• Tidak ada hasil yang ditemukan

Morfopatologi Usus Broiler Setelah Pemberian Minyak Ikan dan Vitamin E sebagai Imunomodulator dan Paparan Virus Infectious Bursal Disease

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Morfopatologi Usus Broiler Setelah Pemberian Minyak Ikan dan Vitamin E sebagai Imunomodulator dan Paparan Virus Infectious Bursal Disease"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

MORFOPATOLOGI USUS BROILER SETELAH PEMBERIAN

MINYAK IKAN DAN VITAMIN E SEBAGAI

IMUNOMODULATOR DAN PAPARAN VIRUS Infectious

Bursal Disease

Elpita Br Tarigan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

ABSTRAK

ELPITA BR TARIGAN. Morfopatologi Usus Broiler Setelah Pemberian Minyak Ikan dan Vitamin E sebagai Imunomodulator dan Paparan Virus

Infectious Bursal Disease. Dibimbing oleh AGUS SETIYONO

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi usus broiler yang ditantang virus Infectious Bursal Disease (IBD) setelah pemberian minyak ikan dan vitamin E sebagai imunomodulator dalam ransum. Penelitian ini menggunakan ayam broiler strain CP 707 berumur satu hari (DOC) yang

berjumlah 190 ekor, minyak ikan 6%, dan vitamin E 200ppm, virus IBD 106

LD50/ml. Vaksinasi dengan vaksin Newcastle Disease (ND) 107 EID50/ml dan

IBD 107 EID50/ml. Perlakuan dibagi atas 5 kelompok yang terdiri atas: A (diberi

minyak ikan dan vitamin E, divaksin, tanpa ditantang virus IBD); B (diberi minyak ikan dan vitamin E, tidak divaksin, tanpa ditantang virus IBD); C (diberi minyak ikan dan vitamin E, tidak divaksin, ditantang virus IBD); D (diberi minyak ikan dan vitamin E, divaksin, ditantang virus IBD; dan E (tidak diberi minyak ikan dan vitamin E, divaksin, ditantang virus IBD). Nekropsi dilakukan pada saat ayam berumur 15, 30, 37 dan 44 hari, dikoleksi organ ususnya bagian

duodenum dalam buffer neutral formalin (BNF) 10% dan dibuat preparat

histopatologi dengan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE). Pengamatan histopatologi dilakukan secara deskriptif kualitatif menggunakan mikroskop dengan pembesaran obyektif 10x dan 40x terhadap 10 lapang pandang, kemudian dirata-ratakan. Pada kelompok yang diberi minyak ikan, vitamin E dan ditantang virus IBD ditemukan oedema dan atau kongesti. Pada kelompok yang tidak diberi minyak ikan, vitamin E dan ditantang virus IBD ditemukan peradangan, perdarahan, penebalan dan deskuamasi vili usus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minyak ikan dan vitamin E yang ditambahkan dalam ransum broiler dan ditantang virus IBD dapat menekan kerusakan vili usus broiler.

(3)

MORFOPATOLOGI USUS BROILER SETELAH PEMBERIAN

MINYAK IKAN DAN VITAMIN E SEBAGAI

IMUNOMODULATOR DAN PAPARAN VIRUS Infectious

Bursal Disease

Elpita Br Tarigan B04103019

Skripsi

Sebagai syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Kedokteran Hewan pada

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(4)

Judul Skripsi : Morfopatologi Usus Broiler Setelah Pemberian Minyak Ikan dan

Vitamin E sebagai Imunomodulator dan Paparan Virus Infectious Bursal Disease

Nama : Elpita Br Tarigan

NRP : B04103019

Disetujui

Drh. Agus Setiyono, MS, Ph.D

NIP. 131 760 874

Diketahui

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

Dr. Drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS

NIP. 131 129 090

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas

berkat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul

Morfopatologi Usus Broiler Setelah Pemberian Minyak Ikan dan Vitamin E

sebagai Imunomodulator dan Paparan Virus Infectious Bursal Disease. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan

pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. drh. Agus Setiyono, MS, Ph.D sebagai dosen pembimbing skripsi yang

sangat banyak memberikan bimbingan dan masukan untuk penulis

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

2. drh. Ekowati Handharyani, MS, Ph.D sebagai dosen penilai skripsi yang

memberikan saran-saran dan dengan sabar membimbing penulis.

3. Bapak dan Ibu staff Patologi, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi

FKH IPB.

4. drh. Retno Wulansari, MSi, Ph.D sebagai pembimbing akademik yang

banyak memberikan masukan selama penulis kuliah.

5. Ir. Denny Rusmana, MS yang memberikan bantuan kepada penulis dalam

penelitian ini.

6. Pak Kasnadi dan Pak Endang yang menemani setiap saat di laboratorium

dan mau lembur, teman-teman sepenelitianku Mudia, Bangkit, Vico, dan

yang almost always ada di laboratorium Ochie dan Tri’once’.

7. Keluarga Bang Gustaf dan Kak Ikke, Penaga Family, Hisopers, Permata

GBKP Bogor, Panti Asuhan Candranaya, dan KPA-nis.

8. Gymnolaemata’ers, teman-teman seperjuanganku waktu yang kita lalui

bersama sangat mengesankan. Jangan pernah goyah lagi walaupun banyak

yang mau memecah kita, tetap jadi satu keluarga yang kompak.

9. Adek kelompok kecilku Debya dan Tata (we are family), Sry Ulina, Ribka

44, Lina (makasih ya inang coz u always there), dan adekku Andre

(6)

10.B’Yosia, B’ Edu Ginting, B’Budi, B’Joy, B’Bremin, B’Donald, B’Hendra,

B’ Eka (Hitara), K’Emma, K’Mila, K’ Lala, K’Tetty, K’Demitha, dan

K’Yanthi yang menjadi kakak dan abangku selama kuliah dan berdoa buat

kesehatanku.

11.Andung crew dan Griya Ananta crew ” Ethax, Debya, Lina, Jani, Erikut,

Chenty, Uchank, Jesica, Emta, Evi, Novi, dan Agoestina”.

12.ATF crew ” Jani, Chenty, Anin, Cynthia, Efni ” dan Mey-mey terimakasih

kalian telah mengisi hari-hariku dengan warna-warni

(MEJIKUHIBINIU) semoga persahabatan kita tetap diberkati Tuhan.

13.Sahabatku Etha, Gatha, Ribka 40, Rikki, Zaldie, Adam, Ady’Bone’,

Agung, Irvan, Riskha, Lina, Togu, Lis, Melva, Ithink, Intan, Uchie,

Windy, Aisy, wywy, dan Isaias.

14.Mamak, Bapak, abang tua Sarman Tarigan dan abang Repi Tarigan

tercinta yang selalu menyayangi, membela, dan mendukung dengan penuh

kasih dan selalu menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan penulis baik

materil dan terlebih doa. Tuhan Yesus senantiasa menyertai, melindungi

dan memberkati kita.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini

namun penulis juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang

membutuhkan.

Bogor , 24 September 2007

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Berastagi pada tanggal 13 Mei 1985 sebagai anak ke

tiga dari tiga bersaudara, anak dari pasangan Lapang Tarigan dan Bidan Br

Sinuhaji.

Tahun 2003 penulis lulus SMU Negeri 1 Berastagi dan pada tahun yang

sama lulus seleksi masuk IPB melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Penulis memilih Fakultas Kedokteran Hewan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten mata kuliah

Agama Kristen pada tahun ajaran 2004/2005, sebagai pengurus di Himpunan

Profesi Ruminansia FKH (kepengurusan 2006/2008), sebagai pengurus di Komisi

Pelayanan Anak (KPA); Organisasi Persekutuan Mahasiswa Kristen IPB, dan

sebagai asisten praktikum mata kuliah Patologi Sistemik pada tahun ajaran

(8)
(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1.Tabel 1 Sumber asam lemak dari berbagai ikan (g/100g) ... 11

2.Tabel 2 Komposisi ransum penelitian ... 16

3.Tabel 3 Hasil rata-rata skoring pengamatan ... 19

4.Tabel 4 Hasil skoring akhir pengamatan ... 20

(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Gambar 1 Histologi usus halus normal ... 4

2. Gambar 2 Model kandang ayam ... 17

3. Gambar 3 Grafik Hasil rata-rata skoring pengamatan ... 20

4. Gambar 4 Histopatologi usus halus keadaan oedema ... 22

5. Gambar 5 Histopatologi usus halus peradangan dan atau perdarahan ... 23

6. Gambar 6 Histopatologi usus halus keadaan deskuamasi epitel ... 24

(11)

MORFOPATOLOGI USUS BROILER SETELAH PEMBERIAN

MINYAK IKAN DAN VITAMIN E SEBAGAI

IMUNOMODULATOR DAN PAPARAN VIRUS Infectious

Bursal Disease

Elpita Br Tarigan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

ABSTRAK

ELPITA BR TARIGAN. Morfopatologi Usus Broiler Setelah Pemberian Minyak Ikan dan Vitamin E sebagai Imunomodulator dan Paparan Virus

