• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp Pada Berbagai Tingkat Salinitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp Pada Berbagai Tingkat Salinitas"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN Avicennia marina

SETELAH APLIKASI FUNGI Aspergillus sp PADA

BERBAGAI TINGKAT SALINITAS

SKRIPSI

OLEH:

SAPRIL ANAS HASIBUAN

071202026/BUDIDAYA HUTAN

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN Avicennia marina

SETELAH APLIKASI FUNGI Aspergillus sp PADA

BERBAGAI TINGKAT SALINITAS

SKRIPSI

Oleh:

SAPRIL ANAS HASIBUAN 071202026/BUDIDAYA HUTAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp Pada Berbagai Tingkat Salinitas

Nama Mahasiswa : Sapril Anas Hasibuan Nim : 071202026

Program Studi : Budidaya Hutan

Disetujui oleh: Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Yunasfi, M.Si Dr. Budi Utomo, SP,MP Ketua Anggota

Mengetahui

(4)

ABSTRACT

SAPRIL ANAS HASIBUAN: Rate of Litter Leaf Decomposition of Avicennia marina on an application in a variety of fungi Aspergillus sp Salinity Level. Under Academy Suvervision by YUNASFI and BUDI UTOMO.

Mangroves play an important role in maintaining soil fertility in the coastal area, one of the functions of mangrove forest products to maintain soil fertility derived from the litter. Litter decomposition that have contributed to the organic material which is a source of food for various species of fish and other organisms in the mangrove ecosystem. The process of decomposition can be affected by salinity, in addition to producing organic matter, litter also releases nutrients needed by plants along the coastal area.

(5)

ABSTRAK

SAPRIL ANAS HASIBUAN: Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp pada Berbagai Tingkat Salinitas. Dibimbing oleh YUNASFI dan BUDI UTOMO.

Mangrove berperan penting dalam mempertahankan kesuburan tanah hutan, salah satu komponen hutan mangrove yang berperan dalam kesuburan tanah di kawasan pesisir berasal dari serasah. Serasah yang mengalami dekomposisi memberikan sumbangan bahan organik yang merupakan sumber pakan bagi berbagai jenis ikan dan organisme lain di ekosistem mangrove. Proses dekomposisi dapat dipengaruhi oleh salinitas dan fungi yang diaplikasikan. Proses dekomposisi juga menghasilkan bahan organik, serasah juga melepaskan unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan dikawasan pesisir.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Paringgonan pada tanggal 12 April 1988 dari bapak Thamrin Hasibuan dan ibu Paija Hotna Nasution. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Tahun 2001 penulis lulus dari SD Negeri 142949 Sibuhuan Kab. Padang Lawas, Tahun 2004 Penulis lulus dari SMP Negeri 2 Sibuhuan Kab. Padang Lawas, dan Tahun 2007 penulis lulus dari SMU Swasta Nurul ‘Ilmi Padang Sidimpuan dan pada tahun yang sama penulis masuk ke Program studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena rahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Judul skripsi ini adalah “Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina setelah aplikasi fungi Aspergillus sp Pada Berbagai tingkat Salinitas”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada komisi pembimbing saya, bapak Dr. Ir. Yunasfi, M. Si. selaku ketua dan bapak Dr. Budi Utomo, SP.,MP selaku

anggota. Kepada kedua orangtua tercinta yang telah memberikan dukungan moril maupun materil. Penulis juga mengucapkan terimakasih, Selanjutnya kepada teman-teman yang telah ikut berperan dalam membantu penelitian ini.

Akhirnya penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi mahasiswa kehutanan.

Medan, Mei 2011

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Kerangka Pemikiran ... 4

Tujuan Penelitian ... 6

Hipotesis Penelitian ... 6

Manfaat Penelitian ... 6

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Ekosistem Mangrove ... 1

Kondisi Ekosistem Mangrove ... 8

Zonasi Mangrove ... 9

Manfaat dan Fungsi Mangrove ... 10

Luas dan Penyebaran ... 11

Taksonomi dan Morfologi Avicennia marina... 13

Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mangrove ... 14

Salinitas ... 14

Fisiografi Pantai ... 15

Gelombang Arus ... 15

Iklim ... 16

Unsur Hara yang Terkandung dalam Serasah Daun A. marina ... 17

Karbon (C) ... 18

Nitrogen (N) ... 18

Fosfor (P)... 19

Dekomposisi serasah ... 19

(9)

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21

Bahan dan Alat ... 21

Prosedur Penelitian... 21

Penentuan Lokasi Berdasarkan Tingkat Salinitas ... 21

Penempatan Sampel Serasah Daun ... 22

Analisis Serasah Daun Avicennia marina ... 23

Pengolahan Data ... 23

Laju Dekomposisi Serasah daun Avicennia marina ... 23

Analisis Unsur Hara Nitrogen dan Fosfor ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ... 26

Laju dekomposisi ... 26

Kandungan unsur hara karbon, nitrogen, fosfor ... 30

Fungi ... 33

Pertumbuhan Fungi ... 33

Pembahasan ... 34

Laju dekomposisi ... 34

Faktor lingkungan ... 35

Makrobentos ... 47

Kandungan unsur hara karbon (C), nitrogen (N), fosfor (P) ... 38

Karbon (C)... 39

Nitrogen (N) ... 39

Fosfor (P) ... 40

Fungi ... 41

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 42

Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

(10)

DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman 1. Luas hutan mangrove di Indonesia ... 12 2. Kandungan unsur hara di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove ... 17 3. Jenis-jenis makrobentos yang ditemukan di dalam kantong

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman

1. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 5

2. Sisa serasah daun A. marina rata-rata yang telah mengalami proses dekomposisi selama 105 hari pada tingkat salinitas 0-10 ppt ... 27

3. Sisa serasah daun A. marina rata-rata yang telah mengalami proses dekomposisi selama 105 hari pada tingkat salinitas 10-20 ppt ... 27

4. Sisa serasah daun A. marina rata-rata yang telah mengalami proses dekomposisi selama 105 hari pada tingkat salinitas 20-30 ppt ... 28

5. Laju dekomposisi serasah daun A. marina selama 105 hari pada berbagai tingkat salinitas pengamatan hari ke-105 ... 28

6. Sisa serasah yang terdekomposisi pada pengamatan hari ke-105 ... 29

7. Unsur hara karbon pada berbagai tingkat salinitas ... 30

8. Unsur hara nitrogen pada berbagai tingkat salinitas ... 31

9. Unsur hara fosfor pada berbagai tingkat salinitas ... 32

10.Kandungan C/N pada berbagai tingkat salinitas ... 33

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Teks Halaman

1. Bobot kering (gram) sisa serasah daun A. marina tiap ulangan

pada berbagai tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi ... 46 2. Perhitungan laju dekomposisi metode olson... ... 47 3. Makrobentos yang terdapat di dalam kantong serasah daun

(13)

ABSTRACT

SAPRIL ANAS HASIBUAN: Rate of Litter Leaf Decomposition of Avicennia marina on an application in a variety of fungi Aspergillus sp Salinity Level. Under Academy Suvervision by YUNASFI and BUDI UTOMO.

Mangroves play an important role in maintaining soil fertility in the coastal area, one of the functions of mangrove forest products to maintain soil fertility derived from the litter. Litter decomposition that have contributed to the organic material which is a source of food for various species of fish and other organisms in the mangrove ecosystem. The process of decomposition can be affected by salinity, in addition to producing organic matter, litter also releases nutrients needed by plants along the coastal area.

(14)

ABSTRAK

SAPRIL ANAS HASIBUAN: Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp pada Berbagai Tingkat Salinitas. Dibimbing oleh YUNASFI dan BUDI UTOMO.

