• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Lanskap Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh Berbasis Wisata Tsunami dan Mitigasi Bencana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perancangan Lanskap Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh Berbasis Wisata Tsunami dan Mitigasi Bencana"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN LANSKAP

MEMORIAL PARK

DI

GAMPONG ULEE LHEUE, KOTA BANDA ACEH

BERBASIS WISATA TSUNAMI DAN MITIGASI BENCANA

OLDIAZKA SYAHRIDA

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perancangan Lanskap

Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh Berbasis Wisata Tsunami dan Mitigasi Bencana adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, April 2015

Oldiazka Syahrida

(3)

ABSTRAK

OLDIAZKA SYAHRIDA. Perancangan Lanskap Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh Berbasis Wisata Tsunami dan Mitigasi Bencana. Dibimbing oleh DEWI REZALINI ANWAR.

Taman Memorial atau Memorial Park merupakan suatu taman yang dibangun untuk mengenang suatu kejadian atau peristiwa besar seperti tragedi perang, aksi militer, bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami yang menelan korban jiwa. Pada tahun 2004 terjadi gempa bumi dan tsunami yang sangat dahsyat melanda kawasan Pasifik dan sekitarnya. Indonesia merupakan negara yang terkena imbas paling besar dari bencana ini, khususnya di wilayah perairan Aceh bagian barat, karena secara geografis paling dekat dengan pusat gempa penyebab tsunami. Bencana tersebut tidak hanya menelan ratusan ribu jiwa, tetapi juga menimbulkan kerusakan fisik di wilayah Aceh. Wilayah pesisir yang mengalami kerusakan fisik yang paling parah diantaranya adalah Gampong Ulee Lheue di Kota Banda Aceh. Pemerintah telah melakukan upaya rekonstruksi pasca-bencana, antara lain: menetapkan Ulee Lheue sebagai gampong (kampung) tanggap bencana dan area wisata Tsunami. Hal ini dimaksudkan agar dapat membantu meningkatkan sektor wisata dan sebagai upaya mitigasi bencana.

Tujuan dirancangnya Lanskap Memorial Park selain untuk menghormati para korban tsunami juga sebagai sarana kontemplasi (perenungan) sekaligus sebagai sarana rekreasi dan wisata. Perancangan Lanskap Memorial Park dapat dinilai sebagai suatu upaya integrasi antara sektor wisata dengan mitigasi bencana di Gampong Ulee Lheue. Dalam perancangannya mengusung konsep yang berbeda dengan taman pada umumnya, yaitu mengintegrasikan nilai historis tapak dengan kebutuhan masyarakat terhadap wisata. Dalam penelitian perancangan Lanskap

Memorial Park ini, metode yang digunakan adalah analisis spasial dan deskriptif. Metode ini dilakukan melalui pengamatan langsung, studi pustaka, wawancara dan kuesioner. Hasil akhir dari penelitian ini adalah rencana tapak (siteplan) dan gambar detail (gambar tampak potongan, rencana penanaman, dan gambar perspektif).

(4)

ABSTRACT

OLDIAZKA SYAHRIDA. Landscape Design of Memorial Park at Gampong Ulee Lheue, Banda Aceh City Based on Tsunami Tourism and Disaster Mitigation.

Supervised by DEWI REZALINI ANWAR.

Memorial Park is a park dedicated to those who fell in incidents such as tragedy of war, military action, natural disaster or earthquake and tsunami that claimed the people's lives. In 2004, earthquake and tsunami hit the surrounding of Pacific region. Indonesia is a country with most affected by this disaster, particularly in the western of Aceh territory, because it’s geographically closest to the epicenter of earthquake. This disaster not only killed hundreds thousands of peoples, but also cause environmental damage in Aceh. The environmental damage, particularly in coastal areas leads to the paralysis of the tourism sector which has been the mainstay for this province. Coastal areas that suffered the most severe damage include Gampong Ulee Lheue in Banda Aceh. The government has made efforts post-disaster reconstruction, among other things: to establish Ulee Lheue as the gampong (village) disaster response and Tsunami tourist area. It is intended to help improve the tourism sectors and as a disaster mitigation efforts.

The design of Memorial Park purposes, other than to honor the victims of the tsunami as contemplation place as well as recreational and tourism facilities. The Landscape Design of Memorial Park can be considered as an attempt of integration between the tourism sectors with disaster mitigation in Ulee Lheue Village. It’s design brings a different concept from the park in general; the design is to integrate the historical value to the tourism needs of the community. The study/research of Memorial Park are using the spatial and descriptive analysis methods. This methods is done by site survey, literature study, interview, and questioner. The final result is creating a site plan and detail drawings (Sectional drawings, planting plans and perspective drawings).

(5)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2015

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan IPB.

(6)

PERANCANGAN LANSKAP

MEMORIAL PARK

DI

GAMPONG ULEE LHEUE, KOTA BANDA ACEH

BERBASIS WISATA TSUNAMI DAN MITIGASI BENCANA

OLDIAZKA SYAHRIDA

Skripsi

sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Arsitektur Lanskap

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2015

(7)

Judul Skripsi : Perancangan Lanskap Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh Berbasis Wisata Tsunami dan Mitigasi Bencana

Nama : Oldiazka Syahrida

NIM : A44100046

Disetujui oleh

Dewi Rezalini Anwar, SP., M.A.Des. Dosen Pembimbing

Diketahui oleh

Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, M.Agr. Ketua Departemen

(8)

PRAKATA

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah berjudul Perancangan Lanskap Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh Berbasis Wisata Tsunami dan Mitigasi Bencana mampu diselesaikan. Tugas akhir ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

a) Kedua orang tua Bapak Suhartono dan Ibu Tutik Herawati, serta adik Dhafian Fasyarida atas doa, dukungan, dan kasih sayangnya selama ini.

b) Ibu Dewi Rezalini Anwar, SP.,M.A.Des selaku dosen pembimbing atas waktu, ilmu, arahan dan kesabarannya dalam membimbing tugas akhir ini.

c) Dr. Ir. Nizar Nasrullah, M.Agr selaku pembimbing akademik atas masukan, nasihat, dan dukungannya.

d) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banda Aceh, GIS Center BAPPEDA Kota Banda Aceh, GIS Center BAPPEDA Provinsi Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Aceh, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Banda Aceh, Pusat Riset Mitigasi Tsunami (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Dinas Kesatuan Politik Kebangsaan dan Lingkungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Banda Aceh atas bantuan dan kemudahan pengambilan data serta kritik dan saran yang telah diberikan kepada penulis terkait penelitian yang dilakukan;

e) Keuchik Ulee Lheue, perangkat gampong, warga, dan pengunjung/wisatawan Ulee Lheue atas informasi yang diberikan serta kesediaannya untuk di wawancara dan menjadi responden kuesioner.

f) Teman-teman ARL 47 dan keluarga besar Arsitektur Lanskap IPB atas pengalaman berharga dan kebersamaannya.

g) Teman-teman KKP Aceh dan KKP Bogor atas dorongan semangat dan motivasinya selama ini.

h) Teman-teman kost Nature atas kebersamaan, semangat dan dukungannya. i) Teman-teman kost Tunggai IV atas bantuan transportasi dan akomodasinya

selama di Aceh.

j) Semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk pihak yang memerlukan.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Kerangka Pikir 2

TINJAUAN PUSTAKA 3

Perancangan Lanskap 3

Memorial Park 3

Oseanografi 4

Pasang Surut, Arus Laut, dan Gelombang Laut 4

Tsunami 5

Wisata Tsunami 6

Mitigasi Bencana 8

Mitigasi Tsunami 8

METODE 12

Lokasi dan Waktu Penelitian 12

Bahan dan Alat 12

Batasan Penelitian 12

Metode Penelitian 12

Tahapan Penelitian 13

HASIL DAN PEMBAHASAN 17

Kondisi Umum 17

Aspek Fisik dan Biofisik 17

Lokasi dan Batas Tapak 17

Potensi Bencana 18

(10)

Hidrologi 21

Vegetasi 23

Aksesibilitas dan Sirkulasi 25

Iklim 29

Penutupan dan Penggunaan Lahan 30

Visual 30

Aspek Sosial dan Ekonomi 31

Penduduk Lokal 31

Organisasi Masyarakat dan Perangkat Pemerintahan 32

Aspek Sejarah dan Budaya 32

Sejarah Kawasan 32

Budaya Masyarakat Lokal 33

Aspek Wisata 33

Jenis, Objek, dan Aktivitas Wisata 33

Fasilitas Pengunjung Wisata 34

Fasilitas Pengunjung Wisata Berbasis Mitigasi Bencana 35

Pengunjung dan Wisatawan 36

Pengelola 36

Aspek Oseanografi 36

Pasang Surut 36

Arus Laut 37

Tinggi Gelombang 37

Aspek Legal 37

Analisis dan Sintesis 39

Aspek Fisik dan Biofisik 39

Lokasi dan Batas Tapak 39

Potensi Bencana 39

Topografi, Geologi, dan Geoteknik 39

Vegetasi 40

Aksesibilitas dan Sirkulasi 44

Iklim 44

(11)

