Proficiency Testing System of Agricultural Product for National Laboratory Accreditation

197  48  Download (4)

Teks penuh

(1)

SISTEM UJI PROFISIENSI

PRODUK AGROINDUSTRI UNTUK AKREDITASI

LABORATORIUM NASIONAL

FAJARINA BUDIANTARI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Sistem Uji Profisiensi Produk Agroindustri untuk Akreditasi Laboratorium Nasional adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juni 2012

(3)

ABSTRACT

FAJARINA. Proficiency Testing System of Agricultural Product for National Laboratory Accreditation. Under supervision of Yandra Arkeman and Julia Kantasubrata.

Proficiency testing was inter laboratory comparisons. The same sample could have different test results when tested in some different laboratories. To find out and improve the performance of laboratories, proficiency testing can be done. Different evaluation of test results from participant laboratories could make different interpretations of the proficiency testing, which means it can also affect the assessment of the participant laboratories. The aims of this research are 1) to design a system for proficiency testing by using several evaluation methods of test results 2) to identify the testing methods used by the participant laboratories and possible causes of outlier laboratories. The method used in this research are: method 1: one round data selection by Grubbs and the rest of the data is calculated by Robust Z-Score; method 2: data selection by Grubbs several times until no more data can be excluded and the rest data is calculated by Robust Z-score; method 3: direct calculation by Robust Z-Score; method 4: calculation by reference value. The data used are the results of proficiency testing of cocoa powder, chili sauce and vegetable oil; reference values come from German reference laboratory; interview result from the stakeholders and field observations for related testing. The results show the median from Indonesian laboratories are not too different from the reference value; distributions of data are large enough, proved by CV robust larger than CV Horwitz (except for cadmium and the amount of dissolved solid); method 2 is chosen as the best method based on the smallest CV Robust; method 2 is the most sensitive which is giving the bigger number of outlier laboratories than methods 1 and 3; the number of outlier laboratories with method 2 are less than method 4; testing laboratories using National Standard of Indonesia (SNI) obtained satisfactory results (40% -100%) by method 2, for most of the test parameters; possible causes of outlier laboratories results come from a variety factors, particularly the implementation of testing that does not comply with the testing method.

(4)

RINGKASAN

FAJARINA. Sistem Uji Profisiensi Produk Agroindustri untuk Akreditasi Laboratorium Nasional. Dibawah bimbingan Yandra Arkeman dan Julia Kantasubrata.

Uji profisiensi adalah uji banding antar laboratorium. Laboratorium

menganalisis sampel yang sama dan homogen. Sampel yang sama dapat mempunyai data hasil analisis yang berbeda apabila dianalisis pada beberapa laboratorium yang berbeda. Perbedaan hasil pengujian yang cukup besar dapat menimbulkan keraguan dalam mengambil suatu keputusan atau kesimpulan. Untuk mengetahui unjuk kerja laboratorium dan meningkatkan kinerja laboratorium dapat dilakukan uji profisiensi. Evaluasi hasil uji profisiensi yang berbeda dapat menyebabkan interpretasi hasil uji profisiensi yang berbeda pula. Hal ini berarti berpengaruh pula bagi penilaian kinerja laboratorium peserta.

Penelitian ini bertujuan 1) merancang sistem uji profisiensi dengan evaluasi hasil uji menggunakan beberapa metode pendekatan (Metode 1: seleksi data Grubbs 1 kali kemudian terhadap data yang tersisa dilakukan perhitungan Robust Z-score; Metode 2: seleksi data Grubbs berulang kali sampai tidak ada lagi data yg keluar, kemudian terhadap data yang tersisa dilakukan perhitungan Robust Z-score; Metode 3: langsung Robust Z-score; Metode 4: menggunakan nilai acuan); 2) menganalisis metode pengujian yang digunakan oleh peserta (terutama SNI); 3) mengidentifikasi kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak memuaskan.

Data yang digunakan adalah data uji profisiensi untuk komoditi kakao bubuk (parameter pengujiannya adalah kadar air, kadar lemak, kehalusan lolos ayakan, dan kadmium), saus cabe (parameter pengujiannya adalah kalium sorbat, natrium benzoat, sakarin, dan jumlah padatan terlarut), dan minyak nabati (parameter pengujiannya adalah miristat, palmitat, stearat, oleat, dan linoleat); nilai acuan dari laboratorium acuan Jerman; interview kepada stake holder terkait (pakar uji profisiensi, laboratorium penyiap sampel), observasi lapangan pelaksanaan pengujian parameter terkait.

(5)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa median laboratorium peserta Indonesia tidak terlalu berbeda dengan nilai acuan. Namun demikian penyebaran/distribusi data cukup besar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebanyakan laboratorim di Indonesia mempunyai bias. Sebaran data hasil uji profisiensi cukup besar dibuktikan dengan CV Robust yang lebih besar dari CV Horwitz (kecuali untuk kadmium pada kakao bubuk dan jumlah padatan terlarut pada saus cabe). CV Robust yang menggambarkan penyebaran data untuk seluruh parameter pengujian dari peserta uji profisiensi berkisar antara 5.71% – 42.29% sedangkan CV Horwitz yang merupakan CV harapan berkisar 2.76% – 18.71%.

Metode evaluasi terpilih merupakan metode yang paling sensitif, dalam arti memberikan jumlah laboratorium tidak memuaskan paling banyak dibandingkan metode evaluasi berdasarkan nilai median yang lain (metode evaluasi 1 dan 3). Jumlah laboratorium tidak memuaskan sesuai metode terpilih untuk seluruh parameter pengujian berkisar antara 1 laboratorium – 11 laboratorium, sedangkan jumlah laboratorium tidak memuaskan berdasarkan metode evaluasi berdasarkan nilai median yang lain berkisar antara 0 laboratorium – 7 laboratorium. Namun demikian jumlah laboratorium tidak memuaskan sesuai metode evaluasi terpilih adalah lebih sedikit apabila dibandingkan dengan metode evaluasi berdasarkan nilai acuan (metode 4). Jumlah laboratorium tidak memuaskan berdasarkan metode terpilih untuk seluruh parameter pengujian berkisar antara 1 laboratorium – 11 laboratorium, sedangkan jumlah laboratorium tidak memuaskan berdasarkan metode evaluasi berdasarkan nilai acuan berkisar antara 3 laboratorium – 17 laboratorium.

Laboratorium yang menggunakan metode pengujian Standar Nasional Indonesia (SNI) memperoleh hasil memuaskan (40%-100%) melalui metode evaluasi terpilih untuk sebagian besar parameter pengujiannya.

Kemungkinan penyebab kinerja laboratorium memperoleh hasil tidak memuaskan adalah dari berbagai faktor, dan penyebab tersebut harus diperbaiki. Kemungkinan penyebab utama kinerja laboratorium tidak memuaskan adalah peralatan dan langkah pengerjaan yang tidak sesuai dengan persyaratan.

(6)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(7)

SISTEM UJI PROFISIENSI

PRODUK AGROINDUSTRI UNTUK AKREDITASI

LABORATORIUM NASIONAL

FAJARINA BUDIANTARI

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Teknologi Industri Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Tesis : Sistem Uji Profisiensi Produk Agroindustri untuk Akreditasi Laboratorium Nasional

Nama : Fajarina Budiantari

NIM : F351100101

Disetujui Komisi Pembimbing

Ketua

Dr. Ir. Yandra Arkeman, M.Eng

Anggota Dr. Julia Kantasubrata

Diketahui

Ketua Program Studi

Teknologi Industri Pertanian

Dr. Machfud, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc., Agr

(10)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia Nya sehingga penelitian ini berhasil diselesaikan. Tesis yang berjudul Sistem Uji Profisiensi Produk Agroindustri untuk Akreditasi Laboratorium Nasional ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Terima kasih penulis haturkan kepada Bapak Dr. Ir. Yandra Arkeman, M.Eng dan Ibu Dr. Julia Kantasubrata selaku pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam melakukan penelitian untuk tugas akhir ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada orangtua, suami, anak, sahabat, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga tesis ini bermanfaat.

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 26 November 1975 sebagai anak sulung dari pasangan Bapak dr. Boedi Boedaja, AM, Sp.KJ (alm) dan Ibu Sri Utari, B.Sc. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, UGM Yogyakarta, lulus pada tahun 1999.

(12)

DAFTAR ISI

2.2 Uji Banding Antar Laboratorium (Uji Profisiensi)………. 6 6

2.3 Kakao Bubuk……….. 9 8

2.4 Saus Cabe……… 12 11

2.5 Minyak nabati ……… 15 14

2.6

2.7

Metode Evaluasi Uji Profisiensi dan Kemungkinan Penyebab Kinerja Laboratorium Tidak Memuaskan………. Penelitian Lain………

16 19

15

III. METODOLOGI PENELITIAN………. 21 19

3.1 Waktu Penelitian………...….. 21 19

4.1.1.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi……….. 4.1.1.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………... 4.1.1.3 Kemungkinan Penyebab Kinerja Laboratorium Tidak

Memuaskan………

4.1.2.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi………. 4.1.2.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ……….. 4.1.2.3 Kemungkinan Penyebab Kinerja Laboratorium Tidak

(13)

Halaman

4.1.3 Kehalusan Lolos Ayakan ………. 4.1.3.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil

Uji Profisiensi ………. 4.1.3.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………... 4.1.3.3 Kemungkinan Penyebab Kinerja Laboratorium Tidak

Memuaskan………

4.1.4.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ……… 4.1.4.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………. 4.1.4.3 Kemungkinan Penyebab Kinerja Laboratorium Tidak

Memuaskan ……….

