Pelaksanaan Program Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Keterampilan Di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V Duren Sawit Jakarta Timur

120  22  Download (1)

Teks penuh

(1)

PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN

MELALUI KETERAMPILAN DI PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK

PUTRA UTAMA V DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk memenuhi syarat-syarat

mencapai gelar Sarjana Sosial Islam

Oleh:

Roudhotunnajah Nim: 104054002098

JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skrpsi yang berjudul “PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN MELALUI KETERAMPILAN DI PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK PUTRA UTAMA V DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR” telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tanggal 23 September 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S. Sos. I) pada jurusan Pengembangan Masyarakat Islam

Jakarta, 23 September 2008

Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

Drs. Arief Subhan, MA Rubiyanah, MA

150 262 442 150 286 373

Penguji I Penguji II

Wati Nilamsari, M. Si Nurul Hidayati, S. Ag, M.Pd

150 293 223 150 277 649

Pembimbing

(3)

PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN

MELALUI KETERAMPILAN DI PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK

PUTRA UTAMA V DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk memenuhi syarat-syarat

mencapai gelar Sarjana Sosial Islam

Oleh:

Roudhotunnajah Nim: 104054002098

Di Bawah Bimbingan:

Drs. Yusra Kilun, M.Pd NIP. 150 246 192

JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasli karya saya atau

merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 8 Oktober 2008

(5)

ABSTRAK

Roudhotunnajah

Pelaksanaan Program Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Keterampilan Di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V Duren Sawit Jakarta Timur

Kemiskinan dan kemerosotan moral maupun spiritual merupakan indikasi keputusasaan dan ketidakberdayaan anak-anak termasuk anak jalanan beserta keluarganya akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pokok kehidupannya. Keadaan ini harus disikapi dengan baik, sebab setiap masalah yang menyentuh kehidupan anak dalam jumlah besar akan berdampak tidak menguntungkan bagi kehidupan bangsa secara keseluruhan di masa datang.

Masalah kesejahteraan anak di jalanan yang cenderung menunjukkan perkembangan ke arah yang semakin kompleks dan luas itu, memerlukan mekanisme pencegahan serta penanggulangan secara cepat, tepat dan berkelanjutan. Upaya penanganan masalah anak jalanan telah banyak dilakukan, baik Lembaga Pemerintah dan Lembaga Non Pemerintah. Pemerintah Daerah DKI Jakarta melalui Dinas Bintal dan Kesejahteraan Sosial (Dinas Bintal Kessos) mendirikan sebuah Lembaga Sosial yang khusus menanggulangi masalah anak jalanan yang bernama Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V Duren Sawit yang memberikan pelayanan sosial terhadap anak jalanan. Yang meliputi pembinaan mental, fisik, maupun pelatihan keterampilan. Pelaksanaan program pemberdayaan anak jalanan melalui pelatihan keterampilan dapat merubah dan mengembangkan kemampuan mereka pada pentignya suatu karya atau hasil yang berguna dan bermanfaat serta dapat membuat anak-anak bisa berlatih hidup mandiri dalam berperilaku, berbahasa serta mempunyai jiwa yang kreatif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program yang dilaksanakan Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V dalam pemberdayaan anak jalanan melalui program keterampilan. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi secara langsung kegiatan pelatihan keterampilan di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V ini.

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberi nikmat islam, iman, dan kemudahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam tidak lupa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikutnya. Ada beberapa hambatan yang penulis temukan di dalam penyusunan skripsi ini, namun berkat bimbingan, dorongan, dan bantuan dari berbagai pihak, alhamdulillah semua dapat teratasi.

Dengan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak DR. Murodi, MA, selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Dra. Mahmudah Fitriyah ZA, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam.

3. Ibu Wati Nilamsari M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam.

4. Pembimbing Skripsi, Bapak Drs. Yusra Killun, M.Pd, walaupun dalam kesibukan yang sedemikian padatnya namun senantiasa menyediakana waktu untuk memberian bimbingan serta petunjuk yang berharga kepada penulis sampai selesainya skripsi ini.

5. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang telah memberikan Ilmu Pengetahuan kepada penulis selama menjalankan perkulihan.

(7)

7. Kepada Ayahanda Tercinta H. Nahrawi Sarwani LC dan Ibunda Tersayang Hj. Nurjannah Hasyim, yang telah memberikan segalanya dengan ikhlas baik moril maupun materil hingga terselesainya kuliah dan skripsi ini.

8. Untuk adik-adikku Tersayang Sofwatun Nida, Muhammad Najib, dan Robiatunnada yang telah membantu dan perhatiannya.

9. Untuk Sulaeman yang selalu mendukung dan mensupport serta setia meluangkan waktunya hinga selesainya skripsi ini.

10.Semua Sahabatku di Pengembangan Masyarakat Islam Angkatan 2004 khususnya kelompok KKN Sumedang Utara terima kasih atas pengalamannya.

11.Semua Sahabatku di Pengembangan Masyarakat Islam: Neneng, Zahro, Ani, Zilyusraini, Dewi, Maylina, Winny, Ika, Eva, Nurafia, Erniyati, Serly.

12.Pengurus Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V Duren Sawit, terima kasih atas bantuan dan informasi dan data-data yang diperlukan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

13.Untuk Kepala Sekolah dan Guru-Guru M.I Nurul Huda, terima kasih yang telah memberikan motivasi dan doanya untuk terlaksananya skripsi ini dengan selesai

Atas segala kekurangan yang ada, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan semoga apa yang dipersembahkan ini akan berguna bagi penulis khususnya serta orang lain pada umumnya.

Jakarta, 10 September 2008

(8)

DAFTAR ISI

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 9

D. Metodologi Penelitian ... 9

E. Tinjauan Pustaka ...19

F. Sistematika Penulisan ...20

BAB II TINJAUAN TEORITIS

C. Masalah Anak Jalanan...34

a. Pengertian anak jalanan ...34

b. Kategori Anak Jalanan ...37

c. Ciri-ciri Anak Jalanan...40

d. Penyebab mereka menjadi anak jalanan...42

e. Penanganan Masalah Anak Jalanan ... 44

D. Pengertian Keterampilan ...49

BAB III GAMBARAN UMUM PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK PUTRA UTAMA V A. Latar Belakang Berdirinya Panti...51

B. Maksud Dan Tujuan Didirikan Panti...53

C. Visi Dan Misi Panti Sosial Asuhan Anak ...54

D. Program-Program Kegiatan Panti ...55

E. Struktur Organisasi Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V ...58

(9)

BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM

PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN MELALUI

KETERAMPILAN ...60

A. Pelaksanaan Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Keterampilan ...61

1. Metode Pelaksanaan Program Keterampilan ...64

2. Pelaksanaan Program Keterampilan... 65

3. Hasil pelaksanaan program keterampilan ...74

B. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Program Pemberdyaan Anak Jalanan Melalui Ketrempilan………….. 79

1. Faktor Pendukung ...79

2. Faktor Penghambat...81

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ...84

B. Saran...85 DAFTAR PUSTAKA

(10)

BAB I PENDAHULUAN

E. Latar Belakang

Pemberdayaan masyarakat merupakan proses dimana masyarakat khususnya yang kurang memiliki akses pada sumberdaya pembangunan, didorong untuk meningkatkan kemandirian dalam mengembangkan kehidupan. Masyarakat mengkaji tantangan dalam pembangunan dengan mengajukan kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk mengatasi masalah ini. Basis dalam aktivitas ini meliputi program lokal, regional, dan rasional. Target utama dalam pendekatan ini adalah kelompok yang termarjinalkan termasuk kelompok anak jalanan.