Mangrove berperan penting dalam mempertahankan kesuburan tanah hutan, salah satu komponen hutan mangrove yang berperan dalam kesuburan tanah di kawasan pesisir berasal dari serasah. Serasah yang mengalami dekomposisi memberikan sumbangan bahan organik yang merupakan sumber pakan bagi berbagai jenis ikan dan organisme lain di ekosistem mangrove. Proses dekomposisi dapat dipengaruhi oleh salinitas dan fungi yang diaplikasikan. Proses dekomposisi juga menghasilkan bahan organik, serasah juga melepaskan unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan dikawasan pesisir.

(15)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, atau juga hutan payau. Kata ‘mangrove’ merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove . Dalam bahasa Inggris, kata mangrove digunakan untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut dan untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedang dalam bahasa Portugis kata ’mangrove’ digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata ’mangal’ digunakan untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Adapun menurut FAO, kata mangrove digunakan untuk individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut (Tomlinson, 1986).

Hutan mangrove dapat ditemukan di pesisir pantai wilayah tropis sampai sub tropis, terutama pada pantai yang landai, dangkal, terlindung dari gelombang besar dan muara sungai. Secara umum hutan mangrove dapat berkembang dengan baik pada habitat dengan ciri-ciri sebagai berikut :

a. Jenis tanah berlumpur, berlempung atau berpasir, dengan bahan bentukan berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang/koral

(16)

c. Menerima pasokan air tawar yang cukup, baik berasal dari sungai, mata air maupun air tanah yang berguna untuk menurunkan kadar garam dan menambah pasokan unsur hara dan lumpur

d. Berair payau (2-22 ‰) sampai dengan asin yang bisa mencapai salinitas 38 ‰ Penyebaran jenis mangrove akan membentuk zonasi. Zona paling luar berhadapan langsung dengan laut pada umumnya ditumbuhi oleh Avicennia spp dan Sonneratia spp (tumbuh pada lumpur yang dalam, kaya bahan organik). Zona pertengahan antara laut dan daratan pada umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Sedangkan zon`a terluar dekat dengan daratan pada umumnya didominasi oleh Bruguiera sp (Anwar dkk, 2006).

Salah satu fungsi ekosistem mangrove dapat mempertahankan kesuburan tanah hutan mangrove yang berasal dari guguran serasah daun yang berada di lantai hutan yang akan melepaskan unsur hara. Unsur hara yang diurai oleh bakteri dan fungi berasal dari serasah daun Avicennia marina. Serasah daun A. marina yang terdapat di lantai hutan akan mengalami dekomposisi sehingga menghasilkan unsur hara yang berperan dalam mempertahankan kesuburan tanah serta menjadi sumber pakan bagi berbagai jenis ikan dan invertebrata melalui rantai makanan fitoplankton dan zooplankton sehingga keberlangsungan populasi ikan, kerang, udang dan lainnya dapat tetap terjaga.

(17)

enzim yang dapat menguraikan bahan organik menjadi protein dan karbohidrat (Sunarto, 2003).

Proses dekomposisi daun mangrove dalam pembentukan rantai makanan detritus melalui proses yang kompleks, sehingga memperkaya produktivitas bentos yang hidup di dasar perairan. Kehadiran organisme dekomposer yang melimpah merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis larva ikan, udang, dan biota lainnya yang sudah beradaptasi sebagai pemakan dasar. Detritus yang dihasilkan tidak hanya menjadi dasar bagi pembentukan rantai makanan di ekosistem mangrove, tetapi juga penting sebagai sumber pakan dan unsur hara bagi biota dan tumbuhan di kawasan pesisir yang berada dekat dengan estuaria. Pengangkutan detritus ke arah perairan dikontrol melalui mekanisme pasang surut (Djamali, 2004).

Di lingkungan perairan, keterlibatan mikroorganisme dalam ekosistem setempat jelas tidak dapat diabaikan. Aktivitas penguraian bahan organik dan anorganik yang sampai ketempat ini tidak akan pernah terjadi tanpa bantuan mikroba saprofit (pengurai, pemakan sampah). Bahan yang telah terurai ini selanjutnya akan diserap oleh mahkluk autotrof sebagai produser primer yang sebagian diantaranya berupa mikroba. Selanjutnya organisme autotrof akan dikonsumsi oleh sekelompok hewan autotrof akan dikonsumsi oleh kelompok hewan heterotrof seperti ikan, udang , moluska dan hewan air lainnya (Rismunandar, 2000 dalam Dewi, 2010).

(18)

yang di depannya yakni akan mengganggu bahkan merusak kedua ekosisitem lainnya. Contoh sebagai akibat detritus tidak tersuplai maka persediaan sumber makanan bagi biota. Ketiga ekosistem tersebut mempunyai keterkaitan ekologis (hubungan fungsional), baik dalam nutrisi terlarut, partikel organik, maupun migrasi satwa. Oleh karena itu apabila salah satu ekosistem itu terganggu, maka ekosistem lain ikut terganggu pula keseimbangannya. Untuk perlu kita dipertahankan agar tercipta sebentuk sinergi keseimbangan lingkungan , sehingga pelayanan jasa dan produksi yang diberikan dapat dipergunakan secara berkelanjutan (Djamali, 2004)

.

Kerangka Pemikiran

(19)

MANGROVE

Unsur-unsur hara Tumbuh-tumbuhan

(Avicennia, Rhizophora, Ceriops dsb)

Serasah Daun Avicennia marina

Tanah Terdekomposisi

Bahan Organik

Hewan-hewan laut

(Herbivora, siput, kerang, makrobentos, dll)

PERAIRAN ESTUARI

Gambar 1. Kerangka Penelitian Penelitian

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengukur laju dekomposisi serasah daun A .marina pada berbagai tingkat salinitas, Setelah aplikasi fungi Aspergillus sp.

2. Menghitung kadar unsur hara nitrogen (N) dan fosfor (P) serasah daun A. marina selama proses dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas, Setelah aplikasi fungi Aspergillus sp.

(20)

Hipotesis penelitian

1. Serasah daun A. marina yang diaplikasikan Aspergillus sp lebih cepat terdekomposisi pada tingkat salinitas 20-30 ppt.

2. Unsur hara C, N dan P yang terdapat pada serasah daun A. marina lebih cepat dilepas (release) pada tingkat salinitas 20-30 ppt.

Manfaat Penelitian

(21)

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove adalah suatu lingkungan yang mempunyai ciri khusus karena lantai hutannya secara teratur digenangi oleh air yang dipengaruhi oleh salinitas serta fluktuasi ketinggian permukaan air karena adanya pasang surut air laut (Duke, 1992). Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forestcoastal woodland, vloedbos dan hutan payau (Kusmana dkk., 2005) yang terletak di perbatasan antara darat dan laut, tepatnya di daerah pantai dan di sekitar muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Sumaharni, 1994). Menurut Kusmana dkk., (2005) hutan mangrove adalah suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang waktu air laut pasang dan bebas dari genangan pada saat air laut surut, yang komunitas tumbuhannya toleran terhadap garam. Adapun ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme yang berinteraksi dengan faktor lingkungan di dalam suatu habitat mangrove.

(22)

tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang; tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat; daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang

kuat; airnya berkadar garam (bersalinitas) payau (2-22 ‰) (LPP Mangrove, 2008).

Karakteristik dari ekosistem mangrove dipengaruhi oleh keadaan tanah, salinitas, penggenangan, pasang surut, dan kandungan oksigen. Adapun adaptasi dari tumbuhan mangrove terhadap habitat tersebut tampak pada morfologi dan komposisi struktur tumbuhan mangrove (Rismunandar, 2000).

