• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Perilaku Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Perilaku Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PERILAKU KERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN TAHUN 2010

T E S I S

Oleh:

DEPI MASRI 087013006/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PERILAKU KERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. PIRNGADI

KOTA MEDAN TAHUN 2010

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Administrasi Rumah Sakit pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

DEPI MASRI

087013006/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Judul Tesis : PENGARUH LINGKUNGAN KERJA

TERHADAP PERILAKU KERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. PIRNGADI

KOTA MEDAN TAHUN 2010 Nama Mahasiswa : Depi Masri

Nomor Induk Mahasiswa : 087013006

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Administrasi Rumah Sakit

Menyetujui Komisi Pembimbing :

(Dr. Khaira Amalia F, S.E, Ak.M.B.A, M.A.P.P.I (Cert) ) Ketua

(Masnely Lubis, S.Kp, M.A.R.S) Anggota

Ketua Program Studi Dekan

(Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si) (Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

(4)

Telah diuji

Pada tanggal : 17 Februari 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Khaira Amalia F, S.E, Ak.M.B.A, M.A.P.P.I (Cert) Anggota : 1. Masnely Lubis, S.Kep, M.A.R.S

(5)

PERNYATAAN

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PERILAKU KERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. PIRNGADI

KOTA MEDAN TAHUN 2010

T E S I S

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah di ajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Medan, Maret 2011

(6)

ABSTRAK

Pelayanan keperawatan di ruang rawat inap tidak terlepas dari perilaku kerja perawat dalam memberikan pelayanan. Tingkat kemangkiran perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan mengalami peningkatan, tahun (2008) 9 % perawat mangkir pada jam dinas menjadi 12% pada tahun (2009), keterlambatan perawat 11-18% pada tahun (2008) menjadi 15-20% pada tahun (2009) dari jumlah perawat yang bertugas di ruang rawat inap.

Jenis penelitian ini merupakan explanatory survey yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan kerja (kepemimpinan dan manajemen, kendali terhadap beban kerja, kendali terhadap praktik, sumber yang memadai) terhadap perilaku kerja perawat (kemangkiran, keterlambatan dan cepat pulang) di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang sudah PNS di ruang rawat inap yang berjumlah 277 orang perawat. Sampel penelitian berjumlah 164 orang perawat yang diambil dengan simple random sampling. Data diperoleh melalui pengisian kuesioner, dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier berganda pada α = 5%.

Hasil penelitian menunjukkan lingkungan kerja yang meliputi kepemimpinan dan manajemen, kendali terhadap beban kerja, kendali terhadap praktik, sumber yang memadai berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kerja perawat yang meliputi kemangkiran, keterlambatan dan cepat pulang.

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan perlu menurunkan tingkat kemangkiran perawat, keterlambatan dan cepat pulang dengan sering dan terus menerus melakukan supervisi dan audit daftar kehadiran perawat di ruangan.

(7)

ABSTRACT

Nursing service in the in-patient wards cannot be separated from the work behavior of nurses in providing service. The absence of the nurses during working hours increased from 9% in 2008 to 12% in 2009 and the lateness of nurses increased from 11-18% in 2008 to 15-20% in 2009 of the total number of nurses working in the in-patient wards of Dr. Pirngadi General Hospital in the city of Medan.

The purpose of this explanatory survey study was to analyze the influence of work environment (leadership and management, control over their workload, control over their practice, and adequate resources) on the nurses’ work behavior (absence, lateness and quick return) in the in-patient wards of Dr. Pirngadi General Hospital in the city of Medan. The populations of this study were 277 nurses and 164 of them were selected to be the samples for this study through simple random sampling technique. The data for this study were obtained through distributing questionnaires to the nurses. The data obtained were analyzed through multiple linear regression tests at α = 5%.

The result of this study showed that work environment including leadership and management, control over their workload, control over their practice, and adequate resources significantly influenced on the nurses’ work behavior which includes absence, lateness and quick return.

The management of Dr. Pirngadi General Hospital in the city of Medan is suggested to minimize the level of nurses’ absence, lateness and quick return through a continuous supervision and auditing the attendance list of the nurses in the in-patient wards.

(8)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirahim

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan

taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini yang

merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan

pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi

Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara (USU) Medan. Berikut selawat serta salam kita junjungkan kepangkuan Nabi

Besar Muhammad SAW, keluarga, sahabat serta pengikutnya.

Tesis ini berjudul: “Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Perilaku Kerja

Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan”. Sesungguhnya

tesis ini tidak akan terwujud tanpa izin dari Allah SWT, serta bantuan dari semua

pihak yang telah membantu penulis dalam mengatasi segala kendala dalam

menyelesaikan tesis ini. Oleh karena pada kesempatan ini penulis sampaikan

penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulusnya kepada yang mulia Ayahanda

dan Ibunda serta Istri tercinta dan seluruh keluarga atas segala bantuan moril dan

material yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.

Selanjutnya ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM & H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor

(9)

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara Medan.

3. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.

4. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu

Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara Medan.

5. Dr. Khaira Amalia F, S.E, Ak.M.B.A, M.A.P.P.I (Cert), selaku pembimbing satu

dan Masnely Lubis, S.Kep, M.A.R.S, selaku pembimbing dua yang telah banyak

meluangkan waktu dan kesempatan dalam membimbing dan memberikan

masukan demi kesempurnaan tesis ini.

6. Dr. Drs. Muslich Lufti, M.B.A, I.D.S, dan dr. Fauzi, S.K.M, selaku penguji satu

dan penguji dua yang telah banyak memberikan saran dan masukan demi

kesempurnaan tesisi ini.

7. dr. Dewi Fauziah Syahnan, Sp. THT, selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah

Dr. Pirngadi Kota Medan.

8. Seluruh staf pengajar pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

9. Kedua orang tua penulis, yaitu Ayahanda tercinta H. Masri dan ibunda Hj. Murni,

(10)

10.Istri tercinta Vivi Misdia, atas motivasi, kesabaran juga doanya selama penulis

menjalani pendidikan.

11.Seluruh rekan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi

Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara Medan yang telah memberikan dorongan dalam menyelesaikan tesis ini.

12.Seluruh staf akademik/administrasi Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan yang telah

membantu penulis dalam hal surat menyurat.

Atas segala bantuan dan bimbingan yang telah diberikan, maka penulis

memohon kehadiarat Allah SWT semoga mendapat balasan yang setimpal.

Akhirnya penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangannya,

karena penulis yakin tidak ada satupun karya dari tangan manusia yang lahir dalam

keadaan sempurna, maka segala kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari

berbagai pihak sangat penulis harapkan.

Amin ya rabbal ‘alamin

Medan, Maret 2011 P e n u l i s,

DEPI MASRI

(11)

RIWAYAT HIDUP

Depi Masri, lahir pada tanggal 25 Maret 1981 di Medan, berjenis kelamin

Laki – laki, beragama Islam, anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan

Ayahanda H. Masri dan ibunda Hj. Murni, bertempat tinggal di Medan Provinsi

Sumatera Utara.

Pendidkan formal penulis, dimulai dari pendidikan dasar di Sekolah Dasar

Kartini selesai tahun 1993, Sekolah Menengah Pertama di AR-Raudhatul Hasanah

Medan selesai tahun 1996, Sekolah Menengah Atas di Al-Azhar Medan selesai tahun

1999, Sarjana Kedokteran di Universitas Islam Sumatera Utara Medan tahun 2007.

Mulai bekerja sebagai dokter jaga sejak tahun 2007 di Klinik Madani Medan

sampai sekarang.

