PEMBUATAN PERMEN TABLET PASTILES DENGAN BAHAN AKTIF MINYAK KEMUKUS (Pipper cubeba Linn.)
Oleh : YUARI SUSANTI
F34103055
2007
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Yuari Susanti. F34103055. Pembuatan Permen Tablet Pastiles dengan Bahan Aktif Minyak Kemukus ( Pipper cubeba Linn.). Di bawah bimbingan Chilwan Pandji dan Suryatmi Retno Dumadi. 2007
ABSTRAK
Kemukus merupakan tanaman merambat dan termasuk dalam famili Piperaceae. Tanaman ini merupakan salah satu jenis tanaman obat yang ada di Indonesia. Masyarakat Jawa Tengah menggunakan kemukus dalam ramuan jamu-jamuan. Menurut Ketaren (1985), kemukus berkhasiat untuk menyembuhkan infeksi pada tenggorokan dan melegakan pernapasan. Burkil (1935) menyatakan bahwa kemukus digunakan dalam pengobatan bronchitis dan batuk. Selain itu juga digunakan sebagai bahan diuretic dan antiseptik. Penggunaan minyak kemukus dalam pembuatan permen tablet pastiles merupakan hal yang tepat karena bahan ini memiliki efek menyegarkan, dan mampu melegakan tenggorokan sesuai dengan fungsi dari sediaan pastiles, yaitu memberikan efek lokal mulut dan tenggorokan.
Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formula permen tablet pastiles yang terbaik dan mengetahui penerimaan terhadap produk. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu konsentrasi sorbitol (A) dan konsentrasi minyak kemukus (B). Masing-masing faktor terdiri dari tiga taraf, untuk konsentrasi sorbitol (A) adalah 75% (A1), 77% (A2) dan 79% (A3) sedangkan untuk konsentrasi minyak kemukus (B) adalah 1% (B1), 1.5% (B2), dan 2% (B3). Uji yang dilakukan untuk mengetahui kualitas dan penerimaan produk antara lain analisa sifat fisik dan kimia (meliputi kekerasan; keregasan; keseragaman bobot; keseragaman ukuran; kadar air; dan kadar abu), uji toksisitas serta uji organoleptik.
PEMBUATAN PERMEN TABLET PASTILES DENGAN BAHAN AKTIF MINYAK KEMUKUS (Pipper cubeba Linn.)
Oleh : YUARI SUSANTI
F34103055
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
2007
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
PEMBUATAN PERMEN TABLET PASTILES DENGAN BAHAN AKTIF MINYAK KEMUKUS (Pipper cubeba Linn.)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh : YUARI SUSANTI
F34103055
Lahir di Purworejo, 7 Januari 1985 Tanggal Lulus : Agustus 2007
Menyetujui , Bogor, Agustus 2007
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Purworejo, Jawa Tengah pada
tanggal 7 Januari 1985 dari pasangan Suprapto dan Purwati.
Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis menempuh pendidikan di TK Pertiwi Ngadisono,
Wonosobo (1990-1991), SDN 1 Ngadisono, Wonosobo
(1991-1997), SLTP N 3 Kaliwiro, Wonosobo
(1997-2000),dan SMU N 7 Purworejo (2000-2003).
Pada akhir pendidikan SLTA penulis mendapatkan kesempatan untuk
mengikuti Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan pada tahun 2003 penulis
menjadi mahasiswa di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas
Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Selama masa kuliah, penulis bergabung dalam organisasi Kepramukaan IPB,
Gabungan Mahasiswa Purworejo (Gamapuri) dan Ikatan Mahasiswa Wonosobo
(Ikamanos). Dalam rangka mengembangkan diri penulis mengikuti seminar dan
menjadi panitia pada berbagai kegiatan. Pada tahun 2006, penulis melaksanakan
kegiatan Praktek Lapang di PT. Perkebunan Tambi Wonosobo dengan judul ”
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah, dan kekuatan yang
diberikan kepada penulis sehinggga penulis dapat menyelesaikan skripsi
berjudul ”Pembuatan Permen Tablet Pastiles dengan Bahan Aktif Minyak Kemukus (Pipper cubeba Linn.) dengan baik dan tepat waktu. Shalawat serta salam untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW,
keluarga dan para sahabat.
Penelitian dan penyusunan karya ini merupakan suatu hal yang sangat
berarti bagi penulis, dan tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan dan
bantuan dari berbagai pihak.Pada kesempatan ini, dengan sepenuh hati
penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Drs. Chilwan Padji, Apt., M.Sc. selaku pembimbing pertama. Terima
kasih atas bimbingan, nasehat, dorongan semangat, bantuan dan rasa
kekeluargaan yang telah diberikan kepada penulis.
2. Ir Suryatmi Retno Dumadi, M.S, selaku pembimbing kedua.
Terimakasih atas kesempatan yang diberikan, arahan, bimbingan dan
dorongan semangat yang telah diberikan kepada penulis.
3. Dr. Ir. Erliza Noor, selaku dosen penguji. Terima kasih atas saran,
kritik yang diberikan kepada penulis guna penyempurnaan penyusunan
skripsi.
4. Bapak, Ibu, dek Teguh dan Hesti serta Keluarga Besar Harjdo
Suwono atas doa, dorongan semangat, kasih sayang dan semua yang telah
diberikan kepada penulis baik moril maupun materiil yang sangat berharga
bagi penulis.
5. Asri, Mona, dan Adam teman-teman se-PA dan seperjuangan...ayo
tetep semangat!!terima kasih atas kebersamaan, keceriaan, suport, dan
semuanya..Tetep Semangat ya..
6. Bapak dan ibu laboran di Laboratorium LDIT I, LDIT II,
Pengemasan, Teknik Kimia, Pengawasan Mutu, Bioindustri dan segenap
7. Temen-temen di Pondok Amanah C, RR, Arum, Nurul
(semangat!!!), adek-adek (hotty, micha, rahma, irma dan melita), adik
kecilku Pingkan dan Amanah, Bu cia, Kak Uchi, Mba Fai. Terima kasih
telah menjadi bagian dalam memori hidupku..terima kasih atas
kebersamaan dan kekeluargaan yang diberikan.
8. temen-temen terbaikku Ides, Windi, Ana, Dika, Marxue,
Endah-Endang, Upe, Luci, Bunda, Anak-anak Tupperware dan semua anak TIN
40 yang tidak dapat disebut satu persatu terima kasih banyak untuk segala
kebersamaan, kisah dan cerita, semoga jalinan silaturahhmi diantara kita
tetap terjaga.
9. Kakak-kakakku tersayang mba Keke, mba Dian, Mba Inge, Mba
Erni. Terimakasih atas dukungan, sharing dan ilmu serta nasehat yang
telah diberikan kepada penulis. Semoga rahmat Allah SWT selalu bersama
kalian.
10. Semua pihak yang telah membantu penelitian ini, terima kasih atas
segala dukunganya.
Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan skripsi ini masih terdapat
kekurangan sehingga saran dan kritik membangun dari semua pihak sangat
penulis harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang
memerlukan dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi dunia
ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi amalan ibadah yang tak
terputus.
Bogor, Agustus 2007
DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...
I. PENDAHULUAN...
A. LATAR BELAKANG...
B. TUJUAN PENELITIAN...
II. TINJAUAN PUSTAKA...
A. KEMUKUS...
1. Botani dan Morfologi Tanaman kemukus...
2. Minyak Kemukus...
3. Sifat Fisiko Kimia Minyak Kemukus...
4. Kegunaan Kemukus...
B. PERMEN TABLET PASTILES...
1. Bahan pengisi...
2. Bahan Pengikat...
3. Bahan Pelincir...
4. Bahan Aktif...
5. Bahan Pewarna...
III. METODE PENELITIAN
A. BAHAN DAN ALAT...
B. METODE PENELITIAN...
1. Penelitian Pendahuluan...
2. Penelitian Utama ...
C. RANCANGAN PERCOBAAN...
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...
A. PENELITIAN PENDAHULUAN...
2. Penentuan Perbandingan Sorbitol dan Minyak Kemukus...
B. PENELITIAN UTAMA... 1. Analisa Karakteristik Fisik dan KimiaPermen Tablet Pastiles
Minyak Kemukus...
2. Keseragaman Bobot ...
3. Keseragaman Ukuran...
4. Kekerasan Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
5. Keregasan Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
6. Kadar Air Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
7. Kadar Abu Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
8. Uji Organoleptik Permen Tablet pastiles Minyak Kemukus...
9. Uji Toksisitas Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
10. Uji Total Plate Count (TPC)...
V. KESIMPULAN DAN SARAN...
A. Kesimpulan...
B. Saran...
DAFTAR PUSTAKA...
LAMPIRAN... 25
28
28
30
30
31
32
33
35
36
43
45
46
46
46
47
PEMBUATAN PERMEN TABLET PASTILES DENGAN BAHAN AKTIF MINYAK KEMUKUS (Pipper cubeba Linn.)
