• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Ciputat Tahun 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Ciputat Tahun 2013"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

STATUS GIZI LEBIH PADA ANAK PRA SEKOLAH

DI TK SALMAN ITB CIPUTAT

TAHUN 2013

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Oleh

Anis Karomah

NIM: 109101000078

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)

ii

NIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PEMINATAN GIZI MASYARAKAT

Skripsi, November 2013

Anis Karomah, NIM. 109101000078

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Ciputat Tahun 2013

xviii + (77) halaman, (17) tabel, (2) bagan, (2) gambar, (4) lampiran

ABSTRAK

Latar Belakang. Status gizi lebih menjadi salah satu masalah kesehatan yang umum pada anak. Karakteristik anak, orang tua dan lingkungan mempunyai andil yang cukup besar pada kejadian gizi lebih anak pra sekolah. Ditemukan 21,4% anak pra sekolah di TK Salman ITB yang mengalami gizi lebih. Jumlah ini melebihi batasan minimal masalah kesehatan masyarakat tentang gizi lebih yaitu 15%.

Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain

cross sectional study. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dengan alat bantu kuesioner dan pengukuran secara langsung terhadap responden dan Ibu responden. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa selain play group di TK Salman ITB Ciputat tahun ajaran 2013/2014. Sampel penelitian ini berjumlah 56 responden. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat.

(4)

iii

mengingat konsumsi anak di TK Salman adalah tinggi lemak, tinggi energi dan rendah serat. Hendaknya sekolah memberikan program olahraga bagi siswanya secara rutin satu minggu sekali minimal 30 menit agar energi dalam tubuh dapat digunakan dan tidak tersimpan sebagai lemak. Perlu juga mengadakan kerjasama dengan instansi kesehatan misalnya Puskesmas untuk membantu mengecek status gizi anak dan melakukan usaha preventif dan promotif tentang pentingnya menerapkan pola makan yang baik khususnya edukasi mengenai perlunya asupan sayur buah dan sayur di setiap harinya.

Kata Kunci : pra sekolah, status gizi lebih, persen asupan lemak.

(5)

iv

SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE

STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH

CONCENTRATION HEALTH PUBLIC NUTRITION

Undergraduated Thesis, November 2013

Anis Karomah, NIM. 109101000078

The Factors in which Related with Overweight Status of Pre School Children at TK Salman ITB Ciputat in 2013.

xviii + 77 pages, 17 table, 2 bagan, 2 drawing, 4 attachment

ABSTRAK

Background. The overweight status is one of common health problems in children. Characteristic of children , parents, and environment have great contribute in forming overweight of pre school children. it was found amount 21,4% of pre school children at TK Salman ITB who get overweight. This amount exceeds the minimum limit public health problem in the overweight, it is about 15%.

Methode. This research is quantitative research methode using cross sectional study design. In collecting data used interview methode by questioner and measuring directly toward respondence and mother's respondence. The study population was all students besides play group at TK Salman ITB Ciputat in school year 2013/2014. Sample of this research is 56 respondence. data analysis is using univariat and bivariat analysis.

Result. Based on the result, known that pre school children who gets the overweight at TK Salman amount 16,1 %. the result shown that only 1 variable which has related significant with the overweight status , it is variable percent fat intake. Where as the other variable such sex, spent time to watching tv, the better parental nutritional status, and parental history of heart disease do not have significant relation with overweight status of pre school children.

(6)

v

provide sports programs for their students on a regular basis once a week for at least 30 minutes so that the energy in the body can be used and it is not stored as fat. The schools also need hold cooperation with health instance such community health center to help in checking nutritional status of children and doing preventing and promoting about the importance of applying good consumption especially education in demanding of vegetables and fruits everyday.

Keywords : pre school, overweight status, percent fat intake.

(7)
(8)
(9)

viii

RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS PRIBADI

Nama Lengkap : Anis Karomah

TTL :Magelang, 10 Oktober 1990

Jenis Kelamin :Perempuan

Alamat :Pluberan, Sucen , Salam, Magelang, 56484

Agama :Islam

2003-2006 : Madrasah Tsanawiyah (MTs) Yajri Payaman Magelang 2006-2009 : Madrasah Aliyah (MA) Yajri Payaman Magelang 2003-2009 : Pondok pesantren Sirojul Mukhlasin II Payaman

2009-sekarang : Mahasiswi Peminatan Gizi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidyatullah Jakarta

RIWAYAT ORGANISASI

2007-2009 : Koordinator bag kemahasiswaan Badan Eksekutif Siswa dan Santri (BESS) MA Yajri Payaman Magelang

2009- 2010 : Anggota Muda Pecinta Alam ARKADIA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

2010-2011 : Staff Kesenian dan Olahraga Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII),

(10)

ix

KATA PENGANTAR

ةمحرو مكي ع اس لا هت اكربو ه

ه دمحلاا, segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang telah melimpahkan

Rahmat dan Kuasa-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

tepat waktu. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah atas baginda Nabi

Muhammad SAW berkat kasih sayangnya, membawa kita dari jaman kegelapan dan

kebodohan menuju jaman yang terang benderang dan kaya akan ilmu pengetahuan.

Skripsi yang berjudul “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi

Lebih pada Anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Ciputat Tahun 2013” telah diuji

pada tanggal 12 November 2013 ini merupakan tugas akhir untuk mendapatkan gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa Skripsi ini tidak akan dapat diselesaikan tanpa

bantuan, dukungan, motivasi dan inspirasi dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini

penulis ingin menyampaiakan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT yang senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran serta

petunjuk di kala penulis mengalami berbagai kesulitan.

2. Keluarga tercinta, ayahanda Parjiman dan ibunda Ginem Lestari serta

adikku tersayang Anif Khusnan Hanafi yang telah memberikan motivasi

dan dukungan penuh baik secara moril maupun materil serta doa yang

(11)

x

3. Prof. Dr (hc). dr. M. K. Tajudin, Sp. And selaku Dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Febrianti, Msi, selaku Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Bapak Drs. M. Farid Hamzeins, Msi dan bapak dr Yuli Prapanca Satar,

MARS selaku pembimbing fakultas yang telah memberikan pengarahan,

masukan dan inspirasi serta terimakasih atas ilmu yang telah diberikan.

6. Ibu Narila Mutia Nasir Ph.D, ibu Yuli Amran, MKM, dan ibu dr

Andarini yang telah memberikan banyak masukan dan arahan dalam

perbaikan skripsi ini.

7. Departemen Agama Republik Indonesia yang telah memberikan

beasiswa dan kesempatan pada penulis untuk dapat menimba ilmu di

UIN Syarif Hidayatullah sampai saat ini.

8. Kepala TK Salman ITB Ciputat yang telah memberikan izin kepada

penulis untuk melaksanakan penelitian di TK Salman ITB Ciputat.

9. Seluruh guru-guru di TK Salman yang telah mendukung dan membantu

proses pengambilan data.

10.Seluruh orang tua dan siswa TK Salman ITB Ciputat yang telah

bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

11.Ka Nia Pratiwi 2007, ka Ami 2007 dan ka Septi, terimakasih atas

bantuannya dan semangatnya agar penulis bisa menyelesaikan skripsi

(12)

xi

12.Teman-teman gidza holic, terimakasih atas kebersamaan yang telah kita

jalani hingga tahun ini. Semoga persahabatan ini akan kekal selamanya.

Sukses bareng ya semuanya ,,^_^.

13.Temen-temen CSS MORA 2009, terimakasih atas dukungan dan doanya

selama ini. Tetep eksis, narsis, dan berprestasi ya kawan.

14.Temen-temen Kesmas Angkatan 2009, yang telah memberikan inspirasi

melalui semangat kalian.

15.Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis mengharapkan semoga segala yang diberikan kepada penulis

mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT. Dan atas semua kekhilafam dan

kekurangan yang penulis lakukan, dengan segenap hati penulis memohon maaf yang

sebesar-besarnya kepada semua pihak.

Tiada gading yang tak retak. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan

kritik dan saran semua pihak atas skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat

bagi kita semua, khususnya penulis. Amin.