4.2.1 Pengawet Kalium Sorbat ………... 4.2.1.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil

Uji Profisiensi ……… 4.2.1.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ……….

62

63 67

50

4.2.2 Pengawet Natrium Benzoat ……….. 4.2.2.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil

Uji Profisiensi ………. 4.2.2.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………..

68

68 70

54

4.2.3 Pemanis sakarin ………. 4.2.3.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil

Uji Profisiensi ……… 4.2.3.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya………...

71

71 73

58

4.2.4 Kemungkinan Penyebab Kinerja Laboratorium Tidak Memuaskan 73 ..

4.2.5 Jumlah padatan terlarut ………. 4.2.5.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil

Uji Profisiensi ………. 4.2.5.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ……….... 4.2.5.3 Kemungkinan Penyebab Kinerja Laboratorium Tidak

Memuaskan………

4.3.1.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ……….. 4.3.1.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………..

84

84 87

66

4.3.2 Miristat 2 ………

4.3.2.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ……….. 4.3.2.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………..

87

87 89

68

4.3.3 Palmitat 1 ………...

4.3.3.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ……….. 4.3.3.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ……….

90

98 92

(14)

Halaman

4.3.4 Palmitat 2 ………..

4.3.4.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ……….. 4.3.4.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………..

93

93 94

74

4.3.5 Stearat 1……….

4.3.5.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ……….. 4.3.5.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ……….

95

97 97

77

4.3.6 Stearat 2 ………

4.3.6.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ……….. 4.3.6.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………..

97

97 99

80

4.3.7 Oleat 1 ………

4.3.7.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ……….. 4.3.7.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………..

100

100 102

83

4.3.8 Oleat 2 ………

4.3.8.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ………... 4.3.8.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………..

102

102 104

85

4.3.9 Linoleat 1 ………...

4.3.9.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil Uji Profisiensi ………... 4.3.9.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ……….

105

105 107

88

4.3.10 Linoleat 2 ……….. 4.3.10.1 Distribusi Data, Ringkasan Statistika dan Evaluasi Hasil

Uji Profisiensi ……….………. 4.3.10.2 Metode Pengujian dan Kinerjanya ………..

107

109 110

91

4.3.11 Kemungkinan Penyebab Kinerja Laboratorium Tidak Memuaskan 104

4.4 Implikasi ………... 113 95

4.4.1 Metode Evaluasi Hasil Uji Terpilih (Berdasarkan Median)………. 113 95

4.4.2 Hasil Tidak Memuaskan dengan Grubbs dan Robust Z-Score 114 97

4.4.3 Metode Pengujian ………. 118 99

4.4.4 4.4.5

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Ringkasan statistika kadar air kakao bubuk (4 metode evaluasi). 34

2 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (kadar air)… 36

3 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (kadar air)………. 37

4 Ringkasan statistika lemak kakao bubuk (4 metode evaluasi)…. 42

5 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (lemak)…… 43

6 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (lemak)…………. 44

7 Ringkasan statistika kehalusan lolos ayakan (3 metode

evaluasi) ……….. 51

8 Ringkasan hasil Z-score dengan 3 metode evaluasi (kehalusan

lolos ayakan) ………. 52

9 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (kehalusan lolos

ayakan) ……….……. 53

10 Ringkasan statistika kadmium kakao bubuk (4 metode evaluasi) 56

11 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (kadar

kadmium) ………. 57

12 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (kadmium)……. 58

13 Ringkasan statistika kalium sorbat saus cabe (4 metode

evaluasi) ……….. 65

14 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (kalium

sorbat) ……….. 66

15 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (kalium sorbat) .. 67

16 Ringkasan statistika natrium benzoat saus cabe (4 metode

evaluasi) ……….. 68

17 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (natrium

benzoat) ……….. 69

18 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (natrium benzoat) 70

19 Ringkasan statistika sakarin saus cabe (4 metode evaluasi) … 71

20 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (sakarin) .. 72

21 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (sakarin) ……… 73

22 Ringkasan statistika padatan terlarut saus cabe (4 metode

evaluasi) ……… 78

23 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (padatan

terlarut) ……….... 79

24 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (padatan terlarut) 80

25 Ringkasan statistika parameter miristat 1 minyak nabati

dengan 4 metode evaluasi hasil uji ………. 85

(16)

Halaman

27 Ringkasan metode pengujian dan kinerjnya (miristat 1) …….. 87

28 Ringkasan statistika miristat 2 minyak nabati (3 metode evaluasi) ………..

88

29 Ringkasan hasil Z-score dengan 3 metode evaluasi (miristat 2) 89

30 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (miristat 2)……. 90

31 Ringkasan statistika palmitat 1 minyak nabati (3 metode

evaluasi) ……….. 91

32 Ringkasan hasil Z-score dengan 3 metode evaluasi (palmitat 1) 91

33 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (palmitat 1)……. 92

34 Ringkasan statistika palmitat 2 minyak nabati (3 metode

evaluasi) ……….. 93

35 Ringkasan hasil Z-score dengan 3 metode evaluasi (palmitat 2) 94

36 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (palmitat 2)……. 94

37 Ringkasan statistika stearat 1 minyak nabati (4 metode

evaluasi) ……….. 96

38 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (stearat 1) 96

39 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (stearat 1)……. 97

40 Ringkasan statistika stearat 2 minyak nabati (4 metode evaluasi) ………..

98

41 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (stearat 2).. 99

42 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (stearat 2)……. 99

43 Ringkasan statistika oleat 1 minyak nabati (4 metode evaluasi) 100

44 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (oleat 1).. 101

45 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (oleat 1)……… 102

46 Ringkasan statistika oleat 2 minyak nabati (4 metode evaluasi) 103

47 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (oleat 2).. 104

48 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (oleat 2)……. 104

49 Ringkasan statistika linoleat 1 minyak nabati (4 metode

evaluasi) ……… 105

50 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (linoleat 1) 106

51 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (linoleat 1)……. 107

52 Ringkasan statistika linoleat 2 minyak nabati (4 metode evaluasi) 108

53 Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (linoleat 2) 109

54 Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (linoleat 2)……. 109

55 Rekapitulasi metode evaluasi hasil uji terpilih (berdasarkan median) 115

56 Rekapitulasi jumlah kinerja laboratorium tidak memuaskan 117

57 Rekapitulasi hasil memuaskan bagi laboratorium yang menggunakan

metode pengujian SNI untuk kakao bubuk …….. 118

58 Rekapitulasi hasil memuaskan bagi laboratorium yang menggunakan

(17)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Diagram alir metodologi penelitian 23 20

2 Hasil uji laboratorium peserta, kadar air kakao bubuk, sampel A 32 30

3 Hasil uji laboratorium peserta, kadar air kakao bubuk, sampel B 32 30

4 Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak memuaskan (kadar air)

39

5 Hasil uji laboratorium peserta, lemak kakao bubuk, sampel A 41 36

6 Hasil uji laboratorium peserta, lemak kakao bubuk, sampel B 42 36

7 Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak memuaskan (lemak)

47

8 Hasil uji laboratorium peserta, kehalusan lolos ayakan, sampel A 50 41

9 Hasil uji laboratorium peserta, kehalusan lolos ayakan, sampel B 51 42

10 Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak

memuaskan (kehalusan lolos ayakan) 54

11 Hasil uji laboratorium peserta, kadmium kakao bubuk, sampel A 56 45

12 Hasil uji laboratorium peserta, kadmium kakao bubuk, sampel B 56 45

13 Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak

memuaskan (kadar kadmium dengan AAS) 60

14 Hasil uji laboratorium peserta, kalium sorbat, sampel A 64 50

15 Hasil uji laboratorium peserta, kalium sorbat, sampel B 64 51

16 Hasil uji laboratorium peserta, natrium benzoat, sampel A 68 54

17 Hasil uji laboratorium peserta, natrium benzoat, sampel B 68 55

18 Hasil uji laboratorium peserta, sakarin, sampel A 71 58

19 Hasil uji laboratorium peserta, sakarin sorbat saus cabe, sampel B 71 59

20 Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak memuaskan (kalium sorbat, natrium benzoat, sakarin dengan HPLC)