Anak-anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan pada setiap manusia. Amanah tersebut harus kita pelihara dengan baik, karena dalam diri anak terdapat harkat, martabat, dan hak untuk hidup layak. Anak juga sebagai potensi dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa dan agama, yang memiliki posisi sangat strategis dalam menjamin kelangsungan

eksistensi bangsa di masa depan. Artinya, kondisi anak pada saat ini sangat menentukan kondisi bangsa di masa depan. Kebutuhan anak-anak baik kebutuhan fisik, sosial maupun mental rohaniahnya, harus dipenuhi agar tumbuh menjadi generasi yang berkualitas.1

Anak berhak untuk tumbuh kembang secara wajar serta memperoleh perawatan, pelayanan, asuhan, dan perlindungan yang bertujuan untuk

1

(11)

mewujudkan kesejahteraannya. Anak juga berhak atas peluang dan dukungan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri dan kemampuannya. Namun tidak semua keluarga dapat memenuhi seluruh hak dan kebutuhan anak, disebabkan oleh krisis ekonomi. Kemiskinan dan kemerosotan moral, maupun spiritual merupakan indikasi keputusasaan dan ketidakberdayaan anak-anak, termasuk anak jalanan beserta keluarganya akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pokok kehidupan anak.2

Dalam hal ini, anak-anaklah yang pertama menjadi korban dari masalah rumah tangga dan juga kemiskinan yang mempengaruhi ekonomi keluarga, padahal anak-anak yang berusia dibawah 18 tahun yang semestinya masih harus diperhatikan dan memperoleh asuhan dari orang tuanya, karena berbagai alasan terjebak ke dalam kondisi keterlantaran.

Banyak orang tua yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Sementara harga-harga barangpun meningkat tinggi. Agar dapat mempertahankan kehidupan ekonomi keluarga sebagian orang tua membolehkan anak-anak mereka turun ke jalan seperti mengamen, menyemir sepatu, atau mengemis dan memberhentikan anaknya bersekolah karena ketiadaan biaya3

Dampak krisis ekonomi dalam kaitannya dengan anak jalanan adalah: orang tua mendorong anak untuk bekerja membantu ekonomi keluarga, kasus kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak oleh orang tua, semakin meningkat. Anak lari ke jalanan, kehilangan hak atas kelangsungan hidup yang layak,

2

Triyanti, Maria April Astuti Anny, Pemberdayaan Anak Jalanan di DKI Jakarta (Universitas Indonesia Program Studi Sosiologi, 2002) h.3.

3

(12)

pendidikan, kebebasan berpikir, perlindungan dari perlakuan kejam dan eksploitasi, kebebasan menyatakan pendapat dan pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya.4

Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah dengan berkeliaran di jalan atau tempat-tempat umum lainnya.5 Anak jalanan tidak lagi sempat memikirkan pentingnya pendidikan, mereka hanya memikirkan kebutuan ekonomi untuk diri dan keluarganya.6 Oleh karena itu, anak jalanan cenderung menjadi objek eksploitasi ekonomi terutama orang tuanya. Padahal dalam undang-undang Republik Indonesia, Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pasal 4 berbunyi setiap orang berhak untuk dapat hidup, tumbuh, kembang dan berprestasi secara wajar sesuai dengan harkat, dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.7

Dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara"8. Akan tetapi jaminan dan perlindungan yang menjadi hak dasar anak tersebut cenderung sangat sulit diperoleh oleh anak jalanan.

Masalah keterlantaran layak menjadi keprihatinan kita semua, terutama karena luasnya skala, persebaran dan kompleksitas permasalahan ini antara lain

4

Abu Tandeng K. Maryam. “Pelaksanaan Program Peningkatan Kesejahteraan Anak Jalanan (Universitas Indonesia Program Studi Sosiologi,2002) h.146

5

Deputi Bidang Peningkatan Kesejahteraan Sosial BKSN, Modul Pelatihan Pekerja Sosial Rumah Singgah, (Jakarta: BKSN,2002). h.23.

6

www.dikmas depdikmas.go.id ( Jakarta :17 Mei 2008 )

7

UU Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ( Surabaya : Media Center, 2006 ) h.117.

8

(13)

dapat dicermati dari pernyataan berikut ini : kesehatan dan gizi buruk anak, pindah atau ketiadaan akses untuk memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan, sosial dan rekreasi, tingginya anak putus sekolah, dan anak jalanan pada hakikatnya menunjukkan tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma masyarakat.

Di jalan mereka berinteraksi dengan nilai-nilai dan norma yang jauh berbeda dengan nilai-nilai dan norma yang ditanamkan di lingkungan keluarga dan sekolah. Padahal keluarga dan sekolah merupakan lembaga yang bertanggungjawab penuh terhadap pendidikan, perkembangan, dan pemberdayaan potensi diri mereka.

Potensi diri adalah kemampuan dasar manusia yang telah diberikan Allah SWT. Sejak dalam kandungan ibu sampai akhir hayatnya, potensi tersebut masih terpendam di dalam diri manusia, menunggu untuk diwujudkan menjadi modal dasar dalam kehidupan diri manusia di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an :

!

"$%&'()!*

Artinya:

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Q.S. Ar-Rad :11).

Oleh karena itu, anak jalanan mampu mengembangkan potensi diri dan kemampuan mereka agar dapat melakukan sesuatu ke arah yang bermanfaat untuk merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik.

(14)

banyak muncul hanya terbatas pada wilayah perkotaan, permasalahan tersebut sudah layak untuk memperoleh perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh. Mengingat dampak dari masalah anak jalanan bukan hanya mengkhawatirkan bagi masa depan yang bersangkutan, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, tetapi secara nyata dapat meresahkan masyarakat, seperti mengganggu ketertiban umum, keamanan, keindahan dan kenyaman kota, karena memberikan kesan tidak manusiawi, mereka lebih dianggap sebagai sosok yang menakutkan dan kotor daripada sosok yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Ini tidak adil dan akan menambah tekanan pada anak yang menyebabkan mereka pergi ke jalan.

Keadaan ini harus disikapi dengan baik, sebab setiap masalah yang menyentuh kehidupan anak akan berdampak tidak menguntungkan bagi kehidupan bangsa secara keseluruhan di masa datang. Masalah kesejahteraan anak jalanan yang cenderung menunjukkan perkembangan ke arah semakin kompleks dan luas, menuntut berfungsinya mekanisme pencegahan serta penanggulangan secara cepat, tepat dan berkelanjutan.9

Multikrisis yang belakangan terjadi di Indonesia telah menurunkan kemampuan pemerintah dan masyarakat, sehingga tumbuh dan bekembangnya masalah tersebut tidak dapat diikuti secara proporsional oleh sumber-sumber yang mendukung penanganannya. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut tidak ada cara lain yang signifikan kecuali kembali berupaya menggali dan memanfaatkan sumber yang dimiliki dengan menyertakan komunitas itu sendiri.10

9

Triyanti, Maria April Astuti Anny, Pemberdayaan Anak Jalanan di DKI Jakarta. h.7

10

(15)

Terkait dengan masalah ini, upaya menggali dan memanfaatkan sumber daya dapat dilakukan dengan mendirikan organisasi atau lembaga yang khusus menanggulangi permasalahan sosial, upaya penanganan masalah anak jalanan telah banyak dilakukan baik oleh lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah (LSM). Pemerintah Daerah DKI Jakarta melalui Dinas Bintal Kesos (Bimbingan Mental dan Kesejahteraan Sosial) menanggulangi masalah-masalah sosial, khususnya masalah sosial anak jalanan. Sehingga Pemda DKI mendirikan sebuah Lembaga Pemerintah yang khusus menanggulangi masalah anak jalanan yang bernama Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V di Duren Sawit. Lembaga ini merupakan Unit pelaksana teknis dari Dinas Bintal Kesos ( Bimbingan Mental dan Kesejahteraan Sosial ) yang memberikan pelayanan sosial terhadap anak jalanan yang ada di Provinsi DKI Jakarta. Lembaga Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V ini memberikan pelayanan sosial berupa pendidikan, bimbingan mental, bimbingan keagamaan serta pelatihan keterampilan.

Maka dengan adanya lembaga pemerintah yang khusus menanggulangi masalah anak jalanan ini, diharapkan dapat membangun dan melahirkan perubahan dalam masyarakat yang memberikan asumsi bahwa lembaga pemerintah ini mampu melahirkan masyarakat yang lebih maju.

(16)

pemberdayaan untuk anak jalanan di satu bidang yaitu pelatihan keterampilan, yang mana program tersebut sangat bermanfaat bagi anak jalanan dalam mengembangkan kreativitas mereka.