Tahun 2008 penulis mengikuti pendidikan lanjutan pada Program Studi S2

Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

(12)

DAFTAR ISI

2.2. Konsep Perilaku... 27

2.2.1. Perilaku manusia... 27

2.2.2. Standar Perilaku... 30

2.2.3. Perilaku Kerja ... 31

2.2.4. Pengukuran Perilaku Kerja ... 33

2.3. Landasan Teori ... 34

2.4. Kerangka Konsep Penelitian ... 36

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 38

3.1. Jenis Penelitian ... 38

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... 38

3.3. Populasi dan Sampel... 38

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 40

(13)

3.5.1. Identifikasi Variabel ... 44

3.5.2. Definisi Operasional Penelitian ... 44

3.6. Metode Pengukuran... 45

3.7. Metode Analisis Data ... 47

4.2. Karakteristik Responden ... 52

4.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 52

4.2.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 53

4.2.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ... 53

4.2.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Kerja ... 54

4.3. Analisi Univariat ... 54

4.4. Pengujian Asumsi Klasik ... 67

4.4.1. Uji Normalitas ... 67

4.4.2. Uji Multikolineritas ... 69

4.4.3. Uji Heteroskedastisitas ... 70

4.5. Analisis Bivariat ... 70

4.5.1. Hubungan Antara Kepemimpinan dan Manajemen dengan Perilaku Kerja Perawat ... 71

4.5.2. Hubungan Antara Kendali terhadap Beban Kerja dengan Perilaku Kerja Perawat... 71

4.5.3. Hubungan Antara Kendali terhadap Praktik keperawatan dengan Perilaku Kerja Perawat ... 72

4.5.4. Hubungan Antara Sumber yang Memadai dengan Perilaku Kerja Perawat ... 73

4.6. Analisis Multivariat ... 74

4.6.1. Pengujian Secara Serempak ... 74

(14)

BAB 5. PEMBAHASAN ... 78

5.1. Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Perilaku Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap ... 78

5.2. Pengaruh Kepemimpinan dan Manajemen terhadap Perilaku Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap ... 78

5.3. Pengaruh Kendali Beban Kerja terhadap Perilaku Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap... 80

5.4. Pengaruh Kendali Praktik Keperawatan terhadap Perilaku Kerja Perawatdi Ruang Rawat Inap ... 81

5.5. Pengaruh Sumber/fasilitas yang Memadai terhadap Perilaku Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap... 83

5.6. Keterbatasan Penelitian ... 84

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 85

6.1. Kesimpulan ... 85

6.2. Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 87

(15)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

3.1. Jumlah Perawat PNS di Ruang Rawat Inap ... 38

3.2. Definisi Operasional Variabel dan Indikator ... 44

4.1. Distribusi Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan Tahun 2010... 52

4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 52

4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis kelamin ... 53

4.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ... 53

4.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja ... 54

4.6. Distribusi Pendapat Responden tentang Kepemimpinan dan Manajemen ... 55

4.7. Kategori Kepemimpinan dan Manajemen ... 57

4.8. Distribusi Pendapat Responden tentang Kendali terhadap Beban Kerja ... 58

4.9. Kategori Kendali terhadap Beban Kerja... 59

4.10. Distribusi Pendapat Responden tentang Kendali terhadap Praktik Keperawatan ... 60

4.11. Kategori Kendali terhadap Praktik Keperawatan ... 61

4.12. Distribusi Pendapat Responden tentang Sumber yang Memadai... 62

4.13. Kategori Sumber yang Memadai... 64

4.14. Distribusi Pendapat Responden tentang Perilaku Kerja Perawat ... 66

(16)

4.16. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test... 69

4.17. Hasil Uji Multikolineritas ... 69

4.18. Hubungan antara Kepemimpinan dan Manejemen dengan Perilaku Kerja perawat ... 71

4.19. Hubungan antara Kendali terhadap Beban Kerja dengan Perilaku Kerja Perawat ... 72

4.20. Hubungan Antara Kendali terhadap Praktik dengan Perilaku Kerja Perawat ... 73

4.21. Hubungan Antara Sumber yang Memadai dengan Perilaku Kerja Perawat ... 74

4.22. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Serempak ... 75

4.23. Nilai Koefisien Determinan ... 75

(17)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 37

4.1. Grafik Normalitas Data ... 68

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 91

2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas... 95

3. Distribusi Frekuensi (Analisis Univariat) ... 102

4. Hasil Uji Chi-Square (Analisis Bivariat) ... 112

(19)

ABSTRAK

Pelayanan keperawatan di ruang rawat inap tidak terlepas dari perilaku kerja perawat dalam memberikan pelayanan. Tingkat kemangkiran perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan mengalami peningkatan, tahun (2008) 9 % perawat mangkir pada jam dinas menjadi 12% pada tahun (2009), keterlambatan perawat 11-18% pada tahun (2008) menjadi 15-20% pada tahun (2009) dari jumlah perawat yang bertugas di ruang rawat inap.

Jenis penelitian ini merupakan explanatory survey yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan kerja (kepemimpinan dan manajemen, kendali terhadap beban kerja, kendali terhadap praktik, sumber yang memadai) terhadap perilaku kerja perawat (kemangkiran, keterlambatan dan cepat pulang) di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang sudah PNS di ruang rawat inap yang berjumlah 277 orang perawat. Sampel penelitian berjumlah 164 orang perawat yang diambil dengan simple random sampling. Data diperoleh melalui pengisian kuesioner, dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier berganda pada α = 5%.

Hasil penelitian menunjukkan lingkungan kerja yang meliputi kepemimpinan dan manajemen, kendali terhadap beban kerja, kendali terhadap praktik, sumber yang memadai berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kerja perawat yang meliputi kemangkiran, keterlambatan dan cepat pulang.

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan perlu menurunkan tingkat kemangkiran perawat, keterlambatan dan cepat pulang dengan sering dan terus menerus melakukan supervisi dan audit daftar kehadiran perawat di ruangan.

(20)

ABSTRACT

Nursing service in the in-patient wards cannot be separated from the work behavior of nurses in providing service. The absence of the nurses during working hours increased from 9% in 2008 to 12% in 2009 and the lateness of nurses increased from 11-18% in 2008 to 15-20% in 2009 of the total number of nurses working in the in-patient wards of Dr. Pirngadi General Hospital in the city of Medan.

The purpose of this explanatory survey study was to analyze the influence of work environment (leadership and management, control over their workload, control over their practice, and adequate resources) on the nurses’ work behavior (absence, lateness and quick return) in the in-patient wards of Dr. Pirngadi General Hospital in the city of Medan. The populations of this study were 277 nurses and 164 of them were selected to be the samples for this study through simple random sampling technique. The data for this study were obtained through distributing questionnaires to the nurses. The data obtained were analyzed through multiple linear regression tests at α = 5%.

The result of this study showed that work environment including leadership and management, control over their workload, control over their practice, and adequate resources significantly influenced on the nurses’ work behavior which includes absence, lateness and quick return.

The management of Dr. Pirngadi General Hospital in the city of Medan is suggested to minimize the level of nurses’ absence, lateness and quick return through a continuous supervision and auditing the attendance list of the nurses in the in-patient wards.

(21)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat

dengan karakteristik tersendiri dan dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan

kesehatan, kemajuan teknologi dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus

tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh

masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Undang-Undang

RI no. 44 tahun 2009).

Berdasarkan Undang-Undang RI No : 44 tahun 2009, tentang rumah sakit

tugas pokok rumah sakit adalah: memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara

paripurna dengan fungsi a) penyelengaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan

kesehatan, b) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan, c)

penyelengaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia, d) penyelengaraan

penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan.

Indikator keberhasilan Rumah Sakit yang efektif dan efesien adalah

tersedianya sumber daya manusia yang cukup dengan kualitas yang tinggi,

profesional, sesuai dengan fungsi dan tugas setiap personil (Depkes, 2001).

Laporan hasil pengkajian pengembangan ketenagaan perawat menyebutkan

bahwa yang menjadi isu prioritas utama perawat tentang kondisi kerja antara lain

(22)

pendidikan dan pelatihan, sistem penghargaan termasuk kesejahteraan, menghargai

atau menghormati antar profesi, serta ada sarana dan prasarana yang mendukung

terselenggaranya pelayanan (Depkes, 2002). Pengelolaan kondisi kerja di atas secara

adekuat dapat menunjang telaksananya praktik keperawatan profesional yang

berkualitas Hal ini sependapat dengan Registered Nurses Association of British

Colombia (2005), yang mengemukakan untuk mendapatkan asuhan keperawatan

yang berkualitas diperlukan suatu lingkungan praktik keperawatan yang berkualitas

pula.

Lingkungan praktik keperawatan yang tinggi sangat bermanfaat bagi perawat

dan dapat meningkatkan kualitas perawatan klien (Mc Cusker, 2004). Komponen dari

lingkungan kerja perawat ini antara lain meliputi komponen kepemimpinan kendali

terhadap praktik, kendali terhadap beban kerja, dan sumber-sumber yang adekuat

bagi terlaksananya pelayanan keperawatan yang berkualitas (Lowe, 2002).

Komponen lingkungan kerja perawat ini yang akan digali lebih luas didalam

penelitian ini.

