• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kultur In Vitro Bunga Pisang Barangan (Musa Acuminata L.) Pada Media MS Dengan Berbagai Konsentrai BAP Dan NAA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kultur In Vitro Bunga Pisang Barangan (Musa Acuminata L.) Pada Media MS Dengan Berbagai Konsentrai BAP Dan NAA"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

KULTUR IN VITRO BUNGA PISANG BARANGAN (Musa

acuminata L.) PADA MEDIA MS DENGAN BERBAGAI

KONSENTRASI BAP DAN NAA

SKRIPSI

ESRAWATI G. PASARIBU

020805042

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih Karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Kultur In Vitro Bunga Pisang Barangan (Musa acuminata L.) Pada Media MS

Dengan Berbagai Konsentrasi BAP Dan NAA”.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Isnaini Nurwahyuni, M. Sc, dan Ibu Dra. Elimasni M. Si, selaku dosen pembimbing yang terus memberikan arahan selama pengerjaan penelitian ini, Drs M. Zaidun Sofyan, M.Si. dan Riyanto Sinaga, S.Si, M.Si selaku dosen Penguji yang telah banyak memberi saran dan masukan. Kepada Bapak Dr. Dwi Suryanto M. Sc dan Dra. Nunuk Priyani, M.Sc selaku ketua dan sekretaris Departemen Biologi, Dekan Dr. Eddy Marlianto M.Sc dan Pembantu Dekan FMIPA USU. Kepada Bapak dan Ibu staf pengajar Biologi. Kepada Nurhasni Muluk dan Sukirmanto selaku laboran dan analis Laboratorium Biologi, kepada Roslina Ginting dan Erwin selaku pegawai administrasi. Juga kepada Hera, Nuriman dan Iovie selaku laboran di Laboratorium Kultur Jaringan BBI Gedung Johor Dinas Pertanian Sumatera Utara yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.

Terimakasih kepada keluarga yang terus memberi kasih sayang, dukungan, motivasi kepada penulis serta terus mendoakan penulis. Dengan penuh rasa sayang penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapa dan Mama, Kak Debora dan Keluarga, Kak Nova dan Keluarga, Kak Hana, Abang Goklas dan Abang Jani yang menjadi sumber motivasi dan semangat bagi penulis dalam mengerjakan penelitian ini.

Penulis juga mengucapkan terimakasih yang dalam kepada teman-teman KTB DOC: Kak Ade, Bang Erik, Bertha dan Ricky yang telah banyak menolong, memberi semangat, serta dukungan doa bagi penulis, bagi adik-adik yang penulis sayangi: Febri, Erista, Farida, Hilda, Christine, Tridola, Denni dan Elfriede yang banyak memberi dukungan bagi penulis. Juga bagi sahabat doa Kak Lina, Gandi dan Nurmala atas dukungan doa yang telah diberikan. Tidak lupa kepada teman satu penelitian, Mayerti yang telah banyak membantu penulis serta sahabat-sahabat yang terus mendukung penulis: Sri Ningsih, Buniks, Rovina, Erika, Endang, Meta, Rini, Riris, Julianti, Dewi serta kepada teman satu kamar, Desma yang telah banyak menolong penulis. Juga kepada teman-teman dan pihak-pihak yang menolong penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

(3)

ABSTRAK

Penelitian tentang “ Kultur In Vitro Bunga Pisang Barangan (Musa acuminata L.)

dalam media MS dengan berbagai konsentrasi BAP dan NAA” telah dilakukan di

Laboratorium Kultur Jaringan Balai Benih Induk Gedung Johor Dinas Pertanian Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi BAP dan NAA terbaik dalam memacu pertumbuhan kultur in vitro bunga Pisang Barangan (Musa

acuminata L.). Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)

faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor konsentrasi BAP dengan 4 taraf yaitu: 0; 2.5; 3.75; 5 mg/l, dan faktor konsentrasi NAA dengan 4 taraf yaitu: 0; 0.5; 1; 1.5 mg/l. Hasil analisis statistik menunjukkan perlakuan BAP dan NAA memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap pertumbuhan kultur. Perlakuan B0N3 (0 mg/l BAP dan 1.5

mg/l NAA) menyebabkan pertumbuhan kultur paling cepat. Sedangkan B1N1 (2.5

(4)

IN VITRO CULTURE OF IMMATURE BARANGAN FLOWER

(Musa acuminata L.) IN MS MEDIUM WITH VARIOUS CONCENTRATION OF BAP AND NAA

ABSTRACT

The research about “ In vitro culture of immature Barangan flower (Musa

acuminata L.) in MS medium with various concentration of BAP and NAA” has

been done in Tissue Culture Laboratory UPT BBI Agriculture Department of North Sumatera. The research is purposed to obtain the best concentration of growth regulator. The design of the research is Complete Randomized Design with 2 factors which is BAP with concentration of 0; 2.5; 3.75; 5 mg/l and NAA with concentration of 0; 0.5; 1; 1.5 mg/l. The statistic analysis shows that the treatments of BAP and NAA give non significant effect to the growth of the culture. The treatment of B0N3

(5)

DAFTAR ISI

1.2 Permasalahan 3

1.3 Tujuan Penelitan 3

1.4 Hipotesis 4

1.5 Manfaat Penelitian 4

BAB 2 Tinjauan Pustaka

2.1 Pisang 5

2.2 Teknik Kultur Jaringan 6

2.2.1 Zat Pengatur Tumbuh 7

BAB 3 Bahan dan Metoda

3.1 Waktu dan Tempat 14

3.2 Bahan 14

3.3 Metode Penelitian 14

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Sterilisasi Alat 15

3.4.2 Pembuatan Media 15

3.4.3 Sterilisasi Bahan 16

3.4.4 Penanaman Eksplan 17

3.4.5 Pemeliharaan 18

3.4.6 Parameter Pengamatan 19

3.5. Analisis Data 19

(6)

BAB 4 Hasil dan Pembahasan

4.1Tipe Pertumbuhan Kultur 20

4.2 Inisiasi Kultur 22

4.3 Jumlah Tunas 23

4.4 Berat Basah Kultur 26

4.5 Persentase Kultur Terkontaminasi 27

BAB 5 Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan 29

5.2 Saran 29

Daftar Pusataka 30

Lampiran A : Data Pengamatan Saat Inisiasi Kultur (HST) 33

Lampiran B : Data Pengamatan Kultur Yang Membentuk tunas 34

Lampiran C : Data Pengamatan Berat Basah Kultur 35

Lampiran D : Data Pengamatan Kultur Yang Terkontaminasi 36

Lampiran E : Lay Out Penelitian 37

(7)

DAFTAR TABEL

Halaman

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 3.1 Jantung pisang barangan 17

Gambar 3.2 Jantung pisang barangan yang telah dikupas 17

Gambar 3.3 Pemotongan eksplan 18

Gambar 3.4 Eksplan siap ditanam 18

Gambar 3.5 Eksplan dalam media 18

Gambar 4.1 Hubungan rata-rata saat inisiasi kultur

dengan kombinasi BAP dan NAA 22

Gambar 4.2 Hubungan rata-rata jumlah tunas dengan

kombinasi BAP dan NAA 25

Gambar 4.3 Pembentukan tunas dari kultur bunga

pisang barangan (Musa acuminata L.) dengan

perlakuan B3N2 26

Gambar 4.4 Hubungan rata-rata berat basah kultur

(9)

ABSTRAK

Penelitian tentang “ Kultur In Vitro Bunga Pisang Barangan (Musa acuminata L.)

dalam media MS dengan berbagai konsentrasi BAP dan NAA” telah dilakukan di

Laboratorium Kultur Jaringan Balai Benih Induk Gedung Johor Dinas Pertanian Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi BAP dan NAA terbaik dalam memacu pertumbuhan kultur in vitro bunga Pisang Barangan (Musa

acuminata L.). Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)

faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor konsentrasi BAP dengan 4 taraf yaitu: 0; 2.5; 3.75; 5 mg/l, dan faktor konsentrasi NAA dengan 4 taraf yaitu: 0; 0.5; 1; 1.5 mg/l. Hasil analisis statistik menunjukkan perlakuan BAP dan NAA memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap pertumbuhan kultur. Perlakuan B0N3 (0 mg/l BAP dan 1.5

mg/l NAA) menyebabkan pertumbuhan kultur paling cepat. Sedangkan B1N1 (2.5

(10)

