SEJARAH
PEMUNGUTAN PAJAK
Terbentuknya Negara
Fungsi Pemerintah
Terbentuknya Negara
Perkembangan peradaban membuat manusia sebagai mahluk sosial untuk
hidup berkelompok menata pola kehidupan sosial dalam kelompok yang
lebih besar dan menetap dalam suatu daerah yang diakui kelompoknya
dan kelompok besar lainnya pula.
Untuk dapat mengatur kehidupan sosial dan berkelompok menjadi lebih baik,
maka manusia membutuhkan seorang pemimpin yang lebih pintar dan
berkarisma sebagai seseorang yang patut dihormati, ditaati perintahnya
berkarisma sebagai seseorang yang patut dihormati, ditaati perintahnya
dan diteladani sikap dan tingkah lakunya. Adanya ketaatan anggota
kelompok terhadap pemimpinnya menimbulkan dalam kelompok itu suatu
kekuasaan pemerintahan yang sederhana, yang pada akhirnya lambat
laun peraturan itu menjadi peraturan tertulis yang dilaksanakan dan ditaati
setiap anggota kelompok.
Organisasi atau lembaga sangat diperlukan untuk melaksanakan dan
mempertahankan peraturan-peraturan hidup agar dapat berjalan secara
tertib dan lancar akibat semakin kompleksnya masalah kelompok.
Konsep dan pengertian Negara sebagai organisasi kekuasaan dipelopori oleh
J.H.A Logemaan :
bahwa keberadaan Negara bertujuan untuk mengatur dan menyelenggarakan
masyarakat yang dilengkapi dengan kekuasaan tertinggi.
Harold J.Laski, Max Weber dan Leon Duguit, dalam pengertian yang luas
mengenai Negara :
Negara merupakan kesatuan sosial (masyarakat) yang diatur secara
konstitusional untuk mewujudkan kepentingan bersama.
Negara dalam konteksnya sebagai organisasi kekuasaan
didalamnya terdapat suatu mekanisme atau tata
hubungan kerja yang mengatur suatu kelompok
Agar Negara dapat mengatur rakyatnya, maka
Negara diberi kekuasaan (
authority)
yang
dapat memaksa seluruh anggotanya untuk
mematuhi segala peraturan/ ketentuan yang
telah ditetapkan oleh negara.
Untuk menghindari adanya kekuasaan yang
sewenang-wenang, disisi lain Negara juga menetapkan cara-cara
dan batas-batas sampai dimana kekuasaan itu dapat
digunakan dalam kehidupan bersama, baik oleh
TEORI MENGENAI TERJADINYA
SUATU NEGARA
1. Teori Kenyataan
2. Teori KeTuhanan
Teori Kenyataan
Negara timbul adalah kenyataan. Jika sudah
terpenuhinya unsur daerah kekuasaan,
adanya rakyat, dan pemerintah yang
berdaulat dan diakui oleh rakyat maupun
berdaulat dan diakui oleh rakyat maupun
kelompok besar lainnya maka sudah
Teori KeTuhanan
Adanya suatu Negara adalah atas kehendak
Tuhan. Segala sesuatu, apapun juga itu
tidak akan terjadi apabila Tuhan tidak
Teori Perjanjian
Perjanjian yang dibuat antara orang-orang yang
tadinya hidup bebas merdeka, terlepas satu sama
lain tanpa ikatan kenegaraan, untuk hidup
bersama, berkelompok, bekerjasama, dan
bersosialisasi dalam suatu ikatan dan wadah
bersosialisasi dalam suatu ikatan dan wadah
yang dipimpin oleh pemimpin yang sudah diakui
dalam bentuk organisasi kenegaraan. Perjanjian
ini diadakan agar kepentingan bersama dapat
Teori Penaklukan
Suatu Negara timbul karena serombongan manusia
menaklukan daerah rombongan manusia lain.
Agar daerah /rombongan itu tetap dapat dikuasai,
maka dibentuklah suatu organisasi yang berupa
maka dibentuklah suatu organisasi yang berupa
negara. Bentuk penaklukan dapat berupa
pemberontakan, peleburan negara jadi satu,
UNSUR-UNSUR NEGARA
Daerah atau Wilayah
Unsur Konstitutif
Unsur deklaratif
Memiliki tujuan
rakyat
pemerintah yang berdaulat
FUNGSI PEMERINTAH
melaksanakan penertiban
(law and order)
, untuk mencapai tujuan
bersama dan mencegah bentrokan-bentrokan dalam masyarakat, maka
Negara harus melaksanakan penertiban. Dapat dikatakan bahwa negara
bertindak sebagai stabilisator.
mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Dewasa ini
fungsi ini dianggap penting terutama bagi neara-negara baru.
fungsi ini dianggap penting terutama bagi neara-negara baru.
Pandangan ini di Indonesia tercermin dalam usaha pemerintah untuk
membangun melalui suatu rentetan Repelita.
fungsi pertahanan, hal ini diperlukan untuk menjaga kemungkinan
serangan dari luar. Untuk ini negara dilengkapi dengan alat-alat
pertahanan.
fungsi pokok ekonomi yang diemban oleh pemerintah
yaitu :
tindakan pemerintah yang menyangkut efisiensi berupa
segala upaya untuk memperbaiki kesalahan pasar. Misalnya
monopoli.
program pemerintah untuk meningkatkan keadilan. Misalnya
program pemerintah untuk meningkatkan keadilan. Misalnya
pemerataan pendapatan agar mencerminkan kepentingan
seluruh masyarakat, termasuk golongan miskin.
kebijaksanaan stabilisasi berusaha mengikis fluktuasi yang
Pemerintah tentunya memerlukan dana, sumber daya alam, dan
sumber daya manusia dalam pembiayaan pelaksanaan fungsinya,
baik fungsi pokok ekonominya maupun fungsi secara keseluruhan.
Modal berupa dana selain dari potensi alam yang dimiliki suatu
negara, juga berasal dari laba perusahaan negara, royalti
negara, juga berasal dari laba perusahaan negara, royalti
pemerintah, restribusi, kontribusi, bea dan cukai, sanksi dan denda
serta berasal dari pajak yang merupakan peran serta warga
negara dalam melaksanakan fungsi pemerintah.
SEJARAH PEMUNGUTAN PAJAK
Pada tahun 509-27 SM di Roma ada beberapa pungutan yang diwajibkan
kepada rakyatnya, dengan sebutan seperti
censor, questor
dan jenis
pungutan lainnya.
Pajak langsung
(tributum)
dipungut pada zaman perang terhadap penduduk
Roma sampai tahun 167 SM.
Setelah abad kedua penguasa Roma mengandalkan pajak tidak langsung
yang disebut
vegtigalia,
seperti
portoria
yakni pungutan atas penggunaan
pelabuhan.
Di zaman Julius Caesar dikenal
centesima rerum venalium
yakni sejenis pajak
penjualan dengan tarif 1% dari omzet penjualan.
Di Italia dikenal
decumae,
yakni pungutan sebesar 10% dari para petani atau
penguasa tanah. Setiap penduduk di Italia, termasuk penduduk Roma
Di Mesir, pembuatan piramida pada akhirnya dilakukan dalam
bentuk kerja paksa, yang pada mulanya adalah suatu bentuk
pengabdian dan sifatnya sukarela dari rakyat Mesir.
Pada abad ke-14 di Spanyol dikenal dengan istilah
alcabala
, salah
satu bentuk pajak penjualan.
Di benua Amerika, setelah benua tersebut menjadi koloni Inggris,
penduduk koloni mempunyai kewajiban membayar berbagai
pungutan kepada pemerintah kolonial Inggris, yang dikemudian
waktu menjadi penyebab Revolusi Amerika, yaitu setelah
waktu menjadi penyebab Revolusi Amerika, yaitu setelah
diundang-undangkannya
The Stamp act
(1765) dan
The
Townshend Act
(1767).
PERKEMBANGAN PEMUNGUTAN PAJAK
Pajak pada mulanya dibayar secara natura, yaitu hasil pertanian, hasil hutan dan hasil perkebunan serta barang tambang mulia seperti emas dan perak.
Selain itu juga pajak dapat dibayar dengan tenaga, yaitu dengan melakukan pekerjaan tanpa diberi imbalan.
Kemudian sejalan dengan perkembangan waktu pajak dibayar dengan uang.
Di seluruh dunia telah mengakui bahwa pajak merupakan sumber utama penerimaan Negara dan sebagai alat mencapai tujuannya, walaupun tidak seluruh negara di dunia mengandalkan penerimaan negara dari sektor pajak. Ada beberapa negara dunia mengandalkan penerimaan negara dari sektor pajak. Ada beberapa negara yang memiliki potensi sumber daya alam negaranya sebagai penerimaan negara yang utama.