Fenomena yang terjadi terkait dengan pelaksanaan praktik keperawatan di

banyak negara masih sering ditemukan perawat menghabiskan waktunya untuk

melakukan pekerjaan diluar keperawatan yang bukan menjadi tanggung jawabnya

dan tentunya kondisi ini akan berdampak pada tidak tersedianya waktu yang cukup

untuk melakukan praktik keperawatan secara berkesinambungan dan komprehensif

bagi klien maupun keluarganaya (Aiken, 2001). Sedangkan Freeman-cook 2004,

(23)

besar perawat merasa tidak memiliki kemampuan berfikir untuk merubah apa yang

tidak mereka sukai dalam lingkungan kerjanya Kondisi ini menunjukkan bahwa

pelaksanaan praktik keperawatan masih belum dilaksanakan secara profesional.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Kamil (2002), di salah satu rumah sakit

di Banda Aceh, menemukan bahwa penerapan proses keperawatan di ruang rawat

inap dilakukan kurang baik sebesar 57,5%. Begitupun dengan penelitian oleh Netty

(2002), di salah satu rumah sakit di Jakarta juga menemukan bahwa penerapan proses

keperawatan yang dilakukan oleh perawat pelaksana sebesar 41,6% adalah tidak baik.

Penelitian tersebut belum menggali secara terperinci tentang kondisi yang dirasakan

perawat, kemungkinan penyebab penerapan proses keperawatan masih kurang baik

karena masalah lingkungan kerja perawat yang belum diselesaikan dengan baik

sehingga menurunkan kualitas dari hasil kerjanya (Brooks dan Anderson, 2004).

Kualitas pelayanan keperawatan adalah hasil yang ditampilkan oleh perawat

melalui perilaku kerjanya, perilaku kerja adalah perilaku yang berkaitan dengan

tugas-tugas pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mencapai sasaran suatu jabatan

atau tugas (Ilyas, 2001). Oliver dan Anderson dalam Ilyas (2001), menyatakan bahwa

perilaku kerja dapat berupa perilaku kerja positif dan perilaku negatif. Perilaku kerja

positif adalah perilaku kerja yang sesuai dengan tujuan atau norma organisasi, yang

dapat diukur dari produktivitasnya. Perilaku kerja negatif adalah perilaku yang

menyimpang dari tujuan atau norma organisasi.

Pada umumnya perilaku dapat diramalkan jika kita tahu bagaimana seseorang

(24)

Berdasarkan pendapat di atas, perilaku menyimpang akan dapat diramalkan

kecenderungannya jika kita mendapatkan informasi tentang situasi atau persepsi yang

melatarbelakangi perilaku itu muncul.

Menurut Sters dan Porter dalam Vecchio (1995), menggambarkan hubungan

antara sikap, motivasi dan perilaku dapat disimpulkan bahwa yang melatarbelakangi

perilaku diantaranya adalah persepsi. Menurut Gibson (1996), perilaku kerja

dipengaruhi oleh beberapa variabel, diantaranya adalah variabel individu dan variabel

psikologis yang terdiri dari sub variabel persepsi, sikap, motivasi, belajar dan

kepribadian Lebih spesifik lagi, Vecchio (1995), menyatakan bahwa perilaku

menyimpang/menarik diri dipengaruhi oleh persepsi seseorang yang berhubungan

dengan pekerjaannya yang didefinisikan sebagai kepuasan kerja.

Melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada institusi pelayanan kesehatan,

maka Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan turut bertanggung jawab

terhadap kualitas pelayanan yang diberikan pada pasien. Perilaku kerja harus menjadi

perhatian, sebab perilaku kerja yang profesional akan meningkatkan kualitas

pelayanan. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak ditemukan perilaku kerja

menyimpang seperti : mangkir dan terlambat datang di tempat kerja yang dilakukan

oleh perawat.

Berdasarkan penelusuran kepustakaan, perilaku kerja seperti : ketidakhadiran /

kemangkiran dan keterlambatan adalah termasuk dalam withdrawal behaviors

(perilaku kerja menarik diri) Selain kemangkiran dan keterlambatan, perilaku

(25)

(seperti : Pemogokkan dan mengajukan tuntutan), dan perilaku bermusuhan (Vecchio,

1995). Hasil pengamatan untuk mendapatkan data awal tentang perilaku kerja :

mangkir dan terlambat datang Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan

ditemukan bahwa masih sering perawat meninggalkan tempat kerja pada saat jam

kerja (berdasarkan instruksi direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota

Medan jam kerja tenaga perawat adalah : dinas pagi pukul : 08.00 – 14.30 WIB, dinas

sore pukul : 14.30 – 21.00 WIB, dinas malam pukul : 21.00 – 08.00 WIB).

Berdasarkan wawancara dengan seksi keperawatan, pada tahun 2008

ditemukan 9 % perawat yang berstatus PNS sering mangkir dan 12 % pada tahun

2009. Rata-rata ketidakhadiran pada tahun 2008 mencapai 2-5 hari, dan pada tahun

2009 meningkat menjadi 4-9 hari, keterlambatan perawat 11-18% tahun (2008)

menjadi 15-20% pada tahun (2009) dari jumlah perawat yang bertugas (Keperawatan

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan 2010).

Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa telah berlangsung perilaku

mangkir dan terlambat datang ditempat kerja yang dilakukan sebagian perawat PNS.

Walaupun beberapa upaya telah dilakukan, seperti diterbitkannya instruksi direktur

tentang wajib apel pagi dan siang, wajib mengisi absensi bagi pegawai yang bertugas,

tetapi hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Keadaan ini perlu dicermati dan

ditemukan faktor-faktor yang memengaruhinya, sebab kemangkiran dan

keterlambatan cukup besar dampaknya terhadap kualitas pelayanan keperawatan.

Kerugian akan dialami oleh masyarakat yang memanfaatkan jasa pelayanan

(26)

Hal inilah yang melatar belakangi perlunya dilakukan penelitian mengenai

Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Perilaku Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum

Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan.

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah sebagai berikut : apakah

terdapat Pengaruh Lingkungan Kerja (kepemimpinan dan manajemen, kendali

terhadap beban kerja, kendali terhadap praktik, sumber yang memadai) terhadap

Perilaku Kerja Perawat (kemangkiran, keterlambatan, cepat pulang) di Rumah Sakit

Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan.

1.3. Tujuan Penelitian

Untuk menganalisis pengaruh lingkungan kerja (kepemimpinan dan

manajemen, kendali terhadap beban kerja, kendali terhadap praktik, sumber yang

memadai) terhadap perilaku kerja perawat (kemangkiran, keterlambatan, cepat

pulang) di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan.

1.4. Hipotesis

Terdapat Pengaruh Lingkungan Kerja (kepemimpinan dan manajemen,

kendali terhadap beban kerja, kendali terhadap praktik, sumber yang memadai)

terhadap Perilaku Kerja Perawat (kemangkiran, keterlambatan, cepat pulang) di

(27)

1.5. Manfaat Penelitian

a) Bagi Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan informasi yang berguna

bagi kebijakan manajerial rumah sakit. Kebijakan ini khusunya yang terkait

dengan lingkungan kerja perawat dan perilaku kerjanya.

b) Bagi kepala keperawatan

Hasil penelitian ini dapat memberi arahan dalam merencanakan startegi atau

metode untuk menurunkan atau mencegah perilaku kerja mangkir dan

terlambat pada perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota

Medan.

c) Bagi Akademisi

Sebagai bahan perbandingan atau referensi pada studi atau penelitian yang

(28)
(29)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Lingkungan Kerja

2.1.1. Pengertian Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja sangat penting untuk diperhatikan Meskipun lingkungan

kerja tidak melaksanakan proses produksi dalam suatu rumah sakit, namun

lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap para karyawan yang

melaksanakan proses produksi tersebut. Lingkungan kerja yang memuaskan bagi

perawatnya dapat meningkatkan kinerja, sebaliknya lingkungan kerja yang tidak

memadai akan dapat menurunkan kinerja dan akhirnya menurunkan motivasi kerja

perawat.

Lingkungan Kerja adalah tempat di mana dilakukannya suatu proses produksi

(menciptakan nilai tambah barang/ jasa) temasuk di dalamnya seluruh peralatan yang

digunakan (hardware), sistem dan piranti lunak (software) penunjang kegiatan

tersebut, dan lingkungan lain yang dipengaruhinya, serta orang-orang yang

berinteraksi di dalamnya (Anonim, 2007).

