Gaya Pengasuhan Ibu, Kelekatan dengan Teman Sebaya, dan Konsep Diri Remaja pada Keluarga Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja

Teks penuh

(1)

GAYA PENGASUHAN IBU, KELEKATAN DENGAN TEMAN

SEBAYA, DAN KONSEP DIRI REMAJA PADA KELUARGA

IBU BEKERJA DAN TIDAK BEKERJA

DIAN FEBRINA NAIBAHO

DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Gaya Pengasuhan Ibu, Kelekatan dengan Teman Sebaya dan Konsep Diri Remaja pada Keluarga Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

DIAN FEBRINA NAIBAHO. Gaya Pengasuhan Ibu, Kelekatan dengan Teman Sebaya, dan Konsep Diri Remaja pada Keluarga Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja. Dibimbing oleh DIAH KRISNATUTI dan ALFIASARI.

Populasi remaja semakin meningkat berdasarkan data BPS (2012) yang menunjukkan bahwa jumlah remaja Indonesia sekitar 64 juta orang atau besarnya hampir mencapai 26.47 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah remaja yang cukup banyak tentu saja memerlukan perhatian khusus terkait perkembangan remaja dan berbagai permasalahannya. Salah satu aspek yang harus dicapai dalam masa perkembangan remaja adalah pemahaman tentang konsep diri positif agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan yakin terhadap identitas dirinya. Dalam pencarian identitas diri diharapkan remaja dapat membentuk konsep diri yang positif karena akan berpengaruh terhadap pemikiran, perilaku, serta pendidikan dalam pencapaian prestasi belajar (Santrock 2007). Dalam proses perkembangan remaja, keluarga dan lingkungan sosial seperti kelompok teman sebaya memiliki peranan penting dalam memenuhi tugas perkembangannya (Santrock 2007). Data angkatan kerja partisipasi perempuan berdasarkan golongan umur dan jenis kelamin (BPS 2011) menunjukkan adanya peningkatan sebanyak 2 493 768 jiwa jumlah perempuan yang bekerja terhitung dari bulan Agustus 2010 sampai dengan Februari 2011. Fenomena ini mengindikasikan adanya perbedaan pengasuhan yang diterapkan antara ibu bekerja dan tidak bekerja. Berkurangnya waktu yang diberikan oleh ibu kepada anak juga dapat memicu terjadinya penyimpangan sosial karena remaja berada pada kondisi kurangnya pengawasan dan batasan dari orang tua. Selain keluarga, kelompok teman sebaya dapat membantu anak untuk menemukan gambaran diri remaja sehingga remaja dapat menilai dan mengevaluasi dirinya. Keterbatasan waktu ibu bekerja dalam berinteraksi dengan anak (Tambingon 1999) dan pemanfaatan waktu remaja yang lebih banyak dengan kelompok teman sebaya memerlukan kajian lebih lanjut tentang peran kelompok teman sebaya terhadap konsep diri remaja berdasarkan status pekerjaan ibu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan hubungan gaya pengasuhan, kelekatan dengan teman sebaya dan konsep diri remaja pada keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja..

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi karakteristik remaja dan keluarganya pada keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja; (2) membedakan gaya pengasuhan, kelekatan dengan teman sebaya dan konsep diri remaja pada keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja; (3) menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan karakteristik remaja dengan gaya pengasuhan; (4) menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan karakteristik remaja dengan kelekatan teman sebaya; (5) menganalisis pengaruh karakteristik keluarga termasuk status pekerjaan ibu , karakteristik remaja, gaya pengasuhan, dan kelekatan dengan teman sebaya terhadap konsep diri remaja.

(5)

didasarkan pada salah satu kriteria yaitu minimal satu anggota keluarga bekerja. Kelurahan Kebon Pedes (22 329 jiwa) dan Kedung Badak (27 381 jiwa) dipilih karena memiliki jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Tanah Sareal (BPS Bogor 2011). Oleh karena itu, kelurahan tersebut diduga memiliki populasi anak usia remaja dengan ibu bekerja atau tidak bekerja yang lebih banyak dibandingkan kelurahan lain. Pengambilan data dilakukan dari bulan April hingga Mei 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga lengkap di Kota Bogor yang memiliki anak usia remaja awal (12-15 tahun) yang masih duduk di bangku SMP. Teknik pengambilan contoh yang digunakan adalah stratified random sampling

secara purposive, yaitu tahap penentuan wilayah penelitian dipilih secara

purposive dan penentuan contoh dipilih secara acak dengan jumlah sampel yang telah ditentukan dengan pertimbangan tertentu. Jumlah contoh yang diambil adalah 50 keluarga dari Keluarga Ibu Bekerja (KIB) dan 50 keluarga dari Keluarga Ibu Tidak Bekerja (KITB) dengan pertimbangan jumlah tersebut telah memenuhi syarat pengolahan data secara statistik. Responden dalam penelitian ini adalah ibu dan remaja.

Hasil penelitian menemukan tidak terdapat perbedaan antara gaya pengasuhan, kelekatan dengan teman sebaya, dan konsep diri remaja pada keluarga dengan ibu bekerja dan tidak bekerja. Pada keluarga ibu bekerja, pendidikan ibu dan pendapatan per kapita yang semakin tinggi berhubungan positif dengan gaya pengasuhan otoritatif. Pada keluarga ibu tidak bekerja, jenis kelamin berhubungan negatif dengan gaya pengasuhan tidak terlibat, pendidikan ibu berhubungan positif dengan gaya pengasuhan otoritatif dan otoriter. Hubungan yang negatif antara usia remaja pada keluarga ibu bekerja dengan kelekatan teman sebaya juga ditemukan dalam penelitian ini. Pada keluarga ibu bekerja, hubungan yang positif dan signifikan terjadi antara gaya pengasuhan otoritatif dengan konsep diri dimensi moral, serta gaya pengasuhan otoriter berhubungan negatif dengan kelekatan teman sebaya dan konsep diri remaja dimensi fisik. Selain itu, terdapat hubungan yang positif antara kelekatan teman sebaya dengan konsep diri remaja. Pada keluarga ibu tidak bekerja, gaya pengasuhan permisif berhubungan negatif signifikan dengan konsep diri remaja dan terdapat hubungan yang positif antara kelekatan teman sebaya dengan konsep diri remaja. Hasil uji pengaruh menunjukkan uang saku remaja berpengaruh negatif signifikan sedangkan pendapatan per kapita, gaya pengasuhan otoritatif, dan kelekatan teman sebaya berpengaruh positif signifikan terhadap konsep diri remaja.

(6)

tentang gaya pengasuhan dilihat dari persepsi anak dan ayah terhadap pembentukan konsep diri remaja.

 

(7)

ABSTRAK

DIAN FEBRINA NAIBAHO. Gaya Pengasuhan Ibu, Kelekatan dengan Teman Sebaya, dan Konsep Diri Remaja pada Keluarga Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja. Dibimbing oleh DIAH KRISNATUTI dan ALFIASARI.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya pengasuhan ibu dan kelekatan dengan teman sebaya terhadap konsep diri remaja pada keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja. Contoh penelitian adalah keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja yang memiliki remaja berusia 12-15 tahun yang tinggal di Kelurahan Kebon Pedes dan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Contoh diambil secara acak sebanyak 100 keluarga yang terdiri dari 50 keluarga ibu bekerja dan 50 keluarga ibu tidak bekerja untuk dilakukan wawancara dengan kuesioner. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, usia remaja, usia orang tua, pendapatan per kapita keluarga, gaya pengasuhan otoritatif, pengasuhan otoriter, pengasuhan permisif, dan kelekatan teman sebaya dengan konsep diri remaja. Berdasarkan hasil uji regresi, faktor-faktor yang memengaruhi konsep diri remaja adalah uang saku remaja, pendapatan per kapita, gaya pengasuhan otoritatif, dan kelekatan dengan teman sebaya.

Kata kunci: : kelekatan teman sebaya, pengasuhan otoritatif, pengasuhan otoriter, pengasuhan permisif, pengasuhan tidak terlibat

ABSTRACT

DIAN FEBRINA NAIBAHO. Parenting Style of Mother, Peer Attachment, and Adolescent’s Self Concept of Working and Nonworking Mother Families. Supervised by DIAH KRISNATUTI and ALFIASARI.

The aims of this study was to analyze the influence of parenting style of mother and peer attachment on adolescent’s self-concept. Sample of this research were the families with working and nonworking mother had teenager child which is aged 12-15 years who lived in Kebon Pedes and Kedung Badak Village, Tanah Sareal, Bogor City. There were 100 families selected randomly consisting of 50 working mother families and 50 nonworking mother families that were interviewed by questionnaire. The result of corellation test showed there were significant relationships between gender, age of parents and adolescents, family’s income, authoritative parenting, authoritarian parenting, permissive parenting, and peer attachment with adolescent’s self concept. Based on regression test, it was found that variables influenced adolescent’s self concept were adolescent’s allowance, families’s socio-economic, authoritative parenting style, and peer attachment.

