Analisis Kebijakan Pemanfaatan Kayu oleh Masyarakat Adat (Kasus di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua)

127  19  Download (0)

Full text

(1)

MASYARAKAT ADAT

(Kasus di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua)

YAN RICHARD PUGU

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisis Kebijakan Pemanfaatan Kayu oleh Masyarakat Adat ( Kasus di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua) adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, September 2011

(3)

YAN RICHARD PUGU. Analysis of Policies in Timber Utilization for Traditional Community (A Case Study In Jayapura Regency, Papua Province)

. Under direction

of

SUDARSONO SOEDOMO,

and

BRAMASTO NUGROHO.

The decentralization policies in Indonesia have not yet specifically designed the decentralization of natural resources management. This condition can be seen from the timber utilization by the traditional community in the Regency of Jayapura in the Province of Papua. They prefer to utilize timber without legal aspects, whereas the local government is faced with difficulties because of different and inconsistent policies. The objective of this study was to examine the implemented policies, activities of traditional community in utilizing timber, the effectiveness of traditional institutions; and formulate alternative policies. Data were collected from observation, document tracing, and in-depth interviews with informants in the Districts of Kemtuk, Kaureh, and Unurumguay. The analyses involved these aspects: policy substance/content, marketing channel, income of people and local government, stakeholders, and effectiveness of traditional bodies/institutions. The study results indicate that the existing policies do have benefits and ignore the rights of traditional community; some marketing channels are without legal aspects; the traditional institutions are not yet effective; and coordination is necessary between the local government and forestry ministry in making policies.

(4)

YAN RICHARD PUGU. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Kayu oleh Masyarakat Adat (Kasus di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua). Dibimbing oleh

SUDARSONO SOEDOMO,

dan

BRAMASTO NUGROHO.

Kebijakan desentralisasi yang berlangsung di Indonesia belum secara spesifik merancang desentralisasi dalam pengelolaan sumber daya alam. Namun demikian beberapa penulis menyatakan bahwa kebijakan desentralisasi dapat meningkatkan kualitas pengelolaan sumberdaya alam. Salah satu alasan yang mereka pakai untuk menguatkan argumen tersebut adalah karakter lingkungan yang berbeda di masing-masing daerah menuntut pendekatan pengelolaan sumberdaya alam yang sesuai dengan kondisi sosial, politik, dan ekonomi di tingkat lokal (Suporaharjdo, 2008).

Desentralisasi di Provinsi Papua dilaksanakan sesuai Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Implementasi UU ini merubah berbagai kebijakan dalam birokrasi pemerintahan maupun program-program pembangunan dan pemberian kesempatan kepada masyarakat adat sebagai sasaran pembangunan. Khusus untuk bidang Kehutanan Gubernur Provinsi Papua mengeluarkan kebijakan Ijin Pemungutan Kayu Masyarakat Adat (IPK-MA). Perijinan ini merupakan bentuk kebijakan pertama yang memberikan akses legal kepada masyarakat lokal untuk memanfaatkan sumberdaya hutan. (Tokede, 2005). Namun pada Januari 2005 pemberlakukan IPKMA dihentikan karena Departemen Kehutanan menganggap bentuk perijinan ini tidak mengikuti prosedur perijinan yang ada. Menurut Kementerian Kehutanan pemanfaatan kayu oleh masyarakat dapat menggunakan Ijin Pemungutan Hasil Hutan (IPHH) sesuai SK Menhut No. 6886/Kpts-II/2002. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa IPHH digunakan oleh masyarakat adat untuk memanfaatkan hasil hutan non kayu (gaharu, kulit masohi) sedangkan untuk kayu masyarakat adat memilih untuk memanfaatkan tanpa perijinan.

Mencermati kondisi pemanfaatan kayu yang sementara terjadi di Kabupaten Jayapura, maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan pemanfaatan kayu; mengetahui aktivitas pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat; dan mengetahui efektivitas kelembagaan adat dalam kegiatan pemanfaatan kayu di Kabupaten Jayapura. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua yang meliputi wilayah Distrik Kaureh, Distrik Unurumguay, dan Distrik Kemtuk. Beberapa analisis yang digunakan yaitu analisis isi kebijakan, dengan menggunakan pendekatan terhadap Rule, Opportunity, Capacity, Communication, Interest, Process, Ideology / ROCCIPI; analisis saluran pemasaran, dilakukan terhadap saluran pemasaran kayu tanpa perijinan; analisis pendapatan; analisis stakeholder; dan analisis efektivitas kelembagaan adat.

(5)

mempunyai keterampilan dan hubungan kerjasama dengan konsumen. Terjadi fluktuasi pada pendapatan pemerintah daerah dari kegiatan pemanfaatan kayu melalui realisasi penerimaan PSDH dan DR. Sekalipun kegiatan pemungutan kayu sesuai perijinan (IPK/IPK-MA) menurun namun aktifitas illegal dalam pemanfaatan kayu dan dokumen tata usaha kayu terus berlangsung. Alasan yang dikemukakan stakeholder kunci, stakeholder utama, dan stakeholder pendukung menunjukkan bahwa pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat sekalipun tanpa perijinan tetapi ketiga stakeholder memahami adanya peluang melalui otonomi khusus yang dapat mengakomodir kepentingan masyarakat adat.

Masyarakat adat di Distrik Kemtuk, Distrik Unurumguay, dan Distrik Kaureh percaya bahwa hutan memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat. Pemahaman terhadap aturan adat yang mengatur zona pemanfaatan di Distrik Kemtuk dan Distrik Kaureh akan meningkat jika difasilitasi dengan kegiatan-kegiatan yang mendukung tercapainya transfer informasi. Pengaturan pemanfaatan kayu melalui mekanisme kebijakan yang lebih adil dan kejelasan terhadap hak kepemilikan (property right) penting untuk dilakukan. Kejelasan terhadap property rights akan mempengaruhi tindakan masyarakat adat dalam memanfaatkan kayu. Hak kepemilikan (property right) dapat diwujudkan dalam bentuk hak komunal (common property). Pengakuan atas hak komunal juga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat adat terhadap pemerintah dan mempermudah proses kolaborasi kebijakan pengelolaan hutan antara aturan tehnis kehutanan dan aturan-aturan adat.

(6)

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(7)

MASYARAKAT ADAT

(Kasus di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua)

YAN RICHARD PUGU

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

(Kasus di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua)

Nama : Yan Richard Pugu

NRP : E151070111

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MS.M.PPA Ketua

Dr. Ir. Bramasto Nugroho, MS. Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan

Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

(10)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Analisis Kebijakan Pemanfaatan Kayu oleh Masyarakat Adat (Kasus di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua)”.

Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan, Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Dalam penyelesaian perkuliahan, penelitian dan penyusunan tesis ini, penulis banyak mendapat dukungan, bantuan, dan kemudahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MS, M.PPA dan Dr. Ir. Bramasto Nugroho, MS selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan ikhlas membimbing penulis selama proses penulisan tesis ini.

2. Dr. Ir. Didik Suharjito, MS selaku penguji luar komisi dan juga sebagai pengajar yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian studi penulis.

3. Bupati Kabupaten Jayapura yang telah memberikan kesempatan dan beasiswa kepada penulis untuk melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor.

4. Isteri Tercinta Lena Krey yang dengan setia dan sabar mendukung penulis dalam menyelesaikan studi.

5. Bapa dan Mama tercinta serta saudara-saudara Yos sekeluarga, Nelson Rumbiak sekeluarga, Ian sekeluarga, dan Stefanus Saselah sekeluarga atas doa dan bantuan selama penulis menjalani studi.

6. Teman-teman IPH_07 yang selalu setia memberikan dukungan dan semangat kepada penulis untuk dapat menyelesaikan studi.

Semoga tesis ini bermanfaat sesuai maksud penulisannya.

Bogor, September 2011

(11)

Penulis dilahirkan di Abepura pada tanggal 24 Oktober 1973 dari ayah bernama Albert Melianus Pugu dan ibu bernama Juliana Margareth Numberi. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara.

Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, dan Sekolah Menengah Atas di Abepura-Jayapura. Pada Tahun 1999 penulis menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu dari Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih Jurusan Kehutanan di Manokwari. Pada tahun 2000 penulis diterima sebagai pegawai negeri sipil di Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura dan ditempatkan di Dinas Kehutanan.

(12)

Halaman

Masyarakat Adat dan Otonomi Khusus ... Pembuatan Kebijakan ... Analisis Isi Kebijakan ... Analisis Para Pihak ... Saluran Pemasaran ... Pendapatan Masyarakat Adat dan Pemerintah Daerah ... Pola Penguasaan Tanah oleh Masyarakat Adat di Kab Jayapura ... Analisis Efektifitas Kelembagaan Adat ... Bentuk Pelanggaran dalam Pemanfaatan Kayu ...

6

Lokasi dan Waktu Penelitian ... Metode Penelitian ... Analisis Pendapatan Masyarakat Adat dan Pemda ... Analisis Para Pihak ... Analisis Efektifitas Kelembagaan Adat ... Peta Permasalahan Berdasarkan Temuan Studi ...

