• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kritik pembangunan lagu Iwan Fals dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Kelas XII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kritik pembangunan lagu Iwan Fals dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Kelas XII"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar S1

oleh

JAHRUDIN

NIM 1811013000018

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

XII. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2015

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kritik pembangunan pada teks lagu Iwan Fals. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan analisis data. Penelitian dilakukan dengan mendeskripsikan adanya masalah kritik pembangunan lagu-lagu Iwan Fals, mendeskripsikan makna atau gagasan yang terkandung di dalam lagu Iwan Fals.

Pada dasarnya lagu-lagu yang mengandung kritik yang diciptakan Iwan Fals diangkat dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam masyarakat, sehingga dengan mengungkap kritik yang terkandung dalam lagu Iwan Fals, siswa akan memperoleh pesan yang ingin disampaikan sang pencipta, dan melalui hal ini pula pembaca akan mengetahui kejadian-kejadian sosial yang belum diketahui.

Implikasi penelitian terhadap pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu lirik lagu yang mengandung kritik dapat digunakan sebagai media alternatif. Hal tersebut dapat diaplikasikan pada SMA kelas XII semester genap dengan standar kompetensi yang digunakan yaitu menulis esai dan kritik sastra. Adapun kompetensi dasar yang dipakai yaitu kritik tentang berbagai kritik terhadap berbagai bentuk karya sastra .

(6)

ii

Development and Its Implication to Indonesian Learning in High School Class XII. Indonesian Language and Literature Department. Faculty and Teaching MT. Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. 2015.

This study aimed to describe the development of text criticism Iwan Fals song. The method used in this study is a qualitative method of data analysis. Research carried out by describing a problem criticisms development Iwan Fals songs, describing the meaning or ideas contained in the song Iwan Fals.

Basically songs created containing criticism Iwan Fals removed from the events that occur in the community, so that by uncovering the criticism contained in the song Iwan Fals, students will acquire the message creator, and through it anyway reader will know that social events is unknown.

Implications of research on learning Indonesian, namely lyrics containing criticism can be used as an alternative media. It can be applied to high school class XII semester with competency standards used are writing essays and literary criticism. The basic competence that is used is a critique of the various criticisms of the various forms of literature.

(7)

iii

Puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Allah SWT atas segala hidayah yang diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dia yang menguasai segala muasal, Dia pula yang menjadi tempat kembali. Shalawat dan salam semoga tetap atas Nabi Muhammad SAW yang telah membuka jalan kebenaran. Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran skripsi ini, adalah sebagai berikut:

1. Nurlena Ri’fai, MA, Ph. D, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

2. Dra. Hindun, M. Pd, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. 3. Dona Aji Kurnia Putra, M.A, Sekretaris Prodi Bahasa dan Sastra

Indonesia.

4. Makyun Subuki, M. Hum, selaku pembimbing yang telah banyak memberi saran dan kritik kepada penulis dalam penulisan skripsi ini. Para Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberi bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.

5. Ayahku Aminuddin, Ibuku Siti Khodijah, Istriku Astuti, Anakku Huzaifii Danial Ramadhani, terima kasih atas segala kasih sayang, pengorbanan, dan pengertian mereka dan Kawan-kawan seperjuangan dijurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan mereka yang menjadi penyemangat ketika sidang munaqosah, yang selama ini selalu memberi dorongan, semangat, motivasi, dukungan dan tidak lupa lagi dengan doa selama penulisan skripsi.

Dalam penulisan skripsi ini, penulisan sudah berusaha semaksimal mungkin, kritik, dan saran yang membangun penulisan harapkan guna kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan semua pihak yang membutuhkan.

Bekasi, 12 Januari 2015

Penulis

Jahrudin

(8)

iv DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Pembatasan Masalah ... 3

D. Perumusan Masalah ... 3

E. Tujuan Penelitian ... 3

F. Manfaat Penelitian ... 4

1. Bagi Peserta Didik ... 4

2. Bagi Pendidik ... 4

3. Bagi Masyarakat ... 4

BAB II : KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori ... 5

B. Wacana ... 5

C. Teks Media ... 6

1. Media lagu ... 6

2. Lirik ... 7

D. Wacana Kritis ... 7

1. Wacana ... 7

2. Teoritis Kritis Dalam Linguistik ... 8

3. Deskripsi Kritis Dalam Sosiolinguistik ... 9

4. Deskripsi Kritis Dalam Pragmatik ... 10

(9)

iv

E. Wacana Kritis ... 12

1. Pengertian Analisis Wacana Kritis ... 12

F. Kritik Idiologi ... 14

1. AWK dan Idiologi ... 14

2. Karakteristik Analisis Wacana Kritis (AWK) ... 14

G. Kritik Pembangunan ... 18

1. Definisi Pembangunan ... 18

2. Pengertian Kritik Pembangunan ... 18

3. Cara Melangsungkan Pembangunan ... 19

4. Teori Awal Pembangunan ... 21

5. Teori Modernisasi ... 21

6. Potret Pembangunan Di Indonesia ... 25

7. Perubahan Paradigma Pembangunan ... 26

8. Paradigma Baru Pembangunan ... 28

9. Krisis Dalam Teori Pembanguan dan Dalam Dunia ... 30

10.Modernisasi Pembangunan Bangsa ... 31

11.Modernitas Menurut Para Ahli ... 31

12.Tipe-tipe Modenisasi ... 33

13.Modernisasi Sosial ... 33

14.Konteks Sosial Modernisasi ... 34

15.Dinamika Modernisasi ... 34

H. Jenis-jenis Aliran Musik ... 36

I. Penelitian Yang Relevan ... 42

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 45

1. Metode Analisis Wacana Kritis ... 45

2. Data dan Sumber Data Penelitian ... 46

3. Instrumen Penelitian ... 47

4. Teknik Pengumpulan Data ... 48

(10)

iv BAB IV : PEMBAHASAN

A. Kritik Lagu Iwan Fals ... 50

B. Pembelajaran Sastra di SMA ... 89

C. Implikasinya Terhadap Pembelajaran di SMA ... 89

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ... 90

E. Materi Pembelajaran ... 90

F. Metode Pembelajaran ... 90

BAB V : PENUTUP A. Simpulan ... 92

B. Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 94

(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, pembangunan nasional mengalami pasang

surut. Dimulai pada masa Orde Lama, pembangunan nasional lebih diarahkan

pada sektor politik. Akibatnya pembangunan nasional disektor lain terabaikan.

Masyarakat tetap terkurung dalam belenggu kemiskinan. Selanjutnya pada masa

Orde Baru, dengan tekad memperbaiki kesejahteraan rakyat, pembangunan

nasional diarahkan pada usaha mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Untuk maksud tersebut semua aspek kehidupan diarahkan untuk mendukung

tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akibatnya kehidupan demokrasi

menjadi terbelenggu, KKN merajalela di segala aspek dari tingkat yang tinggi

sampai pada tingkatan yang lebih rendah, dengan tekad reformasi di segala

bidang, pembangunan nasional diarahkan pada usaha pembangunan yang

berkelanjutan serta berkeadilan, yang tentunya untuk kesejahteraan masyarakat

agar tidak tercipta kesenjangan nasional.

Masalah korupsi yang semakin meluas di negara Indonesia, mengenai

pendidikan di Indonesia ataupun mengenai masalah-masalah lainnya, dari lirik

lagu yang bertemakan kritik pembangunan ini terlihat bahwa masalah yang

diungkap sangat beragam, permasalahan yang diungkap oleh pengarang sebagian

besar menyangkut kehidupan masyarakat menengah kebawah. Dengan demikian,

kritik yang disampaikan lebih berkesan dan merupakan suara rakyat kecil, yang

cenderung menjadi objek dari semua kekurangan yang melatarbelakangi adanya

teks lagu dengan tema kritik pembangunan.

Lirik lagu sebagai media yang universal dan efektif, dapat menuangkan

gagasan, pesan, dan ekspresi pencipta pada pendengarnya, melalui lirik lagu,

komposisi musik, pemilihan instrumen musik, dan cara ia membawakannya,

sehubungan dengan hal tersebut, maka pada umumnya seorang pengarang lagu

menciptakan karya-karyanya dengan maksud dan tujuan sebagai penghubung

(12)

sosial ini membuat masing-masing individu terikat oleh sistem

kemasyarakatannya yang pada intinya tiap individu mempunyai harapan dan

wawasan hidup yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Pesan atau ide yang disampaikan melaui musik atau lagu, biasanya memiliki

keterkaitan dengan konteks historis, muatan lagu tidak hanya sebuah gagasan

untuk menghibur, tetapi memiliki pesan-pesan moral dan sekaligus memilki

kekuatan ekonomis, musik merupakan sarana budaya yang hadir dalam

masyarakat sebagai konstruksi dari realitas sosial yang dituangkan dari lagu.