IN VITRO CULTURE OF IMMATURE BARANGAN FLOWER

(Musa acuminata L.) IN MS MEDIUM WITH VARIOUS CONCENTRATION OF BAP AND NAA

ABSTRACT

The research about “ In vitro culture of immature Barangan flower (Musa

acuminata L.) in MS medium with various concentration of BAP and NAA” has

been done in Tissue Culture Laboratory UPT BBI Agriculture Department of North Sumatera. The research is purposed to obtain the best concentration of growth regulator. The design of the research is Complete Randomized Design with 2 factors which is BAP with concentration of 0; 2.5; 3.75; 5 mg/l and NAA with concentration of 0; 0.5; 1; 1.5 mg/l. The statistic analysis shows that the treatments of BAP and NAA give non significant effect to the growth of the culture. The treatment of B0N3

(11)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Masyarakat Asia Tenggara telah lama memanfaatkan pisang. Di daerah itu, saat

berkebudayaan pengumpul (food gathering), telah menggunakan tunas dan pelepah

pisang sebagai bagian dari sayur. Bagian-bagian lain dari tanaman pisang pun telah

dimanfaatkan (Satuhu dan Supriyadi, 1999, hlm 1). Pada saat ini hampir setiap orang

gemar mengkonsumsi buah pisang (Sunarjono, 2002). Tanaman pisang memang

banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup manusia. Selain buahnya,

bagian tanaman lain pun bisa dimanfaatkan, mulai dari bonggol sampai daun (Satuhu

dan Supriyadi, 1999).

Pisang barangan adalah salah satu jenis pisang yang sangat digemari oleh

konsumen meskipun harganya lebih mahal dibandingkan jenis lainnya. Permintaan

akan pisang barangan terus meningkat tetapi tidak diiringi dengan peningkatan

kualitas dan area tanah. Ada beberapa jenis pisang barangan yaitu pisang Barangan

Merah, Kuning dan Putih. Ciri khas setiap jenis ini dibedakan dengan mudah dari

warna dan aroma daging buahnya sedangkan morfologi tanaman hampir seragam.

Daging buah pisang Barangan Merah berwarna kuning kemerah-merahan, pisang

barangan kuning daging buahnya berwarna kuning muda, sedangkan pisang barangan

putih daging buahnya berwarna putih, lebih kecil dan tidak harum sehingga kurang

diminati konsumen. Pisang Barangan Merah sangat disukai masyarakat karena

aromanya lebih harum dan lebih manis dibandingkan Barangan Kuning dan Putih

(12)

Produksi pisang di Indonesia rata-rata 3.2 juta ton per tahun. Diperkirakan 1.5

juta ton diantaranya merupakan pisang meja untuk konsumsi segar. Bila diasumsikan

sekitar 60% (120 juta) dari jumlah penduduk Indonesia (200 juta) menyukai pisang

maka konsumsi pisang hanya 12,5 Kg/orang/tahun atau 34.2 g/orang/hari. Ini berarti

kemampuan penyediaan buah pisang untuk konsumsi buah meja masih sangat kecil

karena masih jauh di bawah berat rata-rata buah pisang (Sunarjono, 2002, hlm. 3).

Ketidakmampuan penyediaan buah pisang ini disebabkan karena umumnya

petani tidak ingin merawat tanamannya dan hanya dibiarkan menurut kehendak alam.

Selain itu, juga disebabkan karena penyediaan bibit yang cukup lama. Hal ini

disebabkan bibit pisang hanya dapat diambil dari bonggol atau anakan. Untuk

penyediaan bibit ini dapat diatasi dengan metoda kultur jaringan.

Dalam penelitian ini dilakukan kultur jaringan pada pisang barangan (Musa

acuminata L.) dengan eksplan berasal dari jantung /bunga pisang tersebut. Menurut

Hendaryono dan Wijayani, (1994) sekarang telah banyak macam tanaman yang

berhasil diperbanyak dengan kultur jaringan atau in vitro, yaitu dengan

mengkombinasikan macam media dengan zat pengatur tumbuh.

Kultur jaringan pisang tidak asing lagi karena Wahyudi (2004) pernah

mengkulturkan jantung pisang Barangan Merah (Musa acuminata L.) dengan

perlakuan BAP dan NAA dalam media MS. Penambahan NAA 0.5 mg/l dan 3 ppm

BAP memberikan hasil terbaik untuk pembentukan tunas, sedangkan penelitian yang

dilakukan oleh Suyadi et al (2003) pada meristem apikal dengan mengkombinasikan

BAP dan NAA dalam media MS, menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi BAP

dan NAA memberi pengaruh yang nyata terhadap jumlah tunas, panjang tunas dan

jumlah daun. Menurut Radji (2005), penambahan senyawa auksin dan sitokinin dalam

media perbenihan kultur jaringan ternyata mampu mempercepat multiplikasi sel

jaringan beberapa tumbuhan.

Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk mengetahui

(13)

dengan konsentrasi BAP: O; 2.5; 3.75; 5 mg/l dan konsentrasi NAA: 0; 0.5; 1; 1.5

mg/l.

1.2.Permasalahan

Pisang barangan termasuk tanaman yang unik karena semua bagiannya dapat

digunakan. Buahnya diunggulkan karena memiliki rasa yang sangat manis, beraroma

harum dan tak berbiji. Namun, produksi pisang yang ada saat ini tidak mencukupi

untuk memenuhi permintaan konsumen, hal ini dikarenakan umumnya tanaman

pisang masih dikelola secara tradisional akibat hanya ditanam di pekarangan tanpa

area yang khusus serta penyediaan bibit yang memerlukan waktu cukup lama.

Penyediaan bibit yang cukup lama ini disebabkan karena bibit anakannya sulit

berkembang, satu induk hanya menghasilkan 2-3 bibit anakan saja sehingga sulit

diperoleh bibit pisang barangan dalam jumlah besar dengan kualitas yang sama dan

dalam waktu yang relatif singkat.

Melihat keterangan di atas, maka perlu dilakukan suatu usaha yang nyata

dalam mengatasi masalah tersebut. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan

teknik kultur jaringan. Dalam penelitian ini dilakukan pengkulturan terhadap jantung

pisang barangan dengan berbagai tingkat konsentrasi BAP dan NAA dalam media

MS, yang diharapkan dapat menghasilkan bibit pisang dengan jumlah yang banyak

dalam kurun waktu yang singkat dan dengan kualitas yang baik.

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kombinasi konsentrasi BAP dan

(14)

1.4.Hipotesis

Penambahan BAP dan NAA pada media MS memberi pengaruh terhadap

pertumbuhan tunas pisang barangan secara in vitro.

1.5.Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang

(15)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pisang

Pisang berasal dari bahasa Arab yaitu maus dan menurut Linnaeus termasuk keluarga

Musaceae (Satuhu dan Supriyadi, 1999). Pisang barangan merupakan pisang yang

paling populer di Sumatera Utara (Nuswamarhaeni, dkk, 1999, hlm. 56). Indonesia

merupakan salah satu negara penghasil tanaman pisang dengan tingkat keragaman

yang sangat tinggi dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Pisang Barangan

adalah salah satu jenis pisang yang sangat digemari oleh konsumen meskipun

harganya lebih mahal dibandingkan jenis lainnya (Nainggolan dkk, 2002 dalam

Wahyudi, 2004).

Adapun botani tanaman pisang adalah sebagai berikut: tumbuhan seperti

pohon, tinggi 2-9 m; batang pendek dalam tanah yang disebut Corm; mempunyai

kuncup-kuncup tunas yang akhirnya berkembang menjadi anakan. Akar liar (adventif)

tumbuh menyebar secara lateral, dapat mencapai panjang 4-5 m. Batang yang di atas

permukaan tanah adalah batang semu yang merupakan kumpulan dari pelepah daun

yang berdaging, membentuk suatu bentuk silindris dengan diameter 20-50 cm. Daun

baru yang terbentuk tumbuh dari batang semu. Helai daun berbentuk oblong yang

besar dengan panjang 150-400 cm dengan lebar 70-100 cm. Bila bunga majemuk telah

terbentuk di ujung batang semu, maka pembentukan helai daun baru akan berhenti.

