• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transmisi Harga Kopi Di Pasar Indonesia Terhadap Pasar Tujuan Ekspor Utama Kopi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Transmisi Harga Kopi Di Pasar Indonesia Terhadap Pasar Tujuan Ekspor Utama Kopi"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

T

TRANSMISI HARGA KOPI ANTARA PASAR INDONESIA

DAN PASAR TUJUAN EKSPOR UTAMA

KHUMAIRA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Transmisi Harga Kopi Antara Indonesia Dengan Pasar Tujuan Ekspor Utama Kopi adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Maret 2016

Khumaira

(4)
(5)

RINGKASAN

KHUMAIRA. Transmisi Harga Kopi di Pasar Indonesia terhadap Pasar Tujuan Ekspor Utama Kopi. Dibimbing oleh DEDI BUDIMAN HAKIM dan SAHARA.

Indonesia merupakan pasar produsen sekaligus pengekspor kopi keempat di dunia dengan rata-rata pangsa pasar dari tahun 2009-2014 adalah sebesar 7.3 persen. Pangsa pasar ekspor kopi di pasar Indonesia masih kecil apabila dibandingkan dengan pasar eksportir utama kopi lainnya yaitu pasar Brazil dan Vietnam. Hal ini menyebabkan Indonesia tidak bisa menjadi penentu harga kopi di pasar dunia, Indonesia hanya bertindak sebagai price taker (penerima harga). Perubahan harga kopi umumnya dipengaruhi oleh jumlah permintaan kopi di pasar importir dan jumlah yang ditawarkan oleh pasar eksportir. Pasar tujuan ekspor utama kopi di pasar Indonesia adalah Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. Integrasi pasar yang terjadi antara pasar eksportir dan pasar importir terjadi apabila perubahan harga yang terjadi di pasar importir mampu ditransmisikan secara simetri ke pasar eksportir dari segi waktu atau dari segi besaran. Akan tetapi hal tersebut sulit karena perubahan harga antara pasar importir maupun pasar eksportir sering ditransmisikan secara tidak simetri. Hal ini disebabkan karena pada perdagangan kopi di pasar internasional lebih dikendalikan oleh pasar impor kopi di pasar importir utama yang memiliki pangsa pasar yang besar sehingga mempunyai kekuatan pasar (market power) dalam mengendalikan harga pasar.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis : (1) transmisi harga antara harga ekspor kopi di pasar Indonesia dengan pasar tujuan ekspor utama kopi (Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman), (2) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga ekspor kopi di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series bulanan dari Januari 2005-Desember 2014. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah AECM (Asymmetric Error Correction Model) untuk menganalisis transmisi harga ekspor kopi di pasar Indonesia dengan pasar tujuan ekspor utama kopi. Selain itu untuk menganalisis tujuan kedua menggunakan model Error Correction Model (ECM).

(6)

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga ekspor kopi di pasar Indonesia pada jangka pendek yaitu harga ekspor kopi di pasar Indonesia 1 bulan sebelumnya, harga impor kopi di pasar impor (Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang), harga ekspor kopi di pasar Brazil, nilai tukar dan volume ekspor kopi Indonesia. Pada jangka panjang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga ekspor kopi di pasar Indonesia adalah harga ekspor kopi di pasar Vietnam, harga ekspor kopi di pasar Indonesia periode t-1, nilai tukar dan volume ekspor kopi di pasar Indonesia.

(7)

SUMMARY

KHUMAIRA. Price Transmission of coffee price in the Indonesia dan export destination Indonesia market. Supervised by Dedi Budiman Hakim and Sahara.

Indonesia is the fourth coffee exporting market in the world with 7.3 percent of market share. Coffee is one of the export commodities that caused

Indonesia’s coffee price is determined by coffee price in the world market. Indonesia’s coffee price is influenced not only Indonesia’s coffee production and consumption but also is determined by coffee price in the importing countries (United State, Germany, and Japan). Market integration occured when coffee price between Indonesia and importing market is symmetry in terms of time or in terms of the magnitude. However, the fact price efficiency in coffee market is difficult to occur because prices change between the importing and the exporting is often transmitted asymmetris, That is because the international coffee trade is controlled by the main importing countries which have a large market share. Importing market have bargaining power to control the market price.

The study aimed to analyze (1) price transmission between Indonesia coffee price to importing market (United State, German dan Japan) (2) the factors determined the export coffee price in Indonesia. The data used in this study a monthly time series data from January 2005 to Desember 2014. The research method to analyze coffee price transmission was Asymmetric Error Correction Model (AECM) and Error Correction Model used to analyze that the factors determine Indonesia export coffee price.

The research results showed that there was co-integration (integration in the long term) between Indonesia dan importing countries (United State, German dan Japan). The granger causality showed that unidirectional relationship between Indonesia and the importing country (United State, Germany dan Japan). importing country was able to affect the Indonesia coffee price but Indonesia coffee price was not able to affect the price of coffee importing countries. Based on Asymmetric price transmwassion showed in the long term price transmwassion between Indonesia dan importing countries (United State, German dan Japan) occured symmetric, because no abuse of market power that carried by the importing countries (United State, Germany dan Japan), but in the short term price transmission between Indonesia dan importing countries (Jepang dan United States) was Asymmetric because adjustment cost.

The factors to influence Indonesia exported coffee price in the short term were Indonesia export coffee price in the previous period, Brazil export coffee price, United State and German market import coffee price, exchange rate and export volume of Indonesia. Meanwhile Indonesia export coffee price in the long term were Indonesia export coffee price in the previous period, Brazil export coffee price, Vietnam export coffee price, exchange rate and export volume of Indonesia.

(8)

©

Hak Cipta Milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2016

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(9)

TRANSMISI HARGA KOPI ANTARA PASAR INDONESIA

DAN PASAR TUJUAN EKSPOR UTAMA

KHUMAIRA

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(10)
(11)
(12)
(13)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala atas rahmat dan bimbingan-Nya sehingga penulis memperoleh kemampuan untuk dapat menyelesaikan usulan penelitian yang berjudul ”Transmisi harga antara Indonesia dengan pasar tujuan ekspor utama” sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian di Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari bahwa tesis ini dapat diselesaikan dengan baik karena bimbingan, arahan, curahan ilmu, masukan, dan dorongan dari komisi pembimbing dan bantuan serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis menghaturkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Dr Ir Dedi Budiman Hakim, MAEc selaku ketua komisi pembimbing, dan Dr Sahara, SP, MSi selaku anggota komisi pembimbing yang selalu meluangkan waktunya untuk memberikan koreksi dan masukan serta sebagai sumber inspirasi bagi penulis dalam penyusunan tesis.

2. Dr Ir Ratna Winandi Asmarantaka, M.S. selaku penguji Luar Komisi dan Dr. Alla Asmara, S.Pt, M.Si selaku penguji Wakil Komisi Program Studi atas semua pertanyaan, masukan dan saran untuk perbaikan yang diberikan kepada penulis.

3. Prof Dr Ir Hartoyo, MS., selaku koordinator mayor ilmu ekonomi pertanian yang telah banyak memberikan bantuan selama penulis menempuh pendidikan.

4. Seluruh dosen program studi ilmu ekonomi pertanian atas segala ilmu yang telah diberikan selama masa perkuliahan.

5. Bapak Johan, Ibu Ina, Bapak Widi, Ibu Kokom, Bapak Erwin, Bapak Khusein, selaku staf administrasi di Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian yang telah banyak membantu selama penulis menempuh pendidikan.

6. Seluruh anggota keluarga penulis, khususnya Ibu dan Ayah tercinta Bapak Bukhari dan Ibu Nasriah terima kasih atas doa dan dorongan moril serta semangat yang diberikan selama studi. Adik-adikku tercinta Qurratun Aina, Siti Zakia dan Furqan Zurrahmat yang telah memberikan semangat dan dorongan selama kuliah.

7. Sahabatku tercinta Nurul Iski, Noratun Juliaviani, Ulfira Ashari, Dinda Julia, Elvina, Nurlela, Nurqomariah, Zakiah, Dea Amanda, Dewi Asrini Fazariah, Dewi Masyithoh, Romi Seroja, Devi dan Ibu Iffah terima kasih sebesar-besarnya yang sudah menjadi sahabat, memberikan dukungan serta semangat dan sudah menjadi keluarga di Bogor.

8. Teman-teman di Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian Angkatan 2013 yang telah berbagi ilmu, berdiskusi dan belajar bersama selama mengikuti kuliah. Terima kasih sebesar-besarnya kepada mentor sekaligus teman diskusi Ari Ruslan telah membantu selama pengerjaan tesis ini, semoga bisa menjadi dosen yang baik dikemudian hari.

