• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI POKOK APROKSIMASI DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X SMK TEKNIK SE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI POKOK APROKSIMASI DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X SMK TEKNIK SE "

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL

PROBLEM BASEDLEARNING PADA MATERI POKOK APROKSIMASI

DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X SMK TEKNIK

SE-KOTA CIREBON TAHUN PELAJARAN 2009/2010

TESIS

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar

Magister Program Studi Pendidikan Matematika

DISUSUN OLEH:

NANI SUMARNI

S850908117

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

DENGAN MODEL PROBLEM BASEDLEARNING PADA MATERI

POKOK APROKSIMASI DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA

KELAS X SMK TEKNIK SE-KOTA CIREBON

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

TESIS

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar

Magister Pendidikan Program Pendidikan Matematika

Diajukan Oleh:

NANI SUMARNI, M.Pd.

S850908117

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(3)

commit to user

iii

HALAMAN PERSETUJUAN

Tesis ini telah disetujui oleh pembimbing tesis untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Tesis Program Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, Juni 2010

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Mardiyana, M.Si Dr. Imam Sujadi, M.Si

NIP. 19660225 199302 1 002 NIP. 19670915 200604 1 001

Mengetahui

Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

(4)

commit to user

HALAMAN PENGESAHAN

Tesis ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Tesis Program Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan dalam mendapatkan gelar Magister Pendidikan.

Pada Hari : Tanggal

Tim Penguji Tesis :

Nama Terang Tanda Tangan

1. Ketua : Prof.Dr. Budiyono, M.Sc 1. ………

2. Sekretaris : Dr. Riyadi, M.Si 2. ………

3. Anggota I : Dr. Mardiyana, M.Si 3. ………

4. Anggota II : Dr. Mardiyana, M.Si 4. ………

Disahkan Mengetahui

Direktur Program Pascasarjana Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sebelas Maret Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

(5)

commit to user

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

PERNYATAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xi

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pemilihan Masalah ... 6

D. Pembatasan Masalah ... 7

E. Perumusan Masalah ... 7

F. Tujuan Penelitian ... 8

G. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II LANDASAN TEORI ... 10

A. Kajian Teori ... 10

(6)

commit to user

2. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar ... . 13

3. Model Pembelajaran ... . 17

B. Penelitian Yang Relevan ... 26

C. Kerangka Berpikir ... 28

D. Perumusan Hipotesis ... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 33

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 33

1. Tempat Penelitian ... 33

2. Waktu Penelitian ... 33

B. Jenis Penelitian ... 33

C. Populasi , Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 35

D. Variabel Penelitian ... 37

E. Teknik Pengumpulan Data ……….. 39

F. Instrumen Penelitian……….. 40

G. Teknik Analisis Data ………. 50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……….. 61

A. Hasil Uji Coba Intrumen ……….. 61

B. Deskripsi Data ……….. 64

C. Hasil Analisis Data ... 66

BAB V KESIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN ……….. 79

A. Kesimpulan ……… 79

B. Implikasi Hasil Penelitian ……….. 80

(7)

commit to user

x

2. Implikasi Praktis ……….. 81

C. Saran ………... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(8)

commit to user DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Sintak Model Pembelajaran Langsung ... 20

Tabel 2.2. Sintak Pembelajaran Berbasis Masalah ... 22

Tabel 3.1 Waktu Penelitian ... 33

Tabel 3.2 Rancangan Penelitian Faktorial ... 35

Tabel 3.3. Kisi – kisi Angket Motivasi ... 41

Tabel 3.4. Kisi-kisi Tes Materi Pokok Aproksimasi ... 43

Tabel 3.5. Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan ... 58

Tabel 4.1. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Skor Nilai Motivasi Belajar Siswa ... 64

Tabel 4.2. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Berdasarkan Model Pembelajaran ... 65

Tabel 4.3. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Berdasarkan Motivasi Belajar Siswa ... 65

Tabel 4.4. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Berdasarkan Gabungan Antara Model Pembelajaran dan Motivasi Belajar Siswa ... 66

Tabel 4.5. Rangkuman Uji Normalitas ... 68

Tabel 4.6. Rangkuman Hasil Analisis Variansi ... 70

Tabel 4.7. Rataan Masing-masing Sel dari Data Uji Hipotesis ... 72

Tabel 4.8. Rangkuman Hasil Uji Komparasi Rataan Antar Kolom ... 72

(9)

commit to user

xvi ABSTRACT

Nani Sumarni, S850908117 “AN EXSPERIMENTATION ON MATEMATICS LEARNING USING PROBLEM BASED LEARNING MODEL ON THE

APPROXIMATION TENTH GRADE STUDENTS MOTIVATION

TECHNIQUES SMK A LESSON IN THE CIREBON CITY IN THE SCHOOL YEAR OF 2009/2010”. Thesis: Mathematics Education Study Program, Postgraduate Program, Sebelas Maret University, Surakarta 2010.

This study aims to determine: (1) Which one is the better, the math learning achievement of approximation subject matter using the problem based learning model or using direct learning model, (2) Whether or not the math learning achievement of students with high learning motivation is better then the ones with low learning motivation in the subject matter of approximation, and (3) Wather or not studens with medium motivation in learning have better achievement in mathematics than students with low motivation. (4) In the learning model PBL, which one provides better achievement in mathematics, students with high, moderate, or low learning motivation. (5) In the learning with direct model, which one provides better achievement in mathematics, students with high, moderate, or low learning motivation. (6) On the students with high learning motivation, which on provides better achievement in mathematics, PBL model or direct learning model. (7) On the students with medium learning motivation, which on provides better achievement in mathematics, PBL model or direct learning model. (8) On the students with low learning motivation, which on provides better achievement in mathematics, PBL model or direct learning model.

This research was conducted in the city Cirebon 2009/2010 school year. Sampling was done by random cluster sampling with a sample of students SMKN 1 Techniques, SMK Gracika Techniques, SMK Nasional Techniques, each consisting of one class as experimental class and other as control class. The number of the entire smple is 213 students. Mathematics learning achievement instrument test was conducted in SMKN 1 Techniques with as many as 40 respondents. Test results on 30 number of test instruments with KR-20 method shows that the reliability index is 0,775. Testing balance in early ability using test-t which prerequisitest-te test-testest-t was previously done for normalitest-ty witest-th Lilliefortest-ts test-testest-t, test of homogeneity with Bartlett test. Initial abilitiy test result shows that samples distribute normally, wtich come from a homogeneous population, and have the same mean.

Hypothesis testing using two-way anava with unequal cells, with a significance level of 0,05 which prerequisite was previously done, such as normality by Lilliefors test, and test of homogeneity by Bartlett test. Learning achievement test results show that samples distribute normally, and come from a homogeneous population. Anava test results show (1) H0A is rejected which

means there is significant difference of the PBL model and direct learning model achievement, (2) H0B is rejected which means there is significant difference

(10)

commit to user

learning achievement, (3) H0AB is rejected which means there is significant

interaction between the use of teaching model and learning motivation.

