DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
PERSEPSI MASYARAKAT KOTA TERHADAP RUANG TERBUKA PUBLIK DI KOTA TEBING TINGGI
SKRIPSI
OLEH
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
PERSEPSI MASYARAKAT KOTA TERHADAP RUANG TERBUKA PUBLIK DI KOTA TEBING TINGGI
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Dalam Departemen Arsitektur
Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
Oleh
PERNYATAAN
PERSEPSI MASYARAKAT KOTA TERHADAP RUANG TERBUKA PUBLIK DI
KOTA TEBING TINGGI
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis
atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan
disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Januari 2015
Judul Skripsi : Persepsi Masyarakat Kota Terhadap Ruang Terbuka Publik di Kota Tebing Tinggi
Nama Mahasiswa : Yunanda Kesuma Putra Lubis
Nomor Pokok : 100406079
Departemen : Arsitektur
Menyetujui
Dosen Pembimbing
Wahyuni Zahrah, S.T, M.S.
Koordinator Skripsi,
Dr. Ir. Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc
Ketua Program Studi,
Ir. N. Vinky Rahman, MT
Telah diuji pada
Tanggal :
Panitia Penguji Skripsi
Ketua Komisi Penguji : Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc., Ph.D
Anggota Komisi Penguji : 1. Wahyuni Zahrah, S.T., M.S.,
2. Benny O.Y. Marpaung S.T., M.T., Ph.D.,
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan karunia-Nya
dimampukan untuk menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Teknik Arsitektur di Universitas Sumatera Utara (USU)
Medan. Shalawat beriring salam juga senantiasa penulis limpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, hingga kepada umatnya
hingga akhir zaman, amin.
Penulis juga ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada :
1. Bustaman Lubis (Ayah), Lely Hartani (Mama), Kak Uli, Bang Fadhlan, Bang
Adri, selaku keluarga yang tercinta, yang telah memberikan doa, semangat
dan dorongan untuk menyelesaikan studi dan skripsi saya di Universitas
Sumatera Utara (USU) Medan.
2. Ibu Wahyuni Zahrah, S.T., M.S., selaku pembimbing yang telah
membantu memberikan petunjuk dan pengarahan dengan sabar, tekun,
tulus, dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran memberikan
bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang sangat berharga dalam
penulisan skripsi ini.
3. Ibu Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc., Ph.D selaku Dosen Penguji I, Ibu Benny O.Y.
Marpaung S.T., M.T., Ph.D., selaku Dosen Penguji II dan Ibu Hilma
Tamiami Fachrudin, S.T., M.Sc., selaku Dosen Penguji III yang telah
memberikan kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini.
4. Bapak Ir. N. Vinky Rahman, M.T, selaku Ketua Departemen Arsitektur
dan Bapak Ir. Rudolf Sitorus, M.LA, selaku Sekretaris Departemen
Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen staff pengajar Departemen Arsitektur,
Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara atas semua kritik dan
sarannya selama masa perkuliahan.
6. Dinas Pertamanan Kota Tebing Tinggi, Dinas Tata Ruang dan Permukiman
warga atau pengunjung Taman Kota Tebing Tinggi yang telah meluangkan
waktunya kepada saya dalam melakukan penelitian dan memberikan data
yang diperlukan untuk menyelesaikan skripsi ini.
7. Untuk sahabat-sahabat angkatan 2010, Fanny Khairunnisa, Wahyu
Ardhinigntika, Herdian Rizki Hadi, Putri Amanda, Dara, Dwi, Aisyah, Putri
Dwi Astuti, Eki, Gema, Rudi, yang telah menemani saya survey ke
lapangan dan mendukung saya selama skripsi ini.
8. Untuk rekan seperjuangan kelompok kbk kota, Doni, Aldo, Fikar, Agung,
Arif dan rekan seperjuangan lainnya yang telah sama- sama berjuang untuk
menyelesaikan skripsi bersama-sama.
9. Untuk sahabat-sahabat Papiloma Smansa Medan, Tengku Sofi, Tommy
Syahdi, Samir Yasif, M. Akbar dan seluruh keluarga besar Papiloma
Smansa yang telah mendukung saya untuk menyelesaikan skripsi ini.
10. Teman-teman angkatan 2010 yang membuat suasana kelas selalu riang
sehingga saya mendapatkan penyegaran untuk melakukan aktivitas di
kampus.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi masih jauh dari
sempurna. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak sebagai bahan penyempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan
manfaat yang besar bagi semua pihak.
Medan, Januari 2015
Penulis,
ABSTRAK
Ruang terbuka publik merupakan satu ruang yang tidak terbangun di dalam kota yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas estetika, lingkungan dan juga kesejahteraan warga kota. Ruang terbuka publik termasuk elemen dalam perencanaan kota dan setiap masyarakat juga memiliki persepsi yang berbeda. Maka penting untuk mengetahui persepsi masyarakat. Di Kota Tebing Tinggi, dapat ditemukan keberadaan ruang terbuka publik yaitu Taman Kota Tebing Tinggi. Taman ini sering dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai kegiatan oleh masyarakat. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi bagaimana tingkat keberhasilan Taman Kota Tebing Tinggi dan persepsi masyarakat terhadap ruang terbuka publik dianggap penting untuk memperoleh informasi apakah ruang terbuka publik tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat atau tidak. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Setelah analisa data fisik lapangan dilakukan, kemudian hasil data persepsi masyarakat yang diperoleh melalui kuisioner dan selanjutnya dianalisis dengan analisis skala likert. Dari hasil analisis likert, peneliti mendeskripsikan persepsi masyarakat mengenai ruang terbuka publik yang dikaitkan dengan kondisi fisik di lapangan. Hasil analisa data fisik maupun data persepsi, Taman Kota Tebing Tinggi merupakan ruang terbuka publik yang tingkat keberhasilannya sudah memenuhi kriteria-kriteria kunci keberhasilan ruang terbuka publik. Persepsi masyarakat terhadap Taman Kota Tebing Tinggi juga puas / baik, seperti yang mencakup kualitas kenyamanan dan kesan, akses yang mudah, fungsi dan aktivitas yang aktif, serta kemampuan sosial untuk bekerja sama di taman tersebut. Oleh sebab itu, peneliti merekomendasikan adanya peningkatan kualitas dari segi kebijakan, manajemen dan sarana prasarana. Hal ini dapat berupa kebersihan taman yang harus senantiasa dijaga, perawatan rutin terhadap fasilitas-fasilitas yang telah tersedia.
Kata kunci: Ruang terbuka publik, Persepsi, Taman Kota Tebing Tinggi.
