ANDINI YUDITA SARI
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Penggunaan Ekstrak Batang Pisang Ambon Musa paradisiaca untuk Pencegahan Infeksi Bakteri
Streptococcus agalactiae pada Ikan Nila Melalui Pakan” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dan tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Januari 2016
Andini Yudita Sari
ABSTRAK
ANDINI YUDITA SARI. Penggunaan Ekstrak Batang Pisang Ambon Musa paradisiaca untuk Pencegahan Infeksi Bakteri Streptococcus agalactiae pada Ikan Nila Melalui Pakan. Dibimbing oleh SRI NURYATI dan ALIMUDDIN.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak batang pisang Ambon Musa Paradisiaca terbaik yang ditambahkan ke dalam pakan sebagai upaya pencegahan infeksi bakteri S. agalactiae. Ikan nila dengan bobot 12,68±0,08 g dan panjang 7,50±0,30 cm dipelihara dalam akuarium berukuran 40 45 35 cm3 yang dilengkapi sistem aerasi dan kepadatan ikan 10 ekor per akuarium. Ekstrak batang pisang Ambon diperoleh dari pohon pisang yang telah dipanen dan diekstraksi dengan etanol 96%. Ekstrak batang pisang Ambon dicampurkan ke dalam pakan dengan konsentrasi 2 g/kg, 4 g/kg, dan 6 g/kg menggunakan metode coating. Pakan perlakuan diberikan selama 14 hari dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak tiga kali secara at satiation. Uji tantang dilakukan pada hari ke-15 dengan penyuntikan bakteri S. agalactiae sebanyak 0,2 mL (107 CFU/mL) secara intraperitoneal. Pengamatan tingkat kelangsungan hidup dilakukan selama 29 hari. Pengamatan gambaran darah dilakukan sebelum pemberian ekstrak batang pisang Ambon, hari ke-14 selama pemberian ekstrak batang pisang Ambon dan hari ke-14 setelah uji tantang. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan, yaitu: kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), A (2 g/kg), B (4 g/kg) dan C (6 g/kg), dan setiap perlakuan diberi 3 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dosis terbaik untuk pencegahan infeksi bakteri S. agalactiae pada ikan nila adalah 2 g/kg dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 87,50% atau 3,5 kali lebih besar dari K+ (25,00%). Kata kunci: Oreochromis niloticus, Musa paradisiaca, Streptococcus agalactiae
ABSTRACT
ANDINI YUDITA SARI. Ambon’s Banana Musa paradisiaca Stem Extract Utilization in order to Prevent Infections of Streptococcus agalactiae Bacteria in Tilapia by Feed. Supervised by SRI NURYATI and ALIMUDDIN.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan
pada
Departemen Budidaya Perairan
PENGGUNAAN EKSTRAK BATANG PISANG AMBON
Musa
paradisiaca
UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI
Streptococcus agalactiae
PADA IKAN NILA MELALUI PAKAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2016
Nama : Andini Yudita Sari
NIM : C14110032
Program Studi : Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya
Disetujui oleh
Dr. Sri Nuryati, S.Pi, M.Si Pembimbing I
Dr. Alimuddin, S.Pi, M.Sc Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr. Ir. Sukenda, M.Sc Ketua Departemen
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penggunaan Ekstrak Batang Pisang Ambon Musa paradisiaca untuk Pencegahan Infeksi Bakteri Streptococcus agalactiae pada Ikan Nila Melalui Pakan” di mana penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni–Agustus 2015 bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Laboratorium Percobaan Babakan, dan Laboratorium Lingkungan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dr. Sri Nuryati, M.Si selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak Dr. Alimuddin, S.Pi, M.Sc selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan motivasi selama ini.
2. Bapak Dr. Ir. Dedi Jusadi, M.Sc selaku dosen penguji tamu dan Bapak Ir. Dadang Shafrudin, MS selaku dosen komisi program studi atas kehadiran dan sarannya kepada penulis.
3. Bapak Drs. Musanto Yudoyoko, M.Sc, Ibu Tri Rusmayasari, Intan Aufa Dwi Saraswati, Bapak Moerlan dan keluarga besar yang selalu memberikan dukungan, kasih sayang, doa dan membantu kelancaran studi penulis.
4. Bapak Dr. Ir. Sukenda, M.Sc selaku Ketua Departemen Budidaya Perairan.
5. Rekan selama penelitian Dyah Anggun Paramita Indraswari yang selalu bersama dalam suka dan duka selama penelitian.
6. Rekan-rekan dari Budidaya Perairan Angkatan 48, LKI’ers (Mulyati Hasanah, Kiki Amalia, Ridhana Dwi, Hana Nafisah, May Silvani, Syifa Afianti, Fenti Nurul, Risma Suryani, Hesti Irissanti, Dian Novita, Dinda Januari, Ermianus Samalei, Iqbal Wijaya, Mufthi Rafsyanzani, Adel Sakeru dan Adhiet Yogi) serta penghuni Puri Tinogi I (Dewi Yuniati, Riska Diana, Dita Aditya, Amaliah, Amalia N. Huda, Dea Amiranitya, Gustin A. Urbeta, Febrina Rahmalina, dan Clara Yolandika) atas bantuan dan dukungannya.
7. Bapak Ranta, Kak Abung Maruli, Kak Dendi Hidayatulah, Kru Laboratorium MST (Hasan Nasrullah, Nurindah Rozi dan Lilis Nurjannah ), serta Kru Babakan (Hamzah Ihsan, Rahmadani, Prasetyo Dwi, Ari Ngastoni, Anna Nurkhasanah, Winy Yusrina, Uwatun Hasanah, Wulan Nurindah dan Ayi Siti Alfalah) atas arahan dan bantuannya.
8. Sahabat-sahabat tersayang (Rosy Nugraheni, Ariina Qonita, Nadia Nur Syahidah, Rahmarani Hakim dan Tina Wahyuning) atas dukungannya setiap hari kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi.
9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan usulan penelitian.
Semoga karya ilmah ini bermanfaat.
Bogor, Januari 2016
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... ii
DAFTAR GAMBAR ... ii
DAFTAR LAMPIRAN ... ii
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 1
METODE ... 2
Prosedur Penelitian ... 2
Parameter Penelitian Tingkat Kelangsungan Hidup ... 5
Jumlah Konsumsi Pakan ... 5
Biomassa Ikan ... 5
Gambaran Darah ... 6
Gejala Klinis ... 8
Analisis Data ... 8
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 9
Hasil ... 9
Pembahasan ... 15
KESIMPULAN ... 18
DAFTAR PUSTAKA ... 18
ii
DAFTAR TABEL
1 Penjabaran perlakuan ... 4 2 Kisaran suhu, pH, DO dan TAN selama pemeliharaan ... 5 3 SDM dan SDP ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan
selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 11 4 Kadar Hb dan Hc ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang
dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 12 5 Kisaran kadar limfosit (L), neutrofil (N), dan monosit (M) ikan nila