Infectious Bursal Disease. Dibimbing oleh AGUS SETIYONO

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi usus broiler yang ditantang virus Infectious Bursal Disease (IBD) setelah pemberian minyak ikan dan vitamin E sebagai imunomodulator dalam ransum. Penelitian ini menggunakan ayam broiler strain CP 707 berumur satu hari (DOC) yang

berjumlah 190 ekor, minyak ikan 6%, dan vitamin E 200ppm, virus IBD 106

LD50/ml. Vaksinasi dengan vaksin Newcastle Disease (ND) 107 EID50/ml dan

IBD 107 EID50/ml. Perlakuan dibagi atas 5 kelompok yang terdiri atas: A (diberi

minyak ikan dan vitamin E, divaksin, tanpa ditantang virus IBD); B (diberi minyak ikan dan vitamin E, tidak divaksin, tanpa ditantang virus IBD); C (diberi minyak ikan dan vitamin E, tidak divaksin, ditantang virus IBD); D (diberi minyak ikan dan vitamin E, divaksin, ditantang virus IBD; dan E (tidak diberi minyak ikan dan vitamin E, divaksin, ditantang virus IBD). Nekropsi dilakukan pada saat ayam berumur 15, 30, 37 dan 44 hari, dikoleksi organ ususnya bagian

duodenum dalam buffer neutral formalin (BNF) 10% dan dibuat preparat

histopatologi dengan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE). Pengamatan histopatologi dilakukan secara deskriptif kualitatif menggunakan mikroskop dengan pembesaran obyektif 10x dan 40x terhadap 10 lapang pandang, kemudian dirata-ratakan. Pada kelompok yang diberi minyak ikan, vitamin E dan ditantang virus IBD ditemukan oedema dan atau kongesti. Pada kelompok yang tidak diberi minyak ikan, vitamin E dan ditantang virus IBD ditemukan peradangan, perdarahan, penebalan dan deskuamasi vili usus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minyak ikan dan vitamin E yang ditambahkan dalam ransum broiler dan ditantang virus IBD dapat menekan kerusakan vili usus broiler.

(13)

MORFOPATOLOGI USUS BROILER SETELAH PEMBERIAN

MINYAK IKAN DAN VITAMIN E SEBAGAI

IMUNOMODULATOR DAN PAPARAN VIRUS Infectious

Bursal Disease

Elpita Br Tarigan B04103019

Skripsi

Sebagai syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Kedokteran Hewan pada

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(14)

Judul Skripsi : Morfopatologi Usus Broiler Setelah Pemberian Minyak Ikan dan

Vitamin E sebagai Imunomodulator dan Paparan Virus Infectious Bursal Disease

Nama : Elpita Br Tarigan

NRP : B04103019

Disetujui

Drh. Agus Setiyono, MS, Ph.D

NIP. 131 760 874

Diketahui

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

Dr. Drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS

NIP. 131 129 090

(15)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas

berkat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul

Morfopatologi Usus Broiler Setelah Pemberian Minyak Ikan dan Vitamin E

sebagai Imunomodulator dan Paparan Virus Infectious Bursal Disease. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan

pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. drh. Agus Setiyono, MS, Ph.D sebagai dosen pembimbing skripsi yang

sangat banyak memberikan bimbingan dan masukan untuk penulis

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

2. drh. Ekowati Handharyani, MS, Ph.D sebagai dosen penilai skripsi yang

memberikan saran-saran dan dengan sabar membimbing penulis.

3. Bapak dan Ibu staff Patologi, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi

FKH IPB.

4. drh. Retno Wulansari, MSi, Ph.D sebagai pembimbing akademik yang

banyak memberikan masukan selama penulis kuliah.

5. Ir. Denny Rusmana, MS yang memberikan bantuan kepada penulis dalam

penelitian ini.

6. Pak Kasnadi dan Pak Endang yang menemani setiap saat di laboratorium

dan mau lembur, teman-teman sepenelitianku Mudia, Bangkit, Vico, dan

yang almost always ada di laboratorium Ochie dan Tri’once’.

7. Keluarga Bang Gustaf dan Kak Ikke, Penaga Family, Hisopers, Permata

GBKP Bogor, Panti Asuhan Candranaya, dan KPA-nis.

8. Gymnolaemata’ers, teman-teman seperjuanganku waktu yang kita lalui

bersama sangat mengesankan. Jangan pernah goyah lagi walaupun banyak

yang mau memecah kita, tetap jadi satu keluarga yang kompak.

9. Adek kelompok kecilku Debya dan Tata (we are family), Sry Ulina, Ribka

44, Lina (makasih ya inang coz u always there), dan adekku Andre

(16)

10.B’Yosia, B’ Edu Ginting, B’Budi, B’Joy, B’Bremin, B’Donald, B’Hendra,

B’ Eka (Hitara), K’Emma, K’Mila, K’ Lala, K’Tetty, K’Demitha, dan

K’Yanthi yang menjadi kakak dan abangku selama kuliah dan berdoa buat

kesehatanku.

11.Andung crew dan Griya Ananta crew ” Ethax, Debya, Lina, Jani, Erikut,

Chenty, Uchank, Jesica, Emta, Evi, Novi, dan Agoestina”.

12.ATF crew ” Jani, Chenty, Anin, Cynthia, Efni ” dan Mey-mey terimakasih

kalian telah mengisi hari-hariku dengan warna-warni

(MEJIKUHIBINIU) semoga persahabatan kita tetap diberkati Tuhan.

13.Sahabatku Etha, Gatha, Ribka 40, Rikki, Zaldie, Adam, Ady’Bone’,

Agung, Irvan, Riskha, Lina, Togu, Lis, Melva, Ithink, Intan, Uchie,

Windy, Aisy, wywy, dan Isaias.

14.Mamak, Bapak, abang tua Sarman Tarigan dan abang Repi Tarigan

tercinta yang selalu menyayangi, membela, dan mendukung dengan penuh

kasih dan selalu menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan penulis baik

materil dan terlebih doa. Tuhan Yesus senantiasa menyertai, melindungi

dan memberkati kita.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini

namun penulis juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang

membutuhkan.

Bogor , 24 September 2007

(17)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Berastagi pada tanggal 13 Mei 1985 sebagai anak ke

tiga dari tiga bersaudara, anak dari pasangan Lapang Tarigan dan Bidan Br

Sinuhaji.

Tahun 2003 penulis lulus SMU Negeri 1 Berastagi dan pada tahun yang

sama lulus seleksi masuk IPB melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Penulis memilih Fakultas Kedokteran Hewan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten mata kuliah

Agama Kristen pada tahun ajaran 2004/2005, sebagai pengurus di Himpunan

Profesi Ruminansia FKH (kepengurusan 2006/2008), sebagai pengurus di Komisi

Pelayanan Anak (KPA); Organisasi Persekutuan Mahasiswa Kristen IPB, dan

sebagai asisten praktikum mata kuliah Patologi Sistemik pada tahun ajaran

(18)
(19)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1.Tabel 1 Sumber asam lemak dari berbagai ikan (g/100g) ... 11

2.Tabel 2 Komposisi ransum penelitian ... 16

3.Tabel 3 Hasil rata-rata skoring pengamatan ... 19

4.Tabel 4 Hasil skoring akhir pengamatan ... 20

(20)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Gambar 1 Histologi usus halus normal ... 4

2. Gambar 2 Model kandang ayam ... 17

3. Gambar 3 Grafik Hasil rata-rata skoring pengamatan ... 20

4. Gambar 4 Histopatologi usus halus keadaan oedema ... 22

5. Gambar 5 Histopatologi usus halus peradangan dan atau perdarahan ... 23

6. Gambar 6 Histopatologi usus halus keadaan deskuamasi epitel ... 24

(21)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pangan asal ternak sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan dan

kualitas hidup manusia, sekaligus sebagai komoditas dagang. Ayam broiler

merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan

konsumsi protein hewani. Komoditas broiler mempunyai prospek pasar yang

sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk yang dapat diterima oleh

masyarakat, harga relatif murah dibandingkan dengan sumber protein hewani lain,

dan akses yang mudah diperoleh karena sudah merupakan barang kepunyaan

masyarakat. Peternak diharapkan mampu menjaga performa dari produk broiler

agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Pakan, penyakit ayam, obat hewan,

pengawasan dan manajemen pada proses praproduksi memegang peranan penting

dalam menghasilkan produk yang bermutu tinggi dan aman dikonsumsi.

Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi ketahanan broiler

adalah pakan. Hal ini mendorong peternak untuk mengoptimalkan nilai guna dari

pakan yang dikonsumsi. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan

produktivitas adalah melalui penentuan jenis ransum yang tepat oleh peternak.

Penyediaan ransum yang berkualitas tinggi terutama dari segi nutrisi yang

memegang peranan vital harus dapat dijaga dan dipertahankan sehingga dapat

memperbaiki atau meningkatkan kesehatan dan performa ayam broiler.

Penambahan beberapa zat makanan bertujuan untuk menjaga nilai nutrisi

maksimal dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh ternak agar tidak terancam

oleh penyakit. Berdasarkan penelitian Rusmana (2000), zat makanan yang dapat

memperbaiki sistem kekebalan tubuh ternak diantaranya adalah asam lemak tak

jenuh ganda atau polyunsatturated fatty acids (PUFA). Minyak yang kaya asam lemak omega-3 dan omega-6 pada tingkat tertentu dapat meningkatkan imunitas

(Friedman & Sklan 1997). Pemberian minyak ikan yang kaya asam lemak

omega-3 dalam ransum broiler ternyata mampu menghasilkan respon titer antibodi yang

lebih tinggi dibandingkan dengan yang diberi minyak yang mengandung asam

lemak omega-6 (Frietche et al. 1991)

Ikan terutama ikan berlemak yang berasal dari laut dalam, seperti tenggiri,

(22)

memiliki kandungan eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid

(DHA), sedangkan asam lemak Omega-6 paling banyak dijumpai pada minyak

nabati seperti minyak biji matahari (65%), margarin (60%), minyak jagung (60%),

dan minyak kedelai (55%) (Whitney 1990). Minyak ikan dan minyak sawit

masing masing merupakan sumber asam lemak tak jenuh ganda seri omega-3 dan

omega-6. Potensi kedua asam lemak tersebut dapat dikombinasikan dalam pakan

broiler dengan rasio 5-10 : 1 agar dihasilkan produk daging yang baik untuk

dikonsumsi (Suprayogi 1999).