ABSTRACT
Public open space is a space that is not awakened in the city which has the function to improve the aesthetic quality, environmental and welfare of citizens. Public open space including elements in urban planning and each community also has a different questionnaire and then analyzed by analysis of Likert scale. From the analysis of Likert, researchers describe the perceptions of public open space which is associated with the physical conditions in the field. The results of the physical data analysis and perceptual data, Taman Kota Tebing Tinggi is a public open space that level of success already meets the key criteria for the success of public open space. Public perceptions of Taman Kota Tebing Tinggi also satisfied / good, as it includes comfort and image quality, easy access, functions and activities are active, as well as social skills to work together in the park. Therefore, the author recommend an increase in quality in terms of policy, management and infrastructure. This may be the cleanliness of the park must constantly be maintained, regular maintenance of the facilities was already available.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... vi
ABSTRAK... vii
DAFTAR ISI... ix
DAFTAR TABEL... xii
DAFTAR GAMBAR... xiii
DAFTAR DIAGRAM... xv
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 4
1.5 Kerangka Berpikir... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
2.1 Ruang Terbuka Publik... 6
2.1.1 Pengertian Ruang Terbuka Publik ... 6
2.1.2 Tujuan Ruang Tebuka Publik ... 7
2.1.3 Fungsi Ruang Terbuka Publik ... 8
2.1.4 Manfaat Ruang Terbuka Publik ... 9
2.1.5 Ruang Terbuka Publik yang Berhasil ... 10
2.1.6 Aktivitas Ruang Terbuka Publik... 15
2.2 Persepsi ... 16
2.2.1 Pengertian Persepsi ... 16
2.2.2 Proses Persepsi... 16
2.2.3 Proses Persepsi Manusia Terhadap Lingkungan... 17
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 18
3.2 Variabel Penelitian ... 18
3.3 Populasi/Sampel... 20
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 21
3.4.1 Data Primer ... 21
3.4.2 Data Sekunder ... 22
3.5 Kawasan Penelitian ... 23
3.5.1 Kriteria Kawasan Penelitian... 24
3.6 Metode Analisis Data ... 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26
4.1 Taman Kota Tebing Tinggi ... 26
4.2 Analisa Latar Belakang Pengunjung Taman Kota Tebing Tinggi ... 28
4.3 Analisa Kenyamanan dan Kesan Taman Kota Tebing Tinggi... 32
4.3.1 Keamanan ... 32
4.3.2 Kebersihan ... 34
4.3.3 Vegetasi... 36
4.3.4 Tempat Duduk ... 38
4.3.5 Lampu ... 41
4.3.6 KM / WC... 43
4.3.7 Mushallah... 43
4.4 Analisa Akses dan Hubungan Taman Kota Tebing Tinggi ... 44
4.4.1 Kemudahan Masuk ... 45
4.4.2 Parkir... 48
4.4.3 Jalur Pejalan Kaki ... 50
4.4.4 Papan Penanda (signage) ... 52
4.4.5 Jarak Tempuh... 54
4.5 Analisa Fungsi dan Aktivitas Taman Kota Tebing Tinggi ... 56
4.5.1 Kesenangan ... 63
4.5.2 Keaktifan ... 64
4.5.3 Kegunaan ... 67
4.6 Analisa Kemampuan Sosial Taman Kota Tebing Tinggi ... 69
4.6.1 Keramahan ... 70
4.6.2 Bersahabat... 71
4.6.3 Kepengurusan ... 72
4.6.4 Kebanggaan... 73
4.6.5 Kerja Sama... 74
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75
5.1 Kesimpulan ... 75
5.2 Saran... 76
5.2.1 Kebijakan ... 76
5.2.2 Manajemen... 76
5.2.3 Sarana dan Prasarana ... 76
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Kerangka Berfikir Penelitian ... 5
Gambar 2.1 Kunci Utama Ruang Terbuka Publik yang Berhasil ... 10
Gambar 2.2 Foto Kenyamanan... 11
Gambar 2.3 Foto Akses dan Hubungan... 13
Gambar 2.4 Foto Aktivitas ... 14
Gambar 2.5 Foto Interaksi Sosial ... 15
Gambar 2.6 Proses Persepsi Manusia Terhadap Lingkungan ... 17
Gambar 3.1 Peta Kota Medan dan Peta Kota Tebing Tinggi ... 23
Gambar 3.2 Peta Kota Tebing Tinggi ... 23
Gambar 3.3 SitePlan Taman Kota Tebing Tinggi ... 24
Gambar 4.1 Peta Kota Tebing Tinggi ... 26
Gambar 4.2 Lokasi Penelitian ... 27
Gambar 4.3 SitePlan Taman Kota Tebing Tinggi ... 27
Gambar 4.4 Area Rekreatif ... 28
Gambar 4.5 Mushallah dan KM / WC ... 28
Gambar 4.6 A - B Keamanan Taman Kota ... 33
Gambar 4.7 A - F Kebersihan Taman Kota... 35
Gambar 4.8 A - G Vegetasi Taman Kota ... 37
Gambar 4.9 A - C Tempat Duduk Taman Kota ... 39
Gambar 4.10 A - F Lampu Taman Kota ... 42
Gambar 4.11 KM / WC Taman Kota ... 43
Gambar 4.12 Mushallah Taman Kota ... 44
Gambar 4.13 A - B. Kemudahan Akses Masuk / Mencapai Taman Kota ... 46
Gambar 4.14 A - D Parkir Taman Kota ... 49
Gambar 4.15 Jalur Pejalan Kaki Taman Kota ... 51
Gambar 4.16 A - F Papan Penanda / Informasi (signage) Taman Kota... 53
Gambar 4.17 A - J Aktivitas pengunjung pada pagi hari (06.00 - 09.00) ... 57
Gambar 4.18 A - J Aktivitas pengunjung pada siang hari (11.00 - 14.00) ... 59
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 4.1 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi J. Kelamin . 29
Diagram 4.2 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Usia ... 29
Diagram 4.3 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Pekerjaan ... 30
Diagram 4.4 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Asal ... 30
Diagram 4.5 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Suku ... 31
Diagram 4.6 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung dari Segi Pernikahan. 31 Diagram 4.7 Persepsi Masyarakat Terhadap Kenyamanan dan Kesan Taman Kota ... 32
Diagram 4.8 Persepsi Masyarakat Terhadap Keamanan Taman Kota ... 33
Diagram 4.9 Persepsi Masyarakat Terhadap Kebersihan Taman Kota... 36
Diagram 4.10 Persepsi Masyarakat Terhadap Vegetasi Taman Kota ... 38
Diagram 4.11 Persepsi Masyarakat Terhadap Tempat Duduk Taman Kota ... 40
Diagram 4.12 Persepsi Masyarakat Terhadap Lampu Taman Kota... 41
Diagram 4.13 Persepsi Masyarakat Terhadap Akses dan Hubungan Taman Kota Tebing Tinggi ... 45
Diagram 4.14 Persepsi Masyarakat Terhadap Kemudahan Masuk Taman... 47
Diagram 4.15 Persepsi Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi Kendaraan Yang Digunakan ... 47
Diagram 4.16 Persepsi Masyarakat Terhadap Parkir Taman Kota ... 50
Diagram 4.17 Persepsi Masyarakat Terhadap Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian) Taman Kota ... 52
Diagram 4.18 Persepsi Masyarakat Terhadap Papan Penanda / Informasi (signage) Taman Kota Tebing Tinggi ... 54
Diagram 4.19 Persepsi Masyarakat Terhadap Jarak Tempuh Taman Kota Tebing Tinggi ... 55
Diagram 4.20 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi Jarak Tempuh ... 55
Diagram 4.22 Persepsi Masyarakat Terhadap Kesenangan Taman Kota
Tebing Tinggi ... 63
Diagram 4.23 Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota
Dilihat dari Segi Motivasi ... 64
Diagram 4.24 Persepsi Masyarakat Terhadap Keaktifan Tamn Kota
Tebing Tinggi ... 64
Diagram 4.25 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota
Dilihat dari Segi Keseringan Waktu Berkunjung ... 65
Diagram 4.26 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota
Dilihat Dari Segi Waktu Berkunjung ... 65
Diagram 4.27 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota
Dilihat dari Segi Lama Waktu Berkunjung ... 66
Diagram 4.28 Persepsi Masyarakat terhadap Kegunaan Taman Kota
Tebing Tinggi ... 67
Diagram 4.29 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota
Dilihat dari Segi Tujuan Berkunjung ... 68
Diagram 4.30 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota
Dilihat dari Segi Kenyaman Berkunjung ... 68
Diagram 4.31 Persepsi Masyarakat terhadap Kepentingan Taman Kota
Tebing Tinggi ... 69
Diagram 4.32 Persepsi Masyarakat terhadap Kemampuan Sosial
Taman Kota ... 70
Diagram 4.33 Persepsi Masyarakat terhadap Keramahan Taman Kota
Tebing Tinggi ... 70
Diagram 4.34 Persepsi Masyarakat terhadap Bersahabat Taman Kota
Tebing Tinggi ... 71
Diagram 4.35 Presentase Masyarakat yang berkunjung ke Taman Kota
Dilihat dari Segi Rekan Berkunjung... 72
Diagram 4.36 Persepsi Masyarakat terhadap Kepengurusan Taman Kota
Diagram 4.37 Persepsi Masyarakat terhadap Kebanggaan Taman Kota
Tebing Tinggi ... 73
Diagram 4.38 Presentase Masyarakat yang Berkunjung ke Taman Kota
Dilihat dari Segi Kebanggaan... 73
Diagram 4.39 Persepsi Masyarakat terhadap Kerja Sama Taman Kota
ABSTRAK
Ruang terbuka publik merupakan satu ruang yang tidak terbangun di dalam kota yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas estetika, lingkungan dan juga kesejahteraan warga kota. Ruang terbuka publik termasuk elemen dalam perencanaan kota dan setiap masyarakat juga memiliki persepsi yang berbeda. Maka penting untuk mengetahui persepsi masyarakat. Di Kota Tebing Tinggi, dapat ditemukan keberadaan ruang terbuka publik yaitu Taman Kota Tebing Tinggi. Taman ini sering dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai kegiatan oleh masyarakat. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi bagaimana tingkat keberhasilan Taman Kota Tebing Tinggi dan persepsi masyarakat terhadap ruang terbuka publik dianggap penting untuk memperoleh informasi apakah ruang terbuka publik tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat atau tidak. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Setelah analisa data fisik lapangan dilakukan, kemudian hasil data persepsi masyarakat yang diperoleh melalui kuisioner dan selanjutnya dianalisis dengan analisis skala likert. Dari hasil analisis likert, peneliti mendeskripsikan persepsi masyarakat mengenai ruang terbuka publik yang dikaitkan dengan kondisi fisik di lapangan. Hasil analisa data fisik maupun data persepsi, Taman Kota Tebing Tinggi merupakan ruang terbuka publik yang tingkat keberhasilannya sudah memenuhi kriteria-kriteria kunci keberhasilan ruang terbuka publik. Persepsi masyarakat terhadap Taman Kota Tebing Tinggi juga puas / baik, seperti yang mencakup kualitas kenyamanan dan kesan, akses yang mudah, fungsi dan aktivitas yang aktif, serta kemampuan sosial untuk bekerja sama di taman tersebut. Oleh sebab itu, peneliti merekomendasikan adanya peningkatan kualitas dari segi kebijakan, manajemen dan sarana prasarana. Hal ini dapat berupa kebersihan taman yang harus senantiasa dijaga, perawatan rutin terhadap fasilitas-fasilitas yang telah tersedia.
