Etika Dan Tanggung Jawab Sosial Dalam Bisnis Internasional

18  965  Download (63)

Teks penuh

(1)

Etika

 

dan

 

Tanggung

 

Jawab

 

Sosial

  

dalam

 

Bisnis

 

Internasional

 

 

 

Oleh:

 

Dra.

 

MARHAYANIE,

 

MSi

 

NIP:

 

19580427

 

198503

 

2

 

002

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN

 

MANAJEMEN

  ‐  

FAKULTAS

 

EKONOMI

 

UNIVERSITAS

 

SUMATERA

 

UTARA

 

(2)

KATA PENGANTAR 

 

  Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmad dan hidayah Nya penulis 

telah dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun judul dari makalah ini adalah ‘Etika dan 

Tanggung Jawab Sosial dalam Bisnis Internasioanal’    yang  membahas unsur  kunci dalam 

mengelola  perilaku  etis  dari  manager  dan  tanggung  jawab  sosial  yang  harus  dijalankan 

perusahaan dalam konteks lintas budaya dan bisnis internasional.  

  Penulisan makalah ini dilakukan adalah sebagai reaksi dari penulis karena semakin 

beratnya tantangan yang dihadapi oleh perusahaan yang memasuki bisnis internasional dan 

bersaing di pasar global pada masa ini.  Mengetahui bagaimana organisasi mengelola tanggung 

jawab social lintas batas dan mengetahui peraturan peraturan yang mengatur perilaku etis 

merupakan kunci keberhasilan suatu organisasi dalam menjalankan bisnis internasional. 

  Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena itu penulis 

menerima saran dan kritik yang dapat menjadikan makalah ini menjadi lebih baik.. Akhir kata 

penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian 

makalah ini, dan penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak 

 

      Medan,  Februari  2011 

      Penulis 

 

      Dra.  Marhayanie , MSi 

 

 

 

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI ………

I. PENDAHULUAN ………. 1

II. PEMBAHASAN ………. 4

III. KESIMPULAN ………. 13

(4)

I. PENDAHULUAN

Sudah umum bagi perusahaan-perusahaan untuk memindahkan produksi dan pekerjaan tingkat

bawah dari negara asalnya ke negara lain, terutama untuk mendapatkan biaya tenaga kerja yang

lebih murah. Tetapi tindakan ini kadang-kadang menimbulkan publikasi yang tidak

menguntungkan dan bahkan membeberkan isu-isu dasar yang berkaitan dengan pelanggaran hak

asasi. Contohnya seperti distributor jus buah Minute Maid, Tropicana dan Nestle yang selama ini

membeli jus buah dari pemasok di Amerika Selatan. Tetapi beberapa tahun lalu telah diketahui

bahwa banyak pemasok ini mengandalkan tenaga anak-anak untuk memanen jeruk orange, jeruk

lemon dan buah-buahan lainnya. Anak-anak usia sembilan tahun diambil dari sekolah oleh

orang tua mereka yang miskin dan diperkerjakan di kebun buah. Orang tua ini tidak melihat

sesuatu yang salah dalam praktek ini karena mereka sendiri juga memetik buah waktu kecil.

Meskipun beberapa langkah diambil untuk mengatasi masalah ini, praktek ini tetap berlangsung.

Ini dan banyak contoh lain telah menjadi perdebatan dan diskusi dalam waktu lama, terdapat isu

mendasar yang nyata. Perusahaan menurunkan biaya produksi dengan sourcing ke luar negeri.

Pertentangan berpusat pada bagaimana menyeimbangkan pencarian laba melalui biaya tenaga

kerja yang murah terhadap potensi eksploitasi anak-anak dan penerima upah rendah lain dan

pelanggaran hak asasi.