(14)
(15)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 5

Tujuan Penelitian 7

Manfaat Penelitian 7

Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian 7

2 TINJAUAN PUSTAKA 9

Kerangka Teoritis 9

Integrasi Pasar dan Transmisi Harga 9

Asimetri Harga 9

Penyebab Asimetri harga 12

Kekuatan Pasar dan Struktur Pasar Persaingan Tidak Sempurna 12

Biaya Penyesuaian 13

Penelitian terdahulu 14

Transmisi Harga dan Integrasi Pasar 14

Analisis Transmisi Harga 15

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Harga 16

Kerangka Konseptual 17

Hipotesis 20

3 METODOLOGI PENELITIAN 21

Jenis dan Sumber Data 21

Metode Analisis 21

Analisis Transmisi Harga 21

Uji Stasioneritas Data 22

Pengujian Lag Optimum 23

Uji Kointegrasi 23

Uji Kausalitas 24

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Harga Ekspor

Kopi di Indonesia 25

4 GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN KOPI 26

Kelembagaan Kopi di Pasar Internasional 26

Tata Cara Ekspor Kopi di Indonesia 26

Perdagangan Kopi di Dunia 27

Ekspor Kopi ke Pasar Jerman 29

Ekspor Kopi ke Pasar Amerika Serikat 30

(16)

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 32

Transmisi harga kopi Indonesia-Importir Utama 32

Analisa Data Deskriptif 32

Analisis Transmisi Harga 33

Uji Stasioner data 33

Penentuan Lag Optimal 33

Uji Kointegrasi 34

Uji Kausalitas 35

Uji Transmisi Harga 36

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Harga Ekspor

Kopi Indonesia 41

Uji Stasioner Data 41

Pengujian Kointegrasi 41

Model Jangka Pendek dan Model Jangka Panjang 42

5 KESIMPULAN DAN SARAN 46

Kesimpulan 46

Saran Kebijakan 46

Saran Penelitian Lanjutan 47

DAFTAR PUSTAKA 48

LAMPIRAN 51

(17)

DAFTAR TABEL

1 Perkembangan neraca perdagangan komoditas unggulan utama

perkebunan tahun 2009-2013 1

2 Produksi, volume dan nilai ekspor kopi Indonesia tahun 2009-2013 2 3 Pangsa pasar ekspor kopi di pasar-pasar eksportir utama, tahun

2009-2014

4 Konsumsi kopi di pasar produsen utama (60 Kilogram Bags) tahun

2009-2014 3

5 Perkembangan volume dan nilai ekspor kopi Indonesia menurut pasar

tujuan ekspor tahun 2012-2014 4

6 Pangsa pasar importir utama kopi di dunia (%), tahun 2007- 2012 28 7 Pangsa pasar pasar eksportir ke pasar importir Jerman (%), tahun

2010-2014 29

8 Pangsa pasar pasar eksportir utama ke pasar Amerika Serikat (%),

tahun 2010-2014 30

9 Pangsa pasar pasar eksportir utama ke pasar Jepang (%), tahun

2010-2014 31

10 Rata-rata harga kopi dan nilai pertumbuhan di pasar Indonesia dan

importir utama tahun 2005-2014 32

11 Deskripsi statistik dari harga kopi di pasar eksportir Indonesia dan

importir utama 32

12 Hasil pengujian akar unit dengan intersept tanpa tren 33 13 Kriteria lag optimal Indonesia terhadap Amerika Serikat 34 14 Kriteria lag optimal Indonesia terhadap Jerman 34 15 Kriteria lag optimal Indonesia terhadap Jepang 34

16 Hasil pengujian kointegrasi 35

17 Pengujian kausalitas antara Indonesia dengan pasar importir utama 35 18 Hasil estimasi asimetri harga Amerika Serikat, Jerman dan Jepang

terhadap Indonesia 37

19 Uji wald test harga kopi di pasar importir Amerika Serikat, Jerman

dan Jepang terhadap Indonesia bulan Januari sampai Desember 2014 39 20 Hasil uji akar unit faktor-faktor pembentukan harga ekspor kopi di

Indonesia 41

21 Hasil uji kointegrasi faktor-faktor pembentukan harga ekspor kopi di

Indonesia 42

22 Faktor-faktor pembentukan harga ekspor kopi Indonesia pada jangka

pendek 424

23 Faktor-faktor pembentukan harga ekspor kopi Indonesia jangka

(18)

DAFTAR GAMBAR

1. Pergerakan harga kopi di pasar tujuan ekspor utama dan harga kopi di

Indonesia Januari 2005 - Desember 2014 6

2 Transmisi harga tidak simetri dari sisi kecepatan dan besaran 10

3 Kerangka pemikiran konseptual 19

4 Produksi kopi pasar eksportir utama kopi tahun 1990-2014 28 5 Saluran distribusi kopi dari Indonesia ke pasar importir Jerman 29 kepada teman-teman EPN dan semua pihak yang telah mebantu dan memberikan saran masukan demi kesempurnaan rencana penelitian penulis. Akhir kata, penulis

DAFTAR LAMPIRAN

1 Pengujian kointegrasi 54

2 Pengujian kausalitas 55

3 Hasil estimasi model ECM Amerika Serikat dan Indonesia 56

4 Uji waldtest Amerika dan Indonesia 57

5 Hasil estimasi model ECM Jerman dan Indonesia 58

6 Uji waldtest Jerman dan Indonesia 59

7 Hasil estimasi model ECM Jepang dan Indonesia 60

8 Pengujian waldtest Jepang dan Indonesia 61

9 Faktor-faktor pembentukan harga ekspor kopi Indonesia jangka panjang 62

(19)

I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran penting terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini karena kopi merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang berkontribusi ke 4 terhadap neraca perdagangan Indonesia. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwasanya pada tahun 2009-2010 nilai perdagangan kopi berada diurutan keempat. Akan tetapi pada tahun 2011-2012 terjadi peningkatan nilai perdagangan komoditas kelapa sehingga komoditas kopi turun diurutan 5. Pada tahun 2013 nilai perdagangan kopi kembali berada diurutan ke 4. Hal ini disebabkan karena nilai perdagangan komoditas kelapa kembali mengalami penurunan. Secara umum terjadi kenaikan kontribusi nilai perdagangan kopi di pasar dunia.

Tabel 1 Perkembangan neraca perdagangan komoditas unggulan utama perkebunan Indonesia tahun 2009-2013 (US$ juta)

Komoditas Nilai Perdagangan

2009 2010 2011 2012 2013 Kelapa sawit 10 351.20 13 431.20 17 236.30 17 601.30 15 791.90 Karet 3 222.60 7 289.00 11 077.10 7 792.10 6 855.10 Kakao 1 294.20 1 479.10 996.40 876.50 876.50 Kopi 799.00 779.50 914.20 1 132.30 1 135.20 Kelapa 492.20 700.80 1 059.50 1 242.20 812.20

Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) 2014

Berdasarkan Tabel 2 produksi kopi Indonesia pada beberapa tahun terakhir berfluktuasi dengan kecenderungan mengalami penurunan, terutama pada tahun 2009-2011. Akan tetapi pada tahun 2012 terjadi peningkatan produksi Indonesia yang disebabkan karena cuaca yang mendukung untuk pembungaan dan pembentukan buah kopi. Pengaruh cuaca merupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi tingkat produksi kopi nasional. Hal yang sama juga terjadi pada volume ekspor kopi di Indonesia, volume ekspor kopi di Indonesia pada tahun 2009 sampai 2011 juga mengalami penurunan. Pada tahun 2011 terjadi penurunan volume ekspor kopi terendah yaitu sebesar -24 persen. Menurunnya volume ekspor kopi Indonesia disebabkan karena menurunnya produksi kopi di Indonesia. Selain itu juga disebabkan karena adanya persaingan yang ketat antara pasar-pasar produsen kopi terutama persaingan Indonesia dengan pasar-pasar pengekspor utama kopi yaitu Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Pada tahun 2012 terjadi peningkatan volume ekspor tertinggi yaitu sebesar 22.36 persen yang disebabkan karena meningkatnya produksi kopi Indonesia.

(20)

2

Selain itu kenaikan nilai ekspor kopi Indonesia juga terjadi karena adanya perbaikan harga kopi arabika yang menjadi specialty coffee di pasar dunia.

Tabel 2 Produksi, volume dan nilai ekspor kopi di Indonesia tahun 2009-2013

Tahun Produksi (Ton)

Volume Ekspor (ton) Nilai Ekspor (000 US$) Petumbuhan produksi (%) Pertumbuhan Volume Ekspor (%) Pertumbuhan Nilai Ekspor (%)

2009 682 780.19 510 187 835 999

2010 547 764.12 432 780 812 531 -24.65 -17.89 -2.89

2011 437 253.22 347 091 1 034 814 -25.27 -24.69 21.48

2012 782 852.28 447 064 1 244 146 44.15 22.36 16.83

2013 700 011.34 500 675 1 101 525 -11.83 10.71 -12.95

Sumber: Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) 2014

Sejak tahun 1984 pangsa ekspor kopi Indonesia di pasar dunia menduduki nomor tiga tertinggi setelah Brasil dan Kolombia, bahkan untuk kopi robusta ekspor Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia. Sebagian besar ekspor kopi Indonesia adalah jenis kopi robusta 93 persen, sisanya adalah jenis arabika. Sejak tahun 1997 posisi Indonesia tergeser oleh Vietnam yang menjadi pasar pengekspor kopi terbesar keempat sesudah Brazil, dan Kolombia (Kustriari 2007). Saat ini volume ekspor kopi Indonesia rata-rata berkisar 350 ribu ton per tahun meliputi kopi robusta 85 persen dan arabika 15 persen. Dari total produksi sekitar 67 persen kopinya diekspor ke pasar dunia, sedangkan sisanya 33% untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang sebagian besar kopi di proses menjadi kopi bubuk, kopi instan, dan mixed coffe. Pangsa pasar ekspor pasar-pasar eksportir utama kopi dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Tabel 3 Pangsa pasar ekspor kopi di pasar-pasar eksportir utama tahun 2009-2014 (%)

Pasar Tahun

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Brazil 31.60 34.10 32.20 25.60 28.10 32.00

Vietnam 17.70 14.70 17.00 20.70 19.30 22.20

Kolombia 8.20 8.10 7.40 6.50 8.60 9.60 Indonesia 8.20 5.70 5.90 9.70 9.10 5.20

Sumber : International Coffee Organization (ICO) (diolah) 2015

(21)

3 sebagian besar jenis kopi yang diproduksi di pasar Vietnam adalah kopi jenis robusta.