Sejak zaman sebelum masehi pajak telah dipungut oleh penguasa suatu daerah, untuk kepentingan penguasa. Maka bentuk iuran kepada penguasa tersebut merupakan suatu paksaan, yang tentunya ada yang pro ada yang kontra.
sejarah kesewenangan penguasa dan pemungutan
pajak bagi rakyatnya
Raja Lodwik XIV raja Perancis dan istrinya Marie Antoinette tinggal di Istana Versailles adalah penguasa Perancis yang pada pertengahan abad XVIII secara semena-mena memungut pajak dari penduduknya. Pajak yang dipungut dari rakyatnya hanya untuk kepentingan Lodwik XIV beserta istrinya semata. Karena pemberontakan rakyatnya maka timbul Revolusi Perancis (1778)
Di Inggris kesewenangan penguasa dalam memungut pajak kepada penduduknya dilakukan oleh Raja John (King John of England). Kemudian karena merasa beban semakin berat atas
kesewenangan raja Pimpinan perwakilan (Baron) memaksakan piagam Magna Charta(1215) kepada rajanya.
Salah satu pernyataan yang penting dalam piagam tersebut yang berhubungan dengan masalah perpajakan adalah ”... taxes should not be imposed without the consent of the Common Council of the realm”. Pajak tidak seharusnya dibebankan kepada rakyat tanpa adanya izin dari Dewan Majelis perwakilan dari kerajaan.
Piagam ini merupakan tonggak pembatasan secara bertahap terhadap kekuasaan absolute monarki di Inggris.
Di Indonesia tidak luput juga kesewenang-wenangan dari penjajah. Pemerintah kolonial Inggris yang menjajah Indonesia dibawah Thomas Stamford Raffles menerapkan kesewenangan
pemungutan pajak dengan Land rent (1813).
ahli pemikir di beberapa negara yang memperhatikan
masalah pemungutan pajak oleh pemerintah
Oliver Wendell Colmes, (Amerika Serikat) berpendapat bahwa
taxes are
the price we pay for civilization,
bahwa pajak merupakan harga yang
dibayar untuk suatu peradaban
.
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa
Oliver membenarkan adanya pungutan pajak sebagai suatu yang harus
dilakukan untuk memajukan suatu Negara.
Benyamin Franklin dengan adanya ungkapan
nothing is certain but tax and
Benyamin Franklin dengan adanya ungkapan
nothing is certain but tax and
dead,
bahwa tidak ada seorang pun yang tidak akan tersentuh oleh pajak
dan kematian.
F.D. Roosevelt untuk memotivasi warga Amerika Serikat memenuhi
Konstitusi suatu Negara selalu mensyaratkan bahwa
pengenaan pajak harus berdasarkan undang-undang,
yang telah disetujui oleh rakyat melalui lembaga
perwakilan rakyat.
Mahkamah Agung Meksiko telah menegaskan bahwa penentuan
unsur-unsur untuk menghitung dasar penghasilan kena pajak
(tax
base)
dan tarif pajak
(tax rate)
merupakan elemen dasar dari
prinsip pembatasan kekuasaan untuk mengenakan pajak yang
pengaturannya harus diatur secara jelas dalam Undang-undang
Pajak.
Mahkamah Agung Estonia telah memberikan penegasan bahwa
Wajib Pajak hanya berkewajiban untuk membayar pajak apabila
dalam undang-undang pajak terdapat ketentuan yang jelas
dalam undang-undang pajak terdapat ketentuan yang jelas
terhadap semua unsur yang menjadi dasar perhitungan pajak, yaitu
dasar perhitungan penghasilan kena pajak
(tax base)
dan tarif
pajak
(tax rate).
Demikian pula Konstitusi Swedia yang menyatakan bahwa
undang-undang tersebut tentunya tidak bisa mengatur seluruh aspek
pemajakan, maka ada yang perlu pendelegasian kekuasaan untuk
mengenakan pajak di Negara tersebut. Pendelegasian wewenang atau
kekuasaan untuk beberapa aspek pemajakan dapat dilakukan kepada
pemerintah selaku pelaksana pemerintahan.
Negara-negara Eropa kontinental mengatur pemerintah hanya berwenang
untuk menerbitkan ketentuan yang bersifat administratif dan prosedural,
seperti :
format dan bentuk Surat Pemberitahuan beserta lampirannya,
format dan bentuk Surat Pemberitahuan beserta lampirannya,
metode penyusutan,
penilaian persediaan,
ketentuan mengenai pembuktian biaya yang diperbolehkan dikurangkan
dari penghasilan kena pajak,
metode akuntansi untuk tujuan perpajakan, dan
SEJARAH PERPAJAKAN DI INDONESIA
Kerajaan Mataram, Kediri, Majapahit, dan Pajang mengenal bentuk
pajak tanah dan pajak tidak langsung terhadap barang dagangan.
Pejabat kerajaan pemungut pajak tidak digaji oleh kerajaan maka
seringkali mereka menerapkan pajak secara berlebihan.
Upeti perorangan ataupun kelompok orang diberikan kepada raja atau
penguasa sebagai bentuk penghormatan dan tunduk patuh pada
penguasa sebagai bentuk penghormatan dan tunduk patuh pada
kekuasaan raja atau penguasa suatu wilayah di Indonesia
merupakan bentuk pajak pada zaman kerajaan-kerajaan di
Indonesia tumbuh.
Upeti tersebut berupa hasil bumi, dan pemajakan barang
perdagangan.
Sebagai imbalannya maka rakyat mendapat pelayanan keamanan dan
jaminan ketertiban. Kerajaan Mataram raja-raja sudah
VOC sebagai badan perdagangan menguasai wilayah Indonesia, dan tidak
memungut pajak di daerah kekuasaannya, seperti Batavia, Maluku, dan
lain-lain. Tetapi mengenakan Pajak usaha, Pajak Rumah, dan Pajak
Kepala kepada pedagang Cina dan pedagang lainnya. Selain itu VOC
memiliki monopoli penjualan candu, garam, pemetikan sarang burung dan
lain-lain yang dijualnya pada
pacht-pacht
yang biasanya dipegang oleh
kapiten.
Gubernur Jenderal Daendels juga mengadakan pemungutan pajak, menarik
pajak dari pintu gerbang dan pajak penjualan barang di pasar
(bazarregten)
termasuk pula pungutan pajak terhadap rumah jadi.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles (1811-1815)
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles (1811-1815)
menyelenggarakan administrasi dan reorganisasi yang mengeluarkan
banyak uang. Raffles mengadakan pembaruan sistem pajak yang dikenal
dengan
landrente stelsel
, dimana sistem pajak tersebut mengambil contoh
dari Benggala India.
Sejarah Pajak Bumi dan Bangunan
Dimulai dari pengenaan pajak tanah
(Land Rent)
oleh pemerintahan
kolonial Inggris yang dipimpin oleh Thomas Stanford Raffless pada
abad 19 tepatnya tahun 1813 di pulau Jawa.
Raffles menentukan pajak ini pada individu bukan pada desa. Raffles
membagi tanah atas kelompok-kelompok terhadap tanah kering
membagi tanah atas kelompok-kelompok terhadap tanah kering
dan tanah basah, pengenaan pajaknya adalah rata-rata produksi
pertahun untuk sawah (tanah basah), dan tegalan (tanah kering).
Dalil yang dijadikan dasar adanya pungutan pajak tanah menurut
sejarah, adalah anggapan bahwa semua tanah adalah milik Raja
(souvereign),
dan kepala desa-kepala desa yang berada di bawah
kekuasaan raja semuanya dianggap sebagai penyewa
(Pachters).
Karena itu maka mereka harus membayar sewa tanah
(land rent)
Tahun 1945 – 1951
Pajak Bumi semula pelaksanaan pemungutannya dengan
cara lama digunakan secara penuh.
Kemudian Pajak Bumi di wilayah negara Republik Indonesia
dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta dihapus,
sedangkan di wilayah federal Pajak Bumi terus berlaku.
sedangkan di wilayah federal Pajak Bumi terus berlaku.
Tahun 1951 - 1959
UU No.14 tahun 1951, melahirkan Jawatan Pendaftaran
dan Pajak Penghasilan Tanah Milik Indonesia (P3TMI).
Tugasnya adalah melakukan pendaftaran atas tanah-tanah
milik adat yang ada di Indonesia.
Namun karena P3TMI ini ternyata dianggap hanya
Namun karena P3TMI ini ternyata dianggap hanya
mengurus pendaftaran tanah saja, maka namanya
diubah lagi menjadi Jawatan Pendaftaran Tanah Milik
Indonesia (PTMI).
