SKRIPSI
PENGARUH
LEVERAGE DAN GROWTH
SERTA
SIZE
TERHADAP
NILAI PERUSAHAAN INDEKS LQ-45
DI BURSA EFEK INDONESIA
OLEH
NAHDAWIYAH PANGGABEAN
110521119
PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
rahmat serta karunia yang telah dibeikanNya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Departemen Manajemen pada Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
kedua orang tua saya yang terkasih dan tercinta, Ibunda Dewita Simanjuntak,
Abang saya Bustanil Arifin Panggabean, Kakak saya Ramadia Sari Panggabean,
dan kedua adik saya Dalilah Panggabean dan Soraya Chairani Panggabean yang
telah memberikan dukungan kepada penulis baik moral dan materl, bimbingan
nasehat, semangat, serta doanya kepada penulis.
Skripsi ini berjudul “Pengaruh Leverage dan Growth serta Size Terhadap
Nilai Perusahaan Indeks LQ-45 Di Bursa Efek Indonesia”, penulis telah banyak
menerima bimbingan, saran, motivasi dan doa dari berbagai pihak selama
penulisan skripsi ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec.Ac, Ak., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, SE, M.Si dan Ibu Dra. Friska Sipayung, M.Si
selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S-I Manajemen Fakultas Ekonomi
3. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, S.E, ME., dan Ibu Dra. Marhayani SE. Msi., selaku
Ketua dan Sekretaris Departemen SI Manajemen.
4. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, S.E, ME., selaku Dosen Pembimbing yang telah
meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan masukan berupa saran
dan evaluasi yang bersifat membangun.
5. Ibu Dra. Nisrul Irawati, MBA, selaku Dosen pembaca penilai yang telah
memberikan saran dalam penulisan maupun perbaikan skripsi ini.
6. Dan kepada teman-teman tersayang: Eko, Ulva, Nisa, Ratna, Syari, Ika, Uci,
Mawan, Ipen, Riski yang saya cintai dan yang selalu mendoakan dan
memberikan dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa sripsi ini masih jauh dari sempurna. Hal ini
dikarenakan terbatasnya pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki penulis.
Oleh karena itu penulis berharap kritik dan sran yang membangun dari semua
pihak untuk perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi
ini bermanfaat bagi pembaca dan peneliti lainnya.
Medan, Juli 2014
Penulis
ABSTRAK
Pengaruh Leverage dan Growth serta Size Terhadap Nilai Perusahaan
Indeks LQ-45 Di Bursa Efek Indonesia
Nahdawiyah Panggabean
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh
leverage dan
growth
serta
size
terhadap nilai perusahaan indeks lq-45 di bursa efek
indonesia
.Penelitian ini menggunakan perusahaan Go Public di Bursa Efek
Indonesia sebagai objek penelitian, dengan periode penelitian dari tahun 2009-2012. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dan uji asumsi klasik dengan tingkat signifikansi 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to
Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm Debt
to Equity Ratio (LDER), Growth dan Size secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap Price Book Value (PBV) perusahaan Go Public di Bursa Efek Indonesia.
Secara parsial Debt to Asset Ratio (DAR), dan Debt to Equity Ratio (DER) negatif
dan signifikan. Sementara Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm
Debt to Equity Ratio (LDER), Growth dan Size berpengaruh positif dan tidak
signifikan terhadap Price Book Value perusahaan Go Public di Bursa Efek
Indonesia.
Kata Kunci: Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm
Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm Debt to Equity Ratio
ABSTRACT
The Effect of Leverage toward on Company Index LQ 45 on
Indonesian Stock Exchange
Nahdawiyah Panggabean
The purpose of this research is to leverage toward on company value the
study on non-bank companies listed on indonesian stock exchange index LQ 45 in the period 2009-2012.
This study uses Go Public Companies in the Indonesia Stock Exchange as an object of research, the study period from 2009-2012. The analysis technique used is doubled linier regression and the classical assumptions upon significance level of 5%.
The results of this research indicates that Debt to Asset Ratio (DAR), Debt
to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm
Debt to Equity Ratio (LDER) simultaneously influences significantly toward
Price Book Value (PBV). Partially, Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Debt to
Equity Ratio (DER) influences negatively and significantly. Debt to Asset Ratio
(DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Growth, and Size influences positively and
insignificantly cantly toward Price Book Value (PBV) Go Public companies in the
Indonesia Stock Exchange.
Keyword : Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm
Debt to Asset Ratio (LDAR), Longterm Debt to Equity Ratio
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang ... 1
1.2 PerumusanMasalah ... 7
1.3 TujuanPenelitian ... 7
1.4 ManfaatPenelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Nilai Perusahaan ... 9
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 JenisPenelitian ... 22
3.2 TempatdanWaktuPenelitian ... 22
3.3 BatasanOperasional ... 22
3.4 DefinisiOperasional Variabel ... 23
3.5 PopulasidanSampel ... 26
3.8.3 UjiMultikolinieritas ... 32
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1Gambaran Umum Perusahaan.. ... 37
4.1.1. PT. Astra Agro Lestari Tbk.. ... 37
4.1.19 PT. Indomobil Sukses International Tbk... ... 45
4.1.20 PT. International Nickel Indonesia Tbk.. ... 46
4.1.21 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.. ... 46
4.2.2.3. Uji Heteroskedastisitas.. ... 62
4.2.2.4. Uji Autokorelasi.. ... 64
4.2.2.Analisis Regresi Linier Berganda. ... 65
4.2.3. Pengujian Hipotesis.. ... 67
4.2.3.1 Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F).. ... 67
4.2.3.2 Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t).. ... 68
4.2.3.3 Koefisien Determinasi (R2).. ... 70
4.3 Pembahasan... ... 71
4.3.1 Pengaruh DAR terhadap PBV.. ... 71
4.3.2 Pengaruh DER terhadap PBV.. ... 72
4.3.3 Pengaruh LDAR terhadap PBV.... ... 72
4.3.4 Pengaruh LDER terhadap PBV.. ... 73
4.3.5 Pengaruh Growth terhadap PBV.. ... 73
4.3.6 Pengaruh Size terhadapPBV.. ... 73
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.. ... 75
5.1 Kesimpulan.. ... ... 75
5.2 Saran... ... 76
DAFTAR PUSTAKA... ... 78
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
Tabel 1.1 Data Total Hutang Perusahaan Terbesar ... 4
Tabel 1.2 Data Total Aset Perusahaan Terbesar ... 4
Tabel 1.3 Data Kapitalisasi Pasar pada Indeks LQ-45 Periode Agustus 2013 6 Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 18
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel Penelitian ... 25
Tabel 3.2 Kriteria Pemilihan Sampel ... 27
Tabel 3.3 Daftar Sampel Perusahaan Non-Keuangan Indeks LQ-45 ... 27
Tabel 3.4 Kriteria Pengambilan Keputusan Durbin Watson ... 34
Tabel 4.1 Descriptive Statistics ... 55
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas (Uji Kolmogorov-Smirnov Test) ... 58
Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas ... ... . 61
Tabel 4.4 Uji Glejser ... 63
Tabel 4.5 Uji Autokorelasi ... 64
Tabel 4.6 Hasil Analisis Regresi ... 65
Tabel 4.7 Hasil Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F) ……… 67
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
Gambar 1.1 Kerangka Konseptual ... 21
Gambar 4.1 Grafik Histogram ... 59
Gambar 4.2 Normal P-Plot ... 60
ABSTRAK
Pengaruh Leverage dan Growth serta Size Terhadap Nilai Perusahaan
Indeks LQ-45 Di Bursa Efek Indonesia
Nahdawiyah Panggabean
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh
leverage dan
growth
serta
size
terhadap nilai perusahaan indeks lq-45 di bursa efek
indonesia
.Penelitian ini menggunakan perusahaan Go Public di Bursa Efek
Indonesia sebagai objek penelitian, dengan periode penelitian dari tahun 2009-2012. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dan uji asumsi klasik dengan tingkat signifikansi 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to
Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm Debt
to Equity Ratio (LDER), Growth dan Size secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap Price Book Value (PBV) perusahaan Go Public di Bursa Efek Indonesia.