(8)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

pada

Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen

GAYA PENGASUHAN IBU, KELEKATAN DENGAN TEMAN

SEBAYA, DAN KONSEP DIRI REMAJA PADA KELUARGA

IBU BEKERJA DAN TIDAK BEKERJA

DIAN FEBRINA NAIBAHO

DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(9)
(10)

Judul Skripsi : Gaya Pengasuhan Ibu, Kelekatan dengan Teman Sebaya, dan Konsep Diri Remaja pada Keluarga Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Nama : Dian Febrina Naibaho

NIM : I24090010

Disetujui oleh

Dr Ir Diah Krisnatuti, MS Pembimbing I

Alfiasari, S.P., MSi Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Hartoyo, MSc Ketua Departemen

(11)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Dian Febrina Naibaho NIM : I24090010

Tempat/Tanggal Lahir: Pangururan, 23 Februari 1991 Jenis Kelamin : Perempuan

Anak ke : 3 dari 6 bersaudara Agama : Kristen

Alamat : Jalan Sisingamangaraja 8 Pasar lama Pangururan, Samosir No. Telpon/HP : 081297220146/083196221760

Alamat Email : dianfebrinaibaho@gmail.com Nama Orangtua : Ayah : Parinsan Naibaho Pekerjaan : Pedagang Ibu : Norinta Siboro Pekerjaan : Pedagang

Pendidikan : 1. SD Negeri Inpres Pangururan Lulus Tahun 2003 2. SMP Swasta Budi Mulia Pangururan Lulus Tahun 2006 3. SMA Negeri 1 Pangururan Lulus Tahun 2009

Tahun Masuk IPB : 2009 Minor/SC : SC

(12)
(13)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, kasih dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul Gaya Pengasuhan Ibu, Kelekatan dengan Teman Sebaya dan Konsep Diri Remaja pada Keluarga Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja sejak bulan April sampai September 2013 di daerah Tanah Sareal, Kota Bogor. Terima kasih dan rasa hormat penulis ucapkan kepada:

1. Dr Ir Diah Krisnatuti, MS dan Alfiasari, S.P, MSi selaku pembimbing skripsi yang telah dengan ikhlas banyak meluangkan waktu, pikiran serta kesabaran untuk memberikan pengarahan, bimbingan, saran dan perbaikan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Ir Djamaluddin MSc selaku pembimbing akademik, yang telah mendampingi penulis sejak awal masuk kuliah hingga sekarang.

2. Dr Ir Istiqlaliyah Muflikhati, MSi selaku pemandu seminar, Dr Ir Dwi Hastuti MSc dan Netti Hernawati, SP MSi selaku penguji yang telah memberikan banyak saran demi perbaikan skripsi ini. Seluruh dosen pengajar dan staf IKK FEMA atas kebersamaan dan ilmu yang telah diberikan.

3. Bapak Parinsan, ibu Norinta, kakak Junasri, abang Windra, dan adik-adik tersayang Lestari, Johannes, dan Erikson atas segala jerih payah, doa, kesabaran, dan kasih sayang tak terbalas yang senantiasa diberikan demi keberhasilan penulis.

4. Teman dan sahabat terbaik Evi, Fascah, Putri dan Yanti yang selalu memberikan semangat dan doa. KPA PMK IPB, Omda ParSamosir IPB, dan teman penghuni Kosan Happy Home Fitri, Anise, Olga, Surtong, Mart, Sri Elisabeth, Mbak Eva dan Mbak Ika yang selalu memberikan motivasi dan berbagi suka duka bersama.

5. Teman seperjuangan penelitian, Susanti, Pramasandya RN, Feni Puspitasari, dan Siti Holilah atas waktu, kebersamaan, motivasinya, dan dukungannya. Rekan-rekan IKK 46 untuk kebersamaannya selama penulis menempuh pendidikan S1 di Departemen IKK, IPB.

6. Semua pihak yang belum disebutkan, yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian tugas akhir ini, penulis ucapkan terima kasih.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Harapan penulis adalah semoga skripsi ini memberikan ilmu yang bermanfaat.

Bogor, September 2013

(14)
(15)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1 

Latar Belakang 1 

Tujuan Penelitian 3 

KERANGKA PEMIKIRAN 3 

METODE 5 

Disain, Lokasi, dan Waktu Penelitian 5 

Jumlah dan Cara Pemilihan Responden 5 

Jenis dan Cara Pengumpulan Data 6 

Pengolahan dan Analisis Data 7 

Definisi Operasional 8 

HASIL DAN PEMBAHASAN 9 

Gambaran Umum Lokasi Penelitian 9 

Karakteristik Keluarga dan Remaja 10 

Gaya Pengasuhan Ibu 11 

Kelekatan dengan Teman Sebaya 11 

Konsep Diri Remaja 11 

Hubungan Antarvariabel 13 

Pengaruh Karakteristik Keluarga, Karakteristik Remaja, Gaya Pengasuhan, dan Kelekatan dengan Teman Sebaya terhadap Konsep Diri Remaja 15 

Pembahasan 16 

SIMPULAN DAN SARAN 18 

Simpulan 18 

Saran 19 

DAFTAR PUSTAKA 19 

LAMPIRAN 22

(16)

DAFTAR TABEL

1 Variabel Penelitian, jenis serta skala data dan cara pengumpulannya 6 

2 Jenis data dan pengkategorian data 8 

3 Nilai minimum, maksimum, rata-rata dan standar deviasi variabel

karakteristik keluarga dan remaja pada kedua kelompok remaja 10  4 Sebaran orang tua pada kedua kelompok remaja berdasarkan tingkat

pendidikan 10 

5 Nilai minimum, maksimum, rata-rata, standar deviasi, dan hasil uji

beda variabel skor pengasuhan ibu 11 

6 Sebaran remaja berdasarkan kelekatan remaja dengan teman sebaya 11  7 Sebaran remaja berdasarkan dimensi konsep diri dan status ibu

bekerja 12 

8  Koefisien korelasi antara karakteristik remaja dan keluarga dengan

skor gaya pengasuhan pada KIB dan KITB 13 

9 Koefisien korelasi antara karakteristik remaja dan keluarga dengan

skor kelekatan teman sebaya pada remaja KIB dan KITB 14  10 Hubungan antara gaya pengasuhan, kelekatan teman sebaya dan

konsep diri remaja KIB 14 

11 Hubungan antara gaya pengasuhan, kelekatan teman sebaya dan

konsep diri remaja KITB 15 

12 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsep diri remaja 15 

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka Pemikiran Penelitian 4 

2 Skema cara pengambilan contoh 5 

DAFTAR LAMPIRAN

1  Sebaran ibu berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan persepsi gaya pengasuhan otoritatif dan otoriter yang menjawab sering dan selalu 22  2  Sebaran ibu berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan persepsi gaya

pengasuhan permisif dan tidak terlibat yang menjawab sering dan

selalu 23 

3  Sebaran remaja berdasarkan kelekatan dengan teman sebaya yang

menjawab setuju dan sangat setuju 24 

4  Sebaran remaja berdasarkan konsep diri yang menjawab sesuai dan

(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Remaja merupakan salah satu aset sumber daya manusia penting untuk mempersiapkan generasi penerus yang akan meningkatkan kualitas bangsa agar lebih maju dan berkembang. Populasi remaja semakin meningkat berdasarkan data BPS (2012) yang menunjukkan bahwa jumlah remaja Indonesia sekitar 64 juta orang atau besarnya hampir mencapai 26.47 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah remaja yang cukup banyak tentu saja memerlukan perhatian khusus terkait perkembangan remaja dan berbagai permasalahannya. Pada masa remaja, terjadi perubahan fisik yang cepat serta adanya peralihan dari masa kanak-kanak sehingga remaja harus mempersiapkan diri dan perlunya penyesuaian mental dalam menghadapinya (Hurlock 1980). Salah satu aspek yang harus dicapai dalam masa perkembangan remaja adalah pemahaman tentang konsep diri positif agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan yakin terhadap identitas dirinya. Suatu konsep diri yang dimiliki oleh seorang remaja hanya terdapat di dalam pikirannya namun mempunyai pengaruh yang besar terhadap keseluruhan perilaku yang akan ditampilkannya (Gunarsa 1989).

Konsep diri merupakan keyakinan, pandangan atau penilaian individu terhadap dirinya baik dari segi fisik, psikis dan perilaku yang dipengaruhi oleh penilaian dari orang lain. Dalam pencarian identitas diri diharapkan remaja dapat membentuk konsep diri yang positif karena akan berpengaruh terhadap pemikiran, perilaku, serta pendidikan dalam pencapaian prestasi belajar (Santrock 2007). Hasil pengamatan Pudjijogyanti (1995) dalam Pautina (2012) menyatakan bahwa terdapat banyak siswa yang mengalami kegagalan dalam pelajaran namun bukan disebabkan oleh tingkat intelegensi yang rendah atau keadaan fisik yang lemah, tetapi oleh perasaaan tidak mampu dalam mengerjakan tugas. Oleh karena itu, konsep diri memiliki arti penting bagi seorang individu karena dengan adanya konsep diri individu dapat mempersepsikan diri dan lingkungan, mempengaruhi perilaku, dan juga mempengaruhi tingkat kepuasan yang diperoleh dalam kehidupannya.

Dalam proses perkembangan remaja, keluarga dan lingkungan sosial seperti kelompok teman sebaya memiliki peranan penting dalam memenuhi tugas perkembangannya (Santrock 2007). Keluarga merupakan tempat utama dan pertama seorang individu untuk mendapatkan bimbingan, pendidikan, maupun keterampilan untuk bekal di masa depannya. Proses pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua dapat mempengaruhi perkembangan anak baik dalam perkembangan fisik, sosial, emosi, kemandirian, bahasa maupun kognitif. Sunarti (2004) mendefenisikan gaya pengasuhan sebagai pola perilaku orang tua yang paling menonjol atau yang paling dominan dalam menangani anaknya sehari-hari termasuk dalam menanamkan nilai-nilai hidup, mengajarkan keterampilan hidup, dan dalam mengelola emosi.