Kondisi Ekosistem Mangrove

Flora mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri dan fungi. Menurut Hutching dan Saenger (1987) telah diketahui lebih dari 20 famili flora mangrove dunia yang terdiri dari 30 genus dan lebih kurang 80 spesies. Sedangkan jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di hutan mangrove Indonesia adalah sekitar 89 jenis, yang terdiri atas 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit.

Tomlinson (1986) membagi flora mangrove menjadi tiga kelompok, yakni:

(23)

adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Lumnitzera, Laguncularia dan Nypa.

2. Flora mangrove minor, yakni flora mangrove yang tidak mampu membentuk tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas, contoh : Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera, Aegiceras. Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera.

3. Asosiasi mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus, dan lain-lain.

Zonasi Mangrove

Menurut Arief (2003) pembagian zonasi juga dapat dilakukan berdasarkan jenis vegetasi yang mendominasi, dari arah laut kedataran berturut-turut sebagai berikut:

1. Zona Avicennia ,terletak pada lapisan paling luar dari hutan mangrove. Pada zona ini, tanah berlumpur lembek dan berkadar garam tinggi. Jenis Avicennia ini banyak ditemui berasosiasi dengan Sonneratia Spp karena tumbuh dibibir laut, jenis ini memiliki perakaran yang sangat kuat yang dapat bertahan dari hempasan ombak laut. Zona ini juga merupakan zona perintis atau pioner, karena terjadinya penimbunan sedimen tanah akibat cengkeraman perakaran tumbuhan jenis-jenis ini.

(24)

3. Zona Bruguiera, terletak dibelakang zona Rhizophora. Pada zona ini tanah berlumpur agak keras. Perakaran tanaman lebih peka serta hanya terendam pasang naik dua kali sebulan.

4. Zona Nypah, yaitu zona pembatas antara daratan dan lautan, namun zona ini sebenarnya tidak harus ada, kecuali jika terdapat air tawar yang mengalir (sungai) ke laut.

Manfaat dan Fungsi Mangrove

Ekosistem mangrove berperan penting dalam mendukung kehidupan organisme yang terdapat di dalamnya. Adapun fungsi hutan mangrove menurut Kusmana dkk. (2005) dapat dibedakan ke dalam tiga macam, yaitu fungsi fisik, fungsi ekonomi dan fungsi biologi seperti yang berikut.

1. Fungsi fisik :

- Menjaga garis pantai dan tebing sungai dari erosi/abrasi agar tetap stabil - Mempercepat perluasan lahan

- Mengendalikan intrusi air laut

- Melindungi daerah belakang mangrove/pantai dari hempasan gelombang dan angin kencang

- Menjadi kawasan penyangga terhadap rembesan air laut (intrusi) - Mengolah bahan limbah organik

2. Fungsi ekonomi :

(25)

- Memberikan hasil hutan bukan kayu seperti madu, obat-obatan, minuman serta makanan, tanin dan lain-lain.

- Merupakan lahan untuk produksi pangan dan tujuan lain (pemukiman, pertambangan, industri, infrastruktur, transportasi, rekreasi dan lain-lain) 3. Fungsi biologi :

- Merupakan tempat mencari makan (feeding ground), tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) berbagai jenis ikan, udang, kerang dan biota laut lainnya.

- Menjadi tempat bersarang berbagai jenis satwa liar terutama burung - Merupakan sumber plasma nutfah.

Dari semua fungsi ini yang paling menonjol dan tidak tergantikan oleh bentuk ekosistem lain adalah kedudukan hutan mangrove sebagai mata rantai yang menghubungkan kehidupan ekosistem laut dengan ekosistem daratan.

Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. Bagi masyarakat pesisir, pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. Akhir-akhir ini, peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak

merugikan dirasakan di berbagai tempat akibat hilangnya mangrove (Noor dkk., 1999).

Luas dan Penyebaran

(26)

luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui

secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. Luas penyebaran hutan mangrove di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Luas hutan mangrove di Indonesia

No. Provinsi UNESCO 1990

(hektar)

INTAG 1993 (hektar)

1 Daerah Istimewah Aceh 50.000 102.969

2 Sumatera Utara 60.000 98.344

3 Sumatera Barat - 4.844

4 Riau 95.000 221.045

5 Jambi - 13.453

6 Sumatera Selatan 195.000 363.424

7 Bengkulu - 2.612

8 Lampung 17.000 49.443

Sumatera 417.000 856.134

10 DKI Jakarta -

-11 Jawa Barat 20.400 594.061

12 Jawa Tengah 14.000 12.188

13 DI Yogyakarta - 1.875

14 Jawa Timur - 10.156

Jawa 34.400 618.280

16 Bali -

-17 Nusa Tenggara Barat 3.700

-18 Nusa Tenggara Timur - 4.598

Bali dan Nusa Tenggara 3.700 4.598

20 Kalimantan Barat 40.000 194.288

21 Kalimantan Tengah 10.000 48.733

22 Kalimantan Selatan 75.000 120.782

23 Kalimantan Timur 40.000 775.640

Kalimantan 165.000 1.139.443

25 Sulawesi Utara - 38.135

26 Sulawesi Tengah - 37.640

27 Sulawesi Tenggara 29.000 70.841

28 Sulawesi Selatan 24.000 104.021

Sulawesi 53.000 250.637

29 Maluku 100.000 148.696

30 Irian Jaya 2.943.000 1.326.990

Jumlah Total 3.707.100 3.771.493

(27)

Taksonomi dan Morfologi Avicennia marina Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkepingdua/dikotil) Ordo : Lamiales

Famili : Genus :

Spesies : Avicennia marina.

Avicennia marina atau yang sering disebut juga api-api adalah nama jenis tepi atau dekat memiliki beberapa ciri yang merupakan bagian dari berlumpur dan bergaram. Di antaranya: akar nafas serup rapat, muncul ke atas lumpur di sekeliling pangkal batangnya, daun-daun dengan kelenjar garam di permukaan bawahnya, daun A. marina berwarna putih di sisi bawahnya, dilapisi krista merupakan kelebihan garam yang dibuang oleh tumbuhan tersebut. Biji A. marina berkecambah tatkala buahnya belum gugur, masih melekat di rantingnya. Dengan demikian biji ini dapat segera tumbuh begitu terjatuh di lumpur.

(28)

Daun-daun tunggal, bertangkai, berhadapan, bertepi rata, berujung runcing atau membulat; helai daun seperti kulit, hijau mengkilap di atas, abu-abu atau keputihan di sisi bawahnya, sering dengan kristal garam yang terasa asin; pertulangan daun umumnya tak begitu jelas terlihat. Kuncup daun terletak pada lekuk pasangan tangkai daun teratas. Perbungaan dalam karangan bertangkai panjang bentuk payung, malai atau bulir, terletak di ujung tangkai atau di ketiak daun dekat ujung. Bunga-bunga duduk (sessile), membulat ketika kuncup, berukuran antara 0,3-1,3 cm, berkelamin dua, kelopak 5 helai, mahkota kebanyakan 4 (jarang 5 atau 6) helai, kebanyakan kuning atau jingga kekuningan dengan bau samar-samar, benang sari kebanyakan 4, terletak berseling dengan mahkota bunga. Buah berupa kapsul yang memecah (dehiscent) menjadi dua, dengan panjang 1-4 cm; hijau abu-abu, berbulu halus di luarnya; tumbuh selagi buah masih di pohon (Noor dkk, 2006).

Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mangrove Salinitas

Salinitas merupakan berat garam dalam gram per kilogram air laut. Salinitas ditentukan dengan mengukur klor yang takarannya adalah klorinitas. Salinitas dapat juga diukur melalui konduktivitas air laut. Alat-alat elektronik canggih menggunakan prinsip konduktivitas ini untuk menentukan salinitas Salinitas optimum yang dibutuhkan mangrove untuk tumbuh berkisar antara 10-30 ppt (Romimohtarto dan Juwana, 2001).

