“ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA KREDIT, NON PERFORMING LOAN (NPL),
RETURN ON ASSET (ROA) DAN NILAI TUKAR RUPIAH DENGAN US DOLLAR
TERHADAP PENYALURAN KREDIT MODAL KERJA BANK PERSERO”
(Studi kasus pada Bank Persero periode 2007-2012)
Disusun Oleh:
NUR PADILAH
NIM : 108081000143
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BINIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i
“ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA KREDIT, NON PERFORMING
LOAN (NPL), RETURN ON ASSET (ROA) DAN NILAI TUKAR RUPIAH DENGAN US DOLLAR TERHADAP PENYALURAN KREDIT MODAL
KERJA BANK PERSERO”
(Bank Persero periode 2007-2012)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh NUR PADILAH
NIM : 108081000143
Di bawah Bimbingan
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. Abdul Hamid, MS Adhitya Ginanjar, SE, M.Si
ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF
Hari ini Jumat, 11Januari 2013 telah dilaksanakan Ujian Komprehensif atas mahasiswa:
Nama : Nur Padilah Nim : 108081000143 Jurusan : Manajemen
Skripsi : Analisis Pengaruh Suku Bunga Kredit, Non Performing Loan Return On Asset dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar tehadap Penyaluran Kredit Modal Kerja Bank Persero (Bank Persero periode 2007-2012)
Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang bersangkutan selama proses Ujian Komprehensif, maka diputuskan bahwa mahasiswa tersebut diatas dinyatakan lulus dan diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahap Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 11Januari 2013
1. Prof. Dr. Ahmad Rodoni (_____________________)
NIP. 19690203 2001121 1 003 Ketua
2. Cut Erika Ananda Fatimah , SE,MBA (_____________________)
NIDN. 031807403 Sekretaris
3. Murdiyah Hayati, S.Kom, MM (_____________________)
iii
KLEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
Hari ini Selasa, 17 September 2013 telah dilaksanakan Ujian Skripsi atas mahasiswa:
Nama : Nur Padilah Nim : 108081000143 Jurusan : Manajemen
Skripsi : Analisis Pengaruh Suku Bunga Kredit, Non Performing Loan (NPL), Return On Asset (ROA) dan Nilai Tukar Rupiah Dengan US Dollar Terhadap Kredit Modal Kerja Bank Persero (Bank Persero periode 2007-2012)
Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang bersangkutan selama proses Ujian Skripsi, maka diputuskan bahwa mahasiswa tersebut diatas dinyatakan lulus dan skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 17 September 2013
1. Herni Ali HT, SE., MM (_____________________)
NIDN. 0422125902 Ketua
2. Ahmad Dumyathi Bashori, Dr., (_____________________) NIP. 19700106 2003 12 0 001 Sekretaris
3. Ela Patriana, MM, AAAIJ (_____________________) NIP. 19690528 200801 2 010 Penguji Ahli
4. Prof. Dr. Abdul Hamid, MS (_____________________) NIP. 19570617198503 1 002 Pembimbing I
iv
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Nur Padilah
No.Induk Mahasiswa : 108081000143
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
Jurusan : Manajemen
Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya:
1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan mempertanggungjawabkan.
2. Tidak melakukan plagiat terhadap naskah karya orang lain.
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli atau tanpa ijin pemilih karya.
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas karya ini.
Jikalau di kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah melalui pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan, ternyata memang ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar peryataan di atas, maka saya siap untuk dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.
Ciputat, 23 Agustus 2012 Yang Menyatakan,
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data Pribadi
Nama : Nur Padilah
TTL : Tangerang, 20 Juni 1990
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat :Jl. Jurang Mangu Barat Kp. Jurang Mangu Rt 001/01
No.45 Kelurahan Jurang Mangu Barat, Kecamatan
Pondok Aren, Tangerang Selatan 15223
No. HP : 083873411449
e-mail : [email protected]
Pendidikan
2008-2013 : Program Sarjana (S-1) Manajemen Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta.
2005-2008 : SMAN 1 Pondok Aren , Tangerang
2002-2005 : SMPN 2 Pondok Aren, Tangerang
1996-2002 : SDN 1 Jurang Mangu Timur ,Tangerang
Pengalaman Bekerja
Tim Entry Data di MTKI (Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia) tahun 2012
Crew outlet Klenger Burger tahun 2011
Magang/KKN selama 1 bulan di Koperasi UbasyadaCiputat tahun 2011
Keahlian
vi ABSTRACT
Banking is a very important part in the economy; one of them is as intermediary that is to job collect funds from the public and distribute it back in the form of loans. This study tried to determine the factors that affect the distribution of funding to the Bank Persero. The purpose of this research is to determine the extent of the relationship of credit interest rate, non performing loan, return on asset and a rate of exchange rupiah to US dollar on the size of conventional banking financing.
The sample used in this study is the PT Bank PerseroTbk. from 2007 to 2012 by using purposive sampling. Types of data used is secondary data obtained from published financial statements and downloaded via official website of Indonesian Bank. The analysis method used is multiple regression with a significance level of 5%.
The results of the analysis indicated that partially,credit interest rate, non performing loan, return on asset and a rate of exchange rupiah to US dollar are significant on the capital work credit. This is evidenced by LnSBK 0.014 sig-LnNPL 0.000 sig-LnROA 0.000 and sig-LnKURS 0.000 which is smaller than the 5% significance. Simultaneously variables ofcredit interest rate, non performing loan, return on asset and a rate of exchange rupiah to US dollar influence the capital work credit. This is evidenced by sig-F 0.000 which is smaller than the 5% significance. Predictive ability of the four variables of the financing is 91.5%, as indicated by the amount of the adjusted R-square, while the remaining 8.5% is influenced by other factors like third-party fund, inflation, capital adequacy ratio and export that are not included in the study variables.
vii
ABSTRAK
Perbankan merupakan bagian yang sangat penting dalam perekonomian, salah satunya sebagai lembaga intermediasi yang tugasnya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit. Penelitian ini mencoba mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyaluran kredit modal kerja pada Bank Persero. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana hubungan suku bunga kredit, non performing loan, return on asset dan nilai tukar rupiah terhadap US dollar terhadap besarnya penyaluran kredit modal kerja pada bank umum konvensional.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah PT. Bank Persero Tbk. periode 2007-2012 dengan menggunakan metode purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan yang dipublikasikan dan diunduh melalui situs resmi Bank Indonesia. Metode analisis yang digunakan adalah Regresi Berganda dengan tingkat signifikansi 5%.
Dari hasil analisis menunjukkan bahwa secara parsial suku bunga kredit, non performing loan, return on asset dan nilai tukar rupiah terhadap US dollar berpengaruh signifikan terhadap kredit modal kerja. Hal ini dibuktikan dengan nilai sig-LnSBK 0,014 sig-LnNPL 0,000 sig-LnROA 0,000 dan sig-LnKURS 0,000 yang lebih kecil dari signifikansi 5%. Secara simultan variabel suku bunga kredit, non performing loan, return on asset dan nilai tukar rupiah terhadap US dollar berpengaruh signifikan terhadap kredit modal kerja. Hal ini dibuktikan dengan nilai sig-F 0,000 yang lebih kecil dari signifikansi 5%. Kemampuan prediksi dari keempat variabel tersebut terhadap kredit modal kerja adalah 91,5% sebagaimana ditunjukkan oleh besarnya adjusted R square, sedangkan sisanya 8,5% dipengaruhi oleh faktor lain seperti dana pihak ketiga, inflasi, capital adequacy ratio dan ekspor yang tidak dimasukkan ke dalam variabel penelitian ini.
Kata kunci : Suku Bunga Kredit, Non Performing Loan, Return On Asset,
viii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal yang berjudul “Analisis Pengaruh Suku Bunga Kredit, Non Performing Loan Return On Asset dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar tehadap Penyaluran Kredit Modal Kerja Bank
Persero (PT. Bank Persero, Tbk 2007-2012). Adapun skripsi ini diajukan guna
memenuhi syarat untuk meraih gelar Sarjana.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusun skripsi ini sehingga skripsi ini dapat diselesaikan
dengan tepat waktu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Semoga skripsi ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari
sempurna. Hal ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan pengetahuan yang
penulis miliki. Untuk itu, kiranya pembaca dapat memaklumi atas kelemahan dan
kekurangan yang ditemui dalam skripsi ini.