Minyak ikan merupakan sumber EPA dan DHA yang berpotensi

mencegah berbagai macam jenis penyakit. Minyak ikan sebagai bahan pakan

mempunyai beberapa sifat penting diantaranya sangat kaya energi, menambah

efisiensi penggunaan ransum, menyediakan asam-asam lemak essensial,

menambah palatabilitas ransum, dan pembawa vitamin (Sari 2004). Tyas utami et

al. (1998) mengatakan bahwa penambahan minyak ikan dalam ransum unggas

selain membantu memenuhi kebutuhan energi yang tinggi, juga dapat

menurunkan sifat berdebu pada ransum yang berbentuk tepung lengkap. Namun

asam lemak tak jenuh ganda dikenal sangat peka terhadap proses oksidasi. Oleh

karena itu penambahan antioksidasi sering dianggap perlu untuk mencegah proses

tersebut (Sanders 1992).

Morfologi permukaan vili usus halus sangat berperan dalam menyerap

nutrien bahan pakan, oleh karena itu usus halus harus mempunyai struktur yang

optimal. Struktur tersebut dapat diamati sebagai performa vili usus halus.

Performa vili usus halus dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis bahan

pakan, zat kimia pakan dan feed aditif, serta gangguan pertumbuhan vili. Pakan tambahan juga dapat merusak struktur vili jika penambahannya mengganggu

keseimbangan asam basa usus halus (Rofiq 2006).

Jika terjadi perlukaan pada usus halus maka pakan tidak tercerna,

sehingga terjadi beberapa abnormalitas dalam proses pencernaan dan penyerapan

zat makanan. Nutrisi yang terserap akan sangat minimal dan tidak mencukupi

kebutuhan. Nutrisi yang rendah atau tidak seimbang dapat menyebabkan penyakit

defisiensi, sehingga berpengaruh terhadap vitalitas ayam dan mudah terkena

(23)

Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi usus

broiler setelah pemberian minyak ikan dan vitamin E sebagai imunomodulator

dan paparan virus IBD.

Manfaat penelitian

Memberikan informasi dasar tentang gambaran histopatologi usus broiler

setelah pemberian minyak ikan dan vitamin E sebagai imunomodulator dan

(24)

TINJAUAN PUSTAKA

USUS HALUS

Bagian terbesar dari pencernaan dan penyerapan terjadi di usus halus.

Usus halus pada prinsipnya adalah tempat untuk pencernaan secara kimiawi

(Ressang 1984). Usus berfungsi untuk mencerna makanan dengan enzim-enzim

yang disalurkan dari berbagai kelenjar dan sebagai alat penyerapan terhadap

sari-sari makanan. Usus halus terdiri atas tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan

ileum.

Calhoun (1954) membagi Lapisan usus halus terdiri atas empat lapisan,

yaitu lapisan luar, lapisan otot, submukosa dan mukosa. Gambar 1 adalah

histologi usus normal, yang menunjukkan susunan usus halus.

a b Keterangan gambar : c a. epitel vili (enterosit)

b. lamina propria

d c. sel goblet

d. villus

e. kripta Lieberkuhn

e f. submukosa.

f e

Gambar 1 Histologi usus halus normal.

(Sumber : http://www.cvm.okstate.edu 2000)

Lapisan luar merupakan peritonium yang melapisi usus halus dengan erat.

Lapisan otot polos terdiri atas 2 lapisan serabut, lapisan luar yang memanjang

(longitudinal) dan lapisan dalam yang melingkar (serabut sirkuler). Kontraksi otot

polos dan bentuk peristaltik usus yang turut serta dalam proses pencernaan

mekanis, pencampuran makanan dengan enzim-enzim pencernaan dan

pergerakkan makanan sepanjang saluran pencernaan. Diantara kedua lapisan

serabut berotot terdapat pembuluh darah, pembuluh limfe dan pleksus syaraf.

Submukosa terdiri dari jaringan ikat yang mengandung syaraf otonom,

berfungsi mengatur kontraksi muskularis mukosa dan sekresi dari mukosa saluran

(25)

Dinding submukosa terdiri atas jaringan alveolar dan berisi banyak pembuluh

darah, sel limfe, kelenjar, dan pleksus syaraf yang disebut plexus of meissner. Pada duodenum terdapat kelenjar brunner yang berfungsi untuk melindungi

lapisan duodenum dari pengaruh isi lambung yang asam. Sistem kerjanya adalah

kelenjar brunner akan mengeluarkan sekret cairan kental alkali.

Mukosa terdiri dari epitel silindris selapis dan sel goblet yang mensekresi

getah usus halus (intestinal juice). Pada lapisan ini terdapat vili yang merupakan tonjolan dari plika sirkularis (lipatan yang terjadi antara mukosa dengan

submukosa). Lipatan ini menambah luasnya permukaan sekresi dan absorpsi serta

memberi kesempatan lebih lama pada getah cerna untuk bekerja pada makanan.

Menurut Bevelander dan Ramaley (1988), bagian terpenting yaitu transportasi

nutrisi dari lumen ke dalam pembuluh darah dan limfatika dari mukosa.

Vili terdapat pada semua bagian usus dan merupakan sifatnya yang khas.

Dalam duodenum vili berbentuk daun, dalam jejunum bentuknya tinggi dan agak

membesar atau bercanggah pada ujung distalnya. Ileum mempunyai vili yang

lebih pendek dan berbentuk gada. Diantara dasar-dasar vili terdapat

kelenjar yang meluas kedalam bagian bawah mukosa, merupakan

kelenjar-kelenjar usus (kripta Lieberkuhn). Terdapat mukus pada lumen dan pada kelenjar-kelenjar

Lieberkuhn (Calhoun 1954).

Vili terdiri atas lakteal, buluh darah, otot fiber, dan jaringan limfatik, yang

berbeda pada setiap umur ayam. Vili pada duodenum adalah yang terpanjang,

kadang bercabang dua. Epitel vili terdiri dari enterosit (epitel silindris selapis)

untuk absorbsi dan musin (sel goblet) sel sekresi. Enterosit berada di dasar

nukleus, sel goblet berada diantara enterosit. Tipe sel lainnya adalah Paneth sel,

berada pada kripta, dikarakteristik oleh eosinofilik yang terang, supranuklear, dan

granul sitoplasma. Sel endokrin berada pada kripta sebagai sel tunggal atau dalam

kelompok (cluster), tidak seperti Paneth sel ini berada pada dasar sel (Calhoun 1954).

Lamina propria adalah jaringan retikuler yang mengandung kapiler,

limfatika dan serat-serat otot terpencar. Sel radang berada pada lamina propria dan

selalu terdiri dari plasma dan limfosit. Limfatika sentral adalah lakteal yang

(26)

terserap ke dalam lakteal. Arteriola masuk ke dalam vili pada sisi dan memecah

ke dalam kapiler pada ujung distalnya (Bevelander & Ramaley 1988).

Sel-sel kripta menyediakan sel-sel baru untuk permukaan vili agar

menggantikan sel-sel yang terbuang dalam lumen. Kelenjar brunner adalah lobus

musin dengan sekresi yang ditujukan ke kelenjar kripta. Kelenjar brunner pada

duodenum sangat banyak pada bagian awal. Jaringan limfoid tersebar luas dalam

seluruh mukosa usus kecil. Pada ileum nodula terkumpul dalam kelompok–

kelompok (bercak-bercak Payer) dan tidak hanya mengisi mukosa tetapi juga

submukosa (Bevelander dan Ramaley 1988).

Morfologi permukaan vili usus halus sangat berperan dalam menyerap

nutrien bahan pakan, oleh karena itu morfologi usus halus harus mempunyai

struktur yang optimal dalam menyerap nutrient. Struktur tersebut dapat diamati

sebagai performa vili usus halus. Performa vili usus halus dipengaruhi oleh

beberapa faktor yaitu jenis bahan pakan, zat kimia pakan dan feed aditif, serta gangguan pertumbuhan vili usus halus. Pakan tambahan juga dapat merusak

struktur vili jika penambahannya mengganggu keseimbangan asam basa usus

halus sehingga menyebabkan kerusakan usus halus (Rofiq2006).

Infectious Bursal Disease (IBD)

Infectious Bursal Disease (IBD) atau sering juga disebut Gumboro merupakan penyakit virus yang akut dan sangat kontagius, yang menyerang ayam

muda (Fenner et al. 1995). Pada tahun 1962 IBD pertama kali dilaporkan berada dekat dengan Gumboro Delaware (Jordan 1990). IBD disebabkan oleh virus IBD

yang menyerang bursa Fabrisius anak ayam umur 3 sampai 6 minggu. Jaringan

limfoid merupakan target primer dan bursa Fabrisius merupakan predileksi

utamanya (Jackwood et al. l987). Virus tersebut akan menghancurkan sel limfosit B yang belum matang sehingga menyebabkan imunosupresi. Akibat kerusakan sel

limfosit B ayam menjadi rentan terhadap infeksi penyakit lain. Kejadian penyakit

hanya diketahui pada ayam saja (Bains 1979).