(29)

tumbuhnya, sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya (Noor, 2006).

Fisiografi Pantai

Fisiografi Pantai dapat mempengaruhi komposisi, distribusi sepesies dan lebar hutan mangrove. Pada pantai yang landai, komposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan dengan pantai yang terjal. Hal ini disebabkan karena pantai landai menyediakan ruang yang lebih luas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesies menjadi semakin luas dan lebar. Pada pantai yang terjal komposisi, distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena

kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh (LPP Mangrove, 2008).

Gelombang Arus

(30)

Iklim

Mempengaruhi perkembangan tumbuhan dan perubahan faktor fisik (substrat dan air). Pengaruh iklim terhadap pertumbuhan mangrove melalui cahaya, curah hujan, suhu, dan angin. Penjelasan mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

1. Cahaya

Cahaya berpengaruh terhadap proses fotosintesis, respirasi, fisiologi, dan struktur fisik mangrove. Intensitas, kualitas, dan lama pencahayaan mempengaruhi pertumbuhan mangrove (mangrove adalah tumbuhan long day plants yang membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi sehingga sesuai untuk hidup di daerah tropis). Laju pertumbuhan tahunan mangrove yang berada di bawah naungan sinar matahari lebih kecil dan sedangkan laju kematian adalah sebaliknya. Cahaya berpengaruh terhadap pembungaan dan germinasi di mana tumbuhan yang berada di luar kelompok (gerombol) akan menghasilkan lebih banyak bunga karena mendapat sinar matahari lebih banyak daripada tumbuhan yang berada di dalam gerombol.

2. Curah hujan

(31)

3. Suhu

Suhu berperan penting dalam proses fisiologis (fotosintesis dan respirasi). Produksi daun baru A. marina terjadi pada suhu 18-200 C dan jika suhu lebih tinggi maka produksi menjadi berkurang. Rhizophora stylosa, Ceriops, Excocaria, Lumnitzera tumbuh optimal pada suhu 26-280 C. Bruguiera tumbuh optimal pada suhu 270C, dan Xylocarpus tumbuh optimal pada suhu 21-260 C.

4. Angin

Angin mempengaruhi terjadinya gelombang dan arus. Angin merupakan agen polinasi dan diseminasi biji sehingga membantu terjadinya proses reproduksi tumbuhan mangrove (Biology Resources on Shantybio, 2004).

Unsur hara yang terkandung dalam serasah daun A. marina

[image:31.595.101.518.604.674.2]

Unsur hara yang terdapat di ekosistem mangrove terdiri atas hara anorganik dan organik. Anorganik : P, K, Ca, Mg, Na. Organik : fitoplankton, bakteri, alga. Sedangkan kandungan unsur hara yang terdapat di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove terdiri atas karbon, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium. Kandungan unsur hara di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove dapat dilihat dalam Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan unsur hara di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove

Sumber : Laboratorium Fahutan, IPM (1997) dalam Arifin (2003)

No. Jenis Daun Karbon Nitrogen Fosfor Kalium Kalsium Magnesium

1 Rhizophora 50.83 0.83 0.025 0.35 0.75 0.86

2 Ceriops 49.78 0.38 0.006 0.42 0.74 1.07

3 Avicennia 47.93 0.35 0.086 0.81 0.30 0.49

(32)

Karbon (C)

Karbon dan oksigen yang terdapat di atmosfer berasal pelepasan CO2 dan

H2O. Oksigen secara berangsur terbentuk karena rata-rata produksi biomassa yang

menghasilkan oksigen melampaui sedikit respirasi yang mengkonsumsi oksigen, maka CO2 berperan dalam pembentukan iklim. Karbondioksida berperan besar

dalam proses pelapukan secara kimia batuan dan mineral (Notohadiprawiro, 1999). Nitrogen (N)

Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan

merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga. Nitrat nitrogen sangat mudah terlarut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat dengan bantuan mikroorganisme adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen (Effendi, 2003). Distribusi horisontal kadar nitrat semakin tinggi menuju ke arah pantai dan kadar tertinggi biasanya ditemukan di perairan muara. Hal ini diakibatkan adanya sumber nitrat dari daratan berupa buangan limbah yang mengandung nitrat (Hutagalung dan Rozak, 1997 dalam Bahri, 2007).

(33)

Fosfor (P)

Fosfor merupakan salah satu senyawa unsur hara yang penting karena akan diabsorbsi oleh fitoplankton dan masuk ke dalam rantai makanan (Hutagalung dan Rozak, 1997 dalam Bahri, 2007). Fosfor dalam bentuk fosfat merupakan mikronutrien yang diperlukan dalam jumlah kecil namun sangat esensial bagi organisme akuatik. Kekurangan fosfat juga dapat menghambat pertumbuhan fitoplankton (Zulfitria, 2003 dalam Bahri, 2007). Sumber-sumber alami fosfor di perairan adalah pelapukan batuan mineral dan dekomposisi bahan organik. Sumbangan dari daerah pertanian yang menggunakan pupuk juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi keberadaan fosfor (Effendi, 2003). Dekomposisi Serasah

Dekomposisi serasah adalah perubahan secara fisik maupun kimiawi yang sederhana oleh mikroorganisme tanah (bakteri, fungi dan hewan tanah lainnya) atau sering disebut juga mineralisasi yaitu proses penghancuran bahan organik yang berasal dari hewan dan tanaman menjadi senyawa-senyawa anorganik sederhana (Sutedjo dkk, 1991).

(34)

menjadi protein dan karbohidrat. Pada ummnya keberadaan makrobentos mempercepat proses dekomposisi (Arief, 2003).

Pengenalan fungi

(35)

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan mangrove Sicanang Belawan, Medan, Sumatera Utara. Penelitian dilapangan dilaksanakan bulan Oktober 2010 sampai Maret 2011. Penimbangan serasah dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan Program Studi Kehutanan fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Analisis unsur hara karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P) dilakukan di Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian Balai Penelitian Tanah Laboratorium Tanah, Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah serasah daun Avicennia marina yang berasal dari kawasan hutan mangrove Sicanang Belawan Medan dan fungi Aspergillus sp yang diperoleh dari penelitian biologi sebelumnya. Peralatan yang digunakan meliputi : Hand refractometer, oven dan timbangan analitik, kantong serasah (litter bag) yang berukuran 40 x 30 cm yang terbuat dari nilon, kantong plastik dengan ukuran 1/4 kg, tali plastik (rafia), patok bambu, amplop sampel, dan lain-lain.

Prosedur Penelitian Penentuan Zona Salinitas

(36)

tingkat salinitasnya. Pengukuran tingkat salinitas dilakukan pada titik tertentu dari darat ke laut dengan menggunakan alat Hand refractometer yang terdiri atas 3 zona yaitu :

a. Tingkat salinitas 0-10 ppt b. Tingkat salinitas 10-20 ppt c. Tingkat salinitas 20-30 ppt.

Penempatan Sampel Serasah Daun

Pengambilan serasah daun Avicennia marina dilakukan di beberapa lokasi pada kawasan hutan mangrove Sicanang Belawan, yang mayoritas ditumbuhi oleh jenis A. marina. Pengambilan serasah langsung dilakukan dari lantai hutan mangrove Sicanang Belawan. Kemudian serasah daun A. marina dimasukkan ke dalam kantong plastik/karung plastik dan dibawa ke laboratorium untuk ditimbang.