Dari uraian di atas maka judul skripsi ini yaitu “Kritik Pembangunan Dalam

Lagu Iwan Fals dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di

(13)

A.Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, dapat

diidentifikasi beberapa masalah yaitu:

1.

Lagu sebagai media yang universal dan efektif, dapat menuangkan

gagasan, pesan, dan ekspresi pencipta kepada pendengarnya melalui lagu,

komposisi musik, pemilihan instrumen musik, dan cara ia

membawakannya.

2.

Melalui lagu yang banyak menggunakan kata-kata puitis ini, terdapat

makna tersirat yang bermaksud menyindir atau memprotes tentang adanya

kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam masyarakat.

B. Pembatasan Masalah

Berdasarkan indentifikasi masalah di atas, diketahui bahwa lagu sebagai

media yang universal dan efektif, yang dapat menuangkan gagasan, pesan, dan

ekspresi, menggunakan kata puitis, terdapat makna yang tersirat yang bermaksud

untuk menyindir atau memprotes tentang adanya kejanggalan yang terjadi dalam

masyarakat.

C. Perumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut, yang menjadi permasalahan penelitian ini

adalah:

1. Masalah kritik pembangunan apa sajakah yang diungkapkan dalam lagu

Iwan Fals?

2. Bagaimanakah masalah kritik pembangunan tersebut dan implikasinya

terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA?

D.Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian lagu Iwan Fals

1. Mendeskripsikan adanya masalah kritik pembangunan lagu Iwan Fals.

2. Mendeskripsikan makna yang terkandung di dalam lagu Iwan Fals dan

(14)

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat yang

mencakup aspek teoritis maupun praktis.

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan keterkaitan antara

pengarang dan masyarakat dalam menciptakan sebuah lagu, karena lagu

merupakan produk dari seorang pengarang yang ingin mencurahkan segala

pikiran dan perasaan yang terjadi di masyarakat, penelitian ini juga berguna bagi

pengembangan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah kritik

pembangunan yang terjadi di dalam masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk

lagu, dengan adanya kritik pembangunan ini masyarakat mampu membongkar

kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di dalam masyarakat tersebut.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peserta Didik

Diharapakan penelitian ini mampu memberikan andil dalam peningkatan

kemampuan siswa dalam pembelajaran Kritik.

b. Bagi Pendidik

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan guru

dalam mengapresiasi karya yang berbentuk lagu, khususnya lirik-lirik

lagu, penelitian ini juga dapat digunakan oleh guru bahasa Indonesia.

c. Bagi Masyarakat

Dari hasil penelitian ini dapat membantu pembaca dan peminat, dalam

persoalan pemahaman tentang dunia kesastraan Indonesia pada umumnya

dan mengetahui masalah kritik pembangunan yang ada pada lagu Iwan

(15)

BAB II KAJIAN TEORI

Kajian teori dalam suatu penelitian sangat diperlukan, untuk menentukan buku

acuan yang berhubungan dengan objek penelitian agar mencapai penelitian yang

relevan dan suatu legitimasi konseptual. Teori yang dipakai harus berkaitan

dengan topik penelitian, agar dapat memecahkan masalah yang ada. Adapun teori

yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :

A. Deskripsi Teori B. Wacana

"This combination of hegemony and interdiscursivity work for critical

discourse analysis is concomitant work orientation to historical change, it may

be helpful to readers to have available a summary the main terms introduced in

the last two section". Kombinasi hegemoni dan interdiscursivity kerja untuk

analisis wacana kritis adalah orientasi kerja seiring dengan perubahan sejarah,

mungkin membantu pembaca untuk memiliki tersedia ringkasan istilah utama

diperkenalkan dalam dua bagian terakhir. Fairclough mendasarkan pertimbangan

teoritis dan skema analisisnya pada definisi sejumlah konsep yang cukup

khusus.1 Istilah-istilah penting berikut akan sangat membantu untuk memahami

pendekatan yang diadopsinya2

1. Wacana (kata benda abstrak) – “penggunaan bahasa dianggap sebagai

prakti sosial.”

2. Peristiwa diskursif – “penggunaan bahasa, dianalisis sebagai teks, praktik

diskursif, dan praktik sosial.”

3. Teks – “bahasa ditulis yang dihasilkan dalam suatu peristiwa diskursif”. Pada nantinya, Fairclough memberi penekanan pada sifat teks yang multi

semoitik dan menambahkan pencitraan visual dan bunyi – dengan

1

Norman Fairclough. Critical Discourse The Critical Study Of Language (New York: Longman

Group Limited, 1995), h. 135

2

(16)

menggunakan contoh bahasa televisi – sebagai bentuk semiotik lain yang dapat secara bersamaan muncul dalam teks.

4. Interdiskursivitas –“penyusunan teks dari beragam wacana dan genre”. 5. Wacana (kata benda yang dapat dihitung) –“cara menjelaskan (signifying)

pengalaman dari suatu perspektif tertentu.

6. Genre – “penggunaan bahasa yang diasosiasikan dengan suatu aktivitas sosial tertentu.”

7. Tatanan wacana – totalitas praktik diskursif suatu institusi dan hubungan-hubungan di antara praktik-praktik tersebut.

C.Teks Media 1. Media Lagu

Penggunaan media lagu dalam pembelajaran merupakan salah satu metode

yang digunakan oleh guru dalam membantu siswa merangsang imajinasi siswa,

penggunaan media lagu dapat mengoptimalkan kerja belahan otak kanan sehingga

para siswa dapat mengembangkan imajinasinya secara leluasa. Efek positif dari

optimalisasi kerja belahan otak kanan adalah rangsangan atau dorongan bagi kerja

belahan otak kiri sehingga pada saat yang bersamaan para siswa juga dapat

mengembangkan logikanya. Keseimbangan kinerja otak sebelah kiri ini

diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memperoleh informasi,

pembuatan outline, dan akhirnya menuliskan informasi tersebut dalam bentuk

tulisan atau karangan yang baik.

Penggunaan media lagu dalam metode sugesti-imajinasi menurut merupakan

suatu metode yang melibatkan pengisian/pemuatan bank-bank memori dengan

memori atau ingtan yang diinginkan dan yang member kemudahan. Penggunaan

media lagu memiliki kelebihan dalam memberikan kontribusi untuk

meningkatkan keterampilan menulis. Pemilihan lagu yang bersyair puitis

membantu para siswa memperoleh model dalam pembelajaran kosakata.

Pengembangan kosakata ini mengandung pengertian lebih dari sekedar

penambahan kosakata baru, tetapi lebih pada penempatan konsep-konsep baru

(17)

Ragam suara yang berirama dalam bercakap, bernyanyi, membaca dan lain

sebagainya.3

2. Lirik

Lirik sebagai salah satu unsur yang membentuk lagu umumnya berkaitan erat

dengan melodi yang mendukungnya atau dengan kata lain bahan antara melodi

dan syair berkolaborasi satu sama lain untuk menyampaikan maksud/pesan dari

lagu tersebut. Suatu karya musik bisa saja menuturkan suatu makna/tema dengan

luasnya melalui syair/lirik yang dimilikinya. Begitu pula sebaliknya sebuah puisi

bunyi bisa saja menghentak dan berirama cepat melahirkan alunan makna melodis

dalam irama.4 Sajak yang melukiskan perasaan.5

Nyanyian-nyanyian yang kita dengarkan tidaklah semata-mata hanya lagunya

yang indah, tetapi terlebih lagi isi puisinya mampu menghibur manusia.

Puisi-puisi cinta didendangkan oleh para penyanyi dari barbagai kurun waktu dan

anehnya tidak pernah membosankan karena selalu diperbaharui oleh penyairnya.6

Nyanyian-nyanyian yang banyak dilagukan adalah contoh puisi yang populer.