(18)

2

umur dan jenis kelamin (BPS 2011) menunjukkan adanya peningkatan sebanyak 2 493 768 jiwa jumlah perempuan yang bekerja terhitung dari bulan Agustus 2010 sampai dengan Februari 2011. Fenomena ini mengindikasikan adanya perbedaan pengasuhan yang diterapkan antara ibu bekerja dan tidak bekerja. Hasil penelitian Tambingon (1999) menunjukkan bahwa status ibu yang bekerja lebih baik pola interaksinya dengan anak daripada ibu yang tidak bekerja. Meskipun jika dilihat dari jumlah waktu yang tersedia, jumlah waktu untuk bersama dengan anak lebih lama pada ibu yang tidak bekerja. Hal ini sejalan dengan dengan pernyataan Lamb (1981) di dalam Tambingon (1999) bahwa kualitas pengasuhan dan interaksi lebih penting dibandingkan dengan kuantitasnya. Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2004) remaja membutuhkan lebih banyak waktu dan perhatian dari orang tua terutama ibu untuk menciptakan interaksi timbal balik, komunikatif, dan dialogis. Pada keluarga dengan ibu bekerja, peran tersebut dapat menjadi terganggu karena kurangnya waktu di rumah, sehingga kelekatan emosi yang diberikan oleh ibu semakin berkurang serta perhatian atas tahapan perkembangan anak juga semakin minim (Astrini 2012). Berkurangnya waktu yang diberikan oleh ibu kepada anak juga dapat memicu terjadinya penyimpangan sosial karena remaja berada pada kondisi kurangnya pengawasan dan batasan dari orang tua.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Rahmaisya, Latifah, dan Alfiasari (2011) ditemukan adanya keterkaitan antara konsep diri dan gaya pengasuhan yang diterima oleh atlet muda yaitu gaya pengasuhan yang otoritatif mempunyai hubungan yang nyata dan positif dengan konsep diri dan motivasi berprestasi atlet muda. Sejalan dengan hasil penelitian Wittenborn (2002) yang menunjukkan bahwa gaya pengasuhan memiliki beberapa dampak pada kenakalan remaja dimana pengasuhan orang tua yang otoritatif berhubungan signifikan dengan rendahnya kenakalan remaja dibandingkan dengan pengasuhan yang otoriter dan permisif. Dengan fenomena ibu bekerja yang semakin meningkat maka perlu ada kajian empiris bagaimana peran pengasuhan terhadap konsep diri berdasarkan status pekerjaan ibu.

Selain keluarga, kelompok teman sebaya dapat membantu anak untuk menemukan gambaran diri remaja sehingga remaja dapat menilai dan mengevaluasi dirinya. Di dalam memahami konsep dirinya, remaja akan mulai mendekatkan diri pada teman-teman yang memiliki rentang usia yang sebaya dengan dirinya. Hubungan antara remaja dengan kelompok teman sebaya memberikan umpan balik bagi remaja bagaimana seharusnya bersikap dan mengevaluasi diri dan orang lain (Santrock 2007). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ristianti (2008) menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan identitas diri pada remaja. Kebersamaan remaja dengan teman sebayanya menyebabkan remaja memperoleh nasehat, saran dan informasi yang diperlukan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. Menurut penelitian Bester (2007) di dalam Ghozaly, Krisnatuti, dan Alfiasari (2012) kurangnya waktu remaja untuk bersosialisasi dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan sosial dan kepribadian remaja karena kelompok teman sebaya akan menciptakan lingkungan sosial yang mengajar dan mengasah tanggung jawab sosial.

(19)

3 sosial. Remaja seharusnya dapat mengembangkan konsep diri positif di dalam membangun interaksi yang baik dengan lingkungan sosial. Keterbatasan waktu ibu bekerja dalam berinteraksi dengan anak (Tambingon 1999) dan pemanfaatan waktu remaja yang lebih banyak dengan kelompok teman sebaya memerlukan kajian lebih lanjut tentang peran kelompok teman sebaya terhadap konsep diri remaja berdasarkan status pekerjaan ibu.

Dengan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan gaya pengasuhan, kelekatan dengan teman sebaya dan konsep diri remaja pada keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja. Penelitian ini diharapkan dapat menyediakan informasi bagi orang tua mengenai pengaruh gaya pengasuhan dan kelekatan teman sebaya terhadap konsep diri remaja pada ibu bekerja dan tidak bekerja sehingga informasi tersebut menjadi bahan pertimbangan orang tua dalam menerapkan pola pengasuhan yang efektif diterapkan untuk kalangan remaja untuk mencapai perkembangan anak yang maksimal dan diharapkan dapat membantu remaja mengembangkan konsep diri positif melalui interaksi dan kelekatan dengan kelompok teman sebaya.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi karakteristik keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja. 2. Membedakan gaya pengasuhan, kelekatan dengan teman sebaya dan konsep

diri remaja pada keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja

3. Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan karakteristik remaja dengan gaya pengasuhan orang tua.

4. Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan karakteristik remaja dengan kelekatan dengan teman sebaya.

5. Menganalisis pengaruh karakteristik keluarga termasuk status pekerjaan ibu, karakteristik remaja, gaya pengasuhan, dan kelekatan dengan teman sebaya terhadap konsep diri remaja.

KERANGKA PEMIKIRAN

(20)

4

yang menerapkan gaya pengasuhan yang relatif baik atau otoritatif maka semakin positif pula konsep diri yang dimiliki oleh remaja.

Pada masa remaja, pengaruh teman sebaya juga sangat kuat pada diri remaja karena pada umumnya remaja lebih sering berinteraksi dengan teman sebayanya. Hurlock (1980) mengungkapkan bahwa remaja cenderung akan membentuk kelompok dan sebagian waktu akan dihabiskan dengan melakukan interaksi bersama teman kelompoknya tersebut. Baik lingkungan, pengalaman, dan pengasuhan orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri remaja (Desmita 2009). Keluarga dan lingkungan sosial seperti hubungan pertemanan sebagai lingkungan mikrosistem anak atau lingkungan terdekat anak yang menjadi tempat anak bertumbuh dan berkembang membentuk pola kebiasaan hidup karena anak banyak berinteraksi dan belajar dari lingkungan tersebut. Pada kerangka pemikiran, karakteristik remaja yaitu usia, jenis kelamin, uang saku dan karakteristik keluarga seperti pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan orang tua, usia orang tua, besar keluarga diduga berhubungan dengan gaya pengasuhan yang diterima oleh remaja dan kelekatan teman sebaya yang selanjutnya diduga akan mempengaruhi konsep diri remaja. Keterkaitan antara karakteristik remaja, karakteristik keluarga, gaya pengasuhan, kelekatan teman sebaya dan konsep diri yang menjadi kerangka penelitian yang akan dilakukan disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Kerangka Pemikiran Penelitian

Karakteristik Remaja : - Usia

- Jenis kelamin - Uang saku Karakteristik Keluarga :

- Pendidikan orang tua - Pekerjaan orang tua - Status pekerjaan ibu - Pendapatan keluarga - Usia orang tua

(21)

5

METODE

Disain, Lokasi, dan Waktu Penelitian

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian payung dengan tema “Interaksi Keluarga dan Perkembangan Remaja” yang menggunakan desain cross-sectional study. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kebon Pedes dan Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Lokasi penelitian dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut memiliki jumlah keluarga pada tingkat KS-II terbanyak se-Kota Bogor. Penentuan KS-II didasarkan pada salah satu kriteria yaitu minimal satu anggota keluarga bekerja. Kelurahan Kebon Pedes (22 329 jiwa) dan Kedung Badak (27 381 jiwa) dipilih karena memiliki jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Tanah Sareal (BPS Bogor 2011). Oleh karena itu, kelurahan tersebut diduga memiliki populasi anak usia remaja dengan ibu bekerja atau tidak bekerja yang lebih banyak dibandingkan kelurahan lain. Pengambilan data dilakukan dari bulan April hingga Mei 2013.

Jumlah dan Cara Pemilihan Responden

Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga lengkap di Kota Bogor yang memiliki anak usia remaja awal (12-15 tahun) yang masih duduk di bangku SMP. Teknik pengambilan contoh yang digunakan adalah stratified random sampling secara purposive, yaitu tahap penentuan wilayah penelitian dipilih secara purposive dan penentuan contoh dipilih secara acak dengan jumlah sampel yang telah ditentukan dengan pertimbangan tertentu (Gambar 2). Kerangka sampel yang diperoleh berjumlah 412 keluarga dari Kelurahan Kebon Pedes dan 230 keluarga dari Kelurahan Kedung Badak. Jumlah contoh yang diambil adalah 50 keluarga dari Keluarga Ibu Bekerja (KIB) dan 50 keluarga dari Keluarga Ibu Tidak Bekerja (KITB) dengan pertimbangan jumlah tersebut telah memenuhi syarat pengolahan data secara statistik. Responden dalam penelitian ini adalah ibu dan remaja. Berikut ini disajikan pada Gambar 2 teknik pengambilan contoh yang digunakan.

(22)

6

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui wawancara langsung dengan menggunakan alat bantu kuesioner yang meliputi karakteristik remaja (usia, jenis kelamin, dan uang saku), karakteristik keluarga (usia orang tua, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan, dan besar keluarga), gaya pengasuhan, kelekatan dengan teman sebaya dan konsep diri remaja. Data sekunder yang dikumpulkan mengenai gambaran umum lokasi menurut lokasi penelitian. Variabel penelitian, skala data, jenis data dan cara pengumpulan data ditampilkan secara ringkas pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1 Variabel Penelitian, jenis serta skala data dan cara pengumpulannya

Variabel Skala Data Jenis Data Cara Pengumpulan Data

Karakteristik Remaja:

 Pendidikan orang tua Ordinal

 Status pekerjaan orang tua Nominal

 Pendapatan keluarga Rasio

 Usia orang tua Rasio

 Besar keluarga Rasio

Kelekatan Teman Sebaya Ordinal Primer

Konsep Diri Remaja Ordinal Primer

Gaya Pengasuhan Ibu Ordinal Primer

Jumlah keluarga dengan anak

usia remaja awal (SMP) Rasio Sekunder

Data Dasar Keluarga di Kelurahan

Keadaan Umum Lokasi Rasio Sekunder Data Demografi

Kecamatan

Instrumen gaya pengasuhan diadaptasi dari Robinson et al. (1995) dan dimodifikasi peneliti yang berjumlah 47 pernyataan terbagi masing-masing 13 pernyataan untuk pengasuhan otoritatif, otoriter, permisif dan 8 penyataan untuk pengasuhan tidak terlibat. Instrumen otoritatif memiliki Cronbach’s alpha 0.53.