Anava post test using Scheffe test’. Multiple comparison results among columns (1) F.1-.2 rejected which means that the learning achievement of students

with high motivation in learning is better than students with medium learning motivation, (2) F.1-.3 rejected which means that the learning achievement of

students with high motivation in learning is better than students with low learning motivation, (3) F.2-.3 rejected which means that the learning achievement of

students with medium motivation in learning is better than students with low learning motivation.

(11)

commit to user

xiv ABSTRAK

NANI SUMARNI, S850908117. EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI POKOK APROKSIMASI DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X SMK TEKNIK SE-KOTA CIREBON TAHUN PELAJARAN 2009/2010. Tesis: Surakarta, Program Studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret, 2010.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Mana yang lebih baik prestasi belajar matematika pada materi pokok aproksimasi antara yang menggunakan model pembelajaran PBL dengan pembelajaran langsung, (2) Apakah siswa dengan motivasi belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar sedang atau rendah, (3) Apakah siswa dengan motivasi belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar rendah, (4) Pada pembelajaran dengan model PBL, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan motivasi belajar tinggi, sedang, atau rendah, (5) Pada pembelajaran dengan model langsung, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan motivasi belajar tinggi, sedang, atau rendah, (6) Pada siswa dengan motivasi belajar tinggi, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau model langsung, (7) Pada siswa dengan motivasi belajar sedang, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau langsung, (8) Pada siswa dengan motivasi belajar rendah, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau langsung,

Penelitian dilakukan di Kota Cirebon tahun pelajaran 2009/2010. Pengambilan sampel dilakukan secara cluster random sampling dengan sampel penelitian adalah siswa dari SMKN Teknik 1, SMK Teknik Gracika, dan SMK Teknik Nasional yang masing-masing terdiri dari satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Banyak anggota sampel seluruhnya adalah 213 siswa. Uji coba instrumen prestasi belajar matematika dilakukan di SMKN Teknik 1 dengan banyak responden 40 siswa. Hasil uji coba instrumen tes dengan metode KR-20 menunjukan bahwa indeks reliabilitasnya adalah 0,775. Pengujian keseimbangan kemampuan awal menggunakan uji-t yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dengan uji Lillefors, uji homogenitas dengan uji Bartlett. Hasil uji kemampuan awal menunjukan bahwa sampel berdistribusi normal, berasal dari populasi yang homogen, dan mempunyai rataan yang sama.

(12)

commit to user

terdapat perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran PBL dan model langsung terhadap prestasi belajar, (2) H0B ditolak yang berarti terdapat perbedaan

yang signifikan antara siswa dengan motivasi belajar tinggi, sedang, dan rendah terhadap prestasi belajar, (3) H0AB ditolak yang berarti terdapat interaksi yang

signifikan antara penggunaaan model pembelajaran dan motivasi belajar.

Pengujian pasca anava menggunakan uji Scheffe.’ Hasil komparasi ganda antar kolom (1) F.1-.2 ditolak yang berarti bahwa presatsi belajar siswa dengan

motivasi belajar tinggi lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar sedang, (2) F.1-.3 ditolak yang berarti bahwa prestasi belajar siswa dengan motivasi belajar

tinggi lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar rendah, (3) F.2-.3 ditolak

yang berarti bahwa prestasi belajar siswa dengan motivasi belajar sedang lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar rendah.

(13)

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat menuntut sumber daya yang berkualitas. Peningkatan sumber daya manusia juga merupakan syarat untuk mencapai tujuan pembangunan, salah satu wahana untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan yang berkualitas. Sebagai faktor penentu keberhasilan pembangunan, maka kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan melalui berbagai program pendidikan yang dilaksanakan secara sistematis dan terarah berdasarkan kepentingan yang mengacu pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan perubahan pola pikir yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan kurikulum. Pada masa lalu proses belajar mengajar berfokus pada guru, dan siswa kurang diperhatikan keberadaannya. Akibatnya kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada pengujian pembelajaran.

Kata pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses yang terdiri dari kombinasi dua aspek, yaitu: belajar tertuju kepada yang harus dilakukan oleh siswa, mengajar berorientasi pada apa yang harus dilkukan oleh guru sebagai pemberi pengajaran. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi

(14)

suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa disaat pembelajaran sedang berlangsung.

Salah satu tugas guru adalah menjadikan proses pembelajaran pada siswa berlangsung secara efektif. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran guru hendaknya memiliki dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam mengajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial.

Dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan di sekolah-sekolah menuntut siswa untuk bersikap aktif, kreatif, dan inovatif dalam menanggapi setiap pelajaran yang diajarkan. Setiap siswa harus dapat memanfaatkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu setiap pelajaran selalu dikaitkan dengan manfaatnya dalam lingkungan sosial masyarakat, sikap aktif, kreatif, dan inovatif dapat terwujud dengan menempatkan siswa sebagai subjek, pendidikan bukan sebagai objek pendidikan yang selama ini terjadi. Hal tersebut bukan berarti peranan guru menjadi berkurang dalam proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pembimbing dan memberikan pengarahan bagi siswa dalam pembelajaran, siswa harus dilibatkan dalam setiap kegiatan pembelajaran dan guru sebagai pasilitator yang mampu menumbuhkan keberanian siswa dalam mengungkapkan ide atau gagasannya. Guru harus dapat menghargai ide gagasan yang disampaikan siswa karena pemikiran siswa berbeda- beda.

(15)

commit to user

3

ada anak yang ingin belajar matematika sebelum ia sendiri tahu bahwa matematika itu ada, yang diinginkan anak adalah memperoleh informasi tentang hal–hal yang disekitarnya dalam keadaan yang sebenarnya.

Proses belajar mengajar mempunyai makna dan pengertian yang lebih luas daripada pengertian mengajar. Dalam proses belajar mengajar antara kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang (Uzer, Usman 1996 : 01). Materi pembelajaran hendaknya selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa seorang guru perlu menyajikan permasalahan sehari–hari dalam mengajar matematika di kelas. Karena pada hakekatnya mengajar merupakan suatu usaha, mengorganisasi lingkungan dengan demikian guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa yang mampu memanfaatkan lingkungan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Keterampilan siswa dalam memecahkan persoalan matematika dalam kehidupan nyata akan meningkat dengan sistem pembelajaran tersebut

Dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan penguasaan konsep agar hasil belajar memuaskan diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, diantaranya model Problem based learning (PBL).

(16)

pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah (Anonim, 2002; Stepien, dkk, 1993). Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman–pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerja sama dan interaksi dalam kelompok, di samping pengalaman belajar yang berhubungan dengan pemecahan masalah seperti membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menginterprestasikan data, membuat kesimpulan, mempresentasikan, berdiskusi, dan membuat laporan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya kepada siswa.

(17)

commit to user

5

keadaan awal siswa, merupakan hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar.