(13)

Saran ... 47

(14)

1. Standarisasi Kompensasi bagi Masyarakat Adat sesuai Keputusan Gubernur ... 2. Proporsi PNBP Sektor Kehutanan antara Pemerintah Pusat dan Daerah ... 3. Penetapan Harga Patokan PSDH untuk Wilayah Irian Jaya ... 4. Jenis, Cara Pengumpulan dan Analisis Data ... 5. Tingkat Kepercayaan Informan ... 6. Tingkat Pemahaman terhadap Aturan Adat ... 7. Jarak Ibukota Distrik dengan Ibukota Kabupaten Jayapura ... 8. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 9. Komposisi Penduduk berdasarkan Suku ... 10. Luas Lahan Perkebunan Masyarakat di Lokasi Penelitian ... 11. Luas Hutan Kabupaten Jayapura sesuai Fungsi Kawasan Hutan ... 12. Data Potensi Tegakan ... 13. Produksi Kayu Bulat di Kabupaten Jayapura Tahun 2005 s/d 2009 ... 14. Hasil Analisis Isi Kebijakan ... 15. Pendapatan Masyarakat dari Kegiatan IPK-MA dan IPK ... 16. Pendapatan Masyarakat Adat dari Kegiatan Pemanfaatan Kayu ... 17. Realisasi Penerimaan Negara dari Kegiatan Pemanfaatan Kayu ... 18. Kerugian Negara dan Pemerintah Daerah... 19. Distribusi Informan menurut Tingkat Kepercayaan ... 20. Distribusi Informan menurut Tingkat Pemahaman terhadap Aturan Adat.. 21. Peta Permasalahan Pemanfaatan Kayu oleh Masyarakat Adat ...

(15)

1. Bagan Alir Kerangka Pemikiran ... 2. Prosedur Pembuatan Kebijakan ... 3. Pola Saluran Pemasaran Kayu tanpa Ijin ... 4. PendapatStakeholder tentang Kegiatan Pemanfaatan Kayu oleh

Masyarakat Adat ... 5 7 29

38

(16)

Lampiran 1. Peta Lokasi Penelitian ... Lampiran 2. Biaya dan Keuntungan Biaya Pemanfaatan Kayu ... Lampiran 3. DaftarStakeholderyang diwawancarai ... Lampiran 4. Panduan WawancaraStakeholder ... Lampiran 5. Persentase JawabanStakeholder...

(17)

(Kasus di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua)

YAN RICHARD PUGU

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebijakan desentralisasi yang berlangsung di Indonesia belum secara spesifik merancang desentralisasi dalam pengelolaan sumber daya alam. Namun demikian beberapa penulis menyatakan bahwa kebijakan desentralisasi dapat meningkatkan kualitas pengelolaan sumberdaya alam. Salah satu alasan yang mereka pakai untuk menguatkan argumen tersebut adalah karakter lingkungan yang berbeda di masing-masing daerah menuntut pendekatan pengelolaan sumberdaya alam yang sesuai dengan kondisi sosial, politik, dan ekonomi di tingkat lokal.

Kebijakan desentralisasi untuk Provinsi Papua diatur melalui Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (UU Otsus Papua). Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mengurus seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan bidang Politik luar negeri, pertahanan keamanan, moneter dan fiskal, agama, dan peradilan serta kewenangan tertentu di bidang lain yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 42 ayat (1), menjelaskan bahwa pemerintah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya dalam pembangunan perekonomian kepada masyarakat adat dan/atau masyarakat setempat. Masyarakat Adat yang dimaksudkan dalam undang-undang ini adalah warga masyarakat asli Papua yang hidup dalam wilayah yang terikat serta tunduk kepada adat tertentu dengan rasa solidaritas yang tinggi di antara para anggotanya.

(19)

IPK-MA dicabut pemberlakuannya pada 12 Januari 2005 karena adanya perdebatan dengan Departemen Kehutanan yang menganggap IPKMA merupakan ijin ilegal dan memungkinkan terjadinya praktek pembalakan liar. Departemen Kehutanan menawarkan pemanfaatan kayu melalui Ijin Pemungutan Hasil Hutan (IPHH) sesuai SK Menhut No. 6886/Kpts-II/2002. IPHH digunakan oleh masyarakat adat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (kulit masohi dan gaharu), sedangkan untuk hasil hutan kayu masyarakat tidak memanfaatkan perijinan ini karena ijin ini melarang kayu yang dipungut untuk diperdagangkan.

Kegiatan pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat tanpa legalitas dapat ditemui di Kabupaten Jayapura yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua. Posisi Kabupaten Jayapura cukup strategis dalam kegiatan pemanfaatan kayu karena selain memiliki kawasan hutan dengan luas ± 1.338.390,83 hektar (Dinas Kehutanan Papua, 2007) juga memiliki sarana prasarana yang lebih memadai dibandingkan kabupaten lain dan berada dekat dengan pelabuhan laut. Sekalipun kegiatan pemanfaatan kayu dilakukan oleh masyarakat di areal hutan adat tanpa dilengkapi dokumen perijinan namun kegiatan ini terus berjalan dan melibatkan pihak swasta (industri kayu, kios kayu untuk kebutuhan lokal).

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian tentang kebijakan dan aktivitas pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat. Penelitian ini akan difokuskan pada kebijakan perijinan pemanfaatan kayu, pendapatan masyarakat adat, pendapatan pemerintah daerah, serta peran para pihak (stakeholders), dan kelembagaan adat. 1.2. Perumusan Masalah

(20)

Menurut Sitorus (2004) pemerintah pusat tidak perlu merespon masa transisi desentralisasi dengan kepanikan terlebih untuk mengembalikannya dengan sistem sentralisasi. Penguatan kelembagaan dan institusi pemerintahan dan non pemerintah di daerah yang menjadi aktor pengusahaan hutan, pranata sosial masyarakat lokal, serta penegakkan hukum merupakan upaya yang sangat dibutuhkan untuk mendorong terwujudnya tujuan desentralisasi. Murray et al. (2006) menjelaskan bahwa faktor utama penentu keberhasilan masyarakat lokal dalam mempertahankan kelestarian sumberdaya hutan adalah adanya kejelasan property right serta berfungsinya sistem kelembagaan lokal. Sistem kelembagaan dimaksud meliputi norma (norm), sanksi (sanction), dan kepercayaan (belief) yang mengatur interaksi sesama manusia, dan antar manusia dengan sumberdaya alam.

Beberapa kajian yang berhubungan dengan pengetahuan tradisional masyarakat adat dalam mengelola hutan antara lain yang dilakukan oleh Kawer (2007) mendeskripsikan zona pemanfaatan hutan oleh masyarakat adat di Kabupaten Jayapura yang meliputi Kawasan Pemanfaatan bersama/umum dan Kawasan Pemanfaatan Khusus. Pangkali (2006) menjelaskan bahwa di Distrik Unurumguay Kabupaten Jayapura masyarakat adat mengenal adanya zona-zona pemanfaatan, misalnya untuk dusun sagu, tempat berburu dan tempat keramat.

Mencermati kondisi pemanfaatan kayu yang sementara terjadi di Kabupaten Jayapura maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat adat yang berhubungan dengan kebijakan pemanfaatan kayu. Beberapa pertanyaan sebagai masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana implementasi kebijakan pemanfaatan kayu di Kabupaten Jayapura? 2. Bagaimana aktivitas pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat di Kabupaten

Jayapura?

3. Bagaimana peran kelembagaan adat dalam kegiatan pemanfaatan kayu di Kabupaten Jayapura?

1.3. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengetahui implementasi kebijakan pemanfaatan kayu di Kabupaten Jayapura. 2. Mengetahui aktivitas pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat di Kabupaten

(21)

3. Mengetahui efektivitas kelembagaan adat (lokal) dalam kegiatan pemanfaatan kayu di Kabupaten Jayapura.

1.4. Manfaat

Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai informasi untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan mengenai kebijakan pemanfaatan kayu dan sebagai bahan pertimbangan bagi para pembuat kebijakan pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat.

1.5. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran pada penelitian ini merupakan model analisis kebijakan yang terintegrasi dimana dilakukan analisis retrospektif yang berorientasi pada aplikasi (Dunn, 1994). Kebijakan pemanfaatan kayu akan dianalisis untuk menjelaskan kondisi pemanfatan kayu yang terjadi di Kabupaten Jayapura, berupa kegiatan yang menggunakan perijinan pemerintah dan kegiatan tanpa perijinan pemerintah. Perijinan pemerintah yang sementara digunakan berupa Ijin Pemanfatan Kayu (IPK), dan Ijin Pemungutan Hasil Hutan (IPHH). Kegiatan tanpa perijinan dilakukan oleh masyarakat adat (pemilik ulayat) atau pihak lain sesuai ijin pemilik ulayat.

Beberapa analisis akan digunakan untuk mendukung penelitian ini, yaitu

(22)

Hasil analisis diharapkan mampu menjelaskan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat adat yang berhubungan dengan kebijakan pemanfaatan kayu di Kabupaten Jayapura dan alternatif/solusi kebijakan. Bagan alir kerangka pemikiran yang mendasari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Bagan Alir Kerangka Pemikiran SUMBER DAYA HUTAN

PAPUA

PEMANFAATAN KAYU TANPA IJIN YANG SAH PEMANFAATAN KAYU DI

KAB. JAYAPURA

• ANALISIS ISI KEBIJAKAN

• ANALISIS SALURAN PEMASARAN • ANALISIS PENDAPATAN

MASYARAKAT DAN PEMDA

• ANALISIS STAKEHOLDER • ANALISIS EFEKTIFITAS

KELEMBAGAAN ADAT

MASALAH KEBIJAKAN PEMANFAATAN KAYU DI KAB. JAYAPURA

PEMANFAATAN KAYU DENGAN IJIN YANG SAH

ALTERNATIF KEBIJAKAN

(23)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Masyarakat Adat dan Otonomi Khusus Papua

Istilah ‘adat’ dalam bahasa Indonesia memiliki arti ‘kebiasaan’ atau ‘tradisi’ dan mengandung konotasi tata tertib yang tenteram dan konsensus. Menurut Sangaji (2010), sebutan masyarakat adat cenderung merupakan terjemahan dari indigenous people dan atau tribal people. Kingsbury (1995) dalam Sangaji (2010) memberikan ciri untuk mengenali kelompok-kelompok yang disebut Indigenous people, dengan sejumlah karakteristik pokok, yaitu : (1) mengindentifikasi dirinya secara otonom sebagai kelompok suku yang berbeda; (2) pengalaman historis dalam hubungan dengan kerentanan kondisi kehidupan mereka terhadap gangguan, dislokasi, dan eksploitasi; (3) memiliki hubungan yang panjang dengan wilayah yang didiaminya; dan (4) berkeinginan mempertahankan ideologi yang berbeda. Moniaga (2010) mendefinisikan masyarakat adat sebagai kelompok masyarakat yang memiliki asal-usul (secara turun-temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan wilayah sendiri.