Kasus produksi di luar negeri itu menggambarkan satu dari tantangan terbesar yang dihadapi

bisnis internasional sekarang, menentukan standar etika yang tepat dan beroperasi dengan

tanggung jawab sosial. Meskipun secara ekstrim, isu itu tidak jelas saat mereka lihat pertama

kali. Contohnya, banyak orang dari negara maju akan setuju bahwa tidak etis bagi sebuah bisnis

untuk meng-outsource produksi ke pabrik di luar negeri yang mengandalkan tenaga anak-anak

atau yang menyelenggarakan kondisi kerja yang tidak aman. Tetapi masyarakat di negara itu

mungkin berargumen bahwa meskipun tidak menarik bagi orang luar, pekerjaan ini lebih baik

daripada tidak bekerja.

Jika tenaga anak-anak dan kondisi kerja tidak problematis, perhatian tidak begitu ekstrim, tetapi

(5)

Sebagai seorang investor, seseorang mungkin bangga dengan perusahaan yang menghapuskan

500 tenaga kerja mahal di negaranya dan menggantikan mereka dengan upah yang lebih murah

di luar negeri. Tetapi orang-orang yang digantikan itu mungkin dengan suara keras berargumen

bahwa tidak etis bagi mereka kehilangan pekerjaan hanya karena digantikan oleh orang lain dari

negara lain yang mau bekerja untuk uang yang lebih sedikit.

Kita juga melihat bagaimana perusahaan internasional harus bekerja untuk mengatasi berbagai

macam rintangan dan hambatan dalam menghadapi system politik yang tidak lazim dan tidak

dikenal dengan baik oleh mereka bila berada di Negara lain. Begitu juga, perusahaan harus

beradaptasi dengan ketidaksamaan system hukum yang berlaku dalam pasar global. Amerika dan

Negara Eropa cenderung memiliki peraturan dan hukum yang relative keras sehubungan dengan

kualitas produk, polusi lingkungan dan perlakuan terhadap karyawan. Tetapi beberapa hukum

secara khas sangat lemah di banyak Negara seberang Afrika, Asia dan Amerika Latin. Oleh

karena itu perbedaaan undang undang dan hukum ysng terdapat dalam lingkungan bisnis

internasional dapat menjadi ethical issues bagi manager.

Meskipun semua Negara memiliki system hukum yang menetapkan batasan batasan terhadap

perilaku yang mematuhi hukum untuk individu dan aktivitas perusahaan, tetapi tidak ada system

hukum yang dapat mengantisipasi situasi dimana seorang individu atau perusahaan melakukan

perilaku yang menyimpang. Sangat menyedihkan, bahkan beberapa perusahaan internasional dan

managernya memanfaatkan dan mengeksploitasi adanya perbedaan standard hukum nasional

sebuah Negara. Sebagai contoh, sebuah perusahaan bisa menjual produk ke luar negri karena

produk tersebut di larang di negaranya sendiri, ataupun menjalankan aktivitas bisnis

internasioanal untuk mengambil keuntungan karena adanya kelemahan dalam peraturan Negara

tersebut. Sehingga perbedaaan hukum dapat mengembangkan ethical issues bagi para pelaku

bisnis internasional.

Ketika perusahaan bergabung kedalam lingkungan bisnis global, maka manager akan membuka

dirinya untuk perbedaan budaya. Ini berarti bahwa manager harus bisa menyikapi konsep yang

berbeda dari perilaku etis dan pedoman yang berbeda dalam perilaku tanggung jawab social.

Konfrontasi praktek bisnis yang tidak begitu familiar menghadapkan perusahaan pada

kesempatan luar biasa dan peluang yang sangat menakjubkan dan kemungkinan potensial jatuh

(6)

pabrik2 menjadi topic debat utama dalam kegiatan bisnis internasional. Saat ini, manager harus

benar benar mengawasi perilaku mereka sendiri, perilaku semua karyawan perusahaannya, dan

bahkan perilaku dari seluruh pelaku bisnis yang terlibat dalam bisnis perusahaannya di luar

(7)