Aspek Sosial dan Ekonomi 46

Aspek Sejarah dan Budaya 47

Aspek Wisata 47

Hasil Kuisioner 54

Daya Dukung Tapak 57

Aspek Oseanografi 59

Pasang Surut 59

Arus Laut 60

Tinggi Gelombang 60

Aspek Legal 60

Konsep 62

Konsep Dasar 62

Konsep Perancangan 62

Pengembangan Konsep 63

Konsep Ruang, Aktivitas, dan Fasilitas 63

Basis Wisata 63

Basis Mitigasi Bencana 63

Konsep Vegetasi 67

Basis Wisata 67

Basis Mitigasi Bencana 67

Konsep Sirkulasi 69

Basis Wisata 69

Basis Mitigasi Bencana 72

Konsep Warna dan Suasana 73

Basis Wisata 73

Basis Mitigasi Bencana 73

KonsepVisual 74

Basis Wisata 74

Basis Mitigasi Bencana 74

Block Plan 74

Perancangan 76

(12)

Tsunami Memorial Area (Area Tsunami Memorial) 83

Coastal Forest (Hutan Pantai) 84

Water Sport Area (Area Olahraga Air) 85

Service Area (Area Pelayanan) 85

Gambar Detil 85

SIMPULAN DAN SARAN 92

Simpulan 92

Saran 92

DAFTAR PUSTAKA 93

LAMPIRAN 96

RIWAYAT HIDUP 105

(13)

DAFTAR TABEL

1 Jenis data dan indikator pengamatan 14

2 Gempa yang berpotensi tsunami 19

3 Vegetasi pada tapak 23

4 Data iklim Kota Banda Aceh tahun 2012-2013 29

5 Fasilitas penunjang wisata 34

6 Rekapitulasi kunjungan wisatawan ke Banda Aceh tahun 2009 – 2013 36

7 Kriteria penilaian objek wisata 47

8 Analisis dan sintesis fasilitas penunjang wisata tsunami di Ulee Lheue 48

9 Daya dukung tapak 57

10 Pasang surut sebagai upaya mitigasi bencana 59

11 Presentase ruang berdasarkan aktivitas dan fasilitas 64

12 Daftar vegetasi 67

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pikir 2

2 Contoh Memorial Park 3

3 Ilustrasi kejadian tsunami akibat gempa bumi 5

4 Struktur struktur breakwater 9

5 Ilustrasi struktur seawall 10

6 Struktur struktur embankment 10

7 Struktur coastal forest 10

8 Ilustrasi struktur groin 11

9 Tsunami Escape Building 11

10 Peta lokasi penelitian 12

11 Alur tahap penelitian Booth (1983) dan alur modifikasi 13

12 Orientasi dan batas tapak 17

13 Kondisi tapak pra dan pasca-tsunami 18

14 Peta zona gempa 19

15 Peta dampak limpasan tsunami 20

16 Tampak potongan kondisi eksisting tapak 21

17 Peta kemiringan lahan 22

18 Kondisi drainase tapak 23

19 Peta sebaran vegetasi 26

20 Aksesibilitas menuju tapak 27

21 Tampak potongan jalur sirkulasi eksisting 27

22 Skema aksesibilitas 28

23 Jalur wisata tsunami di Kota Banda Aceh 29

24 Good view pada tapak 30

25 Bad view pada tapak 31

26 Lokasi objek wisata tsunami di Kota Banda Aceh 33

27 Lokasi objek wisata pesisir di Gampong Ulee Lheue 34

28 Lokasi Tsunami Escape Building 35

(14)

30 Struktur pondasi batu telapak 40

31 Analisis vegetasi pada jalur hijau jalan 41

32 Analisis vegetasi pada sempadan pantai 42

33 Analisis vegetasi pada traffic island 43

34 Analisis aksesibilitas dan sirkulasi 45

35 Potensi visual tapak 46

36 Tata letak bangunan yang teratur dapat mengurangi kerusakan 51 37 Tata letak bangunan yang tidak teratur dapat memperbesar kerusakan 52 38 Tipikal bentuk dan sistem struktur rumah nelayan tahan bencana 52

39 Ilustrasi standar rambu evakuasi tsunami RISTEK 53

40 Ilustrasi standar rambu evakuasi ISO 54

41 Kegiatan yang dilakukan pengunjung/wisatawan pada kawasan wisata 55 42 Fasilitas yang seharusnya disediakan oleh pengelola kawasan 55 43 Pemahaman pengunjung/wisatawan mengenai istilah Memorial Park 56 44 Pemahaman pengunjung/wisatawan mengenai istilah mitigasi bencana 56 45 Preferensi pengunjung/wisatawan tentang lanskap yang diinginkan

pada Memorial Park 56

46 Kegiatan yang akan dilakukan pengunjung/wisatawan saat

berkunjung ke Memorial Park 57

47 Preferensi pengunjung/wisatawan tentang fasilitas yang sebaiknya

atau perlu ditambahkan dalam perancangan lanskap Memorial Park 57

48 Sintesis 61

49 Ilustrasi konsep perancangan 62

50 Diagram hubungan antar ruang 63

51 Contoh fasilitas pada Memorial Park 65

52 Konsep ruang 66

53 Konsep vegetasi 70

54 Konsep sirkulasi 71

55 Ilustrasi jalan kolektor sekunder 72

56 Ilustrasi jalan lokal sekunder 72

57 Ilustrasi konsep warna dan suasana 57

58 Blockplan 75

59 Ilustrasi Entrance pada suasana malam dan siang hari 76

60 Siteplan 77

61 Perspektif keseluruhan 78

62 Tampak potongan tapak 79

63 Planting plan 1 80

64 Planting plan 2 81

65 Planting plan 3 82

66 Ilustrasi Tsunami Memorial Area 83

67 Ilustrasi pada Coastal Forest pada suasana malam dan siang hari 84 68 Ilustrasi Water Sport Area pada suasana malam dan siang hari 85

69 Ilustrasi Service Area 85

70 Detil water fountain 86

71 Detil Kios Makanan 87

72 Detil Kios Souvenir 88

73 Detil Mushalla 89

(15)

75 Detil penanaman pohon 91

DAFTAR LAMPIRAN

1 Peta struktur ruang Kota Banda Aceh tahun 2009-2029 100

2 Peta rencana kawasan strategis Kota Banda Aceh tahun 2009-2029 101

3 Peta pola tata ruang Kota Banda Aceh tahun 2009-2029 102

4 Pasang surut pada bulan Juni 2004 103

(16)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Taman Memorial atau Memorial Park merupakan suatu taman yang dibangun untuk mengenang suatu kejadian atau peristiwa besar seperti tragedi perang, aksi militer, bencana alam meliputi gempa bumi dan tsunami yang menelan korban jiwa. Taman ini dirancang selain untuk menghormati para korban tsunami juga sebagai sarana kontemplasi (perenungan) sekaligus sebagai sarana rekreasi dan wisata.

Memorial Park juga merupakan suatu tempat yang bertujuan untuk mengintegrasikan nilai historis tempat tersebut dengan kebutuhan masyarakat terhadap wisata. Salah satu contoh penerapannya adalah tempat penghormatan bagi korban gempa bumi dan tsunami di kawasan Samudera Pasifik dan Hindia pada 2004 silam. Menurut U.S Geological Survey, sebanyak 227.898 orang meninggal dunia akibat bencana ini dengan jumlah korban tersebar di lebih dari 10 negara. Bencana ini merupakan salah satu bencana terburuk sepanjang sejarah. Indonesia merupakan negara yang paling parah terkena dampak tsunami, mengingat posisi geografisnya yang berada dekat dengan pusat gempa penyebab tsunami tersebut.

Berdasarkan Barkornas PBP – Depkes – Depsos – Media Center Lembaga Nasional (LIN), jumlah korban paling banyak terdapat di Provinsi Aceh dengan angka mencapai 400.000 jiwa (meninggal dan mengungsi). Data tersebut juga menunjukkan bahwa, kawasan pesisir Kota Banda Aceh merupakan lokasi terparah akibat terjangan ombak tsunami. Bencana tersebut mengakibatkan kawasan pesisir Kota Banda Aceh rusak total dan berimbas pada lumpuhnya sektor wisata pesisir. Padahal, wisata pesisir merupakan salah satu sektor penyumbang pemasukan terbesar bagi Kota Banda Aceh.

Lokasi wisata pesisir yang hancur total akibat bencana gempa bumi dan tsunami adalah Gampong Ulee Lheue. Gampong ini terkenal akan daya tarik lanskap pantainya dan pelabuhan yang berskala internasional. Pasca peristiwa tsunami dan gempa bumi, Gampong Ulee Lheue direncanakan menjadi lokasi wisata tsunami oleh Pemerintah Kota Banda Aceh yang tertuang pada Rencana Kawasan Strategis Kota Banda Aceh 2029 (Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Banda Aceh Tahun 2009 – 2029). Pemerintah Kota Banda Aceh juga mempersiapkan Gampong Ulee Lheue menjadi Gampong yang tanggap tsunami. Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam mitigasi, antara lain; membangun struktur pemecah gelombang tsunami, membuat jalur dan area evakuasi, sosialisasi mengenai bencana serta berbagai upaya mitigasi bencana lainnya. Namun, upaya tersebut tidak akan maksimal jika hanya pihak Pemerintah Daerah yang terlibat sehingga andil dari masyarakat dan wisatawan sangat diharapkan.