هت اكربو ه ةمحرو مكي ع اس لاو

Jakarta, November 2013

(13)

xii

1.5.2 Bagi Pengelola Yayasan 8

1.5.3 Bagi Prodi Kesehatan Masyarakat 8

1.5.4 Bagi Peneliti Lain 8

1.6 Ruang Lingkup Penelitian 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Status Gizi 10

2.1.1 Pengertian 10

2.1.2 Penilaian Status Gizi 10

2.1.2.1 Indeks Antropometri 11

2.1.2.2 Figure Rating Scale 18

2.1.4 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi 20

2.2 Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah 22

2.2.1 Anak Pra Sekolah 22

2.2.2 Kecukupan Gizi Anak Pra Sekolah 23

2.2.3 Batasan Normal Konsumsi Lemak 23

2.2.4 Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah 24

2.3 Patofisiologi dan Dampak Gizi Lebih 24

2.3.1 Patofisiologi Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah 24

2.3.2 Dampak Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah 26

2.4 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Gizi lebih 28

2.4.1 Karakteristik Anak 28

2.4.1.1 Umur 28

2.4.1.2 Jenis Kelamin 29

2.4.2 Ketidak Seimbangan Energi 30

2.4.3 Asupan Makanan 31

2.4.3.1 Persen Asupan Lemak 31

2.4.4 Kerentanan Terhadap Kenaikan Berat Badan 32

2.4.5 Perilaku Menetap 34

2.4.6 Aktivitas Fisik 35

2.4.6.1 Kebiasaan Olahraga 35

2.4.7 Gaya Pengasuhan dan karakteristik Keluarga 35

(14)

xiii

2.5 Kerangka teori 38

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep 39

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 45

4.3.1 Populasi Penelitian 45

4.3.2 Sampel Penelitian 45

4.3.3 Penentuan Jumlah Sampel 46

4.4 Instrumen Penelitian 46

5.1 Gambaran Umum TK Salman ITB Ciputat 50

5.2 Analisis Univariat 51

5.2.1 Gambaran Responden berdasarkan Status Gizi Lebih 51

5.2.2 Gambaran Responden berdasarkan Jenis Kelamin 52

5.2.3 Gambaran Responden berdasarkan Persen Asupan Lemak 53 5.2.4 Gambaran Responden berdasarkan Perilaku Menetap (Menonton Televisi)

53 5.2.5 Gambaran Responden berdasarkan Kerentanan Familial terhadap Kenaikan

Berat Badan (Status Gizi Lebih Orang Tua dan Riwayat Penyakit Jantung) 54

5.3 Analisis Bivariat 55

5.3.1 Hubungan antara Jenis Kelamin degan Status Gizi Lebih 55 5.3.2 Hubungan antara Persen Asupan Lemak dengan Status Gizi Lebih 56 5.3.3 Hubungan antara Perilaku Menetap (Menonton Televisi) dengan Status

Gizi Lebih 57

5.3.4 Hubungan antara Kerentanan Familial terhadap Kenaikan Berat Badan

dengan Status Gizi Lebih 58

5.3.4.1 Hubungan antara Status Gizi Lebih Orang Tua dengan Status Gizi

Lebih 58

5.3.4.2 Hubungan antara Riwayat Penyakit Jantung Orang Tua dengan

Status Gizi Lebih 58

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian 60

6.2 Gambaran Status Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Tahun

2013 60

(15)

xiv

6.3.1 Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Status Gizi Lebih 62 6.3.2 Hubungan antara Persen Asupan Lemak dengan Status Gizi Lebih 64 6.3.3 Hubungan Antara Perilaku Menetap (Menonton Televisi) dengan Status

Gizi Lebih 68

6.3.4 Hubungan Antara Keterntanan Familial terhadap Kenaikan Berat Badan

dengan Status Gizi Lebih 70

6.3.4.1 Hubungan Antara Status Gizi Orang Tua dengan Status Gizi Lebih 70 6.3.4.2 Hubungan Antara Riwayat Penyakit Jantung Orang Tua dengan

Status Gizi Lebih 72

BAB VII PENUTUP

7.1 Simpulan 75

7.2 Saran 76

7.2.1 Bagi TK Salman ITB 76

7.2.2 Bagi Peneliti Lain 77

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Nama Tabel Halaman

Tabel 2.1 Kategori Ambang Batas IMT (Depkes,1994) 15

Tabel 2.2 Kategori Ambang Batas Status Gizi Anak Menurut Indeks IMT/U 16

Tabel 2.3 Angka Kecukupan Gizi Anak 23

Tabel 2.4 Klasifikasi status gizi orang dewasa menurut IMT 33

Tabel 3.1 Definisi Operasional 42

Tabel 5.1 Jumlah Siswa di TK Salman ITB Ciputat Tahun Ajaran 2013/2014.50 Tabel 5.2 Distribusi Responden berdasarkan Status Gizi pada Anak Pra Sekolah

di TK Salman ITB Ciputat Tahun 2013 52

Tabel 5.3 Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin pada Anak Pra

Sekolah di TK Salman ITB Ciputat Tahun 2013 52

Tabel 5.4 Distribusi Responden berdasarkan Persen Asupan Lemak pada Anak

Pra Sekolah di TK Salman ITB Tahun 2013 53

Tabel 5.5 Distribusi Responden berdasarkan lama Menonton Televisi pada Anak

Pra Sekolah di TK Salman ITB Tahun 2013 54

Tabel 5.6 Distribusi Responden berdasarkan Status Gizi Orang Tua pada Anak

Pra Sekolah di TK Salman ITB Tahun 2013 54

Tabel 5.7 Distribusi Responden berdasarkan Riwayat Penyakit Jantung Orang Tua pada Anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Tahun 2013 55 Tabel 5.8 Distribusi Status Gizi Lebih menurut Jenis Kelamin pada Anak Pra

Sekolah di TK Salman ITB Tahun 2013 56

Tabel 5.9 Distribusi Status Gizi Lebih menurut Persen Asupan Lemak pada

Anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Tahun 2013 56

Tabel 5.10 Distribusi Status Gizi Lebih menurut Lama Menonton Televisi pada

Anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Tahun 2013 57

Tabel 5.11 Distribusi Status Gizi Lebih menurut Status Gizi Lebih Orang Tua pada Anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Tahun 2013 58 Tabel 5.12 Distribusi Status Gizi Lebih menurut Riwayat Penyakit Jantung Orang

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Nama Gambar Halaman

(18)

xvii

DAFTAR BAGAN

Nama Bagan Halaman

Bagan 2.1 Kerangka Teori 38

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Nama Lampiran

Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian

Lampiran 2 Lembar Pengukuran Antropometri Lampiran 3 Kuesioner Penelitian

(20)

1

1.1 Latar Belakang

Masa balita hingga masa pra sekolah merupakan masa yang penting bagi

anak. Pada masa ini, terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang cepat sehingga

membutuhkan dukungan dari segi kesehatan, pendidikan serta lingkungan anak.

Salah satu sisi kesehatan yang perlu dilihat adalah kecukupan gizi anak.

Usia anak pra sekolah berkisar antara antara 3-6 tahun

(Biechler dan Snowman (1993) dalam Patmonodewo (2000)). Pada usia ini dengan

anak bergerak aktif bermain bersama teman-temannya, tertarik mempelajari hal

baru, terus menerus mempraktekkan hal yang baru didapat, diperlukan perhatian

lebih agar kesehatan anak tetap optimal salah satunya dengan memperhatikan pola

makan anak. Tingkat aktifitas yang cukup tinggi, maka diperlukan asupan yang

tinggi juga agar tercapai keseimbangan antara jumlah asupan dengan kalori yang

dikeluarkan. Hal ini dapat dicapai dengan pemenuhan nutrisi sesuai umur anak

dalam kehidupan sehari-hari.

Realitanya, beberapa masalah pola makan dan gizi yang kerap terjadi di

rentang 3-5 tahun antara lain adalah tidak suka sayuran, pilih-pilih makanan, dan

cenderung menyukai “junk food” (Kurniasih dkk, 2010). Menurut Badjeber, dkk

(2009) melalui penelitiannya menunjukkan bahwa anak yang sering

(21)

2

terhadap segala macam penyakit. Oleh karena itu perlu diusahakan untuk

meningkatkan dan mempertahankan status gizi anak agar tetap berada pada status

gizi yang baik.

Status gizi adalah keadaan fisiologis tubuh yang merupakan akibat dari

konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh. Status gizi dapat

dibedakan menjadi status gizi buruk, kurang, baik dan lebih (Almatsier, 2009).

Sedangkan untuk pengukuran status gizi khususnya untuk anak dan remaja

menggunakan pengukuran antropometri berdasarkan BB/U, TB/U dan BB/TB atau

IMT/U. Masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan dalam

pengukurannya. Pengukuran antropometri yang digunakan untuk melihat status

gizi akut (sekarang) adalah dengan menggunakan IMT/U.