II. PEMBAHASAN

Macam Etika dan Tanggung Jawab Sosial dalam Bisnis Internasional

Alasan dasar keberadaan suatu bisnis adalah untuk menciptakan nilai (dalam bentuk keuntungan)

bagi pemiliknya. Selain itu, sebagian besar orang bekerja untuk memperoleh penghasilan untuk

kehidupan mereka atau keluarga mereka. Sebagai akibatnya, tujuan dari setiap keputusan yang

dibuat untuk kepentingan bisnis atau individu dalam sebuah bisnis adalah untuk meningkatkan

penghasilan (bagi bisnis dan individu) dan mengurangi biaya. Dalam banyak kasus, manager

membuat keputusan dan bertingkah laku untuk pribadi dan untuk perusahaan mereka dengan

perilaku yang diterima masyarakat. Tetapi dalam pelaksanaannya kadang mereka menyimpang

terlalu banyak. Kejadian perilaku yang tidak diterima yang dilakukan oleh bisnis atau

orang-orang dalam bisnis telah meningkat. Karena itu, seperti halnya dunia bisnis yang semakin

internasional semakin meningkat pula perhatian terhadap etika dan tanggung jawab sosial yang

dijalankan oleh manager dan bisnisnya.

Etika didefenisikan sebagai kepercayaan individu tentang apakah keputusan, perilaku, atau

tindakan tertentu benar atau salah. Karena itu apa yang menentukan perilaku etis berbeda bagi

satu orang dengan yang lainnya. Contohnya seseorang yang menemukan uang di lantai ruang

kosong mungkin percaya bahwa sah-sah saja untuk mengambilnya, sedangkan yang lain

mungkin merasa wajib mengembalikan ke bagian barang hilang. Konsep perilaku etis biasanya

merujuk ke perilaku yang diterima oleh norma sosial umum. Perilaku tidak etis, adalah perilaku

yang tidak sesuai dengan norma sosial umum.

Etika seorang individu ditentukan oleh kombinasi berbagai faktor. Orang mulai membentuk

kerangka etis sejak anak-anak untuk merespon persepsi mereka terhadap perilaku orang tua

mereka dan orang dewasa lain yang berhubungan dengan mereka. Saat anak-anak tumbuh dan

masuk sekolah, mereka dipengaruhi teman-teman yang berinteraksi dengan mereka di kelas dan

(8)

melihat perilaku dan sikap masyarakat lingkungannya, dan hal ini akan membentuk kepercayaan

dan perilaku etis saat mereka beranjak dewasa. Demikian juga dengan pengajaran agama,

memberi kontribusi pada etikanya. Beberapa keyakinan agama, contohnya, mendorong aturan

perilaku dan standar bertindak yang keras, sedangkan yang lain lebih fleksibel.

Nilai-nilai seseorang juga mempengaruhi standar etika. Orang yang menempatkan perolehan

keuangan dan kemajuan pribadi di atas semua prioritasnya, sebagai contoh, akan menyerap nilai

etika yang mendorong percepatan kesejahteraan. Jadi mereka mungkin kejam dalam usaha

mendapatkan hasil ini, tanpa melihat kerugian pada orang lain. Sebaliknya, orang yang

membangun keluarga dan teman-teman sebagai prioritas utama akan mengadopsi standar etika

yang berbeda.

Masyarakat umumnya mengadopsi hukum formal yang menunjukkan standar etika yang ada,

contohnya tindakan mencuri, hukum telah memberikan hampir di semua negara bahwa tindakan

mencuri itu illegal dan memberikan cara untuk menghukum mereka yang mencuri. Tetapi

meskipun hukum berusaha untuk jelas dan tidak membingungkan, penerapan dan interpretasinya

dapat jadi membingungkan secara etika. Contohnya kebanyakan orang akan setuju bahwa

memaksakan karyawan bekerja melebihi jam tanpa kompensasi adalah tidak etis, maka dibuatlah

hukum untuk mengatur standar kerja dan upah. Akan tetapi pada pelaksanaannya akan berbeda.