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua mendefinisikan adat sebagai kebiasaan yang diakui, dipatuhi dan dilembagakan, serta dipertahankan oleh masyarakat adat setempat secara turun-temurun. Sedangkan definisi Masyarakat adat adalah warga masyarakat asli Papua yang hidup dalam wilayah dan terikat serta tunduk kepada adat tertentu dengan rasa solidaritas yang tinggi di antara para anggotanya. Terdapat kurang lebih 250 suku atau masyarakat adat yang mempunyai bahasa berbeda dengan jumlah penduduk dalam tiap kelompok suku yang relatif kecil.

(24)

dengan aspirasi merdeka, dan memberikan pengakuan identitas kultural masyarakat Papua.

2.2. Pembuatan Kebijakan

Proses analisis kebijakan adalah serangkaian aktivitas intelektual yang dilakukan dalam proses kegiatan yang pada dasarnya bersifat politis. Aktivitas politis tersebut dijabarkan sebagai proses pembuatan kebijakan dan divisualisasikan sebagai serangkaian tahap yang saling bergantung yang diatur menurut urutan waktu : penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan. Setiap tahap berhubungan dengan tahap berikutnya, dan tahap terakhir (penilaian kebijakan) dikaitkan dengan tahap pertama (penyusunan agenda), atau tahap di tengah (Dunn, 1994).

Pengalaman di Indonesia menunjukkan bahwa pembuatan kebijakan tidak hanya didorong oleh kepentingan pemerintah, tetapi juga melibatkan proses pembelajaran bagi pembuat kebijakan dimana gagasan kebijakan memainkan peran utama (Lindayati, 2003). Sutton (1999) menjelaskan tentang urutan pembuatan kebijakan dalam model rasional sebagai berikut :

1. Mengenali dan merumuskan isu yang diperkirakan sebagai masalah. 2. Merumuskan tindakan untuk mengatasi masalah.

3. Memberi bobot terhadap alternatif tindakan dengan mengenali resiko dan hambatan yang mungkin terjadi.

Perumusan Masalah

Peramalan

Rekomendasi

Pemantauan

Penyusunan Agenda

Penilaian

(25)

4. Memilih tindakan sebagai kebijakan yang paling tepat. 5. Pelaksanaan kebijakan.

6. Evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan.

Pembuatan kebijakan di bidang kehutanan menurut Kartodihardjo (2006) menggunakan kerangka pemikiran yang lebih bertumpu pada aspek-aspek teknis dan teknologi dan belum memperhatikan arah perilaku aktor-aktor yang terlibat sebagai unit-unit pengambil keputusan. Kebijakan kehutanan lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan ilmu kehutanan yang menggunakan pendekatan ilmiah misalnya penerapan manajemen hutan yang mengatur waktu rotasi optimal dengan asumsi hutan milik individu bukan sumberdaya milik publik. Bahkan konsep pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat lokal belum pernah diadopsi pemerintah sebagai bentuk pengelolaan hutan secara legal. Pembuatan kebijakan membutuhkan penyempurnaan visi tentang keberadaan dan pemanfaatan fungsi sumberdaya hutan sebagai sumberdaya milik publik.

2.3. Analisis Isi Kebijakan

Kebijakan publik merupakan instrumen yang dibuat untuk memberikan solusi atas permasalahan, namun seringkali kebijakan yang diambil tidak menyelesaikan masalah bahkan melahirkan masalah baru. Permasalahan atau perilaku bermasalah yang berkaitan dengan suatu kebijakan dapat ditelusuri melalui evaluasi isi kebijakan dengan menggunakan pendekatan Rule, Opportunity, Capacity, Communication, Interest, Process, Ideology / ROCCIPI (Seidman, et al. 2001).

1. Rule (Peraturan), suatu perilaku bermasalah timbul justru karena peraturan perundang-undangannya sendiri. Peraturan perundang-undangan berpotensi menjadi pemicu munculnya perilaku bermasalah karena beberapa faktor, antara lain : (a) Rumusan normanya rancu dan membingungkan; (b) Peraturan yang bersangkutan malah memberi peluang terjadinya perilaku bermasalah; (c) Peraturan tidak menghilangkan penyebab perilaku bermasalah; (d) Peraturan membuka peluang terjadinya perilaku tidak transparan, tidak akuntabel, dan tidak partisipatif; (e) Peraturan memberikan kewenangan yang berlebihan kepada pelaksana.

(26)

sasaran (adressat) untuk tidak mentaati suatu peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain peraturan perundang-undangan justru memberi peluang untuk tidak ditaati. 3. Capacity (kapasitas), suatu peraturan perundang-undangan tidak berhasil diimplementasikan karena aktor pelaksana, lembaga pelaksana, pendukung peraturan perundang-undangan yang terkait tidak memiliki kemampuan (baik dari segi politik, ekonomi, yuridis ataupun sosial) untuk mengimplementasikan peraturan perundang-undangan.

4. Communication (komunikasi), pelaku dan para pihak yang menjadi adressat peraturan perundang-undangan seringkali tidak mentaati aturan karena tidak mengetahui adanya suatu peraturan perundang-undangan, sedangkan negara sering tidak tertib dalam mengumumkan peraturannya.

5. Interest (kepentingan), tingkat dukungan dan ketaatan para pelaku yang menjadi adressat suatu peraturan dipengaruhi oleh penilaiannya tentang manfaat dan kerugian politik, ekonomi maupun sosial budaya yang diperolehnya dari suatu peraturan perundang-undangan.

6. Proceess (proses), tingkat ketaatan dan partisipasi terhadap suatu peraturan perundang-undangan sangat dipengaruhi oleh tingkat akses informasi, partisipasi dan keadilan yang dibangun baik dalam proses pembentukan maupun dalam penormaan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.

7. Ideology (ideologi), pembentukan peraturan perundang-undangan harus memastikan (a) nilai yang dianut masyarakat untuk merasa berfikir dan bertindak; (b) sikap, baik sikap mental, pandangan hidup, pemahaman keagamaan, budaya, dsb dari para aktor/pelaku yang jadi penyebab perilaku bermasalah masuk dalam objek pengaturan. Hal ini bertujuan untuk mengarahkan aktor tersebut sampai pada kesimpulan bahwa pemahamannya terhadap nilai dan sikap yang dianut tersebut tidak tepat dan kemudian undang-undang mampu mengarahkan pada nilai dan sikap yang benar.

2.4. Analisis Para Pihak (Stakeholder Analisis)

(27)

atau institusi dalam berbagai ukuran, kesatuan, atau tingkat dalam masyarakat. Analisis stakeholder memandu kita untuk dapat sampai pada persoalan dan memahami alasan yang ada di balik konflik kepentingan yang mengancam keberhasilan suatu proyek atau kebijakan (Grimble dan Chan, 2005).

Selanjutnya Grimbe dan Chan (2005) menjelaskan bahwa analisis stakeholder cenderung relevan jika :

1. Ada Eksternalitas, contohnya jika pengguna air bagian hilir sungai terpengaruh oleh pemanfaatan dan polusi air di daerah hulu. Tidak selalu eksternalitas bersifat negatif.

2. Hak-hak milik terbuka atau tidak jelas (hak kepemilikan), analisis stakeholder cocok untuk situasi dimana sumber daya (contohnya hutan) dikelola sebagai hak bersama dan bukan merupakan sumberdaya milik pribadi.

3. Level Stakeholder yang berbeda-beda dengan kepentingan dan agenda yang berbeda. Ini meliputi kepentingan makro dan mikro dan mulai dari pemerintah, LSM, swasta sampai dengan masyarakat lokal.

4. Trade offs yang perlu dibuat pada tingkat kebijakan atas pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya. Contohnya jika tujuan kebijakan nasional mendorong pelestarian hutan, tetapi masyarakat lokal justru berminat atau berkepentingan terhadap pembabatan hutan untuk lahan perkebunan.

Meyers (2005) menyatakan bahwa dalam analisis stakeholder diperlukan pemahaman tentang posisi orang lain menghadapi isu yang ada, sehingga dapat menakar tingkat dukungan atau oposisi dari orang lain, dan memprediksi langkah yang akan diambil jika terjadi perubahan. Diperlukan suatu pendekatan terorganisir yang disebut analisis kekuatan stakeholder. Analisis stakeholder adalah suatu piranti untuk membantu memahami bagaimana masyarakat mempengaruhi kebijakan dan lembaga dan sebaliknya bagaimana kebijakan dan lembaga mempengaruhi mereka.

(28)

1. Kekuatan untuk mempengaruhi kebijakan atau lembaga berakar dari kontrol keputusan dengan efek positif atau negatif. Kekuatan stakeholder dapat dimengerti pada tingkat kemampuan stakeholderuntuk membujuk atau memaksa orang lain membuat keputusan, dan mengikuti serangkaian tindakan tertentu. Kekuatan dapat berasal dari sifat organisasistakeholderatau posisi mereka dalam hubungannya denganstakeholder lain.

2. Potensi untuk mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan dan lembaga berada pada karakteristik yang spesifik terhadap konteks dan lokasi, seperti halnya ilmu pengetahuan dan hak. Yang menjadi perhatian khusus disini adalah stakeholder yang mempunyai potensi besar tetapi kekuatan lemah. Persoalan kebutuhan dan kepentingan stakeholder paling penting dalam banyak inisiatif untuk meningkatkan proses kebijakan dan lembaga.