selama pemberian ekstrak batang pisang dan setelah uji tantang bakteri
S. agalactiae ... 13 6 Gejala klinis yang teramati selama 14 hari uji tantang bakteri S.
agalactiae ... 14
DAFTAR GAMBAR
1 Kelangsungan hidup ikan nila O. niloticus selama uji tantang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (a), perlakuan 4 g/kg, dan perlakuan 6 g/kg. Hasil yang berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05). ... 9 2 Jumlah konsumsi pakan (JKP) ikan nila O. niloticus selama pemberian
ekstrak batang pisang dan selama uji tantang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (a), perlakuan 4 g/kg, dan perlakuan 6 g/kg. ... 10 3 Biomassa ikan nila O. niloticus sebelum pemberian ekstrak batang pisang
dan selama pemberian ekstrak batang pisang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (a), perlakuan 4 g/kg, dan perlakuan 6 g/kg. Huruf yang berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).. ... 10 4 Aktivitas fagositik (AF) ikan nila O. niloticus selama pemberian ekstrak
batang pisang dan selama uji tantang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (a), perlakuan 4 g/kg, dan perlakuan 6 g/kg. Huruf yang berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).. ... 13 5 Nilai Respiratory burst (RB) ikan nila O. niloticus selama pemberian
ekstrak batang pisang dan selama uji tantang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (a), perlakuan 4 g/kg, dan perlakuan 6 g/kg. Huruf yang berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).. ... 14
DAFTAR LAMPIRAN
4 Analisis statistik tingkat kelangsungan hidup ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 22 5 Analisis statistik biomassa ikan nila sebelum pemberian ekstrak batang
pisang dan selama pemberian ekstrak batang pisang ... 22 6 Analisis statistik SDM ikan nila selama pemberian ekstrak batang
pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 23 7 Analisis statistik SDP ikan nila selama pemberian ekstrak batang
pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 24 8 Analisis statistik Hb ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang
dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 24 9 Analisis statistik Hc ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang
dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 25 10 Analisis statistik diferensial leukosit (L, N, dan M) ikan nila selama
pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 25 11 Analisis statistik AF ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang
dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 27 12 Analisis statistik RB ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang
dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae ... 27 13 Gejala klinis yang teramati selama 14 hari uji tantang bakteri S.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ikan nila Oreochromis niloticus merupakan salah satu ikan air tawar yang dibudidayakan secara intensif di Indonesia. Tetapi, pemeliharaan ikan dengan sistem intensif tanpa didukung dengan kualitas lingkungan yang baik akan memicu datangnya serangan penyakit. Salah satu penyakit yang umum menyerang ikan nila yaitu streptococcosis yang disebabkan oleh Streptococcus agalactiae. Evans et al. (2006) menyatakan bahwa S. agalactiae dapat menyebabkan mortalitas hingga 90% pada enam hari setelah injeksi. Gejala ikan nila terinfeksi penyakit Streptococcosis sebelum mengalami kematian di antaranya berenang tidak beraturan, tubuh membentuk huruf “C”, perubahan pada warna tubuh dan bukaan operkulumnya menjadi lebih cepat. Penanggulangan penyakit dapat dilakukan dengan upaya pencegahan dan pengobatan. Upaya pencegahan dan pengobatan penyakit pada ikan sistem budidaya sedang diarahkan pada penggunaan imunostimulan dari bahan alami yang terbukti efektif dan aman untuk manusia dan lingkungan (Sukenda et al. 2008).
Fitofarmaka merupakan obat dari bahan alam yang khasiatnya jelas dan terbuat dari bahan baku, baik berupa simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan minimal, sehingga terjamin keseragaman komponen aktif, keamanan dan kegunaannya (Dewoto 2007). Pengaplikasian fitofarmaka dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan metode injeksi, perendaman dan penambahan dalam pakan. Salah satu fitofarmaka yang dapat digunakan untuk mencegah infeksi dari bakteri adalah batang pisang. Berdasarkan hasil uji fitokimia yang dilakukan di Pusat Studi Biofarmaka IPB, ekstrak kental batang pisang terbukti mengandung saponin tanin, steroid, flavonoid, hidroquinon dan triterpenoid (Simanjuntak 2016). Flavonoid merupakan senyawa aktif yang memiliki sifat farmakologi berupa antijamur, antioksidan, antialergi, anti peradangan, antitrombotik, antikanker dan pertahanan hati (Apriasari et al. 2014) dan tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai astrigen, anti diare, antibakteri dan antioksidan (Malangngi et al. 2012).
Adapun penggunaan ekstrak kering batang pisang Ambon telah dilakukan sebelumnya dengan dosis sebesar 0,12 g/L dapat menghasilkan kelangsungan hidup pada ikan gurami sebesar 93,3% dibandingkan dengan kontrol sebesar 17,8% (Efrianti 2013) dan dosis 2% pada ikan lele dapat menghasilkan kelangsungan hidup sebesar 83,33% dibandingkan dengan kontrol positif sebesar 30% (Lidiawati 2014). Pada penelitian ini, ekstrak batang pisang Ambon dengan dosis berbeda diberikan melalui pakan untuk mendapatkan dosis yang memberikan kelangsungan hidup tertinggi pada ikan nila yang diinfeksi dengan S. agalactiae.
Tujuan Penelitian
2
METODE
Prosedur Penelitian
Pembuatan Ekstrak Batang Pisang
Penelitian ini menggunakan ekstrak batang pisang Ambon yang diperoleh dari pohon pisang Ambon di sekitar kampus IPB Darmaga yang telah dipanen pada saat musim kemarau. Batang pisang Ambon dipotong tipis dengan melintang. Batang pisang ditimbang dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi etanol 96% dengan perbandingan 1:10 (80 g batang pisang : 800 mL etanol 96%). Campuran dari keduanya dihomogenkan pada thermo shaker pada suhu 40 °C dengan kecepatan rotasi 150 rpm selama 24 jam. Setelah itu, ekstrak batang pisang diaduk dan disaring hingga diperoleh filtratnya. Filtrat yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 50 °C hingga diperoleh ekstrak kental (Ningsih et al. 2013). Pencampuran 80 g batang pisang dan 800 mL etanol menghasilkan sebanyak 1,6 g ekstrak kental batang pisang Ambon.
Penyediaan Bakteri Uji
Isolat bakteri S. agalactiae diperoleh dari Laboratorium Kesehatan Ikan, Budidaya Perairan, Insititut Pertanian Bogor. Bakteri dimurnikan terlebih dahulu melalui metode gores kuadran pada media BHIA (brain heart infusion agar). Kemudian bakteri yang telah murni dibiakkan di media agar miring dan diinkubasi di inkubator pada suhu ruang selama 72 jam. Kemudian dilakukan pewarnaan Gram dan uji biokimia (oksidasi/fermentasi, motilitas, katalase, oksidase). Uji virulensi dilakukan dengan melakukan penyuntikan bakteri yang telah dikultur pada media cair BHIB (brain heart infusion broth) secara intraperitoneal pada ikan nila. Selanjutnya dilakukan reisolasi bakteri dari organ ikan nila yang sakit berupa otak, hati, mata dan ginjal dengan menggunakan jarum Ose ke dalam media BHIA dan diinkubasi dalam inkubator pada suhu ruang selama 72 jam. Koloni murni yang didapatkan setelah uji virulensi digores kembali sebanyak satu Ose ke media BHIA miring dan diinkubasi selama 72 jam pada inkubator dengan suhu 28°C. Kemudian dilakukan pewarnaan Gram serta uji biokimia meliputi oksidasi/fermentasi, motilitas, katalase, oksidase, dan gelatin untuk memastikan bahwa bakteri yang diperoleh merupakan bakteri S. agalactiae. Hasil uji biokimia dapat dilihat pada Lampiran 1.
Regenerasi Bakteri
Bakteri yang telah murni digoreskan pada media BHIA miring untuk kebutuhan stok. Selanjutnya, bakteri diinkubasi selama 72 jam di dalam inkubator pada suhu ruang. Bakteri yang berumur 72 jam diambil sebanyak satu Ose dan diinokulasikan pada media BHIB 25 mL. Selanjutnya bakteri diinkubasi di dalam
shaker selama 72 jam pada suhu 28°C dengan kecepatan rotasi 140 rpm.