Pengertian lingkungan kerja menurut Anoraga dan Widiyanti (2001),

“Lingkungan kerja adalah merupakan suatu lingkungan dimana para karyawan

tersebut bekerja” Secara umum lingkungan kerja di dalam perusahaan ini akan

merupakan lingkungan dimana para karyawan tersebut melaksanakan tugas dan

(30)

Beberapa ahli mendefinisikan lingkungan kerja antara lain sebagai berikut :

Menurut Nitisemito (2000), mendefinisikan lingkungan kerja merupakan sesuatu

yang ada disekitar para pekerja yang dapat memengaruhi dirinya dalam menjalankan

tugas-tugas yang diembankan.

Menurut Sedarmayanti (2001), mendefinisikan lingkungan kerja sebagai

berikut: “Lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang

dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta

pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok”

Pekerja akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik, sehingga

dicapai suatu hasil kerja yang optimal, apabila diantaranya dipengaruhi atau ditunjang

oleh suatu lingkungan kerja yang sesuai. Suatu lingkungan kerja dikatakan baik atau

sesuai apabila karyawan dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat,

aman, dan nyaman. Lebih jauh lagi keadaan lingkungan kerja yang kurang baik dapat

menuntut tenaga dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya

rancangan sistem kerja yang efisien. Banyak faktor yang memengaruhi terbentuknya

suatu kondisi lingkungan kerja.

Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila manusia

dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan nyaman Kesesuaian

lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama. Lebih jauh

lagi lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu yang

(31)

Dari beberapa pendapat di atas, disimpulkan bahwa lingkungan kerja

merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat bekerja, baik yang

berbentuk fisik ataupun non fisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat

memengaruhi dirinya dan pekerjaannya saat bekerja. Yang dibahas dalam penelitian

ini adalah lingkungan non fisik yang menurut Sedarmayanti (2001) adalah semua

keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan pekerjaan, baik hubungan

dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan

bawahan.

Lingkungan non fisik ini juga merupakan kelompok lingkungan kerja yang

tidak bisa diabaikan Menurut Nitisemito (2000), perusahaan hendaknya dapat

mencerminkan kondisi yang mendukung kerja sama antara tingkat atasan, bawahan

maupun yang memiliki status jabatan yang sama di perusahaan. Kondisi yang

hendaknya diciptakan adalah suasana kekeluargaan, komunikasi yang baik, dan

pengendalian diri.

2.1.2. Lingkungan Kerja Perawat

Lingkungan kerja praktik keperawatan professional didefinisikan sebagai

karakteristik organisasi yang memfasilitasi terciptanya situasi kerja untuk mendorong

adanya praktik keperawatan profesional dengan melakukan pemberdayaan perawat

melalui pemberian otonomi, akuntabilitas dan kontrol terhadap lingkungan kerja

ketika memberikan asuhan keperawatan serta adanya kolaborasi antara perawat

(32)

Menciptakan lingkungan praktik profesional merupakan tanggung jawab

bersama antara pemerintah, perawat dan organisasi keperawatan, perawat

bertanggung jawab berperan serta dalam menciptakan dan mempertahankan

lingkungan praktik yang dapat meningkatkan pemberian asuhan yang aman. Oleh

karena itu diperlukan tanggung jawab tiap individu perawat untuk bekerja secara

profesional dan akuntabel (Registered Nurses Association of British Colombia, 2005).

Lake (2002) dalam penelitian merekomendasikan lima sub skala dari Nursing

Work Index (NWI) yang dapat digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

praktik keperawatan dan outcome pasien Kelima sub skala tersebut meliputi :

(1) partisipasi perawat dalam kegiatan rumah sakit, (2) dasar keperawatan untuk

asuhan berkualitas, (3) kemampuan menajer keperawatan, kepemimpinan dan

dukungan terhadap perawat, (4) kepegawaian dan sumber yang adekuat dan (5)

hubungan kolegial antara dokter dan perawat.

Dimensi lingkungan kerja berkualitas menurut Lowe (2002), meliputi : 1)

kepemimpinan dan manajemen dengan indikator meliputi kepemimpinan,

penghargaan dan penghormatan terhadap manajemen dan tenaga kesehatan serta

partisipasi perawat dalam pembuatan keputusan: 2) kendali terhadap beban kerja

dengan indikator meliputi jam lembur, pemanfaatan staf purna waktu, paruh waktu

dan pengganti sementara: rasio perawat dan pasien kompetensi yang harus dimiliki,

3) kendali terhadap praktik dengan indikator perawat memiliki otonomi terhadap

praktiknya 4) sumber yang memadai untuk terlaksananya praktik keperawatan

(33)

melalui pelatihan atau seminar dan tersedianya peralatan untuk praktik keperawatan

berkualitas.

Kondisi kerja yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup dalam bekerja

yang berdampak pada produktivitas kerja tenaga kesehatan profesional yang baik

pula (Currie, 2005). Sedangkan menurut Thoha (2003), perilaku individu dalam

organisasi yaitu pelaksanaan praktik keperawatan dipengaruhi oleh faktor

karakteristik organisasi yang merupakan suatu lingkungan bagi perawat.

Berdasarkan teori-teori tentang lingkungan kerja perawat (lingkungan non

fisik) yang sub variabelnya meliputi (1) kepemimpinan dan manajemen : (2) kendali

terhadap beban kerja: (3) kendali terhadap praktik: (4) sumber yang memadai untuk

melakukan pelayanan keperawatan profesional. Dibawah ini akan diuraikan

masing-masing sub variabel yang diteliti tersebut yaitu:

1) Kepemimpinan dan Manajemen

Keberhasilan tujuan organisasi, pemimpin atau manajer dapat tercapai dengan

cara melakukan fungsi manajemen dan kepemimpinan. Pemimpin tidak dapat hanya

melakukan fungsi manajemen saja tetapi pemimpin juga harus memadukan

manajemen dan kepemimpinan. Adapun fungsi manajemen menurut Fayol, 1985

dalam (Marquis dan Huston, 2000) adalah perencanaan, pengorganisasian,

pengaturan staf, pengarahan, dan pengawasan. Walaupun manajer seringkali

memodifikasi fungsi-fungsi manajemen tersebut, namun pada dasarnya fungsi

(34)

manajemen bila dikaitkan dengan keperawatan yang dikutip dari Marquis dan Huston

(2000) adalah seperti berikut ini:

a) Perencanaan dimulai, dengan menetapkan filosofi, tujuan, sasaran, kebijakan,

prosedur, dan peraturan-peraturan di setiap unit, membuat perencanaan jangka

pendek dan jangka panjang untuk mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi

penetapan biaya-biaya untuk setiap kegiatan, serta merencanakan dan mengelola

rencana perubahan.

b) Pengorganisasian, meliputi pembentukan struktur untuk melaksanakan

perencanaan, menetapkan metode asuhan keperawatan klien yang paling tepat,

dan mengelompokkan kegiatan untuk mencapai tujuan unit fungsi lainnya adalah

melakukan peran dan fungsi struktur organisasi dan menggunakan power serta

wewenang dengan tepat.

c) Pengaturan staf, dimulai dari melakukan rekrutmen, wawancara, memilih dan

melakukan orientasi karyawan baru, penjadwalan, pengembangan staf, dan

sosialisasi karyawan.

d) Pengarahan, kadang-kadang meliputi beberapa fungsi pengaturan staf. Fungsi ini

mencakupi tanggung jawab dalam mengelola sumber daya manusia seperti

memotivasi, mengelola konflik, delegasi, komunikasi, dan memfasilitasi

kolaborasi.

e) Pengawasan, meliputi penampilan kerja, pengawasan mutu, pengawasan etik dan

(35)

Kepemimpinan efektif diartikan sebagai pencapaian tujuan oleh pemimpin

dan pengikutnya (Tappen, 1998). Efektivitas kepemimpinan berarti tujuan pemimpin

dan pengikutnya menjadi menyatu, sehingga tercipta kesatuan dalam mencapai tujuan

secara penuh. Pemimpin memegang peranan yang penting dalam membantu

kelompok, organisasi, atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka. Kemampuan

kepemimpinan serta keterampilan mengarahkan merupakan faktor penting dalam

efektivitas kepemimpinan organisasi yang sukses, memiliki sebuah ciri utamanya

yaitu kepemimpinan yang dinamis, dan efektif.