Pangsa ekspor kopi Indonesia di pasar dunia cenderung berfluktuasi dengan kecenderungan mengalami penurunan. Penurunan ekspor kopi Indonesia disebabkan karena penurunan produksi kopi dalam negeri. Selain itu penurunan ekspor juga disebabkan karena persaingan ekspor kopi Indonesia dengan pasar eksportir utama yang semakin ketat, terutama persaingan Indonesia dengan pasar Vietnam. Pangsa pasar kopi robusta di Vietnam mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, peningkatan pangsa pasar Vietnam mempengaruhi penurunan pangsa pasar kopi robusta Indonesia. Vietnam merupakan pesaing utama ekspor kopi Indonesia ke pasar dunia. Hal ini disebabkan karena Vietnam dan Indonesia merupakan eksportir utama kopi robusta di pasar dunia. Pada tahun 1986-1989 pangsa ekspor kopi Vietnam hanya 0.7 persen, namun dalam periode 2000-2004 naik menjadi 13.92 persen. Pada tahun 2009-2014 rata-rata pangsa pasar ekspor kopi Vietnam meningkat menjadi 18.6 persen.

Permintaan dunia terhadap komoditas kopi terus meningkat, sejalan dengan peningkatan konsumsi pasar-pasar importir utama kopi. Kenaikan konsumsi kopi dunia juga disebabkan karena pertumbuhan konsumsi kopi yang terjadi di pasar-pasar produsen utama.

Tabel 4 Konsumsi kopi di pasar produsen kopi utama (000 Bags (60 kilogram) tahun 2009-2014

Pasar Tahun

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Brazil 18 390 19 132 19 720 20 330 20 085 21 000 Indonesia 3 333 3 333 3 333 3 667 4 167 4 167 Kolombia 1 270 1 308 1 439 1 441 1 558 1 570 Vietnam 1 208 1 583 1 650 1 825 2 000 2 100

Sumber: International Coffee Organization (ICO) 2015

Pada tahun 2009-2014 konsumsi kopi di pasar produsen utama mengalami peningkatan (Tabel 4). Pasar produsen dengan konsumsi kopi terbesar adalah Brazil, sedangkan konsumsi kopi di pasar Indonesia berada diurutan kedua setelah Brazil. Pada tahun 2009-2014 konsumsi kopi Indonesia mengalami peningkatan, hal yang sama juga terjadi pada pasar-pasar produsen utama kopi lainnya yaitu Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Akan tetapi peningkatan konsumsi pasar-pasar produsen masih lebih kecil daripada kenaikan produksi kopi di pasar-pasar produsen, terutama konsumsi kopi di pasar Vietnam. Pertumbuhan konsumsi kopi di Vietnam sebesar 6.8 persen dari total produksi, Brazil sebesar 46.3 persen, Kolombia sebesar 12.6 persen dan Indonesia adalah sebesar 44.6 persen dari total produksi (ICO 2015 (diolah)).

(22)

4

terjadi pada tahun 2002 yaitu seharga US$ 1.14/kg kemudian sedikit meningkat menjadi US$ 1.34/kg tahun 2003. Penurunan harga kopi yang drastis juga diduga sebagai akibat dari permainan pembeli-pembeli kelas dunia (roasters dan pengimpor) atau perusahaan multinasional yang melakukan pembelian melalui perwakilan yang tersebar di sentra-sentra produksi kopi pasar produsen, seperti Nestlé di Lampung (Kustriari 2007).

Harga kopi di Indonesia selain dipengaruhi oleh produksi dan harga kopi domestik juga sangat dipengaruhi oleh harga yang terbentuk di pasar dunia terutama harga kopi di pasar tujuan ekspor kopi Indonesia. Pasar tujuan ekspor kopi Indonesia terbesar yaitu Amerika Serikat, Jerman, Jepang seperti yang terdapat pada Tabel 5.

Tabel 5 Perkembangan volume dan nilai ekspor kopi Indonesia menurut pasar tujuan ekspor tahun 2012-2014

Sumber: International Trade Center (ITC) 2015

Berdasarkan Tabel 5 pasar tujuan ekspor terbesar merupakan Amerika Serikat. Tingginya ekspor kopi di Amerika Serikat sejalan dengan peningkatan permintaan Amerika Serikat terhadap kopi dari pasar dunia. Konsumsi total Amerika Serikat sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan dan permintaan industri pengolahan kopi di Amerika Serikat. Nilai ekspor kopi di Indonesia ke pasar Jepang meningkat pada tahun 2012 yang disebabkan karena meningkatnya volume ekspor kopi Indonesia ke pasar Jepang. Selain itu meningkatnya nilai ekspor kopi di Jepang disebabkan karena meningkatnya harga kopi di pasar dunia. Pada tahun 2013 nilai ekspor kembali turun yang disebabkan karena berkurang volume ekspor kopi Indonesia. Selain itu juga disebabkan oleh turunnya harga kopi dunia. Permintaan kopi di pasar Jepang relatif meningkat dari tahun-tahun. Hal ini disebabkan karena meningkatnya industri pengolahan kopi di Jepang. Sebagian besar biji kopi yang diekspor dari pasar eksportir ke Jepang dilakukan pengolahan kembali oleh pabrik kopi instant, pabrik kopi reguler dan lain-lain (Kemendag 2009)

Volume dan nilai ekspor kopi Indonesia ke pasar Jerman meningkat pada tahun 2013. Akan tetapi pada tahun 2014 volume ekspor kopi Indonesia ke pasar Jerman mengalami sedikit penurunan. Permintaan biji kopi di Jerman sebagian besar didominasi oleh industri pengolahan yang melakukan pengolahan biji kopi mentah menjadi bahan setengah jadi yang kemudian diproduksi menjadi kopi kualitas tinggi. Industri pengolahan terbesar yang terdapat di Jerman yaitu Kraft Foods dengan berbagai merk kopi antara lain Jacobs, Tassimo, Cafe HAG dan Onko (Kemendag 2013).

Pasar Nilai Ekspor (000 US$) Volume Ekspor (Ton) Nilai Ekspor (000 US$) Volume Ekspor (Ton) Nilai Ekspor (000 US$) Volume Ekspor (Ton)

2012 2013 2014

Amerika

Serikat 330 815 69 652 320 912 66 138 295 903 58 309

Jerman 116 879 50 978 122 103 60 419 84 459 37 977

(23)

5

Perumusan Masalah

Masalah yang dihadapi industri kopi Indonesia adalah produksi kopi dalam negeri yang berfluktuasi dengan kecenderungan mengalami penurunan. Selain itu masalah yang dihadapi juga disebabkan karena konsumsi kopi domestik masih sangat rendah rata-rata yaitu sebesar 1 065 kg/tahun/kapital (Ditjenbun 2014). Rendahnya konsumsi domestik menyebabkan sebagian besar produksi kopi di Indonesia diekspor ke pasar tujuan ekspor. Hal ini menyebabkan ketergantungan terhadap pasar dunia terutama pasar tujuan ekspor utama semakin besar.Pada tahun 2007-2014 produksi kopi Indonesia 55.4 persen diekspor ke luar negeri dan hanya sekitar 44.6 persen yang digunakan untuk konsumsi domestik ( ICO 2015). Komoditas pertanian yang sangat tergantung pada pasar ekspor umumnya lebih rentan dan berisiko lebih buruk dibandingkan dengan komoditas yang mampu memiliki pangsa alternatif pasar domestik yang lebih besar (Arifin 2013).

Saat ini sebagian besar bentuk produk kopi yang mendominasi ekspor oleh Indonesia ke pasar importir utama masih dalam bentuk mentah, yaitu kopi biji. Kondisi ini mengakibatkan keunggulan berupa nilai tambah produk akhir dimiliki oleh pasar importir dan seringkali pasar diimportir utama mampu menjadi penentu harga seperti halnya yang terjadi di Indonesia. Hal ini menyebabkan perkembangan perdagangan komoditas primer di Indonesia cenderung tidak stabil dan sangat bergantung pada pasar-pasar konsumen. Fittner dan Kaplinsky (2001) menyatakan bahwa pada perdagangan biji kopi sebesar 40 persen dikuasai perusahaan-perusahaan multinasional. Kekuatan agen disetiap titik rantai pemasaran kopi bersifat asimetri. Selain itu di pasar pengimpor terbentuk tiga kekuatan yaitu pengimpor, pengolah dan pengecer yang bersaing untuk mendapatkan keuntungan yang besar dalam rantai pemasaran dan berusaha memberikan pendapatan tersebut sekecil mungkin kepada petani dan pedagangan perantara atau pasar penghasil kopi.