Tugasnya yaitu menjadikan tugas yang sama seperti yang
diatas ditambah kewenangan untuk mengeluarkan Surat
Pendaftaran Sementara terhadap tanah milik yang
Tahun 1959 - 1985
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (PERPU) No.11
Tahun 1959 tentang Pajak Hasil Bumi telah ditetapkan menjadi
Undang-Undang yaitu Undang-Undang No.1 Tahun 1961.
Jawatan yang mengelola Pajak Hasil Bumi dirubah menjadi Direktorat
Pajak Hasil Bumi.
Sesuai dengan SK Menteri Iuran Negara PMPPU 1-1-3 29 November
1965, Direktorat Pajak Hasil Bumi diubah namanya menjadi
Direktorat Iuran Pembangunan daerah (DIT-IPEDA).
Pajak Hasil Bumi (PHB) menjadi Iuran Pembangunan Daerah (IPEDA).
Pengenaan Iuran pembangunan daerah dilakukan terhadap
tanah-tanah di pedesaan, perkotaan, perhutanan, perkebunan dan
Tahun 1985 -1995
Berdasarkan Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1983 telah diadakan Tax
Reform yaitu diadakan pembaruan dan penggantian atas peraturan
perundang-undangan perpajakan yang selama ini berlaku. Tax
Reform tahun 1983 ini berlaku mulai tanggal 1 Januari 1984. Dengan
adanya Tax Reform maka sistem perpajakan Indonesia berubah dari
Oficial Assesment
menjadi
Self assesment
.
Tax Reform 1983, melahirkan Undang-Undang No.12 Tahun 1985
tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang ditetapkan pada
tanggal 27 Desember 1985 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari
1986.
Sejarah Pajak Penghasilan
Sebelum 1920
Pajak pendapatan bagi orang eropa (tax patent duty), dan untuk orang Indonesia adalah Pajak pendapatan yang disebut business tax.
Business Tax tahun 1878 dikenakan untuk pribumi sebesar 2% per tahun dari penghasilan, dan 4% pertahun dari penghasilan orang Asing Asia.
Seluruh orang Indonesia yang ikut serta dalam perdagangan kecil-kecilan atau
eceran baik merupakan subyek dari pajak ini. Yang dikecualikan adalah para petani dan buruh yang bekerja pada tanah pertanian, kepala desa dan pegawai
dan buruh yang bekerja pada tanah pertanian, kepala desa dan pegawai pemerintahan.
Tax Patent Duty adalah pajak yang dikenakan terhadap penghasilan yang diperoleh dari usaha pertanian, manufakturing, kerajinan tangan, atau kegiatan industri di
Hindia Belanda.
Tarif proporsional, yakni 2% dari pendapatan. Pendapatan minimum tidak
disebutkan dan biaya pengeluaran dari rumah tangga atau pengeluaran pribadi tidak termasuk dalam perhitungan yang dikenakan pajak.
Tahun 1920
The Reseived ordinance on the Income Tax of 1920. Pendapatan menurut pengertian ordonansi ini adalah jumlah keseluruhan yang diterima baik dalam bentuk uang atau yang dapat dinilai dengan uang yang diperoleh dari barang-barang bergerak atau tidak gerak, atau dari kegiatan perdagangan atau pekerjaan keilmuan atau
pekerjaan lain, baik yang dikerjakan sekali-sekali atau secara kontinyu; kegiatan kantor perusahan, pelayanan, dan dari keruntungan lain yang diperoleh setelah dikurangi ongkos-ongkos pengeluaran.
Prinsip-prinsip dalam UU Pajak Pendapatan:
pajak diterapkan pada perseorangan, badan, pemegang saham, kerjasamapajak diterapkan pada perseorangan, badan, pemegang saham, kerjasama perdagangan, dan badan hukum lainnya termasuk perusahaan asing yang berkegiatan di Indonesia.
Penilaian pajak tahunan dihitung menurut sistem fiktif. Pendapatan secara total yang diperoleh dari berbagai sumber sejak tanggal 1 Januari setiap tahun digunakan
sebagai jumlah pendapatan yang nyata apabila wajib pajak tidak mempunyai
sumber pendapatan reguler. Peningkatan atau penurunan pendapatan selama tahun takwim tidak dijadikan sebagai patokan.
Tahun 1932-1983
Personal Income Tax Ordinance of1932 (Ordonansi Pajak Pendapatan 1932 =
Ordonantie op de Inkomstenbelasting 1932) pada tahun 1932.
Kemudian diganti menjadi Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 bernama “Pajak Perang” (Oorlogsbelasting). Sejak 1 Januari 1946 diubah menjadi Pajak Peralihan(Overgangsbelasting). kemudian dengan Undang-undang No.21 tahun1957 (LN No.41 tahun195) nama Ordonansi tersebut dengan resmi menjadi Ordonansi Pajak Pendapatan 1944.
Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 ini dalam bentuk aslinya disiapkan di Australia oleh pemerintah Hindia Belanda dalam pelarian, sewaktu Indonesia diduduki Jepang. Ditetapkan bahwa Subyek Pendapatan adalah Orang Pribadi, dan badan. Sedangkan Obyek pajaknya adalah pendapatan bersih. Mulai berlaku sejak 1 Januari 1945. Pada saat yang bersamaan maka “Ordonantie op de Inkomstenbelasting 1932” dinyatakan tidak berlaku.
Tahun 1984
Undang-Undang No.7 tahun 1983 tentang PPh yang disyahkan
tanggal 31 Desember 1983, dan berlaku pada tanggal 1 Januari
1984.
Kemudian ada perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun
1983, yaitu disyahkannya Undang-Undang No.7 Tahun 1991
1983, yaitu disyahkannya Undang-Undang No.7 Tahun 1991
tentang Pajak Penghasilan.
Tahun 1994 telah lahir pula Undang-Undang No.10 Tahun 1994
tentang perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun 1983
Sejarah Pajak Lainnya
Pajak Rumah Tangga 1908 dalam Undang-undang pajak Rumah Tangga 1908 yang kemudian diubah menjadi UU No.2 tahun 1953 dalam Lembaran Negara RI No.5 tahun 1953. Dasar pengenaan pajak ini adalah nilai sewa dan bangunan, nilai perabot, sepeda motor, dan mobil.
Pajak Verponding Indonesia tahun 1923 (Verponding Indonesia 1923, Staatsblad 1927 No.151). Pemungutan ditentukan oleh gubernur Jenderal dalam batas-batas atau bagian tempat yang ditunjuk oleh Gubernur Jenderal tadi dari tanah-tanah termasuk juga kolam dan hutan nipah dengan hak milik Indonesia dan dengan hak eigendom atau tanah milik partikelir.
Ordonansi Pajak Kekayaan 1932, dimana obyeknya adalah emas/logam mulia, mutiara, permata, rumah, tanah, pakaian dan bahan makanan.
Ordonansi Verponding Indonesia 1928, Obyek pajaknya adalah barang-barang tak gerak, tanah dan hasilnya serta rumah atau bangunan tak bergerak.
Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor 1934, kemudian melalui PERPU No.376 tahun 1959 dirubah dan ditambah sesuai
Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor 1934, kemudian melalui PERPU No.376 tahun 1959 dirubah dan ditambah sesuai dengan undang-undang seperti adanya saat ini.
Ordonansi Pajak Upah 1935(Wages Tax ordinance 1935)
Ordonansi Pajak Potong 1936
Ordonansi Pajak Bumi 1939 yang berasal dari Peraturan tentang Ordonansi Landrente 1907.
Ordonansi Pajak Jalan 1942
Ordonansi Pajak Radio 1947 (UU No.12 tahun 1947), kemudian diubah dan ditambah menjadi Undang-Undang No.2 tahun1959.
Pajak Pembangunan I tahun 1947 (UU No.14 Tahun 1947).
Pajak kopra 1949. Khusus berlaku untuk negara Indonesia Timur.
UU pajak Penjualan 1951 sebagai pengganti UU Pajak peredaran (UU Darurat No.12 tahun 1950)
PENGERTIAN DASAR
PENGERTIAN DASAR
PENGERTIAN PAJAK
PENGERTIAN PAJAK
Pajak
Pajak
Ajeg
pungutan teratur pada waktu tertentu
Pa-ajeg
pungutan teratur terhadap hasil bumi sebesar 40% yang dihasilkan petani
untuk diserahkan kepada raja dan pengurus desa.
Definisi pajak yang diberikan para ahli di bidang keuangan Negara,
Definisi pajak yang diberikan para ahli di bidang keuangan Negara,
ekonomi maupun hukum manca negara
ekonomi maupun hukum manca negara
1. Edwin Robert Anderson Seligman,
1. Edwin Robert Anderson Seligman,
Tax is a compulsory contribution from the person, to the government to
Tax is a compulsory contribution from the person, to the government to
defray the expenses the expenses incurred in the common interest of all
defray the expenses the expenses incurred in the common interest of all
without reference to special benefits conferred.
without reference to special benefits conferred.
Banyak yang berkeberatan atas
Banyak yang berkeberatan atas
without reference
without reference
karena bagaimanapun
karena bagaimanapun
juga uang
juga uang--uang pajak tersebut digunakan untuk produksi barang dan
uang pajak tersebut digunakan untuk produksi barang dan
juga uang
juga uang--uang pajak tersebut digunakan untuk produksi barang dan
uang pajak tersebut digunakan untuk produksi barang dan
jasa, jadi
jasa, jadi
benefit
benefit
diberikan kepada masyarakat, hanya tidak mudah
diberikan kepada masyarakat, hanya tidak mudah
ditunjukkan apalagi secara perorangan.
ditunjukkan apalagi secara perorangan.
2. Leroy Beaulieu,
2. Leroy Beaulieu,
L’ impot et la contribution, soit directe soit dissimulee, que la Puissance
L’ impot et la contribution, soit directe soit dissimulee, que la Puissance
publique exige des habitants ou des biens pur subvenir aux depenses du
publique exige des habitants ou des biens pur subvenir aux depenses du
gouvernment.
gouvernment.
Pajak adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak yang
Pajak adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak yang
dipaksakan oleh kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang, untuk
dipaksakan oleh kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang, untuk
menutupi belanja pemerintah.
3. Ray M. Sommerfeld, Hershel M. Anderson, dan Horace R. Brock : 3. Ray M. Sommerfeld, Hershel M. Anderson, dan Horace R. Brock :
any nonpenal yet compulsory transfer of resources from the private to the public any nonpenal yet compulsory transfer of resources from the private to the public sector, levied on the basis of predetermined criteria and without receipt of a sector, levied on the basis of predetermined criteria and without receipt of a specific benefit of equal value, in order to accomplish some of a nation’s specific benefit of equal value, in order to accomplish some of a nation’s economic and social objectives
economic and social objectives
Pajak adalah suaatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, Pajak adalah suaatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan
bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan
ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas
dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas--tugasnya untuktugasnya untuk menjalankan pemerintahan.
menjalankan pemerintahan.
4. Prof. Dr. P.J.A. Andriani 4. Prof. Dr. P.J.A. Andriani
Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan
yang wajib membayarnya menurut peraturan--peraturan dengan tidak mendapatperaturan dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran
membiayai pengeluaran--pengeluaran umum berhubung dengan tugas negarapengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
untuk menyelenggarakan pemerintahan.
5. Prof. Dr. Rochmat Soemitro SH, 5. Prof. Dr. Rochmat Soemitro SH,
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan dari sektor Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan dari sektor partikulir ke sektor pemerintah) berdasarkan undang
partikulir ke sektor pemerintah) berdasarkan undang--undang (dapat dipaksakan)undang (dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (tegen prestasi), yang langsung dapat
dengan tiada mendapat jasa timbal (tegen prestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membiayai pengeluaran umum.
Ciri
Ciri--ciri atau unsur pokok yang terdapat
ciri atau unsur pokok yang terdapat
pada pengertian
pada pengertian pajak
pajak
1. Pajak dipungut berdasarkan undang
1. Pajak dipungut berdasarkan undang--undangundang
yang memikul beban pajak adalah rakyat, masalah
yang memikul beban pajak adalah rakyat, masalahtax basetax base dandantax ratetax rate harus melaluiharus melalui persetujuan rakyat yang diwakili oleh lembaga perwakilan rakyat. Hasil persetujuan tersebut persetujuan rakyat yang diwakili oleh lembaga perwakilan rakyat. Hasil persetujuan tersebut dituangkan dalam suatu undang
dituangkan dalam suatu undang--undang yang harus dipatuhi oleh setiap pihak yangundang yang harus dipatuhi oleh setiap pihak yang dikenakan kewajiban perpajakan.
dikenakan kewajiban perpajakan.
2. P
2. Pajak dapat dipaksakanajak dapat dipaksakan
Jika tidak dipenuhinya kewajiban perpajakan maka Wajib Pajak dapat dikenakan tindakan Jika tidak dipenuhinya kewajiban perpajakan maka Wajib Pajak dapat dikenakan tindakan hukum oleh pemerintah berdasarkan undang
hukum oleh pemerintah berdasarkan undang--undang.undang. Tindakan hukum atas pelanggaran peraturan perundang
Tindakan hukum atas pelanggaran peraturan perundang--undangan dapat dikenakan sanksiundangan dapat dikenakan sanksi administrasi maupun sanksi pidana fiskal (UU no.16 tahun 2000).
administrasi maupun sanksi pidana fiskal (UU no.16 tahun 2000).
Sanksi administrasi merupakan sanksi yang ditujukan bagi Wajib Pajak yang terlambat atau Sanksi administrasi merupakan sanksi yang ditujukan bagi Wajib Pajak yang terlambat atau tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa maupun Tahunan.
tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa maupun Tahunan.
Tindak pidana fiskal merupakan tindak pidana atau perbuatan yang dilakukan wajib pajak Tindak pidana fiskal merupakan tindak pidana atau perbuatan yang dilakukan wajib pajak yang oleh undang
yang oleh undang--undang diancam pidana , karena melawan atau bertentangan denganundang diancam pidana , karena melawan atau bertentangan dengan hukum, yang dapat merugikan masyarakat dan negara dilakukan dibidang perpajakan. hukum, yang dapat merugikan masyarakat dan negara dilakukan dibidang perpajakan. Tindak pidana fiskal yang melawan atau bertentangan dengan hukum:
Tindak pidana fiskal yang melawan atau bertentangan dengan hukum:
a. alfa tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT dengan tidak benar, a. alfa tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT dengan tidak benar, b. sengaja tidak memenuhi kewajiban perpajakan yang berakibat merugikan negara, b. sengaja tidak memenuhi kewajiban perpajakan yang berakibat merugikan negara, c. pengulangan tindak pidana
c. pengulangan tindak pidana
3. Diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah 3. Diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah
Pemerintah dalam menjalankan fungsinya, seperti melaksanakan ketertiban, Pemerintah dalam menjalankan fungsinya, seperti melaksanakan ketertiban, mengusahakan kesejahteraan, melaksanakan fungsi pertahanan, dan fungsi mengusahakan kesejahteraan, melaksanakan fungsi pertahanan, dan fungsi penegakan keadilan, membutuhkan dana untuk pembiayaannya. Dana yang penegakan keadilan, membutuhkan dana untuk pembiayaannya. Dana yang diperoleh dari rakyat dalam bentuk pajak digunakan untuk memenuhi biaya atas diperoleh dari rakyat dalam bentuk pajak digunakan untuk memenuhi biaya atas fungsi
fungsi--fungsi yang harus dilakukan pemerintah tersebut.fungsi yang harus dilakukan pemerintah tersebut.
4. Tidak dapat ditunjukkannya kontraprestasi secara langsung 4. Tidak dapat ditunjukkannya kontraprestasi secara langsung
Wajib Pajak tidak mendapatkan imbalan secara langsung dengan apa yang telah Wajib Pajak tidak mendapatkan imbalan secara langsung dengan apa yang telah dibayarkannya pada pemerintah.
dibayarkannya pada pemerintah.
Wajib Pajak hanya dapat merasakan secara tidak langsung bentuk
Wajib Pajak hanya dapat merasakan secara tidak langsung bentuk--bentukbentuk kontraprestasi dari pemerintah. Seperti melihat banyak dibangunnya fasilitas kontraprestasi dari pemerintah. Seperti melihat banyak dibangunnya fasilitas umum dan prasarana yang dibiayai dari APBN atau APBD.
umum dan prasarana yang dibiayai dari APBN atau APBD. Merasakan keamananMerasakan keamanan umum dan prasarana yang dibiayai dari APBN atau APBD.
umum dan prasarana yang dibiayai dari APBN atau APBD. Merasakan keamananMerasakan keamanan dan stabilitas negara karena aparatur negara maupun prasarana dan sarana
dan stabilitas negara karena aparatur negara maupun prasarana dan sarana pertahanan dan keamanan negara telah dibiayai dengan pajak.
pertahanan dan keamanan negara telah dibiayai dengan pajak.
5. Berfungsi sebagai budgeter dan regulerend 5. Berfungsi sebagai budgeter dan regulerend
Fungsi budgetair (anggaran), pajak berfungsi mengisi kas negara atau anggaran Fungsi budgetair (anggaran), pajak berfungsi mengisi kas negara atau anggaran pendapatan negara, yang digunakan untuk keperluan pembiayaan umum
pendapatan negara, yang digunakan untuk keperluan pembiayaan umum pemerintah baik rutin maupun untuk pembangunan.
pemerintah baik rutin maupun untuk pembangunan.
Fungsi regulerend adalah pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau alat Fungsi regulerend adalah pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau alat untuk melaksanakan kebijakan yang ditetapkan negara dalam bidang ekonomi untuk melaksanakan kebijakan yang ditetapkan negara dalam bidang ekonomi sosial untuk mencapai tujuan tertentu.
FUNGSI PAJAK
FUNGSI PAJAK
FUNGSI BUDGETAIR
fungsi utama pajak, atau fungsi fiskal
pajak dipergunakan sebagai alat untuk memasukkan dana secara optimal ke kas negara berdasarkan undang-undang perpajakan
Untuk membiayai tugas-tugas rutin negara dan membiayai pelaksanaan pembangunan nasional.
FUNGSI REGULERENT
Fungsi tambahan
pajak merupakan alat kebijakan pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu.
pajak dimaksudkan pula sebagai usaha pemerintah untuk ikut andil dalam hal mengatur dan bilamana perlu mengubah
Faktor
Faktor--faktor yang mempengaruhi dan menentukan optimalisasi
faktor yang mempengaruhi dan menentukan optimalisasi
pemasukan dana ke kas Negara melalui pemungutan pajak :
pemasukan dana ke kas Negara melalui pemungutan pajak :
1. Kejelasan dan kepastian peraturan perundang
1. Kejelasan dan kepastian peraturan perundang--undangan perpajakanundangan perpajakan Undang
Undang--undang yang jelas, sederhana, mudah dimengerti akan memberiundang yang jelas, sederhana, mudah dimengerti akan memberi
penafsiran yang sama bagi wajib pajak dan fiskus, tidak ada salah interprestasi, penafsiran yang sama bagi wajib pajak dan fiskus, tidak ada salah interprestasi, akan menimbulkan motivasi pemenuhan kewajiban perpajakan sebagaimana akan menimbulkan motivasi pemenuhan kewajiban perpajakan sebagaimana mestinya, hal ini akan memperlancar penerimaan negara dari sektor pajak. mestinya, hal ini akan memperlancar penerimaan negara dari sektor pajak. Kesadaran dan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan akan terbentuk Kesadaran dan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan akan terbentuk dengan peraturan yang tidak berbelit
dengan peraturan yang tidak berbelit--belit.belit.
2. Tingkat intelektual masyarakat 2. Tingkat intelektual masyarakat 2. Tingkat intelektual masyarakat 2. Tingkat intelektual masyarakat
Dengan tingkat intelektual yang cukup baik : Dengan tingkat intelektual yang cukup baik :
-- makin mudah bagi wajib pajak untuk memahami peraturan perundangmakin mudah bagi wajib pajak untuk memahami peraturan perundang--undangan perpajakan yang berlaku.
undangan perpajakan yang berlaku.
-- Wajib pajak dapat melaksanakan administrasi perpajakan, seperti menghitungWajib pajak dapat melaksanakan administrasi perpajakan, seperti menghitung pajak terutang atau mengisi Surat Pemberitahuan
pajak terutang atau mengisi Surat Pemberitahuan
-- dapat memahami bahwa dengan tidak memenuhi peraturan maka akandapat memahami bahwa dengan tidak memenuhi peraturan maka akan menerima sanksi baik sanksi administrasi maupun pidana fiskal. Maka akan menerima sanksi baik sanksi administrasi maupun pidana fiskal. Maka akan diwujudkan masyarakat yang sadar pajak dan mau memenuhi kewajiban diwujudkan masyarakat yang sadar pajak dan mau memenuhi kewajiban perpajakannya.
3. Kualitas petugas pajak (intelektual, keterampilan, integritas, moral tinggi) 3. Kualitas petugas pajak (intelektual, keterampilan, integritas, moral tinggi)
Kualitas petugas pajak sangat menentukan efektivitas undang
Kualitas petugas pajak sangat menentukan efektivitas undang--undang danundang dan
peraturan perpajakan. Petugas pajak memiliki reputasi yang baik sepanjang yang peraturan perpajakan. Petugas pajak memiliki reputasi yang baik sepanjang yang menyangkut kecakapan teknis, efisien, dan efektif dalam hal kecepatan, tepat dan menyangkut kecakapan teknis, efisien, dan efektif dalam hal kecepatan, tepat dan keputusan yang adil.
keputusan yang adil.
Petugas pajak yang berhubungan dengan masyarakat pembayar pajak harus Petugas pajak yang berhubungan dengan masyarakat pembayar pajak harus memiliki intelektualitas tinggi, terlatih baik, digaji baik, dan bermoral tinggi. memiliki intelektualitas tinggi, terlatih baik, digaji baik, dan bermoral tinggi. Petugas pajak harus berkompeten di bidangnya, dapat menggali obyek
Petugas pajak harus berkompeten di bidangnya, dapat menggali obyek--obyekobyek pajak yang menurut undang
pajak yang menurut undang--undang harus dikenakan pajak, tidak begitu sajaundang harus dikenakan pajak, tidak begitu saja mempercayai keterangan dan laporan keuangan Wajib Pajak.
mempercayai keterangan dan laporan keuangan Wajib Pajak.
4. Sistem administrasi perpajakan yang tepat 4. Sistem administrasi perpajakan yang tepat
Administrasi perpajakan hendaklah merupakan prioritas tertinggi karena Administrasi perpajakan hendaklah merupakan prioritas tertinggi karena Administrasi perpajakan hendaklah merupakan prioritas tertinggi karena Administrasi perpajakan hendaklah merupakan prioritas tertinggi karena
kemampuan pemerintah untuk menjalankan fungsinya secara efektif bergantung kemampuan pemerintah untuk menjalankan fungsinya secara efektif bergantung kepada jumlah uang yang dapat diperolehnya melalui pemungutan pajak.
kepada jumlah uang yang dapat diperolehnya melalui pemungutan pajak. Sistem administrasi memegang peran penting. Unit
Sistem administrasi memegang peran penting. Unit--unit penting sebagai kunciunit penting sebagai kunci strategis dalam organisasi pengadministrasian (Kantor Pelayanan Pajak) sebagai strategis dalam organisasi pengadministrasian (Kantor Pelayanan Pajak) sebagai
operating arms
operating arms dari pemerintah harus memiliki sistem administasi pajak yangdari pemerintah harus memiliki sistem administasi pajak yang tepat. Sistem Informasi Pajak yang terintegrasi dengan menggunakan Intranet tepat. Sistem Informasi Pajak yang terintegrasi dengan menggunakan Intranet akan lebih memudahkan konfirmasi antar unit kunci strategis (KPP) dan juga akan lebih memudahkan konfirmasi antar unit kunci strategis (KPP) dan juga
untuk memudahkan Wajib Pajak yang melakukan restitusi, dalam hal penerimaan untuk memudahkan Wajib Pajak yang melakukan restitusi, dalam hal penerimaan jawaban konfirmasi.
Fungsi regulerend pada
Fungsi regulerend pada
Tax Reform
Tax Reform
Tahun 2000
Tahun 2000
1. pasal 5 UU No.18 tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai
1. pasal 5 UU No.18 tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Disamping mengenakan Pajak Pertambahan Nilai maka ada beberapa Barang Disamping mengenakan Pajak Pertambahan Nilai maka ada beberapa Barang Kena Pajak yang dikenakan juga Pajak Atas Barang Mewah.
Kena Pajak yang dikenakan juga Pajak Atas Barang Mewah.
Pertimbangan yang mendasari peraturan tersebut adalah bahwa Pertimbangan yang mendasari peraturan tersebut adalah bahwa -- perlunya keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yangperlunya keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi -- perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak yangperlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah
tergolong Mewah tergolong Mewah tergolong Mewah
-- perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisionalperlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional -- perlu untuk mengamankan penerimaan negara.perlu untuk mengamankan penerimaan negara.
Yang dimaksud dengan Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah dalam hal ini Yang dimaksud dengan Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah dalam hal ini adalah
adalah
-- bahwa barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokokbahwa barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok -- barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentubarang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu
-- pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilanpada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi
tinggi
-- barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan statusbarang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status
-- apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat, sertaapabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat, serta mengganggu ketertiban masyarakat, serta mengganggu ketertiban masyarakat, mengganggu ketertiban masyarakat, serta mengganggu ketertiban masyarakat, seperti minuman beralkohol
2. pasal 16B UU No.18 tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai 2. pasal 16B UU No.18 tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pajak terutang tidak dipungut sebagian Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya baik untuk sementara waktu atau selamanya, atau dibebaskan dari
atau seluruhnya baik untuk sementara waktu atau selamanya, atau dibebaskan dari pengenaan pajak untuk:
pengenaan pajak untuk:
a. kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam daerah Pabean. a. kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam daerah Pabean.
b. Penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu b. Penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu c. Impor Barang kena Pajak tertentu
c. Impor Barang kena Pajak tertentu
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari Luar Daerah Pabean di dalam d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari Luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
Daerah Pabean
e. Pemanfaatan Jasa kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean e. Pemanfaatan Jasa kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean Tujuan diberikannya kemudahan untuk memberikan fasilitas perpajakan yang benar
Tujuan diberikannya kemudahan untuk memberikan fasilitas perpajakan yang benar--benarbenar diperlukan terutama untuk berhasilnya sektor
diperlukan terutama untuk berhasilnya sektor--sektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggisektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggi dalam skala nasional, mendorong perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya saing, dalam skala nasional, mendorong perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya saing, dalam skala nasional, mendorong perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya saing, dalam skala nasional, mendorong perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya saing, mendukung pertahanan nasional, serta memperlancar pembangunan nasional.
mendukung pertahanan nasional, serta memperlancar pembangunan nasional. Kemudahan perpajakan yang diatur dalam pasal ini diberikan terbatas untuk: Kemudahan perpajakan yang diatur dalam pasal ini diberikan terbatas untuk:
-- mendorong ekspor yang merupakan prioritas nasional di Kawasan Berikat dan Entreportmendorong ekspor yang merupakan prioritas nasional di Kawasan Berikat dan Entreport Produksi untuk tujuan ekspor (EPTE) atau untuk pengembangan wilayah lain dalam Daerah Produksi untuk tujuan ekspor (EPTE) atau untuk pengembangan wilayah lain dalam Daerah Pabean yang dibentuk khusus untuk maksud tersebut
Pabean yang dibentuk khusus untuk maksud tersebut
-- menampung kemungkinan perjanjian dengan negara atau negara lain dalam bidangmenampung kemungkinan perjanjian dengan negara atau negara lain dalam bidang perdagangan dan investasi
perdagangan dan investasi
-- mendorong peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengadaan vaksinmendorong peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengadaan vaksin--vaksin yangvaksin yang diperlukan dalam rangka Program Imunisasi Nasional
3. pasal 16C UU No.18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai,
3. pasal 16C UU No.18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai,
Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha
Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha
atau pekerjaannya dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dengan
atau pekerjaannya dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dengan
pertimbangan untuk mencegah terjadinya penghindaran pengenaan Pajak
pertimbangan untuk mencegah terjadinya penghindaran pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai.
Pertambahan Nilai.
Untuk melindungi masyarakat yang berpenghasilan rendah dari pengenaan
Untuk melindungi masyarakat yang berpenghasilan rendah dari pengenaan
Pajak Pertambahan Nilai atas kegiatan membangun sendiri, maka diatur
Pajak Pertambahan Nilai atas kegiatan membangun sendiri, maka diatur
batasan kegiatan membangun sendiri dengan Keputusan Menteri
batasan kegiatan membangun sendiri dengan Keputusan Menteri
Keuangan.
Keuangan.
Syarat kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN adalah
Syarat kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN adalah
dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan
dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan
yang dibangun adalah bangunan untuk tempat tinggal tidak termasuk
yang dibangun adalah bangunan untuk tempat tinggal tidak termasuk
fasilitas penunjang, jika untuk tempat usaha maka termasuk semua fasilitas
fasilitas penunjang, jika untuk tempat usaha maka termasuk semua fasilitas
penunjang
penunjang
4. pasal 31A UU No.17 tahun 2000
4. pasal 31A UU No.17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan
tentang Pajak Penghasilan
..
Kepada Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di bidang
Kepada Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di
bidang--bidang usaha tertentu dan atau di daerah
bidang usaha tertentu dan atau di daerah--daerah tertentu dapat diberikan
daerah tertentu dapat diberikan
fasilitas perpajakan dalam bentuk :
fasilitas perpajakan dalam bentuk :
–
– pengurangan penghasilan netto paling tinggi 30% dari jumlah penanamanpengurangan penghasilan netto paling tinggi 30% dari jumlah penanaman yang dilakukan
yang dilakukan –
– penyusutan dan amortisasi yang dipercepatpenyusutan dan amortisasi yang dipercepat –
– kompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak lebih dari 10 tahunkompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak lebih dari 10 tahun
pengenaan pajak penghasilan atas dividen sebesar 10% kecuali apabila
pengenaan pajak penghasilan atas dividen sebesar 10% kecuali apabila
tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih
tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih
tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih
tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih
rendah.
rendah.
Tujuan diberikannya kemudahan pajak ini adalah untuk mendorong
Tujuan diberikannya kemudahan pajak ini adalah untuk mendorong
kegiatan investasi langsung di Indonesia baik melalui penanaman modal
kegiatan investasi langsung di Indonesia baik melalui penanaman modal
asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang
asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang--bidang usaha
bidang usaha
tertentu dan daerah
tertentu dan daerah--daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam
daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam
skala nasional, khususnya penggalakan ekspor.
skala nasional, khususnya penggalakan ekspor.
Selain itu kemudahan pajak juga diberikan untuk mendorong
Selain itu kemudahan pajak juga diberikan untuk mendorong
ASAS PEMUNGUTAN PAJAK
ASAS PEMUNGUTAN PAJAK
Asas Domisili
Pengenaan pajak tergantung padatempat tinggal (domisili) Wajib Pajak.
Cara pemungutan pajak yang bergantung
Asas Sumber
Asas Kebangsaan
Cara pemungutan pajak yang bergantung pada sumber dimana obyek pajak diperoleh.
CARA PEMUNGUTAN PAJAK
CARA PEMUNGUTAN PAJAK
Sistem Fiktif
Sistem Nyata
Penghitungan pajak terutang dengan
suatu anggapan
Sistem Nyata
Sistem Campuran
mendasarkan pengenaan pajak pada
penghasilan yang sungguh-sungguh diperoleh
dalam setiap tahun pajak
JENIS PUNGUTAN DI INDONESIA
JENIS PUNGUTAN DI INDONESIA
Pajak Pusat
Pajak Daerah
pemungutannya dilaksanakan oleh pemerintah pusat PPh, PPN, PBB, BM, BPHTB
pungutan wajib atas orang pribadi atau Badan yang dilakukan oleh
pemerintah daerah tanpa kontraprestai secara langsung yang seimbang
DT I : Kend bmotor Bea Balik Nama
Pemanfaatan air tanah
DT II : Pajak Hotel & restaurant Pajak Hiburan, Reklame
Restribusi Daerah
Penerimaan Bukan Pajak
Bea dan Cukai
pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
penerimaan jasa giro, sisa anggaran pembangunan & rutin Royalti di bidang perikanan, kehutanan dan pertambangan Dividen, pembagian laba,
Penerimaan dari pelayanan pemerintah : pendidikan, kesehatan Denda, sanksi, pelelangan
PENGGOLONGAN JENIS PAJAK
PENGGOLONGAN JENIS PAJAK
Pajak Langsung
Pajak Tidak Langsung
Pajak Subyektif
Pajak Obyektif
DASAR HUKUM DAN PRINSIP
DASAR HUKUM DAN PRINSIP
PEMUNGUTAN PAJAK
PEMUNGUTAN PAJAK
DASAR HUKUM PEMUNGUTAN PAJAK
DASAR HUKUM PEMUNGUTAN PAJAK
Asas Keadilan
Asas Keadilan
Asas Keadilan
Asas Keadilan
Asas Yuridis
Asas Yuridis
Asas Ekonomis
Asas Ekonomis
Asas Finansial
Asas Finansial
PRINSIP PEMUNGUTAN PAJAK
PRINSIP PEMUNGUTAN PAJAK
PRINSIP KEADILAN DAN PEMERATAAN
PRINSIP KEADILAN DAN PEMERATAAN (EQUALITY)(EQUALITY) PRINSIP KEPASTIAN HUKUM
PRINSIP KEPASTIAN HUKUM (CERTAINTY)(CERTAINTY) PRINSIP
PRINSIP CONVENIENCECONVENIENCE
DASAR HUKUM PEMUNGUTAN
DASAR HUKUM PEMUNGUTAN
PAJAK
PAJAK
Asas Keadilan
Asas Keadilan
Untuk memberikan dasar pada keadilan ini maka dijelaskan dengan
Untuk memberikan dasar pada keadilan ini maka dijelaskan dengan
bermacam
bermacam–
–macam teori yaitu :
macam teori yaitu :
1.
1.
Teori Asuransi
Teori Asuransi
2.2.
Teori Kepentingan
Teori Kepentingan
3.3.
Teori Bakti atau Kewajiban Mutlak
Teori Bakti atau Kewajiban Mutlak
4.4.
Teori Gaya Pikul
Teori Gaya Pikul
5.5.
