Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015

139 

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN POLITIK ANTARA PANGULU DENGAN MAUJANA NAGORI DI NAGORI TIGA RAS, KECAMATAN DOLOK PARDAMEAN, KABUPATEN SIMALUNGUN PERIODE 2008-2015

NOVELLI GIRSANG 110906046

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

i UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

NOVELLI GIRSANG (110906046)

HUBUNGAN POLITIK ANTARA PANGULU DENGAN MAUJANA NAGORI DI NAGORI TIGA RAS, KECAMATAN DOLOK PARDAMEAN, KABUPATEN SIMALUNGUN PERIODE 2008-2015

ABSTRAK

Penelitian ini mencoba untuk menguraikan bagaimana hubungan politik antara pangulu sebagai lembaga eksekutif dengan maujana nagori sebagai lembaga legislatif di tingkat nagori. Pada dasarnya kedua lembaga ini memiliki posisi yang setara dan sejajar dalam pemerintahan nagori. Namun dalam praktik seringkali tidak sesuai dengan perundang-undangan, serta antara pangulu dan maujana nagori seringkali terjadi hubungan kolusi dan kolaborasi yang pada akhirnya menumbuhkan permasalahan dalam pemerintahan nagori khususnya dalam hubungan kekuasaan dalam pemerintahan nagori.

Metode penelitian yang digunakan didalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif, yaitu memecahkan masalah yang ada berdasarkan fakta dan data yang ada. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara langsung, dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi unit analisis dan informan dalam penelitian ini adalah pangulu dengan maujana nagori.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hubungan antara pangulu dengan maujana nagori hingga saat ini belum dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hubungan antara pangulu dengan maujana nagori sebagai mitra kerja pemerintahan nagori yang memiliki posisi yang sejajar diwarnai dengan praktik-praktik yang kurang harmonis dan cenderung didominasi oleh pangulu. Permasalahan di nagori semakin menumpuk dimulai dari pembentukan maujana nagori dan gamot yang dipilih oleh pangulu sendiri, sehingga dimungkinkan maujana nagori dan gamot menjadi tunduk kepada pangulu. Disamping itu partisipatif dan keterlibatan masyarakat tidak ada terlihat dalam melakukan kritik maupun tindakan protes terhadap pangulu maupun maujana nagori. Sehingga kekuasaan benar-benar terpusat pada satu orang yaitu pangulu dan lembaga lain tidak mempunyai kekuasaan yang signifikan didalam nagori.

(3)

ii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCE DEPARTEMENT OF POLITICAL SCIENCE

NOVELLI GIRSANG (110906046)

POLITICAL RELATIONS BETWEEN THE MAUJANA NAGORI AND PANGULU IN TIGA RAS NAGORI, DOLOK PARDAMEAN DISTRICK,

SIMALUNGUN KABUPATEN PERIOD 2008-2015

ABSTRACK

This study tries to observe how the political relations between pangulu as an executive agency with maujana Nagori as a legislative agency at the level of Nagori. Basically these two institutions have equal and parallel position in implementing Nagori’s government. But in practice often not in accordance with the legislation, as well as between pangulu and maujana Nagori often happens collusion and collaboration relationship, which in turn fosters the problems in government Nagori particularly in relation Nagori power in government.

This research method is qualitative research with descriptive method, where the descriptive research is a means used to solve the existing problems based on facts and data available. Data collection techniques performed by the method of direct interview, and literature study using power theory, the theory of government and political culture theory. As for the unit of analysis and informants in this study are pangulu with maujana Nagori.

The study concluded that the relationship between pangulu with maujana Nagori haven’t been able to run properly up to now. The relationship between pangulu with maujana Nagori Nagori government as a partner who has a position that is parallel tinged with practices that are less harmonious and tend to be dominated by pangulu. Nagori’s problems accumulate starting from the formation of maujana Nagori and gamot are chosen by pangulu, so it is possible maujana Nagori and gamot be subject to pangulu. Besides, participatory and community involvement nothing visible in the criticism and protest actions against pangulu and maujana Nagori. So that the power is really centered on one person namely pangulu. While other agencies do not have significant power in Nagori.

(4)

iii

KATA PENGANTAR

Skripsi ini berjudul “Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015”. Skripsi ini menguraikan bahwa hubungan antara pangulu dan maujana nagori hingga saat ini belum dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hubungan antara pangulu dengan maujana nagori sebagai mitra kerja yang memiliki posisi yang sejajar diwarnai dengan praktik-praktik yang kurang harmonis dan cenderung didominasi oleh pangulu. Permasalahan di nagori semakin menumpuk sejak pembentukan maujana nagori dan gamot yang dipilih oleh pangulu sendiri, sehingga dimungkinkan maujana nagori dan gamot menjadi tunduk kepada pangulu. Disamping itu partisipatif dan keterlibatan masyarakat dalam melakukan kritik maupun tindakan protes terhadap pangulu maupun maujana nagori tidak terlihat serta sosial budaya masyarakat masih menerapkan prinsip lama yang sulit hilang, yaitu pola relasi kekuasaan pemerintahan yang mendekati nilai-nilai korupsi, kolusi dan nepotisme.

Puji serta syukur pada Tuhan YME, untuk segala rahmat dan penyertaan-Nya pada penulis terkhusus selama penyelesaian penulisan skripsi ini. Sejak dari awal hingga sampai selesainya skripsi ini, penulis sungguh merasakan campur tangan Tuhan dalam setiap proses yang boleh penulis lalui. Sungguh luar biasa Penyertaan Tuhan dalam kehidupan penulis. Semoga semakin banyak pribadi-pribadi yang merasakannya.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Adil Arifin, M.A selaku dosen pembimbing yang memberikan bantuan dan bimbingan berupa masukan dan kritik yang membangun bagi penulis sehingga skripsi ini bisa selesai tepat waktu. Semoga Allah membalas kebaikan dan kesabaran yang telah diberikan dengan berkat yang berlipat ganda.

Kepada seluruh keluarga tercinta, ibunda dan ayahanda serta abang dan kakak yang telah banyak membantu, memberikan perhatian kepada penulis dan selalu mengajarkan arti tanggungjawab. Kepada teman-teman seperjuangan angkatan 2011 yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terimakasih untuk kebersamaan selama ini.

Kepada bapak-bapak informan dari Nagori Tiga Ras yang telah meluangkan waktunya dan memberikan informasi yang diperlukan, untuk semua itu penulis mengucapkan terimakasih. Semoga Allah membalas kebaikan yang telah diberikan dengan berkat yang berlipat ganda.

Medan, Mei 2015

(5)

iv DAFTAR ISI

Halaman Halaman Judul

Abstrak………... Abstract... Halaman Pengesahan... Halaman Persetujuan... Lembar Persembahan... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Tabel, Gambar, dan Bagan...

Daftar Isi... BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang ... 1

I. 2 Penelitian Sebelumnya ... 7

I. 3 Rumusan Masalah ... 8

I. 4 Batasan Masalah ... 8

I. 5 Tujuan Penelitian ... 9

I. 6 Manfaat Penelitian ... 9

I. 7 Kerangka Teori ... 10

I. 7. 1 Teori Kekuasaan ... 10

I. 7. 1. 1 Trias Politika ... 14

I. 7. 1. 2 Check and Balances ... 19

I. 7. 2 Teori Pemerintahan ... 21

I. 7. 3 Pemerintahan Desa ... 24

I. 7. 3. 1 Kepala Desa ... 27

I. 7. 3. 2 BPD ... 29

I. 7. 4 Teori BudayaPolitik ... 37

(6)

v

BAB II PROFIL NAGORI TIGA RAS II.1 Kabupaten Simalungun ... 45

II.2 Kecamatan Dolok Pardamean ... 47

II.3 Nagori Tiga Ras ... 49

II.3. 1 Letak Geografis ... 50

II.3. 2 Keadaan Penduduk ... 51

II.3. 3 Struktur Sosial Budaya ... 55

II.4 Pemerintahan Nagori Tiga Ras ... 58

II.4. 1 Pangulu ... 60

II.4. 2 Maujana Nagori ... 61

II.5 Peraturan Nagori ... 64

II.6 Sejarah Nagori di Simalungun... 66

II.7 Fase Historis Pemerintahan Daerah... 71

BAB III ANALISIS HUBUNGAN POLITIK ANTARA PANGULU DAN MAUJANA NAGORI III. 1 Penyelenggaraan Pemerintahan Nagori Tiga Ras ... 78

III. 2 Relasi Hubungan Politik Antara Pangulu dengan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras ... 82

A.Pembentukan Maujana Nagori Tiga Ras ... 84

B.Pola Relasi ... 87

III. 3 Faktor Penghambat Hubungan Kekuasaan Pangulu dengan Maujana Nagori ... 92

Lampiran 1. Pedoman Wawancara

(7)

vi

DAFTAR TABEL

Halaman

2. 1 Nama nagori berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk...48

2. 2 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin...51

2. 3 Jumlah penduduk berdasarkan suku ...51

2. 4 Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian...52

2. 5 Jumlah penduduk berdasarkan agama...53

2. 6 Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan...54

2. 7 Perbedaan BPD dalam UU No. 22 tahun 1999 dengan UU No. 32 tahun 2004...76

DAFTAR GAMBAR Halaman 2. 1 Peta Kabupaten Simalungun...46

DAFTAR BAGAN Halaman 1. 1 Struktur organisasi Pemerintahan Desa...26

1. 2 Hubungan tugas dan fungsi BPD dengan Kepala Desa...35

1. 3 Hubungan fungsional Kepala Desa dengan Maujana Nagori...36

2. 1 Struktur organisasi Pemerintahan Nagori Tiga Ras...59

(8)

i UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

NOVELLI GIRSANG (110906046)