Bahasanya harus mudah dipahami karena pendengar harus cepat memahami isi

lagu itu sementara lagu didendangkan.7

D. Wacana Kritis 1. Wacana

Kata „wacana‟ (discourse) berasal dari bahasa Latin discurrere (mengalir ke sana kemari) dari nomalisasi kata discursus (mengalir secara terpisah yang

ditransfer maknanya menjadi terlibat dalam sesuatu atau memberi informasi

tentang sesuatu. Dalam bahasa Latin abad pertengahan, kata discursus selain

3

Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, (Jakarta: PT. Media Pustaka Phoenix, 2010), h. 515

4

IG Harry Suwanto. Seni Budaya Musik, (Bekasi: PT. Galaxy Puspa Mega, 2007), h. 40 5

Op. cit, h. 539

6

Herman J. Waluyo. Teori dan apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1995), h, 1 7

(18)

berarti kecakapan, perdebatan yang aktif, dan juga keaktifan berbicara, kata ini

juga berarti orbit dan lalu lintas.8

2. Teoritis Kritis dalam Linguistik

Fairclough mengatakan bahwa istilah linguistik selama ini digunakan secara

ambigu dalam arus besar kajian bahasa. Menurut Fairclough, di satu pihak,

lingusitik kadang-kadang mengacu pada kancah seluruh kajian bahasa dalam

disiplin Ilmu bahasa secara akademis. Dilain pihak, kadang-kadang lingustik

mengacu hanya pada lingusitik murni, yaitu linguistic yang benar-benar mengkaji

gramatikal dalam pengertian luas, yang di dalamnya ada fonologi, morfologi,

sintaksis, dan semantik. Dalam perspektif deskriptif ini lingustik cenderung

dimaknai teori 9gramatika, yaitu sebuah konsepsi yang cukup sempit tentang

kajian bahasa. Pandangan ini menurut Fairclough merupakan hal yang paradoks,

dalam arti linguistik hanya memmilki perhatian sedikit pada tuturan dan tulisan

yang aktual. Arus besar linguistik lebih tertarik pada cirri-ciri bahasa sebagai

sesuatu yang bersifat potensial, sebuah system, dan kompetensi yang abstrak

daripada tertarik pada kegiatan mendeskripsikan praksis bahasa aktual. Pandangan

ini sangat di pengaruhi oleh dua asumsi bahasa yang yang dikemukakan oleh

Ferdinand de Saussure, yakni (1) bahasa dari komunitas tertentu dapat untuk

tujuan-tujuan praktis dan (2) studi bahasa seharusnya sinkronik daripada historis.

Dalam pandangan kritis, dua asumsi Saussure ini mengabaikan praksis bahasa

dan menisolasinya dari acuan social historis, hal ini sangat tidak mungkin. Arus

besar linguistik yang ada merupakan sebuah cara mengkaji bahasa yang asosional,

yang tidak pernah berbicara tentang hubungan timbale balik antara bahasa,

kekuasaan, dan ideologi. Kritik terhadap lingusitik yang sebenarnya ini

mengabaikan praksis bahasa yang menjadi fokus kajian “linguistik kritis.”

3. Deskipsi Kritis dalam Sosiolinguistik

Beberapa praktisi bahasa di antaranya Fairclough melihat sosiolinguistik

sebagai pelengkap linguistik yang sebenarnya, sosiolinguistik mengkaji

8

Nuri Nurhaidah. Wacana Politik Pemilihan Presiden di Indonesia, (Yogyakarta: Smart Writing, 2014), h. 19

9

(19)

penggunaan bahasa dan linguistik. Arus besar sosiolinguistik berhasil menunjukan

bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara variasi dalam bentuk linguistik

(fonologi, morfologi, dan sintaksis) dan variabel-variabel sosial, antara lain strata

sosial, relasi sosial, dan perbedaan latar sosial. Dalam arti apa yang ada dalam

bentuk bahasa dapat ditemukan gejalanya dimasyarakat. Konsep di atas

bernuansa “atomisme logis” sebagaimana dikemukakan Chaika Grimsaw ,dan Wardhugh. Pendapat ini diperkuat oleh karya-karya labov, Chesaire , Milroy, dan

Romaine. Sosiolinguistik pada saat itu perkembangannya sangat dipengaruhi

konsepsi ilmu sosial dalam tradisi positivism. Dari tradisi ini dapat dilihat bahwa

variasi sosiolingusitik dalam masyarakat tententu cenderung dilihat dari

seperangkat fakta yang dapat diobservasi dan diperiksa dengan menggunakan

metode analogi dari ilmu-ilmu alam.

Menurut Fairclough sosiolinguistik sangat jelas bila ditanya “apa variasi itu?

Tetapi amat lemah bila menjawab “mengapa” dan “bagaimana.” Beberapa

pertanyaan yang perlu dijawab oleh sosiolinguistik adalah (1) mengapa

fakta-fakta yang ada kenyataannya seperti itu? (2) bagaimana relasi kekuasaan muncul

untuk mengatur manusia? (3) bagaimana relasi kekuasaan itu ditopang? (4)

bagaimana relasi-relasi kekuasaan itu di ubah untuk keuntungan kelompok

tertentu yang mendominasi kelompok lain? Pertanyaan-pertanyaan yang berupa

“mengapa” dan “bagaiman” ini harus diwujudkan dalam langkah eksplanasi yang nyata. Pertanyaan ini menjadi fokus kajian sosiolinguistik kritis. 10

4. Deskripsi Kritis dalam Pragmatik

Pragmatik dibedakan dalam dua aliran yang bersumber dari tradisi yang

berbeda. Pertama, pragmatik dari tradisi dari Eropa Kontinental, yang

pengertiannya luas, yaitu “ilmu penggunaan bahasa. “Kedua, pragmatik terdiri

dari tradisi Angelo Amerika., yang pengertiannya lebih sempit, yaitu pragmatik

hanya sebagai satu dari sejumlah subdisplin yang berhubungan dengan

penggunaan bahasa bahasa yang meliputi sosiolinguistik dan psikolinguistik.

Pragmatik “kritis” lebih berkembang dari tradisi Eropa continental. Oelh karena

10

(20)

itu, wajar jika aliran ini tubuh subur dinegara-negara, seperti prancis , Australia,

belanda, dan jerman.11

Konsep pragmatik aliran Angelo-Amerika tidak pernah menyentuh

“pertarungan sosial” yang nyata dalam ketidaksetaraan hubungan kekuasaan

antarpartisipan. Komunikasi yang nyata lebih banyak diwarnai adanya

ketidaksetaraan atau ketidaksimetrisan kekuasan antar partisipan yang terlibat.

Dimensi inilah yang kemudian menjadi fokus garapan pragmatik kiris. Selain itu,

dalam tradisi Angelo Amerika, pragmatik pragmatik terbatas menggarap

ujaran-ujaran individu tunggal, seperti percakapan telepon daripada wacana luas yang

nyata, misalnya wacana gender, wacana rasisme, wacana hegemoni, dan wacana

politik. Garapan yang diabaikan dalam tradisi Angelo Amerika inilah yang

menjadi fokus garapan pragmatik kritis.

Pandangan lain yang dikritik oleh pragmatik kritis adalah keberadaan

pragmatik Angelo Amerika hanya merupakan “pelengkap” dari linguistik nyata,

yang menganggap kajian intinya adalah gramatika dan semantik. Pragmatik

Angelo Amerika mengakui konteks sosial, tetapi tidak menangkapnya sebagai

sesuatu yang amat determinative, yang amat menguasai dan menentukan individu

secara total. Sebaliknya dalam pandangan pragmatik kritis, konteks sosial itu

bersifat determinative terhadap individu-individu.12

5. Kritisisme dalam Linguistik

Sesuai dengan pandangan ilmu sosial kritis, ilmu bahasa yang nonkritis

dipandang oleh para pendukung linguistik kritis sebagai ilmu bahasa tradisional.

Analisis teks bahasa dalam linguistik tradisional berangkat dari pandangan

bahwa (1) struktur bahasa dapat dipisahkan dari penggunaan bahasa dan (2)

komunitas bahasa tertentu mempunyai gramatika tertentu, yang ada sebelum

analisis porese-proses sosial dilakukan. Dalam hubungannya dengan makna

struktur linguistik adalah sesuatu yang amat fundamental, karena terdapatnya

fungsi hubungan antara konstruksi tekstual dengan kondisi-kondisi sosial,

11

Ibid, h. 43

12

(21)

institusional, dan ideologis. Struktur-struktur linguistik digunakan untuk

mensistematisasikan dan mentransformasi realitas. Oleh karena itu,

dimensi-dimensi sejarah, struktur sosial, dan ideologi adalah sumber utama pengetahuan

dalam membahas kritisisme dalam linguistik.

Linguistik kritis sangat relevan bila digunakan untuk menganalisis fenomena

komunikasi yang penuh dengan kesenjangan, yaitu adanya ketidaksetaraan

hubungan antarpartisipan, misalnya komunikasi dalam politik, hubungan antara

atasan dan bawahan, serta hubungan antara laki-laki dan perempuan, mislanya

dalam politik gender. Menurut Fowler (1996) model linguistik ini menggunakan

analisis linguistik untuk mengupas misrepresentasi dan diskriminasi dalam

berbagai modus wacana publik. Topik-topik yang diteliti meliputi

masalah-masalah, seperti seksisme, rasisme, ketidakadilan, politik, dan praksis komersial.