Melalui eksperimentasi ini, diharapkan ada peningkatan motivasi siswa yang signifikan. Guru matematika sebagai mitra peneliti sangat mendukung dalam upaya pencapaian kondisi tersebut. Melalui pembelajaran dengan model PBL diharapkan lebih efektif, karena siswa akan belajar lebih aktif dalam berfikir dan memahami materi secara berkelompok dan siswa dapat lebih mudah menyerap materi pelajaran, serta kematangan pemahaman terhadap jumlah materi pelajaran. Kemampuan awal siswa merupakan prasyarat yang harus dimiliki siswa agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik sehingga dimungkinkan siswa yang mempunyai latar belakang kemampuan awal yang baik akan dapat mengikuti pelajaran dengan mudah.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut :

(18)

2. Pada umumnya prestasi belajar matematika siswa masih rendah. Hal ini mungkin disebabkan karena guru kurang dapat menciptakan suasana belajar yang dapat meningkatkan motivasi siswa. Selain hal itu banyak siswa yang menganggap bahwa pelajaran matematika itu sulit, dan membosankan. Untuk itu diteliti apakah motivasi siswa dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.

3. Banyak siswa dalam belajar matematika kurang aktif mengikuti proses belajar dan hanya mengorganisasi sendiri apa yang diperoleh tanpa mengkomunikasikan dengan siswa lain sehingga kemungkinan rendahnya prestasi belajar disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap topik bahasan yang dipelajari.

4. Tidak adanya kebermaknaan dalam belajar mungkin disebabkan karena kurangnya kemampuan siswa dalam membentuk hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan aplikasi/penerapan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

C. Pemilihan Masalah

Dari beberapa identifikasi masalah diatas, akan diteliti masalah yang terakhir, yaitu apakah dengan menggunakan pembelajaran PBL. Selain karena alasan yang telah dikemukakan alasan lain dari pemilihan masalah penelitian ini adalah :

(19)

commit to user

7

2. Model PBL yang mungkin dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa masih belum banyak digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran di sekolah.

3. Beragamnya standar kompetensi yang mungkin juga terpengaruh terhadap tinggi dan rendahnya prestasi belajar matematika yang diraih atau dicapai siswa.

D. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, agar permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari apa yang menjadi tujuan dilaksanakannya penelitian, maka penelitian ini dibatasi pada hal-hal berikut : 1. Model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir dalam

memecahkan masalah dalam penelitian ini dibatasi pada model problem

based learning sedangkan untuk kelompok kontrolnya adalah model

pembelajaran langsung.

2. Tingkat motivasi belajar siswa terbatas pada tingkat motivasi tinggi, tingkat motivasi rendah dan tingkat motivasi sedang. Data tingkat siswa digali dengan menggunakan angket motivasi.

(20)

E. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah, permasalahan yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah pembelajaran dengan model PBL memberikan efek prestasi belajar matematika lebih baik daripada pembelajaran dengan model langsung?

2. Apakah siswa dengan motivasi belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar sedang atau rendah?

3. Apakah siswa dengan motivasi belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar rendah?

4. Pada pembelajaran dengan model PBL, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan motivasi belajar tinggi, sedang, atau rendah?

5. Pada pembelajaran dengan model langsung dengan, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan motivasi belajar tinggi, sedang, atau rendah?

6. Pada siswa dengan motivasi belajar tinggi, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau model langsung? 7. Pada siswa dengan motivasi belajar sedang, manakah yang memberikan

prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau model langsung? 8. Pada siswa dengan motivasi belajar rendah, manakah yang memberikan

(21)

commit to user

9

F. Tujuan Penelitian

Penulisan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

1. Apakah pembelajaran dengan model PBL memberikan efek prestasi belajar matematika lebih baik daripada pembelajaran dengan model langsung.

2. Apakah siswa dengan motivasi belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar sedang atau rendah.

3. Apakah siswa dengan motivasi belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar rendah.

4. Pada pembelajaran dengan model PBL, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan motivasi belajar tinggi, sedang, atau rendah.

5. Pada pembelajaran dengan model langsung dengan, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan motivasi belajar tinggi, sedang, atau rendah.

6. Pada siswa dengan motivasi belajar tinggi, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau model langsung . 7. Pada siswa dengan motivasi belajar sedang, manakah yang memberikan

prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau model langsung. 8. Pada siswa dengan motivasi belajar rendah, manakah yang memberikan

(22)

G. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritik

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan teori pembelajaran matematika dan model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika yang dianggap sulit oleh siswa SMK.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat :

a. Memberikan masukan kepada guru ataupun calon guru, matematika dalam menentukan model pembelajaran yang tepat, yang dapat digunakan sebagai alternatif selain model yang biasa digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar dalam rangka upaya peningkatan kualitas pendidikan.

(23)

commit to user

11

BAB II

LANDASAN TEORI

A.Kajian Teori

1. Prestasi Belajar

a) Belajar dan Prestasi Belajar

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai peserta didik.

Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan belajar, dan setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang belajar. Misalnya seorang guru yang mengartikan belajar sebagai kegiatan menghafalkan fakta, akan lain cara mengerjakannya dengan guru lain yang mengartikan bahwa belajar sebagai suatu proses penerapan prinsip.

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2),

(24)

Prestasi belajar dapat diketahui melalui evaluasi yang dilakukan untuk mengukur sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan setelah mengikuti proses pembelajaran. Karena hasil tes tersebut menggambarkan capaian-capaian yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu proses pembelajaran, maka tinggi rendahnya capaian tersebut sangat dipengaruhi oleh terjadinya proses belajar pada diri siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:895), prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes/angka nilai yang diberikan oleh guru.

Jadi yang dimaksud prestasi belajar dalam penelitian ini adalah hasil usaha yang dicapai seseorang dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap berkat pengalaman dan latihan yang dinyatakan dengan perubahan tingkah laku. b). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

(25)

commit to user

13

matematika dalam kehidupan dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan dengan matematika.

Menurut Slameto (2003:54-72) faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar yaitu :

1) Faktor internal, yang terdiri dari tiga faktor berikut.

a. Faktor jasmaniah yang meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.

b. Faktor psikologis yang meliputi intelegensi, perhatian, minat, kreativitas, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.

2) Faktor eksternal

a. Faktor keluarga yang meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan.

b. Faktor sekolah yang meliputi model pembelajaran, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

c. Faktor masyarakat yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, media masa, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.

(26)

Prestasi belajar matematika adalah sebuah kecakapan atau keberhasilan yang diperoleh seseorang setelah seseorang tersebut belajar matematika sehingga dalam diri seseorang tersebut mengalami perubahan tingkah laku baik pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotoriknya sesuai dengan kompetensi materi pokok bahasan matematika yang dipelajarinya.

2. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar

1. Pengertian Motivasi Belajar

Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, menggarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motivasi belajar adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Frederick J. Mc Donald dalam Nashar, 2004:39).

(27)

commit to user

15

2. Fungsi Motivasi Belajar

Menurut Sardiman (2000:83) fungsi motivasi belajar ada tiga yakni sebagai berikut:

a. Mendorong manusia untuk berbuat

Sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b. Menentukan arah perbuatan

Yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

c. Menyeleksi perbuatan

Yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat dengan tujuan tersebut.