Perancangan lanskap Memorial Park dapat dinilai sebagai suatu upaya integrasi antara sektor wisata dengan mitigasi bencana di Gampong Ulee Lheue. Dalam hal ini, agar masyarakat dan wisatawan dapat terlibat dalam upaya mitigasi bencana. Beberapa obyek dan puing-puing sisa tsunami akan tetap dipertahankan sebagai daya tarik kawasan. Penggunaan vegetasi lokal dalam perancangan lanskap diharapkan dapat meningkatkan fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta menciptakan lingkungan yang berkelanjutan (sesuai dengan Qanun Banda Aceh). Dengan demikian, dibutuhkan studi lebih lanjut mengenai perancangan lanskap

(17)

2

Tujuan Penelitian

Tujuan umum dari kegiatan penelitian ini adalah menjadikan Memorial Park

sebagai basis wisata tsunami dan sarana mitigasi bencana. Tujuan khusus dari kegiatan penelitian ini adalah:

1) mengidentifikasi dan menganalisis potensi dan kendala terkait perancangan lanskap Memorial Park berdasarkan aspek fisik, biofisik, sosial, ekonomi, sejarah, budaya, wisata, oseanografi, legal, dan

2) membuat konsep dan rancangan lanskap Memorial Park yang bernilai estetika tinggi, fungsional, dan memberikan kesan historis yang mendalam.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah memberikan pertimbangan/referensi perancangan Memorial Park dan kawasan pesisir di Indonesia. Selain itu, untuk meningkatkan fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota yang berbasis wisata tsunami dan mitigasi bencana bagi Pemerintah Daerah Kota Banda Aceh serta instansi terkait.

Kerangka Pikir

Kerangka pikir penelitian mengenai perancangan lanskap Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh berbasis wisata tsunami dan mitigasi bencana disajikan pada bagan di bawah ini (gambar 1).

Gambar 1 Kerangka Pikir

Gambar 1 Kerangka pikir

Memorial Park

Aspek Fisik dan Biofisik

Wisata Tsunami Mitigasi Bencana

Aspek Sosial dan Ekonomi

Aspek Sejarah dan Budaya

Aspek Oseanografi

Analisis Kendala

Potensi

Sintesis

Perancangan Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh Berbasis Wisata Tsunami dan Mitigasi Bencana

Konsep Lanskap Memorial Park

Bencana Tsunami

Aspek Wisata

(18)

3

TINJAUAN PUSTAKA

Perancangan Lanskap

Definisi perancangan menurut American Society of Landscape Architects (ASLA) adalah seni dalam mendesain/menata dengan mengkombinasikan elemen lunak (softscape) dan elemen keras (hardscape). Elemen lunak (softscape) adalah elemen perancangan lanskap berupa tanaman hidup, sedangkan elemen keras (hardscape) berupa elemen non-tanaman/benda mati. Tanaman yang dimaksud adalah segala jenis tetumbuhan yang sengaja ditanam di suatu tapak dengan tujuan tertentu.

Beberapa ahli juga berpendapat mengenai definisi perancangan lanskap, diantaranya Simonds (1983). Menurutnya, merancang sebuah lanskap terdapat sebuah prinsip, yaitu dengan mengeliminasi elemen-elemen yang buruk dan menonjolkan elemen-elemen yang baik. Pada lanskap, karakter tapak yang menarik harus diciptakan atau dipertahankan sehingga semua elemen yang banyak variasinya menjadi kesatuan yang harmonis.

Loidl dan Bernard dalam Nugraha (2011) menyatakan bahwa perancangan adalah membuat bentuk, sebuah kreativitas yang ditujukan untuk mengembangkan bentuk, merancang tidak seperti pekerjaan seni. Menurut Vandyke (1990) prinsip-prinsip dasar perancangan terdiri atas: unity yaitu kesatuan seluruh elemen, (harmonis) balance yaitu keseimbangan dalam skala dan proporsi untuk menyusun elemen lanskap, dan emphasis/dominance, yaitu menciptakan kontras/aksen.

Memorial Park

Konsep Memorial Park lahir diawal abad ke-20. Konsep ini pertama kali diangkat dengan tujuan untuk mengubah paradigma masyarakat tentang area pemakaman yang identik dengan kesan mistis menjadi suatu taman publik yang dapat dikunjungi oleh masyarakat. Konsep ini merancang area pemakaman dengan apik serupa dengan taman publik, seperti adanya vegetasi ornamental, dibuat slope, dan lainnya. (International Cemetery, Cremation, and Funeral Association)

Konsep Memorial Park juga dapat diterapkan pada kawasan pasca aksi militer atau bencana alam. Tujuannya sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada para korban. Berikut adalah contoh Memorial Park di beberapa negara (lihat gambar 2). Desain Memorial Park merupakan integrasi dari nilai spiritual (agama/kepercayaan) dan wisata (taman publik). Aplikasi desain yang terlihat dari

Memorial Park, antara lain: memorial wall, sculpture, dan beberapa masih mempertahankan elemen yang memiliki nilai historisdari bencana tsunami.

Gambar 2 Contoh Memorial Park

(19)

4

Oseanografi

Istilah oseanografi merupakan gabungan kata dari bahasa Yunani, yakni

oceanos yang berarti laut dan graphos yang berarti gambaran atau deskripsi. Jadi oseanografi dapat diartikan sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut. Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelasan (eksplorasi) ilmiah mengenai air laut dan segala fenomenanya. Cakupan oseanografi yaitu organisme laut, dinamika fluida, tektonik lempeng, geologi dasar laut, aliran berbagai zat kimia di laut dan lainnya.

Menurut Stewart M. Evans dalam Sahala Hutabarat (1985) secara khusus oseanografi dibagi menjadi empat bidang, yakni:

a) Fisika Oseanografi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai masalah-masalah fisik laut,seperti arus, gelombang, dan pasang surut air laut.

b) Kimia Oseanografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang masalah-masalah kimiawi di laut.

c) Geologi Oseanografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang lantai samudera dan litosfer.

d) Biologi Oseanografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau biota laut.

Pasang Surut, Arus, dan Gelombang Laut

Menurut Setiyono (1996), menjelaskan bahwa pasang surut air laut adalah gelombang laut yang dibangkitkan oleh adanya interaksi antara bumi, matahari, dan bulan. Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut pasang rendah. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range). Periode pasang surut adalah waktu anatar puncak dan lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Besarnya periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit.

Bergeraknya massa air laut biasa disebut sebagai arus laut. Arus laut dapat terjadi akibat adanya daya pembangkit arus yang bekerja baik pada lapisan antar muka (interface) air-udara ataupun badan air seperti angin, rotasi bumi, beda salinitas dan suhu, dan gaya gravitasi bulan. Kedalaman perairan dan bentuk garis pantai akan mempengaruhi arah dan kecepatan arus air laut. Secara umum, arus permukaan dibangkitkan oleh oleh angin permukaan dan bergerak searah jarum jam di belahan bumi utara (BBU) dan berlawanan arah jarum jam dibelahan bumi selatan (BBS). Sementara itu, arus bawah permukaan biasanya dibangkitkan oleh adanya gradien densitas dan suhu yang biasa disebut sebagai arus termohalin.

(20)

5

Tsunami

Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti "pelabuhan", dan nami

berarti "gelombang", sehingga tsunami dapat diartikan sebagai "gelombang pelabuhan". Istilah ini pertama kali muncul di kalangan nelayan Jepang. Karena panjang gelombang tsunami sangat besar, pada saat berada di tengah laut, para nelayan tidak merasakan adanya gelombang ini. Namun setibanya kembali ke pelabuhan, mereka mendapati wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah. Karena itulah mereka menyimpulkan bahwa gelombang tsunami hanya timbul di wilayah sekitar pelabuhan, dan tidak di tengah lautan yang dalam.