Kelekatan dengan teman sebaya diukur menggunakan kuesioner dari Armsden dan Greenberg (1987) yang berjudul “Inventory of Parent and Peer Attachment” (IPPA), berjumlah 25 pernyataan dan diringkas peneliti menjadi 20 pernyataan yang terdiri dari masing-masing 8 pernyataan kepercayaan dan komunikasi, dan 4 pernyataan pengasingan. Instrumen yang digunakan memiliki nilai Cronbach’s alpha 0.80.

(23)

7 pengamatan identitas, tingkah laku, dan kepuasan diri. Instrumen konsep diri secara keseluruhan berjumlah 50 pernyataan dan telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0.89.

Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan Data

Data yang diperoleh selanjutnya diolah melalui proses editing, coding, scoring, entry data,cleaning data, dan analisis data. Penilaian terhadap data persepsi gaya pengasuhan yaitu semakin tinggi persentase dari skor yang diperoleh pada suatu gaya pengasuhan tertentu maka semakin orang tua menerapkan gaya pengasuhan tersebut.

Data kelekatan dengan teman sebaya yaitu jawaban dari masing-masing pertanyaan dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah skor maksimal pada masing-masing dimensi, kemudian dipersentasekan dan dikelompokkan. Pengelompokan dibagi 2 kategori yaitu positif (≤50%) dan negatif (>50%). Setelah itu, ketiga dimensi tersebut dikelompokkan ke dalam 4 subskala yaitu:

1. Secure, yaitu nilai kepercayaan positif, komunikasi positif dan pengasingan negatif.

2. Ambivalent, terdiri dari empat kemungkinan yaitu :

nilai kepercayaan positif, komunikasi negatif, dan pengasingan negatif; nilai kepercayaan positif, komunikasi negatif, dan pengasingan positif; nilai kepercayaan negatif, komunikasi positif, dan pengasingan positif; nilai kepercayaan negatif, komunikasi positif, dan pengasingan negatif. 3. Avoidant, yaitu nilai kepercayaan negatif, komunikasi negatif, dan

pengasingan positif.

4. Disorganized, yaitu nilai kepercayaan, komunikasi, dan pengasingan negatif atau diindikasikan nilai kepercayaan, komunikasi, dan pengasingan positif.

Data konsep diri diolah seperti halnya pada kelekatan dengan teman sebaya. Konsep diri dikategorikan menjadi 2 yaitu kategori positif (skor >125) dan kategori negatif (skor ≤125). Penentuan persentase pada tiap dimensi variabel diukur menggunakan rumus skor indeks.

Persentase Skor Indeks = Skor Aktual – Skor Min. Ideal x 100%

Skor Maks. Ideal – Skor Min. Ideal

Keterangan:

Skor Aktual = skor yang diperoleh dalam hasil penelitian Min = Minimum

(24)

8

Jenis data dan pengkategorian data ditampilkan secara ringkas pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2 Jenis data dan pengkategorian data

Jenis Data Kategori Pengukuran

Karakteristik remaja

 Usia (tahun) Remaja awal usia 12-15 tahun (Hurlock 1980)

 Jenis kelamin [1]Laki-laki, [2]Perempuan

 Uang saku (Rupiah)/hari [1]Rendah (2000-9700), [2]Sedang (9701-17400), [3]Tinggi (17401-25000)

Karakteristik Keluarga

 Usia orang tua (tahun) Hurlock (1980) :

[1]Dewasa muda (18-40 tahun), [2]Dewasa madya (41-60 tahun), [3]Dewasa tua (>60)

 Pendidikan orang tua [1]Tidak sekolah, [2]Tamat SD/sederajat, [3]Tamat SMP/sederajat, [4]Tamat SMA/sederajat, [5]Tamat Akademi/PT/sederajat

 Jenis pekerjaan orang tua [1]PNS, [2]Pegawai swasta, [3]Wiraswasta, [4]Tidak bekerja, [5]Lainnya (Buruh, Jasa, Pedagang,

Pembantu Rumah Tangga (PRT), Supir)

 Pendapatan keluarga (Rupiah) Garis Kemiskinan Pusdalisbang Bogor (2011) : [1]Miskin (≤214338), [2]Tidak miskin ( >214338)

 Besar Keluarga (orang) BKKBN :

[1]Keluarga kecil (≤4 orang), [2]Keluarga sedang (5-7 orang), [3]Keluarga besar (≥8 orang)

Gaya Pengasuhan Authoritative, Authoritarian , Permissive,

Uninvolved (Baumrind 2008)

Kelekatan dengan Teman Sebaya Secure, Ambivalent, Avoidant, Disorganized

Konsep Diri Positif , Negatif

Analisis Data

Analisis hubungan antar variabel dilakukan secara statistik deskriptif dan statistik inferensia. Analisis secara deskriptif dilakukan untuk melihat rata-rata dan standar deviasi dari setiap variabel. Analisis inferensia yang digunakan adalah uji beda independent sample t-test untuk mengetahui perbedaan gaya pengasuhan, kelekatan dengan teman sebaya, dan konsep diri remaja berdasarkan status ibu bekerja dan tidak bekerja; uji korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan antarvariabel; dan uji regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh antar variabel sesuai dengan tujuan penelitian.

Definisi Operasional

Gaya pengasuhan adalah perlakuan orang tua kepada remaja yang diterapkan secara terus menerus.

(25)

9 Gaya pengasuhan authoritarian adalah orang tua bersikap kaku terhadap

anak, banyak menetapkan batasan terhadap anak dan adanya dimensi kehangatan yang minim.

Gaya pengasuhan permissive adalah orang tuabersikap hangat dan komunikatif terhadap anak tetapi memberikan batasan yang sedikit terhadap tingkah laku.

Gaya pengasuhan uninvolved adalah orang tua tidak peduli terhadap anak dimana kontrol perilaku maupun dimensi kehangatan tidak diterapkan. Kelekatan dengan Teman Sebaya adalah ikatan emosional yang dibentuk

remaja dengan kelompok teman sebayanya (peer group) yang meliputi tiga dimensi, yaitu kepercayaan, komunikasi dan pengasingan.

Kepercayaan adalah perasaan aman dan percaya oleh remaja bahwa teman sebayanya bisa memenuhi kebutuhannya, serta timbulnya perasaan saling tergantung terhadap temannya.

Komunikasi adalah kemampuan teman sebaya untuk dapat memahami kondisi remaja sehingga membantu menciptakan ikatan emosi yang kuat diantara keduanya.

Pengasingan adalah penghindaran dan penolakan oleh figur lekat (teman sebaya).

Konsep diri adalah pandangan individu memandang dirinya secara positif maupun negatif yang dilihat dari dimensi fisik, moral, personal, kelurag dan sosial yang dilihat dari sisi pengamatan identitas diri, tingkah laku, dan kepuasan yang dirasakan oleh anak.

Konsep diri positif adalah konsep diri yang baik, dilihat dari hasil skor yang dicapai remaja lebih tinggi pada pernyataan-pernyataan positif dalam instrumen konsep diri.

Konsep diri negatif adalah konsep diri yang tidak baik, dilihat dari hasil skor yang dicapai remaja lebih tinggi pada pernyataan-pernyataan negatif dalam instrumen konsep diri.

.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

(26)

10

Karakteristik Keluarga dan Remaja

Sebagian besar remaja pada keluarga ibu bekerja (KIB) adalah perempuan (52%) sedangkan satu dari dua remaja pada keluarga ibu tidak bekerja (KITB) berjenis kelamin laki-laki (52%). Berdasarkan hasil penelitian, usia rata-rata remaja KIB adalah 13.76 tahun dan pada KITB adalah 13.56 tahun. Hampir separuh remaja KIB (48%) dan hampir dua dari tiga remaja KITB (62%) diberi uang saku antara Rp9 701-17 400 setiap hari.

Usia ayah KIB (68%) dan KITB (74%) berada pada kategori usia dewasa madya (41-60 tahun) dengan rata-rata usia 45.36 tahun pada KIB dan 44.68 tahun pada KITB. Rata-rata usia ibu pada KIB adalah 41.04 tahun dan 40.24 tahun pada KITB. Pada kedua kelompok rata-rata tergolong pada kategori keluarga sedang (5-7 orang). Hasil uji beda menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pendapatan keluarga KIB dan KITB yaitu rata-rata pendapatan KIB lebih tinggi dibandingkan KITB (Tabel 1).

Tabel 3 Nilai minimum, maksimum, rata-rata dan standar deviasi variabel karakteristik keluarga dan remaja pada kedua kelompok remaja

Variabel KIB KITB

Min Max Rataan±SD Min Max Rataan±SD Pendapatan per kapita

(Rp 000)***) 81.2 2 000 733.9±521.8 83.3 980.0 379.5±199.7

Keterangan : ***) uji beda t-test signifikan pada p<0.01

Pendidikan orang tua berkisar dari antara tidak sekolah sampai tamat perguruan tinggi. Persentase terbesar pendidikan ayah pada KIB (46%) dan KITB (32%) adalah pada kelompok Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat. Tidak jauh berbeda dengan ayah remaja, pendidikan ibu remaja KIB (32%) dan KITB (36%) lebih banyak tamatan SMA. Jumlah ibu pada KIB yang merupakan tamatan akademi /PT/sederajat (24%) lebih banyak dari jumlah ibu remaja pada KITB (6%). Ayah remaja KIB (50%) paling banyak bekerja sebagai buruh, jasa, pedagang dan supir sedangkan ayah KITB (20%) bekerja sebagai wiraswasta. Ibu KIB dominan bekerja sebagai buruh, PRT (pembantu rumah tangga), dan pedagang (48%), PNS (26%), wiraswasta (8%), dan pegawai swasta (18%). Tabel 4 Sebaran orang tua pada kedua kelompok remaja berdasarkan tingkat

pendidikan

(27)

11 Gaya Pengasuhan Ibu

Pendekatan gaya pengasuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah gaya pengasuhan yang terdiri dari empat tipe gaya pengasuhan (Baumrind 2008) yaitu otoritatif, otoriter, permisif dan tidak terlibat. Hasil penelitian menunjukkan seluruh ibu pada KIB dan KITB (100%) mempersepsikan telah dominan menerapkan pengasuhan otoritatif yaitu anak dibesarkan dengan kehangatan dan kontrol yang tinggi. Berdasarkan uji beda t-test, tidak terdapat terdapat perbedaan yang siginifikan antara KIB dan KITB pada setiap skor jenis pengasuhan.