Pelatihan keterampilan seperti menjahit, sablon, serta komputer, yang terdapat di PSAA ini, dapat mengolah kemampuan mereka pada pentingnya suatu karya atau hasil yang berguna dan bermanfaat dan dapat membuat anak-anak bisa

berlatih hidup mandiri dalam berperilaku, berbahasa, serta mempunyai jiwa yang kreatif. Pemberdayaan anak jalanan melalui keterampilan tersebut dapat menghasilkan pemikiran dan kreatifitas bagi anak untuk tumbuh kembang secara optimal, karena dasarnya pola pikir anak–anak bergantung pada lingkungan dan sesuatu yang diarahkan pada orang-orang di sekeliling anak jalanan. Karena pemberdayaan anak merupakan usaha yang bertujuan untuk menolong seseorang dan dalam hal ini khususnya anak jalanan sehingga mereka mendapatkan solusi bagi masalah-masalah mereka sendiri.11

Penulis tertarik pada pelaksanaan pemberdayaan untuk anak jalanan melalui keterampilan di Panti Sosial Asuhan Anak yang dapat membuat

anak-anak dapat mengembangkan kemampuan yang mereka miliki, bakat dan minat mereka dapat tersalurkan, serta dapat menciptakan jiwa yang kreatif dan mandiri. Panti tersebut memiliki tanggung jawab sosial dalam memberdayakan anak jalanan sebagai pengembang masyarakat dalam mengatasi masalah sosial dan dapat membangun segala potensi anak jalanan.

11

(17)

Untuk itu penulis memberi judul untuk skripsi ini adalah "PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN MELALUI KETERAMPILAN DI

PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK PUTRA UTAMA V DUREN SAWIT JAKARTA

TIMUR

F. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Dengan melihat latar belakang permasalahan di atas, maka masalah yang akan penulis teliti pada tulisan ini, penulis batasi hanya pada masalah yang terkait dengan program pemberdayaan anak jalanan dan dalam hal ini penulis memfokuskan pada satu program pemberdayaan yaitu pelatihan keterampilan yang dilakukan Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V dan untuk mempermudah dan memperjelas permasalahan yang akan dibahas, maka penulis membatasi penelitian ini pada “Pelaksanaan Program Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Keterampilan”

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, maka perumusan masalahnya adalah :

a. Bagaimana pelaksanaan program pemberdayaan anak jalanan melalui keterampilan di Panti?

b. Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat Panti dalam pelaksanaan pemberdayaan anak jalanan melalui program keterampilan?

(18)

G. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program pemberdayaan anak jalanan melalui keterampilan di Panti.

b. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat Panti dalam pelaksanaan pemberdayaan anak jalanan melalui program keterampilan.

2. Manfaat Penelitian

a. Diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu sosial kemasyarakatan yang bersifat praktis dan jelas

b. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan rekomendasi bagi pekerja sosial atau lembaga sosial yang memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan anak jalanan dalam melaksanakan program-program penanganan anak jalanan agar lebih efektif dan aspiratif.

c. Penelitian ini diharapkan dapat membantu Panti Sosial Asuhan Anak dalam melaksanakan program-programnya.

H. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian adalah alat uji dan analisa yang digunakan untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid, reliable dan objektif.12

1. Pendekatan Penelitian

12

(19)

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya, prilaku, motivasi, tindakan, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.13 Pendekatan kualitatif dapat digunakan untuk mempelajari dan mengerti apa yang telah terjadi di belakang setiap fenomena atau kenyataan yang baru sedikit dimengerti.

Penelitian kualitatif berupaya menggambarkan dan menganalisis pelaksanaan-pelaksanaan pemberdayaan yang dilakukan oleh panti sosial melalui program keterampilan. Dalam penelitian ini penulis berusaha menggambarkan secara komprehensif melalui pengumpulan data dengan melakukan wawancara mendalam dan pengamatan, tentang pelaksanaan pemberdayaan melalui program keterampilan yang dilakukan oleh panti. Pelaksanaan program tersebut dianalisis dengan cara menyesuaikan dan membandingkan dengan konsep-konsep atau teori keilmuan tentang pemberdayaan. Dalam penelitian ini dijelaskan lebih dalam tentang pelaksanaan program pemberdayaan anak jalanan melalui keterampilan.

Sehingga penelitian ini mendeskripsikan mengenai Pelaksanaan program pemberdayaan anak jalanan melalui keterampilan.

2. Tehnik Pemilihan Subjek Penelitian

Subyek dari penelitian ini adalah pengurus panti sosial asuhan anak putra utama V yang terdiri dari kepala panti, ketua asuhan dan perawatan anak, instruktur pelatihan keterampilan (3 orang).

13

(20)

Adapun mengenai pihak-pihak lain (sebagian anak jalanan yang mengikuti pelatihan keterampilan) peneliti ambil sebagai informan-informan pemerkuat dalam hal melengkapi data-data dan informasi lainnya.

Jumlah anak asuh di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V yang mengikuti pelatihan keterampilan ada 107 anak, dengan 3 instruktur pelatihan keterampilan, yaitu instruktur keterampilan komputer, instruktur keterampilan menjahit, instruktur keterampilan sablon. Dari 107 anak ini ada beberapa anak yang mengalami gangguan kejiwaan sebanyak 7 anak, sehingga jumlah anak yang mengikuti keterampilan ada 100 anak. Dengan perincian yang mengikuti keterampilan komputer (36 anak), keterampilan menjahit (40 anak), dan keterampilan sablon (24 anak).

Untuk pemilihan responden, penulis membuat tipologi ideal dengan berdasarkan nama, jenis keterampilan, dan keaktifan anak.

Tabel 1.1

No Nama L/P Jenis Keterampilan Keaktifan

1 Ulul Albab L Komputer Aktif

2 Agun Gunawan L Komputer Aktif

3 Nia Syahrini P Menjahit Aktif

4 Susilowati P Menjahit Kurang Aktif

5 Maharani P Menjahit Aktif

6 Andes P Menjahit Aktif

7 Taryati P Menjahit Kurang Aktif

8 Sri Suryani P Menjahit Aktif

9 Risky Amanah P Menjahit Kurang Aktif

10 Mariono H Putra L Komputer Aktif

11 Subardi L Sablon Aktif

12 Nurhayati P Komputer Aktif

13 Fajar Ramadhan L Komputer Aktif

14 Dewi Aprianti P Menjahit Kurang Aktif

15 Imam Syah L Sablon Aktif

(21)

17 Rafli L Komputer Aktif

18 Sandiana L Sablon Kurang Aktif

19 Agung Pamungkas L Komputer Kurang Aktif

20 Sofyanto L Sablon Kurang Aktif

39 Nanang Apriyanto L Komputer Kurang Aktif

40 Irma Mariana P Menjahit Aktif

54 Dendi Angriawan L Komputer Kurang Aktif

(22)

61 Monica P Menjahit Kurang Aktif

70 Sandi Cahyo Pamungkas L Sablon Kurang Aktif

(23)

Adapun alasan penulis membuat tipologi ideal berdasarkan tingkat keaktifan anak dari masing-masing keterampilan adalah karena tingkat keaktifan anak selama mengikuti proses pelaksanaan program keterampilan akan membantu penulis untuk mendapatkan informasi mengenai gambaran tahapan-tahapan pelaksanaan pemberdayaan melalui program keterampilan yang dilakukan oleh Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V.

Dalam konteks ini penulis memilih responden sebagai berikut :

Kelompok anak dalam keterampilan komputer 10 anak aktif dan 3 anak yang tidak aktif, kelompok anak dalam keterampilan menjahit 12 aktif dan 5 tidak aktif, kelompok anak dalam keterampilan sablon 8 aktif dan 2 tidak aktif.

3. Sumber Data

a. Data primer adalah data yang belum tersedia sehingga untuk menjawab masalah penelitian, data harus diperoleh dari sumber aslinya.14data primer, terbagi menjadi 2 sumber data yaitu:

1. Data Utama yaitu data yang diperoleh secara langsung dari partisipan atau sasaran penelitian, yaitu Pengurus Panti Sosial Asuhan Anak terdiri dari Kepala Panti Bpk. Drs. Wahyu Rasyid, Ketua Identifikasi dan perawatan Anak Dra. Dyah Ratnaningsih, Instruktur keterampilan 2. Data Umum yaitu data yang diperoleh dari anak jalanan yang bertemu

langsung di panti, dan yang menjadi sample kelompok anak dalam keterampilan komputer 10 anak aktif dan 3 anak yang tidak aktif,

14

(24)

kelompok anak dalam keterampilan menjahit 12 aktif dan 5 tidak aktif, kelompok anak dalam keterampilan sablon 8 aktif dan 2 tidak aktif. b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari catatan-catatan atau

dokumen yang berkaitan dengan penelitian dari sumber yang terkait. Catatan dan dokumen tersebut berupa internet tentang anak-anak jalanan serta dokumen pribadi Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V berupa buku panduan.

4. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dilokasi Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V yang beralamat di Jalan Swadaya Raya Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur.

5. Waktu Penelitian

Penelitian ini berlangsung sejak bulan November 2007, namun efektif waktu pelaksanaannya pada bulan Mei sampai Agustus 2008.

6. Tehnik Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah:

a. Observasi adalah suatu pengamatan yang khusus dan pencatatan yang sistematis yang ditujukan pada suatu atau beberapa fase masalah di dalam rangka penelitian, dengan maksud untuk mendapatkan data yang diperlukan dan untuk pemecahan persoalan yang dihadapi.15 Dalam penelitian ini peneliti melakukan observasi, atau mengamati secara langsung kegiatan pembinaan keterampilan di Panti Sosial Asuhan Anak.

15

(25)

Dalam observasi peneliti melakukan pencatatan apa yang bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, diraba oleh tangan kemudian peneliti tuangkan dalam penulisan skripsi sesuai dengan data yang dibutuhkan. b. Wawancara merupakan tehnik pengumpulan data dengan cara tanya jawab

yang sistematis dan tatap muka.16

Penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan narasumber Kepala Panti Sosial Asuhan Anak Bpk. Drs. Wahyu Rasyid, Ketua Identifikasi dan perawatan anak Dra. Ibu Dyah Ratnaningsih serta Instruktur Keterampilan dengan cara mengajukan pertanyaan yang tidak terikat dan berdasarkan pedoman pertanyaan dari penulis untuk memperoleh data, dengan demikian dapat memperluas informasi yang dibutuhkan. Pertanyaan pokok bagi narasumber adalah bagaimana pelaksanaan program pemberdayaan anak jalanan yang dilakukan panti sosial asuhan anak putra utama V.

Wawancara pertama dilakukan pada tanggal 14 agustus 2008 pada jam 11.00 WIB, dengan kepala Panti Bpk. Wahyu Rosyid, bersama ketua bagian perawatan dan identifikasi yaitu Ibu Dyah Ratnaningsih, lalu pada jam 13.00 kepada instruktur keterampilan yang penulis wawancarai ketika sedang menjalankan pelatihan keterampilan, kemudian pada jam 15.30 dilanjutkan wawancara dengan beberapa anak asuh yang mengikuti keterampilan, dilakukan hanya sebagai pelengkap data yang dibutuhkan.

16

(26)

c. Studi Dokumentasi mencari data yang tertulis, baik berupa buku, jurnal ataupun lainnya.17 Tehnik ini dilakukan dengan cara mengklasifikasi dan mempelajari bahan-bahan tertulis yang berkaitan dengan penelitian, dan mengambil data atau informasi yang dibutuhkan pada sumber berupa dokumen, buku, majalah, koran dan lain- lain.

7. Tehnik Pencatatan Data

Pencatatan data dilakukan dengan cara pencatatan lapangan yang berisi hasil wawancara dan pengamatan. Pengamatan secara cermat terhadap kegiatan pelatihan keterampilan secara langsung di Panti Sosial Asuhan Anak. Tehnik wawancara digunakan untuk mengumpulkan keterangan tentang Pelaksanaan Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Keterampilan dalam hal ini, penulis mengajukan beberapa pertanyaan yang telah peneliti siapkan kepada responden, lalu di jawab oleh pemberi data dengan bebas terbuka.

8. Tehnik Analisis Data

Setelah data yang diperlukan terkumpul, selanjutnya disusun secara sistematis dan diklasifikasikan dengan melakukan analisis sesuai dengan perumusan masalah dan tujuan penelitian. Analisis data adalah proses penyusunan data agar bisa ditafsirkan, dan memberikan makna pada analisis. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sasaran penelitian ini adalah kegiatan analisis data meliputi kegiatan reduksi data. Menganalisis sesuatu

17

(27)

secara keseluruhan kepada bagian-bagiannya, atau menjelaskan tahap akhir dari proses perkembangan sebelumnya yang sederhana.18

Setelah dalam bentuk data mentah yang diperlukan terkumpul, selanjutnya disusun secara sistematis dan diklasifikasikan dengan melakukan analisis sesuai dengan perumusan masalah dan tujuan penelitian.

Tehnik penulisan skripsi ini berpedoman pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2002” yang diterbitkan oleh UIN Perss, Cetakan ke-2, tahun 2002.

9. Keabsahan Data

Kredibilitas (Derajat Kepercayaan) dengan menggunakan tehnik triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, hal itu dapat dicapai dengan jalan :

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, misalnya untuk mengetahui pelaksanaan pemberdayaan anak jalanan yang dilakukan Panti Sosial Asuhan Anak melalui program keterampilan.

b. Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain, misalnya dalam hal ini peneliti membandingkan jawaban yang diberikan oleh Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama V dengan jawaban yang diberikan oleh Kepala Panti Sosial Asuhan Anak yaitu Bpk. Drs. Wahyu Rosyid.

18

(28)

c. Membandingkan hasil wawancara dengan hasil dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diajukan. Peneliti memanfaatkan dokumen atau data sebagai bahan perbandingan.

E. Tinjauan Pustaka

Sebelum penulis mengkaji tulisan ini, ada beberapa tulisan yang membahas tentang pemberdayaan anak jalanan salah satunya Tesis yang ditulis oleh mahasiswa Kessos Universitas Indonesia Rajuminropa dengan judul

Pemberdayaan Anak Jalanan dari Keluarga Miskin.

Tesis Abu Tandeng K. Maryam dengan judul “Pelaksanaan Program Peningkatan Kesejahteraan Anak Jalanan”. Dalam karya mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Indonesia fokus pembahasannya mengenai masalah anak jalanan, tetapi penulis tidak menafikan diri bahwa dalam skripsi ini banyak data-data yang diambil dari karya ilmiah tersebut, meskipun hanya sebagai data sekunder yang fungsinya sebagai pelengkap data primer.

(29)

F. Sistematika Penulisan

Skirpsi ini terdiri dari LIMA BAB yang masing-masing mempunyai sub-sub Bab dengan penyusunan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan : diawali dengan latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian yang digunakan, tinjauan pustaka serta sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan teoritis terdiri dari : Pengertian Pelaksanaan, Pemberdayaan yang meliputi : Pengertian Pemberdayaan, Program dan Proses Pemberdayaan, Tahapan-Tahapan Pemberdayaan, Masalah Anak Jalanan Meliputi: Pengertian Anak Jalanan, Kategori Anak Jalanan, Ciri-Ciri Anak Jalanan, Penyebab Mereka Menjadi Anak Jalanan, Penanganan Masalah Anak Jalanan, Pengertian Keterampilan.

BAB III Gambaran umum tentang Panti Sosial Asuhan Anak yang meliputi : Tinjauan umum lokasi penelitian, Latar Belakang berdirinya panti, Maksud dan Tujuan didirikan Panti Sosial Asuhan Anak,Visi dan Misi Panti, Sarana dan Prasarana Panti serta Struktur Kepengurusan dan Program kegiatan panti.

BAB IV Analisa pelaksanaan program pemberdayaan anak jalanan melalui keterampilan terdiri dari: Bidang Pelatihan Keterampilan meliputi, Metode Pelaksanaan Program Keterampilan, Pelaksanaan Program Keterampilan, Hasil dari Pelaksanaan Program Keterampilan, Faktor Pendukung dan Penghambat Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Keterampilan.

