• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penampilan Pertumbuhan Bibit Tectona Grandis Linn. F

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Penampilan Pertumbuhan Bibit Tectona Grandis Linn. F"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PEN AM PI LAN PERTUM BUH AN BI BI T TECTON A GRAN D I S LI N N .F. PAD A M ED I A PEN AN AM AN YAN G BERBED A

H ARYATI

Pr ogr a m St u di Te k n ologi H a sil Pe r t a n ia n Fa k u lt a s Pe r t a n ia n

Un ive r sit a s Su m a t e r a Ut a r a

Abst r a k

Penam pilan pert um buhan bibit Tect ona grandis berum ur 6 bulan t elah dit elit i pada m edia pot y ang berbeda. Dit em uk an bahw a penam pilan y ang lebih baik pada t anah hit am alam i dibandingkan dengan cam puran m edia yang lainnya.

Pe n da h u lu a n

Jat i ( Tect ona grandis Linn.f) adalah sat u diant ara pepohonan hut an di dunia yang m erupakan spesies pohon hut an yang dom inan di daerah Cent ral I ndia. Berbagai usaha sedang dilakukan unt uk m eningkat kan regenerasi alam i dan buat an m elalui berbagai sist em silvikult ur. St udi penanam an t erhadap perkecam bahan benih, pengadaan bibit dan k arak t erist ik t anah y ang cocok adalah k epent ingan y ang ut am a yang m em berikan penget ahuan yang lengkap dan j elas t ent ang fase bibit dan t anam an y ang sehat dapat dit anam unt uk perubahan berik ut ny a dari bibit pada kondisi alam i.

Sebagaim ana t elah dik et ahui bahw a sist em perak aran berperan pent ing dalam pengadaan bibit dan dapat dij adik an sebagai param et er unt uk m enguk ur pert um buhan. Meskipun st udi aw al t elah dilakukan t erhadap dist ribusi geografi, produksi bahan organik dan siklus hara dalam Tect ona grandis, pengadaan bibit , karakt erist ik t anah yang berhubungan dengan pert um buhan bibit j arang kecuali beberapa penelit ian oleh Troup ( 1921) . St udi y ang sam a t ent ang spesies lain dilakukan oleh penelit i- penelit i lain ( Joseph dan Freezaillah, 1969; Set h dan Shriv ast av a, 1972; dan Mont ano dk k ., 1977) y ang m elak uk ak an inv est igasi y ang berguna dalam prak t ek - prak t ek di pem bibit an dan ak hirny a dalam peningk at an penanam an.

I nvest igasi dihubungkan dengan pert um buhan sist em perakaran dan berat k ering bibit T. grandis dalam m edia pot penanam an y ang berbeda, sepert i m acam -m aca-m ko-m binasi t anah hit a-m ala-m i, pasir dan serbuk gergaj i.

Ba h a n da n M e t oda

Benih T. grandis dikum pulkan dari hut an Bandri, 28 km dari Sagar ( pada 23°

50' LU dan 78°40' BT) pada bulan Januari 1979. Set e lah perlak uan perendam an dan pengeringan bergant i- gant i ( Lal, 1967) selam a 10 hari m asing- m asingny a selam a 2 bulan, benih dit anam dalam bedengan t anah ( 4 x 40) pada bulan Mai 1980 di k ebun Bot ani Universit as Saugar, Sagar. Bibit dipindahk an set elah sat u bulan berkecam bah, k edalam k ant ong beruk uran 6 x 13 y ang m engandung m edia pot y ang berbeda. Serbuk gergaj i yang t elah berum ur 1 bulan dan pasir yang digunakan ( Mont ano dkk, 1977) set elah diay ak dengan I .S.S 200 m esh.

(2)

m edium diisikan k edalam 25 k ant ong plast ik , y ang dit em pat k an dalam naungan dandipindahkan set elah set elah 4 m inggu ke sinar m at ahari ( Joseph dan Frezailah, 1969) . Peny iram an dilak uk an set iap hari selam a 6 bulan dan k em udian bibit dan ak arny a dik eluark an dari k ant ong plast ik , k em udian dianalisa berat segarny a, panj ang pucuk , panj ang ak ar dan j um lah ak ar sek underny a. Bibit dik eringk an pada suhu 60°C selam a 3 hari dan berat nya dipisahkan unt uk m enent ukan kandungan k elem baban dan berat k ering bibit .