Dewasa ini, sebagai negara yang berkembang Indonesia memiliki masalah

status gizi ganda antara lain gizi kurang dan gizi lebih. Masalah gizi ini tidak

mengenal tingkat ekonomi maupun tingkat pendidikan seseorang, artinya dapat

dialami oleh siapa saja. Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang

antara lain kemiskinan, persediaan pangan, tingkat pendidikan, kurangnya

pengetahuan tentang gizi dan lingkungan (Almatsier, 2009). Di samping masalah

gizi kurang pada anak yang sampai saat ini belum tuntas dapat diatasi, muncul

masalah gizi lebih pada anak yang harus diwaspadai.

Gizi lebih akan menimbulkan berbagai penyakit seperti obesitas, darah

tinggi, diabetes, jantung dan stroke dalam jangka waktu pendek maupun panjang.

(22)

anak karena bentuk tubuh yang tidak ideal, merusak liver (hati), penyakit jantung

koroner, diabetes, stroke dan osteoartritis (Devi, 2012).

Menurut Dunne (2002), overweight (gizi lebih) adalah kondisi seseorang dengan berat badan melebihi 20% dari berat badan ideal. Pada tahun 2010

prevalensi kegemukan secara nasional di Indonesia mencapai 14,0% (Riskesdas,

2010). Angka ini lebih rendah dibandingkan hasil dari WNPG tahun 2004 yang

menemukan kasus gizi lebih pada orang dewasa sudah mencapai 21% bahkan

11,1% diantaranya sudah masuk ke dalam kategori obesitas.

Kasus gizi lebih tidak hanya terjadi pada orang dewasa (> 18 tahun) saja

tetapi juga terjadi pada remaja hingga anak-anak. Prevalensi gizi lebih pada balita

diperkirakan sekitar 5,3% di kota dan 4,27% di perdesaan (WNPG, 2004).

Penelitian untuk mendapatkan gambaran status gizi lebih dan mencari

faktor-faktor yang berhubungan pernah dilakukan oleh Wati (2006) di TK Al Azhar

Kemang yang menghasilkan prevalensi gizi lebih sebesar 31,3%.

Status gizi anak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain lingkungan,

sosial ekonomi, gaya hidup, kognitif, perilaku, biologis dan kesehatan (Brown

(2005) dan Shills (2004) dalam Mardayanti (2009)). Sedangkan menurut Jellieffe

dalam Mardayanti (2009), faktor-faktor yang secara langsung mempengaruhi

status gizi antara lain pola konsumsi makanan sehari-hari, aktifitas fisik, keadaan

kesehatan, pendapatan, pendidikan orangtua dan kebiasaan makan.

Seorang anak dikatakan gemuk atau obesitas apabila Indeks Masa Tubuh

(IMT) per umur di atas normal. Anak akan kelebihan berat badan jika asupan

(23)

4

dan pertumbuhan. Faktor lainnya adalah keturunan, metabolisme dan lingkungan.

Anak yang orang tuanya gemuk cenderung untuk mengalami kegemukan (Devi,

2012).

TK Salman merupakan salah satu TK yang bisa disebut favorit yang terletak

di daerah Ciputat Tangerang Selatan. Banyak orang tua dari berbagai tempat

membawa anaknya untuk disekolahkan di sini. Sekitar 60% dari siswa yang berada

di TK Salman adalah orang-orang dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.

Kasus gizi lebih dan obesitas banyak terjadi pada keluarga yang mempunyai

tingkat ekonomi menengah ke atas. Di samping itu, anak-anak di TK Salman

banyak meraih prestasi baik di bidang akademik maupun di

perlombaan-perlombaan yang diadakan antar TK. Oleh karena itu tidak heran kalau TK ini

menjadi salah satu TK yang banyak diminati orang tua untuk mendaftarkan

anaknya agar bisa sekolah di TK Salman ini.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 14 anak di TK Salman dengan

melakukan pengukuran antropometri Indeks Masa Tubuh per Umur (IMT/U),

ditemukan sebanyak 28,57% anak mempunyai masalah gizi berupa gizi kurang

sebesar 7,1%, dan gizi lebih 21,4%. Masalah gizi lebih di TK Salman sebesar

21,4%, menunjukkan bahwa masalah ini sudah termasuk ke dalam masalah

kesehatan yaitu minimal 15% (WHO, 2000).

Gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan yang menjadi faktor

risiko terjadinya berbagai penyakit seperti penyakit jantung koroner, stroke,

tekanan darah tinggi, diabetes dan penyakit lainnya bila tidak segera diatasi.

(24)

kelamin, asupan makanan, aktivitas fisik, perilaku menetap dan kerentanan

terhadap kenaikan berat badan ) (Davidson dan Birch, 2001).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di TK Salman dengan

melakukan pengukuran antropometri (IMT/U), ditemukan sebanyak 28,57% anak

mempunyai masalah gizi berupa gizi kurang sebesar 7,1%, dan gizi lebih 21,4%.

Dengan adanya masalah gizi lebih sebesar 21,4%, maka masalah gizi lebih sudah

termasuk ke dalam masalah kesehatan yaitu minimal 15% (WHO, 2000).

Dengan adanya masalah gizi lebih yang mempunyai persentasi lebih dari

15% pada anak pra sekolah di TK Salman, peneliti tertarik untuk meneliti

hubungan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada anak pra

sekolah di TK Salman tahun 2013.

1.3 Pertanyaan penelitian

1. Bagaimana gambaran status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman

ITB Ciputat tahun 2013?

2. Bagaimana gambaran distribusi jenis kelamin pada anak pra sekolah di TK

Salman ITB Ciputat tahun 2013?

3. Bagaimana gambaran persen asupan lemak pada anak pra sekolah di TK

Salman ITB Ciputat tahun 2013?

4. Bagaimana gambaran perilaku menetap (menonton televisi) pada anak pra

(25)

6

5. Bagaimana gambaran kerentanan familial terhadap kenaikan berat badan

(status gizi orang tua, dan riwayat penyakit jantung) dengan status gizi lebih

pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013?

6. Apakah ada hubungan antara faktor jenis kelamin dengan status gizi lebih

pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013?

7. Apakah ada hubungan antara faktor persen asupan lemak dengan status gizi

lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013?

8. Apakah ada hubungan antara faktor perilaku menetap (menonton televisi)

dengan status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat

tahun 2013?

9. Apakah ada hubungan antara faktor kerentanan familial terhadap kenaikan

berat badan (status gizi orang tua, dan riwayat penyakit jantung) dengan

status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun

2013?

1.4 Tujuan penelitian 1.4.1 Tujuan umum

Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih

pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013.

1.4.2 Tujuan khusus

1. Diketahuinya gambaran status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK

Salman ITB Ciputat tahun 2013

2. Diketahuinya gambaran distribusi jenis kelamin pada anak pra sekolah

(26)

3. Diketahuinya gambaran persen asupan lemak pada anak pra sekolah di

TK Salman ITB Ciputat tahun 2013

4. Diketahuinya gambaran perilaku menetap (menonton televisi) pada anak

pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013

5. Diketahuinya gambaran kerentanan familial terhadap kenaikan berat

badan (status gizi orang tua, dan riwayat penyakit jantung) dengan status

gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013

6. Diketahuinya hubungan antara faktor jenis kelamin dengan status gizi

lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013?

7. Diketahuinya hubungan antara faktor persen asupan lemak dengan

status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun

2013?

8. Diketahuinya hubungan antara faktor perilaku menetap (menonton

televisi) dengan status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman

ITB Ciputat tahun 2013?

9. Diketahuinya hubungan antara faktor kerentanan familial terhadap

kenaikan berat badan (status gizi orang tua, dan riwayat penyakit

jantung) dengan status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman

(27)

8

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi peneliti

Agar menjadi wadah bagi penambahan wawasan dan pengembangan

skill mahasiswa serta mengaplikasikan keilmuan yang telah didapat dalam

bidang penelitian

1.5.2 Bagi Pengelola Yayasan

Sebagai salah satu sumber informasi mengenai status gizi anak

didiknya sehingga dapat dipantau status gizi secara lebih teratur lagi demi

mempertahankan meningkatkan derajat kesehatan setinggi-tingginya.

1.5.3 Bagi Prodi Kesehatan Masyarakat

Agar menjadi bahan referensi keilmuan khususnya dalam bidang gizi.