76

21 Hasil uji laboratorium peserta, jumlah padatan terlarut, sampel A 78 62

22 Hasil uji laboratorium peserta, jumlah padatan terlarut, sampel B 78 62

23 Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak

memuaskan (jumlah padatan terlarut) 81

24 Hasil uji laboratorium peserta, miristat 1, sampel A 84 66

25 Hasil uji laboratorium peserta, miristat 1, sampel B 85 66

26 Hasil uji laboratorium peserta, miristat 2, sampel A 87 69

27 Hasil uji laboratorium peserta, miristat 2, sampel B 88 69

28 Hasil uji laboratorium peserta, palmitat 1, sampel A 90 72

29 Hasil uji laboratorium peserta, palmitat 1, sampel B 90 72

30 Hasil uji laboratorium peserta, palmitat 2, sampel A 93 75

31 Hasil uji laboratorium peserta, palmitat 2, sampel B 93 75

32 Hasil uji laboratorium peserta, stearat 1, sampel A 95 78

33 Hasil uji laboratorium peserta, stearat 1, sampel B 95 78

34 Hasil uji laboratorium peserta, stearat 2, sampel A 97 80

35 Hasil uji laboratorium peserta, stearat 2, sampel B 98 81

36 Hasil uji laboratorium peserta, oleat 1, sampel A 100 83

(18)

38 Hasil uji laboratorium peserta, oleat 2, sampel A 102 86

39 Hasil uji laboratorium peserta, oleat 2, sampel B 103 86

40 Hasil uji laboratorium peserta, linoleat 1, sampel A 105 89

41 Hasil uji laboratorium peserta, linoleat 1, sampel B 105 89

42 Hasil uji laboratorium peserta, linoleat 2, sampel A 107 92

43 Hasil uji laboratorium peserta, linoleat 2, sampel B 108

44 Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak

memuaskan (asam lemak minyak nabati dengan GC) 112

45 Median laboratorium peserta dan nilai acuan sampel A 119

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Halaman

1 Rekapitulasi hasil uji profisiensi kakao bubuk.

Parameter : kadar air……… 131

92

2 Rekapitulasi hasil uji profisiensi kakao bubuk.

Parameter : kadar lemak……….. 132

92

3 Rekapitulasi hasil uji profisiensi kakao bubuk.

Parameter : kehalusan lolos ayakan 200 mesh……… 133

92

4 Rekapitulasi hasil uji profisiensi kakao bubuk.

Parameter : cadmium (Cd)………. 134

92

5 Rekapitulasi hasil uji profisiensi saus cabe.

Parameter : pengawet kalium sorbat………. 135

92

6 Rekapitulasi hasil uji profisiensi saus cabe.

Parameter : pengawet natrium benzoat………. 136

92

7 Rekapitulasi hasil uji profisiensi saus cabe.

Parameter : pemanis sakarin………. 137

92

8 Rekapitulasi hasil uji profisiensi saus cabe.

Parameter : jumlah padatan terlarut………. 138

92

9 Rekapitulasi hasil uji profisiensi minyak nabati.

Parameter : kadar miristat……… 139

92

10 Rekapitulasi hasil uji profisiensi minyak nabati.

Parameter : kadar palmitat……….. 140

92

11 Rekapitulasi hasil uji profisiensi kakao bubuk.

Parameter : kadar stearat……… 141

92

12 Rekapitulasi hasil uji profisiensi kakao bubuk.

Parameter : kadar oleat………. 142

92

13 Rekapitulasi hasil uji profisiensi kakao bubuk.

Parameter : kadar linoleat……… 143

92

14 Uji homogenitas kakao bubuk.

Parameter : kadar air, % ………. 144

92

15 Uji homogenitas kakao bubuk.

Parameter : kadar lemak, % ……… 145

92

16 Uji homogenitas saus cabe.

Parameter : kalium sorbat, mg/kg ………. 146

92

17 Uji homogenitas minyak nabati.

Parameter : miristat 1 ………. 147

92

18 Uji homogenitas minyak nabati.

Parameter : miristat 2 ………. 148

92

19 Uji homogenitas minyak nabati.

Parameter : palmitat 1 ……… 149

92

20 Uji homogenitas minyak nabati.

Parameter : palmitat 2 ………... 150

(20)

Halaman

21 Uji homogenitas minyak nabati.

Parameter : stearat 1 ……….. 151

92

23 Metode pengujian kadar air kakao bubuk sesuai SNI 01-3747-2009 153 92

24 Metode pengujian kadar lemak kakao bubuk sesuai SNI 01-3747-2009 154 92

25 Metode pengujian kehalusan lolos ayakan kakao bubuk sesuai SNI

01-3747-2009 ………. 156

92

26 Metode pengujian kadmium kakao bubuk sesuai SNI 01-3747-2009 158 92

27 Metode pengujian pengawet natrium benzoat dan kalium sorbat serta pemanis sakarin saus cabe sesuai SNI 01-2894-1992 (HPLC atau

KCKT) ……….. 162

92

28 Metode pengujian jumlah padatan terlarut sesuai SNI 01-2976-2006 163 92

29 Metode pengujian asam lemak secara kromatografi gas (GC) ……… 165 92

30 Analisis Hasil Uji yang Handal melalui Uji Profisiensi untuk Produk Agroindustri

167

31 Stabilitas saus cae 158 92

32 Stabilitas minyak nabati 159 92

33 Stabilitas minyak nabati 160 92

(21)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Faktor yang memegang peranan penting dalam produk agroindustri adalah mutu produk. SSaallaahh ssaattuu ccaarraa uunnttuukk mmeennggeettaahhuuii mmuuttuu pprroodduukk aaggrrooiinndduussttrrii aaddaallaahh d

deennggaann ppeenngguujjiiaann pprroodduukk tteerrsseebbuutt oolleehh llaabboorraattoorriiuumm ppeenngguujjii.. KKeeaabbssaahhaann hhaassiill uujjii l

laabboorraattoorriiuumm ppeenngguujjii ssaannggaatt ppeennttiinngg uunnttuukk mmeennggeettaahhuuii zzaatt--zzaatt yyaanngg aaddaa ddii ddaallaamm p

prroodduukk aaggrrooiinndduussttrrii.. DDeennggaann kkeeaannddaallaann llaabboorraattoorriiuumm ppeenngguujjii yyaanngg mmeenngggguunnaakkaann m

meettooddee ppeenngguujjiiaann SSttaannddaarr NNaassiioonnaall IInnddoonneessiiaa ddaann mmeettooddee llaaiinnnnyyaa,, mmaakkaa ddaappaatt d

diikkeettaahhuuiimmuuttuussuuaattuupprroodduukk

Data total ekspor mulai bulan Januari hingga Oktober tahun 2010 mencapai angka USD 125,13 milyar. Angka ekspor Indonesia ini lebih tinggi daripada angka ekspor Indonesia pada periode bulan yang sama di tahun 2009. Perubahan angka angka USD 103,39 milyar. Angka ini merupakan tertinggi selama dua tahun terakhir. Barang ekspor nonmigas mengalami peningkatan sebesar 32,21 persen. Penyumbang terbesar angka ekspor Indonesia dari nonmigas yaitu sektor industri. Industri hulu merupakan kontributor utama industri. Barang ekspor dari industri hulu yaitu crude palm oil (CPO) dan lateks. Volume barang ekspor dari CPO di tahun 2010 mencapai angka tertinggi sebesar 16 juta ton. Angka ekspor Indonesia ini telah melampaui target sehingga perlu regulasi pemerintah untuk melakukan pembatasan ekspor (Kemendag, 2011).

Selama ini ekspor hasil pertanian Indonesia menyumbang devisa yang cukup besar dan diprediksi akan tetap bertahan Ekspor

Dengan adanya perdagangan global, maka produk agroindustri dari berbagai negara diperdagangkan ke seluruh dunia secara bebas. Produk yang ditawarkan

(22)

harus dapat memenuhi semua persyaratan dan regulasi sebelum dapat dilepaskan ke pasar. Ada berbagai produk agroindustri dengan berbagai kualitas ditawarkan di pasar dan bisa saja produk berkualitas rendah masuk ke suatu negara bila negara tersebut tidak memiliki sistem keamanan pangan yang kuat. Sistem ini sangat bergantung pada data hasil pengujian yang valid, komparabel dan dapat dipercaya oleh semua pihak. Selain itu, peningkatan kualitas produk yang berarti daya saing di pasaran internasional juga membutuhkan data uji kualitas yang akurat. Data tersebut sangat diperlukan sebagai penunjang dalam perdagangan.

Produk agroindustri untuk konsumsi manusia dikategorikan sebagai produk kompleks. Data dari produk inilah yang seringkali menimbulkan masalah dalam perdagangan ekspor-impor karena adanya perbedaan data hasil pengujian laboratorium antara negara pengekspor dan negara pengimpor. Inilah yang disebut sebagai hambatan teknis perdagangan atau technical barrier to trade (TBT). Untuk mengatasi hal ini dan juga untuk menghindari dilakukannya duplikasi pengujian laboratorium diperlukan adanya saling pengakuan akan hasil pengujian laboratorium baik dari pihak pengekspor maupun dari pihak pengimpor. Saling pengakuan akan hasil pengujian ini merupakan faktor penting untuk memfasilitasi perdagangan internasional, khususnya untuk produk agroindustri. Saling pengakuan ini hanya bisa didapatkan bila hasil pengujian dari laboratorium yang terbukti kompeten dapat memenuhi kriteria yang berlaku secara internasional.