Contohnya di Jepang, kebiasaan sering menganjurkan para pekerja junior untuk tidak

meninggalkan kantor sampai mereka yang lebih senior pergi, sedangkan di Amerika Serikat bos

biasanya pulang terakhir.

Hal tersebut diatas memberikan generalisasi sebagai berikut:

a. Setiap individu mempunyai system kepercayaan mereka sendiri tentang apa yang

membentuk perilaku etis dan tidak etis

b. Masyarakat dari konteks budaya yang sama cenderung mempunyai kesamaan dan

kepercayaan tetapi tidak harus identik dalam hal pembentukan perilaku etis dan tidak etis

c. Setiap individu dapat merasionalisasi perilaku berdasarkan keadaan

d. Setiap individu dapat menyimpang dari system kepercayaan mereka berdasarkan kondisi

(9)

e. Nilai etika sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat nasional.

f. Anggota dari suatu budaya dapat melihat perilaku tertentu adalah tidak etis, sedangkan

anggota yang lain dapat melihatnya sebagai hal yang masuk akal.

Etika Dalam Konteks Lintas Budaya dan Internasional

Untuk menggambarkan perilaku etika dalam konteks lintas budaya dan internasional adalah

berdasarkan:

1. Bagaimana organisasi memperlakukan karyawan,

Satu hal yang penting dalam etika lintas budaya dan internasional adalah perlakuan

terhadap karyawan oleh organisasinya. Pada sisi yang ekstrim, organisasi dapat berusaha

memperkerjakan orang-orang yang terbaik, memperluas kesempatan dan pengembangan

karir, memberikan kompensasi dan lain sebagainya. Pada sisi ektrim lainnya, perusahaan

dapat memperkerjakan berdasarkan criteria yang merugikan dan dengan sengaja

membatasi kesempatan berkembang, kompensasi minim dan lain sebagainya.

Manajer yang membayar karyawan lebih kecil dari yang sewajarnya, karena manajer itu

tahu bahwa karyawan tersebut tidak akan mengeluh karena takut keluar atau kehilangan

pekerjaan, dapat digolongkan berperilaku tidak etis. Begitu juga sama halnya, di beberapa

Negara masyarakatnya menyetujui bahwa oganisasi wajib memproteksi privasi

karyawannya. Manajer yang menyebarkan kabar bahwa karyawan tertentu terkena AIDS

atau mempunyai hubungan antara dengan rekan kerjanya dapat dipandang melanggar

etika privasi.

Para manajer di organisasi internasional menghadapi sejumlah tantangan mengenai

(10)

dalam hal perlakuan perusahaan terhadap karyawan, tetapi juga harus siap memberikan

penjelasan jika dihadapkan dengan perbandingan internasional.

2. Bagaimana karyawan memperlakukan organisasi

Isu penting yang terkait masalah ini meliputi konflik kepentingan, kerahasiaan dan

kejujuran. Konflik kepentingan terjadi jika sebuah keputusan mempunyai potensi

menguntungkan dan mungkin merugikan organisasi. Persepsi etis mengenai pentingnya

konflik kepentingan berbeda bagi masing-masing budaya. Contoh sederhana pemasok

yang menawarkan hadiah untuk karyawan perusahaan tertentu. Beberapa perusahaan

percaya bahwa hadiah macam ini dapat menimbulkan konflik kepentingan, mereka takut

bahwa karyawan akan mulai mengutamakan pemasok yang memberi bingkisan terbaik,

bukannya pemasok yang menawarkan produk terbaik untuk perusahaan.

Untuk isu pentingnya kerahasiaan, membuka rahasia perusahaan dipandang tidak etis di

beberapa negara, tetapi tidak di lainnya. Karyawan yang bekerja untuk bisnis dalam

industri yang ketat bersaing seperti elektronik, software dan baju contohnya, dapat

tergoda menjual informasi tentang rencana penjualan ke competitor.