HUBUNGAN POLITIK ANTARA PANGULU DENGAN MAUJANA NAGORI DI NAGORI TIGA RAS, KECAMATAN DOLOK PARDAMEAN, KABUPATEN SIMALUNGUN PERIODE 2008-2015

ABSTRAK

Penelitian ini mencoba untuk menguraikan bagaimana hubungan politik antara pangulu sebagai lembaga eksekutif dengan maujana nagori sebagai lembaga legislatif di tingkat nagori. Pada dasarnya kedua lembaga ini memiliki posisi yang setara dan sejajar dalam pemerintahan nagori. Namun dalam praktik seringkali tidak sesuai dengan perundang-undangan, serta antara pangulu dan maujana nagori seringkali terjadi hubungan kolusi dan kolaborasi yang pada akhirnya menumbuhkan permasalahan dalam pemerintahan nagori khususnya dalam hubungan kekuasaan dalam pemerintahan nagori.

Metode penelitian yang digunakan didalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif, yaitu memecahkan masalah yang ada berdasarkan fakta dan data yang ada. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara langsung, dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi unit analisis dan informan dalam penelitian ini adalah pangulu dengan maujana nagori.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hubungan antara pangulu dengan maujana nagori hingga saat ini belum dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hubungan antara pangulu dengan maujana nagori sebagai mitra kerja pemerintahan nagori yang memiliki posisi yang sejajar diwarnai dengan praktik-praktik yang kurang harmonis dan cenderung didominasi oleh pangulu. Permasalahan di nagori semakin menumpuk dimulai dari pembentukan maujana nagori dan gamot yang dipilih oleh pangulu sendiri, sehingga dimungkinkan maujana nagori dan gamot menjadi tunduk kepada pangulu. Disamping itu partisipatif dan keterlibatan masyarakat tidak ada terlihat dalam melakukan kritik maupun tindakan protes terhadap pangulu maupun maujana nagori. Sehingga kekuasaan benar-benar terpusat pada satu orang yaitu pangulu dan lembaga lain tidak mempunyai kekuasaan yang signifikan didalam nagori.

(9)

ii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCE DEPARTEMENT OF POLITICAL SCIENCE

NOVELLI GIRSANG (110906046)

POLITICAL RELATIONS BETWEEN THE MAUJANA NAGORI AND PANGULU IN TIGA RAS NAGORI, DOLOK PARDAMEAN DISTRICK,

SIMALUNGUN KABUPATEN PERIOD 2008-2015

ABSTRACK

This study tries to observe how the political relations between pangulu as an executive agency with maujana Nagori as a legislative agency at the level of Nagori. Basically these two institutions have equal and parallel position in implementing Nagori’s government. But in practice often not in accordance with the legislation, as well as between pangulu and maujana Nagori often happens collusion and collaboration relationship, which in turn fosters the problems in government Nagori particularly in relation Nagori power in government.

This research method is qualitative research with descriptive method, where the descriptive research is a means used to solve the existing problems based on facts and data available. Data collection techniques performed by the method of direct interview, and literature study using power theory, the theory of government and political culture theory. As for the unit of analysis and informants in this study are pangulu with maujana Nagori.

The study concluded that the relationship between pangulu with maujana Nagori haven’t been able to run properly up to now. The relationship between pangulu with maujana Nagori Nagori government as a partner who has a position that is parallel tinged with practices that are less harmonious and tend to be dominated by pangulu. Nagori’s problems accumulate starting from the formation of maujana Nagori and gamot are chosen by pangulu, so it is possible maujana Nagori and gamot be subject to pangulu. Besides, participatory and community involvement nothing visible in the criticism and protest actions against pangulu and maujana Nagori. So that the power is really centered on one person namely pangulu. While other agencies do not have significant power in Nagori.

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

I. 1 L.atar Belakang

Negara Indonesia merupakan negara kesatuan, dimana didalam negara

kesatuan dapat dibagi menjadi dua bentuk, yang pertama ialah negara kesatuan

dalam sistem sentralisasi yaitu segala urusan negara diatur langsung oleh

pemerintahan pusat dan daerah tinggal melaksanakan dan yang kedua ialah negara

kesatuan dalam sistem desentralisasi yaitu daerah diberi kewenangan untuk

mengatur rumah tangganya sendiri.1

Kekuasaan merupakan masalah sentral yang terdapat didalam setiap negara,

hal ini dikarenakan negara merupakan pelembagaan masyarakat politik (Polity)

paling besar dan memiliki kekuasaan yang otoritatif.2

Pembagian kekuasaan pertama kali dilakukan oleh John Locke (1632-

1704). Dalam bukunya Two Treaties of Government (1679), John Locke membagi

kekuasaan menjadi tiga macam yaitu kekuasaan eksekutif, kekuasaan legislatif, Sehingga didalam negara

demokrasi untuk menghindari terjadinya pemusatan kekuasaan maka perlu

dilakukan pembagian kekuasaan ( distribution of power).

1

Christine S.T, Kansil, C.S.T. 2008. Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara

2

(11)

2

dan kekuasaan federatif. Sedangkan Montesquieu (1689-1755) memisahkan

kekuasaan ke dalam tiga organ yakni kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif,

dan kekuasaan yudikatif. Dengan adanya pembagian kekuasaan dalam tiga

lembaga tersebut diharapkan dalam menjalankan pemerintahan negara tidak

terjadi tumpang tindih diantara lembaga pemegang kekuasaan tersebut. Berkaitan

dengan upaya mengontrol kekuasaan, agar tidak terulang sentralisasi kekuasaan

sebagaimana pada masa Orde Baru.

Era reformasi telah membawa perubahan dalam sistem pemerintahan dari

tingkatpusat sampai ke desa. Dimana sistem pemerintahan Negara Kesatuan

Republik Indonesia menurut Undang-Undang dasar 1945 memberikan

keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah.3

Penyelenggaraan pemerintahan di desa diatur dalam Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa yang ditetapkan pada

tanggal 30Desember 2005.Dalam Peraturan Pemerintah dijelaskan susunan

organisasi pemerintahan desa, yakni Pemerintahan Desa terdiri dari Pemerintah

Desa dan Badan PerwakilanDesa (BPD) untuk mengatur dan mengurus

kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat Dimana

otonomi daerah itu sendiri bertujuan untuk mempercepat pembangunan daerah

dan guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

3

(12)

3

setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan

Republik Indonesia.

Desa atau sebutan lain merupakan satu kesatuan masyarakat hukum yang

memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus

kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat

setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan

Republik Indonesia. Pemerintahan desa merupakan pemerintahan terkecil dari

penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan berhubungan langsung

dengan masyarakat desa, olehkarena itu hubungan yang sangat menentukan dari

berjalannya pemerintahan daerah ditentukan oleh pemerintahan desa yaitu kepala

desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai bagian dari pemerintahan

di desa. Diharapkan dengan adanya pemerintahan didesa ini dapat lebih peka

terhadap permasalahan yang ada didalam masyarakat desa . Kepaladesa beserta

Badan Permusyawaratan Desa berhak untuk mengatur masyarakatnya

dalambentuk Peraturan Desa yang telah disepakati bersama- sama masyarakat

desa.

Badan Perwakilan Desa adalah lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal

pelaksanaan peraturan desa anggaran pendapatan dan belanja desa dan keputusan

kepalaDesa. BPD berkedudukan sejajar dan menjadi mitra pemerintah desa. BPD

merupakan lembaga perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan

desa. BPD merupakan lembaga baru di desa pada eraotonomi daerah di

(13)

4

berdasarkan keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan

mufakat. Anggota BPD terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat,

golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya.

Masajabatan anggota BPD adalah 6 tahun dan dapat diangkat/ diusulkan kembali

untuk 1 kali masa jabatan berikutnya. Pimpinan dan Anggota BPD tidak

diperbolehkan merangkap jabatan sebagai Kepala Desa dan Perangkat Desa.

Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan

kekuasaan antara Kepala Desa dengan BPD dalam melaksanakan

penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Dimana pola relasi kekuasaan yang sejajar

sebagaimana telah diatur dalam undang-undang, dalam pelaksanaannya diwarnai

oleh praktek-praktek hubungan kerja yang kurang harmonis dan menunjukkan

kecenderungan terjadinya dominasi Kepala Desa. Wujud konkret dari terjadinya

hubungan yang tidak harmonis antara Kepala Desa dengan BPD terlihat dalam

proses-proses penyusunan dan penetapan peraturan desa, penyusunan dan

penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBD), pelaksanaan

peraturan desa dan pelaksanaan pertanggungjawaban Kepala Desa.