Sebagai informasi dan dokumentasi yang dapat digunakan untuk data dalam

penelitian serupa di masa mendatang.

1.5.4 Bagi Peneliti Lain

Agar menjadi bahan referensi, informasi dan pertimbangan untuk

melakukan penelitian lebih lanjut mengenai status gizi lebih pada anak pra

sekolah.

1.6 Ruang lingkup penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti yang berstatus mahasiswi kesehatan

masyarakat peminatan gizi UIN Jakarta, dilakukan di TK Salman ITB Ciputat,

pada bulan Juni-Oktober 2013 dengan menggunakan penelitian kuantitatif dengan

(28)
(29)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Status Gizi 2.1.1 Pengertian

Status gizi adalah keadaan fisiologis tubuh yang merupakan akibat dari

konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh. Status gizi dapat

dibedakan menjadi status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih (Almatsier,

2009). Gibson (2005) juga menyatakan bahwa status gizi merupakan

keadaan kesehatan tubuh yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan

(absorbsi) dan penggunaan (utilization) zat gizi makanan.

2.1.2 Penilaian Status Gizi

Untuk mengetahui status gizi seseorang, diperlukan pengukuran

tertentu baik secara langsung maupun tidak. Pengukuran status gizi secara

langsung dibagi ke dalam empat penilaian yaitu antropometri, klinis,

biokimia dan biofisik. Sedangkan penilaian secara tidak langsungnya dibagi

dalam tiga cara penilaian yaitu dengan survei konsumsi makanan, statistik

vital dan faktor ekologi (Supariasa dkk, 2001).

Status gizi bisa didapatkan dengan melakukan pengukuran pada

dimensi tubuh. Pengukuran dilakukan menggunakan parameter umur, berat

badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar

(30)

antropometri WHO 2005 dalam Kepmenkes 2010, umur dihitung dalam

bulan penuh. Contoh : umur 2 bulan 29 hari dihitung sebagai umur 2 bulan.

Berat badan merupakan parameter terpenting dalam antropometri.

Berat badan digunakan untuk menggambarkan jumlah protein, lemak, air

dan mineral pada tulang. Parameter tinggi badan penting untuk mengetahui

gizi masa lalu dan sekarang jika umur tidak diketahui secara tepat. Lingkar

lengan atas dapat digunakan sebagai salah satu pilihan untuk menilai status

gizi. Namun, parameter ini tidak bisa menjadi pilihan tunggal untuk menilai

status gizi karena tidak dapat mewakili perubahan status gizi seseorang

dalam jangka pendek (Supariasa dkk, 2001).

Dalam kondisi normal, pengukuran berat badan, tinggi badan dan

parameter lain berbeda pelaksanaannya pada bayi, balita, remaja hingga

dewasa. Pengukuran pada berat badan pada anak, remaja ataupun dewasa

disesuaikan dengan alat dan cara masing-masing. Berat badan bayi diukur

menggunakan timbangan bayi, balita menggunakan timbangan dacin, remaja

hingga dewasa menggunakan timbangan injak. Pengukuran tinggi badan dan

parameter lain juga menyesuaikan dengan kondisi yang ada (Anggraeni,

2012).

2.1.2.1 Indeks Antropometri 1. BB/U

Berat badan merupakan salah satu parameter yang

menggambarkan massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif

(31)

12

ini sangat labil dan hanya bisa akurat jika tubuh dalam keadaan

normal. Saat kondisi normal, berat badan berkembang selaras

dengan umur. Sedangkan saat kondisi abnormal, berat badan

mungkin lebih lambat maupun lebih cepat dari yang seharusnya

(Anggraeni, 2012)

Indeks BB/U lebih mudah dimengerti oleh masyarakat.

Indeks ini dapat digunakan untuk menilai status gizi akut atau

kronis, sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil dan

dapat mendeteksi kegemukan (overweight) (Supariasa dkk, 2001).

Disamping mempunyai kelebihan, beberapa kekurangan

indeks ini antara lain menimbulkan imterpretasi status gizi yang

salah jika ternyata yang diukur mengalami asites/edema, umur

tidak dapat ditaksir dengan tepat di daerah pedesaan karena

pencatatan yang kurang baik, sedangkan untuk mengetahui status

gizi pada balita memerlukan data umur yang akurat, selain itu

sering terjadi kesalahan dalam pengukuran seperti gerakan anak

saat penimbangan, yang terakhir adalah pada pengukuran ini

sering mengalami hambatan dengan sosial dan budaya

masyarakat setempat yang merasa anaknya dijadikan sebagai

(32)

2. TB/U

Tinggi badan adalah parameter yang dapat melihat status

gizi sekarang dan keadaan yang telah lalu. Pertumbuhan tinggi /

panjang badan tidak secepat dan sesignifikan berat badan, serta

relatif kurang sensitif untuk menilai masalah kekurangan gizi

dalam waktu singkat. Status kekurangan gizi baru terlihat dalam

waktu yang relatif lama (Anggraeni, 2012).

Beberapa kelebihan dalam indeks TB/U ini antara lain baik

untuk menilai gizi masa lampau, dan untuk ukuran panjang dapat

dibuat sendiri dan murah. Sedangkan untuk kelemahan indeks ini

antara lain tinggi badan tidak cepat naik dan turun, diperlukan

dua orang untuk melakukan pengukuran pada anak agar anak

bisa berdiri tegak, serta ketepatan umur yang sulit didapat

(Supariasa dkk, 2001).

3. BB/TB

Berat badan mempunyai hubungan yang linear dengan

tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan

akan searah dengan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.

Indeks ini merupakan indeks yang baik untuk menilai status gizi

saat ini. Indeks BB/TB merupakan indeks yang independen

terhadap umur (Anggraeni, 2012).

Indeks BB/TB tidak memerlukan data umur dan dapat

(33)

14

dan kurus). Di sisi lain, indeks ini ternyata tidak dapat

memberikan gambaran apakah anak tersebut pendek, cukup

tinggi badan atau kelebihan tinggi badan menurut umurnya

karena indeks ini tidak mempertimbangkan faktor umur.

Terdapat kesulitan juga dalam melakukan pengukuran karena

memerlukan dua alat ukur, waktu yang lama, kesulitan dalam

mengukur anak balita serta sering terjadi kesalahan terutama jika

dilakukan oleh tenaga non-profesional (Supariasa dkk, 2001).

4. LLA/U

Lingkar Lengan Atas (LLA) dapat memberikan gambaran

tentang keadaan jaringan otot dan lapisan kulit. LLA biasanya

digunakan untuk menngidentifikasi adanya malturisi pada

anak-anak. Pada ibu hamil, LLA digunakan untuk memprediksi

kemungkinan bayi yang dilahirkannya (Anggraeni, 2012).

Parameter ini biasanya digunakan bersama parameter umur yang

disebut dengan indeks LLA/U.

Indeks LLA/U mempunyai beberapa keuntungan karena

indeks ini merupakan indikator yang baik untuk menilai KEP

berat, alat yang digunakan pun murah, sangat ringan dan dapat

dibuat sendiri. Indeks LLA/U hanya dapat digunakan untuk

mendeteksi KEP berat saja, sulit menentukan ambang batas,

(34)

tahun yang pertumbuhannya tidak nampak nyata (Supariasa dkk,

2001).

5. IMT

FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan

berat badan normal orang dewasa ditemukan berdasarkan nilai

body mass indeks (BMI). Di Indonesia BMI biasa disebut dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) (Anggraeni, 2012). IMT digunakan

untuk memantau status gizi orang dewasa. Rumus perhitungan

IMT adalah sebagai berikut:

Kategori ambang batas IMT untuk Indonesia menurut

RISKESDAS 2007 yang mengacu pada Depkes 1994 dapat

dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1

Kategori Ambang Batas IMT

Kategori IMT

Kurus Kekurangan BB tingkat berat <17,0

Kekurangan BB tingkat ringan 17,0-18,5

Normal 18,5-25,0

Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan >25,0-27,0

Kelebihan BB tingkat berat >27,0

Sumber:Depkes 1994

IMT tidak dapat digunakan untuk mengukur status gizi

anak dan remaja. Oleh karena itu untuk mengukur status gizi

(35)

16

Indeks ini merujuk pada standar antropometri penilaian status

gizi anak menurut WHO 2005 yang dikeluarkan oleh

Kepmenkes pada tahun 2010. Indeks IMT/U menggunakan

ambang batas standar deviasi. Standar deviasi disebut juga

dengan Z-skor. WHO menyarankan menggunakan cara ini untuk

meneliti dan memantau pertumbuhan. Standar deviasi dapat juga

dipakai dalam indeks BB/U, TB/U dan BB/TB.