Bunga majemuk terkumpul menjadi beberapa kelompok (sisir) dan setiap kelompok

didukung oleh daun penumpu yang besar, berwarna merah dan di dalamnya terdapat

dua baris bunga. Keseluruhan kelompok bunga ini bersatu dalam bentuk seperti

jantung, sehingga disebut sebagai jantung pisang. Daun penumpu dari setiap

kelompok bunga akan luruh setelah terjadinya proses perkembangan buah (Sudarnadi,

(16)

Menurut Steenis (2003), kedudukan pisang barangan dalam taksonomi adalah:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Zingiberales

Famili : Musaceae

Genus : Musa

Spesies : Musa acuminata L.

Tanaman pisang termasuk tanaman iklim tropis basah yang mudah didapatkan

di Indonesia, tanaman ini tahan hidup di musim kemarau, mampu tumbuh dan

berproduksi baik pada berbagai jenis tanah pada ketinggian tempat antara 0-1000 m di

atas permukaan laut. Tanaman pisang mudah tumbuh di berbagai tempat sehingga

penanaman yang dilakukan oleh petani belum teratur dan sering dicampur dengan

tanaman lainnya. Selain itu pemeliharaan tanaman pisang belum dilakukan secara

intensif, sehingga produksi dan mutu buah yang dihasilkan masih rendah (Warda dan

Hutagalung, 1994).

2.2. Teknik Kultur Jaringan

Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture, weefcel

cultuus atau gewebe kultur. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok

sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Maka, kultur jaringan berarti

membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai

sifat seperti induknya (Suryowinoto, 1991 dalam Hendaryono dan Wijayani, 1994).

Manfaat perbanyakan tanaman secara kultur jaringan adalah untuk

perbanyakan vegetatif tanaman yang permintaannya tinggi tetapi pasokannya rendah,

karena laju perbanyakan secara konvensional dianggap lambat. Di samping itu,

perbanyakan tanaman secara kultur jaringan sangat bermanfaat untuk memperbanyak

(17)

diperbanyak dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat (Yusnita, 2003,

hlm. 9).

Perbanyakan bibit secara cepat adalah salah satu dari penerapan teknik kultur

jaringan yang telah dilakukan terutama untuk beberapa jenis tanaman yang

diperbanyak secara klonal. Tujuan utamanya adalah memproduksi bibit secara massal

dalam waktu singkat. Hal ini terutama dilakukan pada tanaman-tanaman yang

persentase perkecambahan bijinya rendah. Tanaman hibrida yang berasal dari tetua

yang menunjukkan sifat male sterility, hibrida-hibrida yang unik, perbanyakan pohon

elite dan/atau pohon untuk batang bawah dan tanaman yang selalu diperbanyak secara

vegetatif seperti kentang, pisang dan strawberry juga diperbanyak secara kultur

jaringan (Gunawan, 1987 dalam Mattjik, 2005, hlm 17). Tujuan lain dari kultur

jaringan adalah untuk membiakkan bagian tanaman dalam ukuran yang

sekecil-kecilnya sehingga menjadi beratus-ratus ribu tanaman kecil (klon), dan untuk

menghasilkan kalus sebanyak-banyaknya agar dapat menghasilkan metabolit

sekunder, misalnya untuk keperluan obat-obatan.

Perbanyakan secara kultur jaringan dilakukan dengan cara mengisolasi bagian

tanaman seperti organ, jaringan, kumpulan sel, sel tunggal, protoplasma, dan

kemudian menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan aseptik yang

kaya nutrisi dan mengandung zat pengatur tumbuh. Proses ini berlangsung di dalam

wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian-bagain tersebut memperbanyak

diri dan beregenerasi kembali menjadi tanaman lengkap (Saptarini, dkk, 2001, hlm.

23).

2.2.1 Zat Pengatur Tumbuh

Di dalam tubuh tumbuhan, zat pengatur tumbuh mempunyai peranan dalam

pertumbuhan dan perkembangan demi kelangsungan hidupnya. Zat pengatur tumbuh

pada tanaman (plant regulator), adalah senyawa organik, yang dalam jumlah sedikit

(18)

Perkembangan kalus dikendalikan oleh hormon yang ditambahkan ke dalam

media, khususnya auksin dan sitokinin. Perubahan kadar zat pengatur tumbuh dapat

mempengaruhi morfogenesisi kalus menjadi tanaman utuh atau organ-organ saja.

Keseimbangan hormon yang diperlukan merupakan hal penting untuk setiap spesies

dan sering sangat beragam antara kultivar satu dengan yang lain. Bila keseimbangan

auksin/sitokinin dalam medianya tepat, maka kelompok kalus akan segera terbentuk

(Nasir, 2002, hlm. 33).

Pada tahun 1940 – an, para ahli fisiologi tumbuhan dari Universitas Wisconsin

di Amerika yang dipelopori oleh Folke Skoog menemukan bahwa zat pengatur

tumbuh auksin, yaitu IAA (Indol acetic acid) dan NAA (Naphtalene acetic acid) yang

sebelumnya sudah diketahui dapat merangsang pembentukan akar pada setek, ternyata

juga dapat merangsang pertumbuhan sel secara in vitro, tetapi menghambat

pembentukan mata tunas. Pada tahun 1955, Carlos Miller dkk (yang bekerja dengan

Skoog) menemukan kinetin, suatu penemuan pertama hormon golongan sitokinin.

Pada tahaun 1957, Skoog dan Miller mempublikasikan studi klasik antara sitokinin

dan auksin dalam mengontrol pembentukan akar dan tunas dalam kultur jaringan

(Yusnita, 2003).

2.2.1.1 Sitokinin/ BAP

Adenin merupakan bentuk dasar yang menentukan terhadap aktivitas sitokinin. Di

dalam senyawa sitokinin, panjang rantai dan hadirnya suatu ikatan ganda dalam rantai

tersebut, akan meningkatkan aktivitas zat pengatur tumbuh ini (Abidin, 1982, hlm.

55). Secara umum, konsentrasi sitokinin yang digunakan berkisar dari 0.1 – 10 mg/l.

Dalam kasus tertentu, konsentrasi kinetin sampai 30 mg/l pernah digunakan, tetapi

jarang terjadi (Gunawan, 1995).

Pengaruh sitokinin dalam kultur jaringan tanaman antara lain berhubungan

dengan proses pembelahan sel, proliferasi tunas ketiak, penghambatan pertumbuhan

akar dan induksi umbi. Pembelahan mitosis tidak akan terjadi bila tidak ada sitokinin.

Sitokinin terutama berperan di dalam pembentukan benang gelendong pada metafase

(19)

Menurut Santoso dan Nursandi (2004, hlm. 105), bahwa secara lebih luas

peran sitokinin dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Sitokinin berperan dalam memacu pembentangan sel, pembesaran dan

pembelahan sel.

2. Sitokinin berperan dalam penundaan senesens (penuaan), caranya dengan

jalan sitokinin menghambat penguraian protein. Penuaan terjadi karena

penguraian protein menjadi asam amino oleh enzim-enzim protese, RNAse,

DNAse. Artinya di sini penghambatan atau penundaan penuaan terjadi karena

kinerja enzim-enzim di atas dihambat sitokinin sehingga umur protein lebih

panjang.

3. Sitokinin ini berperan mengarahkan transpor zat hara, yaitu memberi signal ke

arah mana zat hara akan dibawa atau ditransport.

4. Peran sitokinin yang lain adalah: mendorong proses morfogenesis, pertunasan,

pembentukan kloroplas, pembentukan umbi pada kentang, pemecahan

dormansi, pembukaan stomata, dan pembungaan.

5. Dalam kegiatan kultur jaringan sitokinin telah terbukti dapat menstimulasi

terjadinya pembelahan sel, proliferasi kalus, pembentukan tunas, mendorong

proliferasi meristem ujung, menghambat pembentukan akar, mendorong

pembentukan klorofil pada kalus, golongan sitokinin yang sering ditambahkan

dalam medium antara lain adalah: kinetin, zeatin, dan Benzil Amino Purin

(BAP) (Hendaryono dan Wijayani, 1994). Penggunaan BAP dengan

konsentrasi tinggi dan masa yang panjang seringkali menyebabkan regeneran

sulit berakar dan dapat menyebabkan penampakan pucuk yang abnormal

(Gunawan, 1995 hlm 45).