Secara parsial Debt to Asset Ratio (DAR), dan Debt to Equity Ratio (DER) negatif
dan signifikan. Sementara Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm
Debt to Equity Ratio (LDER), Growth dan Size berpengaruh positif dan tidak
signifikan terhadap Price Book Value perusahaan Go Public di Bursa Efek
Indonesia.
Kata Kunci: Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm
Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm Debt to Equity Ratio
ABSTRACT
The Effect of Leverage toward on Company Index LQ 45 on
Indonesian Stock Exchange
Nahdawiyah Panggabean
The purpose of this research is to leverage toward on company value the
study on non-bank companies listed on indonesian stock exchange index LQ 45 in the period 2009-2012.
This study uses Go Public Companies in the Indonesia Stock Exchange as an object of research, the study period from 2009-2012. The analysis technique used is doubled linier regression and the classical assumptions upon significance level of 5%.
The results of this research indicates that Debt to Asset Ratio (DAR), Debt
to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm
Debt to Equity Ratio (LDER) simultaneously influences significantly toward
Price Book Value (PBV). Partially, Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Debt to
Equity Ratio (DER) influences negatively and significantly. Debt to Asset Ratio
(DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Growth, and Size influences positively and
insignificantly cantly toward Price Book Value (PBV) Go Public companies in the
Indonesia Stock Exchange.
Keyword : Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm
Debt to Asset Ratio (LDAR), Longterm Debt to Equity Ratio
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perusahaan didirikan dengan tujuan untuk memakmurkan pemilik
perusahaan atau pemegang saham. Tujuan ini dapat diwujudkan dengan
memaksimumkan nilai perusahaan dengan asumsi bahwa pemilik perusahaan atau
pemegang saham akan makmur jika kekayaannya meningkat. Nilai perusahaan
dikatakan sebagai penghargaan investor terhadap sebuah perusahaan. Nilai
tersebut tercermin pada harga saham perusahaan. Harga saham yang meningkat
menunjukkan bahwa investor memberikan nilai yang tinggi terhadap perusahaan.
Dengan meningkatnya harga saham, pemegang saham akan mendapatkan
keuntungan melalui capital gains dan memberikan pengaruh yang baik terhadap
nilai perusahaan tersebut.
Menurut Brigham dan Houston (2009: 137) “beberapa faktor yang
umumnya dipertimbangkan dalam mengambil keputusan mengenai nilai
perusahaan yaitu stabilitas penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat
pertumbuhan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, sikap pemberi
pinjaman, perusahaan penilai kredibilitas, kondisi pasar, kondisi internal
perusahaan, dan fleksibilitas keuangan”. Bagi Chen (2002: 24) “faktor yang dapat
mempengaruhi nilai perusahaan, diantaranya adalah capital structure,
ini variabel yang akan diteliti hanya menggunakan leverage, growth, dan size
dalam menentukan nilai perusahaan.
Salah satu hal yang menentukan nilai perusahaan adalah leverage. Dalam
melakukan investasi, investor akan melihat kemungkinan munculnya risiko yang
timbul dari penggunaaan hutang. Kemampuan perusahaan mengelola hutang
merupakan salah satu penarik minat investor. Untuk memperoleh persepsi positif
dari investor yang akhirnya dapat menaikkan harga saham, pihak manajemen akan
menggunakan leverage pada tingkatan yang optimal. Namun, disisi lain hutang
yang besar adalah risiko bagi perusahaan. Hutang yang terlalu besar menyebabkan
perusahaan rawan akan kebangkrutan sehingga pasar modal dapat bereaksi negatif
yang menyebabkan harga saham menurun. Dengan kata lain, leverage memiliki
dampak baik dan buruk bagi perusahaan, yang dapat menyebabkan perusahaan
menjadi berkembang lebih baik (kinerja baik) atau dapat menyebabkan
kemunduran bagi perusahaan (kinerja buruk) yang mengakibatkan kebangkrutan.
Kemudian pertumbuhan perusahaan (growth) merupakan salah satu faktor
yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Menurut Machfoedz (1996) dalam
Debbianita (2012) Growth menggambarkan seberapa jauh perusahaan
menempatkan diri dalam sistem ekonomi secara keseluruhan atau sistem ekonomi
untuk industri yang sama. Pertumbuhan perusahaan menunjukkan kegiatan
investasi yang dilakukan perusahaan. Perusahaan dengan pertumbuhan yang
tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut sedang berkembang. Jika
investasi dilakukan dengan tepat, maka pertumbuhan perusahaan akan
bagi investor. Pertumbuhan perusahaan diharapkan berbanding lurus dengan
pergerakan nilai perusahaan.
Ukuran perusahaan (size)merupakan faktor yang penting dalam
menentukan nilai perusahaan. Size perusahaan dilihat dari total aset yang dimiliki
perusahaan yang dapat dipergunakan untuk kegiatan operasi perusahaan. Jika
perusahaan memiliki total aset yang besar, pihak manajemen lebih leluasa dalam
mempergunakan aset yang ada di perusahaan tersebut. Kebebasan yang dimiliki
manajemen ini sebanding dengan kekhawatiran yang dirasakan oleh pemilik atas
asetnya. Jumlah aset yang besar akan menurunkan nilai perusahaan jika dilihat
dari sisi pemilik perusahaan. Tetapi, jika dilihat dari sisi manajemen kemudahan
yang dimilikinya dalam mengendalikan perusahaan akan meningkatkan nilai
perusahaan. Size yang besar memudahkan perusahaan dalam masalah pendanaan.
Perusahaan umumnya memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam masalah
pendanaan melalui pasar modal. Kemudahan ini bisa ditangkap sebagai informasi
yang baik. Size yang besar dan tumbuh bisa merefleksikan tingkat profit
mendatang ( Suharli, 2006).
Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan cenderung untuk
tidak menambah hutang, sebaliknya perusahaan yang tingkat pertumbuhan rendah
cenderung untuk meningkatkan hutangnya. Kemudian perusahaan dengan total
aset yang besar memiliki operasional yang stabil, sehingga jauh dari risiko
kebangkrutan dan kesulitan keuangan (financial distress) dan dapat memberikan
laba lebih tinggi yang pada akhirnya meningkatkan nilai perusahaan bila
disajikan data perkembangan total hutang dan total aset terbesar pada perusahaan
di indeks LQ-45.