Beberapa masalah pokok ekspor produk agroindustri Indonesia adalah rendahnya daya saing hasil pada aspek jaminan mutu. Hambatan-hambatan yang dihadapi negara pengekspor, termasuk Indonesia yang berkaitan dengan mutu komoditas, khususnya produk pertanian, peternakan dan perikanan, yaitu persyaratan mutu yang terlalu tinggi yang dikehendaki negara pengimpor, jumlah dengan mutu yang tidak memenuhi quota, persaingan internasional, perubahan harga yang terlalu cepat, pemasaran tidak langsung yang merugikan negara produsen, adanya proteksi di negara pengimpor dan batas quota dan penolakan komoditas ekspor atau klaim oleh negara pengimpor (Kementan, 2010).

Seringkali terjadi penahanan komoditas ekspor produk agroindustri di negara pengimpor dengan tindakan re-conditioning (fumigasi) dan automatic detention

(23)

April 2010 sebanyak 113 ekspor produk pertanian dari Indonesia ke Amerika Serikat (AS) telah ditahan (detention) oleh pihak Food Drug Administration (FDA)

(Kementan, 2010).

Permasalahan yang sering terjadi adalah ketika dilakukan pengujian produk agroindustri di Indonesia, suatu parameter pengujian tidak terdeteksi keberadaannya, atau dapat terdeteksi dengan limit yang sangat kecil. Namun demikian ketika tiba di negara pengimpor dan kemudian dilakukan pengujian ulang, ternyata parameter pengujian tersebut dapat terdeteksi keberadaannya, atau terdeteksi dengan jumlah yang melebihi batas toleransi.

S

Seellaammaa iinnii ssaallaahh ssaattuu jjaammiinnaann mmuuttuu hhaassiill ppeenngguujjiiaann yyaanngg ddiillaakkuukkaann oolleehh l

laabboorraattoorriiuumm yyaanngg ddiiaakkrreeddiittaassii oolleehh KKoommiittee AAkkrreeddiittaassii NNaassiioonnaall ((KKAANN)) aaddaallaahh d

deennggaann mmeellaakkssaannaakkaann uujjii bbaannddiinngg aannttaarr llaabboorraattoorriiuumm ((uujjii pprrooffiissiieennssii)).. Pendekatan yang sering digunakan sampai saat ini dalam menganalisis hasil uji profisiensi adalah pendekatan ketetapan dengan nilai konsensus hasil uji dari laboratorim penguji yang mengikuti uji profisiensi. Pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan, antara lain apabila hasil uji terlalu beragam ataupun apabila hasil uji terjadi kesalahan jamak, maka kesimpulan dengan pendekatan ini menjadi sangat bias, dan kadangkala mengarah pada kesalahan. Selain itu dalam melakukan analisis terhadap hasil uji peserta uji profisiensi masih sering diperdebatkan mengenai tahap-tahap teknik evaluasi hasil uji tersebut.

Pedro (2007) menyatakan bahwa evaluasi hasil uji yang berbeda dapat menyebabkan interpretasi hasil uji profisiensi yang berbeda pula. Perbedaan pelaksanaan teknik evaluasi yang digunakan dapat mempengaruhi hasil, yang berarti berpengaruh pula terhadap penilaian terhadap laboratorium peserta

Beberapa laboratorium Indonesia pernah ikut serta dalam uji profisiensi tingkat Asia Pasifik. Pada saat laboratorium tersebut ikut serta di uji profisiensi tingkat Indonesia, laboratorium tersebut memperoleh hasil memuaskan. Namun di tingkat Asia Pasifik (dengan parameter pengujian yang sama di tingkat Indonesia), laboratorium tersebut dinyatakan tidak memuaskan (outlier).

(24)

yang cukup mahal, matriks bahannya juga sangat terbatas. Indonesia juga belum mempunyai laboratorium rujukan.

Laboratorium yang telah diakreditasi oleh KAN, kadangkala masih mendapatkan hasil yang tidak baik dalam uji profisiensi antar laboratorium tersebut. Hal ini dapat diartikan bahwa laboratorium terkait belum mempunyai kompetensi yang memadai dalam melakukan suatu pengujian untuk suatu parameter tertentu.

Dalam penelitian ini akan dilakukan evaluasi hasil uji profisiensi dengan pendekatan nilai ketetapan konsensus, pendekatan nilai ketetapan dari suatu nilai acuan serta beberapa teknik evaluasi hasil uji yang berbeda. Dalam penelitian ini akan dilakukan pula kajian terhadap unjuk kerja metode pengujian yang digunakan dan kemungkinan penyebab laboratorium yang mendapatkan hasil yang tidak baik.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, maka penelitian ini difokuskan pada :

“Bagaimana hasil yang diperoleh dalam berbagai teknik evaluasi yang digunakan dalam uji profisiensi antar laboratorium, apa teknik evaluasi yang terbaik, serta identikasi unjuk kerja metode pengujian peserta dan apa kemungkinan penyebab laboratorium yang mendapatkan hasil yang tidak baik?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Merancang sistem uji profisiensi dengan evaluasi hasil uji menggunakan pendekatan a) seleksi Grubbs 1 kali saja, kemudian terhadap data yang tersisa dilakukan perhitungan Robust Z-score; b) seleksi Grubbs berulang kali sampai tidak ada lagi data yg keluar, kemudian terhadap data yang tersisa dilakukan perhitungan Robust Z-score; c) evaluasi langsung menggunakan cara perhitungan Robust Z-score; d) evaluasi dengan menggunakan nilai laboratorium acuan.

(25)

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

(26)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem

Sistem adalah sekumpulan elemen yang saling terkait atau terpadu untuk mencapai suatu tujuan. Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran. Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem, dan keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan berhasil apabila mengenai sasaran atau tujuannya.

Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya adalah sebagai sistem abstrak (abstract system) dan sistem fisik (physical system). Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara fisik. Sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik, misalnya sistem komputer, sistem akuntansi, sistem produksi dan lain sebagainya.

Pengembangan sistem (system development) dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Sistem yang lama perlu diperbaiki atau diganti disebabkan antara lain karena adanya permasalahan yang timbul di sistem yang lama, untuk meraih kesempatan, adanya instruksi dan sebagainya.

2.2 Uji Banding Antar Laboratorium (Uji Profisiensi)

Mutu adalah derajat dari serangkaian karakteristik produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan atau harapan yang dinyatakan (ISO, 2008). Jaminan mutu merupakan seluruh perencanaan dan kegiatan sistematis yang diperlukan untuk memberi keyakinan bahwa suatu produk atau jasa akan memenuhi persyaratan mutu (Tjahja, 2008).

(27)

a. Penggunaan bahan acuan bersertifikat secara reguler dan/atau pengendalian mutu internal menggunakan bahan acuan sekunder;

b. Partisipasi dalam uji banding antar laboratorium atau uji profisiensi;

c. Replika pengujian atau kalibrasi menggunakan metode yang sama atau berbeda;

d. Pengujian ulang atau kalibrasi barang yang masih ada;

e. Korelasi hasil dari karakteristik barang yang berbeda (ISO, 2005).

Uji banding antar laboratorium/uji profisiensi adalah uji banding antar laboratorium (inter laboratory comparison) yang telah digunakan secara luas untuk sejumlah tujuan dan penggunaannya meningkat secara internasional. Beberapa tujuan umum uji banding antar laboratorium mencakup:

a. Evaluasi kinerja laboratorium dalam pengujian atau pengukuran tertentu dan pemantauan kinerja laboratorium secara serentak;

b. Identifikasi permasalahan di laboratorium serta inisiasi tindakan untuk peningkatan yang, misalnya, dapat berhubungan dengan prosedur pengujian atau pengukuran kinerja staf individu atau kalibrasi peralatan yang kurang memadai;

c. Penetapan efektifitas dan kesebandingan (comparability) metode pengujian atau pengukuran;

d. Peningkatan kepercayaan pelanggan terhadap laboratorium; e. Identifikasi perbedaan antar laboratorium;

f. Edukasi bagi laboratorium-laboratorium yang berpartisipasi berdasarkan hasil dari uji banding;

g. Validasi klaim ketidakpastian;

h. Evaluasi karakteristik kinerja dari sebuah metode sering dinyatakan sebagai uji coba kolaboratif;

i. Penetapan nilai bahan acuan dan penilaian kelayakannya untuk digunakan dalam prosedur uji tertentu atau prosedur pengukuran tertentu (ISO, 2010).

Uji profisiensi mencakup penggunaan uji banding antar laboratorium

(28)

karena untuk kegunaan tersebut laboratorium telah dianggap kompeten, tapi hal ini dapat digunakan untuk membuktikan kompetensi laboratorium secara independen (ISO, 2010).

Thompson (2006) menegaskan bahwa laboratorium yang telah diakreditasi oleh suatu badan akreditasi wajib ikut serta dalam program uji banding antar laboratorium. Hasil yang didapat dari pelaksanaan uji banding tersebut akan dapat memberi gambaran terhadap kinerja laboratorium tersebut.

Komite Akreditasi Nasional (KAN) menyelenggarakan program uji profisiensi secara berkala untuk mendukung pengoperasian sistem akreditasi KAN berdasarkan ISO/IEC 17011: Conformity assessment -- General requirements for accreditation bodies accrediting conformity assessment bodies

Pendekatan evaluasi hasil uji yang sering digunakan sampai saat ini adalah pendekatan dengan nilai konsensus (ketetapan) dari laboratorium penguji yang mengikuti uji profisiensi. Pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan, antara lain apabila hasil uji dari laboratorium penguji yang mengikuti uji profisiensi terlalu beragam ataupun apabila hasil uji dari laboratorium penguji yang mengikuti uji profisiensi terjadi kesalahan jamak, maka evaluasi data dengan pendekatan ini menjadi sangat bias, dan kadangkala mengarah ke kesalahan (Uhlig, 2008).

