• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kadar beberapa vitamin pada buah pedada (sonneratia caseolaris) dan hasil olahannya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kadar beberapa vitamin pada buah pedada (sonneratia caseolaris) dan hasil olahannya"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

KADAR BEBERAPA VITAMIN PADA BUAH PEDADA

(

Sonneratia caseolaris

)

DAN HASIL OLAHANNYA

RUTH DWI ELSA MANALU

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

RINGKASAN

RUTH DWI ELSA MANALU. C34070026. Kadar Beberapa Vitamin pada Buah

Pedada (Sonneratia caseolaris) dan Hasil Olahannya. Dibimbing oleh ELLA SALAMAH dan KOMARI.

Buah pedada yaitu buah mangrove yang hidup di perairan payau, bagian dasar dibungkus kelopak bunga, dan tidak beracun. Masyarakat jarang mengkonsumsi langsung buah tersebut karena rasanya yang asam. Buah tersebut memiliki kandungan gizi yang belum dimanfaatkan. Buah tersebut dapat diolah menjadi produk pangan seperti selai dan sirup. Pengolahan dapat mempengaruhi kandungan gizi pada buah seperti vitamin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi gizi dan vitamin buah, selai, dan sirup pedada.

Penelitian ini terdiri atas lima tahapan yaitu perhitungan rendemen, analisis proksimat, pembuatan dan uji kesukaan selai dan sirup pedada, dan analisis vitamin buah, selai, dan sirup pedada. Pembuatan selai dan sirup menggunakan gula dan air. Uji kesukaan terhadap selai dan sirup pedada menggunakan 44 panelis tidak terlatih. Analisis proksimat meliputi analisis kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat. Analisis vitamin yang dilakukan yaitu analisis vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dengan HPLC dan vitamin C dengan titrasi.

(3)

KADAR BEBERAPA VITAMIN PADA BUAH PEDADA

(

Sonneratia caseolaris

) DAN HASIL OLAHANNYA

RUTH DWI ELSA MANALU

C34070026

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Perikanan pada Departemen Teknologi Hasil Perairan

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(4)

Judul Skripsi : Kadar Beberapa Vitamin pada Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) dan Hasil Olahannya

Nama : Ruth Dwi Elsa Manalu

NRP : C34070026

Departemen : Teknologi Hasil Perairan

Menyetujui:

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Dra. Ella Salamah, M.Si Prof. Dr. Komari, M.Sc

NIP. 19530629 198803 2 001 NIP. 19540519 197912 1 001

Mengetahui:

Ketua Departemen Teknologi Hasil Perairan

Tanggal lulus :

(5)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul ”Kadar

Beberapa Vitamin pada Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) dan Hasil

Olahannya” adalah benar karya saya sendiri dengan arahan dari komisi

pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi

manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan

penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di

bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2011

Ruth Dwi Elsa Manalu

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang

telah melimpahkan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik. Penulis mengambil judul ”Kadar Beberapa Vitamin pada

Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) dan Hasil Olahannya”. Skripsi ini

merupakan syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan di Fakultas

Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada:

1. Dra. Ella Salamah, M.Si dan Prof. Dr. Komari, M.Sc sebagai dosen

pembimbing yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan skripsi

ini.

2. Dr. Ir. Sri Purwaningsih, M.Si sebagai dosen penguji atas arahan dan

perbaikan yang telah diberikan.

3. Dr. Ir. Ruddy Suwandi, MS, M.Phil

4. Dr. Ir. Agoes Mardiono Jacoeb, Dipl. Biol sebagai ketua Program Studi

Departemen Teknologi Hasil Perairan.

sebagai ketua Departemen Teknologi

Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian

Bogor.

5. Seluruh dosen, pegawai dan staf tata usaha Departemen Teknologi Hasil

Perairan atas bantuannya selama ini.

6. Bapak (Ir. Djasmen Manalu), Mama (Betrina Marpaung, S.P), abang

(Jispan SO Manalu, S.Kom) dan adik kembar (Eber Manalu dan

Eliel Manalu) tercinta yang telah memberikan kasih sayang, motivasi, dan

dukungan moral maupun materiil kepada penulis tanpa batas.

7. Teman-teman THP 44, 45, dan 46 atas bantuan tenaga, motivasi, dan doa

pada penulis.

8. Ibu Nia, Ibu Vivi, dan seluruh pegawai di Laboratorium Makanan, Pusat

Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan atas bantuannya.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan

(7)

pihak dalam penyempurnaan skripsi ini. Semoga penulisan skripsi ini dapat

bermanfaat dan dapat memberikan informasi yang berguna bagi semua pihak yang

memerlukan.

Bogor, September 2011

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal

20 April 1989 dari pasangan bapak Ir. Djasmen Manalu dan

ibu Betrina Marpaung. Penulis merupakan anak kedua dari

empat bersaudara.

Penulis memulai jenjang pendidikan formal di TK

Methodist X Belawan pada tahun 1994-1995. Selanjutnya

penulis melanjutkan sekolah dasar di SD Methodist X Belawan pada tahun

1995-2001. Penulis melanjutkan pendidikannya di SLTP Negeri 5 Medan pada

tahun 2001-2004. Pendidikan menengah atas ditempuh penulis di SMA Negeri 9

Medan pada tahun 2004-2007.

Penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi pada tahun

2007 yaitu program Strata 1 (S1) di Institut Pertanian Bogor melalui jalur

Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan penulis diterima di Departemen

Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut

Pertanian Bogor. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam unit

kegiatan mahasiswa (UKM) Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Institut

Pertanian Bogor.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis melakukan penelitian dengan judul

Kadar Beberapa Vitamin pada Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) dan

Hasil Olahannya” dibimbing oleh Dra. Ella Salamah, M.Si dan

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 2

2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Deskripsi dan Klasifikasi Pedada (Sonneratia caseolaris)... 3

2.2 Manfaat Pedada (Sonneratia caseolaris) ... 4

2.3 Kandungan Gizi Buah Pedada ... 5

4) Vitamin B3 (niasin atau asam nikotinat) ... 15

(10)

3.3 Metode Penelitian ... 17

3.3.1 Rendemen buah pedada ... 18

3.3.2 Pembuatan selai pedada ... 18

3.3.3 Pembuatan sirup pedada ... 19

3.3.4 Uji kesukaan selai dan sirup pedada ... 21

3.3.5 Analisis proksimat ... 21

1) Analisis kadar air (AOAC 2005) ... 21

2) Analisis kadar abu (AOAC 2005) ... 22

3) Analisis kadar protein (AOAC 2005) ... 22

4) Analisis kadar lemak (AOAC 2005) ... 23

5) Perhitungan kadar karbohidrat (Winarno 2008) ... 23

3.3.6 Analisis vitamin ... 24

1) Analisis vitamin A (retinol) (Slamet 1990) ... 24

2) Analisis vitamin B1 (tiamin) (Roche 1991) ... 25

3) Analisis vitamin B2 (riboflavin) (Roche 1991) ... 26

4) Analisis vitamin C (Darryl et al. 1993) ... 27

3.4 Rancangan Percobaan Proksimat dan Vitamin ... 28

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30

4.1 Ukuran dan Berat Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) ... 30

4.2 Rendemen Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) ... 31

4.3 Uji Kesukaan Selai dan Sirup Pedada ... 33

4.3.1 Uji kesukaan selai pedada ... 33

4.3.2 Uji kesukaan sirup pedada ... 35

4.4 Komposisi Kimia Buah, Selai, dan Sirup Pedada ... 37

4.4.1 Kadar air ... 38

4.4.2 Kadar abu ... 39

4.4.3 Kadar lemak ... 40

4.4.4 Kadar protein ... 41

4.4.5 Kadar karbohidrat ... 43

4.5 Kandungan Vitamin Buah, Selai, dan Sirup Pedada ... 44

4.5.1 Vitamin A ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 50

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1 Buah pedada (Sonneratia caseolaris)…....……… 3

2 Diagram alir metode penelitian…....…………...……… 18

3 Diagram alir pembuatan selai pedada…....……… 19

4 Diagram alir pembuatan sirup pedada…....……… 20

5 Daging dan biji buah pedada…....……….….……….... 30

6 Rendemen buah pedada…....………..……… 31

7 Bentuk kelopak buah pedada…...………..……… 32

8 Bentuk kulit buah pedada…....……… 32

9 Bentuk selai pedada…..………..……… 34

10 Histogram nilai rata-rata uji kesukaan selai pedada..……… 34

11 Bentuk sirup pedada…....……… 35

12 Histogram nilai rata-rata uji kesukaan sirup pedada………………… 36

13 Histogram kadar air buah pedada dan hasil olahannya………..……… 38

14 Histogram kadar abu buah pedada dan hasil olahannya…..………..……… 40

15 Histogram kadar lemak buah pedada dan hasil olahannya…..………..……… 41

16 Histogram kadar protein buah pedada dan hasil olahannya…..………..……… 42

17 Histogram kadar karbohidrat buah pedada dan hasil olahannya…..………..……… 44

18 Histogram kadar vitamin A buah pedada dan hasil olahannya…..………..……… 45

19 Histogram kadar vitamin B1 buah pedada dan hasil olahannya…..………..……… 46

20 Histogram kadar vitamin B2 buah pedada dan hasil olahannya…..………..……… 47

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Kandungan gizi beberapa buah-buahan/100 g bahan…….……… 6