Selanjutnya serasah daun A. marina yang sudah dibawa ditimbang seberat 50 g dan dimasukkan ke kantong serasah (litter bag). Pada tiap salinitas ditempatkan kantong serasah daun sebanyak 40 kantong, dengan perlakuan yaitu perlakuan diberi jamur Aspergillus sp. Fungi yang diberikan ini diperoleh dari penelitian biologi sebelumnya dan diisolasi sehingga terbentuk fungi yang sesuai dan digunakan dalam penelitian ini. Litter bag dipasang pada setiap zona salinitas yang telah ditentukan dengan jumlah total 120 litter bag. Di setiap zona salinitas diletakkan 40 litter bag secara acak. Semua litter bag tersebut akan diikatkan pada pacak kayu agar tidak terbawa arus pasang.

(37)

3 kantong serasah dari tiap tingkat salinitas. Kantong berisi serasah yang diambil dari semua tingkat salinitas adalah sebanyak 9 kantong. Serasah daun dari kantong serasah tersebut dikeluarkan dan ditiriskan/dikeringanginkan kemudian ditimbang bobot basahnya. Selanjutnya dimasukkan kedalam amplop sampel. Amplop kantong kertas yang berisi serasah daun Avicennia marina dimasukan kedalam oven dengan suhu 750 C selama 3 x 24 jam, setelah dioven serasah tersebut ditimbang untuk mengetahui bobot keringnya. Laju dekomposisi serasah daun A. marina dihitung dari penyusutan bobot serasah yang terdekomposisi dalam satuan waktu. Sebagai kontrol digunakan serasah yang tidak ditempatkan di lapangan dan juga digunakan untuk analisis unsur hara.

Analisis unsur hara serasah daun Avicennia marina

Contoh serasah daun dari setiap zona salinitas yang telah diketahui berat keringnya (sebanyak 5 g) dikirim ke Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian Balai Penelitian Tanah Laboratorium Tanah, Bogor untuk dianalisis unsur hara karbon (C), nitrogen (N) dan fosfor (P).

Pengolahan Data

Laju Dekomposisi Serasah daun Avicennia marina

Pendugaan nilai laju dekomposisi serasah dilakukan menurut Rumus berikut (Olson, 1963) :

Xt/Xo = e –kt

Dimana : Xt = Berat serasah setelah periode pengamatan ke-t Xo = Berat serasah awal

(38)

k = Laju Dekomposisi

Analisis unsur hara karbon (c), nitrogen (n), dan fosfor (p)

Analisis unsur hara karbon, nitrogen dan fosfor dilakukan di Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian Balai Penelitian Tanah Laboratorium Tanah, Bogor. Penentuan kadar unsur hara C dilakukan berdasarkan kehilangan bobot bahan organik karena pemanasan. Penetapan kadar karbon dilakukan dengan rumus :

Kadar C dalam daun = 1.724 (0,458 0,4) x100% BKM

b

keterangan : b = BKM – BKP

BKM = Bobot kering serasah daun setelah pemanasan 1050C BKP = Bobot kering serasah daun setelah pemanasan 3750C

Penentuan kadar Nitrogen total dilakukan dengan menggunakan metode Kjelldahl, yaitu : Nitrogen (organik dan anorganik) didekstrusi dengan H2SO4

pekat dirubah menjadi garam Amonium Sulfat, kemudian didestilasi dengan penambahan NaOH 50 % untuk melepas NH4 yang ditangkap dengan larutan

Boric Acid. Jumlah N diketahui setelah penitratan dengan larutan HCL encer. Setelah antara volume nitrat untuk contoh dengan titran pada blanko menunjukkan volume titran yang diperlukan untuk menentukan kadar Nitrogen dalam contoh. Selanjutnya, penetapan kadar Nitrogen dilakukan dengan rumus berikut :

Kadar N dalam daun = x100% b

14 x 0,02 x a

Keterangan : A = Selisih volume (ml)

(39)
(40)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Laju Dekomposisi

Serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi mulai dari hari ke 15 sampai hari ke-105 terjadi penurunan bobot kering. Perubahan bobot kering serasah daun A. marina rata-rata pada berbagai tingkat salinitas untuk tiap waktu pangamatan disajikan pada Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3.

Perubahan bobot kering serasah daun A. marina dari ketiga tingkat salinitas menunjukkan bahwa dari ketiga tingkat salinitas mengalami dekomposisi yang hampir sama sehingga laju dekomposisinya tidak mengalami perbedaan dari ketiga tingkat salinitas tersebut. Nilai laju dekomposisi serasah daun A. marina lebih tinggi pada awal dekomposisi dan terjadi grafik yang berbeda-beda pada tingkat salinitasnya setiap dalam pengambilan data (15 hari). Semakin cepat perubahan bobot kering serasah maka semakin tinggi nilai laju dekomposisisnya.

(41)
[image:41.595.114.511.82.333.2]

Gambar 2. Sisa serasah daun A. marina rata-rata yang telah mengalami proses dekomposisi selama 105 hari pada tingkat salinitas 0 – 10 ppt

[image:41.595.115.512.385.635.2]
(42)
[image:42.595.114.511.82.333.2]

Gambar 4. Sisa serasah daun A. marina rata-rata yang telah mengalami proses dekomposisi selama 105 hari pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt

[image:42.595.121.496.370.641.2]
(43)

Sisa serasah daun A. marina yang telah terdekomposisi dari pengamatan hari ke-15 samapai hari ke-105 mengalami penurunan bobot basah dan bobot kering. Penurunan bobot basah dan bobot kering dapat dilihat dari perubahan bentuk yang menunjukkan cercahan daun A. marina semakin menuju hari ke-105 Untuk lebih jelasnya, perubahan bentuk serasah daun A. marina ynang terdekomposisi dapat dilihat pada Gambar 5.

(Ia) (Ib) (Ic)

(IIa) (IIb) (IIc)

(IIIa) (IIIb) (IIIc)

(44)

Kandungan unsur hara Karbon, Ntrogen, Fosfor

[image:44.595.113.508.302.571.2]

Proses dekomposisi terjadi dari hari ke-15 sampai hari ke-105. Serasah daun A. marina mengandung unsur hara Karbon, Nitrogen dan Fosfor. Kandungan unsur karbon cukup tinggi dibandingkan dengan unsur hara nitrogen dan fosfor. Unsur hara karbon berperan dalam pembentukan iklim dan berperan dalam pelapukan kimia batuan dan mineral. Kandungan unsur hara karbon pada serasah daun A. marina pada berbagai tingkat salinitas dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Unsur Hara Karbon pada berbagai salinitas

Nitrogen dapat melibatkan makrobentos dan mikroorganisme. Nitrogen harus mengalami fiksasi terlebih dahulu menjadi NH3, NH4 dan NO3, sebagian

(45)
[image:45.595.119.505.136.396.2]

mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Unsur Hara Nitrogen pada berbagai tingkat salinitas

(46)
[image:46.595.114.501.82.356.2]

Gambar 9. Unsur Hara Fosfor pada berbagai salinitas

(47)
[image:47.595.119.506.83.307.2]

Gambar 10. Kandungan C/N pada berbagai tingkat salinitas

Fungi

Aspergillus pada tingkat salinitas 0-10 ppt lebih rendah oleh karena itu serasah daun A .marina lebih lama terdekomposisi dibandingkan pada Aspergillus pada tingkat salinitas 20-30 ppt.

Pertumbuhan fungi Aspergillus sp

(48)

Pembahasan Laju Dekomposisi

Laju dekomposisi serasah daun A. marina selama 105 hari terjadi perubahan rata-rata bobot kering serasah daun A. marina pada berbagai tingkat salinitas yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh terhadap proses dekomposisi karena serasah yang ditempatkan di dalam kantong serasah pada masing-masing tingkat salinitas mengalami penurunan bobot kering serasah daun.