Pada Keputusan Menteri Kesehatan tahun 2010

memutuskan bahwa klasifikasi status gizi Anak Bawah Lima

Tahun (Balita) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Kategori

ambang batas status gizi anak berdasarkan indeks IMT/U pada

Kepmenkes 2010 adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2

Kategori Ambang Batas Status Gizi Anak menurut Indeks IMT/U

(36)

6. Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur

Tebal lemak di bawah kulit merupakan salah satu

parameter yang digunakan dalam pengukuran status indeks

antropometri untuk mengukur status gizi. Parameter ini

digunakan untuk memperkirakan jumlah lemak di dalam tubuh.

Jumlah tubuh seseorang tergantung dari berat badan, jenis

kelamin, umur dan aktivitas. Pengukuran tebal lemak di bawah

kulit disebut dengan skonfold (Anggraeni, 2012).

Pengukuran tebal lemak dibawah kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misal pada bagian lengan atas,

lengan bawah, tulang belikat, di tengah garis ketiak, sisi dada,

perut, suprailiaka, paha, tempurung lutut dan pertengahan tungkai bawah. Hasilnya dinyatakan dalam persen terhadap

tubuh total. Secara umum jumlah lemak tubuh untuk pria 3,1 kg

dan pada wanita 5,1 kg (Supariasa dkk, 2001).

7. Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul

Rasio lingkar pinggang dan pinggul adalah cara penilaian

obesitas terbaik untuk mengukur risisko serangan jantung.

Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mengetahui seberapa

besar risiko seseorang terhadap berbagai penyakit seperti

diabetes tipe II, kolesterol yang tidak terkontrol, tekanan darah

(37)

18

Rasio lingkar pinggang dan pinggul untuk perempuan

adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki. Penyakit yang berhubungan

dengan rasio lingkar pinggang dan pinggul ini adalah penyakit

kardiovaskuler. Rata-rata rasio orang yang terkena penyakit

kardiovaskuler dengan orang sehat adalah 0,938 dan 0,925

(Supariasa dkk, 2001).

2.1.2.2 Figure Rating Scale

Figure Rating Scale (FRS) atau a novel pictorial method

merupakan salah satu cara pengukuran yang dapat digunakan untuk

menilai status gizi berdasarkan BMI seseorang meggunakan gambar

ukuran tubuh manusia, laki-laki dan perempuan sehingga bisa

didapatkan status gizi seseorang melalui persepsi yang didapatkan

dari gambar pada instrumen (Harris et.al, 2008).

Cara ini telah diuji validitas dan rebilitasnya sehingga dapat

menjadi salah satu instrumen untuk menilai status gizi seseorang

tanpa melakukan pengukuran secara langsung. FRS menentukan

(38)

Gambar 2.1

Instrumen Figure Rating Scale untuk Perempuan

Gambar 2.2

(39)

20

Instrumen ini sudah diuji validitas dan reabilitasnya sehingga dapat

digunakan sebagai salah satu intrumen untuk menentukan status gizi tanpa

melakukan pengukuran secara langsung.

2.1.3 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi

Supariasa (2001) mengatakan bahwa status gizi ditentukan oleh dua

faktor yaitu faktor secara langsung dan tidak langsung. Faktor yang

mempengaruhi secara langsung antara lain faktor kesehatan dan konsumsi

makanan. Sedangkan untuk faktor tidak langsung yang mempengaruhi status

gizi adalah:

1. Daya beli keluarga

Kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga untuk

membeli bahan pangan dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapat

keluarga, harga bahan makanan dan tingkat pengelolaan sumber daya

lahan dan pekarangan.

2. Kebiasaan makan

Pola makan yang benar dengan memperhatikan frekuensi makanan

utama dan makanan selingan serta memperhatikan porsi yang pas akan

menjadi salah satu cara seseorang mencapai status gizi yang optimal.

Karena dengan hal tersebut, metabolisme akan lancar dan badan akan

terasa lebih sehat.

3. Sosial budaya

Penduduk yang tinggal di daerah perkotaan dan mempunyai

(40)

dan olahan pabrik dikarenakan adanya gengsi. Sedangkan penduduk

yang tinggal di daerah pedesaan menganggap bahwa ayah mempunyai

kedudukan yang tinggi sehingga ayah mendapatkan bagian yang paling

besar.

4. Zat gizi dalam makanan

Makanan yang baik adalah yang mengandung zat-zat gizi bagi tubuh.

Terdiri dari makronutrien dan mikronutrien. Dengan asupan makanan

yang bergizi diharapkan kesehatan akan terjaga dan status gizi baik.

5. Pemeliharaan kesehatan

Seseorang yang sadar akan kesehatannya akan berusaha menjaga

tubuhnya agar tetap dalam kondisi yang prima. Dengan pemeriksaan

kesehatan secara rutin, maka secara tidak langsung akan berdampak

baik bagi kesehatannya. Disamping itu individu perlu melakukan

kegiatan-kegiatan preventive agar tidak mudah terserang penyakit. 6. Kebersihan lingkungan

Penyakit infeksi berhubungan dengan kebersihan lingkungan. Bila

penyakit infeksi ini menyerang pada individu maka akan menyebabkan

terganggunya status gizi. Lingkungan yang sehat akan membuat

makanan yang dikonsumsi terbebas dari kuman penyebab penyakit

(41)

22

2.2 Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah 2.2.1 Anak Pra Sekolah

Taman kanak-kanak merupakan salah satu ruang lingkup pendidikan

anak dini. Anak-anak yang berada di taman kanak-kanak disebut dengan

anak pra sekolah.

Menurut Biechler dan Snowman (1993) yang dimaksud dengan anak

usia pra sekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun. Sedangkan

Solehuddin (1997) batasan tentang masa anak/anak usia pra sekolah

tergantung kepada dasar pembatasan yang digunakan dan atau teori yang

dirujukinya. Dalam pandangan mutakhir yang lazim dianut di negara-negara

maju, istilah anak usia dini (early childhood) adalah anak yang berumur antara 0-8 tahun.

Anak dalam usia pra sekolah sudah berani untuk menolak ataupun

menerima ajakan. Anak kadang memprotes setiap ajakan, hal ini disebut

dengan negativistik. Oleh karena itu orang tua hendaknya lebih sabar

terhadap anak dan tidak memaksakan jika anak memang sedang tidak ingin

makan. Karena dengan cara memaksa, anak malah tidak akan menyukai

makanan tersebut seumur hidupnya (Uripi, 2004).

2.2.2 Kecukupan Gizi Anak Pra Sekolah

Gizi yang seimbang perlu menjadi perhatian bagi setiap orang tua

karena jika gizi yang masuk dalam tubuh anak tidak seimbang akan

(42)

membutuhkan segala macam zat gizi mulai dari gizi makro yaitu

karbohidrat, lemak dan protein dan gizi mikro.

Kecukupan energi bagi anak umur 1-3 tahun adalah 1000 Kkal energi

dan 25 gram protein. Sedangkan untuk anak umur 4-6 tahun kebutuhan

energinya sebesar 1550 kkal dan 39 gram protein (AKG, 2004 dalam

Depkes, 2004). Kecukupan gizi anak umur 1-3 dan 4-6 tahun menurut AKG

disajikan dalam Tabel 2.3.

Tabel 2.3

Angka Kecukupan Gizi Anak

Umur BB

2.2.3 Batasan Normal Konsumsi Lemak

Lemak merupakan salah satu makronutrien yang dibutuhkan untuk

menunjang fungsi utama tubuh seperti membantu pencernaan dan

(43)

24

dan K. Jika kekurangan lemak, maka kita akan berisiko kekurangan

vitamin-vitamin tersebut (Denny, 2013).

Menurut Harsono (2006) kebutuhan lemak kita adalah 20% hingga

30% dari kebutuhan total energi dengan proporsi lemak tak jenuh lebih lebih

dominan daripada lemak jenuh. Untuk asupan lemak tak jenuh, dapat

dipenuhi dengan mengkonsumsi kacang-kacangan, biji-bijian, buah-buahan

seperti alpukat, zaitun, ikan laut dalam seperti salmon dan makarel.