H a sil da n Pe m ba h a sa n

Penam pilan bibit pada m edia y ang berbeda dit am pilkan dalam Gam bar 1. Selam a penelit ian m edia no. 2 dan no. 6 t erganggu dan penam pilan bibit ny a t idak dapat dievaluasi.

Be r a t Ke r in g

Rat a- rat a berat k ering m ak sim um bibit ( 2,28 gram ) dit em uk an pada t anah hit am alam i , sedangk an berat k ering m inim um ( 0.13 gram ) pada m edia pasir. Dari Tabel 1 t erlihat bahw a berat k ering m enurun dari 2,28 gram sam pai 0,13 gram sebagai perubahan susunan m edium dari t anah k e pasir. Berat k ering k ecam bah m eningkat dengan m eningkat nya t anah ( m edium 10) dan/ at au serbuk gergaj i ( m edium 4) .

Sebagaim ana dik et ahui bahw a sej um lah fak t or lingk ungan m em pengaruhi pert um buhan berat kering t anam an. Pada t anah hit am alam i m em punyai persent ase bahan organik yang t inggi, m ineral, air dan aerasi yang kondisinya m em ungkinkan buat pert um buhan t anam an. Walaupun serbuk gergaj i m engandung hara m ineral y ang rendah ( Bollen, 1969) t et api m em puny ai day a pegang air y ang lebih besar ( Ow st on, 1973) , dengan dem ik ian lebih m engunt ungk an pert um buhan bibit daripada dalam pasir.

Pa n j a n g Ak a r

Panj ang ak ar m ak sim um ( 35,60 cm ) dit em uk an pada m edium y ang m em punyai perbandingan t anah hit am dan serbuk gergaj i yang sam a. Panj ang akar j uga m enurun pada k om posisi m edia t anah dan serbuk gergaj i 1 : 3 dan 3 : 1. Tam paknya ada huibungan yang posit if dari pert um buhan akar dengan peningkat an perbandingan m edium serbuk gergaj i dan t anah hit am , bila pasir m urni at au bagian pasir lebih bany ak dalam m edium t idak m em udahk an ak ar unt uk t um buh lebih panj ang.

Pert um buhan akar diakibat kan oleh kapasit as pegang air dan aerasi t anah ( Kram er, 1949) . Perkem bangan sist em perak aran y ang lebih baik pada m edium 12 ( 2: 2, t anah hit am + serbuk gergaj i) dapat m engak ibat k an k apasit as pegang air yang baik dan aerasi t anah yang lebih baik. Pasir m urni secara kim ia dan fisika m eny ebabk an day a pegang airny a lebih rendah ( Kram er, 1949) ., sehingga pert um buhan akarnya lebih sedikit .

Pa n j a n g Pu cu k

Panj ang pucuk y ang lebih panj ang ( 8,75 cm ) pada m edium serbuk gergaj i dibandingk an dengan pucuk pada m edium t anah hit am ( 6,0 cm ) . Cam puran serbuk gergaj i dengan t anah hit am ( m edium 12) m enghasilkan pucuk yang lebih panj ang ( 3,75 cm ) daripada m edia pasir ( 3,5 cm ) .

(3)

unt uk pert um buhan bibit .

Ju m la h Ak a r Se k u n de r

Cam puran t anah hit am , serbuk gergaj i dan pasir ( 2: 2: 1; m edium 8) m enghasilkan j um lah akar sekunder yang lebih banyak ( 34) , t et api m enurun ( 32,18) sebagaim ana cam puran t anahny a m eningk at ( m edia 11 dan 14) . Pada pasir m urni dihasilkan lebih sedik it ak ar sek under ( 7) , t et api pada serbuik gergaj i dan t anah hit am ( m edia 3 dan 10) lebih banyak akar sekunder dihasilkan ( 25,29) . Bagaim ana perak aran y ang dihasilkan pada serbuk gergaj i dan t anah hit am m urni lebih sedik it , m asing- m asing 32 dan 27.

Jum lah m aksim um akar sekunder pada m edium 8 ( 1: 2: 1; t anah hit am + serbuk gergaj i + pasir) dapat m enandai keporusan m edium yang m em punyai k apasit as pegang air y ang lebih baik.Tanah hit am m em berikan j um lah ak ar sekunder yang lebih banyak j ika dicam pur dengan serbuk gergaj i dan at au pasir.