2 Syarat mutu selai buah………..……… 9

3 Syarat mutu sirup buah……….……… 11

4 Ukuran dan berat buah pedada (Sonneratia caseolaris)...……… 30

5 Hasil analisis proksimat buah, selai, dan sirup pedada…..……… 37

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Data pengukuran diameter dan berat buah pedada…..………….. 57

2 Lembar penilaian uji kesukaan pada selai dan sirup pedada…... 58

3 Data penilaian kesukaan panelis pada selai pedada…...…..……... 59

4 Data penilaian kesukaan panelis pada sirup pedada..……...… 60

5 Analisis kadar air buah, selai, dan sirup pedada.………...… 61

6 Analisis kadar abu buah, selai, dan sirup pedada.……….… 61

7 Analisis kadar lemak buah, selai, dan sirup pedada.……….…… 62

8 Analisis kadar protein buah, selai, dan sirup pedada.……… 62

9 Analisis kadar karbohidrat buah, selai, dan sirup pedada.…….… 62

10 Grafik uji kenormalan galat proksimat………..……… 63

11 Analisis ragam kadar air buah, selai, dan sirup pedada………… 65

12 Hasil uji Duncan kadar air……….… 65

13 Analisis ragam kadar abu buah, selai, dan sirup pedada………... 65

14 Hasil uji Duncan kadar abu……… 66

15 Analisis ragam kadar lemak buah, selai, dan sirup pedada……... 66

16 Hasil uji Duncan kadar lemak……… 66

17 Analisis ragam kadar protein buah, selai, dan sirup pedada……. 66

18 Hasil uji Duncan kadar protein……….. 67

19 Analisis ragam kadar karbohidrat buah, selai, dan sirup pedada... 67

20 Hasil uji Duncan kadar karbohidrat………... 67

21 Analisis kadar vitamin A buah, selai, dan sirup pedada………… 67

22 Analisis kadar vitamin B1 buah, selai, dan sirup pedada……….. 68

23 Analisis kadar vitamin B2 buah, selai, dan sirup pedada……….. 68

24 Analisis kadar vitamin C buah, selai, dan sirup pedada………… 68

25 Grafik uji kenormalan galat vitamin……….. 69

26 Analisis ragam kadar vitamin A buah, selai, dan sirup pedada.… 71

(14)

28 Analisis ragam kadar vitamin B1 buah, selai, dan sirup pedada... 71

29 Analisis ragam kadar vitamin B2 buah, selai, dan sirup pedada... 71

30 Hasil uji Duncan kadar vitamin B2………... 72

31 Analisis ragam kadar vitamin C buah, selai, dan sirup pedada.... 72

(15)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mangrove merupakan komunitas tanaman yang hidup di habitat payau

yang berfungsi melindungi garis pantai dan menjadi habitat bagi berbagai hewan

perairan. Mangrove termasuk tanaman sejati karena memiliki akar, batang, daun,

dan buah (Nagelkerken et al. 2008). Kebanyakan masyarakat di Indonesia belum mengetahui buah mangrove. Salah satu jenis mangrove yang menghasilkan buah

adalah pedada (Sonneratia caseolaris).

Buah pedada banyak ditemui di daerah perairan payau yang merupakan

tempat bertumbuhnya tanaman mangrove. Buah pedada merupakan buah yang

bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga, berbentuk bola, dan ujung buah

tersebut bertangkai. Buah tersebut tidak beracun dan langsung dapat dimakan.

Buah pedada memiliki rasa yang asam dan aroma yang khas yang menjadi daya

tarik buah tersebut (Santoso et al. 2008).

Rasa yang asam dari buah pedada membuat masyarakat jarang

mengkonsumsi buah tersebut secara langsung. Masyarakat yang tinggal di daerah

pesisir seperti di Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat telah mengolah buah

pedada menjadi lempok atau dodol. Buah pedada tersebut juga memiliki

kandungan gizi yang tinggi, namun pengetahuan akan kandungan gizi tersebut

masih sangat terbatas, sehingga informasi pengolahan buah tersebut masih sedikit.

Menurut Ahmed et al. (2010), buah pedada memiliki kandungan fitokimia seperti steroid, triterpenoid, dan flavonoid. Fitokimia merupakan senyawa yang

ditemukan pada tumbuhan yang berperan aktif bagi pencegahan penyakit. Buah

ini juga sudah dimanfaatkan di beberapa negara sebagai obat tradisonal seperti

obat keseleo dan bengkak.

Buah pedada juga dapat diolah menjadi produk pangan seperti pengolahan

buahan lainnya. Produk pangan yang umum diolah menggunakan

buah-buahan yaitu selai dan sirup. Kedua produk tersebut memiliki proses pengolahan

yang sederhana dan merupakan produk yang sudah dikonsumsi dan diketahui oleh

masyarakat. Rasa asam, aroma yang khas, serta tekstur buah yang lembut

(16)

Menurut Javanmard dan Endan (2010), selai merupakan makanan yang

dapat dibuat dari buah-buahan yang berasa asam. Selai dapat dibuat dari proses

pemanasan campuran bubur buah dan gula. Selai yang dibuat dari buah pedada

belum terdapat di pasaran.

Matute et al. (2010) menyatakan bahwa sirup merupakan produk

tradisional berbentuk cairan kental yang diperoleh dari pemanasan bubur buah.

Sirup yang menggunakan bahan baku buah pedada sudah diproduksi di beberapa

daerah pesisir, namun produksi sirup tersebut masih tingkat industri rumah

tangga.

Buah merupakan bagian penting dari diet dan biasanya dianggap sebagai

makanan yang baik. Mahammad et al. (2010), buah merupakan sumber

vitamin C, asam folat, dan serat, namun pengolahan pada buah dapat

mempengaruhi kandungan gizi yang terdapat di dalamnya, begitu juga dengan

pengolahan buah pedada menjadi selai dan sirup pedada. Salah satu kandungan

gizi yang berpengaruh dengan adanya pengolahan adalah vitamin.

1.2 Tujuan Penelitian

Vitamin sangat

dibutuhkan oleh tubuh walaupun dalam jumlah yang sangat kecil, namun

kelebihan dan kekurangan vitamin dalam tubuh dapat menyebabkan permasalahan

berat sehingga dapat menimbulkan penyakit (Almatsier 2004). Penelitian

mengenai vitamin buah pedada dan hasil olahannya diharapkan dapat menambah

pengetahuan dan menjadi pertimbangan dalam pemilihan makanan yang layak

dikonsumsi.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi

gizi yang terdapat pada buah, selai, dan sirup pedada dan mengetahui kandungan

(17)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi dan Klasifikasi Pedada (Sonneratia caseolaris)

Pedada (Sonneratia caseolaris) merupakan salah satu penyusun hutan bakau yang berada di sepanjang pantai berlumpur yang mempunyai salinitas

rendah dan merupakan wadah berkumpulnya kunang-kunang. Klasifikasi pedada

menurut Tomlinson (1986) diacu dalam Kusmana et al. (2008) adalah sebagai

berikut:

Kingdom : Plantae

Filum : Anthophyta

Kelas : Angiospermae

Ordo : Myrtales

Family : Sonneraticeae

Genus : Sonneratia

Spesies : Sonneratia caseolaris

Bentuk buah pedada dapat dilihat pada Gambar 1, berbentuk bulat, ujung

bertangkai, dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah ini memiliki

diameter antara 6-8 cm dan biji berjumlah antara 800-1200. Chen et al. (2009) tentang dinamika dan struktur hutan mangrove menyatakan bahwa buah pedada

berwarna hijau, dan mempunyai aroma yang sedap. Buah pedada tidak beracun,

asam dan dapat langsung dimakan. Ahmed et al. (2010) menyatakan bahwa

tanaman ini menghasilkan buah yang dikenal dengan buah pedada dan nama

internasionalnya yaitu Crabapplemangrove.

(18)

Menurut Varghese et al. (2010) tentang fitokimia buah pedada, pedada banyak ditemukan di Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, China, India,

Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand,

Vietnam, dan negara lain yang memiliki hutan mangrove. Santoso et al (

2.2 Manfaat Pedada (Sonneratia caseolaris)

2008)

menyatakan bahwa tanaman ini terdapat di pantai utara Pulau Jawa, Cilacap

sampai Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, NTB dan NTT dan Papua.

Regenerasi alami buah ini juga cukup sulit, tetapi dapat dipermudah

dengan regenerasi buatan dengan pengadaan bibit. Tinggi pohon pedada dapat

mencapai 15 m, batang berbentuk silindris dan berwarna cokelat. Akar berbentuk

kabel di bawah tanah dan muncul ke permukaan sebagai akar nafas yang

berbentuk kerucut tumpul dan tinggi mencapai 25 cm (Noor et al. 2006). Bentuk daun bulat telur dengan ujung bulat memanjang dengan ukuran bervariasi yaitu

antara 5-11 x 2-5 cm. Bunga tumbuh di ujung ranting dengan jumlah 1-3 helai

(Santoso et al. 2008).

