PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA
ANTARAYANG MENGGUNAKANPENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES MELALUI METODE EKSPERIMEN DAN PENDEKATAN EKSPOSITORI
MFLALUI METODE DEMONSTRASI
(Quasi Eksperimen pada Kelas X SMA Negeri 2 Ciputat Tangerang)
...
III
DISUSUN OLEH: MIFTAHUL JANNAH
102016023906 I!Mrill. GMセBセセセ]ZQ
'hri ..セ ...••....•....•1. .
1..1 .
cp.
3o.
(Jl..,\::.'(,0[1 ;:..
OL0'..
セᄋoゥ
..
;:?;;;;{
i,l,\sifi1.,,:si "., .
PROGRAM STUDI PENDIDlKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDlKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF' HIDAYATULLAH
Menggunakan Pendekatan Keterampilan Proses Melalui Metode Eksperimen dan Pendekatan EI{Spositori melalui Metode Demonstrasi di SMA Negeri 2 Cip'ltat Tangerang, yaI1g disusun oleh Miftahul Jannah, NIM Ji)20 16023906, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Program Studi Pendidikan Biologi telah melalui bimbingan, dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqosah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan fakultas.
Jakarta, 16September2008
Pemliffi1Wtll an
" Drs. Ah 0 an M.Pd
Ketua Panitia( Ketua Jurusan Pendidikan IPA) If. H. Mahmud M Siregar, M.Si
NIP. 150222933
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi beljudul "Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang Menggunakan Pendekatan Keterampilan Proses melalui Metode Eksperimen dan Pendekatan Ekspositori melalui Metode Demonstrasi" Diajllkan kepada Fakullas IImu Tarbiyah dan Kegllruan (FTIK) Universilas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan Lulus dalam Ujian MlInaqasah pada langgal 18 Desember 2008 dihadapan Dewan Penguji. Karena illl Penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S I ( Strata I ) dalam bidang Pendidikan Biologi.
Jakarta. Januari 2009
Panitia Ujian Munaqasah
Tanggal Tanda Tangan
".:0'.:'9
セ
Sekretaris ( Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA ) Baig Hana Susanti. M.Sc
NIP. 150299475
Penguji I
Sujiyo Miranto. M.Pd
NIP. 150299933
PengujiII
If. H. Mahmud M Siregar. M.Si
NIP. 150222933
Mengetahui, Dekan FITK
YOf
....'1 ...
r
セM
..
ArvA
...
セNama : Miftahul Jannah
Tempatffgl.Lahir : Ciwandan, I I Juli 1984
NiM 10L016023906
Jurusan/Prodi Pendidikan IPA-Biologi
Judul Skripsi Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang Menggunakan
Pendekatan Keterampilan Proses melalui Metode
Eksperimen dan Pendekatan Ekspositori melalui Metode
Demonstrasi
Dosen Pembimbing : 1. Drs. Ahmad Sofyan, M.Pd
dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya
sendiri dan saya bertanggungjawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
ABSTRACT
This research is titled "Comparison result ofStudents Evaluation Between the Skills
Process Experiment Method and the Exposition of Demostration Method
Approachment". Script, Program study Education of Biologi Science Education Departement, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, The State Islamic University SyarifHidayatullah Jakarta, March 2008. This Research was lmplimented
on March 2007 at SMA Negeri 2 Ciputat. The aim of The is know the dijJerences
result of students evaluation between the skills process experiment method and the exposition of Demonstration method Approachment the concept ofpolution and the environment changed The method for this research is by using quasi experiment on 36 samples for experiment class and control class. The instrument used is objective test with the multiple choice form consist 21 items with 0-1 scores. According to the calculation by using "t" test formula, there are not differences result between the students which using the skills process experiment method and the exposition of demonstration method approachment on the polution concept and the environment
cahnged It is can be seen from the teounl < t'able on the significant level 0,05 which is
0,037< 2,00.
Ekspositori melalui Metode Demonstrasi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurman Pendidikan Hmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatl.'llah Jakarta, Agustus 2008. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2007 yang bertempat di SMA Negeri 2 Ciputat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara yang menggunkan pendekatan keterampilan proses melalui metode eksperimen dan pendekatan ekspositori melalui metode demonstrasi pada konsep pencemaran dan perubahan lingkungan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen kuasi yang sampelnya masing-masing 36 siswa baik untuk kelas eksperimen maupun untuk kelas kontrol. lnstrumen yang digunakan adalah tes objektif bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 21 butir soal dengan penskoran 0-1. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus uji "too, tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa
antara yang menggunakan pendekatan keterampilan proses melalui metode
eksperimen dan pendekatan ekspositori melalui metode demonstrasi pada konsep
pencemaran dan perubahan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari harga thitung < ttabel
pada taraf signifikansi 0,05 yaitu 0,037<2,00.
Kata Kunci: Pendekatan Keterampilan Proses, Pendekatan Ekspositori, Hasil
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Segala puji semata-mata hanya milik Allah yang
menggenggam alam semesta. Segala syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT
yang telah memberikan ke:nudahan dalarn menyelesaikan penyusunan skripsi
berjudul "Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang Menggnnakan Pendekatan
Keterampilan Proses melalui Metode Eksperimen dan Pendekatan Ekspositori
melalui Metode Demonstrasi". Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah
kepada Rosulnya, Baginda Nabi Muhamad SAW yang telah memberikan tauladan
kepada umatnya.
Dalam penyusunan ini penulis mengalami berbagai kendala, namun berkat
kemudahan yang diberikan Allah serta bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Hmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Ir. Mahmud M. Siregar, M.Si, selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA.
3. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc, selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA.
4. Bapak Drs. Ahmad SofYan, M.Pd, Ketua Program Studi BioIogi sekaligus Dosen
Pembimbing.
5. Bapak Drs. Suhaya, MM, seIaku Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Ciputat
Tangerang yang telah memberikan ijin penelitiannya.
6. Bapak Iping Sopingi, S. Pd, guru bidang studi SMA Negeri 2 Ciputat Tangerang
yang telah banyak membantu dalam penelitiannya.
7. Kedua orang tua tercinta (M. Djumani Ismail, Hudaefah) dan kakak-kakakku
(Amrullah, Qurotul Aini, Rusman, Nurussusilawati, Hafidoh, Ikhwanul Arif)
serta ponakan-ponakan (Haikal Luthfi, Alifa Azkiya Pum) yang telah
memberikan perhatian, kasih sayang, semangat, dan pengorbanan yang tak
angkatan 2002.
10 Sahabat-sahabatku Irmayanti, Venti. Nisa, ka AtiJ.::ah, ka Neneng, b Harun, ka Ali
SofJan, SofJan RH Zaid, Hanif yang telah memberikan semangat dan
perhatiannya.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
sendiri dan pada umumnya bagi pembaca.
Jakarta, 16 September 2008
DAFTARISI
ABSTRACT .
ABSTRAK... 11
KATA PENGANTAR... J1I
DAFTAR lSI v
DAFTAR TABEL... viii DAFTARGAMBAR... ix
DAFTAR LAMPlRAN x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .
B. Identifikasi Masalah 6
C. Pembatasan Masalah 6
D. Perumusan Masalah 7
E. Manfaat Penelitian 7
BAB II DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoretis 8
I. Pembelajaran Pendekatan Keterampilan Proses 8 a. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses 8 b. Aspek-aspek Keterampilan Proses dalam Pembelajaran.. 14 c. Kelebihan dan Kekurangan Pendekata Keterampilan Proses 25
2. Pembelajaran Metode Eksperimen 26
a. Pengertian Metode Eksperimen 26
b. Kelebihan dan Kekurangan Metode Eksperimen 27
3. Pembelajaran Pendekatan Ekspositori 28
a. Pengertian Metode Ekspositori 28
5. Perbandingan antara Pendekatan Keterampilan Proses dan
Ekspositori 35
6. Hasil Belajar Siswa 37
a. Pengertian Belajar 37
b. Faktor-faktor Hasil Belajar 38
c. Hasil Belajar 39
d. Pengukuran Hasil Belajar 40
7. Penelitian yang Relevan 42
B. Kerangka Berpikir 44
C. Pengajuan Hipotesis 46
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. TujuanPenelitian 47
B. Tempat dan Waktu Penelitian 47
C. Metode Penelitian 47
D. Populasi dan Sampel 48
E. Teknik Pengumpulan Data 48
F. Instrumen Penelitian 49
G. Varibel Penelitian 49
1. Variabel X ( Pendekatan Keterampilan Proses melalui
Metode Eksperimen) 49
2. Variabel X (Pendekatan Ekspositori melalui Metode
Demonstrasi) 49
3. Variabel Y (Hasil Belajar Siswa) 50
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pembelajaran Pendekatan Keterampilan Proses melalui Metode Eksperimen Biologi di SMA Negeri 2 Ciputat
Tangerang 57
B. Pembelajaran Pendekatan eォセーッセゥエッイゥ melalui MetoGe Demonstrasi di SMA Negeri 2 Ciputat Tangerang 58
C. Hasil Belajar Siswa 59
I. Hasil Belajar Siswa dengan Pendekatan Keterampilan
Proses melalui Metode Eksperimen 59
2. Hasil Belajar Siswa dengan Pendekatan Ekspositori
melalui Metode Demonstrasi 61
D. Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang menggunakan Pendekatan Keterampilan Proses melalui Metode Eksperimen dan Pendekatan Ekspositori melalui Metode Demonstrasi 62