Penulis juga menyadari bahwa sejak awal penyusunan hingga
terselesaikannya skripsi ini banyak pihak yang telah membantu dan memberi
dukungan baik moril dan materil. Untuk itu, tak lupa pada kesempatan ini, secara
khusus, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua Orang Tua Penulis, Ayahanda tercinta Muhtar dan Ibunda tercinta
Apsah, yang senantiasa memberi banyak bantuan baik moril dan materil
hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga Allah SWT
memberikan kesehatan dan kebahagiaan serta kemuliaan kepada mereka dan
ix
2. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS, selaku dosen pembimbing I dan Bapak
Adhitya Ginanjar, SE., M.Si selaku dosen pembimbing II, yang telah
meluangkan waktunya dengan penuh kesabaran untuk memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam menyelesaikan skripsi.
3. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan FEB, Ibu Leis Suzanawaty,
SE,M.Si selaku Wadek I FEB, Ibu Yulianti, SE., M.Si selaku Wadek II FEB,
dan Bapak Herni Ali HT, SE., MM selaku Wadek III FEB, yang telah
memberikan jalan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Dr. Ahmad Dumyathi Bashori, selaku Ketua Jurusan Manajemen, Ibu
Titi Dewi Warninda, SE, M.Si, selaku Sekertaris Jurusan Manajemen dan
Bapak Dr. Suhendra, S.Ag.,MM selaku Dosen Pembimbing Akademik
penulis, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis
untuk berkarya.
5. Segenap dosen pengajar yang telah mengajarkan ilmu, semoga amal baktinya
dijadikan amalan sholeh. Aamiin.
6. Staf tata usaha FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya Ibu Siska,
Pak Ismet, Ibu Umi, Mas Heri, yang telah membantu penulis dalam mengurus
kebutuhan administrasi dan lain-lain.
7. Kakak-kakak ku tercinta Hasbi dan Haris yang selalu memberikan motivasi
kepada penulis. Semoga kalian bisa mencapai cita-cita yang diinginkan.
8. Keluarga besar penulis yang senantiasa menanti kelulusan saya, terimakasih
atas doa, semangat dan motivasi yang selalu diberikan. Sehingga skripsi ini
dapat terselesaikan dengan baik.
9. Sahabatku Arie Fajarwati, Hasan Arrafi, Ali Fasihi, Suratman, Arief Rahman
Hakim, Hendi Setiawan, Hafidz Setia Kurniawan, Qonitia Lutfiah, Permana
Sukma, Nurdin Rohendy, Paraditya Unggul Yudhanto yang selalu
memberikan semangat dan motivasi kepada penulis, serta selalu ada dalam
keadaan susah dan senang. Semoga persahabatan kita tidaka akan pernah ada
akhir. Aamiin.
10. Teman-teman seperjuangan Manajemen D 2008,Arya, Bojes, Helmi, Ervan,
x
Rayhan, Inggrit, Dian, Levy, Vita. Tanpa mengurangi rasa persahabatan
penulis tidak bisa menyebutkan satu per satu, semoga ukhuwah kita tetap
terjaga.
11. Teman-teman Manajemen Perbankan A 2008, Agus, Habibi, Sadad, Lutfi,
Hendra, Roby, Icham dan lainnya. Tanpa mengurangi rasa persahabatan
penulis tidak bisa menyebutkan satu per satu, semoga ukhuwah kita tetap
terjaga.
12. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini, semoga
mendapatkan sebaik-baiknya balasan dari Allah SWT.
Atas segala kontribusinya, penulis mendoakan semoga mendapat balasan
dari Allah SWT dengan sebaik-baiknya balasan.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dari skripsi ini, akan tetapi
semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca.
Jakarta, 23 Agustus 2013
xi
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... i
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v
ABSTRACT ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Perumusan Masalah ... 24
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 25
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 27
A. Landasan Teori ... 27
1. Pengertian Bank ... 27
2. Kegiatan Bank ... 27
3. Jenis dan Sumber Dana Bank ... 29
4. Kredit Perbankan ... 31
5. Suku Bunga ... 43
6. Non Performing Loan (NPL) ... 50
xii
8. Nilai Tukar ... 53
B. Keterkaitan antar Variabel ... 55
C. Penelitian Terdahulu ... 60
D. Kerangka Pemikiran ... 65
E. Hipotesis ... 67
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 70
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 70
B. Metode Penentuan Sampel ... 70
C. Metode Pengumpulan Data ... 71
D. Metode Analisis ... 71
E. Definisi Operasional Variabel ... 80
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 84
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian... 84
1. Sejarah Perkembangan Perbankan di Indonesia ... 84
2. Bank Persero di Indonesia ... 85
B. Analisis dan Pembahasan ... 96
1. Analisis Deskriptif... 96
2. Pengujian Asumsi Klasik ... 98
3. Pengujian Hipotesis ... 107
BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 120
A. Kesimpulan ... 120
B. Implikasi ... 121
DAFTAR PUSTAKA ... 124
xiii
DAFTAR TABEL
No Keterangan Halaman
1.1 Perkembangan Kredit Modal Kerja ... 5
1.2 Suku Bunga Kredit Modal Kerja ... 11
1.3 Non Performing Loan ... 12
1.4 Return On Asset ... 15
1.5 Nilai Tukar Rupiah dengan US Dollar ... 18
2.1 Hasil penelitian terdahulu ... 60
4.1 Hasil Statistik Deskriptif ... 96
4.2 Hasil uji normalitas dengan kolmogorov-smirnov ... 100
4.3 Hasil uji multikolineritas dengan nilai Tolerance dan VIF ... 101
4.4 Hasiluji heteroskedastisitas ... 103
4.5 Hasil Uji Durbin Watson ... 104
4.6 Pengobatan uji Durbin Watson ... 105
4.7 Pengobatan uji Durbin Watson ... 105
4.8 Pengobatan uji Durbin Watson ... 106
4.9 Pengobatan uji Durbin Watson ... 106
4.10 Pengobatan uji Durbin Watson ... 107
4.11 Hasil uji t ... 108
4.12 Hasil uji F ... 116
xiv
DAFTAR GAMBAR
No Keterangan Halaman
1.1 Perkembangan Jumlah Kredit Berdasakan Kelompok Bank ... 3
2.1 Kerangka pemikiran ... 64
4.1 Hasil uji normalitas dengan histogram ... 98
4.2 Hasil uji normalitas dengan grafik P-Plot ... 99
xv
DAFTAR LAMPIRAN
No Keterangan Halaman
1. Data-data variabel penelitian dari tahun 2007-2012 ... 128
2. Deskriptif Statistik ... 130
3. Model Regresi, Anova, dan Koefisien ... 131
4. Hasil Uji Normalitas Data ... 132
5. Hasil Uji Multikolinearitas dan autokorelasi ... 133
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Penelitian
Dunia perbankan merupakan salah satu institusi yang sangat berperan
dalam bidang perekonomian suatu Negara (khususnya bidang pembiayaan
perekonomian). Hal tersebut berdasarkan fungsi utama perbankan yang
merupakan lembaga intermediasi antara pihak yang kelebihan dana (surplus of
fund) dengan pihak yang membutuhkan dana (lack of fund), dimana masyarakat yang kelebihan dana dapat menyalurkan dananya untuk masyarakat
lain yang membutuhkan dana, baik untuk proses produksi maupun konsumsi
agar dapat tercipta pemerataan dan pembangunan nasional(Nursaniah, 2012:1).