Hubungan kekuasaan elit Pemerintahan Desa yaitu Kepala Desa

denganBPD menunjukkan hanya sebatas pada penetapan peraturan

desa.Penyelenggaraan Pemerintahan Desa menjadi otoritas Kepala Desa. BPD

(Kekuasaan Legislatif di desa) hanya sebagai lembaga yang memberikan nasehat

terhadap Kepala Desa. Dalam hal ini terjadi hegemoni Kepala Desa terhadap BPD

(14)

5

tanpa ancaman kekerasan sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok

dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar

yang bersifat moral, intelektual serta budaya.

Dalam suatu hubungan kekuasaan (power relationship) selalu ada pihak

yang lebih kuat dari pihak lain4

Kabupaten Simalungun merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di

Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari beberapa sub-etnik seperti Simalungun,

Karo, Toba, selain itu terdapat juga beberapa etnik lain seperti etnik Jawa, dan

Cina. Masyarakat Simalungun merupakan masyarakat yang telah lama mengenal . Jadi, selalu ada hubungan tidak seimbang atau

asimetris. Dalam melaksanakan pengelolaan Pemerintahan Desa, kekuasaan

Kepala Desa terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan Badan

Permusyawaratan Desa. Dominasi kekuasaan Kepala Desa terlihat dalam

pembuatan keputusan atau peraturan desa. Dominasi ini terjadi karena adanya

persepsi yang salah dan cenderung menyimpang akan ketentuan dalam peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Hal ini mengindikasikan adanya pembagian

kekuasaan yang tidak merata antara kekuasaan Kepala Desa (eksekutif) dengan

Badan Permusyawaratan Desa sebagai lembaga legislatif dalam Pemerintahan

Desa. Maka apa yang dikatakan oleh Ramlan Surbakti bahwa kekuasaan politik

senantiasa suatu kekuasaan yang memiliki aspek politik yang berupa penggunaan

sumber-sumber pengaruh untuk memberikan pengaruh terhadap proses

pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik.

4

(15)

6

politik ataupun pemerintahan. Dimana sejak awal jauh sebelum Indonesia

dibentuk, di Simalungun telah terdapat pemerintahan feodalisme yang dipimpin

oleh sistem kerajaan yang pada akhirnya mempengaruhi kehidupan masyarakat

Simalungun hingga sekarang. Salah satu kecamatan yang ada di kabupaten

simalungun ialah kecamatan Dolok Pardamean.

Kecamatan Dolok Pardamean merupakan kecamatan yang memilki luas

wilayah terkecil di Kabupaten Simalungun, sehingga sistem pemerintahannya

seharusnya dapat berjalan lebih efektif dibanding dengan wilayah yang lebih luas

lainnya. Kecamatan Dolok Pardamean ini terdiri dari enam belas nagori, yakni

diantaranya ialah Bangun Pane, Butu Bayu Panei, Dolok Saribu, Parik Sabungan,

Parjalangan, Sibuntuon, Silabah Jaya, Sinaman Labah, Tiga Ras dan Togu Domu

Nauli, Nagori Bayu, Sihemun Baru, Tanjung Saribu, Pamatang Sinaman,

Partuahan.5

Studi mengenai relasi kekuasaan antara Kepala Desa dengan Badan

Permusyawaratan Desa ini dilakukan di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok

Pardamean, Kabupaten Simalungun. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 13

Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Nagori, istilah desa disebut dengan Nagori,

Kepala Desa diganti nama dengan Pangulu, sedangkan Badan Permusyawaratan

Desa disebut dengan Maujana nagori. Kekuasaan Pangulu yang dominan dalam

pemerintahan nagori memperlihatkan adanya kekuasaan yang tidak merata dalam

struktur pemerintahan nagori di Nagori Tiga Ras. Sebagai lembaga legislatif di

5

(16)

7

desa, Maujana nagori hanya sebagai lembaga yang memberikan nasehat terhadap

Pangulu sedangkan pengelolaan Pemerintahan nagori lebih banyak dilakukan oleh

Pangulu.

Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, peneliti tertarik membahas

mengenai hubungan politik dalam pemerintahan desa. Sehingga peneliti

mengangkat judul penelitian Hubungan Politik antara Pangulu dengan Maujana

Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten

Simalungun.

I. 2 Penelitian Sebelumnya

Penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan kekuasaan dalam

Pemerintahan Desa ialah Analisis Relasi Kekuasaan Dalam Pemerintahan Desa,

dimana penelitian tersebut menunjukkan bahwa hingga saat ini penyelenggaraan

dan pelaksanaan pemerintahan desa masih jauh dari perencanaan yang

dirumuskan dan belum sesuai dengan undang-undang didalam mewujudkan relasi

sosial yang partisipatif dan demokrasi.

Antara pemerintah desa dan BPD juga terlihat bahwa kedua pihak memiliki

pola hubungan kolusi atau kolaburasi yang menumbuhkan suatu permasalahan

dalam pemerintahan desa khususnya relasi kekuasaan yang terbangun dalam

pemerintahan desa. Disamping itu partisipasi dan keterlibatan masyarakat desa

dalam melakukan kritik maupun tindakan-tindakan protes terhadap kepala desa

dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) juga tak ada, masyarakat tidak peduli

(17)

8

bersifat sentralistik, dan sosial budaya masyarakat secara sosiologis masih

menerapkan prinsip-prinsip lama. Dimana kekuasaan dalam pembuatan kebijakan

terpusat pada satu orang yaitu Kepala Desa. Sedangkan elemen-elemen lain yang

ada didesa tidak mempunyai kekuasaan yang signifikan dalam penentuan

kebijakan-kebijakan desa.

Pola relasi kekuasaan yang terbangun dalam Pemerintahan Desa tidak sesuai

dengan mekanisme yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Dalam

pelaksanaannya Pemerintahan di tingkat desa tidak dijalankan sesuai

denganperaturan yang berlaku.6

I. 3 Perumusan Masalah

Dalam menjalankan pemerintahan desa Badan Permusyawaratan Desa

(lembaga legislatif) berkedudukan sejajar dengan kepala desa ( lembaga

eksekutif). Namun jika dilihat fakta yang ada malah sebaliknya Badan

Permusyawaratan Desa memiliki posisi dibawah Kepala Desa. Tugas yang

seharusnya menjadi bagian Badan Permusyawaratan Desa kini telah diambil alih

oleh Kepala Desa. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk

membahas mengenai “ Bagaimana Hubungan Politik antara Pangulu dengan

Maujana Nagori dalam Pengelolaan Pemerintahan Nagori di Nagori Tiga Ras,

Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2010-2015?

I. 4 Pembatasan Masalah

6

(18)

9

Pembatasan masalah merupakan salah satu upaya untuk menetapkan fokus

pembahasan yang memperjelas dan membatasi ruang lingkup penelitian berupa

lokasi, rentang waktu yang ingin diteliti dengan tujuan untuk menghasilkan uraian

yang sistematis. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini ialah:

A. Bagaimana hubungan politik Pangulu dengan Maujana Nagori di Nagori Tiga

Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun?

B. Apa yang menjadi faktor penghambat terhadap hubungan antara Pangulu

dengan Maujana Nagori tersebut?

I. 5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini, yakni;

A.Untuk mengetahui hubungan politik antara Pangulu dengan Maujana Nagori di

Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun.

B.Untuk mengetahui faktor penghambat terhadap hubungan Pangulu dengan

Maujana Nagori.

I. 6 Manfaat Penelitian

a. Secara Teoritis, penelitian ini merupakan kajian ilmu politik yang sungguh

diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran yang bermanfaat pada

penelitian-penelitian selanjutnya dalam fokus kajian eksekutif dan legislatif

dalam pemerintahan daerah.

B.Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik

secara langsung maupun tidak bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama

(19)

10

memiliki ketertarikan untuk mengeksplorasi mengenai eksekutif dan legislatif

dalam pemerintahan daerah dan menjadi referensi/ kepustakaan Departemen

Ilmu Politik FISIP USU.

C.Bagi masyarakat luas, penelitian ini juga diharapkan dapat meningkatkan

pengetahuan dan pemahaman mengenai eksekutif dan legislatif dalam

pemerintahan daerah. Untuk pemerintahan desa mencangkup Kepala Desa,

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) diharapkan dapat menjalankan fungsinya

dengan baik, dengan kata lain relasi diantara kedua lembaga harus dapat

seimbang sebagai mitra kerja pemerintahan di desa. Terkhusus bagi masyarakat

Simalungun diharapkan dapat ikut berpartisipasi dan mengevaluasi kinerja

pemerintahan desa untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

I. 7. Kerangka Teori dan Konsep I. 7. 1 Teori Kekuasaan

Kekuasaan menempati posisi penting dalam politik. Kekuasaan memberikan

perbedaan antara pimpinan dengan anggota. Bahkan kekuasaan dianggap identik

dengan politik. Dalam konteks keilmuwan, konsep kekuasaan secara sederhana

dijelaskan sebagai relasi antara dua orang, yang satu adalah “atasan” atau

dikatakan orang penting ( paramount agent), dan yang satu disebut “ bawahan”

atau posisinya lebih rendah (subordinat agent). Atasan memiliki dan

(20)

11

atasan.7

Gramsci memandang bahwa kekuasaan dapat diperjuangkan dan

dipertahankan lewat satu prinsip yang lebih cerdas dan soft yang disebutnya

dengan hegemoni. Gramsci melihat bahwa pertarungan kekuasaan dapat

dipandang sebagai pertarungan ide-ide bukan pertarungan “kekuasaan” ,

pertarungan massa, dan kekuatan senjata. Ia melihat ide-ide tersebut dapat

mempengaruhi hasrat dan tingkah laku seseorang lewat cara-cara yang lebih

manusiawi dan lebih santun yang dapat disebut politik yang lebih lunak, the soft

politics.