I. Uji Normalitas 64
2. Uji Homogenitas 65
E. Keterbatasan Penelitian 68
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan 69
B. Saran 70
DAFTARPUSTAKA 71
1. Desain Penelitian 47
2. Kisi-kisi I'lstrullle'l 5!
3. Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen 59
4. Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol 61
5. Perbedaan Deskripsi Data Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 63
6. Kisi-Kisi Instrumen 97
7. Rekapitulasi Uji Validitas 105
8. Hasil Uji Coba Validitas Instrurnen 106
9. Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen 112
10. Data Hasil Belajar Kelas Kontrol... 113
II. Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen 115
12. Deskripsi Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen... 116 13. Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol... 118
14. Deskripsi Data Hasil Belajar Kelas Kontrol 119
15. Persiapan Uji Norrnalitas dan Homogenitas Kelas Eksperimen 120
16. Uji normalitas Kelas Eksperimen . 121
17. Normalitas Hasil Belajar Kelas Eksperimen... 122 18. Persiapan Uji Normalitas Kelas Kontrol... 123 19. Uji Normalitas Kelas Kontrol... 124
20. Normalitas Hasil Belajar kelas kontrol 125
21. Uji Homogenitas 127
DAFTAR GAMBAR
Gambar
I. Histogram Distribusi Frekuensi postest Kelas Eksperimen 60
[image:13.522.67.411.160.513.2]2. Lembar Kerja Siswa 92
3. Kis;-kisi Instfl!men... 97
4. Instrumen res Hasil Uji Validitas... 98
5. Uji Validitas 104
6. Uji Reliabititas Instrumen Tes 106
7. Instrumen res Hasil Uji Validitas... 107
8. Data Hasil13elajar III
9. Distribusi Frekuensi Hasil Belaja 113
10.Persiapan Uji Normalitas 119
II.Perhitungan Uji Homogenitas 125
BABI PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Laiu per!:embangan IPTCK ::lan proses glob'llisasi secara tid::tk langsung telah menuntut prasyarat kemampuan manusia untuk memperoleh peluang partisipasi di dalamnya. Masyarakat masa depan yang terus mengejar kualitas dan keunggulan, menuntut manusia bercirikan kreatif, kritis, fleksibel, terbuka, inovatif, tangkas, kompetitif, peka terhadap masalah, menguasai informasi, mampu bekeIja dalam lintas bidang, dan mampu beradapdtasi dalam perubahan.
Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.I Jadi pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada. Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa:
"Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuban yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab".z
Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuban YME dan berbudi pekerti lubur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta bertanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.3
'Syaiful Sagala, Konsep don Makna Pembelajaran un/uk Membantu Memecahkan Problemaika Belajar dan Mengajar,(Bandung: Alfabeta, 2005), h. 2
'Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Ten/ang Sis/em Pendidikan Nasional, (Jakarta: Eko Jaya, 2003), h.7
Dalam rangka upaya mewujudkan mutu yang setinggl-tmgginya, pemerintah dan masyarakat mengadakan pembenahan terhadap dimensi-dimensi penentu kemajuan pendidikan. Operasionalisasi upaya bersama itu tampak dalam berbagai rupa dan bentuknya, misalnya bahan pelajaran, metode pelajaran, lingkungan belajar, guru, dan siswa. Kelima komponen tersebut harus saling melengkapi agar interaksi belajar mengajar dapat berlangsung efektif dan efisien.
Pembelajaran dalam konteks mempersiapkan sumber daya manusia abad 21 mengacu pada konsep belajar empat pilar pendidikan (the four pillar of
education) yang dicanangkan komisi UNESCO yaitu belajar untuk mengetahui
(learning to know), belajar untuk melakukan sesuatu (learning to do ) belajar
hidup bersama sebagai dasar untuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan orang lain dalam keseluruhan aktivitas kehidupan manusia (learning to life together),
dan belajar menjadi dirinya (learning to be).4 Mempersiapkan Slswa yang memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi, antara lain berupa keterampilan motorik atau manual, kemampuan intelektual, sosial, dan emosional. Dengan memiliki kompetensi tersebut, peserta didik diharapkan mampu menghadapi dan mengatasi segala macal11 akibat dari perkel11bangan dan perubahan yang teIjadi dalam lingkungan terdekat sampai yang terjauh (lokal, nasional, regional, dan intemasional).
Dalam arti luas sains adalah pengkajian dan penteIjemahan pengalaman l11anusia tentang dunia fisik, mencakup sel11ua aspek pengetahuan yang dihasilkan oleh l11etode saintifik tidak terbatas pada fakta dan konsep tapi juga berbagai varlaSl aplikasi pengetahuan dan proses perolehannya. Sedangkan dalam arti sel11pit sains adalah sebagaimana yang dikenal dalam pendidikan kurikulurn pendidikan di Indonesia sebagai ill11u Pengetahuan alat atau IPA.5 Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam sekitar secara sistematis sehingga sains bukan hanya penguasaan kurnpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
4Haryono, Model Pembelajaran Berbasis Peningkatan Keterampilan Proses Sains,Junal
"endidikan DasarVol. 7 No.1 (2006), h. 2
3
Pendidikan sains seperti pada umumnya, memiliki peran yang sangat
penting dalam kehidupan manusia. Dalam pendidikan sains dikenal istilah proses
sains. Para ahli dikalangan pendidikan sains juga menyatakan bahwa produk sains
atau konsep dan sekaligus juga proses. Hubungan antara produk sains dengan
proses oains dinyatakan oleh Dahar (1990) sebagai satu kesatuan karena jika kita
hanya mengajarkan produk sains berupa fakta, konsep, prinsip, atau teori pada
siswa tanpa mengajarkan proses sains maka yang diajarkan bukan sains.6 Dengan
demikian, dalam pengajaran sains penekanannya jangan terlalu berlebihan pada
konsep tanpa mempertimbangkan pada proses atau sebaliknya. Kegiatan
pengamatan dan pereobaan IPA dapat memberikan kesempatan kepada anak
untuk memperoleh pengetahuan yang muneul dari pengalaman siswa,
mengembangkan konsep dasar, belajar mempraktekkan keterampilan dan
memanipulasi, meningkatkan rasa ingin tahu melalui observasi dan pereobaan,
mengembangkan keterampilan bahasa dan berkomunikasi, merangsang minat dan
kreativitas serta memperoleh rasa pereaya diri dalam mengendalikan situasi barn.
Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung
untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan
mamahami alam sekitar seeara alamiah. Pendidikan sains diarahkan untuk
meneari tahu dan berbuat sehingga dapat membentuk siswa untuk memperoleh
pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Oleh karena itu
pendekatan yang diterapkan dalam menyajikan pembelajaran sains adalah
memadukan antara pengalaman proses sains dan pemahaman produk sains dalam
bentuk pengalaman langsung.
Pemberian mata pelajaran IPA atau pendidikan IPA bertujuan agar siswa
memahami/menguasai konsep-konsep IPA dan saling keterkaitannya, serta
mampu menggunakan metode ilmiah untuk memeeahkan masalah yang
dihadapinya, sehingga lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan Peneiptanya.
Sedangkan fungsi mata pelajaran IPA antara lain ialah:
I. Memberi bekal pengetahuan dasar, baik untuk apa melanjutkan
kejenjang pendidikan lebih inggi maupun untuk diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam memperoleh,
mengembangkan, dan menerap!<an konser:-konsep IPA.
3. Menanamkan sikap ilmiah dan melatih siswa dalam menggunakan
metode ilmiah untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
4. Menyadarkan siswa akan keteraturan alam dan segala keindahannya,
sehingga siswa terdorong untuk mencintai dan mengagungkan
Penciptanya.
5. Memupuk daya kreatif dan inovatif siswa.
6. Membantu siswa memahami gagasan atau informasi barn dalam
bidang IPTEK.