Menurut NTHMP (2001), pengertian tsunami adalah serangkaian gelombang tinggi yang disebabkan oleh perpindahan sejumlah besar air laut secara tiba-tiba. Tsunami juga dapat didefinisikan sebagai gelombang laut yang disebabkan oleh gempa bumi atau letusan gunung api atau longsoran di dasar laut, namun sebagian besar atau 90% tsunami disebabkan oleh gempa bumi. Gempa bumi mengakibatkan pergeseran lempeng tektonik. Lempeng kerak bumi (crustal blocks) memberi energi potensial pada massa air ke atas dan ke bawah. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan drastis pada permukaan air laut di daerah tersebut. Energi yang dilepaskan ke dalam massa air tersebut menyebabkan timbulnya tsunami (UNESCO-IOC, 2006). Ilustrasi terjadinya tsunami akibat gempa bumi dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3 Ilustrasi kejadian tsunami akibat gempa bumi Sumber gambar : www.tsunamis.com

(21)

6

a) Kondisi awal (Kondisi 1)

Gempa bumi biasanya berhubungan dengan goncangan permukaan yang terjadi sebagai akibat perambatan gelombang elastik (elastic waves) melewati batuan dasar ke permukaan tanah. Pada daerah yang berdekatan dengan sumber-sumber gempa laut (patahan), dasar lautan sebagian akan terangkat (uplifted)

secara permanen dan sebagian lagi turun ke bawah (down-dropped), sehingga mendorong kolom air naik dan turun. Energi potensial yang diakibatkan dorongan air ini, kemudian berubah menjadi gelombang tsunami (energi kinetik) di atas elevasi muka air laut rata-rata (mean sea level) yang merambat secara horisontal.

b) Pemisahan gelombang (Kondisi 2)

Setelah beberapa menit kejadian gempa bumi, gelombang awal tsunami (kondisi 1) akan terpisah menjadi tsunami yang merambat ke samudera dalam yang disebut sebagai tsunami berjarak (distant tsunami), dan sebagian lagi merambat ke pantai-pantai berdekatan yang disebut sebagai tsunami lokal (local tsunami). Tinggi gelombang di atas muka air laut rata-rata dari ke dua gelombang tsunami, yang merambat dengan arah berlawanan ini, besarnya kira-kira setengah tinggi gelombang tsunami awal (Kondisi 1). Kecepatan rambat ke dua gelombang tsunami ini dapat diperkirakan sebesar akar dari kedalaman laut. Oleh karena itu, kecepatan rambat tsunami di samudera dalam akan lebih cepat daripada tsunami lokal.

c) Amplifikasi (Kondisi 3)

Pada waktu tsunami lokal merambat melewati lereng kontinental, sering terjadi hal-hal seperti peningkatan amplitudo gelombang dan penurunan panjang gelombang. Setelah mendekati daratan dengan lereng yang lebih tegak, akan terjadi rayapan gelombang yang dijelaskan pada kondisi 4.

d) Rayapan (Kondisi 4)

Pada saat gelombang tsunami merambat dari perairan dalam, akan melewati bagian lereng kontinental sampai mendekati bagian pantai dan terjadi rayapan tsunami. Rayapan tsunami adalah ukuran tinggi air di pantai terhadap muka air laut rata-rata yang digunakan sebagai acuan. Dari pengamatan berbagai kejadian tsunami, pada umumnya tsunami tidak menyebabkan gelombang tinggi yang berputar setempat (gelombang akibat angin yang dimanfaatkan oleh peselancar air untuk meluncur di pantai). Namun, tsunami datang berupa gelombang kuat dengan kecepatan tinggi di daratan yang berlainan seperti diuraikan pada kondisi 3, sehingga rayapan gelombang pertama bukanlah rayapan tertinggi.

Wisata Tsunami

(22)

7

merupakan habitat bagi spesies amfibia dan organisme-organisme laut yang bersifat bentik (tinggal di permukaan atau di dalam tanah). Bagi manusia sendiri, lanskap pantai dimanfaatkan untuk rekreasi, penelitian, dan edukasi (Molles, 2005). Jadi, untuk membangun suatu kawasan wisata perlu dilakukan kajian yang mendalam agar tidak mengganggu habitat satwa dan vegetasinya.

Menurut Inskeep (1991), di berbagai macam literatur dimuat berbagai macam komponen wisata. Namun ada beberapa komponen wisata yang selalu ada dan merupakan komponen dasar dari wisata. Komponen-komponen tersebut saling berinteraksi satu sama lain. Komponen-komponen wisata tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a) Atraksi dan Kegiatan-Kegiatan Wisata

Kegiatan-kegiatan wisata yang dimaksud dapat berupa semua hal yang berhubungan dengan lingkungan alami, kebudayaan, keunikan suatu daerah dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan wisata yang menarik wisatawan untuk mengunjungi sebuah obyek wisata.

b) Akomodasi

Akomodasi yang dimaksud adalah berbagai macam hotel dan berbagai jenis fasilitas lain yang berhubungan dengan pelayanan untuk para wisatawan yang berniat untuk bermalam selama perjalanan wisata yang mereka lakukan. c) Fasilitas dan Pelayanan Wisata

Fasilitas dan pelayanan wisata yang dimaksud adalah semua fasilitas yang dibutuhkan dalam perencanaan kawasan wisata. Fasilitas tersebut termasuk tour and travel operations (disebut juga pelayanan penyambutan). Fasilitas tersebut misalnya: restoran dan berbagai jenis tempat makan lainnya, toko-toko untuk menjual hasil kerajinan tangan, cinderamata, toko-toko khusus, toko kelontong, bank, tempat penukaran uang dan fasilitas pelayanan keuangan lainnya, kantor informasi wisata, pelayanan pribadi (seperti salon kecantikan), fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas keamanan umum (termasuk kantor polisi dan pemadam kebakaran), dan fasilitas perjalanan untuk masuk dan keluar (seperti kantor imigrasi dan bea cukai).

d) Fasilitas dan Pelayanan Transportasi

Meliputi transportasi akses dari dan menuju kawasan wisata, transportasi internal yang menghubungkan atraksi utama kawasan wisata dan kawasan pembangunan, termasuk semua jenis fasilitas dan pelayanan yang berhubungan dengan transportasi darat, air, dan udara.

e) Infrastruktur Lain

Infrastruktur yang dimaksud adalah penyediaan air bersih, listrik, drainase, saluran air kotor, telekomunikasi (seperti: telepon, telegram, faksimili, dan radio).

f) Elemen Kelembagaan

(23)

8

Mitigasi Bencana

Menurut Pusat Pendidikan Mitigasi Bencana (P2MB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi bencana merupakan suatu aktivitas yang berperan sebagai suatu tindakan pengurangan dampak bencana, atau usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi korban jiwa maupun harta. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (2009), dikemukakan bahwa pengertian mitigasi adalah gabungan dari ke tiga kegiatan yaitu pencegahan, penanggulangan dan kesiap-siagaan, yang dilakukan sebelum bencana tsunami terjadi, dapat pula diartikan sebagai segala upaya untuk mengurangi besarnya risiko bencana yang mungkin terjadi. Kegiatan mitigasi terbagi atas dua bagian yaitu struktural dan non-struktural. Program mitigasi yang baik seharusnya didukung oleh adanya pemantauan, sistem peringatan dini, penelitian komprehensif, pelatihan dan sosialisasi, serta sistem perundang-undangan.

Dalam melakukan suatu tindakan mitigasi bencana, harus dilakukan kajian tehadap resiko bencana terlebih dahulu yang mempunyai potensi bencana pada daerah/objek yang dikaji. Dalam menghitung potensi bencana, terdapat empat parameter yang dijadikan acuan antara lain;

a) Vunerability (Kerentanan) adalah rangkain kondisi yang menentukan apakah bahaya dapat menimbulkan bencana atau tidak. Jenis-jenis kerentanan adalah kerentanan fisik (bangunan, infrastruktur, dan lainnya), kerentanan sosial (kemiskinana, konflik, lingkungan, dan lainnya), dan kerentanan mental (ketidaktahuan, tidak menyadar, kurang percaya diri, dan lainnya).

b) Capacity (Kapasitas) adalah kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap situasi tertentu dengan sumberdaya yang tersedia, baik fisik, manusia, alam, dan lainnya. Kapasitas ini merupakan sutau kearifan lokal yang diceritakan turun-temurun.

c) Risk (Resiko bencana) adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa yang terancam, hilangnya rasa aman, dan lainnya.

Mitigasi Tsunami

Indonesia memiliki potensi tsunami yang cukup tinggi, hal ini dikarenakan secara geografis berada berada di daerah tektonik aktif tempat interaksi empat lempeng aktif (Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Carolina/Pasifik, dan Lempeng Laut Filipina) yang merupakan daerah rawan gempa. Untuk itu perlu dilakukan upaya mitigasi tsunami agar dampak bencana tsunami dapat diminimalisir. Menurut Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemenristek RI), mitigasi tsunami yang baik setidaknya didukung oleh hal-hal sebagai berikut:

a) riset yang komperhensif mengenai tsunami, b) sistem pemantau gempa,

(24)

9

adalah TREMORS (Tsunami Risk Evaluation trough Seismic Moment from Real-timeSystem),

d) pengembangan peta zonasi tsunami,

e) pengembangan teknologi proteksi pantai, dan f) sosialisasi kepada masyarakat.

Upaya mitigasi terhadap bencana tsunami dapat dilakukan dengan membangun bangunan/struktur tahan tsunami dan gempa. Bangunan tersebut dapat berupa bangunan perlindungan pantai ataupun gedung. Bangunan pantai adalah suatu bangunan yang dipergunakan dalam upaya perlindungan pantai atau bangunan sebagai infrastruktur pemanfaatan pantai. Bangunan perlindungan pantai dipergunakan untuk melindungi pantai dari gaya dinamis yang ditimbulkan oleh gelombang dan arus pantai, sedangkan bangunan sebagai infrastruktur pemanfaatan pantai adalah bangunan yang didirikan di pantai dalam rangka pendayagunaan potensi maupun ruang pantai. Berikut ini diberikan beberapa contoh bangunan/struktur mitigasi tsunami dan fungsinya.

a) Breakwater

Breakwater dibangun untuk melindungi gempuran gelombang dengan harapan pada daerah yang dilindungi akan terjadi gelombang yang relatif lebih kecil.