Kata kunci: Ruang terbuka publik, Persepsi, Taman Kota Tebing Tinggi.
ABSTRACT
Public open space is a space that is not awakened in the city which has the function to improve the aesthetic quality, environmental and welfare of citizens. Public open space including elements in urban planning and each community also has a different questionnaire and then analyzed by analysis of Likert scale. From the analysis of Likert, researchers describe the perceptions of public open space which is associated with the physical conditions in the field. The results of the physical data analysis and perceptual data, Taman Kota Tebing Tinggi is a public open space that level of success already meets the key criteria for the success of public open space. Public perceptions of Taman Kota Tebing Tinggi also satisfied / good, as it includes comfort and image quality, easy access, functions and activities are active, as well as social skills to work together in the park. Therefore, the author recommend an increase in quality in terms of policy, management and infrastructure. This may be the cleanliness of the park must constantly be maintained, regular maintenance of the facilities was already available.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ruang terbuka publik adalah satu ruang yang tidak terbangun dalam kota
yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas estetika, lingkungan, dan
juga kesejahteraan warga dari kota tersebut. Carr, (1992) menyatakan bahwa
ruang terbuka pubik tersebut harus responsif, demokratis dan juga bermakna.
Responsif berarti ruang terbuka publik yang harus dapat dipergunakan untuk
berbagai macam kegiatan dan kepentingan yang luas. Demokratis berarti ruang
terbuka publik dapat dipergunakan oleh masyarakat umum dari berbagai macam
latar belakang sosial, ekonomi dan budaya. Sedangkan bermakna juga berarti
ruang terbuka publik yang harus memiliki tautan dengan manusia, dunia luas, dan
konteks sosial.
Aktivitas yang ada pada ruang terbuka publik ini bisa digunakan untuk
rekreasi dan mencari hiburan. Akan tetapi, pada prinsipnya ruang terbuka publik
merupakan tempat di mana masyarakat dapat melakukan aktivitas yang mengarah
ke jenis kegiataan hubungan sosial lainnya contohnya untuk berjalan-jalan atau
juga untuk melepas lelah. Selain itu, juga bisa untuk pertemuan akbar pada
waktu-waktu tertentu, dan untuk upacara-upacara resmi. Fungsi atau keegiatan lainnya
adalah perdagangan. Dari bahasan yang di atas jelas bahwa ruang terbuka publik
berhubungan dengan masyarakat/ pengunjung sebagai pemakai fasilitas itu
tersebut.
Ruang terbuka publik yang baik adalah yang dapat mengakomodasi
kebutuhan dari penggunanya. Suatu ruang terbuka publik dapat dikategorikan
sukses apabaila memenuhi kriteria-kriterianya. Project for Public Space (2004) mengidentifikasi adanya 4 atribut utama mengenai keberhasilan ruang terbuka
publik yaitu kenyamanan dan kesan, akses dan hubungan, fungsi dan aktivitas,
dan yang terakhir kemampuan sosial. Upaya untuk menetapkan kesuksesan
sebuah ruang terbuka publik bergantung terhadap berbagai kondisi, seperti
nilai-nilai yang dianut oleh seseorang yang mendefinisikannya dan norma-norma yang
dan fungsi secara praktis seperti untuk olahraga, bermain, berjualan, beristirahat,
makan dan lainnya. Namun ada dimensi tambahan untuk ruang terbuka publik
yaitu dapat memenuhi kebutuhan psikologis tertentu sebaik pemenuhan secara
fisik. Dengan “psikologi” dalam konteks ini, yang berarti segala hal yang
mempengaruhi perilaku atau perasaan pengguna (Shaftoe, 2008). Pernyataan
tersebut menyatakan bahwa faktor psikologis sangat mempengaruhi persepsi
pengguna terhadap sebuah ruang terbuka publik. Persepsi adalah proses dimana
sebagaimana manusia yang menyeleksi dan mengatur masukan-masukan
informasi agar menciptakannya gambaran secara menyeluruh yang berarti (Kotler,
2000).
Ruang terbuka publik termasuk elemen dalam perencanaan kota dan setiap
warga kota memiliki persepsi-persepsi masyarakat yang berbeda-beda. Maka
penting untuk mengetahui persepsi masyarakat. Tujuannya untuk memperoleh
informasi apakah ruang terbuka publik memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kota Tebing Tinggi salah satu kota yang berada di Sumatera Utara. Kota
Tebing Tinggi merupakan kota yang sangat berperan penting dalam
menghubungkan kota-kota di Sumatera Utara, dikarenakan merupakan kota
persimpangan. Kota ini menjadi jalur segitiga yang menuju kota Medan, menuju
kota Siantar, dan menuju kota Kisaran. Adapun visi pembangunan kota Tebing
Tinggi tahun 2011-2016 adalah “mewujudkan masyarakat kota Tebing Tinggi
yang beriman, bertaqwa, maju, sejahtera, mandiri, dan berkeadilan dalam
kebhinekaan” (www.tebingtinggikota.go.id). Salah satunya dengan perencanaan tata ruang. Ditengah perkembangan kawasan bisnis perdagangan di Tebing
Tinggi, maka penelitian ini bermaksud mengidentifikasi bagaimana ruang terbuka
publik digunakan oleh masyarakat, sebagai salah satu sarana kota untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat.
Isu ruang terbuka publik di Tebing Tinggi adalah terletak di kota kecil
yang mensejahterakan masyarakatnya. Salah satu media untuk mensejahterakan
masyarakat adalah ruang terbuka publik. Eksistensi keberadaan ruang terbuka
publik yang semakin berkurang secara signifikan, dikarenakan meningkatnya
pembangunan bangunan - bangunan seperti ruko atau bangunan komersil. Di
membentuk kota yang ramah lingkungan, nyaman dan sehat. Menurunnya
kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik yang ada diperkotaan, baik berupa
ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau telah mengakibatkan
menurunnya kualitas lingkungan perkotaan seperti terjadi banjir diperkotaan,
tingginya polusi udara, dan meningkatnya kerawanan sosial seperti kriminalitas
dan krisis sosial. Menurunnya produktivitas masyarakat diakibatkan karena
munculnya persaingan ruang terbuka publik dengan ruang terbuka publik privat
seperti mall, theme park dan lainnya, maka dari itu terbatasnya ruang untuk
masyarakat berinteraksi sosial diruang terbuka.
1.2. Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang akan teliti dan dijawab dalam penelitian ini
adalah:
• Bagaimana tingkat keberhasilan ruang terbuka publik di kota Tebing Tinggi.
• Bagaimana persepsi masyarakat terhadap peran ruang terbuka publik (Taman Kota Tebing Tinggi) bagi pemenuhan kebutuhan
mereka.
1.3. Tujuan Penelitian
Penilitian ini mengambil sampel ruang terbuka publik yang berada di
Tebing Tinggi yaitu Taman Kota. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu;
• Mengidentifikasi bagaimana tingkat keberhasilan ruang terbuka publik di kota Tebing Tinggi.
• Mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap peran ruang terbuka publik (Taman Kota Tebing Tinggi) bagi pemenuhan
1.4. Manfaat Penelitian
Ada pun manfat dari penilitian ini, antara lain:
1. Manfaat Akademis
Bagi peneliti dan mahasiswa dapat dijadikan sebagai refrensi
tambahan dalam konteks peran ruang terbuka publik bagi masyarakat.
2. Manfaat Praktis
• Bagi pemerintah dapat dijadikan sebagai kebijakan perencanaan kota.
1.5. Kerangka Berpikir
LATAR BELAKANG
Ruang terbuka publik adalah satu ruang yang tidak terbangun dalam kota yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas estetika, lingkungan, dan juga kesejahteraan warga kota tersebut (Carr, 1992). Ruang terbuka publik termasuk elemen dalam perencanaan kota dan setiap warga kota memiliki persepsi masyarakat yang berbeda. Isu ruang terbuka publik di Tebing Tinggi adalah terletak di kota kecil yang mensejahterahkan masyarakatnya. salah satu media untuk itu adalah ruang terbuka publik.
