• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alasan Suami Penderita Kanker Serviks Mempertahankan Pernikahannya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Alasan Suami Penderita Kanker Serviks Mempertahankan Pernikahannya"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang

Menikah merupakan saat yang penting dalam siklus kehidupan manusia dan awal dari terbentuknya sebuah keluarga. Menikah adalah sebuah komitmen pribadi dari dua orang yang mengawali sebuah peradaban baru. Dimulai dengan adanya janji spiritual dengan Tuhan dan adanya pelegalan hukum (Kertamuda, 2009). Menikah juga merupakan sumber dari status sosial, situs dari ketidaksetaraan gender, alat regulasi seksual, dan sebuah kemitraan untuk bereproduksi serta pengasuhan anak. Menikah menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan materi, refleksi cinta illahi serta pengesahan dari sebuah prostitusi (Hull, 2006). Menikah adalah menyatukan dua manusia dengan dua ego yang berbeda, tidak mudah untuk menyatukan keinginan, begitu juga menyatukan pola pandang (Setiati, 2007).

Kebahagiaan dalam pernikahan merupakan tujuan setiap pasangan yang menikah. Kestabilan pernikahan sangat berhubungan dengan kebahagiaan pernikahan (Kertamuda, 2009). Studi yang dilakukan oleh White dan Booth (dalam Bentley, 2007) menyebutkan bahwa hubungan antara kebahagiaan dengan kestabilan dalam pernikahan menunjukkan bahwa bentuk tersebut memengaruhi kelangsungan dari sebuah pernikahan. Peluang untuk terjadi perceraian ataupun penurunan kebahagiaan pernikahan dapat dikarenakan lamanya pernikahan itu sendiri. Seiring berjalannya waktu, pernikahan yang telah melampau (masa lebih lama), memiliki kekuatan dan mampu memengaruhi kebahagiaan pernikahan itu sendiri. Menurut Maroo (dalam Faradz, 2008) suami istri yang bisa menjaga pergaulan rumah tangga secara kuat, keduanya lebih terjamin bisa mempertahankan kebersamaan dalam kehidupan suami istri dengan ketahanan melebihi pasangan suami istri yang lain.

(2)

2

sebagai suatu pegangan hubungan perkawinan bahagia antara lain: menciptakan kehidupan beragama dalam keluarga, mempunyai waktu bersama keluarga, mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling menghargai antar sesama anggota keluarga, kualitas dan kuantitas konflik yang minim, dan adanya hubungan atau ikatan yang erat antar anggota keluarga.

Setiap pernikahan mempunyai tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia yang berujung pada kepuasan pernikahan itu sendiri. Kepuasan dalam pernikahan merupakan salah satu faktor untuk mencapai tujuan pernikahan. Kepuasan pernikahan dapat membantu meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Orang-orang yang sudah menikah menunjukkan bahwa mereka memiliki kelebihan karena mereka mendapatkan dukungan secara emosional dari pasangannya (Kertamuda, 2009).

Studi yang dilakukan Glen (dalam Noller, 2002) menyebutkan bahwa kepuasan dalam hubungan pada pasangan umumnya meningkat saat pernikahan, akan tetapi hal tersebut akan menurun dan sekitar 3-4% terjadi perpisahan pada saat pernikahan memasuki usia 10 tahun. Sebagian orang tetap menjaga pernikahannya karena mereka menginginkannya. Oleh karena itu, mereka menghargai arti pernikahan dan berharap kelanggengan dalam pernikahannya. Namun, ada juga yang tetap mempertahankan pernikahan karena mereka tidak dapat meninggalkan. Walaupun mereka menyadari konsekuensi mengakhiri pernikahan. Mereka merasa lebih baik untuk tetap bertahan dengan pernikahannya tersebut (Levinger, dalam Harway, 2005).

(3)

dan Kurdek (dalam, L’abate 2005), juga menyatakan salah satu konsekuensi dari pernikahan yang tidak puas adalah perceraian.

Lebih lanjut Fowers (dalam Mackey & O’Brien, 1995) dalam studinya tentang pernikahan yang baik, menyatakan bahwa kebahagiaan pribadi atau kepuasan pribadi merupakan tujuan hidup dari setiap manusia. Setelah menikah yang menjadi sumber kebahagiaannya adalah sebuah pernikahan yang membahagiakan dan memberi rasa puas. Hauck (dalam Bentley, 2007) dalam penelitiannya dari 215 keluhan masalah pernikahan ada 26 yang menyebutkan bahwa seks merupakan penyebab utama timbulnya masalah dalam perkawinan. Dari 26 tersebut diantaranya: 7 orang rasa tidak puas keluhan pihak pria, 4 orang rasa tidak puas keluhan pihak wanita, 10 orang pihak lelaki yang tidak setia, 1 orang pihak wanita yang tidak setia, 4 orang impotensi atau frigiditas.