Oleh : YUARI SUSANTI
F34103055
2007
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Yuari Susanti. F34103055. Pembuatan Permen Tablet Pastiles dengan Bahan Aktif Minyak Kemukus ( Pipper cubeba Linn.). Di bawah bimbingan Chilwan Pandji dan Suryatmi Retno Dumadi. 2007
ABSTRAK
Kemukus merupakan tanaman merambat dan termasuk dalam famili Piperaceae. Tanaman ini merupakan salah satu jenis tanaman obat yang ada di Indonesia. Masyarakat Jawa Tengah menggunakan kemukus dalam ramuan jamu-jamuan. Menurut Ketaren (1985), kemukus berkhasiat untuk menyembuhkan infeksi pada tenggorokan dan melegakan pernapasan. Burkil (1935) menyatakan bahwa kemukus digunakan dalam pengobatan bronchitis dan batuk. Selain itu juga digunakan sebagai bahan diuretic dan antiseptik. Penggunaan minyak kemukus dalam pembuatan permen tablet pastiles merupakan hal yang tepat karena bahan ini memiliki efek menyegarkan, dan mampu melegakan tenggorokan sesuai dengan fungsi dari sediaan pastiles, yaitu memberikan efek lokal mulut dan tenggorokan.
Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formula permen tablet pastiles yang terbaik dan mengetahui penerimaan terhadap produk. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu konsentrasi sorbitol (A) dan konsentrasi minyak kemukus (B). Masing-masing faktor terdiri dari tiga taraf, untuk konsentrasi sorbitol (A) adalah 75% (A1), 77% (A2) dan 79% (A3) sedangkan untuk konsentrasi minyak kemukus (B) adalah 1% (B1), 1.5% (B2), dan 2% (B3). Uji yang dilakukan untuk mengetahui kualitas dan penerimaan produk antara lain analisa sifat fisik dan kimia (meliputi kekerasan; keregasan; keseragaman bobot; keseragaman ukuran; kadar air; dan kadar abu), uji toksisitas serta uji organoleptik.
PEMBUATAN PERMEN TABLET PASTILES DENGAN BAHAN AKTIF MINYAK KEMUKUS (Pipper cubeba Linn.)
Oleh : YUARI SUSANTI
F34103055
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
2007
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
PEMBUATAN PERMEN TABLET PASTILES DENGAN BAHAN AKTIF MINYAK KEMUKUS (Pipper cubeba Linn.)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh : YUARI SUSANTI
F34103055
Lahir di Purworejo, 7 Januari 1985 Tanggal Lulus : Agustus 2007
Menyetujui , Bogor, Agustus 2007
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Purworejo, Jawa Tengah pada
tanggal 7 Januari 1985 dari pasangan Suprapto dan Purwati.
Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis menempuh pendidikan di TK Pertiwi Ngadisono,
Wonosobo (1990-1991), SDN 1 Ngadisono, Wonosobo
(1991-1997), SLTP N 3 Kaliwiro, Wonosobo
(1997-2000),dan SMU N 7 Purworejo (2000-2003).
Pada akhir pendidikan SLTA penulis mendapatkan kesempatan untuk
mengikuti Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan pada tahun 2003 penulis
menjadi mahasiswa di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas
Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Selama masa kuliah, penulis bergabung dalam organisasi Kepramukaan IPB,
Gabungan Mahasiswa Purworejo (Gamapuri) dan Ikatan Mahasiswa Wonosobo
(Ikamanos). Dalam rangka mengembangkan diri penulis mengikuti seminar dan
menjadi panitia pada berbagai kegiatan. Pada tahun 2006, penulis melaksanakan
kegiatan Praktek Lapang di PT. Perkebunan Tambi Wonosobo dengan judul ”
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah, dan kekuatan yang
diberikan kepada penulis sehinggga penulis dapat menyelesaikan skripsi
berjudul ”Pembuatan Permen Tablet Pastiles dengan Bahan Aktif Minyak Kemukus (Pipper cubeba Linn.) dengan baik dan tepat waktu. Shalawat serta salam untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW,
keluarga dan para sahabat.
Penelitian dan penyusunan karya ini merupakan suatu hal yang sangat
berarti bagi penulis, dan tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan dan
bantuan dari berbagai pihak.Pada kesempatan ini, dengan sepenuh hati
penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Drs. Chilwan Padji, Apt., M.Sc. selaku pembimbing pertama. Terima
kasih atas bimbingan, nasehat, dorongan semangat, bantuan dan rasa
kekeluargaan yang telah diberikan kepada penulis.
2. Ir Suryatmi Retno Dumadi, M.S, selaku pembimbing kedua.
Terimakasih atas kesempatan yang diberikan, arahan, bimbingan dan
dorongan semangat yang telah diberikan kepada penulis.
3. Dr. Ir. Erliza Noor, selaku dosen penguji. Terima kasih atas saran,
kritik yang diberikan kepada penulis guna penyempurnaan penyusunan
skripsi.
4. Bapak, Ibu, dek Teguh dan Hesti serta Keluarga Besar Harjdo
Suwono atas doa, dorongan semangat, kasih sayang dan semua yang telah
diberikan kepada penulis baik moril maupun materiil yang sangat berharga
bagi penulis.
5. Asri, Mona, dan Adam teman-teman se-PA dan seperjuangan...ayo
tetep semangat!!terima kasih atas kebersamaan, keceriaan, suport, dan
semuanya..Tetep Semangat ya..
6. Bapak dan ibu laboran di Laboratorium LDIT I, LDIT II,
Pengemasan, Teknik Kimia, Pengawasan Mutu, Bioindustri dan segenap
7. Temen-temen di Pondok Amanah C, RR, Arum, Nurul
(semangat!!!), adek-adek (hotty, micha, rahma, irma dan melita), adik
kecilku Pingkan dan Amanah, Bu cia, Kak Uchi, Mba Fai. Terima kasih
telah menjadi bagian dalam memori hidupku..terima kasih atas
kebersamaan dan kekeluargaan yang diberikan.
8. temen-temen terbaikku Ides, Windi, Ana, Dika, Marxue,
Endah-Endang, Upe, Luci, Bunda, Anak-anak Tupperware dan semua anak TIN
40 yang tidak dapat disebut satu persatu terima kasih banyak untuk segala
kebersamaan, kisah dan cerita, semoga jalinan silaturahhmi diantara kita
tetap terjaga.
9. Kakak-kakakku tersayang mba Keke, mba Dian, Mba Inge, Mba
Erni. Terimakasih atas dukungan, sharing dan ilmu serta nasehat yang
telah diberikan kepada penulis. Semoga rahmat Allah SWT selalu bersama
kalian.
10. Semua pihak yang telah membantu penelitian ini, terima kasih atas
segala dukunganya.
Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan skripsi ini masih terdapat
kekurangan sehingga saran dan kritik membangun dari semua pihak sangat
penulis harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang
memerlukan dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi dunia
ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi amalan ibadah yang tak
terputus.
Bogor, Agustus 2007
DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...
I. PENDAHULUAN...
A. LATAR BELAKANG...
B. TUJUAN PENELITIAN...
II. TINJAUAN PUSTAKA...
A. KEMUKUS...
1. Botani dan Morfologi Tanaman kemukus...
2. Minyak Kemukus...
3. Sifat Fisiko Kimia Minyak Kemukus...
4. Kegunaan Kemukus...
B. PERMEN TABLET PASTILES...
1. Bahan pengisi...
2. Bahan Pengikat...
3. Bahan Pelincir...
4. Bahan Aktif...
5. Bahan Pewarna...
III. METODE PENELITIAN
A. BAHAN DAN ALAT...
B. METODE PENELITIAN...
1. Penelitian Pendahuluan...
2. Penelitian Utama ...
C. RANCANGAN PERCOBAAN...
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...
A. PENELITIAN PENDAHULUAN...
2. Penentuan Perbandingan Sorbitol dan Minyak Kemukus...
B. PENELITIAN UTAMA... 1. Analisa Karakteristik Fisik dan KimiaPermen Tablet Pastiles
Minyak Kemukus...
2. Keseragaman Bobot ...
3. Keseragaman Ukuran...
4. Kekerasan Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
5. Keregasan Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
6. Kadar Air Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
7. Kadar Abu Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
8. Uji Organoleptik Permen Tablet pastiles Minyak Kemukus...
9. Uji Toksisitas Permen Tablet Pastiles Minyak Kemukus...
10. Uji Total Plate Count (TPC)...
V. KESIMPULAN DAN SARAN...
A. Kesimpulan...
B. Saran...
DAFTAR PUSTAKA...
LAMPIRAN... 25
28
28
30
30
31
32
33
35
36
43
45
46
46
46
47
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Komposisi kimia minyak kemukus...
Tabel 2. Sifat fisiko kimia minyak kemukus...
Tabel 3. Standar mutu minyak kemukus indonesia...
Tabel 4. Hasil analisa sifat fisiko kimia minyak kemukus...
Tabel 5. Hasil uji rasa terhadap berbagai konsentrasi minyak kemukus...
Tabel 6. Formulasi permen tablet pastiles minyak kemukus...
Tabel 7. Formulasi permen tablet pastiles minyak kemukus (gram)...
Tabel 8. Karakteristik fisik permen tablet pastiles minyak kemukus...
Tabel 9. Kategori sifat toksik bahan...
Tabel 10. Persentase penyimpangan bobot rata-rata table menurut
Farmakope Indonesia III... 5
10
10
24
26
27
27
29
44
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Diagram alir proses pembuatan tablet pastiles minyak kemukus....
Gambar 2. Permen tablet pastiles minyak kemukus hasil formulasi...
Gambar 3. Histogram uji kekerasan permen tablet pastiles minyak kemukus..