2.2.1.2 Auksin/NAA

Istilah auksin pertama kali digunakan untuk menyebut suatu senyawa yang mungkin

dapat menyebabkan pembengkokan koleoptil ke arah cahaya ( Salisbury dan Ross,

1992) Indolacetic Acid (IAA) adalah auksin endogen atau auksin yang terdapat pada

(20)

Adapun zat pengatur tumbuh yang digolongkan sebagai auksin sintetis, yaitu:

asam a-naftalenaasetat (NAA), asam 2,4-diklorophenoksi asetat (2,4-D), asam

2-metil-4-klorophenoksi asetat (MCPA), asam 2-naftalosiasetat (NoA), asam 4-

klorophenoksi asetat (4-CPA), asam p-klorophenoksi asetat (PCPA), asam

2,4,5-triklorophenoksi asetat (2,4,5-T), asam 3,6-dikloroanisik (dikamba), asam

4-amino-3,5,6-trikoloropikolinik (Santoso dan Nursandi, 2004, hlm.98).

Pada konsentrasi yang rendah, auksin berpengaruh baik pada proses

pemanjangan sel (Abidin, 1982). Sebaliknya, dalam konsentrasi yang terlalu tinggi

auksin justru dapat menghambat perpanjangan tanaman. Oleh karena itu, penggunaan

auksin harus sungguh-sungguh memperhatikan dosis yang dianjurkan ( Salisbury dan

Ross, 1992 dan Widarto, 1996).

2.2.2 Eksplan

Eksplan adalah bagian kecil jaringan atau organ yang dipisahkan dari tanaman induk

kemudian dikulturkan (Katuuk, 1989). Bagian tanaman yang dapat dikultur adalah

sel-sel muda (meristematis), dapat berupa sel-sel, jaringan apapun, organ, buah, biji, serbuk

sari, ovum (telur), ovulum (bakal buah), dan lain-lain. Bahkan sel tunggal yang

berasal dari sel somatik dan protoplas juga dapat dikulturkan (Muslim, 2003, hlm.

348).

Dalam pemilihan bagian tanaman, perlu juga dipertimbangkan tujuan dari

kulturnya. Bagian-bagian tertentu akan memberikan variasi dalam jumlah kromosom

maupun variasi dalam beberapa gen. Endosperma hanya digunakan untuk

mendapatkan kultur yang triploid. Selain bagian tanaman, genotip atau varietas yang

digunakan juga ikut menentukan keberhasilan regenerasi (Gunawan, 1995, hlm. 41).

Dalam kultur jaringan, sumber eksplan harus berasal dari pohon induk terpilih. Hal ini

seringkali dapat menjadi kendala dalam proses produksi bahan pangan melalui kultur

jaringan (Priyono, 2000).

(21)

Faktor penentu di dalam media tumbuh adalah komposisi garam anorganik, zat

pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media. Komposisi garam anorganik telah

dikembangkan oleh para ahli. Ada yang tinggi konsentrasi garamnya, ada yang

sedang dan ada yang rendah (Gunawan, 1995, hlm. 42).

Pada media aseptik yang mengandung unsur hara makro dan mikro, Fe, vitamin, dan zat pengatur tumbuh yang diperlukan tanaman, sel atau jaringan tersebut akan membelah dan membentuk kalus atau organ tanaman secara langsung (tunas atau akar). Selanjutnya kalus ini akan distimulasi untuk membentuk tanaman sempurna (Haryanto, 1991 dalam Marlina, 2004).

Unsur makro yang dimaksud adalah : C, H, O, N, S, P, K, Ca, Mg dan unsur-unsur mikro adalah : Zn, Mn, Cn, Bo, Mo, Si, Al, Cl, Co dan Fe. Unsur-unsur tersebut diberikan bukan dalam bentuk Unsur-unsur murni tetapi dalam bentuk garam. Sebelum digunakan garam-garam tersebut harus dicampur dengan air suling (akuades) (Widarto, 1996, hlm. 127).

Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.

Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskan dengan

autoklaf

2.2.4 Lingkungan Fisik

Menurut Gunawan (1995, hlm. 47-48), lingkungan tumbuh yang dapat

mempengaruhi regenerasi tanaman meliputi:

1. Temperatur

Temperatur memegang peranan penting, terutama pada kultur kentang untuk

tujuan pembentukan umbi mikro. Pada kultur lain, umumnya temperatur berkisar

(22)

2. Penyinaran

Penyinaran ini meliputi, panjang penyinaran, intensitas penyinaran dan

kualitas sinar. Intensitas berkisar antara 600-1000 lux. Untuk pedoman praktis, rak

berukuran lebar 40-50 cm dan panjang 100 cm dapat menggunakan 2 buah lampu TL

20 watt dan dipasang pada ketinggian 40 cm di atas kultur.

3. Ukuran wadah kultur

Ukuran wadah yang digunakan mempengaruhi jumlah regeneran yang

terbentuk, terutama pada tipe regenerasi melalui pucuk adventif dan pucuk aksilar.

Jumlah regeneran lebih banyak pada wadah kultur yang lebih besar dalam periode

kultur yang sama.

Agar pengaruh lingkungan terkendali maka harus ditentukan cara pencahayaan

yang diperlukan, baik dari intensitas maupun periodisisasi pencahayaannya. Harus

diperhatikan dan dicatat fluktuasi perubahan temperatur.

2.2.5 Kultur Jaringan Pisang

Kultur jaringan adalah suatu usaha untuk menumbuhkan sel, jaringan, dan organ

tanaman pada medium buatan secara aseptik dalam lingkungan yang terkendali.

Pengadaan bibit dengan cara ini, sangat sesuai untuk usaha pisang dalam skala besar

(industri). Pada umumnya media yang digunakan dalam kultur jaringan pisang ini

adalah MS (Roedyarto, 1999 dan Gunawan, 1995).

Pisang umumnya diperbanyak dengan anakan. Anakan yang berdaun pedang

lebih disenangi petani, sebab pohon pisang yang berasal dari anakan demikian akan

menghasilkan tandan yang lebih besar pada panen pertamanya (tanaman induk).

Bonggol atau potongan bonggol juga digunakan sebagai bahan perbanyakan. Tetapi

jantung pisang juga merupakan eksplan yang menguntungkan karena mudah

mendapatkannya dan resiko kontaminasi lebih kecil karena bukan berasal dari tanah

dan tertutup rapat oleh kelopak bunga (Nisa dan Rodinah, 2005).

Kini telah dikembangkan kultur jaringan untuk perbanyakan secara cepat,

melalui ujung pucuk yang bebas-penyakit. Cara ini telah dilaksanakan dalam skala

(23)

Dalam perbanyakan bibit pisang secara kultur jaringan, ada empat tahap yang

harus dilalui yaitu, pertama, tahap inisiasi. Pada tahap ini eksplan membentuk kalus

dan bertunas banyak. Kedua, tahap pelipatan tunas (multiplikasi) yaitu tunas yang

sudah terbentuk dipisahkan kemudian ditumbuhkan dalam medium agar tumbuh tunas

baru (perbanyakan sub kultur). Ketiga, tahap perakaran tunas (regenerasi planlet) dan

tahap terakhir yaitu tahap aklimatisasi lingkungan (Sunarjono, 2002 dalam Wahyudi,

(24)

BAB 3

BAHAN DAN METODA

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2007 di Laboratorium

Kultur Jaringan Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Induk Dinas Pertanian Sumatera

Utara.

3.2. Bahan

Bahan yang digunakan sebagai eksplan adalah jantung pisang barangan (Musa

acuminata L.). Bahan ini diambil dari Desa Telun Kenas, kecamatan Deli Tua

Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

3.3. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL)

faktorial dengan 2 faktor, yaitu:

I. Faktor Konsentrasi BAP (B)

Terdiri 4 taraf yaitu

B0

B

= 0 mg/l

1

B

= 2.5 mg/l

2

B

= 3.75 mg/l

(25)

II. Faktor Konsentrasi NAA (N)

Terdiri 4 taraf yaitu

N0

Sehingga diperoleh 16 kombinasi perlakuan, yaitu:

= 1.5 mg/l

Dengan jumlah ulangan pada setiap perlakuan 5, maka jumlah botol

percobaan seluruhnya adalah 80 satuan percobaan. Lay out percobaan dapat dilihat

pada lampiran E.

3.4. Pelaksanaan Penelitian 3.4.1. Sterilisasi Alat

Sterilisasi dimaksudkan agar seluruh alat yang digunakan terbebas dari kontaminasi.

Semua alat-alat gelas dicuci dengan detergen sampai bersih dan dikeringkan. Cawan

petri diisi dengan kertas saring. Kemudian cawan petri tersebut, beserta dengan

pinset, pisau dan batang pengaduk dibungkus dengan kertas dan disterilisasi dengan

autoklaf dengan suhu 1210C dan dengan tekanan 15 psi selama 60 menit. Dalam

sterilisasi ini juga diikutsertakan akuades dalam erlenmeyer yang telah ditutup dengan

aluminium foil (Hartmann et al, 1983, hlm. 601).