Pedada merupakan tanaman mangrove sejati yang memiliki antioksidan

dan sitotoksik dan memiliki banyak manfaat. Buah pedada memiliki rasa asam

sehingga sangat disukai oleh hewan pemakan buah antara lain monyet ekor

panjang atau berbagai jenis burung pemakan buah (Noor et al. 2006). Menurut Ghalib et al .(2011), rasa asam yang dimiliki buah pedada muda dapat digunakan untuk cuka.

Kayu dari pohon pedada bisa dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan

sebagai kayu bakar, bahkan masyarakat Sulawesi memanfaatkan kayunya untuk

membuat perahu. Akar nafas dari pohon ini dapat digunakan untuk mengganti

gabus setelah direndam dalam air mendidih (Noor et al. 2006).

Karminarsih (2007) menyatakan bahwa bentuk akar yang dimiliki masing-masing

mangrove berbeda-beda. Bentuk akar dari pedada yaitu akar nafas bisa digunakan

sebagai tutup botol.

Varghese et al. (2010) menyatakan bahwa buah pedada memiliki 24

komponen termasuk delapan steroid, sembilan triterpenoid, dan tiga flavonoid,

dan empat turunan karboksil benzena. Peteros dan Uy (2010) tentang antioksidan

(19)

steroid, flavonoid dan turunan karboksil benzena yang terdapat pada ekstrak

tanaman dan buah berfungsi sebagai anti inflamasi, analgesik, anti oksidan, anti

alergi, anti jamur, anti mikroba, dan lainnya. Triterpenoid juga dapat berfungsi

pada pencegahan dan pengobatan hepatitis. Flavonoid yang terdapat pada ekstrak

tanaman juga dapat digunakan dalam pengobatan rematik.

Bandarayanake (2002) menunjukkan bahwa kulit buah pedada

mengandung tanin yang berfungsi sebagai antioksidan karena kemampuannya

dalam menstabilkan fraksi lipida dan keaktifannya dalam penghambatan

lipoksigenase. Tanin merupakan salah satu senyawa fenol kompleks. Bagian

daging buah pedada mengandung saponin dan steroid yang memiliki aktivitas

sebagai analgesik dan anti inflamasi. Karminarsih (2007) menyatakan bahwa

daun muda dari tanaman tersebut dapat digunakan sebagai lalapan dan ekstrak

buah juga bermanfaat dalam menghambat pendarahan. Minqing et al. (2009)

menyatakan bahwa ekstrak buah pedada secara tradisional sudah digunakan

sebagai antiseptik, mengobati keseleo, dan mencegah pendarahan.

2.3 Kandungan Gizi Buah Pedada

Buah merupakan jenis pangan yang dibutuhkan oleh tubuh karena buah

memiliki kandungan air, karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral.

Kandungan gizi utama dalam buah adalah vitamin dan mineral. Vitamin dan

mineral dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit. Kelebihan dan

kekurangan vitamin dapat menimbulkan penyakit.

Buah pedada juga memiliki kandungan gizi, namun informasi kandungan

gizi pada buah pedada tersebut masih sangat terbatas. Kandungan gizi buah

pedada tidak jauh berbeda seperti kandungan gizi pada buah-buahan yang sudah

dikenal. Buah pedada juga memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat,

vitamin, dan lainnya. Kandungan gizi dari beberapa buah-buahan secara umum

yang dapat menggambarkan kandungan gizi dari buah pedada dapat dilihat pada

(20)

Tabel 1 Kandungan gizi beberapa buah-buahan/100 g bahan

Sumber: Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009)

Tabel 1 menunjukkan bahwa apel, jeruk, dan mangga kweni memiliki

kandungan karoten total yang tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lainnya.

Jambu biji memiliki kandungan vitamin C paling tinggi dibandingkan kandungan

vitamin C buah-buahan lainnya, namun jambu biji memiliki kandungan vitamin

B1 paling rendah. Mangga kweni memiliki kandungan vitamin B1 paling tinggi

dibandingkan buah-buahan lainnya. Sospenda et al. (2011) tentang

mikroorganisme pada jeruk menyatakan bahwa jeruk merupakan sumber vitamin

C, karotenoid, dan antioksidan alami. Asuncao dan Mercadante (2003) tentang

karotenoid dan asam askorbat dari buah apel menyatakan bahwa sayuran dan

buah-buahan merupakan sumber vitamin A yang penting bagi tubuh manusia.

Wu et al. (2009) menyatakan bahwa buah pedada memiliki beberapa

kandungan triterpenoid dan sterol. Batang pedada memiliki kandungan kimia

yaitu triterpenoid dan sterol, namun kandungan kimia buah pedada masih belum

diketahui.

2.3.1 Air

Air adalah pelarut pada reaksi kimia kehidupan. Air merupakan bagian

utama tubuh dan sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup. Air paling

essensial dibandingkan dengan semua nutrisi essensial lain karena tubuh tidak

dapat bertahan lama tanpa air (Almatsier 2004).

Air juga merupakan komponen penting dalam bahan makanan karena air

dapat mempengaruhi penampakan, tekrtur serta cita rasa makanan. Semua bahan

(21)

berupa buah, sayuran, daging, maupun susu telah banyak berperan dalam

memenuhi kebutuhan air manusia. Buah mentah yang menjadi matang selalu

bertambah kandungan airnya (Winarno 2008).

2.3.2 Karbohidrat

Karbohidrat berperan penting bagi manusia karena merupakan sumber

kalori utama yang murah. Jumlah kalori yang dapat dihasilkan oleh 1 gram

karbohidrat hanya 4 kal (kkal) bila dibanding protein dan lemak. Beberapa

golongan karbohidrat menghasilkan serat yang berguna bagi pencernaan

(Winarno 2008). Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan

(Almatsier 2004).

Karbohidrat dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu karbohidrat

sederhana dan karbohidrat kompleks. Karbohidrat sederhana dapat ditemui dalam

produk pangan seperti madu, buah-buahan, dan susu. Karbohidrat sederhana yaitu

glukosa, fruktosa, dan laktosa. Karbohidrat kompleks dapat ditemui dalam

produk pangan seperti nasi, kentang, jagung, roti, dan lainnya. Karbohidrat

kompleks yaitu pati, glikogen, selulosa, dan serat (Irawan 2007).

2.3.3 Protein

Protein merupakan molekul makro yang terdiri atas rantai-rantai panjang

asam amino yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Asam amino terdiri

atas unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Unsur nitrogen adalah

unsur utama protein karena terdapat di dalam semua protein dan merupakan 16 %

dari berat protein. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat diganti oleh

zat gizi lain yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh

(Almatsier 2004).

Bahan makanan sebagai sumber energi akan mengandung protein atau

asam amino yang tinggi, tetapi tidak semua bahan makanan tersebut dapat

seluruhnya dimanfaatkan oleh tubuh, tergantung dari kualitas proteinnya. Protein

yang berasal dari hewan memiliki semua asam amino esensial, sedangkan sumber

(22)

2.3.4 Lemak

Lemak merupakan senyawa kimia yang terdiri atas unsur-unsur karbon,

hidrogen, dan oksigen. Lemak merupakan simpanan energi paling utama di

dalam tubuh. Lemak larut dalam pelarut nonpolar, seperti etanol, eter, kloroform,

dan benzena (Almatsier 2004).

Lemak, khususnya minyak nabati, mengandung asam lemak esensial

seperti asam linoleat, linolenat, dan arakidonat yang dapat mencegah penyempitan

pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol. Lemak juga berfungsi sebagai

sumber dan pelarut bagi vitamin A, D, E, dan K. Lemak terdapat pada hampir

semua bahan pangan dengan kandungan yang berbeda-beda (Winarno 2008).

2.3.5 Mineral

Kadar abu merupakan komponen yang berisi organik mineral yang

tertinggal setelah bahan dibakar hingga bebas dari karbon. Komponen ini tidak

mudah menguap pada proses pembakaran senyawa organik (Apriani et al. 2011). Sebagian besar bahan makanan terdiri dari bahan organik dan air dan sisanya

terdiri dari unsur-unsur mineral. Mineral dikenal sebagai zat organik atau kadar

abu. Bahan-bahan organik terbakar dalam proses pembakaran tetapi zat

anorganiknya tidak terbakar, karena itulah disebut abu (Winarno 2008).

Mineral digolongkan ke dalam mineral makro dan mineral mikro. Mineral

makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg

sehari, sedangkan mineral mikro dibutuhkan kurang dari 100 mg sehari

(Almatsier 2004). Mineral makro terdiri dari natrium, klor, kalsium, fosfor,

magnesium, dan belerang. Mineral mikro terdiri dari besi, iodium, mangan,

tembaga, zink, kobalt, dan fluor (Winarno 2008).

2.4 Produk Pengolahan Buah

Buah-buahan merupakan bahan pangan sumber vitamin yang dapat

dikonsumsi secara langsung atau diolah menjadi produk pangan. Menurut

Helmiyesi et al. (2008), buah yang dikonsumsi secara langsung masih memiliki kandungan vitamin yang tinggi dibandingkan setelah mengalami proses

pengolahan. Buah-buahan yang belum mengalami pengolahan sangat cepat

(23)

buah menjadi sebuah produk pangan seperti manisan, asinan, keripik, dodol,

bahkan dapat diolah menjadi selai dan sirup. Selai dan sirup merupakan produk

pengolahan yang cukup sederhana. Kedua produk tersebut diperoleh melalui

pemasakan dan penambahan bahan lain seperti gula.