Selanjutnya Fowler merumuskan analisis wacana publik sebagai sebuah analisis

yang dirancang untuk memperoleh atau menemukan ideologi secara khusus dalam

konteks sosial. Piranti-piranti untuk menganlisisnya adalah seleksi gabungan dari

kategori deskriptif yang sesuai dengan tujuan dan struktur-struktur yang

diidentifikasikan Halliday sebagi ideasional dan interpersonal. Linguistik kritis

mengambil tradisi linguistik lainnya, misalnya menganlisis tindak ujaran,

pengambilan giliran dalam bertutur, dan transformasi. Linguistik Kritis bertujuan

untuk “defamiliarisasi” yang dioposisikan dengan “pembiasaan” dan” pemunculan kesadaran” (consciousnessraising). Dalam arti bagaiman praksis

kritis linguistik dapat memecahkan “defamiliarisasi” agar selanjutnya” muncul sebuah kesadaran” berkat dukungan struktur linguistik.13

E. Wacana Kritis

1. Pengertian Analisis Wacana Kritis

Analisis wacana kritis (AWK) adalah sebuah upaya atau proses (penguraian)

untuk member penjelasan dari sebuah teks (ralitas sosial) yang mau atau sedang

dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya

mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang diinginkan. Artinya,

13

(22)

dalam sebuah teks harus disadari akan adanya kepentingan. Oleh karena itu,

analisis yang terbentuk nantinya disadari telah terpengaruh oleh sipenulis dari

barbagai factor. Selain itu harus disadari pula bahwa di balik wacana itu terdapat

makna dan citra yang diinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan.

Wacana adalah proses pengembangan dari komunikasi yang menggunakan

symbol-simbol yang berkaitan dengan interpretasi dan peristiwa-peristiwa di

dalam system kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana pesan-

pesan komunikasi seperti kata-kata, tulisan, gambar, dan lain-lain, eksisitensinya

ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, misalnya konteks peristiwa

yang berkenaan dengannya, dan lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa

nilai-nilai, ideologi, emosi, kepentingan-kepentingan, dan lain-lain.

Jadi, analisis wacana yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sebagai upaya

pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan

suatu pernyataan. Pengungakapan dilakukan dengan menempatkan diri pada

posisi sang penulis dengan mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga

bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat

diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama

dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.

Pemahaman mendasar analisi wacana adalah adanya wacana tidak dipahami

semata-mata sebagai objek studi bahasa. Bahasa tentu digunakan untuk

menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam pengertian linguistik tradisional.

Bahasa dalam analisis wacana kritis selain pada teks juga pada konteks bahasa

sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik

ideologi.

Analisi wacana kritis dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai

pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan

bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan

politik, analisis wacana kritis adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik

(23)

lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka inilah yang dipelajari dalam

analisis wacana kritis.14

Menurut Fairclough dan Wodak AWK melihat pemakai bahasa baik tuturan

maupun tulisan yang merupakan bentuk dari praktik sosial menyebabkan sebuah

hubungan dialeksis di antara peristiwa deskriptif tertentu dengan situasi, instituasi,

dan struktur sosial yang membentuknya. Teun Van Dijk mengemukakkan bahwa

“AWK digunakan untuk menganalisis wacana kritis, diantaranya politik, ras,

gender, kelas sosial, hegemoni, dan lain-lain.”15

F. Kritik Idiologi 1. AWK dan Ideologi

Kata ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu idea yang berarti gagasan,

lugas berarti ilmu. Secara harfiah, ideologi berarti ilmu tentang ide-ide sesuai

dengan perkembangan zaman, perkembangan ilmu, dan pengetahuan. Kata

ideologi pun mengalami perkembangan. Dalam kasus sosiologi, ideologi diartikan

sebagai: (1) perangkat kepercayaan yang ditentukan secara sosial; (2) sistem

kepercayaaan yang melindungi kepentingan golongan elit; dan (3) sitem

kepercayaan (Sukanto). Selajutnya dalam kamus antropolgi, ideologi diartikan

sebagai rangkaian konsep suatu cita-cita yang diemban dan diidam-idamkan oleh

sekelompok golongan, gerakan atau negara tertentu (Aryono). Raymond William

(Aisyah) mengemukakan batasan ideologi sebagai berikut: (1) sistem nilai atau

gagasan yang dimiliki oleh suatu kelompok atau lapisan masyarakat tertentu; (2)

kesadaran atau gagasan yang keliru tentang sesuatu; dan (3) proses-proses yangb

bersifat umum dalam produksi makna dan gagasan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa batasan ideologi ini adalah

sebuah sistem nilai atau gagasan yang dimiliki oleh sekelompok atau lapisan

masyarakat tertentu , termasuk proses-proses yang bersifat umum dalam produksi

makna dan gagasan. 16

14

Ibid, h. 50

15

Ibid, h. 51

16

(24)

2. Karakteristik Analisis Wacana Kritis (AWK)

Ada lima karakteristik dari AWK, yaitu tindakan, konteks, historis,

kekuasaan, dan ideology (Van Djik, Fairclough, Wodak, dan Eriyanto.

b. Tindakan

Prinsip pertama, wacana dipahami sebagai suatu tindakan (action).

Seseorang berbicara, menulis, dengan menggunakan bahasa untuk berinteraksi

dan berhubungan dengan orang lain. Dengan pemakaian rencana ini, ada beberapa

konsekuensi bagaimana wacana dilihat. Pertama, wacana dipandang sebagai

sesuatu yang bertujuan, membujuk, mengganggu, bereaksi, dan sebagainya.

Seseorang membaca atau menulis mempunyai maksud tertentu, baik maksud

besar maupun maksud kecil. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang

diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kehendak atau

diekspresikan di luar kesadaran.

c. Konteks

AWK mempertimbangkan konteks dari wacana, seperti latar, situasi,

peristiwa, dan kondisi. Wacana di sini diproduksi, dimengerti, dan dianalisis

dalam konteks tertentu. AWK juga memeriksa konteks dari komunikasi; dalam

jenis khalayak dan dalam situasi apa; melalui medium apa; bagaimana perbedaan

tipe perkambangan komunikasi; dan bagaimana hubungan antara setiap pihak.

Bahasa dalam hal ini dipahami dalam konteks secara keseluruhan. Ada tiga sentral

dalam pengertian wacana; teks, konteks, dan wacana. Teks adalah semua bentuk

bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak, tapi semua jenis ekspresi

komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Konteks,

memasukan semua situasi dan hal yang berada di luar, dan mempengaruhi

pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut

diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya. Wacana dimaknai sebagai

teks dan konteks bersama-sama. Titik perhatian analisis wacana adalah

menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam suatu proses

komunikasi. Dalam hal ini dibutuhkan tidak hanya proses kognisi dalam arti

(25)

AWK, memasukkan konteks, dan tidak ada tindakan komunikasi tanpa partisipan,

interteks, situasi dan sebagainya.

Ada beberapa konteks penting karena terpengaruh terhadap produksi wacana;

pertama, partisipan wacana, latar siapa yang memproduksi wacana gender, umur,

pendidikan, kelas sosial, etnis, agama, dalam banyak hal gugat dalam

menggambarkan wacana. Misalnya seseorang berbicara dalam pandangan

tertentu, karena ia laki-laki, atau karena ia berpendidikan. Kedua, setting sosial

tetentu, seperti tempat, waktu, posisi pembicara, dan pandangan atau lingkungan

fisik adalah konteks yang berguna untuk mengerti suatu wacana. Misalnya

pembicaraan di ruang kuliah berbeda dengan pembicaraan di jalan, pembicaraan

di kantor berbeda dengan pembicaraan di kantin, di tempat yang telah disetting,

seperti tempat itu privasi atau publik, dalam suasana formal atau informal, atau

pada ruang tertentu, sehingga memberikan wacana tertentu pula. Berbicara di

ruang pengadilan berbeda dengan di pasar, karena sitausi sosial dan aturan yang

melingkupinya berbeda, menyebabkan partisipan komunikasi harus menyesuaikan

diri dengan konteks yang ada. Oleh karena itu, wacana harus dipahami dan

ditafsirkan dari kondisi lingkungan sosial yang mendasarinya.17

d. Historis

Salah satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah dengan

menempatkan wacana itu dalam konteks historis tentu, misalnya, kita melakukan

analisis wacana teks selebaran mengenai pertentangan terhadap Soeharto.