Teori Gaya Beli
Teori Gaya Beli
6.1. Teori Asuransi
1. Teori Asuransi
Kewajiban Negara adalah melindungi warga negaranya, dari segala
Kewajiban Negara adalah melindungi warga negaranya, dari segala
bentuk ancaman yang akan membuat keselamatan dan keamanan
bentuk ancaman yang akan membuat keselamatan dan keamanan
jiwa, harta bendanya terenggut. Teori ini menekankan pada rakyat
jiwa, harta bendanya terenggut. Teori ini menekankan pada rakyat
sebagai pihak yang dilindungi harus memberikan iuran atau
sebagai pihak yang dilindungi harus memberikan iuran atau
pembayaran kepada Negara.
pembayaran kepada Negara.
P
Pajak disini dianggap sebagai premi, seperti premi asuransi.
ajak disini dianggap sebagai premi, seperti premi asuransi.
Kelemahan dari teori asuransi ini adalah :
Kelemahan dari teori asuransi ini adalah :
–
– Negara tidak memberi ganti rugi jika Wajib Pajak menderita kerugian
Negara tidak memberi ganti rugi jika Wajib Pajak menderita kerugian
jiwa atau harta benda.
jiwa atau harta benda.
–
– Negara sebagai Penerima pajak tidak memberikan kontraprestasi secara
Negara sebagai Penerima pajak tidak memberikan kontraprestasi secara
langsung kepada wajib Pajak, sesuai dengan pengertian pajak itu
langsung kepada wajib Pajak, sesuai dengan pengertian pajak itu
sendiri
2. Teori kepentingan
2. Teori kepentingan
Teori ini menekankan pada keadilan dan keabsahan pemungutan pajak
Teori ini menekankan pada keadilan dan keabsahan pemungutan pajak
berdasarkan kepada besar kecilnya kepentingan masyarakat dalam suatu
berdasarkan kepada besar kecilnya kepentingan masyarakat dalam suatu
Negara. Bahwa penetapan beban pajak yang harus dibayar oleh rakyat
Negara. Bahwa penetapan beban pajak yang harus dibayar oleh rakyat
berdasarkan pada tingkat kepentingan rakyat kepada Negaranya termasuk
berdasarkan pada tingkat kepentingan rakyat kepada Negaranya termasuk
masalah kepentingan akan perlindungan atas jiwa beserta harta bendanya.
masalah kepentingan akan perlindungan atas jiwa beserta harta bendanya.
Makin besar kepentingan penduduk kepada Negara maka makin besar pula
Makin besar kepentingan penduduk kepada Negara maka makin besar pula
perlindungan Negara kepadanya, dan makin berhak pula negara memungut
perlindungan Negara kepadanya, dan makin berhak pula negara memungut
pajak dari rakyatnya.
pajak dari rakyatnya.
Teori ini kurang tepat karena :
Teori ini kurang tepat karena :
tidak ada standar, atau pedoman baku yang dapat mengukur kepentingan
tidak ada standar, atau pedoman baku yang dapat mengukur kepentingan
tidak ada standar, atau pedoman baku yang dapat mengukur kepentingan
tidak ada standar, atau pedoman baku yang dapat mengukur kepentingan
seseorang yang membayar pajak besar dengan yang membayar pajaknya
seseorang yang membayar pajak besar dengan yang membayar pajaknya
kecil dan orang yang tidak membayar pajak.
kecil dan orang yang tidak membayar pajak.
Apakah penggunaan jalan umum yang sudah baik hanya boleh dilalui oleh
Apakah penggunaan jalan umum yang sudah baik hanya boleh dilalui oleh
orang yang telah bayar pajak. Apakah petani miskin yang membutuhkan
orang yang telah bayar pajak. Apakah petani miskin yang membutuhkan
perlindungan harus membayar pajak terlebih dahulu.
perlindungan harus membayar pajak terlebih dahulu.
Ditinjau dari unsur utama dari definisi pajak yaitu bahwa unsur pajak salah
Ditinjau dari unsur utama dari definisi pajak yaitu bahwa unsur pajak salah
satunya adalah tidak ada kontraprestrasi atau imbalan secara langsung
satunya adalah tidak ada kontraprestrasi atau imbalan secara langsung
kepada wajib pajak yang telah membayar pajak pada negara maka adanya
kepada wajib pajak yang telah membayar pajak pada negara maka adanya
kontraprestasi secara langsung pada teori kepentingan ini seperti yang
3.
3. Teori bakti atau teori kewajiban pajak mutlak
Teori bakti atau teori kewajiban pajak mutlak
Penduduk harus tunduk, patuh kepada negara, karena
Penduduk harus tunduk, patuh kepada negara, karena
negara dalam kenyataannya sejak dahulu sudah ada,
negara dalam kenyataannya sejak dahulu sudah ada,
dan diakui eksistensinya baik oleh penduduk maupun
dan diakui eksistensinya baik oleh penduduk maupun
oleh negara lain.
oleh negara lain.
M
Maka penduduk wajib berbakti pada negara, wajib
aka penduduk wajib berbakti pada negara, wajib
membayar pajak, sebagai rasa bakti kepada negara.
membayar pajak, sebagai rasa bakti kepada negara.
membayar pajak, sebagai rasa bakti kepada negara.
membayar pajak, sebagai rasa bakti kepada negara.
Penganut teori ini menganjurkan untuk membayar pajak
Penganut teori ini menganjurkan untuk membayar pajak
kepada negara dengan tidak mempermasalahkan apa
kepada negara dengan tidak mempermasalahkan apa
yang menjadi
yang menjadi
basic
basic
atau dasar bagi negaranya untuk
atau dasar bagi negaranya untuk
memungut pajak pada penduduknya.
memungut pajak pada penduduknya.
Teori ini mendukung asas keadilan dalam pemungutan
Teori ini mendukung asas keadilan dalam pemungutan
4. Teori gaya pikul
4. Teori gaya pikul
Keadilan dan kebenaran negara dalam memungut pajak dari
Keadilan dan kebenaran negara dalam memungut pajak dari
warganya didasarkan pada kemampuan dan kekuatan setiap pribadi
warganya didasarkan pada kemampuan dan kekuatan setiap pribadi
masyarakatnya, dan bukan pada besar kecilnya kepentingan tiap
masyarakatnya, dan bukan pada besar kecilnya kepentingan
tiap--tiap penduduk, seperti pada teori Kepentingan.
tiap penduduk, seperti pada teori Kepentingan.
Kemampuan dan kekuatan dari pribadi dan suatu entitas yang
Kemampuan dan kekuatan dari pribadi dan suatu entitas yang
membayar pajak merupakan kemampuan dan kekuatan untuk
membayar pajak merupakan kemampuan dan kekuatan untuk
memperoleh penghasilan, harta, kekayaan, dan konsumsi dengan
memperoleh penghasilan, harta, kekayaan, dan konsumsi dengan
tujuan dari itu adalah dapat menghidupi diri sendiri dan kemampuan
tujuan dari itu adalah dapat menghidupi diri sendiri dan kemampuan
untuk memikul beban kehidupan lainnya.
untuk memikul beban kehidupan lainnya.
untuk memikul beban kehidupan lainnya.
untuk memikul beban kehidupan lainnya.
Di Indonesia ajaran teori ini diterapkan kepada Wajib Pajak dengan
Di Indonesia ajaran teori ini diterapkan kepada Wajib Pajak dengan
tidak langsung mengenakan pajak penghasilan atas seluruh
tidak langsung mengenakan pajak penghasilan atas seluruh
penghasilan brutonya.
penghasilan brutonya.
Tetapi pajak dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak (PKP) atau
Tetapi pajak dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak (PKP) atau
Penghasilan Neto Fiskal yaitu Penghasilan Bruto dikurangi
Penghasilan Neto Fiskal yaitu Penghasilan Bruto dikurangi
pengurang (biaya
pengurang (biaya--biaya yang diperkenankan oleh peraturan
biaya yang diperkenankan oleh peraturan
perpajakan) dan kemudian dikurangi (PTKP) Penghasilan Tidak Kena
perpajakan) dan kemudian dikurangi (PTKP) Penghasilan Tidak Kena
Pajak (untuk Wajib Pajak Orang Pribadi).
5.
5.