Hamalik (2003:161) juga mengemukakan tiga fungsi motivasi, yaitu;

a. Mendorong timbulnya kelakuan atau sesuatu perbuatan Tanpa motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar.

b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah

Artinya menggerakkan perbuatan ke arah pencapaian tujuan yang diinginkan. c. Motivasi berfungsi penggerak

(28)

3. Macam-macam motivasi

Ditinjau dari sumbernya motivasi dibedakan atas dua macam, yaitu : (a) motivasi yang bersumber dari dalam diri siswa disebut motivasi intrinsik dan (b) motivasi yang bersumber dari luar diri siswa disebut ekstrinsik.

a. Motivasi Intrinsik

Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu diluar dirinya. Jadi tingkah laku yang dilakukan seseorang disebabkan oleh kemauan sendiri, bukan dorongan dari luar. Misalnya seorang anak belajar didorong oleh keinginan mengetahui sesuatu yang sedang dipelajarinya. Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar dari anak tersebut adalah benar-benar ingin tahu tentang sesuatu yang tekandung didalam materi yang sedang dipelajarinya bukan karena takut pada orang tuanya (Sardiman,2001:87-89). b. Motivasi Ekstrinsik

(29)

commit to user

17

4. Cara-cara untuk meningkatkan motivasi belajar a. Memberi nilai

Angka yang dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik yang diberikan sesuai hasil ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru yang biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.

b. Hadiah

Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada anak didik berprestasi yang berupa uang beasiswa, buku tulis, alat tulis atau buku bacaan lainya yang dikumpulkan dalam sebuah kotak terbungkus dengan rapi, untuk memotivasi anak didik agar senantiasa mempertahankan prestasi belajar selama berstudi.

c. Kompetisi

Kompetisi adalah persaingan yang digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar, baik dalam bentuk individu maupun kelompok untuk menjadikan proses belajar mengajar yang kondusif.

d. Pujian

(30)

e. Hukuman

Meskipun hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah dapat berupa sanksi yang diberikan kepada anak didik sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan sehingga anak didik tidak akan mengulangi kesalahan atau pelanggaran dihari mendatang.

Berdasarkan beberapa pendapat pendidikan tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi berfungsi sebagai tenaga penggerak bagi seseorang atau peserta didik yang menimbulkan upaya keras untyuk melakukan aktivitas mereka sehingga dapat mencapai tujuan belajar.

Dalam penelitian ini yang dimaksud motivasi belajar meliputi hal–hal sebagai berikut :

a. tujuan atau cita-cita b. minat belajar

c. keinginan untuk mencoba d. perasaan ingin tahu e. pujian dan hadiah f. celaan dan hukuman

3. Model Pembelajaran

(31)

commit to user

19

suatu cara atau pola yang digunakan untuk membantu siswa mengembangkan potensi dirinya sebagai pembelajar.

Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secara efektif. Model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran yang memiliki landasan teoretik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak pembelajaran yang sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan dan hasil belajar yang disasar. Model pembelajaran yang dapat diterapkan pada bidang studi hendaknya dikemas koheren dengan hakikat pendidikan bidang studi tersebut. Namun, secara filosofis tujuan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi siswa dalam penumbuhan dan pengembangan kesadaran belajar, sehingga mampu melakukan olah pikir, rasa, dan raga dalam memecahkan masalah kehidupan di dunia nyata. Model-model pembelajaran yang dapat mengakomodasikan tujuan tersebut adalah yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sebagai paradigma alternatif.

Model problem solving and reasoning, model inquiry training, model problem based instruction, model conceptual change instruction, model group

investigation, dan masih banyak lagi model-model yang lain yang berlandaskan

paradigma konstruktivistik, adalah model - model pembelajaran alternatif yang sesuai dengan hakikat pembelajaran humanis populis.

(32)

tujuan yang jelas. Setelah tujuan pembelajaran ditetapkan, kemudian model pembelajaran yang dianggap paling efektif dan efesien dipilih. Jadi, pemilihan model pembelajaran harus memenuhi kriteria efisiensi dan keefektifan. Kriteria yang lain dalam memilih model pembelajaran adalah tingkat keterlibatan siswa.

Model pembelajaran yang dipilih haruslah mengungkapkan berbagai realita yang sesuai dengan situasi kelas dan tujuan yang ingin dicapai melalui kerjasama guru dan siswa. Sangat sulit untuk menentukan model pembelajaran yang sempurna, yang dapat memecahkan semua masalah pembelajaran sehingga dapat membantu siswa dalam mempelajari materi yang diajarkan. Agar siswa lebih produktif dalam belajar, guru hendaknya memberikan kesempatan kepada mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kreativitas mereka sendiri sehingga pemilihan model pembelajaran juga harus mengikuti kebutuhan atau kondisi siswa.

a. Model Direct Instruction (Pembelajaran Langsung)

Soeparman Kardi dalam Agus Susanto (2007:23) mengemukakan bahwa pembelajaran langsung adalah suatu model pembelajaran yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.

(33)

commit to user

21

dipapan tulis atau dimeja masing-masing (Martinis Yamin dan Bansu Ansari,2008:66).

Ciri-ciri pembelajaran langsung adalah sebagai berikut :

a) Adanya tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar b) Adanya sintaksis atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran c) Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar mendukung berlangsungnya

terjadinya proses pembelajaran

[image:33.595.112.510.207.488.2]

Pada model pembelajaran langsung terdapat lima fase yang penting. Guru mengawali pelajaran dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata. Rangkuman kelima fase tersebut dapat dilihat pada tabel 1. (Prof.Soeparman Kardi,2001:8)

Tabel 2.1

Sintak Model Pembelajaran Langsung

FASE 1. Menyampaikan tujuan dan

mempersiapkan siswa

Guru menjelaskan ,informasi, latar belakang pelajaran, pentingnya

pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar

2. Mendemontrasikan pengetahuan atau keterampilan

(34)

tahap demi tahap.

3. Membimbing pelatihan Guru merencanakan dan memberikan bimbingan pelatihan awal.

4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik,

memberikan umpan balik. 5. Memberikan kesempatan untuk

pelatihan lanjutan dan penerapan.

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhartian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

b. Model Problem based learning (PBL)

PBL utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir pemecahan masalah dan keterampilan intektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dan pengalaman nyata atau stimulus dan menjadi pelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim,200). Dengan PBL siswa dilatih menyusun sendiri pengetahuannya, mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, mandiri serta meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu, dengan pemberian masalah otentik, siswa dapat membentuk makna dari bahan pelajaran melalui proses belajar dan menyimpannya

dalam ingatan sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan lagi (Nurhadi, 2004). Problem based learning dikenal dengan nama lain seperti pembelajaran proyek (Proyect-based teaching), pendidikan berdasarkan pengalaman (Experience-based

(35)

commit to user

23

Dalam pengajaran berdasarkan masalah guru berperan sebagai panyaji, mengadakan dialog, membantu dan memberikan fasilitas penyelidikan. Selain itu, guru juga memberikan dorongan dan dukungan yang dapat meningkatkan pertumbuhan intelektual siswa (Ibrahim, 2001). Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengajaran berdasarkan masalah adalah pemberian masalah kepada siswa yang berfungsi sebagai motivasi untuk melakukan proses penyelidikan. Di sini guru mengajukan masalah, membimbing dan memberikan petunjuk dalam memecahkan masalah.