BAB V Penutup meliputi saran dan kesimpulan DAFTAR PUSTAKA

(30)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pelaksanaan

Pelaksanaan dalam kamus Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan, melaksanakan (rancangan, keputusan, dan sebagainya).19

Istilah pelaksanaan dalam ilmu manajemen adalah actuating yang berarti sebagai usaha menggerakan anggota-anggota kelompok demikian rupa hingga mereka ingin mencapai sesuatu dan berusaha untuk mencapai sasaran yang diinginkan oleh pihak manajer oleh karena mereka ingin mencapainya. Actuating

merupakan bagian vital dari pada proses manajemen, actuating khusus berhubungan dengan orang-orang.20

Jadi pelaksanaan adalah suatu proses atau tindakan yang dilakukan organisasi atau lembaga untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan, dan merupakan suatu rencana dengan memanfaatkan persiapan yang dilakukan lembaga atau organisasi.

B. Pemberdayaan

1. Pengertian Pemberdayaan

Istilah pemberdayaan diartikan sebagai upaya memperluas horizon pilihan bagi masyarakat, dengan upaya pendayagunaan potensi pemanfaatan yang

19

DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 2005) cet ke-3 h. 627.

20

(31)

baiknya dengan hasil yang memuaskan. Masyarakat diberdayakan untuk melihat dan memilih sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, dapat dikatakan bahwa masyarakat yang berdaya adalah yang dapat memilih dan mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pilihan-pilihan.21

Menurut Shardlow, pemberdayaan pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.22

Konsep pemberdayaan merupakan upaya mencari bentuk konsep pembangunan yang ideal setelah berbagai paradigma pembangunan sebelumnya gagal, memenuhi harapan sebagian besar umat manusia.23 Menurut Hikmat definisi pemberdayaan dari beberapa ahli, sebagai berikut:

“Pada dasarnya pemberdayaan diletakkan pada kekuatan tingkat individu dan sosial menurut Rappaport (1989), Pemberdayaan diartikan sebagai pemahaman secara psikologis pengaruh kontrol individu terhadap keadaan sosial, kekuatan politik, dan hak-hak menurut Undang-Undang. Sementara itu Mc Ardle (1989) mengartikan pemberdayaan sebagai proses pengambilan keputusan, orang-orang yang secara konsekuen melaksanakan keputusan tersebut. Orang-orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka

21

Nanih Machendrawaty dan Agus Ahmad Safe’I, Pengembangan Masyarakat Islam ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 2001), h.42

22

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas (Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2003), h.54.

23

(32)

sendiri dan akumulasi pengetahuan keterampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan mereka tanpa tergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal”. Mc Ardle mengimplikasikan makna tersebut bukan untuk mencapai tujuan melainkan makna pentingnya proses dalam pengambilan keputusan.24

Payne mengemukakan bahwa suatu proses pemberdayaan pada intinya ditunjukan guna membantu klien memperoleh daya untuk emengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk merugikan efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungan.25

Sedangkan Ife, (1991) yang dikutip oleh Suharto memberikan definisi pemberdayaan sebagai :

(Pemberdayaan berarti menyediakan memberikan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat guna meningkatkan keterampilan mereka dalam pengambilan keputusan dan berpartisipasi dalam kegiatan yang mempunyai dampak pada kehidupan masyarakat di masa depan).26

Menurut Biestek dikutip oleh Adi mengemukakan bahwa pemberdayaan di bidang kesejahteraan sosial dikenal dengan “self determination”, yang dikenal sebagai salah satu prinsip dasar dalam bidang pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial. Prinsip ini pada intinya mendorong klien untuk menentukan sendiri apa

24

Harry Hikmat, Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Bandung : Humaniora Utama Press, 2004. Cet. Ke-2), h.

25

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas (Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2003)Edisi Revisi 2003 h. 54.

26

(33)

yang harus ia lakukan dalam kaitan dengan upaya mengatasi permaslahan yang ia hadapi.27

Menurut Parson, pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat berpartisipasi dalam berbagai penontrolan, atas dan mempengaruhi terhadap kejadian-kejadian serta lembaga-lemabaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.28

Menurut Kartasasmita dikutip oleh Setiawan mendefinisikan bahwa pemberdayaan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia atau masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan.29

Pemberdayaan adalah proses menambah daya individu atau kelompok yang tidak beruntung atas pilihan pribadi, penentuan kebutuhan, gagasan, lembaga, sumber, aktivitas ekonomi, dan reproduksi melalui kebijakan sosial, aksi politik dan pendidikan.30

Pemberdayaan menunjukan pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam :

27

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas (Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2003), h.55.

28

Ibid, h.56.

29

Setiawan, Hari Hariyanto, “Pengembangan Program Anak Jalanan Melalui Pendekatan Community” 2001. h.67.

30

(34)

a. Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan, dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan bebas dari kesakitan.

b. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatnya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan.

c. Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.31

Pemberdayaan bisa diartikan juga sebagai perubahan kepada arah yang lebih baik, dari tidak berdaya menjadi berdaya. Pemberdayaan terkait dengan upaya meningkatkan taraf kehidupan ke tingkat yang lebih baik. Pemberdayaan adalah meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang dimiliki, tentunya dalam menentukan ke arah yang lebih baik lagi.32 Menurut T. Handoko, pemberdayaan adalah suatu usaha jangka panjang untuk memperbaiki proses pemecahan masalah dan melakukan pembaharuan. 33

Sekilas jika definisi tersebut diperhatikan memang terdapat perbedaan, tetapi mengandung arti yang sama, oleh karena itu penulis mencoba menyimpulkan mengenai batasan definisi pemberdayaan berdasarkan informasi di atas sebagi berikut:

a. Pemberdayaan adalah mengembangkan dari keadaan tidak berdaya menjadi berdaya.

31

Edi Suhato, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, (Bandung: Reflika Aditama, 2005), h. 58.

32

Diana, Perencanaan Sosial Negara berkembang, ( Yogyakarta : Gjah Mada University Press, 1991 ), h.15.

33

(35)

b. Pemberdayaan dilakukan melalui proses yang cukup panjang dan dilakukan secara kontinyu untuk menuju ke arah yang lebih baik.

c. Pemberdayaan bisa diartikan sebagai perubahan yang lebih meningkat. d. Pemberdayaan bisa diartikan sebagai pengembangan.

Jadi pemberdayaan adalah upaya mendorong (encourage), memberikan motivasi dan membangkitkan kesadaran (awareness) akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya.

2. Program dan Proses Pemberdayaan

Pemberdayaan sebagai suatu program, dimana pemberdayaan dilihat dari tahapan-tahapan kegiatan guna mencapai suatu tujuan, yang biasanya sudah ditentukan jangka waktunya. Bila program selesai maka dianggap pemberdayaan sudah selesai dilakukan. Hal ini banyak terjadi pada pembangunan berdasarkan proyek yang banyak dikembangkan oleh lembaga-lembaga pemerintah, dimana proyek yang satu dengan yang lainnya kadangkala tidak berhubungan, bahkan tidak saling mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh bagian yang lain meskipun itu dalam satu lembaga yang sama. Sedangkan pada beberapa organisasi non pemerintah kegiatannya tidak jarang juga terputus karena telah berakhirnya dukungan dana dari pihak donor.34

Di sini terlihat bahwa pemberdayaan sebagai suatu program harus tetap direncanakan secara serius dan lebih menfokuskan kepada upaya-upaya yang membuat masyarakat agar lebih pandai, mampu mengembangkan komunikasi antar mereka, sehingga pada akhirnya mereka dapat saling berdiskusi secara

34

(36)

konstruktif dan mengatasi permasalahan yang ada. Jadi ketika si agen perubah yang berasal dari luar, baik itu dari lembaga pemerintah maupun non pemerintah, telah menyelesaikan programnya maka pemberdayaan sebagai proses tetap berlangsung pada kelompok sasaran tersebut.35

Proses pemberdayaan yang dikemukakan oleh Prijono, dan dikutip oleh Rajuminropa, mengandung dua kecenderungan yaitu :

a. Kecenderungan primer, proses pemberdayaan yang menekankan kepada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu lebih berdaya. Proses ini dilengkapi dengan upaya membangun asset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi.

b. Kecenderungan sekunder, proses pemberdayaan yang menekankan kepada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau berdaya untuk menentukan pilihan hidupnya melalui proses dialog.