Kepemimpinan juga merupakan kebulatan tekad, mimpi-mimpi, inovasi dan

kharisma Sedangkan menurut Marquis dan Huston (2000), kepemimpinan

dilaksanakan oleh seseorang yang mempunyai beberapa fungsi manajemen, dengan

kata lain kepemimpinan keterampilan yang lebih kompleks dan manajemen hanyalah

satu peran dari kepemimpinan. Marquis dan Huston dalam Tappen, (1998),

mengemukakan bahwa kepemimpinan masalah yang sangat penting dalam

manajemen, bahkan dinilai bahwa kepemimpinan merupakan inti manajemen.

Tappen (1998), mengemukakan bahwa semua pemimpin adalah manajer, akan

tetapi tidak sama dengan seorang manajer menjadi seorang pemimpin. Jika manajer

membimbing, mengarahkan, memotivasi dan memimpin dengan memberdayakan

orang lain, maka dapat dikatakan setiap manajer adalah pemimpin. Berdasarkan

pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah strategi untuk

melakukan sesuatu melalui orang lain dengan menggunakan fungsi perencanaan,

(36)

kepemimpinan adalah proses memengaruhi seseorang terhadap orang lain untuk

mencapai visinya.

Manajer biasanya menggunakan kekuatan yang melekat pada jabatannya

organisasi untuk memimpin orang. Sedangkan seorang pemimpin biasanya

memengaruhi orang lain dengan gaya dan keahliannya memimpin tanpa

mengandalkan kekuasaan. Swanburg (1999), mengemukakan bahwa dalam

keperawatan, manajemen berhubungan dengan perencanaan, pengorganisasian,

pengaturan staf, kepemimpinan, dan pengendalian aktivitas-aktivitas keperawatan

pada unit atau departemen keperawatan. Sedangkan Gillies (1996), mengemukakan

bahwa manajemen keperawatan adalah pengelolaan keperawatan dalam

merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengawasi sumber daya

maupun sumber dana, sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang

efektif pada klien, keluarga dan masyarakat.

Pelayanan keperawatan di rumah sakit dikelola oleh manajer keperawatan.

Douglas (1992), menyatakan bahwa manajer keperawatan dibagi dalam tiga tingkat,

yaitu (1) manajer puncak (kabid keperawatan) bertanggung jawab terhadap semua

kegiatan, fasilitas, dan pelayanan keperawatan, (2) manajer menengah

(supervisor/koordinator) bertanggung jawab mengarahkan aktivitas kepala ruangan

dan bertanggung jawab kepada direktur keperawatan atas semua kepala ruangan yang

berada dalam lingkup tanggung jawabnya, (3) manajer bawah (kepala ruangan/ketua

tim atau perawat primer) bertanggung jawab terhadap manajemen asuhan yang

(37)

Setiap perawat yang berperan sebagai pemimpin dan manajer pada beberapa

tingkatan dan peran keperawatan, memerlukan kemampuan kepemimpinan dan

keterampilan manajemen. Sebagai pemimpin dan manajer, dia harus mempunyai visi

dan misi organisasi. Manajer yang efektif dalam keperawatan tidak dapat hanya

menekankan peran dan fungsinya pada salah satu peran saja, akan tetapi

mengkombinasikan kedua peran tersebut dengan meningkatkan dan mengembangkan

keterampilan dalam kepemimpinan dan fungsi-fungsi manajemen.

Swanburg (1999), mengemukakan bahwa keterampilan dan manajemen dapat

diperoleh melalui proses belajar, melalui latihan-latihan yang telah didisain untuk

berpikir secara menyeluruh, melaksanakan komponen kepemimpinan dalam semua

fungsi-fungsi manajemen, dan menggunakan pendekatan ilmiah dalam mengatasi

masalah Peran manajer keperawatan dalam mengelola sumber daya keperawatan dan

sumber daya lainnya sangat penting untuk meningkatkan mutu pelayanan

keperawatan. Manajer keperawatan secara terus menerus dihadapkan dengan proses

pengambilan keputusan dan untuk itu kemampuan manajer untuk berpikir kritis

dalam pengambilan keputusan menentukan kualitas keputusan yang diambil.

Seorang manajer keperawatan bertanggung jawab bukan hanya terhadap

keperawatan klien, tetapi bertanggung jawab atas efektivitas dan efisiensi pelayanan

keperawatan yang diberikan terhadap klien. Manajer keperawatan terdepan yaitu

kepala ruangan memegang peranan penting dalam mengelola sumber daya manusia

dan mengelola fasilitas untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas pada

(38)

Kepala ruangan sebagai manajer terdepan berperan mengkoordinasikan

aktivitas keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas

kepada klien dan keluarga kepala ruangan memiliki akuntabilitas penuh dalam waktu

24 jam dan tanggung jawab utamanya adalah terhadap proses pelayanan dan hasil

yang diharapkan yaitu hasil yang positif terhadap kesehatan klien baik selama proses

sakit maupun dalam pemulihan kesehatan.

Sebagai manajer terdepan yang langsung mengelola asuhan keperawatan

kepada klien, kepala ruangan harus mampu mengelola staf/perawat pelaksana

maupun sumber-sumber lainnya, sehingga staf termotivasi untuk senantiasa

meningkatkan kinerjanya dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam

rangka memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada klien.

Tanggung jawab kepala ruangan menurut Depkes (1994) adalah semua yang

terkait dengan asuhan keperawatan klien yang meliputi pengkajian, perencanaan,

implementasi, dan evaluasi asuhan berdasarkan standar, melaksanakan orientasi

pegawai baru, melaksanakan supervisi, mengevaluasi kinerja staf, dan menjaga

komunikasi agar selalu terbuka dengan seluruh perawat pelaksana. Sedangkan fungsi

kepala ruangan adalah (1) melaksanakan fungsi perencanaan yang meliputi jumah

dan kategori tenaga keperawatan, tenaga lain, jenis peralatan keperawatan, (2)

menentukan jenis kegiatan asuhan keperawatan yang akan diselenggarakan

berdasarkan kebutuhan klien, (3) melaksanakan fungsi pengawasan dan penelitian

(39)

keperawatan bagi peserta didik dan institusi pendidikan, dan (6) pendayagunaan

peralatan keperawatan serta obat-obatan secara efektif dan efesien (Depkes, 1994).

Keberhasilan kepala ruangan dalam mengelola asuhan keperawatan di ruang

rawat juga ditentukan oleh kemampuan dan keterampilan perawat pelaksana, karena

perawat pelaksana bertanggung jawab selama 24 jam dalam melakukan asuhan

keperawatan pada klien. Dengan demikian, kualitas asuhan keperawatan ditentukan

oleh perawat pelaksana, oleh karena perawat pelaksanalah yang berinteraksi langsung

dengan klien dalam memberikan asuhan keperawatan.

Katz dalam Swanburg (1999), mengemukakan keterampilan manajer

diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu (1) keterampilan intelektual meliputi

kemampuan/penguasaan teori, keterampilan berpikir, (2) keterampilan teknikal,

meliputi metode, proses, prosedur atau teknik, (3) keterampilan interpersonal meliputi

kemampuan kepemimpinan dalam berinteraksi dengan individu atau kelompok

Ketiga keterampilan tersebut harus dimiliki oleh manajer keperawatan dalam

mengelola pelayanan keperawatan Selain itu juga diperlukan keterampilan untuk

mengelola budaya organisasi.

Tosi, Rizzo dan Carrol 1994, dalam Munandar (2004), mengemukakan

budaya adalah cara-cara berfikir, berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola-pola

tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian-bagian organisasi.

Karakteristik budaya organisasi menurut Djatmiko (2004) yaitu :

a) Inisiatif perseorangan, tampil dalam bentuk tingkatan tanggung jawab, kebebasan

(40)

b) Toleransi atas risiko, tampil dalam bentuk peluang dan dorongan terhadap

personil untuk bersikap agresif, inovatif dan berani mengambil risiko.

c) Pengarahan, yaitu tingkat kemampuan organisasi dalam menciptakan sasaran

perforrmance yang diharapkan secara jelas.

d) Integrasi, tingkatan keadaan yang menunjukkan bahwa unit-unit dalam organisasi

didorong untuk bekerja secara koordinat.

e) Dukungan manajemen, yaitu tingkat dukungan yang jelas dari para manajer

terhadap bawahannya dalam hal komunikasi, bimbingan dan dukungan.

f) Pengendalian, yaitu sejumlah ketentuan, aturan dan sejumlah supervisi langsung

yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku para pegawai.

g) Bukti diri, yaitu tanda keanggotaan suatu organisasi yang lebih menunjukkan

keterikatan pada suatu organisasi secara keseluruhan.

h) Sistem imbalan, yaitu tingkat alokasi imbalan berdasarkan kriteria kinerja

pegawai.

i) Toleransi konflik, yaitu tingkat keterbukaan bagi pegawai untuk menghembuskan

konflik dan kritik.

j) Pola komunikasi, yaitu tingkat jaringan komunikasi organisasi terhadap hirarki

otoritas formal.