. Sebagai badan akreditasi yang telah menandatangani Mutual Recognition Arrangement Asia Pacific Laboratory

Accreditation Cooperation (MRA-APLAC), KAN berkewajiban mengikuti kegiatan

uji profisiensi yang diselenggarakan oleh lembaga akreditasi di lingkungan regional lain dan internasional (KAN, 2008).

Perbedaan pelaksanaan teknik evaluasi yang digunakan juga dapat mempengaruhi hasil, yang berarti berpengaruh pula terhadap penilaian terhadap laboratorium peserta (Pedro, 2007).

(29)

2.3 Kakao Bubuk (Cocoa Powder)

Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah negara

Pantai Gading dan Ghana. Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana bila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana dan kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka. Meskipun demikian, agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao, mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao (Kementerian Perindustrian, 2007).

Untuk memperoleh kakao bubuk, maka sebagian lemak kakao (cocoa butter) yang ada di dalam pasta coklat harus dikeluarkan. Proses pengeluaran lemak dilakukan dengan mengepress pasta menggunakan pengepress (hidraulik atau mekanis) pada tekanan 400 bar – 500 bar dan suhu 90oC – 100o

(30)

kakao bubuk, menciptakan persaingan usaha yang sehat dan memberikan perlindungan konsumen.” Setelah aturan ini berlaku, produsen dan importir kakao bubuk harus memiliki Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT SNI) pada produk yang mereka edarkan. Kementerian Perindustrian akan menguji kesesuaian mutu produk per tiga bulan. Sementara kakao bubuk impor harus memiliki dokumen

Certificate of Analysis (CoA). Dokumen itu sekurang-kurangnya mencantumkan nama dan alamat perusahaan, nama laboratorium penguji, tanggal, dan hasil pengujian yang telah memenuhi parameter SNI.

Kebijakan ini juga mengatur soal sanksi. Misal, jika kakao bubuk impor tidak memenuhi ketentuan, maka produk tersebut harus diekspor kembali atau dimusnahkan. Pengusaha senang dengan aturan ini. SNI wajib akan kembali meningkatkan utilisasi pabrik dan penjualan. Kepastian pemberlakuan SNI wajib ini juga telah mengerek harga kakao bubuk lokal dari Rp 20.000 per kilogram menjadi sekitar Rp 28.000 per kg (BSN, 2011).

M

Prinsip pengujian kadar logam kadmium (Cd) dalam kakao bubuk adalah dekstruksi sampel dengan pengabuan kering pada 450o

Prinsip pengujian kadar air dalam kakao bubuk adalah bobot yang hilang selama pemanasan dalam oven pada suhu 100

C yang dilanjutkan dengan pelarutan dalam larutan asam. Logam yang terlarut dihitung menggunakan alat spektrofotometer serapan atom (SSA) dengan panjang gelombang maksimal 228,8 nm untuk Cd (BSN, 2009).

o

(31)

pemanasan relatif lebih lama atau temperatur pemanasan lebih tinggi dari yang seharusnya (Pomeranz, 1987).

Suatu bahan yang telah mengalami pemanasan pada suhu 105O

Prinsip pengujian lemak adalah ekstraksi minyak bebas dari sampel kakao dengan menggunakan pelarut organik non polar yang sebelumnya dilakukan hidrolisis. Sampel yang berasal dari bahan nabati (termasuk kakabo bubuk) sebelum proses ekstraksi harus dilakukan proses hdrolisis terlebih dahulu. Proses hidrolisis dengan HCl bertujuan untuk memecahkan ikatan lemak dengan bahan organik lainnya. Selama proses ini bahan dan larutan asam dipanaskan.

C akan cenderung bersifat higroskopis. Oleh sebab itu penyimpanan dalam desikator harus diperhatikan. Apabila terlalu lama maka air akan direabsorpsi kembali oleh bahan sehingga berat bahan yang ditimbang akan menjadi lebih besar dan mengakibatkan kandungan air menjadi lebih kecil dari yang seharusnya. Dituliskan dalam prosedur bahwa hendaknya contoh ditimbang segera setelah wadah beserta bahan yang dianalisis mencapai suhu ruangan dan penimbangan dilakukan hingga mencapai berat yang konstan. Pengertian konstan di sini didefinisikan apabila dilakukan penimbangan ulang setelah bahan dipanaskan kembali dalam oven untuk kurun waktu tertentu dan selisih berat antara 2 periode pemanasan yang berturutan dapat mencapai nilai yang lebih kecil atau sama dengan 0.05%. Apabila setelah pengerjaan tersebut dapat diperoleh berat yang konstan, maka pengerjaan atau penetapan dapat dihentikan. Akan tetapi apabila masih belum didapat berat yang konstan, maka pemanasan dalam oven harus diulang kembali.

Setelah pemanasan, hidrolisat kemudian disaring panas-panas, residu yang dihasilkan dicuci dengan air panas sampai tidak bereaksi asam lagi, dan kemudian dikeringkan. Apabila waktu pengeringan terlalu lama akan ada minyak yang mudah menguap (volatil oil) yang ikut teruapkan sehingga mengakibatkan kandungan lemak yang terukur menjadi lebih kecil dan terjadi penyimpangan negatif.

(32)

Setelah semua lemak terekstraksi sempurna, pelarut organik kemudian diuapkan dan ekstrak lemak dikeringkan dalam oven dengan suhu 100oC – 105o

Serupa dengan penetapan air, suatu bahan yang telah mengalami pemanasan akan cenderung bersifat higroskopis. Oleh karena itu lamanya pendinginan ekstrak lemak kering harus diperhatikan waktunya, karena apabila terlalu lama maka dapat terjadi pertambahan angka kadar lemak karena adanya adsorpsi dari uap air.

C. Lamanya pengeringan dalam oven inipun akan berpengaruh terhadap kandungan lemak.

Prinsip pengujian kehalusan (lolos ayakan) adalah pengukuran derajat kehalusan dari sampel menggunakan ayakan dengan mesh 200.

2.4 Saus Cabe

Dewasa ini cukup banyak isu yang beredar terkait bahan tambahan makanan. Terbatasnya pengetahuan masyarakat mengenai mutu dan keamanan pangan menyebabkan maraknya kasus keracunan makanan. Hal ini diperparah dengan berbagai jenis bahan tambahan makanan (BTM) yang bersumber dari produk-produk senyawa kimia dan turunannya. Beberapa bahan tambahan makanan memang diperbolehkan dalam ambang batas yang diperkenankan, dan juga terdapat bahan tambahan makanan yang memang dilarang penggunaannya dalam makanan.

Salah satu contoh makanan yang sering dicampuri bahan tambahan makanan dalam jumlah yang melebihi ambang batas adalah saus cabe. Saus cabe adalah saus yang diperoleh dari bahan utama cabe (Capsicum sp) yang baik, yang diolah dengan penambahan bumbu-bumbu dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan.

(33)

Pembuatan saus cabe meliputi beberapa tahapan yaitu :

a. Mula-mula cabe merah dipotong tangkainya dan dibuang bijinya.

b. Bersama dengan bawang putih yang juga sudah dikupas, kedua bahan dikukus pada suhu sekitar 100O

c. Bahan-bahan lain yang juga telah dihaluskan ditambahkan ke dalam bubur cabe dan bawang putih ini. Kemudian diaduk sambil dipanaskan dengan api yang tidak terlalu besar sampai mendidih dan mencapai kekentalan yang dikehendaki.

C selama 1 menit dan digiling sampai halus. Alat yang digunakan untuk menggiling bervariasi tergantung dari kapasitas pabrik yang memproduksinya.

d. Selanjutnya dilakukan pengemasan dengan botol steril (IPB, 1999)

Menurut SK. No. 722/Menkes/Per/IX/1988, bahan tambahan makanan didefinisikan sebagai berikut: bahan tambahan makanan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan, dan biasanya bukan merupakan ingredient khas makanan, mempunyai atau tidak nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan, atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tertentu.

Suatu bahan tambahan makanan agar dapat digunakan dalam pengolahan makanan harus mempunyai persyaratan tertentu. Selain kegunaan tertentu dalam bidang teknologi pengolah makanan, persyaratan yang terpenting adalah persyaratan keamanan yaitu tidak membahayakan kesehatan konsumen. Persyaratan bahan tambahan makanan untuk dapat digunakan adalah:

a. Harus telah mengalami pengujian dan evaluasi toksisitas.

b. Harus tidak membahayakan kesehatan konsumen pada kadar yang diperlukan dalam penggunaan.

c. Harus selalu memenuhi persyaratan spesifikasi dan kemurnian yang telah ditetapkan.

(34)

e. Sedapat mungkin penggunaannya dibatasi untuk makanan dan maksud tertentu dan dengan kadar serendah mungkin, tetapi masih berfungsi seperti yang dikehendaki.