Penurunan bobot kering dan laju dekomposisi serasah daun A. marina yang tertinggi terjadi pada tingkat salinitas 20-30 ppt dan yang paling lama terdekomposisi adalah pada tingkat salinitas 0-10 ppt. Setiap minggu terjadi perubahan bobot serasah daun A. marina di dalam kantong serasah, diduga diakibatkan oleh peranan makrobentos dan fungi yang membutuhkan bahan makanan sebagai pendekomposer yang tinggi dan faktor lingkungan yang mempengaruhi akibat pasang surut air laut.

Rata-rata laju dekomposisi serasah daun A. marina menunjukkan proses pembusukan serasah semakin berkurang pada tingkat salinitas tinggi. Pada pengamatan hari ke-105 hari yang terdekomposisi semakin sedikit serasah menurun beratnya, yaitu serasah daun A. marina yang di aplikasikan fungi Aspergillus tingkat salinitas 0-10 ppt adalah 10,0 gram, pada tingkat salinitas 10-20 ppt adalah 11,1 gram, pada tingkat salinitas 10-20-30 ppt adalah 9,1 gram.

(49)

penutup, aktivitas mikroorganisme tanah dan fauna tanah, pengaruh iklim, serta aktivitas manusia. Menurut Sunarto (2003) bahwa kecepatan terdekomposisi mungkin berbeda dari waktu ke waktu tergantung faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Faktor Lingkungan

Oksigen diperlukan dekomposer untuk mendekomposisikan bahan organik dimana dekomposer ini sangat besar peranannya. Berawal dari anaerobik yang mencacah bahan organik menjadi partikel kecil kemudian dilanjutkan oleh aerobik membutuhkan oksigen dan sama-sama melakukan proses dekomposisi.

Bahan organik merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik merupakan zat yang penting bagi makrobentos terutama dalam rantai makanan. Makrobentos memanfaatkan bahan organik sebagai sumber makanan. Bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang sangat baik. dan merupakan sumber dari unsur hara tumbuhan.

(50)

makrobentos menyukai lokasi dengan salinitas tinggi karena dapat dimanfaatkan untuk pembentukan cangkangnya.

Salah satu fungsi yang dapat mempertahankan kesuburan tanah hutan mangrove adalah guguran serasah daun yang berada di lantai hutan yang akan memberikan sumbangan bahan organik. Bahan organik yang diurai oleh bakteri dan fungi berasal dari serasah daun A. marina. Serasah daun A. marina yang terdapat di lantai hutan akan mengalami dekomposisi sehingga menghasilkan unsur hara yang berperan dalam mempertahankan kesuburan tanah serta menjadi sumber pakan bagi berbagai jenis ikan dan invertebrata melalui rantai makanan fitoplankton dan zooplankton sehingga keberlangsungan populasi ikan, kerang, udang dan lainnya dapat tetap terjaga.

(51)

Makrobentos

[image:51.595.113.515.402.496.2]

Makrobentos termasuk salah satu dekomposer awal yang meremas-remas atau mencacah sisa-sisa daun yang kemudian dikeluarkan kembali sebagai kotoran setelah itu dilanjutkan oleh bakteri dan fungi untuk menguraikan bahan organik menjadi protein dan karbohidrat. Tabel 3 menunjukkan beberapa jenis makrobentos yang terdapat di dalam serasah daun A. marina. Jumlah makrobentos yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi setiap 15 hari sekali pada berbagai tingkat salinitas dapat dilihat pada Lampiran 2. Pada kantong berisi serasah yang ditempatkan pada tingkat salinitas 20-30 ppt lebih banyak ditemui makrobentos daripada tingkat salinitas yang lainnya.

Tabel 3. Jenis-jenis makrobentos yang ditemukan di dalam kantong serasah daun A. marina.

Kelas Ordo Genus

Gastropoda Mesogastropoda Eubonia, Telescopium

Basammatophora Pupoides

Crustaceae Decapada Chiromantes

Turbellaria Macrostomida Microstonum

Jenis makrobentos yang dapat dilihat dalam Gambar 6. Menunjukkan bahwa makrobentos berperan dalam mendekomposisikan bahan organik menjadi sisa-sisa atau partikel yang lebih kecil dan dikeluarkan kembali sebagai kotoran.

a b c

[image:51.595.116.508.596.712.2]
(52)

Makrobentos berperan dalam dekomposer awal yang akan mencacah sisa-sisa bagian pohon. Cacing maupun kepiting dalam kantong serasah yang memanfaatkan sisa-sisa daun yang kemudian dikeluarkan lagi sebagai kotoran. Menurut Arief (2003) kehidupan makrobentos membutuhkan habitat berlumpur yang telah dihambat oleh perakaran pohon. Selain itu, makrobentos harus mampu hidup dengan membenamkan diri dalam lumpur di bawah pohon.

Kandungan unsur hara

Kandungan awal serasah daun A. marinna sebelum terjadi proses dekomposisi berupa senyawa organik (karbohidrat, protein, dll) dan setelah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme senyawa tersebut akan berubah menjadi anorganik (C, N, P, H, dll). Hal ini dikarenakan mikroorganisme mampu menguraikan senyawa organik menjadi anorganik karena adanya enzim.

Sesuai menurut pendapat Hadiwegono (1990) dalam Ansal (2009). Unsur hara merupakan unsur esensial yang berasal dari bahan organik mati yang dilakukan oleh aktivitas makroorganisme dan mikroorganisme. Proses pendekomposisian berkaitan dengan kecepatan arus sekitar 0,2–0,4 m/dtk, dimana kecepatan arus membantu mempercepat proses penghancuran unsur hara.

Pada dasarnya, serasah yang dihasilkan oleh hutan mnagrove antara lain mengandung N dan P yang tinggi dan akan terlarut dalam air sehingga dapat menunjang proses pertumbuhan fitoplankton. Menurut Welch dan Lindell (1980) dalam Harahab (2010), oleh karenanya, diduga terdapat hubungan yang erat antara N dan P serasah dengan N dan P yang terdapat di dalam air.

(53)

Menurut Arief (2003), meneliti bahwa unsur hara yang dikandung oleh daun-daun mangrove adalah karbon, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium. Karbon (C)

Kandungan unsur hara karbon (C) pada kondisi awal hari ke-15 sampai hari ke-105 mengalami penurunan pada tingkat salinitas 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt. Nilai persen (%) karbon berangsur-angsur semakin berkurang pada tingkat salinitas 0-10 ppt. Menurut Effendi (2003) kadar karbondioksida di perairan dapat mengalami pengurangan akibat proses fotosintesis dan evaporasi yang terjadi. Karbon yang terdapat di atmosfer dan perairan diubah menjadi karbon organik melalui proses fotosintesis. Akan tetapi, pada pengamatan hari ke-15 terjadi pengecualian yakni kandungan unsur karbon mulai meningkat. Pada saat pengamatan tersebut intensitas hujan tinggi, hal ini diduga sebagai penyebab dari tingginya kandungan karbon tersebut. Selain itu, keberadaan industri di sekitar lokasi juga sangat mendukung. Hal ini sesuai dengan pendapat Effendi (2003) yang menyatakan bahwa hujan merupakan salah satu sumber penambahan karbon di perairan karena hujan tersebut mengandung karbondioksida yang terdapat di atmosfer.

Nitrogen (N)

(54)

terendah pada salinitas 0-10 ppt. Hal ini diduga karena pengaruh penutupan vegetasi mangrove yang berbeda pada tiap tingkat salinitas. Pada tingkat salinitas 0-10 ppt penutupan vegetasi mangrove lebih rapat dibandingkan tingkat salinitas lainnya. Sesuai dengan pendapat Potts (1984) dalam Bahri (2007) menyatakan bahwa fiksasi nitrogen pada sedimen dengan vegetasi mangrove di atasnya lebih tinggi daripada sedimen tanpa vegetasi di atasnya, hal ini karena perbedaan kandungan detritus yang ada dalam tanah.

