• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan hasil belajar siswa antara yang menggunakan pendekatan keterampilan proses melalui metode eksperimen dan pendekatan ekspositori melalui metode demonstrasi : quasi eksperimen pada kelas x SMA Negeri 2 Ciputat Tangerang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbedaan hasil belajar siswa antara yang menggunakan pendekatan keterampilan proses melalui metode eksperimen dan pendekatan ekspositori melalui metode demonstrasi : quasi eksperimen pada kelas x SMA Negeri 2 Ciputat Tangerang"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA

ANTARAYANG MENGGUNAKANPENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES MELALUI METODE EKSPERIMEN DAN PENDEKATAN EKSPOSITORI

MFLALUI METODE DEMONSTRASI

(Quasi Eksperimen pada Kelas X SMA Negeri 2 Ciputat Tangerang)

...

III

DISUSUN OLEH: MIFTAHUL JANNAH

102016023906 I!Mrill. GMセBセセセ]ZQ

'hri .. ...••....•....•1. .

1..1 .

cp.

3o.

(Jl..,

\::.'(,0[1 ;:..

OL0'..

セᄋoゥ

..

;:?;;;;{

i,l,\sifi1.,,:si "., .

PROGRAM STUDI PENDIDlKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDlKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF' HIDAYATULLAH

(2)

Menggunakan Pendekatan Keterampilan Proses Melalui Metode Eksperimen dan Pendekatan EI{Spositori melalui Metode Demonstrasi di SMA Negeri 2 Cip'ltat Tangerang, yaI1g disusun oleh Miftahul Jannah, NIM Ji)20 16023906, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Program Studi Pendidikan Biologi telah melalui bimbingan, dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqosah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan fakultas.

Jakarta, 16September2008

Pemliffi1Wtll an

" Drs. Ah 0 an M.Pd

(3)

Ketua Panitia( Ketua Jurusan Pendidikan IPA) If. H. Mahmud M Siregar, M.Si

NIP. 150222933

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi beljudul "Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang Menggunakan Pendekatan Keterampilan Proses melalui Metode Eksperimen dan Pendekatan Ekspositori melalui Metode Demonstrasi" Diajllkan kepada Fakullas IImu Tarbiyah dan Kegllruan (FTIK) Universilas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan Lulus dalam Ujian MlInaqasah pada langgal 18 Desember 2008 dihadapan Dewan Penguji. Karena illl Penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S I ( Strata I ) dalam bidang Pendidikan Biologi.

Jakarta. Januari 2009

Panitia Ujian Munaqasah

Tanggal Tanda Tangan

".:0'.:'9

Sekretaris ( Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA ) Baig Hana Susanti. M.Sc

NIP. 150299475

Penguji I

Sujiyo Miranto. M.Pd

NIP. 150299933

PengujiII

If. H. Mahmud M Siregar. M.Si

NIP. 150222933

Mengetahui, Dekan FITK

YOf

....'1 ...

r

セM

..

ArvA

...

(4)

Nama : Miftahul Jannah

Tempatffgl.Lahir : Ciwandan, I I Juli 1984

NiM 10L016023906

Jurusan/Prodi Pendidikan IPA-Biologi

Judul Skripsi Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang Menggunakan

Pendekatan Keterampilan Proses melalui Metode

Eksperimen dan Pendekatan Ekspositori melalui Metode

Demonstrasi

Dosen Pembimbing : 1. Drs. Ahmad Sofyan, M.Pd

dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya

sendiri dan saya bertanggungjawab secara akademis atas apa yang saya tulis.

(5)

ABSTRACT

This research is titled "Comparison result ofStudents Evaluation Between the Skills

Process Experiment Method and the Exposition of Demostration Method

Approachment". Script, Program study Education of Biologi Science Education Departement, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, The State Islamic University SyarifHidayatullah Jakarta, March 2008. This Research was lmplimented

on March 2007 at SMA Negeri 2 Ciputat. The aim of The is know the dijJerences

result of students evaluation between the skills process experiment method and the exposition of Demonstration method Approachment the concept ofpolution and the environment changed The method for this research is by using quasi experiment on 36 samples for experiment class and control class. The instrument used is objective test with the multiple choice form consist 21 items with 0-1 scores. According to the calculation by using "t" test formula, there are not differences result between the students which using the skills process experiment method and the exposition of demonstration method approachment on the polution concept and the environment

cahnged It is can be seen from the teounl < t'able on the significant level 0,05 which is

0,037< 2,00.

(6)

Ekspositori melalui Metode Demonstrasi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurman Pendidikan Hmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatl.'llah Jakarta, Agustus 2008. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2007 yang bertempat di SMA Negeri 2 Ciputat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara yang menggunkan pendekatan keterampilan proses melalui metode eksperimen dan pendekatan ekspositori melalui metode demonstrasi pada konsep pencemaran dan perubahan lingkungan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen kuasi yang sampelnya masing-masing 36 siswa baik untuk kelas eksperimen maupun untuk kelas kontrol. lnstrumen yang digunakan adalah tes objektif bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 21 butir soal dengan penskoran 0-1. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus uji "too, tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa

antara yang menggunakan pendekatan keterampilan proses melalui metode

eksperimen dan pendekatan ekspositori melalui metode demonstrasi pada konsep

pencemaran dan perubahan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari harga thitung < ttabel

pada taraf signifikansi 0,05 yaitu 0,037<2,00.

Kata Kunci: Pendekatan Keterampilan Proses, Pendekatan Ekspositori, Hasil

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji semata-mata hanya milik Allah yang

menggenggam alam semesta. Segala syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT

yang telah memberikan ke:nudahan dalarn menyelesaikan penyusunan skripsi

berjudul "Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang Menggnnakan Pendekatan

Keterampilan Proses melalui Metode Eksperimen dan Pendekatan Ekspositori

melalui Metode Demonstrasi". Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah

kepada Rosulnya, Baginda Nabi Muhamad SAW yang telah memberikan tauladan

kepada umatnya.

Dalam penyusunan ini penulis mengalami berbagai kendala, namun berkat

kemudahan yang diberikan Allah serta bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Hmu Tarbiyah dan Keguruan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Ir. Mahmud M. Siregar, M.Si, selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA.

3. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc, selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA.

4. Bapak Drs. Ahmad SofYan, M.Pd, Ketua Program Studi BioIogi sekaligus Dosen

Pembimbing.

5. Bapak Drs. Suhaya, MM, seIaku Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Ciputat

Tangerang yang telah memberikan ijin penelitiannya.

6. Bapak Iping Sopingi, S. Pd, guru bidang studi SMA Negeri 2 Ciputat Tangerang

yang telah banyak membantu dalam penelitiannya.

7. Kedua orang tua tercinta (M. Djumani Ismail, Hudaefah) dan kakak-kakakku

(Amrullah, Qurotul Aini, Rusman, Nurussusilawati, Hafidoh, Ikhwanul Arif)

serta ponakan-ponakan (Haikal Luthfi, Alifa Azkiya Pum) yang telah

memberikan perhatian, kasih sayang, semangat, dan pengorbanan yang tak

(8)

angkatan 2002.

10 Sahabat-sahabatku Irmayanti, Venti. Nisa, ka AtiJ.::ah, ka Neneng, b Harun, ka Ali

SofJan, SofJan RH Zaid, Hanif yang telah memberikan semangat dan

perhatiannya.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis

sendiri dan pada umumnya bagi pembaca.

Jakarta, 16 September 2008

(9)

DAFTARISI

ABSTRACT .

ABSTRAK... 11

KATA PENGANTAR... J1I

DAFTAR lSI v

DAFTAR TABEL... viii DAFTARGAMBAR... ix

DAFTAR LAMPlRAN x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .

B. Identifikasi Masalah 6

C. Pembatasan Masalah 6

D. Perumusan Masalah 7

E. Manfaat Penelitian 7

BAB II DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretis 8

I. Pembelajaran Pendekatan Keterampilan Proses 8 a. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses 8 b. Aspek-aspek Keterampilan Proses dalam Pembelajaran.. 14 c. Kelebihan dan Kekurangan Pendekata Keterampilan Proses 25

2. Pembelajaran Metode Eksperimen 26

a. Pengertian Metode Eksperimen 26

b. Kelebihan dan Kekurangan Metode Eksperimen 27

3. Pembelajaran Pendekatan Ekspositori 28

a. Pengertian Metode Ekspositori 28

(10)

5. Perbandingan antara Pendekatan Keterampilan Proses dan

Ekspositori 35

6. Hasil Belajar Siswa 37

a. Pengertian Belajar 37

b. Faktor-faktor Hasil Belajar 38

c. Hasil Belajar 39

d. Pengukuran Hasil Belajar 40

7. Penelitian yang Relevan 42

B. Kerangka Berpikir 44

C. Pengajuan Hipotesis 46

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. TujuanPenelitian 47

B. Tempat dan Waktu Penelitian 47

C. Metode Penelitian 47

D. Populasi dan Sampel 48

E. Teknik Pengumpulan Data 48

F. Instrumen Penelitian 49

G. Varibel Penelitian 49

1. Variabel X ( Pendekatan Keterampilan Proses melalui

Metode Eksperimen) 49

2. Variabel X (Pendekatan Ekspositori melalui Metode

Demonstrasi) 49

3. Variabel Y (Hasil Belajar Siswa) 50

(11)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Pendekatan Keterampilan Proses melalui Metode Eksperimen Biologi di SMA Negeri 2 Ciputat

Tangerang 57

B. Pembelajaran Pendekatan eォセーッセゥエッイゥ melalui MetoGe Demonstrasi di SMA Negeri 2 Ciputat Tangerang 58

C. Hasil Belajar Siswa 59

I. Hasil Belajar Siswa dengan Pendekatan Keterampilan

Proses melalui Metode Eksperimen 59

2. Hasil Belajar Siswa dengan Pendekatan Ekspositori

melalui Metode Demonstrasi 61

D. Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang menggunakan Pendekatan Keterampilan Proses melalui Metode Eksperimen dan Pendekatan Ekspositori melalui Metode Demonstrasi 62

I. Uji Normalitas 64

2. Uji Homogenitas 65

E. Keterbatasan Penelitian 68

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 69

B. Saran 70

DAFTARPUSTAKA 71

(12)

1. Desain Penelitian 47

2. Kisi-kisi I'lstrullle'l 5!

3. Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen 59

4. Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol 61

5. Perbedaan Deskripsi Data Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 63

6. Kisi-Kisi Instrumen 97

7. Rekapitulasi Uji Validitas 105

8. Hasil Uji Coba Validitas Instrurnen 106

9. Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen 112

10. Data Hasil Belajar Kelas Kontrol... 113

II. Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen 115

12. Deskripsi Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen... 116 13. Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol... 118

14. Deskripsi Data Hasil Belajar Kelas Kontrol 119

15. Persiapan Uji Norrnalitas dan Homogenitas Kelas Eksperimen 120

16. Uji normalitas Kelas Eksperimen . 121

17. Normalitas Hasil Belajar Kelas Eksperimen... 122 18. Persiapan Uji Normalitas Kelas Kontrol... 123 19. Uji Normalitas Kelas Kontrol... 124

20. Normalitas Hasil Belajar kelas kontrol 125

21. Uji Homogenitas 127

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

I. Histogram Distribusi Frekuensi postest Kelas Eksperimen 60

[image:13.522.67.411.160.513.2]
(14)

2. Lembar Kerja Siswa 92

3. Kis;-kisi Instfl!men... 97

4. Instrumen res Hasil Uji Validitas... 98

5. Uji Validitas 104

6. Uji Reliabititas Instrumen Tes 106

7. Instrumen res Hasil Uji Validitas... 107

8. Data Hasil13elajar III

9. Distribusi Frekuensi Hasil Belaja 113

10.Persiapan Uji Normalitas 119

II.Perhitungan Uji Homogenitas 125

(15)

BABI PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Laiu per!:embangan IPTCK ::lan proses glob'llisasi secara tid::tk langsung telah menuntut prasyarat kemampuan manusia untuk memperoleh peluang partisipasi di dalamnya. Masyarakat masa depan yang terus mengejar kualitas dan keunggulan, menuntut manusia bercirikan kreatif, kritis, fleksibel, terbuka, inovatif, tangkas, kompetitif, peka terhadap masalah, menguasai informasi, mampu bekeIja dalam lintas bidang, dan mampu beradapdtasi dalam perubahan.

Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.I Jadi pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada. Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa:

"Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuban yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab".z

Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuban YME dan berbudi pekerti lubur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta bertanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.3

'Syaiful Sagala, Konsep don Makna Pembelajaran un/uk Membantu Memecahkan Problemaika Belajar dan Mengajar,(Bandung: Alfabeta, 2005), h. 2

'Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Ten/ang Sis/em Pendidikan Nasional, (Jakarta: Eko Jaya, 2003), h.7

(16)

Dalam rangka upaya mewujudkan mutu yang setinggl-tmgginya, pemerintah dan masyarakat mengadakan pembenahan terhadap dimensi-dimensi penentu kemajuan pendidikan. Operasionalisasi upaya bersama itu tampak dalam berbagai rupa dan bentuknya, misalnya bahan pelajaran, metode pelajaran, lingkungan belajar, guru, dan siswa. Kelima komponen tersebut harus saling melengkapi agar interaksi belajar mengajar dapat berlangsung efektif dan efisien.

Pembelajaran dalam konteks mempersiapkan sumber daya manusia abad 21 mengacu pada konsep belajar empat pilar pendidikan (the four pillar of

education) yang dicanangkan komisi UNESCO yaitu belajar untuk mengetahui

(learning to know), belajar untuk melakukan sesuatu (learning to do ) belajar

hidup bersama sebagai dasar untuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan orang lain dalam keseluruhan aktivitas kehidupan manusia (learning to life together),

dan belajar menjadi dirinya (learning to be).4 Mempersiapkan Slswa yang memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi, antara lain berupa keterampilan motorik atau manual, kemampuan intelektual, sosial, dan emosional. Dengan memiliki kompetensi tersebut, peserta didik diharapkan mampu menghadapi dan mengatasi segala macal11 akibat dari perkel11bangan dan perubahan yang teIjadi dalam lingkungan terdekat sampai yang terjauh (lokal, nasional, regional, dan intemasional).

Dalam arti luas sains adalah pengkajian dan penteIjemahan pengalaman l11anusia tentang dunia fisik, mencakup sel11ua aspek pengetahuan yang dihasilkan oleh l11etode saintifik tidak terbatas pada fakta dan konsep tapi juga berbagai varlaSl aplikasi pengetahuan dan proses perolehannya. Sedangkan dalam arti sel11pit sains adalah sebagaimana yang dikenal dalam pendidikan kurikulurn pendidikan di Indonesia sebagai ill11u Pengetahuan alat atau IPA.5 Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam sekitar secara sistematis sehingga sains bukan hanya penguasaan kurnpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

4Haryono, Model Pembelajaran Berbasis Peningkatan Keterampilan Proses Sains,Junal

"endidikan DasarVol. 7 No.1 (2006), h. 2

(17)

3

Pendidikan sains seperti pada umumnya, memiliki peran yang sangat

penting dalam kehidupan manusia. Dalam pendidikan sains dikenal istilah proses

sains. Para ahli dikalangan pendidikan sains juga menyatakan bahwa produk sains

atau konsep dan sekaligus juga proses. Hubungan antara produk sains dengan

proses oains dinyatakan oleh Dahar (1990) sebagai satu kesatuan karena jika kita

hanya mengajarkan produk sains berupa fakta, konsep, prinsip, atau teori pada

siswa tanpa mengajarkan proses sains maka yang diajarkan bukan sains.6 Dengan

demikian, dalam pengajaran sains penekanannya jangan terlalu berlebihan pada

konsep tanpa mempertimbangkan pada proses atau sebaliknya. Kegiatan

pengamatan dan pereobaan IPA dapat memberikan kesempatan kepada anak

untuk memperoleh pengetahuan yang muneul dari pengalaman siswa,

mengembangkan konsep dasar, belajar mempraktekkan keterampilan dan

memanipulasi, meningkatkan rasa ingin tahu melalui observasi dan pereobaan,

mengembangkan keterampilan bahasa dan berkomunikasi, merangsang minat dan

kreativitas serta memperoleh rasa pereaya diri dalam mengendalikan situasi barn.

Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung

untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan

mamahami alam sekitar seeara alamiah. Pendidikan sains diarahkan untuk

meneari tahu dan berbuat sehingga dapat membentuk siswa untuk memperoleh

pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Oleh karena itu

pendekatan yang diterapkan dalam menyajikan pembelajaran sains adalah

memadukan antara pengalaman proses sains dan pemahaman produk sains dalam

bentuk pengalaman langsung.

Pemberian mata pelajaran IPA atau pendidikan IPA bertujuan agar siswa

memahami/menguasai konsep-konsep IPA dan saling keterkaitannya, serta

mampu menggunakan metode ilmiah untuk memeeahkan masalah yang

dihadapinya, sehingga lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan Peneiptanya.

Sedangkan fungsi mata pelajaran IPA antara lain ialah:

(18)

I. Memberi bekal pengetahuan dasar, baik untuk apa melanjutkan

kejenjang pendidikan lebih inggi maupun untuk diterapkan dalam

kehidupan sehari-hari.

2. Mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam memperoleh,

mengembangkan, dan menerap!<an konser:-konsep IPA.

3. Menanamkan sikap ilmiah dan melatih siswa dalam menggunakan

metode ilmiah untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

4. Menyadarkan siswa akan keteraturan alam dan segala keindahannya,

sehingga siswa terdorong untuk mencintai dan mengagungkan

Penciptanya.

5. Memupuk daya kreatif dan inovatif siswa.

6. Membantu siswa memahami gagasan atau informasi barn dalam

bidang IPTEK.