Pembuatan Pakan Uji
penelitian yang telah dilakukan oleh Simanjuntak (2016). Ekstrak kental batang pisang Ambon dicampur dengan Tween 80 yang berfungsi sebagai emulsifier
dengan perbandingan 1:1. Lalu ekstrak batang pisang dicampur dengan akuades yang telah mengandung putih telur (binder) sebanyak 2% dan dicampurkan dengan menggunakan metode coating pada pakan komersial dengan kadar protein 30% secara manual hingga merata. Pakan yang sudah tercampur dikeringudarakan dan disimpan dalam lemari pendingin (Kamaluddin 2011). Perhitungan pembuatan pakan uji dapat dilihat pada Lampiran 2.
Penentuan Nilai LD50
Penentuan nilai LD50 dilakukan dengan cara bakteri S. agalactiae yang
sudah dikultur pada media BHIB selama 72 jam, disuntikkan pada ikan nila secara intraperitoneal dengan kepadatan bakteri 106 hingga 108 CFU/mL. Bakteri yang diperoleh dari media kultur BHIB dimasukkan ke dalam tabung mikro (1 mL) dan disentrifugasi selama 5 menit. Selanjutnya, supernatan yang terbentuk dibuang dan ditambahkan PBS (phosphate buffer saline) sebanyak 1 mL dan divorteks, sebelum diinjeksikan sebanyak 0,2 mL per ekor ikan. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah kematian ikan hingga mencapai 50% populasi ikan dalam 1 akuarium. Selanjutnya, perhitungan LD50 dilakukan dengan mengacu
pada metode Reed dan Muench (1938). Hasil perhitungan LD50dapat dilihat pada
Lampiran 3.
Selang proporsi =
Log –LD50 = Log –di atas 50% + selang proporsi
Pemeliharaan Ikan
Ikan nila diperoleh dari pembudidaya di Kolam Percobaan Babakan, Bogor. Ikan yang digunakan memiliki bobot awal 12,68±0,08 g dan panjang awal 7,3±0,30 cm. Ikan diadaptasikan dalam akuarium berukuran 100 60 50 cm3 selama 3 hari. Selanjutnya, ikan dipindahkan ke dalam akuarium pemeliharaan sebanyak 10 ekor per akuarium berukuran 40 45 35 cm3 dan diadaptasikan kembali selama 3 hari sebelum diberi perlakuan.
4
Uji In Vivo: Uji Tantang
Penelitian ini terdiri atas 5 perlakuan dan 3 ulangan. Pengujian in vivo
dilakukan selama 29 hari. Pemberian pakan dilakukan dengan metode at satiation
dengan frekuensi 3 kali sehari, yakni pada pagi hari (sekitar jam 10.00 WIB), siang hari (sekitar jam 14.00 WIB), dan sore hari (sekitar jam 18.00 WIB). Pada 14 hari pertama, ikan diberi pakan uji sesuai dengan perlakuan. Pada hari ke-15, ikan nila diuji tantang melalui injeksi secara intraperitoneal dengan bakteri S. agalactiae sebanyak 0,2 mL per ekor ikan dan untuk K- disuntikkan PBS sebanyak 0,2 mL. Selanjutnya ikan dipelihara selama 14 hari dan diberi pakan komersil tanpa penambahan ekstrak batang pisang. Ikan yang digunakan selama pemberian pakan uji, yaitu 10 ekor ikan per perlakuan. Sedangkan untuk uji tantang digunakan 8 ekor ikan per perlakuan yang disesuaikan dengan kelangsungan hidup terendah ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang. Perlakuan uji in vivo dijabarkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Penjabaran perlakuan
Simbol Perlakuan ditambahkan ekstrak batang pisang Ambon
2 g/kg -
B Ikan diberi pakan komersial ditambahkan ekstrak batang pisang Ambon
4 g/kg -
C Ikan diberi pakan komersial ditambahkan ekstrak batang pisang Ambon
6 g/kg -
Pengukuran Kualitas Air
Tabel 2 Kisaran suhu, pH, DO dan TAN selama pemeliharaan
Perlakuan
Parameter
Suhu (oC) pH DO
(mg/l) TAN (ppm) Kontrol Positif (K+) 26,5 – 28,9 6,72-8,38 6,1 –7,6 0,024-0,510 Kontrol Negatif (K-) 27,2 – 28,9 7,01-8,38 5,7 – 6,6 0,024-0,248
A (2 g/kg) 26,8 – 28,9 6,67-8,38 5,5 – 7,4 0,024-0,415
B (4 g/kg) 26,7– 28,9 6,8 – 8,38 6,4 – 7,2 0,024-0,980 C (6 g/kg) 27,3 – 28,9 6,7 – 8,38 6,1 – 6,6 0,024-0,719
Nilai Optimum(SNI 7550:2009) 25-32 6,5 – 8,5 3 1
Gambaran Darah
Darah ikan diambil pada hari pertama sebelum pemberian ekstrak batang pisang (stok), hari ke-14 selama pemberian ekstrak batang pisang, dan hari ke-14 selama uji tantang untuk analisis gambaran darah. Sampel darah ikan diambil berdasarkan sampling dari 3 ekor ikan dari masing-masing perlakuan. Pengambilan sampel darah diawali dengan pembilasan syringe 1 mL dan tabung mikro 1,5 mL dengan menggunakan antikoagulan (natrium sitrat 3,8%). Syringe
ditusukkan pada bagian vena caudalis dan ditarik secara perlahan hingga mendapatkan volume total darah mencapai 0,5 - 1 mL untuk setiap perlakuan. Darah yang ada pada syringe dipindahkan ke dalam tabung mikro. Sampel darah yang telah diambil kemudian digunakan untuk preparasi sel darah putih, sel darah merah, nilai hematokrit, nilai hemoglobin, aktivitas fagositik, diferensial leukosit, dan respiratory burst.
Parameter Penelitian
Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1997):
Keterangan:
SR = tingkat kelangsungan hidup (%) Nt = populasi ikan hari ke-t (ekor) No = populasi ikan hari ke-0 (ekor)
Jumlah Konsumsi Pakan (JKP)
Jumlah konsumsi pakan dihitung setiap hari dari awal pemeliharaan hingga akhir perlakuan selama 29 hari. Jumlah konsumsi pakan ditentukan berdasarkan jumlah pakan yang masuk ke dalam tubuh ikan uji. Perhitungan jumlah konsumsi pakan dilakukan dengan menimbang jumlah sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan uji.