Ciri-ciri Problem based learning adalah Pembelajaran berdasarkan masalah memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Pengajuan pertanyaan atau masalah pengajaran berdasarkan masalah diawali dengan guru mengajukan pertanyaan dan masalah yang secara sosial dianggap penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Sebagai contoh, pada pembelajaran materi Aproksimasi.

b. Terintegrasi dengan disiplin ilmu yang lain

Meskipun PBL berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, dan ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah ditentukan secara pasti agar dalam pemecahannya siswa meninjau dari banyak mata pelajaran.

c. Penyelidikan otentik

(36)

masak dengan telur mentah. Untuk mengetahui jawabannya maka harus dilakukan penyelidikan langsung.

[image:36.595.101.507.246.728.2]

PBL biasanya terdiri dari 5 tahap utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan dalam 2 sampai 3 kali pertemuan. Namun untuk masalah yang kompleks mungkin akan membutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya. Kelima tahapan tersebut disajikan pada tabel 2 . (Ibrahim dan Nur, 2004).

Tabel 2.2

Sintak Pembelajaran Yang Berbasis Masalah (PBL)

TAHAP

TINGKAH LAKU GURU 1. Tahap -1

Orientasi siswa kepada masalah.

Guru menjelaskan tujuan

pembelajaran menjelaskan logistik

yang dibutuhkan, memotivasi siswa

terlibat pada aktivitas pemecahan

masalah yang dipilihnya.

2. Tahap- 2

Mengorganisasika nsiswa untuk

belajar.

Guru membantu siswa

mendefinisikan dan

mengorganisasikan tugas belajar

yang berhubungan dengan masalah

tersebut.

3. Tahap – 3

Membimbimbing penyelidik

individual maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk

mengumpulkan informasi yang

sesuai, melaksanakan eksperimen,

untuk mendapatkan penjelasan dan

(37)

commit to user

25

4. Tahap – 4

Mengembangkan dan

menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam

merencanakan dan menyiapkan

karya yang sesuai seperti laporan,

video, dan model dan membantu

mereka untuk berbagai tugas

dengan temannya.

5. Tahap – 5

Menganalisis dan mengevaluasi

proses pemecahan masalahan

Guru membantu siswa untuk

melakukan refleksi atau evaluasi

terhadap penyelidikan mereka dan

proses-proses yang merekan

gunakan.

PBL memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan model pengajaran lainnya, di antaranya sebagai berikut:

a. Mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas.

b. Mendorong siswa melakukan pengamatan dan dialog dengan orang lain. c. Melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri. Hal ini memungkinkan

siswa menjelaskan dan membangun pemahamannya sendiri mengenai fenomena tersebut.

(38)

Sama halnya dengan model pengajaran yang lain, PBL juga memiliki beberapa kelemahan/hambatan dalam penerapannya (Ricard I Arends dan Ibrahim). Kelemahan dari pelaksanaan PBL adalah sebagai berikut:

a. Kondisi kebanyakan sekolah tidak kondusif untuk pendekatan PBL.

Dalam pelaksanaannya, PBL memerlukan sarana dan prasarana yang tidak semua sekolah memilikinya. Sebagai contoh, banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas laboratorium cukup memadai untuk kelengkapan pelaksanaan PBL.

b. Pelaksanaan PBL memerlukan waktu yang cukup lama. Standar 40-50 menit untuk satu jam pelajaran yang banyak dijumpai di berbagai sekolah.

c. Membimbing penyelidikan individual dan kelompok

Siswa melakukan penyelidikan atau pemecahan masalah secara bebas dalam kelompoknya. Guru bertugas mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan penyelidikan sampai mereka benar-benar memahami situasi masalahnya. Kemudian siswa mengajukan penjelasan dalam berbagai hipotesis dan pemecahan masalah yang diselidiki. Pada tahap ini guru mendorong semua ide, memerima sepenuhnya ide tersebut dan membetulkan konsep-konsep yang salah.

d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Siswa dituntut untuk menghasilkan sebuah produk baik berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer.

(39)

commit to user

27

Guru membantu menganalisis proses berpikir siswa, keterampilan penyelidikan dan keterampilan intelektual siswa, kemudian guru menyimpulkan materi pembelajaran.

B. Penelitian Yang Relevan

Sebagai perbandingan dalam penelitian ini, peneliti akan menguraikan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini antara lain :

1. Abu Syafik (2006) dalam penelitianya berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw terhadap Prestasi Belajar Matematika Pada pokok bahasan Geometri ditinjau motivasi belajar siswa”, mengatakan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar yang positif dan signifikan pada pokok bahasan geometri ditinjau dari perbedaan penggunaan model pembelajaran, perbedaan tingkat motivasi. Dimana siswa yang memiliki motivasi tinggi, prestasi belajar matematika juga tinggi.

(40)

membimbing siswa dalam belajar atau dengan kata lain guru melaksanakan pembelajaran berbasis masalah (PBL) dengan baik.

3. Munjapar (2006) dalam penelitiannya berjudul “Eksperimentasi pembelajaran matematika dengan metode Jigsaw pada pokok bahasan peluang ditinjau dari motivasi belajar siswa kelas XI Ilmu alam SMA N 3 Surakarta“, mengatakan bahwa tidak terdapat pengaruh bersama antara metode pembelajaran dengan motivasi belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan peluang, siswa dengan tingkat motivasi belajar tinggi mempunyai prestasi belajar matematika pokok bahasan peluang yang lebih baik daripada siswa dengan tingkat motivasi belajar rendah dan pembelajaran matematika pokok bahasan peluang dengan metode jigsaw menghasilkan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik daripada dengan menggunakan metode konvensional.

(41)

commit to user

29

5. Irma Nurmala (2009) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT) dengan Pendekataan Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Matematika“, mengatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika antara kelompok yang diberi pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekataan berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang diberikan pembelajaran berbasis masalah. Hal tersebut menunjukan bahwa ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika.

C. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir adalah arahan penalaran sampai pada pemberian jawaban sementara atas rumusan masalah. Kerangka pemikiran berguna untuk mewadahi teori-teori yang cukup banyak yang seakan-akan lepas dirangkai menjadi satu kesatuan untuk menentukan jawaban sementara.

(42)

Penggunaan model pembelajaran cukup besar pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai siswa, lebih karena itu guru harus mampu memilih dan menggunakan model pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan. Model PBL merupakan salah satu pembelajaran yang berdasarkan pada filsafat konstruktivisme, dimana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit dalam pelajaran, jika mereka dapat saling berinteraksi dalam diskusi tentang masalah tersebut dengan rekan sekelasnya.

Model pembelajaran PBL merupakan salah satu model menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog, dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penugasan materi belajar dan mampu menjelaskan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompok tersebut. Dengan menggunakan model PBL diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, karena model PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada proses sehingga pembelajaran lebih bermakna dan dapat meningkatkan penalaran siswa terhadap suatu materi pembelajaran.