Selanjutnya menurut Rubin (1992) "Central to empowerment is illingness to

challenge formal authority and to escape dependency on those in power". Yang dikutip oleh Rajuminropa bahwa pendapat Rubin diartikan bahwa pemberdayaan sebagai proses ataupun sebagai tujuan pada dasarnya akan memunculkan keberanian pada individu atau kelompok. Kondisi semula yang cenderung hanya menerima keadaan, selanjutnya akan lebih berani bertindak untuk merubah

35

(37)

keadaan. Bentuk keberanian itu juga dapat merupakan kekuatan formal guna menghapus ketergantungannya.36

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses yang berkesinambungan ( on-going) sepanjang komunitas itu masih ingin melakukan perubahan dan perbaikan, dan tidak hanya terpaku pada suatu program saja. Dapat dilihat apa yang dikemukakan oleh Hogan (2000) yang mengutip pandangan Rotter (1966), yang melihat proses pemberdayaan individu sebagai suatu proses yang relatif terus berjalan sepanjang usia manusia yang diperoleh dari pengalaman individu tersebut dan bukannya suatu proses yang berhenti pada suatu masa saja (empowerment is not an end-state, but a process that all human beings experience). Hal ini juga berlaku pada suatu masyarakat di mana dalam suatu komunitas proses pemberdayaan tidak akan berakhir dengan selesainya suatu program, baik program yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun lembaga non-pemerintah. Proses pemberdayaan akan berlangsung selama komunitas itu masih tetap ada dan mau berusaha memberdayakan diri mereka sendiri.

Hogan (2000) seperti dikutip oleh Adi menggambarkan proses pemberdayaan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus yang terdiri dari lima (5) tahapan utama yaitu:

1. Menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan dan tidak memberdayakan (recall dopowering/empowering experience).

2. Mendiskusikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan pentidakberdayaan (discuss reasons for depowerment/empowerment).

36

(38)

3. Mengidentifikasikan suatu masalah ataupun proyek (identify one problem or project).

4. Mengidentikasikan basis daya yang bermakna (identify usefull power bases) dan

5. Mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementasikan (develop and implement action plans).

Dari pernyataan di atas tergambar mengapa Hogan, meyakini bahwa proses pemberdayaan yang terjadi pada tingkat individu tidak, berhenti pada suatu titik tertentu. Tetapi lebih merupakan sebagai upaya berkesinambungan untuk meningkatkan daya yang ada. Meskipun Hogan memfokuskan tulisannya pada pemberdayaan individu, tetapi model pemberdayaan yang bersifat on-going process tersebut bukan berarti tidak dapat diterapkan pada level komunitas.37

Proses pemberdayaan yang merupakan on-going process bukan berarti meniadakan masalah, akan tetapi pemberdayaan tersebut mempersiapkan struktur dan sistem dalam komunitas agar dapat bersikap proaktif dan responsif terhadap kebutuhan komunitas dan permasalahan yang ada dan dapat muncul dalam komunitas tersebut.38

3. Tahapan- tahapan Pemberdayaan

Tahapan pengembangan masyarakat ataupun program pemberdayaan masyarakat yang merupakan suatu siklus perubahan yang berusaha mencapai kemajuan ke taraf yang lebih baik.

Adapun upaya untuk pemberdayaan terdiri dari tiga tahapan yaitu:

37

Adi, Isbandi Rukminto, Pemikiran-Pemikiran Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial, h.173-175..

38

(39)

a. Menciptakan suasana iklim yang memungkinkan potensi masyarakat itu berkembang. Titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia dan masyarakat memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan.

b. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat, dalam rangka ini diperlukan langkah-langkah lebih positif dan nyata, serta pembukaan akses kepada berbagai peluang yang akan membuat masyarakat menjadi semakin berdaya dalam memanfaatkan peluang.

c. Memberdayakan juga mengandung arti menanggulangi.39

Tahapan intervensi dalam proses Pemberdayaan Masyarakat Dalam Ilmu Kessos dikenal dua bentuk intervensi sosial yang dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat. Menurut Rothman Tropman dan Erlich intervensi tersebut yaitu: a. Intervensi mikro merupakan intervensi yang digunakan dalam lingkup kecil

dan memusatkan pada dua metode, yaitu bimbingan sosial perseorangan (sosial casework) dan bimbingan sosial kelompok (sosial group working). b. Intervensi makro mencakup berbagai metode profesional yang digunakan

untuk mengubah sistem sasaran yang lebih besar dari individu, kelompok dan keluarga, yaitu organisasi, komunitas baik di tingkat lokal, regional maupun nasional secara utuh. Praktek makro berhubungan dengan aspek pelayanan masyarakat yang pada dasarnya bukan hal yang bersifat klinis, tetapi lebih memfokuskan pada pendekatan sosial yang lebih luas dalam rangka meningkatkan kehidupan yang lebih baik di masyarakat. Intervensi makro mencakup: pengembangan lokal (Lokality Development), perencanaan sosial

39

(40)

(Social Planing), kebijakan sosial (Social Policy), dan administrasi dan manajemen (Administration and Management).40

Menurut The Gulbenkian Foundation (1970), intervensi makro dapat diidentifikasikan pada tiga tingkatan yang menggambarkan cakupan komunitas yang berbeda dimana intervensi makro dapat diterapkan melalui:

a. Grass roof ataupun neighbourhood work (agen perubahan melakukan intervensi terhadap individu, keluarga dan kelompok masyarakat yang berbeda didaerah tersebut, misalnya saja dalam suatu kelurahan ataupun rukun tetangga

b. Lokal agency dan interlokal agency work (agen perubahan melakukan intervensi terhadap organisasi payung di tingkat lokal, provinsi ataupun di tingkat yang lebih luas, bersama jajaran pemerintah yang terkait serta organisasi non pemerintah yang berminat terhadap hal tersebut.

c. Regional dan national community planing work ( misalnya saja, agen perubahan melakukan intervensi pada isu yang terkait dengan pembangunan ekonomi, ataupun isu mengenai perencanaan lingkungan yang mempunyai cakupan lebih luas dari bahasan di tingkat lokal).41

Untuk lebih memperjelas rincian dari masing-masing tahap tersebut akan diuraikan secara singkat tahap-tahap pemberdayaan yang dimaksud yaitu:

1. Tahap persiapan (Engagement)

Pada tahap persiapan ini didalamnya sekurang-kurangnya ada dua tahapan yang harus dikerjakan, yaitu (a) penyiapan petugas; dan (b) penyiapan lapangan;

40

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas (Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2003), h.58-60

41

(41)

Penyiapan petugas, dalam hal ini tenaga pemberdaya masyarakat yang bisa juga dilakukan oleh community worker, dan Penyiapan lapangan merupakan prasyarat suksesnya suatu program pemberdayaan masyarakat yang pada dasarnya diusahakan dilakukan secara non-direktif.

2. Tahap pengkajian (Assesment)

Proses assesment yang dilakukan disini dapat dilakukan secara individual melalui tokoh-tokoh masyarakat, tetapi dapat juga melalui kelompok-kelompok masyarakat. Pada tahap ini petugas sebagai agen berusaha mengidentifikasikan masalah (kebutuhan yang dirasakan) dan juga sumber daya yang dimiliki klien. Dalam melakukan assessment ini sebaiknya masyarakat dilibatkan secara aktif agar mereka dapat merasakan bahwa permasalahan yang sedang dibicarakan benar-benar permasalahan yang keluar dari pandangan mereka sendiri.

3. Tahap Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan (Designing)

Pada tahap ini, petugas sebagai agen perubah secara partisipatif mencoba melibatkan warga untuk berpikir tentang masalah yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada masyarakat diharapkan dapat memikirkan beberapa alternatif program dan kegiatan yang dapat mereka lakukan.

4. Tahap Performulasian Rencana Aksi (Designing)

(42)

5. Tahap Pelaksanaan Program atau Kegiatan ( Implementasi ) .

Tahap pelaksanaan ini merupakan salah satu tahap yang paling penting dalam program pemberdayaam masyarakat, karena sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan di lapangan bila tidak ada kerjasama antara petugas dan warga masyarakat, maupun kerja sama antar warga. Pertentangan antar kelompok warga juga dapat menghambat pelaksanaan suatu program ataupun kegiatan.