2.4.1 Selai

Selai merupakan produk pangan yang biasanya dikonsumsi bersamaan

dengan roti. Javanmard dan Endan (2010) menyatakan bahwa selai merupakan

makanan yang dapat dibuat secara sederhana yaitu dari buah-buahan yang berasa

asam. Pembuatan selai dipengaruhi oleh berbagai parameter seperti jenis buah,

suhu, dan teknologi proses. Menurut Yuliani (2011), selai berbentuk semipadat

dan terbuat dari campuran 45 bagian berat buah-buahan dan 55 berat gula.

Syahrumsyah et al. (2010) menyatakan bahwa selai dibuat dengan

menggunakan buah-buahan atau sari buah yang sudah dihancurkan, ditambah

gula, dan dimasak sampai mengental. Penambahan gula sangat penting untuk

memperoleh tekstur, penampakan, dan rasa yang baik. Selai tidak dikonsumsi

langsung, melainkan digunakan sebagai pelengkap pada roti tawar atau sebagai

bahan pengisi pada roti manis. Menurut Yenrina et al. (2009), selai yang bermutu baik memiliki sifat tertentu, diantaranya adalah konsisten, warna cemerlang,

tekstur lembut, flavor buah alami, tidak mengalami sineresis yaitu keluarnya air

dari gel sehingga kekentalan selai berkurang, dan kristalisasi selama

penyimpanan. Syarat mutu selai buah dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Syarat mutu selai buah

Syarat mutu Standard

Kadar air maksimum

Yuliani (2011) menyatakan bahwa struktur khusus dari produk selai

(24)

golongan substansi yang terdapat dalam sari buah yang membentuk koloidal

dalam air dan berasal dari protopektin selama proses pematangan buah.

Pektin pada bahan pangan berguna untuk pembentukan gel yang tidak

merata dan tidak larut dalam media. Pektin terkandung dalam semua jenis buah

dalam jumlah bervariasi, dalam bentuk protopektin, pektin, dan asam pektat.

Buah yang belum matang banyak mengandung pektin dalam bentuk protopektin,

sedangkan buah matang banyak mengandung soluble pektin yang banyak

dimanfaatkan dalam pembuatan selai. Buah yang terlalu matang ataupun akibat

pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan perubahan pektin menjadi asam

pektat (Winarno 2008).

Selai dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat menentukan mutu akhir

produk seperti jenis buah, proses, warna, aroma, cita rasa, dan kadar gula.

Pembuatan selai dilakukan dengan pemasakan yang menggunakan suhu tinggi.

Javanmard dan Endan (2010) menyatakan bahwa suhu

2.4.2 Sirup

memiliki pengaruh

terhadap produk akhir selai. Semakin tinggi suhu maka viskositas selai akan

menurun.

Sirup adalah sejenis minuman ringan berupa larutan kental dengan cita

rasa beraneka ragam (Satuhu 2004). Sirup dapat dibuat dari berbagai jenis buah

yang diperoleh dari sari buah yang digunakan. Sari buah merupakan cairan yang

dihasilkan dari pemerasan atau penghancuran buah segar yang telah masak. Ada

dua jenis sari buah yaitu sari buah encer (dapat langsung diminum) dan sari buah

pekat atau sirup. Sari buah encer diperoleh dari pengepresan daging buah,

dilanjutkan dengan penambahan air dan gula pasir. Sari buah pekat atau sirup

dihasilkan dari pengepresan daging buah dan dilanjutkan dengan proses

pemekatan, baik dengan pendidihan biasa maupun dengan penguapan dengan

hampa udara dan lain-lain. Sirup ini tidak dapat langsung diminum tetapi harus

ditambahkan air terlebih dahulu hingga berbentuk encer (Margono et al. 2010). Sirup dapat dibedakan berdasarkan bahan utama yang dipakai dalam

pembuatannya menjadi sirup essens, sirup glukosa, dan sirup buah-buahan. Rasa,

warna, dan aroma dari sirup buah-buahan ditentukan oleh bahan dasarnya yakni

(25)

mangga, sirsak, markisa, nangka, jeruk dan lainnya. Sirup buah dapat tahan

selama ±3 bulan (Margono et al. 2010). Syarat mutu sirup dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Syarat mutu sirup buah

Syarat mutu Standard

Aroma

Menurut Matute et al. (2010), buah yang digunakan dalam pembuatan

sirup buah harus memenuhi mutu baik secara fisik maupun tingkat kematangan.

Buah tersebut harus matang, utuh, dan tidak memar. Tahap-tahap pengolahan

sirup buah meliputi pemilihan dan penentuan kematangan buah, pencucian,

pengupasan, pengecilan ukuran, penyaringan, dan pencampuran.

Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran, noda, debu,

dan kotoran lain yang tidak dikehendaki. Pengupasan bertujuan untuk

menghilangkan bagian bahan yang tidak dikehendaki maupun bahan yang tidak

berguna atau tidak dapat dimakan. Pengecilan ukuran bertujuan untuk

memecahkan potongan besar bahan menjadi potongan-potongan kecil yang sesuai

untuk pengolahan lebih lanjut. Penyaringan bertujuan untuk memisahkan

partikel-partikel padat tidak larut yang masih terdapat pada hasil ekstraksi

(Margono et al. 2010).

2.5 Vitamin

Vitamin adalah komponen tambahan makanan yang berperan sangat

penting dalam gizi manusia. Banyak vitamin tidak stabil pada kondisi

pemrosesan tertentu dan penyimpanan, karena itu kandungan vitamin dalam

makanan yang diproses dapat sangat menurun.

Vitamin merupakan zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam

jumlah yang sangat kecil. Vitamin berfungsi sebagai bagian dari koenzim, tanpa

(26)

vitamin yang difosforilasi dan berperan dalam metabolisme lemak, protein, dan

karbohidrat (Winarno 2008).

Vitamin berperan sebagai zat pengatur yang dikelompokkan menjadi dua,

yaitu vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K) dan vitamin yang

larut dalam air (vitamin B1, B2, B3, B4, B5, B6, B12, asam folat, biotin, dan

vitamin C) (Almatsier 2004).

2.5.1 Vitamin larut lemak

Setiap vitamin larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E, dan K memiliki

peran tertentu di dalam tubuh. Vitamin larut lemak diangkut ke hati melalui

sistem limfa sebagai bagian dari lipoprotein, disimpan di berbagai jaringan tubuh

dan biasanya tidak dikeluarkan melalui urin. Vitamin larut lemak memiliki sifat

umum yaitu dapat larut dalam lemak dan pelarut lemak, diperlukan dalam jumlah

kecil melalui empedu (Almatsier 2004).

Vitamin ini tidak selalu diharapkan ada dalam makanan sehari-hari.

Kelebihan konsumsi vitamin larut lemak dari yang dibutuhkan akan disimpan

dalam tubuh. Vitamin ini mempunyai prekursor atau provitamin dan hanya

dibutuhkan oleh organisme kompleks. Provitamin atau prekursor merupakan

senyawa yang bukan vitamin tetapi dapat diubah oleh tubuh menjadi vitamin.

Vitamin larut lemak ditemukan terutama dalam makanan berlemak seperti hati,

mentega, kuning telur, dan lain-lain (Winarno 2008).

1) Vitamin A

Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan.

Vitamin A merupakan nama generik yang menyatakan semua retinoid dan

prekursor/provitamin A/karotenoid yang mempunyai aktivitas biologik sebagai

retinol. Vitamin A adalah suatu kristal alkohol berwarna kuning dan larut dalam

lemak atau pelarut lemak. Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, susu dan

mentega. Sumber karoten adalah sayuran berwarna hijau tua serta sayuran dan

buah-buahan yang berwarna kuning-jingga, seperti daun singkong, daun kacang,

kangkung, wortel, tomat, jagung kuning, papaya, mangga, dan lain-lain

(Almatsier 2004).

Kelebihan vitamin A dalam tubuh dapat disimpan dalam hati. Vitamin A

(27)

pertumbuhan. Vitamin A berperan menjaga agar kornea mata selalu sehat

(Winarno 2008).

2) Vitamin D

Vitamin D merupakan vitamin larut lemak dan berguna untuk pencegahan

penyakit riket (tulang lunak dan mudah bengkok). Vitamin D dapat diproduksi

dalam tubuh yang diaktifkan oleh sinar matahari, tetapi juga disuplai melalui diet

(Devi 2010). Makanan hewani merupakan sumber utama vitamin D yaitu kuning

telur, hati, krim, mentega dan minyak hati-ikan. Vitamin D relatif stabil dan

tidak rusak bila makanan dipanaskan atau disimpan untuk jangka waktu lama

(Almatsier 2004).

3) Vitamin E

Vitamin E merupakan salah satu vitamin larut lemak. Beltran et al. (2010) dalam penelitiannya tentang vitamin E pada minyak zaitun menyatakan bahwa

vitamin E adalah nama generik yang digunakan untuk kelompok tanaman larut

lemak termasuk tocopherol dan tocotrienol. Tocopherol melindungi lemak dari

autooksidasi. Tocopherol merupakan bentuk paling umum dari vitamin E yang

terdapat dalam darah manusia dan jaringan tubuh.