Pertumbuhan jumlah bank yang cepat yang dimulai dari tahun 1980-an
ternyata membawa perekonomian Indonesia kesuatu tahapan baru dalam
perkembangannya. Peran sektor perbankan dalam memobilisasikan dana
masyarakat untuk berbagai tujuan telah mengalami peningkatan yang sangat
besar. Sektor perbankan, yang sebelumnya tidak lebih hanya sebagai fasilitator
kegiatan pemerintah dan beberapa perusahaan, telah berubah menjadi sektor
yang berpengaruh terhadap perekonomian. (Sigit Triandaru dan Totok Budi
Santoso:2009:17)
Krisis moneter yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997 telah
memorak-porandakan bisnis perbankan di Indonesia. Ketika itu banyak bank
yang mengandalkan bisnisnya dibidang perkreditan telah hancur luluh sebagai
2 besar. Dunia usaha yang hancur berdampak pada rendah dan hilangnya
kemampuan mengembalikan pinjaman nasabah pada bank sesuai dengan
kesepakatan semula, yang akhirnya mengganggu likuiditas bank. Di sini bank
dalam kondisi sulit karena tidak mampu memaksa nasabah untuk
mengembalikan pinjaman beserta bunganya. Di sisi lain, perbankan tidak dapat
berbuat banyak ketika menghadapi kesulitan likuiditas dalam jumlah yang
besar, terpaksa perbankan menempuh cara dengan mobilisasi dana dengan
biaya yang tinggi yang akhirnya berdampak pada bisnis perbankan yang
menderita negative spread dalam pencapaian usahanya. (Rivai Veithzal dan Veithzal Andria 2007:10)
Menurut Kasmir (2003:5) fungsi utama perbankan adalah menghimpun
dana (uang) dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit
(pinjaman) guna untuk peningkatan taraf hidup masyarakat. Kegiatan bank
dalam penyaluran dana kepada pihak lain, yang paling besar adalah dalam
bentuk kredit. Dalam neraca bank pada sisi aktiva, kredit merupakan aktiva
produktif yang terbesar dalam memberikan pendapatan dibanding aktiva
produktif lainnya.
Menurut undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, kredit
yang diberikan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman meminjam
antara pihak bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak meminjam untuk
melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
3 keuangan di Indonesia pada pertengahan tahun 1997, tidak terlepas dari
besarnya kemampuan perbankan dalam memberikan kredit (lending capacity)
yang disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan penghimpunan simpanan
masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) yang menjadi sumber dana
pemberian kredit. Krisis yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 tersebut
selanjutnya menimbulkan situasi yang berbalik yaitu menurunnyadana pihak
ketiga(DPK) yang kemudian diikuti oleh menurunnya secara cepat lending
capacity perbankan. Kondisi pertumbuhan kredit tersebut di atas sejalan dengan pertumbuhan perekonomian Indonesia dimana sebelum krisis ekonomi
dan keuangan tahun 1997 menunjukan angka pertumbuhan sebesar 7% - 8%,
selanjutnya pada periode setelah krisis (tahun 1999-2004) perekonomian
Indonesia hanya mampu tumbuh 3% - 5%. (Sumber:www.bi.go.id)
Grafik 1.1
Perkembangan Jumlah Kredit Berdasakan Kelompok Bank
Sumber: Statistik Perbankan Inonesia (SPI)
Berdasrkan Grafik 1.1 menunjukan bahwa adanya persaingan yang
semakin ketat antar bank besar. Struktur konsentrasi aset praktis tidakberubah
selama tahun 2007-2009. Kenaikan aset 10 bank besar yang menggerakkan
4 10 bank besar diharapkan akan mendorong suku bunga kredit bergerak turun
merespon BI rate yang sudah ditingkat 6,5% pada bulan Mei 2010.Selama
tahun 2010, perbankan Indonesia berhasil membukukan laba bersih sebesar
Rp57,3 triliun. Jumlah itu tumbuh 26,8% dibandingkan pencapaian laba tahun
sebelumnya yang mencapai Rp 45,2 triliun. Sebagian besar laba perbankan
dihasilkan oleh kelompok Bank Persero sebesar 39,7% dan swasta sebesar
36,8%. Relatif tingginya pencapaian laba tahun ini selain disebabkan oleh
pertumbuhan kredit yang cukup tinggi, juga disebabkan spread suku bunga yang melebar.Pertumbuhan kredit perbankan tercatat mencapai 22,8% dari Rp
1.437 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 1.765,8 triliun pada tahun 2010.
Sepanjang tahun 2008, pertumbuhan kredit meningkat sangat tajam yaitu
sekitar Rp 305 triliun. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi Perkembangan
Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang mengalami kenaikan sebesar Rp 247
triliun, perkembangan ini merupakan pembalikan dari apa yang terjadi selama 8
bulan pertama tahun 2008 yang sangat keringdan hanya menghasilkan kenaikan
sebesar Rp 12 triliun, sedangkan empat bulan terakhir mengalami kenaikan
sebesar Rp 235 triliun. Secara keseluruhan masih terjadi “cashflow defisit”
sebesar Rp 58 triliun. Namun dengan adanya penurunan GWM pada bulan
oktober 2008, perkembangan likuiditas perbankan dirasakan memadai.
Sedangkan pada tahun 2009 banyak bank-bank yang membuat strategi
agar dapat meningkatkan pertumbuhan kredit, salah satu Bank Persero seperti
Bank Mandiri. Direksi PT Mandiri Tbk optimis, pertumbuhan 2010 akan lebih
5 dengan meningkatkan pemberian kredit di setiap lini. Di kredit korporasi,
mereka akan memperbesar ke sektor makanan, pupuk, dan infrastruktur. Bank
Mandiri juga akan meningkatkan penyaluran kredit di sektor mikro yang pada
tahun 2009 telah menyalurkan dana Rp 4,4 triliun atau tumbuh 22,9%. (Sumber:
www.bi.go.id).
Kredit modal kerja memiliki keterkaitan langsung dengan sektor riil
karena kredit modal kerja yang diberikan bank langsung ditujukan kepada
kegiatan ekonomi yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah. Kondisi
perekonomian yang kondusif memberikan peluang peningkatan usaha sehingga
penawaran akan kredit diantaranya kredit modal kerja akan meningkat seiring
peningkatan permintaan dana untuk perndirian dan peningkatan kegiatan
usaha.
Tabel 1.1
Perkembangan Kredit Modal Kerja (Dalam Milyaran Rupiah)
Bulan 2007 2008 2009 2010 2011 2012
6 Berdasarkan tabel 1.1 dapat diketahui bahwa secara umum jumlah
kredit moda kerja bergerak cenderung terus meningkat, jumlah kredit modal
kerja tertingi pada bulan bulan Desember 2012 yaitu sebesar Rp 503,972
triliun, sementara jumlah kredit modal kerja terendah pada bulan Januari 2007
yakni Rp 137,401 triliun.
Pada tahun 2007 jumlah kredit modal kerja tertinggi pada bulan
Desember yaitu Rp 188,052 triliun, sedangkan nilai terendah pada bulan
Januari yaitu Rp 137,401 triliun. Kenaikan jumlah kredit modal kerja
cenderung terus terjadi mulai bulan Januari sampai akhir tahun, hanya saja
pada bulan Maret Rp 148,796triliun meuju bulan April terjadi penurunan
menjadi Rp 144,563 triliun dan kembali turun di bulan berikutnya Mei menjadi
Rp 141,794 triliun. Setelah itu terus mengalami peningkatan hingga akhir
tahun.
Pada tahun 2008 jumlah kredit modal kerja tertinggi pada bulan
Desember yaitu Rp 249,782 triliun, sedangkan nilai terendah pada bulan
Januari yaitu Rp 175,053 triliun. Kenaikan jumlah kredit modal kerja
cenderung terus terjadi mulai bulan Januari sampai akhir tahun hanya saja
terjadi penurunan pada bulan September Rp 234,563 trilun dari bulan
sebelumnya Agustus Rp 224,665 triliun.
Pada tahun 2009 jumlah kredit modal kerja tertinggi pada bulan
Desember yaitu Rp 269,867 triliun, sedangkan nilai terendah pada bulan
Januari yaitu Rp 241,449 triliun. Kenaikan jumlah kredit modal kerja
7 terjadi penurunan pada bulan Juli Rp 260,018 triliun dari bulan sebelumnya
Juni Rp 265,779 triliun.
Pada tahun 2010 jumlah kredit modal kerja tertinggi pada bulan
Desember yaitu Rp 333,006 triliun, sedangkan nilai terendah pada bulan
Februari yaitu Rp 221,720 triliun. Bulan Januari jumlah kredit modal kerja Rp
222,299 triliun, kemudian menurun bulan Februari Rp 221,720triliun. Setelah
itu jumlah kredit modal kerja cenderung meningkat di bulan-bulan berikutnya,
hanya di bulan Juni ke bulan Juli terjadi penurunan yakni dari Rp 273,607 ke
Rp 272,746 triliun.