Dengan kata lain kekuasaan menjadi perbedaan yang menunjukkan posisi

seseorang yang mampu mengendalikan orang lain.

Untuk melihat akar pengertian dari kekuasaan, maka patut untuk dipahami

yang dijelaskan oleh Antonio Gramsci (1891-1939). Pada masa itu, secara

eksplisit kata “ kekuasaan” tidak dikenal. Untuk menjelaskan makna “ power”,

kata hegemoni dikedepankan untuk djelaskan oleh para pakar politik pada zaman

itu, terutama Gramsci. Dalam bahsa Yunani kuno, hegemoni disebut” eugemonia”

yang dipergunakan untuk menunjukkan dominasi posisi yang diklaim oleh

negara-negara kota ( polis atau citystate) secara individual. Seperti yang

dijelaskan oleh Encyclopedia Britanica, contohnya dapat dilihat dalam

penyebutan “hegemoni” untuk menyatakan negara kota Athena dan Sparta.

8

Konsep hegemoni Gramsci berawal dari Gramsci yang secara dialektis

dilakukannya dikotomi tradisional karakteristik pemikiran politik Italia dari

7

John Scott. 2011. SOSIOLOGI The key Concept, Jakarta:Rajawali Press. Hal.202 8

(21)

12

Machiavelli sampai Pareto hingga Lenin. Dari Machiavelli hingga Pareto,

konsepsi yang diambil adalah tentang kekuatan (force) dan persetujuan (consent).

Bagi Gramsci, kelas sosial akan memperoleh keunggulan (supremasi) melalui dua

cara, yaitu melalui cara dominasi (dominio) atau paksaan (coercion) dan yang

kedua ialah melalui kepemimpinan intelektual dan moral. Cara yang terakhir

inilah yang dimaksud Gramsci sebagai hegemoni.

Gramsci berpendapat bahwa hegemoni tidak hanya bisa dilakukan oleh

negara yang selama ini dikenal dengan rulling class namun bisa juga dilakukan

oleh seluruh kelas sosial. Hegemoni sendiri pengertiannya adalah dominasi oleh

satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan,

sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok

yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar yang bernilai moral,

intelektual serta budaya.9

9

Situs web Strinati, Dominic. 1995. An Introduction to Theories of Popular Culture, London: Routledge. Disini penguasaan tidak dengan kekerasan melainkan

dengan bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai dengan baik sadar

maupun secara tidak sadar. Hegemoni bekerja dengan dua tahap yaitu tahap

dominasi dan tahap direction atau tahap pengarahan. Dominasi yang paling sering

dilakukan adalah oleh alat-alat kekuasaan negara seperti sekolah, modal, media

dan lembaga-lembaga negara. Ideologi yang disisipkan lewat alat-alat tersebut

bagi Gramsci merupakan kesadaran yang bertujuan agar ide-ide yang diinginkan

negara (dalam hal ini sistem kapitalisme) menjadi norma yang disepakati oleh

(22)

13

dominasi maka tahapan berikutnya yaitu tinggal diarahkan dan tunduk pada

kepemimpinan oleh kelas yang mendominasi.

Penjelasan rinci oleh Gramsci terkait hegemoni kekuasaan mengilhami pada

teoritis politik, khususnya para teoritis yang memusatkan perhatian teori pada

kekuasaan. Max Weber mendefinisikan kekuasaan sebagai kesempatan seseorang

atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat atas

kemauan-kemauannya sendiri dengan sekaligus menerapkan tindakan perlawanan dari

orang-orang ataupun golongan tertentu. Jadi kekuasaan merupakan hasil pengaruh

yang diinginkan oleh seseorang ataupun sekelompok orang.10 Dan sumber-sumber

kekuasaan merupakan hal yang akan selalu diperebutkan oleh orang ataupun

sekelompok orang yang ingin memperoleh kekuasaan.11

Power then is generalized capacity to secure the performance of

binding oblications by units in a system of collective organization when the

obligations are legitimized with reference to their bearing on collective

goals, and where in case of recalcitrancy there is a presumption of

enforcement by negative situastional sanction-whatever the agency of the

enforcement.

Berbeda dengan pendapat para ahli diatas, Talcott Parsons menjelaskan

defenisi kekuasaan dengan menyertakan perihal perlawanan dalam kekuasaan

tersebut. Dalam bukunya The distribution of Power in America Sosiety, seperti

yang dikutip Miriam Budiardjo, Parsons merumuskan pengertian kekuasaan

10

Inu Kencana Syafii. 2011. Etika Pemerintahan, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 167

11

(23)

14

Dalam defenisi tersebut, Parsons menekankan kekuasaan merupakan

kemampuan untuk menjamin terlaksananya kewajiban-kewajiban yang mengikat

oleh kesatuan-kesatuan dalam suatu sistem organisasi kolektif. Kewajiban adalah

sah jika menyangkut tujuan-tujuan kolektif. Jika ada perlawanan, maka

pemaksaan melalui sanksi-sanksi negatif dianggap wajar untuk dilakukan.12

Kemudian muncul dua istilah yang menyangkut dengan kekuasaan, yaitu

scope of power dan domain of power. Scope of power atau cakupan kekuasaan

menunjuk pada kegiatan, perilaku, serta sikap dan keputusan-keputusan yang

menjadi objek kekuasaan. Sedangkan domain of power (wilayah kekuasaan)

menjawab pertanyaan siapa-siapa saja yang dikuasai oleh orang atau kelompok

yang berkuasa, artinya istilah ini mengarah pada pelaku, kelompok organisasi atau

kolektivitas yang dikuasai13

I. 7. 1. 1 Trias Politica

.

Untuk menghindari pemerintahan yang sentralistik, maka perlu dilakukan

pembagian kekuasaan seperti yang dikemukakan oleh Jhon Locke14

1. Kekuasaan Legislatif, kekuasaan untuk membuat undang-undang

Jhon Locke memisahkan kekuasaan dari tiap-tiap negara dalam tiga bagian,

yakni:

2. Kekuasaan Eksekutif, kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang.

12

Ibid, hal.63

13

Mirriam Budiardjo. Op cit..Hal. 126

14

(24)

15

3. Kekuasaan Federatif, kekuasaan mengadakan perserikatan dan aliansi serta

segala tindakan dengan semua orang dan badan-badan di luar negeri.

Menurut Jhon Locke, ketiga kekuasaan ini harus dipisahkan antara yang

satu dengan yang lainnya. Menurut Montesquie dalam suatu sistem pemerintahan

negara, ketiga jenis kekuasaan tersebut harus terpisah, baik mengenai fungsi

(tugas) maupun mengenai alat kelengkapan (organ) yang melaksanakan:15

1. Kekuasaan Legislatif dilaksanakan oleh suatu badan perwakilan rakyat

2. Kekuasaan Eksekutif dilaksanakan oleh pemerintah

3. Kekuasaan Yudikatif dilaksanakan oleh badan peradilan

Ajaran Montesquie ini lebih dikenal dengan istilah Trias Politica.

Keharusan pemisahan kekuasaan negara menjadi tiga jenis tersebut bertujuan

untuk menghindari tindakan sewenang-wenang oleh raja. Istilah Trias Politica

berasal dari bahasa Yunani yang artinya “ Politik tiga serangkai”. Menurut ajaran

Trias Politica dalam setiap pemerintahan negara harus ada tiga jenis kekuasaan

yang tidak dapat dipegang oleh satu tangan saja, melainkan kekuasaan itu harus

terpisah.16

Ajaran Trias Politica ini nyata-nyata bertentangan dengan kekuasaan pada

zaman Feodalisme dalam abad pertengahan. Dimana pada saat itu yang ketiga

kekuasaan yang ada didalam negara tersebut dipegang oleh seorang raja, yang

15

C.S.T. Kansil dan Cristine S. T. Kansil. 2003. Sistem Pemerintahan Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 8

16

(25)

16

membuat sendiri undang-undang, menjalankannya dan menghukum segala

pelanggaran atas undang-undang yang telah ia buat. Monopoli atas ketiga

kekuasaan tersebu dapat terlihat dari semboyan raja Louis XIV “L’ Etat cest moi”

(negara adalah saya) kekuasaan mana berlangsung hingga permulaan abad ke

XVII. Setelah pecah revolusi Perancis pada tahun 1789, barulah paham tentang

kekuasaan yang bertumpuk ditangan raja menjadi lenyap. Saat itu pula timbullah

gagasan baru mengenai pemisahan kekuasaan yang dipelopori oleh Montesquie.17

17

C.S.T. Kansil dan Cristine S. T. Kansil Op.cit. hal. 10-11

Pemisahan ketiga kekuasaan tersebut, baik mengenai tugas dan fungsi,

maupun mengenai alat perlengkapan atau organ yang menyelenggarakan.

