• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Masyarakat Kota Terhadap Ruang Terbuka Publik di Kota Tebing Tinggi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Persepsi Masyarakat Kota Terhadap Ruang Terbuka Publik di Kota Tebing Tinggi"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

PERSEPSI MASYARAKAT KOTA TERHADAP RUANG TERBUKA PUBLIK DI KOTA TEBING TINGGI

SKRIPSI

OLEH

(2)

DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

PERSEPSI MASYARAKAT KOTA TERHADAP RUANG TERBUKA PUBLIK DI KOTA TEBING TINGGI

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Dalam Departemen Arsitektur

Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

Oleh

(3)

PERNYATAAN

PERSEPSI MASYARAKAT KOTA TERHADAP RUANG TERBUKA PUBLIK DI

KOTA TEBING TINGGI

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan

sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis

atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan

disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Januari 2015

(4)

Judul Skripsi : Persepsi Masyarakat Kota Terhadap Ruang Terbuka Publik di Kota Tebing Tinggi

Nama Mahasiswa : Yunanda Kesuma Putra Lubis

Nomor Pokok : 100406079

Departemen : Arsitektur

Menyetujui

Dosen Pembimbing

Wahyuni Zahrah, S.T, M.S.

Koordinator Skripsi,

Dr. Ir. Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc

Ketua Program Studi,

Ir. N. Vinky Rahman, MT

(5)

Telah diuji pada

Tanggal :

Panitia Penguji Skripsi

Ketua Komisi Penguji : Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc., Ph.D

Anggota Komisi Penguji : 1. Wahyuni Zahrah, S.T., M.S.,

2. Benny O.Y. Marpaung S.T., M.T., Ph.D.,

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan karunia-Nya

dimampukan untuk menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Teknik Arsitektur di Universitas Sumatera Utara (USU)

Medan. Shalawat beriring salam juga senantiasa penulis limpahkan kepada Nabi

Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, hingga kepada umatnya

hingga akhir zaman, amin.

Penulis juga ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada :

1. Bustaman Lubis (Ayah), Lely Hartani (Mama), Kak Uli, Bang Fadhlan, Bang

Adri, selaku keluarga yang tercinta, yang telah memberikan doa, semangat

dan dorongan untuk menyelesaikan studi dan skripsi saya di Universitas

Sumatera Utara (USU) Medan.

2. Ibu Wahyuni Zahrah, S.T., M.S., selaku pembimbing yang telah

membantu memberikan petunjuk dan pengarahan dengan sabar, tekun,

tulus, dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran memberikan

bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang sangat berharga dalam

penulisan skripsi ini.

3. Ibu Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc., Ph.D selaku Dosen Penguji I, Ibu Benny O.Y.

Marpaung S.T., M.T., Ph.D., selaku Dosen Penguji II dan Ibu Hilma

Tamiami Fachrudin, S.T., M.Sc., selaku Dosen Penguji III yang telah

memberikan kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini.

4. Bapak Ir. N. Vinky Rahman, M.T, selaku Ketua Departemen Arsitektur

dan Bapak Ir. Rudolf Sitorus, M.LA, selaku Sekretaris Departemen

Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen staff pengajar Departemen Arsitektur,

Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara atas semua kritik dan

sarannya selama masa perkuliahan.

6. Dinas Pertamanan Kota Tebing Tinggi, Dinas Tata Ruang dan Permukiman

(7)

warga atau pengunjung Taman Kota Tebing Tinggi yang telah meluangkan

waktunya kepada saya dalam melakukan penelitian dan memberikan data

yang diperlukan untuk menyelesaikan skripsi ini.

7. Untuk sahabat-sahabat angkatan 2010, Fanny Khairunnisa, Wahyu

Ardhinigntika, Herdian Rizki Hadi, Putri Amanda, Dara, Dwi, Aisyah, Putri

Dwi Astuti, Eki, Gema, Rudi, yang telah menemani saya survey ke

lapangan dan mendukung saya selama skripsi ini.

8. Untuk rekan seperjuangan kelompok kbk kota, Doni, Aldo, Fikar, Agung,

Arif dan rekan seperjuangan lainnya yang telah sama- sama berjuang untuk

menyelesaikan skripsi bersama-sama.

9. Untuk sahabat-sahabat Papiloma Smansa Medan, Tengku Sofi, Tommy

Syahdi, Samir Yasif, M. Akbar dan seluruh keluarga besar Papiloma

Smansa yang telah mendukung saya untuk menyelesaikan skripsi ini.

10. Teman-teman angkatan 2010 yang membuat suasana kelas selalu riang

sehingga saya mendapatkan penyegaran untuk melakukan aktivitas di

kampus.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi masih jauh dari

sempurna. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun dari semua pihak sebagai bahan penyempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan

manfaat yang besar bagi semua pihak.

Medan, Januari 2015

Penulis,

(8)

ABSTRAK

Ruang terbuka publik merupakan satu ruang yang tidak terbangun di dalam kota yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas estetika, lingkungan dan juga kesejahteraan warga kota. Ruang terbuka publik termasuk elemen dalam perencanaan kota dan setiap masyarakat juga memiliki persepsi yang berbeda. Maka penting untuk mengetahui persepsi masyarakat. Di Kota Tebing Tinggi, dapat ditemukan keberadaan ruang terbuka publik yaitu Taman Kota Tebing Tinggi. Taman ini sering dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai kegiatan oleh masyarakat. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi bagaimana tingkat keberhasilan Taman Kota Tebing Tinggi dan persepsi masyarakat terhadap ruang terbuka publik dianggap penting untuk memperoleh informasi apakah ruang terbuka publik tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat atau tidak. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Setelah analisa data fisik lapangan dilakukan, kemudian hasil data persepsi masyarakat yang diperoleh melalui kuisioner dan selanjutnya dianalisis dengan analisis skala likert. Dari hasil analisis likert, peneliti mendeskripsikan persepsi masyarakat mengenai ruang terbuka publik yang dikaitkan dengan kondisi fisik di lapangan. Hasil analisa data fisik maupun data persepsi, Taman Kota Tebing Tinggi merupakan ruang terbuka publik yang tingkat keberhasilannya sudah memenuhi kriteria-kriteria kunci keberhasilan ruang terbuka publik. Persepsi masyarakat terhadap Taman Kota Tebing Tinggi juga puas / baik, seperti yang mencakup kualitas kenyamanan dan kesan, akses yang mudah, fungsi dan aktivitas yang aktif, serta kemampuan sosial untuk bekerja sama di taman tersebut. Oleh sebab itu, peneliti merekomendasikan adanya peningkatan kualitas dari segi kebijakan, manajemen dan sarana prasarana. Hal ini dapat berupa kebersihan taman yang harus senantiasa dijaga, perawatan rutin terhadap fasilitas-fasilitas yang telah tersedia.

Kata kunci: Ruang terbuka publik, Persepsi, Taman Kota Tebing Tinggi.

ABSTRACT

Public open space is a space that is not awakened in the city which has the function to improve the aesthetic quality, environmental and welfare of citizens. Public open space including elements in urban planning and each community also has a different questionnaire and then analyzed by analysis of Likert scale. From the analysis of Likert, researchers describe the perceptions of public open space which is associated with the physical conditions in the field. The results of the physical data analysis and perceptual data, Taman Kota Tebing Tinggi is a public open space that level of success already meets the key criteria for the success of public open space. Public perceptions of Taman Kota Tebing Tinggi also satisfied / good, as it includes comfort and image quality, easy access, functions and activities are active, as well as social skills to work together in the park. Therefore, the author recommend an increase in quality in terms of policy, management and infrastructure. This may be the cleanliness of the park must constantly be maintained, regular maintenance of the facilities was already available.