JUDUL PENELITIAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ruang Terbuka Publik
2.1.1. Pengertian Ruang Terbuka Publik
Ruang terbuka publik menurut Stephen Carr, dkk (1992) sebagai ruang
milik bersama, juga sebagai tempat masyarakat melakukan aktivitas yang
fungsional dan juga ritual dalam suatu komunitas, baik juga kehidupan sehari-hari
maupun dalam perayaan. Dan juga tempat masyarakat melakukan aktivitas pribadi
maupun kelompok. Adapun pengertian-pengertian yang dikemukakan para ahli
perencanaan kota mengenai ruang terbuka publik yang sangat beragam, berikut
beberapa pengertian ruang terbuka publik tersebut, yaitu:
a. Ruang terbuka publik merupakan elemen vital dalam sebuah ruang kota
dikarenakan keberadaan yang teletak dikawasan yang berintensitas
kegiatan yang tinggi, sebagai lahan yang tidak terbangun dan ruang
terbuka biasanya terletak tepat dilokasi yang strategis dan banyak dilalui
masyarakat (Nazarudin, 1994).
b. Ruang terbuka publik yang merupakan wadah ruang aktivitas sosial yang
melayani dan juga mempengaruhi kehidupan masyarakat kota. Selain
wadah aktivitas sosial ruang terbuka juga menjadi wadah dari kegiatan
fungsional maupun aktivitas ritual yang mempertemukan suatu kelompok
masyarakat dalam rutinitas normal dalam kehidupan sehari-hari maupun
dalam kegiatan periodik (Carr, 1992).
c. Ruang terbuka publik sebagai civic centre yaitu suatu ruang luar yang
terjadi dengan membatasi alam dan komponen-komponen (bangunan)
menggunakan elemen keras dan elemen lunak (Sugi, 2013).
d. Ruang terbuka publik adalah lahan tidak terbangun didalam kota dengan
penggunaan tertantu. Pertama, ruang terbuka kota didefinikan sebagai
bagian dari lahan kota yang tidak ditempati oleh bangunan dan hanya
dapat dirasakan keberadaannya jika sebagian atau seluruh lahannya
dengan penggunaan spesifik yang fungsi atau kualitas terlihat dari
komposisinya (Rapuano dalam Asmullany, 2014).
e. Ruang terbuka publik adalah bagian dari ruang yang memiliki definisi
sebagai wadah yang menampung aktivitas manusia dalam suatu
lingkungan yang tidak mempunyai penutup dalam bentuk fisik
(Budihardjo, 1998).
Jadi dari penjelasan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa ruang terbuka publik adalah ruang di bagian luar bangunan yang
dimanfaatkan sebagai wadah untuk melakukan berbagai aktivitas.
2.1.2. Tujuan Ruang Terbuka Publik
Ruang terbuka publik merupakan suatu wadah umum yang menampung
aktivitas manusia dalam suatu lingkungan terbuka atau tidak memiliki penutup
yang memiliki tujuan, menurut Carr (1992) secara umum tujuan ruang terbuka
publik dibagi menjadi 5 tujuan, yaitu:
a. Kesejahteraan Masyarakat
Kesejahteraan masyarakat menjadikan motivasi dasar dalam bentuk
penciptaan dan pengembangan ruang terbuka publik yang menyediakan jalur
untuk pergerakan, pusat komunikasi, dan tempat untuk merasa santai dan bebas.
b. Peningkatan Visual
Keberadaan ruang terbuka publik disuatu kota akan meningkatkannya
kualitas visual kota menjadi lebih manusiawi, harmonis, dan indah.
c. Peningkatan Lingkungan
Penghijauan pada suatu ruang terbuka publik sebagai sebuah nilai estetika
juga paru-paru kota yang memberikan udara-udara segar di tengah-tengah polusi.
d. Pengembangan Ekonomi
Pengembangan ekonomi menjadi tujuan umum dalam penciptaan dan
pengembangan ruang terbuka publik.
e. Peningkatan Kesan
Merupakan tujuan yang tidak tertulis secara jelas dalam kerangka
2.1.3. Fungsi Ruang Terbuka Publik
Keberadaan ruang terbuka publik pada suatu kawasan di pusat kota sangat
penting artinya karena dapat meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan baik dari
segi lingkungan, masyarakat maupun kota melalui fungsi pemanfaatan ruang
didalamnya.
Ruang terbuka publik adalah ruang tidak terbangun dalam kota yang memiliki
berbagai macam fungsi bila dipandang dari beberapa aspek (Amelia, 2012), yaitu:
a. Aspek Sosial
Ruang terbuka publik berfungsi sebagai sarana interaksi sosial masyarakat
dengan lingkungan sosial sekitarnya dan sebagai tempat masyarakat untuk
menampung wadah aktivitas dalam bersosialisasi satu sama lain baik sama
kerabat bahkan orang yang tidak dikenal.
b. Aspek Ekonomi
Ruang terbuka publik dapat berfungsi sebagai lahan berjualan bagi
pedagang-pedagang dikarenakan ramainya aktivitas yang ada di ruang terbuka
publik yang mampu menampung aktivitas aktivitas dagang yang banyak
disekitarnya.
c. Aspek Budaya
Ruang terbuka publik yang dapat menampung acara-acara yang
menonjolkan kebudayaan.
d. Aspek Politik
Ruang terbuka publik sebagai tempat pagelaran acara-acara Negara serta
menyampaikan aspirasi masyarakat seperti pemilu dan demonstrasi.
e. Aspek Ekologis
Ruang terbuka publik yang berfungsi sebagai sarana untuk menciptakan
kebersihan, kesehatan, keserasian, maupun keindahan lingkungan. Selain itu
berfungsi juga tempat untuk mendapatkan udara segar dan menyerap air hujan.
f. Aspek Arsitektural
Ruang terbuka publik berfungsi sebagai sarana penghubung satu tempat
dengan tempat yang lainnya dan berfungsi sebagai pembatas diantara massa
Banyak fungsi-fungsi lain dari ruang terbuka publik bila dikaji menurut
pandangan orang-orang. Dalam buku Public Space, Stephen Carr (1992) menyatakan bahwa ruang terbuka publik harus responsif, demokratis, dan
bermakna.
a. Responsif artinya ruang terbuka publik harus dapat digunakan untuk
berbagai kegiatan dan kepentingan luas.
b. Demokratis berarti ruang terbuka publik yang harus dapat digunakan oleh
masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan
budaya serta aksesibel yang bagi penyandang cacat tubuh, lanjut usia, dan
berbagai macam kondisi fisik manusia.
c. Bermakna berarti ruang terbuka publik yang harus memiliki tautan dengan
manusia, dunia luas, dan konteks sosial.
Apabila ditinjau dari salah satu elemen perancangan kota, ruang terbuka
publik mempunyai fungsi-fungsi:
a. Melayani kebutuhan sosial masyarakat kota dan memberikan pengetahuan
ke pengunjungnya (Nazarudin, 1994).
b. Merupakan simpul dan sarana komunikasi pengikat sosial untuk
menciptakan interaksi antarkelompok masyarakat (Carr, 1992).
2.1.4. Manfaat Ruang Terbuka Publik
Menurut penelitian Amelia, dkk (2012) yang menyatakan manfaat ruang
terbuka publik bagi masyarakat seperti oase pada gurun yang berarti tempat
berteduh di perkotaan yang sangat padat. Memberikan suatu kelegaan dari jadwal
yang padat dan bisa juga meredakan tingkatstressseseorang. Suatu ruang terbuka publik bermanfaat juga bagi kesehataan karena membuat masyarakat/pengunjung
memiliki wadah dalam berolahraga yang lebih menarik. Dilihat dari aspek
ekonomi pun juga mempunyai manfaat bagi kehidupan perekonomian penduduk
sekitar lokasi ruang terbuka publik dimana mereka bisa memanfaatkan lahan
ruang terbuka publik sebagai suatu kesempatan untuk bekerja. Apabila dilihat dari
menjadi lebih indah estetikanya apalagi suatu ruang terbuka publik didesain
secara indah dan fungsional.
2.1.5. Ruang Terbuka Publik yang Berhasil
Project for Public Space, (2004) menyatakan 4 kunci utama mengenai keberhasilan ruang terbuka publik, yaitu:
a. Kenyamanan dan kesan (comfort and image)
Ruang terbuka publik yang nyaman dan menampilkan dirinya dengan
baik, memiliki kesan yang baik untuk menjadi kunci keberhasilannya.