Tabel 1.1
Data Total Hutang Perusahaan Terbesar di Indeks LQ-45 Periode 2009-2012
No. Nama Perusahaan
Total Hutang (Jutaan Rupiah)
2009 2010 2011 2012
1 PT. Bumi Resources Tbk 54.846.002 58.902.617 56.146.499 67.324.256
2 PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk 47.636.512 43.343.684 42.073.000 44.391.000
3 PT. Astra International 40.006.000 54.168.000 77.683.000 92.460.000
4 PT. Adaro Energy Tbk 24.953.474 21.970.369 29.169.380 35.751.943
5 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk 24.886.781 22.423.117 21.975.708 25.181.533
Sumber: www.idx.co.id, 2014 (data diolah)
Pada Tabel 1.1 diketahui bahwa kelima perusahaan yang memiliki total
hutang terbesar di indeks LQ-45 merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
non-keuangan. Pencapaian total hutang tertinggi dimiliki oleh PT. Astra
International Tbk pada tahun 2012 sebesar Rp. 92.460.000 juta. Kecenderungan
perusahaan memiliki total hutang yang begitu besar dikarenakan hutang dijadikan
sumber dana untuk pembiayaan yang digunakan perusahaan dalam menjalankan
Tabel 1.2
Data Total Aset Perusahaan Terbesar di Indeks LQ-45 Periode 2009-2012
No. Nama Perusahaan
Total Aset (Jutaan Rupiah)
2009 2010 2011 2012
1 PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk 97.559.606 99.758.447 103.054.000 111.369.000
2 PT. Astra International Tbk 88.938.000 112.857.000 153.521.000 182.274.000
3 PT. Bumi Resources Tbk 69.907.289 78.765.440 66.814.128 71.116.344
4 PT. Adaro Energy Tbk 42.465.408 40.600.921 51.315.458 64.714.116
5 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk 40.382.953 47.275.955 53.585.933 59.324.207
Sumber: www.idx.co.id, 2014 (data diolah)
Pada Tabel 1.2 diketahui bahwa total aset terbesar pada indeks LQ-45
merupakan perusahaan non-keuangan. Pencapaian total aset terbesar dimiliki oleh
PT. Astra International Tbk pada tahun 2012 sebesar Rp. 182.274.000 juta. Bila
berdasarkan Tabel 1.1 sebelumnya, perkembangan data total hutang menunjukkan
adanya kenaikan dan penurunan setiap tahunnya pada kelima perusahaan tersebut.
Berdasarkan Tabel 1.2, pergerakan ini tidak sejalan dengan adanya kecenderungan
kenaikan total aset dari kelima perusahaan tersebut pada tahun 2009-2012. Hal ini
mengindikasikan adanya peningkatan nilai perusahaan sebagai akibat adanya
informasi yang positif bagi investor dikarenakan total aset masih lebih tinggi
daripada total hutang.
Indeks LQ-45 merupakan indeks yang terdiri dari 45 saham yang terpilih
dengan likuiditas (jumlah hari perdagangan dan frekuensi transaksi) dan
kapitalisasi pasar (volume transaksi) yang tinggi. Saham-saham emiten yang
termasuk di dalam indeks LQ-45 terus dipantau dan setiap enam bulan akan
diadakan review (awal Februari dan Agustus). Apabila ada emiten yang sudah
tidak memenuhi kriteria akan diganti dengan emiten lain yang memenuhi syarat.
Alasan peneliti memilih indeks LQ-45, karena saham-saham LQ-45 merupakan
saham-saham yang paling banyak diminati investor di pasar modal Indonesia,
memiliki tingkat likuiditas tinggi, dan nilai kapitalisasi pasar yang tinggi, serta
dijadikan sebagai patokan naik turunnya harga saham di Bursa Efek Indonesia.
Berikut ini data emiten yang memiliki nilai kapitalisasi pasar terbesar di
indeks LQ-45 pada periode Februari dan Agustus tahun 2013.
Tabel 1.3
Data Kapitalisasi Pasar Terbesar Indeks LQ-45 Periode Agustus 2012
No.
1 PT. Astra International Tbk 263.143.095.410.000 6.500
2 PT. Unilever Indonesia Tbk 242.634.000.000.000 31.800
3 PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk 239.903.991.432.000 11.900
4 PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk 143.024.898.356.400 5.900
5 PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk 90.159.104.000.000 15.200
Berdasarkan Tabel 1.3 dapat diketahui bahwa bahwa kapitalisasi pasar di
indeks LQ-45 terbesar dimiliki oleh PT. Astra International Tbk pada tahun 2012
sebesar Rp.263.143.095.410.000. Perkembangan data pergerakan nilai kapitalisasi
pasar tidak sejalan dengan pergerakan harga penutupan saham di akhir tahun,
justru PT. Unilever Indonesia Tbk yang memiliki harga penutupan saham terbesar
senilai Rp.31.800. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai kapitalisasi pasar yang
tinggi tidak mempengaruhi harga saham suatu perusahaan di indeks LQ-45.
Dilatar belakangi oleh fenomena-fenomena bisnis yang terjadi,
keberagaman nilai total hutang, total aset, kapitalisasi pasar, dan harga saham
perusahaan di indeks LQ-45, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
pada perusahaan indeks LQ-45 yang tercantum di Bursa Efek Indonesia dengan
judul “Pengaruh Leverage dan Growth serta Size terhadap Nilai Perusahaan
Indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia”.
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka perumusan masalah dalam penelitian ini
yaitu: Apakah terdapat pengaruh Leverage dan Growth serta Size terhadap nilai
perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia?
1.3Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh Leverage dan Growth serta Size terhadap nilai perusahaan
1.4Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:
a. Bagi perusahaan (Emiten)
Dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu manajemen perusahaan
dalam pengambilan keputusan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan
pemegang saham khususnya perusahaan indeks LQ-45.
b. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat memberikan informasi, bahan referensi, dan dasar untuk pengembangan
penelitian selanjutnya yang sejenis di masa mendatang.
c. Bagi Investor
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan informasi
dalam melakukan keputusan investasi di perusahaan indeks LQ-45 di Bursa
Efek Indonesia.
d. Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan peneliti tentang
pengaruh Leverage dan Growth serta Size terhadap nilai perusahaan indeks
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan sangat penting, karena dengan nilai perusahaan yang
tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham (Brigham et.al,
1996). Semakin tinggi harga saham, semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai
perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan
nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi.
Kekayaan pemegang saham dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari
saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi, pendanaan, dan
manajemen aset.
Menurut Fama (1978) dalam Wahyudi et.al (2006), nilai perusahaan akan
tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang
terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar
perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai aset
perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai
pasar saham yang sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya
sejumlah peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan
perusahaan di masa mendatang, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Dalam penelitian ini nilai perusahaan diukur dengan Price Book Value (PBV).
PBV merupakan rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan yang
nilai buku per lembar saham. Dengan demikian dapat diartikan bahwa PBV
menunjukkan seberapa jauh perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan
yang relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Semakin tinggi rasio
PBV, mencerminkan baiknya tingkat kemakmuran para pemegang saham, dimana
kemakmuran bagi pemegang saham merupakan tujuan utama dari perusahaan.
Menurut Brigham dan Houston (2009) dalam Wijaya dan Wibawa (2010: 11) nilai
perusahaan yang diproksikan dengan Price to Book Value (PBV) dihitung dengan
menggunakan rumus:
Data harga per lembar saham diperoleh dari harga saham di bursa pada
akhir periode per tanggal 31 Desember tahun bersangkutan, sedangkan nilai buku
perlembar saham dihitung dengan cara (Ang, 2007):
Nilai buku per lembar saham menunjukkan aktiva bersih per lembar saham
yang dimiliki oleh pemegang saham. Hal ini mencerminkan seberapa besar yang
dimiliki oleh pemegang saham. Hala ini mencerminkan seberapa besar jaminan
yang diperoleh pemegang saham apabila perusahaan dilikuidasi. PBV mempunyai
beberapa keunggulan antara lain:
a. Nilai buku mempunyai ukuran yang relatif stabil yang dapat diperbandingkan
b. Nilai buku memberikan standar akuntansi yang konsisten untuk semua
perusahaan PBV dapat diperbandingkan antara perusahaan-perusahaan yang
sama sebagai petunjuk adanya under atau over valuation.
c. Perusahaan dengan nilai earning yang negatif tidak bisa dinilai dengan
menggunakan PER (Price Earning Ratio) dapat dievaluasi dengan
menggunakan PBV.