Pada tahun 2011 jumlah kredit modal kerja tertinggi pada bulan
Desember yaitu Rp 407,101 triliun, sedangkan nilai terendah pada bulan
Januari yaitu Rp 313,665 triliun. Kenaikan jumlah kredit modal kerja terus
meningkat dari bulan Januari Rp 313,665 triliun hingga bulan September Rp
396,903 triliun, namun mengalami penurunan pada bulan Oktober Rp 394,776
triliun ke bulan November Rp 364,603 triliun. Kemudian kembali mengalami
peningkatan pada bulan Desember Rp 407,101 triliun.
Pada tahun 2012 jumlah kredit modal kerja tertinggi pada bulan
Desember yaitu Rp 503,972 triliun, sedangkan nilai terendah pada bulan
Januari yaitu Rp 397,034 triliun. Kenaikan jumlah kredit modal kerja terus
meningkat dari bulan Januari Rp 389,729 triliun hingga Juni Rp 461,738
triliun, namun mengalami penurunan pada bulan Juli Rp 457,530 triliun ke
bulan Agustus Rp 446,639 triliun. Kemudian kembali mengalami peningkatan
8 Namun demikian, kredit juga merupakan salah satu faktor rapuhnya
usaha perbankan apabila kredit tersebut dinyatakan bermasalah, dimana kredit
masalah ini akan mengakibatkan kerugian pada bank. Yaitu kerugian karena
tidak diterimanya kembali dana yang telah disalurkan maupun pendapatan
bunga yang tidak dapat diterima. Hal ini pula akan berimplikasi pada
pengelolaan dana pihak ketiga (DPK) yang merupakan kegiatan penghimpunan
dana dan kredit bermasalah yang merupakan risiko dari kegiatan penyaluran
dana.(Ismail, 2009:224).
Menurut Selamet Riyadi (2006:67) bagi sebuah bank, sebagai suatu
lembaga keuangan, dana merupakan darah dalam tubuh badan usaha dan
persoalan paling utama. Tanpa dana, bank tidak dapat berbuat apa-apa tidak
dapat berfungsi sama sekali, dana bank adalah uang tunai yang dimiliki bank
ataupun aktiva lancar yang dikuasai bank dan setiap waktu dapat diuangkan.
Agar perbankan dapat berkembang secara sehat dan mampu bersaing dalam
perbankan internasional maka permodalan bank harus senantiasa mengikuti
ukuran yang berlaku secara internasional, yang ditentukan oleh Banking for
Internasonal Settelement atau disingkat BIS yang berkantor pusat di Jeneva, Swiss, yaitu besar Capital Aequaty Ratio adalah 8%. Namun demikian setiap negara diperkenankan melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam
penerapannya dengan memperhatikan kondisi perbankan di negara yang
bersangkutan.
Krisis ekonomi nasional yang dimulai dari pertengahan 1997 dan akhir
9 saat sekarang ini krisis yang bersifat multidimensional dapat melumpuhkan hampir semua sektor, baik sektor moneter maupun sektor riil. Untuk mengatasi
krisis tersebut berbagai kebijakan telah ditempuh oleh pemerintah, seperti
penurunan suku bunga dan mempertahankan inflasi, agar relatif rendah.
Walaupun berbagai kebijakan telah dibuat, namun dampak perubahan positif
belum begitu banyak mempengaruhi daya beli masyarakat. Perubahan suku
bunga yang telah disosialisasikan tersebut oleh berbagai lembaga pembiayaan
bank atau non bank berpengaruh terhadap perubahan harga barang yang
dikonsumsi oleh masyarakat. (Aryaningsih:2008).
Menurut Aulia Pohan (2008:53) Perkembangan tingkat bunga yang
tidak wajar secara langsung dapat menggangu perkembangan perbankan. Suku
bunga yang tinggi, disatu sisi, akan meningkatkan hasrat masyarakat untuk
menabung sehingga jumlah dana perbankan akan meningkat. Sementara itu,
disisi lain suku bunga yang tinggi akan meningkatkan biaya yang dikeluarkan
oleh dunia usaha sehingga mengakibatkan penurunan kegiatan produksi didalam
negeri. Menurunnya produksi pada gilirannya akan menurunkan pula kebutuhan
dana oleh dunia usaha. Hal ini berakibat permintaan terhadap kredit perbankan
juga menurun sehingga dalam kondisi suku bunga yang tinggi, yang menjadi
persoalan adalah kemana dana itu akan disalurkan.
Sebaliknya, tingkat bunga yang relatif terlalu rendah dibandingkan
dengan tingkat bunga luar negeri, di satu sisi, akan mengurangi hasrat
masyarakat untuk menabung dan mendorong pengaliran dana keluar negeri
10 namun, di sisi lain, tingkat bunga yang rendah tadi akan mendorong kegiatan
produksi dan investasi. Hal ini dikarenakan tingkat bunga yang relatif
mengakibatkan permintaan akan kredit perbankan juga meningkat. Dalam
keadaan demikian, yang menjadi persoalan bagi perbankan adalah mereka
mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dana dunia usaha. dapat
ditambahkan, kecepatan dan ketepatan pelayanan perbankan juga merupakan
faktor penting yang menentukan permintaan akan kredit. (Aulia Pohan, 2008:53)
Menurut Siswanto Sutojo, (2007:86) Suku bunga kredit merupakan
sumber pendapatan terbesar bank, serta mempunyai peranan penting dalam
penentuan profitabilitas kegiatan pemberian kredit. Dilain pihak, suku bunga
kredit merupakan salah satu sarana bank untuk memenangkan persaingan di
pasar. Oleh karena bunga kredit merupakan bagian terbesar penghasilan bank,
jumlah penghasilan bunga harus dapat menutup biaya yang ditanggung bank
(termasuk biaya pengadaan dana kredit, serta konstribusi biaya overhead dan biaya tetap yang lain), serta menyisakan keuntungan. Biaya pengadaan dana
kredit dari pasar uang memegang peranan penting dalam penentuan suku bunga
kredit. Suku bunga kredit juga ditentukan oleh perkembangan suku bunga di
pasar uang dan pasar modal. Perkembangan suku bunga tidak terbatas pada
kredit, melainkan juga pada sekuritas. Tingkat resiko dan jangka waktu transaksi
kredit juga menentukan tingkat suku bunga. Semakin panjang jangka waktu
11
Table 1.2
Suku Bunga Kredit Modal Kerja (Dalam Persentase)
Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Suku Bunga 13,47 14,61 13,63 13,06 12,37 11,70
Sumber : Bank Indonesia
Berdasarkan table 1.2 pergerakan tingkat suku bunga kredit modal kerja
bergerak fluktuatif namun cenderung menurun, hanya saja di tahun 2008 terjadi
peningkatan dari tahun sebelumnya 2007 yakni dari 13,47% menjadi 14,61%.
Bila dilihat dari nilai awal tahun 2007 dan nilai akhir tahun 2012 terjadi
penurunan yang signifikan yakni dari 15,20% menjadi 11,70%.
Persaingan yang semakin kompetitif antar perbankan menyebabkan
semakin rendahnya tingkat pengendalian dan pengawasan internal maupun
eksternal terhadap penyaluran kredit pada bank. Hal tersebut cenderung
mengakibatkan naiknya jumlah kredit bermasalah yang menimbulkan
kekhawatiran di kalangan pelaku perbankan. Selain rendahnya kualitas
pengawasan kredit, kredit bermasalah juga dipicu oleh banyaknya nasabah
yang tidak sanggup lagi membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada
bank sebagaimana yang telah dijanjikan. Hal ini terjadi karena tidak semua
nasabah memiliki karakter bisnis yang sama satu dengan yang lain. Dalam
kenyataannya ada nasabah yang sukses dalam mengelola bisnis namun ada
pula yang gagal. Tingginya kredit bermasalah akan menuntut bank untuk
menyediakan alokasi dana lain sebagai cadangan menutup kerugian tersebut
dan bank akan mengurangi penyaluran kredit berikutnya. Kondsi seperti ini
12 telah ditetapkan oleh Bank Indonesia yakni 5%. Tingkat kredit macet yang
dialami oleh bank dapat dilihat dari rasio keuangannya yakni pada rasio Non
Performing Loan (NPL).