(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... vi

ABSTRAK... vii

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR DIAGRAM... xv

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Kerangka Berpikir... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6

2.1 Ruang Terbuka Publik... 6

2.1.1 Pengertian Ruang Terbuka Publik ... 6

2.1.2 Tujuan Ruang Tebuka Publik ... 7

2.1.3 Fungsi Ruang Terbuka Publik ... 8

2.1.4 Manfaat Ruang Terbuka Publik ... 9

2.1.5 Ruang Terbuka Publik yang Berhasil ... 10

2.1.6 Aktivitas Ruang Terbuka Publik... 15

2.2 Persepsi ... 16

2.2.1 Pengertian Persepsi ... 16

2.2.2 Proses Persepsi... 16

2.2.3 Proses Persepsi Manusia Terhadap Lingkungan... 17

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 18

(10)

3.2 Variabel Penelitian ... 18

3.3 Populasi/Sampel... 20

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 21

3.4.1 Data Primer ... 21

3.4.2 Data Sekunder ... 22

3.5 Kawasan Penelitian ... 23

3.5.1 Kriteria Kawasan Penelitian... 24

3.6 Metode Analisis Data ... 24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

4.1 Taman Kota Tebing Tinggi ... 26

4.2 Analisa Latar Belakang Pengunjung Taman Kota Tebing Tinggi ... 28

4.3 Analisa Kenyamanan dan Kesan Taman Kota Tebing Tinggi... 32

4.3.1 Keamanan ... 32

4.3.2 Kebersihan ... 34

4.3.3 Vegetasi... 36

4.3.4 Tempat Duduk ... 38

4.3.5 Lampu ... 41

4.3.6 KM / WC... 43

4.3.7 Mushallah... 43

4.4 Analisa Akses dan Hubungan Taman Kota Tebing Tinggi ... 44

4.4.1 Kemudahan Masuk ... 45

4.4.2 Parkir... 48

4.4.3 Jalur Pejalan Kaki ... 50

4.4.4 Papan Penanda (signage) ... 52

4.4.5 Jarak Tempuh... 54

4.5 Analisa Fungsi dan Aktivitas Taman Kota Tebing Tinggi ... 56

4.5.1 Kesenangan ... 63

4.5.2 Keaktifan ... 64

4.5.3 Kegunaan ... 67

(11)

4.6 Analisa Kemampuan Sosial Taman Kota Tebing Tinggi ... 69

4.6.1 Keramahan ... 70

4.6.2 Bersahabat... 71

4.6.3 Kepengurusan ... 72

4.6.4 Kebanggaan... 73

4.6.5 Kerja Sama... 74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75

5.1 Kesimpulan ... 75

5.2 Saran... 76

5.2.1 Kebijakan ... 76

5.2.2 Manajemen... 76

5.2.3 Sarana dan Prasarana ... 76

(12)

DAFTAR TABEL

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Berfikir Penelitian ... 5

Gambar 2.1 Kunci Utama Ruang Terbuka Publik yang Berhasil ... 10

Gambar 2.2 Foto Kenyamanan... 11

Gambar 2.3 Foto Akses dan Hubungan... 13

Gambar 2.4 Foto Aktivitas ... 14

Gambar 2.5 Foto Interaksi Sosial ... 15

Gambar 2.6 Proses Persepsi Manusia Terhadap Lingkungan ... 17

Gambar 3.1 Peta Kota Medan dan Peta Kota Tebing Tinggi ... 23

Gambar 3.2 Peta Kota Tebing Tinggi ... 23

Gambar 3.3 SitePlan Taman Kota Tebing Tinggi ... 24

Gambar 4.1 Peta Kota Tebing Tinggi ... 26

Gambar 4.2 Lokasi Penelitian ... 27

Gambar 4.3 SitePlan Taman Kota Tebing Tinggi ... 27

Gambar 4.4 Area Rekreatif ... 28

Gambar 4.5 Mushallah dan KM / WC ... 28

Gambar 4.6 A - B Keamanan Taman Kota ... 33

Gambar 4.7 A - F Kebersihan Taman Kota... 35

Gambar 4.8 A - G Vegetasi Taman Kota ... 37

Gambar 4.9 A - C Tempat Duduk Taman Kota ... 39

Gambar 4.10 A - F Lampu Taman Kota ... 42

Gambar 4.11 KM / WC Taman Kota ... 43

Gambar 4.12 Mushallah Taman Kota ... 44

Gambar 4.13 A - B. Kemudahan Akses Masuk / Mencapai Taman Kota ... 46

Gambar 4.14 A - D Parkir Taman Kota ... 49

Gambar 4.15 Jalur Pejalan Kaki Taman Kota ... 51

Gambar 4.16 A - F Papan Penanda / Informasi (signage) Taman Kota... 53

Gambar 4.17 A - J Aktivitas pengunjung pada pagi hari (06.00 - 09.00) ... 57

Gambar 4.18 A - J Aktivitas pengunjung pada siang hari (11.00 - 14.00) ... 59

(14)
(15)

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi J. Kelamin . 29

Diagram 4.2 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Usia ... 29

Diagram 4.3 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Pekerjaan ... 30

Diagram 4.4 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Asal ... 30

Diagram 4.5 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Suku ... 31

Diagram 4.6 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Pernikahan. 31 Diagram 4.7 Persepsi Masyarakat Terhadap Kenyamanan dan Kesan Taman Kota ... 32

Diagram 4.8 Persepsi Masyarakat Terhadap Keamanan Taman Kota ... 33

Diagram 4.9 Persepsi Masyarakat Terhadap Kebersihan Taman Kota... 36

Diagram 4.10 Persepsi Masyarakat Terhadap Vegetasi Taman Kota ... 38

Diagram 4.11 Persepsi Masyarakat Terhadap Tempat Duduk Taman Kota ... 40

Diagram 4.12 Persepsi Masyarakat Terhadap Lampu Taman Kota... 41

Diagram 4.13 Persepsi Masyarakat Terhadap Akses dan Hubungan Taman Kota Tebing Tinggi ... 45

Diagram 4.14 Persepsi Masyarakat Terhadap Kemudahan Masuk Taman... 47

Diagram 4.15 Persepsi Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi Kendaraan Yang Digunakan ... 47

Diagram 4.16 Persepsi Masyarakat Terhadap Parkir Taman Kota ... 50

Diagram 4.17 Persepsi Masyarakat Terhadap Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian) Taman Kota ... 52

Diagram 4.18 Persepsi Masyarakat Terhadap Papan Penanda / Informasi (signage) Taman Kota Tebing Tinggi ... 54

Diagram 4.19 Persepsi Masyarakat Terhadap Jarak Tempuh Taman Kota Tebing Tinggi ... 55

Diagram 4.20 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi Jarak Tempuh ... 55

(16)

Diagram 4.22 Persepsi Masyarakat Terhadap Kesenangan Taman Kota

Tebing Tinggi ... 63

Diagram 4.23 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota

Dilihat dari Segi Motivasi ... 64

Diagram 4.24 Persepsi Masyarakat Terhadap Keaktifan Tamn Kota

Tebing Tinggi ... 64

Diagram 4.25 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota

Dilihat dari Segi Keseringan Waktu Berkunjung ... 65

Diagram 4.26 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota

Dilihat Dari Segi Waktu Berkunjung ... 65

Diagram 4.27 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota

Dilihat dari Segi Lama Waktu Berkunjung ... 66

Diagram 4.28 Persepsi Masyarakat terhadap Kegunaan Taman Kota

Tebing Tinggi ... 67

Diagram 4.29 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota

Dilihat dari Segi Tujuan Berkunjung ... 68

Diagram 4.30 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota

Dilihat dari Segi Kenyaman Berkunjung ... 68

Diagram 4.31 Persepsi Masyarakat terhadap Kepentingan Taman Kota

Tebing Tinggi ... 69

Diagram 4.32 Persepsi Masyarakat terhadap Kemampuan Sosial

Taman Kota ... 70

Diagram 4.33 Persepsi Masyarakat terhadap Keramahan Taman Kota

Tebing Tinggi ... 70

Diagram 4.34 Persepsi Masyarakat terhadap Bersahabat Taman Kota

Tebing Tinggi ... 71

Diagram 4.35 Presentase Masyarakat yang berkunjung ke Taman Kota

Dilihat dari Segi Rekan Berkunjung... 72

Diagram 4.36 Persepsi Masyarakat terhadap Kepengurusan Taman Kota

(17)

Diagram 4.37 Persepsi Masyarakat terhadap Kebanggaan Taman Kota

Tebing Tinggi ... 73

Diagram 4.38 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota

Dilihat dari Segi Kebanggaan... 73

Diagram 4.39 Persepsi Masyarakat terhadap Kerja Sama Taman Kota

(18)

ABSTRAK

Ruang terbuka publik merupakan satu ruang yang tidak terbangun di dalam kota yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas estetika, lingkungan dan juga kesejahteraan warga kota. Ruang terbuka publik termasuk elemen dalam perencanaan kota dan setiap masyarakat juga memiliki persepsi yang berbeda. Maka penting untuk mengetahui persepsi masyarakat. Di Kota Tebing Tinggi, dapat ditemukan keberadaan ruang terbuka publik yaitu Taman Kota Tebing Tinggi. Taman ini sering dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai kegiatan oleh masyarakat. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi bagaimana tingkat keberhasilan Taman Kota Tebing Tinggi dan persepsi masyarakat terhadap ruang terbuka publik dianggap penting untuk memperoleh informasi apakah ruang terbuka publik tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat atau tidak. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Setelah analisa data fisik lapangan dilakukan, kemudian hasil data persepsi masyarakat yang diperoleh melalui kuisioner dan selanjutnya dianalisis dengan analisis skala likert. Dari hasil analisis likert, peneliti mendeskripsikan persepsi masyarakat mengenai ruang terbuka publik yang dikaitkan dengan kondisi fisik di lapangan. Hasil analisa data fisik maupun data persepsi, Taman Kota Tebing Tinggi merupakan ruang terbuka publik yang tingkat keberhasilannya sudah memenuhi kriteria-kriteria kunci keberhasilan ruang terbuka publik. Persepsi masyarakat terhadap Taman Kota Tebing Tinggi juga puas / baik, seperti yang mencakup kualitas kenyamanan dan kesan, akses yang mudah, fungsi dan aktivitas yang aktif, serta kemampuan sosial untuk bekerja sama di taman tersebut. Oleh sebab itu, peneliti merekomendasikan adanya peningkatan kualitas dari segi kebijakan, manajemen dan sarana prasarana. Hal ini dapat berupa kebersihan taman yang harus senantiasa dijaga, perawatan rutin terhadap fasilitas-fasilitas yang telah tersedia.