Pemahaman mengenai wacana teks ini hanya akan diperoleh kalau kita bisa

memberikan konteks historis, tempat teks itu diciptakan. Bagaimana situasi sosial

politik dan suasana pada saat itu. Oleh karena itu, pada waktu melakukan analisis

perlu tinjauan untuk mengerti mengapa wacana yang berkembang atau

dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa dipakai seperti itu, dan seterusnya.

e. Kekuasaan

AWK mempertimangkan elemen kekuasaan dalam analisisnya di sini, setiap

wacana yang muncul dalam bentuk teks, percakapan, atau apa pun, tidak

dipandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar, dan netral, tetapi merupakan

17

(26)

bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci

hubungan antara wacana dengan masyarakat, seperti kekuasaan laki-laki. Wacana

seksisme, kekuasaan kulit putih terhadap kulit hitam, dan wacana mengenai

rasisme, kekuasaan perusahaan berbentuk dominasi pengusaha kelas atas

bawahan, dan sebagainya. Pemakai bahasa bukuan hanya pembicara, penulis,

pengarang, atau pembaca ia juga bagian dari anggota kategori sosial tertentu,

bagian dari kelompok profesional, agama, komunitas atau masyarakat tertentu,

misalnya antara dokter dan pasien, antara buruh dan majikan, antara laki-laki dan

perempuan, antara kulit putih dengan kulit hitam. Hal ini mengimplikasikan AWK

tidak membatasi diri dari detil teks atau struktur wacana saja, tetapi juga

menghubungkan dengan kekuatan dan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan

budaya tertentu. Percakapan antara buruh dan majikan bukan percakapan yang

alamiah, karena adanya dominasi kekuasaan majikan terhadap buruh tersebut.

Aspek kekuasaan perlu dikritisi untuk melihat, misalnya jangan-jangan apa yang

dikatakan oleh buruh hanya untuk menyenangkan atasannya saja. Kekuatan dalam

hubungannya dengan wacana penting untuk melihat apa yang disebut sebagai

kontrol seseorang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain lewat

wacana. Bentuk kontrol terhadap wacana tersebut bisa bermacam-macam. Bisa

berupa kontrol atau konteks, yang secara mudah dapat dilihat dari siapakah yang

boleh dan harus berbicara, sementara siapa pula yang hanya mendengar dan

mengiyakan. Seorang sekretaris dalam rapat, karena tidak mempunyai kekuatan

tugasnya hanya mendengarkan dan menulis, tidak punya wewenang untuk

berbicara. Selin konteks, kontrol tersebut juga diwujudkan dalam bentuk

mengontak struktur wacana. Seseorang yang mempunyai kekuasaan bukan hanya

menentukan bagian mana yang perlu ditampilkan. Hal ini bisa dilihat dari

penonjolan atau pemakaian kata-kata tertentu.

f. Ideologi

Teori-teori klasik tentang ideologi di antaranya mengatakan bahwa ideologi

dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan untuk memproduksi dan

melegetimasi dominasi itu diterima secara take for granted. Wacana dalam

(27)

yang dominan mempersuasi dan mengonsumsikan kepada khalayak produksi

kekuasaan dan dominan yang mereka miliki, sehingga tampak absah dan benar

sesuai dengan apa yang dikatakan Van Djik. Idiologi dari kelompok dominan

hanya efektiif jika didasarkan dengan pada kenyataan bahwa anggota komunikasi

termasuk yang didominasi menanggap hal tersebut sebagai kebenaran dan

kewajaran. Dalam hal ini kelompok dominasi memanupulasi ideologi kepada

kelompok yang tidak mempunyai dominasi melalui kampanye disinformasi

(seperti demontrasi buruh menyebabkan suatu kerusuhan, yang selalu bertindak

kriminal) dilakukan melaui kontrol media, dan sebagainya.

Apa peranan wacana dalam kerangka ideologi? Jawabannya ideologi

terutama dimaksudkan untuk mengatur masalah tindakan individu atau anggota

suatu kelompok, ideologi membuat angggota dari suatu kelompok akan bertindak

dalam situasi yang sama dan dapat menghubungkan masalah mereka, dan ideologi

juga memberikan kontribusi dalam membentuk solidaritas dan kohesi di dalam

kelompok. Dalam perspektif ini ideologi mempunyai beberapa implikasi penting.

Pertama, ideologi secara inheren bersifat sosial, tidak sosial dan tidak individual,

ideologi membutuhkan kekerasan di antara para anggota kelompok atau

organisasi. Hal ini digunakan untuk membentuk solidaritas dan kesatuan langkah

dalam bertindak dan bersikap, misalnya kelompok yang berideologi feminis,

antiras, dan sebagainya. Kedua, ideologi meskipun bersifat sosial tetapi digunakan

secara internal di antara anggota kelompok atau komunitas. Oleh karena itu,

ideologi tidak hanya menyediakan fungsi koordinatif dan kohesi, tetapi juga

membentuk identitas diri kelompok dan membedakan dengan kelompok lain.

Ideologi di sini bersifat umum, abstrak, dan nilai-nilai yang terbagi antar anggota

kelompok untuk menentukan dasar bagaimana masalah harus ditelaah. Dengan

pandangan semacam ini, wacana lalu tidak dipahami sebagai sesuatu yang netral

dan berlangsung secara alamiah, karena dalam setiap wacana selalu terkandung

ideologi untuk mendoniasi dan berebut pengaruh. Oleh karena itu, AWK tidak

bisa menempatkan bahasa secara tertutup, tetapi harus melihat konteks terutama

bagaimana ideologi dari kelompok-kelompok yang ada tersebut berperan dalam

(28)

muncul itu merupakan pencerminan dari ideologi seseorang. Apakah dia feminis,

antifeminis, kapitalis, sosialis, dan sebagainya.18

G. Kritik Pembangunan 1. Definisi Pembangunan

Inayatullah, mendefinisikan pembangunan sebagai perubahan menuju

pola-pola masyarakat yang lebih baik dengan nilai-nilai kemanusiaan yang

memungkinkan warganya memperoleh kontrol yang lebih terhadap diri mereka

sendiri.

Seers, mendefinisikan pembangunan sebagai suatu istilah teknis, yang berarti

membangkitkan masyarakat di negara-negara sedang berkembang dari

kemiskinan, tingat melek huruf (literacy rate) yang rendah, pengangguran, dan

ketidakadilan sosial.

Rogers, mendefinisikan pembangunan sebagai proses yang terjadi pada level

atau tingkatan sistem sosial, sedangkan modernisasi sebagai proses yang terjadi

pada level individu.19

2. Pengertian Kritik Pembangunan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, krtitik diartikan sebagai

„tanggapan, analisa, pertimbangan dan penilaian atas sesuatu hal secara

mendalam;kupasan;kecaman.‟20

Kata kritik berasal dari krinein, bahasa Yunani,

yang berarti „menghakimi; „membanding; atau „menimbang; kata krinein menjadi pangkal atau asal kata kreterion yang berarti „dasar; „pertimbangan; dan

„penghakiman; orang yang melakukan pertimbangan dan penghakiman itu disebut

krites yang berarti „hakim; bentuk krities inilah yang menjadi dasar kata kritik21 .

Berdasarkan dari pengertian tentang kritik di atas penulis menyimpulkan bahwa

18

Ibid, h. 63-65

19Sumadi Dilla, Komunikasi Pembangunan Pendekatan Terpadu, ( Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2102), h. 57-58

20

Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, (Jakarta: PT. Media Pustaka Phoenix, 2010), h.499

21

(29)

kritik pembangunan itu adalah kecaman yang ditujukan untuk pemerintah karena

adanya ketidak merataan pembangunan dalam segala bidang.

Pembangunan merupakan suatu proses perubahan di segala bidang

kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu.

Proses pembangunan terutama bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup

masyarakat, baik secara spiritual, mau pun matrial. Peningkatan taraf hidup

masyarakat mencakup suatu perangkat cita-cita yang meliputi hal-hal sebagai

berikut:22

a. Pembangunan harus bersifat rasionalistis

b. Adanya rencana pembangunan dan proses pembangunan

c. Peningkatan produktivitas

d. Peningkatan standar kehidupan

e. Kedudukan, peran, dan kesempatan yang sederajat dan sama dibidang

politik, sosial, ekonomi dan hukum

f. Pengembangan lembaga-lembaga sosial dan sikap dalam masyarakat

3. Cara Melangsungkan Pembangunan

Pembangunan untuk mencapai tujuan tertentu itu, dapat dilakukan melalui

cara-cara tertentu.23

a. Struktural

b. Spiritual

c. Struktural dan spiritual

Syarat yang Ditentukan. Masyarakat harus aktif memecahkan

masalah-masalah dan memiliki sikap terbuka bagi pikiran-pikiran dan usaha-usaha baru. Di

samping itu, diperlukan adanya kelompok-kelompok yang kreatif, serta massa

yang kritis.24. Tahap-tahap Pembangunan. Apabila pembangunan dikaitkan

dengan tahap-tahapnya, dikenal adanya tahap perencanaan, penerapan, atau

22 Soekanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar ( Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006), h. 360

23

Ibid, h. 361

24

(30)

pelaksanaan, dan evaluasi.25 Kebutuhan Pembangunan. Tujuan pokok

pembangunan adalah untuk menumbuhkan sikap dan tekad kemandirian manusia

dan masyarakat Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya

manusia untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin yang lebih selaras, adil dan

merata. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pembangunan didukung

oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mempercepat

terwujudnya ketangguhan dan keunggulan bangsa.26

Untuk mencapai tujuan dan kemampuan-kemampuan tersebut, maka ada tiga

hal yang dijadikan sebagai dasar, yakni:27

1. Pembangunan iptek harus berada dalam kesimbangan yang dinamis

dan efektif dengan pembinaan sumber daya manusia, pengembangan

sarana dan prasarana iptek, pelaksanaan penelitian dan pengembangan

serta rekayasa dan produksi barang dan jasa.