7. Memupuk serta mengembangkan minat siswa terhadap IPA.?

Keterkaitan tujuan dengan materi pelajaran terlihat dari penetapan tujuan

pembelajaran IPA-Biologi dalam OBPP Kurikulum 1994, yaitu:

I. Meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan, kebanggaan

nasional, dan kebesaran serta kekuasaan Tuhan YME.

2. Memahami konsep-konsep IPA saling keterkaitannya.

3. Mengembangkan daya penalaran untuk memecahkan masalah yang

dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

4. Mengembangkan keterampilan proses untuk memperoleh

konsep-konsep IPA dan menumbuhkan nilai dan sikap ilmiah.

5. Menerapkan konsep dan prinsip IPA untuk menghasilkan karya

teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan manusia.

6. Memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan ke jenjang

pendidikan menengah.8

Menyadari betapa pentingnya pendidikan sams telah banyak upaya

(19)

5

upaya tersebut adalah upaya ini dapat dilihat dari langkah penyempurnaan

kurikulum yang terus dilakukan peningkatan kualitas guru bidang studi,

penyediaan dan pembaruan buku ajar, penyediaan dan perlengkapan alat-alat

pelajaran (laboratorium) IPA, pengembangan pendekatan yang lebih relevan dan

・ヲ・ォセゥヲ mencapai tujtian pembelajaran 3ains, dar' masih bany?k usaha lain yang

ditempuh untuk memperbaiki pencapaian hasil belajar sains siswa di sekolah.

Namun demikian sejauh ini pencapaian hasil belajar sains di sekolah secara umum

dapat dinyatakan masih belum sesuai dengan harapan.

Fakta di lapangan pembelajaran IPA masih didominasi oleh penggunaan

metode ceramah dan kegiatarmya lebih berpusat pada guru. Aktivitas siswa dapat

dikatakan hanya mendengarkan pengalaman guru dan mencatat hal-hal yang

dianggap penting. Guru menjelaskan sains sebatas produk dan sedikit proses. Hal

ini salah satunya disebabkan oleh padatnya materi yang harus dibahas oleh guru

berdasarkan kurikulum yang berlaku, padahal dalam membahas IPA tidak hanya

cukup menekankan pada produk, tapi hukum. Pembelajaran IPA sangat efektif

untuk menanarnkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan

nilai ilmiah pada diri siswa serta pada akhimya pada diri siswa akan tertanam

suatu keyakinan dan pengetahuan terhadap kebesaran Tuhan yang Maha Esa.

Ekspositori yaitu strategi belajar mengajar yang menyiasati agar semua

aspek dari komponen pembentuk sistem instruksional mengarah pada

penyampaian isi pelajaran (informasi) kepada siswa secara langsung.9

Pendekatan keterampilan proses salls adalah sistem penyajian materi

secara terpadu pada transfer pengetahuan, siswa dipandang sebagai subjek belajar

yang perlu dilibatkan secara aktif yang membimbing dan mengkoordinasikan

kegiatan belajar siswa. Dalam model ini siswa diajak untuk melakukan proses

pencarian pengetahuan yang berkenaan dengan materi pelajaran melaIui berbagai

aktivitas proses sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan dalam melakukan

(20)

berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai bam yang diperlukan untuk

kehidupannya.

Terkait dengan permasalahan di atas, penulis perlu untuk mengetahui lebih

lanjut membahas mengenai judul "Perbedaan Hasil Belajar Siswa antara yang

Mengg:.makan Pendekatan Ketemmpilan Prases l'1elalui Metode E!{Sperimen

dan Pendekatan Ekspositori melalui Metode Demonstrasi".

B. Identifikasi Masalah

b・イ、。セ。イォ。ョ latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah

yang dapat diidentifikasi adalah:

1. Bagaitnanakah hasil be1ajar slswa yang menggunakan pendekatan

keterarnpi1an pmses melalui metode eksperimen?

2. Bagaimanakah hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan

ekspositori me1alui metode demonstrasi?

3. Bagairnanakah perbedaan hasil belajar slswa yang menggunakan

pendekatan keterampilan proses sains rnelalui rnetode eksperirnen dan

pendekatan ekspositori rnelalui rnetode dernonstrasi?

4. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara yang

rnenggunakan pendekatan keterarnpilan proses rnelalui metode

eksperirnen dan pendekatan ekspositori rne1alui rnetode demonstrasi.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, penelitian dibatasi pada

masalah perbedaan hasil belajar siswa yang rnenggunakan pendekatan

keterampilan proses melalui rnetode eksperirnen dan pendekatan ekspositori

(21)

7

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut: "Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diberikan

pembelajaran pendekatan keterampilan proses melalui metode eksperimen dan

pendekatan ekspositori melalui metode demonstrasi.

E.

Manfaat Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut:

I. Bagi siswa dapat menguasaJ konsep-konsep biologi sehingga

diharapkan hasil belajar biologinya dapat meningkat.

2. Bagi guru dapat lebih menguasai tugas seorang guru dan dapat

(22)

A. Deskripsi Teoreti:;

1. Pembelajaran Pendekatan Keterampilan Proses

a. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses

Michael menyatakan bahwaassessing elementary school students science

process knowledge, their knowledge about doing science, is essential for several

reasons. First, i{students are to increase the depth of their content knowledge as hey participate in opportunities to learn science, teachers need more accurate nformation regarding wha students have learned about scientic processes. Second, more accurate assessment ofcontent and process knowledge at all grade levels would provide teachers, policy makers and administrators with better information on which to make instructional decisions. Third, many constructivist approaches to learning assume that valid knowledge of students existing ideas

will be communicated to other as a condition oflearning.I

Maksud pengertian diatas yaitu ada beberapa hal yang diperkirakan

penting bagi siswa sekolah dasar dalam memperoleh ilmu pengetahuan dalam

memproses pengetahuan mereka. Pertama, jika ingin meningkatkan pengetahuan

mereka, siswa harns terlibat langsung dalam pembelajaran setelah para guru

memberikan informasi mengenai proses ilmiah atau keterampilan proses. Kedua,

para pembuat tujuan instruksional dan proses pengetahuan di setiap tingkatan

akan mengfungsikan guru, pembuat kebijaksanaan dan penyusun dengan

informasi yang lebih baik ntuk melaksanakan instruksional pengajaran. Ketiga,

para constructivist mengatakan dalm pembelajaran memerlukan pendekatan

mengatakan pengetahuan tetap diperoleh siswa harns mengeluarkan ide sehingga

terbentuk komunikasi antar siswa yang dalam kondisi belajar mengajar.

Pendekatan keterampilan proses yang dilandasi oleh teori belajar Jerome

Bruner mengatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan

menunjukkan beberapa perbaikan antara lain pengetahuan itu akan bertahan lebih

lama dapat diingat dan lebih mudah menerapkan pengetahuan baru pada situasi

(23)

9

baru.2 Tujuan pembelajaran dari pendekatan keterampilan proses adalah untuk

memperoleh pengetahuan suatu cara yang dapat melatih kemampuan-kemampuan

intelektualnya dan merangsang keinginan yang baru diperolehnya.

Menurut Semiawan, keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan

mental terkait dt>ngan kemampu"l1 yang menriasar yang dimiliki. dikuas?i dan

diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga para ilmuwan berhasil

menemukan sesuatu yang bmu.3 Untuk melaksanakan hal ini seorang ilmuwan

harns bertindak untuk mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan

konsep sendiri. Sehingga ia mendapat ide yang baik dan konsep yang tepat.

Keterampilan proses sains adalah perangkat keterampilan kompleks yang

digunakan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah.4 Dengan

menggunakan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan

mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta

mengembangkan sikap dan nilai.

Keterampilan proses adalah pokok ilmu pengetahuan untuk melakukan

penyelidikan dan kesimpulan.5 Keterampilan proses berperan untuk

mengembangkan keterampilan siswa bagaimana cara mengidentifikasi,

menguraikan langkah-Iangkah proses sains.6

Menurut Nur dalam Perdy Karuru, pendekatan keterampilan proses dapat

beJjalan bila siswa telah memiliki keterampilan proses yang diperlukan untuk

satuan pelajaran tertentu.7 Para siswa mempelajari keterampilan proses untuk

mengidentifikasi dan menggambarkan variabel yang bersangkutan,

2 Wayan Memes, Model Pembe/ajaran Fisika di SMP, (Jakarta: Proyek Pengembangan

Guru Sekolah Menengah IBRD Loan No. 3979 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2000), h. 17

; Noehi Nasution, dkk., Materi Pokok Pendidikan IPA di SD,(Jakarta: UT, 2005), h. 17

4 Haryono, Model Pembelqjaran Berbasis Keterampi/an Proses, (Semarang: Fakultas

I1mu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, 2003), h. 1

5AャAャーZL||セ||jNqAャLァセセqqqN」」ゥャjセャ」。ョカ。Oゥャャャ。ァA[IBBウBァ」VNjIイッ」 」ウウウォェhZゥLー、uQjGA Desember 2008)

6 Wynne, Haden, Teaching af Science in Primary Schools, (David Futon Publishers,

1993), h. 26

(24)

menginterpretasikan, mengubah bentuk dan meneliti, merencanakan dan

mendesain suatu eksperimen, merurnuskan hipotesis.8

Menurut kurikulum SLTP 1994, pendekatan adalah pendekatan

keterampilan proses menekankan pada keterampilan memperoleh pengetahuan

dan mengkomunikasikan hasilnya.9 Hal ini berarti proses belajar mengajar di

SLTP tidak hanya berlandaskan pada teori pembelajaran perilaku, tetapi lebih

menekankan pada penerapan prinsip-prinsip belajar teori kognitif. Implikasi teori

belajar kognitif dalam pengajaran IPA adalah memusatkan kepada berpikir atau

proses mental anak dan tidak sekedar hasilnya.

Pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA merupakan

pendekatan yang sesuai dengan hakikat IPA sebagai proses yang terdiri atas

prosedur-prosedur empirik dan analitik yang ditempuh dalam usaha untuk

memahami alam semesta ini.1O Pendekatan pembelajaran didasarkan anggapan

bahwa ilmu itu terbentuk dan berkembang akibat diterapkannya suatu proses,

yang dikenal metode ilmiah, dengan menerapkan keterampilan-keterampilan

proses IPA, mulai dari menemukan masalah hingga mengambil kesimpulan.

Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran memberi

kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan atau

penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.II Pendekatan proses

dalam pembelajaran ini guru menciptakan bentuk kegiatan yang bervariasi, agar

siswa terlibat dalam berbagai pengalaman. Siswa diminta untuk merencanakan,

melaksanakan suatu kegiatan seperti percobaan pengamatan, pengukuran,

perhitungan, dan membuat kesimpulan sendiri.

Pendapat seorang ahli psikologi Gagne yang dikutip Dewan Nyoman

Sudana, menyatakan bahwa dengan mengembangkan keterampilan proses dalam

pembelajaran IPA anak dibuat kreaktif ia akan mampu mempelajari IPA ditingkat

8 William Foulds, Jhou Row, The Enhancement of Science Process Skills in Primary

Teacher Education Student Australian,Journal ofTeacher Education,Vol. 21 No. I (2000).

9Perrdy Karuru, Lac. Cit.

10Dewan Nyoman Sudana, Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA dengan Intensifikasi

(25)

11

yang lebih tinggi dalam waktu lebih singkat.12 Pengembangan keterampilan

proses dapat menumbuhkan sikap-sikap seperti yang dimiliki oleh para ilmuwan

(sikap ilmiah) untuk mencapai produk IPA.

Pendekatan keterampilan proses adalah kegiatan-kegiatan untuk

ゥョ・ャ。ォオォセョ keterampilan-keterampilan proses IPA yaitu mengamati, menafsirkan

pengamatan, meramalkan, menggunakan alat dan bahan, berkomunikasi, dan

mengajukan pertanyaan.13 Hal senada juga dikatakan Karen Ostlund, bahwa

keterampilan proses meliputi: observasi,melakukan percobaan, pengukuran,

komunikasi, dan keterampilan untuk berfikir kritiS.14 Melalui pengembangan

keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan, pelajar mampu menemukan

dan mengembangkan sikap dan nilai. Dengan demikian keterampilan itu menjadi

daya pembangkit penemuan dan pengembangan konsep serta pertumbuhan sikap

dan nilai.

Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran yang

berakar pada proses sains, dimaksudkan untuk membantu siswa memperoleh

kompetensi dalam keterampilan proses sains.ls Perangkat kemampuan kompleks

yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah

ke dalam rangkaian proses pembelajaran, sehingga siswa dapat melakukan

fakta-fakta, membangun konsep, teori dan sikap tertentu melalui proses sains secara

mandiri.

Pendekatan keterampilan proses diartikan sebagai wawasan atau anutan

pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang

bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada hakikatnya telah

ada dalam diri pembelajar.16

12 1 Nyoman Subrata dan I Nengah Kariasa, Upaya Meningkatkan Sikap I1miah dan

'<ualitas Hasil BelajarSiswa Sekolah Oasar Melalui Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Keterampilan Proses,Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, (2), 2002, h. 3

;;Ibid., h. 4

14 Karen Ostlund, What the Research Say Abou Science Process Skills, ElSE (The

University of Texas at Austin: !lW2i!www.unr.ccl11.2000). vol 2 No.4 luni 2000. (28 Oesember 2008)

15 Haryono, Efektivitas Pendekatan Keterampilan Proses dan Ekspositori dalam Sains

(26)

Dalam pendekatan proses pendekatan pembelajaran didasarkan pada

anggapan bahwa ilmu pengetahuan alam itu terbentuk dan berkembang akibat

diterapkannya suatu proses, yang dikenal dengan metode ilmiah, dengan

menerapkan keterampilan-keterampilan proses IPA, yaitu mulai dari menemukan

;nasalah hingga mengambil kesimpulan. Dalam hal ini kompetensi yang

diharapkan di capai siswa tidak terbatas pada penguasaan produk (materi

pelajaran), tetapi juga perlu dikembangkan kompetensi berkenaan dengan

keterampilan proses sains dan keterampilan sosial siswa yang diharapkan dikuasai

siswa setelah proses pembelajaran berlangsung.

Pendekatan proses tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan

kemampuan siswa dalam keterampilan proses atau langkah-langkah ilmiah seperti

mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan.17

Penggunaan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.

Perlunya siswa memiliki keterampilan proses karena keterampilan proses ini

mengembangkan cara siswa untuk mengembangkan konsep sendiri dan membantu

siswa memahami konsep yang abstrak, yang jika konsep tersebut hanya dijelaskan

dengan metode ceranlah tidak selamanya menarik perhatian siswa. Dengan

demikian penggunaan keterampilan proses diharapkan dapat meningkatkan

pemahaman siswa terhadap konsep-konsep biologi dan sekaligus dapat menarik

minat siswa dalam pelajaran biologi.

Penggunaan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA seyogiyanya

dikembangkan pendekatan tersebut adalah strategi menggunakan keterampilan

proses untuk memahami konsep atau mempelajari konsep dan pembelajaran yang

berorientasi pada proses IPA. Dalam konteks pembentukan kompetensi dasar

hidup sebagaimana ditentukan oleh "World Declaration of Education for All"

kemampuan dasar belajar menjadi landasan yang kuat bagi pengembangan dan

penciptaan diri individu ke depan. Dengan kemampuan dasar belajar yang kuat

memungkinkan individu untuk mampu mempertahankan hidup dan memperoleh

(27)

13

peluang partisipasi dalam masyarakat di mana dia hidup, karena secara substansial

telah memiliki keterampilan dasar hidup "Life Skill".18

Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan

siswa dalam memproses pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri

fakta, konsep, dan nibi-nilai yang diperlukan. l(epada siswa diberikan

kesempatan untuk langsung terlibat dalam aktivitas dan pengalaman ilmiah seperti

apa yang dilakukan dan dialami oleh ilmuwan. Dalam hubungan ini siswa dididik

dan dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan mengelola informasi melalui

aktivitas berpikir dengan mengikuti prosedur (metode) ilmiah, seperti terampil

melakukan pengamatan, pengukuran, pengklasifikasian, penarikan kesimpulan,

dan pengkomunikasian hasil temuan. Untuk itu model pembelajaran ini disebut

sebagai model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains,

karena berkenaan dengan proses pengolahan informasi dan kontruksi

pengetahuan, ilmu pengetahuan tidak dipandang sebagai produk semata tetapi

juga merupakan suatu proses.19

Perlunya siswa memiliki keterampilan proses karena keterampilan proses

ini mengembangkan cara siswa untuk membentuk konsep sendiri dan membantu

cara mempelajari sesuatu memahami konsep yang abstrak. Dengan demikian

penggunaan pendekatan keterampilan proses diharapkan dapat meningkatkan

pemahamaan siswa terhadap konsep-konsep biologi dan sekaligus menarik minat

siswa pada pelajaran biologi.

Secara esensi proses pembelajaran keterampilan proses sains terbagi dalam

tiga tahap kegiatan utama, yaitu:

I) Pendahuluan, dilakukan dengan penyajian pokok materi dan tujuan

pembelajaran dalam bentuk pertanyaanJproblem yang harns dijawab oleh siswa setelah melakukan proses sains tertentu, dan siswa mempelajari petunjuk umum kegiatan dan lembar keIja.

2) Penyajian (inti), di bawah bimbingan guru siswa melakukan proses

sains mulai dari menyusun hipotesis, melakukan pengamatan,

(28)

3) Penutup, guru melakukan evaluasi keberhasilan proses pembelajaran Clan

dilanjutkan dengan penugasan kepada siswa unluk perbaikan pengayaan.20

b. Aspek-aspekKeterampilan Prosesdalam Pembelajaran

Menurut Gega (1995) dikutip Hilda Karli bar.wa keterampilan proses

terdiri dari sejumlah keterampilan yang satu dengan yang lain tidak dapat

dipisahkan, namun ada penekanan khusus dalam masing-masing keterampilan

tersebut. Jenis-jenis keterampilan proses sains antara lain: Mengamati (observing)

adalah mengidentifikasi sifat dari objek tertentu dengan alat inderanya.