Biomassa Ikan
6
Gambaran Darah
Jumlah Sel Darah Merah
Perhitungan jumlah sel darah merah dilakukan dengan menggunakan hemasitometer. Darah ikan uji dihisap dengan menggunakan pipet yang berisi bulir pengaduk sampai skala 1. Setelah itu, ditambahkan larutan Hayem’s hingga skala 101. Lalu, dilakukan pengadukan dengan membentuk angka delapan selama 3-5 menit. Selanjutnya, dua tetes larutan darah pertama dari pipet dibuang. Lalu, larutan darah diteteskan pada hemasitometer dan ditutup dengan menggunakan
cover glass. Setelah itu, perhitungan dilakukan menggunakan mikroskop pada 5 bidang pandang dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400× dan jumlahnya dihitung dengan rumus (Nabib dan Pasaribu 1989):
Keterangan :
SDM = Jumlah sel darah merah (sel/mm3) Vol. kotak = Volume kotak hemasitometer (mm3) Fp = Faktor pengenceran
Jumlah Sel Darah Putih
Perhitungan jumlah sel darah putih dilakukan dengan menggunakan hemasitometer. Darah ikan uji dihisap dengan menggunakan pipet berisi bulir hingga skala 0,5. Setelah itu, ditambahkan larutan Turk’s sampai dengan skala 11. Lalu, dilakukan pengadukan dengan membentuk angka delapan selama 3-5 menit. Selanjutnya, dua tetes larutan darah pertama dari pipet dibuang. Lalu, larutan darah diteteskan pada hemasitometer dan ditutup dengan menggunakan cover glass. Perhitungan sel darah putih dilakukan pada mikroskop dengan jumlah lapang pandang 5 kotak kecil dengan perbesaran 400× dan jumlahnya dihitung dengan rumus (Nabib dan Pasaribu 1989) :
Keterangan :
SDP : Jumlah sel darah putih (sel/mm3) Vol. kotak : volume kotak hemasitometer (mm3) Fp : Faktor pengenceran
Kadar Hematokrit
bagian darah yang mengendap dengan seluruh bagian darah yang ada pada tabung mikrohematokrit. Kadar hematokrit dihitung dalam satuan persen (%).
Kadar Hemoglobin
Konsentrasi hemoglobin diukur dengan menggunakan metode Sahli. Darah ikan uji dihisap dengan menggunakan pipet Sahli hingga skala 20 mm3. Setelah itu, ujung pipet dibersihkan dengan menggunakan tisu. Selanjutnya, darah dipindahkan ke dalam tabung Hb-meter yang sebelumnya telah diisi dengan HCl 0,1 N hingga skala 10. Setelah itu, Hb-meter diaduk selama 3-5 menit. Warna yang ada di Hb-meter akan berubah menjadi kuning kecoklatan. Lalu, Hb-meter ditambahkan akuades hingga warnanya sama dengan warna standar pada tabung sahli. Pembacaan dilakukan dengan melihat permukaan cairan dan warna yang didapatkan, lalu dicocokkan dengan warna larutan standar. Kadar hemoglobin dinyatakan dalam satuan g% yang artinya banyaknya hemoglobin dalam gram per 100 mL darah (Alifuddin 1993).
Diferensial Leukosit
Darah diteteskan pada salah satu sisi gelas objek, lalu ditarik dengan gelas objek lain membentuk sudut 30˚ hingga darah tersebar di sepanjang gelas objek. Darah yang diulas kemudian dikeringudarakan lalu difiksasi dalam larutan metanol selama 5 menit. Preparat ulas kemudian direndam dalam larutan Giemsa yang diencerkan (1:20) selama 15 menit. Setelah itu, preparat ulas dibilas dengan akuades dan dikeringudarakan kembali. Preparat ulas kemudian ditempatkan di bawah mikroskop sebanyak 10 lapang pandang dengan perbesaran 400 dan dihitung berdasarkan jenisnya, yaitu monosit, limfosit, dan neutrofil dengan menggunakan rumus berikut :
Persentase monosit (%) =
Persentase limfosit (%) =
Persentase neutrofil (%) =
Aktivitas Fagositik
8
sebanyak 5 µL diteteskan pada salah satu sisi gelas objek dan ditarik dengan gelas objek lain membentuk sudut 30˚hingga membentuk preparat ulas yang cukup tipis. Preparat ulas dikeringudarakan lalu difiksasi dalam larutan metanol selama 5-10 menit. Preparat ulas kemudian direndam di dalam larutan Giemsa yang diencerkan (1:20) selama 10-15 menit. Lalu dibilas dengan akuades dan dikeringudarakan. Pengamatan aktivitas fagositik dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 400 . Persentase aktivitas fagositik dihitung dengan menggunakan rumus berikut :
AF (%) =
Respiratory Burst
Respiratory burst dilakukan dengan memasukkan darah ke dalam lubang
microplate sebanyak 0,05 µL. Setelah itu darah diinkubasi dalam inkubator pada suhu 37 oC selama satu jam. Kemudian darah dibuang dan dibilas dengan PBS sebanyak 0,1 ml sebanyak tiga kali ulangan hingga darah pada lubang microplate
menghilang. Larutan nitroblue tertrazolium (NBT) ditambahkan ke dalam lubang
microplate sebanyak 0,1 mL dan diinkubasi kembali pada suhu 37oC selama satu jam. Lalu larutan NBT dibuang dan dibilas dengan dengan metanol 100% sebanyak 0,1 mL selama 10 menit. Setelah itu, Larutan metanol dibuang dan kemudian ditambahkan dengan metanol 30% sebanyak 0,1 mL selama 2,5 menit sebanyak tiga kali ulangan. Larutan metanol kemudian dibuang dan ditambahkan kalium hidroksida(KOH) sebanyak 0,06 mL dan dimethyl sulfonil oxide (DMSO) 0,07 mL pada microplate. Kemudian microplate dimasukkan ke dalam microplate reader untuk dibaca hasilnya.
Gejala Klinis
Pengamatan terhadap gejala klinis dilakukan setiap hari setelah ikan uji diinfeksi dengan bakteri S. agalactiae. Gejala klinis yang diamati pada bagian luar tubuh ikan uji yaitu perubahan warna tubuh mata berkabut, hemoragi, dropsy,
clear operculum (kejernihan operkulum), purulens (mata putih), lateral exopthalmia (penonjolan mata), ulser di kepala dan tubuh membengkok.
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup ikan nila disajikan pada Gambar 1. Kelangsungan hidup ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang adalah sama antar perlakuan (P<0,05). Kelangsungan hidup ikan nila selama uji tantang berkisar antara 25,00-100,00%. Kelangsungan hidup ikan perlakuan K- (100,00±0,00%) sama dengan perlakuan A (87,50±0,00%), dan lebih tinggi daripada perlakuan K+ (P<0,05). Kelangsungan hidup ikan perlakuan B (63,50±17,60%), C berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).
Jumlah Konsumsi Pakan (JKP)
JKP selama pemberian ekstrak batang pisang cenderung stabil untuk semua perlakuan. Selama uji tantang, JKP antar semua perlakuan mulai tidak stabil pada hari ke-8 sampai dengan hari ke-14 kecuali pada perlakuan A. Perlakuan A memiliki pola konsumsi pakan yang stabil saat uji tantang, sedangkan pola konsumsi pakan terendah ada pada perlakuan K+. Jumlah konsumsi pakan (JKP) selama pemeliharaan disajikan pada Gambar 2.
10
Gambar 2 Jumlah konsumsi pakan (JKP) ikan nila O.niloticus selama pemberian ekstrak batang pisang, dan selama uji tantang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (A), perlakuan 4 g/kg (B) dan perlakuan 6 g/kg (C).
Biomassa Ikan
Biomassa ikan pada awal pemeliharaan berkisar antara 126,74-126,80 g dan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Begitu pula dengan biomassa ikan selama pemberian ekstrak batang pisang yang berkisar antara 172,07-197,30 g tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05; Lampiran 5). Grafik biomassa ikan disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3 Biomassa ikan nila O.niloticus sebelum pemberian ekstrak batang pisang dan selama pemberian ekstrak batang pisang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (A), perlakuan 4 g/kg (B) dan perlakuan 6 g/kg (C). Huruf yang berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).
Sel Darah Merah dan Sel Darah Putih
Jumlah sel darah merah (SDM) selama pemberian ekstrak batang pisang
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Selama pemberian ekstrak batang pisang, jumlah SDM tertinggi adalah perlakuan B. Selama uji tantang, jumlah SDM perlakuan K+ adalah terendah (P<0,05; Lampiran 6).