2.5. Saluran Pemasaran

Dalam pemasaran hasil hutan kayu dari hutan alam terdapat pelaku ekonomi yang terlibat langsung dan tidak langsung dalam menjalankan fungsi pemasaran dan membentuk saluran pemasaran. Pelaku dalam saluran pemasaran dapat berupa perorangan maupun badan usaha yang berfungsi menyalurkan produk maupun penyediaan jasa dalam mendukung pemasaran hasil hutan kayu serta mampu menjawab keinginan konsumen untuk memperoleh produk yang sesuai dengan waktu (time utility), tempat (place utility), dan bentuk (form utility).

(29)

2.6. Pendapatan Masyarakat Adat dan Pemerintah Daerah

Masyarakat adat tidak memperoleh pendapatan dari kegiatan pemanfaatan kayu yang dilakukan oleh pemegang ijin (investor). Pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat adat berupa kompensasi atas pemanfaatan kayu oleh investor. Standarisasi kompensasi diatur sesuai Keputusan Gubernur Propinsi Papua, dan Peraturan Bupati Kabupaten Jayapura. Besarnya kompensasi dibedakan menurut kelompok jenis, yaitu : merbau, non merbau, kayu indah, dan kayu bakau, seperti dijelaskan pada Tabel 1.

Tabel 1. Standarisasi Kompensasi bagi Masyarakat Adat sesuai Keputusan Gubernur Kel. Jenis Kep.Gub No.50/2001

(Rp./m3)

Kep.Gub No.184/2004 (Rp./m3)

Kayu Indah 50.000 100.000

Kayu Merbau 25.000 50.000

Kayu Non Merbau 10.000 10.000

Kayu Bakau 1.000 3.000

Keputusan Bupati Jayapura No.41 tahun 2002 dan Keputusan Bupati Jayapura No.13 tahun 2005 merupakan penjabaran Keputusan Gubernur Papua yang lebih detail mengatur tentang distribusi kompensasi dalam kelompok masyarakat adat/pemilik ulayat. Distribusi kompensasi sesuai Keputusan Bupati Jayapura diatur sebagai berikut :

1. Pemilik hak ulayat dari blok penebangan : 75 % 2. Pemilik hak ulayat jalan logging : 10 % 3. Tempat Penimbunan Kayu (TPK),logpond: 10 % 4. Penunjang Pembangunan Desa/Kampung : 5 %

Besar kecilnya pendapatan masyarakat dari kegiatan pemanfaatan kayu dengan perijinan yang sah maupun tanpa perijinan sah dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat (pengenalan jenis, pengukuran volume kayu), komitmen investor (transparansi), dan peran pemerintah dalam mengawasi jalannya suatu kebijakan dan kesepakatan yang dibangun antara masyarakat dan investor.

(30)

pemerintah daerah diperoleh dari badan bagi hasil sesuai hasil pungutan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi yang disesuaikan dengan volume produksi. Proporsi pembagian antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dijelaskan pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Proporsi PNBP Sektor Kehutanan antara Pemerintah Pusat dan Daerah

No. Sumber PNBP Alokasi Keuangan Keterangan

Pusat (%) Daerah (%)

1. PSDH 20 80 32 % Kab. Penghasil

32 % Kab. Pengahasil dlm Prop.

16 % Propinsi

2. DR 60 40 Daerah penghasil/kabupaten

Sumber : UU No. 33 Tahun 2004

Tarif Dana Reboisasi (DR) diatur sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun 1999 tentang Perubahan kedua atas PP No. 59 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Tarif DR disesuaikan peraturan tersebut untuk wilayah Irian Jaya (Papua) adalah sebagai berikut :

1. Kelompok Jenis Meranti : US $ 13 / meter3 2. Kelompok Rimba Campuran : US $ 10,5 / meter3 3. Kelompok Kayu Indah : US $ 18 / meter3

Untuk PSDH diatur sesuai Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan tentang penetapan harga patokan PSDH sesuai pengelompokan jenis, seperti dijelaskan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Penetapan Harga Patokan PSDH untuk Wilayah Irian Jaya (Papua)

Kelompok Jenis

Harga Patokan PSDH dalam rupiah/meter3 SK.Menperindag

(31)

Pola Penguasaan Tanah oleh Masyarakat Adat di Kabupaten Jayapura

Pola penguasaan tanah di Papua umumnya menggambarkan adanya hak pemilikan oleh marga dan pengaturan penggunaan suatu areal untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan hidup suatu kelompok suku yang terdiri dari beberapa marga. Pemilikan tanah adat oleh marga biasanya merupakan warisan generasi sebelumnya. Dalam setiap suku terdapat beberapa marga yang dalam struktur kelembagaan adat terdiri dari beberapa level antara lain level pemimpin/kepala suku yaitu marga-marga besar yang menguasai lebih banyak tanah adat, level bawah yaitu marga-marga kecil yang dalam struktur adat bukan merupakan pemimpin namun memiliki hak pemilikan atas tanah adat dengan luasan yang lebih rendah. Dalam suatu marga biasanya telah dilakukan pembagian penguasaan lahan kepada masing-masing individu penerus marga.

Menurut Kawer (2007) terdapat lima pola penguasaan tanah masyarakat hukum adat Namblong (genyem), yaitu :

1. Tanah Warisan (Kunare Sip), yaitu tanah yang dimiliki berdasarkan garis keturunan ayah/tanah warisan dari generasi sebelumnya.

2. Tanah Pinjaman(Ambuangdong Usu Sip), yaitu tanah yang diberikan sementara dengan jangka waktu tertentu atau dipinjamkan oleh pihak pemilik suku/marga kepada pihak lain diluar marga untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Apabila tanah tersebut sudah tidak dimanfaatkan maka tanah tersebut kembali kepada pihak pemilik (marga).

3. Tanah Hadiah/Tanda Jasa (Ulu Didong Usu Sip), yaitu tanah yang diserahkan atau dipindahtangankan oleh pemilik ulayat/marga kepada orang lain diluar marga karena jasa baik dan prestasi yang diberikan kepada para pemilik ulayat.

(32)

5. Tanah Denda (Lugeambu / Rumdu), yaitu tanah yang diserahkan sebagai pembayaran atau sebaliknya diterima sebagai pembayaran atas suatu perkara pembunuhan dari pihak marga kepada keluarga korban dan kemudian dikuasai secara turun-temurun.

2.7. Analisis Efektivitas Kelembagaan Adat

Analisis ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan modal sosial (social capital) yang dimiliki dan diterapkan oleh masyarakat adat pada kegiatan pengelolaan hutan. Masyarakat adat sesuai Moniaga (2010) adalah kelompok masyarakat yang memiliki asal-usul (secara turun-temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan wilayah sendiri. Tata aturan adat adalah aturan yang diproduksi oleh masyarakat sendiri, diwarisi dan dipelajari dari generasi sebelumnya, diajarkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya, bukan diproduksi oleh pemerintah.

Menurut Uphoff (2000) untuk memahami modal sosial dapat dilakukan dengan memperhatikan dua fenomena yaitu struktural dan kognitif. Kategori struktural dikaitkan dengan berbagai bentuk organisasi yang mengatur tentang peran, aturan, preseden, dan prosedur serta berbagai macam jaringan yang berkontribusi kepada kerjasama atau tindakan kolektif yang saling menguntungkan (mutually beneficial collective action,MBCA). Kategori kognitif yaitu norma, nilai, sikap, dan kepercayaan yang dipakai untuk menjalankan tindakan kolektif yang saling menguntungkan (MBCA).

(33)

2.8. Bentuk Pelanggaran dalam Pemanfaatan Kayu

Pemanfaatan kayu dalam konteks ilegal adalah kegiatan pemanfaatan kayu yang tidak sesuai dengan perangkat hukum atau peraturan yang berlaku. Dalam kegiatan pengelolaan hutan termasuk pemanfaatan kayu, peraturan atau kebijakan yang digunakan selalu mengacu pada penetapan fungsi suatu kawasan hutan. Menurut Casson (2007), di Indonesia fungsi kawasan hutan ditetapkan berdasarkan hasil analisis terhadap beberapa faktor antara lain kelerengan, intensitas curah hujan, kondisi tanah, dan faktor biofisik lainnya tanpa memperhitungkan faktor sosial (masyarakat dalam dan sekitar hutan). Minimnya pelibatan masyarakat dalam penetapan fungsi kawasan hutan menyebabkan hak masyarakat dalam mengakses sumberdaya hutan tidak terakomodasi peraturan/kebijakan pengelolaan hutan.

(34)

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua yang meliputi 3 (tiga) wilayah distrik/kecamatan yaitu : Distrik Kaureh, Distrik Unurum guay, dan Distrik Kemtuk. Penelitian dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, mulai Maret 2010 hingga Mei 2010. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1. 3.2. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang menekankan pada penggambaran dan penjelasan terhadap fenomena yang ada serta hubungan antar faktor yang berpengaruh (Yin, 1997). Validasi data penelitian menggunakan metode triangulasi yaitu penelusuran data atau infromasi dari tiga sisi, pertama,data primer dari hasil observasi lapangan, hasil wawancara dan survei terhadap informan; kedua, data sekunder berupa dokumen kebijakan, dokumen perijinan pemanfaatan kayu, dan dokumen lain yang berhubungan dengan kegiatan pemanfaatan kayu; ketiga, dari analisis data yang dilakukan terhadap data primer dan sekunder.