2.2.4 Gizi lebih pada Anak Pra Sekolah

Kegemukan /obesitas pada anak anak membuat pertumbuhan anak

menjadi tidak seoptimal anak-anak seusianya. Kegemukan akan menjadikan

anak akan cepat terengah-engah, ngos-ngosan atau sesak nafas ketika berjalan ataupun berlari. Anak menjadi tidak kuat dalam menjalankan

aktifitas dalam jangka waktu yang lama. Hal ini akan berpengaruh terhadap

daya tahan tubuh anak dalam melakukan suatu pekerjaan. Dengan begitu,

anak menjadi lebih lamban dalam mengerjakan sesuatu (Devi, 2002).

Batasan gizi lebih sehingga bisa disebut dengan masalah gizi adalah

minimal 15%, obesitas sebesar 5% (WHO,2000). Anak yang mengalami gizi

lebihmemiliki struktur otot dan rangka yang besar (Uripi, 2004).

2.3 Patofisiologi dan Dampak Gizi Lebih

2.3.1 Patofisiologi Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah

Davidson dan Birch (2001) mengatakan bahwa konsep perubahan

berat badan disebabkan oleh asupan energi yang tinggi dan penggunaan

(44)

Hal serupa juga dikatakan oleh Supariasa (2001), gizi lebih disebabkan

oleh dua hal yaitu :

1.Pemasukan kalori yang tinggi pada tubuh. Kalori yang tinggi dalam tubuh

akan menyebabkan:

a. Penyimpanan glikogen yang tinggi. Keadaan ini akan

menyebabkan pertukaran glukosa juga tinggi. Dengan glukosa

yang tinggi di dalam darah, maka insulin akan ikut naik yang

disertai dengan meningkatnya trigliserida. Peningkatan insulin

menyebabkan tingginya reabsorbsi natrium yang akan

berpengaruh pada tekanan darah seseorang.

b. Penyimpanan protein yang tinggi menyebabkan simpanan asam

amino yang tinggi juga di dalam tubuh.

2.Pemakaian energi yang rendah. Pemakaian energi lebih rendah dari

asupan kalori, akan menyebabkan penimbunan lemak dalam tubuh.

Penimbunan dapat terjadi pada beberapa tempat yaitu:

a. Sel lemak pada gluteal, sehingga lipolisis basal akan tinggi. Hal in

berakibat pada penurunan kadar HDL dan peningkatan risiko

terhadap penyakit jantung koroner.

b. Sel lemak pada abdominal, sehingga asam lemak portal

meningkat. Dengan demikian akan terjadi pertukaran kolesterol

yang tinggi yang berpengaruh pada tingginya ekskresi kolesterol

(45)

26

2.3.2 Dampak Gizi Lebih pada Anak Pra Sekolah

Anak dengan overweight (gizi lebih) mampunyai risiko yang cukup besar terhadap berbagai penyakit. Gizi lebih dalam jangka waktu yang lama

akan menyebabkan obesitas. Obesitas merupakan gangguan status kesehatan

berupa timbunan lemak akibat dari kelebihan asupan yang tidak seimbang

dengan kebutuhan tubuh (Uripi,2004).

Orang tua merasa bahwa anak dengan kondisi gemuk malah merasa

senang karena anggapan bahwa anak gemuk adalah lucu. Padahal,

kegemukan merupakan faktor pencetus terjadinya penyakit yang

menurunkan usia harapan hidup. Menurut Devi (2012), jika anak mengalami

gizi lebih, maka akan menyebabkan gangguan kesehatan seperti:

1.Memicu depresi

Anak akan depresi dengan bentuk badannya yang tidak ideal, apalagi

jika anak mendapatkan ejekan dari teman-temannya, susah berteman,

dan tidak diikutsertakan dalam kegaiatan olahraga karena dianggap

lamban.

2.Merusak liver (hati)

Lemak pada tubuh yang semakin lama semakin menumpuk akan

mengganggu metabolisme liver dan menyebabkan peradangan dan luka

pada liver. Hal berikut akan mengundang penyakit hati lainnya mudah

(46)

3.Penyakit Jantung koroner

Penyakit jantung terjadi karena adanya plak yang disebabkan oleh

adanya kolesterol dan trigliserida di dalam darah. Oleh karena itu

kelebihan berat badan harus segera diatasi agar tidak terjadi masalah

gizi yang tidak diharapkan.

4.Diabetes

Terjadinya diabetes adalah karena tingginya kadar gula dalam darah.

Tingginya kadar glukosa dalam darah jangka waktu yang lama akan

menyebabkan diabetes

5.Stroke

Stroke diawali dengan tingginya kolesterol dan trigliserida di dalam

darah. Menurut WHO, stroke adalah gejala defisit fungsi susunan saraf

yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak.

6.Osteoartritis

Kegemukan dapat menyebabkan adanya gangguan di bagian sendi

terutama sendi lutut karena sendi ini terbebani oleh berat badan yang

lebih, dengan begini tulang rawan akan semakin menipis dan menjadi

aus. Akibatnya, dengan gerak sendi yang terbatas, dapat menyebabkan

nyeri dan bisa menyebabkan peradangan. Gejala ini disebut dengan

(47)

28

2.4 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Gizi Lebih 2.4.1 Karakteristik Anak Pra Sekolah

Menurut Dunne (2002), overweight (gizi lebih) adalah kondisi seseorang dengan berat badan melebihi 20% dari berat badan ideal. Pada

tahun 2010 prevalensi kegemukan secara nasional di Indonesia mencapai

14,0% (Riskesdas, 2010).

Karakteristik anak seperti umur dan jenis kelamin mempunyai

partisipasi dalam aktivitas fisik termasuk olahraga dan mempengaruhi

manfaat yang berbeda pada pemeliharaan status berat badan yang sehat.

Penelitian mengatakan, anak laki-laki lebih aktif dan lebih sehat daripada

anak perempuan (Davidson dan Birch, 2001).

Masa pra sekolah adalah masa bagi anak mempunyai keasyikan

tersendiri dalam bermain sebagai cara untuk mengenal dunia sekitar dan

mengembangkan seluruh potensinya. Jika orang tua tidak memperhatikan

jadwal makan anak, bisa jadi setelah anak kelelahan karena bermain seharian

baru minta makan. Padahal masa- masa balita cukup rawan karena

pertumbuhan dan perkembangannya akan menentukan perkembangan fisik

dan mental anak di usia remaja dan ketika dewasa (Kurniasih dkk, 2010).

2.4.1.1 Umur

Berdasarkan hasil penelitian oleh Nelson (2001) pada anak

sekolah bahwa anak yang berumur 3-4 tahun memiliki prevalensi

gizi lebih besar (44%) dibandingkan dengan anak yang berusia dua

(48)

Davidson dan Birch (2001) mengatakan bahwa semakin

bertambahnya usia, maka penurunan aktivitas fisik semakin terlihat.

Menurunnya aktivitas fisik ini dimungkinkan dapat dijelaskan

dengan adanya masa pubertas pada remaja, perubahan emosional

dan sosial. Hal ini lah yang pada akhirnya mendukung terjadinya

peningkatan kasus gizi lebih pada anak-anak dan remaja.

2.4.1.2 Jenis Kelamin

Anggraini (2008) hasil penelitiannya di Kota Bogor

mengenai obesitas pada anak TK menunjukkan bahwa obesitas

cenderung terjadi pada anak laki-laki (58.7%) dibandingkan pada

anak perempuan (38.9%). Penelitian lainnya juga menunjukkan

bahwa obesitas cenderung terjadi pada laki-laki (Partiwi, 2011).

Nelson (2001) mengatakan ada hubungan antara jenis kelamin

dengan status gizi. Sedangkan menurut Australian Institute of Helath and Welfare (AIHW) (2003) dalam News South Wales

(NSW) Centre (2005) laki-laki lebih berpotensi untuk mengalami gizi lebih dibandingkan perempuan.

Sedangkan menurut Davidson dan Birch (2001), perempuan

lebih berisiko untuk mengalami obesitas dibandingkan dengan anak

laki-laki terutama pada anak yang salah satu atau lebih orangtuanya

mengalami obesitas sehingga kerentanan untuk naiknya berat badan

(49)

30

Menurut WHO (2000), perempuan cenderung mengalami

peningkatan penyimpanan lemak. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa perempuan cenderung mengonsumsi sumber karbohidrat

yang lebih kuat sebelum masa pubertas, sementara laki-laki lebih

cenderung mengonsumsi makanan yang kaya protein. Tetapi

penelitian yang dilakukan oleh Proper, Cerin, Brown, dan Owen

(2006) menyatakan bahwa laki-laki secara signifikan lebih

berkemungkinan untuk menjadi overweight atau obesitas daripada

wanita, karena laki-laki cenderung untuk menghabiskan lebih

banyak waktu untuk santai pada saat akhir minggu atau waktu

senggang.