Menurut Mudrajat Kuncoro (2002:462) “Non Performing Loan (NPL)
atau kredit macet adalah suatu keadaan dimana nasabah tidak sanggup
membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang
diperjanjikannya”. Sedangkan menurut Lukman Dendawijaya (2003) “kredit
macet yaitu pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah
mengalami penundaan lebih dari satu tahun sejak jatuh tempo menurut jadwal
yang diperjanjikannya”.
Tabel 1.3
Perkembangan Non Performing Loan
(Dalam Persen)
Bulan 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Januari 10,83 6,89 4,30 3,19 3,20 2,96
Februari 11,05 6,79 4,53 3,26 3,28 2,85
Maret 10,43 5,59 4,97 3,07 3,14 2,73
April 10,82 5,69 5,03 3,14 3,21 2,79
Mei 10,76 5,56 5,13 3,36 3,52 2,74
Juni 10,03 5,15 4,66 3,01 3,30 2,61
Juli 10,13 5,11 4,81 3,01 3,37 2,66
Agustus 10,08 5,02 4,80 3,09 3,39 2,63
September 8,68 4,62 4,36 2,97 3,18 2,48
Oktober 8,50 4,58 4,49 3,16 3,21 2,69
November 8,09 4,80 4,28 3,71 2,99 2,42
Desember 6,50 3,74 3,46 2,80 2,55 2,21
13 Berdasarkan tabel 1.3 dapat diketahui bahwa secara umum NPL
bergerak secara fluktuatif. NPL tertingi pada bulan bulan Februari 2007 yaitu
sebesar 11,05%, sementara NPL terendah pada bulan Desember 2012 yaitu
2,21%.
Pada tahun 2007 NPL tertinggi pada bulan Februari yaitu 11,05%,
sedangkan nilai terendah pada bulan Desember yaitu 6,5%. Penurunan NPL
cenderung terus terjadi mulai Maret sampai akhir tahun hanya saja pada bulan
Juni terjadi kenaikan NPL dari 10,03% menjadi 10,13%.
Tahun 2008 NPL tertinggi pada bulan Januari yaitu sebesar 6,89%
sedangkan terendah 3,74% pada bulan Desember. Penurunan NPL juga
cenderung terjadi di tahun ini mulai awal tahun hingga akhir tahun, hanya saja
terjadi kenaikan pada bulan April yakni dari 5,59% menjadi 5,69% dan juga
pada bulan November yakni dari 4,58% menjadi 4,80%.
Tahun 2009 NPL tertinggi bulan Mei senilai 5,13%, sedangkan nilai
terndah 3,46% pada bulan Desember, pada bulan Januari NPL bernilai 4,3%
dan meningkat 4,53 % bulan Februari 4,97% bulan Maret 5,03% bulan April
5,13% bulan Mei. Pada bulan Juni mengalami penurunan senilai 4,66%, bulan
Juli meningkat senilai 4,81%, dan bulan Agustus turun senilai 4,80%, dan
menurun 4,36% pada bulan September 4,49% bulan Oktober. Sedangkan
November menurun dengan nilai sebesar 4,28%, dan bulan Desember 3,46%.
Tahun 2010 NPL tertinggi Mei bernilai 3,36% sedangkan nilai terendah
bulan Desember 2,80%, NPL bulan Januari bernilai 3.19% dan naik 3,26%
14 April bernilai 3,14% dan 3,36% dibulan Mei, kemudian menurun pada bulan
Juni bernilai 3,01% dan bertahan bulan Juli 3,01%. Meingkat kembali bulan
Agustus menjadi 3.09% lalu menurun bulan berikutnya menjadi 2,97% bulan
September. Bulan Oktober dan November meningkat masing-masing 3,16%
dan 3,71% kemudian Desember turun menjadi 2,8%.
Tahun 2011 NPL tertinggi bulan Januari 2,96% , sedangkan nilai
terendah bulan Desember 2,21%. NPL bulan Januari bernilai 3,20% dan naik
3,28% pada bulan Februari, bulan Maret 3,14%, naik pada bulan April
3,21%, pada bulan Mei 3,52% dan Juni turun dengan nilai 3,3%, kemudian
naik 3,37% dibulan Juli, 3,39% bulan Agustus, kmudian turun pada bulan
September bernilai 3,18 %, kemudian naik 3,21% bulan Oktober dan bulan
November turun menjadi 2,99% dan 2,55% pada bulan Desember.
Tahun 2012 NPL tertinggi bulan Mei 3,52% , sedangkan nilai terendah
bulan Desember 2,55%. NPL bulan Januari bernilai 2,96% dan 2,85% pada
bulan Februari, bulan Maret 2,73%, naik pada bulan April 2,79%, pada
bulan Mei turun 2,74% dan Juni turun dengan nilai 2,61%, kemudian naik
2,66% dibulan Juli, turun bulan Agustus 2,63%, kemudian turun pada bulan
September bernilai 2,48%, kemudian naik 2,69% bulan Oktober dan bulan
November turun menjadi 2,42% dan 2,21% pada bulan Desember.
Selain NPL ada rasio lain yang diduga mempengaruhi besarnya
penyaluran kredit kepada masyarakat yakni Return on Asset (ROA) yang mewakili tingkat profitabilitas bank. Semakin besar tingkat keuntungan (ROA)
15 menginvestasikan keuntungan tersebut dengan berbagai kegiatan yang
menguntungkan manajemen, terutama dangan penyaluran pembiayaan. Selain
itu semakin besar suatu bank menghasilkan laba, berarti bank sudah efektif
dalam mengelola asetnya (Wuri,2012). Pergerakan ROA yang fluktuatif
cenderung semakin membaik dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya
penyaluran kredit.
Tabel 1.4
Perkembangan Return on Asset
(Dalam Persen)
Bulan 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Januari 2,87 3,28 2,89 2,90 3,32 3,76
Februari 3,05 3,24 2,92 2,77 3,67 4,23
Maret 2,74 2,74 2,74 3,05 3,82 3,67
April 2,71 2,63 2,63 2,95 3,76 3,59
Mei 2,76 2,65 2,60 2,87 3,59 3,58
Juni 2,67 2,43 2,68 2,96 3,80 3,67
Juli 2,66 2,69 2,64 3,03 3,56 3,64
Agustus 2,68 2,73 2,64 3,00 3,56 3,64
September 2,65 2,62 2,57 3,02 3,72 3,71
Oktober 2,68 2,65 2,67 3,06 3,67 3,74
November 2,68 2,60 2,63 3,13 3,60 3,82
Desember 2,76 2,72 2,72 3,08 3,60 3,80
Sumber : Bank Indoneisa
Berdasarkan tabel 1.4 dapat diketahui bahwa secara umum ROA
bergerak secara fluktuatif ROA tertingi pada bulan bulan Februari 2012 yaitu
sebesar 4,23%, sementara ROA terendah pada bulan Juni 2008 yaitu 2,43%.
Pada tahun 2007 ROA tertinggi bulan Februari 3,03%, sedangkan nilai
terendah bulan September 2,65%. Bulan Januari 2,87% meninggat bulan
Februari 3,05% menurun bulan Maret 2,74%, kembali menurun bulan April
16 dan Juli 2,66%, lalu meningkat dibulan Agustus 2,68% kembali menurun bulan
September 2,65%, kemudian terus meningkat dibulan Oktober 2,68%
November 2,68% dan Desember 2,76% .
Pada tahun 2008 ROA tertinggi bulan Januari 3,28%, sedangkan nilai
terendah bulan Juni 2.43%. Bulan Januari 3,28% kemudian menurun bulan
Februari 3,24% bulan Maret 2,74% bulan April 2,63%, namun meningkat
dibulan Mei 2,65%, lalu kembali menurun dibulan Juni 2,43% kemudian
meningkat bulan Juli 2,69% dan bulan Agustus 2,73%, kemudian kembali
menurun bulan September 2,62% dan meningkat bulan Oktober 2,65%, lalu
kembali menurun bulan November 2,60% dan meningkat bulan Desember
2,72%.
Pada tahun 2009 ROA tertinggi bulan Februari 2,92%, sedangkan nilai
terendah bulan September 2,57%. Bulan Januari 2,89% meningkat bulan
Februari 2,92% meurun dibulan Maret 2,74% bulan April 2,63% bulan Mei
2,60%, lalu meningkat dibulan Juni 2,68% kembali menurun dibulan Juli
2,64% bulan Agustus sama seperti bulan sebelumnya 2,64%, kemudian
kembali menurun dibulan September 2,57% Oktober dan kembali meningkat
dibulan November 2,63% dan bulan Desember 2,72%.