Mikrobiologi virus IBD antara lain ukuran kecil, genus Avibirnavirus,

famili Birnaviridae dengan genom memiliki RNA rantai ganda. Virus IBD

(27)

(stabil hidup setelah 30 menit dalam pemanasan 600 C), resistensi tinggi terhadap desinfektan yang umum, dan bertahan pada lingkungan kandang dalam jangka

waktu yang lama. Virus bertahan selama sebulan pada kandang yang

terkontaminasi dan seminggu pada air, pakan dan obat (Bains 1979). Masa

inkubasi 2-3 hari dan gejala klinis muncul pada 3-4 hari, ayam yang bertahan

hidup akan sembuh dengan cepat (Fenner et al. 1995).

Virus IBD diklasifikasikan ke dalam dua serotipe berdasarkan uji

netralisasi, yaitu serotipe 1 bersifat patogen dan serotipe 2 bersifat nonpatogen.

Serotipe 1 dapat merusak ayam sedangkan serotipe 2 tidak merusak. Virus dapat

di provagasi pada telur embrio tertunas (Bains 1979, Jackwood 2000).

Berdasarkan virulensi virus, Bains (1979) membagi serotipe 1 menjadi

empat patotipe. Empat patotipe tersebut adalah strain lapang dan vaksin, strain

klasik, strain sangat virulen, dan strain varian IBD.

Strain lapang dan strain vaksin IBDtidak ada mortalitas atau gejala klinis,

tetapi merusak bursa tergantung virulensi virus yang masih bisa terjadi. Strain

klasik menimbulkan mortalitas (<20%), lesio pada bursa, dan mampu merusak

antibodi maternal pada level sedang. Strain hiper atau sangat virulen

menyebabkan mortalitas yang hebat (>20%), kerusakan bursa, dan mampu

merusak ke dalam antibodi dengan level lebih tinggi dari strain klasik. Strain

varian IBD mampu menyebabkan infeksi IBD yang cepat dengan kerusakan bursa

yang parah (atrofi), menghasilkan imunosupresi dan mortalitas kurang dari 5%

(Bains 1979).

Setiyono (2000) mengklasifikasikan virus IBD menjadi dua tipe, terdiri

atas tipe ganas (virulent) yang dicirikan dengan virus mampu membunuh ternak ayam hingga 70%, dan tipe subklinis atau klasik (avirulent) yang ditandai dengan kegagalan pertumbuhan disertai peningkatan kepekaan ayam terhadap infeksi

agen penyakit lain. Berdasarkan hal tersebut, maka virus IBD patut digolongkan

sebagai salah satu penyebab penyakit unggas ganas di industri peternakan.

Tanda klinis yang timbul adalah pada otot paha dan otot dada terdapat

hemoragi pteki ataupun ekimotik, perdarahan pada mukosa proventrikulus, lesio pada ginjal dan peningkatan mukus pada usus halus. Pada hari ke-4 post infeksi,

(28)

kemerahan kemungkinan hemoragi. Hari ke-5 bursa Fabrisius kembali ke ukuran

normal dan mengalami pengecilan 1/3 dari ukuran normal pada hari ke-8 post

infeksi (Jordan 1990). Beberapa strain virus menyebabkan sedikit gejala klinis

dan perubahan akut yang jelas sangat minim pada bursa, namun strain lain sangat

mempengaruhi bursa atrofi dengan cepat dan imunosupresi yang hebat.

Onset infeksi dalam waktu yang cepat khususnya yang baru pertama

tereinfeksi (Jackwood 2000). Gejala klinis yang mengikuti virulensi IBD terjadi

pada 2 sampai 3 hari. Tanda klinis yang muncul adalah menghindari makan dan

minum dengan bulu yang rontok, badan bungkuk, tremor, tidak dapat berdiri,

depresi, anoreksia dan terlihat ada leleran. Diare yang sangat berair dan dehidrasi

selalu terjadi, kadang-kadang terjadi berak darah dan defekasi dipaksakan. Berat

badan yang menurun, ataksia, gemetaran, dan rebah sering terjadi sehingga

berakhir dengan kematian. Kesakitan (morbiditas) pada kelompok terjadi 100%

tetapi dengan kematian tidak melebihi 20-30% (Bains 1979). Kematian pada

kelompok selalu menjadi puncak dan terjadi setelah 1 minggu onset.

Rute yang paling sering terjadi adalah melalui oral dengan mengkonsumsi

feses terkontaminasi atau material organic (Jackwood 2000). Weiss et al. (1994) mendemonstrasikan jalannya virus dengan teknik imunofluoresen sebagai berikut,

dalam waktu 4-5 jam virus akan menginfeksi makrofag terkait usus dan sel-sel

limfatik yang terdapat duodenum, jejunum dan ileum sebagai tempat pertama

replikasi virus. Melalui jalan sistem vena porta virus mencapai hati dalam waktu 5

jam setelah infeksi. Sel Kupffer pada hati menangkap dan fagositosis sedapat

mungkin partikel virus. Virus IBD mencapai aliran darah utama dan bersirkualsi

ke organ lain termasuk bursa Fabrisius. Limfosit B yang belum matang pada

folikel bursa Fabrisius adalah sel target untuk replikasi virus. Beberapa folikel

pada bursa Fabrisius positif terkena virus, 13 jam post infeksi terjadi viremia

secara besar-besaran, kemudian virion yang dihasilkan akan dilepaskan ke

peredaran darah dan menyebabkan terjadinya viremia sekunder yang berakibat

terdisposisinya virus pada berbagai organ lain seperti timus, limpa dan paru-paru.

Penyakit klinis dan kematian terjadi pada 64-72 jam pos infeksi (Weiss et al

(29)

Terdisposisinya virus pada berbagai organ menyebabkan perubahan pada

organ tersebut dan perubahan biasanya mulai terlihat setelah virus melisis sel

sasarannya. Virus IBD bersifat sitolitik membuat perubahan yang teramati secara

makroskopik adalah mengecilnya organ sasaran akibat lisisnya sel parenkim

organ tersebut. Namun hal tersebut tidak bersifat permanen karena proses

persembuhan yang disertai dengan regenerasi organ segera terjadi (Mirah Adi &

Berata 1998).

Ayam yang berumur kurang dari 3 minggu terinfeksi oleh virus IBD tidak

akan menunjukkan gejala klinis, walaupun kerusakan bursa dapat ditemukan

dengan adanya imunosupresi. Menghasilkan kemungkinan yang tinggi terhadap

patogenitas berikutnya karena sekali lingkungan terkontaminasi dengan IBD maka

penyakit akan terjadi dengan infeksi subklinis. Bentuk akut ditandai dengan

kesakitan yang sangat tinggi depresi, diare, inkoordinasi dan mati. Lesio yang

signifikan adalah pada bursa Fabrisius. Menekan sistem imun terlihat dari

mengecilnya (atrofi) bursa Fabrisius. Kejadian klinis dan subklinis ditemukan

hampir diseluruh peternakan unggas yang produktif diseluruh dunia (de Wit &

Baxendale2000).

Imunitas pasif bersama dengan vaksinasi sangat penting bagi ayam (Bains

1954). Ternak harus menerima vaksin untuk menstimulasi antibodi maternal yang

tinggi. Anak ayam dengan imunisasi yang baik pada kelompok ayam bertahan

terhadap infeksi selama 2-4 minggu. Transfer pasif dari antibodi maternal ke anak

ayam sangat penting untuk pencegahan awal dari infeksi virus. Ayam yang tidak

memiliki imunitas akan teradministrasi penyakit pada saat menetas.

Memvaksinasi ayam sebaiknya setelah imunitas maternal menurun (Bains 1954).

Kegagalan program vaksinasi tidak jarang dijumpai di lapangan karena efek

penekanan kekebalan (immunosuppressive) dari virus IBD (Setiyono 2000). Penyebaran virus IBD sangat cepat, berasal dari ayam terinfeksi dan pakan

serta muntahan kepada ayam yang rentan. Transmisi virus tidak terlihat terjadi

pada telur dan tidak terjadi pada carrier. Menyebar pada kelompok dengan kontak atau aerosol, vertikal transmisi dari induk dan dari peralatan yang terkontaminasi

(30)

siklus berikutnya. Karena penyebaran dan sifat virus IBD tersebut pembersihan

kandang yang baik sangat diwajibkan jika terjaditantang IBD (de Wit & William

2000).

MINYAK IKAN

Minyak ikan adalah minyak dari ikan-ikan dengan kadar lemak yang

tinggi, seperti ikan lemuru (Permadi 2004). Sumber minyak ikan tersebut

diperoleh dari hasil ekstraksi yang khusus untuk diambil minyaknya, hasil

ekstraksi dari pengolahan tepung ikan dan hasil samping dari pengolahan ikan

kaleng.

Minyak ikan sangat berbeda dengan minyak lainnya, yang dicirikan

dengan variasi asam lemaknya lebih tinggi dibandingkan dengan minyak atau

lemak lainnya dan jumlah asam lemaknya lebih banyak. Panjang rantai karbon

mencapai 20 atau 22, lebih banyak mengandung jenis asam lemak tak jenuh

jamak (ikatan rangkap sampai dengan 5 dan 6) dan lebih banyak mengandung

jenis omega-3 dibandingkan dengan omega-6 (Stansby 1982). Asam lemak yang

berasal dari ikan pada prinsipnya ada 3 jenis yaitu jenuh, tidak jenuh tunggal dan

tidak jenuh jamak. Asam lemak tak jenuh tunggal mengandung satu ikatan

rangkap dan asam lemak tak jenuh jamak mengandung banyak ikatan rangkap per

molekul. Ikan dan mamalia laut mengandung jumlah substansi asam lemak rantai

panjang pada jenis Omega 3 (Ikrawan 2004).

