• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metafora Gramatikal Pada Teks Terjemahan Buku Biologi Bilingual

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Metafora Gramatikal Pada Teks Terjemahan Buku Biologi Bilingual"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

METAFORA GRAMATIKAL PADA TEKS

TERJEMAHAN BUKU BIOLOGI BILINGUAL

TESIS

Oleh

TINA RIA ZEN 127009019/LNG

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

METAFORA GRAMATIKAL PADA TEKS TERJEMAHAN

BUKU BIOLOGI BILINGUAL

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Linguistik pada Program Pascasarjana

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara

Oleh:

TINA RIA ZEN

127009019/LNG

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : METAFORA GRAMATIKAL PADA TEKS TERJEMAHAN BUKU BIOLOGI BILINGUAL Nama Mahasiswa : Tina Ria Zen

Nomor Pokok : 127009019 Program Studi : Linguistik

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.)

Ketua Anggota

(Dr. Syahron Lubis, M.A.)

Ketua Program Studi Dekan

(Prof.T. Silvana Sinar, M.A.,Ph.D.) (Dr. Syahron Lubis, M.A.)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal: 27 Agustus 2014

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. Anggota : 1. Dr. Syahron Lubis, M.A.

(5)

PERNYATAAN

Judul Tesis

METAFORA GRAMATIKAL PADA TEKS

TERJEMAHAN BUKU BIOLOGI BILINGUAL

Dengan ini Penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara adalah benar hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian teertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, September 2014 Penulis,

(6)

METAFORA GRAMATIKAL PADA TEKS TERJEMAHAN BUKU BIOLOGI BILINGUAL

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengindentifikasi jenis-jenis metafora gramatikal pada teks terjemahan buku Biologi bilingual tingkat tingkat SMA kelas XI, (2) mendeskripsikan kualitas terjemahan dari sisi keakuratan terjemahannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari klausa-klausa yang terdapat pada buku Biologi Bilingual tingkat SMA kelas XI yang berbahasa sumber Inggris dan bahasa sasarannya Indonesia. Analisis data didasarkan pada teori linguistik sistemik fungsional oleh Halliday yang dikaitkan dengan teori penerjemahan Larson. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca buku, mencatat data lalu mengidentifikasi dan mengklasifikasikan data tersebut kepada jenis-jenis metafora gramatikal dan sisi keakuratan terjemahannya, kemudian data disajikan menggunakan teknik sampling dengan mereduksi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis metafora gramatikal yang paling mendominasi pada teks terjemahan buku tersebut adalah metafora eksperiensial dengan presentase sangat tinggi sebanyak 90,00% yang meliputi relokasi pengalaman sebanyak 35%, relokasi proses sebanyak 25% dan melokasi peringkat pengodean pengalaman sebanyak 30%. Dan hasil terjemahan yang paling mendominasi pada teks terjemahan buku tersebut adalah terjemahan akurat dengan presentase 77,5%. Sedangkan kedua jenis metafora lainnya yaitu metafora interpresonal dan tekstual memiliki presentase rendah yakni masing-masing 5%. Terjemahan kurang akurat ditemukan sebanyak 12,5% dan terjemahan tidak akurat sebanyak 10%.

(7)

GRAMMATICAL METAPHOR IN THE TRANSLATED TEXT OF THE BILINGUAL BIOLOGY BOOK

ABSTRACT

The purpose of this descriptive qualitative study was (1) to identify the types of grammatical metaphor found in the translated text of the Bilingual Book for SeniorHigh School Class XI, and (2) to describe the translation quality viewed from the accuracy of the translation product. The data for this study were the clauses found in the Bilingual Biology Book for Senior High School Class XI whose SL is English and TL is Bahasa Indonesia. The data obtained were analyzed based on the Systemic Functional Linguistics theory developed by Halliday and related to the theory of translation developed by Larson. The data were collected through reading the books, recording the data then identifying and classifying the data according to the types of grammatical metaphor and the accuracy of its translation and after that, the data were presented by using sampling technique through data reduction. The findings of this study showed that the most dominating types of grammatical metaphor found in the translation text of book was the experiential metaphor with high percentage of 90% comprising experience relocation (35%), process relocation (25%), and experience coding rank relocation (30%. The most dominating result of translation found in the translated text of the book was the accurate translation with the percentage of 77,5%. While the other two types of metaphor namely interpersonal and textual metaphor, were with low percentage of 5% respectively. Less accurate translation (12,5%) and inaccurate translation (10%) were also found.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah kesehatan, rezeki, dan kesempatan kepada penulis sehingga tesis ini dapat terselesaikan dengan baik.

Dalam melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, penulis banyak memperoleh dukungan maupun bantuan baik moril dan materil dari beberapa pihak yang telah berbaik hati dan selalu memotivasi. Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang sebesar-besarny kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&h, M.Sc, (CTM), Sp.A(K), selaku rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., selalu Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara sekaligus pembimbing I yang sangat membantu penulis dengan memberikan bimbingan, dukungan, saran dan kritikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

4. Ibu Prof. Dr. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D., selaku Ketua Program Studi Linguistik Universitas Sumatera Utara sekaligus selaku penguji yang telah memberikan banyak arahan, masukan, kritikan serta ide cerdas dan cemerlang yang sangat bermanfaat demi kesempurnaan isi tesis ini.

5. Bapak Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D., Ibu Dr. Roswita Silalahi, M.Hum. selaku penguji tesis ini yang telah memberikan banyak arahan, masukan, kritikan serta ide cerdas dan cemerlang yang sangat bermanfaat demi kesempurnaan isi tesis ini.

(9)

terkecuali, yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dan sangat berguna dalam pengembangan ilmu pengetahuan bagi penulis.

7. Seluruh staf pegawai Program Studi Linguistik yang telah melayani dengan sangat baik dalam urusan administrasi penulis sehingga tesis ini dapat terealisasi.

8. Seluruh teman seangkatan tahun 2012, S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara khususnya Mayasari dan Juliana yang saling menyemangati dan saling mendukung satu dengan yang lainnya selama proses penyelesaian tesis ini.

9. Papa dan Ibu tercinta yaitu Bapak Drs. H. Marzaini Manday, MSPD dan Ibu Dr. Hj. Masdiana Lubis, M.Hum yang telah banyak

memberikan motivasi dan dukungan baik secara moril ataupun materil dalam penyelesaian tesis ini.

10. Suami tercinta yaitu Irwan dan anak-anak tersayang yaitu Sabila Nirwana Manday dan Mikaila Denova Manday yang sangat mendukung dan memberi kesempatan yang luar biasa buat penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Sebagai akhirul kalam, penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan manfaar yang berguna bagi seluruh pembacanya terutama bagi orang-orang yang tertarik untuk membahas metafora gramatikal. Penulis juga menerima saran dan kritikan membangun demi kesempurnaan isi tesis ini. Semoga Allah SWT memberkahi dan meridhoi segala usaha dan kerja keras penulis selama ini. Amin ya robbal alamin.

Medan, Oktober 2014 Penulis,

(10)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. DATA PRIBADI

Nama : Tina Ria Zen

Tempat/Tgl lahir : Medan, 31 Juli 1977 Pekerjaan : Asisten Dosen

Alamat : Jl. Baja 4 gg. Baru 58 Medan

Alamat Email

Telepon Rumah/Hp : 081264424747

Status : Menikah

Nama Suami : Irwan

Nama Anak : 1. Sabila Nirwana Manday 2. Mikaila Denova Manday

2. RIWAYAT PENDIDIKAN

1. Pascasarjana : Linguistik USU Medan

2. S1 (AKTA IV) : FKIP UMN-Alwashliyah Medan (2008) 3. D1 Pariwisata : Polisukma Medan

4. S1 Sastra Inggris : STBA Harapan Medan

5. SMA : SMAN 12 Medan

6. SMP : SMP Swasta YAPENA Medan

(11)

DAFTAR ISI

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat penelitian ... 8

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 9

1.4.2 Manfaat Praktis ... 9

1.5 Batasan Masalah ... 10

1.6 Klarifikasi istilah ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI ... 12

2.1 Kajian Pustaka ... 12

2.2 Kerangka Teori ... 19

2.2.1 Teori Linguistik Sistemik Fungsional ... 19

2.2.2 Metafora Gramatikal ... 23

2.2.2.1 Jenis-Jenis metafora Gramatikal……… 25

2.2.2.2 Keterkaitan Metafora Dalam Penerjemahan…………... 30

2.2.3 Teori Penerjemahan……….. 33

2.2.4 Keakuratan Pada Terjemahan……….. 34

2.3 Penelitian Yang Relevan……… 36

2.4 Model Penelitian dan Konstruk Analisis ... 41

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 43

3.1 Metode dan Rancangan Penelitian ... 43

3.2 Data dan Sumber Data ... 43

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 46

(12)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50

4.1 Pengantar ... 50

4.2 Hasil Penelitian ... 50

4.2.1 Jenis-Jenis Metafora Gramatikal ... 50

4.2.1.1 Metafora Eksperiensial ... 50

4.2.1.2 Metafora Interpersonal ... 62

4.2.1.3 Metafora Tekstual ... 63

4.2.2 Kualitas Terjemahan ... 64

4.2.2.1 Terjemahan Akurat ... 64

4.2.2.2 Terjemahan Kurang Akurat ... 65

4.2.2.3 Terjemahan Tidak Akurat ... 67

4.3 Temuan ... 68

4.4 Pembahasan ... 73

BAB V PENUTUP ... 76

5.1 Simpulan ... 76

5.2 Saran ... 77

(13)