7. Memupuk serta mengembangkan minat siswa terhadap IPA.?
Keterkaitan tujuan dengan materi pelajaran terlihat dari penetapan tujuan
pembelajaran IPA-Biologi dalam OBPP Kurikulum 1994, yaitu:
I. Meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan, kebanggaan
nasional, dan kebesaran serta kekuasaan Tuhan YME.
2. Memahami konsep-konsep IPA saling keterkaitannya.
3. Mengembangkan daya penalaran untuk memecahkan masalah yang
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mengembangkan keterampilan proses untuk memperoleh
konsep-konsep IPA dan menumbuhkan nilai dan sikap ilmiah.
5. Menerapkan konsep dan prinsip IPA untuk menghasilkan karya
teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan manusia.
6. Memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan ke jenjang
pendidikan menengah.8
Menyadari betapa pentingnya pendidikan sams telah banyak upaya
5
upaya tersebut adalah upaya ini dapat dilihat dari langkah penyempurnaan
kurikulum yang terus dilakukan peningkatan kualitas guru bidang studi,
penyediaan dan pembaruan buku ajar, penyediaan dan perlengkapan alat-alat
pelajaran (laboratorium) IPA, pengembangan pendekatan yang lebih relevan dan
・ヲ・ォセゥヲ mencapai tujtian pembelajaran 3ains, dar' masih bany?k usaha lain yang
ditempuh untuk memperbaiki pencapaian hasil belajar sains siswa di sekolah.
Namun demikian sejauh ini pencapaian hasil belajar sains di sekolah secara umum
dapat dinyatakan masih belum sesuai dengan harapan.
Fakta di lapangan pembelajaran IPA masih didominasi oleh penggunaan
metode ceramah dan kegiatarmya lebih berpusat pada guru. Aktivitas siswa dapat
dikatakan hanya mendengarkan pengalaman guru dan mencatat hal-hal yang
dianggap penting. Guru menjelaskan sains sebatas produk dan sedikit proses. Hal
ini salah satunya disebabkan oleh padatnya materi yang harus dibahas oleh guru
berdasarkan kurikulum yang berlaku, padahal dalam membahas IPA tidak hanya
cukup menekankan pada produk, tapi hukum. Pembelajaran IPA sangat efektif
untuk menanarnkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan
nilai ilmiah pada diri siswa serta pada akhimya pada diri siswa akan tertanam
suatu keyakinan dan pengetahuan terhadap kebesaran Tuhan yang Maha Esa.
Ekspositori yaitu strategi belajar mengajar yang menyiasati agar semua
aspek dari komponen pembentuk sistem instruksional mengarah pada
penyampaian isi pelajaran (informasi) kepada siswa secara langsung.9
Pendekatan keterampilan proses salls adalah sistem penyajian materi
secara terpadu pada transfer pengetahuan, siswa dipandang sebagai subjek belajar
yang perlu dilibatkan secara aktif yang membimbing dan mengkoordinasikan
kegiatan belajar siswa. Dalam model ini siswa diajak untuk melakukan proses
pencarian pengetahuan yang berkenaan dengan materi pelajaran melaIui berbagai
aktivitas proses sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan dalam melakukan
berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai bam yang diperlukan untuk
kehidupannya.
Terkait dengan permasalahan di atas, penulis perlu untuk mengetahui lebih
lanjut membahas mengenai judul "Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang
Mengg:.makan Pendekatan Ketemmpilan Prases l'1elalui Metode E!{Sperimen
dan Pendekatan Ekspositori melalui Metode Demonstrasi".
B. Identifikasi Masalah
b・イ、。セ。イォ。ョ latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah
yang dapat diidentifikasi adalah:
1. Bagaitnanakah hasil be1ajar slswa yang menggunakan pendekatan
keterarnpi1an pmses melalui metode eksperimen?
2. Bagaimanakah hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan
ekspositori me1alui metode demonstrasi?
3. Bagairnanakah perbedaan hasil belajar slswa yang menggunakan
pendekatan keterampilan proses sains rnelalui rnetode eksperirnen dan
pendekatan ekspositori rnelalui rnetode dernonstrasi?
4. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara yang
rnenggunakan pendekatan keterarnpilan proses rnelalui metode
eksperirnen dan pendekatan ekspositori rne1alui rnetode demonstrasi.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, penelitian dibatasi pada
masalah perbedaan hasil belajar siswa yang rnenggunakan pendekatan
keterampilan proses melalui rnetode eksperirnen dan pendekatan ekspositori
7
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut: "Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diberikan
pembelajaran pendekatan keterampilan proses melalui metode eksperimen dan
pendekatan ekspositori melalui metode demonstrasi.
E.
Manfaat PenelitianPelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
I. Bagi siswa dapat menguasaJ konsep-konsep biologi sehingga
diharapkan hasil belajar biologinya dapat meningkat.
2. Bagi guru dapat lebih menguasai tugas seorang guru dan dapat
A. Deskripsi Teoreti:;
1. Pembelajaran Pendekatan Keterampilan Proses
a. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Michael menyatakan bahwaassessing elementary school students science
process knowledge, their knowledge about doing science, is essential for several
reasons. First, i{students are to increase the depth of their content knowledge as hey participate in opportunities to learn science, teachers need more accurate nformation regarding wha students have learned about scientic processes. Second, more accurate assessment ofcontent and process knowledge at all grade levels would provide teachers, policy makers and administrators with better information on which to make instructional decisions. Third, many constructivist approaches to learning assume that valid knowledge of students existing ideas
will be communicated to other as a condition oflearning.I
Maksud pengertian diatas yaitu ada beberapa hal yang diperkirakan
penting bagi siswa sekolah dasar dalam memperoleh ilmu pengetahuan dalam
memproses pengetahuan mereka. Pertama, jika ingin meningkatkan pengetahuan
mereka, siswa harns terlibat langsung dalam pembelajaran setelah para guru
memberikan informasi mengenai proses ilmiah atau keterampilan proses. Kedua,
para pembuat tujuan instruksional dan proses pengetahuan di setiap tingkatan
akan mengfungsikan guru, pembuat kebijaksanaan dan penyusun dengan
informasi yang lebih baik ntuk melaksanakan instruksional pengajaran. Ketiga,
para constructivist mengatakan dalm pembelajaran memerlukan pendekatan
mengatakan pengetahuan tetap diperoleh siswa harns mengeluarkan ide sehingga
terbentuk komunikasi antar siswa yang dalam kondisi belajar mengajar.
Pendekatan keterampilan proses yang dilandasi oleh teori belajar Jerome
Bruner mengatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan
menunjukkan beberapa perbaikan antara lain pengetahuan itu akan bertahan lebih
lama dapat diingat dan lebih mudah menerapkan pengetahuan baru pada situasi
9
baru.2 Tujuan pembelajaran dari pendekatan keterampilan proses adalah untuk
memperoleh pengetahuan suatu cara yang dapat melatih kemampuan-kemampuan
intelektualnya dan merangsang keinginan yang baru diperolehnya.
Menurut Semiawan, keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan
mental terkait dt>ngan kemampu"l1 yang menriasar yang dimiliki. dikuas?i dan
diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga para ilmuwan berhasil
menemukan sesuatu yang bmu.3 Untuk melaksanakan hal ini seorang ilmuwan
harns bertindak untuk mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan
konsep sendiri. Sehingga ia mendapat ide yang baik dan konsep yang tepat.
Keterampilan proses sains adalah perangkat keterampilan kompleks yang
digunakan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah.4 Dengan
menggunakan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan
mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta
mengembangkan sikap dan nilai.
Keterampilan proses adalah pokok ilmu pengetahuan untuk melakukan
penyelidikan dan kesimpulan.5 Keterampilan proses berperan untuk
mengembangkan keterampilan siswa bagaimana cara mengidentifikasi,
menguraikan langkah-Iangkah proses sains.6
Menurut Nur dalam Perdy Karuru, pendekatan keterampilan proses dapat
beJjalan bila siswa telah memiliki keterampilan proses yang diperlukan untuk
satuan pelajaran tertentu.7 Para siswa mempelajari keterampilan proses untuk
mengidentifikasi dan menggambarkan variabel yang bersangkutan,
2 Wayan Memes, Model Pembe/ajaran Fisika di SMP, (Jakarta: Proyek Pengembangan
Guru Sekolah Menengah IBRD Loan No. 3979 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2000), h. 17
; Noehi Nasution, dkk., Materi Pokok Pendidikan IPA di SD,(Jakarta: UT, 2005), h. 17
4 Haryono, Model Pembelqjaran Berbasis Keterampi/an Proses, (Semarang: Fakultas
I1mu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, 2003), h. 1
5AャAャーZL||セ||jNqAャLァセセqqqN」」ゥャjセャ」。ョカ。Oゥャャャ。ァA[IBBウBァ」VNjIイッ」 」ウウウォェhZゥLー、uQjGA Desember 2008)
6 Wynne, Haden, Teaching af Science in Primary Schools, (David Futon Publishers,
1993), h. 26
menginterpretasikan, mengubah bentuk dan meneliti, merencanakan dan
mendesain suatu eksperimen, merurnuskan hipotesis.8
Menurut kurikulum SLTP 1994, pendekatan adalah pendekatan
keterampilan proses menekankan pada keterampilan memperoleh pengetahuan
dan mengkomunikasikan hasilnya.9 Hal ini berarti proses belajar mengajar di
SLTP tidak hanya berlandaskan pada teori pembelajaran perilaku, tetapi lebih
menekankan pada penerapan prinsip-prinsip belajar teori kognitif. Implikasi teori
belajar kognitif dalam pengajaran IPA adalah memusatkan kepada berpikir atau
proses mental anak dan tidak sekedar hasilnya.
Pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA merupakan
pendekatan yang sesuai dengan hakikat IPA sebagai proses yang terdiri atas
prosedur-prosedur empirik dan analitik yang ditempuh dalam usaha untuk
memahami alam semesta ini.1O Pendekatan pembelajaran didasarkan anggapan
bahwa ilmu itu terbentuk dan berkembang akibat diterapkannya suatu proses,
yang dikenal metode ilmiah, dengan menerapkan keterampilan-keterampilan
proses IPA, mulai dari menemukan masalah hingga mengambil kesimpulan.
Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran memberi
kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan atau
penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.II Pendekatan proses
dalam pembelajaran ini guru menciptakan bentuk kegiatan yang bervariasi, agar
siswa terlibat dalam berbagai pengalaman. Siswa diminta untuk merencanakan,
melaksanakan suatu kegiatan seperti percobaan pengamatan, pengukuran,
perhitungan, dan membuat kesimpulan sendiri.
Pendapat seorang ahli psikologi Gagne yang dikutip Dewan Nyoman
Sudana, menyatakan bahwa dengan mengembangkan keterampilan proses dalam
pembelajaran IPA anak dibuat kreaktif ia akan mampu mempelajari IPA ditingkat
8 William Foulds, Jhou Row, The Enhancement of Science Process Skills in Primary
Teacher Education Student Australian,Journal ofTeacher Education,Vol. 21 No. I (2000).
9Perrdy Karuru, Lac. Cit.
10Dewan Nyoman Sudana, Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA dengan Intensifikasi
11
yang lebih tinggi dalam waktu lebih singkat.12 Pengembangan keterampilan
proses dapat menumbuhkan sikap-sikap seperti yang dimiliki oleh para ilmuwan
(sikap ilmiah) untuk mencapai produk IPA.
Pendekatan keterampilan proses adalah kegiatan-kegiatan untuk
ゥョ・ャ。ォオォセョ keterampilan-keterampilan proses IPA yaitu mengamati, menafsirkan
pengamatan, meramalkan, menggunakan alat dan bahan, berkomunikasi, dan
mengajukan pertanyaan.13 Hal senada juga dikatakan Karen Ostlund, bahwa
keterampilan proses meliputi: observasi,melakukan percobaan, pengukuran,
komunikasi, dan keterampilan untuk berfikir kritiS.14 Melalui pengembangan
keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan, pelajar mampu menemukan
dan mengembangkan sikap dan nilai. Dengan demikian keterampilan itu menjadi
daya pembangkit penemuan dan pengembangan konsep serta pertumbuhan sikap
dan nilai.
Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran yang
berakar pada proses sains, dimaksudkan untuk membantu siswa memperoleh
kompetensi dalam keterampilan proses sains.ls Perangkat kemampuan kompleks
yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah
ke dalam rangkaian proses pembelajaran, sehingga siswa dapat melakukan
fakta-fakta, membangun konsep, teori dan sikap tertentu melalui proses sains secara
mandiri.
Pendekatan keterampilan proses diartikan sebagai wawasan atau anutan
pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang
bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada hakikatnya telah
ada dalam diri pembelajar.16
12 1 Nyoman Subrata dan I Nengah Kariasa, Upaya Meningkatkan Sikap I1miah dan
'<ualitas Hasil BelajarSiswa Sekolah Oasar Melalui Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Keterampilan Proses,Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, (2), 2002, h. 3
;;Ibid., h. 4
14 Karen Ostlund, What the Research Say Abou Science Process Skills, ElSE (The
University of Texas at Austin: !lW2i!www.unr.ccl11.2000). vol 2 No.4 luni 2000. (28 Oesember 2008)
15 Haryono, Efektivitas Pendekatan Keterampilan Proses dan Ekspositori dalam Sains
Dalam pendekatan proses pendekatan pembelajaran didasarkan pada
anggapan bahwa ilmu pengetahuan alam itu terbentuk dan berkembang akibat
diterapkannya suatu proses, yang dikenal dengan metode ilmiah, dengan
menerapkan keterampilan-keterampilan proses IPA, yaitu mulai dari menemukan
;nasalah hingga mengambil kesimpulan. Dalam hal ini kompetensi yang
diharapkan di capai siswa tidak terbatas pada penguasaan produk (materi
pelajaran), tetapi juga perlu dikembangkan kompetensi berkenaan dengan
keterampilan proses sains dan keterampilan sosial siswa yang diharapkan dikuasai
siswa setelah proses pembelajaran berlangsung.
Pendekatan proses tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan
kemampuan siswa dalam keterampilan proses atau langkah-langkah ilmiah seperti
mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan.17
Penggunaan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.
Perlunya siswa memiliki keterampilan proses karena keterampilan proses ini
mengembangkan cara siswa untuk mengembangkan konsep sendiri dan membantu
siswa memahami konsep yang abstrak, yang jika konsep tersebut hanya dijelaskan
dengan metode ceranlah tidak selamanya menarik perhatian siswa. Dengan
demikian penggunaan keterampilan proses diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap konsep-konsep biologi dan sekaligus dapat menarik
minat siswa dalam pelajaran biologi.
Penggunaan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA seyogiyanya
dikembangkan pendekatan tersebut adalah strategi menggunakan keterampilan
proses untuk memahami konsep atau mempelajari konsep dan pembelajaran yang
berorientasi pada proses IPA. Dalam konteks pembentukan kompetensi dasar
hidup sebagaimana ditentukan oleh "World Declaration of Education for All"
kemampuan dasar belajar menjadi landasan yang kuat bagi pengembangan dan
penciptaan diri individu ke depan. Dengan kemampuan dasar belajar yang kuat
memungkinkan individu untuk mampu mempertahankan hidup dan memperoleh
13
peluang partisipasi dalam masyarakat di mana dia hidup, karena secara substansial
telah memiliki keterampilan dasar hidup "Life Skill".18
Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan
siswa dalam memproses pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri
fakta, konsep, dan nibi-nilai yang diperlukan. l(epada siswa diberikan
kesempatan untuk langsung terlibat dalam aktivitas dan pengalaman ilmiah seperti
apa yang dilakukan dan dialami oleh ilmuwan. Dalam hubungan ini siswa dididik
dan dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan mengelola informasi melalui
aktivitas berpikir dengan mengikuti prosedur (metode) ilmiah, seperti terampil
melakukan pengamatan, pengukuran, pengklasifikasian, penarikan kesimpulan,
dan pengkomunikasian hasil temuan. Untuk itu model pembelajaran ini disebut
sebagai model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains,
karena berkenaan dengan proses pengolahan informasi dan kontruksi
pengetahuan, ilmu pengetahuan tidak dipandang sebagai produk semata tetapi
juga merupakan suatu proses.19
Perlunya siswa memiliki keterampilan proses karena keterampilan proses
ini mengembangkan cara siswa untuk membentuk konsep sendiri dan membantu
cara mempelajari sesuatu memahami konsep yang abstrak. Dengan demikian
penggunaan pendekatan keterampilan proses diharapkan dapat meningkatkan
pemahamaan siswa terhadap konsep-konsep biologi dan sekaligus menarik minat
siswa pada pelajaran biologi.
Secara esensi proses pembelajaran keterampilan proses sains terbagi dalam
tiga tahap kegiatan utama, yaitu:
I) Pendahuluan, dilakukan dengan penyajian pokok materi dan tujuan
pembelajaran dalam bentuk pertanyaanJproblem yang harns dijawab oleh siswa setelah melakukan proses sains tertentu, dan siswa mempelajari petunjuk umum kegiatan dan lembar keIja.