Kandungan bahan tambahan makanan dalam suatu matriks dapat diketahui dengan melakukan pengujian di laboratorium. Bahan tambahan makanan yang sering dicampurkan dalam saus cabe adalah pengawet (kalium sorbat, natrium benzoat) dan pemanis (sakarin).

Pengujian pengawet makanan dapat menggunakan metode SNI 01-2894-1992 Cara Uji Bahan Tambahan Makanan/Bahan Pengawet. Pengujian kalium sorbat dan natrium benzoat biasanya dilakukan dengan metode High Performance Liquid

Chromatography (HPLC). Pengawet adalah bahan tambahan makanan yang

mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau peruraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Kalium sorbat berbentuk kristal putih, mudah larut dalam air. Berat jenis 139, 2 gr/100 ml pada suhu 20o

Natrium benzoat (C

C. Penggunaannya dapat dengan pencelupan, perendaman, penyemprotan larutan garam sorbat atau dengan penaburan dalam bentuk bubuk. Asam sorbat dan garamnya termasuk Generally Recognized as Safe

(GRAS) yang berarti aman untuk digunakan dalam makanan di bawah peraturan

FDA, USA. Di Indonesia penggunaannya sebagai pengawet diijinkan sekitar 500 – 3000 ppm untuk berbagai jenis produk makanan (Winarno, 1994).

7H5NaO2

Pengujian pemanis makanan (sakarin) dapat menggunakan metode SNI 01-2893-1992 Cara Uji Pemanis Buatan. Pemanis yang termasuk bahan tambahan makanan adalah pemanis pengganti gula (sukrosa). Pemanis buatan adalah bahan tambahan makanan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan, yang tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi.

) adalah pengawet yang luas penggunaannya pada bahan makanan yang asam. Bahan ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan khamir dan bakteri pada konsentrasi di atas 400 mg/ml. Benzoat efektif pada pH 2.5 – 4.0. Karena kelarutan garamnya lebih besar, maka biasa digunakan dalam bentuk garam natrium benzoat (Winarno, 1994).

Sakarin (C6H4SO2NHCO) sering disebut benzoiulfonimide. Pemanis buatan

(35)

Ammonium. Kalau dibandingkan dengan gula (sakarosa), sakarin 300 – 500 kali lebih manis rasanya. Sakarin tidak lebur pada 226 – 230o

Pengujian cemaran logam dapat menggunakan metode SNI 01-2896-1998 Cara Uji Cemaran Logam dalam Makanan.

C dan menyublin apabila dipanaskan di atas titik lebur dan sangat mudah larut dalam air (Winarno, 1994).

Prinsip pengujian jumlah padatan terlarut adalah selisih dari total padatan dengan padatan yang tidak larut (BSN, 2009).

2.5 Minyak Nabati

Minyak nabati adalah lainnya. Beberapa jenis minyak nabati yang biasa digunakan iala adal

Minyak kelapa murni (virgin coconut oil) adalah minyak kelapa yang dibuat dari bahan ba pemanasan sama sekali, tanpa berakibat kandunga Minyak kelapa murni dengan kandungan utama

Virgin Coconut Oil (VCO), adalah modifikasi proses pembuatan minyak kelapa

sehingga dihasilkan produk dengan rendah, berwarna bening, berbau harum, serta mempunyai daya simpan yang cukup lama yaitu lebih dari 12 bulan (Winarno, 1999).

(36)

Pengujian asam lemak jenuh (miristat, palmitat, linoleat, stearat, oleat) biasanya dilakukan dengan menggunakan gas chromatography (GC).

Lemak adalah campuran trigliserida. Trigliserida terdiri atas satu molekul gliserol yang berikatan dengan tiga molekul asam lemak.

Asam lemak jenuh yaitu apabila rantai hidrokarbon dijenuhi dengan hidrogen. Asam palmitat (C15H31COOH), asam stearat (C17H35

Asam lemak tidak jenuh yaitu apabila rantai hidrokarbonnya tidak dijenuhi oleh hidrogen dan karena itu mempunyai satu ikatan rangkap atau lebih. Asam oleat (C

COOH) adalah termasuk asam lemak jenuh.

17H33COOH), asam linoleat (C17H29COOH) adalah termasuk asam lemak tak

jenuh. Asam lemak tak jenuh mempunyai titik lebur lebih rendah daripada asam lemak jenuh. Asam lemak tak jenuh apabila dibiarkan terlalu lama dalam udara akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak (tengik), kelembaban udara, cahaya, suhu yang tinggi dan adanya bakteri perusak adalah faktor-faktor yang menyebabkan ketengikan minyak.

2.6 Metode Evaluasi Hasil Uji Profisiensi dan Kemungkinan Penyebab

Kinerja Laboratorium Tidak Memuaskan

a. Peserta uji profisiensi

Penentuan peserta uji profisiensi ini adalah berdasarkan teknik purposive sampling. Thompson et al. (2006) tidak mempersyaratkan jumlah minimum atau maksimum peserta uji profisiensi. Food and Consumer Safety Authority

(1995) merekomendasikan jumlah minimum laboratorium adalah delapan. Edegard et al.(2000) merekomendasikan sedikitnya 8 – 15 laboratorium ikut serta dalam uji profisiensi. Edegard et al. (2000) juga mengindikasikan bahwa jumlah laboratorium peserta tidak perlu sama untuk seluruh level konsentrasi. b. Uji Grubbs

(37)

Pedro R et al. (2007) menyatakan bahwa uji seleksi Grubbs digunakan untuk menentukan apakah observasi data terbesar dan terkecil pada kumpulan data adalah termasuk outlier.

c. Pendekatan nilai ketetapan konsensus dari laboratorium penguji yang

mengikuti uji profisiensi (Robust Z-score)

Data duplo hasil analisis yang dikirimkan oleh setiap laboratorium dihitung secara statistika menggunakan metode perhitungan statistika Robust Z-score. Parameter yang dihitung disini adalah Z between laboratories. Untuk menghitung Z, mula-mula dihitung Si dengan rumus berikut ini:

Si = (Ai + Bi

A

)/√2

i dan Bi

Z

adalah kedua data duplo hasil analisis.

= Si - median

IQR

(Si)

(Si)

IQR x 0,7413 adalah IQR ternormalisasi (n IQR) yang merupakan ukuran dari variabilitas data, yang mirip dengan simpangan baku.

x 0,7413

n IQR ≈ SD

IQR yang merupakan singkatan dari interquartile range adalah selisih antara quartile atas dan bawah. Quartile bawah (Q1) adalah suatu harga dibawah

dimana seperempat dari seluruh hasil berada/terletak sedangkan quartile atas (Q3

IQR = Q

) adalah suatu harga diatas mana seperempat dari seluruh hasil berada.

3 - Q

n IQR = IQR x 0,7413

1

Dimana:

Z = Z score antar laboratorium

Ai = hasil uji sampel pertama dari laboratorium i Bi = hasil uji sampel kedua dari laboratorium i Median = nilai tengah dari sekelompok data n hitung 0.7413 = standar distribusi normal

IQR = interquartile range

(38)

a) Laboratorium yang termasuk dalam kategori “tidak memuaskan” (outlier), apabila laboratorium tersebut memperoleh nilai Z

-3 > Z

yang bukan terletak diantara -3 dan +3.

Besaran Z

> 3 atau (I ZI ≥3 )

b) Laboratorium yang termasuk dalam kategori ”diperingatkan” (questionable). menggambarkan presisi antara laboratorium.

2 < I ZI

c) Laboratorium yang “memuaskan” (kompeten).

< 3 : berarti hasil analisisnya belum termasuk tidak memuaskan, tetapi sudah dalam batas diperingatkan.

I ZI

d. Pendekatan nilai ketetapan dari pengukuran sebuah laboratorium acuan ≤ 2 : berarti hasil analisisnya memuaskan (ISO, 2005).

Nilai Z-score dihitung berdasarkan rumus: Z-score =

S xi – X

dimana:

xi = adalah nilai yang dilaporkan oleh laboratorium penguji yang mengikuti uji profisiensi

X = nilai acuan S = simpangan baku t

Untuk simpangan baku digunakan SD Horwitz. CV Horwitz = SD Horwitz / nilai acuan

SD Horwitz = CV Horwitz x nilai acuan (ISO, 2005).

e. Kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak memuaskan

(39)

faktor-faktor penyebab yang lebih rinci. Diagram ini berguna dalam setiap analisis karena dapat menggambarkan hubungan sebab akibat secara rasional.

2.7 Penelitian Lain

Pedro R et al. (2007) mengidentifikasi hasil uji profisiensi komoditi logam. Evaluasi hasil uji dilakukan dengan seleksi data (Cohcran’s Test dan Grubbs Test dua kali) dan sisa data dievaluasi dengan Robust Z score menggunakan nilai rata-rata konsensus dan nilai acuan.

Komite Akreditasi Nasional (2011) mengevaluasi hasil uji profisiensi dengan seleksi data (Grubbs satu kali), kemudian data yang tersisa diolah dengan Robust Z-score. Evaluasi Robust Z-score adalah dengan menggunakan nilai median konsensus atau nilai median dari peserta.