Tabel 3 SDM dan SDP ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Perlakuan berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).
Jumlah sel darah putih (SDP) selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang ditunjukkan pada Tabel 3. Jumlah SDP ikan nila sebelum pemberian ekstrak batang pisang berkisar antara 8,50-9,10 (×104 sel/mm3). Jumlah SDP selama pemberian ekstrak batang pisang adalah sama antar perlakuan (P>0,05; Lampiran 7). Selama uji tantang, jumlah SDP tertinggi ada pada perlakuan K+ dan terendah ada pada perlakuan A.
Kadar Hemoglobin dan Hematokrit
12
Tabel 4 Kadar Hb dan Hc ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Perlakuan
Hemoglobin (g%) Hematokrit (%)
Selama Pemberian berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).
Kadar hematokrit (Hc) ikan sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu berkisar antara 10,00-18,52 %. Dibandingkan dengan sebelum diberikan ekstrak batang pisang, kadar Hc selama pemberian ekstrak batang pisang meningkat pada semua perlakuan, kecuali perlakuan A dan K-. Selama uji tantang, kadar Hc cenderung mengalami peningkatan daripada nilai Hc selama pemberian ekstrak batang pisang, tetapi tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05; Lampiran 9).
Diferensial Leukosit
Tabel 5 Kisaran Kadar limfosit (L), neutrofil (N), dan monosit (M) ikan nila setelah pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S.
agalactiae
P Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang (%) Selama Uji Tantang (%)
L N M L N M
Aktivitas Fagositik
Persentase aktivitas fagositik (AF) ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang ditunjukkan pada Gambar 4. AF ikan nila sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu 51,33±1,15%. Selama pemberian ekstrak batang pisang, persentase AF tertinggi ada pada perlakuan A (60,67±8,08%). Selama uji tantang, nilai AF perlakuan A, B dan C meningkat dibandingkan dengan selama pemberian ekstrak batang pisang. Nilai AF tertinggi selama uji tantang adalah perlakuan A, diikuti oleh perlakuan B dan C, dan terendah adalah perlakuan K+ (P<0,05; Lampiran 11).
Gambar 4 Aktivitas fagositik (AF) ikan nila O. niloticus selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (A), perlakuan 4 g/kg (B) dan perlakuan 6 g/kg (C). Huruf yang berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).
14 tantang, nilai RB terbaik ada pada perlakuan B (0,306). Perlakuan K- (0,199) dan perlakuan A (0,209) tidak lebih baik dari perlakuan K+ (0,243), sedangkan perlakuan C (0,251) lebih baik dari K+ (P>0,05; Lampiran 12).
Gambar 5 Nilai respiratory burst (RB) ikan nila O. niloticus selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang pada perlakuan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), perlakuan 2 g/kg (A), perlakuan 4 g/kg (B) dan perlakuan 6 g/kg (C). Huruf yang berbeda di atas bar menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).
Gejala Klinis
Gejala klinis dapat dilihat pada Tabel 6. Gejala klinis merupakan tanda adanya suatu infeksi bakteri patogen. Gejala klinis eksternal diawali dengan kejernihan operkulum. Kemudian perubahan warna, mata berkabut (opacity), mata putih (purulens), lateral exopthalmia (penonjolan mata) dan pembengkakan organ dalam. Ikan uji yang pada perlakuan K+, A, B dan C terdeteksi mengalami gejala klinis tersebut dari hari pertama setelah uji tantang (Lampiran 13).
Tabel 6. Gejala klinis yang teramati selama 14 hari uji tantang bakteri S.
agalactiae
Perlakuan Gejala Klinis
K- Tidak terdapat luka dan ikan sehat sampai akhir pemeliharaan.
K+ Kejernihan operkulum, tubuh ikan menghitam, pembengkakan organ dalam, mata berkabut (opacity), mata putih, mata menonjol (lateral
C (6 g/kg) Tubuh ikan menghitam, kejernihan operkulum, pembengkakan organ
Pembahasan
Pemberian ekstrak kental batang pisang Ambon melalui pakan terhadap kelangsungan hidup ikan nila memberikan dampak yang baik selama pemeliharaan. Kelangsungan hidup ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang adalah sama. Efek pemberian ekstrak batang pisang Ambon terlihat signifikan pada saat uji tantang. Kelangsungan hidup ikan nila perlakuan 2 g/kg pakan tidak berbeda dengan K- dan sekitar 3,5 kali lebih tinggi daripada K+ (Gambar 1). Pada penelitian ekstrak batang pisang terdahulu yang diujikan pada ikan lele terbukti bahwa kelangsungan hidup terbaik ada pada perlakuan 2% yaitu mencapai 83,33% atau 3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan K+ (30%) (Lidyawati 2014). Hasil dari penggunaan ekstrak batang pisang terhadap ikan nila dinilai sama dengan penelitian tersebut. Kelangsungan hidup yang didapatkan menunjukkan bahwa senyawa aktif yang ada pada batang pisang Ambon telah menginduksi sistem imun ikan nila. Senyawa aktif yang terkandung pada ekstrak batang pisang diantaranya saponin, tanin, flavonoid, steroid, triterpenoid dan hidroquinon (Simanjuntak et al. 2016). Flavonoid adalah senyawa aktif yang memiliki sifat farmakologi berupa antijamur, antioksidan, antialergi, anti peradangan, antitrombotik, antikanker dan pertahanan hati (Apriasari et al. 2014) dan tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai astrigen, anti diare, antibakteri dan antioksidan (Malangngi et al. 2012).
Selama pemeliharaan didapatkan bahwa semakin tinggi dosis yang diberikan, kelangsungan hidupnya semakin menurun. Diduga, menurunnya kelangsungan hidup ikan uji selama uji tantang dikarenakan senyawa-senyawa aktif yang masuk ke dalam tubuh tidak dapat dimanfaatkan dengan baik dan akhirnya terakumulasi di dalam tubuh ikan. Batang pisang mengandung senyawa tanin yang diduga memiliki efek negatif yang dapat menghambat pertumbuhan dengan cara menghambat proses penyerapan di usus halus dan pada kadar tertentu dapat mengakibatkan kematian (Ahadi 2003).
Kelangsungan hidup ikan nila selama pemeliharaan berbanding lurus dengan parameter gambaran darah yang telah dilakukan. Sel darah putih (SDP) merupakan salah satu parameter gambaran darah yang berperan cukup besar terhadap peningkatan respons imun atau ketahanan tubuh ikan nila terhadap serangan penyakit dan infeksi (Hartika et al. 2014). Jumlah SDP sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu berkisar antara 8,50-9,10 (×104 sel/mm3). Jumlah SDP selama pemberian ekstrak batang pisang berkisar antara 7,70-9,90 (×104 sel/mm3). Jumlah SDP tertinggi selama uji tantang terdapat pada perlakuan K+ yang berkisar antara 10,50-11,70 (×104 sel/mm3) dan terendah ada pada perlakuan A sebesar 8,50-9,60 (×104 sel/mm3). Tingginya jumlah SDP diduga karena adanya infeksi bakteri. Jumlah SDP selama pemeliharaan masih dalam kisaran normal SDP, yaitu 2-15 (×104 sel/mm3) (Svobodova dan Vyukusova 1991).