2) Penyajian (inti), di bawah bimbingan guru siswa melakukan proses
sains mulai dari menyusun hipotesis, melakukan pengamatan,
3) Penutup, guru melakukan evaluasi keberhasilan proses pembelajaran Clan
dilanjutkan dengan penugasan kepada siswa unluk perbaikan pengayaan.20
b. Aspek-aspekKeterampilan Prosesdalam Pembelajaran
Menurut Gega (1995) dikutip Hilda Karli bar.wa keterampilan proses
terdiri dari sejumlah keterampilan yang satu dengan yang lain tidak dapat
dipisahkan, namun ada penekanan khusus dalam masing-masing keterampilan
tersebut. Jenis-jenis keterampilan proses sains antara lain: Mengamati (observing)
adalah mengidentifikasi sifat dari objek tertentu dengan alat inderanya.
Mengklasifikasi (classifYing) adalah menunjukkan persamaan dan perbedaan dari
objek yang diamati. Mengukur (measuring) adalah mengontraskan ciri-ciri, dan
mencari dasar pengklasifikasian. Mengkomunikasikan (communicating) adalah
mendiskusikan hasil pengamatan secara lisan atau tertulis. Menafsirkan hasil
pengamatan (inferring) adalah menjelaskan apa yang diamati dari objek tertentu.
Meramalkan (prediction) adalah mengemukakan keadaan yang belum teramati
dan melakukan percobaan (experimenting) adalah melakukan sesuatu untuk
melihal apa yang terjadi.2! Dalam proses pembelajaran IPA keterampilan proses
dapat dilatihkan. Oleh karena itu guru dalam meraneang kegiatan keterampilan
proses sains perlu memperhatikan taraf perkembangan berpikir dan emosional
agar tercapai suatu kompetensi yang bermakna bagi pengalaman hidupnya.
Menurut Rezba dalam Prasetyo, keterampilan proses dikelompokkan
menjadi dua bagian, yaitu keterampilan dasar dan keterampilan terpadu proses
sains. Kegiatan yang termasuk dasar, yaitu melakukan: observasi, komunikasi,
klasifikasi, kesimpulan sementara (inferensi), ramalan (prediksi), sedangkan yang
termasuk kegiatan keterampilan terpadu adalah melakukan: identifikasi variabel,
membuat tabellgrafik, mendeskripsikan hubungan antar variabel, perolehan dan
15
pemrosesan data, analisis investigasi, penyusunan hipotesis, definisi operasional
variabel, desain investigasi dan eksperimen.22
Funk yang dikutip Dimyati, Mujiono, ada berbagai keterampilan dalam
keterampilan proses, keterampilan tersebut terdiri dari
keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keteramrilan terintegrasi
(intergrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam
keterampilan, yakni: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur,
menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. ,Sedangkan keterampilan-keterampilan
terintegrasi terdiri dari mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data,
menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel,
mengumpulkan data dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun
hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan
melaksanakan eksperimen.23
Dalam jurnal Proceedings oj the Redesigning Pedagogy, keterampilan
dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu keterampilan proses terintegrasi dan
keterampilan proses dasar. Keterampilan proses dasar adalah kemampuan untuk
belajar, kemampuan yang berfungsi untuk embentuk landasan pada setiap
individu dalam mengembangkan diri.24 Dengan kemampuan dasar belajar yang
kuat memungkinkan individu mampu mempertahankan hidup dan memperoleh
peluang partisipasi dalam masyarakat dimana dia hidup. Sedangkan keterampilan
proses terintegrasi adalah keterampilan komplek artinya keterampilan untuk
memecahkan permasalahan dengan melakukan suatu eksperimen.25 Dengan
mengintegrasikan keterampilan proses di dalam belajar dan kegiatan eksperimen
akan membuat pengalaman belajar yang lebili kaya dan penuh arti. Untuk para
siswa, siswa akan menjadi lebili aktif dalam mempelajari konsep yang sedang
mereka cari, sehingga dapat menjangkau suatu pemahaman yang lebih dalam
22 Sungkowo, Penggunaan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Upaya Meningkatkan
Pemahaman Konsep Kimia pada Siswa Kelas 11 SMU YP Unila Bandar Lampung Tahun Pe/ajaran 1992/2000, JPMIPA, Vol. 5 No.1 (2004), h. 39
23Dimyati, Mudjiono, Be/ajar dan Pembe/ajaran,(Jakarta: Rineka Cipta, 1999), h. 140 24 Grace Teo Yew Mei, Promoting Science Process Skills and the Relevance of Science
terhadap suatu konsep dan pada akhirnya keterampilan proses sams akan
menjadikan siswa lebih tertarik dan mempunyai sikap positif sains.
Gagne dan guru Asosiasi Nasional (NSTA) mengelompokkan
keterarnpilan proses menjadi dua bagian, yaitu keterarnpilan dasar meliputi
mengamat:, infe;ring mea.uring, herkomunikasi,menggolngk'ln dan f.len:malkqn.
Sedangkan keterarnpilan terintegrasi meliputi kemarnpuan untuk membuat
hipotesis, mengidentifikasi dan mengendalikan variabel, menggambarkan,
interpretasi data dan eksperimen.26 Dalarn kurikulm Nasional IPA 1991
pencapaian penyelidian ilmiah berupa merarnalkan, hipotesis, mengamati,
menentukan variabel,interpretasi data dan mengkomunikasikan.27
lImu pengetahuan keterampilan proses meliputi mengarnati kualitas,
mengukur jumlah, sorting/classifying, inferring, merarnalkan, mengadakan
percobaan.28Dengan keterarnpilan proses siswa diajak melacak kembali apa yang
telah dilakukan oleh ilmuwan dan menemukan/membentuk suatu konsep.
Keterampilan proses membantu siswa dalarn mempelajari ilmu pengetahuan atau
ilmu lain yang lebih dan bermakna atau penting dalarn hidupnya. Pada dasamya
pengajaran keterarnpilan proses untuk meningkatkan keterarnpilan di
dalarnpengamatan,dan menggolongkan sarnpai mengarnbil kesimpulan.29
Keterarnpilan-keterarnpilan mendasar yang termasuk keterarnpilan proses
sains antara lain:
I) Mengobservasi atau mengarnati, termasuk di dalamnya: a. Menghitung
b. Mengukur c. Mengklasifikasi
d. Mencari hubungan ruang dan waktu 2) Membuat hipotesis
3) Merencanakan penelitian/eksperimen 4) Mengendalikan variabel
26 John Wiley and Sons, Systematic Modeling versus the Learnig Cycle: Comparative
Effect on Integrated Science Process Skill Achievement,(by the National Association for Research in Science Teaching Published, 1992), h. ]
27 Wynne Harlen, Teaching and Learning Primary Science, (Paul Chapman Publishing
ltd, 1993), h. 57
"httpllwww.Nsta.orgielementaryschooUconnectionsl200712TorresHandoutParensNSTA
17
5) Menginterpretasi atau menafsirKan a:i._ 6) Menyusun kesimpulan sementara (inferensi) 7) Meramalkan (memprediksi)
8) Menerapkan (mengaplikasi)
9) Mengkomunikasi.30
Oalam pembelajaran langkah-Iangkah yang dimaksud setelah menemukan
masalah adalah mencari informasi lebih lanjut tentang masalah, kemudian
mengemukakan hipotesis, melakukan penelitian dan kemudian menarik
kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil penelitian atau temuan. ladi dalam
proses ini peserta didik dilatih untuk mengikuti langkah-Iangkah kerja para ilmu
dalam mengembangkan ilmu. Oi sini yang ditekankan adalah langkah untuk
mencapai produk sains.
Menurut Karen L Lancour, disebutkan keterampilan dasar pada
keterampilan proses sains terdiri dari:
1) Mengamati: menggunakan pikiran untuk mengumpulkan informasi
tentang suatu peristiwa.
2) Mengukur: penilaian untuk menguraikan dimensi spesifik dari suatu
peristiwa.
3) Inferring: Perumusan berdasarkan hasil pengamatan.
4) Menggolongkan: menggolongkan peristiwa atau objek ke dalam
kategori berdasarkan pada karakteristik tahu menggambarkan
ukuran-ukuran.
5) Meramalkan: memperkirakan kemungkinan hasil yang akan teIjadi
berdasarkan pada fakta- fakta.
6) Komunikasi: menggunakan kata-kata, lambang, atau grafik untuk
menguraikan suatu objek, peristiwa atau tindakan.3!
dari:
Sedangkan keterampilan terintegrasi pada keterampilan proses sains terdiri
1) Merumuskan hipotesis: menyatakan hasil diharapkan untuk
eksperimen.
2) MeJ1gidentifikasi variabel: I'1enyat'lkan faktor y'lng da:Jat dirubw yang
dapat mempengaruhi suatu eksperimen.