Sedangkan isu kejujuran, problem yang umumnya terjadi dibidang ini meliputi hal – hal

seperti penggunaan telepon kantor untuk telepon jarak jauh dalam kepentingan pribadi,

mengambil barang-barang kantor dan menggelembungkan biaya-biaya. Dalam beberapa

budaya bisnis, tindakan – tindakan seperti ini dipandang tidak etis.

3. Bagaimana organisasi dan karyawan memperlakukan agen ekonomi lainnya

Etika yang terlibat dalam hubungan antara perusahan dan karyawannya dengan agen

ekonomi yang lain meliputi konsumen, competitor, pemegang saham, pemasok, dealer

dan serikat pekerja. Jenis interaksi antara organisasi dengan agen-agen ini rentan terhadap

(11)

dan pembelian, dan lain sebagainya. Perbedaan praktek bisnis antar negara menimbulkan

kerumitan secara etis bagi perusahaan dan karyawan mereka.

Mengelola Perilaku Etis Lintas Batas

Meskipun tiap individu mempunyai etika, banyak bisnis berusaha untu mengatur perilaku

manajer dan karyawan dengan secara jelas menegakkan fakta bahwa mereka berharap para

manajer dan karyawan melaksanakan perilaku yang etis. Cara-cara yang paling umum dilakukan

adalah dengan menggunakan penuntun atau standar etika, pelatihan etika, dan melalui praktek

organisasi dan budaya perusahaan.

Banyak perusahaan multinasional besar termasuk Toyota, Siemens, General Mills dan Johnson

& Johnson telah menulis penuntun yang terperinci bagaimana karyawan memperlakukan

pemasok, konsumen, competitor dan pihak lain. Adakalanya perusahaan memiliki standar global

yang menyeluruh dan kemudian menyesuaikan masing-masing dengan konteks local. Ada juga

perusahaan multinasional yang memberikan pelatihan untuk mengatasi dilemma etika yang

konsisten secara global dan apakah harus disesuaikan dengan konteks local. Selain itu praktek

organisasi dan budaya perusahaan juga menyumbang ke pengelolaan perilaku etika. Jika

pimpinan suatu perusahaan bersikap etis dan pelanggaran etika diatasi secara langsung dengan

benar, maka setiap orang di organisasi akan memahami bahwa perusahaan mengharapkan

mereka untuk bersikap etis, membuat keputusan etis dan melakukan hal yang benar.

Tanggung Jawab Sosial dalam Konteks Lintas Budaya dan Internasional

Tanggung jawab social adalah kumpulan kewajiban organisasi untuk melindungi dan memajukan

masyarakat dimana organisasi bekerja. Kompleksitas bagi manajer bisnis internasional adalah

jelas yaitu kesinambungan yang ideal anara tanggung jawab social secara global terhadap kondisi

lokal yang mungkin memaksa perbedaan pendekatan dengan di neagra- negara yang berbeda –

(12)

Contoh klasik keseimbangan tersebut berkaitan dengan industry tembakau. Di beberapa negara

seperti Amerika Serikat, Afrika Selatan dan Inggris, perusahaan tembakau dibatasi dalam

mengiklankan rokok. Tetapi di banyak negara lain lebih longgar pembatasannya atau bahkan

tidak ada pembatasan apa pun. Isunya kemudian adalah, sampai sejauh mana perusahaan

temabakau harus menerapkan pendekatan paling ketat ke semua pasar atau mengambil

keuntungan dari fleksibilitas yang ditawarkan di beberapa pasar untuk secara aktif

mempromosikan penjualan dan penggunaan produk tembakau.

Bidang – Bidang Tanggung Jawab Sosial

Organisasi dapat menerapkan tanggung jawab social terhadap pihak-pihak yang berkepentingan,

terhadap lingkungan alam dan kesejahteraan social. Beberapa organisasi mengetahui tanggung

jawab mereka di ketiga bidang itu dan berusahan sungguh – sungguh untuk mencapainya, yang

lainnya menekankan hanya satu atau dua bidang tanggung jawab sosial. Dan sedikit sekali yang

tidak mengetahui tanggung jawab sosial sama sekali.

a. Stakeholder Organisasi

Stakeholder organisasi adalah orang dan organisasi yang dipengaruhi langsung oleh

praktek organisasi tertentu dan mempunyai kepentingan terhadap kinerja organisasi itu.