METAFORA GRAMATIKAL PADA TEKS TERJEMAHAN BUKU BIOLOGI BILINGUAL

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengindentifikasi jenis-jenis metafora gramatikal pada teks terjemahan buku Biologi bilingual tingkat tingkat SMA kelas XI, (2) mendeskripsikan kualitas terjemahan dari sisi keakuratan terjemahannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari klausa-klausa yang terdapat pada buku Biologi Bilingual tingkat SMA kelas XI yang berbahasa sumber Inggris dan bahasa sasarannya Indonesia. Analisis data didasarkan pada teori linguistik sistemik fungsional oleh Halliday yang dikaitkan dengan teori penerjemahan Larson. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca buku, mencatat data lalu mengidentifikasi dan mengklasifikasikan data tersebut kepada jenis-jenis metafora gramatikal dan sisi keakuratan terjemahannya, kemudian data disajikan menggunakan teknik sampling dengan mereduksi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis metafora gramatikal yang paling mendominasi pada teks terjemahan buku tersebut adalah metafora eksperiensial dengan presentase sangat tinggi sebanyak 90,00% yang meliputi relokasi pengalaman sebanyak 35%, relokasi proses sebanyak 25% dan melokasi peringkat pengodean pengalaman sebanyak 30%. Dan hasil terjemahan yang paling mendominasi pada teks terjemahan buku tersebut adalah terjemahan akurat dengan presentase 77,5%. Sedangkan kedua jenis metafora lainnya yaitu metafora interpresonal dan tekstual memiliki presentase rendah yakni masing-masing 5%. Terjemahan kurang akurat ditemukan sebanyak 12,5% dan terjemahan tidak akurat sebanyak 10%.

(14)

GRAMMATICAL METAPHOR IN THE TRANSLATED TEXT OF THE BILINGUAL BIOLOGY BOOK

ABSTRACT

The purpose of this descriptive qualitative study was (1) to identify the types of grammatical metaphor found in the translated text of the Bilingual Book for SeniorHigh School Class XI, and (2) to describe the translation quality viewed from the accuracy of the translation product. The data for this study were the clauses found in the Bilingual Biology Book for Senior High School Class XI whose SL is English and TL is Bahasa Indonesia. The data obtained were analyzed based on the Systemic Functional Linguistics theory developed by Halliday and related to the theory of translation developed by Larson. The data were collected through reading the books, recording the data then identifying and classifying the data according to the types of grammatical metaphor and the accuracy of its translation and after that, the data were presented by using sampling technique through data reduction. The findings of this study showed that the most dominating types of grammatical metaphor found in the translation text of book was the experiential metaphor with high percentage of 90% comprising experience relocation (35%), process relocation (25%), and experience coding rank relocation (30%. The most dominating result of translation found in the translated text of the book was the accurate translation with the percentage of 77,5%. While the other two types of metaphor namely interpersonal and textual metaphor, were with low percentage of 5% respectively. Less accurate translation (12,5%) and inaccurate translation (10%) were also found.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Pada dasarnya metafora adalah suatu bentuk kekreatifan makna dalam menggunakan bahasa saat berkomunikasi baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Di dalam berbahasa, metafora digunakan untuk membuat makna yang dihasilkan dari ujaran seseorang dapat tersampaikan dengan singkat, padat serta berisi dan yang paling penting adalah dapat dimengerti oleh mitra tutur sehingga tercipta kesan dan kepiawaian berbahasa seseorang.

Pada penelitian ini, kajian yang diteliti adalah metafora gramatikal. Jenis metafora ini berbeda dengan metafora leksikal. Metafora gramatikal lebih fokus ke bidang sintaksis, dimana kajiannya lebih dominan pada tataran struktur tata bahasa, sedangkan metafora leksikal fokus ke bidang semantik yang kajiannya dominan pada tataran makna.

Pada metafora gramatikal ditemukan perubahan-perubahan mendasar pada bentuk struktur gramatikal sebuah klausa atau kelas kata sehingga secara otomatis dapat merubah suatu fungsi kelas kata menjadi fungsi kelas kata lainnya pada klausa. Sebagai contohnya dapat dilihat dari 2 klausa dibawah ini:

a. Dinding sel endodermis tumbuh. (grup verba, proses)

b. Pertumbuhan dinding sel endodermis sangat cepat. (grup nomina,

partisipan)

(16)

katanya menjadi pertumbuhan sehingga fungsinya di dalam klausa juga berubah menjadi grup nomina atau partisipan. Disini dapat terlihat bahwa metafora terjadi pada klausa b yaitu pertumbuhan.

Menurut Halliday (2004:592-3), dalam teks terdapat partisipan, proses dan sirkumstan. Partisipan direalisasikan oleh grup nominal, proses direalisasikan oleh grup verbal dan sirkumstan oleh grup adverba atau frase preposisi. Pada kondisi tertentu, terdapat hubungan realisasi antara unit semantik dan unit gramatikal, yang menciptakan perluasan potensi makna dalam bahasa, fenomena ini dinamakan metafora gramatikal.

Penelitian metafora gramatikal sering juga bersumber dari buku-buku teks, tidak terkecuali juga buku teks sains atau ilmiah. Halliday (2004:xxiii) menyatakan bahwa tidak ada register (konteks situasi) tentang sains, yang banyak adalah berupa wacana ilmiah yang meliputi sub disiplin dan disiplin yang luas termasuk di dalamnya artikel khusus (termasuk abstrak), buku-buku teks dan lain-lain yang menggunakan ranah teknikal untuk ditujukan kepada pembaca profesional dan bagi pembaca pemula atau pelajar dalam menyempurnakan ilmu. Dalam wacana sains/ilmiah ini terdapat metafora yang menjadi fitur bahasa yaitu cara mengorganisasi tata bahasa sebagai sumber makna.

(17)

buku bilingual. Defenisi teks terjemahan adalah teks yang saling menerjemahkan dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran. Secara teoritis, proses penerjemahan itu sendiri melibatkan dua teks yang berbeda. Pada penelitian ini, teks yang diteliti adalah teks terjemahan yang T1 berbahasa inggris dan T2 berbahasa Indonesia.

Penelitian ini fokus pada tujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis metafora gramatikal yang ditemukan dalam buku bilingual sehingga dengan dilakukannya penelitian pada buku tersebut, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam dunia pendidikan dan membuktikan bahwa bahasa metafora digunakan didalam buku teks Biologi atau dalam bahasa tulis serta lazim digunakan dalam bidang akademik dan kajian ilmiah. Pernyataan tersebut didukung oleh Saragih (2006:223) yang mengatakan bahwa bahasa metafora digunakan oleh orang dewasa atau dalam bahasa tulis dan lazim digunakan dalam bidang akademik dan kajian ilmiah.

Disamping fokus dengan tujuan pertama diatas yaitu mengidentifikasi jenis-jenis metafora gramatikal, penelitan ini juga fokus melihat kualitas terjemahan sebuah teks dari sisi keakuratan terjemahannya. Berhubung teks yang diteliti adalah teks terjemahan buku bilingual, maka peneliti juga tertarik untuk meneliti masalah tersebut. Hal ini dianggap menarik karena pada umumnya kalimat yang ada pada buku-buku teks sains sering menggunakan kata-kata yang yang berbahasa ilmiah. Ilmiah disini maksudnya adalah adanya istilah-istilah khusus pada tiap kata sesuai dengan bidangnya masing-masing.

(18)

mampu menemukan padanan kata yang sesuai antara T1 dan T2, dalam arti mampu untuk menerjemahkan secara harfiah tanpa menambah atau mengurangi informasi yang ada pada T1 ke dalam T2 sehingga keakuratan suatu terjemahan dapat teridentifkasi. Setelah hal tersebut di atas diteliti, maka keakuratan terjemahan pada sebuah teks dapat diketahui. Hasil dari penelitian tersebut dapat mengidentifikasi suatu terjemahan yang akurat, kurang akurat dan tidak akurat.

Ada tiga tingkat kualitas terjemahan yaitu keakuratan, keberterimaan dan keterbacaan. Dari ketiga tingkat di atas, peneliti hanya mengkaji keakuratan saja Tingkat keberterimaan dan keterbacaan tidak dikaji karena menurut asumsi peneliti jika suatu buku sudah diterbitkan dan diizinkan untuk dipakai sebagai kurikulum dalam proses belajar mengajar, maka buku tersebut isinya sudah berterima dan terbaca oleh pembaca atau para pelajar.

Keilmiahan bahasa sains buku bilingual terkadang cenderung membuat sains sulit untuk dipahami oleh para siswa, sehingga akibatnya mereka kurang menyukai pelajaran Sains, terlebih lagi bila materi pelajaran disampaikan dengan menggunakan bahasa asing seperti Inggris. Di samping mereka kurang memahami bahasa Inggris, kebanyakkan dari mereka juga tidak memahami istilah-istilah khusus dari bidang sains tersebut. Hal ini terus berlanjut jika guru bidang studi belum menjelaskan semua kosa kata kepada para siswa, walaupun buku-buku tersebut disajikan menggunakan dua teks dengan bahasa yang berbeda, yakni Indonesia dan Inggris.