(43)

commit to user

31

Motivasi tersebut dapat timbul dengan sendirinya pada diri siswa atau timbul karena ada pengaruh dari luar, diantaranya dari guru. Oleh sebab itu dalam pembelajaran seorang guru harus senantiasa dapat menimbulkan motivasi pada diri siswa sehingga siswa ingin melakukan belajar dan senang pada pelajaran aproksimasi. Dengan adanya motivasi belajar yang tinggi maka akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap pencapaian prestasi belajar yang baik.

3. Dari uraian di atas secara rasional dapat diduga bahwa, jika dalam kegiatan pembelajaran termasuk pembelajaran matematika sudah dilakukan pemilihan model yang tepat serta pemberian motivasi belajar yang tepat pula, pada gilirannya akan dicapai prestasi belajar yang ideal seperti yang diharapkan oleh semua pihak.

Dari uraian di atas, maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

[image:43.595.113.512.248.627.2]

Gambar 2.1

Gambar Kerangka Pemikiran Penelitian

Keterangan :

Model Pembelajaran

1. Model Pembelajaran yang berbasis masalah (Problem based learning)

MODEL PEMBELAJARAN PRESTASI BELAJAR

(44)

2. Model Pembelajaran Langsung Motivasi Belajar Siswa :

1. Motivasi belajar tinggi 2. Motivasi belajar sedang 3. Motivasi belajar rendah

Prestasi Belajar : prestasi belajar matematika pokok bahasan aproksimasi.

D. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka diperoleh hipotesis sebagai berikut:

1. Apakah pembelajaran dengan model PBL memberikan efek prestasi belajar matematika lebih baik daripada pembelajaran dengan model Langsung

2. Apakah siswa dengan motivasi belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar sedang atau rendah

3. Apakah siswa dengan motivasi belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar rendah

(45)

commit to user

33

5. Pada pembelajaran dengan model PBL, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan motivasi belajar tinggi, sedang, atau rendah

6. Pada siswa dengan motivasi belajar tinggi, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau model Langsung

7. Pada siswa dengan motivasi belajar sedang, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model PBL atau model Langsung 8. Pada siswa dengan motivasi belajar rendah, manakah yang memberikan

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Tempat penelitian adalah di SMK Teknologi Industri Se-Kota Cirebon meliputi tiga sekolah yaitu : 1) SMK Negeri 1 Cirebon, 2) SMK Gracika, 3) SMK Nasional.

2. Waktu Penelitian

[image:46.595.112.506.243.619.2]

Penelitian ini dilaksanakan pada semester dua tahun pelajaran 2009/2010, adapun tahapan pelaksanaan penelitian sebagai berikut :

Tabel 3.1 Waktu Penelitian

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis eksperimental semu. Hal ini dikarenakan peneliti tidak memungkinkan untuk

No Kegiatan Waktu Pelaksanaan

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Penyusunan Instrumun Uji coba instrumen Pelaksanaan Penelitian Analisis Data

Penyusunan Laporan Finalisasi

(47)

commit to user

35

mengendalikan dan memanipulasi semua variabel yang relevan. Seperti yang dikemukakan Budiyono (2004:79) bahwa tujuan eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variabel yang relevan. Pada penelitian ini yang dilakukan adalah membandingkan prestasi belajar dari kelompok eksperimen yang menggunakan pembelajaran PBL serta membedakan kelompok kontrol atas tiga kelompok yaitu tingkat motivasi tinggi, motivasi sedang dan motivasi rendah.

Kedua kelompok tersebut diasumsikan sama dalam segi yang relevan dan hanya berbeda dalam penggunaan model pembelajaran dan tingkat motivasi saja.

Adapun kegiatan penelitian ini dilakukan dengan langkah- angkah sebagai berikut :

1. Dari populasi ditentukan sampel penelitian, selanjutnya dari sekolah yang tepilih secara random, dipilih dua kelas untuk digunakan sebagai kelas kelompok eksperimen dan kelas kelompok kontrol.

2. Dilakukan pengambilan data tentang motivasi belajar siswa dengan angket, data hasil angket dikategorikan menjadi tiga tingkat yaitu motivasi belajar tinggi, sedang dan rendah.

3. Kelompok eksperimen diberikan model pembelajaran yang berbasis masalah sedangkan kelompok kontrol diberikan model pembelajaran langsung.

(48)

5. Melakukan analisis data hasil tes untuk mengetahui mana yang lebih baik prestasi belajar siswa pada materi pokok aproksimasi, antara siswa yang menggunakan model pembelajaran yang berbasis masalah dengan siswa yang model pembelajaran langsung terhadap tingkat motivasi siswa.

[image:48.595.115.494.227.485.2]

Penelitian ini didesain dengan faktorial 2 x 3, sebagai berikut : Tabel 3.2.

Rancangan Penelitian Faktorial 2 x 3

C. Populasi , Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian(Suharsimi Arikunto, 2004:115). Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa populasi merupakan keseluruhan subyek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu yang hendak diteliti. Populasi dalam pnelitian ini adalah siswa kelas X SMK Teknik Se-Kota Cirebon pada tahun pelajaran 2009/2010. Dalam penelitian ini, populasinya adalah seluruh siswa kelas X SMK Teknik se-kota Cirebon yang terdiri dari :

1. SMK Negeri 1 Cirebon 2. SMK Teknik Nasional 3. SMK Teknik Gracika

Pembelajaran (A)

Motivasi Belajar (B) Tinggi

( )b1

Sedang

( )b2

Rendah ( )b3

Poblem-Based Learning ( )a1 (ab11) (ab12)

( )

ab13
(49)

commit to user

37

4. SMK Teknik PUI

5. SMK Teknik Taman Siswa 6. SMK Teknik Muhammadiyah 7. SMK Informatika Al-Irsyad 8. SMK Buana Bahari

9. SMK Al-Hidayah 2. Sampel

Sukandarrumidi (2002:47) menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama dari obyek yang merupakan sumber data. Menurut Budiyono (2004:34) mengemukakan bahwa karena berbagai alasan, seperti tidak mungkin, tidak perlu, atau tidak mungkin dan tidak perlu semua subyek atau hal lain yang ingin dijelaskan atau diramalkan atau dikendalikan perlu diteliti (diamati) , maka hanya perlu mengamati sampel saja.

Adapun sebagai sampel dalam penelitian yang melalui cluster random sampling yaitu dengan cara mengambilan sampel dari populasi dengan

menggunakan acak tanpa memperhatikan tingkatan dalam anggota populasi tersebut hal ini dilakukan apabila anggota populasi tersebut hal ini dilakukan apabila anggota populasi dianggap homogen (sejenis). Sehingga terdapat 3 buah SMK Teknik yaitu SMK Negeri 1 Cirebon, SMK Teknik Gracika dan SMK Teknik Nasional.

(50)

3. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan Cluster Random Sampling dengan cara memandang populasi sebagai kelompok-kelompok. Dalam hal ini kelas dipandang sebagai satuan kelompok kemudian tiap kelas diacak dengan undian. Pengambilan sampel secara random sampling dengan cara undian untuk mengambil tiga sekolahan. Dari ketiga SMK tersebut dilakukan pengundian lagi untuk menentukan kelas manakah yang akan dijadikan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Pengambilan sampel secara acak pada populasi dimaksudkan agar setiap kelas pada populasi dapat terwakili. Setelah dilakukan pengundian masing-masing sekolah terpilih dua kelas sebagai tempat penelitian sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa.