Breakwater digunakan untuk melindungi infrastruktur pantai seperti pelabuhan, tempat rekreasi, dan lain-lain. Breakwater juga dapat digunakan sebagai pembatas pada perairan suatu kawasan. Bangunan ini biasa dibangun diantara perairan pelabuhan dan laut. Ilustrasi struktur breakwater dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4 Ilustrasi struktur breakwater

Sumber: constructionmanuals.tpub.com

b) Dinding Penahan Gelombang (Sea Wall)

(25)

10

Gambar 5 Ilustrasis struktur sea wall

Sumber gambar: JICA Study Team (2005)

c) Embankment

Embankment memegang peranan untuk mencegah air setelah melewati

breakwater. Keberadaan embankment cukup penting karena breakwater tidak dapat mencegah air secara keseluruhan sehingga embankment dapat membantu menghentikan rambatan gelombang kearah daratan. Ilustasi struktur

embankment dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6 Ilustrasi struktur embankment

Sumber gambar: JICA Study Team (2005)

d) Coastal Forest

Sea wall dan breakwater adalah struktur buatan untuk melawan gelombang/tsunami. Namun perlu dicatat bahwa pembangunan dan pemeliharaan struktur tersebut memerlukan biaya cukup tinggi dan dapat merubah kondisi lingkungan di sepanjang pantai sehingga coastal forest atau hutan pantai dijadikan alternatif pelindung area pantai. Ilustrasi coastal forest

pada gambar 7.

Gambar 7 Ilustrasi coastal forest

(26)

11

e) Groin

Groin adalah bangunan yang dipasang tegak lurus garis pantai, bangunan ini bertujuan menangkap sedimen akibat transpor sedimen sejajar pantai, dalam kapasitas dan elevasi tertentu dengan maksud pengendalian garis pantai. Biasanya groin ini dibangun secara seri, sehingga setelah dalam siklus waktu tertentu terisi sedimen sebagaimana yang dikehendaki. Ilustrasi struktur groin

dapat dilihat pada gambar 8.

Gambar 8 Ilustrasi struktur groin

Sumber: www.fhwa.dot.gov

f) Tsunami Escape Building.

Tsunami Escape Building dibangun sebagai pusat evakuasi bagi masyarakat sekitar yang tinggal disepanjang garis pantai bila sewaktu-waktu bahaya tsunami mengancam jiwa penduduk. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat pendaratan helikopter guna memberikan bantuan kepada korban tsunami. Ilustrasi Tsunami Escape Building dapat dilihat pada gambar 9.

Gambar 9 Ilustrasi Tsunami Escape Building

(27)

12

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Gampong Ulee Lheue (Dusun Tongkol dan Kakap), Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh dengan letak koordinat 50 33’ 30” LU - 50 33’ 50” LU dan 95 017’

00” BT - 950 17’ 30” BT. Kegiatan penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari 2014 hingga Desember 2014. Peta lokasi penelitian disajikan pada gambar 10.

Gambar 10 Peta lokasi penelitian

Sumber gambar: BAPPEDA Kota Banda Aceh dan Google Earth

Batas tapak adalah sebagai berikut:

Batas Utara: Selat Malaka Batas Selatan: Gampong Ulee Lheue Batas Timur: Gampong Deah Gelumpang Batas Barat: Selat Malaka

Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan untuk menunjang penelitian ini, antara lain; peta dasar sebagai acuan dalam proses mendesain dan software untuk mendesain, seperti: AutoCad 2010, Adobe Photoshop CS3, dan SketchUp 8 Pro. Untuk pelaporan dan pendataan menggunakan Microsoft Word 2013, Microsoft Excel 2013, dan lainnya. Alat yang diperlukan, antara lain; digital camera untuk dokumentasi lapang, alat gambar (pensil warna, marker, penggaris skala, dan lainnya), alat tulis (pensil, penghapus, dan pulpen), dan alat survei (Global Positioning System/GPS).

Batasan Penelitian

Batasan pada penelitian ini adalah perancangan lanskap yang menghasilkan luaran berupa siteplan dan gambar detil (gambar tampak, gambar potongan, rencana penanaman, gambarperspektif, dan detil perancangan).

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian adalah sebagai berikut: a) Inventarisasi

(28)

13

 Studi pustaka diperoleh dari buku/jurnal ilmiah dan peta dari berbagai instansi/ balai penelitian.

 Wawancara dilakukan kepada pengunjung/wisatawan, pengelola kawasan wisata (Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh) dan masyarakat (perangkat gampong, tokoh masyarakat, ulama, pemuka adat, dan masyarakat umum). Selain wawancara, informasi dari pengunjung/wisatawan juga didapatkan melalui penyebaran kuesioner. Total kuesioner yang disebar berjumlah 30 responden. Tujuan penyebaran kuesioner adalah mengetahui preferensi, presepsi dan harapan masyarakat terkait perancangan lanskap Memorial Park.

b) Analisis dan sintesis

Secara umum, analisis dilakukan dengan metode analisis spasial dan deskriptif.

 Aspek pengunjung/wisatawan.

Kenyamanan pengunjung/wisatawan merupakan indikator yang penting dalam merancang suatu kawasan wisata. Untuk itu, diperlukan analisis terhadap daya dukung/daya tampung tapak. Daya tampung tapak diukur digunakan dengan rumus menurut Boulon dalam Nurisjah (2003), sebagai berikut:

Pengukuran kenyamanan iklim diperlukan juga mengetahui pengaruh tingkat kenyaman kawasan terhadap pengunjung/wisatawan. Ukuran kenyamanan dapat diukur dengan rumus berikut:

dengan:

T = suhu udara (oC) dan RH = kelembaban nisbi udara (%) Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian yang digunakan merupakan modifikasi dari Booth (1983). Berikut adalah alur tahapan penelitiannya (gambar 11):

Gambar 11 Alur tahapan penelitian Booth (1983) dan alur modifikasi

- Penentuan lokasi dan batas tapak - Perumusan masalah

- Penetapan tujuan penelitian - Penyusunan usulan penelitian - Perizinan penelitian

Project Acceptance

Research and Analysis

Construction Drawing Concept and Design

- Inventarisasi tapak - Analisis dan Sintesis

- Konsep dan pengembangan - Studi bentuk perancangan - Siteplan

- Gambar detil

Studi dan Analisis

(29)

14

Persiapan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, antara lain; penentuan lokasi dan batas tapak, perumusan masalah pada tapak, penetapkan tujuan penelitian, setelah itu dilakukan penyusunan usulan penelitian, serta mengurus perizinan penelitian yang ditujukan kepada Pemerintah Daerah/instansi terkait.

Studi dan analisis

Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a) Inventarisasi merupakan kegiatan mengumpulkan data terkait tapak, baik berupa data primer maupun sekunder. Tujuannya agar sebanyak mungkin didapatkan informasi yang akurat dan aktual. Data yang dibutuhkan mencakup aspek fisik dan biofisik, aspek sosial ekonomi, aspek sejarah budaya, aspek wisata, aspek oseanografi, dan aspek legal. Untuk jenis dan indikator pengamatan dari berbagai aspek tersebut dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Jenis dan indikator pengamatan

Indikator Pengamatan Unit

Data Sumber Data

Cara Pengambilan Data

Kategori Data Aspek Fisik dan Biofisik

Lokasi dan Batas Tapak  BAPPEDA Kota Banda Aceh dan Provinsi Aceh

Studi Pustaka Sekunder

Luas Tapak m2 BAPPEDA Kota

Banda Aceh dan Provinsi Aceh

Studi Pustaka Sekunder

Potensi Bencana  TDMRC Universitas Syiah

Kuala

Studi Pustaka Sekunder

Topografi mdpl GIS Center Kota Banda Aceh dan Provinsi Aceh

Studi Pustaka Sekunder

Geologi dan Geoteknik  TDMRC Studi Pustaka Sekunder Vegetasi species Lapang Pengamatan

langsung

Primer

Aksesibilitas dan Sirkulasi  Lapang Pengamatan langsung

Studi Pustaka Sekunder

 Suhu 0C BMKG Kota

Banda Aceh

Studi Pustaka Sekunder

 Kelembaban % BMKG Kota Banda Aceh

Studi Pustaka Sekunder

 Kecepatan angin knot BMKG Kota Banda Aceh

Studi Pustaka Sekunder

 Lama penyinaran matahari

Cal/cm2 BMKG Kota

Banda Aceh

Studi Pustaka Sekunder

(30)

15

Indikator Pengamatan Unit

Data Sumber Data

Cara Pengambilan Data

Kategori Data Aspek Sosial dan Ekonomi

Penduduk Lokal

 Profil Penduduk  Kantor Gampong Ulee Lheue dan

 Profil Gampong  Kantor Gampong Ulee Lheue dan Aspek Sejarah dan Budaya

Sejarah Kawasan  Literatur Studi Pustaka Sekunder Budaya Masyarakat Lokal  Kantor Gampong