2. Pembangunan iptek tertuju pada peningkatan kualitas, yakni untuk

meningkatkan kualitas kesejahteraan dan hidup bangsa.

3. Pembangunan iptek harus selaras (relevan) dengan nilai-nilai agama,

nilai luhur budaya bangsa, kondisi sosial budaya, dan lingkungan

hidup.

Penguasaan, pemanfataan, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi dilaksanakan oleh berbagai pihak, yakni:28

1. Pemerintah, yang mengembangkan dan memanfaatkan iptek untuk

menunjang pembangunan dalam segala bidang.

2. Masyarakat, yang memanfaatkan iptek itu untuk pengembangan

masyarakat dan mengembangkannya secara swadya.

3. Akademisi terutama dilingkungan perguruan tinggi, mengembangkan

iptek untuk disumbangkan kepada pembangunan.

25

Ibid, h.362

26

Omar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1994), h. 21

27

Ibid, h. 22

28

(31)

4. Teori Awal Pembangunan: Dari Modernisasi, Ketergantungan Menuju Satu Dunia

Paradigma awal pembangunan yang berlangsung di berbagai negara

berkembang (miskin) merupakan sebuah aksioma yang melekat tentang

pembangunan yang dianggap sebagai proses pertumbuhan, proses modernisasi,

dan proses distribusi sosial. Berawal dari perbedaan ekonomi dan sosial yang

mencolok panca Perang Dunia II, timbulah keinginan kuat untuk mencari solusi

dengan konsep dan gagasan mengubah keadaaan menjadi lebih baik. Untuk

mencapai ke arah itu diperlukan usaha dan strategis yang progresif agar mampu

mengatasi keadaan secara menyeluruh di segala bidang, yang disebut

modernisasi.29

5. Teori Modernisasi

Istilah ˮmodernˮ berasal dari perkataan Latin modernus yang secara harfiah

berarti ˮmutakhirˮ atau ˮbaru sajaˮ, yang dapat diartikan pula ˮtidak kunoˮ atau tidak ˮtidak tradisionalˮ. Pendapat mengenai makna sebenarnya dari istilah

modern itu di antara para ahli tidak ada yang sama.30

Teori modernisasi lahir sekitar tahun 1950-an, yang ditandai beberapa

momentum penting, yaitu: pertama, terjadinya revolusi intelektual disetiap negara

untuk melakukan respons terhadap Perang Dunia II. Kedua terjadinya perang

dingin antara negara komunis di bawah pimpinan negara sosialis Uni Soviet

(USSR) yang berideologi kapitalis. Dominasi yang ditunjukan oleh kedua negara

tersebut bermuara pada ekspansi wilayah di negara-negara berkembang untuk

menerapkan ideologi mereka. Akibatnya, negara-negara saat itu terpolarisasi ke

dalam bentuk negara maju-terbelakang (Dunia Ketiga), negara kaya-negara

miskin, negara sosialis-negara kapitalis, negara pusat-negara pinggiran, dan

lain-lain, yang berkembang saat itu seriring dengan perubahan dan kemajuan

masyarakat bangsa.31 Menurut Fakih, Amerika justru merasa khawatir dengan

29

Ibid, h. 64

30

Onong Uhjana Effedy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 96

31

(32)

pengaruh sosialis Rusia (dulu Soviet) yang cenderung direspons negara-negara

yang baru berkembang sehingga Amerika (yang kapitalis) mendorong para ilmuan

sosial melakukan dua hal, yakni pertama, mengembangkan teori untuk memahami

dunia ketiga yang baru lahir; dan kedua menemukan resep teoritis dalam rangka

membentuk sosialisme untuk mendorong kapitalisme. Dalam konteks sejarah

seperti inilah teori modernisasi dan pembangunan lahir. Fakih mencatat bahwa

perkembangan teori modernisasi ini akibat dukungan dana politik yang luar biasa

besar dari pemerintah dan organisasi swasta di Amerika, serta negara liberal

lainnya.32

Menurut Yudistira teori modernisasi adalah suatu deskripsi tentang eksplanasi

proses transformasi dari masyarakat yang tradisional atau berkembang menuju

masyarakat modern.33 Menurut Edward F. Borgotta dan Maria Borgotta ciri

masyarakat modern ditandai dengan kecenderungan mereka menganggap teori

modernisasi sebagai salah satu perspektif sosiologi yang berorientasi pada

pembangunan dan keterbelakangan (development and underdevelopment).

Perhatian utama teori ini, yaitu pada cara masyarakat dulu dan sekarang yang

telah modern diwesternisasikan melaui proses pertumbuhan ekonomi dan

perubahan sosial, politik struktur budaya.34

Dalam kajian filsafat dan epistomologi, istilah modernisasi sering disamakan

dengan istilah modernitas, dan modernity. Menurut Borgotta dan Borgotta, hal ini

menunjukan perspektif bahwa hanya satu kebenaran model deskripsi dan

eksplanasi yang mengungkap dunia nyata.35 Istilah modernitas ini telah mapan

dalam sejarah dan teori estetika, dan kemudian dipakai dalam istilah ilmu-ilmu

sosial, demikian pula dengan proses modernisasi yang muncul dalam

perbincangan teori Max Weber. Ia cenderung melihat rasionalisasi merupakan

kelanjutan atau proses awal lahirnya modernitas dan modernisasi, secara lengkap

Weber menulis “singkatnya modrenitas adalah hasil dalam istilah budaya, sosial

politik akibat proses besar rasionalisasi yang dengannya dunia dikontrol dan

32

Ibid, h. 66

33

Ibid, h. 67

34

Ibid, h. 67

35

(33)

diatur oleh suatu etika penguasa dunia, yang menyangkut subordinasi diri,

hubungan sosial, dan alam ke program kontrol dan regulasi yang terperinci”.36 Proyek modernisasi ini adalah pengenalan rasionalitas pada lingkungan sosial.

Werner dan Huntington menjelaskan perubahan tradisional ke arah modern

dengan prinsip rasionalisasi, bersifat revolusioner dan barwatak kompleks

(melalui cara dan disiplin ilmu), sistemik sehingga menjadi gerakan global yang

mempengaruhi semua manusia, melalui proses yang bertahap menuju suatu

hegemonisasi dan bersifat progresif. Teori ini digunakan di kalangan interdisiplin

sehingga melahirkan aliran modernisasi dalam sosiologi, antropologi, psikologi,

ekonomi, dan pendidikan, bahkan agama.37

Daniel Lerner mengemukakan bahwa aspek dasar modernisasi adalah

urbanisasi, industrialisasi, sekularisasi, demokratisasi, pendidikan, dan peran serta

media massa yang semuanya berlangsung dalam keterkaitan utuh, tidak terpisah

dan tidak serampangan.38 Posisi itu akhirnya mengundang berbagai tanggapan

untuk melakukan tinjauan terhadap modernisasi seperti dijelaskan Samuel P.