(19)

‘jargon’ which has the effect of making the learner feel excluded and alienated from the subject-matter.” Pendapat ini sangat mendukung kondisi di atas.

Masih berdasarkan pendapat Halliday di dalam buku yang disebut di atas, diketahui bahwa pengalaman ini ternyata tidak hanya berlaku bagi siswa yang mempelajari sains dalam bahasa Inggris, tetapi juga dalam bahasa lainnya seperti Indonesia. Kesulitan ini dirasakan bagi semua siswa, baik yang bahasa Inggris adalah bahasa ibu maupun bahasa kedua bagi mereka.

Hal di atas juga tidak hanya terjadi di kawasan Asia Tenggara saja, seperti yang terjadi dinegara kita Indonesia yaitu negara yang memiliki bahasa persatuan dan juga memiliki beragam bahasa daerah dari masing-masing suku. Bahasa daerah disini berfungsi sebagai bahasa ibu. Keragaman bahasa itulah yang mengakibatkan kesulitan itu menjadi masalah karena di negara kita bahasa Inggris itu masih dianggap sebagai bahasa asing (foreign language) dan bukan bahasa kedua (second language).

Keadaan seperti itu juga terjadi di negara monolingual seperti Birmingham, Toronto dan Sydney yang bahasa Inggris merupakan bahasa Ibu mereka, juga tidak ditemukan batasan yang jelas bagi siswa yang berbahasa ibu Inggris dan yang tidak dalam mempelajari dan memahami bidang studi sains. Situasi inilah yang membuat guru bidang studi sains harus memikirkan terlebih dahulu istilah khusus dalam bidang sains sebelum memberitahukan kosa katanya kepada para siswanya.

(20)

struktur tata bahasa atau gramatikal yang secara langsung merubah fungsi kelas kata, misalnya dari kata kerja menjadi kata benda.

Berikut ini adalah contoh analisis data dalam melihat keterkaitan antara metafora gramatikal dan kualitas terjemahannya khususnya keakuratan. Data diambil dari teks tejemahan buku Biologi bilingual halaman 63 bagian 3 dari sub bahasan “Susunan Jaringan pada tumbuhan Dikotil.”

Contoh analisis data metafora gramatikal :

Teks Bsu Teks Bsa

Endodermis cell wall changes Dinding sel endodermis mengalami perubahan.

• Klausa tersebut dianalisis menggunakan teori LSF seperti contoh berikut: Contoh data pada klausa lazim:

a. Bentuk klausa lazim

Dinding sel endodermis berubah

Aktor Proses material

Contoh data pada klausa metafora gramatikal: b. Bentuk klausa metafora gramatikal

Dinding sel endodermis

mengalami perubahan

Pengindera Proses mental Fenomenon

Dari contoh di atas, pada teks T1ditemukan klausa Endodermis cell wall

(21)

endodermis berubah. Kata berubah pada T1 termasuk ke dalam bentuk proses material dan dianggap lazim, tetapi pada T2 ditemukan klausa Dinding sel endodermis mengalami perubahan. Ternyata, hasil terjemahan yang terdapat pada T2 mengalami perubahan pada bentuk struktur gramatikal dan fungsinya, yaitu berubahnya bentuk dari kata berubah menjadi mengalami perubahan.

Adanya perealisasian pengalaman dengan bentuk tidak umum berpotensi untuk membuat rasa bahasa memberi tanda bahwa seolah-olah ada sesuatu yang tidak lazim pada struktur tata bahasa suatu teks. Kata was change pada T1 dimetaforakan menjadi mengalami perubahan pada T2, sehingga terjadilah metafora gramatikal pada klausa dalam T2, kata berubah yang fungsinya sebagai proses material (grup verba) dikodekan menjadi perubahan yang berfungsi sebagai fenomenon (grup nomina). Sedangkan kata mengalami adalah grup verba yang berfungsi sebagai proses mental dan biasa pelakunya adalah manusia. Jadi dinding sel dikodekan sebagai manusia yang bisa dikenakan proses mengalami. Klausa tersebut termasuk dalam kategori metafora proses.

• Contoh analisis data mengenai kualitas terjemahan dari sisi keakuratannya:

Teks Bsu Teks Bsa

Endodermis cell wall changes Dinding sel endodermis mengalami perubahan

Dari contoh di atas, diketahui bahwa hasil terjemahan pada T2 kurang akurat karena terjadi penambahan makna atau informasi pada T2. Kata changes

(22)

yang tidak sesuai antara T1 dan T2. Proses metafora tersebut juga merubah fungsi dari kelas kata tersebut. Ketidaksesuaian makna antara T1 dan T2 yang mengakibatkan terjemahan tersebut tidak akurat.

1.2 Rumusan Masalah

Supaya penelitian ini tetap konsisten terhadap analisis metafora gramatikal pada teks terjemahan buku Biologi bilingual, maka rumusan masalah yang diteliti adalah sebagai berikut:

1. Jenis metafora gramatikal apa sajakah yang digunakan dalam teks terjemahan buku Biologi bilingual tingkat SMA kelas XI?

2. Bagaimanakah keakuratan teks terjemahan buku tersebut? 1.3 Tujuan Penelitian

Dalam suatu penelitian sangatlah penting memikirkan tentang tujuan penelitian. Hal ini bertujuan agar si peneliti tidak salah dalam menjawab rumusan masalah yang telah dibuat. Tujuan penelitian dalam tesis ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengidentifikasi jenis metafora gramatikal pada teks terjemahan buku Biologi bilingual tingkat SMA kelas XI.

2. Untuk mendeskripsikan keakuratan teks terjemahan buku tersebut. 1.4 Manfaat Penelitian

(23)

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini memberian manfaat kepada banyak kalangan karena:

a. Hasil dari penelitian ini dapat menyumbangkan ide-ide ataupun gagasan baru dalam pengembangan kajian analisis wacana (Linguistik) dan kajian terjemahan, khususnya kajian metafora gramatikal pada teks terjemahan buku Biologi bilingual.

b. Dapat menjadi dasar teori dalam menggambarkan metafungsi bahasa dari teks terjemahan khususnya buku bilingual.

1.4.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini memberikan manfaat praktis sebagai berikut:

a. Hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahan acuan atau referensi bagi penerjemah dalam menemukan jenis metafora gramatikal dalam teks terjemahan buku Biologi bilingual.

b. Penelitian ini dapat memberikan masukan yang positif kepada praktisi serta menambah wawasan bagi akademisi/para siswa yang tertarik terhadap hal yang berkaitan dengan pengkajian jenis metafora gramatikal teks terjemahan khususnya buku bilingual.

(24)

1.5 Batasan Masalah

Penelitian ini fokus pada analisis terjemahan produk. Analisis dilakukan pada data berupa beberapa klausa terpilih dan dianalisis dengan tujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis metafora gramatikal dan melihat sisi keakuratan hasil terjemahan teks terjemahan buku bilingual, sehingga dapat menjawab semua rumusan masalah.

1.6 Klarifikasi Istilah

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Penggunaan beberapa istilah tersebut dimaksudkan untuk memperjelas dan memudahkan para pembaca dalam memahami maksud istilah tersebut. Berikut ini beberapa istilah beserta penjelasan yang digunakan dalam pembahasan penelitian ini:

(1) Metafora (metaphor) adalah merupakan pemahaman atau perealisasian makna dalam satu bidang berdasarkan atau merujuk bidang lain. (Saragih, 2006:190)

(2) Metafora Gramatikal (Grammatical Metaphor) adalah perealisasian tata bahasa yang lazim digunakan untuk sesuatu pengalaman tertentu digunakan untuk pengalaman lain. (Saragih, 2006:193)

(3) TLSF adalah Teori Linguistik Sistemik Fungsional.

(4) Menerjemahkan adalah kegiatan menerjemahkan bahasa sumber ke dalam bahasa penerima, dimulai dari bentuk bahasa pertama menuju bentuk bahasa kedua dengan menggunakan struktur semantik. (Larson, 1984:3) (5) Keakuratan (accuracy) adalah kesesuian makna bahasa sumber ke dalam

(25)

(6)

(7)

Teks terjemahan adalah teks yang melakukan kegiatan menerjemahkan dengan melibatkan dua teks yang berbeda bahasa.

(8)

Bsu adalah bahasa sumber.

(9)

Bsa adalah bahasa sasaran.

(10)

(26)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2.1 Kajian Pustaka

Penelitian ini meneliti teks terjemahan buku bilingual yang berupa wacana sains untuk mengdentifikasi jenis metafora gramatikal dan keakuratan terjemahan. Menurut TLSF, dalam menganalisis wacana ada lima pokok pikiran yang menjadi dasar atau kerangka kerja yaitu: (1) bahasa adalah sistem, (2) bahasa adalah fungsional, (3) fungsi bahasa adalah membuat makna- makna, (4) bahasa adalah semiotik sosial, dan (5) penggunaan bahasa adalah kontekstual.

TLSF juga berfokus pada kajian teks atau wacana dalam konteks sosial. Pada dasarnya, wacana dan teks berada diranah yang berbeda. Wacana berada diranah sosial sedangkan teks ada diranah linguistik. Tetapi walaupun terpisah ranah, wacana dan teks merupakan satu realisasi karena wacana mendapat ekspresinya di dalam teks.