Vitamin E bekerja secara baik di bagian tubuh yang banyak mengandung

lemak, seperti pada sistem kekebalan tubuh. Vitamin E banyak terdapat pada

tanaman dan hewan. Sayuran dan minyak biji-bijian merupakan sumber vitamin

E terbanyak. Sumber vitamin E pada hewan terdapat dalam kuning telur,

mentega, dan hati dan pada tanaman terdapat dalam kacang-kacangan, sayuran

berwarna hijau, minyak kelapa sawit, minyak kedelai, dan minyak jagung

(Devi 2010).

4) Vitamin K

Vitamin K merupakan vitamin larut lemak dan penting dalam pembekuan

darah. Menurut Dismore et al. (2003) dalam penelitiannya tentang vitamin K pada kacang dan buah, vitamin K merupakan kofaktor penting untuk konversi dari

asam glutamat. Vitamin ini stabil terhadap panas dan oksidasi, tetapi rusak oleh

cahaya, asam, alkali, oxidizing agents, dan alkohol (Devi 2010).

Vitamin K merupakan kelompok senyawa yang terdiri atas filokinon yang

(28)

ikan dan daging. Vitamin K berfungsi dalam pembekuan darah. Sumber utama

vitamin K adalah hati, sayuran daun berwarna hijau, kacang buncis, kacang

polong, kol dan brokoli. Semakin hijau daun-daunan semakin tinggi kandungan

vitamin K-nya (Almatsier 2004).

2.5.2 Vitamin larut air

Vitamin larut air dikelompokkan menjadi vitamin C dan vitamin

B-kompleks. Vitamin ini banyak terdapat dalam buah-buahan dan sayur-sayuran,

biji-bijian utuh dan kacang-kacangan, serta daging tanpa lemak, sedangkan susu

mengandung kedua kelompok vitamin tersebut. Vitamin B-kompleks terdiri atas

beberapa faktor yang saling berkaitan fungsinya di dalam tubuh (Winarno 2008).

Vitamin larut air tidak mempunyai prekursor. Kelebihan kebutuhan dari

vitamin jenis ini disimpan sedikit. Vitamin ini juga harus selalu ada dalam

makanan sehari-hari dan dibutuhkan oleh organisme sederhana dan kompleks

(Almatsier 2004).

1) Vitamin C

Vitamin C merupakan vitamin yang paling sering digunakan sebagai

suplemen. Vitamin C memiliki fungsi yang tidak kecil bagi kesehatan tubuh.

Massot et al. (2010) dalam penelitiannya tentang vitamin C pada tomat

menyatakan bahwa vitamin C merupakan sumber antioksidan bagi tubuh.

Vitamin C diketahui berperan penting dalam mencegah penyakit scurvy yaitu

penyakit yang menyebabkan pucat, rasa lelah, dan pendarahan gusi.

Vitamin C umumnya hanya terdapat di dalam pangan nabati yaitu sayur

dan buah terutama buah yang asam. Vitamin C adalah vitamin yang paling tidak

stabil dari semua vitamin, mudah rusak karena bersentuhan dengan udara

(oksidasi) terutama bila terkena panas. Vitamin C mudah rusak selama

pemrosesan dan penyimpanan (Almatsier 2004).

2) Vitamin B1 (tiamin)

Vitamin B1 atau tiamin merupakan kristal putih kekuningan yang larut

dalam air. Tiamin cukup stabil dalam keadaan kering dan hanya tahan panas bila

berada dalam keadaan asam dan larut. Tiamin juga mudah rusak oleh panas atau

oksidasi dalam suasana alkali. Kehilangan tiamin oleh pemasakan bergantung

(29)

Sumber utama tiamin di dalam makanan adalah serealia tumbuk atau

setengah giling, hati, jantung, dan ginjal hewan dan kacang-kacangan

(Winarno 2008). Tiamin dalam tubuh dapat membantu meningkatkan nafsu

makan, meningkatkan fungsi pencernaan, dan memelihara saraf agar sehat

(Parnata dan Artianingsih 2010).

3) Vitamin B2 (riboflavin)

Vitamin B2 atau riboflavin adalah kristal kuning yang larut air, tahan

panas, oksidasi dan asam, tetapi tidak tahan alkali dan cahaya. Vitamin B2

disebut riboflavin karena strukturnya mirip dengan gula ribosa dan juga karena

ada hubungan dengan kelompok flavin (Winarno 2008). Riboflavin terdapat di

dalam makanan hewani dan nabati yaitu di dalam susu, keju, hati, daging, dan

sayuran berwarna hijau. Penggunaan serealia tumbuk atau hasil-hasil serealia

yang diperkaya akan meningkatkan konsumsi riboflavin (Almatsier 2004).

4) Vitamin B3 (niasin atau asam nikotinat)

Vitamin B3 (niasin) adalah tahan terhadap suhu tinggi, cahaya, asam,

alkali, dan oksidasi. Niasin tidak rusak oleh pengolahan dan pemasakan normal

(Almatsier 2004). Niasin berperan dalam reaksi enzimatik dalam tubuh atau

metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Niasin sangat diperlukan agar

suplai energi dalam jaringan tubuh berjalan normal (Winarno 2008).

5) Biotin

Biotin adalah suatu asam monokarboksilat. Biotin berfungsi sebagai

koenzim pada reaksi-reaksi yang menyangkut penambahan atau pengeluaran

karbondioksida kepada atau dari senyawa aktif. Biotin berperan dalam proses

deaminasi asam amino dan sintesis lemak (Parnata dan Artianingsih 2010). Biotin

tahan panas, larut air, dan alkohol serta mudah dioksidasi (Almatsier 2004).

6) Vitamin B5 (asam pantotenat)

Vitamin B5 atau asam pantotenat berupa cairan berwarna kuning dan

kental sebagai minyak. Asam pantotenat mudah larut dalam air, etil asetat, asam

asetat glasial, serta sedikit larut dalam eter dan amil alkohol, tetapi tidak larut

dalam benzene dan kloroform (Sumardjo 2009). Asam pantotenat secara

komersial ditemukan dalam bentuk garam kalsium, larut dalam air, agak manis,

(30)

Peranan utama asam pantotenat adalah sebagai bagian koenzim A, yang

diperlukan dalam berbagai reaksi metabolisme sel. Asam pantotenat terdapat di

dalam semua jaringan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Sumber paling baik adalah

hati, ginjal, kuning telur, khamir, daging, ikan, unggas, serealia utuh, dan

kacang-kacangan (Almatsier 2004).

7) Vitamin B6 (piridoksin)

Vitamin B6 atau piridoksin merupakan kristal putih tidak berbau, larut air

dan alkohol, tahan panas dalam keadaan asam, tidak begitu stabil dalam larutan

alkali dan tidak tahan cahaya (Almatsier 2004). Menurut Lebiedzinska dan

Szefer (2006) tentang vitamin B pada makanan sereal dan kedelai, sumber

piridoksin yang baik terdapat dalam kedelai. Kekurangan piridoksin dapat

menyebabkan penyakit arteri koroner. Piridoksin efektif dalam pengurangan

kadar homosistein plasma darah.

8) Asam folat

Asam folat berperan sebagai koenzim dalam transportasi pecahan-pecahan

karbon tunggal dalam metabolisme asam amino dan sintesis asam nukleat. Folat

terdapat di dalam bahan makanan terutama dalam bentuk poliglutamat. Folat

terutama terdapat di dalam sayuran hijau, hati, daging tanpa lemak, serealia utuh,

biji-bijian, kacang-kacangan dan jeruk (Almatsier 2004).

Asam folat sedikit larut dalam air, mudah dioksidasi dalam larutan asam,

dan peka terhadap sinar matahari. Asam folat banyak yang hilang dalam

larutannya bila disimpan dalam suhu kamar dan pemasakan yang normal

(Winarno 2008).

9) Vitamin B12 (kobalamin)

Vitamin B12 (kobalamin) secara perlahan rusak oleh asam encer, alkali,

cahaya, dan bahan pengoksidasi dan pereduksi (Almatsier 2004). Sumber vitamin

B12 tersdapat pada hasil ternak terutama hati. Hasil nabati bukan merupakan

sumber vitamin B12. Kekurangan vitamin B12 biasanya disebabkan oleh kurang

baiknya penyerapan dan jarang karena kekurangan dalam makanan yang

(31)

3 METODE

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juli 2011 dengan

menggunakan sampel yaitu buah pedada (Sonneratia caseolaris) dari Muara

Gembong, Bekasi, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium

Karakteristik Bahan Baku Hasil Perairan untuk proses preparasi sampel,

Laboratorium Preservasi dan Pengolahan untuk pembuatan selai dan sirup

pedada, Laboratorium Biokimia Hasil Perairan Departemen Teknologi Hasil

Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dan Laboratorium Pusat Antar

Universitas (PAU) Institut Pertanian Bogor untuk analisis proksimat buah, selai

dan sirup pedada. Analisis vitamin dilakukan di Laboratorium Makanan, Pusat

Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Bogor.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari bahan utama

yaitu buah pedada (Sonneratia caseolaris), bahan untuk pembuatan selai dan sirup

pedada yaitu gula dan air, dan bahan untuk analisis proksimat seperti akuades,

HCl 0,1 N, H2SO4, H3BO3 3%, NaOH, dan pelarut heksana. Bahan yang

digunakan untuk analisis vitamin adalah KOH, asam askorbat, etanol, akuabides,

acetonitril, Al2O2

3.3 Metode Penelitian

, asam asetat 2%, metanol, larutan dye, dan asam oksalat.