Huntington, yakni: secara psikologis, modernisasi melibatkan pergesaran

mendasar di bidang mental, nilai-nilai dan harapan.39

Secara demografis, modernisasi mengacu pada adanya perubahan pola hidup

yang ditandai dengan meningkatnya harapan hidup dan kualitas kesehatan

masyarakat, terbukanya lapan pekerjaan baru, dan mobilitas penduduk, di mana

terjadinya pertumbuhan pesat penduduk perkotaan yang tak sebanding dengan

pertumbuhan penduduk pedesaan.40

Secara sosilogis, modernisai sebagai alat, melengkapi semua keluarga dan

kelompok primer lainnya, agar memuliki peran-peran khususnya dengan muncul

kesadaran, dan pentingnya asosiasi sekunder yang berfungsi majemuk.41 Secara

ekonomis, modernisasi mengacu pada terjadinya peragaan aktivitas, di mana

lapangan pekerjaan tradisional berkembang menjadi sektor yang lebih kompleks

(34)

dan luas, mengandalkan keterampilan kerja secara berarti, serta komposisi modal

dan tenaga kerja yang lebih rasional.42

Secara politik, modernisasi melibatkan tiga aspek: pertama, melibatkan

rasionalis kekuasaan, pergantian sejumlah besar pejabat politik tradisional, etnis,

keagamaan, kekeluargaan, oleh kekuasaan nasional yang bersifat sekuler. Kedua,

mmelibatkan diferensiasi fungsi politik dan pengembangan fungsi khusus, dalam

hal ini wilayah kewenangan hukum, militer, dan administratif terpisah dari dunia

politik. Ketiga, institusi sosial dan politik menjadi kekuatan penyeimbang dalam

ranah demokrasi sebagai agent of control dalam kekuasaan negara.43

Modernisasi sendiri menganut tiga asumsi pokok yakni: pertama,

mempercayai kondisi tradisional serta modern sebagai kondisi yang dikotomis,

modern adalah kondisi kemajuan, rasionalitas, serta efisiensi produksi, seperti

yang terdapat pada masyarakat industri maju, sebaliknya masyarakat tradisonal

ditandai ciri-ciri irasionalitas, keterbelakangan, dan inefisiensi dalam masyarakat

agraris. Kedua, percaya bahwa faktor-faktor penyebab keterbelakangan adalah

faktor nonmaterial, terutama dunia ide dan lam pikiran. Ketiga, bersifat

positivistik. Modernisasi bersifat universal sehingga perubahan sosial yang linier

akan tercapai jika masyarakat tradisional membangun dengan cara yang dipakai

masyarakat modern. Teori modernisasi mengusung semangat pembangunan

mengubah masyarakat dari era tradisional menuju masyarakat modern.44

Menurut Harrison, modern akan berpengaruh terhadap perubahan susunan

dan pola masyarakat, dengan terjadinya diferensiasi struktural. Demikian juga

dengan kapitalisme telah dibuktikan sejarah, dan dikritik oleh Max, akan

menimbulkan struktur yang penuh komplik. Lebih jauh, Smith menyatakan bahwa

manusia modern terbuka terhadap pengalaman baru, independen terhadap bentuk

otoritas tradisional, dan percaya terhadap ilmu pengetahuan.45

42

Ibid, h. 69

43

Ibid, h. 69

44

Ibid, h. 70

45

(35)

6. Potret Pembangunan Di Indonesia

Di Indonesia, hasil pembangunan itu belum memperlihatkan perkembangan

signifikan bagi kebutuhan rakyat banyak. Sejak Orde Baru hingga reformasi,

pergeseran pedekatan pembangunan yang menyebabkan permasalahan krusial

pembangunan belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Proses

pembangunan yang dilakukan lebih kuat diwarnai oleh perspektif politik dan

ekonomi daripada perspektif sosial-budaya. Hal ini terlihat dengan adanya usaha

mobilisasi masyarakat dalam memanfaatkan sumber-sumber potensial lokal untuk

kepentingan politik tertentu. Masyarakat hanya dipandang sebagai modal

pembangunan, bukan sebagai mitra pembangunan. Pada saaat yang hampir

bersamaan, proses pembangunan yang dilaksanakan tidak memberikan ruang atau

peluang bagi terwujudnya inisiatif dan kreativitas masyarakat. Hakikat

pembangunan yang menitik beratkan pada pembangunan manusia seutuhnya

rakyat semakin jauh dari harapan.46

Konkritnya, berbagai agenda pembangunan yang telah, sedang dan akan

berjalan, belum mampu memberi motivasi, membuka orientasi dan perluasan

kapasitas masyarakat dalam memahami permasalahan sendiri. Mengenai hal ini,

hasil laporan UNDP tahun 2007 tentang indeks Pembangunan Manusia (IPM)

yang dilansir beberapa media massa baru-baru ini, cukup mencengangkan. Betapa

tidak, dibalik retorika keberhasilan pembangunan yang diklaim pemerintah,

ternyata hanya menempati peringkat 108 dari negara di dunia (Pikiran Rakyat,

2007). Ini membuktikan bawaha pemerintah belum serius menangani

persoalan-persoalan pembangunan yang terkait dengan pembangunan manusia dan

masyarakat.47

Sementara itu, pola kebijakan pembangunan oleh pemerintah Inpres Desa

Tertinggal (IDT), Jaring Pengaman Sosial (JPS), Takesra/Kukesra, Kredit Usaha

Koprasi (KUK), UP2K, Bantuan Langsung Tunai, dan lain-lain merupakan contoh

nyata dari strategi pembangunan yang diseragamkan diseluruh Indonesia, yang

46

Ibid, h. 100-101 47

(36)

hanya mampu bertahan dan memberi efek sementara.48 Hal lain yang dianggap

penting untuk disikapi oleh kita adalah pergesaran pola kebijakan pemerintah, dari

kekuasaan yang sentralistis menuju desentralistis (pendelegasian wewenang).

Hal ini haruslah dimaknai sebagai peluang dan tantangan pembangunan.

Pergeseran ini sesungguhnya mengindikasikan political will pemerintah untuk

mengatasi permasalahan pembangunan bagi rakyatnya secara menyeluruh.

Berdasarkan definisi kemiskinan dari BPPS dan Depsos (2002), data jumlah

penduduk miskin pada tahun 2002 mencapai 35,7 juta jiwa termasuk didalamnya

jumlah kategori fakir miskin 15,6 juta jiwa. Semantara jumlah pengguran yang

diakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK), berdasarkan data Departemen

Tenaga Kerja (1999), mencapai 168,933 orang, belum termasuk yang belum

bekerja. Meningkatnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebagai akibat dari

ketiadaan atau kurangnya lapangan kerja yang ada di tanah air, dan merebaknya

konflik, baik antara pemerintah dan masyarakat, maupun antara masyarakat

dengan masyarakat, merupakan cermin buruknya penanganan kondisi ini. Sebagai

contoh konkrit, munculnya konflik sosial di tanah air yang berlatar belakang

SARA sepanjang tahun 1997-1999 adalah fenomena sosial akibat dampak sosial

pembangunan yang tidak merata.49 Sesungguhnya, kasus-kasus tersebut

menggambarkan potret ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola

pembangunan bagi rakyatnya. Menghadapi situasi semacam ini, bila tidak

dikelola secara bijak, serius dan terencana oleh pemerintah bersama masyarakat,

cepat atau lambat, bangsa Indonesia akan dihadapakan pada situasi yang penuh

kejutan, berimplikasi luas pada kelanjutan pembangunan dan perubahan yang

tidak dapat di duga yang semakin sulit dijinakkan.50

7. Perubahan Paradigma Pembangunan

Berdarsarkan pengalaman empiris dan bukti-bukti aktual di beberapa negara

berkembang, paradigma pembangunan model ekonomi memiliki kelemahan dan

48

Ibid, h. 101 49

Ibid, h. 103 50

(37)

kekurangan. Untuk itu, perlu diimbangi dengan pemikiran baru yang lebih

memadai. Seperti yang diungkapkan Todaro:

“ sistem ekonomi perlu dianalisis dan didudukan pada konteks sistem sosial secara keseluruhan di negara tertentu, dan tentu saja juga dalam konteks global

internasional. Sistem sosial yang dimaksud dalam hubungan-hubungan yang

saling terkait antara faktor-faktor ekonomi dan non-ekonomi”.51

Analisis yang digunakan Todaro tersebut, mengurai permasalahan

pembangunan dengan menggugat paradigma yang dikembangkan sembari

memberi solusi yang harus dilakukan. Sebuah pembangunan itu selalu diposisikan

hanya terbatas hanya pada faktor ekonomis, tanpa dukungan faktor lain. Lalu,

bagaimanakah konteks Indonesia? Apakah pergeseran orientasi pemikiran yang

mengarah pada perubahan paradigma ini merupakan sesuatu yang mendesak pada

perubahan paradigma ini dilakukan berdasarkan fakta konkret di lapangan.

Berikut beberapa alasan logis yang dapat dikemukakan:

a. Jumlah penduduk miskin menurut data BPPS dan Depsos (2002),

yaitu 35,7 juta jiwa.

b. Pertumbuhan sebagai definisi pembangunan tidak mencapai status

politik atau kesetaraan seperti yang diharapkan.

c. Pengguran dan ketidakadilan yang muncul, serta tumbuh hampir di

semua aspek kehidupan di negara Dunia Ketiga.

d. Kekuasaan dikonsentrasikan di antara elit karenanya mereka merasa

diuntungkan dengan adanya pertumbuhan. Kemudian kekuasaan

tersebut digunakan untuk mencegah ketidakadilan pada

masyarakatnya.