6. Tahap Evaluasi

Evaluasi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas terhadap program pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan sebaiknya dilakukan dengan melibatkan warga. Dengan keterlibatan warga pada tahap ini diharapkan akan terbentuk suatu sistem dalam komunitas untuk melakukan pengawasan secara internal. Sehingga dalam jangka panjang diharapkan akan dapat membentuk sistem dalam masyarakat yang mandiri dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Bila hal ini terjadi maka evaluasi diharapkan dapat memberikan umpan balik yang berguna bagi perbaikan suatu program ataupun kegiatan.

Evaluasi itu sendiri dapat dilakukan pada input, proses (yang juga dikenal sebagai pemantauan atau monitoring) dan juga pada hasil. Bila sistem ini sudah terpolakan dan terinternalisasikan pada sebagian besar kelompok masyarakat, maka dapat diharapkan perubahan yang terjadi akan dapat menjadi realif menetap. 7. Tahap Teminasi (Disengagement).

Tahap ini merupakan tahap pemutusan hubungan secara formal dengan komunitas sasaran.42

42

(43)

Sedangkan tujuan pemberdyaan masyarakat adalah mendirikan masyarakat atau membangun kemampuan untuk memajukan diri ke arah yang lebih baik secara berkesinambungan. Oleh karenanya pemberdyaan masyarakat adalah upaya memperluas horizon pilihan bagi masyarakat. Berarti masyarakat diberdayakan untuk melihat atau memilih sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.43

C. Masalah Anak Jalanan

1. Pengertian anak jalanan

Anak-anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan pada setiap manusia yang senantiasa harus kita pelihara dengan baik, karena dalam dirinya terdapat harkat, martabat, serta kedudukan sebagai hak untuk hidup layak seperti anak-anak lainnya. 44

Anak adalah manusia biasa yang berbentuk kecil, tetapi anak adalah makhluk yang masih lemah dalam seluruh jiwa dan jasmaninya maupun kehidupan fisik dan psikis anak berbeda dengan orang dewasa karena ia sedang masa pertumbuhan dan perkembangan yang mengikuti hukum genesa secara individual berbeda dengan yang lain.45

Seperti dalam bukunya Hasan Langgulung, menurut pandangannya Al Ghozali mengatakan bahwa anak merupakan amanat dan tanggung jawab di tangan orang tua. Jiwanya yanh suci dan murni merupakan permata mahal yang

43

Agus Ahmad Syafe’I, Manajemen Pengembangan Masyarakat Islam, (Bandung, Gerbang Masyarakat Baru, 2001) h.29.

44

Jurnal Informasi Kajian Permasalahan Sosial dan Usaha Kesejahteraan Sosial (Jakarta : Pusat Pelatihan Permasalahan Kesejahteraan Sosial Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia 2005) Volume 10, h. 42.

45

(44)

bersehaja yang bebas dari ukiran dan gambaran dan ia bisa menerima setiap ukiran dan gambaran kepada siapa saja yang ia cenderungkan kepadanya.46

Menurut Ferry Johannes, Anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian waktunya di jalanan, baik untuk bekerja maupun tidak yang terdiri dari anak-anak yang mempunyai hubungan dengan keluarga. Dan anak yang hidup mandiri sejak masa kecil karena kehilangan orang tua atau keluarga.47

Menurut Rooestin Ilyas anak jalanan adalah anak-anak yang mereka bukan bermain di jalanan tetapi mereka hidup dari situ.48

Adapun UNICEF mendefinisikan anak jalanan sebagai berikut:

1. Anak jalanan adalah mereka yang masih dibawah umur (minors) yang menghabiskan sebagian besar waktu terjaganya untuk bekerja atau menggelandang di jalan-jalanan kota.

2. Anak jalanan adalah mereka yang menjadikan jalanan (dalam arti luas, termasuk bangunan yang tidak berpenghuni) sebagi rumah mereka lebih dari pada rumah keluarga mereka, sehingga merupakan situasi dimana mereka tak memiliki perlindungan, pengawasan atau pengarahan dari orang-orang dewasa yang bertanggungjawab.

Menurut pengertian itu, UNICEF melihat bahwa anak jalanan merupakan sosok penyandang masalah yang sangat kompleks, dimana di dalamnya melekat berbagai kerawanan sosial seperti kondisi mental-spiritual, kesehatan, tindak kekerasan atau seks, ekonomi dan masih banyak lainnya. Atas dasar itu, program penanganannya perlu segera diupayakan untuk menyelamatkan masa depannya.

46

Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta : Pustaka Al –Husna, 1985), Cet –ke.3.h.19.

47

Ferry Johannes, “Melonjak Jumlah Anak Jalanan”,Pikiran Rakyat (Bandung), 10 Januari 1999, h.6.

48

(45)

Dalam pandangan yang tidak jauh berbeda.49 Sedangkan Departemen Sosial RI mendefinisikan anak jalanan sebagi berikut:

”Anak yang menggunakan sebagian waktunya di jalanan baik untuk bekerja maupun tidak, yang terdiri dari anak-anak yang masih mempunyai hubungan dengan keluarga atau putus hubungan keluarga dan anak-anak yang hidup mandiri sejak masa kecil karena kehilangan orang tua/ keluarga.”50

Berikut ini definisi anak jalanan yang dikemukakan oleh Lusk (1989) yang dikutip oleh Abu, bahwa yang dimaksud dengan anak jalanan adalah:

Setiap anak perempuan atau laki-laki...yang memanfaatkan jalanan (dalam pandangan yang luas ditulis, meliputi tidak punya tempat tinggal, tinggal di tanah kosong dan sebagainya) menjadi tempat tinggal sementara dan sumber kehidupan, dan tidak dilindungi, disupervisi ataupun diatur oleh orang dewasa yang bertanggung jawab.

Dari sudut pandang dan parameter yang agak berlainan dengan pengertian di atas, A. Soedijar Z.A. dalam Sunusi (1997) mengemukakan definisi anak jalanan sebagai berikut:

”Anak jalanan adalah anak yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun yang bekerja di jalan raya dan tempat umum lainnya yang dapat mengganggu ketentraman dan keselamatan orang lain serta membahayakan keselamatan dirinya.”

Dari berbagai pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa anak jalanan adalah anak yang berusia di bawah 18 Tahun, baik laki-laki maupun perempuan, masih berhubungan atau telah putus hubungan dengan orang tua/keluarganya, dan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mencari nafkah di jalanan atau

49

Abu Tandeng K., Maryam.” Pelaksanaan Program Peningkatan Kesejahteraan Anak Jalanan (Universitas Indonesia Program Studi Sosiologi,2002).h. 22.

50

(46)

tempat umum yang dapat mengancam keselamatan dirinya sendiri maupun orang lain.51

Anak jalanan dilihat dari sebab dan intensitas mereka berada di jalanan, memang tidak dapat disamakan, dilihat dari sebab, sangat dimungkinkan tidak semua anak jalanan berada di jalan karena tekanan ekonomi, boleh jadi karena pergaulan, pelarian, tekanan orang tua atau atas dasar pilihannya sendiri.

Persoalan yang kemudian muncul adalah anak-anak jalanan pada umumnya berada pada usia produktif, mereka mempunyai kesempatan yang sama seperti anak-anak lain. Mereka adalah warga negara yang berhak mendapatkan pelayanan, dan pendidikan tetapi di sisi lain mereka tidak bisa meninggalkan kebiasaan mencari penghidupan di jalanan.

2. Kategori Anak Jalanan

Berdasarkan hasil kajian Departemen Sosial Republik Indonesia secara garis besar anak jalan dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu:

a. Childern On The Street, yakni anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pekerja anak di jalan, namun masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orang tua mereka. Sebagian penghasilan mereka di jalan diberikan kepada orang tuanya. Fungsi anak jalanan pada kategori ini adalah untuk membantu, memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan yang mesti ditanggung tidak dapat diselesaikan sendiri oleh kedua orang tuanya.