2.2 Leverage
Leverage merupakan pengukur besarnya aktiva yang dibiayai dengan
hutang-hutang yang digunakan untuk membiayai aktiva yang berasal dari kreditur,
bukan dari pemegang saham atau investor (Yangs, 2011). Artinya rasio hutang
(leverage) merupakan jaminan atas keseluruhan total hutang perusahaan oleh
perusahaan dengan menggunakan modal sendiri (ekuitas). Karena hutang
merupakan salah satu sumber pembiayaan yang digunakan oleh perusahaan untuk
membiayai kebutuhan dananya. Penggunaan hutang yang tinggi mencerminkan
kemampuan perusahaan yang buruk karena mempunyai risiko kebangkrutan yang
tinggi, sehingga investor menilai sebagai sesuatu yang tidak baik, maka akan
merubah permintaan atas saham perusahaan, sehingga akan mempengaruhi nilai
perusahaan tersebut. Analisis rasio leverage yang digunakan dalam penelitian ini
terdiri dari:
1. Debt to Asset Ratio (DAR)
Rasio DAR digunakan untuk mengukur persentase besarnya dana atau
seberapa besar investasi aktiva dibiayai dengan total hutang. Semakin tinggi rasio
DAR berarti semakin besar jumlah modal peminjam yang digunakan untuk
menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Perhitungan DAR dilakukan dengan
menggunakan rumus (Irawati, 2006):
2. Debt to Equity Ratio (DER)
Rasio DER digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban dalam membayar hutangnya dengan jaminan modal sendiri.
Selain itu rasio ini juga digunakan untuk mengukur perimbangan antara kewajiban
yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio DER berarti
modal sendiri yang digunakan semakin sedikit dibanding dengan hutangnya.
Perhitungan DER dilakukan dengan menggunakan rumus (Irawati, 2006):
3. Long Debt to Assets Ratio (LDAR)
Rasio LDAR digunakan untuk mengukur seberapa jauh besar hutang
jangka panjang digunakan untuk investasi pada sektor aset. Hal ini menunjukkan
hubungan antara jumlah pinjaman jangka panjang yang diberikan oleh kreditur
dengan jumlah aset yang dibiayai dengan hutang jangka panjang. Perhitungan
LDAR dilakukan dengan menggunakan rumus (Hanafi, 2003):
4. Long Debt to Equity Ratio (LDER)
Rasio LDER menunjukkan hubungan antara jumlah pinjaman jangka
panjang yang diberikan kreditur dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh
pemilik perusahaan. Rasio ini juga digunakan untuk mengukur seberapa jauh
perbandingan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri atau seberapa
besar hutang jangka panjang dijamin oleh modal sendiri. Perhitungan LDER
dilakukan dengan menggunakan rumus (Hanafi, 2003):
2.3 Growth
Pertumbuhan perusahaan (growth) merupakan suatu harapan yang
diinginkan oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan. Pertumbuhan ini
diharapkan dapat memberikan aspek yang positif bagi perkembangan perusahaan
seperti adanya suatu kesempatan berinvestasi di perusahaan tersebut. Semakin
tinggi tingkat pertumbuhan perusahaan, maka semakin besar
kebutuhan-kebutuhan perusahaan tersebut atas dana untuk melakukan ekspansi finansial.
Pratiwi (2011) mengungkapkan bahwa tingkat pertumbuhan suatu
perusahaan akan menunjukkan sampai seberapa jauh perusahaan akan
menggunakan hutang sebagai sumber pembiayaannya. Pertumbuhan perusahaan
merupakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan size. Perusahaan dengan
tingkat pertumbuhan potensial yang tinggi memiliki kecenderungan untuk
menghasilkan arus kas yang tinggi di masa yang akan datang dan kapitalisasi
modal yang rendah. Tingkat pertumbuhan yang tinggi akan menyebabkan
semakin rendah pula rasio hutang terhadap ekuitas, dengan asumsi variabel yang
lain konstan. Informasi akan pertumbuhan perusahaan merupakan hal positif bagi
pasar. Suatu perusahaan yang memiliki pertumbuhan positif akan memberikan
sinyal yang baik bagi investor, karena dinilai memiliki aspek yang
menguntungkan. Dengan demikian akan meningkatkan nilai perusahaan.
Dalam penelitian ini, pertumbuhan perusahaan (growth) diukur dengan
menggunakan perubahan total aset. Pertumbuhan perusahaan adalah selisih total
aset yang dimiliki perusahaan pada periode sekarang dengan periode sebelumnya
terhadap total aset periode sebelumnya. Perhitungan growth dilakukan dengan
menggunakan rumus Haruman (2008) dalam (Pratiwi, 2011):
2.4 Size
Size merupakan simbol dari ukuran perusahaan. Ukuran suatu perusahaan
dapat dilihat dari total aset yang dimiliki. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan
diukur dengan log of total assets. Log of total assets ini digunakan untuk
mengurangi perbedaan signifikan antara ukuran perusahaan yang besar dengan
ukuran perusahaan yang terlalu kecil, maka nilai total aset dibentuk menjadi
logaritma natural.
Menurut Kartika (2009: 112), menyatakan bahwa, “perusahaan-perusahaan
besar biasanya lebih suka melakukan diversifikasi dibandingkan dengan
kecil”. Perusahaan yang melakukan diversifikasi dan perusahaan yang memiliki
kemungkinan untuk bangkrut lebih kecil tentunya menyiratkan akan nilai
perusahaan yang lebih baik.
Selain jika itu perusahaan memiliki total aset yang besar, maka pihak
manajemen akan lebih leluasa dalam mempergunakan aset yang ada di perusahaan
tersebut. Kebebasan itu tentunya dimanfaatkan untuk dapat mencapai tujuan
perusahaan, meningkatkan kegiatan operasional perusahaan, dan tentu saja untuk
meningkatkan nilai perusahaan tersebut. Perhitungan size dilakukan dengan
menggunakan rumus Silaban (2013):
2.5 Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian yang relevan sebagai bahan referensi dalam
penelitian ini adalah:
Septika Soputri Silaban (2013), melakukan penelitian yang berjudul
“Pengaruh Kinerja Keuangan, Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan
Perusahaan, dan Kebijakan Investasi terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan
Perbankan yang terdaftar di BEI”. Variabel independennya adalah Return on
Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), Firm Size, Firm Growth, dan Price
Earning Ratio (PER), sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan
yang diproksikan dengan Price Book Value (PBV). Teknik analisis yang
digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan
Sedangkan DER dan Growth berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap
PBV.
Debbianita (2012), melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh
Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan pada Industri Barang Konsumsi di
Bursa Efek Indonesia”. Variabel independennya adalah Debt to Assets Ratio
(DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Assets Ratio (LDAR), dan
Longterm Debt to Equity Ratio (LDER), sedangkan variabel dependennya adalah
Nilai Perusahaan yang diproksikan dengan Price Book Value (PBV). Teknik
analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa DAR dan DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap
PBV. Sedangkan LDAR dan LDER berpengaruh negatif dan tidak signifikan
terhadap PBV.
Kusnaeni Diyah (2012), melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh
Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan dengan Pertumbuhan Perusahaan
sebagai Variabel Moderating”. Variabel independennya adalah Debt to Equity
Ratio (DER), Pertumbuhan aktiva (growth), sedangkan variabel dependennya
adalah Nilai Perusahaan yang diproksikan dengan Price Book Value (PBV).
Teknik analisis yang digunakan adalah moderated regression analysis (MRA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa DER dan Growth berpengaruh positif dan
tidak signifikan terhadap PBV. Sedangkan DER berpengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap PBV dengan growth sebagai variabel moderating.