Kemampuan manajer keperawatan, kepemimpinan dan dukungan terhadap

perawat dalam praktik keperawatan profesional komponennya meliputi :

a) Pemimpin keperawatan merupakan manajer dan pemimpin yang efektif yaitu

(41)

keahliannya, mempunyai kesadaran diri yang baik dan dengan memahami dirinya,

dia dapat memahami orang lain, berkomunikasi secara jelas dan efektif,

bersemangat melakukan aktifitas kepemimpinan, menetapkan tujuan dan jelas

diketahui oleh perawat anggotanya.

b) Pemimpin medukung (mem-back up) staf keperawatan dalam membuat

keputusan, atau jika ada konflik dengan dokter.

c) Pemimpin menggunakan kesalahan sebagai kesempatan dalam proses

pembelajaran bukan dengan mengkritiknya.

d) Pemimpin mendukung perawat dalam melakukan praktiknya melalui perannya

sebagai kolaborator, komunikator, mentor, pengambil risiko, role model, visioner

dan advokat untuk pemberian asuhan berkualitas.

e) Adanya pujian dan penghargaan terhadap pekerjaan yang dikerjakan dengan baik.

f) Adanya budaya untuk saling menghormati dan menghargai antar tenaga kesehatan

dan manajemen.

g) Adanya keterlibatan perawat dalam penyusunan perencanaan strategis, standar

praktik keperawatan dan isu praktik terkait dengan kepegawaian (Registered

Nurses Association of British Colombia, 2005).

Kebijakan dari organisasi dan manajemen apabila tidak sesuai dengan standar

atau tidak bersifat mendukung, maka sulit diharapkan baiknya mutu pelayanan

kesehatan (Azwar, 1996). Sedangkan budaya yang berlaku dalam suatu rumah sakit

(42)

kemampuan manajer akan memengaruhi kualitas keseluruhan dari pelaksanaan

praktik keperawatan profesional (Mc Cusker, 2004).

2)Kendali terhadap Beban Kerja

Beban kerja merupakan suatu kegiatan dan aktivitas yang dilakukan oleh

perawat selama bertugas di unit pelayanan keperawatan (Marquis dan Huston, 2000).

Dalam asuhan keperawatan beban kerja dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas tenaga

keperawatan yang ada pada saat asuhan keperawatan berlangsung (Kron, 1999).

Gillies (1996), mengemukakan untuk menilai beban kerja perawat harus

memperhatikan komponen-komponennya yang meliputi : (1) jumlah klien yang

dirawat perhari, perbulan, dan pertahun: (2) kondisi atau tingkat ketergantungan klien

(3) rata-rata lama rawat klien (4) jenis kegiatan tindakan keperawatan (5) frekuensi

masing-masing tindakan keperawatan yang dibutuhkan klien dan (6) rata-rata waktu

yang digunakan untuk melaksanakan tindakan keperawatan Pendapat tersebut sesuai

dengan Grohar-Murry dan DiCroce 1997, dalam Marquis dan Huston 2000, yang

mengatakan beban kerja keperawatan dapat ditentukan melalui pemakaian sistem

klasifikasi pasien dan pendokumentasian tingkat keparahan sakit pasien disesuaikan

dengan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan asuhan pada pasien tersebut.

Lowe (2002), merekomondasikan untuk menilai kendali terhadap beban kerja

dapat diukur dengan indikator meliputi : jam lembur, pemanfaatan staf purna waktu,

paruh waktu dan pengganti sementara dan beban kerja dan kompetensi sejawat.

(43)

pedoman untuk manajemen beban kerja dengan indikator yang dapat diukur meliputi:

adanya sistem pemberian asuhan yang memungkinkan perawat untuk dapat

berkembang, berkelanjutan dan mendapatkan penghargaan berhubungan dengan klien

mereka, penerimaan dan pelayanan pada klien berdasar pada kemampuan perawat

yang berkompeten untuk memberikan keamanan, dan merawat secara etis adanya

cukup waktu yang tersedia untuk mendiskusikan rencana perawatan klien dengan

klien dan teman sejawat, perawat dilibatkan dalam menentukan jenis staf dan rasio

perawat dengan klien, perawat dilibatkan dalam mengalokasikan sumber-sumber dan

penggunaan keputusan, kerja lembur jarang dan tidak wajib dan jadwal kerja yang

fleksibel dan inovatif.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang beban kerja diatas disimpulkan bahwa

beban kerja yang ideal yaitu adanya kesesuaian antara tingkat ketergantungan pasien

dengan asuhan yang akan diberikan, tersedianya waktu yang cukup untuk melakukan

praktik secara profesional, kompetensi yang harus dimiliki perawat, kesesuaian

perbandingan antara pasien dengan perawat secara fleksibel dalam pengaturan jadwal

dinas Semua ini yang akan menjadi sub variabel dalam penelitian ini.

Penelitian Brooks dan Anderson (2004), tentang pekerjaan perawat ditemukan

bahwa perawat memiliki beban kerja yang berat, tidak memiliki waktu yang cukup

untuk melakukan pekerjaan dengan baik, tidak bisa menyeimbangkan antara

pekerjaan dengan kehidupan keluarga dan jadwal rotasi yang berdampak negatif pada

kehidupan mereka kondisi ini berdampak pada penurunan kualitas asuhan

(44)

3) Kendali terhadap Praktik

Lowe (2002), merekomendasikan kendali terhadap praktik dapat diukur

dengan melihat indikatornya yang terdiri dari otonomi terhadap praktik. Sedangkan

kendali terhadap praktik menurut Registered Nurses Association of British Colombia

(2005) adalah perawat memiliki otoritas, tanggung jawab dan akuntabilitas terhadap

praktik keperawatan.

Otonomi merupakan elemen penting bagi keperawatan profesional

(Schutzenhfoer dalam Perry dan potter, 1997), Cresia dan Parker (2001),

mengemukakan otonomi merupakan indepedensi atau kebebasan bertindak termasuk

mengambil risiko dan akuntabel atas tindakan yang dilakukan. Keuntungan dari

otonomi adalah dapat meningkatkan staf bertahan dalam pekerjaannya, meningkatkan

moral staf, mengurangi pembiayaan, meningkatkan partisipasi dalam pembuatan

keputusan, meningkatkan keterampilan klinik, meningkatkan kualitas dan

memfasilitasi kerja tim multidisiplin yang lebih efektif (Porter, Gavin dan Wakefield

1999, Doberty dan Hope 2000 dalam Currie, 2005).

Penetapan otonomi perawat terhadap keleluasan dan tanggung jawab atas

pelaksanaan, keberhasilan atau kegagalan suatu pekerjaan, sehingga menimbulkan

rasa diberdayakan (Cavazos, 2003). Selain itu otonomi juga akan memberikan

kesempatan perawat melakukan pengkajian secara lengkap dan menyeluruh terhadap

kondisi pasien dengan menggunakan berbagai sumber data, merumuskan masalah

pasien, merencanakan tindakan, melakukan tindakan sesuai rencana dan

(45)

etik dalam memberikan asuhan (Marqui dan Huston, 2000). Untuk pelaksanaan

otonomi yang baik sangat diperlukan suatu pedoman yang menjadi acuan bagi

perawat dalam mempraktikannya secara optimal.

Registered Nurses Association of British Colombia (2005), membuat

pedoman kendali terhadap praktik dapat dilakukan dengan indikator, pembuatan

keputusan merupakan hasil partisipasi sesuai dengan kebijakan, praktik dan

lingkungan kerja sumber yang tersedia sesuai untuk mendukung asuhan keperawatan

berdasar evidence – based, perawat dan professional kesehatan lain bekerja sama dan

berkolaborasi dalam pengambilan keputusan, penentuan kompetensi perawat untuk

praktik keperawatan disesuaikan dengan situasi kerjanya dan dukungan yang adekuat

bagi perawat untuk bebas dari melakukan tugas non keperawatan.