51

(47)

b. Childern Of The Street, yakni anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, dari skala sosial maupun ekonomi. beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya. Banyak diantara mereka adalah anak-anak yang karena satu sebab biasanya kekerasan lari atau pergi dari rumah. Berbagai penelitian menunjukan bahwa anak-anak mereka pada kategori ini sangat rawan terhadap kelakuan salah baik secara sosial, emosional, fisik maupun seksual.

c. Childern From Families Of The Street, yakni anak-anak yang berasal dari anak-anak yang hidup di jalanan. Walaupun anak-anak ini mempunyai hubungan kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup mereka terombang ambing dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan segala resikonya. Salah satu ciri penting dari kategori ini adalah penampakan kehidupan jalanan sejak anak masih bayi, bahkan sejak masih dalam kandungan. Di Indonesia, kategori ini dengan mudah diketahui ditemui di berbagai kolong jembatan, rumah-rumah liar sepanjang rel kereta api dan sebagainya.

Sementara itu, Menurut Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, anak jalanan dibedakan menjadi empat kelompok yaitu:

(48)

umumnya mereka tidak mau kembali ke rumah, kehidupan jalanan dan solidaritas sesama temannya telah menjadi ikatan mereka.

b. Anak-anak yang berhubungan tidak teratur dengan orang tua, mereka adalah anak-anak yang bekerja di jalanan ( childern on the street ). Mereka seringkali diidentikkan sebagai pekerja migran kota yang pulang tidak teratur kepada orang tuanya di kampung. Pada umumnya mereka bekerja dari pagi hingga sore hari seperti, menyemir sepatu, pengasong, pengamen, tukang ojek payung dan kuli panggul. Tempat tinggal mreka di lingkungan kumuh bersama teman-teman senasibnya.

c. Anak yang masih berhubungan teratur dengan orang tuanya. Mereka tinggal dengan orang tuanya, beberapa jam di jalanan sebelum atau sesudah sekolah. Motivasi mereka ke jalan karena terbawa teman belajar mandiri, membantu orang tua dan disuruh orang tua aktivitas usaha mereka yang paling menyolok adalah berjualan koran.

d. Anak-anak jalanan yang berusia dibawah 16 tahun. Mereka berada di jalanan untuk mencari kerja, atau masih labil suatu pekerjaan. Umumnya mereka telah lulus SD bahkan ada yang SLTP. Mereka biasanya kaum urban mengikuti orang dewasa (orang tuanya atau saudaranya) kota. Pekerjaan mereka biasanya mencuci bus, menyemir sepatu, membawa barang belanjaan (kuli panggul), pengasong, pengamen, pengemis dan pemulung.52

Himpunan Mahasiswa Pemerhati Masyarakat Marginal Kota (HIMMATA) mengelompokan anak jalanan menjadi dua kelompok, yaitu : anak

52

(49)

semi jalanan dan anak jalanan murni. Anak semi jalanan diistilahkan untuk anak-anak yang hidup dan mencari penghidupan di jalanan, tetapi tetap mempunyai hubungan dengan keluarga. Sedangkan anak jalanan murni diistilahkan untuk anak-anak yang hidup dan menjalani kehidupannya tanpa punya hubungan dengan keluarganya.

Menurut Tata Sudrajat anak jalanan dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok berdasarkan hubungan dengan orang tuanya, yaitu :

a. Anak yang putus hubungan dengan orang tuanya, tidak sekolah dan tinggal di jalanan ( anak yang hidup di jalanan atau childern of the street )

b. Anak yang berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya, tidak sekolah, kembali ke orang tuanya seminggu sekali, dua minggu sekali, dua bulan atau tiga bulan sekali biasa disebut anak yang bekerja di jalanan ( childern on the street ).

c. Anak yang masih tinggal bersama orang tuanya, setiap hari pulang ke rumah, masih sekolah atau sudah putus sekolah, kelompok ini masuk kategori anak rentan menjadi anak jalanan. (vulnerable to be street childern).

3. Ciri-ciri Anak Jalanan

Ciri-ciri anak jalanan terbagi menjadi 2 yaitu: 1. Anak jalanan yang masih terikat.

(50)

b. Mereka masih sering pulang sehingga keterkaitan dengan orang tua maupun lingkungan yang hidup wajar masih kuat.

c. Mereka masih memegang norma atau nilai yang dianut komunitasnya. d. Beroperasi di sekitar atau dekat dengan tempat tinggal dan masih terikat

waktu dan tempat. 2. Anak jalanan yang bebas

a. Banyak berasal dari keluarga atau komunitas jalanan.

b. Sudah lama jadi anak jalanan atau sudah masuk dalam komunitas jalanan yang solid.

c. Anak yang sudah lepas dari keluarga baik karena adanya konflik maupun ketidakharmonisan keluarga.

d. Tidak terikat waktu dan tempat.

e. Cenderung melanggar norma-norma kemasyarakatan dan mudah terjerumus pada hal-hal yang negatif seperti mengambil barang orang lain, seks bebas dan lain-lain.

3. Ciri-ciri fisik dan psikis anak jalanan adalah:

a. Penampilan terlihat kusam (kotor) dan pada umumnya tidak rapi. b. Aktifitas di jalanan bergerak cepat.

c. Tingkat kemandirian tinggi.

d. Memiliki semangat hidup yang tinggi. e. Banyak akal atau kreatif.

f. Tidak mudah tersinggung.

(51)

h. Penuh perhatian dan serius dalam mengerjakan suatu hal.53 4. Penyebab mereka menjadi anak jalanan

Terkait dengan pembahasan tentang penyebab anak jalanan, Whitemore dan Sutini (1996) yang dikutip oleh Abu mengklasifikasikan penyebab anak jalanan antara lain:

a. Terkait dengan permasalahan ekonomi sehingga anak terpaksa ikut membantu orang tua dengan bekerja.

b. Kurang keharmonisan hubungan dengan keluarga yang sering berakhir dengan penganiayaan dan kekerasan fisik orang tua pada anaknya sehingga melarikan diri dari rumah.

c. Orang tua (asal dan angkat) mengkaryakan anak sebagai sumber ekonomi keluarga pengganti peran yang seharusnya dilakukan orang dewasa.

d. Anak-anak mengisi peluang-peluang ekonomi di jalanan baik secara sendiri-sendiri maupun diupayakan secara kelompok dan terorganisasi oleh orang-orang yang lebih tua.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya anak jalanan berkaitan erat dengan kondisi kemiskinan, keluarga, masyarakat, dan anak jalanan itu sendiri.54

Hasil penelitian tersebut tidak jauh berbeda dengan pendapat Morch, seperti yang dikutip oleh Sunusi (1997) yang mengatakan ada tiga kelompok yang berbeda diantara anak jalanan. Tiga kelompok berikut ciri-cirinya, yaitu:

53

Profil Anak Jalanan dan Kemungkinan Penanganannya di DKI Jakarta dan Surabaya, Departemen Sosial Republik Indonesia. Direktorat Jendral Bina Kesejahteraan Sosial, Direktorat Bina Kesejahteraan Anak, Keluarga dan Usia Lanjut Usia, 1996, h.9.

54

Figur

No  Tabel 1.1 Nama  L/P Jenis Keterampilan

No Tabel

1.1 Nama L/P Jenis Keterampilan p.20
Tabel 2.1 Tipologi Anak Jalanan Dihungkan dengan Pendekatan dan

Tabel 2.1

Tipologi Anak Jalanan Dihungkan dengan Pendekatan dan p.57
TABEL 3.1

TABEL 3.1

p.68
Tabel 4.1 Gambaran Anak asuh dilihat dari Keterampilan

Tabel 4.1

Gambaran Anak asuh dilihat dari Keterampilan p.71
Tabel 4.2 Data anak  asuh  yang mengikuti

Tabel 4.2

Data anak asuh yang mengikuti p.76
Tabel 4.3 Jadwal Keterampilan Komputer

Tabel 4.3

Jadwal Keterampilan Komputer p.77
Tabel 4.4 Data anak asuh yang mengikuti

Tabel 4.4

Data anak asuh yang mengikuti p.79
Tabel 4.5 Jadwal Keterampilan Menjahit

Tabel 4.5

Jadwal Keterampilan Menjahit p.80
Tabel 4.6

Tabel 4.6

p.81
Tabel 4.7 Jadwal Keterampilan Sablon

Tabel 4.7

Jadwal Keterampilan Sablon p.83

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :