• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen risiko agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Manajemen risiko agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit"

Copied!
322
0
0

Teks penuh

(1)

BERBASIS KELAPA SAWIT

I Gusti Bagus Udayana

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi tentang Manajemen Risiko Agroindustri Biodiesel Berbasis Kelapa Sawit adalah karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun . Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Agustus 2010,

(3)

I Gusti Bagus Udayana. Manajemen Risiko Agroindustri Biodiesel Berbasis Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Dibimbing oleh ERIYATNO, ERLIZA HAMBALI dan ANAS M FAUZI

Ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil sangat besar, berdasarkan data ESDM (2006), minyak bumi mendominasi 51.66 persen penggunaan energi di Indonesia sedangkan penggunaan gas alam sebesar 28.57 persen. batu bara sebesar 15.34 persen. tenaga air sebesar 3.11 persen. panas bumi sebesar 4.44 persen. dan energi terbarukan hanya sekitar 0.2 persen dari total penggunaan energi. Cadangan minyak di Indonesia tinggal sekitar 9 miliar barel. dimana setiap tahun Indonesia memproduksi 500 juta barel. Ini artinya jika terus dikonsumsi dan tidak ditemukan cadangan minyak baru. diperkirakan cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu delapan belas tahun mendatang. Untuk mengatasi masalah tersebut. maka Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dengan mengembangkan sumber energi alternatif terbarukan dari sumber daya alam nabati. Hal ini telah disadari oleh pemerintah Indonesia. dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang kebijakan energi nasional dan Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar alternatif .

Biodiesel adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai solar. Kelebihan biodiesel dibanding solar adalah merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah yaitu free sulphur dan smoke number rendah). cetane number lebih tinggi (> 57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik. memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin; biodegradable. merupakan renewable energy. dan meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal (Daryanto 2006).

Tujuan penelitian ini adalah untuk merekayasa sistem penunjang keputusan manajemen risiko bagi pengembangan agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit. dengan metode yang digunakan meliputi analisis risiko bahan baku. proses pengolahan. dan pemasaran menggunakan non-numerik ME-MCDM. Pengukuran dan penilaian risiko finansial menggunakan kriteria risiko (koefisien variasi) yaitu jika 0.5 ≤ cv berisiko rendah. jika 0.5 < cv ≤ 0.8 usaha berisiko sedang jika 0.8 < cv ≤ 1.2 usaha berisiko tinggi. dan cv > 1.2 usaha berisiko sangat tinggi (Soeharto. 2002). Analisis kelayakan finansial menggunakan instrumen keuntungan bersih. NPV. IRR. Payback period. BEP dan Net B/C ratio. Penentuan tujuan dan strategi manajemen risiko menggunakan rule-base. AHP digunakan untuk mendapatkan bobot nilai alternatif risiko dari pada aspek pengadaan bahan baku. proses pengolahan dan pemasaran. Teknik ISM dugunakan untuk mengka ji suatu sistem kelembagaan pada agroindustri biodiesel.

(4)

dimaksudkan untuk mengintegrasikan pengelolaan risiko pada agroindustri biodiesel terhadap bahan baku. proses pengolahan. pemasaran dan finansial.

Penilaian risiko bahan baku terdiri dari faktor waktu ketersediaan. kualitas. harga. biaya pengadaan. dan jumlah bahan baku. Risiko proses pengolahan terdiri dari faktor kualitas biodiesel sesuai SNI. kinerja mesin dan peralatan proses. biaya proses. pemeliharaan mesin dan alat serta lokasi proses pengolahan. Risiko pemasaran terdiri dari faktor kepuasan konsumen. posisi persaingan. kondisi distribusi. kebijakan pemerintah. dan peningkatan harga bahan baku. Analisis finansial pengembangannya melalui model kelayakan argoindustri biodiesel. Data yang meliputi data kebutuhan dan biaya pengadaan bahan baku. bahan pembantu. jumlah dan jenis tenaga kerja. spesifikasi biaya sewa tanah dan bangunan. dan biaya utilitas.

Model ini diterapkan pada kasus perkebunan sawit di Propinsi Riau dan perusahaan industri biodiesel di Tengerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa katagori risiko bahan baku adalah sangat tinggi. proses pengolahan tinggi. pemasaran risiko sangat tinggi. dan pada risiko finansial adalah rendah. Hasil agregasi dengan menggunakan metode OWA secara keseluruhan dihasilkan risiko pada agroindustri biodiesel adalah sangat tinggi

Hasil analisis kelembagaan menggunakan teknik ISM (metode Interpretative Structural Modelling) dan sintesis dari pendapat para ahli melalui sistem pakar (expert system) diperoleh bahwa untuk meminimasi risiko pada agroindustri biodiesel adalah dengan pendekatan kluster industri biodiesel

Resiko agroindustri biodiesel dapat dikurangi melalui klaster dengan fasilisator FKMKI Biodiesel (Forum Komunikasi Manajemen Klaster Industri Biodiesel) yang diprakarsai oleh masyarakat klaster industri serta pembentukan koperasi agroindustri biodiesel yang didukung oleh investor. lembaga pembiayaan. perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Peran aktif pemerintah diharapkan dalam mengeluarkan kebijakan yang konsisten untuk meningkatkan daya saing biodiesel dibanding energi fosil. seperti memberikan subsidi bunga bagi pekebun kelapa sawit. harmonisasi tarif CPO dengan tujuan menjaga kestabilan harga CPO di tingkat petani. memberikan subsidi pajak kurang lebih 5% dari kebutuhan biodiesel dan mendorong penggunaan biodiesel untuk kendaraan milik pemerintah.

(5)

I Gusti Bagus Udayana. Agroindustrial Risk Management of Palm Oil-Based Biodiesel. Supervised by ERIYATNO, ERLIZA HAMBALI and ANAS M FAUZI

Biodiesel is fuel generates from vegetable oils that have properties similar to diesel oil. The advantages of biodiesel compared to diesel is an environmentally friendly fuel because it produces much lower emissions (sulfur free, low smoke number) in accordance with global issues, higher cetane number (> 57) so that the combustion efficiency is better than diesel, lubrication properties of the piston engine; biodegradable, a renewable energy because it is made from natural materials, and improve the independence of fuel supply because it can be produced locally.

The purpose of this research is to design the risk management decision support system for agro-industry development of oil palm-based biodiesel. The design methods used include: a) risk analysis of raw materials, processing, and marketing using a non-numeric ME-MCDM. Measurement and assessment of financial risks using risk criteria (coefficient of variation). Financial feasibility studies using the instruments: net profit, NPV, IRR, payback period, the BEP and the Net B / C ratio. Determination of objectives and risk management strategies using the rule-base. AHP is used to obtain an alternative value in the aspect of raw material procurement, processing, and marketing. ISM digunakam in institutional management.

This research resulted in a decision support system that is useful to help decision makers in addressing the risk of agro-bio-diesel. Risk management model is designed in a decision support system (DSS) with the name "Biodiesel-RM", can be used by industrial users and investors in the field of biodiesel. SPK software development using Microsoft Visual Basic Version 6.0 yamg consists of three main components namely database management system, knowledge base management system and model base management system. Model base management system consists of 4 sub-model: risk analysis of raw materials, processing of risk analysis, risk analysis marketing, and financial risk analysis. Risks can be reduced through agro biodiesel biodiesel industry cluster approach, with fasilisator FKMKI Biodiesel (Forum biodiesel industry cluster management communication), which was formed and initiated by the community clusters and the formation of cooperative agro-industrial biodiesel supported by investors, financing institutions, universities and research institutions

Keywords: Risk Management, Biodiesel, palm oil, industry cluster.

RINGKASAN

I Gusti Bagus Udayana. Manajemen Risiko Agroindustri Biodiesel Berbasis Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Dibimbing oleh ERIYATNO, ERLIZA HAMBALI dan ANAS M FAUZI

(6)

penggunaan energi di Indonesia sedangkan penggunaan gas alam sebesar 28.57 persen. batu bara sebesar 15.34 persen. tenaga air sebesar 3.11 persen. panas bumi sebesar 4.44 persen. dan energi terbarukan hanya sekitar 0.2 persen dari total penggunaan energi. Cadangan minyak di Indonesia tinggal sekitar 9 miliar barel. dimana setiap tahun Indonesia memproduksi 500 juta barel. Ini artinya jika terus dikonsumsi dan tidak ditemukan cadangan minyak baru. diperkirakan cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu delapan belas tahun mendatang. Untuk mengatasi masalah tersebut. maka Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dengan mengembangkan sumber energi alternatif terbarukan dari sumber daya alam nabati. Hal ini telah disadari oleh pemerintah Indonesia. dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang kebijakan energi nasional dan Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar alternatif .

Biodiesel adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai solar. Kelebihan biodiesel dibanding solar adalah merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah yaitu

free sulphur dan smoke number rendah). cetane number lebih tinggi (> 57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik. memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin; biodegradable. merupakan renewable energy. dan meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal (Daryanto 2006).