Moch. Ronni Noerirawan (2012), melakukan penelitian yang berjudul
Variabel independennya adalah Pertumbuhan aset (growth), Keputusan
Pendanaan (DER), Kebijakan Dividen (DPR), Tingkat Inflasi, dan Tingkat Suku
Bunga, sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan yang
diproksikan dengan Price Book Value (PBV). Teknik analisis yang digunakan
adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
growth dan DPR berpengaruh positif dan signifikan terhadap PBV, tingkat inflasi
berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PBV, DER berpengaruh negatif
dan tidak signifikan terhadap PBV. Sedangkan tingkat suku bunga berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap PBV.
Eva Eko Hidayati (2010), melakukan penelitian yang berjudul “Analisis
Pengaruh DER, DPR, ROE, dan Size terhadap PBV Perusahaan Manufaktur yang
listing di BEI Periode 2005-2007”. Variabel independennya adalah Debt to Equity
Ratio (DER), Dividend Payout Ratio (DPR), Return on Equity (ROE), Size, ,
sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan yang diproksikan
dengan Price Book Value (PBV). Teknik analisis yang digunakan adalah analisis
regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DER dan DPR
berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap PBV. Sedangkan ROE dan Size
Tabel 2.1
yang terdaftar di BEI
PBV ROE, DER,
berpengaruh positif dan
signifikan terhadap PBV.
Konsumsi di Bursa Efek
Indonesia
negatif dan tidak signifikan
terhadap PBV dengan
moderating.
terhadap Nilai Perusahaan
PBV Growth,
negatif dan tidak signifikan
terhadap PBV.
3. Tingkat Inflasi
berpengaruh positif dan
tidak signifikan terhadap
PBV.
4. Tingkat Suku Bunga
berpengaruh negatif dan
Manufaktur yang listing di
BEI Periode 2005-2007
2.6 Kerangka Konseptual
Agar dapat memahami secara jelas tentang alur berfikir pada penelitian ini,
maka diperlukan kerangka konseptual yang jelas. Kerangka konseptual merupakan
yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Berdasarkan
uraian dari teoritis dan tinjauan penelitian terdahulu, maka variabel independen
penelitian ini adalah leverage, grwoth, dan size, sedangkan variabel dependen
adalah nilai perusahaan.
Perusahaan yang mempunyai rasio leverage yang tinggi, berarti proporsi
hutangnya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya dan akan
cenderung melakukan manipulasi dalam bentuk manajemen laba. Perusahaan
dengan leverage tinggi akan menerapkan standar akuntansi yang menurunkan atau
menaikkan laba yang dilaporkan. Hasil penelitian konsisten dengan hipotesis
bahwa perusahaan dengan leverage yang tinggi cenderung mengatur laba yang
dilaporkan. Hal ini akan direaksi secara negatif oleh investor. Perusahaan dengan
leverage yang tinggi akan memiliki nilai perusahaan yang rendah.
Kegiatan investasi akan memberi sinyal tentang pertumbuhan pendapatan
perusahaan yang diharapkan di masa mendatang dan mampu meningkatkan nilai
pasar saham perusahaan. Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan (growth) yang
baik diharapkan dapat memberikan profitabilitas yang lebih besar di masa depan.
Pasar akan bereaksi secara positif terhadap pertumbuhan perusahaan, sehingga
dengan adanya peningkatan perusahaan setiap periodenya maka akan
meningkatkan nilai perusahaan.
Perusahaan yang memiliki total aset besar menunjukkan bahwa
perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini
arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang baik
perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding
perusahaan dengan total aset yang kecil. Hal ini dapat menjadi sinyal positif bagi
pasar, dimana para investor akan lebih suka berinvestasi pada perusahaan besar,
karena kondisi keuangan perusahaan yang lebih kuat dan kemampuan
menghasilkan laba yang lebih baik. Perusahaan besar akan lebih dipilih investor,
karena jaminan kepastian operasi dan prospek bisnis di masa depan yang lebih
baik. Hal ini akan direspon dengan peningkatan harga saham perusahaan yang
menyebabkan peningkatan nilai perusahaan.
Nilai perusahaan dinilai sebagai penghargaan investor terhadap sebuah
perusahaan. Nilai tersebut tercermin pada harga saham perusahaan. Investor yang
menilai perusahaan memiliki prospek yang baik di masa depan akan cenderung
membeli saham perusahaan tersebut. Akibatnya permintaan saham yang tinggi
menyebabkan harga saham meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa harga
saham yang meningkat menunjukkan bahwa investor memberikan nilai yang
tinggi terhadap perusahaan. Dengan meningkatnya harga saham, pemegang saham
akan mendapatkan keuntungan melalui capital gains. Aspek utama yang
menyebabkan investor memberikan nilai terhadap perusahaan adalah kinerja
perusahaan yang tercermin dalam angka laba. Secara umum investor menilai laba
yang tinggi menunjukkan prospek yang baik di masa depan.
Berdasarkan tinjauan pustaka dan diperkuat hasil penelitia terdahulu
diduga bahwa Leverage yang terdiri dari rasio Debt to Assets Ratio (DAR), Debt
to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Assets Ratio (LDAR), Longterm Debt to
yang diproksikan dengan Price Book Value (PBV). Dengan demikian dapat
dirumuskan kerangka konseptual penelitian sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.7 Hipotesis
Berdasarkan kerangka konseptual, maka hipotesis penelitian adalah Debt
to Assets Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Assets
Ratio (LDAR), Longterm Debt to Equity Ratio (LDER), Growth, dan Size
berpengaruh signifikan terhadap Price Book Value (PBV) Perusahaan Indeks
LQ-45 di Bursa Efek Indonesia. DER(X2)
LDAR(X3)
PBV (Y) DAR(X1)
LDER(X4)
Growth (X5)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif. Penelitian
asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh atau
hubungan antara dua variabel atau lebih. Dalam penelitian ini, akan dilihat
pengaruh leverage, growth, dan size terhadap nilai perusahaan indeks LQ-45 di
Bursa Efek Indonesia.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui media internet
dengan menggunakan situ
Agustus 2013 sampai dengan Juni 2014.
3.3 Batasan Operasional
Adapun yang menjadi batasan operasional dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Variabel yang digunakan dalam penelitian terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu:
a. Variabel independen yaitu Leverage yang terdiri dari rasio Debt to Asset
Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Asset Ratio
b. Variabel terikat (dependent variable), yaitu Price Book Value (PBV).
2. Perusahaan yang menjadi sampel penelitian adalah Indeks LQ-45 di Bursa
Efek Indonesia.
3. Data yang digunakan adalah data laporan keuangan tahunan perusahaan
periode 2009-2012.
3.4 Defenisi Operasional Variabel
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel Independen
1. Debt to Assets Ratio (DAR)
Debt to Assets Ratio (DAR) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur seberapa besar investasi aktiva dibiayai dengan total hutang.