Tabel 5 Nilai minimum, maksimum, rata-rata, standar deviasi, dan hasil uji beda variabel skor pengasuhan ibu

Jenis Pengasuhan Skor Indeks KIB Skor Indeks KITB p-value

Min Max Rataan±SD Min Max Rataan±SD

Otoritatif 46.0 100.0 76.6±11.4 36.0 94.0 75.6±10.8 .67

Otoriter 1.0 65.0 36.9±13.1 11.0 63.0 36.6±10.9 .90

Permisif 13.0 50.0 32.1±8.3 3.0 53.0 30.4±8.6 .31

Tidak terlibat 0.0 37.0 3.3±8.3 0.0 37.0 4.2±6.5 .54

Kelekatan dengan Teman Sebaya

Armsden dan Greenberg (1987) menyatakan bahwa kelekatan antara remaja dengan teman sebaya dapat dilihat dari tiga dimensi yaitu kepercayaan (trust), komunikasi (communication) dan pengasingan (alienation). Hasil dikategorikan berdasarkan skor Vivona dalam Reese (2008) menjadi secure, ambivalent, avoidant, dan disorganized. Proporsi kelekatan teman sebaya-remaja yang paling tinggi pada KIB (90%) dan KITB (68%) berada pada kelekatan yang secure. Remaja KIB (4%) dan KITB (10%) berada pada kelekatan kategori ambivalent. Tidak terdapat remaja KIB maupun KITB pada kategori avoidant. Pada kategori disorganized, remaja KITB (22%) memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan remaja KIB (6%). Rata-rata dan standar deviasi skor kelekatan pada KIB adalah 76.76±7.10 dan 74.82±8.32 pada KITB. Nilai minimal dan maksimal pada KIB adalah 60 dan 96 sedangkan pada KITB sebesar 53 dan 92. Hasil uji beda t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada skor kelekatan teman sebaya antara remaja antara KIB dan KITB (p=0.21).

Tabel 6 Sebaran remaja berdasarkan kelekatan remaja dengan teman sebaya

Kategori Kelekatan KIB KITB

n % n %

(28)

12

(pengamatan identitas, tingkah laku dan kepuasan) dan dimensi eksternal yang terdiri dari lima bagian (fisik, moral, personal, keluarga, dan sosial). Kedua dimensi ini saling berhubungan untuk membentuk suatu kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila dinilai secara total dari keseluruhan dimensi, menunjukkan bahwa hampir seluruh remaja KIB (98%) dan KITB (94%) dalam penelitian ini telah mempunyai konsep diri yang positif. Terdapat remaja KIB (2%) dan KITB (6%) yang memiliki konsep diri negatif.

Tabel 7 Sebaran remaja berdasarkan dimensi konsep diri dan status ibu bekerja

Dimensi KIB (%) KITB (%)

Total dimensi personal 86.0 14.0 78.0 22.0

p-value .50

Dimensi Fisik. Dimensi fisik merupakan persepsi individu mengenai dirinya yang berhubungan dengan keadaan fisik seperti kesehatan jasmani dan penampilan. Rata-rata skor dimensi fisik pada KIB sebesar 25.30 dan 25.22 pada KITB. Proporsi terbesar dimensi fisik berada pada bagian identitas diri remaja KIB (96%) dan KITB (82%) sedangkan proporsi terkecil berada pada tingkah laku sebesar 64 persen masing-masing pada remaja KIB dan KITB. Hasil uji beda t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara remaja KIB dan KITB pada dimensi fisik (p=0.88).

(29)

13 pada tingkah laku. Hasil uji beda t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara remaja KIB dan KITB pada dimensi moral.

Dimensi personal. Dimensi personal merupakan persepsi remaja terhadap dirinya yang berhubungan dengan perasaan yang sebenarnya tidak terlihat. Rata-rata skor dimensi personal pada KIB adalah 39.24 pada KIB dan 38.62 pada KITB. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara remaja KIB dan KITB pada dimensi personal

Dimensi keluarga. Dimensi keluarga merupakan persepsi remaja yang berkaitan dengan penilaian diri atas keberadaannya di dalam keluarga. Pada dimensi keluarga, rata-rata skor pada KIB dan KITB adalah 33.04 dan 33.20. Hampir seluruh remaja KIB dan KITB pada bagian identitas diri, tingkah laku, kepuasan diri dan total dimensi keluarga berada pada kategori positif. . Hasil uji beda t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara remaja KIB dan KITB pada dimensi keluarga.

Dimensi sosial. Dimensi sosial merupakan persepsi remaja mengenai hubungan dirinya dengan lingkungan sosialnya. Hampir seluruh remaja memiliki identitas diri, tingkah laku diri, dan kepuasan diri yang positif. Rata-rata skor dimensi sosial pada KIB dan KITB adalah 21.50 dan 21.16. Proporsi terbesar berada pada identitas diri sedangkan proporsi terkecil berada pada kepuasan diri. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara remaja KIB dan KITB pada dimensi sosial. Seluruh remaja pada kedua kelompok rata-rata telah memiliki konsep diri yang positif pada kelima belas dimensi tersebut.

Hubungan Antarvariabel

Hubungan Karakteristik Remaja dan Keluarga dengan Gaya Pengasuhan Pada KIB (Tabel 8), skor pengasuhan otoritatif berhubungan positif signifikan dengan pendidikan ibu dan pendapatan per kapita keluarga. Artinya semakin tinggi pendidikan ibu dan pendapatan per kapita maka cenderung berhubungan dengan peningkatan skor gaya pengasuhan otoritatif.

Tabel 8 Koefisien korelasi antara karakteristik remaja dan keluarga dengan skor gaya pengasuhan pada KIB dan KITB

Variabel Skor Indeks Gaya Pengasuhan KIB Skor Indeks Gaya Pengasuhan KITB

Ofa Ora Pfa Tta Ofb Orb Pfb Ttb

(30)

14

Pada KITB, pendidikan ibu berhubungan positif dengan skor pengasuhan otoritatif dan otoriter. Artinya semakin tinggi pendidikan ibu berhubungan dengan peningkatan skor gaya pengasuhan otoritatif dan otoriter. Hasil lain menunjukkan adanya hubungan negatif signifikan antara jenis kelamin remaja dengan skor pengasuhan tidak terlibat.

Hubungan antara Karakteristik Remaja dan Keluarga dengan Kelekatan Teman Sebaya

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang negatif signifikan antara usia remaja dengan skor kelekatan dengan teman sebaya pada remaja KIB. Artinya, semakin bertambah usia remaja berhubungan dengan skor kelekatan teman sebaya yang semakin menurun.

Tabel 9 Koefisien korelasi antara karakteristik remaja dan keluarga dengan skor kelekatan teman sebaya pada remaja KIB dan KITB

Variabel Skor Kelekatan Remaja KIB Skor Kelekatan RemajaKITB

Jenis kelamin -.120 -.263

Usia remaja -.307* .214

Uang saku -.020 .167

Besar keluarga -.030 .152

Usia ayah .031 .176

Pendidikan ayah .091 -.235

Usia ibu -.193 .183

Pendidikan ibu .102 -.158

Pendapatan per kapita .141 .054

Hubungan antara Gaya Pengasuhan Ibu, Kelekatan dengan Teman Sebaya, dan Konsep Diri

Pada KIB (Tabel 10), hasil menunjukkan skor pengasuhan otoritatif berhubungan positif signifikan dengan skor konsep diri remaja dimensi moral, artinya skor pengasuhan otoritatif berhubungan dengan skor konsep moral remaja yang semakin positif. Skor pengasuhan otoriter berhubungan negatif signifikan dengan skor kelekatan, skor fisik, dan konsep diri total. Hubungan yang positif signifikan antara skor kelekatan teman sebaya dengan skor moral, keluarga, sosial dan konsep diri total. Artinya skor kelekatan dengan teman sebaya yang semakin tinggi berhubungan dengan peningkatan skor pada dimensi konsep diri remaja. Tabel 10 Hubungan antara gaya pengasuhan, kelekatan teman sebaya dan konsep

diri remaja KIB

Dimensi Kelekatan R-TS

Konsep Diri Remaja

Fisik Moral Personal Keluarga Sosial Total

Skor Pengasuhan

(31)

15 Artinya, skor pengasuhan permisif yang meningkat cenderung berhubungan dengan skor konsep diri yang menurun pada dimensi tersebut. Skor kelekatan teman sebaya berhubungan positif signifikan dengan skor dimensi personal, keluarga, sosial dan konsep diri total. Artinya, semakin tinggi skor kelekatan berhubungan dengan konsep diri yang semakin positif pada dimensi personal, keluarga, sosial, dan total.