1) Definisi Operasional : Prestasi belajar matematika adalah hasil usaha siswa dalam proses belajar matematika yang dinyatakan dalam simbol, angka, huruf yang menyatakan hasil yang sudah dicapai oleh siswa pada periode tertentu.

2) Indikator : Nilai tes prestasi belajar matematika siswa pada materi pokok aproksimasi.

(51)

commit to user

39

2. Variabel Bebas

Budiyono (2004: 29) menyebutkan bahwa variabel bebas adalah variabel independen atau variabel penyebab. Ada dua variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu :

1) Model Pembelajaran

(i) Definisi Operasional : Model pembelajaran adalah salah satu cara yang dirancang oleh guru untuk membantu siswa mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru dalam suatu proses yang sistematis yang melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar, yang meliputi model problem based learning untuk kelas eksperimen dan model pembelajaran langsung pada kelas kontrol.

(ii) Indikator : Pemberian model problem based learning pada kelas eksperimen dan pemberian pembelajaran langsung pada kelas kontrol. (iii) Skala Pengukuran : Skala nominal

2) Motivasi Belajar Matematika

(i) Definisi Operasional : Motivasi belajar matematika adalah suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertu dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan dan menyalurkan tingkah laku menuju sasaran.

(ii) Indikator: Skor angket motivasi belajar.

(52)

Kelompok tinggi : skor >

X

+

2

1 s

Kelompok sedang :

X

2

1 s skor

X

+ 2

1 s

Kelompok rendah : skor <

X

2

1 s

dengan :

X

: rata – rata tes prestasi belajar siswa s : standar deviasi

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah sebagai berikut :

a. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data siswa tentang nilai ujian akhir semester ganjil kelas X yang digunakan untuk uji keseimbangan pada dua kelompok sampel yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. b. Metode Angket

(53)

commit to user

41

c. Metode Tes

Metode tes digunakan untuk mendapatkan data prestasi belajar matematika siswa. Tes yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan rancangan pebelajaran dan kisi-kisi tes. Sebelum digunakan untuk menguji subyek penelitian tes tersebut telah diuji cobakan pada siswa kelas X SMK Teknik berdasarkan kesamaan karakteristik.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian menjelaskan semua alat pengambilan data yang digunakan, proses pengumpulan data dan teknik penentuan kualitas instrumen (validitas dan reliabilitasnya). Karena itu instrumen penelitian sebelum digunakan untuk mengambil data terlebih dahulu harus diuji cobakan terhadap sebagian anggota dari populasi. Data hasil uji coba dianalisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Khusus instrumen hasil belajar selain validitas dan reliabilitas, perlu pula diketahui tingkat kesukaran dan daya beda dari butir-butirnya.

Dalam instrumen penelitian kisi-kisi instrumen harus dimasukan, sedangkan instrumennya sendiri cukup dilampirkan. Berikut ini diberikan beberapa kisi-kisi instrumen beserta angketnya, sebagai berikut

(54)

“E. Sangat Tidak Setuju (STS)”. Pemberian skor untuk masing-masing jawaban berturut-turut adalah 5,4,3,2, dan 1 untuk kategori butir soal positif dan sebaliknya untuk kategori butir soal negatif adalah 1,2,3,4 dan 5.(Lihat Lampiran 6)

Langkah-langkah dalam penyusunan angket : 1) Menentukan indikator.

2) Menyusun kisi-kisi pembuatan instrumen.

3) Menjabarkan indikator-indikator kedalam butir soal angket. 4) Menelaah butir soal.

5) Melakukan uji coba.

6) Melakukan analisis item soal.

7) Mengambil keputusan yaitu apakah butir soal tersebut dipakai, direvisi, atau dibuang.

[image:54.595.107.511.227.686.2]

Adapun kisi-kisi untuk angket motivasi belajar matematika, sebagai mana yang telah dibahas pada bab terdahulu sebagai berikut :

Tabel 3.3

Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar Matematika

No Indikator Item Positif

Item

Negatif Jumlah

1 a. Tujuan atau cita – cita b. Minat belajar

c. Keinginan untuk mencoba

d. Perasaan ingin tahu

1,2,5,6 7,8, 11, 13,14, 17, 19,20,21,23 4,3 9,10,12 15,16,18 22,24 6 6 6 6

2 a. Pujian dan hadiah b. Celaan dan hukuman

25,27 28 26 29,30 3 3

Jumlah 18 12 30

(55)

commit to user

43

b. Tes prestasi pada penelitian ini menggunakan tes tertulis yang berbentuk pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban yang tersedia. Tiap soal mempunyai bobot yang sama, yaitu 1 untuk jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban yang salah. (Lihat Lampiran 4)

Dalam penyusunan butir tes untuk penelitian ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menentukan pokok materi.

2) Menyusun kisi-kisi atau batasan soal yaitu soal-soal pada pokok bahasan aproksimasi.

3) Menulis butir-butir perangkat tes (soal-soal tes). 4) Menelaah butir soal.

5) Melakukan uji coba.

6) Melakukan analisis item soal.

7) Mengambil keputusan yaitu apakah butir soal tersebut dipakai, direvisi, atau dibuang.

[image:55.595.130.513.249.481.2]

Sedangkan kisi-kisi untuk materi tes aproksimasi, sebagaimana terinci pada tabel berikut :

Tabel 3.4 Kisi-kisi tes materi pokok Aproksimasi N

o Indikator

Aspek Kognitif

Jumlah

C1 C2 C3

1. Menjelaskan dengan kata-kata dan menyatakan masalah sehari-hari berkaitan dengan

membilang dan mengukur

2,4,5 1,3,6 7 7

2. Menyatakan suatu kegiatan pengukuran terhadap suatu obyek

9 8 2

[image:55.595.102.500.550.721.2]
(56)

4. Menentukan persentase kesalahan suatu

pengukuran

14 19 2

5.

Menghitung toleransi hasil

suatu pengukuran 15,16 18,20 21 5

6. Menerapkan hasil kali pengukuran untuk menentukan maksimum / minimum

22,23,24 25,26,27 28,29,30 9

Jumlah 10 12 8 30

2. Uji Coba Instrumen

Uji coba intrumen sangat diperlukan dalam suatu penelitian untuk mengetahui apakah intrumen tersebut sudah layak digunakan dalam penelitian. a. Angket

Menurut Budiyono (2004:34), metode angket adalah cara pengumpulan data melalui pengajuan pertanyaan tertulis kepada subyek penelitian, responden atau sumber data dan jawabanya diberikan pula secara tertulis. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk pilihan ganda. Metode angket ini digunakan untuk mengetahui motivasi belajar matematika siswa.