Herlina (1997) mengevaluasi data hasil uji profisiensi laboratorium batubara PT Sucofindo dengan metode seleksi data (Cochran’s Test dan Grubbs Test). Metode seleksi data tersebut kurang peka dalam memeriksa adanya keragaman dalam laboratorium.

Michael Kohc (2009) mengevaluasi hasil uji profisiensi dengan rata-rata konsensus dan standar deviasi. Nilai rata-rata dapat diperoleh dengan menyeleksi terlebih dahulu data yang outlier, kemudian dari data yang tersisa dihitung nilai rata-ratanya.

Frank Baumeister dan Michael Kohc (1999) mengevaluasi menggunakan nilai konsensus dan nilai acuan. Evaluasi dengan nilai acuan sangat direkomendasikan.

Erilia Yusnitha et al. (2008) mengidentifkasi uji profisiensi bahan bakar nuklir. Evaluasi hasil uji profisiensi dilakukan dengan menggunakan nilai acuan bersertifikat. Hasil uji dari setiap peserta dibandingkan dengan nilai acuan bersertifikat tersebut.

Edelgard et al. (2000) membahas mengenai pelaksanaan uji profisiensi di kimia analitik. Termasuk di dalamnya dibahas mengenai jumlah laboratorium peserta, homogenitas sampel, evaluasi data, dan interpretasi grafik.

(40)

Qi Zhou et al. (2011) mengevaluasi data hasil uji profisiensi serum kreatinin. Evaluasi hasil dilakukan dengan Robust Z-score antar laboratorium dan intra laboratorium. Robust Z-score dihitung dengan menggunakan median dari hasil uji profisiensi.

Qi Zhou et al. (2007) mengevaluasi data hasil uji profisiensi immunoglobulin E dengan Robust Z-score dan metode statistika lain. Evaluasi Robust Z-score adalah dengan menggunakan inter quartile range (IQR). Evaluasi metode statistika lain adalah dengan menyeleksi data yang outlier dan menggunakan nilai rata-rata.

(41)

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada Oktober 2011 - Maret 2012.

3.2 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara:

1. Rekapitulasi hasil uji profisiensi dari laboratorium peserta di Indonesia.

2. Pengiriman sampel ke laboratorium acuan luar negeri (Jerman) untuk memperoleh nilai acuan.

3. Wawancara kepada stake holder terkait meliputi pakar uji profisiensi, pihak laboratorium penyiap sampel.

4. Observasi lapangan pelaksanaan pengujian parameter terkait.

3.3 Metodologi

Dalam penelitian ini digunakan pendekatan statistika untuk melakukan evaluasi terhadap hasil uji profisiensi.

1. Metode evaluasi hasil uji 1 : dilakukan seleksi Grubbs 1 kali saja, kemudian terhadap data yang tersisa dilakukan perhitungan Robust Z-score.

2. Metode evaluasi hasil uji 2: dilakukan seleksi Grubbs berulang kali sampai tidak ada lagi data yg keluar, kemudian terhadap data yang tersisa dilakukan perhitungan Robust Z-score.

3. Metode evaluasi hasil uji 3: dilakukan evaluasi langsung menggunakan cara perhitungan Robust Z-score.

4. Metode evaluasi hasil uji 4: dilakukan evaluasi dengan menggunakan nilai laboratorium acuan, dan sebagai nilai s pada penyebut digunakan SD-Horwitz. Untuk menghitung besarnya SD-Horwitz digunakan nilai laboratorium acuan. (ISO, 2005; IUPAC, 2006; Trevor J.F., 2006).

(42)

homogenitas sampel, maka dilakukan uji anova sesuai Lampiran 14 – Lampiran 22. Sampel dikirim ke beberapa laboratorium peserta uji profisiensi di Indonesia. Laboratorium peserta uji profisiensi tersebut melakukan pengujian terhadap sampel dengan metode rutin yang biasa digunakan di laboratorium tersebut. Data uji profisiensi untuk sampel terkait direkap. Sampel juga dikirim ke laboratorium acuan luar negeri (Jerman) dan hasil pengujiannya dianggap sebagai nilai acuan. Dilakukan beberapa teknik evaluasi data uji profisiensi serta dipilih metode evaluasi yang terbaik. Metode pengujian yang digunakan oleh peserta uji profisiensi (SNI dan metode pengujian lain) dianalis unjuk kerjanya serta dikaji kemungkinan penyebab kinerja laboratorium yang tidak baik. Diagram alir metodologi adalah sesuai Gambar 1.

Pemilihan jenis sampel uji

Pemilihan jenis produk/sampel uji didasarkan pada :

1. Ketentuan dari pemberi sponsor (Kementerian Riset dan Teknologi), yaitu untuk lingkup terkait pangan.

2. Jenis produk yang mendukung pelaksanaan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diwajibkan (kakao bubuk).

3. Jenis produk yang terkait isu hangat yang beredar di masyarakat terutama mengenai bahan tambahan makanan termasuk pengawet (saus cabe).

4. Jenis produk yang terkait dengan keikutsertaan beberapa laboratorium Indonesia dalam uji profisiensi Asia Pasifik dan dinyatakan outlier (minyak nabati).

5. Produk yang dapat diperoleh nilai acuannya.

Dalam penelitian kali ini akan dibatasi pada tiga produk agroindustri, yaitu: 1. Kakao bubuk/cocoa powder (kadmium, kadar air, lemak, kehalusan lolos

ayakan).

2. Saus cabe (pengawet : kalium sorbat, natrium benzoat; pemanis : sakarin; jumlah padatan terlarut).

(43)

A

Mulai

Pemilihan jenis sampel dan konfirmasi

Hasil uji peserta jelas? Sampel homogen?

Analisis sampel oleh peserta dan pelaporan

Evaluasi hasil uji untuk menentukan unjuk kerja laboratorium (berdasarkan prinsip nilai median peserta):

1. Seleksi data Grubbs (1x); dilanjutkan dengan Robust Z-score.

2. Seleksi data Grubbs berkali-kali; dilanjutkan dengan Robust Z-score.

3. Langsung Robust Z-score

Konfirmasi Tidak

Ya

Tidak

Ya

Analisis sampel oleh laboratorium Ya

Evaluasi hasil uji untuk menentukan unjuk kerja laboratorium (berdasarkan nilai acuan):

(44)

Gambar 1 Diagram alir metodologi penelitian A

Penentuan metode evaluasi hasil uji terbaik berdasarkan:

1. CV Robust terkecil (APLAC, 2004) CV Robust = norm IQR x 100 %

Median

2. Z-score yang dihasilkan, dapat membedakan unjuk kerja lab yang baik, dan tidak baik

- Laboratorium yang termasuk dalam kategori tidak memuaskan (outlier), -3 > Z > 3 atau (I Z I ≥3 )

- Laboratorium yang termasuk dalam kategori “diperingatkan” (questionable) 2 < I ZI < 3

- Laboratorium yang kompeten.

I ZI ≤ 2 : berarti hasil analisisnya memuaskan. (ISO, 2010)

Identifikasi unjuk kerja metode pengujian (SNI dan metodelain) Identifikasi kemungkinan penyebab hasil uji

laboratorium tidak memuaskan dan kemungkinan penyebab secara umum laboratorium tidak memuaskan

berdasarkan titik kritis metode pengujian

Pembahasan (implikasi) untuk penelitian terkait dan rekomendasi

Mengidentifikasi metode evaluasi hasil uji

Tidak

Selesai Kinerja

(45)

Penyiapan sampel uji

Sampel uji profisiensi yang homogen sangat diperlukan, agar keragaman hasil uji profisiensi dapat dipastikan karena keragaman kemampuan laboratorium peserta dan bukan dari keragaman sampelnya. Keragaman sampel ditekan sekecil mungkin.

Sampel disiapkan dalam jumlah yang cukup. Dihomogenkan. Kemudian dimasukkan ke dalam kemasan. Dilakukan pengecekan terhadap homogenitas, dengan mengambil 10 kemasan, dan masing-masing diuji duplo kemudian dihitung nilai variansi dari pengambilan contoh (sampling) dan variansi dari keberulangan analisis. Kedua nilai tersebut masing-masing diperoleh dari MSB (mean square between) dan MSW (mean square within). Sampel dinyatakan homogen apabila nilai F hitung lebih kecil dari F tabel.

(

)

= data pengujian kedua

X = rata-rata

Kriteria : Uji F = F = MSB/MSW

Sampel diyatakan homogen apabila F hitung <Ftabel (db1, db2,α) (IUPAC, 2006; ISO, 2005).

Kakao bubuk dilakukan uji homogenitas kadar air dan kadar lemak. Saus cabe dilakukan uji homogenitas kalium sorbat. Minyak nabati dilakukan uji homogenitas miristat 1, miristat 2, palmitat 1, palmitat 2, stearat 1, dan stearat 2. Analisis sampel oleh peserta dan pelaporan

(46)

Penentuan laboratorium peserta uji profisiensi ini adalah berdasarkan teknik

purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik penentuan laboratorium dengan pertimbangan khusus sehingga laboratorium layak ikut serta dalam uji profisiensi ini. Laboratorium peserta yang diutamakan adalah laboratorium yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional.