Kebanyakan perusahaan berkonsentrasi terhadap konsumen, karyawan dan investor.

Organisasi yang bertanggung jawab terhadap konsumen berusaha untuk memperlakukan

mereka dengan adil dan jujur, dengan menjanjikan untuk memberikan harga yang sesuai,

menganggap penting jaminan produk, menepati komitmen pengiriman dan menjaga

kualitas produk yang mereka jual. Contoh perusahaan multinasional yang menerapkan ini

adalah Toyota, Dell Computer, Daimler-Chrysler dan Volkswagen.

Organisasi yang bertanggung jawab secara social dalam menghadapi karyawan, akan

memperlakukan pekerja secara adil, membuat mereka sebagai tim dan menghargai

kebebasan dan kebutuhan dasar mereka sebagai manusia. Organisasi yang telah

(13)

Organisasi yang bertanggung jawab terhadap investor, manajer akan mengikuti prosedur

akuntansi yang benar, memberikan informasi yang cukup pada pemegang saham tentang

kondisi keuangan perusahaan, dan mengelola organisasi untuk melindungi hak

pemegang saham dan investasi.

b. Lingkungan Alam

Belum terlalu lama, banyak organisasi tanpa terkecuali membuang kotoran, limbah

produksi dan sampah ke sungai, ke udara dan tanah kosong. Ketika Royal Dutch/Shell

pertama kali mengeksplorasi sungai Amazon untuk potensi lokasi pengeboran di akhir

1980-an, krunya menebangi hutan dan meninggalkan sampah di sungai tersebut.

Sekarang banyak undang-undang yang mengatur pembuangan limbah material. Dalam

banyak hal, perusahaan-perusahaan telah semakin bertanggung jawab secara social

terhadap pembuangan bahan polusi dan perlakuan secara umum terhadap lingkungannya.

Kembali ke Shell, ketika meluncurkan ekspedidi eksplorasi yang terakhir ke daerah

bagian sungai Amazon, kelompok ini melibatkan ahli biologi untuk mengawasi

perlindungan lingkungan dan ahli antropologi untuk membantu tim lebih efektif

berinteraksi dengan suku asli.

Perusahaan juga telah mengembangkan cara-cara yang layak dan ekonomis untuk

menghindari hujan asam dan pemanasan global, menghindari penipisan ozon, dan

mengembangkan metode alternative menangani kotoran, limbah produksi dan sampah

biasa.Contohnya adalah Procter and Gamble yang menggunakan bahan daur ulang untuk

wadah-wadahnya dan Starbuck meneluarkan rencana membayar supplier kopi bonus

tambahan 10 sen per pound jika mereka menunjukkan komitmen untuk melindungi

lingkungan. Dalam hal ini internet juga memainkan peranan penting dalam konservasi

sumber daya dengan mengurangi biaya energy dan polusi dalam transaksi bisnis.

c. Kesejahteraan Sosial Umum

Contoh-contohnya adalah mencakup memberi sumbangan untuk kegiatan sosial,

organisasi amal, dan yayasan nirlaba, asosiasi , museum, serta mengambil peranan dalam

meningkatkan kesehatan dan pendidikan masyarakat. Bahkan beberapa orang percaya

(14)

politik dan sosial yang ada di dunia. Dan akhirnya dipercaya bahwa untuk

memperlakukan stakeholder dan lingkungan dengan penuh tanggung jawab, maka

organisasi bisnis internasional juga harus bisa mendorong kesejahteraan social umum

masyarakat Negara tersebut.