Gambar 4. Histogram keregasan permen tablet pastiles minyak kemukus...
Gambar 5. Histogram kadar air permen tablet pastiles minyak kemukus...
Gambar 6. Histogram kadar abu permen tablet pastiles minyak kemukus...
Gambar 7. Histogram kesukaan panelis terhadap warna permen tablet
pastiles minyak kemukus...
Gambar 8. Histogram kesukaan panelis terhadap aroma permen
tablet pastiles minyak kemukus...
Gambar 9. Histogram kesukaan panelis terhadap rasa permen tablet pastiles
minyak kemukus...
Gambar 10. Histogram kesukaan panelis terhadap tekstur permen
tablet pastiles minyak kemukus...
Gambar 11. Histogram kesukaan panelis terhadap kesegaran permen
tablet pastiles minyak kemukus...
Gambar 12. Histogram penerimaan umum panelis terhadap permen tablet
pastiles minyak kemukus... 20
29
32
33
34
35
37
38
39
41
42
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Bahan dan alat pembuatan tablet pastiles minyak kemukus...
Lampiran 2. Prosedur analisis...
Lampiran 3. Hasil penelitian keseragaman bobot permen tablet pastiles
minyak kemukus...
Lampiran 4. Hasil penelitian keseragaman ukuran permen tablet
pastiles minyak kemukus...
Lampiran 5. Hasil penelitian kekerasan permen tablet pastiles minyak
kemukus...
Lampiran 6. Hasil penelitian keregasan permen tablet pastiles
minyak kemukus...
Lampiran 7. Hasil penelitian kadar air permen tablet pastiles
minyak kemukus...
Lampiran 8. Hasil penelitian kadar abu permen tablet pastiles minyak
Kemukus...
Lampiran 9. Lembar kuesioner uji hedonik dan kode sampel...
Lampiran 10. Hasil uji organoleptik terhadap warna permen tablet pastiles
minyak kemukus...
Lampiran 11. Analisis Kruskal-Wallis warna permen tablet pastiles minyak
kemukus...
Lampiran 12. Hasil uji organoleptik terhadap aroma permen tablet pastiles
minyak kemukus...
Lampiran 13. Analisis Kruskal-Wallis aroma permen tablet pastiles minyak
kemukus...
Lampiran 14. Hasil uji organoleptik terhadap rasa permen tablet pastiles
minyak kemukus...
Lampiran 15. Analisis Kruskal-Wallis rasa permen tablet pastiles minyak
kemukus...
Lampiran 16. Hasil uji organoleptik terhadap tekstur permen tablet pastiles
Lampiran 17. Analisis Kruskal-Wallis tekstur permen tablet pastiles minyak
kemukus...
Lampiran 18. Hasil uji organoleptik terhadap kesegaran permen tablet
pastiles minyak kemukus...
Lampiran 19. Analisis Kruskal-Wallis kesegaran permen tablet pastiles
minyak kemukus...
Lampiran 20. Hasil uji organoleptik terhadap penerimaan umum permen
tablet pastiles minyak kemukus...
Lampiran 21. Analisis Kruskal-Wallis penerimaan umum permen tablet
pastiles minyak kemukus...
Lampiran 22. Hasil Uji toksisitas permen tablet pastiles minyak kemukus...
Lampiran 23. Hasil GCMS minyak kemukus... 69
70
71
72
73
74
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Budaya kembali ke alam memicu berbagai upaya pelestarian dan
pemanfaatan tumbuhan obat pada beberapa dekade terakhir ini. Penelitian
terhadap tumbuhan obat meningkat dalam 20 tahun terakhir. Penelitian
tersebut meliputi sumber, penyebaran, cara ekstraksi, isolasi, identifikasi,
farmakologi, biokimia, formulasi dan uji klinik. Penelitian terhadap
tumbuhan obat bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan keamanan obat
tradisional, meningkatkan mutu simplisia serta identifikasi senyawa
bioaktif dan mengembangkannya menjadi sediaan obat yang dapat
dimanfaatkan dalam sistem kesehatan secara formal, baik secara
fitofarmaka maupun sebagai sumber senyawa murni.
Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang
cukup tinggi. Diperkirakan flora Indonesia memiliki 30.000-40.000
spesies tumbuhan berbunga, suatu jumlah yang melebihi keanekaragaman
flora dari negara tropika lain di dunia. Dari jumlah tersebut terdapat tidak
kurang dari 1.100 spesies tumbuhan yang dapat digunakan sebagai
tumbuhan obat tradisional (Heyne,1987).
Salah satu tumbuhan yang sering digunakan dalam pengobatan
tradisional di Indonesia adalah Kemukus (Pipper cubeba Linn). Menurut Guenther (1952), kemukus (Pipper cubeba Linn.) merupakan tanaman merambat dan termasuk dalam famili Piperaceae, tanaman ini pertama kali
ditemukan di negara Malaysia. Hingga saat ini, pemanfaatan kemukus di
Indonesia sebagai obat baru sebatas pada obat tradisional seperti jamu.
Kemukus memiliki berbagai macam manfaat, diantaranya sebagai obat
radang selaput lendir, obat peradangan urinaria, gonorrhea, dan dapat pula
digunakan untuk mengobati asma. Hal tersebut didukung oleh pernyataan
Fuller (1920), bahwa buah kemukus mengandung senyawa yang berguna
untuk pengobatan selaput lendir dan ekstrak atau oleoresin kemukus telah
digunakan secara luas untuk pengobatan gonorrhea, radang selaput lendir
berpendapat bahwa Minyak kemukus digunakan juga untuk antiseptik dan
dipakai untuk melawan Bacillus thyposus serta virus influenza.
Tablet merupakan sediaan farmasi yang banyak ditemui, relatif stabil,
mudah dibawa dan diproduksi, serta lebih aman dari penambahan
bahan-bahan lain (tamper). Tablet pastiles merupakan salah satu bentuk sediaan tablet yang diformulasikan seperti tablet hisap. Menurut Lachman et al. (1976), tablet pastiles diformulasikan dan dibuat seperti tablet hisap
(compressed-tablet lozenges). Penggunaan jenis tablet ini adalah untuk
memberikan efek lokal pada mulut dan tenggorokan. Bentuk ini umumnya
digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan atau untuk mengurangi
batuk pada influenza. Biasanya tablet hisap mengandung anestetik lokal,
antiseptik dan antibakteri, demulsen, astringent, dan antitusif.
Di Indonesia, pemanfaatan kemukus sebagai bahan pengobatan masih
menggunakan teknologi tradisional. Penggunaan teknologi tradisional
dapat menyebabkan kerusakan komponen bioaktif yang terdapat di
dalamnya, sehingga khasiatnya berkurang. Selain itu, tidak semua
komponen yang bermanfaat dapat ikut terekstrak. Dengan pengolahan
tradisional, nilai tambah dari produk relatif kecil. Pemanfaatan minyak
kemukus sebagai bahan aktif dalam pembuatan tablet pastiles bertujuan
untuk meningkatkan nilai tambah produk dan efektifitas pengobatan.
Selain itu, bentuk dan penggunaannya yang praktis (dalam bentuk permen
tablet pastiles) memungkinkan meluasnya penggunaan produk oleh
konsumen, mengingat gaya hidup masyarakat sekarang yang cenderung
menghargai kepraktisan sebagai salah satu nilai tambah produk.
B. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi permen
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. KEMUKUS
1. Botani dan Morfologi Tanaman Kemukus (Pipper cubeba Linn.) Kemukus (Pipper cubeba Linn.) merupakan tanaman merambat dan termasuk dalam famili Piperaceae. Tanaman ini pertama kali ditemukan
berasal dari negara Malaysia. Di Indonesia dikenal dengan beberapa nama
daerah, misalnya di daerah Jawa Tengah disebut kemukus atau temukus, di
daerah Sunda dikenal dengan nama rinu atau sahang gunung, di Madura
dikenal dengan nama kemokos, dan di Makassar dikenal dengan nama
pamukusu (Guenther, 1952).
Buah kemukus mirip dengan buah lada, perbedaannya adalah pada
bagian ujung buah kemukus terdapat bagian yang menyerupai ekor
sehingga biasanya disebut dengan tailed pepper (Guenther, 1952).
Buah kemukus berbentuk bulat dengan diameter 3-6 mm, tetapi ada
pula yang berbentuk agak lancip dengan ukuran panjang 7 mm. Buah
kemukus akan berwarna jingga ketika masak, dengan ketebalan kulit buah
± 0.3 mm dan memiliki perikarp (dinding buah) berbentuk jala. Jika
tanaman kemukus akan berbuah, pada ujung batang akan terdapat tiga
buah stigma (kepala putik) dengan salah satu stigma akan memanjang dan
berbentuk lancip. Kemudian, pada stigma tersebut akan terbentuk batang–
batang kecil dengan panjang ± 4 mm, sebagai tempat menopang buah
kemukus (Anonim, 1980). Tanaman kemukus asli merupakan tanaman
merambat dengan ketinggian ± 15 m (Heyne, 1987).
Kemukus mulai dapat dipanen setelah berumur 1.5-2 tahun. Dalam
satu tahun hanya mengalami satu kali masa panen yang berlangsung
selama 2-3 bulan, yaitu sekitar bulan April, Mei, dan Juni (Ketaren, 1985).