Secara keseluruhan, komposisi utama minyak ikan adalah trigliserida,

sedangkan komposisi lainnya adalah fosfolipida, lemak dengan group eter dan

wax ester (Singh & Chandra 1988). Senyawa lain yang terdapat pada minyak ikan adalah sterol, vitamin dan pigmen (Stansby 1982).

Minyak atau lemak ikan merupakan sumber vitamin A dan vitamin D

dengan berat berturut-turut 10-55 IU per gram dan 20-100 IU per gram. Minyak

ikan juga merupakan sumber mineral seperti kalsium, fosfor, iodindan selenium..

Kadar Omega 3 minyak ikan khususnya minyak ikan sardin, dapat bervariasi

tetapi berkisar antara 4.48% sampai dengan 11.80% (Permadi 2004).

Berdasarkan kandungan minyak atau lemaknya, ikan dapat digolongkan

(31)

(kurang dari 2%), ikan dengan kandungan minyak/lemak medium (2%-5%) dan

ikan dengan kandungan minyak atau lemak tinggi (6%-20%) (Ikrawan 2004).

Kelompok ikan berlemak rendah misalnya kerang, lobster, bawal dan

gabus. Kelompok ikan berlemak medium contohnya rajungan, udang, ikan mas,

sardin dan salmon. Sedangkan kelompok ikan berlemak tinggi contohnya

mackerel, tuna, tawes, sepat dan belut. Walaupun lemak ikan dibagi tiga

kelompok, secara keseluruhan ikan tidak digolongkan ke dalam kelompok bahan

pangan yang tinggi lemaknya. Bagian tubuh ikan memiliki minyak dengan

komposisi Omega 3 yang berbeda-beda. Bagian kepala 12%, tubuh bagian dada

28%, daging permukaan 31,2% dan isi rongga perut 42,1% (Ikrawan 2004).

Lands (1986), melaporkan bahwa asam lemak EPA dan DHA yang ada

dalam beberapa jenis ikan dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Sumber asam lemak dari berbagai ikan (g/100g)

Ikan Lemak total C18:2 n-6 C20:4 n-6 C20:5 n-3 C22:6 n-3

Penelitian Dewi (1996) menunjukkan bahwa kandungan EPA dan DHA

pada minyak ikan lemuru masing-masing sebesar 15% dan 11%. Minyak ikan

lemuru ini dapat diperoleh dari hasil samping pengolahan pengalengan dan

penepungan ikan lemuru yang banyak terdapat di daerah Muncar, Jawa Timur.

Kelemahan minyak ikan adalah bersifat sangat sensitif terhadap oksigen

dan memiliki cita rasa yang tidak enak. Minyak ikan sangat mudah teroksidasi

oleh karena banyaknya ikatan rangkap pada gugus rantai asam lemaknya. Hal ini

berarti bahwa harus diberikan perhatian yang lebih apabila minyak ikan

(32)

atau rasa yang tidak enak dan senyawa-senyawa hasil oksidasi yang berpengaruh

buruk bagi kesehatan (Permadi 2003).

Omega 3 pada Ikan

Omega 3 pada dasarnya disintesis dari asam linoleat dan asam linolenat

(Ikrawan 2004). Linoleat dan linolenat berasal dari tanaman, sedangakan EPA dan

DHA dijumpai pada hewan laut terutama bangsa ikan yang mengkonsumsi

fitoplankton (Kreutler 1980).

Kandungan omega 3 dalam ikan tidak berasal dari proses sintesis tubuh

ikan, tapi berasal dari makanan ikan dalam bentuk jasad renik chlorella, diatomi

dan dinoflagellata (Sari 2004). Ketiga mikroba ganggang tersebut selain

mensintesis omega 3 juga mensintesis omega 6. Selain atas bantuan ganggang

omega 3 juga disintesis dari bakteri, kapang dan fitoplankton lain dengan tingkat

efisien yang berbeda-beda (Kreutler 1980).

Peranan Asam Lemak (Omega 3)

Kandungan asam lemak esensial minyak ikan tinggi, yang meliputi asam

linoleat, linolenat dan arakhidonat. Asam lemak esensial terdiri dari asam lemak

linoleat atau linoleat acid (LA) (18:2 n-6) dan linolenat atau linolenat acid (LNA) (18:3 n-3) yang juga termasuk omega-3.

Dua jenis asam lemak omega 3 yang dominan terdapat dalam minyak ikan

adalah EPA dan DHA (Stansby 1982). Kedua jenis asam lemak inilah yang

banyak peranannya dalam kesehatan. Asam lemak esensial LA dan LNA

berperanan sebagai bahan dasar untuk pembentukan zat yang menyerupai hormon

yang terdiri dari prostaglandin dan leukotrien. Zat-zat ini merupakan senyawa

yang terbentuk dari poly unsaturated fatty acids (PUFA) dengan 20 atom karbon dan mempunyai peran penting sebagai pengatur fungsi normal sel. EPA dan asam

amino di dalam tubuh akan diubah menjadi zat-zat yang dikenal sebagai

eikosanoid yaitu prostanoid (prostaglandin dan prostacylin) dan leukotrien

(Silalahi 2000).

Konsumsi EPA dan DHA dari ikan atau minyak ikan akan menggantikan

(33)

akan mengarah kepada kondisi fisiologis dimana akan diproduksi prostanoid dan

leukotrien yang bersifat sebagai antitrombotik, antikemotaktik, antivasokontriktif,

hipotensif, antiateromatous, dan anti-inflamatori. Sebaliknya, jika konsumsi LA

dan atau asam amino (omega-6) lebih banyak daripada LNA dan DHA (omega-3)

maka keadaan kurang menguntungkan, karena akan mengarah ke keadaan kondisi

fisiologis yang bersifat protrombik dan proagregatori dengan kenaikkan viskositas

darah, vasokonstriksi dan menurunkan waktu perdarahan (Silalahi & Hutagalung

2002).

Peranan PUFA Terhadap Respon Kekebalan

Sumber lemak dan komposisi asam lemak pada broiler, bisa

mempengaruhi komposisi jaringan limfoid dan fungsi sel imun (Fritsche et al.

1991a). Defisiensi PUFA mengurangi proliferasi lymfosit, produksi Interkulin-2

(IL-2), monosit dan polymorphonuclear (PMN) cell kemotaksis pada mamalia

(Kinsella et al. 1990). Rendah dan tingginya konsumsi PUFA berhubungan

dengan menurunnya produksi antibodi dan proliferasi limfosit, sedangkan optimal respon kekebalan terjadi pada konsumsi linoleat sebanyak 47% dari total asam

lemak (Friedman & Sklan 1995). Hasil penelitian Friedman & Sklan (1997),

menunjukkan bahwa produksi antibodi berhubungan secara kuadratik terhadap

konsentrasi linoleat dan total n-6 PUFA serum. Respon produksi antibodi yang

optimal terjadi pada konsentrasi linoleat plasma 40-50% dari total asam lemak.

Peningkatan penambahan minyak ikan (0.5, 1, dan 2%) dalam ransum

meningkatkan performa dan dapat menurunkan dampak peradangan tetapi tidak

mengubah respon imun pada ayam yang sedang tumbuh (Korver & Klasing

1997). Penggunaan omega 3 dihubungkan dengan kecenderungan penurunan

terhadap pembentukan penggumpalan darah, mengurangi tingkat trigliserida

darah, mengurangi pertumbuhan tumor, menurunkan tekanan darah, dan anti

radang (Larsson 2004).

Vitamin E

Vitamin E ditemukan oleh Evans dan Bishop dalam tahun 1922 sebagai

faktor yang larut dalam lemak dan disebut tokoferol (Anggorodi 1985). Vitamin E

(34)

Delapan isomer murni yang terdiri atas empat turunan tokoferol dan empat

turunan tokotrienol. Sebagai makanan tambahan tokoferol dikenal dengan label E

sebagai berikut: E307 (α-tokoferol), E308 (γ-tokoferol) dan E309 (δ-tokoferol).

Alfa-tokoferol memiliki kekuatan sebagai antioksidan biologi (Anonymous 2007) dan merupakan yang paling aktif (Anggorodi 1985).

Sumber vitamin E adalah minyak sayur seperti minyak kelapa, bunga

matahari, jagung, kedelai, dan minyak Zaitun. Sumber lain dari vitamin E adalah

ikan, gandum, sayur hijau dan hay pastura, kacang, biji bunga matahari, dan kiwi.

Sumber vitamin E sintesis adalah di-alpha tocopherol acetate (Anonymous 2007). Fungsi utama vitamin E adalah sebagai antioksidan yang bertindak untuk

melindungi sel tubuh dalam melawan efek radikal bebas. Vitamin E dalam bentuk

alkohol merupakan antioksidan yang paling berpengaruh (Anggorodi 1985).

Sebagai antioksidan vitamin E mencegah oksidasi dan peroksidasi unit asam

lemak tidak jenuh dan fosfolipid membran plasma sel. Vitamin E juga berperan

dalam fungsi kekebalan, memperbaiki DNA dan proses metabolisme serta

pembentukan sel darah merah dan sintesis ko-enzim A yang penting dalam proses

pernafasan (Anonymous 2007).