Mengelola Tanggung Jawab Sosial Lintas Batas

Dalam hal pengelolaan tanggung jawab, bisnis biasanya membuat beberapa usaha aktif untuk

mengatasi tanggung jawab sosial. Perusahaan akan mengadopsi satu dari empat pendekatan

berbeda terhadap tanggung jawab social.

a. Pendekatan terhadap tanggung jawab social

Dasar dari pendekatan ini adalah berupa kewajiban organisasi terhadap masyarakat yang

terdapat dalam rentang dari tingkat terendah sampai tertinggi di bidang praktek tanggung

jawab socsal. Ada 4 pendirian yang dapat diambil oleh organisasi dalam pendekatan

kewajiban terhadap masyarakat, yaitu:

Sikap pandang menghalangi, yaitu biasanya organisasi melakukan sedikit mungkin untuk

mengatasi masalah social dan lingkungan, umumnya berupa penolakan atau

penghindaran tanggung jawab atas tindakan mereka. Contohnya ketika perusahaan Nestle

dan Danone yang dituduh telah melanggar perjanjian internasional dengan

mengendalikan pemasaran susu formula yang menggantikan air susu ibu, padahal Nestle

telah menandatangani perjanjian untuk menekankan pentingnya peranan ibu menyususi.

Sikap pandang bertahan, dimana organisasi melakukan segala sesuatu yang

dipersyaratkan secara hukum tetapi tidak lebih. Pendekatan ini sering dilakukan oleh

perusahaan yang tidak simpati pada konsep tanggung jawab sosial. Contohnya adalah

perusahaan Philip Morris, perusahaan ini mengikuti peraturan di Amerika Serikat dengan

memasukkan peringatan pada perokok tentang produk mereka dan membatasi iklan di

media, akan tetapi mereka mempromosikan besar-besaran produknya serta sedikit sekali

(15)

Sikap pandang akomodatif, dimana perusahaan yang memenuhi persyaratan hukum dan

persyaratan etika tetapi juga akan melakukan lebih dari persyaratan ini dalam kasus

tertentu.

Sikap pandang proaktif, dimana perusahaan sungguh-sungguh mendukung tanggung

jawab social, mereka melihat diri mereka sebagai warga masyarakat dan secara proaktif

mencari kesempatan untuk menyumbang.

b. Mengelola kesesuaian terhadap peraturan

Seperti yang dilihat bahwa ada celah bagi manajer yang gagal untuk mengadopsi standar

etika tinggi dan bagi perusahaan untuk mengelak dari tanggung jawab hukumnya.

Seharusnya mereka bisa memandang tanggung jawab social sama seperti mereka

memandang strategi bisnis yang lain. Dengan memandang bahwa tanggung jawab social

juga memerlukan perencanaan, pengambilan keputusan, pertimbangan dan evaluasi yang

cermat. Dimana dalam pengelolaannya, tanggung jawab social harus sesuai dengan

peraturan atau kesesuaian dengan hukum yang berlaku. Misalnya pimpinan eksekutif

sumber daya manusia bertanggung jawab untuk menyesuaikan dengan hokum yang

terkait dalam hal perekrutan, pembayaran, keselamatan dan kesehatan kerja.

Pengelolaan tanggung jawab harus memiliki kesesuaian dengan etika, yaitu dengan

memberikan pelatihan mengenai etika dan menyusun panduan serta peraturan etika.

Selain itu pengelolaan tanggung jawab tidak luput dari hal pemberian bantuan

kemanusiaan. Seperti membangun pengolahan limbah sehingga masyarakat yang tinggal

di daerah aliran sungai dapat terhindar dari bahayanya limbah beracun. Contoh paling

nyata adalah ketika perusahaan Merck, mengembangkan obat untuk cacing hati pada

anjing. Disaat yang sama mereka mengetahui bahwa obat ini juga dapat menyembuhkan

penyakit yang umum dikenal dengan buta sungai akibat penyakit menular yang

disebabkan oleh gigitan lalat hitam pada penduduk yang tinggal di sub sahara yang

tergolong warga termiskin di dunia. Merck memutuskan untuk memberikan obat ini

secara gratis bagi mereka, dan sejak tahun 1987 telah menyumbangkan lebih dari 250 juta

dos obat kepada kira-kira 30 juta orang Afrika di sub sahara.