16
kisaran normal, yaitu 0,7-28 (×106 sel/mm3) (Bittencourt et al. 2003). Menurut Hardi et al. (2013), jumlah eritrosit menurun diduga karena infeksi bakteri masih ada sehingga tubuh memproduksi leukosit lebih banyak untuk pertahanan tubuh. Sesuai dengan data yang didapat, SDP pada perlakuan K+ paling tinggi diantara perlakuan lain. Hasil tersebut didapatkan diduga karena ikan perlakuan K+ masih terserang penyakit sedangkan perlakuan yang diberi ekstrak batang pisang sudah dalam tahap penyembuhan.
Kadar hemoglobin (Hb) ikan sebelum pemberian ekstrak batang pisang (6,00-6,40 g%) dan selama pemberian ekstrak batang pisang cenderung sama antara semua perlakuan. Selama uji tantang, kadar Hb perlakuan A lebih tinggi daripada perlakuan lainnya (Tabel 4). Hasil ini diperoleh pada hari ke-14 uji tantang. Hb selama uji tantang mengalami peningkatan diduga karena kemampuan oksigen untuk mengikat darah sudah kembali normal. Kemampuan oksigen mengikat darah tergantung pada besar kadar hemoglobin dalam darah itu sendiri (Utami 2008). Kadar hemoglobin normal untuk ikan nila sendiri yaitu berkisar antara 6,58-15,98 g% (Bittencourt et al. 2003). Kadar Hb selama pemeliharaan masih di dalam kisaran normal.
Nilai kadar hematokrit ikan sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu berkisar antara 10,00-18,52%. Dibandingkan sebelum diberikan ekstrak batang pisang, kadar hematokrit meningkat pada semua perlakuan selama pemberian ekstrak batang pisang, kecuali perlakuan A (10,00-20,00%). Selama uji tantang, kadar hematokrit cenderung mengalami peningkatan dibandingkan dengan nilai hematokrit selama pemberian ekstrak batang pisang yaitu berkisar antara 16,67-28,33% (Tabel 4). Faktor naiknya kadar hematokrit diduga berkaitan dengan naiknya kadar hemoglobin. Menurut Purwati (2015), perubahan jumlah sel darah akan menyebabkan perubahan persentase sel darah dibandingkan plasma. Nilai kadar hematokrit untuk ikan nila umumnya berkisar antara 15-45% (Bittencourt et al. 2003).
Aktivitas fagositik (AF) ikan nila sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu 51,33±1,15%. Selama pemberian ekstrak batang pisang, persentase AF tertinggi ada pada perlakuan A (60,67±8,08%) . Selama uji tantang, nilai AF perlakuan A, B dan C meningkat dibandingkan dengan sebelum uji tantang. Nilai AF tertinggi selama uji tantang adalah perlakuan A, diikuti oleh perlakuan B dan C, dan terendah adalah perlakuan K+ (Gambar 4). Nilai AF semakin rendah seiring dengan peningkatan dosis ekstrak batang pisang ambon. Hal ini selaras dengan tingginya nilai tingkat kelangsungan hidup perlakuan A dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fagositik terbaik dengan pemberian ekstrak batang pisang. Ekstrak batang pisang meningkatkan nilai AF selama uji tantang dan memperbaiki tingkat kelangsungan hidup jika dibandingkan dengan K+. Aktivitas fagositik tertinggi pada perlakuan A (2 g/kg) diduga karena ekstrak batang pisang memiliki kandungan senyawa aktif yang dapat merangsang sistem imun non- spesifik untuk bekerja dalam membunuh bakteri.
sebagai sel memori yang membentuk antibodi (Hardi et al. 2013). Persentase limfosit (L) ikan sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu 70%. Persentasi L selama uji tantang cenderung meningkat dibandingkan dengan selama pemberian ekstrak batang pisang (Tabel 5). Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian ekstrak batang pisang mempengaruhi kadar L darah. Menurut Azhar (2014), berkurangnya jumlah limfosit menunjukkan penurunan antibodi dan menjadi indikasi masih terjadi serangan penyakit, sedangkan menurut Sugito (2014), kadar limfosit yang tinggi menunjukkan adanya senyawa bioaktif yang terkandung dalam tanaman.
Persentase neutrofil (N) ikan nila O. niloticus sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu 20%. Selama uji tantang, persentase N cenderung menurun dibandingkan dengan selama pemberian ekstrak batang pisang (Tabel 5). Penurunan dari N diimbangi dengan peningkatan dari L. Menurut Harpeni et al. (2015), persentase limfosit yang cenderung meningkat diimbangi dengan penurunan jumlah neutrofil. Peningkatan persentase limfosit mengindikasikan bahwa respon imunitas non spesifik ikan terpicu untuk melawan infeksi bakteri. Persentase monosit (M) ikan nila sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu sebesar 10%. Persentase M selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang adalah sama antar perlakuan (P<0,05).
Respiratory burst adalah oksigen toksik dalam bentuk peroksida dan anion superoksida yang diproduksi oleh sel fagosit (Purwati 2015). Nilai respiratory burst ikan nila sebelum pemberian ekstrak batang pisang yaitu 0,254. Selama pemberian ekstrak batang pisang, nilai RB tertinggi ada pada perlakuan K+ sebesar 0,262 dan terendah ada pada perlakuan B sebesar 0,197. Setelah uji tantang, nilai RB terbaik ada pada perlakuan B sebesar 0,306 (Gambar 5).
Pemberian pakan baik dengan menggunakan ekstrak batang pisang maupun tidak ternyata terbukti tidak mempengaruhi pertumbuhan ikan uji. Jumlah konsumsi pakan (JKP) selama pemberian ekstrak batang pisang cenderung stabil antar perlakuan. Setelah uji tantang, JKP perlakuan A memiliki pola yang stabil dibandingkan dengan perlakuan lainnya dan pola konsumsi terendah ada pada perlakuan K+ (Gambar 2). Biomassa ikan pada awal pemeliharaan yang berkisar antara 126,74-126,80 g dan selama pemberian ekstrak batang pisang yang berkisar antara 172,07-197,30 g terbukti tidak berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05) (Gambar 3). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan penambahan ekstrak kental batang pisang ambon sebesar 2 g/kg, 4 g/kg dan 6 g/kg masih tergolong tidak berbahaya dan tidak menurunkan nafsu makan ikan maupun pertumbuhan ikan.
18
gejala klinis pasca uji tantang dilakukan setiap hari selama 14 hari. Gejala klinis yang muncul antara lain adalah kejernihan operkulum, garis vertikal tubuh menghitam, mata berkabut (opacity), mata putih (purulens), pembengkakan organ dalam (dropsy), lateral exopthalmia (penonjolan mata), whirling dan kematian ikan.
Kualitas air merupakan salah satu faktor penting untuk kelangsungan hidup ikan. Buruknya kualitas air pemeliharaan dapat menimbulkan penyakit pada ikan. Selama pemeliharaan, kualitas air selalu dijaga dengan baik agar tetap sesuai dengan batas toleransi dari ikan uji, sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas air bukan menjadi faktor utama pemicu timbulnya suatu penyakit pada ikan uji.
Penggunaan ekstrak batang pisang Ambon pada pakan memang terlihat menguntungkan bila dilihat dari faktor kelangsungan hidup ikan yang terbukti 3,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan K+, begitu pula dengan konversi pakan dan pertumbuhan yang sama dengan K-. Tetapi dalam pembuatan ekstrak batang pisang Ambon sendiri masih menggunakan alat yang tidak komersial di kalangan pembudidaya dan memerlukan tambahan biaya yang tidak sedikit, karena dari 800 ml etanol dan 80 g batang pisang hanya dapat menghasilkan ekstrak batang pisang sebanyak 1,6 g. Hal ini dinilai belum menguntungkan bila digunakan oleh pembudidaya dan bila menggunakan bahan pelarut lain, seperti air untuk proses ekstraksi diduga dapat memperkecil biaya pembuatan ekstrak batang pisang.