Tujuan penelitian ini adalah untuk merekayasa sistem penunjang keputusan manajemen risiko bagi pengembangan agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit. dengan metode yang digunakan meliput i analisis risiko bahan baku. proses pengolahan. dan pemasaran menggunakan non-numerik ME-MCDM. Pengukuran dan penilaian risiko finansial menggunakan kriteria risiko (koefisien variasi) yaitu jika 0.5 ≤ cv berisiko rendah. jika 0.5 < cv 0.8 usaha berisiko sedang jika 0.8 < cv ≤ 1.2 usaha berisiko tinggi. dan cv > 1.2 usaha berisiko sangat tinggi (Soeharto. 2002). Analisis kelayakan finansial menggunakan instrumen keuntungan bersih. NPV. IRR. Payback period. BEP dan Net B/C

ratio. Penentuan tujuan dan strategi manajemen risiko menggunakan rule-base. AHP digunakan untuk mendapatkan bobot nilai alternatif risiko dari pada aspek pengadaan bahan baku. proses pengolahan dan pemasaran. Teknik

ISM dugunakan untuk mengka ji suatu sistem kelembagaan pada agroindustri biodiesel.

Bahasa pemograman yang digunakan adalah Microsoft Visual Basic Versi

6.0. Teknik validasi model menerapkan face validity yang memungkinkan penelusuran model secara menyeluruh dan utuh sehingga konsistensi konsep dan kebutuhan pemangku kepentingan dapat dievaluasi secara bersamaan. Proses penilaian dilakukan berdasarkan pendapat ahli. dengan cara deduksi logika untuk menilai asumsi dari model apakah sudah sesuai atau belum dengan kenyataan.

Sistem penunjang keputusan yang dihasilkan adalah Biodiesel-RM. dimaksudkan untuk mengintegrasikan pengelolaan risiko pada agroindustri biodiesel terhadap bahan baku. proses pengolahan. pemasaran dan finansial.

(7)

pemasaran terdiri dari faktor kepuasan konsumen. posisi persaingan. kondisi distribusi. kebijakan pemerintah. dan peningkatan harga bahan baku. Analisis finansial pengembangannya melalui model kelayakan argoindustri biodiesel. Data yang meliputi data kebutuhan dan biaya pengadaan bahan baku. bahan pembantu. jumlah dan jenis tenaga kerja. spesifikasi biaya sewa tanah dan bangunan. dan biaya utilitas.

Model ini diterapkan pada kasus perkebunan sawit di Propinsi Riau dan perusahaan industri biodiesel di Tengerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa katagori risiko bahan baku adalah sangat tinggi. proses pengolahan tinggi. pemasaran risiko sangat tinggi. dan pada risiko finansial adalah rendah. Hasil agregasi dengan menggunakan metode OWA secara keseluruhan dihasilkan risiko pada agroindustri biodiesel adalah sangat tinggi

Hasil analisis kelembagaan menggunakan teknik ISM (metode

Interpretative Structural Modelling) dan sintesis dari pendapat para ahli melalui sistem pakar (expert system) diperoleh bahwa untuk meminimasi risiko pada agroindustri biodiesel adalah dengan pendekatan kluster industri biodiesel

Resiko agroindustri biodiesel dapat dikurangi melalui klaster dengan fasilisator FKMKI Biodiesel (Forum Komunikasi Manajemen Klaster Industri Biodiesel) yang diprakarsai oleh masyarakat klaster industri serta pembentukan koperasi agroindustri biodiesel yang didukung oleh investor. lembaga pembiayaan. perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Peran aktif pemerintah diharapkan dalam mengeluarkan kebijakan yang konsisten untuk meningkatkan daya saing biodiesel dibanding energi fosil. seperti memberikan subsidi bunga bagi pekebun kelapa sawit. harmonisasi tarif CPO dengan tujuan menjaga kestabilan harga CPO di tingkat petani. memberikan subsidi pajak kurang lebih 5% dari kebutuhan biodiesel dan mendorong penggunaan biodiesel untuk kendaraan milik pemerintah.

(8)

ii © Hak cipta milik IPB Tahun 2010

Hak cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(9)

Sawit

Nama Mahasiswa : I Gusti Bagus Udayana

NIM : F 361050011

Disetujui Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Eriyatno, MSAE. Ketua

Prof. Dr. Ir. Erliza Hambali, M.Si Dr. Ir. Anas Miftah Fauzi, M.Eng. Anggota Anggota

Mengetahui

Ketua Program Studi Teknologi Industri Pertanian

Dr. Ir. Machfud, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS

(10)

MANAJEMEN RISIKO AGROINDUSTRI BIODIESEL

BERBASIS KELAPA SAWIT

I Gusti Bagus Udayana

Disertasi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Studi Teknologi Industri Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(11)

Puji syukur saya panjatkan kahadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas limpahan rahmat, karunia dan petunjuk-Nya jualah disertasi ini dapat saya selesaikan dengan baik, walau mungkin masih ditemui berbagai kekurangan.

Manajemen risiko agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit dilakukan

dengan pendekatan sistem. Hasil penelitian ini telah menghasilkan model “BIODIESEL RM” yang komprehensif sehingga mampu membangun kondisi yang optimal dalam pemenuhan kebutuhan secara harmonis bagi pelaku agroindustri khususnya industri biodiesel. Manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Hasil analisis risiko menghasilkan pengadaan bahan baku dan pemasaran memiliki risiko sangat tinggi, proses pengolahan berisiko tinggi dan finansial memiliki risiko rendah.

Keberhasilan penelitian ini tidak terlepas dari peran komisi pembimbing. Oleh karena itu, ucapan terima kasih yang tak terhingga saya persembahkan kepada : Prof. Dr. Ir. Eriyatno, MSAE sebagai ketua komisi pembimbing, kepada: Prof. Dr. Ir. Erliza Hambali, dan Dr. Ir. Anas Miftah Fauzi, M.Eng masing-masing sebagai anggota komisi pembimbing yang dengan tulus dan iklas membimbing saya mulai dari penulisan proposal, penelitian, dan penulisan hingga disertasi ini terwujud.

Penghargaan dan ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof.Dr. Armansyah H. Tambunan (Guru besar dan staf pengajar pada Departemen

Keteknikan Pertanian, Institut Pertanian Bogor) dan Dr. Ir. Erliza Noor (Staf pengajar Departemen Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian

Bogor) masing-masing selaku penguji luar komisi pada sidang ujian tertutup serta Dr. Ir. Muhamad Said Didu, Msi. (Sekretaris Kementrian BUMN dan Dr. Drs. Dedi Mulyadi, Msi (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementrian Perindustrian) masing-masing selaku Penguji luar komisi pada sidang ujian terbuka saya.

Penghargaan dan ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Ketua Kopertis wilayah VIII di Denpasar Bali, Rektor Universitas Warmadewa, Dekan Fakultas pertanian Universitas Warmadewa serta Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, Denpasar Bali yang telah memberikan kesempatan kepada saya melanjutkan studi doktoral.

Kepada Rektor Institut Pertanian Bogor saya ucapkan terima kasih dan penghargaan atas kesediaannya menerima saya menjadi mahasiswa pada program studi Teknologi Industri Pertanian, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

(12)

Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Ripublik Indonesia yang telah memberikan bantuan pendidikan melalui Proyek BPPS dan dana hibah doktor Melalui Sekolah Pascasarjana IPB kepada saya guna kelancaran proses pendidikan.

Kepada Gubernur Propinsi Riau, Bapeda, Dinas perkebunan, Dinas perindustrian dan Perdagangan di propinsi Riau, Departemen ESDM, dan Migas, Direktur PT Indobiofuel, serta Bapak Ir. Ida Bagus Mayun, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan atas bantuan berupa fasilitas dan kemudahan yang telah diberikan kepada saya selama melaksanakan penelitian di perkebunan di Propinsi Riau. Demikian juga kepada saudara Roni Wijaya, STP saya sampaikan terima kasih atas segala bantuannya dalam proses penyelesaian disertasi ini.

Kepada rekan-rekan mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB, khususnya rekan-rekan pada program studi Teknologi Industri Pertanian, IPB Bogor terkhusus lagi bagi rekan-rekan angkatan 2005 : Dr. Luluk Sulistyobudi,SP.,MP, Cut Meurah Rosnelly, SP. M.Si., Ir. Novizar Nazir, M.Si., Ir. Yuli Wibowo, M.Si, Ir. Henny Purwaningsih, M.Si, Ir. Herviani Riskia, MS.i dan Ir. Fahmi Riadi, M.Si, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas segala bantuan dan kerjasama yang baik yang dilandasi rasa persaudaraan, semoga tetap abadi.

Kepada yang saya muliakan ayahanda Drs. I Gusti Putu Gede Soekarya dan Ibunda Ni Putu Nyeneng Astini, ayah mertua, Ida Bagus Ketut Puja (Almarhum) dan Ibu mertua Ida Ayu Nyoman Ganti, ananda persembahkan terima kasih atas segala do’a restu, bimbingan, nasehat, dan arahan yang tiada henti-hentinya diberikan kepada saya.

Terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga, saya persembahkan kepada istri saya tercinta Ida Ayu Oka Martini, SE, MM dan anak-anak saya tersayang I Gusti Agung Rama Pramudita Iswara (Gung Rama) dan I Gusti Ayu Monika Intan Kirana (Gung Intan) atas ketabahan, kesabaran, kesetiaan, pengorbanan, dan iringan do’a yang tulus dan iklas dalam menyertai setiap langkah saya selama menempuh pendidikan S3 di IPB Bogor.

Kepada kakak saya: Dra. I Gusti Ayu Ngurah, MM dan adik saya : I Gusti Ayu Ariani Kinantri, SE saya ucapkan terima kasih atas segala bantuan dan doa yang telah diberikan selama saya menempuh pendidikan. Juga kepada adik ipar saya : Ida Bagus Gaga Wedana, Ida Ayu Nyoman Erawati, Ida Ayu Kade Sri Astuti dan Suami, Ida Ayu Ketut Warini dan Suami, serta Drs. OQ Wisnu Bhaskoro,BA., saya ucapkan terima kasih atas bantuan dan doa yang telah diberikan selama saya menempuh pendidikan.

Akhir kata, kepada semua pihak yang telah membantu saya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, saya ucapkan terima kasih, semoga Ida Sang Hyaang Widi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa memberi pahala yang setimpal, dan permohonan maaf saya sampaikan apabila dalam proses pendidikan ada kesalahan yang saya lakukan baik sengaja atau tidak saya sengaja. Trimakasih.

Bogor, Oktober 2010

(13)

Penulis Dilahirkan di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1964 dan merupakan anak

kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Drs. I Gusti Putu Gede Soekarya dan Ni Putu

Nyeneng Astini. Penulis memperoleh gelar Sarjana Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Udayana Denpasar, Bali pada tahun 1988. Pendidikan Magister Pertanian

dengan program studi Pertanian Lahan Kering diselesaikan di Program Pascasarjana

Universitas Udayana Denpasar, Bali pada tahun 2000. Kemudian tahun 2005 penulis

melanjutkan pendidikan program doktoral di Program Studi Teknologi Industri Pertanian

spesifikasi Teknik Manajemen Agroindustri Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian

Bogor (SPS-IPB) di Bogor dengan sponsor biaya pendidikan proyek BPPS Direktorat

Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Ripublik Indonesia Jakarta.

Penulis bekerja sebagai staf pengajar Kopertis Wilayah VIII Denpasar, Bali dan

dipekerjakan pada Universitas Warmedewa denpasar, Bali pada program studi Agro

Teknologi sejak tahun 1989 sampai sekarang. Selama mengikuti program doktoral di

SPs-IPB, berkesempatan menulis artikel dan terpublikasi secara ilmiah pada beberapa

jurnal antara lain : (1) Manajemen risiko bahan baku agroindustri biodiesel berbasis

kelapa sawit : Jurnal Agri-Tek Universitas Merdeka Madiun. (2) Pengembangan Model

Kelembagaan Sebagai Solusi Mengatasi Risiko Agroindustri Biodiesel Berbasis Kelapa

Sawit : Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali..

Penulis menikah dengan Ida ayu Oka Martini, SE, MM pada tanggal 21 September 1990

dan telah dikaruniai 2 orang anak (Putra dan Putri) : I Gusti Agung Rama Pramudita

Iswara (Gung Rama, 19 tahun) dan I Gusti Ayu Monika Intan Kirana (Gung Intan, 15

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 4

Ruang Lingkup Penelitian ………... 4

Manfaat Penelitian ……….... 4

Tinjauan Pustaka ………... 5

Stategi Pengembangan Agroindustri ………... 5

Penelitian Terdahulu ... 22

Manajemen Risiko ... 23

Pendekatan Sistem ... 33

Sistem Penunjang Keputusan (SPK) ... 39

Teknik Simulasi Model (SM) ... 43

Teknik Interpretative Structural Modeling (ISM) ... 46

Analytical Hierarchy Process (AHP) ……… 44

Sistem Pakar (Expert System) ... 46

Analisis Fuzzy Non-Numerik ... 47

Analisa Finansial ... 49

Metode Penilaian Kelayakan Usaha ... 50

METODOLOGI ... 54

Kerangka Pemikiran ... 54

Tempat dan Waktu Penelitian ... 57

Tata Laksana Penelitian ... 57

Validasi Model ... 60

PEMODELAN SISTEM ... 61

Konfigurasi Model ... 61

Kerangka Model ... 62

Analisis Model... 71

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 74

Manajemen Risiko ... 74

Strategi Manajemen Risiko ... 98

IMPLEMENTASI MODEL ... 158

(15)

Vaildasi ... 165

Implementasi Kebijakan ... 165

Kelembagaan Klaster Industri Biodiesel ... 174

KESIMPULAN DAN SARAN ... 177

Kesimpulan ... 177

Saran ... 178

DAFTAR PUSTAKA ... 185

(16)

DAFTAR TEBEL

Halaman

1. Komposisi asam lemak minyak kelapa sawit ... 8

2. Sifat fisik kimia minyak kalapa sawit ... 8

3. Produksi Minyak Sawit Indonesia VS Malaysia... 9

4. Komposisi asam lemak CPO, PKO, Fraksi CPO Olein, CPO Stearin dan PFAD ... 10

5. Sifat Fisik Kimia CPO, PKO, RBD Olein, RBD Stearin dan PFAD ... 10

6. Produksi CPO Indonesia Menurut Pengusahaan Komoditas Kelapa Sawit Tahun 2002 - 2008... 12

7. Produksi PKO Indonesia Menurut Pengusahaan Komoditas Kelapa Sawit Tahun 2002 – 2008 ... 12

8. Jumlah Produksi Negara Produsen CPO Dunia Tahun 2004-2008 ( x1000 ton). ... 15

9. Volume Ekspor Negara Produsen CPO Dunia Tahun 2004-2008 (x 1000 ton)... 15

10. Volume Impor Negara Konsumen CPO Dunia Tahun 2004-2008 (x 1000 ton)... 16

11. Produksi CPO Indonesia Menurut Pengusahaan Komoditas Kelapa Sawit Tahun 2002 – 2008 ... 18

12. Produksi PKO Indonesia Menurut Pengusahaan Komoditas Kelapa Sawit Tahun 2002 – 2008 ... 19

13. Penelitian Terdahulu Berkaitan Dengan Risiko Agroindustri ... 21

14. Kebutuhan aktor dalam agroindustri biodiesel ………. 56

15 Hasil tanaman jenis dura dengan pertumbuhan normal ………. 77

16 Hasil analisis risiko finansial dan kelayakan ... 89

(17)

18 Asumsi kelayakan finansial pabrik biodiesel berbasis kelapa sawit

kapasitas 60.000 ton per tahun ... 92

19 Investasi pendirian pabrik biodiesel berbasis kelapa sawit ... 93

20 Analisis sensitivitas kelayakan finansial ... 95

21. Syarat mutu biodiesel berdasarkan standar nasional Iindonesia ... 103

22 Hasil reachbility matriks serta interprestasi dari elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program ... 113

23 Hasil reachbility matriks kebutuhan ... 116

24 Hasil Reachibility Matrix final dan interprestasinya dari kendala dalam risiko kelembagaan ... 122

25. Hasil reachability matrik final elemen tujuan ... 127

26. Hasil reachability matrik final elemen tolok ukur ... 132

27. Hasil reachability matriks final elemen lembaga manajemen risiko ... 136

28. Hasil reachability matrik final elemen perubahan ... 141

29. Hasil reachability matriks final elemen aktivitas... 145

30 Elemen kunci strukturisasi kelembagaan agroindustri biodiesel ... 149

(18)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Pohon industri kelapa sawit ... 14

2 Persentase produksi negara produsen CPO dunia ... 15

3 Persentase volume ekspor negara produsen CPO dunia …………... 16

4 Persentase volume impor negara konsumen CPO dunia ……….. 17

5 Pola konsumsi CPO di Indonesia ... 17

6 Grafik Perkembangan Produksi Minyak Sawit Indonesia 1998-2008 …. 19 7 Diagram proses produksi biodiesel dari CPO ... 20