Berhasilnya suatu rumah sakit dikarenakan adanya otonomi perawat, perawat

mengontrol lingkungan perawatan pasien dan adanya hubungan yang erat antara

perawat dengan dokter dalam pertukaran informasi penting (Aiken, Smith, dan Lake

1994). Perawat yang tidak memiliki kontrol terhadap praktik mereka akan

mengakibatkan ketidakpuasan dan sangat berisiko untuk meninggalkan organisasi

(American Association of Critical-Care Nurses, 2005). Sedangkan menurut Wijono

(1997), menyatakan semakin patuh semua tenaga kesehatan profesional kepada

standar yang baik dan diakui oleh masing-masing profesi akan semakin tinggi pula

(46)

4) Sumber Yang Memadai

Dimensi sumber yang memadai menurut Lowe (2002) adalah adanya peluang

pengembangan profesional yaitu kesempatan pada perawat untuk mendapatkan

pelatihan dan seminar serta tersedianya peralatan yang memadai untuk

terselenggaranya praktik keperawatan profesional. Sedangkan Lake (2002),

mengemukakan untuk mengukur atau menilai kepegawaian dan sumber yang adekuat

dapat dilihat dari komponennya meliputi tersedianya staf yang cukup untuk

melakukan pekerjaanya, tersedianya Registered Nurses (RN) yang cukup untuk

memberikan asuhan yang berkualitas terhadap pasien, dukungan pelayanan yang

memadai untuk menyediakan waktu yang cukup bagi perawat dengan pasiennya dan

tersedianya waktu dan peluang perawat untuk berdiskusi mengenai masalah asuhan

pasien dengan perawat lainnya.

Registered Nurses Association of British Colombia (2005), membuat

pedoman pengembangan profesional, meliputi : Orientasi dilakukan untuk semua

posisi dan situasi praktik yang baru, perawat mempunyai peluang untuk melakukan

tugas, pendidikan berkelanjutan dan pengembangan profesi, perawat mempunyai

peluang untuk debriefing dan refleksi dalam praktik dan program evaluasi

penampilan ditempat. Berdasarkan hal tersebut peneliti dapat mengambil kesimpulan

bahwa sumber yang memadai adalah tersedianya kesempatan untuk mengembangkan

diri secara profesional bagi perawat dan tersedianya peralatan yang mendukung

tercipatanya praktik keperawatan yang profesional dan berkualitas, semua yang

(47)

Penelitian Mc Cusker dan kawan-kawan tentang lingkungan kerja perawat dan

kualitas asuhan di unit yang berbeda pada rumah sakit yang sama didapatkan hasil

bahwa ketersediaan sumber yang adekuat sangat signifikan memengaruhi kualitas

rumah sakit dan kualitas asuhan perawatan (Mc Cusker, 2004). Apabila tenaga dan

sarana dari segi kualitas dan kuantitas yang tidak sesuai dengan standar yang telah

ditetapkan maka sulit diharapkan baiknya mutu pelayanan (Bruce, Fromberg,

Gambone, 1991 dalam Azwar, 1996). Hal ini diperkuat dengan yang dikemukakan

oleh Wijono (1997), menyatakan jika sarana fisik perlengkapan dan peralatan,

organisasi dan manajemen, keuangan, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya

difasilitas kesehatan baik kemungkinan besar mutu asuhan akan baik pula.

Lingkungan kerja yang stabil akan memberikan kemudahan untuk

memperoleh informasi, mendapatkan sumber-sumber yang diperlukan terkait dengan

pekerjaannya, menerima dukungan dan memiliki peluang untuk belajar dan

mengembangkan potensi diri perawat. Pada lingkungan seperti ini manajemen akan

mendorong perawat untuk menggunakan keahliannya dan melakukan penilaian yang

sesuai dalam pemberian asuhan.

Konsekuensi dari pemberdayaan yang dilakukan pada perawat ini akan

membuat perawat memiliki komitmen yang tinggi pada organisasinya, meningkatkan

kepercayaan pada organisasi dan manajemen, perawat akan lebih akuntabel terhadap

pekerjaannya, serta akan terjadi penurunan ketegangan dalam pekerjaannya (Spance

(48)

Tersedia dan dilaksanakannya komponen-komponen ligkungan kerja yang

telah dikemukakan diatas secara baik tentunya akan memudahkan bagi perawat untuk

melaksanakan praktik keperawatan secara profesional di tempatnya bekerja.

2.2. Konsep Perilaku 2.2.1. Perilaku Manusia

Menurut Notoadmodjo (2003), perilaku dipandang dari segi biologis adalah

suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan jadi perilaku manusia

pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri perilaku

dipengaruhi oleh faktor pemudah (umur, tingkat pendidikan, masa kerja, pengetahuan

dan sikap), faktor pendukung (pendidikan dan pelatihan K3, komitmen manajemen

dan ketersediaan sarana dan prasana) dan faktor pengungat (supervisi dan rekan

kerja), dimana ketiga faktor berperan dalam tindakan seseorang.

Perilaku adalah respon individu atau kelompok terhadap lingkungan dalam

fisiologi, perilaku manusia merupakan bagian penting dari perubahan fisik yang

menitikberatkan pada sifat dan karakteristik yang khas dari organ-organ atau sel-sel

yang ada dalam tubuh, dalam kacamata ilmu sosial, perilaku atau perbuatan manusia

merupakan manifestasi terhadap pola-pola hubungan, dinamika, perubahan dan

interaksi yang menitikberatkan pada masyarakat dan kelompok sosial sebagai satu

kesatuan, serta melihat individu sebagai bagian dari kelompok masyarakat (keluarga,

kelompok sosial, kerabat, klien, suku, ras, bangsa). Di antara dua kelompok ilmu

(49)

aktivitasnya, perbuatan, perilaku dan kerja selama hidupnya. Kerangka analisis

fisiologi memberikan penjelasan mengenai macam-macam tingkah laku lahiriah,

yang sifatnya jasmani sedangkan manusia merupakan satu totalitas jasmani-rohani.

Psikologi mempelajari bentuk tingkah laku (perbuatan, aktivitas) individu dalam

relasinya dengan lingkungannya.

Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau

seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek respon ini dibedakan

menjadi 2 (dua) :

1) Perilaku tertutup (covert behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup

(covert) respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,

persepsi, pengetahuan/kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima

stimulus tersebut dan belum dapat diamati secara jelas.

2) Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau

terbuka Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau

praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain Oleh

sebab itu disebut over behavior, tindakan nyata atau praktik (practice) misal, seorang

ibu memeriksa kehamilannya atau membawa anaknya ke puskesmas untuk di

imunisasi dan sebagainya.

Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku manusia adalah faktor

(50)

lingkungan/situasional. Faktor situasional ini berupa faktor ekologi, faktor rancangan

dan arsitektur, faktor temporal, suasana perilaku misalnya (cara berpakaian dan cara

berbicara), faktor sosial. Hal inilah menjadikan prediksi perilaku menjadi lebih

komplek (Azwar, 2000).

Lewin 1951 dalam Azwar (2000), merumuskan suatu model hubungan

perilaku yang mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan

lingkungan karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti : motivasi,

nilai-nilai, kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu dengan yang lain,

kemudian berinteraksi pula dengan faktor lingkungan.

Agar dapat memprediksi perilaku, Icek Ajzen dan Martin Fishbein dalam

Brehm dan Kassin 1990, mengemukakan Theory of reasoned action (Teori tindakan

beralasan) dengan mencoba melihat antesenden (mendahului) penyebab perilaku

volisional (perilaku yang dilakukan atas kemauan sendiri). Teori didasarkan pada

asumsi-asumsi : (a) bahwa manusia umumnya melakukan sesuatu dengan cara-cara

yang masuk akal, (b) bahwa manusia mempertimbangkan semua informasi yang ada,

(c) secara eksplisit maupun implisit manusia memperhitungkan implikasi tindakan

mereka.

Teori tindakan beralasan mengatakan bahwa sikap memengaruhi perilaku

lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan, dan dampaknya

terbatas hanya pada tiga hal. Pertama, perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap

umum tetapi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu. Kedua, perilaku dipengaruhi

(51)

mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat. Ketiga, sikap terhadap

suatu perilaku bersama norma-norma subyektif membentuk suatu intensi atau niat

untuk berperilaku tertentu (Azwar, 2000).

Asumsi diatas juga berlaku dalam penelitian-penelitian perilaku organisasi,

dimana perilaku manusia tidaklah acak. Perilaku berasal dan diarahkan menuju suatu

akhir yang diyakini, benar atau salah, demi kepentingannya yang terbaik, sehingga

pada umumnya perilaku dapat diramalkan jika kita tahu bagaimana orang menangkap

(mempersepsikan) situasi dan apa yang penting baginya (Robbins, 2003).