Pe r se n t a se Ke le m ba ba n

Pada serbuk gergaj i m urni k andungan k elem baban bibit adalah 47,10% y ang m eningkat sam pai 59% dengan m eningkat nya cam puran t anah hit am ( m edium 9) dan m encapai m ak sim um 70,56% pada m edium t anah hit am + serbuk gergaj i ( 3: 1) . Kandungan kelem baban m inim um diperoleh pada m edium 7 yakni 7,93% .

Kapasit as pegang air dari t anah hit am sangat t inggi ak ibat pori- poriny a y ang kecil. Sedangkan pasir m em punyai pori yang lebih besar.

Secara keseluruhan penam pilan bibit T. grandis bila dit unj uk k an dalam berat k ering, panj ang ak ar, panj ang pucuk dan persent ase k elem baban lebih baik pada t anah hit am m urni

Uca pa n t e r im a k a sih

(4)
[image:4.612.90.352.89.412.2]
(5)
[image:5.612.92.317.83.502.2]

Tabel 1. Berbagai Macam Penguk uran Bibit T. grandis pada um ur 6 bulan

(6)

D a ft a r Pu st a k a

Bollen, W,B. 1969. Propert i of Tree Barks in Relat ion t o Their Agricult ural Ut ilizat ion. USDA Forest serv. Res. paper. PNW- 77. 36 hal

Joseph, A and Freezaillah bin Che Yeom . 1969. Observat ion on The Grow t h and Dev elopm ent of P. caribaea Seedlings in Pot t ing Mix t ures of Different Com posit ion. Malay an Forest er 32 ( 3) : 303 – 327

Kram er, P.J. 1949. Plant and Soil Wat er Relat ionships ( First edit ion) ; Mc. Graw Hill Book Com pany, New York, Toront o, London.

Lal, A.B. 1967. I ndian Silvicult uire ( 2 nd edit ion) ; Jugal Kishore & Co., Debra Dun. Mont ano, M.Jose; Fisher, T. Jam esand Cot t er, J. Donald. 1977. Saw dust for Grow ing

Cont ainerized Forest Tree Seedlings. Tree Plant ers Not es, 28 ( 2) : 6- 7

Ow st on, P.W. 1973. Cult ural Techniques for Grow ing Cont ainerized Seedlings. West ern For. Nursery counc. and I nt erm ount ain For Nurserym ans Asssociat ion Proc. 1972: 32- 41

Set h S.K. and Shriv ast av a, P.B.L. 1972. Effect of Profile Morphology on Root Dev elopm ent of Sal ( Shorea robust a) seedlings. I ndian For. 98 : 156- 167

Troup, R.S. 1921. The Silvicult ure of I ndian Trees. Vol. I - I I I , Oxvord Universit y Press, London.

Gambar

Gambar 1. Karakteristik Pertumbuhan Bibit T. grandis Dalam Media Pot Yang Berbeda
Tabel 1. Berbagai Macam Pengukuran Bibit T. grandis pada umur 6 bulan

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi hasil dan fum ngsi pert um buhan t egakan m erupakan alat yang sangat berguna dalam pengat uran hasil hut an dengan berlandaskan kepada prinsip kelest arian hasil..

DARI SERBUK PEWARNA DAUN JATI MUDA ( TECTONA GRANDIS LINN. F.) DENGAN MIKROENKAPSULASI MENGGUNAKAN MALTODEKSTRIN ” sebagai syarat untuk mencapai gelar Sarjana Teknologi Pangan

Pertumbuhan tanaman pokok jati umur 3 tahun dan 12 tahun di hutan rakyat berbeda sangat nyata dengan pertumbuhan tanaman pokok jati pada umur yang sama di

Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan nano pigmen dari pucuk daun jati muda dalam bentuk serbuk dengan menggunakan persentase filler maltodekstrin yang berbeda dan

Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan nano pigmen dari pucuk daun jati muda dalam bentuk serbuk dengan menggunakan persentase filler maltodekstrin yang berbeda dan

c) Lakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk daun yang mengandung unsur hara berkadar N tinggi. CATATAN Masukkan 3 sendok makan ke dalam wadah, lalu ditambah dengan air sehingga

Larutan dari serbuk pewarna dengan penambahan maltodekstrin 5% memiliki intensitas warna merah yang lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan maltodekstrin 10%

Puji syukur penulis panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya selama proses pembuatan skripsi yang berjudul “KESTABILAN WARNA LARUTAN DARI SERBUK PEWARNA DAUN