Kata kunci: Ruang terbuka publik, Persepsi, Taman Kota Tebing Tinggi.

ABSTRACT

Public open space is a space that is not awakened in the city which has the function to improve the aesthetic quality, environmental and welfare of citizens. Public open space including elements in urban planning and each community also has a different questionnaire and then analyzed by analysis of Likert scale. From the analysis of Likert, researchers describe the perceptions of public open space which is associated with the physical conditions in the field. The results of the physical data analysis and perceptual data, Taman Kota Tebing Tinggi is a public open space that level of success already meets the key criteria for the success of public open space. Public perceptions of Taman Kota Tebing Tinggi also satisfied / good, as it includes comfort and image quality, easy access, functions and activities are active, as well as social skills to work together in the park. Therefore, the author recommend an increase in quality in terms of policy, management and infrastructure. This may be the cleanliness of the park must constantly be maintained, regular maintenance of the facilities was already available.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ruang terbuka publik adalah satu ruang yang tidak terbangun dalam kota

yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas estetika, lingkungan, dan

juga kesejahteraan warga dari kota tersebut. Carr, (1992) menyatakan bahwa

ruang terbuka pubik tersebut harus responsif, demokratis dan juga bermakna.

Responsif berarti ruang terbuka publik yang harus dapat dipergunakan untuk

berbagai macam kegiatan dan kepentingan yang luas. Demokratis berarti ruang

terbuka publik dapat dipergunakan oleh masyarakat umum dari berbagai macam

latar belakang sosial, ekonomi dan budaya. Sedangkan bermakna juga berarti

ruang terbuka publik yang harus memiliki tautan dengan manusia, dunia luas, dan

konteks sosial.

Aktivitas yang ada pada ruang terbuka publik ini bisa digunakan untuk

rekreasi dan mencari hiburan. Akan tetapi, pada prinsipnya ruang terbuka publik

merupakan tempat di mana masyarakat dapat melakukan aktivitas yang mengarah

ke jenis kegiataan hubungan sosial lainnya contohnya untuk berjalan-jalan atau

juga untuk melepas lelah. Selain itu, juga bisa untuk pertemuan akbar pada

waktu-waktu tertentu, dan untuk upacara-upacara resmi. Fungsi atau keegiatan lainnya

adalah perdagangan. Dari bahasan yang di atas jelas bahwa ruang terbuka publik

berhubungan dengan masyarakat/ pengunjung sebagai pemakai fasilitas itu

tersebut.

Ruang terbuka publik yang baik adalah yang dapat mengakomodasi

kebutuhan dari penggunanya. Suatu ruang terbuka publik dapat dikategorikan

sukses apabaila memenuhi kriteria-kriterianya. Project for Public Space (2004) mengidentifikasi adanya 4 atribut utama mengenai keberhasilan ruang terbuka

publik yaitu kenyamanan dan kesan, akses dan hubungan, fungsi dan aktivitas,

dan yang terakhir kemampuan sosial. Upaya untuk menetapkan kesuksesan

sebuah ruang terbuka publik bergantung terhadap berbagai kondisi, seperti

nilai-nilai yang dianut oleh seseorang yang mendefinisikannya dan norma-norma yang

(20)

dan fungsi secara praktis seperti untuk olahraga, bermain, berjualan, beristirahat,

makan dan lainnya. Namun ada dimensi tambahan untuk ruang terbuka publik

yaitu dapat memenuhi kebutuhan psikologis tertentu sebaik pemenuhan secara

fisik. Dengan “psikologi” dalam konteks ini, yang berarti segala hal yang

mempengaruhi perilaku atau perasaan pengguna (Shaftoe, 2008). Pernyataan

tersebut menyatakan bahwa faktor psikologis sangat mempengaruhi persepsi

pengguna terhadap sebuah ruang terbuka publik. Persepsi adalah proses dimana

sebagaimana manusia yang menyeleksi dan mengatur masukan-masukan

informasi agar menciptakannya gambaran secara menyeluruh yang berarti (Kotler,

2000).

Ruang terbuka publik termasuk elemen dalam perencanaan kota dan setiap

warga kota memiliki persepsi-persepsi masyarakat yang berbeda-beda. Maka

penting untuk mengetahui persepsi masyarakat. Tujuannya untuk memperoleh

informasi apakah ruang terbuka publik memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kota Tebing Tinggi salah satu kota yang berada di Sumatera Utara. Kota

Tebing Tinggi merupakan kota yang sangat berperan penting dalam

menghubungkan kota-kota di Sumatera Utara, dikarenakan merupakan kota

persimpangan. Kota ini menjadi jalur segitiga yang menuju kota Medan, menuju

kota Siantar, dan menuju kota Kisaran. Adapun visi pembangunan kota Tebing

Tinggi tahun 2011-2016 adalah “mewujudkan masyarakat kota Tebing Tinggi

yang beriman, bertaqwa, maju, sejahtera, mandiri, dan berkeadilan dalam

kebhinekaan” (www.tebingtinggikota.go.id). Salah satunya dengan perencanaan tata ruang. Ditengah perkembangan kawasan bisnis perdagangan di Tebing

Tinggi, maka penelitian ini bermaksud mengidentifikasi bagaimana ruang terbuka

publik digunakan oleh masyarakat, sebagai salah satu sarana kota untuk

memenuhi kebutuhan masyarakat.

Isu ruang terbuka publik di Tebing Tinggi adalah terletak di kota kecil

yang mensejahterakan masyarakatnya. Salah satu media untuk mensejahterakan

masyarakat adalah ruang terbuka publik. Eksistensi keberadaan ruang terbuka

publik yang semakin berkurang secara signifikan, dikarenakan meningkatnya

pembangunan bangunan - bangunan seperti ruko atau bangunan komersil. Di

(21)

membentuk kota yang ramah lingkungan, nyaman dan sehat. Menurunnya

kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik yang ada diperkotaan, baik berupa

ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau telah mengakibatkan

menurunnya kualitas lingkungan perkotaan seperti terjadi banjir diperkotaan,

tingginya polusi udara, dan meningkatnya kerawanan sosial seperti kriminalitas

dan krisis sosial. Menurunnya produktivitas masyarakat diakibatkan karena

munculnya persaingan ruang terbuka publik dengan ruang terbuka publik privat

seperti mall, theme park dan lainnya, maka dari itu terbatasnya ruang untuk

masyarakat berinteraksi sosial diruang terbuka.

1.2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang akan teliti dan dijawab dalam penelitian ini

adalah:

• Bagaimana tingkat keberhasilan ruang terbuka publik di kota Tebing Tinggi.

• Bagaimana persepsi masyarakat terhadap peran ruang terbuka publik (Taman Kota Tebing Tinggi) bagi pemenuhan kebutuhan

mereka.

1.3. Tujuan Penelitian

Penilitian ini mengambil sampel ruang terbuka publik yang berada di

Tebing Tinggi yaitu Taman Kota. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu;

• Mengidentifikasi bagaimana tingkat keberhasilan ruang terbuka publik di kota Tebing Tinggi.

• Mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap peran ruang terbuka publik (Taman Kota Tebing Tinggi) bagi pemenuhan

(22)

1.4. Manfaat Penelitian

Ada pun manfat dari penilitian ini, antara lain:

1. Manfaat Akademis

Bagi peneliti dan mahasiswa dapat dijadikan sebagai refrensi

tambahan dalam konteks peran ruang terbuka publik bagi masyarakat.

2. Manfaat Praktis

• Bagi pemerintah dapat dijadikan sebagai kebijakan perencanaan kota.

(23)

1.5. Kerangka Berpikir

LATAR BELAKANG

Ruang terbuka publik adalah satu ruang yang tidak terbangun dalam kota yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas estetika, lingkungan, dan juga kesejahteraan warga kota tersebut (Carr, 1992). Ruang terbuka publik termasuk elemen dalam perencanaan kota dan setiap warga kota memiliki persepsi masyarakat yang berbeda. Isu ruang terbuka publik di Tebing Tinggi adalah terletak di kota kecil yang mensejahterahkan masyarakatnya. salah satu media untuk itu adalah ruang terbuka publik.

JUDUL PENELITIAN

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ruang Terbuka Publik

2.1.1. Pengertian Ruang Terbuka Publik

Ruang terbuka publik menurut Stephen Carr, dkk (1992) sebagai ruang

milik bersama, juga sebagai tempat masyarakat melakukan aktivitas yang

fungsional dan juga ritual dalam suatu komunitas, baik juga kehidupan sehari-hari

maupun dalam perayaan. Dan juga tempat masyarakat melakukan aktivitas pribadi

maupun kelompok. Adapun pengertian-pengertian yang dikemukakan para ahli

perencanaan kota mengenai ruang terbuka publik yang sangat beragam, berikut

beberapa pengertian ruang terbuka publik tersebut, yaitu:

a. Ruang terbuka publik merupakan elemen vital dalam sebuah ruang kota

dikarenakan keberadaan yang teletak dikawasan yang berintensitas

kegiatan yang tinggi, sebagai lahan yang tidak terbangun dan ruang

terbuka biasanya terletak tepat dilokasi yang strategis dan banyak dilalui

masyarakat (Nazarudin, 1994).

b. Ruang terbuka publik yang merupakan wadah ruang aktivitas sosial yang

melayani dan juga mempengaruhi kehidupan masyarakat kota. Selain

wadah aktivitas sosial ruang terbuka juga menjadi wadah dari kegiatan

fungsional maupun aktivitas ritual yang mempertemukan suatu kelompok

masyarakat dalam rutinitas normal dalam kehidupan sehari-hari maupun

dalam kegiatan periodik (Carr, 1992).

c. Ruang terbuka publik sebagai civic centre yaitu suatu ruang luar yang

terjadi dengan membatasi alam dan komponen-komponen (bangunan)

menggunakan elemen keras dan elemen lunak (Sugi, 2013).

d. Ruang terbuka publik adalah lahan tidak terbangun didalam kota dengan

penggunaan tertantu. Pertama, ruang terbuka kota didefinikan sebagai

bagian dari lahan kota yang tidak ditempati oleh bangunan dan hanya

dapat dirasakan keberadaannya jika sebagian atau seluruh lahannya

(25)

dengan penggunaan spesifik yang fungsi atau kualitas terlihat dari

komposisinya (Rapuano dalam Asmullany, 2014).

e. Ruang terbuka publik adalah bagian dari ruang yang memiliki definisi

sebagai wadah yang menampung aktivitas manusia dalam suatu

lingkungan yang tidak mempunyai penutup dalam bentuk fisik

(Budihardjo, 1998).

Jadi dari penjelasan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa ruang terbuka publik adalah ruang di bagian luar bangunan yang

dimanfaatkan sebagai wadah untuk melakukan berbagai aktivitas.

2.1.2. Tujuan Ruang Terbuka Publik

Ruang terbuka publik merupakan suatu wadah umum yang menampung

aktivitas manusia dalam suatu lingkungan terbuka atau tidak memiliki penutup

yang memiliki tujuan, menurut Carr (1992) secara umum tujuan ruang terbuka

publik dibagi menjadi 5 tujuan, yaitu:

a. Kesejahteraan Masyarakat

Kesejahteraan masyarakat menjadikan motivasi dasar dalam bentuk

penciptaan dan pengembangan ruang terbuka publik yang menyediakan jalur

untuk pergerakan, pusat komunikasi, dan tempat untuk merasa santai dan bebas.

b. Peningkatan Visual

Keberadaan ruang terbuka publik disuatu kota akan meningkatkannya

kualitas visual kota menjadi lebih manusiawi, harmonis, dan indah.

c. Peningkatan Lingkungan

Penghijauan pada suatu ruang terbuka publik sebagai sebuah nilai estetika

juga paru-paru kota yang memberikan udara-udara segar di tengah-tengah polusi.

d. Pengembangan Ekonomi

Pengembangan ekonomi menjadi tujuan umum dalam penciptaan dan

pengembangan ruang terbuka publik.

e. Peningkatan Kesan

Merupakan tujuan yang tidak tertulis secara jelas dalam kerangka

(26)

2.1.3. Fungsi Ruang Terbuka Publik

Keberadaan ruang terbuka publik pada suatu kawasan di pusat kota sangat

penting artinya karena dapat meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan baik dari

segi lingkungan, masyarakat maupun kota melalui fungsi pemanfaatan ruang

didalamnya.

Ruang terbuka publik adalah ruang tidak terbangun dalam kota yang memiliki

berbagai macam fungsi bila dipandang dari beberapa aspek (Amelia, 2012), yaitu:

a. Aspek Sosial

Ruang terbuka publik berfungsi sebagai sarana interaksi sosial masyarakat

dengan lingkungan sosial sekitarnya dan sebagai tempat masyarakat untuk

menampung wadah aktivitas dalam bersosialisasi satu sama lain baik sama

kerabat bahkan orang yang tidak dikenal.

b. Aspek Ekonomi

Ruang terbuka publik dapat berfungsi sebagai lahan berjualan bagi

pedagang-pedagang dikarenakan ramainya aktivitas yang ada di ruang terbuka

publik yang mampu menampung aktivitas aktivitas dagang yang banyak

disekitarnya.

c. Aspek Budaya

Ruang terbuka publik yang dapat menampung acara-acara yang

menonjolkan kebudayaan.

d. Aspek Politik

Ruang terbuka publik sebagai tempat pagelaran acara-acara Negara serta

menyampaikan aspirasi masyarakat seperti pemilu dan demonstrasi.

e. Aspek Ekologis

Ruang terbuka publik yang berfungsi sebagai sarana untuk menciptakan

kebersihan, kesehatan, keserasian, maupun keindahan lingkungan. Selain itu

berfungsi juga tempat untuk mendapatkan udara segar dan menyerap air hujan.

f. Aspek Arsitektural

Ruang terbuka publik berfungsi sebagai sarana penghubung satu tempat

dengan tempat yang lainnya dan berfungsi sebagai pembatas diantara massa

(27)

Banyak fungsi-fungsi lain dari ruang terbuka publik bila dikaji menurut

pandangan orang-orang. Dalam buku Public Space, Stephen Carr (1992) menyatakan bahwa ruang terbuka publik harus responsif, demokratis, dan

bermakna.

a. Responsif artinya ruang terbuka publik harus dapat digunakan untuk

berbagai kegiatan dan kepentingan luas.

b. Demokratis berarti ruang terbuka publik yang harus dapat digunakan oleh

masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan

budaya serta aksesibel yang bagi penyandang cacat tubuh, lanjut usia, dan

berbagai macam kondisi fisik manusia.

c. Bermakna berarti ruang terbuka publik yang harus memiliki tautan dengan

manusia, dunia luas, dan konteks sosial.

Apabila ditinjau dari salah satu elemen perancangan kota, ruang terbuka

publik mempunyai fungsi-fungsi:

a. Melayani kebutuhan sosial masyarakat kota dan memberikan pengetahuan

ke pengunjungnya (Nazarudin, 1994).

b. Merupakan simpul dan sarana komunikasi pengikat sosial untuk

menciptakan interaksi antarkelompok masyarakat (Carr, 1992).

2.1.4. Manfaat Ruang Terbuka Publik

Menurut penelitian Amelia, dkk (2012) yang menyatakan manfaat ruang

terbuka publik bagi masyarakat seperti oase pada gurun yang berarti tempat

berteduh di perkotaan yang sangat padat. Memberikan suatu kelegaan dari jadwal

yang padat dan bisa juga meredakan tingkatstressseseorang. Suatu ruang terbuka publik bermanfaat juga bagi kesehataan karena membuat masyarakat/pengunjung

memiliki wadah dalam berolahraga yang lebih menarik. Dilihat dari aspek

ekonomi pun juga mempunyai manfaat bagi kehidupan perekonomian penduduk

sekitar lokasi ruang terbuka publik dimana mereka bisa memanfaatkan lahan

ruang terbuka publik sebagai suatu kesempatan untuk bekerja. Apabila dilihat dari

(28)

menjadi lebih indah estetikanya apalagi suatu ruang terbuka publik didesain

secara indah dan fungsional.

2.1.5. Ruang Terbuka Publik yang Berhasil

Project for Public Space, (2004) menyatakan 4 kunci utama mengenai keberhasilan ruang terbuka publik, yaitu:

a. Kenyamanan dan kesan (comfort and image)

Ruang terbuka publik yang nyaman dan menampilkan dirinya dengan

baik, memiliki kesan yang baik untuk menjadi kunci keberhasilannya.

Kenyamanan mencakup persepsi tentang keselematan, kebersihan, dan

juga ketersediaan tempat duduk. Pentingnya memberikan orang piihan

untuk duduk di mana mereka inginkan umumnya diremehkan. Perempuan

khususnya hakim yang baik pada kenyamanan dan kesan, karena mereka Gambar 2.1. Kunci utama ruang terbuka publik yang berhasil

(29)

cenderung lebih diskriminatif tentang ruang terbuka publik yang mereka

gunakan.

• Keamanan.

Keamanan di ruang terbuka publik akan tercapai dengan adanya

ketersediaan fasilitas penjagaan seperti pos jaga yang mampu

mengawasi yang terjadi di suatu ruang terbuka publik dengan jarak

penglihatan yang jelas. Ruang terbuka publik yang memiliki fasilitas

- fasilitas yang rusak akan menurunkan rasa aman di ruang terbuka

publik tersebut.

• Kebersihan.