3.3. Pengumpulan Data

(35)

Tabel 4. Jenis, Cara Pengumpulan, dan Analisis Data

No. Jenis Data Pengumpulan Data Analisis Data

1. Kebijakan Perijinan

(36)

3.4. Analisis Data

3.4.1. Analisis Kebijakan (Content Analysis)

Analisis isi kebijakan dilakukan terhadap kebijakan perijinan pemanfaatan kayu sesuai SK Menhut No. 6886/Kpts-II/2002 dan P.46/2009. Analisis isi kebijakan menggunakan pendekatan terhadap Rule, Opportunity, Capacity, Communication, Interest, Process, Ideology / ROCCIPI (Seidman, et al. 2001). Hasil analisis ini diharapkan memberikan informasi tentang kendala-kendala yang dihadapi oleh masyarakat adat dalam menanggapi kebijakan kehutanan yang ada.

3.4.2. Analisis Saluran Pemasaran

Saluran pemasaran kayu di Kabupaten Jayapura diinventarisir melalui observasi dan wawancara dengan masyarakat maupun pihak-pihak yang terlibat pemasaran kayu dari hutan hingga ke konsumen atau industri. Hasil inventarisasi akan menjelaskan berapa banyak lembaga/pihak yang terlibat, bentuk kerjasama yang dibangun, dan pola saluran pemasaran. Dengan analisis saluran pemasaran, dapat diketahui bagaimana produk kayu tanpa ijin yang sah mampu dipasarkan. Hasil analisis dapat diestimasi untuk memperoleh data jumlah dan jenis kayu berijin dan tanpa ijin sah yang diserap oleh industri maupun kebutuhan lokal..

3.4.3. Analisis Pendapatan Masyarakat dan Pemerintah Daerah

Analisis pendapatan masyarakat dilakukan terhadap data hasil wawancara dengan masyarakat yang memperoleh pendapatan dari kegiatan pemanfaatan kayu dengan ijin IPK, IPK-MA, IPHH, maupun tanpa perijinan. Hasil analisis diharapkan mampu memberikan penjelasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat adat dari kegiatan pemanfaatan kayu.

(37)

3.4.4. Analisis Para Pihak (Stakeholder Analysis)

Analisis stakeholder dilakukan untuk mengetahui tanggapan stakehoder terhadap kegiatan pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat di Kabupaten Jayapura. Stakeholder berasal dari pemerintah, masyarakat adat, swasta (pemegang IPK,IUIPHHK, kios kayu), wakil rakyat (DPRD),dan LSM yang bergerak di bidang lingkungan, dan pengembangan masyarakat adat. Hasil wawancara dengan stakeholder dan pengamatan dilapangan diharapkan dapat dipakai sebagai bahan untuk menganalisis peran stakeholder dalam kegiatan pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat di Kabupaten Jayapura (Meyers, 2005).

3.4.5. Analisis Efektifitas Kelembagaan Adat

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kondisi konkrit tentang modal sosial khususnya kepercayaan (trust) dan aturan-aturan adat yang mengatur hubungan hutan dan masyarakat (Suharjito dan Saputro, 2008). Informan dipilih secara purposive dengan pertimbangan mewakili marga/clan besar dalam lokasi penelitian dan pernah atau sedang melakukan kegiatan pemanfaatan kayu. Jumlah informan sebanyak 30 orang dengan perincian tiap distrik lokasi penelitian diwakili oleh 10 informan. Tingkat efektifitas dideskripsikan berdasarkan hasil analisis data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil survei terhadap pendapat informan yang meliputi tingkat kepercayaan dan pemahaman terhadap aturan adat yang mengatur hubungan hutan dengan masyarakat.

(38)

Tabel 5. Tingkat Kepercayaan Informan

No. Kepercayaan Informan terhadap

Distribusi Informan (%) Tidak

percaya Ragu-ragu Percaya 1. Manfaat hutan

2. Fungsi aturan tertulis 3. Fungsi aturan tidak tertulis

4. Kepatuhan & kemampuan warga menjaga batas ulayat

5. Kemampuan kerjasama warga masyarakat

6. Perusahaan (IPK /HPH)

Tingkat pemahaman informan terhadap aturan dikelompokan dalam tiga kategori yaitu tidak paham, cukup paham, dan paham seperti pada Tabel 6.

Tabel 6. Tingkat Pemahaman terhadap Aturan Adat

Informan Tingkat Pemahaman (%)

Tidak paham Cukup paham Paham Distrik Kemtuk

Distrik Unurumguay Distrik Kaureh Keterangan :

Tidak paham: informan tidak mengetahui tentang aturan adat;

Cukup paham: informan mengetahui tentang aturan adat namun kurang detail;

(39)

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Letak Geografis

Kabupaten Jayapura terletak di antara 129o00’16” – 141o01’47” Bujur Timur dan 2o23’10” Lintang Utara dan 9o15’00” Lintang Selatan, dengan batas-batas wilayah admisnistrasi sebagai berikut :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Kabupaten Sarmi;

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Tolikara;

c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom; d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sarmi.

Luas wilayah Kabupaten Jayapura 17.514 Km2 yang berbagi dalam 19 Distrik (kecamatan) dan 139 Kampung (Desa) dan 5 Kelurahan. Jarak ibukota distrik yang menjadi lokasi penelitian dengan Ibukota Kabupaten Jayapura (Kota Sentani) dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.

Tabel 7. Jarak Ibukota Distrik dengan Ibukota Kabupaten Jayapura

No. Distrik Jarak (±KM) Keterangan

1. Kemtuk 22 Permukaan jalan telah diaspal

2. Unurumguay 79 Permukaan jalan telah diaspal

3. Kaureh 224 ± 70 Km telah diaspal, ±150 Km

permukaan tanah/kerikil. Sumber : Data Profil Kab. Jayapura, 2009

4.2. Penduduk

(40)

Tabel 8. Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin

No. Distrik Kep.Keluarga Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Kemtuk 811 2.134 2.016 4.150

2. Unurumguay 508 1.186 970 2.156

3. Kaureh 3.831 9.178 5.414 14.592

Sumber : Data Profil Kab. Jayapura, 2009

Jumlah penduduk di Distrik Kaureh lebih tinggi dibanding Distrik Kemtuk dan Unurumguay hal ini disebabkan di Distrik Kaureh terdapat Perkebunan PT. Sinas Mas Group. Karyawan perkebunan berasal dari kabupaten-kabupaten lain di Papua maupun dari luar Papua. Komposisi penduduk berdasarkan suku (papua dan non papua) dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini.

Tabel 9. Komposisi Penduduk berdasarkan Suku (Papua dan Non Papua)

No. Distrik Papua Non Papua Jumlah

1. Kemtuk 3.744 406 4.150

2. Unurumguay 1.828 328 2.156

3. Kaureh 9.655 4.937 14.592

Sumber : Data Profil Kab. Jayapura, 2009

Mayoritas mata pencaharian penduduk di lokasi penelitian adalah berkebun dengan mengusahakan komoditi kakao, pinang, dan kelapa. Luas lahan kakao, pinang, dan kelapa dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Luas Lahan Perkebunan Masyarakat di Lokasi Penelitian

No. Distrik Luas Lahan Perkebunan Masyarakat (Hektar)

Kakao Pinang Kelapa

1. Kemtuk 928 27 31

2. Unurumguay 184 8 12

3. Kaureh 563 16 17

Sumber : Data Profil Kab. Jayapura, 2009

4.3. Kondisi Hutan

(41)

Tabel 11. Luas Hutan Kabupaten Jayapura sesuai Fungsi Kawasan Hutan No. Fungsi Kawasan Hutan Luas (Hektar) Keterangan

1. Hutan Konservasi 86.906,61 CA.Cycloops, SM. Mambramo Foja

2. Hutan Lindung 492.668,52 HL.Sobger, HL. Mansiap, HL. Nimboran

3. Hutan Produksi 139.627,52 Distrik Unurumguay, Kaureh 4. Hutan Produksi Terbatas 274.570,02 Distrik Kemtuk,Unurumguay,

Kaureh 5. Hutan Produksi dapat

dikonversi

313.119,12 Distrik Kemtuk,Unurumguay, Kaureh

6. Areal Penggunaan Lain 31.499,04 Transmigrasi, Perkebunan

Jumlah : 1.338.390,83

Sumber :Statistik Kehutanan Prov.Papua, 2007

Potensi tegakan pada hutan produksi di Kabupaten Jayapura berdasarkan kelas diameter untuk beberapa jenis tegakan komersial dapat dilihat pada Tabel 12 berikut ini.

Tabel 12. Data Potensi Jenis Tegakan (komersial) pada Hutan Produksi di Papua

No. Nama Jenis

Kelas Diameter (cm)

30 - 40 40 - 50 50 - 60 >60

N/ha V/ha N/ha V/ha N/ha V/ha N/ha V/ha

1 Bintangur 0,23 0,218 0,63 0,871 0,404 0,882 0,10 0,318

2 Bipa 1,37 1,002 0,83 1,056 0,07 1,126 0,27 0,933

3 Dahu 0,47 0,359 0,10 0,112 0,07 0,132 0,03 0,131

4 Hopea 0,90 0,756 0,40 0,518 0,33 0,678 0,30 1,321

5 Kenari 0,83 0,631 0,37 0,437 0,13 0,238 0,03 0,191

6 Ketapang 0,70 0,541 0,40 0,496 0,07 0,112 0,07 0,197

7 Matoa 2,20 1,721 1,20 1,487 0,63 1.206 0,37 1,209

8 Merbau 1,27 0,994 1,23 1,462 0,60 1,083 1,13 4,753

9 Mersawa 0,73 0,566 0,67 0,881 0,33 0,674 0,30 1,005

10 Nyatoh 0,47 0,339 0,23 0,333 0,20 0,424 0,10 0,316

11 Resak 1,37 1,042 0,40 0,528 0,03 0,059 0,00 0,00

(42)

Data produksi kayu bulat di Kabupaten Jayapura dari kegiatan HPH, IPK-MA, IPK, IPKL dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ini.