Mengklasifikasi (classifYing) adalah menunjukkan persamaan dan perbedaan dari

objek yang diamati. Mengukur (measuring) adalah mengontraskan ciri-ciri, dan

mencari dasar pengklasifikasian. Mengkomunikasikan (communicating) adalah

mendiskusikan hasil pengamatan secara lisan atau tertulis. Menafsirkan hasil

pengamatan (inferring) adalah menjelaskan apa yang diamati dari objek tertentu.

Meramalkan (prediction) adalah mengemukakan keadaan yang belum teramati

dan melakukan percobaan (experimenting) adalah melakukan sesuatu untuk

melihal apa yang terjadi.2! Dalam proses pembelajaran IPA keterampilan proses

dapat dilatihkan. Oleh karena itu guru dalam meraneang kegiatan keterampilan

proses sains perlu memperhatikan taraf perkembangan berpikir dan emosional

agar tercapai suatu kompetensi yang bermakna bagi pengalaman hidupnya.

Menurut Rezba dalam Prasetyo, keterampilan proses dikelompokkan

menjadi dua bagian, yaitu keterampilan dasar dan keterampilan terpadu proses

sains. Kegiatan yang termasuk dasar, yaitu melakukan: observasi, komunikasi,

klasifikasi, kesimpulan sementara (inferensi), ramalan (prediksi), sedangkan yang

termasuk kegiatan keterampilan terpadu adalah melakukan: identifikasi variabel,

membuat tabellgrafik, mendeskripsikan hubungan antar variabel, perolehan dan

(29)

15

pemrosesan data, analisis investigasi, penyusunan hipotesis, definisi operasional

variabel, desain investigasi dan eksperimen.22

Funk yang dikutip Dimyati, Mujiono, ada berbagai keterampilan dalam

keterampilan proses, keterampilan tersebut terdiri dari

keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keteramrilan terintegrasi

(intergrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam

keterampilan, yakni: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur,

menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. ,Sedangkan keterampilan-keterampilan

terintegrasi terdiri dari mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data,

menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel,

mengumpulkan data dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun

hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan

melaksanakan eksperimen.23

Dalam jurnal Proceedings oj the Redesigning Pedagogy, keterampilan

dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu keterampilan proses terintegrasi dan

keterampilan proses dasar. Keterampilan proses dasar adalah kemampuan untuk

belajar, kemampuan yang berfungsi untuk embentuk landasan pada setiap

individu dalam mengembangkan diri.24 Dengan kemampuan dasar belajar yang

kuat memungkinkan individu mampu mempertahankan hidup dan memperoleh

peluang partisipasi dalam masyarakat dimana dia hidup. Sedangkan keterampilan

proses terintegrasi adalah keterampilan komplek artinya keterampilan untuk

memecahkan permasalahan dengan melakukan suatu eksperimen.25 Dengan

mengintegrasikan keterampilan proses di dalam belajar dan kegiatan eksperimen

akan membuat pengalaman belajar yang lebili kaya dan penuh arti. Untuk para

siswa, siswa akan menjadi lebili aktif dalam mempelajari konsep yang sedang

mereka cari, sehingga dapat menjangkau suatu pemahaman yang lebih dalam

22 Sungkowo, Penggunaan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Upaya Meningkatkan

Pemahaman Konsep Kimia pada Siswa Kelas 11 SMU YP Unila Bandar Lampung Tahun Pe/ajaran 1992/2000, JPMIPA, Vol. 5 No.1 (2004), h. 39

23Dimyati, Mudjiono, Be/ajar dan Pembe/ajaran,(Jakarta: Rineka Cipta, 1999), h. 140 24 Grace Teo Yew Mei, Promoting Science Process Skills and the Relevance of Science

(30)

terhadap suatu konsep dan pada akhirnya keterampilan proses sams akan

menjadikan siswa lebih tertarik dan mempunyai sikap positif sains.

Gagne dan guru Asosiasi Nasional (NSTA) mengelompokkan

keterarnpilan proses menjadi dua bagian, yaitu keterarnpilan dasar meliputi

mengamat:, infe;ring mea.uring, herkomunikasi,menggolngk'ln dan f.len:malkqn.

Sedangkan keterarnpilan terintegrasi meliputi kemarnpuan untuk membuat

hipotesis, mengidentifikasi dan mengendalikan variabel, menggambarkan,

interpretasi data dan eksperimen.26 Dalarn kurikulm Nasional IPA 1991

pencapaian penyelidian ilmiah berupa merarnalkan, hipotesis, mengamati,

menentukan variabel,interpretasi data dan mengkomunikasikan.27

lImu pengetahuan keterampilan proses meliputi mengarnati kualitas,

mengukur jumlah, sorting/classifying, inferring, merarnalkan, mengadakan

percobaan.28Dengan keterarnpilan proses siswa diajak melacak kembali apa yang

telah dilakukan oleh ilmuwan dan menemukan/membentuk suatu konsep.

Keterampilan proses membantu siswa dalarn mempelajari ilmu pengetahuan atau

ilmu lain yang lebih dan bermakna atau penting dalarn hidupnya. Pada dasamya

pengajaran keterarnpilan proses untuk meningkatkan keterarnpilan di

dalarnpengamatan,dan menggolongkan sarnpai mengarnbil kesimpulan.29

Keterarnpilan-keterarnpilan mendasar yang termasuk keterarnpilan proses

sains antara lain:

I) Mengobservasi atau mengarnati, termasuk di dalamnya: a. Menghitung

b. Mengukur c. Mengklasifikasi

d. Mencari hubungan ruang dan waktu 2) Membuat hipotesis

3) Merencanakan penelitian/eksperimen 4) Mengendalikan variabel

26 John Wiley and Sons, Systematic Modeling versus the Learnig Cycle: Comparative

Effect on Integrated Science Process Skill Achievement,(by the National Association for Research in Science Teaching Published, 1992), h. ]

27 Wynne Harlen, Teaching and Learning Primary Science, (Paul Chapman Publishing

ltd, 1993), h. 57

"httpllwww.Nsta.orgielementaryschooUconnectionsl200712TorresHandoutParensNSTA

(31)

17

5) Menginterpretasi atau menafsirKan a:i._ 6) Menyusun kesimpulan sementara (inferensi) 7) Meramalkan (memprediksi)

8) Menerapkan (mengaplikasi)

9) Mengkomunikasi.30

Oalam pembelajaran langkah-Iangkah yang dimaksud setelah menemukan

masalah adalah mencari informasi lebih lanjut tentang masalah, kemudian

mengemukakan hipotesis, melakukan penelitian dan kemudian menarik

kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil penelitian atau temuan. ladi dalam

proses ini peserta didik dilatih untuk mengikuti langkah-Iangkah kerja para ilmu

dalam mengembangkan ilmu. Oi sini yang ditekankan adalah langkah untuk

mencapai produk sains.

Menurut Karen L Lancour, disebutkan keterampilan dasar pada

keterampilan proses sains terdiri dari:

1) Mengamati: menggunakan pikiran untuk mengumpulkan informasi

tentang suatu peristiwa.

2) Mengukur: penilaian untuk menguraikan dimensi spesifik dari suatu

peristiwa.

3) Inferring: Perumusan berdasarkan hasil pengamatan.

4) Menggolongkan: menggolongkan peristiwa atau objek ke dalam

kategori berdasarkan pada karakteristik tahu menggambarkan

ukuran-ukuran.

5) Meramalkan: memperkirakan kemungkinan hasil yang akan teIjadi

berdasarkan pada fakta- fakta.

6) Komunikasi: menggunakan kata-kata, lambang, atau grafik untuk

menguraikan suatu objek, peristiwa atau tindakan.3!

(32)

dari:

Sedangkan keterampilan terintegrasi pada keterampilan proses sains terdiri

1) Merumuskan hipotesis: menyatakan hasil diharapkan untuk

eksperimen.

2) MeJ1gidentifikasi variabel: I'1enyat'lkan faktor y'lng da:Jat dirubw yang

dapat mempengaruhi suatu eksperimen.

3) Melukiskan variabel: menjelaskan bagaiman cara mengukur suatu

variabel di dalam suatu eksperimen.

4) Hubungan antar variabel: menjelaskan hubungan antar variabel

didalam suatu eksperimen.

5) Merancang penyelidikan: merancang suatu eksperimen dengan

mengidentifikasi dan menguraikan langkah-langkah yang sesuai di

dalam suatu prosedur untuk menji suatu hipotesis.

6) Mengadakan percobaan: menyelesaikan suatu eksperimen dengan

mengikuti prosedur sehingga hasil dapat dibuktikan.

7) Mengorganisir data dalam grafik dan tabel: membuat grafik dan

mengumpulkan data.

8) Meneliti penyelidikan: menginterpretasikan data secara statistik,

mengidentifikasi ,mengevaluasi hipotesis, merumuskan kesimpulan,

dan merekomendasikan pengujian lebih lanjut.