3.4.2. Pembuatan Media

Media yang digunakan adalah media MS (Murashige dan Skoog) padat, dengan

komposisi seperti terlihat pada lampiran F. Media ini ditambah BAP dan NAA dengan

(26)

Untuk mempermudah pembuatan media maka bahan-bahan yang

dipergunakan dibuat dalam larutan stok. Larutan stok yang diperlukan adalah hara

mikro, vitamin dan zat pengatur tumbuh, sementara unsur hara makro, myo-inositol,

sukrosa dan agar dapat ditimbang langsung sesuai dengan kebutuhan.

Media yang digunakan sebanyak 5 l sehingga setiap hara makro, mikro,

myo-inositol, sukrosa, vitamin dan iron dibuat untuk media dengan ukuran 5 l. Larutan MS

dibuat penuh dengan cara memasukkan hara makro, myo-inositol dan sukrosa ke

dalam gelas ukur 1000 ml yang terlebih dahulu diisi dengan akuades. Ke dalam

akuades tersebut dimasukkan unsur hara mikro, iron, vitamin masing-masing 5 ml dari

larutan stok dan kemudian dipenuhkan menjadi 5 l. Larutan dibagi menjadi 16 bagian

sesuai dengan perlakuan. Setiap bagian diberi BAP dan NAA sesuai dengan

perlakuan. Derajat keasaman (pH) larutan diukur dengan menggunakan pH meter

dengan pH 5.8. Untuk mendapatkan pH yang diinginkan ditambahkan NaOH 0.1 N

atau HCl 0.1 N. Agar ditambahkan sebagai pemadat media dan dipanaskan hingga

mendidih.

Selanjutnya media dituang ke dalam botol kultur yang telah diberi label sesuai

perlakuan dan banyaknya ulangan, setiap botol ulangan berisi ± 40 ml media

kemudian ditutup dengan aluminium foil dan diikat dengan karet gelang. Media dalam

botol tersebut kemudian disterilisasi dengan autoklaf bersuhu 1210C dan bertekanan

15 psi selama 30 menit. Botol kultur ditempatkan di rak-rak kultur untuk menghindari

kontaminasi (Reinert and Bajaj, 1989, hlm. 184).

3.4.3. Sterilisasi Bahan

Bahan berupa bunga (jantung) pisang barangan dikupas (seperti pada terlihat pada

Gambar 3.1 Halaman 17), pelepah-pelepah dibuang sampai didapatkan jantung

dengan ukuran kecil kira-kira 10 cm (seperti pada Gambar 3.2 Halaman 17), jantung

dicuci dengan detergen. Eksplan diperkecil lagi dengan cara memotong eksplan

dengan pisau dibawah air mengalir. Eksplan direndam dalam larutan Dithane M-45 2

(27)

shaker. Eksplan lalu dicuci dengan air mengalir sampai bersih, disemprot dengan

alkohol 96% kira-kira 3 menit, dicuci kembali dibawah air mengalir selanjutnya

direndam kembali dalam larutan kloroks 20% ditambah 2 tetes Tween 80 dan

diguncang selama 20 menit. Ekspan dibilas dengan akuades steril sebanyak 3 kali,

direndam dalam larutan kloroks 10% dan diguncang selama 10 menit. Eksplan dicuci

dengan akuades steril sebanyak 3 kali. Selanjutnya eksplan diperkecil kembali dengan

pisau di atas cawan petri steril tanpa membuang bagian pedunculus dari jantung

tersebut sehingga didapatkan eksplan seperti pada Gambar 3.3 Halaman 18. Direndam

dalam larutan asam askorbat 2 g/l selama 30 menit. Eksplan dicuci dengan aquades

steril sampai bersih. Pekerjaan ini dilakukan di Laminar Air Flow Cabinet (LAFC)

(Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Induk, 2007).

Gambar 3.1 Jantung pisang barangan Gambar 3.2 Jantung pisang barangan yang telah dikupas

3.4.4. Penanaman Eksplan

Satu hari sebelum penanaman diupayakan supaya ruangan dalam keadaan bersih dan

telah dipel dengan cairan desinfektan dan lampu UV dalam LAFC juga dihidupkan.

Sebelum penanaman dipersiapkan terlebih dahulu alat-alat yang akan digunakan yaitu

pinset dan pisau steril yang direndam dalam alkohol 96%, bunsen dan alkohol 70%.

Eksplan (Gambar 3.4 Halaman 18) yang telah disterilkan ditanam satu per satu ke

dalam media dengan menggunakan pinset steril. Setiap botol media hanya diisi oleh

satu eksplan seperti pada Gambar 3.5 Halaman 18. Setiap kali mengambil eksplan

(28)

berisi eksplan kemudian ditutup dengan aluminium foil dan diikat dengan karet

gelang.

Gambar 3.3 Pemotongan eksplan Gambar 3.4 Eksplan siap ditanam

Gambar 3.5 Eksplan dalam media

3.4.5. Pemeliharaan

Botol-botol kultur yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak kultur sesuai

dengan lay out penelitian di dalam ruang kultur. Ruang pemeliharaan harus senantiasa

bersih dan disemprot dengan alkohol 70% setiap hari. Suhu dijaga berkisar 25o±2oC

dengan pengaturan AC. Pada rak kultur intensitas cahaya dengan penyinaran lampu

(29)

3.4.6. Variabel Pengamatan

Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah:

1. Tipe Pertumbuhan Kultur

Tipe pertumbuhan kultur menunjukkan tipe regenerasi pada eksplan.

2. Saat Inisiasi (HST)

Saat inisiasi kultur menunjukkan saat terbentuk tunas. Dihitung mulai awal

penanaman eksplan sampai terbentuk tonjolan tunas.

3. Jumlah Tunas (buah)

Jumlah tunas yang terbentuk dihitung dengan pengamatan visual di akhir

penelitian

4. Berat Basah kultur (g)

Berat kultur ditimbang dengan timbangan analitik pada akhir penelitian. Eksplan

dikeluarkan dari media, dibersihkan dari sisa-sisa media kemudian ditimbang.

5. Persentase kultur yang terkontaminasi (%)

Persentase kultur yang terkontaminasi dihitung setiap hari sejak awal hingga akhir

penelitian dengan rumus:

Jumlah eksplan yang terkontaminasi Persentase terkontaminasi = X 100%

Jumlah eksplan seluruh perlakuan

3.5. Analisis Data

Model analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan Analysis of

Variance (ANOVA). Kalau terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan

(30)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tipe Pertumbuhan Kultur

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh data tipe pertumbuhan kultur pada

seluruh perlakuan yang dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini:

Tabel 4.1 Tipe Pertumbuhan Kultur

Perlakuan Ulangan

Semua kombinasi perlakuan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan

(31)

dapat dilihat bahwa tunas biasanya muncul dari bagian pedunculus bunga yang

diawali dengan terbentuknya tonjolan tunas yang akan berkembang menjadi tunas.

Pada perlakuan B2 (3.75 mg/l BAP) merupakan perlakuan dengan jumlah kultur yang

membentuk tunas yang paling rendah. Katuuk (1998) dalam Sofia (2007) mengatakan

bahwa keseimbangan auksin dan sitokinin eksogen menentukan dalam pembentukan

jumlah tunas. Ada kalanya pembentukan tunas dapat berlangsung tanpa memberikan

salah satu dari kedua zat pengatur tumbuh ini. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian

yang menunjukkan bahwa perlakuan tanpa BAP dan NAA dapat menumbuhkan tunas.

Dari setiap perlakuan juga tidak ditemukan adanya pembentukan

kalus, hal ini mungkin disebabkan karena konsentrasi BAP yang tidak sesuai untuk

pertumbuhan kalus. Keseimbangan antara auksin endogen dalam eksplan dengan

sitokinin endogen, maupun sitokinin eksogen yang diberikan akan mempengaruhi

proses pertumbuhan eksplan itu sendiri. Konsentrasi BAP yang rendah berpengaruh

baik pada pembentukan tunas (Sofia, 2007). Dari pendapat ini dapat diduga bahwa

konsentrasi BAP kurang tinggi untuk dapat menginduksi kalus.