8 Risiko sebagai fungsi dan komponennya ... 23

9 Analisis dan pengendalian risiko untuk manajemen risiko... 24

10 Hubungan antara komponen Decision Support Sistem (DSS) ... 32

11 Tahapan analisis sistem ... 47

12 Kerangka pemikiran penelitian manajemen risiko agroindustri biodiesel ... 50

13 Tahapan penelitian manajemen risiko ... 53

14 Diagrram lingkar sebab akibat sistem agroindustri biodiesel ... 59

15 Diagram input-output agroindustri biodiesel ... 60

16 Sistem manajemen ahli model SPK agroindustri biodiesel ... 61

17 Diagram input-output sistem pakar manajemen risiko agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit ... 65

18 Skema alur proses model analisis risiko agroindustri ... 67

19 Skema alur model resiko finansial agroindustri biodiesel ... 68

20 Perangkat lunak SPK “Biodiesel-RM” ... 70

(19)

xix

22 Pohon keputusan analisis risiko proses pengolahan... 83

23 Pohon keputusan analisis risiko pemasaran ... 88

24 Pohon keputusan analisis risiko ... 90

25 Hasil analisis AHP harga bahan baku ... 98

26 Hasil analisis AHP Kualitas produksi ... 100

27 Diagram proses pembuatan biodiesel ………. 104

28 Hasil analisis AHP Kebijakan pemerintah ... ... 108

29 Struktur hirarki antar sub elemen sektor masyarakat yang terpengaruh Program ... ... 114

30 Matriks Driver Power-Depedence elemen masyarakat yang terpengaruh Program ... 115

31 Struktur hirarki antar sub elemen kebutuhan ... 118

32 Matriks Driver Power-Depedence elemen Driver kebutuhan ...……….. 120

33 Struktur hirarki antar sub elemen kendala ... 123

34 Matriks Driver Power-Depedence elemen kendala ... 124

35 Struktur hirarki antar sub elemen tujuan ... 128

36 Matriks Driver Power-Depedence elemen tujun... 130

37 Model sturktur hirarki antar sub elemen tolok ukur ... 133

38 Matriks Driver Power-Depedence elemen tolok ukur ... 134

39 Sruktur hirarki antar sub elemen lembaga ... 137

40 Matriks Driver Power-Depedence elemen lembaga ... 138

41 Struktur hirarki antar sub elemen perubahan ... 141

42 Matriks Driver Power-Depedence elemen perubahan …….………. 142

(20)

xx

44 Matriks Driver Power-Depedence elemen aktivitas yang dibutuhkan ... 148

45 Gambaran umum keterkaitan institusi dan para pihak yang berkepentingan pada industri biodiesel ... 164

46 Sistem klaster agroindustri biodiesel ... 164

47 Skema pembiayaan klaster industri biodiesel ... 169

48 Struktur organisasi hipotetik klaster industri biodiesel ... 172

(21)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Industri Biodiesel Berbasis Kelapa ... 191

2. Tampilan Masukan Dan Hasil Penilaian Pakar Untuk Analisis Risiko Bahan Baku ... 192

3. Skor Keseluruhan Analisa Risiko Bahan Baku …….……… 193

4 Tampilan Masukan dan Hasil Penilaian Pakar Untuk Analisis Risiko Proses Pengolahan ... 193

5. Skor Keseluruhan Analisa Risiko Proses Pengolahan ... 195

6. Tampilan Masukan Dan Hasil Penilaian Pakar Untuk Analisis Risiko Pemasaran ... 195

7. Skor Keseluruhan Analisa Risiko Pemasaran ... 196

8. Perkiraan Rugi Laba ... 197

9. Input skenario model dan hasil analisis kelayakan finansial ... 199

10. Petunjuk Teknis Penggunaan Aplikasi Biodiesel-RM ... 200

11. Parameter Sistem Pakar ... 233

12. Kebijakan Sistem Pakar ... 233

13. Skenario Rule Base ………. 234

(22)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ketersediaan energi yang berasal dari minyak bumi semakin hari

semakin terbatas. Kondisi ini memicu peningkatan harga jual bahan bakar

minyak bumi yang disebabkan karena produksi minyak bumi dalam negeri tidak

dapat memenuhi permintaan pasar yang meningkat dengan cepat akibat

pertumbuhan penduduk dan industri. Indonesia yang semula adalah net-exporter

di bidang bahan bakar minyak (BBM), sejak tahun 2000 telah menjadi

net-importir BBM. Pada periode bulan Januari – Juli 2006 produksi BBM Indonesia hanya mencapai 1.29 juta barel per hari, sedangkan konsumsi BBM mencapai

sekitar 1.3 juta barel per hari sehingga terdapat defisit BBM sebesar 0.27 juta

barel yang harus dipenuhi melalui impor. Untuk memenuhi defisit sebesar 0.27

juta barel tersebut, dengan harga minyak dunia mencapai US$ 70 per barel, maka

Indonesia harus menyediakan budget setiap harinya sekitar US$ 18.9 per hari atau

jika dirupiahkan sebesar Rp 170.1 milyar (Syah 2006).

Ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil sangat besar.

Berdasarkan data DESDM (2006) minyak bumi mendominasi 52.5% pemakaian

energi di Indonesia, sedangkan penggunaan gas bumi sebesar 19%, batu bara

21.5%, air 3.7%, panas bumi 3% dan energi terbarukan hanya sekitar 2% dari

total penggunaan energi. Ketergantungan akan minyak menyebabkan Indonesia

mudah terombang-ambing oleh harga minyak dunia yang melonjak hingga

menembus angka di atas US$ 75 per barel. Kelangkaan minyak ini menyebabkan

krisis dalam berbagai bidang. Cadangan minyak di Indonesia saat ini sebesar 9

miliar barel, sementara itu setiap tahun Indonesia memproduksi 500 juta barel, ini

artinya jika terus dikonsumsi dan tidak ditemukan cadangan minyak baru,

diperkirakan cadangan minyak Indonesia akan habis dalam waktu delapan belas

tahun mendatang (DESDM 2006). Untuk mengatasi masalah tersebut, maka

sudah saatnya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil

dengan mengembangkan sumber energi alternatif terbarukan dari sumber daya

alam nabati. Hal ini telah disadari oleh pemerintah Indonesia, yang dibuktikan

(23)

Nasional dan Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan

bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar alternatif.

Untuk mengantisipasi masalah bahan bakar yang tidak stabil ini, maka

sudah saatnya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil

dengan mengembangkan sumber energi alternatif terbarukan. Pengembangan

bioenergi diharapkan dapat mensubstitusi kebutuhan BBM di Indonesia

Biodiesel adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat

menyerupai solar. Kelebihan biodiesel dibanding solar adalah merupakan bahan

bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik

(free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global, cetane number

lebih tinggi (> 57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik dibandingkan dengan

minyak solar, memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin; biodegradable

(dapat terurai), merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang

dapat diperbarui, dan meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat

diproduksi secara lokal (Daryanto 2006).

Trifino (2006) menyatakan bahwa biodiesel bisa digunakan dengan

mudah karena dapat bercampur dengan segala komposisi dengan minyak solar,

mempunyai sifat-sifat fisik yang mirip dengan solar sehingga dapat diaplikasikan

langsung untuk mesin-mesin diesel yang ada hampir tanpa modifikasi, dapat

terdegradasi dengan mudah (biodegradable), 10 kali tidak beracun dibanding

minyak solar, memiliki angka setana yang lebih baik dari minyak solar biasa, asap

buangan biodiesel tidak hitam, tidak mengandung sulfur serta senyawa aromatik.

Salah satu sumber minyak nabati yang dapat digunakan untuk

menghasilkan biodiesel adalah minyak kelapa sawit. Daryanto (2006)

menyatakan bahwa biodiesel yang berasal dari CPO, saat ini merupakan harapan

baru untuk menjawab sebagian kebutuhan energi di Indonesia. Selain ramah

lingkungan, biodiesel CPO juga bisa diperbarui, sementara Indonesia sendiri

merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia saat ini. Kelapa sawit

merupakan tanaman penghasil minyak tertinggi di dunia yaitu sebesar 6 ton

minyak per hektar per tahun, dengan produksi biomassa kering mencapai 55 ton

(24)

Sistem pengembangan agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit seperti

halnya agroindustri lainnya memiliki hubungan antar elemen yang relatif

kompleks, terdapat saling ketergantungan dan mengandung potensi risiko

yang cukup besar dalam pengelolaannya. Keberhasilan pengembangan sektor

agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit salah satunya sangat tergantung

kepada produksi kelapa sawit sebagai penyedia bahan baku. Sistem produksi

biodiesel berbasis kelapa sawit memiliki risiko seperti adanya ketergantungan

akan cuaca atau iklim, adanya serangan hama penyakit, persaingan harga

minyak kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel dengan peruntukannya

sebagai bahan minyak pangan, dan adanya krisis keuangan dunia. Keadaan

tersebut perlu diperhatikan karena sangat mempengaruhi ketersediaan bahan

baku dari segi jumlah, kualitas dan kontinyuitas (Sastrosayono 2006).

Sa’id dan Intan (2001) menyatakan bahwa dalam pengembangan

agribisnis, para pelaku dapat menghadapi risiko-risiko. Penanggungan risiko

merupakan salah satu unsur biaya atau penyedot biaya yang sulit diperkirakan

besarnya dalam setiap aktivitas bisnis, baik risiko penurunan produksi maupun

risiko penurunan dalam nilai produk atau pendapatan bersih usaha bisnis.

Sejumlah aspek utama dalam pengembangan agroindustri biodiesel mengandung

potensi risiko yang harus dikelola secara baik. Aspek-aspek tersebut meliputi

pengadaan bahan baku, proses pengolahan, pemasaran, dan finansial.