9) Pemahaman menyebabkan dan mempengaruhi hubungan: apa yang

akan teIjadi

10) Merumuskan: menngenali data dan perbandingan pembuatan suatu

objek.32

Keterampilan berpikir yang tergolong keterampilan proses IPA:33

I) Mengobservasi

Mengamati merupakan kemampuan menggunakan semua indera

yang harus dimiliki setiap orang. Dalam kegiatan ilmiah mengamati berarti

(33)

19

diamati, atau memilih fakta-fakta untuk menafsirkan peristiwa tertentu.

Dengan membandingkan hal-hal yang diamati, berkembang kemampuan

untuk mencari persamaan dan perbedaan.

2) Menafsirkan Pengamatan

Mencatat Jeti:tp hl1sil pengarnatan secara terpisah, kem'ldian

menghubungkan hasil-hasil pengamatan itu. Mungkin ditemukan pola

tertentu dalam pengamatan. Penemuan pola ini merupakan dasar untuk

menyarankan kesimpulan generalisasi-generaJisasi.

3) Meramalkan

Meramalkan merupakan salah satu kemampuan penting dalam

IPA. Dengan menggunakan pola yang ditemukan dari pengamatan, para

ilmuwan mengemukakan apa yang mungkin teIjadi pada keadaan yang

terjadi pada keadaan yang akan datang atau belum diamati. Jadi, bertitik

tolak dari menafsirkan hasil-hasil pengamatan dapat dikembangkan

kemampuan untuk meramalkan, karena proses peramalan merupakan suatu

proses penalaran yang berdasarkan pengamatan.

4) Menggunakan Alat/Bahan

Melakukan percobaan dalam II'A membutuhkan aJat dan bahan.

Berhasil suatu percobaan atau eksperimen tergantung pada kemampuan

memilih dan menggunakan aJat yang tepat secara efektif. Pengalaman

menggunakan alat dan bahan merupakan pengalaman konkrit yang

dibutuhkan anak untuk menerima gagasan baru.S4

5) Menerapkan Konsep

Menerapkan Konsep merupakan suatu kemampuan untuk

menggunakan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau

menerapkan konsep itu pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa

yang sedang terjadi.dalam menerapkan konsep untuk menjelaskan apa

yang sedang teIjadi, perlu dianggap bahwa setiap penjelasan yang

(34)

6) Merencanakan Penel itian

Setelah melihat suatu pola atau hubungan dari

pengamatan-pengamatan yang dilakukan perlu kesimpulan sementara atau hipotesis

yang dirumuskan. Untuk itu perlu kemampuan untuk merencanakan

alat-alat dan bphan-ba!'an yang akan digu<1akan, nenentukan variabel-var!abe:.

menentukan yang mana variabel-variabel itu yang harns dibuat tetap, dan

mana yang berubah. Selanjutnya menentukan cara dan langkah kerja,

bagaimana mengolah hasil-hasil pengamatan untuk mengambil

kesimpulan. merupakan kegiatan-kegiatan yang perlu dilatih sejak sekolah

dasar.

7) Berkomunikasi

Menyampaikan penemuannya kepada orang lain secara jelas dan

cermat karena itu dalam pendidikan IPA anak-anak sejak dini dilatih untuk

dapat melaporkan hasil-hasil percobaan mereka secara sistematis dan jelas.

8) Mengajukan Pertanyaan

Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan berpikir

tersebut anak diberi kesempatan untuk menggunakan pikirannya, sejauh

mana anak menggunakan pikirannya, karena dihadapkan pada

masalah-masaIah yang ada disekitarnya. Sejauh mana anak menggunakan

pikirannya dapat diketahui dari pertanyaan yang diajukannya. Dengan lain

perkataan dapat dikatakan bahwa kualitas pertanyaan yang diajukan

menunjukkan rendah tingginya tingkat berpikir anak.36

Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut di atas anak

diberi kesempatan untuk menggunakan pikirannya, karena dihadapkan pada

masalah-masalah yang ada disekitarnya. Sejauh mana anak menggunakan

pikirannya dapat diketahui bahwa kuaIitas pertanyaan yang diajukan anak

(35)

21

Menurut Syaiful Sagala, Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh

siswa dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan proses adalah:

1) Mengamati gejala yang timbul.

2) Mengklasifikasi sifat-sifat yang sama, serupa.

3\ m・dセオォオイ beQaral1-bp,saran yang bersangkut,\U.

4) Mencarai hubungan antar konsep-konsep yang ada

5) Mengenal adanya suatu masalah, merumuskan masalah.

6) Memperkirakan penyebab suatu gejala, merumuskan hipotesa.

7) Meramalkan gejala yang akan mungkin terjadi.

8) Berlatih menggunakan alat-alat ukur.

9) Melakukan percobaan.

10) Mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan data.

II) Berkomunikasi.

12) Mengenal adanya variabel, mengendalikan suatu variabel.37

Menurut Karen keterampilan proses terbagi menjadi 15 yaitu:

1) Observasi/pengamatan: menggunakan satu atau lebih panca indra

untuk memberi informasi. Termasukjuga menggunakan alat.

2) Komunikasi: memberikan atau mengubah informasi dengan lisan atau

tulis.

3) Estimasi: memperkirakan/memperhitungkan terhadap objek tertentu.

4) Mengukur: membandingkan objek pada satuan perubahan standar

tertentu.

5) Mengumpulkan data: mengumpulkan informasi tentang pengamatan

dan pengukuran secara sistematis.

6) Mengklasifikasi: mengelompokkan atau memisahkan objek/data atau

membuat sesuatu ke dalam bagan yang diambil dari pengamatan.

7) Menarik kesimpulan: pengembangan dasar gagasan pengamatan yang

(36)

8) Memprediksi/meramalkan: membuat sesuatu gagasan untuk hasil yang

diharapkan dari pokok kesimpulan.

9) Membuat model: mempresentasikan pembangunan fisik atau mental

untuk menerangkan sesuatu gagasan, keadaan, atau kejadian.

10) Menginterpretasi data: membaca tabel, ァセ。ヲゥォL dan diagram.

Menjelaskan kejadian dalam tabel/diagram, grafik dan juga dapat

menerangkan sesuatu dengan grafik/gambar.

II) Membuat grafik: mengubah besaran-besaran dalam bentuk bilangan ke

dalam diagram yang dapat menunjukkan hubungan antara besaran.

12) Hipotesis: masalah yang disampaikan dengan pertanyaan yang akan

diuji dengan percobaan penelitian.

13) Mengontrol data: memanipulasi suatu obyek dengan memberikan

perlakuan untuk menghasilkan kegiatan yang konstan.

14) Menetapkan dan poerasi atau menentukan langkah keJja: berawal dari

informasi khusus tentang obyek dan gejalanya berdasarkan pada

pengalaman yang berkaitan dengan itu.

15) Penyelidikan: menggunakan pengamatan untuk dikumpulkan dan

dianalisis datanya dipakai untuk menggambarkan dalam penyelesaian

pemecahan masalah.3h

Menurut Cain dan Evans (1990) seperti dikutip Aguston dan Dewi

Suliantini mengemukakan ada 12 jenis keterampilan yang dikelompokkan dalam

dua kategori, yaitu:

I) Kategori keterampilan dasar meliputi: mengobservasi, mengklasifikasi,

mengukur, mencari hubungan ruang dan waktu, komunikasi,

memprediksi, dan mengambil kesimpulan.

2) Kategori keterampilan yang terintegrasi meliputi: menyusun defmisi

operasional, menyusun hipotesis kerja, menginterpretasi data,

(37)

Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan

perolehan anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan

konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap yang dituntut. Dengan

demikian, keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak penemuan dan

pengemb'lngan fakta dan konsep serta pertumbuhan dan pengembangan sikap dan

nilai.

Untuk membentuk keterampilan memproseskan perolehan pada diri siswa

ada enam dasar keterampilan proses sains yang terdiri dari:

II UDservas..

2) Komunikasi.

3) Klasifikasi.

4) Pengukuran.

5) Kesimoulan.

6) Meramalkan.4v

Dengan keterampilan proses siswa diajak melacak kembali apa yang telah

dilakukan oleh ilmuwan dan menemukan,membentuk suatu konsep. Keterampilan

proses membantu siswa dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih

bermakna atau penting dalam hidupnya.

Menurut Suryosubroto, langkah keterampilan proses terdiri dari:

I) Pengamatan, tujuan kegiatan ini untuk melakukan pengamatan yang

terarah tentang gejala/fenomena sehingga mampu membedakan yang

sesuai dan yang tidak sesuai dengan pokok permasalahan yang

dimaksud pengamatan disini adalah penggunaan indra secara optimal

dalam rangka memperoleh informasi yang memadai. Untuk itu perlu

diingkatkan peragaan melalui gambaran ataupun bagan dan membatasi

peragaan dengan kata-kata.

