• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL KETAHANAN PANGAN BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL (STUDI KASUS PROVINSI JAWA BARAT)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MODEL KETAHANAN PANGAN BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL (STUDI KASUS PROVINSI JAWA BARAT)"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Hasil-Hasil PPM IPB 2013 Vol. II : 698–709 ISBN : 978-602-8853-19-4

978-602-8853-21-7

MODEL KETAHANAN PANGAN BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL

(STUDI KASUS PROVINSI JAWA BARAT)

(Food Security Model Based on Potential Local Resources

(Case Study Province Jawa Barat)

Hartrisari, Sapta Rahardja, Faqih Udin, Harry Imantho, Desi Suyamto

Dep. Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB

ABSTRAK

Kerawanan pangan didefinisikan sebagai kondisi suatu daerah, masyarakat atau rumah tangga yang tingkat ketersediaan dan keamanan pangannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan masyarakat. Ketersediaan pangan di tingkat nasional tidak menjamin ketersediaan pangan di tingkat provinsi. Beberapa daerah dengan lahan sawah yang luas akan mengalami surplus beras di saat panen, sedangkan daerah yang hanya memiliki lahan sawah relatif sempit akan dikategorikan sebagai daerah kekurangan beras dari sisi produksi. Kondisi ini akan menyebabkan daerah tersebut disebut mengalami kerawanan pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sebuah prototipe model perencanaan spasial untuk ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal potensial. Provinsi Jawa Barat dijadikan lokasi studi kasus untuk validasi model. Pendekatan sistem digunakan sebagai metode dalam penyusunan model. Model dibangun dalam bentuk perangkat lunak terintegrasi yang disebut "Model FoodAlt 1.0" yang dapat digunakan oleh pengambil keputusan untuk menentukan kebijakan ketahanan pangan. Output dari "Model FoodAlt 1.0" disajikan dalam bentuk peta spasial dan grafik . Hasil simulasi berdasarkan skenario pengurangan konsumsi beras dan mengasumsikan bahwa konsumsi beras akan digantikan oleh sumber daya lokal potensial menunjukkan kecukupan beras hampir di semua kabupaten di provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan mengurangi konsumsi beras dan mengganti konsumsi dengan sumber karbohidrat lain akan memberikan dampak signifikan bagi kecukupan beras di provinsi Jawa Barat. Model diharapkan dapat digunakan sebagai alat penunjang keputusan bagi para pembuat kebijakan ketahanan pangan nasional.

Kata kunci: Model spasial, sistem dinamik, ketahanan pangan.

ABSTRACT

Food insecurity can be interpreted as a condition of a region, community or household where the availability of food is not sufficient to meet the needs for the growth and health of the people. Food availability at national level does not guarantee the availability of food at the province level. Some regions consists of paddy field will have surplus of rice in harvest time, but the regions without paddy field will consider as lack of rice in function of production. This condition can lead to food insecurity event in the region. The purpose of this research is to develop a model prototype on Spatial Planning for Food Security Based on Local potential resources. Jawa Barat province is taken as case study for the model. System approach methodology is used to develop the prototype. The model

prototype is presented as the integrated software called “FoodAlt 1.0. Model” expected to

be used by decision makers in order to determine the food security policy while

maintaining the rice production. The outputs of “FoodAlt 1.0. Model” is presented in the

(2)

Prosiding Seminar Hasil-Hasil PPM IPB 2013

showed that by decreasing rice consumption and substitute the demand with other carbohydrate sources could give significant impact of rice sufficiency at Jawa Barat province. The model is expected to use as decision support tool for national food security policy maker.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil uji beda total pengeluaran (biaya) untuk konsumsi pangan (konsumsi beras, protein nabati, protein hewani, karbohidrat non-beras) dan non-pangan (biaya

Faktor utama yang mempengaruhi ketahanan pangan tingkat wilayah kabupaten Wonogiri adalah: usia petani, jumlah anggota keluarga, produksi beras, konsumsi

Penelitian ini menyimpulkan bahwa : (1) Konsumsi pangan hewani sebagian besar masih belum beragam sesuai dengan Pola Pangan Harapan; (2) Kecukupan konsumsi pangan

Pengembangan formula makanan enteral dari bahan pangan lokal ini dilakukan dengan memanfaatkan tepung beras dan tepung ganyong sebagai sumber karbohidrat, tepung

Penelitian ini menyimpulkan bahwa : (1) Konsumsi pangan hewani sebagian besar masih belum beragam sesuai dengan Pola Pangan Harapan; (2) Kecukupan konsumsi pangan

(2016) menunjukkan bahwa penurunan harga beras akan meningkatkan konsumsi pangan komoditas pangan lain sehingga pada rumah tangga perkotaan Jawa Barat terjadi

Secara terminologis, setidaknya gerakan ini memiliki 4 (empat) makna penting, yaitu (1) gerakan ini merupakan sebuah upaya konkrit untuk mengurangi total konsumsi beras; (2)

Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, zat besi, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, aktivitas fisik