Vitamin E selain berfungsi sebagai antioksidan juga berperan di dalam

sintesis asam nukleat, pembentukan sel darah merah, dan sintesis koenzim A yang

penting dalam proses pernafasan. Sebagai antioksidan selain menekan terjadinya

oksidasi asam lemak tak jenuh, vitamin E juga mencegah terjadinya oksidasi

terhadap vitamin A, baik selama proses pencernaan, penyerapan, maupun setelah

sampai ke dalam jaringan.

Defisiensi vitamin E dapat menyebabkan meningkatnya proses oksidasi

sel, sehingga mengakibatkan kematian sel dan masalah neuron, yaitu konduksi

syaraf yang buruk. Gejala utamanya pada unggas adalah kelumpuhan.

Kekurangan vitamin E juga menyebabkan meningkatnya kecepatan pergantian

besi dalam plasma, menurunnya produksi hemoglobin serta pendeknya umur

sel-sel darah merah (Muchtadi et al. 1993).

Interaksi PUFA dengan vitamin E

Suplementasi minyak ikan, selain memberikan pengaruh positif juga

(35)

peningkatan peroksidasi lemak berdampak buruk terhadap fungsi kekebalan

tubuh. Lemak yang mengalami oksidasi dapat mengakibatkan kerusakan vitamin

A, D dan E (Anggorodi 1985).

Peningkatan metabolit peroksidasi lemak bisa disebabkan oleh

menurunnya status vitamin E dalam plasma yang mempunyai peran sebagai

antioksidan. Kelebihan asam lemak tak jenuh dalam ransum bisa merangsang

kekurangan Vitamin E dan akibatnya adalah kejadian defisiensi seperti distrofi

(36)

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kandang Percobaan Fakultas Peternakan dan di

Bagian Patologi, Departemen klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas

Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan mulai bulan

Desember 2006 sampai Agustus 2007.

Materi Hewan Coba

Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah day old chick

(DOC) Broiler starin CP 707 sebanyak 190 ekor yang terlebih dahulu diseleksi

untuk mendapatkan bobot badan yang seragam.

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan adalah alat bedah, kantong plastik transparan,

gelas objek, cover glass, kertas tissue, spidol tahan air, spuit, timbangan,

mikroskop dan alat bantu lainnya yang dipergunakan sesuai keperluan.

Bahan yang digunakan adalah pakan ayam, minyak ikan, vitamin E, air

bersih, alkohol 70%, 80%, 90%, dan 95%, xylol, Buffer netral formalin (BNF) 10%, pewarna HE, vaksin ND 107 EID50/ml, vaksin IBD 107 EID50/ml, Virus IBD

106 LD50/ml, vitamin anti stress, aquades dan desinfektan.

Ransum Penelitian

Ransum yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua jenis,

yaitu ransum terpilih (dengan penambahan minyak ikan dan Vitamin E) dan

ransum biasa (tanpa minyak ikan dan Vitamin E), dimana dalam ransum biasa

minyak ikan diganti dengan minyak kelapa. Komposisi kedua ransum tersebut

dapat terlihat pada Tabel 2.

Kandang Penelitian dan Perlengkapan

Kandang yang digunakan dalam penelitian ini berukuran 1 x 1 x 0.6 m3 sebanyak 19 buah yang terbuat dari bambu dan ram kawat. Alas kandang diberi

(37)

sebuah tempat pakan, tempat air minum dengan kapasitas 5 liter yang terbuat dari

plastik, dan lampu pijar 60 watt sebagai pemanas. Model kandang ayam penelitian

ditunjukkan pada Gambar 2.

Tabel 2 Komposisi ransum penelitiaan

Bahan Ransum Terpilih Ransum Biasa

Jagung (%) 50 50

B. kedelai (%) 39 39

M. kelapa (%) - 3

M. ikan (%) 3 -

CaCO3 (%) 1.155 1.155

Dicalsium Phospat (%) 2.145 2.145

Premix (%) Vitamin E (%)

1.68 1.70 0.02 -

Sumber : Rusmana 2000

Gambar 2 Model kandang ayam

Keterangan : A diberi minyak ikan dan vitamin E, dan divaksin B diberi minyak ikan dan vitamin E, dan tidak divaksin

C diberi minyak ikan dan vitamin E, tidak divaksin, dan infeksi IBD D diberi minyak ikan dan vitamin E, divaksin, dan infeksi IBD E adalah ransum biasa, divaksin, dan infeksi IBD

Metoda

Pemeliharaan dan Perlakuan Ayam

Hewan penelitian yang digunakan adalah DOC sebanyak 190 ekor yang

dipelihara selama 44 hari. Persiapan kandang dan ayam dilakukan 2 minggu

sebelum penelitian dilaksanakan. DOC dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok

(38)

1. Ransum terpilih dan divaksin (A)

2. Ransum terpilih dan tidak divaksin (B)

3. Ransum terpilih, tidak divaksin dan ditantang IBD (C)

4. Ransum terpilih, divaksin dan ditantang IBD (D)

5. Ransum biasa, divaksin dan ditantang IBD (E)

Pada setiap kelompok perlakuan, DOC dibagi lagi secara acak ke dalam 4

sub-kelompok. Sehingga setiap sub-kelompok terdapat 10 ekor ayam. Ransum

diberikan sesuai dengan kebutuhan ayam dan minum ad libitum. Pada kelompok ayam yang divaksin, vaksinasi yang diberi adalah vaksin ND pada umur 4 hari

(melalui tetes mata) dan pada umur 19 hari (melalui air minum) kemudian vaksin

IBD pada umur 11 hari (melalui air minum). Infeksi virus IBD (peroral) dilakukan

pada hari ke-26.

Tempat pakan dan tempat air minum diletakkan di atas sekam di dalam

kandang sekat. Tempat pakan dan air minum digantung sejajar dengan punggung

ayam agar pakan dan air minum tidak mudah kotor oleh ekskreta ataupun sekam.

Kontrol kebersihan kandang, tempat minum dan pakan dilakukan dua kali setiap

hari pagi dan sore.

Pengambilan Organ Usus

Ayam diambil tiga ekor secara acak dari setiap kelompok untuk dinekropsi

kemudian organ ususnya (bagian duodenum) dikoleksi dan difiksasi dengan

menggunakan larutan BNF 10%. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali,

yaitu pada hari ke-15, 30, 37 dan 44.

Pembuatan Preparat Histopatologi

Usus broiler ditrimming transversal dan dimasukkan kedalaam tissue cassete, untuk kemudian didehidrasi, diembedding, diblok, dipotong dan diwarnai menjadi sediaan. Cara pembuatan preparat terlampir.

Pemeriksaan Histopatologi

Pengamatan histopatologi untuk mengetahui perubahan pada usus

dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif 10x dan 40x sebanyak

(39)

Sistem yang digunakan dalam pengamatan histopatologi usus broiler

adalah sistem skoring. Parameter pengamatan adalah sebagai berikut :

1. Skor 0 : jika keadaan usus normal, vili teratur dan tersusun rapi

2. Skor 1 : jika kondisi usus memperlihatkan kongesti dan atau oedema

3. Skor 2 : jika kondisi usus memperlihatkan perdarahan dan atau sel radang

4. Skor 3 : jika kondisi usus memperlihatkan keadaan dekuamasi epitel vili usus,

penebalan vili, penyatuan vili, dan atau terdapat nekrosa dari epitel vili usus.

Analisis Data

Hasil pengamatan dianalisa secara deskriptif kualitatif. Dalam

menganalisa data akhir dari semua rataan skor yang diperoleh, maka dibuat

batasan rentang nilai untuk penentuan skor akhir. Rentang nilai tesebut adalah

sebagai berikut :

Skor 0 : 0 ≤ x ≥ 0,75

Skor 1 : 0,76 ≤ x ≥ 1,50

Skor 2 : 1,51 ≤ x ≥ 2,25

(40)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Histopatologi Usus Halus Broiler

Pengamatan histopatologi usus halus menunjukkan gambaran perubahan

yang terjadi pada semua kelompok perlakuan disetiap pemotongan. Data dari hasil

pengamatan histopatologi organ usus broiler pada setiap perlakuan disajikan pada

Tabel 3. Hasil penghitungan ditunjukkan dengan Gambar 3 untuk menunjukkan

keadaan histopatologi usus setelah pemberian minyak ikan dan vitamin E dan

paparan virus IBD.

Tabel 3 Hasil Rata-rata Skoring Pengamatan

Keterangan : A diberi minyak ikan dan vitamin E, dan divaksin B diberi minyak ikan dan vitamin E, dan tidak divaksin

C diberi minyak ikan dan vitamin E, tidak divaksin, dan ditantang IBD D diberi minyak ikan dan vitamin E, divaksin, dan ditantang IBD E diberi ransum biasa, divaksin, dan ditantang IBD

Gambar 3 Grafik Hasil Rata-rata Skoring Pengamatan

3.06

Hasil Rata-rata Skoring Pengamatan

(41)

Hasil pembacaan nilai akhir dari Tabel 3 di atas sebagai berikut :

Tabel 4 Hasil Skoring Akhir Pengamatan

Pemotongan

Keterangan : A diberi minyak ikan dan vitamin E, dan divaksin B diberi minyak ikan dan vitamin E, dan tidak divaksin

C diberi minyak ikan dan vitamin E, tidak divaksin, dan ditantang IBD D diberi minyak ikan dan vitamin E, divaksin, dan ditantang IBD E diberi ransum biasa, divaksin, dan ditantang IBD

Berdasarkan hasil skor akhir, secara histopatologi terlihat gambaran yang

menunjukkan perubahan pada usus halus antara perlakuan dan pada umur

pemotongan ayam.