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah cawan porselen,

desikator, oven, gegep, tabung Kjeldahl, timbangan analitik, alat pemanas,

erlenmeyer, kertas saring, aluminium foil, selongsong lemak, tabung soxhlet, pemanas listrik, corong bucher, mortar, labu ukur, Ultrasonic water bath, HPLC tipe LC. 10ADVP, pipet volumetri, dan sentrifuse.

Penelitian terdiri dari lima tahap yaitu perhitungan rendemen buah pedada;

pembuatan selai dan sirup pedada; uji kesukaan selai dan sirup pedada; analisis

proksimat buah, selai, dan sirup pedada; dan analisis vitamin buah, selai dan sirup

(32)

Gambar 2 Diagram alir metode penelitian

Keterangan: = input/output = proses

3.3.1 Rendemen buah pedada

Tahapan awal pada penelitian ini yaitu perhitungan rendemen buah

pedada. Metode yang digunakan untuk perhitungan rendemen buah pedada

berdasarkan persentase bobot bagian buah dari bobot buah utuh. Perumusan

matematika rendemen adalah sebagai berikut :

Rendemen (%) = x 100%

3.3.2 Pembuatan selai pedada

Pembuatan selai pedada dilakukan berdasarkan pembuatan selai buah

menurut BSN (2008), namun terlebih dahulu dilakukan penelitian pendahuluan

untuk menentukan suhu, waktu, dan banyaknya gula yang digunakan. Pembuatan

selai pedada diawali dengan dilakukan preparasi terhadap buah pedada yang

digunakan. Buah tersebut dipisahkan antara daging serta biji, kelopak, dan kulit.

Hasil preparasi berupa daging dan biji dicampurkan dengan air secukupnya Buah pedada

Pemisahan daging serta biji, kulit dan kelopak

Perhitungan rendemen

Pembuatan selai dan sirup pedada Daging serta biji

kulit kelopak

Uji kesukaan

• Uji proksimat

• Uji vitamin

• Selai pedada

(33)

supaya mudah pada penghalusan dengan blender. Campuran yang telah halus

disaring dengan saringan dan diperoleh hasil saringan berupa bubur buah dan

ampas. Bubur buah hasil saringan tersebut digunakan pada pembuatan selai

pedada dan ampasnya dibuang.

Bubur buah ditambahkan gula dengan perbandingan 1:2,5. Perbandingan

yang digunakan merupakan hasil trial and error pada penelitian pendahuluan. Penambahan gula kurang dari 2,5 bobot bubur buah membuat selai yang

dihasilkan masih sangat asam dan kurang manis, sedangkan penambahan gula

melebihi 2,5 dari bobot bubur buah menimbulkan rasa pahit pada selai yang

dihasilkan. Campuran bubur buah dan gula dipanaskan dengan suhu 1050

3.3.3 Pembuatan sirup pedada

C

selama ±1,5 jam. Campuran tersebut diaduk terus menerus hingga menyusut

(airnya menguap) dan mengental. Campuran yang telah menjadi selai pedada

setelah proses pemanasan selesai langsung dipindahkan ke wadah steril.

Pemindahan langsung selai bertujuan agar selai tidak mengeras. Diagram alir

pembuatan selai pedada disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3 Diagram alir pembuatan selai pedada

Pembuatan sirup pedada dilakukan berdasarkan pembuatan sirup buah

menurut BSN (1998), namun terlebih dahulu dilakukan penelitian pendahuluan

Buah pedada

Dicampurkan dengan air secukupnya

dihaluskan

disaring

ditambah gula 1:2,5 Bubur buah

Dipanaskan 1050C selama ±1,5 jam

Dipindahkan ke wadah steril

(34)

untuk menentukan suhu, waktu, dan banyaknya gula dan air yang digunakan.

Pembuatan sirup pedada diawali dengan dilakukan preparasi terhadap buah

pedada yang digunakan. Buah tersebut dipisahkan antara daging serta biji,

kelopak, dan kulit. Hasil preparasi berupa daging dan biji dicampurkan dengan

air secukupnya supaya mudah pada penghalusan dengan blender. Campuran yang

telah halus disaring dengan saringan dan diperoleh hasil saringan berupa bubur

buah dan ampas. Bubur buah hasil saringan tersebut digunakan pada pembuatan

sirup pedada dan ampasnya dibuang.

Bubur buah ditambahkan gula dan air dengan perbandingan 1:1:1.

Perbandingan yang digunakan merupakan hasil trial and error pada penelitian pendahuluan. Penambahan gula dan air melebihi bobot bubur buah menimbulkan

rasa yang terlalu manis bahkan pahit dan bentuk sirup yang dihasilkan sangat

encer. Campuran tersebut dipanaskan dengan suhu 1020

Gambar 4 Diagram alir pembuatan sirup pedada

C selama ±15 menit dan

diaduk terus menerus hingga bentuk campuran tersebut mengental. Campuran

yang telah menjadi sirup pedada setelah proses pemanasan selesai langsung

dipindahkan ke wadah steril. Diagram alir pembuatan sirup pedada disajikan pada

Gambar 4.

Buah pedada

Dicampurkan dengan air secukupnya

dihaluskan

disaring

ditambah gula dan air 1:1:1

Bubur buah

Dipanaskan 1020C selama ±15 menit

Dipindahkan ke wadah steril

(35)

3.3.4 Uji kesukaan selai dan sirup pedada

Selai dan sirup pedada belum banyak di pasaran dan termasuk ke dalam

produk baru. Selai dan sirup pedada yang dihasilkan pada penelitian ini dilakukan

uji kesukaan untuk mengetahui respon konsumen terhadap suatu produk baru. Uji

kesukaan yang dilakukan menggunakan panelis tidak terlatih berjumlah 44 orang

yang terdiri atas bapak-bapak, ibu-ibu, dan mahasiswa yang pernah dan sering

mengkonsumsi selai dan sirup buah.

Parameter yang diamati pada selai dan sirup pedada agak berbeda.

Parameter yang diamati keduanya yaitu warna, rasa, aroma, dan penampakan dan

parameter lainnya yang berbeda yaitu tekstur pada selai dan kekentalan pada

sirup. Nilai yang harus diberikan panelis pada produk yang diamati yaitu sangat

tidak suka bernilai 3, tidak suka 4, agak tidak suka 5, netral 6, agak suka 7, suka 8,

dan sangat suka 9 (Hui 2006). Data yang didapat dihitung nilai rata-rata tiap

parameter sehingga diketahui parameter yang lebih disukai dan kurang disukai

oleh panelis/konsumen pada selai atau sirup pedada..

3.3.5 Analisis proksimat

Analisis proksimat merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk

mengetahui komposisi kimia yang ada pada suatu bahan. Analisis proksimat

meliputi: analisis kadar air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat (by difference).

1) Analisis kadar air (AOAC 2005)

Prinsip dari analisis kadar air yaitu mengetahui kandungan atau jumlah air

yang terdapat pada suatu bahan dengan menguapkan air yang terdapat dalam

bahan. Tahapan pertama yang dilakukan pada analisis kadar air adalah cawan

porselen kosong dikeringkan dalam oven pada suhu 1050C selama 30 menit.

Cawan tersebut didinginkan dalam desikator selama ±15 menit dan kemudian

cawan tersebut diambil dengan penjepit dan ditimbang. Tahap selanjutnya, cawan

tersebut diisi sampel yang telah dihaluskan sebanyak ±5 gram. Cawan yang telah

diisi sampel tersebut dikeringkan pada oven dengan suhu 1050

% kadar air = x 100%

C selama 5-6 jam.

Cawan tersebut kemudian didinginkan dalam desikator dan dibiarkan sampai

(36)

Keterangan: A = berat cawan kosong (gram)

B = berat cawan yang diisi dengan sampel (gram)

C = berat cawan dengan sampel yang sudah dikeringkan (gram)

2) Analisis kadar abu (AOAC 2005)

Prinsip dari analisis kadar abu yaitu untuk mengetahui jumlah abu yang

terdapat pada suatu bahan terkait dengan mineral dari bahan yang dianalisis.