2.2.2. Standar Perilaku

Merupakan kebijakan manajemen yang harus diperankan oleh para pelaksana

di lingkungan rumah sakit dalam melakukan fungsinya, dengan tenaga kesehatannya

meliputi: dokter, dokter gigi, farmasi, bidan dan perawat (disamping tenaga non

medis), masing-masing telah mempunyai kode etik profesi yang bersifat individual

dan mengikat secara moral (juga hukum). Standar perilaku merupakan alternatif

untuk meningkatkan mutu pelayanan, dengan mengacu pada etika profesi, misi rumah

sakit, tata nilai/budaya masyarakat serta agama, yang di proses menjadi performance,

penampilan kerja para pelaksana rumah sakit dalam menjalankan fungsinya melayani

konsumen (Sumarwanto,1994).

Standar perilaku dapat disusun dengan mengacu pada etika profesi, tata nilai,

budaya maupun agama. Bentuk-bentuk konkrit standar perilaku dibedakan untuk

(52)

2.2.3. Perilaku Kerja

Perilaku kerja adalah perilaku yang berhubungan dengan kinerja, yaitu

perilaku yang berkaitan dengan tugas-tugas pekerjaan yang harus diselesaikan untuk

mencapai sasaran suatu jabatan atau tugas (Ilyas, 2001). Menurut Panggabean (2002),

perilaku kerja adalah tingkah laku karyawan di tempat kerja yang dapat diamati

antara lain melalui: ketidakhadiran, turnover (perputaran tenaga kerja), dan

produktivitas karyawan.

Perilaku kerja berbeda dengan kinerja, kinerja adalah penampilan hasil karya

personil yang diharapkan, baik kuantitas maupun kualitas. Adapun perilaku kerja

adalah apa yang dikerjakan dalam upaya menampilkan hasil karya yang diharapkan

(kinerja). Dengan demikian perilaku kerja merupakan komponen yang sangat penting

dan menentukan kinerja (Ilyas, 2001).

Berdasarkan teori kontrol yang dijelaskan oleh Carver dan Scheier 1981

dalam Ilyas (2001), berperilaku dalam lingkungan organisasi dibedakan menjadi dua

yaitu: (a) berperilaku yang sesuai dan layak, (b) berperilaku tidak sesuai dan tidak

layak istilah ini digunakan dalam menjelaskan teori kontrol, dimana individu harus

menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan mereka dengan cara: (1) menetapkan

standar untuk perilaku mereka, (2) mendeteksi perbedaan antara perilaku mereka dan

standar, (3) berperilaku yang sesuai dan layak untuk mengurangi perbedaan.

Perilaku yang sesuai adalah merujuk pada norma kelompok menurut Marquis

dan Huston (2000) adalah standar yang ditetapkan oleh kelompok (dalam hal ini

(53)

berdasarkan tekanan sosial. Perilaku ini menghasilkan produktivitas kerja

(Panggabean, 2002).

Vecchio (1995), menggunakan istilah withdrawal behaviors (perilaku menarik

diri) dalam menyatakan perilaku kerja yang tidak sesuai atau menyimpang dari

perilaku yang diharapkan. Vecchio mengemukakan bahwa individu biasanya

menyukai situasi yang penuh penghargaan, tapi mereka akan cenderung menarik diri

ketika situasinya menyakitkan dan tidak ada penghargaan.

Berdasarkan hasil beberapa penelitian yang mempelajari perilaku kerja,

Vecchio telah mengidentifikasi perilaku kerja menarik diri yang berhubungan dengan

situasi yang menyakitkan dan tidak ada penghargaan, perilaku tersebut adalah: (1)

kemangkiran, (2) keterlambatan, (3) pindah kerja, (4) mengundurkan diri, (5)

protes/mogok kerja, (6) perilaku bermusuhan (Vecchio, 1995). Hemingway dan

Smith (1999), menyatakan bahwa perilaku menarik diri, seperti: turnover,

ketidakhadiran/kemangkiran, dan cedera berhubungan dengan kepuasan kerja (Toth,

2002).

Keterlambatan juga ditemukan berhubungan dengan kepuasan kerja Steers

dan Porter (1981 dalam Vecchio, 1995), telah membuktikan keyakinan itu dengan

studinya bahwa keterlambatan yang sering dan terus menerus (kronik) cenderung

merefleksikan ketidakpuasan kerja. Meskipun faktor-faktor lain juga memainkan

peran yang penting seperti: aktivitas keluarga (pengantar anak sekolah), jarak dan

(54)

2.2.4. Pengukuran Perilaku Kerja

Menurut Panggabean (2002), perilaku kerja yang meliputi: kemangkiran,

keterlambatan, perputaran tenaga kerja, dan produktivitas karyawan dapat diukur dan

dihitung sebagai berikut :

a) Hammer dan Landau (1982): Harison dan Hulin 1989 dalam Panggabean (2002),

mengukur kemangkiran dengan menggunakan tiga macam data, yaitu :

1) Waktu yang hilang (jumlah jam ketidakhadiran yang tidak dicatat)

2) Frekuensi (jumlah waktu ketidakhadiran yang tidak tercatat)

3) Ketidakhadiran yang tercatat (jumlah jam ketidakhadiran), dalam periode

tertentu (Panggabean, 2002)

Rumus perhitungannya adalah :

Tingkat kemangkiran =

periode

b) Keterlambatan menunjukkan kegagalan untuk datang tepat waktu, yang dapat

diukur seperti cara mengukur kemangkiran

1) Waktu yang hilang (jumlah jam terlambat)

2) Frekuensi (jumlah hari terlambat)

Rumus perhitungannya adalah:

Tingkat keterlambatan =

(55)

c) Perputaran tenaga kerja merujuk keputusan pemutusan hubungan kerja secara

tetap Rumus perhitungannya adalah:

Tingkat turnover =

akhir)

Berdasarkan rumus tersebut maka data yang diperoleh adalah berskala rasio

karena data berskala rasio dari masing-masing responden hampir tidak pernah dapat

diperoleh, maka para peneliti menggunakan sejumlah pertanyaan untuk

mengukurnya, sebagaimana halnya untuk mengukur konsep-konsep yang bersifat

kualitatif lainnya (Panggabean, 2002).

2.3. Landasan Teori

Kerangka teori dalam penelitian ini didasarkan pada teori lingkungan kerja

dan perilaku kerja. Berdasarkan teori-teori lingkungan kerja yang dikemukakan oleh

Nitisemito 2000, Anoraga, Widiyanti, Sedarmayanti, Aiken dan Patrician, 2000, lake,

2002 didapatkan bahwa lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada

disekitar para pekerja yang dapat memengaruhi dirinya dalam menjalankan

tugas-tugas yang diembankan.

Lingkungan kerja tersebut diasumsikan mempunyai pengaruh dengan perilaku

kerja perawat diantaranya kepemimpinan dan manajemen, kendali terhadap beban

kerja, kendali terhadap praktik, sumber yang memadai selanjutnya kinerja perawat

juga merupakan salah satu faktor yang memengaruhi mutu pelayanan keperawatan

Gambar

Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Tabel 4.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel. 4.7.
Tabel. 4.9.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian Maria dan Sullivan (1998, dalam Azizpour 2013) personil kamar bedah mengalami stres kerja dalam kategori tinggi, karena ada hubungan yang signifikan antara

4.6 Hubungan Budaya Organisasi Klan, Adhokrasi, Market, dan Hierarki dengan Kepuasan Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Kota Medan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja dan kepemimpinan terhadap kepuasan kerja serta implikasinya pada kinerja perawat di

244/MENKES/PER/III/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Pusat

Hasil penelitian yang menyatakan beban kerja rendah ternyata bukan berarti tidak adanya beban kerja perawat karena ternyata ada pengaruh signifikan terhadap faktor

Kepercayaan yang tinggi, keterbukaan dan partisipasi sangat diperlukan 10, Organisasi menggambarkan kesuksesan yang berbasis pengembangan sumber daya manusia, tim kerja,

4.6 Hubungan Budaya Organisasi Klan, Adhokrasi, Market, dan Hierarki dengan Kepuasan Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Kota Medan

Kegiatan Praktik Kerja Profesi di Instalasi Farmasi Rumah Sakit yang dilakukan yaitu mempelajari fungsi dan tugas rumah sakit dalam pelayanan kesehatan masyarakat,