Pemotongan Pertama

Pada pemotongan pertama perlakuan A (pakan terpilih dan divaksin) dan

B (pakan terpilih dan tidak divaksin), namun C (pakan terpilih dan tidak

divaksin), D (pakan terpilih dan divaksin) dan E (pakan biasa) mendapat skor nol

menunjukkan hasil yang berbeda yaitu skor 1. Skor nol menunjukkan bahwa

keadaan usus dalam kategori normal. Untuk skor 1 menunjukkan keadaan usus

yang kongesti dan atau oedema.

Pemotongan pertama dilakukan pada broiler yang berumur 15 hari. Selama

15 hari tersebut ayam belum mendapatkan perlakuan infeksi virus namun telah

dilakukan vaksin ND dan IBD. Gambaran yang didapatkan dari hasil skoring,

menunjukkan perubahan yang mendasar pada kelompok C, D dan E yaitu oedema

dan atau kongesti.

Kongesti merupakan indikasi dari proses inflamasi yang mungkin terjadi

pada mukosa usus halus yang diakibatkan oleh berbagai hal misalnya pemaparan

(42)

meningkatnya volume darah dalam pembuluh yang melebar pada suatu alat atau

bagian tubuh dimana darah terhambat dalam pembuluh darah vena atau pada

pembuluh darah arteri.

Oedema adalah suatu keadaan dimana terjadi pertumbuhan jumlah cairan

pada ruang interstisial akibat peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah.

Oedema bisa terjadi karena gangguan sirkulasi yang ditunjukkan dengan adanya

perubahan-perubahan pada rongga intestinal. Jaringan antar kripta usus terlihat

tidak rapat satu dengan yang lainnya memperlihatkan adanya oedema pada

kelompok. Tunika muskularis juga ada yang oedema sehingga cairan masuk

mengisi celah-celah yang kosong. Hal ini terjadi karena pengaruh vaksin yang

diberikan yaitu pada hari ke 11.

Bentuk oedema dapat dilihat pada Gambar 4 dibawah ini.

Gambar 4. Histopatologi usus halus potongan transversal, keadaan oedema pada kelompok C; Perbesaran objektif 10x pewarnaan HE.

Kelompok C (pakan terpilih) adalah kelompok yang tidak mendapatkan

vaksin, sedangkan D (pakan terpilih) mendapatkan vaksin IBD pada hari ke 11

melalui air minum. Dapat dikatakan bahwa pemberian minyak ikan dan vitamin

E mungkin mempegaruhi performa vili usus, namun belum bisa dinilai apakah

minyak ikan yang memberikan pengaruh tersebut atau faktor lain. Keadaan

kongesti ataupun oedema merupakan perubahan fisiologi awal yang terjadi pada

suatu organ apabila ada antigen yang datang (Sulistiyani 2003). Vaksinasi dengan

vaksin aktif ataupun vaksin mati akan menimbulkan rekasi postvaksin. Menurut

(43)

dapat terlihat pada hari kedua sampai enam hari setelah pemberian vaksin aktif

seperti ND, IB atau IBD. Sehingga pada kelompok D dan E terjadinya kongesti

dan atau oedema dapat dikatakan karena vaksin yang telah diberikan.

Pemotongan Kedua

Pemotongan kedua dilakukan pada broiler berumur 30 hari. Pada hari ke

30 ini semua perlakuan pada metode telah dilakukan dan ditantang virus IBD pada

hari ke-26 terhadap kelompok perlakuan.

Nilai yang diperoleh lebih beragam, untuk B mendapat skor 0, A skor 1, C

dan D dengan skor 2, serta E dengan skor 3. Pada kelompok A yang merupakan

kelompok kontrol terhadap perlakuan yang divaksin, menunjukkan perubahan

pada vili usus dengan nilai 1. Revaksinasi vaksin aktif ND pada hari ke-19

kemungkinan kembali mempengaruhi vili usus. Menurut Dhawale disadur dari

Buletin Charoen Pokhpand (2006) reaksi yang merugikan terkadang dijumpai

sebagai akibat dari pembentukan respon kekebalan pada tubuh ayam. Kelompok

B adalah kelompok kontrol yang tidak di vaksin, dari hasil skoring dapat

dikatakan bahwa pemberian pakan tidak mempengaruhi performa vili usus.

Kelompok C dan D yang memiliki skor 2 kerusakan vili semakin parah

dibandingkan dengan keadaan pemotongan minggu sebelumnya dengan skor 1.

Kelompok dengan skor 2 menunjukkan keadaan peradangan dan atau perdarahan.

Gambaran histopatologi usus halus perdarahan dan ataupun peradangan

ditunjukkan pada Gambar 5.

(44)

Perlakuan terhadap kelompok C dan D sama dalam hal pakan tetapi

kelompok C tidak divaksin sedangkan kelompok D divaksin, namun hasil

menunjukkan skor yang sama. Berdasarkan hasil yang diperoleh kerusakan terjadi

karena faktor virus yang masuk kedalam tubuh ayam. Keadaan kongesti pada

awal sebelum pemberian virus IBD membuat keadaan lebih parah setelah

ditantang. Menurut Silalahi (2000) EPA dan DHA yang terdapat dalam minyak

ikan berfungsi sebagai antitrombotik, dan anti-inflamatori. Keberadaan minyak

ikan dan vitamin E belum menunjukkan hasil yang berfungsi untuk mencegah

terjadinya peradangan dan perdarahan karena infeksi virus.

Kelompok E (ransum biasa), divaksin dan ditantang virus IBD mendapat

skor 3 yang berarti tingkat kerusakan paling parah. Pada gambaran vili usus

terdapat penebalan dan penyatuan vili bahkan ditemukan adanya deskuamasi

epitel vili usus. Terjadinya deskuamasi pada permukaan usus juga merupakan

suatu indikasi adanya respon pertahanan usus terhadap adanya infeksi antigen.

Gambaran vili usus yangmengalami deskuamasi dapat dilihat pada Gambar 6.

a b

Gambar 6 Histopatologi usus halus keadaan deskuamasi epitel pada kelompok E; (a) perbesaran objektif 10x dan (b) perbesaran objektif 20x, pewarnaan HE.

Keadaan vili yang hancur menunjukkan adanya antigen menginfeksi

makrofag terkait usus dan sel-sel limfatik yang terdapat pada usus halus sebagai

tempat pertama replikasi virus Terdisposisinya virus pada organ menyebabkan

perubahan pada organ tersebut dan perubahan biasanya mulai terlihat setelah virus

melisis sel sasarannya. Kelompok E tidak mendapatkan asupan minyak ikan dan

Deskuamasi

(45)

vitamin E namun disubstitusi dengan minyak kelapa. Minyak kelapa sebagai

sumber 6 sehingga 6 lebih banyak daripada 3. Sifat

omega-6 berkaitan dengan pelepasan dan fungsi sitokin yang menyebabkan peradangan

seperti Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α). Omega-6 yang merespon peradangan ditambah dengan infeksi virus IBD sehingga menyebabkan kerusakan usus yang

lebih parah.

Pemotongan ketiga

Pemotongan ketiga dilakukan pada ayam berumur 37 hari, dengan

perlakuan yang masih sama dengan pemotongan pertama dan kedua. Kelompok

A, B, C, D dan E tidak menunjukkan perubahan patologi vili usus. Tidak

terjadinya perubahan ke arah lebih baik atau lebih buruk. Kelompok A, C, D dan

E menunjukkan kepekaan yang lebih daripada kelompok perlakuan B.

Keadaan ini menunjukkan efek dari infeksi virus IBD dan pemberian

minyak ikan tidak begitu spesifik efeknya. Perubahan yang terjadi lebih

cenderung akibat virulensi virus IBD yang telah berada dalam tubuh ayam

tersebut. Dalam hal ini juga fungsi EPA dan DHA belum terlihat.

Keadaan histopatologi usus halus pada kelompok E tidak hanya terjadi

deskuamasi epitel, namun terjadi penebalan vili usus. Penebalan vili usus terjadi

ketika keadaan usus tidak mampu menyerap dengan baik.

Gambar 7 Histopatologi usus halus dalam keadaan penebalan vili usus pada kelompok A, perbesaran objektif 10x, pewarnaan HE.

Usus yang biasanya terjulur langsing, terlihat tebal dan lebih lebar dari biasanya.

(46)

Kemungkinan reaksi vaksin yang terlalu kuat dan infeksi virus IBD

dengan strain yang kuat juga sehingga hal ini bisa terjadi pada kondisi ayam yang

tidak baik atau stress, dan keadaan populasi kandang terlalu padat serta kualitas

litter yang jelek.

Pemotongan keempat

Pemotongan keempat dilakukan pada saat ayam berumur 45 hari.

Pemotongan ini merupakan pemotongan terakhir.