Selain buah kemukus asli (Piper cubeba Linn.), dikenal juga buah kemukus semu (false cubeb) yang digunakan sebagai bahan pencampur/pemalsu pada perdagangan kemukus asli. Menurut Heyne
(1987), buah kemukus semu dapat dibedakan dengan buah kemukus asli
menghasilkan warna merah crimson (merah padam), maka buah kemukus tersebut adalah buah kemukus asli dan jika berwarna kuning, maka buah
kemukus tersebut adalah buah kemukus semu.
Dari setiap pohon yang sudah cukup tua dapat dihasilkan ± 10 kg buah
kemukus segar dan bila dikeringkan akan menjadi ± 4 kg buah kemukus
kering per tahun (Guenther, 1952).
Kadar minyak atsiri dari buah kemukus menurut Heyne (1987) adalah
10-18%, sedangkan menurut Guenther (1952), kadar minyak atsiri buah
kemukus sebesar 12.5-20%.
2. Minyak Kemukus
Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa proses metabolisme
dalam tanaman yang terbentuk karena reaksi antara berbagai senyawa
kimia dengan air. Minyak atsiri atau minyak terbang (essensial oil) adalah
minyak yang mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami
dekomposisi, mempunyai rasa getir (pugent taste), berbau wangi sesuai dengan tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan
tidak larut dalam air (Ketaren, 1985).
Minyak atsiri dalam industri digunakan dalam pembuatan kosmetik,
parfum, obat-obatan, dan sebagai flavouring agent dalam bahan baku makanan dan minuman. Di Indonesia terdapat berbagai jenis minyak atsiri,
namun hanya beberapa jenis saja yang sudah digunakan secara komersial,
yaitu minyak sereh wangi, nilam, kenanga, jahe, dan kemukus (Ketaren,
1985).
Minyak kemukus mengandung terpen, baik monoterpen maupun
seskuiterpen serta cubeb camphor (persenyawaan camphor dalam kemukus). Senyawa cubeb camphor yang terdapat dalam minyak kemukus adalah seskuiterpen hidrat (C15H24H2O). Minyak kemukus mengandung terpen (pinen), diterpen dan l-kadinen (Ketaren, 1985).
Menurut www.essentialoil.in, minyak kemukus terdiri dari monoterpen
(sabinen 50%, carene, α-thujene, 1,4-cineol, 1,8-cineol, pinen dan
terpineol) serta sesquiterpen (copaene, α- and β-cubebin, -cadinen,
terdapat pada minyak disebabkan oleh cubebin dan beberapa komponen
sejenis seperti hinokinin, clusin, dihydroclusin, dan dihydrocubebin.
Komposisi kimia minyak kemukus dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Kimia Minyak Kemukus
% Komponen % Komponen % Komponen 1.67 Allo- Aromaden
drene
Trac e
Elemicin Trace Myrtenol
1.39 (E)- Asarone 0.39 (E) iso-
Elemicin 1.45 (E) Nerolidol
0.37 Bisabolol 0.32 Elemol 0.07 (E)- Beta-
Ocimene
Trace Delta- Cadinene Trace Alpha -
Farnesene 0.81 (Z)- Beta-
Ocimene
Trace Calamenene trace Farnesol 0.58 Alpha- Phellandrene
0.04 Camphor 2.89 germacrene D
0.76 Beta- Phellandrene
Trace Carvone Germacene
D-4-ol
5.44 Alpha- Pinene
1.69 Beta Caryophillene 1.76 Globulol 28.09 Sabinene
4.01 Alpha -
Copaenne 0.06 Guaiol Trace (E)- Sabinene hydrate 1.65 Alpha
-
Cubebene 0.45 Alpha -
Humulene 2.73 (Z)- Sabinene hydrate 4.39 Beta- Cubebene 0.20 Ledol 0.08 Safrole 15.18 Cubebol 4.41 Limonene Trace spathulenol
0.56 Cubenol 3.22 Linalool 2.69 Terpinen 4-ol 0.01 Cuminalde hide Trace Methyl isoeugenol 1.14 Gamma - Terpinen Trace Gam ma-
Curcumene 0.62 Alpha -
Muurolene 0.30 alpha- terpineol
0.59 Para- Cymene 4.20 Gam ma-
Muurolene 0.31 Terpinolene
0.16 dilapiole 1.15 myrcene 0.07 alpha ylangene 0.10 Delta- elemen Trace Myristicin
Senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam minyak kemukus antara
lain :
1. Sabinen (C10H16)
Menurut Guenther (1952), sabinen merupakan senyawa yang dapat
memutar bidang polarisasi cahaya ke arah kanan (dextrorotatory) dan ke kiri (levorotatory). Sabinen merupakan komponen utama dalam minyak kemukus, yaitu sekitar 33%. Bobot molekul sabinen seperti yang dikutip
dari www.mdidea.com adalah 136.234 g/mol. Kegunaan senyawa ini tidak
terlalu luas, tetapi sering digunakan sebagai komponen bahan pada
pembuatan minyak lada sintetik (Guenther,1952).
2. Cubebin (C10H10O3)
Menurut Merck Index (1996), bobot molekul cubebin adalah 356.38
dengan nilai melting point 131-132°C, dan larut dalam alkohol,
kloroform, dan eter. Cubebin merupakan senyawa berbentuk kristal
(www.wikipedia.com).
Seperti yang dikutip dari www.pikiran–rakyat.com, cubebin
merupakan sejenis furanol yang memberikan rasa pahit. Dalam
www.ugm.ac.id, cubebin memberikan rasa pahit, dapat melonggarkan
pernapasan dan dapat digunakan sebagai zat antiradang untuk penderita
asma.
3. Camphor
Camphor yang terdapat dalam minyak kemukus memiliki struktur
yang berbeda dengan camphor lainnya. Camphor yang dihasilkan dari
Cinnamomum camphora memiliki struktur C10H16O (Merck Index,1996), sedangkan camphor terdapat dalam minyak kemukus memiliki rumus
struktur C15H25OH (www.henriettesherbal.com).
Camphor adalah seskuiterpen alkohol dengan bentuk kristal,
merupakan turunan dari seskuiterpen dengan cara oksidasi. Bersifat
levorotatory, dengan melting point 65°C (www.henriettesherbal.com). Seperti yang dikutip dalam www.pikiran-rakyat.com, camphor
senyawa dengan gugus alkena yang terdapat dalam minyak kemukus
merupakan zat yang berkhasiat sebagai antiseptik.
4. Cubebol.
Cubebol merupakan salah satu senyawa yang terdapat dalam minyak
kemukus, yang memberikan sensasi dingin dan segar. Cubebol banyak
digunakan sebagai bahan pemberi rasa segar pada berbagai produk seperti
pasta gigi, permen karet, minuman dan lain sebagainya
(www.wikipedia.com).
5. Kadinen (C15H24)
Kadinen merupakan senyawa seskuiterpen yang banyak terdapat dalam
minyak atsiri. Senyawa ini mempunyai dua isomer yaitu d-kadonen dan l -kadinen. Senyawa d-kadinen banyak terdapat dalam minyak atlas Cedarwood, minyak cendana dan minyak juniper, sedangkan senyawa l
-kadinen banyak terdapat dalam minyak cade, minyak cypress dan minyak kemukus.
Senyawa ini memiliki beberapa sifat fisik, antara lain bobot jenis
(20°C) adalah 0.918, indeks bias (20°C) sebesar 1.508, dan putaran optik
-125°12’ (Guenther, 1952).
6. Farnesol
Selain dalam minyak kemukus, senyawa farnesol juga terdapat dalam
minyak adas, dan termasuk dalam golongan senyawa hidrokarbon.
Farnesol sering juga disebut feniculin (p-anol phenil eter). Komponen ini
memiliki titik beku 21.5°C dan dengan pemanasan hingga suhu 260°C
akan terurai menjadi p-phenil phenol yang memiliki titik cair 41°C
(Ketaren, 1985).
7. Safrol
Safrol merupakan salah satu komponen minyak atsiri yang terdapat
dalam minyak kemukus. Selain itu juga terdapat dalam minyak adas dan
minyak pala. Dalam minyak pala konsentrasi safrol mencapai 0.6%
(Guenther, 1952). Senyawa ini termasuk dalam golongan senyawa
hidrokarbon. Oksidasi dari safrol oleh kalium permanganate menghasilkan
8. Alpha-pinene (C10H16)
Senyawa ini merupakan senyawa tidak berwarna dengan bobot
molekul 136.24, bersifat labil, dengan bobot jenis 8.86, dan titik didih
157°C. Alpha pinene larut dalam alkohol, propilen, glikol, dan gliserin.
Senyawa ini banyak terdapat dalam minyak pala, minyak adas, minyak
kayu putih, minyak anis, dan minyak kemukus. Di Eropa, persenyawaan
ini digunakan sebagai flavouring agent pada bahan pangan dengan dosis 15-50 ppm, selain itu digunakan pula sebagai bahan pembuatan terpineol
(Ketaren, 1985).