Pada pengamatan hari ke-90 dan pada tingkat salinitas 20-30 ppt diperoleh bahwa kandungan nitrogen lebih tinggi dari tingkat salinitas lainnya karena makrobentos yang ada di dalam kantong serasah mengalami penguraian (mati) dan diduga juga menjadi penyebab naiknya jumlah kandungan nitrogen di mana makrobentos memanfaatkan nitrogen di perairan dalam jumlah yang besar. Sesuai dengan pendapat Effendi (2003) menyatakan beberapa jenis organisme memanfaatkan nitrogen pada daun dan mengeluarkan tinja (kotoran) dari organisme tersebut. Kotoran itu mengandung amonia yang menempel pada serasah daun tanaman. Namun, kenyataan menyebutkan bahwa pada tingkat salinitas 20-30 ppt diperoleh kandungan nitrogen yang rendah yang mana hal ini diduga kotoran makrobentos lebih cepat tercuci karena dipengaruhi pasang surut atau gelombang yang lebih besar daripada tambak yang lebih tenang.

Fosfor (P)

(55)

terus-menerus, akibat proses dekomposisi dan sintesis antara bentuk organik dan bentuk anorganik yang dilakukan oleh mikroba. Keberadaan fosfor di perairan alami biasanya relatif kecil, dengan kadar yang sedikit daripada kadar nitrogen karena sumber fosfor lebih sedikit dibandingkan dengan sumber nitrogen di perairan. Akan tetapi fosfor pada tingkat salinitas 0-10 ppt mengalami peningkatan pada hari ke-75, salinitas 10-20 ppt mengalami peningkatan pada hari ke-75 dan hari ke-90, salinitas 20-30 ppt mengalami peningkatan pada hari ke-90. Kadar fosfat yang tinggi diduga berasal dari penguraian senyawa-senyawa organik(hewan, tumbuhan dan sebagainya) disertai dengan pertumbuhan lumut yang berada di perairan. Menurut Effendi (2003) bahwa keberadaan fosfor yang berlebihan dapat diakibatkan oleh pertumbuhan alga di perairan.

Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dalam laju dekomposisi serasah daun A. marina menunjukkan bahwa rata-rata C/N yang tertiggi adalah pada tingkat salinitas 20-30 ppt dan pada hari pengamatan ke 75 yaitu sebesar 39%. Menurut Hairiah dan Rahayu (2007) bahwa C/N merupakan salah satu indikator untuk melihat laju dekomposisi bahan organik, dimana semakin tinggi C/N maka akan semakin lama bahan organik itu terdekomposisi.

Fungi

(56)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Laju dekomposisi serasah daun A. marina pada tingkat salinitas 20-30 ppt lebih cepat dibandingkan dengan laju dekomposisi pada tingkat salinitas 0-10 ppt, dan 10-20 ppt.

2. Persentase (%) kandungan unsur hara C, N, P yang paling tinggi pada serasah daun A. marina yang terdekomposisi pada pengamatan hari ke-90, terdapat pada tingkat salinitas 20-30 ppt.

Saran

(57)

DAFTAR PUSTAKA

Ansal. B. 2009. Pengaruh Pemberian Pupuk terhadap Pertumbuhan, Produksi dan Kandungan Karagenan Rumput Laut Kappaphycus striatum. Budidaya Perairan UNHAS. [3 Juni 2010].

Anwar, C, dan Gunawan, H. 2006. Peranan Ekologis dan Sosial Ekonomis Hutan Mangrove Dalam Mendukung Pembangunan wilayah Pesisir.

Arief, A. 2003. Hutan Mangrove. Penerbit kanisius. Jakarta.

Bahri, A. F. 2007. Analisis Kandungan Nitrat dan Fosfat pada Sedimen Mangrove yang Termanfaatkan di Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru. Hasil Penelitian. Situs untuk Konservator Lingkungan. http://myatols.blogspot.com. [3 Mei 2011].

Biology Resources on Shantybio. 2004. Ekosistem Mangrove. Kumpulan Artikel, Makalah, Paper, Iktisar Biologi. Universitas Negeri Semarang. Semarang http://shantybio.transdigit.com. [3 Mei 2011].

Dewi, N. 2010. Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Pada Berbagai Tingkat Salinitas di Kawasan Hutan Mangrove Sicanang Belawan Medan. Skripsi. Jurusan Kehutanan, F.PERTANIAN USU. Medan

Djamali, A. R. 2004. Persepsi Masyarakat Desa Pantai Terhadap Kelestarian Hutan Mangrove. http://www.rudyct.com. [ 20 Oktober 2009 ].

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Gandjar, I. Wellyzar, S, dan Ariyanti, O. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Hairiah, K dan S. Rahayu, 2007. Pengukuran Carbon Tersimpan di Berbagai Macam Penggunaan Lahan.http//:www. World agroforestry.org (31 Januari 2011)

Harahab, N. 2010. Penilaian Ekonomi Ekosistem Hutan mangrove dan Aplikasinya dalam Perencanaan Wilayah Pesisir. Graha Ilmu. Yogyakarta.

(58)

Kartawinata, K., S. Adisoemarto, S. Soemodihardjo. Dan I. G. M. Tentra. 1979. Status Pengetahuan Hutan Bakau di Indonesia Presiding Seminar Ekosistem Mangrove. Jakarta.

Kusmana, C, Istomo, C. Wibowo, S. Wilarso Budi R., I. Z. Siregar, T. Tiryam, S. Sukardjo. 2008. Manual Silvikultur Mangrove di Indonesia. Korea International Cooperation Agency (KOICA): The Project Rehabilitation Mangrove Forest and Coastal Area Damaged by Tsunami in Aceh. Jakarta.

[ LPP Mangrove ] Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove. 2008.

Noor, Y. R. Khazali, M, dan Suryadiputra, I. N. N. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Wetlends International-Indonesia Programe. Bogor.

Noor, Y. R. Khazali, M, dan Suryadiputra, I. N. N. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Ditjen PHKA. Bogor.

Notohadiprawiro, T. 1999. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta Rismunandar, 2000. Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina pada

Berbagai Tingkat Salinitas (Studi Kasus di Kawasan Hutan Mangrove Blanakan, RPH Tegal Tangkil, BKPH Ciasem- Pamanukan, KPH Purwakarta, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat).

Plantamor. 2008. Informasi Spesies. http://plantamor.com. [ 17 Oktober 2010 ]. Romimohtarto, K. Dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang

Biota Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Rustono. 2009. Jamur.[ 09 Mei 2011 ].

Sunarto. 2003. Peranan Dekomposisi dalam Proses Produksi pada Ekosistem Laut Pengantar falsafah Sains, Program Pascasarjana/S3 IPB. Bogor. http://tumoutou.net. [ 17 Oktober 2010 ].

Sutedjo, M.M., A. G. Kartasapoetra, dan Rd. S. sastroatmodjo. 1991. Mikrobiologi Tanah. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Tomlinson. 1986. Analisis Kandungan Nitrat dan Fosfat pada Sedimen Mangrove yang Termanfaatkan di Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Baru. Hasil

(59)

Winda, A. 2009. Diversitas dan Visualisasi Karakter Fungi Dekomposer Serasah Daun Avicennia marina (Forsk) Vierh. Pada Berbagai Tingkat Salinitas. Skripsi. Jurusan Biologi , F.MIPA USU. Medan.

Yunasfi. 2006. Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Oleh Bakteri dan Fungi Pada Berbagai Tingkat Salinitas. Disertasi. IPB. Bogor.