2) Interpretasi hasil pengamatan, tujuan kegiatan ini untuk menyimpulkan

hasil pengamatan yang telah dilakukan berdasarkan pada pola

hubungan antara hasil pengamatan yang satu dengan yang lainnya.

Kesimpulan tersebut merupakan konsep yang perlu

(38)

3) Peramalan, hasil interpretasi dari suatu pengamatan kemudian

digunakan untuk meramalkan atau memperkirakan kejadian yang

belum diamati/akan datang.

4) Aplikasi konsep, adalah menggunakan konsep yang telah

diketahlli/dipelajgri dalam situa:'i baru atau dalpm menyelesaihn

masalah, umpamanya memberikan tugas mengarang tentang sesuatu

masalah yang dibicarakan dalam mata pelajaran yang lain.

5) Perencanaan penelitian, penelitian ini bertitik tolak dari seperangkat

pertanyaan antara lain untuk menguj i kebenaran hipotesis tertentu

perlu perencanaan penelitian-penelitian lanjutan dalam bentuk

percobaan lainnya.

6) Pelaksanaan penelitian, tujuan dari kegiatan ini adalah agar siswa lebih

memahami pengaruh variabel yang satu pada variabel yang lain. Cara

belajar yang mengasyikkan akan teIjadi dan kreativitas siswa akan

terlatihkan.

7) Komunikasi, kegiatan ini bertujuan mengkomunikasikan proses dan

hasil penelitian ini kepada berbagai pihak yang berkepentingan baik

dalam bentuk kata-kata, grafik, bagan,maupun tabel, secara lisan atau

tertulis.41

Pengembangan keterampilan proses itu memerlukan kemampuan guru

untuk bertanya dan menjawab pertanyaan siswa serta mengorganisasikan kelas.

Untuk itu setiap guru secara mandiri diminta untuk mengembangkan

kemampuannya agar proses belajar mengajar yang mengembangkan keterampilan

proses itu dapat berhasil.

Dalam jurnal Science Process Skills, How can Teaching Science Process

Skills Improve Student Performance in Reading, Language arts and matematics,

pengajaran ilmu pengetahuan keterampilan proses dapat meningkatkan:

1) Faktor fisik (kesehatan, mendengar, melihat, bicara, motorik) dan

(39)

25

2) Ilmu pengetahuan membantu anak-anak dari emua tingkatan ekonomi

sosial di dalarn pengembangan logika dan bahasa.

3) Ilmupengetahuan berperan untuk mengembangkan dari konsep,

vocabulary dan keterampilan bahasa.

4) I:mu ー・ョヲL・エ。ィオセ[ャ berperan menyampaibm ilmil jJengetahuan.

meningkatkan pengembangan proses anak.42

c. Kelebihan dan Keknrangan Keterampilan Proses Sains

Secara wnum model pembelajaran berbasis keterarnpilan proses sams

memiliki kelebihan diantaranya:

I) Siswa lebih memperoleh kesempatan untuk mengembangkan

keterarnpilan proses sams seperti: mengarnati, mengukur,

mengklasifikasi, menyimpulkan, mengkomunikasikan hasil temuan.

2) Siswa lebih memperoleh kesempatan untuk mengembangkan aktivitas,

kreativitas, kemandirian, sikap kritis, dan keterarnpilan bekeIja sarna

dengan orang lain.

3) Guru tidak perlu mengajarkan seluruh pengetahuan (sains) kepada

siswa, cukup konsep-konsep pokok karena siswa dengan keterampilan

d I k · d' ·43

prosesnya apat me eng apl sen m.

Kelemahan model pembelajaran berbasis keterampilan proses sams

diantaranya:

]) Memerlukan alokasi waktu yang relatif lebih banyak, terutama kalau

belum terbiasa.

2) Membutuhkan persiapan yang lebih terprogram dan sistematik.

3) Kalau siswa belwn menguasai keterampilan proses yang diperlukan,

pencapaian hasil belajar tidak maksimal.44

42 http://www.google.com.Science Process Skills, How can Teaching Science Process

Skills Improve Student Petformance in Reading, Language arts and matematics.(28 Desember

(40)

Menurut Syaiful Sagala, pendekatan proses memiliki kelebihan sebagai berikut:

I) Memberi bekal cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat penting

untuk pengembangan pengetahuan dan masa depan

2) Pendahuluan proses 「・イセゥヲ。エ kre?tif, Slswa aktif, rlapat meningkatkan

keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan.45

Sedangkan kelemahan dari pendekatan proses sebagai berikut:

I) Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyelesaikan

bahan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum.

2) Memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak

semua sekolah dapat menyediakannya.

3) Merumuskan masalah, menyusun hipotesis, merancang

suatu percobaan untuk memperoleh data yang relevan.46

2. Pembelajaran Metode Eksperimen

a. Pengertian Metode Eksperimen

Metode eksperimen adalah salah satu cara mengajar di mana melakukan

suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil

percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan

dievaluasi oleh guru.47 Penggunaan teknik ini tujuannya agar siswa mampu

mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang

dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih

dalam cara berpikir yang ilmiah (Scientific thinking). Dengan eksperimen siswa

menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya.

Metode eksperimen merupakan suatu cara memperoleh pengetahuan atau

keterampilan dengan mencoba, berbuat atau melakukan sesuatu.48 Jadi aktivitas

anak lebih banyak pada memperlihatkan sesuatu yang telah diamati.

45Syaiful Sagala. Loc.Cit

'" Ibid.,h. 74

(41)

27

Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan

pcrcobaan, siswa melakukan kegiatan yang mencakup pengendalian variabel,

pengamatan, melibatkan pembandingan atau kontrol, dan penggunaan alat-alat

praktikum. Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen ini siswa

diberi kesempatan untuk lTlengalami sendiri atau melakukan sendiri.49 Dengan

melakukan eksperimen, siswa akan menjadi lebih yakin atas suatu hal dari pada

hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman,

mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan lebih lama dalam ingatan

slswa.

b. Kclebihan dan Kelemahan Metodc Eksperimen

Kelebihan metode eksperimen antara lain:

I) Pengetahuan anak tidak verbalitas dan memberikan kemungkinan

berpikir lebih kritis.

2) Memberikan pengalaman yang riiI.

3) Keragu-raguan siswalmahasiswa dapat hilang dengan mengamati dan

mengadakan eksperimen.

4) Memberikan kemungkinan lebih berhasilnya interaksi belajar

mengajar.50

Kelemahan metode eksperimen antara lain:

I) Bila tidak dapat mengamati kelas secara seksama, maka metode ini

menjadi tidak wajar.

2) Bila alat pengajaran kurang memadai, maka hasilnyapun kurang

memuaskan.

3) Kemungkinan eksperimen akan berlangsung lama sehingga

mengganggu pe!ajaran berikutnya.51

Metode eksperimen akan berhasil digunakan untuk mengubah

pengetahuan siswa jika mereka melaksanakan tugas pengetahuannya dengan

(42)

menghabiskan sedikit waktu dengan berinteraksi dengan alat-alat, instruksi, dan

cara kerja serta menghabiskan waktu lebih banyak.

Kegiatan eksperimen penting dilakukan secara terus menerus untuk

mengembangkan pengetahuan siswa dan membandingkan apa yang mereka

temubn serta mengaplikasibnnya dalam kehid:lpan r,yata, sehingga proses

pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.

Kegiatan laboratorium akan membangkitkan rasa mgm tahu Slswa

terhadap fenomena alam, serta menantang untuk berpikir kritis dalam mencari

alternatif pemecahan terhadap suatu masalah-masalah. Melatih ketekunan siswa

lewat pengamatan, pengumpulan data, analisis data, serta mengembangkan daya

temu siswa di dalam menginterpretasikan masalah-masalah sehingga siswa

tertantang untuk mengembangkan suatu bentuk eksperimen.

3. Pembelajaran Pendekatan Ekspositori a. Pengertian Pendekatan Ekspositori

Kata ekspositori berasal dari kata eksposisi yang berarti memberi

penjelasan. Dalam proses belajar mengajar, ekspositori berarti guru memberi

penjelasan kepada siswa tentang fakta, data, atau informasi.52

Pendekatan ekspositori adalah penyampaian ilmu pengetahuan kepada

peserta didik yang dipandang objek yang menerima apa yang diberikan dari

guru.53 Ekspositori menghedaki peserta didik dapat menangkap dan mengingat

informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali/memproduksi

apa yang telah dimilikinya melalui respon yang telah dimilikinya melalui respon

yang ia berikan pada saat melontarkan pertanyaan.

Ekspositori adaiah kegiatan belajar mengajar yang bersifat menerima baik

pada tahap perencanaan maupun pada pelaksanaan mengajar, dalam pendekatan

ini guru berperan lebih aktif, lebih banyak melakukan aktivitas dibandingkan

•.,',

dengan siswa-siswanya. Guru telah mengelola dan mempersiapkan bahan ajaran

(43)

29

lebih pasif, tanpa banyak melakukan kegiatan pengolahan bahan, karena menerima bahan ajaran yang disampaikan oleh guru.54

Menurut Syaiful Sagala, pendekatan ekspositori adalah penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diherikan guru. Biasanya guru menyamraikan informasi mengenai bahan

ー・ョァセ。イ。ョ dalam bentuk penjelasan dan penuturan secara lisan.55 Dalam

pendekatan ini siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali apa yang dimiliki melalui respon yang ia berikan pada saat diberikan pertanyaan oleh guru.