Hasil penelitian di Norwegia yang dibeberkan di European Cancer Conference di Barcelona, Spanyol, belum lama ini mengungkap, risiko cerai meningkat bila salah satu pasangan mengalami kanker leher rahim atau kanker testis. P eneliti dalam penelitian tersebut membandingkan tingkat perceraian 215.000 orang yang selamat dari kanker dalam periode waktu 17 tahun. Dari situ terlihat, kanker testis dan leher rahim menempati urutan teratas dari jumlah perceraian yang terjadi. Wanita dengan kanker leher rahim memiliki kemungkinan 70 persen lebih besar untuk bercerai pada usia 20-an. Persentase itu turun menjadi 19 persen pada usia 60. Menurut Astri Syse dari Norwegian Cancer Registry, yang memimpin penelitian tersebut, penyakit kanker yang mengganggu keintiman sehingga melenyapkan aktivitas seksual, mungkin menjadi penyebab perceraian tersebut. V irus penyebab kanker leher rahim sering ditularkan melalui kontak seksual dan memunculkan kecurigaan tentang penyelewengan. Faktor usia juga bisa menjadi kemungkinan lain karena kedua jenis kanker itu cenderung menyerang pada saat seseorang berusia lebih muda ketika mereka belum terjalin dalam suatu ikatan yang kuat. Penelitian itu juga mendapati, perceraian kecil sekali terjadi bila serangan kanker sudah sedemikian menyebar. Hal ini kemungkinan karena meninggalkan pasangan yang sakit tidak akan bisa diterima secara sosial (detak.org, 2009).

(4)

4

sakit kronis hingga 7 kali lipat dibanding istri yang meninggalkan suami ka rena penyakit kronis. Peneliti menganalisis data dari 500 pasangan menikah yang salah satu pasangannya didiagnosa memiliki penyakit serius seperti kanker, tumor dan lainnya. Dan hasilnya adalah, suami ternyata lebih tega meninggalkan istri mereka yang seda ng sakit karena faktor fisik dan seks. Sebagai contoh, dari 23 kasus perceraian dimana salah satu pasangannya mengidap penyakit multiple sclerosis (penyakit rusaknya sistem saraf otak), 22 kasus diantaranya terjadi karena suami yang meninggalkan istri dan hanya 1 kasus dimana istri yang meninggalkan suami. Sama halnya dengan penyakit kanker. Dalam peneliti tersebut ditemukan 13 dari 14 kasus perceraian disebabkan karena suami sudah tidak tahan lagi dengan kondisi istrinya yang sakit parah. Sang istri justru ditinggalkan sendiri dalam kondisi menyedihkan dan harus berjuang melawan penyakitnya sendirian. Dan untuk kasus tumor otak, dari 23 pasangan yang bercerai, 18 istri ditinggalkan suami dalam kondisi sakit berat.

Dari data tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa suami yang menceraikan istri karena sakit kronis adalah sekitar 21 persen, sedangkan istri yang bercerai dari suaminya yang sakit kronis hanya sekitar 3 persen. Seperti dikutip dari Genius Beauty, peneliti mengatakan bahwa istri yang memiliki penyakit kronis lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit, minum obat dan berpenampilan buruk karena tidak berdandan atau faktor obat. Hal itulah yang membuat suami memiliki keinginan untuk bercerai dengan sang istri. Selain karena faktor fisik, penyebab lainnya yaitu karena berkurangnya intensitas hubungan seksual suami istri. Peneliti mengatakan faktor ini menjadi penyebab yang paling banyak ditemukan pada pasangan suami istri yang bercerai karena sakit (health.detik.com, 2009).

(5)

Kepuasan seksual memang bukan merupakan faktor utama dalam pernikahan akan tetapi kepuasan seksual menjadi satu kebutuhan yang perlu mendapatkan tempat yang khusus pada pernikahan. Kebutuhan yang tidak terpenuhi dapat mengakibatkan guncangan dalam pernikahan.