Penelitian risiko agroindustri, terutama agroindustri biodiesel berbasis

kelapa sawit selama ini masih sangat terbatas dan bersifat parsial, sehingga

urgensi penelitian ini adalah melakukan kajian secara komprehensif melalui

pendekatan sistem dan mengembangkan suatu perangkat lunak sistem penunjang

keputusan (SPK) yang dapat diaplikasikan oleh sejumlah pihak terkait

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk merekayasa sistem penunjang keputusan

manajemen risiko bagi pengembangan agroindustri biodiesel berbasis kalapa

(25)

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian difokuskan pada rekayasa sistem penunjang

keputusan manajemen risiko agroindustri biodiesel dengan menggunakan CPO

sebagai bahan bakunya. Penelitian manajemen risiko ini dilakukan dengan

kegiatan menganalisis risiko dari kebun kelapa sawit sampai pemasaran biodisel.

Strategi manajemen risiko dirancang dengan memperhatikan sejumlah tujuan

secara hierarki dengan mengakomodasi kepentingan para pelaku usaha terkait.

Obyek penelitian ini adalah: (1) perkebunan kelapa sawit di Propinsi Riau, dan

(2) Pabrik biodiesel di wilayah Tangerang

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik untuk

pengembangan ilmu maupun penerapannya sehingga mampu memberikan

kontribusi nyata terhadap pengembangan agroindustri biodiesel berbasis kelapa

sawit. Beberapa manfaat yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah :

1) Bagi Perusahaan agroindustri, hasil penelitian ini merupakan alat penunjang

keputusan taktis operasional dalam penerapan manajemen risiko untuk

pengembangan agroindustri biodiesel

2) Bagi pemerintah dan intansi terkait, hasil penelitian ini merupakan informasi

mengenai manajemen risiko dalam mendukung perencanaan strategis

mengenai pengembangan agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit dan

sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan.

Kebaruan Penelitian

Kebaruan dari penelitian ini adalah pengembangan kebijakan

manajemen risiko agroindustri biodiesel didasarkan pada pemodelan manajemen

risiko melalui penggabungan pendekatan soft dan hard systemmethodology yang

(26)

TINJAUAN PUSTAKA

Strategi Pengembangan Agroindustri

Strategi menurut Simatupang (1997) adalah suatu pola atau perencanaan

yang mampu mengintegrasikan sasaran, kebijakan, dan tindakan-tindakan

organisasi secara komprehensif. Sedangkan pengembangan agroindustri adalah

segala bentuk pengusahaan yang dilakukan ke arah yang lebih baik dari

sebelumnya. Hasil kajiannya menyebutkan bahwa agroindustri terbukti telah

berhasil memberikan nilai tambah sekitar 20.7%, penyerapan tenaga kerja 30.8%

dan penyerapan bahan baku 89.9% dari total industri yang ada, hal tersebut

mengindikasikan perlunya perhatian pemerintah dalam menetapkan kebijakan ke

arah pengembangan agroindustri menjadi sistem unggulan.

Agroindustri sebagai sistem unggulan

Pembangunan ekonomi Indonesia kini dan kedepan harus mengarah

kepada era liberisasi perdagangan yang ditandai dengan adanya perubahan term of

trade, sehingga perdagangan lambat laun semakin hilang subsidi, tarif, dan arus lalu lintas modal antar negara semakin meningkat, sehingga menimbulkan adanya

Foreign direct invesment (Devaragan at.al. 1990).

Berdasarkan kondisi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kinerja industri

di Indonesia akan mengalami hal-hal berupa :

1) Industri yang mendapat perlindungan dari pemerintah melalui subsidi atau

tarif akan tertekan pada posisi yang tidak diuntungkan.

2) Industri yang padat modal dan tergolong industri berat yang selama ini

memiliki tingkat keunggulan komparatifnya rendah akan dihadapkan pada

tantangan produk-produk impor ataupun dari investasi asing langsung.

3) Industri yang monopoli akan dipaksa bersifat kompetitif.

4) Industri yang padat modal dan teknologi dihadapkan pada ketidak patuhan

konsumen dalam mengkonsumsi, karena cepatnya arus informasi berlebihan

yang hanya ditujukan untuk kelanggengan produk.

5) Sebaliknya industri yang intensif sumberdaya lokal, tampaknya berada dalam

(27)

Berdasarkan kondisi kinerja seperti tersebut di atas maka, kemajuan

peningkatan industri Indonesia hanya dapat diatasi melalui dua cara yaitu; (1)

efisiensi dalam proses produksi dan (2) memprioritaskan pada pengembangan

agroindusri yang berbasis pada sumberdaya lokal, terintegrasi dan bersinergi.

Apabila agroindustri dibangun berbasis sumberdaya lokal, maka dalam era

globalisasi prospeknya sangat cerah, sehingga dimungkinkan akan menjadi sistem

unggulan dengan alasan bahwa:

1) Kenyataan menunjukkan, di pasar Internasional hanya industri yang

berbasiskan sumberdaya lokal yang mempunyai keunggulan komparatif dan

mempunyai kontribusi terhadap ekspor terbesar, dengan demikian

pengembangan agroindustri di Indonesia akan menjamin perdagangan yang

lebih kompetitif.

2) Kegiatan agroindustri mempunyai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang

sangat besar (Backward dan forward linkages). Simatupang (1997) secara

ekstrim menggambarkan keterkaitan berspektrum luas bahwa agroindustri

sebetulnya tidak hanya dengan produk sebagai bahan baku, tapi juga dengan

konsumsi, investasi dan fiskal.

3) Besarnya keterkaitan ke depan dan ke belakang bagi kegiatan agroindustri,

sehingga apabila dihitung berdasarkan impact multiplier secara langsung dan

tidak langsung terhadap perekonomian diprediksi akan sangat besar. Hal

inilah yang menjadi pendekatan dalam memposisikan agroindustri berpeluang

besar menjadi sistem unggulan(Simatupang 1997).

4) Produk agroindustri umumnya mempunyai elastisitas yang tinggi, sehingga

makin tinggi pendapatan seseorang makin terbuka pasar bagi produk

agroindustri (Sutawi 2002).

5) Kegiatan agroindustri umumnya menggunakan input yang bersifat renewable,

sehingga pengembangan agroindustri tidak hanya memberikan nilai tambah,

tetapi juga dapat menghindari pengurangan sumberdaya sehingga lebih

menjamin sustainability.

6) Teknologi agroindustri sangat fleksibel, sehingga dapat dikembangkan dalam

padat modal dan padat karya, mulai dari manajemen sederhana sampai

(28)

padat berpeluang dilakukan pengembangan agroindustri dari berbagai segmen

usaha.

Sesuai dengan amanat pembangunan Nasional, bahwa landasan

pembangunan Nasional Indonesia adalah Trilogi (pertumbuhan, pemerataan dan

stabilitas) dengan penekanan pada pemerataan. Jika dikaitkan dengan

pembangunan sektor industri, maka definisi trilogi dapat dioperasionalkan

menjadi pertumbuhan dalam arti pertumbuhan produksi, pendapatan tenaga kerja,

dan jenis industri. Pemerataan dalam arti pemerataan mendapatkan kesempatan

berusaha, pendapatan, kesempatan kerja. Jenis industri meliputi stabilitasdalam

arti strategi yang menyangkut produk, pendapatan, kesempatan kerja, dan

kelestarian usaha.

Agroindustri adalah perusahaan (enterpris e) yang mengolah hasil

tanaman dan hewan. Pengolahan mencakup transformasi dan pengawetan produk

melalui perubahan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi

(Austin 1992). Pengembangan agroindustri berkelanjutan adalah pengembangan

agroindustri yang memperhatikan aspek manajemen dan konservasi sumber

daya alam dengan menggunakan teknologi dan kelembagaan yang sesuai

dengan daya dukung lingkungan, tidak menimbulkan degradasi atau kerusakan,

secara ekonomi menguntungkan dan secara sosial dapat diterima oleh masyarakat

(Soekartawi 2000).

Beberapa ciri utama agroindustri berkelanjutan yaitu (1) produktivitas dan

keuntungan dapat dipertahankan atau ditingkatkan dalam waktu yang relatif

lama, sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia pada masa sekarang dan

masa mendatang, (2) sumber daya alam khususnya sumber daya pertanian

terpelihara dengan baik karena salah satu aspek keberlanjutan agroindustri

adalah tersedianya bahan baku, (3) tingginya kepedulian terhadap lingkungan

yang dicirikan oleh rendahnya dampak lingkungan.