Harga menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat efisiensi dari rantai pemasaran pada suatu komoditi. Lebih jelasnya mengenai perkembangan harga kopi di pasar Indonesia dan harga kopi di pasar tujuan ekspor utama yaitu Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan Gambar 1 terjadi disparitas harga antara harga ekspor kopi Indonesia dengan harga impor kopi di pasar-pasar importir. Pada tahun 2005 rata-rata harga kopi di pasar Amerika Serikat adalah sebesar $ 2.2/kg, di pasar Jerman sebesar $1.96/kg dan di pasar Jepang sebesar $2.24/kg. Pada tahun 2011 terjadi peningkatan harga kopi di pasar importir dengan rata-rata harga kopi $ 4.6/kg di pasar Amerika Serikat, $ 4.18/kg di pasar Jerman dan $ 4.7/kg di pasar Jepang, sedangkan harga kopi di pasar Indonesia pada tahun 2005 adalah sebesar $ 1.37/kg meningkat pada tahun 2011 sebesar $ 2.46/kg. Peningkatan harga kopi di pasar importir lebih tinggi daripada harga yang terbentuk di pasar Indonesia yaitu peningkatan harga sebesar 106 persen di pasar Amerika, 113 persen di pasar Jerman, 112 persen di pasar Jepang dari tahun 2005 sampai 2014, sedangkan di Indonesia terjadi peningkatan harga sebesar 79 persen.

(24)

6

perbedaan pergerakan harga, seperti halnya yang terjadi pada bulan Januari sampai Agustus 2014 yaitu harga impor kopi di pasar Importir cenderung mengalami peningkatan, sedangkan pasar Indonesia harga cenderung mengalami penurunan. Pada bulan April-September 2011, ketika terjadi kenaikan harga kopi yang terjadi di pasar importir yaitu Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang, harga ekspor kopi di Indonesia lebih lambat merespon kenaikan harga tersebut. Harga ekspor kopi di Indonesia mengalami harga tertinggi pada bulan Januari 2012. Hal ini diduga terjadi perbedaan kecepatan penyesuaian harga (speed adjustment) antara harga kopi di pasar importir terhadap harga kopi di Indonesia.

Sumber: International Trade Center (ITC) (diolah) 2015

Gambar 1 Pergerakan harga impor kopi di pasar tujuan ekspor utama dan harga ekspor kopi di pasar Indonesia Januari 2005 - Desember 2014

Mengenai disparitas harga Conforti (2004) menjelaskan bahwa besarnya disparitas harga dalam rantai pemasaran disebabkan oleh dua hal yaitu jalur pemasaran yang panjang dan adanya penyalahgunaan kekuatan pasar (market power). Keduanya akan menyebabkan margin yang terbentuk dari adanya perdagangan kopi menjadi sangat besar dan tidak efisien. Semakin kecil tingkat margin distribusi yang dihasilkan mengindikasikan bahwa para pelaku di jalur distribusi tidak memiliki kekuatan pasar (market power) yang cukup untuk membentuk harga (price maker), dengan kata lain pasar yang tercipta mengarah pada model pasar persaingan sempurna. Sebaliknya semakin tinggi margin distribusi mengindikasikan bahwa para pelaku di jalur distribusi memiliki market power yang cukup untuk menetapkan harga di atas biaya marginalnya atau biaya marginal ditambah dengan nilai keuntungan yang konstan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berada pada pasar yang cukup terkonsentrasi.

Pergerakan harga mencerminkan kondisi perkembangan permintaan dan penawaran, kekuatan dari sisi penawaran maupun permintaan memiliki pengaruh terhadap perubahan dan fluktuasi harga di pasar dunia baik pasar eksportir maupun

0 1 2 3 4 5 6 Jan -05 Ju n -05 N o p -05 Ap r-06 Se p -06 Fe b -07 Ju l-07 De s-07 Me i-0 8 Ok t-0 8 Ma r-09 Agu st-0 9 Jan -10 Ju n -10 N o p -10 Ap r-11 Se p -11 Fe b -12 Ju l-12 De s-12 Me i-1 3 Ok t-1 3 Ma r-14 Agu st-1 4 US$/ k g Tahun

(25)

7 pasar importir. Dua pasar yang saling berhubungan akan terintegrasi secara sempurna dan transmisi harga terjadi secara simetri. Apabila transmisi harga antar kedua pasar tersebut tidak simetri maka dapat dapat indikasi adanya penyalahan kekuatan pasar (market power). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini secara spesifik adalah

1. Bagaimana analisis transmisi harga antara harga ekspor kopi Indonesia dengan pasar pasar tujuan ekspor utama kopi Indonesia (Amerika Serikat, Jerman dan Jepang)?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan harga ekspor kopi di tingkat eksportir Indonesia ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk

1. Menganalisis transmisi harga antara harga ekspor kopi di Indonesia dengan pasar tujuan ekspor utama yaitu Amerika Serikat, Jerman dan Jepang.

2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga ekspor kopi di Indonesia.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.

1. Bagi penulis diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman tentang perdagangan kopi di pasar dunia.

2. Bagi akademisi penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

3. Bagi pemerintah dan eksportir diharapkan penelitian menjadi informasi untuk memajukan industri kopi dalam negeri.

Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

(26)

8

Keterbatasan penelitian ini mencakup :

1. Jenis kopi yang dianalisis adalah HS 090111 yaitu kopi biji mentah, tidak menganalisis jenis kopi olahan seperti roaster, soluble dan lain-lain.

2. Pengamatan ini menggunakan kopi secara agregat tidak membedakan jenis kopi yaitu robusta dan arabika. Selain itu tidak dibedakan jenis kopi berdasarkan kualitasnya atau mutunya.

3. Penelitian ini tidak menganalisis asimetri harga berdasarkan magnitude atau besaran.

(27)

9

2

TINJAUAN PUSTAKA

Kerangka Teoritis

Integrasi Pasar dan Transmisi Harga

Harga merupakan indikator utama yang dapat mencerminkan tingkat efisiensi suatu pasar. Beberapa analisis kuantitatif dapat digunakan untuk melihat efisiensi penetapan harga adalah (1) integrasi pasar, (2) transmisi harga, dan (3) marjin pemasaran (Bressler dan King 1970). Analisis integrasi pasar dan transmisi harga merupakan salah satu indikator untuk mengetahui efisiensi pasar. Pengetahuan tentang integrasi pasar akan dapat bermanfaat untuk mengetahui kecepatan respon pelaku pasar terhadap perubahan harga sehingga dapat dilakukan pengambilan keputusan secara tepat. Dua buah pasar yang terintegrasi akan membentuk harga keseimbangan yang berkaitan secara langsung.

Asmarantaka (2009) menyatakan bahwa integrasi pasar merupakan suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar perubahan harga yang terjadi di pasar acuan akan menyebabkan terjadinya perubahan pada pasar pengikutnya. Dua tingkatan pasar dikatakan terpadu atau terintegrasi jika perubahan harga pada salah satu tingkat pasar disalurkan atau ditransfer ke pasar lain. Dalam struktur pasar persaingan sempurna, perubahan harga pada pasar acuan akan ditransfer secara sempurna ke pasar pengikut. Integrasi pasar akan tercapai jika terdapat informasi pasar yang memadai dan disalurkan dengan cepat ke pasar lain.

Pada dasarnya analisis integrasi pasar dapat dibedakan menjadi dua integrasi yaitu integrasi vertikal dan integrasi spasial. Menurut Goodwin (2006) tingkat transmisi harga pada satu rantai pemasaran dapat menjadi petunjuk kinerja dari setiap level/lembaga pemasaran yang berada dalam rantai pemasaran tersebut. Suatu rantai pemasaran dikatakan efisien dan terintegrasi secara vertikal apabila pola interaksi harga antara level hanya tergantung pada biaya produksinya. Dengan kata lain, perubahan harga pada suatu level pemasaran akan ditransformasikan kepada level pemasaran lainnya secara sama.

Transmisi harga spasial yaitu bagaimana harga di pasar domestik melakukan penyesuaian dengan harga pasar yang terpisah secara spasial yaitu terpisah secara dengan wilayah atau pasar melakukan penyesuaian dengan harga dunia. Selain itu jika terjadi perdagangan antara dua wilayah, kemudian harga di wilayah yang mengimpor komoditi sama dengan harga di wilayah yang mengekspor komoditi, ditambah dengan biaya transportasi yang timbul karena perpindahan diantara keduanya maka dapat dikatakan keduanya terjadi integrasi spasial (Ravalion, 1986).