Halliday berpendapat (1994: xvii) bahwa tidak ada kajian bahasa yang bebas dari nilai atau anggapan dasar. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dalam perpektif linguistik fungsional sistemik (LSF), bahasa merupakan sistem arti dan sistem lainnya yaitu sistem bentuk dan ekspresi untuk merealisasikan arti tersebut. Menurutnya teks adalah sebagai kumpulan makna yang diungkapkan atau dikodekan dalam kata- kata dan struktur.

(27)

kepada teks itu sendiri agar dapat diperhatikan secara sosial sebagai sesuatu yang utuh. Teks mempunyai unit bermakna yang menjadi sumber pembuat makna dan mengandung kualitas suara untuk teks lisan atau naskah teks tulis.

Sementara itu, Machali (2009:34) berpendapat bahwa teks adalah perwujudan suatu bahasa dan bahasa itu sendiri hakikatnya adalah unsur kebudayaan, jadi membahas teks terjemahan tidak terlepas hubungannya dengan kebudayaan. Selain teks, wacana juga dianalisis menggunakan pendekatan sistemik fungsional yang dipelopori oleh Halliday.

Pendekatan sistemik fungsional memandang bahwa analisis wacana sebagai satu unit makna yang menjadi objek kajian. Konstribusinya terhadap pemahaman teks menunjukkan bahwa analisis linguistik mampu membuktikan bagaimana dan mengapa sebuah teks mempunyai arti seperti yang dikandungnya. Dalam prosesnya, analisis wacana juga mampu memperlihatkan makna yang beragam, alternatif, ambiguitas, metafora dan yang lainnya.

(28)

hubungan yang arbriter, maksudnya bentuk-bentuk gramatikal berkaitan secara alamiah dengan makna kata yang dikodekan.

Dalam penelitian ini, teori LSF yang digunakan dalam menganalisis metafora gramatikal dikaitkan dengan teori penerjemahan karena sumber data adalah buku bilingual. Teori penerjemahan bertolak dari adanya teks penerjemahan yaitu pengalihan pesan yang terdapat dalam teks bahasa lain. Ada dua jenis teori penerjemahan yaitu: (a) Teori yang bertujuan mendukung praktik penerjemahan dan (b) Teori yang berorientasi pada penelitian tentang penerjemahan.

Kajian dalam penerjemahan dipelopori oleh Newmark (1988) yang mendefinisikan terjemahan sebagai berikut: “Translation is the superordinate term for converting the meaning of any source language utterance to the target language”. Maksud dari definisi tersebut adalah bahwa didalam penerjemahan terjadi suatu proses konversi makna ujaran dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran. Selanjutnya dalam melakukan proses penerjemahan, Newmark (1988:5) menjelaskan bahwa teks adalah sesuatu yang memiliki dinamika dan bukan sekedar sesuatu yang statis.

Selaras dengan pendapat diatas, Catford (1965:20) juga menyatakan bahwa translation is the replacement of textual material in one language (SL) by equivalent textual material in another language (TL). Pemahaman dari definisi tersebut adalah bahwa suatu penerjemahan merupakan proses pertukaran atau pengalihan suatu teks dari bahasa sumber dengan mencari kesepadanan terdekat ke dalam bahasa sasaran.

(29)

different verbal language (Munday:2001:5). Maksud dari teks tersebut adalah bahwa terjemahan merupakan pertukaran bahasa lisan yang original kedalam teks tertulis dalam sebuah bahasa lisan yang berbeda.

Sementara itu, Larson (1984) berpendapat bahwa translation consists of transferring the meaning of source language to the receptor language. This done by going from the first language to the second language by way of semantic structure. It is meaning which is being transferred and must held constant. Only the form change. Maksudnya adalah penerjemahan merupakan suatu proses pentransferan makna dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran berdasarkan struktur semantik.

Nida and Taber (1969) juga menuturkan bahwa, ”translating consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style.” Maksudnya, menerjemahkan adalah suatu usaha untuk memproduksi kembali makna pesan yang terdapat didalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan mencari kesepadan makna yang natural dan terdekat dari segi bahasa dan segi gayanya.

Menurut Nida dan Taber (1969:12) translasi harus menghasilkan padanan (equivalence) sedekat mungkin antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Kesepadanan itu mencakup unsur linguistik dan non linguistik dan terdiri dari empat tipe kesepadanan (equivalence).

(30)

paradigmatic equivalence yaitu kesepadanan pada tataran grammatikal. Kesepadanan ini lebih melihat hubungan antarunsur dalam suatu kalimat dan mengatakan kesepadanan diatas tataran leksikal. 3) stylistic equivalence yaitu kesepadana gaya bahasa antara bahasa sumber dan bahasa sasaran; dan 4) Textual equivalence yaitu kesepadanan pada tataran tekstual.

Kesimpulan dari hal di atas adalah bahwa hasil terjemahan harus mempunyai equivalensi terhadap aspek-aspek linguistik, fungsi, gaya bahasa, makna dan struktur teks. Terjemahan yang ideal adalah: 1) terjemahan yang akurat, maksudnya terjemahan tersebut tepat, tidak menyimpang, tidak mengurangi dan tidak menambah makna yang tidak diperlukan. 2) Penerjemahan itu juga terbaca (readibility), maksudnya adalah hasil terjemahan tersebut mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca. Terakhir 3) terjemahan itu berterima. Maksudnya adalah terjemahan itu dapat diterima oleh pembaca menurut budaya dan bahasa sasaran yang digunakan sipembaca.

Sementara itu, Larson (1984) berpendapat bahwa translation consists of transferring the meaning of source language to the receptor language. This done by going from the first language to the second language by way of semantic structure. It is meaning which is being transferred and must held constant. Only the form change. Maksudnya adalah penerjemahan merupakan suatu proses pentransferan makna dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran berdasarkan struktur semantik.

(31)

dan konteks budaya dari teks bahasa sumber. (2) menganalisis teks bahasa sumber untuk menemukan maknanya. (3) mengungkapkan kembali makna yang sama dengan menggunakan yang leksikon dan struktur grammatikal yang sesuai dalam bahasa sasaran.

Larson juga mengatakan bahwa ketika seorang penerjemah melakukan proses penerjemahan pada suatu teks maka tujuannya adalah untuk mencapai translasi idiomatik dan berusaha memadankan makna teks yang ada dalam bahasa sumber ke dalam bentuk yang lebih alami pada bahasa sasarannya. (1984:17).

Dengan kata lain proses penerjemahan merupakan suatu aktivitas yang berhubungan dengan leksikon, struktur tata bahasa, situasi komunikasi dan konteks budaya teks bahasa sumber yang dianalisis guna menemukan makna sepadan dan berusaha untuk mengkomunikasikan makna teks dari bahasa sumber ke dalam bentuk alami suatui bahasa sasaran sehingga terciptalah hasil terjemahan yang baik dan benar.

Larson (1984:4) secara sederhana menampilkan figura proses penerjemahan sebagai berikut:

SOURCE LANGUAGE RECEPTOR LANGUAGE

Figura 1 : Proses Penerjemahan (Larson, 1984:4)

Text to be translated Translation

Re-express the meaning Discover the meaning

(32)

Sementara itu, dalam artikelnya “On Linguistic Aspect of Translation” Jakobson membagi translasi atas tiga jenis (Munday: 2012) yaitu:

a. Intralingual Translation (Translasi Intralingual) adalah interpretasi tanda verbal dengan menggunakan tanda lain dalam bahasa yang sama

b. Interlingual Translation (Translasi Interlingual) adalah interpretasi tanda verbal dengan melibatkan dua bahasa yang berbeda.

c. Intersemiotic Translation (Translasi Intersemiotik) adalah interpretasi tanda verbal dengan tanda dalam sistem tanda non-verbal

Hatim dan Munday berpendapat bahwa dalam penerjemahan, teks yang diterjemahkan mengalami perbedaan pada konsep atau kondisi yang berbeda-beda baik dari jenis maupun bentuk-bentuk tulisannya yang kurang terstruktur. Disini penerjemah harus menghadapi keadaan tersebut dan berusaha untuk mengatasi semua masalah yang dapat memperlambat proses penerjemahan.

Jadi penerjemah harus menyelaraskan kode bahasa, nilai budaya, dunia dan persepsi tentang dunia tersebut, gaya estetika dan sebagainya. Penerjemahan juga mengandung makna sebagai suatu usaha penulisan ulang yang telah dituliskan oleh seseorang dalam menyampaikan pesan yang ditulis dalam suatu bahasa kedalam bahasa lainnya.

(33)

2.2 Kerangka Teori

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua teori dalam menganalisis data. Teori-teori tersebut adalah teori LSF dan teori penerjemahan. Teori LSF digunakan untuk menemukan jawaban rumusan masalah yang pertama, bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis metafora gramatikal apa saja yang terdapat pada buku Biologi bilingual tingkat SMA kelas XI. Adapun teori penerjemahan digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang kedua dan tujuannya adalah untuk mendeskripsikan kualitas terjemahan dari sisi keakuratan berdasarkan ketepatan terjemahan dari teks terjemahan dari buku tersebut.