Kenyamanan mencakup persepsi tentang keselematan, kebersihan, dan
juga ketersediaan tempat duduk. Pentingnya memberikan orang piihan
untuk duduk di mana mereka inginkan umumnya diremehkan. Perempuan
khususnya hakim yang baik pada kenyamanan dan kesan, karena mereka Gambar 2.1. Kunci utama ruang terbuka publik yang berhasil
cenderung lebih diskriminatif tentang ruang terbuka publik yang mereka
gunakan.
• Keamanan.
Keamanan di ruang terbuka publik akan tercapai dengan adanya
ketersediaan fasilitas penjagaan seperti pos jaga yang mampu
mengawasi yang terjadi di suatu ruang terbuka publik dengan jarak
penglihatan yang jelas. Ruang terbuka publik yang memiliki fasilitas
- fasilitas yang rusak akan menurunkan rasa aman di ruang terbuka
publik tersebut.
• Kebersihan.
Ruang terbuka publik yang bersih akan memberikan rasa nyaman
bagi remaja untuk beraktivitas di ruang terbuka publik, dimana para
remaja umumnya menghindari kunjungan ke ruang terbuka
publik yang kotor (Gearin dan Kahle, 2006). • Vegetasi
Vegetasi yang disediakan berupa pepohonan dan tanaman untuk
menciptakan keindahan, sebagai peneduh, serta untuk mengurangi
polusi. Suasana rindang / sejuk dalam beraktivitas dapat diciptakan
dengan menyediakan fasilitas vegetasi berupa pepohonan dan
tanaman hijau.
• Tempat duduk.
Umumnya tempat duduk harus diletakkan pada tempat - tempat
yang tepat berupa tempat dimana orang - orang senang untuk Gambar 2.2. Foto kenyamanan
duduk sambil mengamati aktivitas orang lain. Selain itu, tempat
duduk tidak boleh diletakkan di tempat - tempat yang minim
aktivitas. Berikut ini merupakan beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam meletakkan posisi tempat duduk di ruang
terbuka publik, yaitu :
a. Tempat duduk diletakkan dekat dengan tempat sampah.
b. Tempat duduk tidak boleh diletakkan berhadapan secara
langsung kecuali untuk keperluan bermain. Hal ini
dikarenakan orang akan merasa kurang nyaman untuk duduk
berhadapan dengan orang asing.
c. Tempat duduk harus dibuat dari material yang awet dan tahan
terhadap segala kondisi cuaca, bahaya karat dsb. Adapun
jenis material yang dapat dipakai sebagai material untuk
permukaan tempat duduk berupa material beton, kayu, besi,
baja dan fiberglass. Namun, material yang paling baik untuk
digunakan sebagai material tempat duduk adalah materila kayu
dikarenakan lebih awet dan tidak mudah mengkonduksi panas
dan dingin sehingga lebih nyaman untuk digunakan.
• Lampu.
Lampu penerangan ditempatkan secara merata di ruang terbuka
publik. Area - area tertentu yang agak terutup dan rawan akan
tindakan kriminal, harus memiliki penerangan yang memadai
terutama pada saat malam hari.
b. Akses dan hubungan (access and linkage)
Menilai aksesibilitas tempat dari hubungannya dengan lingkungannya,
baik visual dan fisik. Sebuah ruang terbuka publik yang berhasil adalah
mudah untuk mendapatkan dan melewati itu baik dari kejauhan maupun
• Kemudahan Akses Masuk / Mencapai
Pencapaian ke ruang terbuka publik tersebut juga harus dapat
dilakukan dengan beragam moda transportasi mulai dari berjalan
kaki, kenderaan umum hingga kenderaan pribadi. Selain itu,
ruang terbuka publik ini tidak boleh terhalang dan harus mudah
terlihat dari area - area di sekitarnya.
• Jalur pejalan kaki
Penempatan pepohonan dan tanaman di sepanjang jalur pejalan kaki
dapat memberikan rasa sejuk, perlindungan dan menciptakan
kualitas visual yang membuat para pejalan kaki merasa nyaman
untuk berjalan kaki. Jalur pejalan kaki sebaiknya dibuat dari
materila yang kasar dan tidak licin berupa beton, bata, atau batu.
• Papan Penanda / Informasi (signage).
Tanda penunjuk diletakkan berada di tempat terbuka, tidak
terhalang oleh pepohonan, mudah dilihat, tidak merusak arsitektur
bangunan disekitarnya dan memberikan informasi jelas mengenai
lokasi - lokasi serta berfungsi sebagai penunjuk arah.
c. Fungsi dan aktivitas (uses and activity)
Aktivitas adalah blok bangunan dasar dari suatu tempat. Memiliki sesuatu
untuk dilakukan dan memberikan kesan untuk pengguna agar ada alasan
untuk datang ke suatu tempat dan kembali. Prinsip yang penting diingat
dalam mengevaluasi fungsi dan aktivitas di ruang terbuka publik salah Gambar 2.3. Foto akses dan hubungan
satunya adalah semakin banyak kegiatan yang terjadi maka memiliki
kesan yang baik dan adanya keseimbangan yang baik laki-laik dan
perempuan.
• Keaktifan
a. Waktu berkunjung.
Apabila dilihat dari segi waktu berkunjung, ruang terbuka
publik yang selama waktu operasionalnya selalu dikunjungi
oleh orang - orang untuk melakukan aktivitas tertentu
dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan fungsi
dan aktivitas di ruang terbuka publik tersebut.
b. Lama berkunjung.
Semakin lama seseorang berkunjung ke suatu ruang terbuka
publik, maka menunjukkan bahwa seseorang tersebut
semakin merasa nyaman untuk beraktivitas di ruang terbuka
publik tersebut.
• Kegunaan
Apabila dilihat dari segi jenis - jenis aktivitas, keberagaman jenis
aktivitas yang berlangsung di suatu ruang terbuka publik dan
besarnya peluang orang - orang untuk turut terlibat di dalam
aktvitas tersebut dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan
fungsi dan aktivitas di ruang terbuka publik tersebut. Gambar 2.4. Foto aktivitas
d. Kemampuan sosial (sociability)
Ini adalah kunci yang sulit untuk ruang terbuka publik mencapainya, akan
tetapi setelah mencapainya dan menjadi fitur yang jelas di mana pengguna
bertemu dan saling berinteraksi baik yang sudah dikenal maupun dengan
orang asing.
2.1.6. Aktivitas Ruang Terbuka Publik
Aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan pada ruang terbuka publik
berdasarkan fungsi yang dapat dilihat dari beberapa aspek (Amelia, 2012), yaitu:
a. Aspek sosial yang menampung aktivitas dalam bersosialisasi antar
pengunjung.
b. Aspek ekonomi menimbulkan aktivitas jual beli seperti adanya pedagang
kaki lima.
c. Aspek politik menimbulkan aktivitas masyarakat yang menyampaikan
aspirasinya seperti kampanye, demonstrasi, dan pemilu.
Sedangkan menurut Jahn Gehl dan Lars Gemzoe dalam bukunya Public Space–Public Life(1996) kegiataan terbagi atas 2 bagian:
a. Kegiatan yang berskala kecil
Contohnya seperti kegiataan musisi jalanan (pengamen) dan berbagai
macam komunitas yang membagikan informasi-informasi.
b. Kegiatan yang berskala besar
Aktivitas yang terencanakan seperti festival musik maupun festival tari
kebudayaan. Yang menggunakan ruang terbuka publik sebagai panggungnya. Gambar 2.5. Foto interaksi sosial
2.2. Persepsi
2.2.1. Pengertian Persepsi
Persepsi menurut Kurniawan dkk, 2004 dapat diartikan sebagai proses
yang memiliki oleh seseorang yang menilai dan menginterpretasikan obyek,
peristiwa maupun hubungan-hubungan yang diperoleh yang hasil akhirnya
menyimpulkan tentang adanya informasi dan menafsirkan pesan secara
keseluruhan. Adapun pengertian-pengertian persepsi menurut beberapa ahli: • Proses dimana seseorang bagaimana menyeleksi atau mengatur
masukan-masukan informasi agar menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti
(Kotler, 2000).
• Persepsi merupakan pandangan seseorang dan penangkapan seseorang tentang sesuatu yang terpengaruhi oleh informasi yang diterima terhadap
informasi yang ada (Murphy, 1985).
• Persepsi bisa disebut suatu proses tentang petunjuk-petunjuk (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk
menghasilkan gambaran seseorang agar terstruktur dan bermakna pada
situasi tertentu (Ruch, 1967).
Dari penjelasan beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
persepsi merupakan suatu proses dimana seseorang meninterpretasikan
kesan-kesan sensorinya dalam usaha yang memberikan suatu makna tertentu didalam
lingkungannya.