Syamsudin Makmun dalam Syaiful Sagala mengemukakan bahwa guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga siswa tinggal menyimak dan mencemanya secara teratur dan rap!.·56

Menurut Sudjana seperti dikutip dalam Zainal Abidin, ekspositori adalah siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru serta mengungkapkan kembali apa yang telah dimiliki melalui respon yang ia berikan pertanyaan oleh guru.57

Pendekatan ekspositori pendekatan iill bertolak dari pandangan bahwa kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru. Hakikat mengajar menurut pandanganini adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diberikan oleh guru. Biasanya guru menyampaikan informasi mengenai bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan penuturan secara lisan yang dikenal dengan istilah metode ceramah.58 Dalam pendekatan iill siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan oleh guru serta mengungkapkan kembali apa yang telah dimilikinya melalui respons yang diberikannya pada saat

54 R. Ibrahim, Nana Syaodih S.,Perencanaan Pengajaran,(Jakarta: Rineka Cipta, 2003),

eet. 2, h. 43

55Syaiful Sagala,Op. Cit.,h. 78

;0Ibid., h. 79

57 Zainal Abidin, HasH Belajar yang Menggunakan Strategi Heuristik dan Ekspositori

(44)

diberi pertanyaan oleh guru. Komunikasi yang digunakan oleh gUiU dalam

interaksinya dengan siswa adalah komunikasi satu arah atau komunikasi sebagai

aksi. Oleh sebab itu, kegiatan belajar siswa kurang optimal sebab terbatas pada

mendengarkan uraian guru, mencatat, dan sekali-kali bertanya kepada guru. Guru

yang kreatif bias:mya dalam memberikan informasi dan penjelasan kepada si"wa

menggunakan alat bantu seperti gambar, bagan, grafik, dan lain-lain disamping

memberi kesempatan siswa untuk mengajukan pertanyaan.

Menurut Byron Massialas dalam Sriyono, model mengaJar ekspositori

dapat juga disebut model informasi bahwa tingkah laku kelas dan penyebaran

pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru atau pengajar. Hakikat mengajar

menurut pandangan ini adalah menyampaikan informasi dari guru. Aktifitas

belajar siswa terbatas pada mengingat informasi, mengungkapkan kembali apa

yang telah dikuasainya, dan bertanya kepada guru tentang bahan yang belum

dipahaminya. Dalam pendekatan ini mengajar diawali dengan penyampaian

informasi bahan pengajaran oleh guru secara lisan, dilanjutkan dengan bertanya

kepada siswa dan menarik kesimpulan tentang bahan pengajaran, diakhiri dengan

pemberian tugas kepada siswa.59

Menurut Syamsudin Makmun yang dikutip Syaiful Sagala,

mengemukakan bahwa guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah

dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga siswa tinggal

menyimak dan mencemanya secara teratur dan tertib.60

Metode ekspositori adalah suatu pengajaran visual dengan menggunakan

benda dua dimensi atau tiga dimensi dengan maksud mengemukakan gagasan atau

sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.6\

Pendekatan ekspositori, yaitu pendekatan yang didasarkan pada proses

"meaning reception learning". Pendekatan ini cenderung menekankan

penyampaian informasi yang bersumber dari buku, teks, referensi, atau

59Nana Sudjana, Wari Suwariyah,Model-model Mengajar CBSA, (Bandung: Sinar Barn,

(45)

セャ

pengalaman pribadi dengan menggunakan teknik ceramah, demonstrasi, diskusi

dan laporan studio

Strategi pembelajaran ekspositori yaitu strategi pembelajaran yang

didasarkan pada proses "Meaningful Reception Learning" sebagaimana yang

diteor:kan Ausabd. Strategi hi 」セョ、・イョイNァ menebnkan ;:Jenya!'1paian ipforrnasi

yang bersumber dari buku teks, referensi, atau pengalaman pribadi dengan

menggunakan teknik ceramah, demonstrasi, diskusi dan laporan studioVセ

Dalam pembelajaran dengan strategi ekspositori guru cenderung

menggunakan kontrol proses pembelajaran dengan aktif, sementara siswa relatif

pasif menerima dan mengikuti apa yang disajikan oleh guru. Strategi

pembelajaran ekspositori ini merupakan proses pembelajaran yang lebih berpusat

pada guru ("Teacher Centered'), guru menjadi sumber dan pemberi informasi

utama. Meskipun dalam strategi ekspositori digunakan metode selain ceramah dan

dilengkapi atau didukung dengan media, penekanannya tetap pada proses

penerimaan pengetahuan (materi pelajaran) bukan pada proses pencarian dan

kontruksi pengetahuan.

Model mengajar ekspositori merupakan kegiatan belajar mengajar yang

berpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi terperinci

tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah

"memindahkan" pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Hal

yang esensial pada bahan pengajaran harns dijelaskan kepada siswa.63

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya belajar

dengan pendekatan ekspositori, adalah menyampaikan informasi dari guru,

aktivitas belajar siswa terbatas pada mengingat informasi, mengungkapkan

kembali apa yang telah dikuasainya dan bertanya kepada guru tentang bahan yang

belum dipahaminya. Dalam pendekatan ini, mengajar diawali dengan

penyampaian informasi bahan-bahan pengajaran oleh guru secara lisan,

62Wahyudin Nur Nasution, Efektivilas Siralegi Pembetajaran Koperolif dan Eksposilori

(46)

dilanjutkan dengan bertanya kepada siswa dan menarik kesimpulan tentang bahan

pengajaran, diakhiri dengan pemberian tugas kepada siswa.

b. Prosedur Pendekatan Ekspositori

Secara garis besar prosedurnya pendekatan eksrositori sebagai berikut:

I) Persiapan (preparation) yaitu guru menyiapkan bahan selengkapnya

secara sistematis dan rapi.

2) Peliautan (apperception) bahan terdahulu yaitu guru bertanya atau

memherikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian siswa kepada

materi yang telah diajarkan.

3) Penyajian (presentation) terhadap bahan yang bam, yaitu guru

menyajikan dengan cara memberi ceramah atau menyuruh siswa

membaca bahan yang telah dipersiapkan diambil dari buku, teks

tertentu atau ditulis oleh guru.

4) Evaluasi (recitation) yaitu guru bertanya dan siswa menjawab sesuai

bahan yang dipelajari, atau siswa yang disuruh menyatakan kembali

dengan kata-kata sendiri pokok-pokok yang telah dipelajari lisan atau

tulisan.64

Tahapan pembelajaran dalam strategi pembelajaran ekspositori adalah

sebagai berikut:

1) Pada tahap pendahuluan guru menyampaikan pokok-pokok materi

yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai siswa

mengikuti dengan mencatat.

2) Pada tahap penyajian atas materi guru menyampaikan materi

pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab, kemudian dilanjutan

dengan demonstrasi untuk mempeIjelas materi yang disajikan dan

(47)

33

3) Pada tahap penutup guru melaksanakan evaluasi berupa tes dan

kegiatan tindak lanjut seperti penugasan dalam rangka perbaikan dan

pengaya

Gambar

GambarI.Histogram Distribusi Frekuensi postest Kelas Eksperimen
TabellDesain Penelitian
Kisi-kisiTabel2 Instrumen
tabel Z dan sebut dengan F(Zi) dengan aturan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Analisis rasio keuangan digunakan untuk menghitung rasio kemandirian, rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD), rasio aktivitas, Debt Service Coverage Ratio (DSCR),

Metode Perkiraan Laju Aliran Puncak (Debit Air) sebagai Dasar Analisis Sistem Drainase di Daerah Aliran Sungai Wilayah Semarang Berbantuan SIG.. Yogyakarta: UII

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan, pengetahuan ibu hamil yang paling banyak dengan presentasi baik berjumlah 39 responden

Banyak praktisi yang merasa puas dan berhasil jika output sebuah proyek berhasil diciptakan; padahal perusahaan atau organisasi baru akan merasakan manfaat dengan

Data yang disajikan selain data primer atas hasil kegiatan langsung pembangunan perkebunan di Kalimantan Timur, juga data yang bersumber dari instansi terkait

RAHMAYANTI BOANGMANALU, 2016: “Kecernaan Bahan Kering, Bahan Organik, Dan Protein Kasar Ransum Yang Mengandung Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir (Butis amboinensis) Sebagai

Analisis Tentang Solusi Dalam Mengimplementasikan Metode Bercakap-Cakap Untuk Menanamkan Akhlak Anak Usia Dini Di RA Muslimat Al Khurriyah 01 Besito Gebog Kudus

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai secara langsung di lapangan, yaitu survai jumlah penumpang naik/turun di setiap ruas jalan sepanjang