2.2.1 Teori Linguistik Sistemik Fungsional (TLSF)

Penelitian ini dilakukan dengan merujuk pada TLSF dalam mengidentifkasi jenis-jenis metafora gramatikal.. TLSF adalah teori bahasa yang bertitik tolak pada fungsi bahasa. Penelitian fokus pada tataran gramatikal khususnya metafora gramatikal pada buku bilingual. Metafora gramatikal merupakan suatu fenomena bahasa yang menghadirkan realisasi tidak lazim dalam mengungkapkan pengalaman nyata.

TLSF pertama sekali diperkenalkan oleh Profesor M.A.K Halliday dari Universitas Sydney, Australia. Teori ini merupakan gabungan dari teori Antropologi Malinowski dan Linguist J.R Firth di Eropa. Halliday menggabungkan dua teori tersebut serta mengembangkannya kedalam bahasa dan konteks. Menurutnya bahasa adalah sistem arti, sistem bentuk juga ekspresi dan memandang bahasa sebagai sumber untuk mengungkapkan makna.

(34)

serta memahami kesamaan aspek-aspek sekaligus perbedaan-perbedaan yang dimiliki semua bahasa. 2) untuk memahami kualitas sebuah teks. Maksudnya adalah memahami mengapa teks tersebut bermakna dan dinilai demikian. 3) untuk memahami variasi bahasa menurut pengguna dan fungsinya. 4) untuk memahami hubungan bahasa dengan budaya juga bahasa dengan situasi. 5) untuk menciptakan sistem-sistem. 6) untuk menghasilkan dan memahami ujaran dan memindahkan antara teks tulisan dan lisan.

Pada dasarnya, bahasa memiliki tiga metafungsi yang menentukan struktur bahasa. Dalam berinteraksi dan berkomunikasi, para pemakai bahasa selalu menggunakan bahasa antar sesamanya guna untuk memaparkan, mempertukarkan dan merangkai pengalaman. Alasan dari pernyataan di atas adalah karena dalam kehidupan manusia, bahasa berfungsi untuk memaparkan pengalaman (ideational function), mempertukarkan pengalaman (interpersonal function) dan terakhir untuk merangkai pengalaman (textual function). Ketiga fungsi ini dinamakan metafungsi bahasa dan pengalaman metafora terdapat pada ketiga metafungsi bahasa ini.

(35)

pengalaman. Dan terakhir, sumber tekstual membahas tentang alir informasi. Fungsi tekstual adalah fungsi bahasa sebagai wahana pembentuk teks.

Penjelasan lebih lanjut tentang metafungsi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:

a. Fungsi ideasional

Fungsi ideasional adalah suatu bentuk refleksi atau perepresentasian bahasa yang digunakan oleh penuturnya, dimana penuturnya tersebut berfungsi sebagai pemerhati realitas dan menerangkan sifat realitas. Hal ini terjadi pada tingkat klausa guna merepresentasikan pengalaman manusia baik dari luar maupun dari dalam diri manusia tersebut. Fungsi ini mencakup fungsi eksperensial dan fungsi logis.

Perealisasian tersebut dilakukan melalui tiga unsur yaitu proses, partisipan dan sirkumstan. Proses juga diklasifikasikan kedalam tiga hal yaitu proses material, mental dan relasional. Lalu proses ini dikembangkan lagi ke dalam proses tingkah laku, proses verbal dan proses wujud. Partisipan adalah orang atau benda yang terlibat didalam proses. Partisipan itu sendiri dibagi menjadi dua jenis yaitu partisipan yang melakukan proses dan partisipan yang dikenakan proses. Sedangkan sirkumstan adalah lingkungan tempat proses berlangsung dengan melibatkan partisipan.

b. Fungsi interpersonal

(36)

menunjukkan tindakkan yang dilakukan terhadap pengalaman dalam interaksi sosial. Disamping itu, makna ini juga merupakan aksi yang sering dilakukan pemakai bahasa dalam bertukar pengalaman. Dengan kata lain, makna antarpersona adalah makna yang wujud dalam pertukaran pengalaman.

c. Fungsi Tekstual

Fungsi tekstual adalah sebuah fungsi yang menjadikan bahasa sebagai pesan ataupun relevansi. Dalam fungsi ini, penutur menerjemahkan realita semiotik dengan cara menghubungkan realitas dengan konteks yang akan dibuat maknanya. Fungsi ini merupakan interpretasi bahasa yang berfungsi sebagai pesan dalam proses pembentukkan teks dalam bahasa. Hal ini diinterpretasikan sebagai fungsi intrinsik dari bahasa itu sendiri yang berkaitan dengan aspek situasional. Fungsi ini juga memberikan kemampuan kepada seseorang dalam membedakan sebuah teks sebagai bahasa yang termotivasi secara fungsional dan kontekstual.

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan pesan. Penyampaian itu dilakukan secara berpola dan harus disusun dengan baik. Jadi, penggunaan bahasa ini berfungsi untuk merangkai pengalaman. Rangkaian ini akan membentuk hubungan antara sebuah unit pengalaman pada experiential dan interpersonal meaning yang relevan pada pengalaman yang telah atau akan disampaikan sebelum dan sesudahnya. Fungsi inilah yang disebut dengan fungsi tekstual, dimana tugasnya membentuk kerelevanan antara satu pengalaman dengan pengalaman lain.

(37)

TLSF berpandangan bahwa bahasa adalah sistem semiotik sosial, bahasa adalah fungsional, fungsi bahasa adalah membuat makna-makna dan penggunaan bahasa adalah kontekstual. Pandangan ini digunakan peneliti dalam merealisasikan metafora dalam teks terjemahan buku biologi bilingual.

Teori sistemik bahasa melihat bahasa sebagai sistem semiotik sosial yang berarti bahwa hubungan setiap manusia dengan lingkungan manusia penuh dengan arti-arti dan arti-arti ini dipelajari melalui interaksi seseorang dengan orang lain yang melibatkan lingkungan arti tersebut.

Teori sistemik juga memandang bahasa sebagai fenomena sosial, artinya bahasa merupakan sebuah alat berbuat (doing) sesuatu daripada mengetahui (knowing) sesuatu. Fokus terhadap hubungan bahasa dengan konteks karena pemahaman makna yang diucapkan atau dituliskan orang lain perlu dimengerti jika bahasa dan konteks saling dikonstrual. Pandangan bahasa adalah fungsional berlaku pada teks karena secara teknis berkaitan dengan fungsi tata bahasa..

Setiap ujaran yang dihasilkan oleh penutur suatu bahasa dalam sebuah teks tidak terlepas dari penggunaan metafora, tidak terkecuali pada teks buku bilingual. Hal ini berkaitan dengan pendapat Halliday (1994:342) yang menyatakan bahwa metafora gramatikal adalah merupakan ciri-ciri bahasa orang dewasa, yang dalam arti lain hanya orang dewasa yang mampu memahami dan merealisasikan pengalamannya dalam bentuk metafora.

2.2.2 Metafora Gramatikal

(38)

kedalam pengalaman lain dengan bentuk yang tidak lazim. (Saragih, 2006:193-194).

Metafora gramatikal dalam hal ini adalah merupakan fenomena bahasa yang menghadirkan realisasi tidak lazim dalam mengungkapkan pengalaman nyata atau dengan kalimat lain, makna bahasa yang direalisasikan dengan pilihan leksikogramatika tidak lazim.

Contoh data pada bentuk lazim dan metafora gramatikal: a. Dinding sel endodermis tumbuh. (lazim)

b. Dinding sel endodermis mengalamipertumbuhan. (metafora gramatikal)

Klausa b dikatakan tidak lazim karena pada klausa tersebut terjadi pergeseran struktur gramatikal yang pada klausa a, kata tumbuh yang awalnya berfungsi sebagai proses material dimetaforakan sehingga pada klausa b kata

tumbuh berubah fungsi menjadi proses mental karena hadirnya kata mengalami

diikuti dengan kata pertumbuhan. Hal ini disebabkan oleh adanya proses metafora yang menganggap dinding sel seperti layaknya manusia yang bisa terkena proses mental. Proses mental itu sendiri hanya bisa dilakukan oleh manusia.

Terdapat dua cakupan metafora gramatikal (Saragih, 2006:194) yang meliputi hal-hal di bawah ini, yaitu:

(39)

B. relokasi realisasi makna yang lazim pada satu peringkat dikodekan dalam peringkat tata bahasa yang lain yang lebih rendah (seperti pada metafora paparan pengalaman) atau lebih tinggi (seperti pada metafora pertukaran pengalaman). Misalnya makna yang lazimnya dikodekan dengan klausa dikodekan dalam grup atau frase dan makna yang lazimnya dikodekan dengan kata dimetaforakan menjadi klausa.

Metafora gramatikal pertama sekali diusulkan oleh Halliday yang memperlakukan metafora ini sebagai suatu komponen penting dalam TLSF dan memberikan konstribusi yang yang signifikan terhadap kajian metafora ini. Metafora ini adalah cabang dari kajian retorika yang di masa lalu digunakan sebagai alat untuk menentukan bahasa yang tidak hanya sekedar mengkaji pemahaman tentang metafora tetapi juga melibatkan bidang semantik, pragmatik dan linguistik kognitif.