Pada tahun 2010 ROA tertinggi bulan November 3,13%, sedangkan
nilai terendah bulan Februari 2,77%. Bulan Januari 2,90% menurun dibulan
Februari 2,77%, lalu meningkat dibulan Maret 3,05% kembali menurun
dibulan April 2,95% bulan Mei 2,87%, kemudian meningkat dibulan Juni
17 3,03%, kemudian menurun dibulan Agustus 3,00% lalu kembali meningkat
dibulan September 3,02% bulan Oktober 3,06% dan bulan November 3,13%,
namun kembali menurun dibulan Desember 3,08% .
Pada tahun 2011 ROA tertinggi bulan Maret 3.82%, sedangkan nilai
terendah bulan Januari 3.32%. Bulan Januari 3,32% meningkat dibulan
Februari 3,67% bulan Maret 3,82%, lalu menurun dibulan April 3,76% bulan
Mei 3,59% lalu kembali meningkat dibulan Juni 3,80%, kemudian menurun
dibulan Juli 3,56% dan tidak berubah dibulan Agustus 3,56%, kemudian
meningkat dibulan September 3,72% lalu kembali menurun dibulan Oktober
3,67% bulan November 3,60% dan tidak berubah dibulan Desember 3,60%.
Pada tahun 2012 ROA tertinggi bulan Februari 4,32%, sedangkan nilai
terendah bulan Mei 3.58%. Bulan Januari 3,76% meningkat dibulan Februari
4,23% lalu menurun dibulan Maret 3,67% bulan April 3,59% bulan Mei 3,58%
kemudian kembali meningkat dibulan Juni 3,67%, lalu menurun dibulan Juli
3,64% dan tidak berubah dibulan Agustus 3,64%, kemudian meningkat dibulan
September 3,71% bulan Oktober 3,74% bulan November 3,82% dan meurun
dibulan Desember 3,80%.
Hal lain yang juga mempengaruhi jumlah penyaluran kredit modal
kerja adalah nilai tukar rupiah dengan US dollar. Hal ini karena kredit modal
kerja digunakan untuk pendirian usaha, modal usaha termasuk penyediaan
bahan baku. Bahan baku produksi masih banyakbergantung pada komponen
impor, sehingga produksi yang semakin bergantung kepadakomponen impor
18 dapatberhubungan karena bila saja kurs bergerak naik dan suatu produksi
sangat bergantung padabahan baku impor maka bisa saja produksi berhenti
dilakukan yang menyebabkan juga tidak adanya peminjaman modal kerja
(Yoda Ditria dkk, 2008:188). Atau dengan kata lain, jika bahan baku sudah
tidak terlalu bergantung kepada komponen impor, tetapi hasil produksi
merambah ke kegiatan ekspor maka ketika kurs bergerak naik atau terjadi
depresiasi nilai tukar maka akan meningkatkan permitaan akan pinjaman
modal kerja guna meningkatkan produksi.
Tabel 1.5
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar (Dalam Rupiah)
Bulan 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Januari 9.090 9.291 11.355 9.365 9.057 9.000
Februari 9.160 9.230 11.980 9.335 9.823 9.085
Maret 9.168 9.217 11.575 9.115 8.709 9.180
April 9.118 9.234 11.713 9.012 8.574 9.190
Mei 8.828 9.318 11.340 9.180 8.537 9.565
Juni 9.054 9.225 10.225 9.083 8.597 9.480
Juli 9.168 9.118 9.920 8.952 8.508 9.485
Agustus 9.410 9.153 10.060 9.041 8.578 9.560
September 9.137 9.378 9.681 8.924 8.823 9.588
Oktober 9.103 10.995 9.545 8.928 8.835 9.615
November 9.376 12.151 9.480 9.013 9.170 9.605
Desember 9.419 10.950 9.400 8.991 9.068 9.670
Sumber : Bank Indonesia
Berdasarkan tabel 1.5 dapat diketahui bahwa secara umum nilai tukar
bergerak secara fluktuatif nilai tukar tertingi pada bulan bulan November 2008
Rp 12.151 yaitu sebesar Rp 12.151 sementara nilai tukar terendah pada bulan
Juli 2011 yaitu Rp 8.508. Dapat dilihat juga bahwa nilai tukar rupiah tehadap
19 krisis yakni tahun 2008-2009, lalu kembali menguat di tahun 2010-2011
namun kembali melemah di tahun 2012.
Pada tahun 2007 nilai tukar tertinggi bulan Desember Rp 9.419,
sedangkan nilai terendah bulan Mei Rp 8.828. Bulan Januari Rp 9.090
kemudian melemah dibulan Februari Rp 9.160 bulan Maret Rp 9.168, lalu
menguat dibulan April Rp 9.118 bulan Mei Rp 8.828, kemudian melemah
dibulan Juni Rp 9.054 bulan Juli Rp 9.168 bulan Agustus Rp 9.410, kemudian
menguat kembali dibulan September Rp 9.137 bulan Oktober Rp 9.103 dan
kembali melemah dibulan November Rp 9.376 dan bulan Desember Rp 9.419.
Pada tahun 2008 nilai tukar tertinggi bulan November Rp 12.151,
sedangkan nilai terendah bulan Juli Rp 9.118 . Bulan Januari Rp 9.291
kemudian menguat dibulan Februari Rp 9.230 bulan Maret Rp 9.217 lalu
melemah dibulan April Rp 9.234 bulan Mei Rp 9.318, kemudian menguat
kembali dibulan Juni Rp 9.225 bulan Juli Rp 9.118, lalu kembali melemah
dibulan Agustus Rp 9.153 bulan September Rp 9.378 bulan Oktober Rp10.995
bulan November Rp 12.151, lalu kembali menguat dibulan Desember Rp
10.950.
Pada tahun 2009 nilai tukar tertinggi bulan Februari Rp 11.980,
sedangkan nilai terendah bulan Desember Rp 9.400. Bulan Januari Rp 11.355
kemudian melemah dibulan Februari Rp 11.980, menguat dibulan Maret Rp
11.575, kembali melemah dibulan April Rp 11.713, menguat dibulan Mei Rp
20 dibulanAgustus Rp 10.060, lalu menguat dibulan September Rp 9.681 bulan
Oktober Rp 9.545 bulan November Rp 9.480 dan bulan Desember Rp 9.400.
Pada tahun 2010 nilai tukar tertinggi bulan Januari Rp 9.365,
sedangkan nilai terendah bulan September Rp 8.924. Bulan Januari Rp 9.365
kemudian menguat dibulan Februari Rp 9.335 bulan Maret Rp 9.115 bulan
April Rp 9.012, lalu melemah dibulan Mei Rp 9.180, kembali menguat dibulan
Juni Rp 9.083 bulan Juli Rp 8.952, melemah dibulan Agustus Rp 9.041,
kembali menguat dibulan September Rp 8.924, melemah kembali dibulan
Oktober Rp 8.928 bulan November Rp 9.013 dan kembali menguat dibulan
Desember Rp 8.991 .
Pada tahun 2011 nilai tukar tertinggi bulan Februari Rp 9.823,
sedangkan nilai terendah bulan Juli Rp 8.508. Bulan Januari Rp 9.057
kemudian melemah dibulan Februari Rp 9.823, kemudian menguat dibulan
Maret Rp 8.709 bulan April Rp 8.574 bulan Mei Rp 8.537, kembali melemah
dibulan Juni Rp 8.597, menguat dibulan Juli Rp 8.508, melemah kembali
dibulan Agustus Rp 8.578 bulan September Rp 8.823 bulan Oktober Rp 8.835
bulan November Rp 9.170 dan menguat dibulan Desember Rp9.068 .
Pada tahun 2012 nilai tukar tertinggi bulan Desember Rp 9.670,
sedangkan nilai terendah bulan Januari Rp 9.000. Bulan Januari Rp 9.000
kemudian melemah dibulan Februari Rp 9.085 bulan Maret Rp 9.180 bulan
April Rp 9.190 bulan Mei Rp 9.565, menguat dibulan Juni Rp 9.480, kembali
21 9.588 bulan Oktober Rp 9.615, menguat dibulan November Rp 9.605 dan
kembali melemah dibulan Desember Rp 9.670.