Montesqiue menegaskan, bahwa kemerdekaan individu terhadap tindakan

sewenang-wenang pihak penguasa akan terjamin apabila antara legislatif,

eksekutif dan yudikatif diadakan pemisahan mutlak antara yang satu dengan yang

lainnya.

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa Jhon Locke memasukkan yudisiil

kedalam kekuasaan eksekutif. Sebaliknya Montesquie menganggap bahwa

kekuasaan yudisiil sebagai kekuasaan yang berdiri sendiri. Ajaran Montesquie

banyak mempengaruhi orang Amerika Serikat pada waktu UUD-nya dirumuskan,

sehingga kostitusi negara itu dapat dianggap yang lebih banyak mencerminkan

(26)

17

Prof. Jennings18

Prof. Dr. Ismail Suny S.H., M.C.L,

membedakan antara pemisahan kekuasaan dalam arti

materiil dan dalam arti formal. Dimana kekuasaan dalam arti materiil ialah

pemisahan kekuasaan dalam arti pembagian kekuasaan itu dipertahankan dengan

tegas dalam tugas kenegaraan yang dengan jelas memperlihatkan adanya

pemisahan kekuasaan itu kepada tiga bagian, yakni Legislatif, Eksekutif dan

Yudikatif. Sedangkan pemisahan kekuasaan dalam arti formal ialah pembagian

kekuasaan itu tidak dipertahankan dengan jelas.

19

Amerika dianggap sebagai negara pertama yang menerapkan ajaran

pemisahan kekuasaan trias politika. Seperti, Presiden Amerika Serikat tidak dapat

membubarkan kongres sebaliknya kongres tidak dapat menjatuhkan Presiden

selama jabatan empat tahun. Para Hakim Agung Amerika Serikat diangkat oleh

Presiden dan selama berkelakuan baik memegang jabatannya seumur hidup atau

sampai mengundurkan dirisecara sukarela, sebab Mahkamah Agung Amerika dalam bukunya yang berjudul

Pergeseran Kekuasaan Eksekutif mengambil kesimpulan dalam arti materiil itu

sepantasnya disebut Seperation of powers (pemisahan kekuasaan) sedangkan

dalam arti formal sebaiknya disebut Divison of powers (pembagian kekuasaan).

Menurutnya pemisahan kekuasaan dalam arti materiil paling banyak hanya

terdapat di Amerika Serikat, sedangkan di Inggris dan Uni Sovyet terdapat

division powers.

18

C.S.T. Kansil dan Cristine S. T. Kansil. 2003. Sistem Pemerintahan Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara. Hal.53

.14.

19

(27)

18

Serikat memiliki kedudukan yang bebas. Badan Yudisiil tertinggiatau Mahkamah

Agung bertanggung jawab untuk menafsirkan undang-undang, mempunyai hak uji

materiil dan yudicial review atas undang-undang terhadap konstitusi, meskipun

hak ini hanya merupakan konvensi ketatanegaraan, tidak tertulis didalam

konstitusi.

Ajaran trias politica juga dapat menjadi perhatian dan diterapkan didaratan

Eropa Barat seperti Jerman dan Belanda. Di negara-negara ini ternyata

anggota-anggota kabinet tidak dapat merangkap menjadi anggota-anggota badan legislatif. Apabila

seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat menjadi menteri, yang bersangkutan

tersebut harus berhenti dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Di Inggris ajaran

Trias politika tidak diterapkan. Ini terbukti bahwa seperti yang telah diuraikan

didepan, tidak ada pemisahan kekuasaan,malahan terjalin hubungan yang erat

antara badan legisltif dan badan eksekutif.20

Setelah UUD 1945 mengalami perubahan pertama kalinya hingga keempat,

meskipun tidak disebut secara tegas, namun asas-asas trias politika secara

konstitusional ditegakkan, dilindungi dan dijamin realisasinya. Misalnya, setelah

perubahan terdapat bab-bab yang mencerminkan adanya pembagian kekuasaan

didalam negara kesatuan RI, antara lain bab II tentang Majelis Permusyawaratan

Rakyat, bab III tentang kekuasaan pemerintahan negara, bab VII tentang Dewan

20

(28)

19

Perwakilan Rakyat, bab VII A tentang Dewan Perwakilan daerah, bab VIII A

tentang Badan Pemeriksa Keuangan, dan bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman.

Dengan demikian jelaslah bahwa UUD 1945 setelah perubahan, walaupun

secara eksplisit tidak menyebut tentang ajaran Trias Politica, namun secara nyata

dan pasti negara RI menganut ajaran Trias Politica dalam artian pembagian

kekuasaan.21

I. 7. 1. 2 Check and Balances

Check and balances merupakan sistem dimana orang-orang dalam

pemerintahan dapat mencegah pekerjaan pihak yang lain dalam pemerintahan jika

mereka meyakini adanya pelanggaran terhadap hak. Pengawasan (checks)

sebagai bagian dari checks and balances adalah suatu langkah maju yang

sempurna. Mencapai keseimbangan lebih sulit untuk diwujudkan. Gagasan utama

dalam checks and balances adalah upaya untuk membagi kekuasaan yang ada ke

dalam cabang-cabang kekuasaan dengan tujuan mencegah dominannya suatu

kelompok. Bila seluruh ketiga cabang kekuasaan tersebut memiliki checks

terhadap satu sama lainnya, checks tersebut dipergunakan untuk menyeimbangkan

kekuasaan. Suatu cabang kekuasaan yang mengambil terlalu banyak kekuasaan

dibatasi lewat tindakan cabang kekuasaan yang lain. Checks and Balances

diciptakan untuk membatasi kekuasaan pemerintah. Hal tersebut dapat tercapai

dengan men-split pemerintah dalam kelompok-kelompok persaingan yang dapat

21

(29)

20

secara aktif membatasi kekuasaan kelompok lainnya. Hal ini akan berakhir bila

ada suatu kelompok kekuasaan yang mencoba untuk menggunakan kekuasaannya

secara ilegal.

Berbeda dengan Inggris, Perdana Menteri dapat membimbing Dewan

Perwakilan Rakyat. Presiden Amerika tidak dapat membimbing kongres. Presiden

dan para menteri tidak boleh merangkap anggota kongres. Sebaliknya Perdana

Menteri dan kebanyakan menteri di Inggris berasal dari majelis rendah dan turut

dalam perdebatan majelis itu. Perdana Menteri mengetuai kabinet yang terdiri deri

teman separtai dan sekaligus memberi bimbingan kepada Dewan Perwakilan

Rakyat dalam menyelenggarakan tugas sehari-hari, misalnya dalam soal

menentukan prioritas pembahasan rancangan undang-undang dan lain sebagainya.

Di Inggris nasib kabinet bergantung pada Dewan Perwakilan Rakyat, sebab

apabila kehilangan dukungan dalam badan itu, kabinet harus mengundurkan diri.

Jadi di Inggris tidak terdapat pemisahan kekuasaan antara legislatif, eksekutif dan

yudisiil. Disana terlihat adanya jalinan yang erat antara legislatif dan eksekutif.

Untuk menjamin agar masing-masing cadang kekuasaan tidak melampaui batas

kekuasaannya, para penyusun konstitusi Amerika Serikat mengadakan suatu

Check and balances atau saling mengawasi dan saling mengimbangi antar cabang

kekuasaan negara.

(30)

21

1. Presiden Amerika diberi wewenang menveto rancangan undang-undang yang

telah disetujui oleh kongres. Hak veto ini dapat batal apabila kongres

dukungannya 2/3 suara dari kedua majelis yang telah memenuhi kuorum,

menolak veto Presiden

2. Mahkamah Agung mengadakan check terhadap badan legislatif dan bdan

eksekutif melaui ujia materiil atau judicial reviw .

3. Disisi lain, hakim agung yang tela diangkat seumur hidup oleh presiden

dapatdiberhentikan oleh kongres, apabila ternyata telah melakukan tindakan

kriminal

4. Demikian juga Presiden dapat di Impeachmet oleh Kongres berdasarkan

Konstitusi Amerika Serikat pasal 2 ayat 4.

5. Presiden dapat mendatangani perjanjian internasional, akan tetapi baru sah

apabila senat menyetujuinya, begitu juga dalam hal pengangkatan

jabatan-jabatan yang menjadi wewenang Presiden, misalnya Hakim Agung dan Duta

Besar.

6. Khusus menyatakan perang, hanya dapat dilakukan kongres.

Dengan demikian sistem check and balances berakibat dalam batas-batas

tertentu, satu cabang kekuasaan dapat campur tangan dalam tindakan kekuasaan

lain.