9. Miristisin (C11H22O3)
Persenyawaan miristisin berwarna kuning pucat, dengan rumus
molekul C11H12O3, memiliki titik didih 250°C, dengan bobot jenis 1.14, dan sukar larut dalam air. Miristin bersifat racun dan berbahaya bagi
susunan syaraf pusat. Miristin dapat bersifat membius dan biasa
diformulasikan dalam obat-obatan tertentu. Selain dalam minyak
kemukus, miristin banyak terdapat dalam minyak pala, oleh karena itu
minyak pala dapat memberikan efek bius, selain itu penggunaan dalam
jumlah besar dapat menyebabkan degradasi hati (Ketaren, 1985).
10. Caryophyllene (C15H24).
Caryophyllene merupakan senyawa yang banyak terdapat dalam
minyak cengkeh (5-12%), dalam minyak kemukus, persentase
caryophyllene hanya sedikit. Senyawa ini dapat dipisahkan dari minyak
dengan menambahkan larutan soda 70%, kemudian diekstraksi dengan
ester dan selanjutnya diuapkan di atas penangas air (Ketaren, 1985).
11. Linalool
Senyawa ini terdapat dalam minyak mawar dalam bentul l-linalool
dengna jumlah yang sedikit, sedangkan dalam minyak melati dalam
bentuk d-linalool dengan persentase 15.5%. Oksidasi senyawa ini akan
menghasilkan sitral (persenyawaan asam naphtho-cinchoninat) dengan
12. Phellandrene
Phellandrene termasuk senyawa golongan terpen, biasanya tidak
berwarna atau sedikit berwarna kuning, tidak larut dalam air, larut dalam
10-15 bagian alkohol 90%, dan dalam 1-3 bagian alkohol 95%. Senyawa
ini terdapat dalam tanaman lada, memberikan aroma khas lada akan tetapi
tidak memberikan efek pedas (Ketaren, 1985).
13. Limonene
Senyawa ini banyak terdapat dalam minyak kayu putih, dengan rumus
molekul C10H16, dengan titik didih 175-176°C. Selain itu, senyawa ini terdapat pula dalam minyak anis dan minyak kemukus (Ketaren, 1985).
14. Alpha-terpineol
Oksidasi dari senyawa ini dengan larutan kalium permanganat encer
akan menghasilkan gliserol dan jika dengan menggunakan asam chromat
akan menghasilkan ketolaktone dengan titik cair 62-63°C dan
semicarbazone dengan titk cair 200°C (Ketaren,1985).
3. Sifat Fisiko Kimia Minyak Kemukus
Menurut Guenther (1952), minyak kemukus yang diperoleh dari buah
kemukus asli agak sedikit kental dengan bau yang khas dan hangat seperti
camphor, rasanya agak sedikit tajam, berwarna kuning muda hingga cerah
kehijau-hijauan.
Sifat fisiko kimia minyak kemukus dipengaruhi oleh umur buah,
penanganan pasca panen dan keaslian dari buah kemukus tersebut. Sifat
fisiko kimia minyak kemukus dapat dilihat pada Tabel 2, sedangkan
standar mutu minyak kemukus menurut Departemen Perindustrian
dituangkan dalam SII (Standar Industri Indonesia) nomor 2048 dapat
Tabel 2. Sifat Fisiko Kimia Minyak Kemukus
Karakteristik Nilai Resin
Minyak atsiri (ml/g buah) Bobot jenis pada 25/25°C Putaran optik
Indeks bias pada 20°C Bilangan asam Bilangan ester 6.44-8.47% 12.5-20 0.911-0.919 (-19°42’)-(-46°0’) 1.492-1.498 0.35-1.0 1.0-10.7 Clevenger (1938) di dalam Ketaren (1985)
Tabel 3. Standar mutu minyak kemukus Indonesia
Karakteristik Syarat Penampakan
Warna
Bau
Bobot jenis (85°C /25°C) Indeks bias pada 25°C Putaran optik pada 25°C Bilangan asam
Bilangan ester
Kelarutan dalam etanol 90%
Jernih
Kuning pucat sampai hijau kebiru-biruan Khas 0.906-0.930 1.492-1.5020 (-43°C)-( -12°C) Maks 1.0 2.0-5.6 1:1 jernih 1:2 keruh Seterusnya keruh Anonim (1987)
4. Kegunaan Kemukus
Menurut Heyne (1987), kemukus dapat digunakan sebagai obat untuk
mengatasi radang selaput lendir (catarh) dan tenggorokan, selain itu dapat digunakan juga untuk mengobati gonorrhea, disentri, dan penyakit perut.
Menurut Burkil (1935), kemukus digunakan dalam pengobatan bronkhitis
dan batuk. Selain itu juga digunakan sebagai bahan diuretic dan antiseptik. Buah kemukus yang digunakan sebagai obat-obatan adalah buah yang
sudah tua tetapi belum masak. Menurut www.pikiran–rakyat.com, biji
kemukus mengandung minyak atsiri yang tersusun dari bermacam-macam
alkena seperti dipenten dan kadmen. Akan tetapi, yang terpenting adalah
camphor (yang menyebabkan bau kapur barus), asam cubebat dan cubebin
(sejenis furanol) yang menimbulkan rasa pahit. Champor dan kumpulan
[image:34.612.169.506.265.438.2]Karena khasiatnya sebagai antiseptik, biji kemukus dipakai untuk
mengobati penyakit seperti sakit perut, asma, disentri, gonorrhoea, dan
keputihan.
Minyak kemukus dapat dipakai sebagai flavour yang mencirikan rempah-rempah dan dalam berbagai macam wangi-wangian (De Gusman,
C.C, 1999). Minyak kemukus digunakan juga untuk antiseptik dan dipakai
untuk melawan Bacillus thyposus serta virus influenza (Anonim,1980). Kandungan kimia dalam buah Kemukus antara lain minyak atsiri 5-18%
yang berfungsi sebagai ekspektoran (Kurniawan, 2005). Sedangkan di
Jawa Tengah kemukus digunakan dalam ramuan jamu.
Menurut www.ugm.ac.id, kemukus mengandung senyawa yang
membantu melonggarkan pernapasan, antara lain cubebin, epicubebin dan
dihydrocubebin. Cubebin juga berkhasiat sebagai antiradang yang
membantu mengatasi masalah penyakit asma
B. PERMEN TABLET PASTILES
Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang paling
disukai karena ketepatan ukuran dan dosis yang baik, serta biaya
pembuatan yang rendah karena mudah diproduksi dalam jumlah besar.
Selain itu, tablet sangat ringan dan kompak, mudah dikemas dan dikirim,
mudah ditelan, serta memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik, dan
stabilitas mikrobiologi yang paling baik (Ansel,1989).
Tablet adalah sediaan obat pada takaran tunggal yang dicetak dari
serbuk, granula, atau kristal dengan penambahan bahan farmasetika
lainnya dan dicetak menggunakan mesin bertekanan tinggi. Bentuk tablet
antara lain silinder, kubus, batang, dan cakram, juga bentuk seperti telur
atau peluru. Panjang garis tengah tablet pada umumnya 5-17mm, dengan
bobot 0.1-1 g (Lachman et al., 1994).
Tablet pastiles diformulasikan dan dibuat seperti tablet hisap
(compressed-tablet lozenges). Penggunaan jenis tablet ini adalah untuk memberikan efek lokal pada mulut dan tenggorokan. Bentuk ini umumnya
digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan atau untuk mengurangi
antiseptik dan antibakteri, demulsen, astringent, dan antitusif (Lachman et al., 1994).
Salah satu ciri khas sediaan jenis ini adalah rasanya tidak terlalu manis
tetapi segar daun mint. Sifat fisiknya yang padat dan keras menyebabkan
sediaan tidak mudah meleleh atau lumer dan tidak lengket (Yulistia et al., 2001).
Menurut Lachman et al. (1994), dalam mengembangkan suatu formulasi sediaan tablet, perlu diperhatikan sifat-sifat yang harus dimiliki
oleh produk akhir, yaitu :
1. Produk yang menarik secara fisik.
2. Sanggup menanggung guncangan mekanik selama produksi dan
pengepakan.
3. Mempunyai kestabilan kimia dan fisika untuk mempertahankan
kelengkapan fisiknya sepanjang waktu.
4. Dapat melepaskan zat berkhasiat ke dalam tubuh secara tetap.
Pembuatan tablet dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu granulasi
basah, granulasi kering dan kompresi langsung. Granulasi kering
dilakukan terhadap bahan-bahan yang tidak dapat diolah dengan
menggunakan metode granulasi basah, misalnya bahan yang memiliki
kepekaan terhadap uap air atau karena untuk mengeringkannya diperlukan
temperatur yang dinaikkan. Metode kompresi langsung dilakukan terhadap
bahan yang memiliki kemampuan alir bagus serta memiliki sifat kohesif
yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet
(Lachman et al., 1994).
Metode yang sering dipakai adalah granulasi basah, karena dalam
pembuatan tablet biasanya digunakan bahan dengan sifat yang
berbeda-beda, sehingga menuntut adanya pencampuran yang sempurna sebelum
pencetakan. Pencampuran yang sempurna paling baik dilakukan dengan
bantuan larutan pengikat (Ansel, 1989).
1. Untuk membuat larutan pengikat, bahan pengikat dilarutkan dalam
pelarut yang cocok. Jika semua bahan-bahan yang akan digranulasi
bersifat larut dalam cairan, maka cairan yang dipakai adalah air,
etanol-air, isopropanol, atau methanol. Larutan pengikat
ditambahkan sesuai kebutuhan, karena pada akhirnya cairan
tersebut akan dihilangkan kembali (dikeringkan).