Perhitungan DAR dilakukan dengan menggunakan rumus (Irawati, 2006):
2. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban dalam membayar
hutangnya dengan jaminan modal sendiri. Perhitungan DER dilakukan dengan
menggunakan rumus (Irawati, 2006):
3. Long Debt to Assets Ratio (LDAR)
Long Debt to Assets Ratio (LDAR) merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur seberapa jauh besar hutang jangka panjang digunakan untuk
investasi pada sektor aset. Perhitungan LDAR dilakukan dengan menggunakan
rumus (Hanafi, 2003):
4. Long Debt to Equity Ratio (LDER)
Long Debt to Equity Ratio (LDER) merupakan rasio yang digunakan
untuk menunjukkan hubungan antara jumlah pinjaman jangka panjang yang
diberikan kreditur dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik
perusahaan. Perhitungan LDER dilakukan dengan menggunakan rumus (Hanafi,
2003):
5. Growth
Growth merupakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan size serta
suatu aspek yang menunjukkan sampai seberapa jauh perusahaan akan
menggunakan hutang sebagai sumber pembiayaannya. Perhitungan growth
6. Size
Size merupakan simbol ukuran perusahaan yang menjelakan fleksibilitas
dalam memperoleh modal. Perhitungan size dilakukan dengan menggunakan
rumus Silaban (2013):
b. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Nilai Perusahaan yang
diproksikan dengan Price Book Value (PBV). PBV merupakan rasio harga saham
terhadap nilai buku perusahaan yang menunjukkan seberapa besar nilai harga
saham per lembar dibandingkan dengan nilai buku per lembar saham. Perhitungan
PBV dilakukan dengan menggunakan rumus (Brigham dan Houston 2009):
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel Penelitian
Variabel Definisi Indikator
Skala
Ukur
DAR
(X1)
rasio yang digunakan untuk
mengukur seberapa besar
investasi aktiva dibiayai
dengan total hutang
DER
(X2)
rasio yang digunakan untuk
mengukur kemampuan
Variabel Definisi Indikator
Skala
Ukur
LDAR
(X3)
rasio yang digunakan untuk
mengukur seberapa jauh
besar hutang jangka
panjang digunakan untuk
investasi pada sektor aset
Rasio
LDER
(X4)
rasio yang digunakan untuk
menunjukkan hubungan
antara jumlah pinjaman
jangka panjang yang
diberikan kreditur dengan
jumlah modal sendiri yang
diberikan oleh pemilik
perusahaan
Growth
(X5)
kemampuan perusahaan
untuk meningkatkan size
serta suatu aspek yang
menunjukkan sampai
rasio harga saham terhadap
nilai buku perusahaan yang
menunjukkan seberapa
besar nilai harga saham per
lembar dibandingkan
dengan nilai buku per
lembar saham
Rasio
3.5 Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan indeks
LQ45 yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2009 sampai dengan
2012, yaitu sebanyak 39 perusahaan.
Penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan kriteria
Tabel 3.2
Kriteria Pemilihan Sampel
No Keterangan Jumlah
1
Perusahaan indeks LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada periode februari – juli dan agustus -
januari tahun 2009-2012
45
2
Perusahaan indeks LQ-45 yang tidak memiliki laporan
keuangan lengkap februari – juli dan agustus - januari
di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2012
(4)
3
Perusahaan indeks LQ-45 yang tidak menetap pada
periode februari – juli dan agustus - januari di Bursa
Efek Indonesia tahun 2009-2012
(3)
Total Sampel 38
Sumber: www.idx.co.id, 2014 (data diolah)
Berdasarkan kriteria sampel, maka jumlah sampel pada penelitian ini adalah
sejumlah 38 perusahaan dengan periode waktu tahun 2009 sampai dengan 2012.
Angka tahun pengamatan selama 4 tahun (2009-2012). Jumlah observasi
penelitian ini: 4 tahun x 38 sampel adalah sebanyak 152 observasi. Sampel yang
Tabel 3.3
Daftar Sampel Perusahaan Indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia
No Emiten Kode Emiten Sektor Industri Tanggal Listing
1 PT. Astra Agro Lestari Tbk AALI Pertanian 09 Desember 1997
2 PT. Adaro Energy Tbk ADRO Pertambangan 16 Juli 2008
3 PT. AKR Corporindo Tbk AKRA Perdagangan, Jasa dan Investasi 03 Oktober 1994
4 PT. Astra International Tbk ASII Aneka Industri 04 April 1990
5 PT. Alam Sutera Realty Tbk ASRI Properti, Real Estate Dan Konstruksi Bangunan 18 Desember 2007
6 PT Bank Central Asia Tbk. BBCA Keuangan 31-May-2000
7 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. BBNI Keuangan 25-Nov-1996
8 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. BBRI Keuangan 10-Nov-2003
9 PT Bank Danamon Indonesia Tbk BDMN Keuangan 6-Dec-1989
10 PT. MNC Investama Tbk BHIT Perdagangan, jasa dan Investasi 24 November 1997
11 PT. Sentul City Tbk BKSL Properti, Real Estate Dan Konstruksi Bangunan 28 Juli 1997
12 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk BMRI Keuangan 14-Jul-2003
No Emiten Kode Emiten Sektor Industri Tanggal Listing
13 PT. Global Medicom Tbk BMTR Perdagangan, Jasa dan Investasi 17 Juli 1995
14 PT. Bumi Serpong Damai Tbk BSDE Properti, Real Estate Dan Konstruksi Bangunan 6 Juni 2008
15 PT. Bumi Resources Tbk BUMI Pertambangan 30 Juli 1990
16 PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk CPIN Indusri Dasar dan Kimia 18 Maret 1991
17 PT. XL Axiata Tbk EXCL Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi 29 September 2005
18 PT. Gudang Garam Tbk GGRM Industri Barang Konsumsi 27 Agustus 1990
19 PT. Indomobil Sukses International Tbk IMAS Aneka Industri 15 November 1993
20 PT. Vale Indonesia Tbk INCO Pertambangan 16 Mei 1990
22 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk INTP Industri Dasar dan Kimia 05 Desember 1989
23 PT. Indo Tambangraya Megah Tbk ITMG Pertambangan 18 Desember 2007
24 PT. Jasa Marga (Persero) Tbk JSMR Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi 12 November 2007
25 PT. Kalbe Farma Tbk KLBF Industri barang Konsumsi 30 Juli 2001
26 PT. Lippo Karawaci Tbk LPKR Properti, Real Estate Dan Konstruksi Bangunan 28 Juni 1996
27 PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk LSIP Pertanian 05 Juli 1996
28 PT. Malindo Feedmill Tbk MAIN Industri Dasar dan Kimia 27 Januari 2006
29 PT. Mitra Adiperkasa Tbk MAPI Perdagangan, Jasa dan Investasi 10 November 2004
30 PT. Media Nusantara Citra Tbk MNCN Perdagangan, Jasa dan Investasi 22 Juni 2007
31 PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk PGAS Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi 15 Desember 2003
32 PT. Bukit Asam (Persero) Tbk PTBA Pertambangan 23 Desember 2002
33 PT. Holcim Indonesia Tbk SMCB Industri Dasar dan Kimia 10 Agustus 1977
34 PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk SMGR Industri Dasar dan Kimia 08 Juli 1991
35 PT. Surya Semesta Internusa Tbk SSIA Properti, Real Estate Dan Konstruksi Bangunan 27 Maret 1997
36 PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tb TLKM Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi 14 November 1995
37 PT. United Tractors Tbk UNTR Perdagangan, Jasa dan Investasi 19 September 1989
38 PT. Unilever Indonesia Tbk UNVR Industri barang Konsumsi 11 Januari 1982
Sumber
3.6 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, berupa
laporan data keuangan Perusahaan Indeks LQ-45 yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan
keuangan perusahaan indeks LQ-45 yang di akses melalui situs www.idx.co.id
yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua
tahap, yaitu studi kepustakaan dan studi dokumentasi. Metode pengumpulan data
tahap pertama melalui studi kepustakaan (literatur) yaitu dengan menelaah
jurnal-jurnal ilmiah keuangan, skripsi, tesis, artikel, serta buku-buku yang berkaitan
dengan permasalahan yang diteliti. Metode pengumpulan data tahap kedua
melalui studi dokumentasi, yaitu mengumpulkan data-data berupa laporan
keuangan tahunan dan harga saham pada sampel perusahaan yang terdaftar di
Index LQ-45 yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia selama tahun 2009,
2010, 2011, dan 2012 melalui penelusuran dengan format elektronik yang
diperoleh dari situs resmi Indonesian Stock Exchange (IDX), yaitu
3.8 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah
analisis data kuantitatif, untuk memperkirakan secara kuantitatif pengaruh dari
beberapa variabel independen secara simultan maupun parsial terhadap variabel
dependen dan perhitungannya menggunakan metode standar yang dibantu dengan
program Statistical Package Social Sciences (SPSS) versi 18.