I. 7. 2 Teori Pemerintahan

Istilah sistem pemerintahanberasal dari dua suku kata “sistem”dan

(31)

22

yang mempunyai hubungan fungsional baik antara bagian-bagian maupun

hubungan fungsional terhadap keseluruhannya, sehingga hubungan itu

menimbulkan suatu ketergantungan antar bagian-bagian yang akibatnya jika salah

satu bagian tidak bekerja dengan baik akan mempengaruhi keseluruhannya

itu.22Pemerintahan dalam arti luas adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh

negara dalam menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya dan kepentingan negara

sendiri, jadi tidak diartikan sebagai pemerintahan yang hanya menjalankan tugas

eksekutif saja, melainkan juga meliputi tugas-tugas lainnya termasuk legislatif dan

yudikatif, sehingga sistempemerintahan adalah pembagian kekuasaan serta

hubungan antara lembaga-lembaga negara yang menjalankan

kekuasaan-kekuasaan negara itu, dalam rangka kepentingan rakyat.23

sebagai sebuah sistem hubungan tata kerja antar lembaga-lembaga negara. Dalam ilmu negara umum (algemeine staatslehre) yang dimaksud dengan

sistem pemerintahan ialah sistem hukum ketatanegaraan, baik yang berbentuk

monarki maupun republik, yaitu mengenai hubungan antar pemerintah dan badan

yang mewakili rakyat. Ditambahkan Mahfud MD, sistem pemerintahan dipahami

24

22

Moh. Kusnardi dan Harmaili Ibrahim. 1983. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Sumatera Utara. Hal. 171

23

Moh. Kusnardi dan Harmaili Ibrahim. Loc.Cit

24

Saldi Isra. 2010. Pergeseran Fungsi Legislatif: Menguatnya Model Legislasi Parlementer dalam SistemPresidensial Indonesia. Jakarta: Rajawali Press. Hal. 23

Disamping pendapat para ahli tersebut, Jimly Asshiddiqie mengemukakan, sistem

pemerintahan berkaitan dengan pengertian regeringsdaad, yaitu penyelenggaraan

(32)

23

Ditinjau dari aspek pembagian kekuasaannya, organisasi pemerintah dapat

dibagi dua, yaitu pembagian kekuasana secara horizontal didasarkan atas sifat

tugas yang berbeda-beda jenisnya yang menimbulkan berbagai macam lembaga di

dalam suatu negara, dan pembagian kekuasaan secara vertikal menurut tingkat

pemerintahan, melahirkan hubungan antara pusat dan daerah dalam sistem

desentralisasi dandekonsentrasi.25

Sistem pemerintahan yang dianut Indonesia sebelum perubahan UUD 1945

menurut Bagir Manan terdapat dua pendapat yang lazimdigunakan, yaitu

Kelompok yang berpendapat bahwa Indonesia menganut sistem presidensial dan

kelompok yang berpendapat bahwa Indonesia menganut sistem campuran. Para

ahliyang berpendapat sebagai sistem presidensial karena presiden adalah kepala

pemerintahan dan ditambah dengan karakter : (a) adakepastian masa jabatan

presiden, yaitu lima tahun; (b) presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR;

dan (c) presiden tidak dapat membubarkan DPR. Sementara itu,yang berpendapat

bahwa Indonesia menganut sistempemerintah campuran karena selain terdapat

karakter sistem pemerintahan presidensial terdapat pula karakter sistem

parlementer. Ciri parlementer yang dimaksudkan adalah presiden bertanggung

jawab kepada lembaga perwakilan rakyat yang dalam hal ini MPR.26

Perubahan pertamahingga keempatUUD1945, telahmenjadikan sistem

ketatanegaraan Indonesia mengalami berbagai perubahan yang mendasar.

25

Moh. Kusnardi dan Harmaili Ibrahim. 1983. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Sumatera Utara. Hal. 171

26

(33)

24

Perubahan-perubahan itu mempengaruhi struktur dan mekanisme struktural orga–

organ negara Indonesia. Banyak pokok pikiran baru yang diadopsikan kedalam

kerangka UUD 1945 tersebut,diantaranya adalah:

1. Penegasan dianutnya cita demokrasi dan nomokrasi secara sekaligus dan saling

melengkapi secara komplementer

2. Pemisahankekuasaandanprinsipchecks and balances

3. Pemurnian sistempemerintah presidensial

4. Penguatan cita persatuan dan keragamandalam wadah Negara Kesatuan

Republik Indonesia.

Perubahan ini yang saat ini menimbulkan berbagai kelembagaan negara dan

pembentukan sistem dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum yang

demokratis.

I. 7. 3 Pemerintahan Desa

Dengan pengesahan Undang-Undang yang baru tentang pemerintahan

daerah dari Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 menjadi Undang-Undang No. 32

Tahun 2004 ini merupakan perubahan yang terjadi dalam substansi pelaksanaan

pemerintahan, termasuk pemerintahan desa.Terkait dengan penyelenggaraan

pemerintahan desa, penyelenggaraan pemerintahan desa merupakan “subsistem

dari system penyelenggaraan pemerintahan, sehingga desa memiliki kewenangan

untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya”.27

27

(34)

25

Status desa adalah satuan pemerintahan dibawah kabupaten/ kota.28

Selanjutnya dalam angka 7 dijelaskan pula bahwa yang dimaksud dengan

“Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalahKepala Desa dan

Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Sedangkan

dalam angka 8 Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama

lain, selanjutnya disingkat BPD, adalah lembaga yang merupakan perwujudan

demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desasebagai unsur

penyelenggara pemerintahan desa”

Desa

tidak sama dengan kelurahan yang statusnya dibawah camat. Kelurahan hanyalah

wilayah kerja lurah dibawah camat yang tidak mempunyai hak mengatur dan

mengurus kepentingan masyarakat setempat. Sedangkan desa memiliki

batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan

masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui

dan dihormati dalam sistem pemerintahan NKRI (UU No. 32/2004).

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa,

pasal 1 angka 6 menyebutkan bahwa:

“Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh

Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam mengatur

dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat

istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara

Kesatuan Republik Indonesia”.

28

(35)

26

Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pemerintahan desa ada dua institusi

yang mengendalikannya, yaitu Pemerintah Desa, dan Badan Permusyawaratan

Desa (BPD). Pemerintah desa yang dimaksud disini kepala desa sebagai lembaga

eksekutif pemerintah desa yang berfungsi sebagai kepala pemerintah di desa,

kemudian dalam menjalankan tugasnya,Kepala desa di bantu oleh perangkat desa.

Perangkat desa bertugas membantu kinerja kepala desa dalam melaksanakan

tugas-tugas danfungsi-fungsi pemerintah desa. Perangkat desa terdiri dari

sekretaris desa dan perangkat desa lainnya, sedangkan sebagai lembaga legislatif,

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) berfungsi menetapkan Peraturan Desa

bersama Kepala Desa serta menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

Gambar 1.1: Strukur Organisasi Pemerintahan Desa29

29

Hanif Nurcholis. 2011. Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama. Hal. 74

Kepala Desa BPD

Sekdes

Staf

Kepala

Kewilayahan Pelaksana

(36)

27 I. 7. 3. 1 Kepala Desa

“Kepala desa dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa.

Seorangkepala desa haruslah seorang warga Negara Republik Indonesia

yangmemenuhi syarat, yangselanjutnya akan ditentukan dalam perda

tentangtata cara pemilihan kepala desa. Dalam pemilihan kepala desa,

calon yang memiliki suara terbanyak, ditetapkan sebagai kepala

desaterpilih.Untuk desa-desa yang memiliki hak tradisional yang

masihhidup dan diakui keberadaannya, pemilihan kepala desanya

dilakukanberdasarkan ketentuan hukum adat setempat, yang ditetapkan

dalamperda dengan berpedoman pada peraturan pemerintah.

Masa jabatan kepala desa adalah enam tahun dan dapat dipilih

kembalihanya untuk satu kali masa jabatan berikutnya.Masa jabatan

kepaladesa, bagi desa yang merupakan masayarakat hukum adat,

yangkeberadaannya masih hidup dan diakui, dapat di kecualikan dan hal

inidiatur dengan perda”.30

“Kepala desa pada dasarnya bertanggungjawab kepada rakyat desa

yang dalam tata cara dan prosedurnya pertanggungjawabannya

disampaikan kepada Bupati atau Walikota melalui camat. Kepala Badan

Permusyawaratan Desa, kepala desa wajib memberikan keterangan

laporan pertanggungjawabannya kepada rakyat, menyampaikan informasi Lebih lanjut HAW. Widjaja mengungkapkan bahwa :

30

(37)

28

pokok-pokok pertanggungjawabannya, namun harus tetap memberi

peluang kepada masyarakat melalui Badan Permusyawaratan Desa untuk

menanyakan dan/atau meminta keterangan lebih lanjut terhadap hal -hal

yang berhubungan dengan pertanggungjawaban yang dimaksud”.31

Berdasarkan Peraturan-Pemerintah No. 72 Tahun 2005, dapatkita ketahui,

kewajiban dari Kepala Desa adalahsebagai berikut:32

1. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia 1945 serta mempertahankan dan memelihara

keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia

2. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

3. Memelihara ketentraman dan keterlibatan masyarakat

4. Melaksanakan kehidupan demokrasi

5. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebasdari

korupsi, kolusi dan nepotisme

6. Menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahandesa

7. Menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang – undangan

8. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik

9. Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangandesa

10. Melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa

11. Mendamaikan perselisihamn masyarakat di desa

31

Hanif Nurcholis Op.cit. hal. 149

32

(38)

29

12. Mengembangkanpendapatan masyarakat dan desa

13. Membina, mengayomi dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya danadat

istiadat

14. Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa

15. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan

hidup

Selain kewajiban sebagaimana dimaksud diatas, Kepala Desamempunyai

kewajiban untuk memberikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa

kepada Bupati/walikota, memberikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban

kepada BPD, serta menginformasikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan

Desa kepada masyarakat.