Asimetri Harga

(28)

10

misalnya adanya lag informasi, promosi dan konsentrasi pasar (Henderson dan Quant 1980), dan (2) adanya respon kekuatan pasar pada pasar persaingan tidak sempurna yang dicirikan oleh peranan price leadership oleh pembeli utama maupun penjual utama (Von Cramon dan Taubadel 1997).

Menurut Meyer dan Taubadel (2004) yang menyebabkan asimetri pada kasus transmisi harga dapat diklasifikasikan dengan 3 kriteria

a b

c

Sumber : Meyer dan Von Cramond Taubadel (2004)

Gambar 2 Transmisi harga tidak simetri dari sisi kecepatan dan besaran (1) Asimetri harga vertikal dan spasial

Kriteria yang pertama transmisi harga tidak simetri yang terjadi secara vertikal atau spasial.Transmisi harga vertikal terjadi antar level pemasaran dalam satu rantai, sedangkan transmisi harga spasial terjadi antar pasar yang berbeda lokasi geografisnya.Transmisi harga spasial yang tidak simetri dapat dicontohkan melalui perbedaan respon harga domestik terhadap perubahan harga kopi di pasar dunia yaitu dimana kenaikan harga dunia lebih cepat dan lebih sempurna diadopsi oleh harga domestik dibandingkan saaat terjadi penurunan harga dunia.

(2) Asimetri harga berdasarkan kecepatan (speed) dan besaran (magnitude)

Asimetri harga kriteria yang kedua kondisi transmisi harga yang tidak simetri dari sisi kecepatan waktu dan besaran penyesuaian harga. Fenomena asimetri terjadi apabila shock harga disalah satu pasar tidak dengan segera ditransmisikan oleh pasar lainnya. Sementara dari sisi besaran fenomena asimetri terjadi pada saat shock harga disuatu pasar tidak ditransmisikan secara penuh oleh pasar lainnya. Kondisi transmisi harga tidak simetri dari sisi kecepatan waktu dan besaran dapat dilihat pada Gambar 2

(29)

11 output atau Pout akan mentransmisikan shock tersebut secara sempurna dimana kenaikan harga yang terjadi di Pout sama dengan kenaikan harga yang terjadi di Pin. Pada saat terjadi shock negatif di Pin, penurunan harga yang terjadi di Pout tidak terjadi sempurna yaitu hanya setengah dari shock negatif di Pin yang ditransmisikan oleh Pout. Gambar 2b menjelaskan transmisi yang tidak simetri dari sisi kecepatan waktu penyesuaian. Saat terjadi kenaikan harga di Pin pada waktu t1, Pout akan segera melakukan penyesuaian pada waktu yang sama. Pada saat Pin terjadi penurunan harga Pout tidak dengan segera merespon penurunan harga tersebut melainkan terdapat lag selama n, sehingga shock negatif di Pin baru akan ditransmisikan di P out pada waktu t 1+n.

Gambar 2c menjelaskan transmisi yang tidak simetri dari sisi kecepatan waktu dan besaran. Kenaikan harga yang terjadi di Pin pada waktu t1 tidak ditransmisikan seluruhnya pada waktu yang sama, melainkan hanya setengahnya. Pada waktu t2 barulah seluruh shock positif di pin ditransmisikan secara sempurna. Pada saat terjadi penurunan harga pada waktu yang sama di Pin proses transmisi dilakukan pada waktu yang lebih lama dibandingkan saat terjadi shock positif, yaitu pada waktu t3. Respon penurunan harga yang terjadi di Pout pun tidak sebesar penurunan harga yang terjadi di Pin. Hal ini mengambarkan bahwa terjadi transmisi yang tidak sempurna dari sisi kecepatan waktu dan besaran penyesuaian yang ditunjukan oleh Pout saat terjadi shock negatif di Pin.

(3) Asimetri harga positif dan negatif

Transmisi tidak simetri yang positif adalah kondisi dimana shock positif atau ketika terjadi kenaikan harga akan direspon secara lebih cepat dan lebih sempurna dibandingkan pada saat terjadi shock negatif yaitu ketika terjadi penurunan harga. Sebaliknya transmisi tidak simetri yang negatif adalah situasi dimana shock negatif akan lebih cepat atau lebih sempurna direspon dibandingkan shock positif. Gambar 3a menjelaskan bahwa ketika Pin naik maka Pout akan merespon dengan kecepatan dan besaran yang sama. Akan tetapi ketika Pin turun maka Pout tidak akan merespon dengan kecepatan dan besaran yang sama maka disebut asimetri positif. Sebaliknya ketika Pin turun, maka Pout akan merespon dengan kecepatan dan besaran yang sama. Sebaliknya jika Pout merespon dengan kecepatan dan besaran yang sama ketika Pin turun dibandingkan ketika Pin naik maka disebut asimetri negatif (Gambar 3b)

a b

Sumber : Meyer dan Von Cramond Taubadel (2004)

(30)

12

Penyebab Asimetri harga

Fenomena transmisi harga tidak simetri sebagian besar disebabkan oleh karena adanya penyalahgunaan kekuatan pasar (market power) (Von Cramon-Taubadel 1997; McCorriston 2002; Vavra dan Goodwin 2005). Selain itu adanya asimetri harga disebabkan adanya biaya transaksi yang akan menyebabkan transmisi harga antar pasar menjadi tidak simetri, meskipun pasar tersebut berada pada persaingan sempurna (Zachariasse dan Bunte 2003)

Von Cramon-Taubadel (1997) menyatakan beberapa faktor yang menyebabkan asimetri harga, (1) perusahaan menghadapi perbedaan biaya penyesuaian (adjustment cost) yaitu baik itu ketika harga naik maupun ketika harga turun (Bailey dan Brorsen 1989), contohnya persaingan harga antara lembaga pemasaran harga meningkat lebih cepat ketika terjadi peningkatan permintaan. Akan tetapi ketika permintaan turun respon harga turun lebih lambat , dan (2) terjadi hubungan asimetri karena adanya penyalahgunaan kekuatan pasar (market power)

Asimetri harga secara teoritis dalam hubungannya dengan karakteristik kompetisi yang tidak sempurna, misalnya adanya lag informasi, promosi dan konsentrasi pasar (Henderson dan Quant 1980). Beberapa faktor lainnya yaitu, (1) masing-masing perusahaan akan menyikapi secara berbeda dalam penyesuaian biaya tergantung apakah sedang naik atau sedang turun, (2) pelaku pemasaran menahan barangnya pada saat naik karena takut kehabisan stok, (3) respon kekuatan pasar pada pada pasar persaingan tidak sempurna yang dicirikan oleh peranan price leadership baik oleh pembeli utama maupun penjual utama (Von Cramon-Taubadel 1997), dan (4) Adanya intervensi pemerintah, misalnya adanya subsidi harga (Kinnucan dan Forker 1987 ).

Meyer dan Von Cramon-Taubadel (2004), menyatakan bahwa tidak terjadinya transmisi harga antara dua level pasar yang berbeda dalam satu rantai pemasaran disebabkan oleh pasar yang tidak kompetitif. Untuk komoditas pertanian persaingan yang tidak sempurna di rantai pemasaran (marketing chain) membuka ruang bagi middleman untuk melakukan penyalahgunaan kekuatan pasar yang dimilikinya (abuse of market power).

Kekuatan Pasar dan Struktur Pasar Persaingan Tidak Sempurna

(31)

13 disebut dengan pola price leadership-price follower (Meyer dan Von-Cramon Taubadel 2004)

Bailey dan Brorsen (1989) menambahkan bahwa transmisi harga tidak simetri akan berjalan secara positif atau negatif tergantung dari reaksi dari persaingnya, apabila suatu perusahaan percaya bahwa tidak ada satu pun persaingnya akan dengan cepat merespon, maka yang terjadi adalah transmisi harga tidak simetri yang negatif. Apabila perusahaan percaya bahwa pesaingnya akan lebih bereaksi terhadap kenaikan harga dibandingkan penurunan harga maka transmisi harga tidak simetri yang terjadi adalah positif.

Meyer dan Von-Cramon Taubadel (2004) menambahkan bahwa pada struktur pasar oligopoli, transmisi harga tidak simetri dapat terjadi secara positif maupun negatif, tergantung pada struktur dan perilaku pasar, sementara pada pasar monopoli transmisi harga tidak simetri yang terjadi lebih akan mengarah pada bentuk positif daripada negatif.

Biaya Penyesuaian

Kekakuan dalam proses penyesuaian harga antara pasar Indonesia dan pasar dunia dapat juga disebabkan adanya sejumlah tambahan biaya yang harus dikeluarkan oleh pelaku usaha untuk menyesuaikan harganya. Dalam ilmu ekonomi biaya tersebut dikenal dengan adjustment cost atau biaya penyesuaian yaitu biaya yang digunakan untuk melakukan perubahan label dan katalog, biaya periklanan serta biaya lain yang harus dikeluarkan untuk menyampaikan perubahan harga kepada para kilen (Meyer dan Von-Cramon Taubadel 2004)

Menurut Bailey dan Brorsen (1989) sebuah pasar/perusahaan akan menghadapi adjustment cost yang berbeda ketika harga naik maupun ketika harga turun, contoh ketika terjadi peningkatan harga komoditas akan lebih cepat direspon daripada ketika terjadi penurunan harga atau disebut juga negative asymmetric. Menurut Ball dan Mankiw (1994); Buckle dan Carlson (1996) menyatakan bahwa asimetri harga terjadi akibat biaya penyesuaian juga dapat terjadi akibat adanya inflasi.