Tabel 11 Hubungan antara gaya pengasuhan, kelekatan teman sebaya dan konsep diri remaja KITB

Dimensi Kelekatan R-TS

Konsep Diri Remaja

Fisik Moral Personal Keluarga Sosial Total

Skor Pengasuhan

Pengaruh Karakteristik Keluarga, Karakteristik Remaja, Gaya Pengasuhan, dan Kelekatan dengan Teman Sebaya terhadap Konsep Diri Remaja

Hasil dari uji regresi linear menunjukkan model yang dibangun mempunyai nilai adjusted R square sebesar 0.306. Artinya, sebanyak 30.6 persen variabel dalam model dapat menjelaskan pengaruh terhadap konsep diri remaja. Variabel-variabel yang berpengaruh adalah uang saku remaja (β=-.246, p=.026), pendapatan per kapita (β=.291, p=.034), gaya pengasuhan otoritatif (β=.230, p=.025), dan kelekatan teman sebaya (β=.416, p=.000). Sisanya sebanyak 69.4 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti (Tabel 12).

Tabel 12 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsep diri remaja

Variabel Koef. terstandarisasi Sig.

Konstanta .031

Jenis kelamin (0=perempuan, 1=laki-laki) .108 .249

Usia remaja (tahun) .085 .358

Pendapatan per kapita (Rp/bln) .291 .034*

Status ibu (0=tidak bekerja, 1=bekerja) -.029 .769

Skor Gaya Pengasuhan

Otoritatif .230 .025*

Otoriter -.109 .250

Permisif -.180 .054

Tidak terlibat .057 .547

Skor Kelekatan Teman Sebaya .416 .000*

Adjusted R2 .306

(32)

16

kenaikan satu satuan pendapatan per kapita meningkatkan konsep diri sebesar 0.291 satuan. Kenaikan satu satuan skor pengasuhan otoritatif meningkatkan konsep diri sebesar 0.230. Selanjutnya hasil lain menunjukkan bahwa setiap kenaikan skor kelekatan remaja dengan teman sebaya maka akan meningkatkan konsep diri yang signifikan sebesar 0.416 satuan.

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaaan yang signifikan gaya pengasuhan yang diterapkan ibu antara KIB dan KITB. Seluruh ibu pada kedua kelompok remaja telah menerapkan gaya pengasuhan otoritatif, yaitu orang tua memberikan batasan aturan dan memiliki otoritas tinggi namun sekaligus memberikan kehangatan dan penuh kasih sayang. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Gottfried et. al (2002) dalam Santrock (2007) yang tidak menemukan efek merugikan dari ibu yang bekerja pada pengasuhan yang dilakukan. Hal ini dapat terjadi karena ibu yang bekerja memiliki waktu interaksi yang sedikit dengan anak tapi menggunakan waktu tersebut dengan baik agar hubungan baik antara ibu dan anak lebih meningkat. Dalam hal ini yang menjadi prioritas utama adalah kualitas pengasuhan dan interaksi yang diterapkan oleh ibu (Lamb 1981; Tambingon 1999).

Pada KIB, hasil uji korelasi menemukan bahwa semakin tinggi pendidikan ibu dan pendapatan per kapita yang semakin meningkat berhubungan positif dengan gaya pengasuhan otoritatif ibu. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hastuti (2008) bahwa orang tua yang telah stabil secara ekonomi lebih memiliki peluang untuk dapat memberikan pengasuhan yang relatif lebih baik dibandingkan orang tua yang masih lemah secara ekonomi.

Sementara pada kelompok KITB, pendidikan ibu juga berhubungan positif dengan gaya pengasuhan otoritatif dan otoriter. Dengan pendidikan yang semakin tinggi, ibu KITB menerapkan gaya pengasuhan yang cenderung otoritatif dan otoriter. Hal ini diduga dengan ibu yang lebih berpendidikan memiliki keterampilan berinteraksi dengan anak yang baik terutama di dalam menerapkan pengasuhan. Namun, di sisi lain juga dengan pendidikan ibu yang semakin tinggi dapat mengakibatkan ibu terkesan bersikap keras, dan anak harus menunjukkan sikap patuh terhadap arahan standar-standar tingkah laku yang sudah diterapkan orang tua. Hasil lainnya menunjukkan terdapat hubungan negatif antara jenis kelamin dengan gaya pengasuhan tidak terlibat. Ibu dengan remaja laki-laki semakin tidak menerapkan pengasuhan tidak terlibat. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Herniati (2011) bahwa orang tua yang memiliki remaja perempuan memiliki kekhawatiran yang lebih besar dibandingkan dengan orang tua yang memiliki remaja laki-laki sehingga remaja perempuan lebih ditetapkan kontrol dan diawasi lebih ketat daripada remaja laki-laki.

(33)

17 kebutuhannya. Interaksi orang tua dengan anak dalam bentuk pengasuhan yang baik dapat menjadi prediktor kualitas hubungan remaja dengan teman sebayanya dan kepuasan hidup remaja (Greenberg et al. 1983). Pada uji hubungan antara karakteristik remaja dan keluarga dengan kelekatan teman sebaya, semakin tinggi usia remaja KIB akan menurunkan skor kelekatan remaja dengan teman sebaya. Hasil menunjukkan bahwa ternyata remaja KIB lebih banyak merasakan tingkat pengasingan yang tinggi dibandingkan dengan remaja KITB seperti perasaan minder, merasa kurang penerimaan, dan perasaan bahwa teman sebaya terganggu dengan kehadiran remaja (Lampiran 3). Hal ini dapat terjadi karena hampir separuh keluarga ibu bekerja sebagai buruh (48%) dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja sehingga membuat peraturan bahwa selama ibu bekerja, remaja tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah dan diminta untuk mengasuh saudaranya. Dengan demikian remaja sulit untuk membangun hubungan yang lekat dengan teman sebaya.

Remaja memerlukan pemahaman tentang konsep diri yang benar agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Konsep diri mengacu pada evaluasi diri atau persepsi diri dan itu mewakili bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri (Hadley, et al. 2008). Hampir seluruh remaja yang terlibat dalam penelitian ini memiliki konsep diri yang positif. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsep diri remaja KIB dan KITB. Berdasarkan hasil uji hubungan antar variabel, semakin tinggi skor pengasuhan otoritatif ibu KIB maka semakin positif konsep diri remaja khususnya dimensi moral. Rahmaisya, Latifah, dan Alfiasari (2011) juga mengungkapkan hasil yang senada yaitu adanya hubungan yang positif signifikan antara gaya pengasuhan otoritatif yang diterima remaja dengan konsep dirinya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penerapan pengasuhan yang otoritatif akan mendorong terbentuknya konsep diri anak yang positif.

Hasil lain menunjukkan skor pengasuhan otoriter ibu KIB menurunkan skor kelekatan remaja dengan teman sebaya dan konsep diri total. Skor pengasuhan permisif ibu KITB juga berhubungan negatif signifikan dengan dimensi moral, personal, keluarga, dan konsep diri total. Orang tua yang otoriter cenderung keras, tidak memiliki kehangatan dengan anak, jarang memuji, dan bersifat kaku sehingga membentuk karakter anak yang mengalami tekanan dalam hubungan teman sebaya, memiliki keterampilan akademik yang kurang dan tingkat kecemasan yang lebih besar dari teman sebayanya. Begitu juga dengan pengasuhan yang permisif yang tidak konsisten dalam membuat peraturan dan cenderung memanjakan anak yang mengakibatkan anak tidak mandiri dan kurang bertanggung jawab (Baumrind 2008). Pengasuhan yang demikian memungkinkan remaja kurang memiliki kepercayaan diri dan mudah menyerah dalam melakukan berbagai hal. Kelekatan remaja KIB dan KITB dengan teman sebaya juga berhubungan positif dengan skor dimensi pada konsep diri remaja. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Armsden dan Greenberg (1987) yang menyatakan bahwa kelekatan remaja dengan orang tua dan teman sebaya berhubungan positif signifikan dengan konsep diri sosial remaja. Orang tua dan lingkungan seperti teman sebaya yang memberikan sikap baik dan positif membuat anak merasa berharga sehingga menumbuhkan konsep diri positif ( Peart et al. 2007).

(34)

18

pengasuhan otoritatif dan kelekatan dengan teman sebaya. Hasil menunjukkan uang saku remaja yang semakin tinggi menurunkan skor konsep diri remaja. Hal ini dapat terjadi dengan uang saku yang berlebihan dan tidak disesuaikan dengan kebutuhan remaja memungkinkan membuat remaja tidak dapat mengontrol diri untuk menggunakan sesuai keperluannya sehingga cenderung memiliki sikap pengendalian yang buruk. Selanjutnya, pendapatan keluarga dan pengasuhan yang otoritatif berpengaruh positif terhadap konsep diri remaja. Dengan penghasilan keluarga yang diperoleh dapat digunakan untuk mengakses segala kebutuhan anak yang mendukung perkembangan anak serta penerapan pengasuhan otoritatif yang menyeimbangkan kontrol perilaku dan kehangatan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri yang semakin baik. Hasil lain juga menunjukkan bahwa semakin aman dan lekatnya remaja dengan teman sebaya akan meningkatkan konsep diri yang signifikan sebesar 0.416. Setara dengan hasil penelitian tersebut bahwa kelekatan dengan teman sebaya berhubungan dengan konsep diri remaja (Selby 2000). Hasil ini dapat terjadi karena remaja yang mampu membina hubungan yang baik dan lekat dengan teman sebayanya akan memiliki konsep diri yang positif yang mampu mengenali dan mengelola perilakunya dengan baik juga. Remaja dengan konsep diri yang tinggi akan memiliki cara yang baik dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Hasil penelitian lain yang mendukung hasil penelitian ini adalah Immele (2000) yang menunjukkan bahwa pergaulan yang baik antara remaja dengan teman sebaya seperti dukungan dan kehadiran teman dekat akan meminimalkan kemungkinan resiko remaja untuk berperilaku buruk. Hasil penelitian ini mendukung penelitian-penelitian terdahulu bahwa interaksi orang tua dengan anak dan lingkungan sosial seperti teman sebaya berperan penting terhadap perkembangan remaja.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Hasil penelitian menemukan tidak terdapat perbedaan antara gaya pengasuhan, kelekatan dengan teman sebaya, dan konsep diri remaja pada keluarga dengan ibu bekerja dan tidak bekerja. Pada keluarga ibu bekerja, pendidikan ibu dan pendapatan per kapita yang semakin tinggi berhubungan positif dengan gaya pengasuhan otoritatif. Pada keluarga ibu tidak bekerja, jenis kelamin berhubungan negatif dengan gaya pengasuhan tidak terlibat, pendidikan ibu berhubungan positif dengan gaya pengasuhan otoritatif dan otoriter. Hubungan yang negatif antara usia remaja pada keluarga ibu bekerja dengan kelekatan teman sebaya juga ditemukan dalam penelitian ini.