I. 7. 3. 2 Badan Permusyawaratan Desa (BPD)

“Sebagai perwujudan demokrasi, dalam penyelenggaraan pemerintahan desa

dibentuk Badan Permusyawaratan Desa (BPD) atau sebutan lain yang sesuai

dengan budaya yang berkembang di desa yang bersangkutan yang berfungsi

sebagai lembaga pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, seperti

dalam pembuatan dan pelaksanaan peraturan desa, Anggaran Pendapatan Belanja

Desa, dan keputusan kepala desa. Di desa dibentuk lembaga kemasyarakatan yang

berkedudukan sebagai mitra pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat

desa”.33

33Hanif Nurcholis.

(39)

30

Rozali Abdullah menjelaskan bahwa :

“Badan Permusyawaratan Desa, selanjutnya disebut BPD, adalah

suatubadan yang sebelumnya disebut Badan Perwakilan Desa, yangberfungsi

menetapkan Peraturan Desa bersama kepala desa,menampung dan

menyalurkan aspirasi masyarakat. Anggota BPDadalah wakil dari dari

penduduk desa yang bersangkutan, yangditetapkan dengan cara musyawarah

dan mufakat. Wakil yangdimaksud dalam hal ini adalah penduduk desa yang

memangku jabatanseperti ketua rukun warga, pemangku adat dan tokoh

masyarakatlainnya”.

Pimpinan BPD dipilih dari dan oleh anggota BPD. Masa jabatananggota

BPD adalah enam tahun, sama dengan masa jabatan kepaladesa, dan

dapatdipilih kembali untuk satu kali masa jabatanberikutnya. Tata cara

penetapan anggota dan pimpinan BPD diaturdalam perda yang berpedoman

pada peraturan pemerintah. AnggotaBPD yang sudah ada pada saat berlakunya

UU No. 32 Tahun 2004tetap menjalankan tugassebagaimana diatur dalam UU

No. 32 Tahun2004 ini, sampai berakhirnya masa jabatan”.34

a. Badan Permusywaratan Desa berfungsi menetapkan peraturan desa bersama

kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

Menurut HAW. Widjaja Badan Permusyawaratan Desa (BPD) itu adalah

sebagai berikut:

34

(40)

31

b. Anggota BPD adalah wakil dari penduduk desa yang bersangkutan yang

ditetapkan dengan musyawarah dan mufakat.Dimaksud dengan wakil dalam

ketentuan ini adalah penduduk desa yang memangku jabatan seperti ketua

rukun warga, tetangga, pemangku adat, dan tokoh masyarakat lainnya.

c. Pimpinan BPD dipilih dari dan oleh anggota BPD.

d. Masa jabatan anggota BPD adalah enam tahun dan dipilih lagiuntuk satu kali

masa jabatan berikutnya.

e. Syarat dan tata cara penetapan anggotaBPD diatur dalamperda yang

berpedoman pada peraturan pemerintah.35

Fungsi BPD menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang

Pemerintahan Daerah antara lain:

1. Pasal 209, BPD berfungsi menetapkan Peraturan Desa bersamaKepala Desa,

menampung danmenyalurkan aspirasi masyarakat.

2. Pasal 215 ayat (1), bersama Kepala Desa ikut serta dalampembangunan

kawasan pedesaan yang dilakukan olehKabupaten/Kota dan atau pihak ketiga.

3. Hubungan Fungsional Pemerintah Desa dengan BadanPermusyawaratan Desa

(BPD).

Dalam Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah tidak secara eksplisit mengatur mengenai bentuk hubungan fungsional

antara Pemerintah Desa dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) , namun

apabila dikaji lebih dalam, dalam pasal - pasal yang mengatur mengenai desa

35

(41)

32

yakni pasal 200 sampai denganpasal 216, maka secara implisit kita akan

menemukan suatu bentuk hubungan yang terjalin antara Pemerintah desa dengan

BadanPermusyawaratan.

Hal di atas sesuai dengan penjelasan pada Pasal 200, Undang-Undang No.

32 Tahun 2004, yang menjelaskan bahwa “Dalam pemerintahan daerah

Kabupaten/Kota dibentuk pemerintahan Desa yang terdiri dari pemerintahan Desa

dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD)”. Sedangkan dalam pasal 209 lebih

lanjut dinyatakan bahwa:

“Badan Permusyawaratan Desa berfungsi menetapkan peraturan Desa

bersama Kepala Desa, menampung dan meyalurkan aspirasi masyarakat.

Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan penyelenggaraan

pemerintahan Desa yang demokratis yang mencerminkan kedaulatan rakyat”

Dengan lahirnya UU No. 32 tahun 2004 telah membawa perubahan

pengaturan tentang Pemerintah Daerah. Dimana Pemerintah pusat memberikan

perhatian serius melalui perubahan format badan-badan pelaksana dan

pertanggungjawaban Pemerintah Desa dengan membuat beberapa perubahan.

Pertama, adanya pemisahan antara kekuasaan eksekutif desa (Pemerintah Desa)

dan legislatif desa (Badan Permusyawaratan Desa). Dengan adanya pemisahan

tersebut maka kekuasaan mulai dibagi, dipisahkan serta dibatasi. Eksekutif desa

(Pemerintah Desa) tidak lagi menjadi “pusat” dari proses pembuatan, pelaksanaan

dan pengawasan kebijakan desa, namun hanya sebagai pelaksana kebijakan.

(42)

33

partisipasi masyarakat melalui saluran formal berupa lembaga Badan

Permusyawaratan Desa (BPD) dan sekaligus BPD dapat digunakan masyarakat

untuk melakukan kontrol atas pelaksanaan kebijakan desa yang dilakukan oleh

eksekutif desa (Pemerintah Desa).

Dengan adanya pemisahan kekuasaan antara eksekutif desa dengan legislatif

desa maka telah terjadi perubahan struktur Pemerintahan Desa yang tidak lagi

bersifat sentralistik yang kemudian berganti dengan pengaturan Pemerintahan

Desa secara demokratis melalui pemberian tempat bagi adanya partisipasi oleh

warga desa.

Kedua, pengurangan mengenai sistem hirarki birokrasi. Jika pada masa

Orde Baru pemerintah desa hanya menjadi sub bagian dari kabupaten yang dapat

dikontrol dan di intervensi melalui kecamatan. Dengan adanya struktur

Pemerintahan Desa yang baru, kecamatan tidak lagi membawahi desa, dan desa

langsung berhubungan dengan kabupaten. Hubungan antara desa dan kabupaten

yang kemudian diatur lebih dalam hubungan- hubungan yang bersifat formalistik.

Hal tersebut misalnya tercermin dalam mekanisme pertanggungjawaban kepala

desa yang lebih ditekankan untuk diberikan kepada masyarakat melalui lembaga

BPD dan ketingkat kabupaten lebih bersifat pelaporan. Dengan adanya struktur

yang demikian, maka jalannya pemerintahan desa lebih dikontrol oleh masyarakat

desa sendiri dan bukan oleh pemerintah yang lebih atas. Dengan kata lain proses

yang terjadi di desa lebih ditekankan pada dinamika internal desa dibandingkan

(43)

34

Dalam melaksanakan kewenangan yang dimilikinya untuk mengatur dan

mengurus kepentingan masyarakatnya, di desa dibentuk BPD sebagai lembaga

legislasi (menetapkan kebijakan desa) dan menampung serta menyalurkan aspirasi

masyarakat bersama kepala desa. Lembaga ini pada hakikatnya adalah mitra kerja

pemerintah desa yang memiliki kedudukan sejajar dalam menyelenggarakan

urusan Pemerintahan Desa, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Sebagai lembaga legislasi, BPD memiliki hak untuk menyetujui atau tidak

terhadap kebijakan desa yang dibuat oleh pemerintah desa. Lembaga ini juga

dapat membuat rancangan peraturan desa untuk secara bersama- sama pemerintah

desa ditetapkan menjadi peraturan desa. Disini terjadi mekanisme chek and

balance system dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang lebih

demokratis. Sebagai lembaga pengawasan, BPD memiliki kewajiban untuk

melakukan kontrol terhadap implementasi kebijakan desa, Anggaran dan

Pendapatan Belanja Desa (APBD) serta pelaksanaan keputusan pelaksanaan

kepala desa. Selain itu, dapat juga dibentuk lembaga kemasyarakatan desa sesuai

kebutuhan desa untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam

penyelenggaraan pembangunan.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi BPD dengan Kepala Desa dalam

kaitannya dengan fungsi menetapkan Peraturan Desa dapat digambarkan dalam

skema berikut ini :

(44)

35 Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Berdasarkan skema tersebut diatas menunjukkan bahwa sebuah rancangan

Perdes yang berasal dari Kepala Desa diajukan kepada BPD untuk dibahas guna

memperoleh persetujuan bersama, demikian pula terhadap Rancangan Perdes

yang berasal dari BPD. Apabila rancangan Perdes yang diajukan oleh KepalaDesa

ataupun oleh BPD telah disetujui bersama maka rancangan Perdes dapat

ditetapkan sebagai Perdes.