Thompson et al. (2006) tidak mempersyaratkan jumlah minimum atau maksimum peserta uji profisiensi. Food and Consumer Safety Authority (1995) merekomendasikan jumlah minimum laboratorium adalah delapan. Edegard et al.(2000) merekomendasikan sedikitnya 8 – 15 laboratorium ikut serta dalam uji profisiensi. Edegard et al. (2000) juga mengindikasikan bahwa jumlah laboratorium peserta tidak perlu sama untuk seluruh level konsentrasi.

Pengiriman sampel uji ke laboratorium acuan.

Sampel uji dikirim ke laboratorium acuan (Jerman), untuk mendapatkan nilai acuan. Nilai tersebut akan digunakan dalam perhitungan kinerja laboratorium berdasarkan nilai acuan.

Evaluasi hasil uji

Dilakukan evaluasi hasil uji:

1. Metode evaluasi hasil uji 1 : dilakukan seleksi Grubbs 1 kali saja, kemudian terhadap data yang tersisa dilakukan perhitungan Robust Z-score.

2. Metode evaluasi hasil uji 2: dilakukan seleksi Grubbs berulang kali sampai tidak ada lagi data yg keluar, kemudian terhadap data yang tersisa dilakukan perhitungan Robust Z-score.

3. Metode evaluasi hasil uji 3: dilakukan evaluasi langsung menggunakan cara perhitungan Robust Z-score.

(47)

Uji Grubbs adalah metode yang digunakan untuk menghilangkan data yang ekstrem. Dalam uji Grubbs harus dilakukan langkah-langkah perhitungan berikut ini:

Uji Grubbs

- Data diurut dari mulai yang terkecil hingga yang terbesar (x1, x2, .... xn

- Nilai G hasil perhitungan dibandingkan terhadap nilai kritis Grubbs yang diberikan pada Tabel (G

).

tabel

- Apabila nilai G

).

hasil perhitungan lebih besar daripada G tabel

- Rumus untuk perhitungan Grubbs terdiri dari 3 : G

, maka data yang dicurigai dibuang (outlier).

1, G2, G3

- Rumus dipilih berdasarkan posisi data pada kumpulan data yang sedang diuji. Rumus Grubbs untuk G1, G2, dan G3 adalah sebagai berikut:

.

-

s2

n-2 = variansi dari semua data, tanpa mengikutsertakan

2 data terendah atau 2 data tertinggi

s = Standar Deviasi dari semua data X = Harga rata-rata

Xi= Data yang dicurigai outlier Xn= Data tertinggi

X1= Data terendah

G1(terendaht/ tertinggi) =

x - xi

Data duplo hasil analisis yang dikirimkan oleh setiap laboratorium dihitung secara statistika menggunakan metode perhitungan statistika Robust Z-score. Parameter yang dihitung disini adalah Z between laboratories. Untuk menghitung Z, mula-mula dihitung Si dengan rumus berikut ini:

Pendekatan nilai ketetapan konsensus dari laboratorium penguji yang mengikuti uji profisiensi (Robust Z-score)

adalah kedua data duplo hasil analisis.

= Si - median (Si)

(48)

IQR (Si)

IQR x 0,7413 adalah IQR ternormalisasi (n IQR) yang merupakan ukuran dari variabilitas data, yang mirip dengan simpangan baku.

x 0,7413

n IQR ≈ SD

IQR yang merupakan singkatan dari interquartile range adalah selisih antara quartile atas dan quartile bawah. Quartile bawah (Q1) adalah suatu harga

dibawah mana seperempat dari seluruh hasil berada/terletak sedangkan quartile atas (Q3

IQR = Q

) adalah suatu harga diatas mana seperempat dari seluruh hasil berada.Normalized interquartile range (IQR) adalah perbedaan antara kuartil rendah dan kuartil tinggi. Kuartil rendah (Q1) adalah nilai dibawah dimana seperempat hasil terletak. Kuartil tinggi (Q3) adalah nilai diatas dimana seperempat hasil terletak. Kuartil dihitung dengan IQR = Q3 – Q1. Normalized IQR adalah IQR dikalikan 0.7413. Qi Zhou et al (2011) menyatakan bahwa nilai 0.7413 berasal dari distribusi standar normal, dimana mempunyai nilai rata-rata 0 dan standar deviasi sama dengan satu. Lebar interquartile range pada distribusi adalah 1.34898 dan 1/1.34898 = 0.7413. Mengalikan IQR dengan faktor ini membuatnya setara dengan standar deviasi. Seperti diketahui penggunaan yang luas untuk mengukur variabilitas (atau penyebaran atau dispersi) dari data adalah standar deviasi.

3 - Q

n IQR = IQR x 0,7413

1

Dimana:

Z = Z score antar laboratorium

Ai = hasil uji sampel pertama dari laboratorium i Bi = hasil uji sampel kedua dari laboratorium i Median= nilai tengah dari sekelompok data n hitung 0.7413 = standar distribusi normal

IQR = interquartile range

Nilai Z

a) Laboratorium yang termasuk dalam kategori tidak memuaskan (outlier), apabila laboratorium tersebut memperoleh nilai Z

dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori:

yang bukan terletak diantara -3 dan +3. Besaran Z

3 > Z

Figur

Gambar 1  Diagram alir metodologi penelitian

Gambar 1

Diagram alir metodologi penelitian p.44
Tabel 2  Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (kadar air)

Tabel 2

Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (kadar air) p.56
Gambar 4  Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja  laboratorium tidak memuaskan (kadar air)

Gambar 4

Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja laboratorium tidak memuaskan (kadar air) p.59
Gambar 7  Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja

Gambar 7

Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja p.67
Gambar 10  Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja

Gambar 10

Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja p.74
Gambar 11  Hasil uji laboratorium peserta, kadmium kakao bubuk, sampel A

Gambar 11

Hasil uji laboratorium peserta, kadmium kakao bubuk, sampel A p.76
Gambar 13  Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja

Gambar 13

Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja p.80
Gambar 14  Hasil uji peserta, pengawet kalium sorbat saus cabe, sampel A

Gambar 14

Hasil uji peserta, pengawet kalium sorbat saus cabe, sampel A p.84
Tabel 14  Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (kalium sorbat)

Tabel 14

Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (kalium sorbat) p.86
Tabel 17  Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (natrium benzoat)

Tabel 17

Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (natrium benzoat) p.89
grafik berikut:

grafik berikut:

p.91
Tabel 20  Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (sakarin)

Tabel 20

Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (sakarin) p.92
Gambar 20  Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja

Gambar 20

Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja p.96
Gambar 23  Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja

Gambar 23

Diagram tulang ikan kemungkinan penyebab kinerja p.101
Tabel 29  Ringkasan hasil Z-score dengan 3 metode evaluasi (miristat 2)

Tabel 29

Ringkasan hasil Z-score dengan 3 metode evaluasi (miristat 2) p.109
Gambar 28  Hasil uji laboratorium peserta, palmitat 1, sampel A

Gambar 28

Hasil uji laboratorium peserta, palmitat 1, sampel A p.110
Gambar 30  Hasil uji laboratorium peserta, palmitat 2, sampel A

Gambar 30

Hasil uji laboratorium peserta, palmitat 2, sampel A p.113
Tabel 35  Ringkasan hasil Z-score dengan 3 metode evaluasi (palmitat 2)

Tabel 35

Ringkasan hasil Z-score dengan 3 metode evaluasi (palmitat 2) p.114
Gambar 32  Hasil uji laboratorium peserta, stearat 1, sampel A

Gambar 32

Hasil uji laboratorium peserta, stearat 1, sampel A p.115
Tabel 38  Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (stearat 1)

Tabel 38

Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (stearat 1) p.116
Gambar 34  Hasil uji laboratorium peserta, stearat 2, sampel A

Gambar 34

Hasil uji laboratorium peserta, stearat 2, sampel A p.117
Gambar 35  Hasil uji laboratorium peserta, stearat 2, sampel B

Gambar 35

Hasil uji laboratorium peserta, stearat 2, sampel B p.118
Tabel 41  Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (stearat 2)

Tabel 41

Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (stearat 2) p.119
Gambar 36  Hasil uji laboratorium peserta, oleat 1, sampel A

Gambar 36

Hasil uji laboratorium peserta, oleat 1, sampel A p.120
Gambar 37  Hasil uji laboratorium peserta, oleat 1, sampel B

Gambar 37

Hasil uji laboratorium peserta, oleat 1, sampel B p.120
Tabel 44  Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (oleat 1)

Tabel 44

Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (oleat 1) p.121
Tabel 45  Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (oleat 1)

Tabel 45

Ringkasan metode pengujian dan kinerjanya (oleat 1) p.122
Gambar 39  Hasil uji laboratorium peserta, oleat 2, sampel B

Gambar 39

Hasil uji laboratorium peserta, oleat 2, sampel B p.123
Tabel 47  Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (oleat 2)

Tabel 47

Ringkasan hasil Z-score dengan 4 metode evaluasi (oleat 2) p.124
Gambar 40  Hasil uji laboratorium peserta, linoleat 1, sampel A

Gambar 40

Hasil uji laboratorium peserta, linoleat 1, sampel A p.125

Referensi

Memperbarui...