` Menurut McCorristos (2000) menyatakan bahwa perbedaan mendasar antara transmisi harga yang disebabkan oleh kekuatan pasar (Market Power) dibandingkan dengan adjustment cost adalah hal waktu. Biaya penyesuaian (adjustment cost) yang besar hanya akan terjadi dalam jangka pendek, sehingga sifatnya hanya menunda proses transmisi atau penyesuaian harga. Pada jangka panjang akan terjadi penyesuaian harga yang sempurna atau harga kembali simetri (McCorriston 2000). Sementara asimetri yang disebabkan oleh penyalahgunaan kekuatan pasar (market power) dapat bertahan dalam waktu yang lama, karena tidak hanya berpengaruh dari sisi time of adjustment atau waktu penyesuaian tetapi juga mempengaruhi magnitude of adjustment (penyesuaian dari segi arah) (Meyer dan von Cramon Taubadel 2004).

(32)

14

Penelitian terdahulu

Transmisi Harga dan Integrasi Pasar

Penelitian yang membahas mengenai transmisi harga kopi telah banyak dilakukan baik di tingkat nasional maupun international. Kirnovos (2004) dalam penelitian tentang transmisi harga dan integrasi pasar kopi di dunia ke pasar lokal di pasar-pasar eksportir kopi (Brazil, Ethiopia, Kenya, Kolombia dan Mexico) sebelum dan sesudah reformasi perdagangan menggunakan analisis kointegrasi dan Error Correction Model (ECM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangsa harga eksportir di pasar dunia meningkat setelah adanya liberalisasi perdagangan. Terdapat integrasi yang kuat antara pasar domestik dan pasar dunia setelah adanya liberalisasi perdagangan dibandingkan sebelum adanya liberalisasi perdagangan. Hasil analisis menggunakan model ECM menyimpulkan bahwa pada jangka pendek terjadi peningkatan transmisi harga antara pasar dunia terhadap pasar eksportir, sehingga harga domestik lebih cepat menyesuaikan fluktuasi harga dunia setelah adanya liberalisasi perdagangan dibandingkan sebelum adanya reformasi.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Mohan dan Russel (2008) yaitu meneliti tentang perdagangan kopi di pasar Brazil, Guatemala dan India setelah dan sebelum liberalisasi perdagangan. Pada penelitian tersebut jenis kopi yang dianalisis adalah jenis kopi arabika. Hasil penelitian menyimpulkan pada jangka panjang terdapat kointegrasi atau hubungan jangka panjang antara harga kopi arabika di pasar produsen dengan harga yang terbentuk di pasar dunia. Setelah terjadi liberalisasi perdagangan kopi pada 1980-an, akibat bubarnya International Coffee Agreement (ICA) menyebabkan pangsa pasar (share) pasar produsen (Brazil, Guatemala dan India) meningkat di pasar dunia.

Penelitian Kustiari (2007) tentang integrasi kopi Indonesia terhadap kopi di pasar dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga kopi di tingkat petani baik robusta dan arabika terintegrasi dengan harga di pasar dunia perubahan harga yang terjadi di pasar dunia ditransmisikan ke harga di tingkat petani secara simetri. Harga kopi robusta menyesuaikan keseimbangan jangka panjang relatif lebih lambat karena harga kopi robusta lebih fluktuatif dibandingkan harga kopi arabika, sehingga resiko perubahan perdagangan kopi robusta lebih tinggi dibandingkan kopi arabika.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Hutabarat (2006) meneliti tentang analisis saling pengaruh harga kopi Indonesia dan pasar dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga eceran kopi di Jepang cenderung lebih tinggi dibandingkan harga-harga di pasar konsumen, seperti Amerika Serikat, Jerman, Italia dan Belanda. Harga eceran di AS dan Belanda cenderung memiliki pola yang sama, sedangkan harga eceran kopi di Jerman memiliki pola yang hampir sama dengan di Belanda dan harga eksportir Indonesia. Hasil kointegrasi menunjukkan bahwa pada jangka panjang harga ditingkat petani di Lampung, Jawa Timur maupun harga ekspor kopi di Indonesia keseluruhan berkointegrasi dengan harga konsumen di Jepang, AS, Jerman, Italia, dan Belanda.

(33)

15 Indonesia mengikuti perubahan di pasar dunia yaitu pengaruh dari pasar-pasar pengeskpor maupun pengimpor. Pengujian kointegrasi menunjukkan bahwa pada jangka panjang harga kopi Indonesia terintegrasi dengan pasar importir dan eksportir utamanya. Variabel yang memberikan pengaruh signifikan pada jangka panjang adalah harga impor kopi (Amerika Serikat dan Malaysia) serta harga ekspor kopi Brazil dan Vietnam. Analisis hubungan jangka pendek dengan ECM menunjukkan harga ekspor kopi Indonesia terintegrasi dengan pasar importir maupun eksportir utama, dimana kecepatan penyesuaian ke keseimbangan 87.33 persen pada pasar importir dan 65.33 persen pasar pasar eksportir. Variabel yang signifikan mempengaruhi harga ekspor kopi Indonesia pada jangka pendek adalah harga impor kopi di (Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura) serta harga ekspor kopi Brazil dan Vietnam.

Hasil penelitian Purwadi (2006) menunjukkan bahwa harga kopi robusta Indonesia berperan sebagai price leader pergerakan harga kopi di pasar dunia baik pergerakan harga di pasar eksportir utama Brasil dan Vietnam maupun pergerakan harga di pasar importir utama USA, Jerman dan Jepang. Pada keseimbangan jangka panjang harga kopi di Indonesia menjadi acuan pergerakan harga di pasar dunia. Namun kondisi ini tidak berarti Indonesia mampu mendikte dan menetapkan harga kopi di pasar dunia.

Penelitian asimetri harga telah dilakukan oleh beberapa peneliti Gomez dan Koerner (2009) meneliti tentang asimetri harga kopi di pasar Perancis, Jerman dan Amerika Serikat terhadap harga kopi dunia dengan menggunakan model AECM (Asymmetric Error Correction Model) yang dikembangkan oleh Von Cramond-Taubadel dan Loy (1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada jangka panjang tidak terjadi asimetri harga antara harga kopi dunia dan harga kopi ditingkat retail yaitu di Amerika Serikat, Perancis dan Jerman. Akan tetapi pada jangka pendek terjadi asimetri harga antara pasar-pasar tersebut, contoh di Jerman menurunnya harga dunia ditransmisikan dengan cepat oleh harga kopi retail di Jerman daripada penurunan harga kopi. Berbeda halnya dengan USA dimana kenaikan harga dunia ditransmisikan dengan cepat oleh harga kopi retail di Amerika Serikat daripada harga kopi naik.

Analisis Transmisi Harga

Analisis asimetri harga untuk produk pertanian pertama kali dilakukan oleh Tweeten dan Quance (1967) dalam ( Meyer dan Von Cramon-Taubadel 2004) yang menggunakan teknik variabel dummy. Kemudian model tersebut dimodifikasi oleh Houck (1977) yaitu dengan mengeluarkan observasi awal karena level observasi yang pertama dinilai tidak memiliki kekuatan penjelasan bebas. Penelitian dengan menggunakan metode Houck dalam (Meyer dan Von Cramon-Taubadel 2004) telah dilakukan oleh beberapa peneliti yaitu Kinnucan dan Forker (1987) yaitu menganalisis asimetri harga pada industri susu di Amerika Serikat. Aguiar dan Santana (2005) yaitu meneliti tentang transmisi harga asimetri untuk tomat, buncis , bawang, susu bubu, beras, dan kopi di Brazil.

(34)

16

Loy (1996) merupakan yang pertama mengenalkan konsep kointegrasi dalam model transmisi harga tidak simetri dengan menggunakan konsep Error Correction Model (ECM). Prinsip utama model ini adalah dengan melihat signifikansi penyimpangan (error) dari model keseimbangan jangka panjangnya. Pada konsep kointegrasi dua series harga dikatakan terkointegrasi apabila pergerakan di salah satu series harga diikuti dengan pergerakan harga di series lainnya secara sempurna, apabila terdapat pergerakan harga yang menyimpang maka akan dimasukkan sebagai bentuk Error Correction Term/ ECT.

Pada analisa transmisi harga dengan metode ECM dipisahkan ECT antara bentuk positif dengan bentuk negatif. ECT positif menunjukkan kondisi penyimpangan di atas garis keseimbangan jangka panjang. Sementara ECT negatif menunjukkan kondisi penyimpangan di bawah garis keseimbangan jangka panjangnya. Acquah dan Onumah (2010) menyebutkan bahwa penggunaan metode ECM lebih disarankan dibandingkan metode Houck yang konvensional. Meskipun demikian (Meyer dan Von Cramon-Taubadel 2004) menyebutkan bahwa analisa transmisi harga dengan menggunakan ECM hanya dapat menggambarkan pola asimetri dari sisi waktu penyesuaian. Hal ini disebabkan analisa kointegrasi dan ECM merupakan bentuk keseimbangan jangka panjang, sehingga apabila transmisi harga tidak simetri terjadi dari sisi besaran penyesuaian maka data tidak akan saling terkointegrasi.