3) Melukiskan variabel: menjelaskan bagaiman cara mengukur suatu
variabel di dalam suatu eksperimen.
4) Hubungan antar variabel: menjelaskan hubungan antar variabel
didalam suatu eksperimen.
5) Merancang penyelidikan: merancang suatu eksperimen dengan
mengidentifikasi dan menguraikan langkah-langkah yang sesuai di
dalam suatu prosedur untuk menji suatu hipotesis.
6) Mengadakan percobaan: menyelesaikan suatu eksperimen dengan
mengikuti prosedur sehingga hasil dapat dibuktikan.
7) Mengorganisir data dalam grafik dan tabel: membuat grafik dan
mengumpulkan data.
8) Meneliti penyelidikan: menginterpretasikan data secara statistik,
mengidentifikasi ,mengevaluasi hipotesis, merumuskan kesimpulan,
dan merekomendasikan pengujian lebih lanjut.
9) Pemahaman menyebabkan dan mempengaruhi hubungan: apa yang
akan teIjadi
10) Merumuskan: menngenali data dan perbandingan pembuatan suatu
objek.32
Keterampilan berpikir yang tergolong keterampilan proses IPA:33
I) Mengobservasi
Mengamati merupakan kemampuan menggunakan semua indera
yang harus dimiliki setiap orang. Dalam kegiatan ilmiah mengamati berarti
19
diamati, atau memilih fakta-fakta untuk menafsirkan peristiwa tertentu.
Dengan membandingkan hal-hal yang diamati, berkembang kemampuan
untuk mencari persamaan dan perbedaan.
2) Menafsirkan Pengamatan
Mencatat Jeti:tp hl1sil pengarnatan secara terpisah, kem'ldian
menghubungkan hasil-hasil pengamatan itu. Mungkin ditemukan pola
tertentu dalam pengamatan. Penemuan pola ini merupakan dasar untuk
menyarankan kesimpulan generalisasi-generaJisasi.
3) Meramalkan
Meramalkan merupakan salah satu kemampuan penting dalam
IPA. Dengan menggunakan pola yang ditemukan dari pengamatan, para
ilmuwan mengemukakan apa yang mungkin teIjadi pada keadaan yang
terjadi pada keadaan yang akan datang atau belum diamati. Jadi, bertitik
tolak dari menafsirkan hasil-hasil pengamatan dapat dikembangkan
kemampuan untuk meramalkan, karena proses peramalan merupakan suatu
proses penalaran yang berdasarkan pengamatan.
4) Menggunakan Alat/Bahan
Melakukan percobaan dalam II'A membutuhkan aJat dan bahan.
Berhasil suatu percobaan atau eksperimen tergantung pada kemampuan
memilih dan menggunakan aJat yang tepat secara efektif. Pengalaman
menggunakan alat dan bahan merupakan pengalaman konkrit yang
dibutuhkan anak untuk menerima gagasan baru.S4
5) Menerapkan Konsep
Menerapkan Konsep merupakan suatu kemampuan untuk
menggunakan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau
menerapkan konsep itu pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa
yang sedang terjadi.dalam menerapkan konsep untuk menjelaskan apa
yang sedang teIjadi, perlu dianggap bahwa setiap penjelasan yang
6) Merencanakan Penel itian
Setelah melihat suatu pola atau hubungan dari
pengamatan-pengamatan yang dilakukan perlu kesimpulan sementara atau hipotesis
yang dirumuskan. Untuk itu perlu kemampuan untuk merencanakan
alat-alat dan bphan-ba!'an yang akan digu<1akan, nenentukan variabel-var!abe:.
menentukan yang mana variabel-variabel itu yang harns dibuat tetap, dan
mana yang berubah. Selanjutnya menentukan cara dan langkah kerja,
bagaimana mengolah hasil-hasil pengamatan untuk mengambil
kesimpulan. merupakan kegiatan-kegiatan yang perlu dilatih sejak sekolah
dasar.
7) Berkomunikasi
Menyampaikan penemuannya kepada orang lain secara jelas dan
cermat karena itu dalam pendidikan IPA anak-anak sejak dini dilatih untuk
dapat melaporkan hasil-hasil percobaan mereka secara sistematis dan jelas.
8) Mengajukan Pertanyaan
Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan berpikir
tersebut anak diberi kesempatan untuk menggunakan pikirannya, sejauh
mana anak menggunakan pikirannya, karena dihadapkan pada
masalah-masaIah yang ada disekitarnya. Sejauh mana anak menggunakan
pikirannya dapat diketahui dari pertanyaan yang diajukannya. Dengan lain
perkataan dapat dikatakan bahwa kualitas pertanyaan yang diajukan
menunjukkan rendah tingginya tingkat berpikir anak.36
Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut di atas anak
diberi kesempatan untuk menggunakan pikirannya, karena dihadapkan pada
masalah-masalah yang ada disekitarnya. Sejauh mana anak menggunakan
pikirannya dapat diketahui bahwa kuaIitas pertanyaan yang diajukan anak
21
Menurut Syaiful Sagala, Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh
siswa dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan proses adalah:
1) Mengamati gejala yang timbul.
2) Mengklasifikasi sifat-sifat yang sama, serupa.
3\ m・dセオォオイ beQaral1-bp,saran yang bersangkut,\U.
4) Mencarai hubungan antar konsep-konsep yang ada
5) Mengenal adanya suatu masalah, merumuskan masalah.
6) Memperkirakan penyebab suatu gejala, merumuskan hipotesa.
7) Meramalkan gejala yang akan mungkin terjadi.
8) Berlatih menggunakan alat-alat ukur.
9) Melakukan percobaan.
10) Mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan data.
II) Berkomunikasi.
12) Mengenal adanya variabel, mengendalikan suatu variabel.37
Menurut Karen keterampilan proses terbagi menjadi 15 yaitu:
1) Observasi/pengamatan: menggunakan satu atau lebih panca indra
untuk memberi informasi. Termasukjuga menggunakan alat.
2) Komunikasi: memberikan atau mengubah informasi dengan lisan atau
tulis.
3) Estimasi: memperkirakan/memperhitungkan terhadap objek tertentu.
4) Mengukur: membandingkan objek pada satuan perubahan standar
tertentu.
5) Mengumpulkan data: mengumpulkan informasi tentang pengamatan
dan pengukuran secara sistematis.
6) Mengklasifikasi: mengelompokkan atau memisahkan objek/data atau
membuat sesuatu ke dalam bagan yang diambil dari pengamatan.
7) Menarik kesimpulan: pengembangan dasar gagasan pengamatan yang
8) Memprediksi/meramalkan: membuat sesuatu gagasan untuk hasil yang
diharapkan dari pokok kesimpulan.
9) Membuat model: mempresentasikan pembangunan fisik atau mental
untuk menerangkan sesuatu gagasan, keadaan, atau kejadian.
10) Menginterpretasi data: membaca tabel, ァセ。ヲゥォL dan diagram.
Menjelaskan kejadian dalam tabel/diagram, grafik dan juga dapat
menerangkan sesuatu dengan grafik/gambar.
II) Membuat grafik: mengubah besaran-besaran dalam bentuk bilangan ke
dalam diagram yang dapat menunjukkan hubungan antara besaran.
12) Hipotesis: masalah yang disampaikan dengan pertanyaan yang akan
diuji dengan percobaan penelitian.
13) Mengontrol data: memanipulasi suatu obyek dengan memberikan
perlakuan untuk menghasilkan kegiatan yang konstan.
14) Menetapkan dan poerasi atau menentukan langkah keJja: berawal dari
informasi khusus tentang obyek dan gejalanya berdasarkan pada
pengalaman yang berkaitan dengan itu.
15) Penyelidikan: menggunakan pengamatan untuk dikumpulkan dan
dianalisis datanya dipakai untuk menggambarkan dalam penyelesaian
pemecahan masalah.3h
Menurut Cain dan Evans (1990) seperti dikutip Aguston dan Dewi
Suliantini mengemukakan ada 12 jenis keterampilan yang dikelompokkan dalam
dua kategori, yaitu:
I) Kategori keterampilan dasar meliputi: mengobservasi, mengklasifikasi,
mengukur, mencari hubungan ruang dan waktu, komunikasi,
memprediksi, dan mengambil kesimpulan.
2) Kategori keterampilan yang terintegrasi meliputi: menyusun defmisi
operasional, menyusun hipotesis kerja, menginterpretasi data,
Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan
perolehan anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan
konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap yang dituntut. Dengan
demikian, keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak penemuan dan
pengemb'lngan fakta dan konsep serta pertumbuhan dan pengembangan sikap dan
nilai.
Untuk membentuk keterampilan memproseskan perolehan pada diri siswa
ada enam dasar keterampilan proses sains yang terdiri dari:
II UDservas..