Kepala Desa

Persetujuan Bersama

Penetapan Rancangan Perdes

menjadi Perdes BPD (Badan

Permusyawaratan Desa)

(45)

36

Adapun hubungan fungsional BPD dengan Kepala Desa terkait pelaksanaan

fungsi untuk menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat tergambar dalam

skema dibawah ini :

Gambar 1.3: Hubungan fungsional BPD dengan Kepala Desa

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Suatu aspirasi masyarakat dapat diajukan melalui Kepala Dusun kemudian

Kepala Dusun akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada Kepala Desa tentang

Majelis Kepala Desa

BPD ( Badan Permusyawaratan

Desa)

Kepala Dusun Anggota BPD

(46)

37

suatu hal. Aspirasi yang sudah diterima oleh Kepala Desa selanjutnya

disampaikan kepada BPD untuk dibahas dalam suatu rapat majelis guna

mendapatkan kesepakatan untuk dilaksanakan.

Selanjutnya suatu aspirasi yang berasal dari masyarakat dapat disampaikan

melalui anggota BPD, anggota BPD tersebut menyampaikannya kepada Ketua

BPD untuk mengadakan rapat pembahasan dengan mengundang Pemerintah desa

(Kepala desa) dan/atau perangkatnya dalam suatu rapat mejelis untuk selanjutnya

mendapatkan suatu kesepakatan untuk dilaksanakannya aspirasi tersebut.

Demikianlah bentuk-bentuk hubungan fungsional atau hubungan kerjasama

antara Pemerintah Desa dengan Badan Permusyawaratan dalampelaksanaan

pemerintahan desa baik ditinjau dari peraturan perundang-undangan, maupun dari

buku-buku yang berkenaan dengan fungsipemerintah desa dan fungsiBadan

Permusyawaratan Desa (BPD).

I. 7. 4 Teori Budaya Politik

Gabriel A. Almond dan Sidney Verba mendefinisikan budaya Politik

sebagai sikap individu terhadap sistem dan komponen-komponennya, dan juga

sikap individu terhadap peranan yang dimainkan dalam sistem politik.36 Dengan

kata lain, budaya politik tidak lain merupakan orientasi psikologis terhadap objek

sosial, dalam hal ini sistem politik.37

36

Gabriel A. Almond dan Sidney Verba. 1990. Budaya Politik: Tingkah Laku Politik dan Demokrasi di Lima Negara. Jakarta: Bumi Aksara. hal. 13

37

Affan Gaffar. 1999. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. Jakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 99 Sikap positif atau negatif seseorang terhadap

(47)

38

Disamping orientasi terhadap sistem politik, menurut Almond dan Powel,

terdapat aspek lain dari budaya politik yang berkaitan dengan pandangan dan

sikap individu dalam masyarakat sebagai sesama warga negara. Sikap atau

pandangan ini berkaitan dengan rasa percaya diri (trust) dan permusuhan

(hostility) antara warga negara yang satu dengan yang lainnya ataupun antar

golongan yang satu dengan yang lainnya dalam masyarakat.38

Berfungsinya budaya politik dengan baik sebagai budaya yang matang

menurut Almond dan Verba ditentukan oleh tingkat keserasian antara kebudayaan

bangsa tersebut dengan sistem politiknya. Dengan demikian, semakin serasi Perasaan- perasaan

yang merupakan cerminan budaya politik tersebut mungkin terlihat pada

pandangan dan sikap seseorang terhadap pengelompokan yang ada disekitarnya

dalam bentuk kualitas politik, yaitu konflik dan kerja sama. Jadi kerja sama dan

konflik antar kelompok atau golongan sosial merupakan ciri aktual yang dapat

mewarnai budaya politik didalam masyarakat.

Perkembangan budaya politik suatu masyarakat dipengaruhi oleh

kompleksitas nilai yang ada didalam masyarakat itu sendiri. Dengan demikian,

kehidupan masyarakat dipenuhi oleh interaksi antarorientasi dan antar nilai yang

memungkinkan timbulnya kontak-kontak diantara budaya politik suatu kelompok

atau golongan yang mungkin lebih tepat disebut dengan subbudaya politik, yang

pada dasarnya merupakan proses terjadinya pengembangan budaya bangsa.

38

(48)

39

budaya bangsa itu dengan struktur politiknya, semakin matang pula budaya politik

yang ada didalam masyarakat tersebut.

Gabriel Almond mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut :39

1. Budaya Politik parokial(parochial political culture) yaitu tingkat partisipasi

politiknya sangat rendah, yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat

pendidikan relatif rendah). Menyangkut budaya yang terbatas pada wilayah

atau lingkup yang kecil, sempit misalnya yang bersifat provincial. Karena

wilayah yang terbatas acapkali pelaku politik sering memainkan peranannya

seiring dengan diferiensiasi, maka tidak terdapat peranan politik yang bersikap

khas dan berdiri sendiri. Yang menonjol dalam budaya politik adalah

kesadaran anggota masyarakat akan adanya pusat kewenangan\kekuasaan

politik dalam masyarakat.

2. Budaya Politik kaula(subyek political culture)yaitu masyarakat bersangkutan

sudah relatif maju (baik sosial maupun ekonominya) tetapi masih bersifat pasif.

Anggota masyarakat mempunyai minat perhatian, mungkin juga kesadaran

terhadap sistem sebagai keseluruhan terutama pada aspek outputnya.

Kesadaran masyarakat sebagai aktor dalam politik untuk memberikan input

politik boleh dikatakan nol. Posisi sebagai kaula merupakan posisi yang pasif

dan lemah. Mereka menganggap dirinya tidak berdaya mempengaruhi atau

39

Figur

Gambar 1.1: Strukur Organisasi Pemerintahan Desa29
Gambar 1 1 Strukur Organisasi Pemerintahan Desa29. View in document p.35
Gambar 1.3: Hubungan fungsional BPD dengan Kepala Desa
Gambar 1 3 Hubungan fungsional BPD dengan Kepala Desa . View in document p.45
Gambar 2. 1: Peta Kabupaten Simalungun
Gambar 2 1 Peta Kabupaten Simalungun . View in document p.55
Tabel 2.1 : Nama Nagori berdasarkan Luas Wilayah dan Jumlah
Tabel 2 1 Nama Nagori berdasarkan Luas Wilayah dan Jumlah . View in document p.57
Tabel : Jumlah Penduduk Berdasarkan Suku
Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Suku . View in document p.60
Tabel: Jumlah Penduduk Berdasarkan jenis kelamin
Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan jenis kelamin . View in document p.60
Tabel: Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian . View in document p.61
Tabel 2. 2: Jumlah Penduduk berdasarkan Agama
Tabel 2 2 Jumlah Penduduk berdasarkan Agama . View in document p.62
Tabel 2. 3: Jumlah Penduduk berdasarkan tingkat pendidikan
Tabel 2 3 Jumlah Penduduk berdasarkan tingkat pendidikan . View in document p.63
Gambar 2. 2 Struktur Organisasi Pemerintahan Nagori Tiga Ras
Gambar 2 2 Struktur Organisasi Pemerintahan Nagori Tiga Ras . View in document p.68
Gambar 2. 3 Struktur Organisasi Maujana Nagori Tiga Ras
Gambar 2 3 Struktur Organisasi Maujana Nagori Tiga Ras . View in document p.72

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015 1 L.atar Belakang Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015 2 Penelitian Sebelumnya 3 Perumusan Masalah 4 Pembatasan Masalah 5 Tujuan Penelitian 6 Manfaat Penelitian 7. Kerangka Teori dan Konsep 7. 1 Teori Kekuasaan 7. 1. 1 Trias Politica Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015 7. 1. 2 Check and Balances Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015 7. 2 Teori Pemerintahan Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015 7. 3 Pemerintahan Desa Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015 7. 3. 1 Kepala Desa Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015 7. 3. 2 Badan Permusyawaratan Desa BPD 7. 4 Teori Budaya Politik Hubungan Politik antara Pangulu dan Maujana Nagori di Nagori Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun pada periode 2008-2015 8 Metodologi Penelitian 8. 1 Metode Penelitian 8. 2 Jenis Penelitian 8. 3 Lokasi Penelitian 8. 4 Teknik Pengumpulan Data 8. 5 Teknik Analisa Data 9 Sistematika Penelitian Nagori Tiga Ras 1Letak Geografis 2Keadaan Penduduk 3 Struktur Sosial Budaya 2 Kecamatan Dolok Pardamean Pemerintahan Nagori 1 Pangulu 2 Kecamatan Dolok Pardamean 2 Maujana Nagori 2 Kecamatan Dolok Pardamean Peraturan Nagori 2 Kecamatan Dolok Pardamean Sejarah Nagori di Simalungun Fase Historis Pemerintahan Daerah 1 Kabupaten Simalungun 1 Penyelenggaraan Pemerintahan Nagori Tiga Ras 2 Relasi Hubungan Politik antara Pangulu dengan Maujana