2.4.2 Ketidakseimbangan Energi

Keseimbangan energi dalam tubuh ditentukan oleh asupan kalori dari

makanan dan pengeluaran energi melalui aktivitas fisik. Jika energi melebihi

kebutuhan tubuh, maka energi akan diubah menjadi lemak tubuh sehingga

tubuh akan mengalami kegemukan atau berlebih. Kegemukan bisa terjadi

karena kebanyakan makan makanan yang mengandung karbohidrat, protein,

lemak dan kurang bergerak/ beraktivitas (Almatsier, 2009).

Hal selaras juga dikatakan oleh NSW Centre (2005) bahwa peningkatan berat badan dan obesitas berkembang dari akumulasi

(50)

Tercapainya keseimbangan energi hingga dapat dicegahnya obesitas

menyatakan pentingnya peran orang tua dalam membentuk pola makan

anak-anak, aktivitas dan perilaku menetap (Davidson dan Birch, 2001).

2.4.3 Asupan Makanan

2.4.3.1 Persen Asupan Lemak

Pola diet anak-anak sangat penting dalam mempertahankan

berat badan anak. Pemasukan kalori yang berlebih, relatif sedikit

pada penggunaan energi akan menghasilkan lemak pada

penyimpanan energinya. Selain itu, lemak lebih mudah disimpan

sebagai lemak juga dibandingkan dengan makronutrien lainnya

seperti karbohidrat dan protein (Davidson dan Birch, 2001).

Harsono (2013) menyebutkan maksimal kebutuhan lemak kita

adalah 30% dan didominasi oleh lemak tidak jenuh. Asupan persen

lemak yang lebih tinggi telah dikaitkan dengan peningkatan yang

lebih besar pada ketebalam lipatan kulit anak-anak dan peningkatan

BMI pada anak lebih dari 2 tahun.

Sedangkan Almatsier (2009) menyebutkan bahwa asupan

lemak dibagi ke dalam 3 kategori kurang (persen lemak dari asupan

total kita kurang dari 10%), cukup (10-25%) dan lebih ( > 25%).

Anak yang mempunyai konsumsi lemak berlebih memiliki

risiko sebesar 4.257 kali dibandingkan dengan anak yang tidak

(51)

32

hubungan yang signifikan terhadap obesitas dengan didapatkannya

p value sebesar 0,027 (Anggraini, 2008).

Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan bahwa

kelompok dengan asupan tinggi lemak mempunyai risiko

peningkatan berat badan 1.7 kali dibanding kelompok dengan

asupan rendah lemak (OR 1.7). Penelitian lain menunjukkan

peningkatan konsumsi daging akan meningkatkan risiko obesitas

sebesar 1.46 kali. Keadaan ini disebabkan karena makanan

berlemak mempunyai kandungan energi lebih besar dan

mempunyai efek pembakaran dalam tubuh yang lebih kecil

dibandingkan makanan yang banyak mengandung protein dan

karbohidrat (Hidayati et.al, 2006).

2.4.4 Kerentanan Terhadap Kenaikan Berat Badan

Anak yang salah satu atau lebih orang tuanya mengalami obesitas,

akan mempunyai kerentanan untuk mengalami obesitas juga. Seorang anak

dari orang tua yang memiliki penyakit jantung memungkinkan untuk

mempunyai kebiasaan dalam menghindari makanan yang berlemak karena

mengikuti pola diet orang tua mereka yang mulai mengurangi konsumsi

makanan yang mengandung banyak lipid. Pada dasarnya, anak dari salah

satu atau lebih orang tua obesitas akan lebih rentan bertambah berat

badannya saat mengkonsumsi lemak dibandingkan anak yang salah satu atau

(52)

WHO (2000) mengatakan bahwa orang tua yang salah satu / keduanya

mengalami obesitas, maka anaknya akan mengalami obesitas juga sebesar

50-60%.

Menurut klasifikasi WHO, orang dewasa dikatakan overweight jika IMT nya > 25, dan jika IMT nya >30, maka disebut dengan obesitas. Berikut

klasifikasi Status gizi orang dewasa menurut WHO (CDC,2006).

Tabel 2.4

Klasifikasi Status Gizi Orang Dewasa menurut IMT

IMT STATUS

<18,5 Underweight

18,5-24,9 Healthyweight

25-29,9 Overweight

>30 Obese

Sumber: Supariasa, 2001

Penelitian dari Permatasari, et.al (2013) yang menghasilkan p value =

0,05 yang berarti adanya hubungan yang signifikan antara status gizi orang

tua terhadap kasus obesitas pada anak dengan risiko masing-masing OR=1,1

untuk ayah dan OR=2,5 untuk ibu.

Walau demikian menurut penelitian yang dilakukan Internasional

Obesity Task Force (IOTF) yaitu bagian dari WHO yang mengurusi masalah

kegemukan pada anak, faktor genetik hanya berpengaruh 1 % dari kejadian

obes pada anak sedangkan 99 % disebabkan faktor lingkungan (Anggraini,

(53)

34

2.4.5 Perilaku Menetap

Menurut Kurniasih dkk (2010), aktivitas fisik yang baik dilakukan

anak adalah aktivitas yang mengeluarkan banyak tenaga sehingga anak

bergerak aktif. Ini bermanfaat untuk menghasilkan tenaga dari asupan kalori

yang didapat agar tidak tertimbun menjadi lemak.

Aktivitas fisik dapat mengurangi risiko penambahan berat badan pada

anak, tapi tidak untuk perilaku menetap seperti menonton televisi atau video.

Beberapa kemungkinan alasan tingginya anak-anak yang menonton televisi

meliputi aksesbilitas, banyak program yang disukai anak-anak, kurangnya

pengawasan orang tua, kurangnya area bermain outdoor, lingkungan aman dan penggunaan televisi sebagai baby sitter bagi anak-anak (Davidson dan Birch, 2001).

Study of Parents and Children yang meneliti anak sejak dalam

kandungan hingga usia 7 tahun, menemukan kaitan antara menonton televisi

dengan kejadian obesitas. Anak yang menonton televisi 4 sampai 8 jam per

minggu diusia 3 tahun, mempunyai kemungkinan sebesar 1,37 kali untuk

menjadi obes (odds ratio) pada usia 7 tahun. Secara keseluruhan anak yang

menonton televisi lebih dari delapan jam seminggu memiliki kemungkinan

menjadi obes 1,55 kali lebih besar dibandingkan anak yang menonton

televisi kurang dari delapan jam perminggu (Reilly et.al, 2005).

Menonton televisi akan menyebabkan adanya permintaan anak untuk

dibelikan makanan yang akhirnya akan berpegaruh pada pola diet anak-anak.

(54)

tingginya konsumsi makanan cepat saji, permen, keripik, dan pizza serta

sedikitnya konsumsi buah dan sayur (Davidson dan Birch, 2001).

2.4.6 Aktivitas Fisik

Aktivitas yang tinggi dapat mengimbangi asupan energi yang berlebih

sehingga tubuh akan tetap sehat. Survey terbaru menemukan bahwa hanya

36% dari anak-anak yang mempunyai aktivitas lebih berat sehingga peluang

anak-anak untuk kelebihan berat badan masih sangat tinggi (Davidson dan

Birch, 2001).

2.4.6.1 Kebiasaan olahraga

Fungsi olahraga antara lain untuk merangsang pertumbuhan

anak. Olahraga seperti lari pagi dengan kaki berjinjit, bola basket,

lompat dengan skipping atau berenang bisa menambah tinggi badan apalagi jika dilakukan pada pukul 6-7 pagi. Ada baiknya mencoba

olahraga rutin yaitu olahraga di atas 30-60 menit dan dilakukan 3-5

kali seminggu (Devi, 2012).

Aktivitas olahraga yang diadakan oleh pihak sekolah

seminggu sekali akan menambah aktivitas anak-anak sehingga

dapat menyeimbangkan asupan energi dan dapat mempertahankan

berat badan (Davidson dan Birch, 2001).