(35)

19 diri remaja dan terdapat hubungan yang positif antara kelekatan teman sebaya dengan konsep diri remaja. Hasil uji pengaruh menunjukkan uang saku remaja berpengaruh negatif signifikan sedangkan pendapatan per kapita, gaya pengasuhan otoritatif, dan kelekatan teman sebaya berpengaruh positif signifikan terhadap konsep diri remaja.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, orang tua sebaiknya memperhatikan pola pengasuhan yang telah diterapkan dan dampaknya pada perkembangan remaja. Orang tua juga perlu untuk membina hubungan baik dengan merespon perasaan dan kebutuhan anak, memberikan pujian, menghargai pendapat anak serta meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak. Hasil penelitian menunjukkan kelekatan remaja dengan teman sebaya berhubungan positif dengan konsep diri remaja. Dengan demikian remaja sebaiknya memilih teman yang dapat mendukung pembentukan konsep diri yang positif. Hasil lainnya menunjukkan uang saku yang semakin tinggi berpengaruh negatif terhadap konsep diri remaja, sehingga perlu bagi orang tua untuk memberikan uang saku kepada remaja sesuai dengan kebutuhannya. Perlu dilakukan penelitian lanjut tentang gaya pengasuhan dilihat dari persepsi anak dan ayah terhadap pembentukan konsep diri remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Armsden GC, Greenberg MT. 1987. The Inventory of Parent and Peer Attachment: Relationship to Well-Being in Adolescence. Journal of Youth and Adolescence. 16:427-454.

Astrini DP. 2012. Gaya pengasuhan, komunikasi keluarga, dan kemandirian remaja dengan orang tua tunggal (single parent) [skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor.

[BPS] Badan Pusat Statistika. 2011. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

_________________________. 2012. Data Statistik Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

Baumrind D. 2008. Parental Authority and Its effect on Children. Parenting and Moral Growth, Spring, 2008. 1(2). The Council for Spiritual And Ethical Education.

Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung (ID): PT Remaja Rosdakarya.

Fitts WH. 1971. The Self Concept & Actualization (Studies on the Self Concept & Rehabilitation). Library of Congres Catalog Card Number. Grand Mo. RD-2419-G.

(36)

20

Greenberg MT, Siegel JM, Leitch CJ. 1983. The nature and importance of attachment relationship to parents and peers during adolescence. Journal of Youth and Adolescence, 12(5), 373-386.

Gunarsa S, Gunarsa YS. 1989. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta (ID): Gunung Mulia.

_____________________. 2004. Psikologi Praktis: Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia.

Hadley AM, Hair EC, Moore KA. 2008. Assessing What Kids Think About Themselves: A Guide to Adolescent Self Concept for Out of School time Program Practitioner. Child Trends. 32:1-6.

Hastuti D. 2008. Pengasuhan: Teori dan Prinsip serta Aplikasinya di Indonesia. Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Herniati H. 2011. Gaya pengasuhan, konsep diri, motivasi belajar dan prestasi belajar siswa SMA pada berbagai model pembelajaran [skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor.

Hurlock EB. 1980. Psikologi Perkembangan Anak: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Istiwidayanti, Soedjarwo, penerjemah; Silabat, R. M., editor. Edisi ke-5. Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari: Developmental Psycology: A Life-Span Approach.

Immele. 2000. The role of adolescents’representasions of attachment and peer relationships in the prediction of delinquency. [thesis]. University of Virginia.

Kumru A, Bayraktar F, Kindap Y, Demir GO, Sayil M 2007. Self-Esteem and Gender Differences in Perceived Relational Context Among Turkish Early Adolescents. Boston (TR): Department of Psychology, Abant Izzet Baysal University.

Peart ND, Marsh HW, Richards GE. 2007. The Physical Self Description Questionnaire: furthering research linking physical self-concept, physical activity and physical education. Journal of Self-concept Enhancement and Learning Facilitation. Research Centre University of Western Sydney, Australia.

Prihatina RD, Latifah M, Johan IR. 2012. Konsep Diri, Kecerdasan Emosional, Tingkat Stres dan Strategi Koping Remaja pada Berbagai Model Pembelajaran. Jur.Ilm. Kel. & Kons. 5(12): 48-57.

Pautina AR. 2012. Bimbingan kelompok dengan pendekatan analisis transaksional untuk mengembangkan konsep diri siswa [skripsi]. Bandung (ID): Universitas Pendidikan Indonesia.

Rahmaisya R, Latifah M, Alfiasari. 2011. Keseimbangan Kehangatan dan Kontrol Orang Tua Menentukan Konsep Diri dan Motivasi Berprestasi Atlet Muda di Sekolah Berasrama. Jur.Ilm. Kons. 4(2): 139-147.

Reese DM. 2008. Attachment quality, parental monitoring, and peer relations as predictors of risky behaviour among ethnic minority youth [dissertation]. USA (US): The George Washington University

(37)

21 Robinson C, Mandleco B, Olsen SF, Hart CH. 1995. Authoritative, authoritarian,

and permissive parenting practices: Development of a new measure. Psychological Reports. 77: 819-830.

Santrock JW. 2003. Adolescence. Perkembangan Remaja. Jakarta (ID): Erlangga. . 2007. Perkembangan Anak. Ed ke-7. Rachmawati M dan Kuswanti A, penerjemah; Hardani W, editor. Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari:Child

Development, eleventh edition.

Selby JC. 2000. The relationship of parental attachment, peer attachment, and self concept to the adjustment of first year college students. [dissertasion]. University of North Texas.

Sunarti E. 2004. Mengasuh dengan Hati. Jakarta (ID): PT Elex Media Komputindo.

Tambingon H. 1999. Pola pengasuhan anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita [tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasajana, Institut Pertanian Bogor.

(38)

22

Lampiran 1 Sebaran ibu berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan persepsi gaya pengasuhan otoritatif dan otoriter yang menjawab sering dan selalu

No. Pernyataan KIB (%) KITB (%)

Pengasuhan Otoritatif

1 Saya merespon perasaan dan kebutuhan anak Saya. 84 92

2 Saya mempertimbangkan keinginan anak Saya

sebelum meminta mereka untuk melakukan sesuatu. 84 76

3 Saya menjelaskan kepada anak bagaimana menurut

aturan dalam berperilaku baik/buruk. 90 94

4 Saya mendorong anak Saya untuk menceritakan

perasaan dan masalah mereka kepada Saya. 70 78

5 Saya mendorong anak Saya untuk terbuka

mengungkapkan apa yang ada di benaknya bahkan apabila mereka tidak setuju dengan Saya.

80 74

6 Saya menjelaskan alasan di balik harapan Saya. 86 90

7 Saya memberikan kenyamanan dan memahami ketika

anak Saya merasa kesal. 80 72

8 Saya memuji anak Saya. 74 70

9 Saya mempertimbangkan keinginan anak Saya ketika membuat rencana keluarga (misal akhir pekan atau liburan).

80 72

10 Saya menghargai pendapat anak Saya dan mendorong

mereka untuk mengungkapkannya. 89 86

11 Saya memperlakukan anak Saya sama dengan

kakak/adiknya. 90 86

12 Saya memberikan alasan kepada anak Saya mengenai

yang Saya harapkan tentang mereka. 90 92

13 Saya meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita

anak Saya. 80 80

Pengasuhan Otoriter

1 Anak harus bersikap dan bertindak sesuai dengan

keinginan Saya. 34 34

2 Menghukum anak denganmerampas privasi mereka

(misal: TV, games, bermain). 8 8

3 Membentak anak ketika berperilaku salah di depan

Saya. 24 22

4 Kemarahan Saya meledak-ledak kepada anak. 6 6

5 Memukul anak ketika tidak suka apa yang mereka

katakan. 2 2

6 Mengkritik setiap perilaku anak yang tidak sesuai

dengan keinginan Saya. 64 50

7 Mengancam sebagai bentuk hukuman dengan sedikit

atau tidak sama sekali alasan. 18 10

8 Menghukum anak dengan menahan ekspresi emosi

(misal: mencium, memeluk). 20 10

9 Mudah mengkritik anak ketika perilaku mereka tidak

sesuai dengan harapan. 92 44

10 Tidak bisa menerima pendapat anak yang tidak sesuai

dengan keinginan Saya. 10 14

11 Merasa butuh menyinggung kembali perilaku bermasalah anak Saya untuk memastikan mereka tidak akan mengulangi lagi.

26 38

12 Mengingatkan anak bahwa Saya adalah orang tua

mereka, yang harus dipatuhi segala sesuatunya 76 66

13 Mengingatkan anak, semua yang sedang Saya lakukan

dan sudah Saya lakukan untuk mereka 76 58

(39)

23 Lampiran 2 Sebaran ibu berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan persepsi gaya

pengasuhan permisif dan tidak terlibat yang menjawab sering dan selalu

No. Pernyataan KIB (%) KITB (%)

Pengasuhan Permisif

1 Merasa sulit untuk mendisiplinkan anak Saya. 34 34

2 Menyerah ketika anak Saya tidak karuan terhadap

suatu hal 8 8

3 Saya memanjakan anak Saya. 24 22

4 Saya membiarkan perilaku buruk anak Saya tanpa

memberikan konsekuensi. 6 6

5 Apapun yang anak saya lakukan, saya tidak pernah

menegur anak saya 2 2

6 Saya menuruti semua kemauan anak 64 50

7 Saya tidak memberlakukan jam malam kepada anak

Saya. 18 10

8 Saya merasa kasihan jika memarahi anak Saya

meskipun mereka melakukan kesalahan. 20 10

9 Saya memberikan kemudahan kepada anak Saya untuk

melakukan semua hal (fasilitas). 92 44

10 Saya memberi kebebasan kepada anak Saya untuk

memilih apa yang mereka ingin lakukan. 10 14

11 Saya memenuhi syarat yang anak Saya berikan agar mereka melakukan apa yang Saya inginkan meskipun itu baik untuk mereka.