Tahapan analisis kadar abu yaitu cawan porselen kosong dikeringkan dalam oven

pada suhu 1050C selama 30 menit. Cawan tersebut didinginkan dalam desikator

selama ±15 menit dan kemudian cawan tersebut diambil dengan penjepit dan

ditimbang. Tahap selanjutnya, cawan tersebut diisi sampel yang telah dihaluskan

sebanyak ±5 gram. Cawan tersebut dibakar di atas kompor listrik sampai tidak

berasap dan dimasukkan ke dalam tanur pengabuan dengan suhu 6000

% kadar abu = x 100%

Keterangan: A = berat cawan kosong (gram)

B = berat cawan dengan sampel (gram)

C = berat cawan dengan sampel setelah dikeringkan (gram)

C selama

6-8 jam. Cawan tersebut didinginkan dalam desikator selama ±30 menit dan

kemudian ditimbang. Perhitungan kadar abu adalah:

3) Analisis kadar protein (AOAC 2005)

Prinsip dari analisis protein yaitu untuk mengetahui kandungan protein

kasar (crude protein) pada suatu bahan dengan berdasarkan pada penentuan

kandungan nitrogen yang terdapat dalam bahan. Tahapan yang dilakukan dalam

analisis protein terdiri dari tiga tahap, yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi.

a) Tahap destruksi

Sampel ditimbang seberat 1 gram kemudian dimasukkan ke dalam tabung

kjeldahl. Setengah butir kjeltab dan 15 ml H2SO4 ditambahkan ke dalam tabung

tersebut dan didiamkan 10 menit di ruang asam. Sampel didestruksi pada suhu

4000

b) Tahap destilasi

C selama ±2 jam hingga larutan menjadi hijau bening.

Labu kjeldahl dicuci dengan akuades 50-75 ml, kemudian dimasukkan ke

dalam alat destilasi. Hasil destilasi ditampung dalam erlenmeyer 125 ml yang

berisi 25 ml asam borat (H3BO3) 4%. Destilasi dilakukan dengan menambahkan

(37)

c) Tahap titrasi

Titrasi dilakukan dengan menggunakan HCl 0,1 N sampai terjadi

perubahan warna menjadi warna merah muda. Perhitungan kadar protein adalah:

% nitrogen x 100%

% kadar protein = % nitrogen x faktor konversi (6,25)

Keterangan: fp = faktor pengenceran

4) Analisis kadar lemak (AOAC 2005)

Prinsip dari analisis kadar lemak yaitu melarutkan lemak yang terdapat

dalam bahan dengan pelarut lemak (eter). Sampel yang telah dihaluskan

dimasukkan dalam kertas saring dan ditimbang sebanyak ±4 gram (W1). Kertas

saring yang berisi sampel tersebut diletakkan dalam alat ekstrasi soxhlet,

kemudian alat kondensor dipasang di atasnya dan labu lemak yang telah

ditimbang beratnya (W2) di bawahnya. Pelarut lemak kemudian dituangkan ke

dalam labu lemak secukupnya dan refluks dilakukan selama minimum 5 jam

sampai pelarut yang turun kembali ke labu lemak berwarna jernih. Pelarut yang

ada dalam labu lemak didestilasi dan ditampung pelarutnya. Labu lemak yang

berisi lemak hasil ekstraksi selanjutnya dipanaskan dalam oven pada suhu 1050

% kadar lemak = x 100 %

Keterangan: W1 = bobot buah pedada (g)

W2 = bobot labu lemak kosong (g)

W3 = bobot labu lemak dengan lemak hasil ekstraksi (g)

C.

Labu lemak kemudian dikeringkan sampai berat tetap dan didinginkan dalam

desikator, dan ditimbang beserta lemak tersebut sehingga berat lemak dapat

dihitung (W3). Perhitungan kadar lemak adalah:

5) Perhitungan kadar karbohidrat (Winarno 2008)

Perhitungan kadar karbohidrat dihitung dengan metode by difference yaitu hasil pengurangan dari 100% dengan kadar air, kadar abu, kadar protein, dan

kadar lemak, sehingga karbohidrat tergantung pada faktor pengurangnya.

Pengurangan dilakukan karena karbohidrat sangat berpengaruh kepada zat gizi

(38)

% karbohidrat = 100% - (% air + % abu + % protein + % lemak)

3.3.6 Analisis vitamin

Analisis vitamin yang dilakukan pada buah, selai, dan sirup pedada

meliputi analisis vitamin A,vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C.

1) Analisis vitamin A (retinol) (Slamet 1990)

Analisis vitamin A yang digunakan memiliki prinsip, yaitu sampel

disaponifikasi dengan KOH dalam larutan etanol dengan penambahan antioksidan

kemudian diekstraksi dengan acetonitril. Hasil ekstraksi tersebut dianalisa

menggunakan HPLC.

a) Pembuatan reagen A

Pembuatan reagen A diawali dengan 90 g KOH dilarutkan dengan akuades

secukupnya, dan didinginkan. Asam askorbat 7,5 mg kemudian dilarutkan dengan

akuades secukupnya. Kedua larutan dicampurkan di dalam beaker glass dan diencerkan sampai 250 ml dengan akuades dan disimpan dalam botol gelap.

b) Penyiapan larutan standar

Vitamin A ditimbang dengan teliti 25,0±1,0 mg dan dimasukkan ke dalam

labu ukur 50 ml. Etanol 25 ml kemudian ditambahkan dan diultrasonik sampai

larut. Reagen A 15 ml ditambahkan dan diaduk hingga homogen, dibilas dengan

sedikit akuabides dan disimpan semalam di ruang gelap. Larutan tersebut

esoknya ditera dengan akuabides dan dikocok. Larutan tersebut dinamakan

larutan standar induk (konsentrasi 500 ppm). Larutan standar induk tersebut

masing-masing dipipet sebanyak 0 ; 1 ; 2 ; 3 ; 4 ; 5 ml dan dimasukkan ke dalam

labu ukur 25 ml (larutan standar kerja dengan konsentrasi 0 ; 20 ; 40 ; 60 ; 80 ;

100 ppm), diencerkan dengan acetonitril kemudian shaker dengan ultrasonik

selama 40 menit, lalu ditera dengan acetonitril dan dikocok. Larutan tersebut

dilewatkan ke dalam kolom berisi glass wool dan Al2O3

c) Pembuatan larutan contoh

. Filtrat siap diinjeksikan

ke HPLC.

Contoh ditimbang 0,5 g dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml dan

ditambahkan 25 ml etanol, ultrasonik sampai larut. Reagen A 1,5 ml

(39)

sampai tidak ada sampel yang menempel di dinding, labu ditutup dengan

aluminium foil dan disimpan semalam di ruang gelap. Larutan yang telah

disimpan semalam ditera dengan akuabides dan dikocok, dan setelah dikocok,

disaring dengan kertas saring Whatman no. 41. Filtrat kemudian dipipet 5 ml dan

dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml, lalu diencerkan dengan acetonitril, dan

dikocok dengan ultrasonic bath selama 40 menit. Larutan tersebut kemudian ditera dengan acetonitril dan dikocok kembali. Larutan blanko dikerjakan dengan

cara yang sama seperti contoh dan dilewatkan ke dalam kolom berisi glass wool

dan Al2O3

Vitamin A (IU/100 g bahan)= x standar vitamin A x x Fp

Keterangan: fp = faktor pengenceran

. Filtrat siap diinjeksikan ke dalam sistem HPLC. Ekstrak yang berisi

vitamin A dapat dianalisis menggunakan HPLC. Sistem yang digunakan adalah

sebagai berikut:

Kolom : C-18

Eluent : Metanol : air (96 : 4)

Laju eluent : 1,0 ml/menit

Detektor : UV 340 nm

Perhitungan jumlah vitamin A:

2) Analisis vitamin B1 (tiamin) (Roche 1991)

Analisis vitamin B1 yang digunakan memiliki prinsip, yaitu ekstraksi

vitamin B1 dengan asam asetat. Sampel dan standar pembanding yang

mengandung vitamin B1 disuntik ke kolom HPLC pada panjang gelombang yang

telah ditentukan.

a) Pembuatan larutan standar vitamin B1 1000 ppm.

Standar yang telah dipanaskan dalam oven pada suhu 1050

b) Ekstraksi

C selama 3 jam

ditimbang sebanyak 100 g dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml. Asam

asetat 2% sebanyak 60 ml dan 20 ml etanol ditambahkan dan ditepatkan dengan

asam asetat 2%. Larutan dapat disimpan dalam kulkas selama satu bulan.

Sampel digiling dan diayak dengan ayakan 40 mesh, kemudian contoh

(40)

asetat 2% ditambahkan sebanyak 60 ml dalam labu volumetrik, kemudian

dipanaskan selama 20 menit dalam waterbath dan diultrasonik selama 5 menit. Metanol sebanyak 25 ml ditambahkan ke dalamnya setelah dingin, kemudian

larutan ditepatkan sampai volume 100 ml menggunakan asam asetat 2%. Larutan

disentrifuse dan supernatan dipisahkan untuk disuntik ke HPLC. Sistem yang

digunakan adalah sebagai berikut:

Kolom : Bondapak C18 30 cm x 4 mm

Eluent : metanol : air (50 : 50)

Kecepatan aliran : 1,0 ml/menit

Detektor : UV

Panjang gelombang : 246 nm

Syringe filter : 0,45 µm fluorpore filter (millipore, inc) Perhitungan kadar vitamin B1:

Vitamin B1 (mg/100 g bahan) =

3) Analisis vitamin B2 (riboflavin) (Roche 1991)

Analisis vitamin B2 yang digunakan memiliki prinsip, yaitu ekstraksi

vitamin B2 dengan asam asetat. Sampel dan standar pembanding yang

mengandung vitamin B2 disuntik ke kolom HPLC pada panjang gelombang yang

telah ditentukan.

a) Pembuatan larutan standar vitamin B2 200 ppm.