2) Komunikasi.
3) Klasifikasi.
4) Pengukuran.
5) Kesimoulan.
6) Meramalkan.4v
Dengan keterampilan proses siswa diajak melacak kembali apa yang telah
dilakukan oleh ilmuwan dan menemukan,membentuk suatu konsep. Keterampilan
proses membantu siswa dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih
bermakna atau penting dalam hidupnya.
Menurut Suryosubroto, langkah keterampilan proses terdiri dari:
I) Pengamatan, tujuan kegiatan ini untuk melakukan pengamatan yang
terarah tentang gejala/fenomena sehingga mampu membedakan yang
sesuai dan yang tidak sesuai dengan pokok permasalahan yang
dimaksud pengamatan disini adalah penggunaan indra secara optimal
dalam rangka memperoleh informasi yang memadai. Untuk itu perlu
diingkatkan peragaan melalui gambaran ataupun bagan dan membatasi
peragaan dengan kata-kata.
2) Interpretasi hasil pengamatan, tujuan kegiatan ini untuk menyimpulkan
hasil pengamatan yang telah dilakukan berdasarkan pada pola
hubungan antara hasil pengamatan yang satu dengan yang lainnya.
Kesimpulan tersebut merupakan konsep yang perlu
3) Peramalan, hasil interpretasi dari suatu pengamatan kemudian
digunakan untuk meramalkan atau memperkirakan kejadian yang
belum diamati/akan datang.
4) Aplikasi konsep, adalah menggunakan konsep yang telah
diketahlli/dipelajgri dalam situa:'i baru atau dalpm menyelesaihn
masalah, umpamanya memberikan tugas mengarang tentang sesuatu
masalah yang dibicarakan dalam mata pelajaran yang lain.
5) Perencanaan penelitian, penelitian ini bertitik tolak dari seperangkat
pertanyaan antara lain untuk menguj i kebenaran hipotesis tertentu
perlu perencanaan penelitian-penelitian lanjutan dalam bentuk
percobaan lainnya.
6) Pelaksanaan penelitian, tujuan dari kegiatan ini adalah agar siswa lebih
memahami pengaruh variabel yang satu pada variabel yang lain. Cara
belajar yang mengasyikkan akan teIjadi dan kreativitas siswa akan
terlatihkan.
7) Komunikasi, kegiatan ini bertujuan mengkomunikasikan proses dan
hasil penelitian ini kepada berbagai pihak yang berkepentingan baik
dalam bentuk kata-kata, grafik, bagan,maupun tabel, secara lisan atau
tertulis.41
Pengembangan keterampilan proses itu memerlukan kemampuan guru
untuk bertanya dan menjawab pertanyaan siswa serta mengorganisasikan kelas.
Untuk itu setiap guru secara mandiri diminta untuk mengembangkan
kemampuannya agar proses belajar mengajar yang mengembangkan keterampilan
proses itu dapat berhasil.
Dalam jurnal Science Process Skills, How can Teaching Science Process
Skills Improve Student Performance in Reading, Language arts and matematics,
pengajaran ilmu pengetahuan keterampilan proses dapat meningkatkan:
1) Faktor fisik (kesehatan, mendengar, melihat, bicara, motorik) dan
25
2) Ilmu pengetahuan membantu anak-anak dari emua tingkatan ekonomi
sosial di dalarn pengembangan logika dan bahasa.
3) Ilmupengetahuan berperan untuk mengembangkan dari konsep,
vocabulary dan keterampilan bahasa.
4) I:mu ー・ョヲL・エ。ィオセ[ャ berperan menyampaibm ilmil jJengetahuan.
meningkatkan pengembangan proses anak.42
c. Kelebihan dan Keknrangan Keterampilan Proses Sains
Secara wnum model pembelajaran berbasis keterarnpilan proses sams
memiliki kelebihan diantaranya:
I) Siswa lebih memperoleh kesempatan untuk mengembangkan
keterarnpilan proses sams seperti: mengarnati, mengukur,
mengklasifikasi, menyimpulkan, mengkomunikasikan hasil temuan.
2) Siswa lebih memperoleh kesempatan untuk mengembangkan aktivitas,
kreativitas, kemandirian, sikap kritis, dan keterarnpilan bekeIja sarna
dengan orang lain.
3) Guru tidak perlu mengajarkan seluruh pengetahuan (sains) kepada
siswa, cukup konsep-konsep pokok karena siswa dengan keterampilan
d I k · d' ·43
prosesnya apat me eng apl sen m.
Kelemahan model pembelajaran berbasis keterampilan proses sams
diantaranya:
]) Memerlukan alokasi waktu yang relatif lebih banyak, terutama kalau
belum terbiasa.
2) Membutuhkan persiapan yang lebih terprogram dan sistematik.
3) Kalau siswa belwn menguasai keterampilan proses yang diperlukan,
pencapaian hasil belajar tidak maksimal.44
42 http://www.google.com.Science Process Skills, How can Teaching Science Process
Skills Improve Student Petformance in Reading, Language arts and matematics.(28 Desember
Menurut Syaiful Sagala, pendekatan proses memiliki kelebihan sebagai berikut:
I) Memberi bekal cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat penting
untuk pengembangan pengetahuan dan masa depan
2) Pendahuluan proses 「・イセゥヲ。エ kre?tif, Slswa aktif, rlapat meningkatkan
keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan.45
Sedangkan kelemahan dari pendekatan proses sebagai berikut:
I) Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyelesaikan
bahan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum.
2) Memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak
semua sekolah dapat menyediakannya.
3) Merumuskan masalah, menyusun hipotesis, merancang
suatu percobaan untuk memperoleh data yang relevan.46
2. Pembelajaran Metode Eksperimen
a. Pengertian Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah salah satu cara mengajar di mana melakukan
suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil
percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan
dievaluasi oleh guru.47 Penggunaan teknik ini tujuannya agar siswa mampu
mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang
dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih
dalam cara berpikir yang ilmiah (Scientific thinking). Dengan eksperimen siswa
menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya.
Metode eksperimen merupakan suatu cara memperoleh pengetahuan atau
keterampilan dengan mencoba, berbuat atau melakukan sesuatu.48 Jadi aktivitas
anak lebih banyak pada memperlihatkan sesuatu yang telah diamati.
45Syaiful Sagala. Loc.Cit
'" Ibid.,h. 74
27
Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan
pcrcobaan, siswa melakukan kegiatan yang mencakup pengendalian variabel,
pengamatan, melibatkan pembandingan atau kontrol, dan penggunaan alat-alat
praktikum. Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen ini siswa
diberi kesempatan untuk lTlengalami sendiri atau melakukan sendiri.49 Dengan
melakukan eksperimen, siswa akan menjadi lebih yakin atas suatu hal dari pada
hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman,
mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan lebih lama dalam ingatan
slswa.
b. Kclebihan dan Kelemahan Metodc Eksperimen
Kelebihan metode eksperimen antara lain:
I) Pengetahuan anak tidak verbalitas dan memberikan kemungkinan
berpikir lebih kritis.
2) Memberikan pengalaman yang riiI.
3) Keragu-raguan siswalmahasiswa dapat hilang dengan mengamati dan
mengadakan eksperimen.
4) Memberikan kemungkinan lebih berhasilnya interaksi belajar
mengajar.50
Kelemahan metode eksperimen antara lain:
I) Bila tidak dapat mengamati kelas secara seksama, maka metode ini
menjadi tidak wajar.
2) Bila alat pengajaran kurang memadai, maka hasilnyapun kurang
memuaskan.
3) Kemungkinan eksperimen akan berlangsung lama sehingga
mengganggu pe!ajaran berikutnya.51
Metode eksperimen akan berhasil digunakan untuk mengubah
pengetahuan siswa jika mereka melaksanakan tugas pengetahuannya dengan
menghabiskan sedikit waktu dengan berinteraksi dengan alat-alat, instruksi, dan
cara kerja serta menghabiskan waktu lebih banyak.
Kegiatan eksperimen penting dilakukan secara terus menerus untuk
mengembangkan pengetahuan siswa dan membandingkan apa yang mereka
temubn serta mengaplikasibnnya dalam kehid:lpan r,yata, sehingga proses
pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.
Kegiatan laboratorium akan membangkitkan rasa mgm tahu Slswa
terhadap fenomena alam, serta menantang untuk berpikir kritis dalam mencari
alternatif pemecahan terhadap suatu masalah-masalah. Melatih ketekunan siswa
lewat pengamatan, pengumpulan data, analisis data, serta mengembangkan daya
temu siswa di dalam menginterpretasikan masalah-masalah sehingga siswa
tertantang untuk mengembangkan suatu bentuk eksperimen.