2. Larutan pengikat ditambahkan ke dalam campuran bahan-bahan
lain sehingga serbuk terekat bersama dan terasa seperti tanah yang
lembab. Pembentukan granula dapat dilakukan dengan beberapa
cara, cara yang mudah dan sering dipakai adalah granulat guncang.
Bahan yang lembab dilewatkan melalui sebuah ayakan yang
digetarkan. Butiran granulat guncang berbentuk seperti peluru atau
ellipsoid, memiliki daya hancur yang lebih besar dari cara
pembentukan granula lainnya.
3. Granula kemudian disebar dalam lapisan tipis dan dikeringkan
pada suhu tidak lebih dari 40 °C. Pada umumnya massa yang telah
dikeringkan diayak lagi dengan ukuran yang lebih rapat, sehingga
mengalami pengeringan sempurna. Setelah itu, bahan siap untuk
dicetak.
Menurut Lachman et al. (1994), faktor-faktor yang berhubungan dengan persiapan dan penyimpanan dari sediaan ini sehubungan dengan
penyatuan obat-obatan dalam pembuatan produk ini antara lain :
1. Temperatur tinggi, diperlukan untuk menghilangkan air dan
menyiapkan tablet dalam sediaan keras.
2. Reaksi bahan dasar tablet dengan obat-obatan, baik dari bahan
dasar itu sendiri maupun dari penambahan rasa dan bahan asam
yang mungkin ditambahkan ke dalam formula.
3. Dosis obatan yang diperlukan atau kombinasi dari
obat-obatan dengan jumlah yang cukup tinggi. Hal ini dapat mencegah
penggabungan bahan-bahan yang cukup menjadi satu atau dua
tablet karena sifat fisiknya, obat tersebut dapat menghasilkan tablet
dengan bahan dasar tablet, dan sekaligus mengurangi daya tarik
organoleptik dari produk tersebut.
4. Peralatan pembentuk tablet dan bahan dasar yang sesuai.
Pada pembuatan tablet hisap, selain bahan aktif juga digunakan bahan
pembantu yang berfungsi sebagai bahan pengisi, pengikat, dan pelincir.
Tablet yang lain mungkin perlu zat warna, zat perasa, dan pemanis
(Voigth,1994).
1. Bahan pengisi
Bahan pengisi diperlukan apabila kondisi obat tidak cukup untuk
membuat bulk. Pengisi dapat juga ditambahkan untuk memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memacu aliran
(Lachman et al.,1994).
Sifat-sifat yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan pengisi antara
lain harus nontoksik, tersedia dalam jumlah yang cukup (mudah
didapatkan), murah, inert/netral, stabil secara fisik dan kimia, bebas dari
mikroba, serta tidak mengganggu warna tablet (Lachman et al.,1994). Menurut Lachman et al. (1994), bahan pengisi tablet antara lain dekstrosa, manitol, sorbitol, sukrosa atau gula dan derivat-derivatnya.
Manitol merupakan gula paling mahal, kelarutannya lambat dan rasanya
enak di mulut. Sifat mannitol relatif tidak higroskopis dan sifat alirannya
kurang baik sehingga membutuhkan pelincir yang cukup banyak. Sorbitol
adalah isomer aktif dari manitol, dan kadang-kadang dicampur dengan
formulasi manitol, akan tetapi sorbitol bersifat higroskopis pada
kelembaban lebih dari 65%. Manitol dan sorbitol memiliki kadar kalori
yang rendah dan tidak karsinogenik. Pada umumnya manitol, sorbitol dan
sukrosa digunakan sebagai bahan pengikat dan pengisi.
Sorbitol ditemukan tahun 1872 oleh ahli kimia perancis
Bougssingautlt. Bahan ini sedikit terfermentasi dalam mulut, sehingga
tidak bersifat karsinogenik dan memiliki efek sejuk di mulut (Boudox dan
Le Bot 1992). Sorbitol merupakan gula alami yang terdapat pada
Menurut Marrie (1991), sorbitol memiliki bobot molekul 182, dengan
viskositas lebih rendah daripada sukrosa, memiliki tingkat kemanisan 0.5
kemanisan sukrosa, sorbitol memberikan efek sejuk, memiliki stabilitas
yang bagus, serta mencegah reaksi pencoklatan. Dari kutipan dalam
www.Amylumgroup.com, kalori yang terdapat dalam sorbitol adalah 2.4
kcal/gr. Sorbitol mudah larut dalam air (sampai 83%), sorbitol juga dapat
larut dalam methanol, isopropanol, butanol, fenol, asam asetat, piridin dan
asetamida. Kelarutan sorbitol baik dalam alkohol panas dan sedikit larut
dalam alkohol dingin. Selain itu sorbitol memiliki sifat yang stabil
terhadap asam, enzim, dan terhadap suhu hingga mencapai 140°C (248°F)
(Sudharmadji,1982).
Dalam industri, sorbitol diperoleh melalui hidrogenasi glukosa yang
diperoleh dari pati dan gula invert. Disamping berfungsi sebagai pemanis
rendah kalori dalam pembuatan permen, sorbitol juga dapat digunakan
sebagai plasticizer (Alikonis, 1979). Sorbitol bersifat menghambat kristalisasi sukrosa, mempertahankan kesegaran dan flavour, sorbitol dapat
juga digunakan sebagai zat pengisi, stabilizer, humektan, bahan pengontrol viskositas dan sekuesteran untuk metal-metal tertentu. Adapun
rumus umum sorbitol adalah C6H14O6 (Marrie,1991). Menurut European Commition, Joint Reserch Center (2004), penggunaan sorbitol untuk
pastiles maksimum adalah 98 %.
Selain sorbitol, bahan pengisi lain yang digunakan adalah
maltodekstrin. Maltodekstrin merupakan salah satu jenis pati
termodifikasi. Pati termodifikasi merupakan pati yang diubah
karakteristiknya sehingga dapat dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.
Maltodekstrin didefinisikan sebagai produk hidrolisat pati yang
mengandung α-D-glukosa unit yang sebagian besar terikat melalui ikatan
1,4 glikosidik dengan DE kurang dari 20. Adapun rumus umum
maltodekstrin adalah [(C6H10O5)nH2O] (Kennedy et al. dalam Kearsley dan Diedzic,1995).
Menurut McDonald (1984), maltodekstrin bersifat kurang higroskopis,
membentuk zat warna pada reaksi browning, serta memberikan tekstur yang lembut ketika dikonsumsi (smooth moutfhfeel). Dalam pembuatan tablet, maltodekstrin dapat mensubstitusi laktosa dan tepung susu dalam
jumlah tertentu.
2. Bahan pengikat
Fungsi dari zat pengikat adalah menyatukan berbagai granula bahan
tertentu yang terbentuk akibat proses granulasi. Pengikat juga pendukung
terbesar bagi kekerasan akhir dari tablet. Tipe dan konsentrasi bahan
pengikat juga berpengaruh terhadap kekuatan intergranular, yang
merupakan kekuatan pengikat antar granula, sehingga akan terjadi
kekompakan masing-masing partikel dengan saling mengikat satu sama
lain dari permukaan butir granulat yang bergerigi (Lieberman et al.,1990). Bahan pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering, tetapi lebih
efektif jika ditambahkan dalam bentuk larutan. Bahan pengikat yang
umumnya dipakai adalah metilselulosa, sukrosa, povidon,
karboksimetilselulosa, gum akasia, gelatin dan pasta pati terhidrolisis
(Ansel, 1989). Menurut Liberman et al. (1990), bahan-bahan tersebut efektif dalam meningkatkan kekuatan intergranular dan pada saat yang
sama membantu untuk meningkatkan karakteristik ringan dan tekstur
permukaan dari permen ketika terlarut dalam rongga mulut.
Pasta tapioka/kanji merupakan bahan yang sering dipakai sebagai
bahan pengikat. Pasta tapioka/kanji dibuat dengan mendispersikan
tapioka/kanji ke dalam air, kemudian dipanaskan selama beberapa waktu.
Pasta yang bening cenderung lebih baik daripada larutan yang jernih
(Lachman et al., 1994).
3. Bahan Pelincir
Bahan pelincir adalah zat yang bertujuan untuk mengurangi gesekan
selama proses pencetakan dan mencegah massa tablet melekat pada
cetakan. Zat pelincir yang banyak dijumpai adalah talk, asam stearat,
garam-garam stearat dan derivatnya. Bentuk garam yang paling banyak
Jumlah pelincir yang digunakan untuk membuat tablet berbeda-beda
antara satu dengan yang lainnya. Umumnya penggunaan bahan pelincir
mulai dari yang sedikit 0.1 % berat tablet sampai 5% (Ansel, 1989).
Menurut Martindale (1982), magnesium stearat banyak digunakan
dalam bedak kulit dan kosmetik, dalam bentuk krim untuk mengobati
iritasi kulit, serta sering ditambahkan sebagai bahan pelicin dalam
pembuatan tablet.
Magnesium stearat dengan rumus kimia Mg(C18H35O2)2 merupakan salah satu pelincir yang digunakan pada pembuatan tablet hisap. Antirekat
pelincir atau zat pelincir adalah zat yang meningkatkan aliran bahan pada
cetakan serta membuat tablet lebih halus dan mengkilap (Ansel,1989).