Selain itu menurut Rosen & Grandon (1999, dalam Anniza 2008) menjabarkan faktor -faktor lain sebagai pembentuk kepuasan dalam pernikahan, yakni ; pengungkapan rasa sayang, komunikasi, consensus, seksualitas dan keintiman, dan manajemen konflik. Sedangkan menurut Billideau (1997, dalam Anniza 2008) kepuasan pernikahan dapat tercapai dengan adanya kemampuan komunikasi yang kuat, kepuasan yang besar dalam kasih sayang, seksualitas, waktu bersama, keuangan dan juga kepercayaan relijius yang kuat. Selain itu hubungan yang harmonis antar kedua belah pihak keluarga juga menentukan.

Suasana hati, positif atau negatif, dapat memiliki efek dramatis pada seksualitas. Depresi berat pada pasien yang baru didiagnosis dengan kanker dapat menjadi penyebab disfungsi seksual. Depresi dapat mempengaruhi hingga 38% dari pasien kanker yang baru didiagnosis dan sayangnya, sering kali depresi terdiagnosis pada pasien kanker dengan gejala depresi dan sering tetap tidak diobati. Dengan berfokus pada wanita, masalah psikologis jelas dapat memodifikasi fungsi seksual. Diagnosis kanker dapat memicu serangkaian reaksi emosional pada wanita termasuk frustrasi, stigma, rasa malu, kecemasan, kemarahan, lekas marah dan kesepian. Rasa takut akan kematian dan ketakutan akan penolakan adalah emosi yang menonjol bahwa kanker dapat mempengaruhi seksualitas perempuan. Diagnosis kanker dapat mengabadikan setiap kombinasi atau faktor-faktor dan disfungsi seksual dapat menyebabkan hal-hal yang rumit dan beragam (Mulhall dkk, 2011).

(6)

6

guna menghindari kelelahan dan stress. Dampak lain dari hal ini yakni menurunnya kemampuan finansial, karena hanya dia yang bekerja dan berpenghasilan dalam keluarga. Sedangkan dia masih harus membiayai sekolah sang anak, pengobatan sang istri, dan kebutuhan hidup keluarga tiap harinya. Belum lagi kurangnya dukungan sosial khusunya dari keluarga kandungnya yang lebih banyak menyarankan agar dia memutuskan untuk bercerai dan kemudian menikah lagi dengan orang yang lebih sehat, mengingat usianya juga masih produktif. Namun dengan berbagai masalah yang tengah ia hadapi sekarang ini, tak lantas membuatnya berpikir untuk mengakhiri pernikahannya seperti apa yang disarankan oleh keluarganya.

Dari uraian diatas tampak bahwa kestabilan dan ketahanan pernikahan tercipta karena adanya kebahagiaan dan keharmonisan dalam pernikahan itu sendiri. Sedangkan kebahagiaan dan keharmonisan dalam pernikahan dapat terjadi karena adanya kepuasan dalam pernikahan. Pada contoh kasus diatas telah dijabarkan bahwa sang suami tak lagi bisa merasakan kepuasan pernikahan seperti saat istrinya belum menderita kanker serviks. Mulai dari menurunnya kepuasan seksual, munculnya masalah keunangan, berkurangnya perhatian terhadap dirinya dan anak-anak, konflik baru yang bermunculan sebagai akibat dari tahap penyesuain diri baik, dari dirinya sendiri maupun dari sang istri. Belum lagi ditambah dengan kurangnya dukungan dari keluarga dekatnya semakin membuat pelik masalah yang sedang dialaminya sekarang. Namun hal ini tidak kemudian membuatnya menyerah dan lalu mengakhiri pernikahannya seperti dalam penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya (Norwegian Cancer Registry, 2009; dan Washington University, 2009). Dia justru memilih untuk tetap bertahan dengan pernikahannya dan menerima berbagai resiko yang mungkin menyertai keputusannya tersebut.

Dari latar belakang yang telah dijelaskan diatas, peneliti kemudian tertarik untuk melakukan penelitian mengenai apa sajakah alasan suami dari penderita kanker serviks tetap mempertahankan pernikahan mereka.