Ulee Lheue

 Presepsi dan harapan pengunjung

 Lapang Wawancara dan kuisioner

Primer

Pengelola  Disbudpar Kota Banda Aceh

Wawancara Primer

Aspek Oseanografi

Pasang surut  Hidro-Oseanografi

 Sekunder

Arus laut cm/detik BMKG  Sekunder

Tinggi gelombang laut meter BMKG  Sekunder Aspek Legal

RTRW Banda Aceh  Dinas Pekerjaan Umum Kota Banda Aceh

(31)

16

Indikator Pengamatan Unit

Data Sumber Data

Cara Pengambilan Data

Kategori Data Qanun Banda Aceh  BAPPEDA Kota  Sekunder

b) Analisis dan sintesis tapak dilakukan untuk mengetahui potensi dan kendala pada tapak. Analisis dan sintesis dilakukan memberikan alternatif perancangan yang tepat dan sesuai dengan kondisi tapak. Analisis yang dilakukan dengan metode analisis spasial dan analisis deskriptif. Hasil analisis yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk peta dan penjabaran secara deskriptif. Setelah itu, dilanjutkan ke tahap sintesis. Pada tahap sintesis akan diketahui pengembangan apa saja yang dapat dilakukan dan untuk menentukan konsep dasar serta pengembangannya.

Proses perancangan

Pada tahap ini dilakukan kegiatan sebagai berikut:

a) konsep yang akan diusung dalam perancangan pada tapak, terdiri atas konsep dasar, konsep desain dan pengembangannya (konsep ruang, aktivitas, dan fasilitas; sirkulasi; vegetasi; warna dan suasana; serta konsep visual). Konsep ruang menjelaskan mengenai konsep tata ruang dan zonasi yang akan diaplikasikan pada tapak. Konsep aktivitas dan fasilitas menjelaskan tentang fasilitas yang akan dirancang untuk menunjang aktivitas wisata serta upaya mitigasi bencana; Konsep sirkulasi mencakup sirkulasi jalur kendaraan, jalur

pedestrian, dan jalur evakuasi bencana; Konsep vegetasi mencakup pemilihan vegetasi yang sesuai dengan fungsi ekologis dan arsitektural pada tapak; Konsep warna dan suasana menjelaskan mengenai warna apa saja yang aplikasikan pada elemen lanskap serta pengaruhnya terhadap suasana pada tapak; Konsep visual menjelaskan mengenai visibilitas apa saja yang akan ditonjolkan pada tapak. Hasil dari konsep berupa blockplan (rencana blok), b) studi bentuk perancangan merupakan kajian bentuk perancangan yang akan

ditransformasikan ke tapak disesuaikan dengan standar yang berlaku. Studi bentuk disesuaikan dengan konsep yang telah ditentukan sebelumnya,

c) siteplan merupakan hasil dari aplikasi perancangan berdasarkan evaluasi terhadap konsep serta studi bentuk perancangan, dan

d) gambar detil pada tahap kegiatan ini berupa gambar tampak potongan, rencana penanaman, perspektif, serta detil perancangan. Berikut masing-masing penjabarannya:

 gambar tampak potongan merupakan gambar irisan bangunan/denah maupun siteplan yang memuat informasi mengenai dimensi atau ukuran,

 rencana penanaman merupakan suatu konsep penanaman mulai tanaman penutup tanah hingga pohon beserta spesifikasinya, dan

 gambar perspektif merupakan gambar 3D yang digunakan sebagai visualisasi tapak yang dirancang agar gambarannya lebih jelas dan lebih mudah dipahami banyak orang.

(32)

17

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

Aspek Fisik dan Biofisik

Aspek fisik dan biofisik yang diinventarisasi dalam perancangan lanskap

Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, antara lain;

Lokasi dan Batas Tapak

Lokasi penelitian dilakukan di Dusun Tongkol dan Dusun Kakap, Gampong Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh (Gambar 12). Luas tapak adalah 27.10 Ha atau 21.10 % dari luas keseluruhan Gampong Ulee Lheue (Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional/Bakosurtanal, luas keseluruhan Gampong Ulee Lheue adalah 128.40 Hadengan daratan seluas 67.50 Ha). Ulee Lheue merupakan ibukota kecamatan dari Kecamatan Meuraxa.

Gambar 12 Orientasi dan batas tapak Sumber gambar: Google Earth

(33)

18

Gambar 13 Kondisi tapak pra dan pasca-tsunami Sumber gambar: Foto Citra GIS Center BAPEDDA Kota Banda Aceh

Potensi Bencana

Menurut pengamatan USGS, gempa dahsyat yang terjadi pada tanggal 26 -Desember 2004 pukul 00:58:50.76 AM (GMT) atau 07.58 WIB. Magnitude gempa adalah M=9.0 pada hypocenter dengan kedalaman 30 km di bawah permukaan laut. Pusat gempa berlokasi pada 3.3160 LU, 95.8540 BT, sekitar 149 km selatan Kota Meulaboh dan 250 km utara Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Gempa ini merupakan tipe gempa mekanisme subduksi dimana lempeng Indian-Australian menunjam lempeng Eurasia. Gempa utama Aceh diikuti gempa susulan di Pulau Nicobar (M=7.5) dan Pulau Andaman (M=6.2).

Berdasarkan peta zona gempa Indonesia Menurut “SNI-1726-2002” (gambar 14), Lokasi tapak masuk kategori pada zona gempa 4: 0.20 g yang berwarna kuning. Daerah yang berwarna kuning menandakan bahwa daerah tersebut tingkat terjadi gempanya tinggi. Dalam mengukur kerusakan bangunan dengan cara wilayah gempa dikalikan dengan g (percepatan grafitasi bumi = 9.81 m/det), sebagai contoh gempa yang terjadi di Ulee adalah 0.2 dikalikan 9.81 m/det = 1.96 m/det. Hal ini menunjukkan pada saat gempa terjadi, percepatan tanahnya sebesar 1.96 m/det yang berpengaruh terhadap struktur bangunan. Untuk peta dampak limpasan tsunami dapat dilihat pada gambar 15.

(34)

19

Gambar 14 Peta zona gempa Sumber gambar: SNI-1726-2002

Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) terhitung sampai dengan Juni 2014, tercatat telah terjadi beberapa kali gempa yang berpotensi tsunami pasca peristiwa tsunami tahun 2004. Gempa terbesar terjadi pada tanggal 11 Januari 2012 dan 11 April 2012 (lihat tabel 2). Dari delapan gempa yang terjadi, semuanya berlokasi di barat daya Banda Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa daerah Banda Aceh masih sangat tinggi potensi tsunami yang dipicu oleh gempa bumi. Tabel 2 Gempa yang berpontesi tsunami

(35)

20

Ga

mbar

15 P

eta

d

ampak

li

mpasa

n tsun

(36)

21

Topografi, Geologi, dan Geoteknik

Menurut Satuan Kerja Perencanaan dan Pengendalian Bidang Citra Karya Provinsi Aceh (Randala Aceh), kondisi topografi (ketinggian) Kota Banda Aceh berkisar antara -0,45 mdpl sampai dengan +1,00 mdpl dengan rata-rata ketinggian 0,80 mdpl (Tampak potongan kondisi eksisting tapak dapat dilihat pada gambar 16) Untuk kemiringannya (lereng) pada tapak berkisar antara 0-8%. Bentuk permukaan ini menandakan bahwa tingkat erosinya relatif rendah, namun rentan adanya genangan khususnya pada saat terjadinya pasang dan gelombang air laut di wilayah bagian utara atau pesisir pantai. Peta kemiringan lahan dapat dilihat pada gambar 17.

Gambar 16 Tampak potongan kondisi eksisting tapak Sumber: Pengamatan Lapang

Kondisi geologi permukaan Gampong Ulee Lheue merupakan area endapan alluvium, seperti endapan alluvium “Qh” yang merupakan endapan yang umumnya berbentuk biogenic (material batu lempung lapuk), lempung, lanau, dan lanau kepasiran. Terdiri atas kerikil, pasir, lumpur, dan batu lempung dengan fragmentasi lokal, dan coral reef dengan ketebalan mencapai 75-100 meter yang berumur

Holocone. Material alluvium biasanya terdapat di wilayah sempadan pantai dan sempadan sungai, dan Gampong Ulee Lheue termasuk wilayah sempadan pantai.

Kondisi geoteknik di dekat area pelabuhan Ulee Lheue, kedalaman 0-3 m terdiri dari tanah pasir kelanauan, 3-6.5 m berupa tanah pasir kelanauan berbutir halus (N=27), 6.5-10 berupa tanah pasir kelanauan berbutir halus (N=43), 10-12 m merupakan tanah pasir kelanauan berbutir halus sampai kasar, sangat padat (N=56), 12-20 m terdiri dari tanah pasir kelanauan berbutir halus dan lanau lempung berpasir (N=39).