4. Bahan aktif
Beberapa permen tablet dibuat dengan menambahkan bahan aktif atau
bahan obat tertentu untuk menambah keunggulan produk atau untuk
memberikan efek farmakologis yang bisa berfungsi mengobati
penyakit-penyakit ringan yang umum. Granulasi dari permen tablet bisa memakai ±
20-60% bahan-bahan aktif sebagai bagian dari formulasi (Lieberman et al., 1994).
Menurut Fuller (1920), buah kemukus mengandung senyawa yang
berguna untuk pengobatan selaput lendir. Ekstrak atau oleoresin kemukus
telah digunakan secara luas untuk pengobatan gonorrhea, radang selaput
lendir dan tenggorokan, serta peradangan urinaria. Menurut
www.henriettesherbal.com, penggunaan minyak kemukus dalam
pembuatan obat adalah 5-20% bobot tablet.
5. Bahan pemberi warna
Penggunaan zat pewarna bertujuan memberi keuntungan bagi produk
akhir. Pewarna dapat menutupi warna obat yang kurang baik, identifikasi
hasil produksi, dan membuat suatu produk menjadi lebih baik.Pelarut dan
pewarna dapat digunakan untuk mewarnai tablet yang terpadatkan. Pelarut
dan pewarna dapat ditambahkan kepada campuran bubuk sewaktu
pembuatan granulasi basah. Larutan pewarna dapat ditambahkan dalam
III. METODE PENELITIAN
A. BAHAN DAN ALAT
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak atsiri
kemukus (Piper cubeba Linn.) yang dihasilkan dari penyulingan biji kemukus yang berasal dari daerah Purwojero (Jawa Tengah), sorbitol
serbuk yang berasal dari toko bahan kimia Chem-Mix Pratama
Yogyakarta, magnesium strearat dari Toko bahan kimia Bratachem
Jakarta, maltodekstrin; kanji/amilum; dan pewarna makanan (Green) dari toko bahan kimia Setia Guna Bogor dan aquades. Selain itu, digunakan
pula bahan-bahan kimia untuk analisa seperti etanol netral 95%, indikator
PP, KOH 0.1 N, KOH 0.5 N, HCl 0.5 N, NaOH 0.1 N, dan alkohol.
Gambar bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat
pada Lampiran 1.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah oven
listrik, gelas piala, pipet volumetrik 25 ml dan 10 ml, gelas Erlenmeyer,
gelas ukur 100ml, labu ukur, sudip, ayakan, hot plate, alat pencetak tablet,
neraca analitik, loyang, piknometer, cawan alumunium, cawan porselen,
buret, refraktometer, polarimeter, penetrometer, dan friabilimeter, dan
hardness tester.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan
dan penelitian utama.
1. Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan terdiri dari dua bagian, yaitu :
a. Uji sifat fisiko kimia minyak kemukus
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kualitas minyak kemukus yang
akan digunakan dalam formulasi permen tablet pastiles. Penentuan kualitas
minyak kemukus berdasarkan pada Standar Industri Indonesia tentang
minyak kemukus, yaitu SII nomor 2048. Analisa yang dilakukan antara
lain adalah pengukuran berat jenis minyak, putaran optik, indeks bias,
kemukus, serta uji kandungan minyak kemukus dengan menggunakan
metode GCMS. Prosedur analisa dapat dilihat pada Lampiran 2.
b. Penentuan perbandingan sorbitol dan minyak kemukus Penentuan perbandingan konsentrasi sorbitol dan kemukus dilakukan
dengan cara trial and error. Dari hasil yang diperoleh kemudian dilakukan uji organoleptik terhadap rasa guna mengetahui formula yang paling baik
dan diterima oleh konsumen, yang akan digunakan pada penelitian utama.
Uji ini dilakukan oleh 15 orang panelis.
2. Penelitian Utama
Di dalam penelitian utama dilakukan pembuatan tablet pastiles minyak
kemukus, pengujian terhadap permen tablet yang dihasilkan baik secara
fisik maupun kimia, uji toksisitas, serta uji hedonik guna mengetahui
tingkat penerimaan konsumen terhadap produk. Pada uji hedonik produk,
panelisnya adalah mahasiswa yang berjumlah 30 orang. Karena sediaan
tablet pastiles merupakan salah satu jenis tablet hisap, maka standar yang
digunakan sebagai kontrol adalah standar yang berlaku untuk tablet hisap.
a. Pembuatan produk
Pembuatan permen tablet pastiles dengan bahan aktif minyak kemukus
dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan metode kempa
langsung, granulasi kering dan granulasi basah. Dalam penelitian ini,
metode yang digunakan adalah metode granulasi basah, karena
bahan-bahan yang digunakan dalam formulasi tersedia dalam bentuk yang
berbeda-beda sehingga harus digranulasikan untuk menyeragamkan
distribusi bahan-bahan dan menyeragamkan ukuran. Adapun diagram alir
Gambar 1. Diagram alir proses pembuatan permen tablet pastiles minyak kemukus Analisa tablet
[image:44.612.142.512.102.663.2]Pencetakan
Tablet pastiles Pengayakan kering, mesh 40
Magnesium stearat Bahan kasar > 40
Pencampuran Pengayakan basah,
20 mesh
Pengeringan suhu 40°C selama 1 jam pewarna Pengadukan dan
pemanasan hingga suhu 52°C
Minyak kemukus
Sorbitol serbuk, maltodekstrin
Larutan kanji
kanji Aquades
Larutan homogen
Prosedur pembuatan permen tablet pastiles pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Lakukan penimbangan terhadap bahan-bahan yang akan digunakan
dalam formulasi produk. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan
neraca analitik empat digit.
2. Setelah semua bahan yang akan digunakan ditimbang selanjutnya
dilakukan pencampuran.
3. Tahap pertama pencampuran adalah pembuatan larutan pengikat.
Larutan pengikat dibuat dengan mencampur aquades, kanji sebagai bahan
pengikat dan pewarna. Kemudian dilakukan pemanasan disertai dengan
pengadukan hingga suhu 52oC agar pati kanji/tapioka mengalami gelatinisasi sehingga membentuk gel/pasta (Laura, 2005). Penambahan
bahan pewarna pada pembuatan larutan pengikat bertujuan supaya
penyebaran warna merata.
4. Ke dalam larutan kanji atau pasta kanji yang dihasilkan kita tambahkan
minyak kemukus sesuai dengan jumlah yang ditetapkan dalam formulasi.
Lakukan pengadukan hingga tercampur merata (Larutan A).
5. Ke dalam larutan A, kita tambahkan maltodekstrin dan sorbitol sedikit
demi sedikit sambil diaduk hingga diperoleh campuran yang homogen
dengan kelembaban yang tepat, seperti tanah basah.
6. Setelah itu kita lakukan pengayakan basah menggunakan ayakan dengan
ukuran 20 mesh. Pada pengayakan basah akan dihasilkan granula tablet
dengan ukuran yang agak besar. Pengayakan basah ini bertujuan untuk
memudahkan penguapan air.
7. Setelah tahap pencampuran, tahap berikutnya adalah pengeringan.
Pengeringan dilakukan untuk menguapkan pelarut yang digunakan dalam
proses pembuatan granula dan untuk mengurangi kelembaban hingga
tingkat optimum. Suhu dan waktu pengeringan tergantung dari jenis bahan
yang digunakan. Pada penelitian ini, pengeringan dilakukan dengan oven
bersuhu 40oC selama 1 jam. Waktu yang relatif sebentar dengan suhu yang rendah dilakukan untuk mencegah menguapnya minyak kemukus yang
akan mempengaruhi kadar air produk dan tablet yang dihasilkan akan
bersifat rapuh dan mudah terbelah.
8. Setelah pengeringan, dilanjutkan pengayakan kering menggunakan
ayakan dengan ukuran mesh 40, dengan tujuan memperkecil ukuran
granula tablet dan menyempurnakan proses pengeringan tablet. Ukuran
tablet yang kecil membutuhkan granula dengan ukuran yang kecil pula.
9. Tambahkan Magnesium stearat ke dalam granula kering yang
dihasilkan. Penambahan bahan ini bertujuan untuk melapisi granula tablet,
sehingga dapat mencegah menempelnya granula pada alat pencetak tablet
ketika dilakukan pencetakan. Selain itu akan meningkatkan kecepatan alir
granula sehingga distribusi granula pada waktu pencetakan dapat seragam.
10. Granula tablet yang telah homogen kemudian dicetak sesuai dengan
bentuk dan ukuran yang diinginkan. Pencetakan dilakukan dengan
menggunakan mesin pencetak tablet. Terdapat berbagai macammesin
pencetak tablet, masing-masing berbeda kapasitas produksinya akan tetapi
memiliki prinsip kerja yang sama, yaitu pencetakan granula menjadi tablet
dengan proses pengempaan yang dilakukan oleh gerakan punch atas dan bawah. Pada penelitian kali ini, mesin yang digunakan adalah mesin tablet
dengan punch tunggal yang digerakkan dengan tangan aatu mesin yang akan menghasilkan sebuah tablet begitu kedua punch bersatu.
11. Selanjutnya dilakukan analisis fisik dan kimia terhadap tablet yang
dihasilkan.