2.4.7 Gaya Pengasuhan dan Karakteristik Keluarga

Perilaku anak-anak tidak terlepas dari konteks keluarga. Secara tidak

sadar, orang tua adalah sosial model bagi anaknya. Partisipasi orang tua

(55)

36

Orang tua yang aktif lebih mungkin untuk menikmati aktivitas dan percaya

dalam kesehatan dan mendapatkan manfaat positif secara emosional. Orang

tua seperti ini akan menciptakan lingkungan yang mempromosikan kegiatan

yang mendorong anak untuk lebih aktif dengan mendaftarkan

anak-anak mereka pada acara olahraga ataupun kegiatan lainnya (Davidson dan

Birch, 2001).

Orang tua khususnya ibu memiliki peran yang cukup besar bagi anak.

Latar belakang pendidikan ibu, yang akhirnya tergambar pada keterampilan

ibu dalam menyiapkan makanan dan pemenuhan gizi bagi anak-anaknya

menyumbang besar terhadap status gizi keluarga. Dalam pengasuhan,

perilaku ibu dalam pemenuham nutrisi sangat berkaitan dengan indeks masa

tubuh atau status gizi anak (Prakoso et.al, 2012).

2.4.8 Karakteristik Masyarakat, Demografi dan Sosial

Etnis dan pengaruh sosial ekonomi juga merupakan faktor risiko yang

walaupun secara tidak langsung ikut mempengaruhi terjadinya kasus

kelebihan berat badan. Orang dengan sosial ekonomi tinggi mempunyai

aktivitas yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan orang dengan sosial

ekonomi rendah. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang

manfaat olahraga bagi kesehatan, dan kurangnya waktu luang (Davidson dan

Birch, 2001).

Masyarakat dengan ekonomi yang rendah cenderung memiliki

lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik. Kebiasaan dan pola hidup

(56)

yang tidak sehat, pola asuh yang tidak baik bisa muncul dari lingkungan

masyarakat seperti ini. Di dalam keluarga, Ibu cenderung memberikan

nutrisi yang menurutnya umum di masyarakatnya tanpa mengetahui

pentingnya nutrisi yang terkandung di dalam makanan yang disediakannya.

Ini didukung pula oleh rendahnya pengetahuan dan pendidikan yang ada di

lingkungan sekitar (Masithah et.al, 2005).

Lingkungan yang akrab dengan anak-anak adalah lingkungan sekolah.

Anak-anak menghabiskan waktu seharian di sekolah. Oleh karena itu,

sekolah sebenarnya mempunyai banyak peluang untuk mengekspos

anak-anak dengan berbagai kegiatan aktivitas fisik. Sayangnya pendidikan

jasmani menerima prioritas yang rendah dalam anggaran sekolah. Akibatnya

banyak sekolah yang tidak menyediakan pendidikan jasmani selama hari

(57)

38

2.5 Kerangka Teori

Berdasarkan penjelasan dari bab sebelumnya maka kerangka teori yang

digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bagan 2.5 Kerangka Teori

(58)

39

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Status gizi lebih dipengaruhi oleh karakteristik anak dan faktor risiko

anak, karakteristik orang tua dan gaya hidup orang tua, dan karakteristik

lingkungan, demografi dan sosial. Karakteristik anak dan faktor risiko anak

saling berinteraksi meningkatkan berat badan anak secara langsung terhadap

kenaikan berat badan anak. Sedangkan karakteristik orang tua dan

demografi sosial mempengaruhi secara tidak langsung terhadap karakteristik

dan faktor risiko anak.

Berdasarkan kerangka teori, peneliti bermaksud untuk meneliti faktor

yang berhubungan terhadap obesitas yaitu semua variabel yang ada di

karakteristik anak dan faktor risiko anak kecuali variabel umur dan aktifitas

fisik.

Variabel umur tidak diteliti karena sampelnya berupa anak pra sekolah

adalah yang usianya antara 3-6 tahun. Pada umur sekian, mereka

mempunyai karakteristik yang tidak terlalu berbeda dari pertumbuhan dan

perkembangannya pada setiap tingkatan umurnya walaupun untuk

penentuan status gizinya dibedakan menurut tingkatan umurnya karena

memang berat badan dan tinggi badan tumbuh searah dengan bertambahnya

umur seseorang. Oleh karena itu peneliti menganggap bahwa variabel umur

(59)

40

Aktifitas fisik tidak diteliti karena adanya beberapa penelitian yang

telah dilakukan, tidak terdapat hubungan yang signifikan pada aktifitas fisik

dengan obesitas. Hasil yang didapat dari penelitian Sallis dan kawan-kawan

dalam Davidson dan Birch (2001) mengemukakan bahwa ada hubungan

yang tidak tentu antara aktivitas fisik dengan status gizi lebih pada anak.

Akhirnya faktor aktivitas fisik dianggap tidak penting dalam usaha

menurunkan kelebihan berat badan pada anak. Aktivitas fisik anak terbentuk

dengan adanya kombinasi dari pola aktivitas orang tua, aktivitas dengan

teman sebaya dan karakteristik dari anak. Oleh karena itulah peneliti tidak

meneliti aktivitas fisik.

Adapun kerangka konsep pada penelitian ini dapat dilihat pada bagan

(60)

Bagan 3.1 Kerangka konsep

Variabel independen Variabel dependen

Jenis Kelamin

Kerentanan familial terhadap kenaikan berat badan :

 Status gizi lebih orang tua

 Riwayat penyakit jantung orang tua

Persen Asupan Lemak

Perilaku menetap:

 Waktu

menonton Televisi / video

(61)

42

2 Jenis Kelamin Golongan tipe individu yang dibedakan

menurut kondisi biologis yang ada

Wawancara Kuesioner 1. Perempuan 2. Laki-laki

Ordinal Davidson dan Birch (2001)

(62)

asupan energi

(63)

44

3.3 Hipotesis

1. Ada hubungan antara faktor jenis kelamin dengan status gizi lebih

pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013

2. Ada hubungan antara faktor persen asupan lemak dengan status gizi

lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun 2013

3. Ada hubungan antara faktor perilaku menetap (lama menonton

televisi) dengan status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK

Salman ITB Ciputat tahun 2013

4. Ada hubungan antara faktor status gizi lebih orang tua dengan status

gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB Ciputat tahun

2013

5. Ada hubungan antara faktor riwayat penyakit jantung orang tua

dengan status gizi lebih pada anak pra sekolah di TK Salman ITB

(64)

45

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain

cross sectional yaitu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor risiko dan variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang

sama (Amran, 2012).

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di TK Salman ITB Ciputat dan dilaksanakan pada

bulan Juni-Oktober 2013.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah anak usia pra sekolah baik TK A

maupun TK B dan terdaftar sebagai murid TK Salman tahun ajaran

2013/2014.

4.3.2 Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode simple random sampling. Kriteria yang bisa masuk ke dalam sampel penelitian harus memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut:

Kriteria inklusi:

 Berumur 3-6 tahun di bulan Juni 2013.

Gambar

Gambar 2.1 Instrumen Figure Rating Scale untuk Perempuan
Tabel 2.1 Kategori Ambang Batas IMT
Tabel 2.2 Kategori Ambang Batas Status Gizi Anak menurut Indeks
Figure Rating Scale (FRS) atau a novel pictorial method
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan memperhatikan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran status gizi anak

Dari hasil analisis bivariat, faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi pasca banjir pada anak usia 1-2 tahun antara lain : pengetahuan ibu tentang gizi (p=0,030),

Bertolak dari kenyataan tersebut, maka penulis ingin menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi gizi lebih ( overnutrition ) pada anak usia pra-sekolah di Pos PAUD

Judul : Faktor - Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Baduta Di Wilayah Kerja Kelurahan Kassi-Kassi Kecamatan Rappocini Kota Makassar Tahun 2015.. Menyatakan bahwa

Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sambuari (2013) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan

Skripsi yang berjudul ”Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Kurang pada Siswa SD di 3 kecamatan, Kabupaten Kampar Tahun 2007” ini disusun sebagai syarat

Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi meliputi berat badan lahir, pemberian ASI Eksklusif, kejadian diare, kejadian ISPA, pendidikan ibu, pendidikan

Faktor langsung yang dapat mempengaruhi status gizi yaitu konsumsi makanan dan penyakit infeksi, sedangkan faktor tidak langsung yang dapat mempengaruhi status gizi yaitu ketahanan