Tidak tumbuhnya kalus ini juga mungkin disebabkan karena eksplan yang

tidak dapat membentuk kalus karena tidak sesuai dengan media yang diberikan.

Menurut Santoso dan Nursandi (2004, hlm 63), bahwa teknik kultur jaringan

menekankan lingkungan media yang cocok agar eksplan dapat tumbuh dan

berkembang. Kebutuhan tiap tanaman berbeda pada hal komposisi dan jumlah yang

diperlukan. Eksplan yang tidak tumbuh dapat disebabkan karena tidak responsif

terhadap pemberian zat pengatur tumbuh pada media atau sterilisasi yang berlebihan.

4.2 Inisiasi kultur

Data pengamatan saat inisiasi kultur dapat dilihat pada Lampiran A Halaman 33 .

Dari daftar sidik ragam dapat dilihat bahwa pemberian BAP dan NAA serta

interaksinya memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap saat inisiasi kultur.

Hubungan rata-rata saat inisiasi kultur dengan konsentrasi BAP dapat dilihat pada

(32)

0

Gambar 4.1 Hubungan rata-rata saat inisiasi kultur HST (hari setelah tanam) dengan kombinasi BAP dan NAA, N0 0 mg/l NAA,

N1 0.5 mg/l NAA,N2 1 mg/l NAA, N3 1.5 mg/l NAA.

Saat inisiasi kultur terjadi pada minggu pertama dan minggu kedua setelah

tanam, saat inisiasi kultur tercepat adalah pada perlakuan 1 mg/l NAA tanpa

penambahan BAP (B0N2) dan berbeda nyata dengan semua perlakuan kecuali

perlakuan 2.5 mg/l BAP tanpa NAA (B1N0), saat inisiasi kultur yang paling lama

adalah pada perlakuan 1.5 mg/l NAA tanpa BAP (B0N3). Dari gambar di atas juga

dapat dilihat pada perlakuan N2 kecepatan saat inisiasi kultur semakin lambat seiring

dengan penambahan BAP sebaliknya pada perlakuan N3 kecepatan saat inisiasi kultur

semakin cepat seiring dengan penambahan BAP. Perbandingan konsentrasi BAP dan

NAA dalam media sangat menentukan saat inisiasi kultur dan auksin (NAA)

merupakan zat pengatur tumbuh yang dominan dalam menentukan saat inisiasi kultur.

Menurut Santoso dan Nursandi (2004), pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh dua

faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yaitu lingkungan

tumbuh sedangkan faktor internal yaitu kondisi hormonal sehingga keberhasilan

kegiatan kultur jaringan sebagai pengembangan budidaya biasa selain sangat

ditentukan dan tergantung pada media yang digunakan, eksplan, lingkungan lainnya

juga sangat bergantung pada zat pengatur tumbuh yang diberikan. Menurut Wareing

(33)

tumbuh untuk memacu proses pertumbuhan pada kultur in vitro akan berbeda untuk

setiap jenis tanaman dan eksplan yang digunakan.

Pada umur 10 hari rata-rata kultur telah tumbuh dan mulai membentuk calon

tunas dan pada umur 15 hari hampir semua kultur telah memiliki tunas. Menurut

Marlin (2005), hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi sitokinin

(BAP) ke dalam media kultur akan mempercepat pertumbuhan tunas. Menurut Suyadi

et al (2003), keberhasilan penggandaan tunas abaca melalui kultur meristem sangat

bergantung pada keseimbangan zat pengatur tumbuh golongan auksin dan sitokinin,

terutama keseimbangan antara BAP dan NAA. Sitokinin (BAP) adalah zat pengatur

tumbuh sintetik yang berperan antara lain dalam pembelahan sel dan morfogenesis

sedangkan NAA adalah zat pengatur tumbuh sintetik yang mampu mengatur berbagai

proses pertumbuhan dan pemanjangan sel. Pendapat ini tidak sesuai dengan hasil

penelitian yang didapatkan karena penambahan sitokinin (BAP) ke dalam media tidak

mempercepat pertumbuhan kultur.

4.3 Jumlah Tunas

Kultur yang membentuk tunas dapat dilihat pada Gambar 4.3. Tunas umumnya

pertama sekali muncul dari bagian eksplan yang langsung bersentuhan dengan media

sehingga tunas ini bertumbuh ke arah media dan seiring pertumbuhannya tunas ini

akan kembali tumbuh mengarah ke atas. Tunas juga muncul dari permukaan eksplan

yang hijau. Tunas biasanya muncul pada minggu kedua dan ketiga setelah penanaman

dari bagian eksplan yang tidak mengalami pencoklatan. Apabila tunas semakin

banyak, maka pencoklatan juga akan semakin berkurang. Eksplan yang mengalami

pencoklatan kuat umumnya tunas tidak berkembang, dan bila terbentuk tunas maka

akan memerlukan waktu yang cukup lama. Pencoklatan pada eksplan juga

menyebabkan pencoklatan pada media, ini dapat dilihat dari media yang berubah

warna dari putih menjadi coklat tua.

Menurut Santoso dan Nursandi (2004), pencoklatan adalah suatu karakter

(34)

pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Pencoklatan ini terjadi akibat adanya

pengaruh fisik atau biokimia (memar, pengupasan, pemotongan, serangan penyakit,

atau kondisi lain yang tidak normal). Pencoklatan kebanyakan dianggap sebagai

gangguan dalam kegiatan kultur jaringan, karena gejala pencoklatan umumnya

merupakan tanda-tanda kemunduran fisiologi eksplan dan tidak jarang berakhir pada

kematian eksplan.

Dalam penelitian ini cara yang digunakan untuk mencegah pencoklatan adalah

dengan merendam eksplan dalam larutan asam askorbat selama 30 menit, diguncang

dengan shaker, juga dengan cara pemotongan eksplan dilakukan di bawah air

mengalir. Pencoklatan ini terjadi mungkin karena kandungan senyawa fenol pada

eksplan cukup tinggi dan media yang tidak dilengkapi dengan zat yang dapat

mencegah pencoklatan. Nisa dan Rodinah (2005) menyatakan bahwa warna coklat

menandakan sintesis senyawa fenolik yang dipacu oleh cekaman atau gangguan pada

sel tanaman. Senyawa ini sangat toksik bagi tanaman dan dapat menghambat

pertumbuhan.

Data pengamatan jumlah tunas dapat dilihat pada Lampiran B Halaman 34,

daftar sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan BAP dan NAA serta interaksinya

dalam media memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap jumlah tunas.

Hubungan rata-rata jumlah tunas terhadap tingkat konsentrasi BAP dapat dilihat pada

Gambar 4.2.

Dari Gambar 4.2 dapat dilihat kultur yang paling banyak membentuk tunas

adalah kultur dengan perlakuan 2.5 mg BAP dan 0.5 mg/l NAA (B1N1) dan berbeda

nyata dibandingkan dengan semua perlakuan, perlakuan ini juga merupakan perlakuan

dengan waktu inisiasi yang termasuk cepat dan berat basah kultur yang cukup tinggi.

Sedangkan kultur yang paling sedikit membentuk tunas adalah kultur dengan

perlakuan kontrol (B0N0).

Menurut Hendaryono dan Wijayani (1994), sitokinin terbukti dapat memacu

diferensiasi tunas. Dari hasil suatu percobaan terbukti bahwa 76% spesies tanaman

(35)

0

Gambar 4.2 Hubungan rata-rata jumlah tunas (buah) dengan kombinasi BAP dan NAA. N0 0 mg/l NAA, N1 0.5 mg/l NAA,N2

1 mg/l NAA, N

3 1.5 mg/l NAA.