2.2.2.1 Jenis-Jenis Metafora Gramatikal

Menurut Halliday ada dua jenis metafora gramatikal pada klausa yaitu metafora mood dan metafora transitivitas. (Halliday,1994:343). Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam istilah model fungsi semantik, metafora ini dibagi menjadi metafora interpersonal dan metafora ideasional. Metafora ideasional berhubungan erat dengan sistem transitivitas (eksperiensial) yang membuat kita dapat memahami dan memaknai seputar pengalaman menjadi sebuah rangkaian yang dibatasi oleh tipe proses (material, mental, relasional, tingkah laku, verba dan eksistensi).

(40)

(2) metafora interpersonal (metafora pertukaran pengalaman), dan (3) metafora tekstual (metafora pengorganisasian pengalaman).

A. Metafora Eksperiensial

Metafora gramatikal memberikan pengertian bahwa realisasi yang lazim dari suatu pengalaman eksperiensial tertentu yang direalisasikan dengan struktur bahasa lain atau tidak lazim disebut dengan metafora eksperiensial.

Dengan kata lain, metafora eksperiensial adalah suatu pengalaman lazim yang dikodekan oleh suatu aspek, struktur, atau unit tata bahasa atau leksikogramar, direalisasikan dengan aspek, struktur atau unit tata bahasa lainnya yang tidak lazim. Metafora jenis ini mencakup (1) relokasi realisasi pengalaman, (2) relokasi proses dan (3) relokasi peringkat pengodean pengalaman dari klausa menjadi grup atau frase.

1) Relokasi pengalaman terjadi jika pengodean dan perealisasian pengalaman tersebut dilakukan dengan cara yang kurang lazim. Karena biasanya Benda direalisasikan oleh partisipan atau nomina, kegiatan atau aktivitas oleh proses atau verba, sifat oleh adjektiva dan hubungan oleh konjungsi. Jika perealisasian dari semua hal tersebut tidak semestinya maka perelisasian yang tidak lazim tersebut disebut dengan metafora pengalaman. Contohnya:

a. Sel-sel yang berkumpul dan mempunyai fungsi atau bentuk yang sama disebut jaringan. (lazim)

b. Kumpulan sel-sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama

disebut jaringan. (metafora gramatikal)

Contoh teks dalam klausa (a) adalah lazim, karena makna pada kata

(41)

sedangkan contoh teks klausa (b) adalah metafora karena perealisasian yang lazim dikodekan dengan kata benda (nomina) menjadi kumpulan.

2) Relokasi proses, hal ini terjadi jika pengodean dari semua jenis proses seperti proses material, mental, relasional, tingkah laku, verbal dan wujud tidak terealisasi dengan lazim. Ketidak laziman inilah yang disebut dengan metafora proses.

Contohnya:

a. Dinding sel endodermis tumbuh. (lazim)

b. Dinding sel endodermis mengalami pertumbuhan. (metafora)

Contoh klausa (a) adalah lazim., kata tumbuh adalah proses material sedangkan klausa (b) adalah metafora karena umumnya hanya manusia yang terbiasa melakukan proses mental seperti kata mengalami walaupun selain manusia benda mati juga dapat melakukannya.

3) Relokasi peringkat pengodean pengalaman dalam peringkat tertentu dikodekan keperingkat tata bahasa lain yang lebih rendah atau lebih tinggi. Penurunan peringkat pengodean ini dikelompokkan atas dua bagian, yakni penurunan klausa menjadi grup dan penurunan grup atau frase menjadi kata. Contoh penurunan klausa menjadi grup:

a. Pengangkutan air dan pengangkutan garam tanah dibawa melalui lubang-lubang ujung sel(Lazim)

b. Pengangkutan air dan garam tanah melalui lubang-lubang ujung sel. (Metafora gramatikal)

(42)

merupakan bahagian dari klausa. Sedangkan klausa bagian (b) merupakan klausa yang diturunkan ke peringkat grup atau frase, yakni bagian dari klausa. Kesimpulannya adalah dua klausa yang awalnya berdiri sendiri, dikodekan dan disatukan ke dalam satu klausa. Hal ini disebut dengan nominalisasi atau pemadatan makna dan penurunan status.

Contoh penurunan grup atau frase menjadi kata:

a. Bulu akar ini akan membuat permukaan akar menjadi luas. (Lazim) b. Bulu akar ini akan memperluas permukaan akar. (Metafora gramatikal)

Kata memperluas pada klausa b adalah penurunan status. Makna awal yang dikodekan oleh sejumlah kata (grup atau frase) yaitu kata membuat + menjadi luas dkodekan berubah menjadi satu kata saja yaitu kata memperluas. B. Metafora Interpersonal

Metafora interpersonal dikodekan oleh berbagai aspek bahasa seperti modus, modalitas dan vokatif. Hal ini terjadi akibat perealisasian makna dalam pertukaran pengalaman dikodekan dengan cara yang tidak lazim.

1. Metafora modus

Metafora modus adalah metafora yang realisasinya dikodekan atas berubahnya pengodean modus tersebut di dalam konteks sosial.

Contohnya:

a. Bu, lihat buku adek? b. Lihat di laci kecil itu.

Teks ini masih lazim. Tetapi jika teksnya demikian : a. Bu, lihat buku adek?

(43)

2. Metafora modalitas

Metafora ini direalisasikan oleh unsur leksikal seperti kata pasti, mungkin, sering, biasa atau harus untuk menyatakan sikap, opini dan komentar. Biasanya modalitas ini erat kaitannya dengan klausa. Jika metafora itu direalisasikan oleh klausa sendiri sehingga terbentuk klausa kompleks, maka pengodean ini disebut metafora.

Contohnya:

a Saya pasti hadir dipesta anda.

b saya yakin saya akan hadir dipesta anda. 3. Metafora vokatif

Metafora vokatif adalah perealisasian makna yang mencakup nama atau cara memanggil nama mitra tutur atau lawan bicara. Cara tersebut menunjukkan derajat pada konteks sosial makna interpersonal seperti status (sama atau tidak sama), sikap afektif (suka atau tidak suka) dan hubungan (sering, akrab atau biasa saja).

Contoh :

a. Ada kamu melihat Amir? Hal ini adalah pengodean yang lazim. Tetapi jika disebutkan demikian:

b. Ada kamu melihat si Amir sohib karibku? Hal ini disebut metafora vokatif. C. Metafora Tekstual

(44)

a. Mira membeli mobil. Dia sudah bertahun-tahun menabung untuk membelinya. Sekarang dia punya mobil baru, bagus dan mewah seperti yang diidam- idamkannya. Ini adalah contoh teks yang lazim.

b. Mira membeli mobil. Dia sudah bertahun- tahun menabung. Sekarang

wanita dermawan itu sudah memiliki mobil baru, bagus dan mewah seperti yang diidam- idamkannya. Sedangkan teks kedua ini adalah metafora rujukkan dimana ‘dia’ sebagai kata direlokasikan ke dalam grup yaitu

wanita dermawan.

2.2.2.2 Keterkaitan Metafora Dalam Penerjemahan

Metafora sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari untuk memperkenalkan konsep baru dalam penawaran makna yang lebih tepat. Namun ungkapan ini lebih sering digunakan dalam karya sastra yang berbentuk puisi. Selain untuk memperkenalkan sebuah fenomena baru dalam berkomunikasi, metafora digunakan untuk mengungkap makna secara singkat dan padat serta sekaligus menghadirkan efek puitis dalam sebuah karya sastra.

(45)

Menurut Newmark (1998: 104), masalah utama dalam penerjemahan secara umum adalah pemilihan metode penerjemahan bagi sebuah teks, sedangkan masalah penerjemahan yang paling sulit secara khusus adalah penerjemahan metafora. Sebagai akibat dari kesulitan itu, terdapat dua pandangan yang berbeda mengenai hal tersebut. Beberapa pakar penerjemahan berpendapat bahwa metafora tidak dapat diterjemahkan, tetapi disisi lain juga tidak sedikit para ahli penerjemahan yang menganggap bahwa metafora adalah bagian dari bahasa dan dapat diterjemahkan.

Newmark adalah salah satu pakar penerjemahan yang mempercayai bahwa metafora dapat diterjemahkan menggunakan strategi penerjemahan. Menurut Newmark (1981: 88-91), secara garis besar, penerjemahan metafora dilakukan dalam dua langkah. Langkah pertama adalah dengan cara mengidentifikasi tipe metafora yang akan diterjemahkan terlebih dahulu dan langkah kedua adalah menentukan prosedur penerjemahan yang sesuai untuk mengalihkan metafora tersebut ke dalam BSu.

(46)

singkat, dan padat. Oleh karenanya, agar seorang penerjemah mampu menerjemahkan metafora dengan mudah maka penerjemah tersebut harus mampu menulis dengan penuh kreatifitas.

Sementara itu, Larson (1998: 275-276) mempunyai pendapat yang berbeda dengan Dagut. Menurut Larson (didalam karya ilmiah Parlindungan Pardede), ada enam hal yang menyebabkan metafora sulit untuk dipahami dan diterjemahkan. Keenam hal tersebut adalah 1) citra yang digunakan dalam metafora mungkin saja tidak lazim dalam BSa. 2) topik metafora tidak selalu dinyatakan dengan jelas. 3) titik kesamaan kadang-kadang implisit sehingga sulit diidentifikasi atau mengakibatkan pemahaman yang berbeda bagi penutur bahasa lain. 4) perbedaan antara budaya BSu dan BSa dapat membuat penafsiran yang berbeda terhadap titik kesamaan. 5) BSa mungkin tidak membuat perbandingan seperti yang terdapat pada metafora TSu, 6) setiap bahasa memiliki perbedaan dalam penciptaan dan penggunaan ungkapan.