2.2.2. Proses Persepsi
Proses persepsi yang telah dikemukan beberapa ahli yang dicantumkan
dalam jurnal ilmiah Kurniawan, dkk (2004), yaitu:
1. Tahap penerimaan stimulus, proses ini mencakup adanya pengenalan dan
pengumpulan informasi tentang stimulus yang tersedia, baik stimulus fisik
maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia.
2. Tahap pengelolahan, terdapat stimulus sosial melalui proses seleksi serta
3. Tahap perubahan stimulus yang dicerna individu dalam menanggapi
lingkungan melalui suatu proses kognisi yang dipengaruhi adanya
pengalaman, cakrawala, serta adanya pengetahuan individu.
Stimulus yang diterima seseorang akan diorganisasikan, diinterpretasikan,
sehingga seseorang menyadari tentang apa yang diinderanya dan menjadi lebih
berarti. Dengan persepsi, seseorang menyadari keadaan lingkungan sekitarnya dan
apa yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Walaupun stimulusnya sama
tetapi pengalamannya tidak sama, kemampuan berpikirnya tidak sama, kerangka
acuannya tidak sama. Dengan demikian kemungkinan hasil persepsi setiap
individu akan berbeda. Keadaan tersebut memberikan gambaran bahwa persepsi
lebih bersifat individual.
2.2.3. Proses Persepsi Manusia Terhadap Lingkungan
Menurut Bell, dkk. (1978), komunikasi antara suatu objek dan manusia
akan menimbulkan persepsi manusia terhadap objek tersebut. Jika
hasil komunikasi antara manusia dengan objek tersebut masih berada
dalam batas wajar, maka manusia akan berada dalam keadaan stabil. Namun,
bila hasil komunikasi antara manusia dengan objek tersebut berada di luar
batas kewajaran, maka manusia akan mengalami depresi dan harus berusaha
untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Bila manusia tidak berhasil
beradaptasi terhadap lingkungannya, maka manusia akan mengalami depresi
berkelanjutan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan metode penelitian dibedakan menjadi 5 jenis (Sinulingga,
2011), yaitu penelitian historis, penelitian deskriptif, penelitian eksperimen,
penelitian tindakan, dangrounded research.
Dari penjelasan jenis-jenis penelitian di atas, penelitian ini menggunakan
penelitian deskriptif, yaitu mendeskripsikan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.
Dengan melakukan penelitian ini akan mendapatkan tingkat keberhasilan suatu
ruang terbuka publik yaitu Taman Kota Tebing Tinggi yang berdasarkan teori
yang relevan dan berdasarkan persepsi masyarakat.
Penelitian ini mengunakan metodologi kualitatif, yaitu menghasilkan data
deskriptif dari perilaku pengguna / pengunjung di ruang terbuka publik. Data-data
yang diperlukan dengan membagikan kuisioner kepada pengguna / pengunjung
ruang terbuka publik, serta melakukan observasi awal untuk melihat
kecenderungan puncak - puncak aktivitas di lokasi penelitian.
Persepsi masyarakat kota terhadap ruang terbuka publik ini merupakan
penelitian deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengumpulkan, menganalisa serta
menyimpulkan data dan informasi yang ada dan diperlukan yang terkait dengan
persepsi masyarakat kota terhadap ruang terbuka publik di taman kota. Dalam
mengumpulkan data menggunakan metode kualitatif dengan cara menyebar
kuisioner dan mengobeservasi mengenai tingkat keberhasilan ruang terbuka
publik.
3.2. Variabel Penelitian
Variabel-variabel penelitian yang akan dibutuhkan sebagai kepentingan
analisis nantinya, antara lain sebagai berikut:
1. Kenyamanan dan Kesan (comfort and image)
Ruang terbuka publik yang nyaman dan memiliki pemandangan yang
keberhasilan. Beberapa indikator kenyamanan dan pemandangan untuk
2. Akses dan Hubungan (access and linkage)
Ruang terbuka publik yang berhasil adalah mudah untuk mendapatkan dan
melewati itu baik dari dekat maupun dari kejauhan. Indikator akses dan
hubungan, yaitu:
• Kemudahan Masuk / Mencapai • Parkir
• Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian) • Papan Penanda / informasi (signage) • Jarak Tempuh
3. Fungsi dan Aktivitas (uses and activity)
Ruang terbuka publik yang berhasil memiliki fungsi dan aktivitas untuk
menciptakan ruang terbuka publik tersebut agar lebih hidup. Indikator
fungsi dan aktivitas, yaitu: • Kesenangan • Keaktifan
• Kegunaan
• Kepentingan
Fungsi dan aktivitas ruang terbuka publik akan digambarkan dalam
penataan perilaku yang menunjukkan titik-titik aktivitas yang dilakukan
pada durasi tertentu, yaitu:
a. Durasi I : 06.00–09.00 WIB
b. Durasi II : 11.00–14.00 WIB
4. Kemampuan Sosial (sociability)
Kemampuan sosial meliputi berbagai macam interaksi sosial yang
dilakukan bagi seluruh pengguna ruang taman maupun penduduk sekitar
taman kota Tebing Tinggi. Indikator kemampuan sosial, yaitu:
• Keramahan
• Bersahabat • Kepengurusan • Kebanggaan • Kerja sama
5. Latar Belakang pengguna ruang
Latar Belakang menjelaskan kondisi sosial budaya pengunjung yang
memberikan pendapatnya tentang subjek penelitian. Untuk mendapatkan
data yang lebih detail menggunakan persepsi dari pengguna dan penduduk
sekitar, peneliti bisa menggunakan cara dengan melakukan menyebar
kuesioner.
3.3. Populasi/Sampel
Populasi responden adalah semua pengunjung Taman Kota Tebing Tinggi.
Dengan demikian, sampel yang akan diambil pada penelitian ini adalah
pengunjung yang dijumpai pada saat survey dihari minggu (9 November 2014)
dengan waktu yang berbeda-beda, seperti:
a. 06.00 - 09.00 = 42 orang
b. 11.00 - 14.00 = 17 orang
c. 16.00 - 19.00 = 62 orang
Pemilihan waktu berdasarkan keaktifan ruang terbuka publik. Untuk jumlah
sampelnya sendiri seperti yang sudah dihitung diwaktu yang berbeda-beda dengan
total pengunjung 121 orang. Maka dari itu untuk menentukan jumlah sampel
mengambil teori Wallen (1993) yang mengatakan bahwa suatu penelitian
deskriptif yang jumlah populasinya tidak diketahui maka minimal sampel yang
3.4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara
survey langsung ke lapangan (data primer) dan mendapatkan data melalui
sumber-sumber instansi yang terkait (data sekunder).
3.4.1. Data Primer
Dalam mendapatkan data primer ini, peneliti akan melakukan beberapa
teknik riset yaitu antara lain:
Variabel penelitian Indikator
(comfort and image)
- keamanan
(access and linkage)
- kemudahan masuk
- parkir
- pedestrian
-signage
- jarak tempuh
Fungsi dan aktivitas
(uses and activity)
- kesenangan
- keaktifan
- kegunaan
Kemampuan sosial
(socialibility)
- keramahan
- bersahabat
- kepengurusan
- kebanggaan
- kerja sama
Social background
pengguna ruang
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder yang ingin diperoleh pada penelitian ini adalah berupa studi
literatur yang diperoleh dengan cara membaca literatur yang berkaitan dengan
ruang terbuka publik dan teori persepsi masyarakat. Data berbentuk peta yang
dibutuhkan untuk menunjukan lokasi kawasan penelitian seperti Tebing Tinggi,
3.5. Kawasan Penilitian
Dari kriteria kawasan penelitian maka ruang terbuka publik yang dipilih
ada taman kota di Jl. Pangeran Diponegoro, Tebing Tinggi.
Gambar 3.3. SitePlan Taman Kota Tebing Tinggi
Sumber : http://alimedanbisnis.files.wordpress.com/2010/03/picture1.jpg
3.5.1. Kriteria Kawasan Penelitian
Lokasi yang akan diteliti adalam penelitian ini adalah ruang terbuka publik
di Kota Tebing Tinggi dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Merupakan kota kecil yang sedang berkembang.
2. Memiliki ruang terbuka publik didalamnya.
3. Merupakan ruang terbuka publik yang aktif.
3.6. Metoda Analisa Data
Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif. Metode analisis deskriptif ini dilakukan untuk menjelaskan tingkat
keberhasilan ruang terbuka publik dan akan diterapkan kedalam menganalisis
data-data fisik lapangan. Selanjutnya data perilaku berdasarkan aktifitas
pengunjung akan digambarkan dalam bentuk pemetaan perilaku (behavioral mapping), kemudian dianalisis aktivitas apa saja yang terjadi dilapangan dan apa saja perilaku yang paling banyak atau cenderung dilakukan oleh pengguna taman
dengan durasi waktu yang berbeda-beda. Kemudian hasil data penelitian
melalui kuisioner dan selanjutnya dianalisis dengan analisis skala likert. Jawaban
responden untuk setiap pertanyaan pada bagian penilaian responden memiliki
gradasi dari sangat negatif hingga sangat positif. Skala Likert yang dipilih adalah
berjenjang 1-5 yang mewakili pendapat ‘sangat tidakpuas’ seampai‘sangatpuas’.