Pada gambar dapat juga dilihat penambahan NAA tanpa pemberian BAP

semakin meningkatkan jumlah tunas tetapi dengan 2.5 mg/l BAP jumlah tunas

cenderung menurun. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi BAP justru

menurunkan atau menghambat pembentukan tunas. Selanjutnya dapat dilihat pada

penambahan 3.75 dan 5 mg/l BAP jumlah tunas menunjukkan penurunan. Hal ini

mungkin disebabkan karena konsentrasi BAP yang terlalu tinggi sehingga dapat

menghambat pertumbuhan tunas. Menurut Suyadi et al (2003), konsentrasi NAA yang

sama peningkatan konsentrasi BAP akan menurunkan jumlah tunas yang dihasilkan,

hal ini diduga karena BAP mampu menstimulir pembentukan NAA endogen sehingga

konsentrasi NAA endogen dan eksogen berada pada kondisi di atas optimum. Menurut

Avivi dan Dewanti (2005) terbentuknya tunas pada eksplan kotiledon dipercepat

dengan peningkatan konsentrasi BAP sampai 0.5 ppm. Peningkatan konsentrasi BAP

selanjutnya menghambat laju pembentukan tunas. Hal ini juga sesuai dengan pendapat

Marlin (2005) yang menyatakan bahwa tingginya persentase pembentukan tunas pada

konsentrasi BAP yang rendah dimungkinkan karena secara fisiologis kandungan BAP

endogen dari eksplan tersebut sudah mencukupi untuk pembentukan tunas. Kultur

(36)

Tunas

Media

Gambar 4.3 Pembentukan tunas dari kultur bunga pisang barangan (Musa acuminata L.) pada perlakuan B3N2

4.4 Berat Basah Kultur

Hampir setiap botol kultur pada semua ulangan yang tidak terkontaminasi mengalami

pertumbuhan. Pada umumnya eksplan akan tumbuh pada minggu kedua setelah

penanaman. Eksplan akan berkembang menjadi struktur yang basah, dan eksplan

umumnya mengalami penambahan ukuran baik dari segi panjang eksplan maupun

berat eksplan.

Data pengamatan berat basah kultur pada Lampiran C Halaman 35 dapat

dilihat daftar sidik ragam yang menunjukkan bahwa perlakuan dengan penambahan

BAP, NAA dan interaksinya memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap

berat basah kultur. Hubungan rata-rata berat basah kultur terhadap tingkat konsentrasi

BAP dan NAA dapat dilihat pada Gambar 4.4:

Dari gambar 4.4 dapat dilihat bahwa kombinasi 5 mg/l BAP dengan 0.5 mg/l

(37)

dengan semua perlakuan kecuali perlakuan 2.5 mg/l BAP tanpa NAA(B1N0) dan 2.5

Gambar 4.4 Hubungan rata-rata berat basah kultur dengan kombinasi BAP dan NAA. N0 0 mg/l NAA, N1 0.5 mg/l NAA,N2

1 mg/l NAA, N

3 1.5 mg/l NAA.

Melihat kecenderungan pada Gambar 4.4, penurunan berat basah kultur terjadi

pada setiap penambahan konsentrasi NAA tetapi berat basah kultur menunjukkan

kecenderungan meningkat seiring dengan penambahan konsentrasi BAP. Hal ini

mungkin terjadi karena konsentrasi BAP yang tidak seimbang dengan konsentrasi

NAA. Menurut Wattimena (1992) dalam Purnamaningsih (2006), bahwa pertumbuhan

eksplan tergantung kepada keseimbangan auksin dengan sitokinin di dalam media dan

interaksi antara zat pengatur tumbuh eksogen yang diserap dari media tumbuh. Auksin

mendorong perpanjangan sel (Heddy, 1996) dan sitokinin berperan dalam sitokinesis

(Wattimena, 1988).

4.5. Persentase Kultur Terkontaminasi (%)

Data pengamatan persentase kultur yang terkontaminasi dapat dilihat pada Lampiran

D Halaman 36. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa persentase kultur yang

terkontaminasi adalah sebesar 20% yaitu sebanyak 16 botol dari 80 botol kultur.

(38)

mungkin disebabkan karena sterilisasi eksplan yang kurang baik dan botol-botol

kultur yang kurang steril. Menurut Gunawan (1995) kontaminasi dapat berasal dari

beberapa penyebab, yaitu:

a. sterilisasi media yang kurang baik

b. lingkungan kerja dan pelaksanaan

c. eksplan

d. serangga atau hewan kecil lain yang berhasil masuk ke dalam botol kultur

setelah diletakkan di ruang kultur.

Kultur jaringan memerlukan kecermatan tinggi dan keadaaan serba suci

hama, baik tempat kerja, alat-alat dan bahan, serta tangan orang yang mengerjakannya

harus steril (Rahardja, 1988). Bila dalam mengerjakan pembuatan media atau

penanaman tidak steril maka dapat cepat mendatangkan jamur atau bakteri terhadap

media yang akan mengggangu perkembangan eksplan. Laboratorium kultur jaringan

harus selalu mengutamakan dan memperhatikan tingkat sterilitas dari ruang-ruangnya,

sehingga terbebas dari kontaminasi mikrobia yang tidak dikehendaki (Hendaryono

dan Wijayani, 1994).

Media tumbuh juga sangat menguntungkan bagi pertumbuhan cendawan dan

bakteri. Bila diberi kesempatan, organisme mikro tersebut akan tumbuh dengan cepat

dan menutupi permukaan media dan eksplan yang ditanam. Disamping itu, organisme

mikro menyerang eksplan melalui luka-luka akibat pemotongan dan penanganan

waktu sterilisasi sehingga menyebabkan kematian eksplan. Nisa dan Rodinah (2005)

menyatakan bahwa kontaminasi oleh jamur terlihat jelas pada media. Media dan

eksplan ditutupi oleh spora berbentuk kapas berwarna putih, sedangkan kontaminasi

oleh bakteri, pada eksplan terlihat lendir berwarna kuning dan sebagian melekat pada

media membentuk gumpalan basah.

Apabila tanaman kultur di dalam botol sudah terkena kontaminan (dijangkiti

bakteri dan jamur) maka botol itu harus segera dikeluarkan dari ruang inkubasi.

Setelah itu, botol dicuci bersih agar bibit tanaman yang sehat dalam botol lainnya

tidak terkontaminasi sebab spora jamur yang sudah berkembang smudah sekali

(39)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa:

a. Semua perlakuan menumbuhkan tunas tetapi tidak menumbuhkan kalus, akar

atau planlet.

b. Kombinasi perlakuan BAP, NAA dan interaksinya tidak berpengaruh nyata

terhadap berat basah kultur, saat inisiasi kultur dan jumlah tunas.

c. Konsentrasi 1.5 mg/l NAA tanpa BAP (B0N3

d. Perlakuan B

) adalah saat inisiasi kultur yang

paling cepat.

1N1 (2.5 mg/l BAP dan 0.5 mg/l NAA) memberikan pertumbuhan

jumlah tunas tertinggi dengan waktu inisiasi yang relatif cepat serta berat

basah kultur yang cukup tinggi.

5.2 Saran

a Perlu dilakukan lagi subkultur dengan media yang mengandung zat

pengatur tumbuh yang dapat menginduksi planlet dan akar.

b. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui zat pengatur

tumbuh yang dapat menginduksi pertumbuhan kalus dan planlet pada eksplan

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, J. 1982. Dasar-Dasar Pengatahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Bandung. Penerbit Angkasa

Anonim. Kultur Jaringan : Alternatif Pengadaan Bibit Unggul

Avivi, S. dan Dewanti, P. 2005. Teknologi Produksi Bibit Melon (Cucumis melo L.) dengan Teknik In-vitro. Jurnal Ilmu Dasar 6(1): hlm. 34.

Gunawan, L.W.1995. Teknik Kultur In Vitro Dalam Hortikultura. Bogor. Penebar Swadaya

Hartmann, H.T. & Wijayani. A. 1983. Plant Propagation Principles and Practis. 4th edition. Pretince Mall, inc. Englewood Cliffs. New Jersey.

Heddy, S. 1996. Hormon Tumbuhan. Jakarta. PT Grafindo Persada.

Hendaryono, S.P. dan Wijayani, A. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta. Penerbit Kanisius.

Katuuk, J.R.P.1989. Teknik Kultur Jaringan Dalam Mikropropagasi Tanaman. Jakarta. Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.

Marlin. 2005. Regenerasi In Vitro Plantlet Jahe Bebas Penyakit Layu Bakteri Pada Beberapa Taraf Konsentrasi BAP dan NAA. Jurnal Ilmu Pertanian

Indonesia. 7: hlm. 9.

Marlina, N.A. 2005. Teknik Perbanyakan Anthurium Dengan Kultur Jaringan.

Mattjik, N.A. 2005. Peran Kultur Jaringan Dalam Perbaikan Tanaman. Bogor. Fakultas Pertanian IPB.

Muslim, C. 2003. Bahan Buku Ajar Biologi Molekuler Sel. Bengkulu. Jurusan Biologi Universitas Bengkulu.

(41)

Nasution, A. 2003. Studi Pembentukan Tunas Pisang Barangan Merah (Musa

acuminata L.) Dalam Media MS Dengan Berbagai Konsentrasi Kinetin dan Arang Aktif. Medan Skripsi Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas

Pertanian USU.