Pengembangan agroindustri biodiesel

Pardamean (2008) menyatakan, minyak kelapa sawit diperoleh dari

pengolahan buah kelapa sawit dengan kandungan asam lemak yang bervariasi

baik dalam panjang dan struktur rantai karbon. Panjang rantai karbon dalam

(29)

lemak dalam minyak kelapa sawit menurut Hui (1996) sangat menentukan

sifat fisik dan kimia minyak kelapa sawit. Pada Tabel 1. ditampilkan

komposisi asam lemak minyak kelapa sawit, sementara sifat fisik dan kimia

minyak kelapa sawit disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1 Komposisi asam lemak minyak kelapa sawit

ASAK LEMAK JUMLAH (%)

Asam Kaprilat -

Asam Kaproat -

Asam Miristat 0.9 – 1.5

Asam Palmitat 41.8 – 46.8

Asam Laurat 0.1 – 1.0

Asam Stearat 4.2 – 5.1

Asam Palmitoleat 0.1 – 0.3

Asam Oleat 37.3 – 40.8

Asam Linoleat 9.1 – 11.0

Sumber : Hui (1996)

Tabel 2 Sifat fisik kimia minyak kelapa sawit

SIFAT JUMLAH

Bilangan penyabunan (mg KOH/g oil) 190.1 – 201.7

Bilangan iod (wij) 50.6 – 55.1

Melting point (oC) 31.1 – 37.6

Indeks refraksi (50o) 1.45 – 1.45

Sumber : Hui (1996)

Minyak sawit mengandung sejumlah kecil komponen

non – trigliserida. Karotenoid, tokopherol, tokotrienol, sterol, phospatida,

triterpenic, dan alkohol alipatik merupakan beberapa komponen

non – trigliserida yang terkandung dalam minyak sawit dan selanjutnya disebut sebagai komponen minor. Jumlah komponen minor dalam minyak

sawit kurang lebih sekitar 1%.

Produksi minyak sawit Indonesia sejak tahun 2006 mengalami

perubahan menjadi lebih baik dari Malaysia seperti terlihat pada Tabel 3. Hal

ini mengindikasikan bahwa Indonesia sangat berpotensi menghasilkan minyak

sawit yang dapat menjadi berbagai macam komoditi selain bahan bakar biodiesel

minyak sawit, sehingga hal ini merupakan kesempatan emas bagi sentra-sentra

(30)

pengembangan biodiesel sebagai suatu alternatif yang segera dapat dengan cepat

diimplementasikan, dilihat dari berbagai pertimbangan diantaranya melimpahnya

bahan baku pembuatan biodiesel berbasis CPO, serta kemudahan teknologi

pembuatan biodiesel, dan tentunya aspek terpenting berupa independensi

Indonesia terhadap energi.

Tabel 3 Produksi minyak sawit Indonesia vs Malaysia

Produksi

(juta Ton) 2005 2006 2007

Estimasi

2008 2009

Indonesia 13.0 16.0 17.2 18.8 20.2

Malaysia 13.8 14.9 15.8 16.5 17.5

Sumber : Oil World (2007)

Hambali et al. (2007) menyatakan bahwa tiga komponen minor

pertama kelapa sawit memiliki peranan penting dalam mempertahankan

stabilitas minyak. Di dalam minyak sawit kasar (CPO), karoten, tokoperol,

dan tokotrienol merupakan agen antioksidan alami yang menjaga stabilitas

minyak terhadap kerusakan akibat oksidasi. Minyak kelapa sawit

mengandung sekitar 500 – 700 ppm karoten, 600 – 1 000 ppm tokotrietanol

dan tokoferol.

Karoten dalam minyak sawit pada umumnya hadir dalam bentuk ά dan

β – karoten. Kombinasi kandungan karoten, tokoperol, tokotrienol, dan 50%

asam lemak tidak jenuh menyebabkan minyak sawit memiliki stabilitas

oksidatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Disamping sebagai anatioksidan alami, karoten, tokoperol, dan tokotrienol

minyak kelapa sawit memiliki peranan penting bagi kesehatan manusia.

Kompon en ά dan β – karoten memiliki peranan penting sebagai sumber vitamin A sedangkan tokotrienol dan tokoperol memiliki peranan

penting sebagai sumber vitamin E. Selanjutnya dinyatakan bahwa kelapa

sawit merupakan sumber bahan baku penghasil minyak paling efisien

dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Secara garis

besar, buah kelapa sawit terdiri dari daging buah yang dapat diolah menjadi

(31)

menyatakan bahwa minyak CPO dan PKO memiliki perbedaan baik dalam

komposisi asam lemak yang terkandung seperti terlihat pada Tabel 4 maupun

sifat fisik kimia yang disajikan pada Tabel 5. Komponen asam lemak terbesar

penyusun PKO yaitu asam laurat. Karakteristik ini menjadikan PKO memiliki

karakteristik yang mirip dengan minyak kelapa.

Tabel 4 Komposisi asam lemak CPO, PKO, Fraksi CPO Olein, CPO Stearin dan PFAD

Tabel 5 Sifat fisik kimia CPO, PKO, RBD Olein, RBD Stearin dan PFAD

(32)

Secara umum proses pengelolaan minyak sawit dapat menghasilkan

73% olein, 21% stearin, 5% PFAD (Palm Fatty Acid Distillate) dan 0.5%

bahan lainnya. Pada umumnya PFAD digunakan industri sebagai bahan baku

sabun ataupun makanan ternak. PFAD memiliki kandungan FFA (free fatty

acid) sekitar 81.l7%, gliserol 14.4%, squalane 0.8%, Vitamin E 0.5%, sterol

0.4% dan lain-lain 2.2% (Sastrosayono 2003).

Oil word (2007) menyatakan bahwa saat ini pasokan bahan baku minyak sawit sudah cukup melimpah karena perkebunan kelapa sawit sudah

lama diusahakan dalam skala besar dan berkembang dengan baik.

Pengembangan tetap perlu dilakukan karena selama ini minyak sawit yang

merupakan edible oil yaitu sebagai bahan baku industri pangan seperti minyak

goreng dan non pangan seperti oleokimia, sehingga penggunaan minyak sawit

sebagai bahan baku biodiesel akan mengganggu ketersediaan minyak sawit

untuk pangan dan oleokimia masa yang akan datang. Ketika kebutuhan

biodiesel semakin meningkat, maka kebutuhan bahan baku akan semakin

meningkat.

Sesuai hukum permintaan dan penawaran ketika permintaan

meningkat sedangkan suplai bahan baku tetap, maka harga akan meningkat.

Produksi kelapa sawit (CPO dan PKO) dari tahun 2002 hingga tahun 2008

terus mengalami peningkatan (Direktorat Jenderal Perkebunan 2008) (Tabel 6

dan Tabel 7). Hambali et al. (2007) menyatakan bahwa produk dari tanaman

sawit baik dari daun, tangkai bunga, bunga, buah, batang maupun akarnya,

memiliki manfaat yang dapat digunakan untuk mendapatkan nilai tambah,

seperti terlihat pada pohon industri (Gambar 1)

Analisa pasar

Produk utama dari tanaman kelapa sawit adalah minyak kelapa sawit

(palm oil), minyak inti sawit (palm kernel oil) dan biomasa, namun sementara ini di Indonesia baru dua produk minyak yang banyak di eksploitasi sedangkan

produk biomassa seperti kompos, serabut (fiber) belum banyak di manfaatkan

(sedang dalam proses pengkajian) (Pardamean 2008). Selanjutnya dinyatakan

bahwa tahun 1991-2000, total konsumsi 17 minyak nabati utama adalah minyak

(33)

kelapa, minyak sawit, minyak inti sawit, minyak kacang tanah, minyak jagung,

minyak wijen, minyak zaitun, minyak ikan, minyak linseed, minyak castor, butter,

tallow dan lard bertambah dengan laju 3,01% per tahun dan mencapai 110 juta ton pada tahun 2000.

Tabel 6. Produksi CPO Indonesia menurut pengusahaan komoditas kelapa sawit Tahun 2002 – 2008

Tabel 7. Produksi PKO Indonesia menurut pengusahaan komoditas kelapa sawit

(34)

Produktivitas minyak sawit adalah sekitar 3.5 - 4 ton/ha/tahun

sedangkan untuk minyak kedelai adalah 0,4 ton/ha/tahun dan minyak lobak

0.57 ton/ha/tahun. Dengan demikian lahan yang diperlukan untuk memenuhi

peningkatan permintaan minyak dunia dengan pengembangan perkebunan

kelapa sawit akan lebih efektif dibandingkan dengan kedelai dan lobak

(Prihandana et al. 2006).

Minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit dapat dikembangkan

menjadi berbagai produk turunannya yang berupa produk pangan dan

oleochemical, untuk produk pangan yang pada umumnya sudah

dikembangkan di Indonesia adalah minyak goreng dan mentega sedangkan

untuk oleochemical berupa fatty acid, fatty alcohol, stearin dan glycerin

(Timnas BBN 2008). Perkembangan pasar minyak sawit untuk keperluan pangan

dan non pangan (oleochemical) ditentukan oleh faktor yang berbeda.