Data-data yang telah diperoleh dari hasil kuisioner diubah kedalam skala
Likert dan selanjutnya dicari nilai rata-rata (mean). Nilai rata-rata (mean) yang
telah diperoleh kemudian dirangking dan disimpulkan bagaimana persepsi
masyarakat terhadap peran ruang terbuka publik. Dari hasil analisis likert, peneliti
mendeskripsikan persepsi masyarakat mengenai ruang terbuka publik yang
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Taman Kota Tebing Tinggi
Berdasarkan kriteria pemilihan kawasan penelitian maka ruang terbuka
publik yang akan diteliti yaitu Taman Kota Tebing Tinggi. Taman Kota ini
terletak di persimpangan jalan D.I. Panjaitan dan jalan Diponegoro Tebing Tinggi.
Gambar 4.1 Peta Kota Tebing Tinggi
Gambar 4.2 Lokasi penelitian (sumber: Google Map, 2014)
Gambar 4.3. Siteplan Taman Kota Tebing Tinggi
(sumber: Dinas Penataan Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Utara)
Taman kota ini juga cukup terkenal di Kota Tebing Tinggi dan dikunjungi
banyak orang karena merupakan satu-satunya taman yang memiliki daya tarik
yang berbeda dengan taman lainnya di Kota Tebing Tinggi itu sendiri. Taman Taman Kota
kota ini sudah berdiri hampir 4 tahun yang direalisasikan pada tahun 2010.
Sebelum taman kota ini berdiri, lahan ini terbangun terminal dan setelah itu
dibangun hotel dan akhirnya pada tahun 2010 taman ini dibangun oleh
pemprovsu. Seiring dengan berjalannya waktu, taman ini memiliki reputasi yang
cukup baik dan dianggap sebagai taman dengan pengelolaan terbaik dan juga
terbersih di Kota Tebing Tinggi. Taman ini memiliki fasilitas yang lengkap,
seperti area nyantai dan area olahraga yaitu jogging track, lapangan basket, dan
juga lapangan voli. Selain fasilitas rekreatif juga terdapat kamar mandi/wc dan
juga mushallah.
Gambar 4.4. area rekreatif (sumber: dokumen pribadi 2014)
Gambar 4.5. mushollah dan KM/WC (Sumber: dokumen pribadi 2014)
4.2. Analisa Latar Belakang Pengunjung Taman Kota Tebing Tinggi
Analisa latar belakang pengunjung Taman Kota dilihat dari segi jenis
orang, lebih banyak pengunjung wanita yang berkunjung ke Taman Kota yaitu
sebesar 51% dibandingkan dengan pengunjung pria yang presentasenya tidak jauh
beda dengan pengunjung wanita yaitu 49%.
Diagram 4.1. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi
Jenis Kelamin
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Apabila dilihat dari segi usia pengunjung Taman Kota menunjukkan
bahwa dari 100 pengunjung lebih dominan remaja dan dewasa dengan jenjang
usia 21 - 30 tahun sebanyak 41 pengunjung.
Diagram 4.2. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi
Usia
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Dilihat dari usia pengunjung lebih dominan remaja dan dewasa maka dari
itu, pekerjaan pengujung pun lebih dominan mahasiswa dan pelajar dengan besar
35 dan 28 pengunjung.
Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Jenis Kelamin (Total sampel : 100 orang)
Pria 49%
Wanita 51%
Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Usia (Total sampel : 100 orang)
< 11 Tahun 1%
12 - 20 Tahun 34%
21 - 30 Tahun 41%
31 - 40 Tahun 13%
41 - 50 Tahun 7%
Diagram 4.3. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi
Pekerjaan
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Adapun asal tempat tinggal pengunjung yang berkunjung ke Taman Kota
Tebing ini dari berbagai macam kota. Dan apabila dilihat dari diagram 4.4.
menunjukkan bahwa lebih dominan pengunjung yang berasal dari kota Tebing
Tinggi itu sendiri dibandingkan kota-kota lainnya, seperti kota Medan, T.Morawa
dan Siantar.
Diagram 4.4. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi
Asal Pengunjung
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Suku pengunjung yang berkunjung ke Taman Kota Tebing Tinggi yang
paling dominan yaitu suku jawa dibandingkan suku batak dan melayu. Dilihat dari
asal pengunjung kebanyakan dari kota Tebing Tinggi yang kebanyakan besar suku
jawa.
Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Pekerjaan (Total sampel : 100 orang)
PNS 15%
BUMN 1%
Pelajar 28%
Mahasiswa 35%
Pegawai Swasta 16%
Lainnya 5%
Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Asal Pengunjung(Total sampel : 100 orang)
Tebing Tinggi 56%
Medan 35%
T.Morawa 7%
Diagram 4.5. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi
Suku
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Diagram 4.6. menunjukkan bahwa masyarakat yang berkunjung ke Taman
Kota dari segi status pernikahan yang paling dominan adalah kategori yang belum
menikah dengan presentase 69%, karena dilihat dari segi usia pengunjung yang
paling dominan adalah remaja. Sedangkan kategori yang sudah menikah dengan
presentase hanya 31%.
Diagram 4.6. Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Dilihat Dari Segi
Status Pernikahan
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Suku (Total sampel : 100 orang)
Jawa 46%
Batak 37%
Melayu 17%
Presentase Masyarakat Yang Berkunjung Ke Taman Kota Tebing Tinggi Dilihat Dari Segi Status Pernikahan (Total sampel : 100 orang)
Sudah Menikah 31%
4.3. Analisa Kenyaman dan Kesan Taman Kota Tebing Tinggi
Project for Public Space (2004), menjadikan kenyamanan dan kesan sebuah ruang sebagai kriteria yang penting bagi suatu ruang terbuka publik, ruang
yang nyaman dan memiliki kesan ditandai dengan ruang yang aman, bersih,
memiliki vegetasi yang sejuk, memiliki tempat duduk yang memadai, memiliki
penerangan, dan memiliki KM/WC dan Mushallah.
Diagram 4.7. Persepsi Masyarakat Terhadap Kenyamanan dan Kesan Taman Kota
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Diagram 4.7. menunjukkan bahwa dari 4 indikator kenyamanan dan kesan
Taman Kota, pengunjung memberikan persepsi puas untuk semua indikator .
Adapun skor tertinggi diberikan pengunjung terhadap indikator tempat duduk
yaitu sebesar 3.84. Skor terendah diberikan pengunjung terhadap indikator
keamanan dan vegetasi dengan skor 3.73. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa persepsi pengunjung terhadap kenyamanan dan kesan di Taman Kota
adalah puas / baik dengan total skor sebesar 3,76.
4.3.1. Keamanan
Keamanan Taman Kota ini dengan jam kerja yang dibagi menjadi 2 jam
kerja yaitu pada jam 06.00 - 18.00 dan 18.00 - 06.00, dengan petugas keamanan
yang sudah cukup memadai (Gambar 4.6.A) dan apabila dilihat dari hasil Persepsi Masyarakat Terhadap Kenyamanan dan Kesan Taman Kota
observasi saya dengan luasnya taman kota ini hanya memiliki satu pos kemananan
(Gambar 4.6.B) maka dari itu sangat kurangnya pos jaga karena perlunya pos
penjagaan kendaraan di setiap parkir mobil dan parkiran sepeda motor, agar
pengunjung yang membawa kendaraan merasa aman apabila meninggalkan
kendaraannya ditempatnya.
B. Pos Jaga Taman Kota A. Petugas Keamanan Taman Kota
Persepsi Masyarakat Terhadap Keamanan Taman Kota Tebing Tinggi (Total sampel : 100 orang)
0% 10% 20% 30% 40% 50%
0% 6% 35% 39% 20%
1 2 3 4 5
1: Sangat Tidak Puas 3: Puas 5: Sangat Puas 2: Tidak Puas 4: Cukup Puas
Diagram 4.8. Persepsi Masyarakat Terhadap Keamanan Taman Kota Tebing Tinggi
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Diagram 4.8. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat kota Tebing
Tinggi terhadap keamanan Taman Kota tergolong aman. Hal ini terlihat dari
tingkat kepuasan masyarakat yang menyatakan cukup puas (39%) terhadap
keamanan di Taman Kota ini dibandingkan dengan masyarakat yang tidak puas
(6%) terhadap keamanan Taman Kota. Hal ini terlihat dari adanya keberadaan pos
jaga yang buka 24 jam, namun setidaknya turut mengawasi kondisi keamanan di
Taman Kota dari pagi hari, siang hari maupun malam hari.