(60)

Salinitas Fungi 0 15 30 45 60 75 90 105 0 -10 ppt Aspergillus sp 1 0 22,5 23,8 17,3 13,7 13 8,2 8,1 Aspergillus sp 2 0 26,4 22,9 15,1 19,7 12,1 10,6 9,8 Aspergillus sp 3 0 44,9 20,1 21,2 14,7 15,5 14,8 12,2

Sub Total 0 93,8 66,8 53,6 48,1 40,6 33,6 30.1

Rata - Rata 0 31,2 22,2 17,8 16 13,5 11,2 10.0

10 – 20 ppt Aspergillus sp 1 0 22,7 13,4 12,6 14 12,2 11,3 11,3 Aspergillus sp 2 0 14,2 19,8 16,5 10,4 9,7 10,5 10,2 Aspergillus sp 3 0 34,1 22,8 13,2 16,9 14,6 12,3 11,9

Sub Total 0 71 56 42,3 41,3 36,5 34,1 33,4

Rata - Rata 0 23,6 18,6 14,1 13,7 12,1 11,3 11,1

20 – 30 ppt Aspergillus sp 1 0 23,7 16,7 18,1 12,2 12,8 10,4 8,2 Aspergillus sp 2 0 25,4 22,2 19 12,4 11,2 10 7,5 Aspergillus sp 3 0 38,6 19,4 17,4 6 14,5 17,8 11,8

Sub Total 0 87,7 58,3 54,5 30,6 38,5 38,2 27,5

(61)

Lampiran 2. Perhitungan Laju Dekomposisi Metode Olson (Olson, 1963) dalam (subkhan, 1991) kt

e

Xo

Xt

=

Dimana : Xt = Berat serasah setelah periode pengamatan ke-t Xo = Berat serasah awal

e = Bilangan logaritma (2,72) t = Periode Pengamatan k = Laju Dekomposisi 1. Xo = 50 g

Xt = 10,0 g t = sisian pendekompo lama Hari setahun Hari

t =

3

,

48

105

365

=

kt

e

g

g

=

50

0

,

10

-kt = ln 50

0 , 10

-3,48k = ln 0,2 -3,48k = -1,6094 k = 0,4624 2. Xo = 50 g

Xt = 11,1 g t = sisian pendekompo lama Hari setahun Hari

t =

3

,

48

105

365

=

kt

e

g

g

=

50

1

,

11

-kt = ln 50

1 , 11

(62)

3. Xo = 50 g Xt = 9,1 g t =

sisian pendekompo lama

Hari

setahun Hari

t =

3

,

48

105

365

=

kt

e

g

g

=

50

1

,

9

-kt = ln 50

1 , 9

(63)

Lampiran 3. Makrobentos yang terdapat didalam kantong serasah daun A. marina Nama Salinitas Fungi Minggu Jumlah Siput, cacing 0-10 ppt Aspergillus 1 15 9 Siput, cacing Aspergillus 2 15 4 Siput, cacing Aspergillus 3 15 7 Siput 10-20 ppt Aspergillus 1 15 14 Siput, cacing Aspergillus 2 15 12

Siput Aspergillus 3 15 10

Siput, cacing 20-30 ppt Aspergillus 1 15 8

Siput Aspergillus 2 15 14

Siput Aspergillus 3 15 10

Siput, cacing 0-10 ppt Aspergillus 1 30 25 Siput, cacing Aspergillus 2 30 46 Siput, cacing Aspergillus 3 30 20 Siput, cacing 10-20 ppt Aspergillus 1 30 15

Siput Aspergillus 2 30 8

Siput Aspergillus 3 30 4

Siput, cacing 20-30 ppt Aspergillus 1 30 11 cacing Aspergillus 2 30 15 Siput, cacing Aspergillus 3 30 14 Siput, cacing 0-10 ppt Aspergillus 1 45 24

Siput Aspergillus 2 45 28

Siput, cacing Aspergillus 3 45 31 Siput,cacing, kepiting 10-20 ppt Aspergillus 1 45 38 Siput, cacing Aspergillus 2 45 25 Siput, cacing Aspergillus 3 45 41 Siput, cacing 20-30 ppt Aspergillus 1 45 38 Siput, cacing Aspergillus 2 45 18 Siput, cacing Aspergillus 3 45 29 Siput, cacing 0-10 ppt Aspergillus 1 60 54 Siput, cacing Aspergillus 2 60 52

Siput Aspergillus 3 60 48

(64)
(65)

Lampiran 4. Unsur-unsur hara yang terdapat didalam daun A .marina Unsur hara C-Organik

Salinitas Fungi 15 45 75 90 ---%--- Kontrol 50,40 50,40 50,40 50,40 0-10 ppt Aspergillus sp 47,21 46,81 42,10 42,32 10-20 ppt Aspergillus sp 46,33 43,50 45,93 47,04 20-30 ppt Aspergillus sp 45,60 43,07 47,46 42,65 Sub Total 189,54 183,78 185,89 182,41 Rata-rata 47,39 45,95 46,47 45,60 Unsur hara Nitrogen

Salinitas Fungi 15 45 75 90 ---%--- Kontrol 1,95 1,95 1,95 1,95 0-10 ppt Aspergillus sp 0,81 1,12 1,19 1,02 10-20 ppt Aspergillus sp 0,80 1,03 1,30 1,24 20-30 ppt Aspergillus sp 0,83 1,26 1,20 1,44 Sub Total 4.39 5.36 5.64 5.65 Rata-rata 1.10 1.34 1.41 1.41 Unsur hara Fosfor

Salinitas Fungi 15 45 75 90 ---%--- Kontrol 0,08 0,08 0,08 0,08 0-10 ppt Aspergillus sp 0,06 0,08 0,10 0,07 10-20 ppt Aspergillus sp 0,05 0,08 0,09 0,09 20-30 ppt Aspergillus sp 0,05 0,08 0,08 0,09 Sub Total 0.24 0.32 0.35 0.33 Rata-rata 0.06 0.08 0.09 0.08 Unsur hara C/N

Salinitas Fungi 15 45 75 90 ---%---

Kontrol 59 59 59 59

0-10 ppt Aspergillus sp 58 42 35 41 10-20 ppt Aspergillus sp 58 42 35 38 20-30 ppt Aspergillus sp 55 34 39 30

Sub Total 230 177 168 168

Gambar

Gambar 1. Kerangka Penelitian Penelitian
Tabel 1. Luas  hutan mangrove di Indonesia
Tabel 2. Kandungan unsur hara di dalam daun-daun berbagai jenis mangrove
Gambar 2. Sisa serasah daun  A. marina rata-rata yang telah mengalami proses     dekomposisi selama 105 hari pada tingkat salinitas 0 – 10 ppt
+7

Referensi

Dokumen terkait

Serasah yang mengalami dekomposisi memberikan sumbangan bahan organik yang dapat mempertahankan kesuburan tanah dan merupakan sumber pakan bagi berbagai jenis ikan dan organisme

Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina pada Berbagai Tingkat Salinitas (Studi Kasus di Kawasan Hutan Mangrove Blanakan, RPH Tegal Tangkil, BKPH Ciasem-Pamanukan, KPH

Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina pada Berbagai Tingkat Salinitas (Studi Kasus di Kawasan Hutan Mangrove Blanakan, RPH Tegal Tangkil, BKPH

marina yang mengalami dekomposisi selama 15 sampai dengan 165 hari pada semua tingkat salinitas, ini disebabkan oleh proses-proses fisik berupa kehancuran serasah yang besar..

Data berat Kering serasah

Unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat penting dalam pertumbuhan mangrove dan sebagai sumber detritus bagi ekosistem laut dan

Serasah yang sudah terdekomposisi tersebut berguna untuk menjaga kesuburan tanah mangrove dan merupakan sumber pakan untuk berbagai jenis ikan dan avertebrata

marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt adalah juga terbesar, dibanding dengan besar populasi fungi pada serasah daun A.. Frequency of