Hidrologi

(37)

22

Ga

mbar

17 P

eta k

emi

ringa

n laha

(38)

23

Gambar 18 Kondisi drainase tapak Sumber gambar: Dokumentasi lapang

Vegetasi

Kondisi vegetasi eksisting tapak dibedakan menjadi dua segmen, yakni vegetasi pada sempadan pantai dan vegetasi pada jalan (Peta seberan vegetasi dapat dilihat pada gambar 19). Vegetasi yang terdapat pada sempadan pantai adalah vegetasi yang fungsinya melindungi pantai dari hempasan badai, angin, pengendalian pencemaran, penahan intrusi air laut, pengatur iklim, sumber plasama nutfah, dan benteng wilayah daratan dari pengaruh negatif dinamika laut. Vegetasi pada jalan bertujuan sebagai pengarah bagi pengguna jalan dan menambah nilai estetika pada jalan tersebut. Fungsi utama vegetasi pada jalan adalah untuk mereduksi pencemaran lingkungan akibat kendaraan bermotor dan meningkatkan kualitas iklim mikro. Berikut daftar vegetasi pada tapak (tabel 3).

(39)

24

pantai Penahan abrasi

 12

(40)

25

pantai Penahan abrasi

 14

pantai Penahan abrasi

 15

Teki Laut/

Cyperus maritimus

Cyperaceae Sempadan

pantai Penahan abrasi

 16

pantai Penahan abrasi

Sumber gambar: www.google.com dan dokumentasi lapang

Aksesibilitas dan Sirkulasi

Aksesibilitas merupakan tingkat kemudahan untuk mencapai suatu wilayah atau kawasan tertentu. Dalam hal ini adalah tingkat kemudahan untuk mencapai Gampong Ulee Lheue sebagai kawasan wisata. Jarak dan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi ke daerah wisata merupakan hal yang penting. Ulee Lheue merupakan kawasan yang strategis karena untuk mencapainya aksesnya sangat mudah, baik menggunakan jalur darat, laut maupun udara. Untuk akses dalam kota dapat melalui Jalan Iskandar Muda yang diteruskan ke Jalan Pelabuhan Lama Ulee Lheue, sedangkan untuk akses luar kota dapat melalui Jalan Iskandar Muda atau Jalan Banda Aceh-Meulaboh (gambar 20).

Pada jalur darat dapat menggunakan kendaraan pribadi, seperti: mobil, sepeda motor, sepeda, dan lainnya. Bila mengakses dengan kendaraan umum dapat menggunakan moda kendaraan, seperti: becak motor dan labi-labi (angkutan umum kota khas Aceh). Hanya saja jumlah labi-labi yang melayani trayek Ulee Lheue jumlahnya sangat terbatas. Hal ini diakibatkan oleh berkurangnya pengunjung/wisatawan yang menggunakan jasa transportasi labi-labi karena lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Untuk wisatawan yang berasal dari tempat yang jauh (luar kota/luar daerah/luar negeri), transportasi umum yang dapat digunakan, antara lain; kapal feri, bus, dan pesawat terbang.

(41)

26

Ga

mbar

19 P

eta s

eba

ra

n

v

ege

(42)

27

Gambar 20 Aksesibilitas menuju tapak Sumber gambar: Google Earth dan Pengamatan lapang

Tipikal Jalan Pelabuhan Lama Ulee Lheue adalah arteri sekunder. Jalan ini dirancang berdasarkan kecepatan minimum adalah 30 km/jam dengan lebar badan jalan minimum adalah 11 meter. Pada jalur ini tersedia jalur khusus untuk sepeda dan kendaraan lambat lainnya. Untuk kendaraan barang ringan, angkutan umum kota, serta bus dapat diijinkan melalui jalan ini. Ilustrasi tipikal jalan Pelabuhan Lama Ulee Lheue dapat dilihat pada gambar 21.

Gambar 21 Tampak potongan jalur sirkulasi eksisting Sumber: Pengamatan lapang

(43)

28

Gambar 22 Skema aksesibilitas Sumber: Google Maps dan Pengamatan lapang

Sebagai kawasan yang rawan bencana khususnya tsunami, akses menuju area/fasilitas evakuasi harus dapat dicapai semudah mungkin. Pada tapak sendiri hingga saat ini belum ada area/fasilitas evakuasi. Namun, disekitar tapak terdapat empat area/fasilitas evakuasi yang jaraknya kurang dari 4 km. Fasilitas tersebut berupa tsunami escape building yang terletak di Gampong Lambung, Gampong Deah Geulumpang dan Gampong Alue Deah Teungoh. Selain itu Gedung Tsunami Disaster and Mitigation Research Centre (TDMRC) juga memiliki fungsi sebagai tsunami

Escape Building. Berikut adalah jarak tapak serta akses jalan menuju ke Tsunami

Escape Building:

a) Tapak - TDMRC = 0.5 km via Jalan Iskandar Muda.

b) Tapak - Tsunami Escape Building Deah Glumpang = 1.7 km via Jalan Iskandar Muda dan Jalan Baro.

c) Tapak - Tsunami Escape Building Lambung = 2.3 km via Jalan Iskandar Muda. d) Tapak -Tsunami Escape Building Deah Teungoh = 3.2 km via Jalan Iskandar

Muda.

Selain kemudahan akses menuju area/fasilitas evakuasi bencana, akses menuju objek wisata tsunami juga tergolong mudah. Jalur wisata tsunami dapat dilihat pada gambar 23.

Berikut adalah jarak tapak serta akses jalan menuju ke objek wisata tsunami: a) Tapak - Masjid Baiturrahim = 0.4 km via Jalan Iskandar Muda.

b) Tapak - Kuburan Massal Meuraxa = 1.2 km via Jalan Iskandar Muda. c) Tapak - PLTD Apung = 4 km via Jalan Iskandar Muda.

d) Tapak - Monumen Thanks To The World = 4.2 km via Jalan Iskandar Muda. e) Tapak - Museum Tsunami = 4.4 km via Jalan Iskandar Muda.

f) Tapak - Masjid Baiturrahman = 4.6 km via Jalan Iskandar Muda dan Soekarno-Hatta.

(44)

29

Gambar 23 Jalur wisata tsunami di Kota Banda Aceh Sumber gambar: (Peta) Google Maps; (1,2,3, dan 6) Dokumentasi pribadi; (4) indonesiavisit.info; (5) bacatransportasi.com; (7) 3bp.blospot.com; (8)

megaensiklopedia.blogspot.com

Iklim

Berdasarkan data dari BMKG Stasiun Meteorologi Blang Bintang, diketahui bahwa rata-rata curah hujan di Kota Banda Aceh adalah 105,6 mm. Daerah ini mengalami musim kemarau pada bulan Januari sampai Agustus, sedangkan musim hujan berlangsung dari bulan September sampai Desember. Pada tahun 2012, suhu rata-rata Kota Banda Aceh adalah 27.200C dan pada tahun 2013 suhu rata-ratanya

lebih rendah, yakni 27.030C (Tabel 4). Kelembaban udaranya bervariasi antara 68 – 85 % dengan kecepatan angin 4.90 knot. Rata –rata hari hujannya adalah 13 hari dan rata–rata penyinaran mataharinya adalah 52.2 Cal/cm2.

Tabel 4 Data iklim Kota Banda Aceh tahun 2012-2013

Tahun Bulan

ke-Suhu rata-rata

Suhu maks (Rata-rata/bulan)

Suhu min (Rata-rata/bulan)

Presipasi Presipasi

Normal

0C 0C 0C mm mm

2012 1 26.10 31.30 22.90 92 163.90

2012 1 26.10 31.30 22.90 92 163.90

2012 2 26.40 32.20 22.90 78 98

2012 3 26.70 31.90 22.60 100 194.50

2012 4 26.80 33.10 22.70 79 117

2012 5 27.50 33.70 23.30 98 149.70

2012 6 28.30 34.60 22.60 41 67.80

2012 7 27.80 34.10 23 28 114.70

2012 8 27.60 33.80 23 39 92.60

2012 9 27.60 33.30 23.10 78 125.90

2012 10 26.40 32 23.10 117 194.20

2012 11 - - - - 202.60

2012 12 26.40 31.40 23.50 150 209.80

2013 2 26.30 30.90 23 136 98

(45)

30

Tahun Bulan

ke-Suhu rata-rata

Suhu maks (Rata-rata/bulan)

Suhu min (Rata-rata/bulan)

Presipasi Presipasi

Normal

0C 0C 0C mm mm

2013 4 27.30 33.30 23.50 106 117

2013 5 27.30 33.30 - 131 149.70

2013 6 28 33.60 23.60 168 67.80

2013 7 27.60 33.60 22.30 84 114.70

2013 8 27 33.30 22.20 40 92.60

2013 9 - - - - 125.90

2013 10 - - - - 194.20

2013 11 26.30 31.80 22.20 150 202.60

2013 12 26.10 31.20 22.80 215 209.80

Sumber: BMKG Stasiun Meteorologi Blang Bintang

Penutupan dan Penggunaan Lahan

Di Gampong Ulee Lheue, sebagian besar alokasi penggunaan lahan untuk area wisata. Tidak ada penggunaan lahan untuk sarana pendidikan (Sekolah), hutan, sawah, kebun, ladang, kolam dan perkebunan. Untuk sarana peribadatan (Masjid) terdapat dua masjid (Masjid Baiturrahim dan Masjid Pelabuhan Ulee Lheue) dan untuk sarana kesehatan terdapat satu buah (Posyandu). Area lahan/tanah di yang dijadikan bangunan/pekarangan seluas 67.50 Ha. Menurut Data Potensi Desa (PODES), pemanfaatan laut pada gampong-gampong di Kecamatan Meuraxa pada tahun 2012 adalah sebagai area perikanan tangkap, area perikanan budidaya, wisata bahari, transportasi umum dan hutan mangrove.