(47)

memperoleh pemahaman linguistik, kultural, dan konteks eksternal maupun internal lainnya.

2.2.3 Teori Penerjemahan

Pengertian terjemahan itu sendiri adalah suatu kegiatan yang mengkaitkan hubungan dua bahasa atau lebih, yang kemudian didalam prosesnya terjadilah pergantian makna dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran dengan memunculkan keakuratan dalam pesan, keterbacaan dan keberterimaan. Hasil terjemahan yang baik adalah terjemahan tersebut tidak menyimpang, tidak menghilangkan ataupun menambahkan makna yang tidak perlu berdasarkan teks sumbernya.

Penerjemahan adalah ilmu interdisipliner, yakni ilmu yang membutuhkan ilmu pengetahuan lain untuk dapat mendukungnya dalam proses menerjemahkan suatu teks. Kemampuan penerjemah dalam menentukan padanan yang tepat kedalam dua bahasa, baik dalam bahasa sumber maupun kedalam bahasa sasaran adalah salah satu hal yang harus di miliki setiap penerjemah.

Penerjemah juga harus memiliki latar belakang pengetahuan yang relevan dengan teks yang akan diterjemahkan. Hal ini menjadi suatu ketentuan supaya mereka tidak hanya sekedar mengalihkan makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran secara akurat dan sesuai kaidah bahasa sasaran saja, tetapi juga berusaha menemukan padanan makna kata yang berterima dan benar- benar memiliki makna yang relasional.

(48)

dipengaruhi sistem nilai dan sudut pandang penerjemah. Dengan kata lain, pemilihan metode penerjemahan dan teknik penerjemahan tidak bisa dilepaskan dari ideologi yang dianut penerjemah. Ketiga hal tersebut akan sangat berpengaruh pada kualitas terjemahan.

Untuk memperoleh hasil terjemahan yang ideal, menurut Larson (1984:6) maka terjemahan tersebut harus 1) menggunakan bahasa sasaran yang wajar, 2) menyampaikan makna yang sama dari penutur bahasa sumber sehingga mudah dimengerti oleh penutur bahasa sasaran, 3) berusaha mempertahankan dinamika bahasa sumber sehingga makna tersampaikan dan direspon dengan baik oleh penutur bahasa sasaran.

Seorang penerjemah juga harus berkualitas dalam segala hal yang berkaitan dengan penerjemahan, agar hasil terjemahannya juga berkualitas. Hal ini berkaitan dengan ketepatan translasi dan tingkat kewajaran dari sebuah teks. Tujuannya agar produk terjemahan itu akurat dan berterima oleh pembaca.

Selanjutnya, Larson di dalam choliluddin (2005:22) mengklasifikasikan terjemahan menjadi dua tipe, yaitu terjemahan yang berdasarkan bentuk dan tejemahan berdasarkan makna. Terjemahanyang berdasarkan bentuk lebih mengikuti bentuk dasar dari bahasa sumber, sedangkan yang berdasarkan makna lebih membicarakan tentang makna teks bahasa sumber kedalam bahasa sasaran secara alamiah.

2.2.4 Keakuratan Pada Terjemahan

(49)

tingkat keterbacaan dari terjemahan. Keutuhan dari suatu kualitas terjemahan dapat dilihat dari ketiga sisi tersebut.

Terkadang kita menemukan terjemahan yang isi atau pesan yang terkandung pada T2 sesuai dengan isi atau pesan yang terkandung pada T1, tetapi cara mengungkapkan isi atau pesan tersebut tidak sesuai dengan kaidah atau norma budaya yang berlaku pada Bsa. Dan terkadang ada juga suatu terjemahan yang dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca Bsa, tetapi tingkat keakuratan pesannya rendah. Hal tersebut mengakibatkan hasil terjemahan dapat berupa terjemahan akurat, terjemahan kurang akurat dan terjemahan tidak akurat.

Suatu terjemahan dapat dikatakan akurat jika terjemahan tersebut tidak mengalami distorsi makna. Maksudnya adalah makna kata, frasa, klausa dan kalimat yang ada di bahasa sumber dalihkan secara akurat ke dalam bahasa sasaran. Kesimpulannya adalah jika suatu terjemahan diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa sasaran tanpa ada penambahan ataupun penghilangan informasi yang tidak sesuai dengan teks sumbernya, maka terjemahan yang dihasilkan adalah terjemahan yang akurat.

Sedangkan jika di dalam suatu terjemahan ditemukan makna kata, istilah teknis, frasa, klausa dan kalimat pada Bsunya mengalami distorsi makna (terjemahan ganda) ataupun ada makna yang dihilangkan dan menggangu keutuhan pesan, maka terjemahan tersebut dikatakan terjemahan kurang akurat.

(50)

penerjemah; 1) tidak menemukan pemadanan kata yang tepat, 2) melakukan penghilangan yang tidak perlu, 3) melakukan penambahan yang tidak perlu dan 4) adanya pergeseran yang dapat menyebabkan distorsi makna.

2.3 Penelitian Yang Relevan

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pengkajian metafora yang telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa peneliti. Beberapa diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh:

(1) Rahmah (2002) dalam penelitiannya yang berjudul Metafora dalam Surat Keputusan. Rahmah mengkaji metafora gramatikal pada surat keputusan berdasarkan teori Linguistik Sistemik Fungsional. Tujuan untuk mengkaji metafora gramatikal dalam surat keputusan Pemerintah dan non- Pemerintah adalah untuk mendeskripsikan jenis metafora yang terdapat di dalam surat-surat tersebut agar diketahui apa yang ingin disampaikan pembuat surat keputusan melalui realisasi metafora. Sumber datanya adalah lima belas (15) surat keputusan institusi Pemerintah dan lima belas (15) surat keputusan non- Pemerintah. Metode pengumpulan data dan analisis data menggunakan teknik simak dan catat, teknik bagi, teknik pilah dan teknik ganti dan dilanjutkan dengn teknik analisis ekspresi metafora yang dikemukakan oleh Sudaryanto. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa metafora dalam surat keputusan Pemerintah dan non- Pemerintah meliputi metafora pemaparan pengalaman, metafora pertukaran pengalaman dan metafora pengorganisasian pengalaman.

(51)

pada tataran teoritis, penelitian ini menggunakan dua teori yaitu LSF dan teori penerjemahan sedangkan Rahmah hanya menggunakan teori LSF saja. Dari sudut hasil penelitian masih relevan karena keduanya sama-sama menggunakan metafora gramatikal sehingga metode analisis yang dipakai berkonstribusi sekali dalam memberikan gambaran pendeskripsian tentang metafora gramatikal dari tinjauan kajian teks tulis (mode of discourse).

(52)

Isi jurnal di atas juga sangat berkonstribusi terhadap penelitian ini karena keduanya sama-sama mendeskripsikan metafora gramatikal dalam penulisan ilmiah dengan tujuan untuk membuat kalimat menjadi lebih padat secara struktural dan kosa kata sehingga menjadi lebih sinopsis. (3) E.Romero dan B. Soria dalam karya ilmiah yang berjudul “the notion of

grammatical metaphor in Halliday” (diakses tanggal 18 maret 2014). Dalam karya ilmiah tersebut, mereka mengklaim bahwa penggunaan metafora gramatikal di dalam penggunaaan ekspresi adalah metaforik dan memiliki makna metafora. Mereka juga berargumentasi bahwa metafora gramatikal menciPptakan beberapa harapan dipihak pembaca mengenai jenis-jenis metafora. Ada beberapa metafora yang bergantung pada struktur gramatikal dari sebuah ekspresi. Namun tanggapan tentang metafora gramatikal yang mengacu kepada variasi gramatikal yang non alamiah dari sudut struktur gramatikal yang alamiah tidak terpenuhi. Terakhir mereka mengevaluasikan bahwa pendeskripsian metafora adalah point utama dalam menanggapi produksi metafora. Di sisi lain, didalam metafora antara realita dan bentuk gramatikal harus transparan.

Karya ilmiah tersebut dianggap memberikan konstribusi dan berelevansi juga dalam penelitian ini, karena kajiannya masih seputar metafora gramatikal, walaupun isinya lebih fokus terhadap penggunaan gramatikal metafora didalam ekspresi.

(53)

gramatikal khususnya metafora interpersonal dengan menggunakan TLSF. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis metafora interpersonal apa saja yang digunakan pada program acara berita “Indonesia Now”, untuk menggambarkan dan menjelaskan alasan dari penggunaan metafora tersebut dan untuk menjelaskan dalam konteks apa saja metafora itu digunakan. Penelitian Nasution dan penelitian ini sama-sama menggunakan metode deskriptif kualitatif. Namun sumber data Nasution adalah tayangan berita pada bulan November 2013, Desember 2013 dan Januari 2014, sehingga teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan merekam dan mentranskrip berita tersebut kedalam teks tertulis. Setelah itu diklasifikasikan dan terakhir menarik kesimpulan. Sedangkan penelitian ini menggunakan teks tulis dari buku teks Biologi tanpa adanya rekaman. Dari hasil penelitian Nasution ditemukan bahwa ada enam jenis metafora interpersonal yang digunakan dalan acara berita tersebut, yaitu: epithet, euphemism, makna konotasi, vokatif, metafora mood dan metafora modality, sedangkan penelitian ini menemukan tiga jenis metafora yaitu metafora eksperiensial, metafora interpersonal dan metafora tekstual.