Hasil yang diperoleh adalah kelompok perlakuan A (pakan terpilih dan

divaksin), B (pakan terpilih dan tidak divaksin) dan C (pakan terpilih, tidak

divaksin, dan ditantang IBD) dengan skor 1, dan D (pakan terpilih, divaksin, dan

ditantang IBD) mendapat skor 2, sedangkan E (ransum biasa) tetap mendapat skor

3. Kelompok perlakuan B mendapat skor 1, berarti performa vili berubah. Hal ini

belum dapat dikatakan karena pengaruh pakan, walaupun kelompok ini hanya

mendapat perlakuan pemberian pakan. Keadaan ini terjadi bisa karena pengaruh

lingkungan sekitar atau tertular virus. Pada pengamatan patologi anatomi terdapat

kelainan berupa hemoragi pteki pada otot paha dan dada, ini merupakan tanda

klinis ayam terpapar virus IBD. Akibat dari tidak kelalaian dalam manajemen

kandang atau kemungkinan ayam tertular dari kelompok ayam yang lain.

Pada kelompok C mengalami perbaikan nilai performa vili, dari nilai 2

menjadi 1. Hal ini menunjukkan keadaan yang semula mengalami kerusakan

sedang menjadi lebih baik. Minyak ikan dengan kandungan asam linolenat

berperanan dalam penurunan terhadap pembentukan gumpalan darah,

menurunkan tekanan darah, dan anti radang (Larsson 2004), sehingga dapat

mempengaruhi performa vili.

Kelompok perlakuan D (pakan terpilih, divaksin, dan ditantang IBD)

mendapat skor yang tetap dari skor pemotongan ketiga, tidak menunjukkan

perubahan. Pemakaian minyak ikan dan Vitamin E tidak mempengaruhi perbaikan

vili, dan vaksinasi juga tidak membantu dalam peningkatan antibodi.

Berdasarkan keadaan kelompok E dapat dilihat vaksinasi tidak

menunjukkan perubahan histopatologi usus ke arah yang lebih baik. Seharusnya

(47)

sebagai sistem kekebalan humoral, dengan cara melakukan ikatan komplemen

dengan antigen. Kemudian bursa Fabrisius akan membentuk antibodi sebagai

sistem kekebalan humoral terhadap infeksi virus IBD, sehingga terjadi mobilisasi

sel limfosit B ke seluruh tubuh. Antibodi yang dihasilkan secara spesifik dapat

memberikan kontribusi untuk mengendalikan infeksi dan memiliki kemampuan

netralisasi infektivitas agen infeksi secara spesifik. Namun keadaan kelompok E

tidak menunjukkan adanya pengaruh vaksin terhadap pembentukan antibodi. Hal

ini bisa saja terjadi karena infeksi dari strain virus yang kuat.

Peranan Minyak Ikan dan Vitamin E sebagai Imunomodulator

Hasil pemotongan pertama, kedua, ketiga dan keempat menunjukkan nilai

yang sangat beragam. Kelompok C menunjukkan hasil yang signifikan dari

pemakaian minyak ikan tersebut. Pemberian minyak ikan dan vitamin E dapat

menjaga performa vili. Kelompok E mengalami kerusakan paling parah dengan

tidak mendapat asupan pakan terpilih dibandingkan dengan kelompok D dengan

perlakuan sama (tidak divaksin tapi ditantang virus IBD) namun diberi pakan

perlakuan. Disini terlihat kerja minyak ikan dan vitamin E dalam mencegah

kerusakan vili. Menurut Fritsche et al. yang disadur dari Rusmana (2000) penambahan minyak ikan dalam makanan pada hewan akan meningkatkan

humoral immunity dan memperbaiki penekanan cellular immune respon yang di sebabkan oleh PGE2.

Broiler sangat peka terhadap keadaan asupan nutrisi, dengan keadaan usus

yang rusak maka penyerapan akan nutrisi akan rendah. Epitel vili yang terinfeksi

virus akan mengalami pengurangan kemampuan penyerapan dan epitel akan

bertahan dengan mengeluarkan sekretori (Hoerr 2001). Menurut Butcher (1995)

ayam dalam keadaan imunosupresi akibat virus IBD akan rentan terhadap

penyakit lain, demikian juga halnya dengan keadaan nutrisi yang rendah.

Berdasarkan keadaan kelompok E dapat dikatakan performa vili rusak oleh karena

virulensi virus dan tidak mendapatkan asupan pakan minyak ikan dan vitamin E.

Kelompok A, B, dan D kelompok yang diberi pakan perlakuan

menunjukkan nilai yang baik walaupun belum seperti yang diharapkan. Nilai

(48)

perbaikan vili usus seperti pada kelompok C. Keadaan vili tetap pada nilai semula,

ada yang semakin baik, dan tidak menunjukkan keadaan semakin parah.

Pemberian minyak ikan secara murni memberikan hasil yang lebih baik

daripada penggunaan minyak ikan dengan kombinasi vaksin. Hal ini dinilai dari

keadaan kelompok B dan C yang menunjukkan keadaan vili yang lebih baik,

kerusakan cenderung sedikit bila dibandingkan dengan kelompok lain yang

divaksin seperti A dan D padahal perlakuan pakan sama yaitu pakan terpilih.

Pemulihan keadaan usus terjadi beberapa waktu setelah ditantang virus

IBD atau terinfeksi virus IBD, dalam penelitian ini dalam waktu dua minggu.

Aspek imunomodulator dapat dilihat dengan performa vili usus dapat

dipertahankan keadaannya. Menurut Calder dan Field (2002) konsumsi asam

lemak ω-3 menunjukkan penurunan produksi Interleukin-1 dan TNF-α pada kultur

sel mononuklear manusia. Minyak ikan cenderung bekerja dengan adanya infeksi

virus dan berperanan sebagai recovery.

Bila dibandingkan dengan keadaan patologi anatomi dan fisiologis ayam,

penambahan minyak ikan dan vitamin E dalam ransum cukup baik. Karena gejala

klinis terpapar oleh virus IBD tidak diperlihatkan oleh ayam setelah ditantang

virus IBD. Broiler tergolong sensitif sehingga hewan ini perlu lingkungan yang

bersih, air minum yang berkualitas, tidak tercemar dan jumlahnya yang cukup

(49)

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

1. Minyak ikan dan vitamin E yang digunakan dalam ransum broiler dapat menekan kerusakan dalam vili usus akibat keterpaparan virus IBD.

2. Nilai performa vili dapat dipertahankan oleh minyak ikan sebagai anti inflamatori dan anti perdarahan.

3. Pada perlakuan ransum biasa (tidak ditambah minyak ikan dan vitamin E) keadaan histopatologi usus ditemukan adanya penebalan, penyatuan vili

dan hancurnya vili usus.

SARAN

Penelitian lebih lanjut terhadap pemakaian minyak ikan dan vitamin E

dalam ransum ayam terhadap organ limfoid primer untuk menghitung titer

antibodi agar lebih jelas melihat kemampuannya sebagai imunomodulator.

Vaksinasi dilakukan dengan menggunakan strain yang aman bagi ayam.

(50)

DAFTAR PUSTAKA

(BNF) British Nutrition Fondation’s. 1994. Unsaturated Fatty Acid, Nutritional and Physiological Significance. The Report of The British Nutrition Foundation’s, Task Force. Chapman & Hall. London.

Adi AAAM. 2001. Melacak Antigen Virus Gumboro pada Bursa Fabrisius dan Limpa Menggunakan Metode Elisa.

http://www.jvetunud.com/archives/23/. Jvet Vol 2(4). [22 Juni 2007]

Anggorodi R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Unggas; Kemajuan Mutakhir.

UI-Press. Jakarta.

Anonymous. 2000. http://www.cvm.okstate.edu/instruction/mm_curr/histology/ /hrd1.htm#Small%20Intestine. [8 Juli 2007]

__________. 2005. Infectious Bursal Disease

www.nature.com/.../v25/n13/full/1209226a.html. [ 22 Juli 2007]

__________. 2007.Food Antioxidants. http://en.wikipedia.org/wiki/Tocopherol. [ February 2007]

Bains, BS. 1979. A Manual of Poultry Diseases. Hoffman-La Roche &

Co.Limited Company. Basle, Switzerland.

Bevelander, Gerrit dan Judith A Remeley. 1988. Dasar-dasar Histologi. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Billliar TR, Bankey PE, Svigen BA, Curran RD, West MA, Holman RT, Simmons RL, Cerra, F.B. 1988. Fatty Acid Intake and Kuffer Cell Fungtion: fish oil alters eicosanoid and monokine production to endotoxin stimulation. Surgery 104: 343-349.

Burkitt Hg, Osweiler Gd. 1995. Clinical and Diagnostic Veterinary Toxicology. Edisi ke-2. Kendal/Hunt Publishing Company. Pp. 333-334.

Butcher GD dan Milles RD. 1995. Infectious Bursal Disease (Gumboro)in Commercial Broilers. http://edis.ifas.ufl.edu. [8 Juli 2007]

Calder PC dan Field CJ. 2002. Nutrition and Immune Function. CABI Publishing. London.

Calhoun, M Louis. 1954. Microscopic Anatomy of the Digestive System of the Chicken. The lowa state university Press. Ames, Lowa.

Carlton WW, McGavin MD. 1995. Thomson’s Special Veterinary Pathology.

Edisi ke-2. Mosby: St. louis. Pp. 209-245.

Dhawale, Avins. 2006. Reaksi Post-vaksinasi Bagaimana cara Mengatasinya?.

Buletin Charoen Pokphand:ed Februari no 74/tahun VII.

De Wit dan William Baxendale. 2000. Infectious Bursal Disease: Introduction.

Gambar

Gambar 1  Histologi usus halus normal.
Tabel 1  Sumber asam lemak dari berbagai ikan (g/100g)
Gambar 2  Model kandang ayam
Tabel 3  Hasil Rata-rata Skoring Pengamatan
+6

Referensi

Dokumen terkait