Berdasarkan Grafik 1.1 menunjukan bahwa adanya persaingan yang
semakin ketat antar bank besar.Persaingan di pasar kredit utamanya oleh 10
bank besar diharapkan akan mendorong suku bunga kredit bergerak turun
merespon BI rate yang sudah ditingkat 6,5% pada bulan Mei 2010.Selama
tahun 2010, perbankan Indonesia berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp
57,3 triliun. Jumlah itu tumbuh 26,8% dibandingkan pencapaian laba tahun
sebelumnya yang mencapai Rp 45,2 triliun.Sebagian besar laba perbankan
dihasilkan oleh kelompok Bank Persero sebesar 39,7% dan swasta sebesar
36,8%. Relatif tingginya pencapaian laba tahun ini selain disebabkan oleh
pertumbuhan kredit yang cukup tinggi, juga disebabkan spread suku bunga
yang melebar.Pertumbuhan kredit perbankan tercatat mencapai 22,8% dari Rp
1.437 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp1.765,8 triliun pada tahun 2010
(Sumber: www.bi.go.id). Oleh karena itu peneliti melilih objek penelitian Bank
Persero karena sebagai penyumbang laba tertinggi bagi perbankan di Indonesia.
Selain itu Bank persero pernah mengalami tingkat kredit macet atau NPL yang
cukup tinggi yakni 11,05% diatas batas maksimum yang telah ditetapkan oleh BI
yakni sebesar 5%.
Beberapa penelitian tentang kredit oleh bank umum yang dipengaruhi
oleh variabel makro ekonomi memberi indikasi bahwa kondisi ekonomi suatu
negara sangat mempengaruhi fungsi intermediasi bank yang berpengaruh
22 Beberapa penelitian tersebut antara lain: Penelitian yang dilakukan oleh
Gabriela Haryani Nona (2009) yang melakukan penelitian tentangPengaruh
Capital Adequacy Ratio (CAR), Cash Ratio (CR), Return on Asset (ROA), pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia(SBI), dan Inflasi Terhadap pertumbuhan Kredit Bank BUMN. Dari
penelitian tersebut diperoleh hasil bahwavariabel CAR, CR, ROA,
Pertumbuhan DPK, Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia(SBI) dan Inflasi
secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Pertumbuhan
Kredit pada Bank BUMN.Sedangkan secara parsial variabel, CAR, CR, Suku
Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan Inflasi berpengaruh negatif dan
signifikan, sedangkan variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) dan ROA
berpengaruh positif dan signifikan.
Akhmad Kholisudin (2011) melakukan penelitian tentang Determinan
Permintaan Kredit Pada Bank Umum Di Jawa Tengah 2006-2010. Dari hasil
penelitian tersebut disimpulkan bahwa variabel inflasi secara parsial tidak
berpengaruh terhadap permintaan kredit, Variabel nilai tukar secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit dan secara
parsial variabel krisis global berpengaruh positif dan signifikan terhadap
permintaan kredit.
Bily Arma Pratama (2010) melakukan penelitian tentang Analisis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Penyaluran Kredit Perbankan
periode 2005-2009. Dari hasi penelitian tersebut disimpulkan variabel DPK
23 NPL mempunyai pengaruh signifikan negatif terhadap kredit. Sedangkan suku
bunga SBI tidak memiliki pengaruh terhadap Kredit.
Daryanti Ningsih dan Idah Zuhroh (2010) melakukan penelitian tentang
Analisis Permintaan Kredit Investasi pada Bank Swasta Nasional di Jawa
Timur periode 2006-2009. Dari hasi penelitian tersebut disimpulkan Variabel
Suku Bunga Kredit mempunyai pengaruh signifikan negatif terhadap Kredit
Investasi. Sedangkan Inflasi tidak memiliki pengaruh terhadap Kredit
Investasi.
Penelitian ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan penelitian
lainnya mulai dari variabel dan data yang diambil dalam kurun waktu yang
berbeda. Dengan menggunakan data yang terbaru sehingga hasil yang didapat
akan lebih menggambarkan situasi perbankan pada saat ini.
Disamping itu, Penelitian ini juga memberikan manfaat yang paling
dominan terhadap Bank Persero, diharapkan dengan hasil yang didapat dari
penenelitian ini manajemen Bank Persero mampu menjalankan fungsinya
sebagai intermediasi dan mampu mengevaluasi hasil operasi perusahaan dalam
mengambil keputusan sehubungan dengan intermediasi bank.
Berdasarkan fenomena yang terjadi dan penelitian tedahulu yang telah
dijelaskan maka penulis termotivasi untuk melakukan penelitian dengan
judul“Analisis Pengaruh Suku Bunga Kredit, Non Performing Loan (NPL),
Return on Asset (ROA) dan Nilai Tukar Rupiah dengan US Dollar
24
B.Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas menengenai, suku bunga
kredit, non performing loan, return on asset dan nilai tukar rupiah dengan US dollar terhadap jumlah penyalurankredit modal kerja pada Bank Persero maka
dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimana pengaruh :
Suku bunga kredit secara parsial terhadap penyaluran kredit modal
kerja pada Bank Persero?
Non performing loan (NPL) secara parsial terhadap penyaluran
kredit modal kerja pada Bank Persero?
Return on asset (ROA) secara parsial terhadap penyaluran kredit
modal kerja pada Bank Persero?
Nila tukar rupiah dengan US dollar terhadap jumlah penyaluran
kredit modal kerja pada Bank Persero ?
b. Bagaimana pengaruh suku bunga kredit, non performing loan (NPL),
return on asset (ROA)dan nila tukar rupiah dengan US dollar secara simultan terhadap jumlah penyaluran kredit modal kerja pada Bank
25
C.Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan diatas maka tujuan dari penelitian
ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk menganalisis pengaruh :
Suku bunga kredit secara parsial terhadap jumlah penyaluran kredit
modal kerja pada Bank Persero.
Non performing loan (NPL) secara parsial terhadap jumlah
penyaluran kredit modal kerja pada Bank Persero.
Return on asset (ROA) secara parsial terhadap jumlah penyaluran
kredit modal kerja pada Bank Persero.
Nilai tukar rupiah dengan US dollar secara parsial terhadap jumlah
penyaluran kredit modal kerja pada Bank Persero.
b. Untuk menganalisis pengaruh suku bunga kredit, non performing
loan (NPL), return on asset (ROA) dan nila tukar rupiah dengan US dollar secara simultan terhadap jumlah penyaluran kredit modal
kerja pada Bank Persero.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Bank
Dapat dijadikan sebagai masukan untuk Bank Persero dalam
menentukan seberapa besar pengaruh suku bunga kredit, non
26 kredit modal kerja agar mendapat keuntungan atau profit yang
semaksimal mungkin bagi Bank Persero.
b. Bagi para akademis/peneliti
Dengan penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi
mengenai perbankan bagi peneliti maupun bagi peneliti selanjutnya
yang tertarik untuk meneliti tentang perbankan juga dapat dijadikan
27
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.Landasan Teori
1. Pengertian Bank
Menurut Frederic S. Mishkin (2008:9), bank adalah lembaga
keuangan yang menerima dana dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya dalam bentuk kredit.
Sedangkan Pengertian bank menurut Ahmad Rodoni dan Abdul
Hamid (2006:21) adalah suatu badan usaha yang tugas utamanya sebagai
perantara (financial intermediary) untuk menyalurkan penawaran dan permintaan kredit pada yang ditentukan.
Menurut Puspo Pranoto (2004:5) bahwa bank adalah lembaga
keuangan yang menerima berbagi jenis simpanan dan mempergunakan dana
yang terhimpun dibank terutama untuk pemberian kredit.
2. Kegiatan bank
Kegiatan bank menurut Kasmir (2003:3) adalah sebagai berikut:
a. Menghimpun dana (uang) dari masyarakat dalam bentuk simpanan,
maksudnya dalam hal ini bank sebagai tempat menyimpan uang atau
berinvestasi bagi masyarakat. Tujuan utama masyarakat menyimpan
uang biasanya adalah untuk keamanan uangnya. Sedangkan tujuan
kedua adalah untuk melakukan investasi dengan harapan memperoleh
28 untuk mengamankan uang maupun untuk melakukan investasi, bank
menyediakan sarana yang disebut dengan simpanan. Jenis simpanan
yang ditawarkan bank sangat bervariasi tergantung dari bank yang
bersangkutan. Secara umum jenis simpanan yang ada di bank adalah
terdiri dari simpanan giro (demand deposit), simpanan tabungan (saving
deposit) dan simpanan deposito (time deposit).
b. Menyalurkan dana kemasyarakat, maksudnya adalah bank memberikan
pinjaman (kredit) kepada masyarakat yang mengajukan permohonan.