Nisa, C. dan Rodinah. 2005. Kultur Jaringan Beberapa Kultivar Buah Pisang (Musa

Paradisiaca L.) Dengan Pemberian Campuran NAA dan Kinetin. Bioscientiae 2 (2): hlm. 24,31.

Nugroho, A. dan Sugito, H. 2000. Pedoman Pelaksanaan Teknik Kultur Jaringan. Jakarta. Penebar Swadaya.

Nuswamarhaeni, S., Prihatini, D., Pohan, E.P. 1999. Mengenal Buah Unggul

Indonesia. Bogor. Penebar Swadaya.

Priyono, Suhandi, D., Matsaleh. 2002. Journal Hortikultura. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian Hortikultura dan Aneka Tanaman.

Purnamaningsih, R. 2006. Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi Melalui Kultur In Vitro. Jurnal Agrobisnis 2 (2): hlm 77.

Radji, M. 2005. Peranan Bioteknologi dan Mikroba Endofit dalam Pengembangan Obat Herbal. Majalah Ilmu Kefarmasian II(3): hlm 115.

Rahardja, P.C. 1988. Kultur Jaringan. Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Jakarta. Penebar Swadaya.

Reinert, J. & Bajaj, Y.P.S. 1989. Aplied and Fundamental Aspects Of Plant Cell.

Tissue and Organ Culture. New Delhi : Narosa Publishing House

Roedyarto. 1999. Budidaya Pisang Ambon. Surabaya. Trubus Agrisarana.

Salisbury, F.B. dan Ross, C.W. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Jilid Tiga. Edisi keempat. Bandung. Penerbit ITB.

Santoso, U. dan Nursandi, F. 2004. Kultur Jaringan Tanaman. Malang. UMM Press.

Saptarini, N., Widayanti., Sari, L., Sarwono. 2001. Membuat Tanaman Cepat

Berbuah. Edisi Revisi. Bogor. Penebar Swadaya.

Satuhu, S. dan Supriyadi, A. 1999. Pisang: Budidaya, Pengolahan, Dan Prospek

Pasar. Bogor. Penebar Swadaya.

Sofia, D. 2007. Pengaruh Berbagai Konsentrasi BAP dan Cycocel Terhadap Pertumbuhan kacang kedelai. Medan. USU. Repository. Hlm.16.

(42)

Sudarnadi, H. 1996. Tumbuhan Monokotil. Bogor. Penebar Swadaya.

Sunarjono, H. 2002. Budidaya Pisang Dengan Bibit Kultur Jaringan. Bogor. Penebar Swadaya.

Suyadi, A., Purwantoro, A., Trisnawati, S. 2003. Penggandaan Tunas Abaca Melalui Kultur Meristem. Ilmu Pertanian 10(2): hlm 14.

UPT BBI. 2007. Perbanyakan Bibit Pisang Secara Kultur Jaringan. Gedung Johor. Sumatera Utara. Dinas Pertanian.

Wahyudi, D. 2004. Pembentukan Tunas Pada Eksplan Jantung Pisang Barangan

Merah (Musa acuminata L.) Dalam Median MS Dengan Berbagai Konsentrasi BAP dan NAA. Medan Skripsi Jurusan Budidaya Pertanian.

Fakultas Pertanian USU.

Warda dan Hutagalung, L. 1994. Pisang Barangan Kultivar Sulawesi Selatan.

Informasi Hortikultura 2(1).

Wattimena, G.A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Bogor. Pusat Antar Universitas. IPB

Widarto, L. 1996. Perbanyakan Tanaman Dengan Biji, Stek, Cangkok, Sambung,

Okulasi dan Kultur Jaringan. Yogyakarta. Penerbit Kanisius.

Yusnita. 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Jakarta. Agromedia Pustaka.

(43)

Lampiran A: Data pengamatan Saat Inisiasi Kultur

Data Pengamatan saat inisasi kultur ( Hari Setelah Tanam) sebelum ditranformasi

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 5

Data Pengamatan saat inisiasi kultur setelah di transformasi ke dalam

(

Y+0.5

)

0.5

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 5

Daftar sidik ragam saat inisiasi kultur

Keterangan

(44)

Lampiran B: Data Pengamatan Kultur yang membentuk tunas

Data Pengamatan Kultur yang membentuk tunas (buah) sebelum ditranformasi.

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 5

Data Pengamatan Kultur yang membentuk tunas (buah) setelah ditranformasi ke dalam (y + 0.5)

Perlakuan

0.5

Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 5

Daftar sidik ragam jumlah tunas

Keterangan

(45)

Lampiran C: Data pengamatan berat basah kultur Data Pengamatan berat basah kultur (g) sebelum ditranformasi

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 5

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 5

Daftar sidik ragam pengamatan berat basah kultur

Keterangan

(46)

Lampiran D: Data Pengamatan kultur yang terkontaminasi (%)

(47)

Perlakuan Ulangan

1 2 3 4 5

B0N 0 (1) B1N 2 B3N 2 B2N 2 B3N 0 B1N 1

B0N 1 (2) B0N 0 B0N 1 B3N 2 B1N 3 B2N 1

B0N 2 (3) B1N 0 B2N 3 B1N 3 B0N 1 B2N 3

B0N 3 (4) B3N 1 B0N 3 B2N 3 B2N 2 B2N 2

B1N 0 (5) B2N 3 B2N 2 B1N 2 B2N 1 B1N 2

B1N 1 (6) B3N 2 B3N 1 B0N 3 B3N 3 B3N 3

B1N 2 (7) B0N 1 B0N 0 B3N 1 B2N 3 B0N 0

B1N 3 (8) B2N 1 B3N 3 B0N 2 B2N 0 B0N 2

B2N 0 (9) B1N 1 B1N 2 B3N 3 B1N 1 B3N 1

B2N 1 (10) B2N 0 B2N 1 B0N 1 B3N 1 B3N 1

B2N 2 (11) B3N 0 B1N 0 B0N 0 B1N 0 B1N 3

B2N 3 (12) B1N 3 B0N 3 B2N 1 B1N 2 B3N 2

B3N 0 (13) B2N 2 B0N 2 B1N 1 B3N 0 B1N 0

B3N 1 (14) B3N 3 B1N 3 B3N 0 B0N 2 B0N 1

B3N 2 (15) B0N 3 B2N 0 B2N 0 B3N 2 B3N 0

B3N 3 (16) B0N 2 B3N 0 B1N 0 B0N 0 B1N 3

(48)

Gambar

Gambar 3.1 Jantung pisang barangan
Gambar 3.3 Pemotongan eksplan
Tabel 4.1 Tipe Pertumbuhan Kultur
Gambar 4.1 Hubungan rata-rata saat inisiasi kultur HST (hari setelah tanam) dengan kombinasi BAP dan NAA, N0     0 mg/l NAA, N      0.5 mg/l NAA,N      1 mg/l NAA, N       1.5 mg/l NAA
+4

Referensi

Dokumen terkait

terhadap Terjadi interaksi antara zat pengatur tumbuh BAP dan NAA terhadap presentase warna eksplan coklat umur 20 dan 30 hari setelah tanam, persentase warna eksplan putih umur

Penelitian induksi tunas pisang barangan ( Musa acuminata L.) dengan pemberian NAA dan BAP berdasarkan pada sumber eksplan yang telah dilaksanakan di Laboratorium

Pada hakekatnya pertumbuhan dan morfogenesis tanaman secara in-vitro dikendalikan oleh keseimbangan dan interaksi dari Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang berada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP terhadap jumlah daun, jumlah tunas, dan jumlah akar pisang raja bulu yang di

Pengaruh pertumbuhan eksplan pisang barangan ( Musa acuminata L.) terhadap berbagai konsentrasi BAP menunjukkan pengaruh nyata pada parameter tinggi tunas dengan

Pemberian berbagai unsur hara (makro-mikro), vitamin, protein dan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang diberikan dengan dosis anjuran maupun dosis triple pada system budidaya

Penelitian induksi tunas pisang barangan ( Musa acuminata L.) dengan pemberian NAA dan BAP berdasarkan pada sumber eksplan yang telah dilaksanakan di Laboratorium

Menurut Katuk 2000 dalam Tiwery 2014, dalam air kelapa terdapat zat pengatur tumbuh yang mengandung hormon auksin dan sitokinin yang membantu mengaktifkan sel-sel pada tanaman dengan