KESIMPULAN
Pencegahan infeksi bakteri S. agalactiae melalui pemberian ekstrak batang pisang efektif dilakukan melalui pakan. Kelangsungan hidup ikan nila yang diberi perlakuan dosis 2 g/kg dan diuji tantang dengan S. agalactiae adalah 3,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan K+ .
DAFTAR PUSTAKA
Ahadi MR. 2003. Kandungan tanin terkondensasi dan laju dekomposisi pada serasah daun Rhizophora mucronata Lamk pada ekosistem tambak tumpangsari di Blanakan, Purwakarta, Jawa Barat. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Alifuddin M. 1993. Diagnose Penyakit Ikan (Cara Pemeriksaan Penyakit Ikan). Bogor (ID): Fakultas Perikanan IPB.
Apriasari ML, Iskandar, Suhartono. 2014. Bioactive compound and antioxidant activity of methanol extract Mauli bananas Musa sp. stem. International Journal of Bioscience, Biochemistry, and Bioinformatics, 4 (2): 110-115. Azhar F. 2014. Pengaruh pemberian probiotik dan prebiotik terhadap performan
juvenile ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis. Buletin Veteriner Udayana,6 (1): 1-9.
Dewoto HR. 2007. Pengembangan obat tradisional Indonesia menjadi fitofarmaka. Jakarta (ID): Fakultas Kedokteran UI.
Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta (ID): Yayasan Pustaka Nusantara.
Efrianti R. 2013. Pemberian ekstrak batang pisang Ambon Musa parasidiaca pada media pemeliharaan untuk meningkatkan kelangsungan hidup larva ikan gurami Osphronemus goramy. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Evans JJ, Pasnik DJ, Klesius PH, Al-Ablani S. 2006. First report of Streptococcus agalactiae and Lactococcus garvieae from a wild bottlenose dolphin
Tursiops truncates. Journal of Wildlife Diseases, 42 (3): 139-143.
Hardi EH, Sukenda, Harris E, Lusiastuti AM. 2013. Kandidat vaksin potensial
Streptococcus agalactiae untuk pencegahan penyakit streptococcosis pada ikan nila Oreochromis niloticus. Jurnal Veteriner, 14 (4): 408-416.
Harpeni E, Santoso L, Sari WR. 2015. Kajian Ulva sp. sebagai suplemen makanan terhadap performa pertumbuhan dan respon imun non-spesifik ikan nila
Oreochromis niloticus. Maspari Journal, 7 (2): 65-84.
Hartika R, Mustahal, Putra AN. 2014. Gambaran darah ikan nila Oreochromis niloticus dengan penambahan dosis prebiotik yang berbeda dalam pakan.
Jurnal Perikanan dan Kelautan, 4 (4): 259-267.
Kamaludin I. 2011. Efektivitas ekstrak lidah buaya Aloevera untuk pengobatan infeksi Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. melalui pakan. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Lidiawati E. 2014. Efektivitas perendaman ikan lele Clarias sp. pada ekstrak batang pisang Ambon Musa paradisiaca yang diinfeksi bakteri
Aeromonas hydrophilla. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Malangngi LP, Sangi MS, Paendong JEJ. 2012. Penentuan kandungan tanin dan
uji Aktivitas antioksidan ekstrak biji buah alpukat Persea americana Mill.
Jurnal MIPA Unsrat Online, 1 (1): 5-10.
Nabib R, Pasaribu FH. 1989. Patologi dan Penyakit Ikan. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Bogor (ID) : UPT Produksi Media Informasi LSI-IPB. Ningsih AP, Nurmiati, Agustien A. 2013. Uji aktivitas antibakteri ekstrak kental
tanaman pisang kepok kuning Musa paradisiaca Lim terhadap
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Jurnal Biologi Universitas Andalas, 2 (3): 207-213.
Purwati E. 2015. Kerentanan strain ikan nila terhadap infeksi Streptococcus agalactiae penyebab penyakit streptococcosis. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Reed LJ dan Muench H. 1938. A simple method of estimating fifty per cent endpoints. The American Journal of Hygiene, 27 (3):493-497.
Simanjuntak AM, Nuryati S, Priyoutomo NB, Effendi I. 2016. Application of banana stem extract as an immunostimulant for WSSV disease control in white shrimp Litopeaneus vannamei. [dalam proses publikasi].
[SNI] Standar Nasional Indonesia. 2009. Produksi ikan nila Oreochromis niloticus
20
[SNI] Standar Nasional Indonesia. 2009. Metode identifikasi bakteri pada ikan secara konvensional bagian 3: Streptococcus iniae dan Streptococcus agalactiae. Badan Standardisasi Nasional. SNI 7545.3:2009.
Sukenda, Jamal L, Wahjuningrum D, Hasan A. 2008. Penggunaan kitosan untuk pencegahan infeksi Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp.
Jurnal Akuakultur Indonesia, 7 (2): 159-169.
Sugito, Nurliana, Aliza D, Samadi. 2014. Diferensial leukosit dan ketahanan hidup pada uji tantang Aeromonas hydrophila ikan nila yang diberi stres panas dan suplementasi tepung daun jaloh pada pakan. Jurnal Kedokteran Hewan, 8 (2): 158-163.
Svobodova Z, Vyukosova B. 1991. Diagnostic, prevention and therapy of fish disease and intoxication. Research Institute of Fish Culture and Hydrobiology Vodnany Czechoslovakia. Pp. 7-23.
Utami WP. 2009. Efektivitas ekstrak paci-paci leucas lavandulaefolia yang diberikan lewat pakan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit Motile Aeromonad Septicemia pada ikan lele dumbo Clarias sp. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Wang K. Chen D, Huang L, Lian H, Xiao D, Geng Y, Yang Z, Lai W. 2013. Isolation and characterization of Streptococcus agalactiae from nile tilapia
Lampiran 1 Hasil uji biokimia bakteri S. agalactiae
Karakteristik Hasil uji SNI 7545.3:2009
Pewarnaan gram Positif Positif
Bentuk sel Kokus Kokus
O/F Fermentatif (F) Fermentatif (F)
Katalase - -
Oksidase + +
Motilitas - -
Lampiran 2 Perhitungan pembuatan pakan uji
Metode yang digunakan dalam pencampuran pakan adalah metode tidak langsung (Sprayer). Ekstrak batang pisang ambon tidak langsung dicampurkan ke pakan, melainkan dicampurkan terlebih dahulu pada akuades (10% dari total pakan) yang telah mengandung binder sebesar 2%, lalu disemportkan ke pakan. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut.
Akuades (mL) = 10 % x total pakan (g) = 10 % x 1000 g
= 100 mL
Binder (mL) = 2 % x campuran ekstrak
= 2 % x 100 mL = 2 mL
Campuran akuades dan binder = 2 ml + 98 ml akuades* = 100 mL
Campuran akuades dan ekstrak batang pisang : A (2 g/kg) = 2 g + 98 ml akuades* B (4 g/kg) = 4 g + 96 ml akuades* C (6 g/kg) = 6 g + 94 ml akuades*
Keterangan : *akuades yang di campurkan di dalam pakan disesuaikan agar hasil akhir dari campuran tetap 100 mL.
