambilan

keputusan dengan membiarkan semua pokok, terutama yang tidak biasa atau

dianut oleh kaum minoritas, untuk ditimbag dalam keputusan-keputusan

yang penting. Konflik adalah suatu penangkal bagi pikiran kelompok.

Konflik tidak membiarkan kelompok itu secara pasif menerima begitu saja

keputusan-keputusan yang mungkin didasarkan pada pengandaian yang

lemah, pertimbangan yang tidak memadai dari alternatif-alternatif yang

relevan, atau cacat-cacat lain. Konflik menantang status quo dan karenannya

(42)

28

ulang terhadap tujuan dan kegiatan kelompok, dan meningkatkan

probabilitas bahwa kelompok itu akan tanggap terhadap perubahan.

Hasil Disfungsional. Konsekuensi destruktif dari konflik pada kinerja kelompok atau organisasi umumnya dikenal baik. Ringkasan yang masuk

akal mungkin menyatakan bahwa: oposisi yang tidak terkendali

membiakkan ketidakpuasan, yang bertindak menguraikan ikatan bersama,

dan akhirnya mendorong ke penghancuran kelompok itu. Dan, tentu saja,

cukup banyak literatur yang mencatat bagaimana konflik dapat mengurangi

keefektifan kelompok. Diantara konsekuensi yang lebih tidak disukai adalah

penghambatan komunikasi, pengurangan kepaduan kelompok, dan

dikalahkannya tujuan kelompok terhadap keunggulan pertikaian antara

angota-anggota. Ekstremnya, konflik dapat menghentikan berfungsinya

kelompok dan secara potensial mengancam kelangsungan hidup kelompok

itu.

8. Pengaruh Antara Konflik Dengan Kinerja Karyawan

Konflik pada perusahaan secara langsung sulit dihindari oleh karyawan

yang bekerja pada suatu perusahaan. Adapun hubungan antara konflik dengan

(43)

29

Gambar 2.2

Diagram Hubungan Konflik Dan Kinerja Karyawan

Sumber: Robbins (2002: 151)

Konflik yang mampu meningkatkan prestasi organisasi adalah konflik

pada tingkat moderat maksudnya disini jika konflik terlalu rendah maka

kinerja organisasi menghadapi stagnasi. Organisasi bergerak terlalu lamban

untuk mencapai atau memenuhi tuntungan baru yang harus dilayani sehingga

kelangsungan hidup organisasi pada tingkat perpecahan akan mengancam pola

kehidupan organisasi. Pada tingkat konflik fungsional yang tinggi dan optimal

prestasi organisasi berada pada tingkat maksimal. Dan jika prestasi suatu

organisasi meningkat maka bisa dikatakan kondisi kinerja karyawan dalam

organisasi tersebut meningkat karena mereka bisa menyelesaikan

pekerjaannya dengan kualitas dan kuantitas yang mendekati sempurna dan

mempunyai ketetapan waktu yang baik.

K ine rj a O rga ni sa si Rendah kemungkinan kegagalan disebabkan oleh stagnasi

Tinggi kegagalan disebabkan oleh

kelakuan Tingkat optimal

[image:43.595.177.533.161.356.2]
(44)

30

9. Kerangka Pikir

Berdasarkan teori yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat

digambarkan kerangka pemikiran yang menghubungkan keterkaitan hubungan

[image:44.595.133.497.223.510.2]

antara konflik kerja dengan kinerja karyawan, yaitu sebagai berikut:

Gambar 1

Kerangka Pikir Penelitian

Berdasarkan kerangka pikir di atas dapat kita ketahui bahwa konflik

kerja yang meliputi konflik antar individu dan konflik antar kelompok dapat

mempengaruhi kinerja karyawan yang meliputi kualitas produk, kuantitas

produk dan ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan. Dengan kata lain salah

satu faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan yaitu mengenai masalah

konflik kerja karyawan.

10. Hipotesis

Hipotesis merupakan cara pemecahan yang bersifat sementara sebelum

diuji kebenarannya. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dan teori yang Kinerja Karyawan (Y)

a.Kuantitas atau target nasabah b.Kualitas atau mutu pekerjaan. c.Ketepatan waktu dalam

menyelesaiakan pekerjaan

Konflik Antar Individu (X1)

 Terjadi perselisihan antar individu.

 Sikap saling menjatuhkan antar karyawan.

 Selalu menentang atas argumentasi yang disampaikan karyawan lain.

 Meminimalkan kegiatan komunikasi dengan karyawan lain.

Konflik Antar Kelompok (X2)

 Terjadi perselisihan antar kelompok

 Tidak mendukung setiap aktivitas yang dilakukan oleh kelompok lain.

 Berusaha untuk menghambat pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok lain.

(45)

31

dikemukakan oleh Robbins (2002:151) mengenai hubungan antara konflik

dan kinerja karyawan, maka hipotesis penelitian ini adalah:

a. Diduga konflik yang terdiri dari konflik antar individu dan konflik antar

kelompok mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja

karyawan pada Koperasi Unit Desa Sumber Rejo Pasuruan.

b. Diduga konflik antar individu mempunyai pengaruh dominan terhadap

Gambar

Tabel 1.1 Target dan Realisasi Jumlah Nasabah
Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu Dengan Penelitian
Gambar  2.2 Diagram Hubungan Konflik Dan Kinerja Karyawan
Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Laporan dengan judul “ Prosedur Pemberian Kredit Pada Koperasi Unit Desa Bina Mukti ” ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan mata kuliah Kerja Praktek

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ PENGARUH HUMAN CAPITAL TERHADAP KINERJA PADA

HasilUji Signifikansi Parsial (Uji-t)bahwa konflik peran ganda , kompensasi , dan motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan wanita pada Hotel

Skripsi dengan judul PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN KOPERASI UNIT DESA KARANGPLOSO MALANG adalah hasil karya saya dan dalam Skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah

(b)Dari hasil penelitian ini menunjukan kenyataan karyawan Pegadaian manado penanganan dan pengelolaan konflik karyawan dilakukan secara efisien dan efektif maka

HasilUji Signifikansi Parsial (Uji-t)bahwa konflik peran ganda , kompensasi , dan motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan wanita pada Hotel

Berdasarkan uji liner sederhana yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa faktor Kualitas Pelayanan berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Koperasi Unit

Judul Skripsi : Pengaruh Konflik Pekerjaan Dan Konflik Keluarga Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pasangan Karir Ganda ( Dual Career Couple ) di Bank Syariah Mandiri