Penelitian dengan menggunakan metode AECM telah dilakukan oleh beberapa peneliti Rezity dan Panagopoulos (2006) meneliti tentang transmisi harga tanaman pertanian di Yunani. Pada penelitian ini menggunakan metode analisis ECM dan GETS (LSE-Hendry General to Specific Model) untuk menganalisis asimetri harga. Gomez dan Koerner (2009) menganalisis tentang asimetri harga antara harga kopi di pasar importir utama (Perancis, Jerman dan Amerika Serikat) terhadap harga kopi dunia. Model analisis yang digunakan pada penelitian tersebut yaitu dengan menggunakan metode analisis AECM (Asymmetric Error Correction Model). Vavra dan Goodwin (2005) meneliti tentang transmisi harga industri pertanian. Pada penelitian ini menggunakan ECM yang dikembangkan oleh Von Cramon Taubadel dan Loy (1996) untuk menganalisis asimetri harga.

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Harga

(35)

17 Firmansyah (2006) menyatakan bahwasanya faktor-faktor fundamental yang menentukan harga kopi antara lain produksi, konsumsi, dan stok. Menurut Gilbert dan Morgan (2010) harga pangan meningkat disebabkan oleh produksi dan konsumsi. Sisi permintaan berpotensi meningkatkan harga komoditas pertanian walaupun derajatnya relatif rendah dibandingkan tekanan dari sisi penawaran. Sumber utama peningkatan permintaan komoditas pangan adalah peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan. Namun untuk pasar maju income effect terhadap permintaan komoditas pertanian relatif kecil bila dibandingkan dengan pasar berkembang yang mempunyai income elasticity lebih tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi sisi penawaran komoditas pangan/pertanian cenderung sulit untuk dikontrol (Tomek 2000).

Dewi (2011) analisis kontrak berjangka OLEIN di bursa berjangka Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga OLEIN di pasar berjangka adalah tingkat suku bunga Indonesia, return nilai tukar USD/Rp, dan return CPO sebesar 66 persen. Sisanya sebesar 34 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak digunakan didalam model. Variabel tersebut diindikasikan yaitu faktor musim, faktor makro ekonomi luar negeri, dan faktor psikologis investor.

Fitrianti (2009) menyimpulkan bahwa kenaikan harga minyak mentah berpengaruh terhadap pembentukan harga karet terutama pada bursa SICOM, TOCOM dan AFET. Karet merupakan bahan baku ban yang juga dapat diproduksi dari minyak mentah. Selain itu faktor nilai tukar juga menjadi faktor yang ikut mempengaruhi harga karena perdagangan dunia karet alam biasanya dilakukan dalam dolar Amerika. Aklimawati (2013) menyatakan bahwa harga terbentuk sebagai akibat interaksi secara simultan antara kekuatan permintaan dan penawaran. Faktor-faktor yang menentukan pembentukan harga ekspor kakao adalah produksi, stok, dan nilai tukar mata uang.

Berdasarkan studi-studi terdahulu yang sebagian besar menganalisis integrasi pasar dengan menggunakan metode VECM atau ECM. Pada penelitian menganalisis transmisi harga yang tidak simetri (asimetri) dari segi kecepatan penyesuaian waktu dengan menggunakan metode AECM (Assymmetric Error Correction Model) yaitu dengan cara memisahkan antara ketika harga naik maupun ketika harga turun, sehingga dapat diketahui asimetri harga baik pada jangka panjang maupun pada jangka pendek. Selain itu pada penelitian juga menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga ekspor kopi di Indonesia.

Kerangka Konseptual

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sebagian besar di ekspor ke pasar dunia. Hal ini menyebabkan ketergantungan harga ekspor kopi di Indonesia terhadap pasar tujuan ekspor semakin tinggi. Ketergantungan terhadap pasar dunia mengakibatkan harga kopi Indonesia akan berfluktuasi akibat fluktuasi harga yang terjadi di pasar dunia.

(36)

18

harga, sehingga menyebabkan perkembangan perdagangan komoditas primer di Indonesia cenderung tidak stabil dan sangat tergantung terhadap pasar-pasar konsumen. Selain itu berdasarkan pangsa pasar ekspor Indonesia ke pasar tujuan ekspor utama yaitu Amerika Serikat, Jepang dan Jerman masih kecil apabila dibandingkan dengan pasar-pasar eksportir utama lainnya contohnya Brazil dan Vietnam. Hal ini menyebabkan posisi Indonesia sebagai small country menyebabkan pasar kopi di Indonesia berperan sebagai price taker terhadap perubahan harga yang terjadi di pasar importir.

(37)

19

Gambar 3 Kerangka Pemikiran

ekspor kopi Indonesia impor kopi pasar

(Amerika Serikat, Jepang dan Jerman

analisis faktor-faktor yang menentukan pembentukan harga

analisis transmisi harga

menggunakan analisis AECM

menggunakan analisis ECM harga ekspor kopi

Indonesia harga impor kopi

pasar importir Fakta dan masalah penelitian:

1. ketergantungan yang tinggi terhadap pasar tujuan ekspor karena konsumsi kopi Indonesia kecil.

2. pangsa pasar ekspor kopi Indonesia ke pasar tujuan ekspor kecil, sehingga menyebabkan Indonesia bertindak sebagai price taker (penerima harga)

(38)

20

Hipotesis

1. Terjadi asimetri harga antara harga ekspor kopi di Indonesia dengan harga impor kopi di pasar tujuan ekspor utama yaitu (Amerika Serikat, Jerman dan Jepang)

2. Faktor yang mempengaruhi pembentukan harga ekspor kopi di Indonesia a. Harga kopi di pasar importir utama Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman

diduga berpengaruh positif terhadap harga kopi Indonesia, artinya kenaikan harga impor kopi di Amerika Serikat akan menyebabkan kenaikan harga ekspor kopi di Indonesia.

b. Harga kopi di pasar eksportir utama kopi yaitu Brazil dan Vietnam berpengaruh positif terhadap harga ekspor kopi di Indonesia, artinya ketika terjadi kenaikan harga kopi di pasar Brazil dan Vietnam akan menyebabkan kenaikan harga ekspor kopi di Indonesia.

c. Nilai tukar riil berkorelasi positif terhadap harga ekspor kopi Indonesia, kenaikan nilai tukar riil akan menyebabkan kenaikan harga kopi domestik. Meningkatnya harga kopi domestik akan menyebabkan meningkatnya harga ekspor kopi di Indonesia.

(39)

21

3

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini berdasarkan data sekunder yang bersumber dari laporan, jurnal, website dan dokumen yang dipublikasikan oleh lembaga dalam dan luar negeri. Data yang digunakan merupakan data time series harga biji kopi dengan HS 090111. Periode data yang digunakan adalah selama 120 bulan atau selama 10 tahun, yaitu dari bulan Januari 2005-Desember 2014. Data yang dianalisis berupa data volume dan nilai ekspor kopi eksportir utama (Indonesia, Brazil, dan Vietnam), volume dan nilai impor kopi di pasar importir utama kopi (Amerika Serikat, Jerman dan Jepang), nilai tukar rupiah. Sumber data diperoleh dari Trade Map/ITC, Trading Economic, Kementrian Perdagangan, Bank Indonesia, dan instansi lainnya. Akan tetapi mengingat data harga kopi di negara eksportir maupun negara importir yang tidak tersedia, maka penentuan harga dihitung dari pembagian antara nilai dan volume ekspor kopi yang diperoleh dari Internasional Trade Center (Trade Map).

Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Analisis transmisi harga yaitu dengan menggunakan Asymmetric Error

Correction Model (AECM)

2. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga ekspor kopi di Indonesia menggunakan model Error Correction Model (ECM)

Analisis Transmisi Harga

Metode ini mengacu pada fenomena harga yang terjadi ketika harga di pasar Indonesia bereaksi terhadap perubahan (shock) di pasar tujuan ekspor utama kopi. Kondisi transmisi harga spasial yang tidak simetri terjadi apabila terdapat perbedaan respon harga di pasar Indonesia antara shock kenaikan dan shock penurunan yang terjadi pada harga di pasar tujuan ekspor kopi, begitu juga sebaliknya. Kondisi transmisi harga yang tidak simetri juga dapat dilihat dari sisi besaran harga, sebagai contoh pada saat terjadi kenaikan harga di pasar dunia maka harga di pasar Indonesia akan mengalami kenaikan pada besaran yang sama. Pada saat terjadi penurunan harga di pasar dunia maka penurunan harga yang ditransmisikan di pasar Indonesia tidak sebesar penurunan yang terjadi di pasar dunia yaitu pasar eksportir maupun pasar importir utama. Akan tetapi analisis dengan menggunakan AECM hanya bisa menganalisis transmisi harga dari segi waktu.