Munculnya persoalan-persoalan ini merupakan dampak dari konsep

pedekatan (paradigma) pembangunan ataupun model pembangunan yang tidak

memihak rakyat. Pembangunan akhirnya keluar dari hakikat tujuannya, yaitu

untuk kemakmuran rakyat yang sebesar-sebesarnya.52

51

Ibid, h. 104 52

(38)

8. Paradigma Baru Pembangunan: Model Pembangunan yang Berpusat Pada Rakyat

Sebagai konsep yang bertumpu pada aspek sosial budaya, pembangunan pada

paradigma ini didefinisikan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat yang

berorientasi pada nilai-nilai sosial budaya yang hidup dan berkembang.

Maksudnya, proses pertumbuhan tidak saja menumbuhkan dan mengembangkan

nilai tambah ekonomi, tetapi juga nilai tambah sosial secara adil (eqiuty), setara

(equality) yang pertisipatif sebagai upaya pengembangan kapasitas manusia dan

masyarakat berdasarkan pada spektrum helping people to help themselves, baik

individu, kelompok, maupun orang sebagai kekuatan civil society.53

Pendekatan ini berasumsi bahwa paradigma pembangunan memandang posisi

masyarakat sebagai individu, kelompok, dan komunitasnya dalam konteks sosial-

budaya yang perlu dihargai, dilindungi dan dikembangkan eksistensinya.

Sehingga apa pun aktif masyarakat. Pada konteks ini, masyarakat dipandang

sebagai entitas penting dalam dimensi pembangunan sosial. Dari sini kemudian

pengakuan, penguatan dan pemberdayaan potensi rakyat, baik identitas (simbol

dan nilai) sosial-budaya, maupun harkat dan tujuan martabatnya, dapat dilakukan.

Dengan demikian, hakikat tujuan pembangunan pada paradigma ini adalah usaha

meningkatkan kualitas hidup (kesejahteraan), yang berfokus pada pengembangan

manusia (human development oriented).54

Kenyataan, sejarah menunjukan bahwa akibat praktik pembangunan yang

dikembangkan dengan ideologi tunggal negara kapitalis adalah bentuk

neo-kolonialisme gaya baru dalam tata ekonomi internasional. Sebagai contoh,

kegagalan yang terjadi dalam berbagai program pembangunan tidak semata-mata

karena kekeliruan dan ketidakpekaan pemerintah, tetapi sedikit dari ilmuan sosial

yang kurang memadai dan kritis. Akibatnya, masyarakat dan negara mengalami

kemerosotan nilai dan harga secara permanen. Identitas dan karakteristik wilayah

53

Ibid, h. 104-105 54

(39)

lokal mulai kehilangan legitimasinya, bersamaan dengan rapuhnya

pranata-pranata sosial.55

Sehingga model pendekatan yang berpusat pada rakyat, berasumsi bahwa

masyarakat sudah saatnya menggugat struktur dan situasi keterpurukan secara

bertahap. Bersamaan dengan itu, masyarakat melakukan konstruksi ulang

bangunan sosial budayanya yang berbau hegemoni. Menyitir pendapat Korten dan

Carner (1993), konsep pembangunan ini menekankan pada upaya penciptaan dan

pemberdayaan proses inisiatif dan kreativitas masyarakat sebagai sumber daya

pembangunan yang utama, dan melihat ukuran kesejahteraan materiil dan spiritual

sebagai tujuan akhir pembangunan. Lebih jauh Korten dan Carner

mengungkapkan pembangunan yang berpusat pada rakyat sebagai berikut:

a. Penekanan pada dukungan dan pembangunan usaha-usaha swadaya

kaum miskin guna menagani kebutuhan mereka sendiri.

b. Kesadaran bahwa kendati sektor modern merupakan sumber utama

pertumbuhan ekonomi yang konvensional, namun sektor tradisional

menjadi sumber utama bagi kehidupan sebagaian besar rumah tangga

masyarakat miskin.

c. Kebutuhan akan adanya kemampuan kelembagaan yang baru dalam

usaha membangun kemampuan para penerima bantuan yang miskin,

demi pengelolaan yang produktif dan swadaya berdarkan

sumber-sumber daya lokal.

Terhadap pendekatan ini rupanya Korten dan Carner secara tegas menyoroti

perlunya pengakuan dan dukungan usaha mandiri (swadaya), nilai-nilai

tradisional, dan sumber daya lokal dari masyarakat dalam strategi pembangunan.56

Mengenai hal ini, lebih lanjut Korten menyatakan terdapat tiga dasar

perubahan-perubahan struktur dan normatif dalam pembangunan yang berpusat

pada masyarakat yakni:

a. Memusatkan pemikiran dan tindakan kebijakan pemerintah pada

penciptaan keadan-keadaan yang mendorong dan mendukung usaha

55

Ibid, h. 105-106 56

(40)

rakyat untuk memenuhhi kebutuhan mereka sendiri, dan untuk

memecahkan masalah mereka sendiri di tingkat individu, keluarga,

dan komunitas.

b. Mengembangkan strukutur-struktur dan proses organisasi-organisasi

yang berfungsi menurut kaidah-kaidah sistem organisasi.

c. Mengembangkan sistem produksi-konsumsi yang diorganisasi secara

teritorial berlandaskan kaidah pemilikan dan pengendalian lokal.57

9. Krisis Dalam Teori Pembangunan dan Dalam Dunia

a. Krisis Teori dan Teori-teori Krisis

Krisis pembangunan dewasa ini merupakan tantangan bagi teori

pembangunan dalam berbagai aspek, satu diantaranya adalah ketika kita tidak

benar-benar punya teori krisis. Teori krisis merupakan krisis itu sendiri, ketidak

mampuan kita untuk memahami dengan benar fenomena krisis dalam konteks

proses pembangunan merupakan dakwaan dalam ilmu sosial pada umumnya dan

studi pembangunaan pada khususnya.58

b. Erosi Kepercayaan Diri

Selama 1980-an studi pembangunan ditantang oleh kecenderungan

fundamentalis dan pendekatan disiplin tunggal dalam dunia akademik, serta

kecenderungan neokonservatif dalam politik.59

c. Konsep Mengenai Krisis

Satu isu teoritis, yang sejauh ini belum dibahas secara memuaskan dalam

teori pembangunan, adalah fungsi “krisis” dalam proses pembangunan, dan status

teoretis yang aktual dari konsep itu sendiri. Di Eropa, contohnya, era pertumbuhan

ekonomi yang stabil dan kurang lebih otomatis tampaknya sudah berlalu,

penggauran telah mencapai tingkat yang lebih tinggi (antara 10 dan 15 persen

dibanyak negara) bahkan selama masa pemulihan belakangan ini, selain itu marak

bermunculan pencarian gaya hidup alternatif, seakan-akan orang merasa bahwa

57

Ibid, h. 106-107

58

Bjorn, Hettne. Teori Pembangunan dan Tiga Dunia. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001), h. 14-15

59

Gambar

Gambaran lirik lagu kontrasmu bisu merupakan gambaran perbedaan antara

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang berjudul “Krit ik dan Tindak Tutur Mengkritik dalam Tiga Lagu Iwan Fals Versi Konser” ini bertujuan untuk (a) menguraikan hal -hal apa saja yang

ciptaan Iwan Fals yang berjudul Surat Buat Wakil Rakyat, data 6 sampai data 9 diambil dari lirik lagu ciptaan Iwan Fals yang berjudul Nenekku Okem, sedangkan data 10

Hasil dan pembahasan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Tema pada lirik lagu Iwan Fals secara dominan berisi kritik atas berbagai ketimpangan sosial yang

lirik lagu Iwan Fals yang berjudul “Ujung Aspal Pondok Gede”.

Saran dalam penelitian ini adalah peserta didik dapat mengkaji majas ironi bait-bait lagu pada album Sore Tugu Pancoran karya Iwan Fals serta peserta didik dapat menjadikan

Pada syair lagu dendam damai adalah bagaimana Iwan Fals melukiskan perasaanya terhadap kerinduannya akan kedamaian atas konflik dan berbagai macam persoalan yang terjadi pada

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) jenis majas yang terkandung dalam lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Tikus-Tikus Kantor, Kuli Jalan, Tak

KRITIK SOSIAL PADA LIRIK LAGU ALBUM MANUSIA SETENGAH DEWA KARYA IWAN FALS Oleh HERWINDA AULIA AYU PUTRI NPM 1310013111082 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan dalam