Tabel 13. Produksi Kayu Bulat di Kabupaten Jayapura Tahun 2005 s/d 2009

TAHUN PRODUKSI KAYU BULAT (m

3 )

JUMLAH

HPH IPK IPKL IPK-MA

2005 47.445,36 - 20.933,96 60.995,50 129.374,82

2006 25.212,00 1.018,12 30.848,36 - 57.078,48

2007 - - 9.169,38 - 9.169,38

2008 - 30.701,31 - - 30.701,31

2009 - 21.300,56 - - 21.300,56

(43)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Isi Kebijakan Pemanfaatan Kayu di Kabupaten Jayapura

Kebijakan perijinan pemanfaatan kayu pada hutan alam di Kabupaten Jayapura dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) periode waktu, yaitu :

a. Kebijakan sebelum Otonomi Khusus (sebelum tahun 2001) :

Perijinan yang digunakan untuk melakukan kegiatan pemanfaatan atau pemungutan hasil hutan kayu meliputi perijinan Hak Pengusahaan Hutan (HPH)/Ijin Usaha Pemungutan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA), Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK), Ijin Pemanfaatan Kayu Limbah (IPKL). Perijinan-perijinan ini membutuhkan persyaratan administrasi dan tekhnis yang sulit untuk dipenuhi oleh masyarakat adat. Misalnya dalam perijinan IPK, pemohon wajib menyetor dana sebagai garansi bank yang jumlahnya sama dengan jumlah tarif PSDH dan DR sesuai target produksi IPK. Persyaratan-persyaratan ini membatasi masyarakat untuk dapat memanfaatkan perijinan yang ada.

b. Kebijakan saat Otonomi Khusus hingga Operasi hutan Lestari II (2001 – 2005) Pada periode ini perijinan yang digunakan untuk melakukan kegiatan pemanfaatan atau pemungutan hasil hutan kayu berupa perijinan IPK, Ijin Pemungutan Hasil Hutan (IPHH) di hutan produksi, dan perijinan yang dibangun sesuai semangat UU Otsus Papua yaitu Ijin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat (IPK-MA)/Kopermas. Pada periode ini masyarakat adat banyak terlibat dalam kegiatan pemanfaatan kayu sesuai perijinan IPK-MA.

c. Kebijakan saat Otonomi Khusus pasca Operasi hutan Lestari II (2005 – sekarang) Pada periode ini perijinan yang digunakan untuk melakukan kegiatan pemanfaatan atau pemungutan hasil hutan kayu berupa perijinan IPK, dan IPHH. Perijinan IPK-MA telah dicabut pemberlakuannya. Kegiatan pemanfaatan kayu banyak diarahkan pada areal penggunaan lain (APL) seperti areal lahan usaha dua transmigrasi dengan menggunakan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK).

(44)

Kenyataan di lapangan IPHH tidak dipakai oleh masyarakat adat, masyarakat lebih memilih untuk memanfaatkan kayu tanpa perijinan. Untuk mengetahui penyebab masyarakat tidak memanfaatkan perijinan IPHH dalam kegiatan pemanfaatan kayu maka dilakukan analisis terhadap isi kebijakan IPHH sesuai SK Menhut No.6886/Kpts-II/2002 tentang Pedoman dan Tata Cara Pemberian IPHH dan perubahannya sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.46/Menhut/2009. Analisis isi kebijakan menggunakan pendekatan terhadap Rule, Opportunity, Capacity, Communication, Interest, Process, Ideology / ROCCIPI (Seidman, et al. 2001) disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14 . Hasil Analisis Isi Kebijakan SK.Menhut 6886/2002 dan P.46/Menhut/2009

Isi Peraturan Hasil Analisis

SK. Menhut 6886/2002 & P.46/Menhut/2009 Peraturan (Rule)

Inkonsisten & Diskriminatif

IPHHK-HA tdk diperdagangkan, sementara aturan ini mengacu pada PP No.6 /2007 yang menjelaskan : IPHHK adalah izin untuk mengambil hasil hutan berupa kayu pada hutan produksi melalui kegiatan pemanenan, pengangkutan, dan pemasaran untuk jangka waktu dan volume tertentu.

Kayu dari perijinan lain seperti IUPHHK-HA, IPK, dapat diperdagangkan namun memiliki persyaratan yang sulit dipenuhi oleh masyarakat, sementara IPHHK-HA yang persyaratannya dapat dipenuhi oleh masyarakat tidak diijinkan untuk diperdagangkan.

Peluang (Opportunity) Disinsentif

Peraturan ini tidak memberikan manfaat (pendapatan) berupa uang dan justru menambah biaya karena pemegang ijin IPHHK wajib membayar PSDH.

Kapasitas (Capacity) Memadai

Dinas Kehutanan dapat menjalankan tugas administrasi sesuai perijinan IPHH, hal ini dapat dilihat dengan kelancaran pengurusan IPHH-bukan kayu (gaharu, kulit masohi).

Komunikasi (Communication)

Sosialisasi peraturan ini telah dilakukan dan mendapat respon yang baik dari masyarakat adat berupa pengurusan perijinan IPHH-bukan kayu.

Kepentingan (Interest)

Hak kepemilikan kayu

(45)

Proses (Process) Top-down

P.46/2009 tidak menjawab kelemahan SK Menhut 6886/2002 Proses pembentukan aturan ini tidak melalui tahapan pembuatan kebijakan yang tepat. (prosedur pembuatan kebijakan menurut Dunn, 1994, yaitu : Perumusan Masalah, Peramalan, Rekomendasi, Pemantauan, Penilaian.).

Hasil hutan bukan kayu tidak menyebar merata seperti halnya kayu sehingga tidak semua masyarakat beralih dari kegiatan pemanfaatan kayu ke pemanfataan hasil hutan bukan kayu.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan yang ditawarkan oleh pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan) tidak menjadi solusi atas masalah pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat. Kebijakan tersebut justru memberi peluang untuk tidak ditaati karena tidak memberikan manfaat (disinsentif) terhadap kebutuhan masyarakat. Kebijakan ini juga melemahkan kapasitas lembaga pemerintah di lapangan khususnya Dinas Kehutanan karena masyarakat menilai kehutanan tidak mampu mengakomodir kepentingan masyarakat adat. Masyarakat juga menilai pemerintah mengabaikan keberadaan mereka bahkan mengingkari legitimasi sistem hak kepemilikan yang ada sebelumnya atas sumber daya alam berbasis tanah adat. Menurut Peluso (2006) negara sering memaksakan pelaksanaan hukum yang rumusannya bertentangan dengan kepercayaan, hukum adat, dan desakan kebutuhan materi. Masyarakat sering menanggapinya dengan perlawanan sebagai bentuk protes terhadap hilangnya akses atas sumber daya.

5.2. Saluran Pemasaran

(46)

Gambar 3. Pola Saluran Pemasaran Kayu Tanpa Ijin di Kabupaten Jayapura Keterangan :

: Saluran Pemasaran 1 (Masyarakat adat – Kelompok penggesek – industri/kios kayu/konsumen lain)

: Saluran Pemasaran 2 (Masyarakat adat – industri/kios kayu/konsumen lain)

Masyarakat di Distrik Unurumguay dan Distrik Kaureh memasarkan kayu dengan menggunakan saluran pemasaran 1. Masyarakat di kedua distrik ini banyak berhubungan dengan kelompok-kelompok penggesek kayu. Kelompok penggesek merupakan masyarakat pendatang dari Sulawesi Utara yang menetap sementara di hutan dan warga transmigrasi (Jawa) yang ada di Distrik Nimbokrang. Kelompok penggesek memiliki keterampilan dalam mengoperasikan gergaji rantai (chain saw) dan hubungan kerjasama dengan industri maupun kios kayu, kadang merupakan bentukan dari industri atau kios kayu. Penggesek biasanya terdiri dari operator gergaji rantai, regu sarad/pemikul dari dalam hutan ke pinggiran jalan.

Pada saluran pemasaran 1, masyarakat adat memberikan ijin kepada kelompok penggesek kayu untuk mengolah kayu pada areal hutan milik masyarakat adat. Pada saluran pemasaran ini penggesek lebih berkepentingan dibandingkan masyarakat adat. Hal ini dibuktikan dengan keaktifan mereka dalam mencari lokasi maupun membangun kerjasama dengan masyarakat melalui negosiasi-negosiasi yang memotivasi masyarakat adat untuk memberikan ijin pemanfaatan kayu pada areal hutan masyarakat adat. Ijin yang diberikan oleh masyarakat adat umumnya berupa ijin lisan (verbal), ada pula ijin tertulis yang telah disiapkan oleh kelompok penggesek untuk ditanda tangani oleh masyarakat adat. Ijin tertulis inilah yang kemudian dipakai oleh penggesek untuk mengamankan setiap kegiatan penebangan hingga pengangkutan kayu ke industri atau kios kayu.

Masyarakat Adat Kel. Penggesek

• Industri Kayu; • Kios Kayu; • Konsumen lain 1

(47)

Setelah memperoleh ijin dari masyarakat adat, kelompok penggesek dapat mulai melakukan kegiatan penebangan pohon, penggergajian, dan pengangkutan kayu. Masyarakat adat menerima kompensasi sesuai laporan lisan tentang volume dan jenis yang telah diambil dari areal hutannya. Kelompok penggesek memasarkan kayu dalam bentuk kayu pacakan dengan jenis dan ukuran sesuai permintaan industri maupun kios kayu. Jenis kayu merbau (Intsia,sp.) dijual ke industri kayu dengan ukuran 3m x 14cm x 14cm, untuk yang dijual ke kios kayu selain merbau juga kayu dari kelompok rimba campuran seperti matoa (Pometia sp.) dan lain-lain dengan ukuran bervariasi yaitu 4m x 5cm x 10cm ; 4m x 5cm x 15cm; 4m x 10cm x 10cm .