(7)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan diteliti adalah apa sajakah alasan suami penderita kanker serviks mempertahankan pernikahannya?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

Mengetahui dan mendapatkan pemahaman tentang alasan suami penderita kanker serviks tetap mempertahankan pernikahnnya.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Memberikan khasanah pengetahuan bagi ilmu psikologi, khususnya psikologi klinis dan sosial mengenai alasan suami penderita kanker serviks tetap mempertahankan pernikahannya, yang hasilnya nanti dapat menjadi masukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

(8)

Alasan Suami Penderita Kanker Serviks Mempertahankan

Pernikahannya

SKRIPSI

Oleh LIA LUTFIATIN

07810120

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(9)
(10)
(11)
(12)
(13)

Alhamdulillahirobbil’alamiin... Saya ucapkan syukur dan terima kasih yang tidak terhingga kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kemampuan, kesabaran , dan kemudahan dalam mengerjakan skripsi ini. Shalawat dan salam juga saya haturkan pada Nabi besar Muhammad SAW beserta sahabat.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan dorongan dari banyak pihak, baik saat masa perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini, sangat sulit bagi penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu, penulis ingin berterima kasih kepada :

1. Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang dan dosen pembimbing I. Terima kasih atas bimbingan dan ketelitian ibu sepanjang penulis melakukan pengerjaan skripsi.

2. Ni’matuzzaroh, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing II. Terima kasih bu atas bantuan, dan pengertiannya.

3. M. Salis Yuniardi, S.Psi., M.Si selaku dosen pembimbing akademik kelas B. 4. Orang tua penulis. Alm. Sukoyo Prasetyo dan Supriyatin. Terima kasih atas

segala doa, kesabaran, harapan, dan semangat tiada henti dari kalian. Atas kasih sayang yang sangat besar, sekali lagi terima kasih.

5. Suami dan anak penulis, M. Wike Erik W & Saski Aleshanee. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Terima kasih atas segala pendampingan dan pengertian kalian.

6. dr. Andreas Andreanto, SpOG., Rm. Antonius Deny Firmanto, dr. Indra Yulianti, spOG. dan para staff dokter di RSUD Dr. Soetomo. Terima kasih atas segala bantuan, semangat, pengetahuan dan segalanya.

(14)

8. Untuk semua teman-teman penulis. Khususnya teman-teman psikologi seangkatan, teman-teman di 63, teman di jalan dan semuanya. Terima kasih banyak untuk segalanya.

Saya sebagai penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini, masih banyak se kali kekurangan. Oleh karena itu saya mohon maaf dan sangat terbuka terhadap segala kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata, saya berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Malang, 14 Februari 2012 Peneliti,

(15)

DAFTAR ISI

3. Kebahagiaan dan Kepuasan Pernikahan... ... 9

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebahagiaan dan Kepuasan Pernikahan ... 11

B. Kanker Serviks ... 12

1. Pengertian Kanker ... 12

2. Kanker Serviks ... 13

3. Faktor-faktor Penyebab ... 14

4. Dampak Fisik dan Psikologis bagi Penderita dan Pasangannya ... 17

(16)

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Identitas Subjek Penelitian ... 26

B. Deskripsi Data ... 26

C. Analisis Data ... 37

D. Rangkuman Hasil Analisis Data ... 42

E. Pembahasan ... 43

5. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 47

B. Saran ... 47

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Identitas Subjek Penelitian ………...……….. 26

Tabel 4.2 Analisis Data Subjek SH ………...……….. 38

Tabel 4.3 Analisis Data Subjek BG ……….……….. 40

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Informed Consent …..……….. 52

Lampiran Lembar Persetujuan Partisipasi ……….... 54

Lam piran Pedoman Wawancara ……… 56

Lampiran Waktu Wawancara ……… 61

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 1999. Psikologi Sosial. Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta

Anjani, C. & Suryanto. 2006. Pola Penyesuaian Perkawinan pada Periode Awal. INSAN, 8 No. 3., 198-210.

Anniza. 2007. Hubungan Perilaku Memaafkan (Forgiveness) Dan Kepuasan Pernikahan Pada Pasangan Bekerja. Jurnal Psikologi fakultas Psikologi Paramadina, 11 No.1, 60-74

An-Nu’aimi, T. K. 2006. Kado Pernikahan, Psikologi Suami Istri. Jakarta : Mitra Pustaka.

Ardhianita, I. & Budi A. 2003. Kepuasan pernikahan Ditinjau dari berpacaran dan tidak berpacaran. Jurnal Psikologi fakultas Psikologi Universitas GadjahMada, 32 No.2, 101-111

Bentley, E. 2007. Adulthood. New York : Routledge.

Burpee, L.C. & Ellen J.L. 2005. “Mindfulness and Marital Satisfaction”. Journal of Adult Development, 12, No. 1, 43-51.