Visual

Lokasi visual terbaik pada bagian utara tapak adalah (Pantai Ceureumen), apabila hari cerah, akan terlihat Pulau Weh dan pulau-pulau di sekitarnya. Pada bagian selatan tapak terdapat pantai yang bersih dan hutan mangrove.Waktu terbaik secara visual adalah saat matahari terbit (sekitar pukul 05.30) dan matahari tenggelam (sekitar pukul 19.00). Good view pada tapak dapat dilihat pada gambar 24.

Gambar 24 Good view pada tapak

(46)

31

Pada tapak, terdapat beberapa bagian yang terlihat kurang menarik secara visual/bad view (gambar 25). Bad view pada tapak, antara lain; tenda-tenda penjual makanan yang kurang tertata dengan baik dan sebagian tempatnya mengambil badan jalan. Selain itu, terdapat tumpukan sampah pada beberapa titik serta berdirinya rumah-rumah ilegal non-permanen.

Gambar 25 Bad view pada tapak

Sumber gambar: Google Earth dan Dokumentasi Lapang

Aspek Sosial dan Ekonomi

Aspek sosial dan ekonomi yang diinventarisasi dalam perancangan lanskap

Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, antara lain; Penduduk Lokal

Menurut Koordinator Statistik Kecamatan Meuraxa, jumlah penduduk tahun 2004 adalah 4.154 jiwa mengalami penurunan jumlah pada tahun 2005 yakni menjadi 1.129 jiwa. Hal ini disebabkan karena sebagian besar warga Ulee Lheue meninggal dunia pada peristiwa tsunami di akhir tahun 2004. Berdasarkan data dari

(47)

32

hanya satu, yakni: Masjid Baiturrahim dan tidak ada sarana pendidikan. Sarana kesehatan yang tersedia hanya sebuah Posyandu dan tidak ada tenaga kesehatan, tetapi banyak tersedia toko khusus obat/ jamu. Tidak ada fasilitas olahraga yang tersedia pada Gampong Ulee Lheue.

Organisasi Masyarakat dan Perangkat Pemerintahan

Berdasarkan Qanun Provinsi Aceh Nomor 5 Tahun 2003, Gampong

merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Republik Indonesia.

Gampong bukanlah bawahan Sagoe Cut (kecamatan) karena Sagoe Cut merupakan perangkat daerah Sagoe (kabupaten) atau kota, sedangkan gampong bukan merupakan bagian dari perangkat daerah. Secara struktur, gampong berada dibawah mukim yang dipimpin oleh Kepala Mukim. Berbeda dengan kelurahan, gampong

memiliki hak mengatur wilayahnya secara lebih luas.

Badan perwakilan Gampong disebut Tuha Peut yang terdiri dari kalangan ulama, tokoh adat, pemuka masyarakat, dan cerdik pandai yang ada di gampong

bersangkutan. Lembaga eksekutif Gampong, terdiri atas Keuchik dan Teungku Imeum Meunasah (Imam Masjid/ Alim Ulama) beserta perangkat gampong (sekretaris, bendahara, dan seksi bagian). Aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, adat istiadat ditetapkan oleh Keuchik setelah mendapat persetujuan Tuha Peut (Badan Perwakilan gampong yang terdiri atas ulama, tokoh adat, pemuka masyarakat, dan cerdik pandai). Persetujuan tersebut dinamakan Reusam Gampong. Dalam wilayah gampong terdapat sejumlah Dusun/Jurong yang dikepalai oleh Kepala Dusun/Jurong dan dibawah Dusun/Jurong terdapat beberapa lorong yang diketuai oleh Kepala lorong.

Aspek Sejarah dan Budaya

Aspek sejarah dan budaya yang diinventarisasi dalam perancangan lanskap

Memorial Park di Gampong Ulee Lheue, antara lain; Sejarah Kawasan

Ulee Lheue berasal dari dua suku kata, yakni Ulee (kepala) dan Lheue (yang terlepas). Sejarah pemberian nama ini karena dahulu daratan Ulee Lheue menyatu dengan Pulau Weh, namun akibat adanya letusan gunung berapilah akhirnya kawasan tersebut terpisah dan bentuknya seakan-akan seperti kepala yang terlepas. Gampong Ulee Lheue memiliki sejarah yang panjang bahkan sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Di Ulee Lheue-lah pertama kali pasukan Belanda mendarat pada maret 1873 dan mengawali invasinya di Aceh. Ulee Lheue juga merupakan salah satu gerbang masuk para pedagang dari Cina, India, Gujarat, dan Arab untuk masuk ke Indonesia sehingga banyak terjadi akulturasi budaya di wilayah ini. Akulturasi budaya tidak hanya terjadi dengan para pendatang dari luar Indonesia, tetapi akulturasi juga terjadi dengan suku-suku di luar Aceh, seperti: Jawa, Bugis, Betawi, dan lainnya.

Budaya Masyarakat Lokal

(48)

33

tenggang rasa dan rasa kekeluargaan yang erat antar warga gampong. Namun hal tersebut mengalami pergeseran pasca peristiwa tsunami.

Aspek Wisata

Aspek wisata yang diinventarisasi dalam perancangan lanskap Memorial Park

di Gampong Ulee Lheue, antara lain;

Jenis, Objek, dan Aktivitas Wisata

Terdapat beberapa jenis dan objek wisata yang menjadi andalan Gampong

Ulee Lheue, antara lain; wisata tsunami dan wisata pesisir. Wisata tsunami menjadi salah satu daya tarik bagi Gampong Ulee Lheue sekaligus bagi Kota Banda Aceh. Objek wisata yang berada di tapak adalah puing-puing bangunan sisa terjangan tsunami, sedangkan yang berada di luar tapak diantaranya: Masjid Baiturrahim Ulee Lheue; Kuburan Massal dan Gedung Ex-Rumah Sakit Meuraxa yang berada di Komplek Kuburan Massal Meuraxa; Kapal PLTD Apung, Monumen Tsunami, dan Taman Edukasi Tsunami yang berada di Gampong Punge Blang Cut; Museum Tsunami; Masjid Baiturrahman; Monumen Thanks to the World yang berada di Lapang Blang Padang; Kapal di atas Rumah di Lampulo. Jarak antar delapan lokasi ini tidak terlalu jauh sehingga sering dijadikan rute wisata tsunami oleh para pengunjung/wisatawan. Aktivitas yang biasa dilakukan pengunjung/wisatawan adalah berfoto, menikmati pemandangan, dan objek wisata. Lokasi objek wisata tsunami dapat dilihat pada gambar 26.

Gambar 26 Lokasi objek wisata tsunami di Kota Banda Aceh Sumber gambar : (Peta) Google Maps, (1,2,3,4,dan 6) dokumentasi lapang; (5) bacatransportasi.com; (7) 3bp.blospot.com; (8) megaensiklopedia.blogspot.com

Gambar

Gambar 13 Kondisi tapak pra dan pasca-tsunami
Gambar 14 Peta zona gempa
Gambar 15 Peta dampak limpasan tsunami
Gambar 17 Peta kemiringan lahan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pengetahuan, sikap dan pendidikan kepala keluarga terhadap kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi resiko bencana tsunami

Lanskap pantai atau tata ruang pantai rawan tsunami dikelompokan dalam beberapa ruang, yaitu (1) ruang wisata, merupakan ruang yang dimanfaatkan sebagai kegiatan wisata

Bencana gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 yang lalu, memberi dampak yang sangat besar bagi Gampong Pulot Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar, menghancurkan seluruh

Perubahan tersebut terlihat pada bagaimana pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan masyarakat dalam cara menghadapi bencana yang terus berubah mulai dari periode pra tsunami,

• Belum adanya sebuah bangunan memorial sebagai wadah bagi para kelurga korban di Nanggroe Aceh Darussalam untuk mengenang peristiwa dasyat Tsunami dan dapat berfungsi

4) Pemerintah Kota Banda Aceh juga harus segera mengantisipasi kemungkinan terulangnya bencana tsunami, khususnya level-1 tsunami (periode 100-150 tahun) yang dipicu oleh

PERSENTASE LUAS PERKEMBANGAN PERUMAHAN KOTA BANDA ACEH Dari gambar diagram diatas yang menjelaskan luas arah perkembangan kawasan permukiman pasca bencana tsunami pada

Perihal yang akan saya bahas dalam masalah ini adalah pemanfaatan dari salah satu jenis mitigasi yang bersifat struktural yaitu pemanfaatan gedung evakuasi tsunami atau tsu- nami escape