Kelompok penggesek dalam melakukan kegiatannya mampu mencapai jarak ± 2 km dari pinggiran jalan. Pengerjaan pohon menjadi kayu pacakan dilakukan di lokasi penebangan dengan menggunakan gergaji rantai. Pengangkutan kayu dari lokasi penebangan ke pinggiran jalan menggunakan tenaga manusia (dipikul), ternak (sapi), mobil jeep, dan motor yang telah dimodifikasi untuk digunakan pada rel yang telah disiapkan. Dalam sehari setiap operator gergaji rantai mampu menghasilkan 1 – 2 meter kubik kayu pacakan jenis merbau. Jenis non merbau pengerjaannya lebih mudah sehingga dalam sehari mampu mencapai 3 – 4 meter kubik.

Pengangkutan kayu dari pinggiran jalan ke industri atau kios kayu menggunakan truk. Kapasitas angkut truk untuk kayu merbau ± 4 meter kubik dan kayu non merbau ± 5 meter kubik. Dalam perjalanan truk akan melewati pemeriksaan di pos polisi kehutanan dan beberapa pos keamanan (TNI/polisi). Di pos polisi kehutanan pemeriksaan dilakukan terhadap surat angkutan kayu (faktur angkutan), volume dan jenis kayu yang diangkut. Untuk menghindari pemeriksaan dan kemungkinan penahanan kayu illegal dan truk pengangkut, supir truk atau pemilik kayu biasanya membayar sejumlah uang di setiap pos yang dilewati. Jumlah biaya yang dikeluarkan untuk melewati pos kehutanan, Pos TNI, dan Pos Polisi selama perjalanan dari hutan hingga Kota Sentani berkisar antara Rp. 750.000 hingga Rp. 900.000,-. Biaya ini dapat bertambah jika dalam perjalanan ada pemeriksaan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian yang sedang melakukan patroli.

(48)

kios kayu dan konsumen lain . Konsumen lain yang membeli kayu dari masyarakat berasal dari pelaksana pembangunan perumahan dan proyek pembangunan lainnya di kabupaten dan kota Jayapura. Areal hutan yang dikelola masyarakat dapat mencapai ± 1 km dari pinggiran jalan dengan medan yang relatif datar. Pengangkutan kayu dari dalam hutan ke pinggiran jalan menggunakan tenaga manusia (dipikul). Pemanfaatan kayu biasanya dilakukan jika ada kebutuhan mendesak misalnya untuk kebutuhan perayaan natal dan kebutuhan sekolah anak pada saat tahun ajaran baru. Tingginya biaya angkutan dan pungutan oleh pihak berwenang yang tidak bertanggungjawab menyebabkan masyarakat di distrik ini lebih memilih untuk menunggu pihak kios kayu atau konsumen lain yang mendatangi mereka daripada membawa sendiri atau mendatangi konsumen ke Kota Sentani. Masyarakat yang menggunakan saluran pemasaran 2 jarang menjual kayu ke industri. Hal ini disebabkan menurut mereka pengukuran yang dilakukan oleh tenaga pengukur kayu (grader) sering merugikan mereka.

(49)

5.3. Analisis Pendapatan Masyarakat Adat dan Pemerintah Daerah

Beberapa Perijinan pemanfaatan kayu yang pernah beroperasi dan menjadi sumber pendapatan di Kabupaten Jayapura adalah Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK), dan Ijin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat (IPK-MA). Pendapatan yang diterima oleh masyarakat adat atas kayu yang dipungut HPH tidak dalam bentuk uang tunai tetapi berupa kegiatan-kegiatan HPH Bina Desa/PMDH (bangunan sekolah, puskesmas, dan perkebunan). Pasca krisis moneter tahun 1998 dan pemberlakukan Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2001, 3 (tiga) HPH yang beroperasi di Kabupaten Jayapura menghentikan kegiatannya (stagnasi). Penghentian kegiatan disebabkan pengaruh krisis moneter dan banyak tuntutan masyarakat adat yang berhubungan dengan ganti rugi atas ulayat hingga tuntutan kompensasi dalam bentuk uang sesuai volume kayu yang diproduksi. Masyarakat adat Elseng, salah satu kelompok masyarakat adat di bagian Selatan Kabupaten Jayapura menuntut ganti rugi atas kegiatan HPH dan melakukan pemalangan terhadap areal konsesi HPH Risana Indah Forest Industri (RIFI) dan beberapa alat berat.

Masyarakat mulai menerima kompensasi dalam bentuk uang tunai saat pemberlakukan IPK-MA tahun 2002. Hasil wawancara dengan masyarakat adat pengurus IPK-MA dan masyarakat pemilik ulayat areal IPK diperoleh informasi tentang pendapatan masyarakat adat dari kegiatan IPK-MA dan IPK yang dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Pendapatan Masyarakat dari kegiatan IPK-MA dan IPK di Kab. Jayapura

(50)

Pendapatan masyarakat adat (pemilik ulayat) disesuaikan dengan standar kompensasi sesuai SK Bupati Jayapura Nomor 41/2002 dan SK Bupati Jayapura Nomor 13 tahun 2005. Biaya IPK-MA (Fee IPK-MA) merupakan hasil negosiasi antara pengurus IPK-MA dan pihak ketiga (investor). Pengurus IPK-MA (Ketua, Sekretaris, Bendahara) juga menerima insentif bulanan selama IPK-MA beroperasi yang besarnya bervariasi antara Rp.100.000,- hingga Rp.150.000,-. Hasil kajian Yulianti (2005) menunjukkan bahwa pemilik Kopermas/IPK-MA adalah kelompok yang paling sedikit menikmati manfaat dan keuntungan Kopermas. Kebijakan ini juga dinilai gagal memenuhi fungsi keberlanjutan usaha (sustainability).

Pendapatan masyarakat dari kegiatan IPK-MA pasca OHL merupakan pendapatan yang diperoleh dari hasil pelelangan kayu-kayu IPK-MA yang disita. Pendapatan dari hasil lelang kayu IPK-MA bervariasi dan dipengaruhi oleh negosiasi antara masyarakat adat dan pihak pemenang lelang. Negosiasi antara masyarakat dan pemenang lelang biasanya berlangsung sebelum kegiatan lelang dilakukan. Posisi masyarakat adat dalam negosiasi lemah sehingga mereka lebih banyak menerima tawaran yang diberikan.

Kegiatan IPK VCMWI dan IPK SM tidak memberikan pendapatan/kompensasi kepada masyarakat pemilik ulayat lokasi IPK. Hal ini mungkin terjadi karena lokasi kedua IPK berada pada areal penggunaan lain (APL) yang merupakan lokasi perkebunan kelapa sawit dan lokasi lahan usaha dua pada areal transmigrasi. Hasil wawancara dan pengamatan di salah satu lokasi IPK menunjukkan bahwa tidak terdapat kegiatan pemanfaatan kayu pada areal yang dimaksud, bahkan rencana perkebunan tidak terealisasi. Hal ini membuktikan bahwa investor sebenarnya hanya memburu dokumen-dokumen perijinan untuk melegalkan kegiatan-kegiatan illegalnya. Casson (2003) menjelaskan bahwa kebanyakan perusahaan di Irian Jaya (Papua) lebih berminat memungut kayu dari konsesi mereka daripada benar-benar membangun perkebunan.

(51)

kegiatan pemanfaatan kayu di Distrik Kemtuk, Distrik Unurumguay, dan Distrik Kaureh dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Pendapatan Masyarakat Adat dari Kegiatan Pemanfaatan Kayu di Kab Jayapura.

No. Jenis Kayu dan Tujuan Pemasaran

Pendapatan Masyarakat Adat (Rp/m3)

Kemtuk Unurumguay Kaureh Pendapatan masyarakat adat di Distrik Kemtuk lebih tinggi dari masyarakat di Distrik Unurumguay dan Distrik Kaureh karena masyarakat di Distrik Kemtuk mengusahakan kayu sendiri tanpa melibatkan pihak luar (kelompok penggesek). Di Distrik Unurumguay dan Disrik Kaureh, perhitungan kompensasi antara kelompok penggesek kayu dan masyarakat didasarkan atas jumlah pengangkutan dengan menggunakan truk. Setiap pengangkutan kayu merbau masyarakat mendapat kompensasi sebesar Rp.300.000,- dengan perhitungan/anggapan masyarakat bahwa jumlah kayu yang diangkut sebanyak 3 m3. Untuk kayu non merbau masyarakat memperolah Rp.200.000,- setiap truk, dengan anggapan masyarakat jumlah kayu yang diangkut 5 m3. Perhitungan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan standar kompensasi sesuai aturan yang berlaku, namun sesungguhnya kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pendekatan perhitungan ini sangat merugikan masyarakat. Masyarakat sering dikelabui, baik dengan jenis kayu maupun volume yang diangkut. Kelompok penggesek juga sering menggunakan aparat keamanan dalam kegiatannya sehingga masyarakat adat kadang sulit untuk melakukan protes atas kompensasi yang diterima.

(52)

melakukan patroli. Pengaruh pungutan ini dapat dilihat pada perbedaan pendapatan masyarakat di Distrik Kemtuk yang menjual kayu ke kios kayu dan yang menjual kepada pihak yang melakukan kegiatan pembangunan (proyek pembangunan). Untuk proyek pembangunan, pembeli menjemput kayu ke Distrik Kemtuk, sehingga biaya pengangkutan dan pungutan liar dapat dikurangi dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Akses jalan dan jarak antara Distrik ke Kota Kabupaten Jayapura (Sentani) juga mempengaruhi keputusan masyarakat dalam menentukan tujuan pemasaran kayu. Masyarakat di Distrik Kemtuk memiliki akses (kerjasama) dengan kios kayu maupun konsumen lain karena berada dekat dengan Kota Sentani. Konsumen lain (developer pembangunan) lebih memilih untuk membeli kayu di lokasi-lokasi yang dekat dengan kegiatannya (Sentani) untuk menghindari biaya transportasi yang tinggi dan pungutan liar. Jarak antara masing-masing distrik ke Kota Sentani dapat dilihat pada Lampiran 1.