Teori Gaya beli
Teori Gaya beli
Teori ini memandang fungsi pemungutan pajak sebagai suatu cara
Teori ini memandang fungsi pemungutan pajak sebagai suatu cara
memanfaatkan gaya beli dari masyarakat untuk kepentingan negara
memanfaatkan gaya beli dari masyarakat untuk kepentingan negara
dalam menjalankan fungsi pemerintahan dan menyalurkannya
dalam menjalankan fungsi pemerintahan dan menyalurkannya
kembali ke masyarakat dalam bentuk pemberian fasilitas sosial,
kembali ke masyarakat dalam bentuk pemberian fasilitas sosial,
ekonomi, pertahanan dan keamanan, dengan maksud untuk
ekonomi, pertahanan dan keamanan, dengan maksud untuk
memberikan rasa adil, aman, dan sejahtera bagi masyarakat. Teori
memberikan rasa adil, aman, dan sejahtera bagi masyarakat. Teori
ini lebih menekankan kepada efek yang ditimbulkannya, karena efek
ini lebih menekankan kepada efek yang ditimbulkannya, karena efek
pemungutan pajak yang ditimbulkannya baik seperti
pemungutan pajak yang ditimbulkannya baik seperti
terselenggaranya kepentingan masyarakat maka dianggap sebagai
terselenggaranya kepentingan masyarakat maka dianggap sebagai
dasar keadilan pemungutan pajak.
dasar keadilan pemungutan pajak.
dasar keadilan pemungutan pajak.
dasar keadilan pemungutan pajak.
Negara adalah penyelenggara berbagai kepentingan yang
Negara adalah penyelenggara berbagai kepentingan yang
mendukung kesejahteraan masyarakat dan negara itu sendiri.
mendukung kesejahteraan masyarakat dan negara itu sendiri.
Negara memiliki wewenang dan keabsahan memungut pajak.
Negara memiliki wewenang dan keabsahan memungut pajak.
Negara dapat memanfaatkan kekuatan dan kemampuan beli (gaya
Negara dapat memanfaatkan kekuatan dan kemampuan beli (gaya
beli) masyarakat untuk kepentingan negara yang pada akhirnya
beli) masyarakat untuk kepentingan negara yang pada akhirnya
akan dikembalikan atau disalurkan kembali pada masyarakat, untuk
akan dikembalikan atau disalurkan kembali pada masyarakat, untuk
kesejahteraan masyarakat.
6. Teori Pembangunan
6. Teori Pembangunan
Untuk Indonesia justifikasi yang paling tepat adalah
Untuk Indonesia justifikasi yang paling tepat adalah
pembangunan. Pajak dipungut negara untuk
pembangunan. Pajak dipungut negara untuk
pembangunan. Pembangunan merupakan pengertian
pembangunan. Pembangunan merupakan pengertian
tentang tujuan suatu negara yaitu masyarakat yang adil,
tentang tujuan suatu negara yaitu masyarakat yang adil,
makmur, sejahtera di semua bidang kehidupan.
makmur, sejahtera di semua bidang kehidupan.
Pembangunan seperti itu tentunya tidak dapat dilakukan
Pembangunan seperti itu tentunya tidak dapat dilakukan
seperti membalikkan telapak tangan, pembangunan
seperti membalikkan telapak tangan, pembangunan
Pembangunan seperti itu tentunya tidak dapat dilakukan
Pembangunan seperti itu tentunya tidak dapat dilakukan
seperti membalikkan telapak tangan, pembangunan
seperti membalikkan telapak tangan, pembangunan
membutuhkan begitu banyak biaya dan pengorbanan.
membutuhkan begitu banyak biaya dan pengorbanan.
Untuk itu negara memiliki keabsahan, wewenang untuk
Untuk itu negara memiliki keabsahan, wewenang untuk
memungut dana dari masyarakat berupa pajak. Karena
memungut dana dari masyarakat berupa pajak. Karena
tujuan utama dari pembangunan adalah untuk rakyat
tujuan utama dari pembangunan adalah untuk rakyat
maka sewajarnya rakyat ikut andil bersama
maka sewajarnya rakyat ikut andil bersama--sama dalam
sama dalam
Asas Yuridis
Asas Yuridis
Menyatakan bahwa Hukum Pajak, peraturan perundang
Menyatakan bahwa Hukum Pajak, peraturan
perundang--undangan perpajakan harus dapat memberikan jaminan
undangan perpajakan harus dapat memberikan jaminan
hukum, baik untuk negara maupun bagi warga
hukum, baik untuk negara maupun bagi warga
negaranya, bagi fiskus dan juga bagi Wajib Pajak.
negaranya, bagi fiskus dan juga bagi Wajib Pajak.
Artinya setiap pengenaan dan pemungutan pajak harus
Artinya setiap pengenaan dan pemungutan pajak harus
Artinya setiap pengenaan dan pemungutan pajak harus
Artinya setiap pengenaan dan pemungutan pajak harus
berdasarkan Undang
berdasarkan Undang--undang.
undang.
Undang Undang Dasar 1945 pasal 23 ayat (2)
Undang Undang Dasar 1945 pasal 23 ayat (2)
menetapkan : ”Segala pajak untuk keperluan negara
menetapkan : ”Segala pajak untuk keperluan negara
berdasarkan Undang
Asas Ekonomis
Asas Ekonomis
Pajak yang dibayarkan oleh warga negara
Pajak yang dibayarkan oleh warga negara
selaku Wajib Pajak yang dipungut oleh
selaku Wajib Pajak yang dipungut oleh
fiskus harus diusahakan oleh peraturan
fiskus harus diusahakan oleh peraturan
perpajakan agar supaya:
perpajakan agar supaya:
–
–
tidak menghambat lancarnya proses produksi,
tidak menghambat lancarnya proses produksi,
–
–
tidak menghambat lancarnya proses produksi,
tidak menghambat lancarnya proses produksi,
distribusi dan perdagangan.
distribusi dan perdagangan.
–
Asas Finansial
Asas Finansial
Pajak sebagai penerimaan negara yang menjadi primadona, yang
Pajak sebagai penerimaan negara yang menjadi primadona, yang
digunakan untuk membiayai pemerintah di dalam menjalankan
digunakan untuk membiayai pemerintah di dalam menjalankan
fungsinya, dan untuk tujuan mensejahterakan masyarakat. Untuk
fungsinya, dan untuk tujuan mensejahterakan masyarakat. Untuk
memperoleh penerimaan tersebut maka biaya yang dikeluarkan
memperoleh penerimaan tersebut maka biaya yang dikeluarkan
untuk upaya pengumpulan pajak harus jauh lebih kecil daripada
untuk upaya pengumpulan pajak harus jauh lebih kecil daripada
jumlah pajak yang diperoleh. Dengan kata lain sistem pemungutan
jumlah pajak yang diperoleh. Dengan kata lain sistem pemungutan
pajak harus efisien, biaya yang dikeluarkan dalam hal administrasi,
pajak harus efisien, biaya yang dikeluarkan dalam hal administrasi,
sumber daya manusia, teknologi dan sebagainya tidak sama dengan
sumber daya manusia, teknologi dan sebagainya tidak sama dengan
sumber daya manusia, teknologi dan sebagainya tidak sama dengan
sumber daya manusia, teknologi dan sebagainya tidak sama dengan
jumlah pajak yang diterima negara, atau bahkan defisit.
jumlah pajak yang diterima negara, atau bahkan defisit.
Disamping itu untuk menghindari tertimbunnya tunggakan pajak
Disamping itu untuk menghindari tertimbunnya tunggakan pajak
yang tidak/belum terbayar untuk menambah penerimaan negara
yang tidak/belum terbayar untuk menambah penerimaan negara
maka haruslah selalu diteliti apakah syarat
PRINSIP PEMUNGUTAN PAJAK
PRINSIP PEMUNGUTAN PAJAK
““The four canons of Adam Smith”The four canons of Adam Smith” atau sering juga disebutatau sering juga disebut“The four Maxims”“The four Maxims”, dengan uraian sebagai, dengan uraian sebagai berikut:
berikut:
Pajak yang harus dibayar oleh seseorang harus jelasPajak yang harus dibayar oleh seseorang harus jelas (certain)(certain), dan tidak mengenal kompromi, dan tidak mengenal kompromi (not arbitrary)
(not arbitrary). Dalam prinsip. Dalam prinsip certaintycertainty ini, kepastian hukum yang dipentingkan adalah yangini, kepastian hukum yang dipentingkan adalah yang mengenai subyek, obyek, besarnya pajak, dan juga ketentuan mengenai waktu
mengenai subyek, obyek, besarnya pajak, dan juga ketentuan mengenai waktu pembayarannya. (CERTAINTY)
pembayarannya. (CERTAINTY)
pembagian tekanan pajak diantara subyek subyek pajak masingpembagian tekanan pajak diantara subyek subyek pajak masing--masing hendaknya dilakukanmasing hendaknya dilakukan seimbang dengan kemampuannya, yaitu seimbang dengan penghasilan yang dinikmatinya seimbang dengan kemampuannya, yaitu seimbang dengan penghasilan yang dinikmatinya seimbang dengan kemampuannya, yaitu seimbang dengan penghasilan yang dinikmatinya seimbang dengan kemampuann