Standar yang telah ditimbang sebanyak 100 mg dimasukkan ke dalam labu

ukur 500 ml. Asam asetat 2% sebanyak 300 ml ditambahkan dan selanjutnya

dipanaskan di waterbath selama 20 menit, dikocok, lalu didinginkan dalam suhu kamar. Metanol 125 ml ditambahkan dan ditepatkan dengan asam asetat 2%.

b) Ekstraksi

Sampel digiling dan diayak dengan ayakan 40 mesh, kemudian 0,5-2 g

contoh ditimbang dan dimasukkan dalam 100 ml labu volumetrik. Asam

asetat 2% ditambahkan sebanyak 60 ml dalam labu volumetrik, kemudian

(41)

ditepatkan sampai volume 100 ml menggunakan asam asetat 2%. Larutan

disentrifuse dan supernatan dipisahkan untuk disuntik ke HPLC. Sistem yang

digunakan adalah sebagai berikut:

Kolom : bondapak C18 30 cm x 4 mm

Eluent : metanol : air (50 : 50)

Kecepatan aliran : 1,0 ml/menit

Detektor : UV

Panjang gelombang : 445 nm

Syringe filter : 0,45 µm fluorpore filter (millipore, Inc.) Perhitungan kadar vitamin B2:

Vitamin B2 (mg/100 g bahan) =

4) Analisis vitamin C (Darryl et al. 1993)

Metode penetapan vitamin C dengan titrimetri. Prinsip penetapan

vitamin C yaitu melalui proses titrasi, larutan garam natrium dari

2,6 dichlorophenol indhopenol (larutan dye) akan mengoksidasi vitamin C

menjadi asam dehidroaskorbat. Larutan dye menyebabkan larutan titrasi berwarna merah. Titik akhir titrasi tercapai bila terbentuk warna merah jambu yang stabil

selama 15 detik. Kadar vitamin C dihitung dengan membandingkan volume

larutan dye yang diperlukan untuk titrasi contoh (bahan) terhadap volume larutan

dye yang diperlukan untuk titrasi larutan standar.

a) Pembuatan larutan contoh

Sampel ditimbang 10 g dan digerus dengan 10 g asam oksalat kristal di

dalam mortar dengan alat penggerus. Campuran bahan kemudian dimasukkan ke

dalam labu ukur 250 ml, labu ukur diisi dengan air suling hingga tanda tera dan

dikocok. Filtratnya disaring dan ditampung dalam erlenmeyer bersih dan kering,

lalu dipipet 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 50 ml untuk dititrasi

dengan larutan dye sampai warna merah jambu muda selama 15 detik.

b) Pembuatan larutan vitamin C

Vitamin C murni ditimbang 0,02 g dan ditambah asam oksalat kristal,

(42)

suling sampai tanda tera. Larutan tersebut dipipet 10 ml dan dimasukkan ke

dalam erlenmeyer 50 ml untuk dititrasi dengan larutan dye sampai warna merah jambu muda, kemudian ditunggu selama 15 detik sampai warna tidak berubah.

Perhitungan kadar vitamin C adalah:

Vitamin C (mg/100 g bahan)

Keterangan: A = berat bahan (g)

Fp = faktor pengencer

V = ml larutan dye yang digunakan

E = ekivalen vitamin C (0,0962)

3.4 Rancangan Percobaan Proksimat dan Vitamin

Rancangan percobaan yang digunakan untuk menguji pengaruh metode

pengolahan terhadap kandungan proksimat dan vitamin adalah rancangan acak

lengkap (RAL) dengan satu faktor dan 3 taraf (buah segar, selai pedada, dan sirup

pedada) untuk data proksimat dan vitamin. Data dianalisis dengan ANOVA

(Analysis Of Variant) menggunakan uji F, sebelum dilakukan uji F terlebih dahulu diuji kenormalan data.

Uji kenormalan data menggunakan uji Kolmogrov Simirnov (Steel dan

Torrie 1993). Kurva normal yang dihasilkan pada uji Kolmogrov Simirnov

disertakan dengan nilai rata dan standar deviasi (simpangan baku). Nilai

rata-rata menggambarkan posisi kurva sumbu X, sedangkan standar deviasi

menggambarkan sebaran varian. Koefisien keragaman dengan nilai dibawah

50 % (median) dinyatakan cukup baik karena dapat membuktikan pada tingkat

95 %, suatu data dapat menyebar normal pada:

x ‒ z α/2 x + z

Koefisien keragaman = x 100 α/2 (Walpole 1995)

Keterangan: x = rata-rata

z = 1,96

µ = (1-α) 100 %

= simpangan baku n = banyak data

(43)

Yij = μ + τi + εij

Keterangan :

Yij = Nilai pengamatan pada taraf ke-i dan ulangan ke-j (j=1,2)

μ = Nilai tengah atau rataan umum pengamatan

τi = Pengaruh metode pengolahan pada taraf ke-i (i=1,2,3)

εij = Galat atau sisa pengamatan taraf ke-i dengan ulangan ke-j

Hipotesa terhadap data hasil uji kandungan proksimat pada berbagai

pengolahan adalah sebagai berikut:

H0 = Pengolahan tidak memberikan pengaruh terhadap kandungan proksimat. H1 = Pengolahan memberikan pengaruh terhadap kandungan proksimat.

Hipotesa terhadap data hasil analisis vitamin pada berbagai pengolahan

adalah sebagai berikut:

H0 H

= Pengolahan tidak memberikan pengaruh terhadap vitamin.

1

Duncan = tα/2; dbs

Keterangan :

KTS = Kuadrat tengah sisa

dbs = Derajat bebas sisa

= Pengolahan memberikan pengaruh terhadap vitamin.

Jika uji F pada ANOVA memberikan pengaruh yang berbeda terhadap

komposisi kimia dan vitamin, maka dilanjutkan dengan uji Duncan, dengan rumus

sebagai berikut:

(44)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Ukuran dan Berat Buah Pedada (Sonneratia caseolaris)

Buah pedada yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari Muara

Gembong, Bekasi, Jawa Barat. Buah pedada berbentuk bulat atau elips, kulit

luarnya berwarna hijau, dan bagian dasar dibungkus kelopak. Daging buah

tersebut berwarna putih dengan biji yang banyak dan berukuran kecil. Bagian

dalam buah pedada yang terdiri dari daging buah dan biji dapat dilihat pada

Gambar 5.

Gambar 5 Daging dan biji buah pedada

Kulit buah pedada sangat sulit dipisahkan dari daging buah bila buah

tersebut masih mentah. Tekstur buah tersebut sangat lunak bila buah tersebut

sudah matang. Pengukuran terhadap ukuran dan penimbangan bobot buah pedada

diperoleh dari 30 sampel yang diambil secara acak (Lampiran 1). Hasil

pengukuran terhadap ukuran dan bobot buah pedada dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Ukuran dan berat buah pedada (Sonneratia caseolaris)

No Parameter Satuan Nilai

1 2

Diameter Berat

cm gram

6,05±0,50 52,15±2,04 Keterangan: Menggunakan sampel 30 buah pedada

Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata diameter buah pedada

(Sonneratia caseolaris) adalah 6,05 cm dan rata-rata berat adalah 52,15 gram. Menurut Ahmed et al. (2010) dalam penelitiannya tentang glukosa dan lemak pada tikus setelah pemberian serbuk daun pedada, pohon pedada dapat tumbuh

Gambar

Gambar 2  Diagram alir metode penelitian
Gambar 3  Diagram alir pembuatan selai pedada
Gambar 4.
Gambar 6  Rendemen buah pedada  (Sonneratia caseolaris)
+7

Referensi

Dokumen terkait

homogen.Prinsip dari pengujian ini yaitu sampel diuapkan dalam cawan, ditimbang dan dikeringkan sampai bobot konstan dalam oven pada 103-105°C. Penurunan bobot bahan selama

Untuk memanfaatkan kandungan gizinya, buah pedada dapat diolah menjadi produk olahan pangan yang disukai masyarakat dan tahan lama, serta diproses secara sederhana,

Didinginkan cawan penguap selama 15 menit di dalam desikator. Dimasukkan cawan berisi sampel ke oven pada suhu 103-105 o C selama

Kurs porselen dikalibrasi dengan cara dikeringkan dalam oven selama 30 menit pada suhu 100 o C, lalu didinginkan di dalam desikator dan ditimbang.. Sebanyak 1- 2 gram sampel

Dari penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa buah pedada dapat diperlakukan sebagai bahan baku untuk pembuatan tempe.. Hal ini dikarenakan setelah

Kadar bahan organik menggunakan metode pembakaran dengan tanur (Aristiani, 2010) sebagai berikut: (1) Mengeringkan cawan dalam oven dengan suhu 105˚ C selama 1 jam

Cawan dan bahan dipanaskan dalam tanur pada suhu 6000C sampai bahan menjadi putih semua atau abu, kemudian dimasukkan ke oven (suhu 100 - 110 0 C) kurang lebih 15 menit

Analisis Kadar Air dengan Gravimetri - Ditimbang sebanyak 0,5 gram - Dimasukkan ke dalam cawan petri yang telah diketahui beratnya - Dikeringkan dalam oven pada suhu suhu 105 oC