Hasil dari observasi di lapangan dan hasil persepsi masyarakat terhadap
keamanan Taman Kota ternyata sudah sesuai dengan tingkat keberhasilan suatu
ruang terbuka publik, karena menurut Project For Public Spaces (2004) harus adanya keberadaan pos penjagaan di suatu ruang terbuka publik yang mengawasi
keadaan yang terdapat didalamnya dan mempunyai jarak penglihatan yang jelas
terhadap kemungkinan terjadinya tindakan kriminal.
4.3.2. Kebersihan
Kebersihan taman adalah salah satu faktor yang menentukan kenyamanan
dan kesan sebuah taman. Upaya untuk menjaga kebersihan taman dapat dilakukan
dengan menyediakan tong sampah (Gambar 4.7.B & D) dan bak sampah pada
area parkir taman (Gambar 4.7.A & C). Taman Kota dari segi jumlah tong sampah
sudah memiliki banyak tong sampah dan kondisi tong sampah yang ada juga
terawat. Akan tetapi, kurangnya penyediaan tong sampah pada area pkl (Gambar
4.7.F) menyebabkan adanya sampah sisa kemasan yang berasal dari penjual
makanan dan pembeli, dibanding dengan area pejalan kaki di dalam area taman
Diagram 4.9. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap
kebersihan Taman Kota tergolong bersih. Hal ini dilihat dari tingkat kepuasan
masyarakat yang menyatakan cukup puas (33%) dibandingkan dengan masyarakat
yang menyatakan tidak puas (9%) bahwa Taman Kota bersih. Hal ini terlihat dari
sudah terdapat keberadaan beberapa petugas kebersihan yang menjaga kebersihan
di Taman Kota dan keberadaan tong sampah yang sudah cukup banyak dan
gampang untuk mencapainya. A. Bak Sampah Taman
Kota
B. Tong Sampah Taman
Kota
C. Bak Sampah Taman
Kota
F. Area PKL E. Area Pejalan Kaki bebas
dari sampah
Gambar 4.7.A-F. Kebersihan Taman Kota (Sumber: dokumen pribadi, 2014) D. Tong Sampah
Diagram 4.9. Persepsi Masyarakat Terhadap Kebersihan Taman Kota Tebing Tinggi
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Hasil dari observasi lapangan dan hasil persepsi masyarakat terhadap
kebersihan Taman Kota ini sudah sesuai dengan tingkat keberhasilan suatu ruang
terbuka publik, karena menurut Gearin dan Kahle (2006), suatu terbuka yang
bersih akan memberikan rasa nyaman bagi pengunjung untuk beraktivitas di ruang
terbuka publik, dimana para pengunjung umumnya menghindari kunjungan ke
ruang terbuka publik yang kotor. Apabila dilihat dari hasil observasi lapangan
terdapat area yang kotor seperti area pedagang kaki lima (PKL), hal ini
menyebabkan sedikit pengunjung yang berduduk atau berada di area ini dengan
waktu yang lama.
4.3.3. Vegetasi
Vegetasi di Taman Kota ini sudah tergolong sejuk dikarenakan banyaknya
pepohonan berupa jejeran pohon (Gambar 4.8.B&E) yang mengelilingi Taman
Kota ini dan juga adanya tanaman-tanaman seperti bunga (Gambar 4.8.D) dan
pohon-pohon kecil (Gambar 4.8.A&G) yang terletak didalam Taman Kota ini,
akan tetapi kurangnya pepohonan yang rindang diarea olahraga (Gambar
4.8.C&F) sehingga tidak ada pengunjung yang berolahraga pada siang hari diarea
ini.
Persepsi Masyarakat Terhadap Kebersihan Taman Kota Tebing Tinggi (Total sampel : 100 orang)
0%
Diagram 4.10. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap vegetasi
di Taman Kota tergolong memuaskan. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan
masyarakat yang menyatakan puas(38%) dan dibandingkan dengan masyarakat
yang menyatakan tidak puas(5%) terhadap vegetasi di Taman Kota. Hal ini
terlihat dari sudah tersedianya cukup banyak pepohonan dan jenis tanaman
-tanaman yang menjadikan Taman Kota sejuk dan memiliki penghijauan yang
indah. Diagram 4.10. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap vegetasi E. Pinggir Taman jl.
Diponogoro A. Area Pujasera
G. Area Taman F. Area Olahraga
B. Pinggir taman jl. D.I. Panjaitan
C. Area Olahraga D. Area Taman
di Taman Kota tergolong memuaskan. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan
masyarakat yang menyatakan puas(38%) dan dibandingkan dengan masyarakat
yang menyatakan tidak puas(5%) terhadap vegetasi di Taman Kota. Hal ini
terlihat dari sudah tersedianya cukup banyak pepohonan dan jenis tanaman
-tanaman yang menjadikan Taman Kota sejuk dan memiliki penghijauan yang
indah.
Diagram 4.10. Persepsi Masyarakat Terhadap Vegetasi Taman Kota Tebing Tinggi
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Hasil dari observasi lapangan dan hasil persepsi masyarakat terhadap
vegetasi yang ada di Taman Kota sesuai dengan tingkat keberhasilan menurut
Project for Public Space (2004), yang menyatakan vegetasi yang disediakan di suatu ruang terbuka publik berupa pepohonan dan tanaman untuk menciptakan
keindahan, sebagai peneduh, serta untuk menciptakan suasana rindang / sejuk
dalam beraktivitas.
4.3.4. Tempat Duduk
Fasilitas tempat duduk di Taman Kota ini sudah sangat memenuhi karena
banyaknya pilihan untuk pengunjung buat duduk yang mereka inginkan. Fasilitas
tempat duduk yang disedikan di Taman Kota ini merupakan jenis tempat duduk
yang tidak dapat dipindah-pindah. Permukaan tempat duduk di Taman Kota ini
terbuat dari material beton kemudian dilapis dengan keramik. Namun adanya
kekurangan desain tempat duduk di Taman Kota ini seperti tidak adanya peneduh, Persepsi Masyarakat Terhadap Vegetasi Taman Kota Tebing Tinggi (Total
sampel : 100 orang)
maka dari itu hanya beberapa pengunjung yang menggunakan tempat duduk di
siang hari dan pengunjung lebih memilih duduk di area teduh yang banyak
pepohonan.
Gambar 4.9.A-C. Tempat Duduk Taman Kota (Sumber: dokumen pribadi, 2014) C.TIPE III. bangku ini hanya ada 3
di Taman Kota ini. A. TIPE I. bangku yang terletak di
sepanjang garis biru.
Diagram 4.11. menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap tempat
duduk di Taman Kota tergolong memuaskan. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan
masyarakat yang menyatakan cukup puas (38%) dibandingkan dengan yang
menyatakan tidak puas (6%). Hal ini terlihat dari kapasitas tempat duduk di
Taman Kota sudah memadai sehingga masyarakat yang mengunjungi Taman Kota
bebas untuk memilih duduk dimana yang diinginkan dan dapat duduk sambil
menikmati pemandangan dan suasana di area Taman Kota ini.
Diagram 4.11. Persepsi Masyarakat Terhadap Tempat Duduk Taman Kota Tebing Tinggi
(Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Hasil dari observasi lapangan dan hasil persepsi masyarakat terhadap
tempat duduk di Taman Kota sudah sesuai dengan tingkat keberhasilan karena
menurut Project for Public Space (2004), suatu ruang terbuka publik pentingnya memberikan pengunjung pilihan untuk duduk dimana mereka inginkan.
Umumnya tempat duduk harus diletakkan pada tempat - tempat yang tepat berupa
dimana pengunjung untuk duduk sambil mengamati aktivitas pengunjung lain.
Dari segi posisi tempat duduk di Taman Kota memanjang yang melainkan duduk
bersampingan, maka dari itu sudah sesuai dengan PPS yang menyatakan tidak
boleh diletakkan berhadapan langsung kecuali untuk keperluan bermain, ini
menyebabkan orang akan merasa kurang nyaman untuk duduk dengan posisi
berhadapan dengan orang asing. Apabila dilihat dari segi material tempat duduk di
Taman Kota menggunakan material beton keramik dan sudah sesuai dengan yang
dinyatakan PPS yaitu, harus dibuat dari material yang awet dan tahan terhadap Persepsi Masyarakat Terhadap Tempat Duduk Taman Kota Tebing Tinggi
(Total sampel : 100 orang)
0%