Ruang terbuka publik yang bersih akan memberikan rasa nyaman

bagi remaja untuk beraktivitas di ruang terbuka publik, dimana para

remaja umumnya menghindari kunjungan ke ruang terbuka

publik yang kotor (Gearin dan Kahle, 2006). • Vegetasi

Vegetasi yang disediakan berupa pepohonan dan tanaman untuk

menciptakan keindahan, sebagai peneduh, serta untuk mengurangi

polusi. Suasana rindang / sejuk dalam beraktivitas dapat diciptakan

dengan menyediakan fasilitas vegetasi berupa pepohonan dan

tanaman hijau.

• Tempat duduk.

Umumnya tempat duduk harus diletakkan pada tempat - tempat

yang tepat berupa tempat dimana orang - orang senang untuk Gambar 2.2. Foto kenyamanan

(30)

duduk sambil mengamati aktivitas orang lain. Selain itu, tempat

duduk tidak boleh diletakkan di tempat - tempat yang minim

aktivitas. Berikut ini merupakan beberapa hal yang harus

diperhatikan dalam meletakkan posisi tempat duduk di ruang

terbuka publik, yaitu :

a. Tempat duduk diletakkan dekat dengan tempat sampah.

b. Tempat duduk tidak boleh diletakkan berhadapan secara

langsung kecuali untuk keperluan bermain. Hal ini

dikarenakan orang akan merasa kurang nyaman untuk duduk

berhadapan dengan orang asing.

c. Tempat duduk harus dibuat dari material yang awet dan tahan

terhadap segala kondisi cuaca, bahaya karat dsb. Adapun

jenis material yang dapat dipakai sebagai material untuk

permukaan tempat duduk berupa material beton, kayu, besi,

baja dan fiberglass. Namun, material yang paling baik untuk

digunakan sebagai material tempat duduk adalah materila kayu

dikarenakan lebih awet dan tidak mudah mengkonduksi panas

dan dingin sehingga lebih nyaman untuk digunakan.

• Lampu.

Lampu penerangan ditempatkan secara merata di ruang terbuka

publik. Area - area tertentu yang agak terutup dan rawan akan

tindakan kriminal, harus memiliki penerangan yang memadai

terutama pada saat malam hari.

b. Akses dan hubungan (access and linkage)

Menilai aksesibilitas tempat dari hubungannya dengan lingkungannya,

baik visual dan fisik. Sebuah ruang terbuka publik yang berhasil adalah

mudah untuk mendapatkan dan melewati itu baik dari kejauhan maupun

(31)

• Kemudahan Akses Masuk / Mencapai

Pencapaian ke ruang terbuka publik tersebut juga harus dapat

dilakukan dengan beragam moda transportasi mulai dari berjalan

kaki, kenderaan umum hingga kenderaan pribadi. Selain itu,

ruang terbuka publik ini tidak boleh terhalang dan harus mudah

terlihat dari area - area di sekitarnya.

• Jalur pejalan kaki

Penempatan pepohonan dan tanaman di sepanjang jalur pejalan kaki

dapat memberikan rasa sejuk, perlindungan dan menciptakan

kualitas visual yang membuat para pejalan kaki merasa nyaman

untuk berjalan kaki. Jalur pejalan kaki sebaiknya dibuat dari

materila yang kasar dan tidak licin berupa beton, bata, atau batu.

• Papan Penanda / Informasi (signage).

Tanda penunjuk diletakkan berada di tempat terbuka, tidak

terhalang oleh pepohonan, mudah dilihat, tidak merusak arsitektur

bangunan disekitarnya dan memberikan informasi jelas mengenai

lokasi - lokasi serta berfungsi sebagai penunjuk arah.

c. Fungsi dan aktivitas (uses and activity)

Aktivitas adalah blok bangunan dasar dari suatu tempat. Memiliki sesuatu

untuk dilakukan dan memberikan kesan untuk pengguna agar ada alasan

untuk datang ke suatu tempat dan kembali. Prinsip yang penting diingat

dalam mengevaluasi fungsi dan aktivitas di ruang terbuka publik salah Gambar 2.3. Foto akses dan hubungan

(32)

satunya adalah semakin banyak kegiatan yang terjadi maka memiliki

kesan yang baik dan adanya keseimbangan yang baik laki-laik dan

perempuan.

• Keaktifan

a. Waktu berkunjung.

Apabila dilihat dari segi waktu berkunjung, ruang terbuka

publik yang selama waktu operasionalnya selalu dikunjungi

oleh orang - orang untuk melakukan aktivitas tertentu

dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan fungsi

dan aktivitas di ruang terbuka publik tersebut.

b. Lama berkunjung.

Semakin lama seseorang berkunjung ke suatu ruang terbuka

publik, maka menunjukkan bahwa seseorang tersebut

semakin merasa nyaman untuk beraktivitas di ruang terbuka

publik tersebut.

• Kegunaan

Apabila dilihat dari segi jenis - jenis aktivitas, keberagaman jenis

aktivitas yang berlangsung di suatu ruang terbuka publik dan

besarnya peluang orang - orang untuk turut terlibat di dalam

aktvitas tersebut dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan

fungsi dan aktivitas di ruang terbuka publik tersebut. Gambar 2.4. Foto aktivitas

(33)

d. Kemampuan sosial (sociability)

Ini adalah kunci yang sulit untuk ruang terbuka publik mencapainya, akan

tetapi setelah mencapainya dan menjadi fitur yang jelas di mana pengguna

bertemu dan saling berinteraksi baik yang sudah dikenal maupun dengan

orang asing.

2.1.6. Aktivitas Ruang Terbuka Publik

Aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan pada ruang terbuka publik

berdasarkan fungsi yang dapat dilihat dari beberapa aspek (Amelia, 2012), yaitu:

a. Aspek sosial yang menampung aktivitas dalam bersosialisasi antar

pengunjung.

b. Aspek ekonomi menimbulkan aktivitas jual beli seperti adanya pedagang

kaki lima.

c. Aspek politik menimbulkan aktivitas masyarakat yang menyampaikan

aspirasinya seperti kampanye, demonstrasi, dan pemilu.

Sedangkan menurut Jahn Gehl dan Lars Gemzoe dalam bukunya Public SpacePublic Life(1996) kegiataan terbagi atas 2 bagian:

a. Kegiatan yang berskala kecil

Contohnya seperti kegiataan musisi jalanan (pengamen) dan berbagai

macam komunitas yang membagikan informasi-informasi.

b. Kegiatan yang berskala besar

Aktivitas yang terencanakan seperti festival musik maupun festival tari

kebudayaan. Yang menggunakan ruang terbuka publik sebagai panggungnya. Gambar 2.5. Foto interaksi sosial

(34)

2.2. Persepsi

2.2.1. Pengertian Persepsi

Persepsi menurut Kurniawan dkk, 2004 dapat diartikan sebagai proses

yang memiliki oleh seseorang yang menilai dan menginterpretasikan obyek,

peristiwa maupun hubungan-hubungan yang diperoleh yang hasil akhirnya

menyimpulkan tentang adanya informasi dan menafsirkan pesan secara

keseluruhan. Adapun pengertian-pengertian persepsi menurut beberapa ahli: • Proses dimana seseorang bagaimana menyeleksi atau mengatur

masukan-masukan informasi agar menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti

(Kotler, 2000).

• Persepsi merupakan pandangan seseorang dan penangkapan seseorang tentang sesuatu yang terpengaruhi oleh informasi yang diterima terhadap

informasi yang ada (Murphy, 1985).

• Persepsi bisa disebut suatu proses tentang petunjuk-petunjuk (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk

menghasilkan gambaran seseorang agar terstruktur dan bermakna pada

situasi tertentu (Ruch, 1967).

Dari penjelasan beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa

persepsi merupakan suatu proses dimana seseorang meninterpretasikan

kesan-kesan sensorinya dalam usaha yang memberikan suatu makna tertentu didalam

lingkungannya.

2.2.2. Proses Persepsi

Proses persepsi yang telah dikemukan beberapa ahli yang dicantumkan

dalam jurnal ilmiah Kurniawan, dkk (2004), yaitu:

1. Tahap penerimaan stimulus, proses ini mencakup adanya pengenalan dan

pengumpulan informasi tentang stimulus yang tersedia, baik stimulus fisik

maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia.

2. Tahap pengelolahan, terdapat stimulus sosial melalui proses seleksi serta

(35)

3. Tahap perubahan stimulus yang dicerna individu dalam menanggapi

lingkungan melalui suatu proses kognisi yang dipengaruhi adanya

pengalaman, cakrawala, serta adanya pengetahuan individu.

Stimulus yang diterima seseorang akan diorganisasikan, diinterpretasikan,

sehingga seseorang menyadari tentang apa yang diinderanya dan menjadi lebih

berarti. Dengan persepsi, seseorang menyadari keadaan lingkungan sekitarnya dan

apa yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Walaupun stimulusnya sama

tetapi pengalamannya tidak sama, kemampuan berpikirnya tidak sama, kerangka

acuannya tidak sama. Dengan demikian kemungkinan hasil persepsi setiap

individu akan berbeda. Keadaan tersebut memberikan gambaran bahwa persepsi

lebih bersifat individual.