26 38

12 Saya merasa tidak perlu mengetahui hubungan anak Saya dengan temannya karena merupakan privasi mereka.

76 66

13 Saya merasa memberi aturan yang ketat merupakan

bentuk kekerasan terhadap anak. 76 58

Pengasuhan tidak terlibat

1 Saya tidak pernah mendorong anak untuk membangun

kemandirian. 4 0

2 Dengan sikap dan perilaku anak Saya sekarang, Saya

menyesal telah mempunyai anak. 2 0

3 Bagi Saya, anak adalah beban karena mengganggu

kehidupan Saya. 0 0

4 Saya bersikap cuek ketika anak Saya menceritakan masalahnya karena menurut Saya hal tersebut adalah urusan mereka.

0 0

5 Pihak yang bertanggung jawab penuh untuk mendidik

anak Saya adalah sekolah. 0 0

6 Saya berpikir anak Saya harus bertanggung jawab

sendiri dalam menemukan kesuksesan hidup mereka. 8 20

7 Motivasi terbesar Saya bekerja adalah menemukan

kesuksesan, tidak ada kaitannya dengan anak. 0 0

8 Membangun komunikasi dengan anak bukanlah

sesuatu yang penting bagi Saya. 4 0

(40)

24

Lampiran 3 Sebaran remaja berdasarkan kelekatan dengan teman sebaya yang menjawab setuju dan sangat setuju

No. Pernyataan KIB (%) KITB (%)

Dimensi trust (kepercayaan)

1 Kelompok teman sebaya saya mencoba mengerti

kondisi saya ketika saya sedang marah 82 68

2 Kelompok teman sebaya saya menghargai perasaan

saya 94 88

3 Kelompok teman sebaya saya mencoba mengerti

kondisi saya ketika saya sedang marah 56 80

4 Kelompok teman sebaya saya menghargai perasaan

saya 90 90

5 Kelompok teman sebaya saya mencoba mengerti

kondisi saya ketika saya sedang marah 78 60

6 Kelompok teman sebaya saya menghargai perasaan

saya 74 80

7 Kelompok teman sebaya saya mencoba mengerti

kondisi saya ketika saya sedang marah 74 68

8 Kelompok teman sebaya saya menghargai perasaan

saya 82 70

Dimensi communication

1 Saya menyukai cara pandang kelompok teman sebaya

saya atas sesuatu hal yang saya fikirkan 24 70

2 Ketika marah terhadap sesuatu, saya dapat

menceritakannya kepada kelompok teman sebaya saya 72 74

3 Kelompok teman sebaya saya menghargai cara

pandang saya 78 68

4 Kelompok teman sebaya saya memiliki waktu untuk

mendengarkan kesulitan saya secara lebih terbuka 62 64

5 Kelompok teman sebaya saya membantu saya untuk

memahami diri saya sendiri 80 66

6 Kelompok teman sebaya saya peduli terhadap

perasaansaya 82 64

7 Saya dapat menceritakan masalah saya kepada

kelompok teman sebaya saya 72 70

8 Jika kelompok teman sebaya saya mengetahui sesuatu yang membuat saya khawatir, teman saya akan langsung menanyakannya kepadasaya

72 74

Dimensi alienation (pengasingan)

1 Saya merasa minder berada diantara kelompok teman

sebaya saya 70 50

2 Saya merasa membutuhkan penerimaan yang lebih

dari kelompok teman sebayasaya 58 48

Kelompok teman sebaya saya tidak mengerti apa yang

saya lakukan 84 78

3 Kelompok teman sebaya saya merasa terganggu

dengan kehadiran saya tanpa alasan 94 76

(41)

25 Lampiran 4 Sebaran remaja berdasarkan konsep diri yang menjawab sesuai dan

sangat sesuai

No. Pernyataan KIB

(%)

KITB (%)

Fisik Identitas diri

1 Kesehatan saya tidak mengganggu kegiatan saya (xa,f) 86 80

2 Saya merasa senang dengan penampilan saya(xa,f) 98 90

3 Saya merasa diri saya berpenampilan rapi (xa,f) 86 76

Tingkah laku

4 Saya ingin merubah beberapa bagian dari tubuh saya(ya,uf) 54 60 5 Badan saya tidak sesehat seperti yang saya inginkan (ya,uf) 60 66

6 Saya merasa diri saya kurang menarik (ya,uf) 66 64

Kepuasan diri

7 Saya berusaha menjaga kesehatan jasmani dengan

sebaik-baiknya(za,f) 94 92

8 Saya sering merasa kurang percaya diri(za,uf) 52 42

9 Saya sulit tidur nyenyak(za,uf) 58 48

Moral Identitas diri

10 Saya adalah orang yang dapat bertenggang rasa (xb,f) 96 74 11 Saya adalah orang yang kurang bagus dalam membina

hubungan dengan siapapun (xb,uf) 78 74

12 Saya adalah orang rajin beribadah (xb,f) 82 82

Tingkah laku

13 Saya merasa diri saya sering berbohong(yb,uf) 44 52

14 Saya merasa puas dalam hubungan saya dengan Tuhan (yb,f) 84 80 15 Dalam kehidupan sehari-hari, saya taat menjalankan

perintah agama saya (yb,f) 86 74

Kepuasan diri

16 Saya berusaha untuk memperbaiki kebiasaan saya bila saya

mengetahui bahwa hal itu jelek(zb,f) 94 92

17 Saya menggunakan cara-cara yang tidak jujur agar dapat

maju(zb,uf) 70 76

18 Saya merasa hidup ini suram(zb,uf) 90 86

Personal Identitas diri

19 Dalam bertindak, saya mudah kehabisan akal(xc,uf) 58 56

20 Saya orang yang tenang dan mudah bergaul(xc,f) 90 86

21 Saya orang yang mudah menyimpan dendam(xc,uf) 72 84

22 Saya orang yang tidak berterus terang (xc,uf) 58 56

23 Saya mudah marah (xc,uf) 60 62

24 Saya selalu bersemangat dalam menjalani hidup (xc,f) 96 90

Tingkah laku

25 Sekarang ini saya merasa telah mudah menyerah (yc,uf) 78 82 26 Saya suka menunda pekerjaan yang seharusnya dikerjakan

hari ini (yc,uf) 32 40

27 Saya cenderung tidak menghiraukan diri sendiri (yc,uf) 58 72 28 Kadang-kadang bila saya kurang enak badan, saya menjadi

mudah marah (yc,uf) 72 62

29 Saya seramah seperti yang seharusnya(yc,f) 92 76

Kepuasan diri

30 Saya sering mengubah pendirian (zc,uf) 40 44

31 Saya cenderung melakukan sesuatu tanpa pikir panjang (zc,uf) 58 56 32 Saya selalu berusaha dapat memecahkan persoalan saya (zc,f) 92 92

Keluarga Identitas diri

33 Saya merasa tidak diperdulikan teman-teman saya

sendiri(xd,uf) 88 86

34 Saya seorang anggota keluarga yang bahagia(xd,f) 96 92

Figur

Gambar 1  Kerangka Pemikiran Penelitian

Gambar 1

Kerangka Pemikiran Penelitian p.20
Gambar 2  Skema cara pengambilan contoh

Gambar 2

Skema cara pengambilan contoh p.21
Tabel 1  Variabel Penelitian, jenis serta skala data dan cara pengumpulannya

Tabel 1

Variabel Penelitian, jenis serta skala data dan cara pengumpulannya p.22
Tabel 2  Jenis data dan pengkategorian data

Tabel 2

Jenis data dan pengkategorian data p.24
Tabel 4 Sebaran orang tua pada kedua kelompok remaja berdasarkan tingkat

Tabel 4

Sebaran orang tua pada kedua kelompok remaja berdasarkan tingkat p.26
Tabel 5  Nilai minimum, maksimum, rata-rata, standar deviasi, dan hasil uji beda variabel skor pengasuhan ibu

Tabel 5

Nilai minimum, maksimum, rata-rata, standar deviasi, dan hasil uji beda variabel skor pengasuhan ibu p.27
Tabel 6  Sebaran remaja berdasarkan kelekatan remaja dengan teman sebaya

Tabel 6

Sebaran remaja berdasarkan kelekatan remaja dengan teman sebaya p.27
Tabel 7  Sebaran remaja berdasarkan dimensi konsep diri dan status ibu bekerja

Tabel 7

Sebaran remaja berdasarkan dimensi konsep diri dan status ibu bekerja p.28
Tabel 8 Koefisien korelasi antara karakteristik remaja dan keluarga dengan skor gaya pengasuhan pada KIB dan KITB

Tabel 8

Koefisien korelasi antara karakteristik remaja dan keluarga dengan skor gaya pengasuhan pada KIB dan KITB p.29
Tabel 11 Hubungan antara gaya pengasuhan, kelekatan teman sebaya dan konsep diri remaja KITB

Tabel 11

Hubungan antara gaya pengasuhan, kelekatan teman sebaya dan konsep diri remaja KITB p.31
Tabel 12  Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsep diri remaja

Tabel 12

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsep diri remaja p.31

Referensi

Memperbarui...