(54)

(5) Deddy Kristian Aritonang (2014) dalam penelitiannya yang berjudul Impacts of Interpersonal Metaphor on Grammatical Intricacy and Lexical Density in The Text of Presidential Debate between Barrack Obama and Mitt Romney. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi jenis metafora interpersonal dalam teks debat presiden antara Barrack Obama dengan Mitt Romney, 2) mendeskripsikan pengaruh metafora interpersonal terhadap kerumitan gramatikal dan kepadatan leksikal dalam teks debat tersebut berdasarkan bentuk kongruen dan 3) menjelaskan cara-cara metafora interpersonal memiliki pengaruh terhadap kerumitan gramatikal dan kepadatan leksikal dalam teks debat tersebut. Penelitian Aritonang menggunakan metode deskriptif kualitatif yang sama dengan penelitian ini. Namun sumber data Aritonang adalah teks debat presiden yang dalam teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan mengunduh video yang bersumber dari kemudian mentranskrip ujaran-ujaran yang dihasilkan di dalam debat dan terakhir menrangkai dan mencetak transkripsi ujaran tersebut menjadi data yang berupa paragraf. Sedangkan penelitian ini hanya menggunakan teks tulis dari buku Biologi bilingual tanpa ada mengunduh video, menonton dan mendengarkan. Dari hasil penelitian Aritonang ditemukan bahwa kedua jenis metafora interpersonal yakni metafora modalitas dan metafora modus dan penelitian ini menemukan tiga jenis metafora gramatikal yaitu metafora eksperiensial, metafora interpersonal dan metafora tekstual.

(55)

menggunakan teori penerjemahan yang tidak digunakan dalam penelitian Aritonang. Dari sudut hasil, penelitian Aritonang masih berelevansi terhadap penelitian ini dan berkonstribusi dalam mengenali metafora. (6) Parlindungan Pardede (2013) dalam karya ilmiahnya yang berjudul

Penerjemahan Metafora. Makalah yang ditulis oleh Parlindungan ini menyoroti konsep-konsep yang berkaitan dengan penerjemahan metafora. Pembahasan diawali dengan kontroversi tranlasibilitas metafora, yang kemudian dilanjutkan dengan strategi penerjemahan yang dapat digunakan dalam pekerjaan menerjemahkan metafora. Pada bagian akhir, secara singkat diulas aspek-aspek yang mempengaruhi pemilihan strategi penerjemahan metafora.

Karya ilmiah tersebut dianggap berkonstribusi dan berelevansi terhadap penelitian ini karena membahas penerjemahan baik dari segi strategi penerjemahan dan translasibilitas penerjemahan khususnya metafora yang juga dikaji dalam penelitian ini.

2.4 Model Penelitian Atau Konstruk Analisis

(56)

Terjemahan sebagai komunikasi Semiotik Translasional (Munday:2012)

Terjemahan Lingual Terjemahan dua Bahasa Terjemahan Interlingual

Teks 1 ( Bahasa Inggris) Teks 2 (Bahasa Indonesia)

Metafungsi Bahasa Metafungsi Bahasa

Tekstual Ideasional Ideasional Tekstual

Gramatikal

Kualitas Terjemahan

Keakuratan Keterbacaan Keberterimaan

Interpersonal Interpersonal

Leksikal

Metafora

Terjemahan akurat

(57)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara metafora gramatikal dengan keakuratan suatu terjemahan. Rancangan penelitian ini adalah penelitian komparatif yang menganalisis klausa metafora gramatikal dan membandingkan klausa tersebut dengan klausa lazimnya, serta mendeskripsikan kualitas terjemahan dari sisi keakuratan teks terjemahan buku Biologi bilingual.

Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena data yang dikaji merupakan data kualitatif yang berwujud klausa pada teks terjemahan buku bilingual. Data tersebut dideskripsikan dan disesuaikan dengan tujuan dari penelitian. Teori yang disebutkan dalam Bab II adalah sebagai landasan untuk menganalisis teks terjemahan tersebut di atas. Dalam penelitian ini, tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses pengumpulan data dilakukan secara deskriptif yaitu dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan berdasarkan teks terjemahan yang terdapat pada buku Biologi bilingual tingkat SMA kelas XI.

3.2 Data dan Sumber Data

(58)

Sumber data yang dipilih sebagai objek kajian dalam penelitian ini adalah buku bidang studi Biologi bilingual untuk SMA kelas XI yang terdiri dari 10 Bab dan berjumlah 423 halaman. Buku ini adalah cetakan atau edisi kedua dan merupakan bagian dari buku edisi spesial yang bertujuan untuk penyempurnaan isi dan kelengkapan materi. Penulis sekaligus penerjemah buku ini adalah orang yang sama yaitu Nunung Nurhayati dan diterbitkan oleh penerbit CV. YRAMA WIDYA.

Sebelum peneliti memilih buku Biologi bilingual tingkat SMA kelas XI ini sebagai sumber data, peneliti terlebih dahulu melihat dan membaca keseluruhan isi buku tersebut. Setelah melihat dan membaca keseluruhan isi buku, peneliti melihat ada dua hal yang membuatnya merasa tertarik untuk mengkaji buku ini lebih dalam.

Hal pertama adalah seputar penyampaian isi materi dalam buku. Menurut hasil penelitiannya, peneliti menemukan bahwa diantara keempat buku bidang studi sains yang meliputi Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi, ditemukan bahwa isi materi pelajaran dalam buku Biologi lebih banyak disampaikan dengan menggunakan kalimat atau klausa dibanding ketiga buku lainnya. Akibatnya metafora gramatikal lebih mudah ditemukan dan diidentifikasi dalam buku tersebut karena metafora gramatikal hanya dapat dianalisis melalui susunan struktur gramatikal suatu klausa atau kalimat daripada deretan angka-angka dalam rumus.

(59)

sebagai rumus. Ketiga buku tersebut lebih fokus ke tataran perhitungan yang menggunakan angka-angka tersebut untuk mencari dan menjawab sesuatu hal tertentu yang berkaitan dengan isi bukunya dan.disajikan dalam bentuk pola-pola yang disebut rumus.

Hal yang kedua adalah menurut peneliti isi buku untuk tingkat SMA lebih banyak disampaikan dengan menggunakan bahasa metafora. Hal tersebut didasari oleh pendapat Halliday yang mengatakan bahwa metafora adalah bahasa orang dewasa. Tingkat SMA telah termasuk ke dalam level orang dewasa karena pola pikir para siswa SMA sudah mengalami masa berfikir transisi dari anak-anak ke arah remaja yang beranjak dewasa.

Buku untuk kelas XI memuat materi yang lebih fokus pada intisari bidang ilmu Biologi. Sedangkan buku untuk kelas X isinya masih sekedar perkenalan tentang ilmu-ilmu Biologi dan buku kelas XII selain memuat materi baru, isinya bukunya juga memuat materi kajian sebelumnya yang ada dikelas X dan XI atau merupakan kilas balik (review ) dari buku kelas X dan XI. Jadi buku kelas XI lebih tepat digunakan agar penelitian dapat dilakukan sesuai dengan tujuannya dan dapat menghasilkan sesuatu yang dapat menjawab rumusan masalah.

Gambar

figura proses
Figura 2: Konstruk Analisis Metafora Gramatikal pada Teks Terjemahan
Figura 3: Teknik analisis data   (Miles & Huberman, 1994: 22-23)

Referensi

Dokumen terkait

(3) Bentuk kohesi gramatikal pengacuan komparatif yang ada pada teks terjemahan Alquran surah Ibrahim terdiri atas bentuk pengacuan komparatif seperti. Kata kunci:

Pada analisis terjemahannya, penelitian ini dibatasi pada penilaian keakuratan dan keberterimaan, hubungan antar jenis penanda kohesi gramatikal, teknik

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan piranti kohesi gramatikal dan piranti kohesi leksikal pada wacana buku teks Bahasa Indonesia SMA kelas XI karangan

Penelitian ini menganalisis bentuk dan makna kohesi gramatikal konjungsi koordinatif yang digunakan pada teks terjemahan Alquran surat Saba’. Tujuan yang inggin

Penelitian ini menganalisis bentuk dan makna kohesi gramatikal konjungsi koordinatif yang digunakan pada teks terjemahan Alquran surat Saba’. Tujuan yang inggin

Kesalahan gramatikal yang seringkali terjadi pada teks abstrak terjemahan mahasiswa adalah kesalahan penggunaan kata sandang (article), kesesuaian antara subjek dan kata

Penelitian ini menganalisis bentuk kohesi gramatikal konjungsi yang digunakan pada teks terjemahan Alquran surah Al Ahzab. Kohesi dalam sebuah wacana diartikan sebagai

Teori dari Lakoff dan Johnson pada penelitian ini digunakan untuk menganalisis korespondensi antara ranah sumber dan ranah sasaran dalam gaya bahasa metafora yang menghiasi novel