2.2.3. Proses Persepsi Manusia Terhadap Lingkungan

Menurut Bell, dkk. (1978), komunikasi antara suatu objek dan manusia

akan menimbulkan persepsi manusia terhadap objek tersebut. Jika

hasil komunikasi antara manusia dengan objek tersebut masih berada

dalam batas wajar, maka manusia akan berada dalam keadaan stabil. Namun,

bila hasil komunikasi antara manusia dengan objek tersebut berada di luar

batas kewajaran, maka manusia akan mengalami depresi dan harus berusaha

untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Bila manusia tidak berhasil

beradaptasi terhadap lingkungannya, maka manusia akan mengalami depresi

berkelanjutan.

(36)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Berdasarkan metode penelitian dibedakan menjadi 5 jenis (Sinulingga,

2011), yaitu penelitian historis, penelitian deskriptif, penelitian eksperimen,

penelitian tindakan, dangrounded research.

Dari penjelasan jenis-jenis penelitian di atas, penelitian ini menggunakan

penelitian deskriptif, yaitu mendeskripsikan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.

Dengan melakukan penelitian ini akan mendapatkan tingkat keberhasilan suatu

ruang terbuka publik yaitu Taman Kota Tebing Tinggi yang berdasarkan teori

yang relevan dan berdasarkan persepsi masyarakat.

Penelitian ini mengunakan metodologi kualitatif, yaitu menghasilkan data

deskriptif dari perilaku pengguna / pengunjung di ruang terbuka publik. Data-data

yang diperlukan dengan membagikan kuisioner kepada pengguna / pengunjung

ruang terbuka publik, serta melakukan observasi awal untuk melihat

kecenderungan puncak - puncak aktivitas di lokasi penelitian.

Persepsi masyarakat kota terhadap ruang terbuka publik ini merupakan

penelitian deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengumpulkan, menganalisa serta

menyimpulkan data dan informasi yang ada dan diperlukan yang terkait dengan

persepsi masyarakat kota terhadap ruang terbuka publik di taman kota. Dalam

mengumpulkan data menggunakan metode kualitatif dengan cara menyebar

kuisioner dan mengobeservasi mengenai tingkat keberhasilan ruang terbuka

publik.

3.2. Variabel Penelitian

Variabel-variabel penelitian yang akan dibutuhkan sebagai kepentingan

analisis nantinya, antara lain sebagai berikut:

1. Kenyamanan dan Kesan (comfort and image)

Ruang terbuka publik yang nyaman dan memiliki pemandangan yang

(37)

keberhasilan. Beberapa indikator kenyamanan dan pemandangan untuk

2. Akses dan Hubungan (access and linkage)

Ruang terbuka publik yang berhasil adalah mudah untuk mendapatkan dan

melewati itu baik dari dekat maupun dari kejauhan. Indikator akses dan

hubungan, yaitu:

• Kemudahan Masuk / Mencapai • Parkir

• Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian) • Papan Penanda / informasi (signage) • Jarak Tempuh

3. Fungsi dan Aktivitas (uses and activity)

Ruang terbuka publik yang berhasil memiliki fungsi dan aktivitas untuk

menciptakan ruang terbuka publik tersebut agar lebih hidup. Indikator

fungsi dan aktivitas, yaitu: • Kesenangan • Keaktifan

• Kegunaan

• Kepentingan

Fungsi dan aktivitas ruang terbuka publik akan digambarkan dalam

penataan perilaku yang menunjukkan titik-titik aktivitas yang dilakukan

pada durasi tertentu, yaitu:

a. Durasi I : 06.00–09.00 WIB

b. Durasi II : 11.00–14.00 WIB

(38)

4. Kemampuan Sosial (sociability)

Kemampuan sosial meliputi berbagai macam interaksi sosial yang

dilakukan bagi seluruh pengguna ruang taman maupun penduduk sekitar

taman kota Tebing Tinggi. Indikator kemampuan sosial, yaitu:

• Keramahan

• Bersahabat • Kepengurusan • Kebanggaan • Kerja sama

5. Latar Belakang pengguna ruang

Latar Belakang menjelaskan kondisi sosial budaya pengunjung yang

memberikan pendapatnya tentang subjek penelitian. Untuk mendapatkan

data yang lebih detail menggunakan persepsi dari pengguna dan penduduk

sekitar, peneliti bisa menggunakan cara dengan melakukan menyebar

kuesioner.

3.3. Populasi/Sampel

Populasi responden adalah semua pengunjung Taman Kota Tebing Tinggi.

Dengan demikian, sampel yang akan diambil pada penelitian ini adalah

pengunjung yang dijumpai pada saat survey dihari minggu (9 November 2014)

dengan waktu yang berbeda-beda, seperti:

a. 06.00 - 09.00 = 42 orang

b. 11.00 - 14.00 = 17 orang

c. 16.00 - 19.00 = 62 orang

Pemilihan waktu berdasarkan keaktifan ruang terbuka publik. Untuk jumlah

sampelnya sendiri seperti yang sudah dihitung diwaktu yang berbeda-beda dengan

total pengunjung 121 orang. Maka dari itu untuk menentukan jumlah sampel

mengambil teori Wallen (1993) yang mengatakan bahwa suatu penelitian

deskriptif yang jumlah populasinya tidak diketahui maka minimal sampel yang

(39)

3.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara

survey langsung ke lapangan (data primer) dan mendapatkan data melalui

sumber-sumber instansi yang terkait (data sekunder).

3.4.1. Data Primer

Dalam mendapatkan data primer ini, peneliti akan melakukan beberapa

teknik riset yaitu antara lain:

Variabel penelitian Indikator

(comfort and image)

- keamanan  

(access and linkage)

- kemudahan masuk  

- parkir  

- pedestrian  

-signage  

- jarak tempuh 

Fungsi dan aktivitas

(uses and activity)

- kesenangan 

- keaktifan  

- kegunaan  

(40)

Kemampuan sosial

(socialibility)

- keramahan 

- bersahabat 

- kepengurusan 

- kebanggaan 

- kerja sama 

Social background

pengguna ruang 

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder yang ingin diperoleh pada penelitian ini adalah berupa studi

literatur yang diperoleh dengan cara membaca literatur yang berkaitan dengan

ruang terbuka publik dan teori persepsi masyarakat. Data berbentuk peta yang

dibutuhkan untuk menunjukan lokasi kawasan penelitian seperti Tebing Tinggi,

(41)

3.5. Kawasan Penilitian

Dari kriteria kawasan penelitian maka ruang terbuka publik yang dipilih

ada taman kota di Jl. Pangeran Diponegoro, Tebing Tinggi.

(42)

Gambar 3.3. SitePlan Taman Kota Tebing Tinggi

Sumber : http://alimedanbisnis.files.wordpress.com/2010/03/picture1.jpg

3.5.1. Kriteria Kawasan Penelitian

Lokasi yang akan diteliti adalam penelitian ini adalah ruang terbuka publik

di Kota Tebing Tinggi dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Merupakan kota kecil yang sedang berkembang.

2. Memiliki ruang terbuka publik didalamnya.

3. Merupakan ruang terbuka publik yang aktif.

3.6. Metoda Analisa Data

Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif. Metode analisis deskriptif ini dilakukan untuk menjelaskan tingkat

keberhasilan ruang terbuka publik dan akan diterapkan kedalam menganalisis

data-data fisik lapangan. Selanjutnya data perilaku berdasarkan aktifitas

pengunjung akan digambarkan dalam bentuk pemetaan perilaku (behavioral mapping), kemudian dianalisis aktivitas apa saja yang terjadi dilapangan dan apa saja perilaku yang paling banyak atau cenderung dilakukan oleh pengguna taman

dengan durasi waktu yang berbeda-beda. Kemudian hasil data penelitian

(43)

melalui kuisioner dan selanjutnya dianalisis dengan analisis skala likert. Jawaban

responden untuk setiap pertanyaan pada bagian penilaian responden memiliki

gradasi dari sangat negatif hingga sangat positif. Skala Likert yang dipilih adalah

berjenjang 1-5 yang mewakili pendapat ‘sangat tidakpuas’ seampai‘sangatpuas’.

Data-data yang telah diperoleh dari hasil kuisioner diubah kedalam skala

Likert dan selanjutnya dicari nilai rata-rata (mean). Nilai rata-rata (mean) yang

telah diperoleh kemudian dirangking dan disimpulkan bagaimana persepsi

masyarakat terhadap peran ruang terbuka publik. Dari hasil analisis likert, peneliti

mendeskripsikan persepsi masyarakat mengenai ruang terbuka publik yang

(44)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Taman Kota Tebing Tinggi

Berdasarkan kriteria pemilihan kawasan penelitian maka ruang terbuka

publik yang akan diteliti yaitu Taman Kota Tebing Tinggi. Taman Kota ini

terletak di persimpangan jalan D.I. Panjaitan dan jalan Diponegoro Tebing Tinggi.