(16)

Selain perlunya peraturan formal dalam pengelolaan tanggung jawab social, diperlukan

juga adanya dimensi informal dari perusahaan Yaitu pada prakteknya hal ini ditunjukkan

oleh kepemimpinan dan budaya organisasi didalam perusahaan. Serta bagaimana

organisasi merespon praktek Wistle Blowing yg terjadi dalam oganisasi nya sering

menjadi indikasi sikap pandang organisasi terhadap tanggung jawab sosial.

d. Mengevaluasi tanggung jawab sosial

Untuk melihat keefektifitasan dari pelaksanaan tanggung jawab sosial, perushaan perlu

melakukan evaluasi, dan umumnya dilakukan secara formal. Yaitu dengan rutin

melakukan audit sosial perusahaan, yang merupakan analisa formal dan teliti mengenai

(17)

III. KESIMPULAN

1. Etika didefenisikan sebagai kepercayaan individu tentang apakah keputusan, perilaku,

atau tindakan tertentu benar atau salah. Karena itu apa yang menentukan perilaku etis

berbeda bagi satu orang dengan yang lainnya. Etika seorang individu ditentukan oleh

kombinasi berbagai faktor. Orang mulai membentuk kerangka etis sejak anak-anak untuk

merespon persepsi mereka terhadap perilaku orang tua mereka dan orang dewasa lain

yang berhubungan dengan mereka. Saat anak-anak tumbuh dan masuk sekolah, mereka

dipengaruhi teman-teman yang berinteraksi dengan mereka di kelas dan tempat bermain.

Kejadian setiap hari mendorong mereka untuk melakukan pilihan moral

2. Etika Dalam Konteks Lintas Budaya dan Internasional, digambarkan dengan; bagaimana

organisasi memperlakukan karyawan, bagaimana karyawan memperlakukan organisasi

dan bagaimana organisasi dan karyawan memperlakukan agen ekonomi lainnya

3. Tanggung jawab sosial adalah kumpulan kewajiban organisasi untuk melindungi dan

memajukan masyarakat dimana organisasi bekerja. Kompleksitas bagi manajer bisnis

internasional adalah jelas yaitu kesinambungan yang ideal anara tanggung jawab social

secara global terhadap kondisi local yang mungkin memaksa perbedaan pendekatan

dengan di neagra- negara yang berbeda – beda dimana perusahaan tersebut melakukan

bisnis.

4. Mengelola Tanggung Jawab Sosial Lintas Batas, dalam hal pengelolaan tanggung jawab,

bisnis biasanya membuat beberapa usaha aktif untuk mengatasi tanggung jawab social.

Perusahaan akan mengadopsi satu dari empat pendekatan berbeda terhadap tanggung

jawab social, antara lain: Pendekatan terhadap tanggung jawab social, Mengelola

kesesuaian terhadap peraturan, Dimensi informal tanggung jawab social dan

(18)

 

DAFTAR PUSTAKA

Hellriegel.D., Jackson.S.E., Slocum.J.W., 2002, Management A Competency-Based

Approach, SouthWestern, 9th Edition, Ohio

McShane.S.L and Von Glinow.M.A., 2003, Organizational Behavior; Emerging Realities for

the Workplace Revolution, McGraw-Hill Irwin, New York

Wild, John J, Wild, Kenneth L, Han, Jerry C, 2006, Third Edition, International Business;

The Challenges Of Globalization, Pearson Education Inc. Upper Saddle River, New

Jersey,07458.

Griffin, Ricky W, and Pustay, Michael W, 2005, Internasional Bussines ; Fourth edition,

Pearson Education Inc. Upper Saddle River, New Jersey,07458.

Ball, Donal A, McCulloch Jr, Wendell H, 2004, The Challenge Of Global Competition, 9th ed,

The McGraw-Hill Companies, Inc.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...