Dengan kata lain bank menyediakan dana bagi masyarakat yang
membutuhkannya. Jenis kredit yang biasanya diberikan oleh hampir
semua bank adalah seperti kredit investasi, kredit modal kerja, dan
kredit perdagangan.
c. Memberikan jasa-jasa bank lainnya, seperti pengiriman uang (transfer), penagihan surat-surat berharga yang berasal dari dalam kota (clearing), penagihan surat-surat berharga yang berasal dari luar kota dan luar
negeri (inkaso), letter of credit (L/C), safe deposit box, bank garansi dan jasa-jasa bank lainnya yang merupakan jasa pendukung dari
kegiatan-kegiatan pokok bank yaitu menghimpun dan menyalurkan
dana.
3. Jenis dan Sumber Dana Bank
Menurut Dendawijaya (2005:15) bahwa jenis bank dapat
29 a. Berdasarkan undang-undang
Berdasarkan pasal 5 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang
perubahan UU No 7 Tahun 1992 tentang perbankan terdapat dua
jenis bank yaitu:
1) Bank umum dan
2) Bank perkreditan rakyat
b. Berdasarkan kepemilikannya
1) Bank milik negara (Badan Usaha Milik Negara atau BUMN)
2) Bank milik pemerintah daerah (Badan Usaha Milik Daerah atau
BUMD)
3) Bank swasta milik Nasional
4) Bank milik swasta campuran (nasional dan asing)
5) Bank milik asing (cabang atau perwakilan)
c. Berdasarkan penekanan kegiatan
1) Bank retail
2) Bank koorporasi
3) Bank komersial
4) Bank pedesaan
5) Bank pembangunan
d. Berdasarkan pembayaran bunga
1)Bank konvensional dan,
30 Bank sebagai lembaga keuangan tidak terlepas dari masalah
memperoleh dana. Perolehan dana tersebut nantinya akan digunakan untuk
membiayai operasinya serta menjalankan kegiatan usahanya dalam rangka
memperoleh peningkatan profitabalitas serta meningkatkan taraf hidup
masyarakat.
Menurut Kasmir (2003:32) Adapun sumber-sumber dana bank
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Dana yang bersumber dari bank itu sendiri
Sumber dana ini merupakan dana dari modal sendiri. Dana
yangbersumber dari dana itu sendiri yang berbentuk modal setor yang
berasal dari pemegang saham dan cadangan-cadangan serta keuntungan
bank yang belum dibagikan kepada pemegang saham. Secara garis besar
dapat disimpulkan pencairan dana sendiri terdiri dari :
1) Setoran modal dari pemegang saham.
2) Cadangan-cadangan bank, yaitu cadangan laba pada tahun lalu
yang tidak dibagikan kepada para pemegang saham
3) Laba bank yang belum dibagi, merupakan laba yang memang
belumdibagikan pada tahun yang bersangkutan sehingga dapat
dimanfaatkan sebagai modal untuk sementara waktu.
b. Dana yang berasal dari masyarakat luas
Sumber dana ini merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan
operasi bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu
31 masyarakat luas dapat dilakukan dalam bentuk simpanan giro, simpanan
tabungan dan simpanan deposito
c. Dana yang berasal dari lembaga lainnya
Sumber dana ketiga ini merupakan tambahan jika bank
mengalami kesulitan dalam pencairan sumber dana pertama dan kedua.
Pencairan dari sumber dana ini relatif lebih mahal dan sifatnya hanya
sementara waktu saja. Perolehan dana ini dapat diperoleh dari: kredit
likuiditas dari Bank Indonesia, pinjaman antar bank (call
money),pinjaman dari bank-bank luar negeri dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU).
4. Kredit Perbankan
a. Pengertian Kredit
Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan No.10
tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga.
Sedangkan menurut Susilo (2000:69) kredit adalah penyedian
uang atau tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam
meminjam antar bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
32 Kewajiban tersebut dapat berupa pokok pinjaman, bunga, imbalan atau
pembagian hasil keuntungan.
b. Unsur-unsur Kredit
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu
fasilitas kredit menurut Rivai Veithzal dan Veithzal Andria (2007:3)
adalah sebagai berikut:
1) Adanya dua pihak, yaitu pemberi kredit (kreditur) dan penerima
kredit (nasabah kredit). Hubungan pemberi kredit dan penerima
kredit merupakan hubungan kerjasama yang saling
menguntungkan.
2) Adanya kepercayaan pemberi kredit kepada penerima kredit yang
didasarkan atas credit rating penerima kredit.
3) Adanya persetujuan, berupa kesepakatan pihak bank dengan pihak
lainnya yang berjanji membayar dari penerima kredit kepada
pemberi kredit. Janji membayar tersebut dapat berupa lisan, tertulis
(akad kredit) atau berupa instrument.
4) Adanya penyerahan barang, jasa, atau uang dari pemberi kredit
kepada penerima kredit.
5) Adanya unsur waktu (time element), unsur waktu merupakan unsur
esensial kredit. Kredit dapat ada karena unsur waktu, baik dilihat
dari pemberi kredit maupun dilihat dari penerima kredit. Misalnya
33 dimasa yang akan datang, atau bagi produsen memerlukan kredit
karena adanya jarak waktu antara produksi dan konsumsi.
6) Adanya unsur resiko (degree of risk) baik dipihak pemberi kredit maupun dipihak penerima kredit. Resiko dipihak pemberi kredit
adalah resiko gagal bayar (risk of default), baik karena kegagalan
usaha (pinjaman komersial) atau ketidakmampuan bayar (pinjaman
konsumen) atau karena ketidaksediaan membayar. Resiko dipihak
nasabah adalah kecurangan dari pihak kreditur, antara lain berupa
pemberian kredit yang dari semula dimaksudkan oleh pemberi
kredit untuk mencaplok perusahaan yang diberi kredit atau tanah
yang dijaminkan.
7) Adanya unsur bunga sebagai kompensasi (prestasi) kepada pemberi
kredit. Bagi pemberi kredit, bunga tersebut terdiri dari berbagai
komponen seperti biaya modal (cost of capital), biaya umum (overhead cost), riskpremium dan sebagainya. Jika credit rating
penerima kredit tinggi, riskpremium dapat dikurangi dengan safety
discount.
c. Tujuan dan Fungsi Kredit
Setiap usaha dalam suatu sistem ekonomi tidak terlepas dari tujuan
mencari keuntungan, demikan juga dalam pemberian kredit. Namun
karena di dalam kredit terdapat resiko, maka usaha mencari keuntungan
tersebut harus memperhatikan prinsip kehati-hatian, karena dana yang
34 penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan kredit adalah untuk
memperoleh keuntungan yang aman, sehingga pada saatnya masyarakat
peminjam dana di bank dapat memperoleh kembali simpanannya berikut
bunga tanpa dikuatirkan oleh adanya kredit yang macet. (Judisseno
2005:167)
Menurut Judiseno (2005:168) selain profitabilty dan safety, bank, khususnya bank pemerintah, mengemban tugas sebagai agent of
development yaitu dalam hal :
1) Ikut mensukseskan progam pemerintah di bidang ekonomi dan
pembangunan.
2) Meningkatkan efektivitas perusahaan agar dapat menjalankan
fungsinya, guna menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat.
3) Memperoleh laba agar kelangsungan hidup perusahaan terjamin dan
dapat memperluas usahanya.
Dari tujuan-tujuan yang coba untuk diraih di atas, maka
fungsi kredit dapat dijelaskan sebagai berikut :
(a) Meningkatkan daya guna uang. Para pemilik uang/modal baik
secara langsung atau melalui penyimpanan dana di bank, dapat
meminjamkan uangnya kepada perorangan atau
perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan usahanya.
(b) Meningkatkan daya guna dan peredaran barang. Dengan adanya