Gambar 4.1 Peta Kota Tebing Tinggi

(45)

Gambar 4.2 Lokasi penelitian (sumber: Google Map, 2014)

Gambar 4.3. Siteplan Taman Kota Tebing Tinggi

(sumber: Dinas Penataan Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Utara)

Taman kota ini juga cukup terkenal di Kota Tebing Tinggi dan dikunjungi

banyak orang karena merupakan satu-satunya taman yang memiliki daya tarik

yang berbeda dengan taman lainnya di Kota Tebing Tinggi itu sendiri. Taman Taman Kota

(46)

kota ini sudah berdiri hampir 4 tahun yang direalisasikan pada tahun 2010.

Sebelum taman kota ini berdiri, lahan ini terbangun terminal dan setelah itu

dibangun hotel dan akhirnya pada tahun 2010 taman ini dibangun oleh

pemprovsu. Seiring dengan berjalannya waktu, taman ini memiliki reputasi yang

cukup baik dan dianggap sebagai taman dengan pengelolaan terbaik dan juga

terbersih di Kota Tebing Tinggi. Taman ini memiliki fasilitas yang lengkap,

seperti area nyantai dan area olahraga yaitu jogging track, lapangan basket, dan

juga lapangan voli. Selain fasilitas rekreatif juga terdapat kamar mandi/wc dan

juga mushallah.

Gambar 4.4. area rekreatif (sumber: dokumen pribadi 2014)

Gambar 4.5. mushollah dan KM/WC (Sumber: dokumen pribadi 2014)

4.2. Analisa Latar Belakang Pengunjung Taman Kota Tebing Tinggi

Analisa latar belakang pengunjung Taman Kota dilihat dari segi jenis

(47)

orang, lebih banyak pengunjung wanita yang berkunjung ke Taman Kota yaitu

sebesar 51% dibandingkan dengan pengunjung pria yang presentasenya tidak jauh

beda dengan pengunjung wanita yaitu 49%.

Diagram 4.1. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi

Jenis Kelamin

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Apabila dilihat dari segi usia pengunjung Taman Kota menunjukkan

bahwa dari 100 pengunjung lebih dominan remaja dan dewasa dengan jenjang

usia 21 - 30 tahun sebanyak 41 pengunjung.

Diagram 4.2. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi

Usia

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Dilihat dari usia pengunjung lebih dominan remaja dan dewasa maka dari

itu, pekerjaan pengujung pun lebih dominan mahasiswa dan pelajar dengan besar

35 dan 28 pengunjung.

Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Jenis Kelamin (Total sampel : 100 orang)

Pria 49%

Wanita 51%

Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Usia (Total sampel : 100 orang)

< 11 Tahun 1%

12 - 20 Tahun 34%

21 - 30 Tahun 41%

31 - 40 Tahun 13%

41 - 50 Tahun 7%

(48)

Diagram 4.3. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi

Pekerjaan

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Adapun asal tempat tinggal pengunjung yang berkunjung ke Taman Kota

Tebing ini dari berbagai macam kota. Dan apabila dilihat dari diagram 4.4.

menunjukkan bahwa lebih dominan pengunjung yang berasal dari kota Tebing

Tinggi itu sendiri dibandingkan kota-kota lainnya, seperti kota Medan, T.Morawa

dan Siantar.

Diagram 4.4. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi

Asal Pengunjung

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Suku pengunjung yang berkunjung ke Taman Kota Tebing Tinggi yang

paling dominan yaitu suku jawa dibandingkan suku batak dan melayu. Dilihat dari

asal pengunjung kebanyakan dari kota Tebing Tinggi yang kebanyakan besar suku

jawa.

Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Pekerjaan (Total sampel : 100 orang)

PNS 15%

BUMN 1%

Pelajar 28%

Mahasiswa 35%

Pegawai Swasta 16%

Lainnya 5%

Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Asal Pengunjung(Total sampel : 100 orang)

Tebing Tinggi 56%

Medan 35%

T.Morawa 7%

(49)

Diagram 4.5. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi

Suku

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Diagram 4.6. menunjukkan bahwa masyarakat yang berkunjung ke Taman

Kota dari segi status pernikahan yang paling dominan adalah kategori yang belum

menikah dengan presentase 69%, karena dilihat dari segi usia pengunjung yang

paling dominan adalah remaja. Sedangkan kategori yang sudah menikah dengan

presentase hanya 31%.

Diagram 4.6. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi

Status Pernikahan

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Suku (Total sampel : 100 orang)

Jawa 46%

Batak 37%

Melayu 17%

Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Status Pernikahan (Total sampel : 100 orang)

Sudah Menikah 31%

(50)

4.3. Analisa Kenyaman dan Kesan Taman Kota Tebing Tinggi

Project for Public Space (2004), menjadikan kenyamanan dan kesan sebuah ruang sebagai kriteria yang penting bagi suatu ruang terbuka publik, ruang

yang nyaman dan memiliki kesan ditandai dengan ruang yang aman, bersih,

memiliki vegetasi yang sejuk, memiliki tempat duduk yang memadai, memiliki

penerangan, dan memiliki KM/WC dan Mushallah.

Diagram 4.7. Persepsi Masyarakat Terhadap Kenyamanan dan Kesan Taman Kota

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Diagram 4.7. menunjukkan bahwa dari 4 indikator kenyamanan dan kesan

Taman Kota, pengunjung memberikan persepsi puas untuk semua indikator .

Adapun skor tertinggi diberikan pengunjung terhadap indikator tempat duduk

yaitu sebesar 3.84. Skor terendah diberikan pengunjung terhadap indikator

keamanan dan vegetasi dengan skor 3.73. Dengan demikian, dapat disimpulkan

bahwa persepsi pengunjung terhadap kenyamanan dan kesan di Taman Kota

adalah puas / baik dengan total skor sebesar 3,76.

4.3.1. Keamanan

Keamanan Taman Kota ini dengan jam kerja yang dibagi menjadi 2 jam

kerja yaitu pada jam 06.00 - 18.00 dan 18.00 - 06.00, dengan petugas keamanan

yang sudah cukup memadai (Gambar 4.6.A) dan apabila dilihat dari hasil Persepsi Masyarakat Terhadap Kenyamanan dan Kesan Taman Kota

(51)

observasi saya dengan luasnya taman kota ini hanya memiliki satu pos kemananan

(Gambar 4.6.B) maka dari itu sangat kurangnya pos jaga karena perlunya pos

penjagaan kendaraan di setiap parkir mobil dan parkiran sepeda motor, agar

pengunjung yang membawa kendaraan merasa aman apabila meninggalkan

kendaraannya ditempatnya.

B. Pos Jaga Taman Kota A. Petugas Keamanan Taman Kota

Persepsi Masyarakat Terhadap Keamanan Taman Kota Tebing Tinggi (Total sampel : 100 orang)

0% 10% 20% 30% 40% 50%

0% 6% 35% 39% 20%

1 2 3 4 5

1: Sangat Tidak Puas 3: Puas 5: Sangat Puas 2: Tidak Puas 4: Cukup Puas

(52)

Diagram 4.8. Persepsi Masyarakat Terhadap Keamanan Taman Kota Tebing Tinggi

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Diagram 4.8. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat kota Tebing

Tinggi terhadap keamanan Taman Kota tergolong aman. Hal ini terlihat dari

tingkat kepuasan masyarakat yang menyatakan cukup puas (39%) terhadap

keamanan di Taman Kota ini dibandingkan dengan masyarakat yang tidak puas

(6%) terhadap keamanan Taman Kota. Hal ini terlihat dari adanya keberadaan pos

jaga yang buka 24 jam, namun setidaknya turut mengawasi kondisi keamanan di

Taman Kota dari pagi hari, siang hari maupun malam hari.

Hasil dari observasi di lapangan dan hasil persepsi masyarakat terhadap

keamanan Taman Kota ternyata sudah sesuai dengan tingkat keberhasilan suatu

ruang terbuka publik, karena menurut Project For Public Spaces (2004) harus adanya keberadaan pos penjagaan di suatu ruang terbuka publik yang mengawasi

keadaan yang terdapat didalamnya dan mempunyai jarak penglihatan yang jelas

terhadap kemungkinan terjadinya tindakan kriminal.