3. Rancangan percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak
Lengkap dengan dua faktor perlakuan, yaitu perbedaan konsentrasi
sorbitol dan perbedaan konsentrasi minyak kemukus. Masing-masing
faktor terdiri dari tiga taraf . Ulangan dilakukan sebanyak dua kali untuk
masing-masing taraf perlakuan, dan dilakukan pengujian secara duplo
untuk masing-masing sampel. Model rancangan percobaan yang
Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk Keterangan:
Yijk = nilai pengamatan µ = rata-rata sebenarnya
αi = pengaruh faktor ke-α pada taraf ke-i (i = 1, 2, 3) βj = pengaruh faktor ke-β pada taraf ke-j (j = 1, 2, 3)
(αβ)ij = pengaruh interaksi faktor α taraf ke-i dengan faktor β taraf ke-j
ijk = error
α = konsentrasi sorbitol
β = konsentrasi minyak kemukus
Pengolahan data dilakukan dengan Analisis of Varians (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan untuk data-data yang bersifat
parametrik. Sementara untuk data hasil uji organoleptik akan diolah
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Penelitian Pendahuluan
A.1. Analisa Sifat Fisiko Kimia Minyak Atsiri Kemukus
Analisa sifat fisiko kimia dilakukan untuk mengetahui kualitas minyak
kemukus. Penentuan kualitas minyak atsiri kemukus didasarkan pada
Standar Industri Indonesia tentang minyak kemukus, yaitu SII nomor
[image:48.612.168.516.273.446.2]2048. Adapun hasil dari analisa tersebut tertera pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil analisa sifat fisiko kimia minyak kemukus
Karakteristik Standar* Hasil Pengujian Penampakan
Warna
Bau
Bobotjenis (25°C/25°C) Indeks bias pada 25°C Putaran optik pada 25°C Bilangan asam
Bilangan ester
Kelarutan di dalam etanol 90%
Jernih
Kuning pucat sampai hijau kebiru-biruan Khas 0.906-0.930 1.492-1.5020 (-43°C)-( -12°C) Maks 1.0 2.0-5.6 1:1 jernih 1:2 keruh Seterusnya keruh Jernih Kuning keemasan jernih Khas kemukus 0.9088 1.4905 -41°C 0.313 2.12 1:1 jernih *Anonim,(1987).
Dari hasil analisa pada Tabel 4, dapat diketahui bahwa minyak atsiri
kemukus yang akan digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi syarat
seperti yang ditetapkan di dalam Standar Industri Indonesia tentang
minyak atsiri kemukus, yaitu SII nomor 2048.
Analisa GCMS juga dilakukan untuk mengetahui
komponen-komponen yang terdapat dalam minyak atsiri kemukus. Dari hasil GCMS
dapat diketahui bahwa minyak kemukus yang akan digunakan
mengandung 32 jenis komponen, adapun tiga komponen terbesar
diantaranya adalah Sabinen dengan persentase 3.83%, Germacrene
sebesar 12.89%, α-cubebin sebesar 5.12%. Dari hasil GCMS yang telah
dilakukan dapat diketahui bahwa minyak kemukus yang digunakan dalam
digunakan untuk melegakan pernapasan dan sebagai antiseptik. Hasil
GCMS minyak kemukus dapat dilihat pada Lampiran 23.
A.2. Penentuan Perbandingan Konsentrasi Sorbitol dan Minyak Kemukus
Penentuan perbandingan konsentrasi sorbitol dan minyak kemukus
dilakukan guna mendapatkan formulasi yang tepat sehingga dihasilkan
permen tablet pastiles yang memiliki karakteristik fisik dan kimia yang
baik, dengan efek farmakologis yang tetap ada, serta diterima konsumen.
Dalam penelitian ini, penentuan perbandingan konsentrasi sorbitol dan
minyak kemukus dilakukan dengan cara trial and error.
Minyak kemukus memiliki rasa yang pahit getir tetapi menyegarkan,
hal tersebut disebabkan karena adanya kandungan senyawa cubebol dan
kubebin dalam minyak kemukus (www.ugm.ac.id). Sementara itu, sorbitol
merupakan pemanis yang memiliki tingkat kemanisan 0.5 kali kemanisan
sukrosa, dan memberikan efek dingin dan sejuk di mulut (Marrie, 1991).
Efek dingin di mulut yang dihasilkan oleh sorbitol disebabkan sorbitol
menyerap kalor dari lingkungan sehingga ketika dikonsumsi memberikan
efek menyejukkan. Sorbitol tidak bersifat karsinogenik dan lebih aman
untuk gigi dibandingkan sukrosa, karena sorbitol sulit teruraikan oleh
bakteri mulut, sehingga dapat menjaga tingkat keasaman mulut, hal
tersebut dapat mencegah pertumbuhan karang gigi, dan menjaga kesehatan
gigi dan mulut (Marrie, 1991).
Dalam formulasi, konsentrasi minyak kemukus yang digunakan antara
1-4% dengan konsentrasi sorbitol sebesar 75%. Pemilihan konsentrasi
minyak kemukus antara 1-4% dikarenakan pada konsentrasi lebih dari 4%
diperoleh rasa permen tablet pastiles yang sangat pahit. Sementara
pemilihan konsentrasi sorbitol sebesar 75% dikarenakan adanya
penggunaan maltodekstrin sebesar 10% sebagai bahan pengisi lain yang
memiliki tingkat kemanisan 0.5 kemanisan sukrosa. Penggunaan
maltodekstrin bertujuan untuk meningkatkan laju alir granula dan
memudahkan pencampuran minyak kemukus dengan bahan-bahan lainnya,
lemak/minyak. Pemilihan konsentrasi bahan pengisi sorbitol lebih besar
dari pada bahan pengisi maltodekstrin disebabkan sorbitol cenderung lebih
aman bagi kesehatan gigi karena hanya sedikit bakteri mulut yang dapat
menguraikan sorbitol sehingga tingkat keasaman mulut dapat dijaga,
sementara maltodekstrin tidak. Sehingga kurang baik untuk kesehatan gigi.
Guna mengetahui penerimaan terhadap produk dilakukan uji hedonik
terhadap rasa. Rasa dipilih sebagai parameter utama karena rasa
merupakan salah satu faktor yang menentukan keputusan konsumen untuk
menerima atau menolak suatu produk pangan. Uji ini dilakukan oleh 15
[image:50.612.123.550.311.459.2]orang panelis. Hasil dari uji hedonik ini tercantum dalam Tabel 5.
Tabel 5. Hasil uji rasa terhadap berbagai konsentrasi minyak kemukus
Sorbitol (%) Malto dekstrin (%) Pewarna (%) Kanji (%) Minyak Kemukus (%) Magnesium Stearat (%) Rasa 75 75 75 75 10 10 10 10 0.1 0.1 0.1 0.1 5 5 5 5 1 2 3 4 4 4 4 4 Manis menyegarkan Agak pahit menyegarkan Sangat Pahit menyegarkan Sangat Pahit menyegarkan
Berdasarkan uji hedonik terhadap rasa permen tablet pastiles dapat
diketahui bahwa pada konsentrasi minyak atsiri 1-2% dan sorbitol 75%
dihasilkan rasa permen tablet antara tidak pahit hingga agak pahit,
Sehingga dapat ditentukan penggunaan sorbitol pada penelitian utama
yaitu pada konsentrasi 75%, 77% dan 79%. Pemilihan rentang penggunaan
sorbitol yang tidak terlalu berbeda dikarenakan salah satu ciri khas dari
sediaan pastiles adalah rasanya yang tidak terlalu manis. Dengan
pemilihan rentang 75%, 77%, dan 79% diharapkan tujuan tersebut dapat
tercapai. Konsentrasi sorbitol yang digunakan masih dalam batas toleransi,
karena penggunaan sorbitol untuk pastiles maksimum adalah 98%
(European Commition,Joint Reserch Center, 2004). Formulasi permen
Tabel 6. Formulasi permen tablet pastiles minyak kemukus
Bahan Baku Konsentrasi (%) Sorbitol
Minyak Kemukus Kanji
Magnesium Stearat Maltodekstrin Pewarna
75, 77, 79 1, 1.5, 2 5 4 10 0.1
Tabel 7. Formulasi permen tablet pastiles minyak kemukus (Gram)
Bahan baku A1B1 A1B2 A1B3 A2B1 A2B2 A2B3 A3B1 A3B2 A3B3 Sorbitol 37.5 37.5 37.5 38.5 38.5 38.5 39.5 39.5 39.5 Minyak
kemukus
0.5 0.75 1 0. 5 0.75 1 0.5 0.75 1
Maltodekstrin 5 5 5 5 5 5 5 5 5
Kanji 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Magnesium
Stearat
2 2 2 2 2 2 2 2 2
Pewarna 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 Total 47.55 47.8 48.05 48.55 48.8 49.05 49.55 49.8 50.05
Penambahan aquades tidak termasuk dalam formulasi karena nantinya
akan diuapkan kembali pada waktu pengeringan. Penambahan aquades
hanya untuk pembuatan larutan pengikat. Jumlah yang ditambahkan
disesuaikan dengan bahan. Penggunaan aquades pada penelitian ini
berkisar antara ±8 ml, karena pada penambahan sejumlah tersebut
menghasilkan kondisi campuran yang lembab tanah. Jumlah yang tidak
100% disebabkan pada penelitian ini yang diamati adalah peruba