Hubungan fungsional antara satu variabel dependen dengan variabel
independen dapat dilakukan dengan regresi berganda dan menggunakan data
gabungan antara time series dan cross section. Metode analisis yang digunakan
adalah analisis regresi linier berganda dengan model sebagai berikut:
Y = Price Book Value (PBV)
a = Konstanta
b1 = Koefisien regresi dari rasio Debt to Assets Ratio (DAR)
b2 = Koefisien regresi dari rasio Debt to Equity Ratio (DER)
b3 = Koefisien regresi dari Longterm Debt to Assets Ratio (LDAR)
b4 = Koefisien regresi dari rasio Longterm Debt to Equity Ratio (LDER)
b5 = Koefisien regresi dari rasio Growth
b6 = Koefisien regresi dari rasio Size
X1 = Debt to Assets Ratio (DAR)
X2 = Debt to Equity Ratio (DER)
X3 = Longterm Debt to Assets Ratio (LDAR)
X4 = Longterm Debt to Equity Ratio (LDER)
X5 = Growth
X6 = Size
e = Standar error
Model persamaan yang diperoleh dari pengolahan data diupayakan tidak
terjadi gejala multikolinieritas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Untuk
mengetahui ada tidaknya gejala-gejala tersebut akan dilakukan uji asumsi klasik
terlebih dahulu.
3.8.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada
dan Lufti, 2012: 100). Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui kondisi data
yang digunakan dalam penelitian. Hal ini dilakukan agar diperoleh model analisis
yang tepat, yaitu memenuhi model estimasi yang Best Linier Unbiased Estimator.
Model analisis regresi linier penelitian ini mensyaratkan uji asumsi terhadap
data yang meliputi: uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas,
dan uji autokorelasi.
3.8.2 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data
mengikuti atau mendekati distribusi normal yakni distribusi data dengan bentuk
lonceng. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola distribusi normal,
yakni distribusi data tersebut tidak menceng ke kiri atau ke kanan (Situmorang
dan Lufti, 2012: 100).
Ada tiga cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau
tidak, yaitu dengan pendekatan histogram, pendekatan grafik, dan pendekatan
Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas data dengan pendekatan histogram dapat
dilihat dengan kurva normal yaitu kurva yang memiliki ciri-ciri khusus, salah
satunya adalah bahwa mean, mode, dan median pada tempat yang sama. Pada
pendekatan histogram variabel berdistribusi normal jika dapat ditunjukkan oleh
distribusi data yang tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan.
Metode lain yang dapat digunakan adalah pendekatan grafik, dengan
melihat normal probability plot. Dasar pengambilan keputusan normal probability
1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh garis diagonal dan tidak mengkuti arah garis
diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Untuk mendeteksi normalitas data dapat dilakukan dengan uji statistik
Kolmogorov Smirnov (K-S). Dasar pengambilan keputusan berdasarkan uji
Kolmogorov Smirnov (K-S) dapat dilihat dari:
1. Nilai sig. atau signifikan atau probabilitas < 0,05 maka distribusi data adalah
tidak normal.
2. Nilai sig. atau signifikan atau probabilitas > 0,05 maka distribusi data adalah
normal.
3.8.3Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi diantara variabel independen. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk melihat ada
atau tidaknya multikolinieritas dalam model regresi dilihat dari nilai Tolerance
dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF). Nilai cut off atau batasan yang
umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinieritas adalah nilai
Dasar pengambilan keputusan untuk mendeteksi ada atau tidak adanya
multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat toleransi variabel dan VIF
dengan membandingkan (Situmorang dan Lufti, 2012: 140):
1. Jika nilai Tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 5, maka diduga mempunyai
persoalan multikolinieritas, artinya model regresi tersebut tidak baik.
2. Jika nilai Tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 5, maka tidak terdapat
multikolinieritas, artinya model regresi tersebut baik.
3.8.4Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas pada prinsipnya ingin menguji apakah sebuah grup
mempunyai varians yang sama di antara anggota grup tersebut. Jika varians sama,
dan ini yang seharusnya terjadi maka dikatakan ada homoskedastisitas. Sedangkan
jika varians tidak sama dikatakan terjadi heteroskedastisitas (Situmorang dan
Lufti, 2012: 108). Dasar analisis untuk menentukan ada atau tidaknya
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu:
1. Pendekatan grafik
Dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu
yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka
mengindikasikan terjadi heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di
bawah angka nol (0) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Yaitu dengan melakukan uji Glejser. Pengujian ini dilakukan dengan
men-transform data Understandardized Residual ke dalam Absut (Situmorang dan
Lufti, 2012: 116). Dari hasil output akan diketahui berapa besar nilai
signifikansinya. Apabila nilai Sig. > 5%, disimpulkan model regresi tidak
mengarah adanya heteroskedastisitas.
3.8.5Uji Autokolerasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear
ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada periode sebelumnya (Situmorang dan Lufti¸ 2012: 120). Metode
yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi salah
satunya adalah dengan menggunakan uji Durbin Watson, dengan kriteria
pengambilan keputusan yaitu:
Tabel 3.4
Kriteria Pengambilan Keputusan Durbin Watson
Hipotesis Nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl
Tidak ada autokorelasi positif No decision dl ≤ d ≤ du
Tidak ada korelasi negatif Tolak 4 – dl < d < 4
Tidak ada korelasi negatif No decision 4 – du ≤ d ≤ 4 - dl
Tidak ada autokorelasi positif atau negatif Tidak ditolak du < d < 4 - du
3.9Uji Hipotesis
3.9.1 Pengujian secara Simultan (Uji F)
Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang
dimasukkan ke dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap
variabel dependen. Bentuk pengujian yaitu:
1. H0 : b1=b2=b3=b4=b5=b6=0, artinya Debt to Assets ratio (DAR), Debt to
Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Assets Ratio (LDAR), Longterm Debt
to Equity Ratio (LDER), Growth, dan Size secara simultan berpengaruh tidak
signifikan terhadap Nilai Perusahaan Indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia.
2. H1 : b1 b2 b3 b4 b5 b6 0, artinya Debt to Assets ratio (DAR), Debt to
Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Assets Ratio (LDAR), Longterm Debt
to Equity Ratio (LDER), Growth, dan Size secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap Nilai Perusahaan Indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia.
Pada penelitian ini nilai Fhitung akan dibandingkan dengan Ftabel pada tingkat
signifikan ) = 5%. Kriteria penilaian hipotesis pada uji-F ini adalah:
1. Jika Sig > 0,05 dan Fhitung < Ftabel maka H0 diterima atau H1 ditolak.
2. Jika Sig < 0,05 dan Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak atau H1 diterima.
3.9.2 Pengujian Secara Parsial (Uji t)
Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
penjelas/ independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen.
1. H0 : bi = 0, artinya Debt to Assets ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER),
Longterm Debt to Assets Ratio (LDAR), Longterm Debt to Equity Ratio
(LDER), Growth, dan Size secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap
Nilai Perusahaan Indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia.