Perkembangan pasar untuk keperluan pangan sangat ditentukan oleh populasi

dan pendapatan sedangkan perkembangan pasar oleochemical sangat ditentukan

oleh perkembangan tuntutan dan kemauan masyarakat. Keadaan ini

menyebabkan permintaan minyak sawit untuk pasar olechemical datang dari

negara maju sedangkan untuk permintaan keperluan pangan datang dari

negara maju maupun negara sedang berkembang. Jumlah produksi negara

penghasil CPO di dunia pada tahun 2008 sebesar 43 ribu ton. Indonesia tercatat

sebagai produsen CPO nomor satu di dunia dengan produksi CPO mencapai 19

juta ton, mengalahkan produksi CPO Malaysia yang hanya sebesar 17.35 juta ton

(Tabel 8). Hasil persentase produksi CPO Indonesia menurut Direktorat Jenderal

Perkebunan (2008) mencapai 42.84% dari total produksi CPO dunia, kemudian

diikuti oleh Malaysia sebesar 42.67% sisanya negara-negara lainnya (Gambar 2).

Dengan demikian hampir 85.5% produksi CPO dunia dikuasai oleh Indonesia dan

(35)

KELAPA SAWIT

(36)

Tabel 8 Jumlah produksi negara produsen CPO dunia Tahun 2004-2008

Gambar 2 Presentase produksi negara produsen CPO dunia (Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan 2008)

Total volume ekspor negara produsen CPO dunia diperkirakan mencapai

33.27 juta ton. Pada Tabel 9 disajikan jumlah ekspor negara produsen CPO dunia

terhadap jumlah volume ekspor CPO dunia, Indonesia dan Malaysia merupakan

kontributor eksportir CPO terbanyak yaitu sebesar 42.0 % dan 49.4 % (Gambar3).

(37)

Indonesia; 42,00%

Malaysia; 49,40%

Colombia; 0,91%

PNG; 1,27%

Lainnya; 6,68%

Gambar 3 Persentase volume ekspor negara produsen CPO dunia (Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan 2008)

Pada tahun 2008 volume impor negera-negara konsumen CPO dunia

mencapai 33.17 juta ton. Konsumen terbesar CPO Indonesia adalah China

(17.77%), negara-negara Eropa (15.95%) dan India (13.34%). China mengimpor

tidak kurang dari 6.06 juta ton CPO, kemudian negara-negara Eropa mengimpor

sebanyak 5.16 juta ton dan India mengimpor sebanyak 4.90 juta ton. Oleh

negara-negara tersebut CPO digunakan selain untuk bahan pangan juga digunakan

sebagai bahan baku oleokimia. Volume impor negara konsumen CPO dunia dapat

dilihat pada Tabel 10. sedangkan persentase volume impornya dapat dilihat pada

Gambar 4.

Tabel 10 Volume impor negara konsumen CPO dunia tahun 2004-2008 (x 1000 ton)

Negara Tahun

2004 2005 2006 2007 2008

China 3 570 4 320 5 462 5 499 6 061

Negara Eropa 3 690 4 180 4 653 4 683 5 160

India 3 570 3 340 3 198 3 688 4 909

Pakistan 1 432 1 646 1 768 1 711 1 801

USA 273 415 629 788 960

Mesir 702 765 770 720 690

Bangladesh 644 960 887 709 843

Lainnya 9 469 10 444 10 213 11 680 13 293

Jumlah 23 350 26 070 27 580 29 478 33 717

(38)

China, 17.77%

Negara Eropa, 15.95%

India, 13.34% Pakistan,

5.96% USA, 2.19%

Mesir, 2.60% Bangladesh,

2.88%

Lainnya, 39.30%

Gambar 4 Persentase volume impor negara konsumen CPO dunia (Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan 2008)

Kebutuhan, pemenuhan dan peluang pasar Nasional

Sekitar 61.28 % dari produk CPO Indonesia di ekspor ke luar negeri,

sementara sisanya diserap untuk konsumsi di dalam negeri. Untuk penggunaan

lokal, industri minyak goreng merupakan penyerap CPO dominan, mencapai

31.0% dari total produksi, sedang sisanya dikonsumsi oleh industri oleokimia

(3.73%), sabun (2.05%) dan margarine atau shortening (1.95%). Pola pemakaian

CPO di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Pola konsumsi CPO di Indonesia (Sumber : Direktorat

Jenderal Perkebunan 2008)

Produksi minyak sawit (CPO) Indonesia tahun 2008 sebesar 17.1 juta ton,

dimana terjadi peningkatan rata-rata 12% per tahun dibandingkan tahun-tahun

Minyak Goreng 31,0%

Margarine 1,9%

Sabun 2,0%

Oleokimia 3,7%

(39)

sebelumnya. Peningkatan prouksi CPO diikuti dengan pengingkatan produksi

PKO. Pada tahun 2008 produksi minyak inti sawit (PKO) Indonesia sebesar 3.2

juta ton dengan peningkatan sebesar 10% per tahun Perkembangan produksi

minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia dapat dilihat pada Tabel 11, Tabel

12dan pada Gambar 6.

Tabel 11 Produksi CPO indonesia menurut pengusahaan komoditas kelapa

sawit tahun 2002 – 2008

Tahun

PRODUKSI CPO (Ton)

Perkebunan Rakyat

Perkebunan Besar Negara

Perkebunan

Besar Swasta Jumlah

2002 3 426 740 1 607 734 4 587 871 9 622 345

2003 3 517 324 1 750 651 5 172 859 10 440 834

2004 3 745 264 1 981 576 6 079 710 11 806 550

2005 3 873 677 2 049 849 6 528 455 12 451 981

2006) 5 783 088 2 313 729 9 254 031 17 350 848

2007 5 805 125 2 313 976 9 254 101 17 373 202

2008 5 805 207 2 314 209 8 990 185 17 109 601

Share 32.87% 15.03% 52.10% 100.00%

Growth 10.37% 6.40% 12.76% 10.83%

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan (2008)

Tiga propinsi yang mempunyai produksi CPO paling besar di Indonesia

berada di Pulau Sumatera, yaitu Propinsi Riau, Sumatera Utara dan Sumatera

Selatan. Produksi CPO di Propinsi Riau sebesar 4.7 juta ton (27.39%), kemudian

diikuti oleh Sumatera Utara 3,2 juta ton (18.71%), dan Sumatera Selatan 1.6 juta

ton (9.45%). Maryadi et.al (2004) menyatakan bahwa harga kelapa sawit sangat

tergantung kepada harga minyak fosil. Jika, harga minyak fosil naik, maka harga

kelapa sawit juga akan mahal. Selanjutnya dinyatakan bahwa dengan harga crude

palm oil (CPO) di pasar lokal sebesar Rp. 4 500 per kg dan harga tandan buah

segar (TBS) yang hanya Rp 500-600 per kg, biodiesel bisa dijual dengan harga

Rp 6 500 per kg, karena biaya produksinya sekitar Rp 700 - Rp.1 000,- per liter.

Harga ini jauh lebih murah dari harga BBM industri yang saat ini rata-rata diatas

(40)

Tabel 12 Produksi pko indonesia menurut pengusahaan komoditas kelapa

1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Gambar 6 Grafik perkembangan produksi minyak sawit Indonesia 1998-2008

(Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan 2008)

Untuk peningkatan produksi dan mutu CPO, perlu dilakukan

usaha-usaha perbaikan melalui aspek budidaya dan produksi, aspek pengolahan, aspek

tataniaga atau pemasaran, serta aspek kelembagaan yang ditunjang dengan

pengadaan permodalan dan lembaga keuangan dengan dukungan peran dari

(41)

sehingga diperoleh keseragaman mutu. Dari aspek penanganan dan pengolahan

minyak CPO sampai menjadi biodiesel, diperlukan penanganan khusus. Adapun

proses pembuatan biodiesel berbasis kelapa sawit ditunjukkan melalui diagram

alir seperti pada Gambar 7.

CPO (Crude Palm Oil)

PEMURNIAN

METANOL

PENCAMPURAN

TRANSESTERIFIKASI K O H

SEPARASI

CRUDE BIODIESEL

PURIFIKASI

RIFINED GLISEROL

PURIFIKASI

Recovery Metanol

Recovery Metanol

PFAD

RBDPL

FRAKSINASI

OLEIN STEARIN

PEMANASAN

GLISEROL

PURIFIKASIBIOD IESEL SLUDGE

(42)

Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pengembangan

risiko agroindustri telah dilakukan diantaranya seperti terlihat pada Tabel 13:

Tabel 13. Berbagai Penelitian Terdahulu Berkaitan Dengan Risiko Agroindustri

No Nama Judul Penelitian Metodologi Hasil Penelitian

(43)

Penelitian yang berkaitan langsung dengan pengembangan agroindustri

kelapa sawit khususnya tentang manajemen risiko agroindustri biodiesel, secara

holistik di Indonesia hingga saat ini belum pernah dilakukan. Untuk itu, merujuk

penelitian-penelitian tentang manajemen risiko agroindustri tersebut di atas,

belum cukup untuk merepresentasikan model yang akan dikembangkan dalam

penelitian ini secara langsung. Penelitian ini lebih menekankan pada kajian

sistem penunjang keputusan menajemen risiko agroindustri biodiesel berbasis

kelapa sawit. Untuk itu maka penelitian tentang manajemen risiko agroindustri

biodiesel berbasis kelapa sawit ini perlu dilakukan dengan harapan dapat

membantu pengguna dalam mengambil keputusan yang bersifat dinamis,

sibernetik dan efektif, serta memberi masukan bagi pengembangan agroindustri

biodiesel di Indonesia.