3. Pembelajaran Pendekatan Ekspositori a. Pengertian Pendekatan Ekspositori
Kata ekspositori berasal dari kata eksposisi yang berarti memberi
penjelasan. Dalam proses belajar mengajar, ekspositori berarti guru memberi
penjelasan kepada siswa tentang fakta, data, atau informasi.52
Pendekatan ekspositori adalah penyampaian ilmu pengetahuan kepada
peserta didik yang dipandang objek yang menerima apa yang diberikan dari
guru.53 Ekspositori menghedaki peserta didik dapat menangkap dan mengingat
informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali/memproduksi
apa yang telah dimilikinya melalui respon yang telah dimilikinya melalui respon
yang ia berikan pada saat melontarkan pertanyaan.
Ekspositori adaiah kegiatan belajar mengajar yang bersifat menerima baik
pada tahap perencanaan maupun pada pelaksanaan mengajar, dalam pendekatan
ini guru berperan lebih aktif, lebih banyak melakukan aktivitas dibandingkan
•.,',
dengan siswa-siswanya. Guru telah mengelola dan mempersiapkan bahan ajaran
29
lebih pasif, tanpa banyak melakukan kegiatan pengolahan bahan, karena menerima bahan ajaran yang disampaikan oleh guru.54
Menurut Syaiful Sagala, pendekatan ekspositori adalah penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diherikan guru. Biasanya guru menyamraikan informasi mengenai bahan
ー・ョァセ。イ。ョ dalam bentuk penjelasan dan penuturan secara lisan.55 Dalam
pendekatan ini siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali apa yang dimiliki melalui respon yang ia berikan pada saat diberikan pertanyaan oleh guru.
Syamsudin Makmun dalam Syaiful Sagala mengemukakan bahwa guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga siswa tinggal menyimak dan mencemanya secara teratur dan rap!.·56
Menurut Sudjana seperti dikutip dalam Zainal Abidin, ekspositori adalah siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru serta mengungkapkan kembali apa yang telah dimiliki melalui respon yang ia berikan pertanyaan oleh guru.57
Pendekatan ekspositori pendekatan iill bertolak dari pandangan bahwa kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru. Hakikat mengajar menurut pandanganini adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diberikan oleh guru. Biasanya guru menyampaikan informasi mengenai bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan penuturan secara lisan yang dikenal dengan istilah metode ceramah.58 Dalam pendekatan iill siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan oleh guru serta mengungkapkan kembali apa yang telah dimilikinya melalui respons yang diberikannya pada saat
54 R. Ibrahim, Nana Syaodih S.,Perencanaan Pengajaran,(Jakarta: Rineka Cipta, 2003),
eet. 2, h. 43
55Syaiful Sagala,Op. Cit.,h. 78
;0Ibid., h. 79
57 Zainal Abidin, HasH Belajar yang Menggunakan Strategi Heuristik dan Ekspositori
diberi pertanyaan oleh guru. Komunikasi yang digunakan oleh gUiU dalam
interaksinya dengan siswa adalah komunikasi satu arah atau komunikasi sebagai
aksi. Oleh sebab itu, kegiatan belajar siswa kurang optimal sebab terbatas pada
mendengarkan uraian guru, mencatat, dan sekali-kali bertanya kepada guru. Guru
yang kreatif bias:mya dalam memberikan informasi dan penjelasan kepada si"wa
menggunakan alat bantu seperti gambar, bagan, grafik, dan lain-lain disamping
memberi kesempatan siswa untuk mengajukan pertanyaan.
Menurut Byron Massialas dalam Sriyono, model mengaJar ekspositori
dapat juga disebut model informasi bahwa tingkah laku kelas dan penyebaran
pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru atau pengajar. Hakikat mengajar
menurut pandangan ini adalah menyampaikan informasi dari guru. Aktifitas
belajar siswa terbatas pada mengingat informasi, mengungkapkan kembali apa
yang telah dikuasainya, dan bertanya kepada guru tentang bahan yang belum
dipahaminya. Dalam pendekatan ini mengajar diawali dengan penyampaian
informasi bahan pengajaran oleh guru secara lisan, dilanjutkan dengan bertanya
kepada siswa dan menarik kesimpulan tentang bahan pengajaran, diakhiri dengan
pemberian tugas kepada siswa.59
Menurut Syamsudin Makmun yang dikutip Syaiful Sagala,
mengemukakan bahwa guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah
dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga siswa tinggal
menyimak dan mencemanya secara teratur dan tertib.60
Metode ekspositori adalah suatu pengajaran visual dengan menggunakan
benda dua dimensi atau tiga dimensi dengan maksud mengemukakan gagasan atau
sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.6\
Pendekatan ekspositori, yaitu pendekatan yang didasarkan pada proses
"meaning reception learning". Pendekatan ini cenderung menekankan
penyampaian informasi yang bersumber dari buku, teks, referensi, atau
59Nana Sudjana, Wari Suwariyah,Model-model Mengajar CBSA, (Bandung: Sinar Barn,
セャ
pengalaman pribadi dengan menggunakan teknik ceramah, demonstrasi, diskusi
dan laporan studio
Strategi pembelajaran ekspositori yaitu strategi pembelajaran yang
didasarkan pada proses "Meaningful Reception Learning" sebagaimana yang
diteor:kan Ausabd. Strategi hi 」セョ、・イョイNァ menebnkan ;:Jenya!'1paian ipforrnasi
yang bersumber dari buku teks, referensi, atau pengalaman pribadi dengan
menggunakan teknik ceramah, demonstrasi, diskusi dan laporan studioVセ
Dalam pembelajaran dengan strategi ekspositori guru cenderung
menggunakan kontrol proses pembelajaran dengan aktif, sementara siswa relatif
pasif menerima dan mengikuti apa yang disajikan oleh guru. Strategi
pembelajaran ekspositori ini merupakan proses pembelajaran yang lebih berpusat
pada guru ("Teacher Centered'), guru menjadi sumber dan pemberi informasi
utama. Meskipun dalam strategi ekspositori digunakan metode selain ceramah dan
dilengkapi atau didukung dengan media, penekanannya tetap pada proses
penerimaan pengetahuan (materi pelajaran) bukan pada proses pencarian dan
kontruksi pengetahuan.
Model mengajar ekspositori merupakan kegiatan belajar mengajar yang
berpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi terperinci
tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah
"memindahkan" pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Hal
yang esensial pada bahan pengajaran harns dijelaskan kepada siswa.63
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya belajar
dengan pendekatan ekspositori, adalah menyampaikan informasi dari guru,
aktivitas belajar siswa terbatas pada mengingat informasi, mengungkapkan
kembali apa yang telah dikuasainya dan bertanya kepada guru tentang bahan yang
belum dipahaminya. Dalam pendekatan ini, mengajar diawali dengan
penyampaian informasi bahan-bahan pengajaran oleh guru secara lisan,
62Wahyudin Nur Nasution, Efektivilas Siralegi Pembetajaran Koperolif dan Eksposilori
dilanjutkan dengan bertanya kepada siswa dan menarik kesimpulan tentang bahan
pengajaran, diakhiri dengan pemberian tugas kepada siswa.
b. Prosedur Pendekatan Ekspositori
Secara garis besar prosedurnya pendekatan eksrositori sebagai berikut:
I) Persiapan (preparation) yaitu guru menyiapkan bahan selengkapnya
secara sistematis dan rapi.
2) Peliautan (apperception) bahan terdahulu yaitu guru bertanya atau
memherikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian siswa kepada
materi yang telah diajarkan.
3) Penyajian (presentation) terhadap bahan yang bam, yaitu guru
menyajikan dengan cara memberi ceramah atau menyuruh siswa
membaca bahan yang telah dipersiapkan diambil dari buku, teks
tertentu atau ditulis oleh guru.
4) Evaluasi (recitation) yaitu guru bertanya dan siswa menjawab sesuai
bahan yang dipelajari, atau siswa yang disuruh menyatakan kembali
dengan kata-kata sendiri pokok-pokok yang telah dipelajari lisan atau
tulisan.64
Tahapan pembelajaran dalam strategi pembelajaran ekspositori adalah
sebagai berikut:
1) Pada tahap pendahuluan guru menyampaikan pokok-pokok materi
yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai siswa
mengikuti dengan mencatat.
2) Pada tahap penyajian atas materi guru menyampaikan materi
pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab, kemudian dilanjutan
dengan demonstrasi untuk mempeIjelas materi yang disajikan dan
33
3) Pada tahap penutup guru melaksanakan evaluasi berupa tes dan
kegiatan tindak lanjut seperti penugasan dalam rangka perbaikan dan
pengaya