2. H1 : bi 0, artinya Debt to Assets ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER),
Longterm Debt to Assets Ratio (LDAR), Longterm Debt to Equity Ratio
(LDER), Growth, dan Size secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Nilai
Perusahaan Indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia.
Pada penelitian ini nilai thitung akan dibandingkan dengan ttabel pada tingkat
signifikan ) = 5%. Kriteria pengambilan keputusan dalam pengujian hipotesis
secara parsial pada uji-t ini adalah:
1. Jika Sig > 0,05 dan thitung < ttabel maka H0 diterima atau H1 ditolak.
2. Jika Sig < 0,05 dan thitung > ttabel maka H0 ditolak atau H1 diterima.
3.9.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi pada intinya mengukur proporsi atau
persentase sumbangan variabel bebas terhadap variabel terikat secara
bersama-sama. Range nilai dari koefisien determinasi adalah 0 ≤ ≤ 1 (Situmorang dan
Lufti, 2012: 163). Kelemahan penggunaan koefisien determinasi adalah bias
terhadap jumlah variabel independen.
Semakin banyak variabel independen ditambahkan ke dalam model, maka
akan meningkat walaupun variabel tersebut tidak berpengaruh secara
keraguan tersebut. Nilai Adjusted R Square menunjukkan proporsi variabel
dependen yang dijelaskan oleh variabel independen. Semakin tinggi nilai Adjusted
R Square maka akan semakin baik bagi model regresi karena menandakan bahwa
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahan yang
terdaftar di sektor index LQ-45 selama periode tahun 2010-2012. Sampel yang
terpilih sebanyak 42 perusahaan. Berikut adalah nama-nama perusahaan yang
dipilih menjadi objek penelitian.
4.1.1. PT. Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
PT. Astra Agro Lestari Tbk adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit
terkemuka di Indonesia yang telah berdiri pada tanggal 3 Oktober 1988. Perseroan
mencatatkan sahamnya di BEI pada tanggal 9 Desember 1997 dengan komposisi
kepemilikan saham oleh investor publik saat ini sebesar 20,3%. Pada tahun 1988,
PT. Astra International Tbk selaku induk perusahaan, memutuskan menjadikan
unit bisnis perkebunan kelapa sawit sebagai entitas baru dengan nama PT.
Suryaraya Cakrawala. Tahun 1989, PT. Suryaraya Cakrawala diubah menjadi PT.
Astra Agro Niaga. Pada tahun 1977, PT. Astra Agro Niaga merger dengan PT.
Suryaraya Bahtera dan mengubah namanya menjadi PT. Astra Agro Lestari.
4.1.2. PT. Adaro Energy Tbk (ADRO)
Adaro adalah perusahaan yang berfokus pada bisnis pertambangan
batubara yang terintegrasi melalui anak-anak perusahaannya. Lokasi utama
operasional Adaro berada di provinsi Kalimantan Selatan dimana Adaro
kalori sedang dan kandungan sulfur, abu, dan emisi Nox yang sangat rendah.
Perusahaan ini berdiri pada tanggal 28 Juli 2004 dan mencatatkan sahamnya di
BEI pada tanggal 16 Juli 2008 dengan komposisi kepemilikan saham oleh
investor publik saat ini sebesar 49,86%.
4.1.3. PT. AKR Corporindo Tbk (AKRA)
PT. AKR Corporindo Tbk adalah perusahaan penyedia solusi supply chain
terpadu yang beroperasi dalam distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan bahan
kimia dasar, jasa logistik, pembuatan sorbitol, dan bahan perekat, serta
pertambangan dan perdagangan batubara. Perusahaan ini berdiri pada tanggal 28
November 1977 dan mencatatkan sahamnya di BEI pada tanggal 3 Oktober 1994.
Komposisi kepemilikan saham oleh investor publik saat ini sebesar 41,23%.
4.1.4. PT. Astra International Tbk (ASII)
Astra pertama kali didirikan sebagai perusahaan perdagangan di sebuah
ruang kecil di Jakarta pada tahun 1957. Di usia yang ke-57 tahun saat ini, Astra
telah berkembang menjadi salah satu perusahaan terbesar nasional yang diperkuat
185.580 orang karyawan di 170 perusahaan termasuk anak perusahaan,
perusahaan asoisasi dan jointly controlled entities. Pada tanggal 4 April 1990,
Astra mencatatkan sahamnya di BEI dengan komposisi kepemilikan saham oleh
investor publik saat ini sebesar 49,91%.
4.1.5. PT. Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)
PT. Alam Sutera Realty Tbk didirikan pada tanggal 3 November 1993
keluarga yang memfokuskan kegiatan usahanya di bidang properti. Perusahaan
mengganti nama menjadi PT. Alam Sutera Realty Tbk dengan akta tertanggal 19
September 2007 No.71 dibuat oleh Misahardi Wilamarta, S.H., Notaris di Jakarta.
Pada tanggal 18 Desember 2007 perusahaan menjadi perusahaan publik dengan
melakukan penawaran umum di BEI dengan komposisi kepemilikan saham oleh
investor publik saat ini sebesar 36,06%.
4.1.6. PT. Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Pada tahun 1955 berdiri sebuah perusahaan yang bernama NV Perseroan
Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory sebagai cikal bakal Bank
Central Asia (BCA). Pada tahun 1957, BCA mulai beroperasi pada 21 Februari
1957 dan berkantor pusat di Jakarta. Pada 1970-an BCA memperkuat jaringan
layanan cabang. Tahun 1977 BCA berkembang menjadi Bank Devisa. Pada
tanggal 31 Mei 2000 perusahaan ini menjadi perusahaan publik dengan
melakukan penawaran umum di BEI dengan komposisi kepemilikan saham oleh
investor publik saat ini sebesar 54,42%.
4.1.7. PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) didirikan oleh
Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1946 dan awalnya sempat berfungsi
sebagai bank sentral di Indonesia, sebelum akhirnya beroperasi sebagai bank
komersial sejak tahun 1955. BNI tercatat di BEI pada tanggal 25 November 1996
dan menjadi bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) pertama yang
memegang 60,61% saham BNI, sementara sisanya 39,39% dimiliki oleh
pemegang saham publik baik individu maupun institusi, domestik, dan asing.
4.1.8. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
Bank Rakyat Indonesia (BRI) merupakan salah satu bank terbesar di
Indonesia yang sekaligus merupakan salah satu bank yang memberikan layanan
microbanking terbesar di dunia. Pendirian perusahaan pada tanggal 18 Desember
1968. Saham Perseroan telah dicatatkan di BEI pada tanggal 10 November 2003.
Pada tahun 2013, Pemerintah Republik Indonesia memegang 57,32% saham BRI,
sementara sisanya 42,68% dimiliki oleh pemegang saham publik baik individu
maupun institusi, domestik, dan asing.
4.1.9. PT. Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN)
Sejarah Danamon dimulai pada tahun 1956 ketika didirikan sebagai Bank
Kopra Indonesia. Di tahun 1976 nama tersebut kemudian diubah menjadi PT.
Bank Danamon Indonesia. Di tahun 1988, Danamon menjadi bank devisa dan
setahun kemudian mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di BEI pada
tanggal 6 Desember 1989. Komposisi kepemilikan saham oleh investor publik
saat ini sebesar 25,49%. Di tahun 2013, Asia Financial (Indonesia) Pte. Ltd
mengakuisisi Danamon, melalui konsorsium Fullerton Financial Holdings, anak
perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Temasek Holdings, dan Deutsche
Bank AG yang merupakan pemegang saham pengendali.
4.1.10 PT. Bhakti Investama Tbk (BHIT)
PT. Bhakti Investama Tbk (BHIT) adalah perusahaan yang bergerak di