(40)

22

sementara pada jangka panjang proses transmisinya menunjukkan pola simetri. Maka dapat disimpulkan bahwa penyebab transmisi harga lebih disebabkan oleh biaya penyesuaian. Faktor penyalahgunaan kekuatan pasar (market power) hanya akan berpengaruh terhadap asimetri harga pada jangka panjang signifikan. Maka dapat dipastikan asimetri harga tersebut disebabkan oleh adanya penyalahgunaan kekuatan pasar (market power ) yang dilakukan oleh pasar importir.

t n i n i t i t i t n i n o i i t i t i t

t a PEI PI ECT PEI PI ECT

PEI               

                    1 0 1 2 22 21 1 1 12 11 0 t n i n i t i t i t n i n o i t i t i t

t a PI PEI ECT PI PEI ECT

PI               

                    1 0 1 2 22 21 1 1 1 12 11 0

ECT yaitu bentuk penyimpangan dari keseimbangan jangka panjang

(keseimbangan kointegrasi) dari ∆PEIt-i dan ∆PIt-i , yang kemudian dipisahkan dalam bentuk positif (ECT+) dan negatif (ECT-). ECT+ atau menggambarkan kondisi saat penyimpangan berada di atas garis keseimbangan jangka panjang, sedangkan ECT- menggambarkan kondisi saat penyimpangan berada dibawah garis keseimbangan jangka panjang.

Melihat dugaan asimetri dalam transmisi harga maka dapat digunakan waldtest, yaitu dengan membandingkan signifikansi antara koefisien positif dengan koefisien negatif. Dugaan adanya penyalahan kekuatan pasar (market power) dapat dilihat dari koefisien jangka panjangnya (1=2). Apabila koefisien tersebut signifikan, artinya dalam jangka panjang terjadi transmisi harga yang tidak simetri pada jangka panjang yang diakibatkan adanya penyalahgunaan kekuatan pasar (market power), sementara koefisien ( 11- dan 21+, 12- dan 22+)

dapat mengambarkan pola transmisi harga jangka pendek. Apabila 11- ≠ 21+ ,

12- ≠ 22+, artinya terjadi transmisi harga tidak simetri yang disebabkan karena adanya biaya penyesuaian (adjustment cost). Sebelum menganalisis transmisi harga dengan menggunakan model AECM (Asymmetric Error Correction Model) perlu dilakukan dalam beberapa tahapan pengujian.

Uji Stasioneritas Data

Data yang stasioner terjadi jika mean, variance, dan covariance bersifat konstan sepanjang waktu, sedangkan data non stasioner ditunjukkan dengan adanya perubahan mean, variance, dan covariance sejalan dengan perubahan waktu. Data time series yang tidak stasioner (mengandung unit root) menyebabkan masalah spurious regression. Oleh karena itu, uji stasioneritas digunakan untuk mengetahui kestasioneran data dan menghindari masalah spurious regression.

(41)

23

          p i t i t t

t a t PEI i a PEI

PE

1 1 1

1

0

          p i t i t t

t a t PI i PI

PI

1 1

1

0

Dimana :

PEIt = Harga ekspor kopi Indonesia pada periode ke-t (US$/kg) PEIt-1 = Harga ekspor kopi Indonesia 1 bulan sebelumnya (US$/kg) PIt = Harga impor kopi di pasar importir Amerika Serikat,

Jerman dan Jepang pada periode ke-t (US$/kg) PIt-1 = Harga impor kopi di pasar importir Amerika Serikat, Jerman dan Jepang 1 bulan sebelumnya (US$/kg)

α0, α1, , i = Koefisien

= Error persamaan

P = Panjang lag yang digunakan dalam model t = Trend waktu

Data yang tidak stasioner selanjutnya distasionerkan melalui proses pendiferensi, yang dapat dilakukan beberapa kali (d kali) hingga diperoleh pola data yang stasioner.

Pengujian Lag Optimum

Salah satu permasalahan yang terjadi dalam uji stasioneritas adalah penentuan lag optimal. Jika lag yang digunakan dalam uji stasioner terlalu sedikit, maka residual dari regresi tidak dapat menampilkan proses white noise, sehingga model tidak dapat mengestimasi actual error secara tepat. Penentuan jumlah lag yang digunakan dalam model dapat memanfaatkan beberapa informasi yaitu dengan Akaike Information Criterion (AIC), Schwarz Information Criterion (SIC), dan Hannan-Quinn Criterion (HQ).

Uji Kointegrasi

Kointegrasi merupakan pengujian model stasioner pada nilai residual yang dihasilkan dari persamaan yang menggunakan data tidak stasioner. Dengan kata lain, dua data time series yang tidak stasioner dapat terkointegrasi apabila tingkat penyimpangan dari masing-masing data tetap memiliki karakteristik yang stasioner dan menunjukkan pola keseimbangan jangka panjang (terkointegrasi).

(42)

24

variabel-variabel yang tidak stasioner mengalami kointegrasi atau tidak, uji kointegrasi dapat dilakukan jika variabel-variabel memiliki derajat integrasi sama, Uji kointegrasi Engle dan Granger dapat dijelaskan dengan memisalkan variabel dan masing-masing mempunyai derajat integrasi 1, atau dapat dinotasikan dengan yt~I(1) dan xt ~I(1) model persamaan regresi.

PEIt= 0 + 1 PI PIt = 0 + 1 PEIt

Estimasi kesalahan ketidakseimbangan dari model regresi et = PEIt - 0 - 1PIt

et = PIt - 0 - 1PEIt

Jika residual kesalahan ketidakseimbangan (et) stasioner, dapat dikatakan bahwa variabel-variabel pada persamaan regresi yang dimaksud membentuk hubungan kointegrasi, sedangkan himpunan variabel dikatakan tidak membentuk hubungan kointegrasi jika residualnya tidak stasioner (Engle dan Granger 1987).

Uji Kausalitas

Pengujian kausalitas dalam analisa transmisi harga bertujuan untuk memastikan arah hubungan sebab akibat antara variabel-variabel yang diuji. Dalam analisis transmisi harga pada penelitian ini uji kausalitas digunakan untuk melihat apakah sumber transmisi harga berasal dari hulu atau berasal dari hilir.

Konsep kointegrasi selain konsisten dengan model koreksi kesalahan juga mampu menjelaskan hubungan kausalitas Granger. Uji kausalitas standar memiliki kelemahan diantaranya sering terjadi autokorelasi. Model kausalitas standar selanjutnya dikembangkan lebih lanjut oleh Engle dan Granger (1987) yaitu dengan menggunakan pendekatan koreksi kesalahan. Dalam uji kausalitas Engle dan Granger (1987) dilakukan terhadap variabel-variabel yang berkointegrasi. 1 1 1 1 1 1 1

0 t t

n i t PI n i t PEI

t a PEI PI ECT e

PEI       

   

   1 1 1 1 1 1 1

0 t t

n i t PI n i t PEI

t a PI PEI ECT e

PI       

 

 

 

  

Kesimpulan

A. Apabila 1≠ 0 dan 2≠0 terdapat hubungan kausalitas jangka panjang 2 arah. (PEI↔PI)

B. Apabila 1≠ 0 dan 2= 0 terdapat hubungan kausalitas jangka panjang 1 (PEI→PI)

C. Apabila 1= 0 dan 2≠0 terdapat hubungan kausalitas jangka panjang 1 arah (PI→PEI)

(43)

25 membandingkan nilai probabilitas dengan taraf nyata yang digunakan. Jika nilai probabilitas lebi

Gambar

Tabel 1 Perkembangan neraca perdagangan komoditas unggulan utama perkebunan Indonesia tahun 2009-2013 (US$ juta)
Tabel 3 Pangsa pasar ekspor kopi  di pasar-pasar eksportir utama tahun 2009-2014 (%)
Tabel 4  Konsumsi kopi di pasar produsen kopi utama (000 Bags (60 kilogram) tahun 2009-2014
Tabel 5  Perkembangan volume dan nilai ekspor kopi Indonesia menurut pasar tujuan ekspor tahun 2012-2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

perkembangan luas areal, produksi, produktivitas dan ekspor kopi Indonesia, (2) perkembangan ekspor kopi Indonesia ke Asia (negara tujuan ekspor utama yaitu Jepang dan

Price transmission analysis is used to answer the research questions of vertical market integration and vertical price transmission of farmer level price in

Sedangkan hasil penelitian dengan menggunakan metode Constant Market Share menunjukkan bahwa kekuatan penawaran ekspor Indonesia yang dicerminkan oleh kekuatan daya saing

penjualan dapat mempengaruhi harga yang diukur dengan kekuatan pasar

ekspor dalam jangka pendek berpengaruh positif tetapi tidak signifikan sedangkan. dalam jangka panjang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap

Apabila bank telah menikmati franchise value yang tinggi yang disebabkan kekuatan pasar (market power) yang tinggi, mereka akan mengamankan tingginya franchise

Tujuan penelitian ini untuk meneliti perkembangan ekspor batubara Indonesia, khususnya ke pasar Tiongkok, agar dapat menganalisis apa saja yang menjadi faktor pendukung

market). Dalam penentuan klasifikasi pasar tradisional, penulis melakukan sedikit redefinisi dari clustering PKPLNyakni negara- negara dan entitas ekonomi yang masuk secara