4.3.2. Kebersihan

Kebersihan taman adalah salah satu faktor yang menentukan kenyamanan

dan kesan sebuah taman. Upaya untuk menjaga kebersihan taman dapat dilakukan

dengan menyediakan tong sampah (Gambar 4.7.B & D) dan bak sampah pada

area parkir taman (Gambar 4.7.A & C). Taman Kota dari segi jumlah tong sampah

sudah memiliki banyak tong sampah dan kondisi tong sampah yang ada juga

terawat. Akan tetapi, kurangnya penyediaan tong sampah pada area pkl (Gambar

4.7.F) menyebabkan adanya sampah sisa kemasan yang berasal dari penjual

makanan dan pembeli, dibanding dengan area pejalan kaki di dalam area taman

(53)

Diagram 4.9. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap

kebersihan Taman Kota tergolong bersih. Hal ini dilihat dari tingkat kepuasan

masyarakat yang menyatakan cukup puas (33%) dibandingkan dengan masyarakat

yang menyatakan tidak puas (9%) bahwa Taman Kota bersih. Hal ini terlihat dari

sudah terdapat keberadaan beberapa petugas kebersihan yang menjaga kebersihan

di Taman Kota dan keberadaan tong sampah yang sudah cukup banyak dan

gampang untuk mencapainya. A. Bak Sampah Taman

Kota

B. Tong Sampah Taman

Kota

C. Bak Sampah Taman

Kota

F. Area PKL E. Area Pejalan Kaki bebas

dari sampah

Gambar 4.7.A-F. Kebersihan Taman Kota (Sumber: dokumen pribadi, 2014) D. Tong Sampah

(54)

Diagram 4.9. Persepsi Masyarakat Terhadap Kebersihan Taman Kota Tebing Tinggi

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Hasil dari observasi lapangan dan hasil persepsi masyarakat terhadap

kebersihan Taman Kota ini sudah sesuai dengan tingkat keberhasilan suatu ruang

terbuka publik, karena menurut Gearin dan Kahle (2006), suatu terbuka yang

bersih akan memberikan rasa nyaman bagi pengunjung untuk beraktivitas di ruang

terbuka publik, dimana para pengunjung umumnya menghindari kunjungan ke

ruang terbuka publik yang kotor. Apabila dilihat dari hasil observasi lapangan

terdapat area yang kotor seperti area pedagang kaki lima (PKL), hal ini

menyebabkan sedikit pengunjung yang berduduk atau berada di area ini dengan

waktu yang lama.

4.3.3. Vegetasi

Vegetasi di Taman Kota ini sudah tergolong sejuk dikarenakan banyaknya

pepohonan berupa jejeran pohon (Gambar 4.8.B&E) yang mengelilingi Taman

Kota ini dan juga adanya tanaman-tanaman seperti bunga (Gambar 4.8.D) dan

pohon-pohon kecil (Gambar 4.8.A&G) yang terletak didalam Taman Kota ini,

akan tetapi kurangnya pepohonan yang rindang diarea olahraga (Gambar

4.8.C&F) sehingga tidak ada pengunjung yang berolahraga pada siang hari diarea

ini.

Persepsi Masyarakat Terhadap Kebersihan Taman Kota Tebing Tinggi (Total sampel : 100 orang)

0%

(55)

Diagram 4.10. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap vegetasi

di Taman Kota tergolong memuaskan. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan

masyarakat yang menyatakan puas(38%) dan dibandingkan dengan masyarakat

yang menyatakan tidak puas(5%) terhadap vegetasi di Taman Kota. Hal ini

terlihat dari sudah tersedianya cukup banyak pepohonan dan jenis tanaman

-tanaman yang menjadikan Taman Kota sejuk dan memiliki penghijauan yang

indah. Diagram 4.10. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap vegetasi E. Pinggir Taman jl.

Diponogoro A. Area Pujasera

G. Area Taman F. Area Olahraga

B. Pinggir taman jl. D.I. Panjaitan

C. Area Olahraga D. Area Taman

(56)

di Taman Kota tergolong memuaskan. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan

masyarakat yang menyatakan puas(38%) dan dibandingkan dengan masyarakat

yang menyatakan tidak puas(5%) terhadap vegetasi di Taman Kota. Hal ini

terlihat dari sudah tersedianya cukup banyak pepohonan dan jenis tanaman

-tanaman yang menjadikan Taman Kota sejuk dan memiliki penghijauan yang

indah.

Diagram 4.10. Persepsi Masyarakat Terhadap Vegetasi Taman Kota Tebing Tinggi

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Hasil dari observasi lapangan dan hasil persepsi masyarakat terhadap

vegetasi yang ada di Taman Kota sesuai dengan tingkat keberhasilan menurut

Project for Public Space (2004), yang menyatakan vegetasi yang disediakan di suatu ruang terbuka publik berupa pepohonan dan tanaman untuk menciptakan

keindahan, sebagai peneduh, serta untuk menciptakan suasana rindang / sejuk

dalam beraktivitas.

4.3.4. Tempat Duduk

Fasilitas tempat duduk di Taman Kota ini sudah sangat memenuhi karena

banyaknya pilihan untuk pengunjung buat duduk yang mereka inginkan. Fasilitas

tempat duduk yang disedikan di Taman Kota ini merupakan jenis tempat duduk

yang tidak dapat dipindah-pindah. Permukaan tempat duduk di Taman Kota ini

terbuat dari material beton kemudian dilapis dengan keramik. Namun adanya

kekurangan desain tempat duduk di Taman Kota ini seperti tidak adanya peneduh, Persepsi Masyarakat Terhadap Vegetasi Taman Kota Tebing Tinggi (Total

sampel : 100 orang)

(57)

maka dari itu hanya beberapa pengunjung yang menggunakan tempat duduk di

siang hari dan pengunjung lebih memilih duduk di area teduh yang banyak

pepohonan.

Gambar 4.9.A-C. Tempat Duduk Taman Kota (Sumber: dokumen pribadi, 2014) C.TIPE III. bangku ini hanya ada 3

di Taman Kota ini. A. TIPE I. bangku yang terletak di

sepanjang garis biru.

(58)

Diagram 4.11. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap tempat

duduk di Taman Kota tergolong memuaskan. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan

masyarakat yang menyatakan cukup puas (38%) dibandingkan dengan yang

menyatakan tidak puas (6%). Hal ini terlihat dari kapasitas tempat duduk di

Taman Kota sudah memadai sehingga masyarakat yang mengunjungi Taman Kota

bebas untuk memilih duduk dimana yang diinginkan dan dapat duduk sambil

menikmati pemandangan dan suasana di area Taman Kota ini.

Diagram 4.11. Persepsi Masyarakat Terhadap Tempat Duduk Taman Kota Tebing Tinggi

(Sumber: dokumen pribadi, 2014)

Hasil dari observasi lapangan dan hasil persepsi masyarakat terhadap

tempat duduk di Taman Kota sudah sesuai dengan tingkat keberhasilan karena

menurut Project for Public Space (2004), suatu ruang terbuka publik pentingnya memberikan pengunjung pilihan untuk duduk dimana mereka inginkan.

Umumnya tempat duduk harus diletakkan pada tempat - tempat yang tepat berupa

dimana pengunjung untuk duduk sambil mengamati aktivitas pengunjung lain.

Dari segi posisi tempat duduk di Taman Kota memanjang yang melainkan duduk

bersampingan, maka dari itu sudah sesuai dengan PPS yang menyatakan tidak

boleh diletakkan berhadapan langsung kecuali untuk keperluan bermain, ini

menyebabkan orang akan merasa kurang nyaman untuk duduk dengan posisi

berhadapan dengan orang asing. Apabila dilihat dari segi material tempat duduk di

Taman Kota menggunakan material beton keramik dan sudah sesuai dengan yang

dinyatakan PPS yaitu, harus dibuat dari material yang awet dan tahan terhadap Persepsi Masyarakat Terhadap Tempat Duduk Taman Kota Tebing Tinggi

(Total sampel : 100 orang)

0%

Gambar

Gambar 2.1. Kunci utama ruang terbuka publik yang berhasil
Gambar 2.2. Foto kenyamanan
Gambar 2.3. Foto akses dan hubungan
Gambar 2.4. Foto aktivitas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi dan aktifitas ruang publik di Taman Ganesha Bandung dapat disimpulkan bahwa taman ini merupakan salah satu taman kota yang masih difungsikan sebagai ruang terbuka publik

Variabel dalam penelitian ini adalah fungsi taman kota sebagai ruang terbuka publik oleh masyarakat, yaitu fungsi sosial budaya,apabila dapat dimanfaatkan sebagai tempat

Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang terbuka publik taman Nostalgia masih belum maksimal sesuai konsep awal, dimana tujuan pemanfaatan taman pada

Manajemen ruang publik kota merupakan pengamatan tentang bagaimana orang menggunakan semua bentuk ruang publik seperti jalan, taman, plasa, dan fasilitas

STUDI PERSEPSI REMAJA TERHADAP FUNGSI DAN AKTIVITAS DI RUANG TERBUKA PUBLIK (STUDI KASUS : LAPANGAN MERDEKA,

Setelah dilakukan evaluasi kondisi eksisting dilakukan perencanaan ruang terbuka hijau publik di dataran tinggi wilayah Surabaya Selatan berdasarkan kecukupan ruang

RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI INFRASTRUKTUR HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK KOTA STUDI KASUS : ALUN-ALUN WONOSOBO Adinda Septi Hendriania aProgram Studi Arsitektur Universitas Sains

Dokumen ini membahas tentang studi tentang kualitas ruang terbuka hijau publik di Kecamatan Senapelan Kota