Lampiran 3 Perhitungan nilai LD50
Kepadatan bakteri
(CFU/ml) ∑ ikan mati (ekor) ∑ ikan hidup (ekor) Ratio mati
Kematian (%)
108 5 1 0,83 83
107 3 3 0,50 50
106 2 4 0,33 33
Selang proporsi =
=
= 0,66 ~ 1
22
= (-8) + 1 = 7
LD50 = 107 CFU/ml
Lampiran 4 Analisis statistik tingkat kelangsungan hidup ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Uji Duncan TKH Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Perlakuan N α= 0.05
Uji Duncan TKH Selama Uji Tantang
Perlakuan N α= 0.05
Lampiran 5 Analisis statistik biomassa ikan nila sebelum pemberian ekstrak batang pisang dan selama pemberian ekstrak batang pisang
Sebelum Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 0,006 4 0,002 0,174 0,947
Galat 0,086 10 0,009
Total 0,092 14
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 1681,1963 4 420,491 1,769 0,212
Galat 2376,925 10 237,693
Uji Duncan Biomassa Ikan Sebelum Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Uji Duncan Biomassa Ikan Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Perlakuan N α= 0.05 Perlakuan N α= 0.05
1 1
C (6 g/kg) 3 126,7467 C (6 g/kg) 3 172,0667
B (4 g/kg) 3 126,7567 B (4 g/kg) 3 175,5757
K- 3 126,7767 K- 3 181,9800
A (2 g/kg) 3 126,7833 A (2 g/kg) 3 197,0200
K+ 3 126,8033 K+ 3 197,2967
Sig. 0,940 Sig. 0,095
Lampiran 6 Analisis statistik SDM ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 0,166 4 0,042 8,620 0,003
Galat 0,048 10 0,005
Total 0,215 14
Selama Uji Tantang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 0,502 4 0,125 21,920 0,000
Galat 0,057 10 0,006
Total 0,559 14
Uji Duncan SDM Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Perlakuan N α= 0.05
1 2 3
A (2 g/kg) 3 0,9133
C (6 g/kg) 3 1,0133 1,0133
K- 3 1,0400 1,0400
K+ 3 1,0967
B (2 g/kg) 3 1,2333
Sig. 0,058 0,191 1,000
Uji Duncan SDM Selama Uji Tantang
Perlakuan N α= 0.05
1 2 3
K+ 3 0,7933
C (6 g/kg) 3 1,0800
B (2 g/kg) 3 1,2100 1,2100
A (2 g/kg) 3 1,2367
K- 3 1,3133
24
Lampiran 7 Analisis statistik SDP ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 1,297 4 0,324 0,814 0,545
Galat 3,987 10 0,399
Total 5,284 14
Selama Uji Tantang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 7,556 4 1,889 9,573 0,002
Galat 1,973 10 ,197
Total 9,529 14
Uji Duncan SDP Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Perlakuan N α= 0.05
1
C (6 g/kg) 3 8,0333
K+ 3 8,2000
K- 3 8,3667
B (4 g/kg) 3 8,6667
A (2 g/kg) 3 8,8333
Sig. 0,184
Uji Duncan SDP Selama Uji Tantang
Perlakuan N α= 0.05
1 2 3
A (2 g/kg) 3 9,0667
C (6 g/kg) 3 9,5333 9,5333
B (4 g/kg) 3 9,8667 9,8667
K- 3 10,2333
K+ 3 11,1667
Sig. 0,061 0,095 1,000
Lampiran 8 Analisis statistik Hb ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 0,731 4 0,183 3,114 0,066
Galat 0,587 10 0,059
Total 1,317 14
Selama Uji Tantang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 3,376 4 0,844 0,909 0,495
Galat 9,280 10 0,928
Uji Duncan Hb Ikan Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Uji Duncan Hb Ikan Selama Uji Tantang
Lampiran 9 Analisis statistik Hc ikan nila selama pemberian ekstrak batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Uji Duncan Hc Ikan Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Uji Duncan Hc Ikan Selama Uji Tantang tantang bakteri S. agalactiae
L Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
26
Uji Duncan L Ikan Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Uji Duncan L Ikan Selama Uji Tantang
Perlakuan N α= 0.05 Perlakuan N α= 0.05
1 1
C (6 g/kg) 3 32,3333 C (6 g/kg) 3 24,3333
B (4 g/kg) 3 36,6667 K- 3 29,6667
K- 3 40,6667 K+ 3 30,3333
A (2 g/kg) 3 46,0000 B (4 g/kg) 3 36,0000
K+ 3 46,6667 A (2 g/kg) 3 38,6667
Sig. 0,440 Sig. 0,344
N Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 408,400 4 102,100 2,750 0,089
Galat 371,333 10 37,133
Total 779,733 14
N Selama Uji Tantang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 414,933 4 103,733 1,181 0,376
Galat 878,000 10 87,800
Total 1292,933 14
Uji Duncan N Ikan Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Uji Duncan N Ikan Selama Uji Tantang
Perlakuan N α= 0.05 Perlakuan N α= 0.05
1 2 1
A (2 g/kg) 3 11,3333 C (6 g/kg) 3 12,3333
K- 3 16,3333 16,3333 A (2 g/kg) 3 14,3333
K+ 3 16,6667 16,6667 B (4 g/kg) 3 15,0000
B (4 g/kg) 3 17,6667 16,6667 K- 3 23,0000
C (6 g/kg) 3 27,3333 K+ 3 25,6667
Sig. 0,262 0,066 Sig. 0,140
M Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 95,773 4 23,933 0,068 0,990
Galat 3528,000 10 352,800
Total 3623,733 14
M Selama Uji Tantang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 538,267 4 134,567 1,003 0,450
Galat 1341,333 10 134,133
Uji Duncan M Ikan Selama batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Uji Duncan AF Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Perlakuan N α= 0.05
Uji Duncan AF Selama Uji Tantang
Perlakuan N α= 0.05 batang pisang dan selama uji tantang bakteri S. agalactiae
Selama Pemberian Ekstrak Batang Pisang
Jumlah Kuadrat DB Kuadrat Tengah F P
Perlakuan 0,007 4 0,002 123,857 0,000
Galat 0,000 10 0,000
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Andini Yudita Sari, dilahirkan di kota Jakarta pada tanggal 18 Desember 1993. Penulis merupakan putri pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Drs. Musanto Yudoyoko M.Sc dan Ibu Tri Rusmayasari. Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar di SDN Pondok Pinang 10 Pagi (1999-2005), sekolah menengah pertama di SMP Negeri 11 Jakarta Selatan (2005-2008), sekolah menengah atas SMA Negeri 55 Jakarta Selatan (2008-2011) dan diterima sebagai mahasiswa Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor melalui Jalur undangan (2011-2015).
Selama masa perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Penyakit Organisme Akuatik (2014) dan Manajemen Kesehatan Organisme Akuatik (2015). Penulis juga pernah mengikuti magang “Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)” di BBAP Pecaron, Situbondo, Jawa Timur
(2013) serta mengikuti Praktik Lapangan Akuakultur “Pembenihan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) “ di PT Birulaut Khatulistiwa, Lampung pada
bulan Juni hingga Agustus 2014. Penulis pernah menjadi anggota divisi Public Relation (PR) HIMAKUA IPB pada tahun 2013-2014.
Penulis dapat menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi yang berjudul “Penggunaan Ekstrak Batang Pisang Ambon Musa paradisiaca untuk Pencegahan Infeksi Bakteri Streptococcus agalactiae pada Ikan NilaMelalui Pakan” di bawah bimbingan Ibu Dr. Ir. Sri Nuryati, S.Pi, M.Si dan Bapak Dr. Alimuddin S.Pi, M.Sc.