Masyarakat di Distrik Kemtuk tidak menjual kayu ke industri karena jarak ke industri yang jauh, harga yang diperoleh lebih rendah, dan penilaian terhadap volume kayu sering merugikan masyarakat. Pasokan kayu untuk kebutuhan industri banyak diperoleh dari Distrik Unurumguay dan Distrik Kaureh. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa penjualan kayu merbau dari kedua distrik tersebut ke industri kayu di Distrik Unurumguay lebih menguntungkan dibandingkan penjualan ke kios kayu di Kota Sentani. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya pungutan pada saat kayu diangkut menuju Kota Sentani. Detail tentang biaya dan pendapatan yang diperoleh masyarakat dari kegiatan pemanfaatan kayu di lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2.

(53)

Tabel 17. Realisasi Penerimaan Negara dari Kegiatan Pemanfaatan Kayu di Kab. Jayapura Tahun 2005 s/d 2009

Tabel 17 menunjukkan bahwa terjadi fluktuasi penerimaan PSDH dan DR dari tahun 2005 (akhir pemberlakuan ijin IPK-MA) hingga tahun 2009. Perijinan pemungutan kayu berupa IPK di Kabupaten Jayapura mengalami penurunan jumlah namun penerimaan PSDH tahun 2009 meningkat, hal disebabkan oleh peningkatan standarisasi PSDH untuk setiap kelompok jenis dan adanya pemisahan jenis kayu merbau. Sekalipun kegiatan pemungutan kayu sesuai perijinan (IPK/IPK-MA) menurun namun aktifitas illegal dalam pemanfaatan kayu dan dokumen tata usaha kayu terus berlangsung. Hasil penelusuran dokumen dan wawancara dengan masyarakat ditemukan adanya dokumen realisasi penyetoran PSDH dan DR yang berasal dari kegiatan IPK yang belum aktif di lapangan. Modus ini dipakai untuk memanipulasi dokumen agar dapat memanfaatkan kayu tanpa perijinan.

Kayu untuk kebutuhan lokal dipenuhi dari kegiatan tanpa perijinan (illegal) sehingga tidak memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara (PSDH dan DR). Data tentang peredaran kayu dari hutan ke Kota Sentani untuk kebutuhan kios kayu dan kebutuhan lokal lainnya ditelusuri melalui pengamatan dan wawancara dengan petugas di pos kehutanan serta pemilik dari beberapa kios kayu di Kota Sentani. Estimasi kerugian negara dari pemanfaatan kayu tanpa perijinan dapat dilihat pada Tabel 18.

No. Tahun Pemerintah Pusat Pemda Jayapura

(54)

Tabel 18. Kerugian Negara dan Pemerintah Daerah dari Kegiatan Pemanfaatan Kayu di Kab. Jayapura.

No. Kelompok Jenis

Volume / Bulan

(m3)

Kerugian Negara Kerugian Pemda

PSDH (Rp.) DR (US $) PSDH

(Rp.) DR (US $)

1. Merbau 200 30.000.000 2.600 9.600.000 1.040

2. Meranti 600 30.240.000 7.800 9.676.800 3.120

Jumlah 800 60.240.000 10.400 19.276.800 4.160

Hasil pencatatan di pos kehutanan menunjukkan bahwa rata-rata volume kayu yang diangkut ke Kota Sentani sebanyak ± 800 m3 per bulan. Jumlah ini sesungguhnya masih lebih rendah dibanding data rata-rata jumlah kayu yang diterima 8 (delapan) kios kayu yang berada di Kota Sentani yaitu sekitar ± 1.000 m3 per bulan.

5.4. Analisis Para Pihak (Stakeholder Analisys)

Stakeholder dikategorikan sesuai dengan kepentingan dan pengaruh yang mereka miliki terhadap kondisi pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat di Kabupaten Jayapura. Terdapat 3 (tiga) kategoristakeholder, yaitu :

1. Stakeholder kunci merupakan stakeholder yang memiliki kewenangan legal dalam hal pemberian ijin maupun pengambilan keputusan (Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura).

2. Stakeholder utama merupakan stakeholder yang mempunyai kaitan kepentingan langsung dengan kegiatan pemanfaatan kayu (Masyarakat adat dan swasta). 3. Stakeholder pendukung merupakan stakeholder yang tidak memiliki kepentingan

langsung namun memiliki kepedulian terhadap kegiatan pemanfaatan kayu (DPRD dan LSM).

(55)

Sebanyak 57,2%stake peraturan atau perijinan. Se pemerintah daerah terkesan oleh masyarakat berjalan tanpa tidak setuju dengan kegiatan mereka kegiatan tanpa pe pengawasan, pengendalian,

akeholderkunci setuju terhadap kegiatan peman na beberapa alasan, yaitu :

ang memberikan kesempatan kepada masyarakat da areal ulayat.

n kayu oleh masyarakat adat digunakan untuk

onomi Khusus memberikan kesempatan kepada kan sumberdaya alam dalam areal ulayatnya.

akeholder kunci ragu-ragu terhadap kegiatan p t karena menurut mereka kegiatan ini tidak didukung

Selain itu pengalaman kegiatan IPK-MA me n sangat hati-hati bahkan membiarkan pemanf anpa perijinan. Sebanyak 28,6% stakeholder an pemanfaatan kayu oleh masyarakat adat kare

perijinan menyebabkan pemerintah sulit n, dan program yang bersifat tehnis terhadap

holder kunci menunjukkan bahwa pemerintah da ksesuain antara kebijakan dan kondisi pemanfaa

danya upaya yang dilakukan oleh pemerintah da Stakeholde Kunci Stakeholder

Figure

Gambar 1.  Bagan Alir Kerangka PemikiranSUMBER  DAYA HUTAN

Gambar 1.

Bagan Alir Kerangka PemikiranSUMBER DAYA HUTAN p.22
Tabel 4. Jenis, Cara Pengumpulan, dan Analisis Data

Tabel 4.

Jenis, Cara Pengumpulan, dan Analisis Data p.35
Tabel 5. Tingkat Kepercayaan Informan

Tabel 5.

Tingkat Kepercayaan Informan p.38
Tabel 6. Tingkat Pemahaman terhadap Aturan Adat

Tabel 6.

Tingkat Pemahaman terhadap Aturan Adat p.38
Tabel 12. Data Potensi Jenis Tegakan (komersial) pada Hutan Produksi di Papua

Tabel 12.

Data Potensi Jenis Tegakan (komersial) pada Hutan Produksi di Papua p.41
Tabel 11. Luas Hutan Kabupaten Jayapura  sesuai Fungsi Kawasan Hutan

Tabel 11.

Luas Hutan Kabupaten Jayapura sesuai Fungsi Kawasan Hutan p.41
Tabel 13. Produksi Kayu Bulat di Kabupaten Jayapura Tahun 2005 s/d 2009

Tabel 13.

Produksi Kayu Bulat di Kabupaten Jayapura Tahun 2005 s/d 2009 p.42
Gambar 3. Pola Saluran Pemasaran Kayu Tanpa Ijin di Kabupaten Jayapura

Gambar 3.

Pola Saluran Pemasaran Kayu Tanpa Ijin di Kabupaten Jayapura p.46
Tabel 17. Realisasi  Penerimaan  Negara  dari Kegiatan  Pemanfaatan  Kayu  di  Kab. Jayapura Tahun 2005 s/d 2009

Tabel 17.

Realisasi Penerimaan Negara dari Kegiatan Pemanfaatan Kayu di Kab. Jayapura Tahun 2005 s/d 2009 p.53
Gambar 1.  Bagan Alir Kerangka PemikiranSUMBER  DAYA HUTAN

Gambar 1.

Bagan Alir Kerangka PemikiranSUMBER DAYA HUTAN p.77
Tabel 4. Jenis, Cara Pengumpulan, dan Analisis Data

Tabel 4.

Jenis, Cara Pengumpulan, dan Analisis Data p.90
Tabel 5. Tingkat Kepercayaan Informan

Tabel 5.

Tingkat Kepercayaan Informan p.93
Tabel 6. Tingkat Pemahaman terhadap Aturan Adat

Tabel 6.

Tingkat Pemahaman terhadap Aturan Adat p.93
Tabel 12. Data Potensi Jenis Tegakan (komersial) pada Hutan Produksi di Papua

Tabel 12.

Data Potensi Jenis Tegakan (komersial) pada Hutan Produksi di Papua p.96
Tabel 11. Luas Hutan Kabupaten Jayapura  sesuai Fungsi Kawasan Hutan

Tabel 11.

Luas Hutan Kabupaten Jayapura sesuai Fungsi Kawasan Hutan p.96
Tabel 13. Produksi Kayu Bulat di Kabupaten Jayapura Tahun 2005 s/d 2009

Tabel 13.

Produksi Kayu Bulat di Kabupaten Jayapura Tahun 2005 s/d 2009 p.97
Gambar 3. Pola Saluran Pemasaran Kayu Tanpa Ijin di Kabupaten Jayapura

Gambar 3.

Pola Saluran Pemasaran Kayu Tanpa Ijin di Kabupaten Jayapura p.101
Tabel 17. Realisasi  Penerimaan  Negara  dari Kegiatan  Pemanfaatan  Kayu  di  Kab. Jayapura Tahun 2005 s/d 2009

Tabel 17.

Realisasi Penerimaan Negara dari Kegiatan Pemanfaatan Kayu di Kab. Jayapura Tahun 2005 s/d 2009 p.108

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in