Faradz, Haedah. 2008. Tujuan Dan Manfaat Perjanjian Pernikahan. Jurnal Dinamika Hukum, 8, No.3, 91-96

Gottlieb, B.H.,Cohen, S., & Lyn G.U 2000. Social Support Measurement And Intervention. A Guide For Health And Social Scientist. New York : Oxford University Press.

Harway, M. 2005. Handbook of Couples Therapy. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.

Hawari, D. 1997. Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa & Kesehatan Jiwa. Yogyakarta : Dana Bhakti Prima Yasa.

Herlina, T. & Suhartini. 2010 Hubungan Antara Usia Menikah Dan Paritas Dengan Kejadian Kanker Serviks Di RSUD DR. Soeroto Ngawi. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, 1 No.1, 41-46

Http://www.detak.org/news.php?id=115, diakses pada 20 Juni 2011 pukul 20.53

Http://health.detik.com/read/2009/10/17/102034/1223146/766/suami-lebih-tega

meninggalkan-istrinya-yang-sakit?browse=frommobile, diakses pada 20 Juni

(20)

Hull, K. E. 2006. Same-sex Marriages. New York : Cambridge University Press. Kertamuda, F. E. 2009. Konseling Pernikahan untuk Keluarga Indonesia. Jakarta :

Salemba Humanika.

L’Abate, L. 2002. Personality in Intimate Relationship. Socialization and Psychophatology. New York : Springer.

Mackey, R. A., & Bernard A. O. 1995. Lasting Marriages : Men and Women Growing Together. Connecticut : Greemwood Publishing Group.

Markovic, N. & Olivera M. 2008. What Every Woman Should Know about Cervical Cancer. New York : Springer.

Mulhall, J.P., Lucca I., Irwin G., & Raymond C.R. 2011. Cancer and Sexual Health. New York : Humana Press.

Moleong, L. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.

Noller, P. & Judith A. F. 2002. Understanding Marriage. Development in the Study of Couple Interactions. Cambridge : Cambridge University Press.

Onede ra, J.D. 2008. The Role of Religion in Marriages and family Counseling. New York : Routledge.

Pinsof, W.M & Jay L.L. 2005. Family Psychology. New York : Oxford University Press.

Poerwandari, E.K. 2007. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta : Pendidikan Psikologi (PSP3) UI

Rayner, E., Angela J., James R., Mary T. & Christopher C. 2005. Human Development : An introduction to the psychodynamics of growth, maturity and ageing Fourth Edition. New York : Routledge.

Rini, Q.K. &Retnaningsih. 2008. Kontribusi Self Diclosure Pada Kepuasan Perkawinan pada Pria Dewasa Awal. Jurnal Psikologi, 1, No. 2, 153-163. Russel, B. 2009. Marriages and Moral. New York : Routledge.

Sadarjoen, S.S. 2007. Membangun Keluarga Bahagia. Print Out Seminar Membangun Keluarga Bahagia. Surabaya : Ubaya.

(21)

Sarafino, E.S & Timothy W.S. 2010. Health Psychology : Biopsychosocial Interaction, 7th Edition. New York : Wiley.

Setiati, Eni. 2007. Hitam Putih Poligami. Jakarta : Cisera Publishing.

Snyder, D.K, Jeffry A.S., & Jan N.H. 2006. Emotions Regulation in Couples and families : Pathways to Dysfunction and Health. Washington DC : American Psychological Association.

Referensi

Dokumen terkait

Arlina Gusti: Kekerapan Tuberkulosis Paru pada Pasangan Suami-Istri Penderita Tuberkulosis Paru,2000.. USU Repository

1. Respon keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi adalah keluarga merasa sedih, khawatir, takut, lelah, jenuh, pusing, kasihan, dan susah. Keluarga

Distribusi Frekuensi Penderita Kanker Serviks Berdasarkan Alat Kontrasepsi Yang Digunakan Di RSUD.dr.Pirngadi Kota Medan Tahun

Tabel 4.4 Karakteristik Kanker Serviks Menurut Stadium Pertama Kali Penderita Didiagnosis

persalinan di RSUD.dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2014 ...28 Tabel 5.4 : Distribusi frekuensi penderita kanker serviks berdasarkan riwayat. komplikasi persalinan

jaringan Hemopoetik pasien penderita kanker serviks terhadap respon radiasi. radioterapi

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinik penderita kanker serviks berdasarkan stadium setelah mendapatkan kemoterapi selama tiga

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinik pada penderita kanker serviks berdasarkan stadium setelah mendapatkan kemoterapi selama tiga siklus sehingga dapat