Manajemen Risiko

Manajemen risiko menurut Herman (2004) merupakan suatu usaha

untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap

kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi

yang lebih tinggi. Sementara Djojosoedarso (1999) memberi pengertian tentang

manajemen risiko yaitu pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam

penanggulangan risiko, terutama risiko yang dihadapi oleh organisasi/

perusahaan, keluarga dan masyarakat, jadi mencakup kegiatan merencanakan,

mengorganisir, menyusun, memimpin/mengkoordinasi dan mengawasi

(termasuk mengevaluasi) program penanggulangan risiko.

Dalam pengembangan agroindustri terdapat sejumlah risiko dalam

setiap rantai produksi mulai dari penyediaan bahan baku, proses pengolahan dan

pemasaran. Selain itu, juga perlu diperhatikan risiko finansial dan aspek sosial

kelembagaan. Untuk keberhasilan pengembangan agroindustri diperlukan suatu

manajemen risiko yang dapat meminimasi risiko sehingga agroindustri dapat

dikembangkan. Dalam lingkungan pengambilan keputusan yang terkait dengan

risiko, terdapat empat keadaan dasar yaitu kepastian, risiko, ketidakpastian dan

konflik. Teori keputusan sangat berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam

(44)

informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan diketahui dan tersedia.

Keadaan risiko terjadi jika informasi akurat dan lengkap tidak tersedia,

sedangkan probabilitas hasil (outcomes) tertentu yang akan terjadi dapat

diperkirakan (Mulyono 1991). Risiko menggambarkan informasi yang

mengidentifikasikan bahwa setiap rangkaian keputusan mempunyai sejumlah

kemungkinan. Risiko adalah suatu karakteristik dari situasi atau kegiatan yang

didalamnya terdapat dua atau lebih keluaran yang mungkin, sebagian keluaran

yang akan terjadi tidak diketahui dan setidaknya satu dari kemungkinan keluaran

tersebut tidak dikehendaki (Covello & Merkhofer 1993). Risiko mempunyai dua

komponen utama yaitu (1) kemungkinan terjadinya suatu risiko (2) tingkat

kekerasan. Risiko dapat juga didefinisikan sebagai fungsi dari kemungkinan dan

tingkat kekerasan risiko, yang dapat diformulasikan yaitu risiko =

f (kemungkinan kejadian, tingkat kekerasan). Risiko sebagai fungsi dan

komponennya disajikan pada Gambar 8.

Risiko dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis. Berdasarkan

kemungkinan terjadinya, risiko dibedakan menjadi risiko murni dan risiko

spekulatif. Risiko murni adalah risiko yang hanya terdapat kemungkinan

terjadinya kerugian atau tidak terjadinya kerugian. Risiko spekulatif adalah risiko

yang memungkinkan mendapatkan profit atau mengalami kerugian.

Risiko Tinggi

Risiko Sedang

Risiko Rendah

Tingkat Kekerasan

Kemungkinan Kejadian

Gambar 8 Risiko sebagai fungsi kemungkinan kejadian dan

(45)

Covello dan Merkhofer (1993) menyatakan, analisis risiko meliputi

identifikasi risiko, penilaian risiko dan evaluasi risiko. Identifikasi risiko adalah

proses untuk mengetahui penyebab risiko, kondisi dan kejadian yang secara

potensial menghasilkan dampak merugikan. Penilaian risiko adalah proses yang

sistematis untuk mendeskripsikan dan mengkuantifikasi risiko. Evaluasi risiko

yaitu membandingkan dan menentukan tingkat risiko. Tujuan dari analisis risiko

adalah memberikan informasi penting yang dibutuhkan dalam penangan

risiko, terdiri dari (1) pengumpulan alternatif yaitu mengidentifikasi alternatif

strategi dalam proses manajemen risiko, (2) evaluasi alternatif yaitu menilai

dan membandingkan alternatif yang tersedia, (3) seleksi alternatif adalah

memilih satu atau beberapa alternatif untuk diimplementasikan, dan (4)

implementasi yaitu pelaksanaan dan monitoring alternatif terpilih (Gambar 9).

Estimasi peluang atau kemungkinan terjadinya risiko dapat dilakukan

dengan salah satu atau kombinasi dari empat metode dasar yaitu (1) logika, (2)

frekuensi, (3) model statistika, dan (4) penilaian (judgment). Pemilihan dan

penerapan metode-metode tersebut tergantung jenis persoalan yang akan

diselesaikan.

ANALISIS

Iifikasi Risiko Penilaian Risiko Evaluasi Risiko

MANAJEMEN RISIKO

Pengumpulan alternatif solusi

Evaluasi alternatif

Seleksi alternatif

Implementasi & monitoring

Informasi lain (teknik, politik, ekonomi, dan sebagainya

(46)

Beberapa peneliti telah melakukan studi manajemen risiko untuk

berbagai kasus. Metode penilaian risiko probabilistik (probabilistic risk

assessment=PRA) dilakukan untuk mendeskripsikan kerusakan potensial dari sistem yang kompleks dan tidak terstruktur. Penerapan metode PRA yang

diintegrasikan dengan evaluasi biaya bermanfaat untuk mengetahui efektivitas

risiko biaya beberapa alternatif teknologi pengelolaan limbah dalam

pengusahaan ternak perah (Johnson et al. 1998). Penilaian risiko yang

diintegrasikan dengan analisis ekonomi juga digunakan untuk mengelola risiko

mikroorganisme patogen dalam makanan bagi kesehatan manusia (Morales & McDowel 1998).

Penerapan analisis risiko probabilistik yang diintegrasikan dengan

analisis ekonomi dan aplikasi teknik simulasi pada beberapa kasus analisis risiko

menunjukkan metode tersebut cukup efektif memberikan informasi risiko

ditimbulkan. Informasi tersebut berguna dalam manajemen risiko perusahaan.

Metode fuzzy risk analysis (FRA) dengan perangkat analisis risiko yang

dapat membantu dalam dua problem utama yaitu kompleksitas dan

ketidak-presisian yang melekat (inherent imprecision). Aplikasi dalam penelitian awal

menunjukkan terjadi peningkatan keakuratan hasil analisis risiko sebesar 20 %

pada studi kasus risiko lingkungan. Sistem fuzzy dan aplikasinya mengalami

perkembangan yang pesat, dari yang bersifat numerik, ke semi numerik dan

non-numerik. Aplikasi teknik fuzzy non-numerik telah diaplikasikan pada

pengambilan keputusan seperti penentuan jenis media periklanan (Marimin et

al. 1997) dan penentuan produk olahan apel unggulan (Santoso & Marimin

2001). Teknik fuzzy non-numerik untuk analisis risiko masih sangat terbatas

yang telah dipublikasikan.

Risiko bahan baku merupakan salah satu aspek yang sangat penting

dalam kajian risiko agroindustri, karena selain kelangsungan produksi tergantung

pada ketersediaan bahan baku, juga karena ketersediaan tersebut tergantung pada

sektor pertanian yang diliputi oleh adanya risiko dan ketidak pastian usaha.

Johnson et al. (1998) menyatakan bahwa potensi risiko dari produksi hasil

Gambar

Tabel 5  Sifat fisik kimia CPO, PKO, RBD Olein, RBD Stearin dan PFAD
Tabel 6.   Produksi CPO Indonesia menurut pengusahaan komoditas kelapa sawit  Tahun 2002 – 2008
Gambar 1  Pohon industri kelapa sawit (Sumber : Hambali at al. 2000)
Tabel 9.  Volume ekspor negara produsen CPO dunia Tahun 2004-2008                 (x 1000 ton)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Jaringan Syaraf Tiruan untuk Pengenalan Jenis Kayu Berbasis Citra, adalah karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) menganalisis pengaruh pertumbuhan perkebunan dan agroindustri kelapa sawit terhadap perekonomian wilayah Provinsi Lampung ditinjau dari

Beberapa faktor kritis dalam pengembangan bisnis agroindustri biopellet pelepah sawit adalah bahan baku atau perkebunan kelapa sawit, keseimbangan energi yang dihasilkan dengan

PERANCANGAN PABRIK PEMBUATAN BIODIESEL DARI LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT.. KAPASITAS

Model yang dikembangkan terdiri dari 14 blok persamaan sebagai berikut : (1) Blok minyak kelapa sawit terdiri dari persamaan produksi minyak kelapa sawit, konsumsi minyak

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengembangan biodiesel dengan bahan baku minyal kelapa sawit dan katalis heterogen berupa CaO yang didapatkan dari

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul ”Perancangan Model Pengukuran Kinerja pada Sistem Klaster Agroindustri Hasil Laut” adalah karya saya sendiri dengan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan oleh Ailirio et al., 2008 winterization dilakukan selama 24 jam dengan temperatur 14 °C menggunakan sampel biodiesel kelapa sawit, fraksi cair