(57)

commit to user

45

1) Uji Validitas Isi

Berdasarkan pada tujuan diadakanya tes angket yaitu untuk mengetahui apakah motivasi belajar yang ditampakkan secara individual dapat pula ditampakkan pada keseluruhan situasi, maka uji validitas yang dilakukan pada metode angket ini adalah uji validitas isi dengan langkah-langkah seperti yang dikemukakan Crocker dan Algina dalam Budiyono (2004:60) sebagai berikut : a. Mendefinisikan domain kerja yang akan diukur ( pada tes angket dapat

berupa serangkain tujuan pembelajaran atau pokok-pokok kompetensinya yang diwujudkan dalam kisi-kisi),

b. Membentuk sebuah panel yang ahli dalam domain-domain tersebut,

c. Menyediakan kerangka terstruktur untuk proses pencocokan butir-butir soal yang terkait.

d. Mengumpulkan data dan menyimpulkan berdasar data yang diperoleh dari proses pencocokan pada langkah c )

e. Agar validitas isi angket pada penelitian ini dilakukan dengan cara meminta 3 orang validator untuk memberikan penilaian sesuai dengan validasi yang mana terlampir.

2) Konsistensi Internal

(58)

(

)( )

(

)

(

2

)

2

(

2

( )

)

2

å

å

å

å

å

å

å

-= Y Y n X X n Y X XY n rxy dengan :

rxy= indeks konsistensi internal untuk butir ke-i n = banyaknya subyek yang dikenai tes (instrumen)

X =skor untuk butir ke-i (dari subyek uji coba)

Y = total skor (dari subyek uji coba)

(Budiyono,2003:65)

Pada umumnya, suatu butir angket disebut mempunyai konsistensi internal yang baik jika rx y ≥ 0,30.

3) Uji Reliabilitas

Suatu tes dapat dikatakan mempunyai reliabilitas/taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Pendekatan yang sering digunakan untuk mengestimasi indeks reliabilitas instrumen dalam penelitian ini adalah metode satu kali tes (single-test method) dengan rumus alpha, yaitu :

÷ ÷ ø ö ç ç è æ -÷ ø ö ç è æ

-=

å

2

2 11 1 1 t i s s n n r dengan: 11

r = indeks reliabilitas instrumen

n = banyaknya butir instrumen

2

i

s = variansi skor butir ke-i, i = 1, 2, ..., n 2

t

(59)

commit to user

47

Dalam penelitian biasanya suatu instrumen dikatakan reliabel jika reliabilitas

yang diperoleh telah melebihi0,70 (r11 > 0,70)

b. Tes Prestasi

Tes prestasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai prestasi belajar matematika. Tes yang digunakan berupa tes obyektif berbentuk pilihan ganda. Sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian, instrumen tersebut diuji terlebih dahulu dengan uji validitas dan reliabilitas untuk mengetahui kualitas item soal. Sedangkan untuk menguji butir instrumen digunakan uji daya pembeda dan tingkat kesukaran.

1) Analisis Instrumen a) Uji Validitas Isi

Berdasarkan pada tujuan tes hasil belajar yaitu untuk mengetahui apakah prestasi belajar yang ditampakkan secara individual dapat pula ditampakkan pada keseluruhan situasi, maka uji validitas yang dilakukan pada metode tes ini adalah uji validitas isi dengan langkah-langkah seperti yang dikemukakan Crocker dan Algina dalam (Budiyono,2004:60) sebagai berikut :

a. Mendefinisikan domain kerja yang akan diukur ( pada tes prestasi dapat berupa serangkain tujuan pembelajaran atau pokok-pokok kompetensinya yang diwujudkan dalam kisi-kisi),

b. Membentuk sebuah panel yang ahli dalam domain-domain tersebut,

(60)

d. Mengumpulkan data dan menyimpulkan berdasar data yang diperoleh dari proses pencocokan pada langkah c )

e. Agar validitas isi angket pada penelitian ini dilakukan dengan cara meminta 3 orang validator untuk memberikan penilaian sesuai dengan validasi yang mana terlampir.

b) Uji Reliabilitas

Untuk mengetahui tingkat reliabilitas digunakan rumus yang dikemukakan oleh Kuder-Richardson dengan KR-20 sebagai berikut :

÷ ÷ ø ö ç ç è æ -÷ ø ö ç è æ

-=

å

2

2 11 1 t i i t s q p S n n r dengan:

r11= indeks reliabilitas instrumen

n = banyaknya butir instrumen st2= variansi total

pi= proporsi subyek yang menjawab benar pada butir ke-1

qi= 1- pi (Budiyono, 2003: 69)

Dalam penelitian ini tes disebut reliabel apabila indeks reliabilitas yang

diperoleh telah melebihi0,70 (r11 > 0,70)

2) Analisis Butir Soal a) Daya Pembeda

(61)

commit to user

49

pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Soal yang baik adalah soal yang dapat dijawab benar oleh siswa yang pandai saja. Untuk kelompok kecil (kurang dari 100 orang), seluruh peserta tes dikelompokkan menjadi dua kelompok sama besar, yaitu 50% kelompok pandai atau kelompok atas dari 50% kelompok bodoh atau kelompok bawah.

Rumus untuk menentukan indeks daya pembeda adalah :

b b

a a

J B J B D=

Dengan

D = indeks pembeda soal

Ja = banyaknya peserta kelompok atas

Jb = banyaknya peserta kelompok bawah

Ba = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar

Bb = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan

benar

Untuk menentukan kelompok atas dan kelompok bawah adalah skor dari seluruh siswa diturutkan mulai dari skor teratas sampai skor terendah, kemudian dibagi 2, yaitu 50% skor teratas menjadi kelompok atas dan sisanya menjadi kelompok bawah. Butir soal mempunyai daya pembeda baik jika D ≥ 0,30

(Suharsimi Arikunto, 2004: 213-214) b) Tingkat Kesukaran

(62)

karena di luar jangkauannya. Untuk mnentukan tingkat kesukaran tiap-tiap butir tes digunakan rumus sebagai be

Gambar

  Tabel 2.1
Tabel 2.2 Sintak Pembelajaran  Yang Berbasis Masalah  (PBL)
Gambar Kerangka Pemikiran Penelitian
Tabel 3.1 Waktu Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan kualitas fisik, penurunan nilai water holding capacity daging yang disimpan dalam plastik polipropilen rigid kedap udara (nilai koefisien regresi -0.36 sampai

Dalam penelitian ini beberapa variabel yang diharapkan dapat meningkatkan niat beli terhadap jersey Manchester United ini diantaranya adalah persepsi merek, persepsi

[r]

Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi, PMDN, JUB, inflasi, tenaga kerja sudah stasioner, sedangkan variabel SBI, PMA, Kurs, pengeluaran

Angka kematian ibu di puskesmas mengalami peningkatan sebesar 5 kasus pada tahun 2013, meskipun demikian program ini meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

mengembangkan desain batik ; (2) mengadakan pelatihan pembukuan dan (3) memperluas jaringan pemasaran melalui media website.. Lokasi kegiatan di desa Pilang, kecamatan

Semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri daun sirih, maka konsistensi salep dengan basis larut air yang ditambahkan semakin sedikit, sehingga viskositas salep rendah, daya sebar

Kota Bandar Lampung sebelum era reformasi terdiri dari 9 kecamatan dan 84 kelurahan; tetapi sejak tahun 2001 bertambah menjadi 13 kecamatan dan 98 kelurahan; dan hingga tahun