56 22 RAMADLAN - 6 SYAWAL 1431 H
Mesu Jiwo
Kesyahduan
dalam Hidup Sekuler
ABDUL MUNIR MULKHAN(GURU BESAR UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA, ANGGOTA KOMNAS HAM)
SOHIFAH
K
arena itu orang lebih tertarik mencari kepuasaan dalam berbagai bidang yang bersifat fisikal dan materiil daripada yang rohaniah dan spiritual. Kekuasaan politik dengan kedudukan sebagai pejabat negara atau daerah, anggota dewan di tingkat pusat atau daerah lebih menarik daripada kekuasaan rohaniah seperti ilmu pengetahuan dan kharisma spiritual. Bidang ilmu pun demikian pula ketika banyak orang memilih ilmu yang berkaitan dengan reward atau kompensasi yang bersifat matertiil seperti gaji yang besar, jabatan struktural dalam dunia akademis seperti rektor atau dekan daripada peneliti apalagi peneliti bidang ilmu yang bersifat teoritis seperti filsafat, etika, dan berbagai bidang keagamaan.Dalam sejarah pemikiran dan peradaban manusia, situasi tersebut di atas juga menjelaskan respon publik ketika filsafat yang menekuni bidang super non-fisik yang dikenal dengan metafisika yang memperoleh kemajuan secepat pemikiran kefilsafatan yang menekuni bidang fisika yang berkaitan dengan itu, seperti matematika. Di saat yang sama peradaban manusia dikuasai ahli di bidang yang bisa disebut metafisika yaitu masalah keagamaan dari para pendeta yang di kalangan kaum Muslimin diperankan oleh apa yang dikenal sebagai ulama atau kiai. Kedua belahan dunia peradaban ini agkanya sama-sama mengalami nasib pembidangan yang tidak adil antara yang bersifat materiil dan yang rohaniah, sementara kehidupan duniawi ini tidak mungkin dibebaskan dari kebutuhan atas hal-hal yang bersifat rohaniah.
Meskipun demikian, pengalaman kedua peradaban (jika bisa diposisikan secara tegas) itu berbeda. Jika pemikiran di belahan
dunia Barat melahirkan apa yang dikenal sebagai renaisans atau kebangkitan kembali filsafat Yunani minus metafisika, tidak demikian halnya dalam sejarah pemikiran Islam. Pemikiran filsafat di dunia Barat kemudian memasuki masa yang dikenal dengan
aufklarung atau pencerahan melalui sekulerisme yang pararel dengan materialisme, maka sejarah pemikiran Islam seolah jalan ditempat dalam arti tidak mengalami goncangan atau pembalikan seperti di kawasan masyarakat Barat (Eropa dan Amerika).
Kenyataannya, tidak seluruh yang bersifat spiritual atau rohaniah badan jiwani menjadi lenyap di dunia Barat seperti juga tidak seluruh yang berkaitan dengan hal-hal yang metafisik, dalam arti tak dapat ditera dengan ukuran rasional logika formal atau ukuran positif dan materiil, hilang dari praktik kehidupan masyarakat di dunia Barat. Misalnya, angka 13 menjadi sesuatu yang misterius dalam kehidupan dunia Barat ketika tidak akan pernah ditemukan dalam seluruh hotel berbintang di Eropa dan Amerika seperti juga tidak ditemukan di nomor kursi pesawat terbang atau kapal laut. Wajar jika banyak orang mengaitkan pemilihan pimpinan pusat Muhammadiyah yang berjumlah 13 dengan dekonstruksi keyakinan mistik dunia Barat yang serta merta kita tiru tanpa secuilpun penjelasan yang masuk akal.
Catatan perjalanan berikut ini mungkin menarik dicermati dalam memahami kecenderungan kehidupan masyarakat di dunia Barat yang sekuler berbasis pada paham materialisme. Tahun 2006, sesudah bencana gempa melanda kawasan Yogyakarta dan sekitarnya, penulis berkesempatan berkunjung ke India bagian selatan untuk melihat kehidupan spiritual di kawasan itu yang antara lain ditunjukkan oleh kegiatan sebuah lembaga yang dikenal dengan nama Oness University. Di kawasan yang gersang terhampar beribu hektar gundul dengan bebatuan plontos itu, lembaga ini membangun sebuah padepokan yang mampu menampung ribuan orang. Setiap hari ribuan orang dari seluruh dunia dan berbagai kawasan India datang ke kawasan ini. Antara lain datang dari Jerman, Belanda, dan berbagai kawasan Eropa, dari Amerika, dan dari Australia.
Waktu itu penulis bertemu dengan seorang pengunjung yang datang dari New York, saat sarapan pagi bersama penulis dapati si bule Amerika ini membawa sebuah buku yang dari sampulnya terbaca sebuah nama terkenal di dunia sufi yaitu Jalaluddin Rumi. Sementara si orang Jerman yang juga berkunjung selama beberapa hari (umumnya pekat waktu 15 hari) ternyata seorang Mursyid
57
SUARA MUHAMMADIYAH 17 / 95 | 1 - 15 SEPTEMBER 2010
SOHIFAH
Naqsyabandi. Si pengagum Rumi itu hampir pasti bukan Muslim dan jelas bukan kelahiran Timur Tengah. Ketika kami bercakap tentang persoalan-persoalan sufi, si bule Amerika dan Australia juga yang Belanda itu ikut terlibat aktif, tentu pasti si Jerman yang Mursyid itu. Boleh jadi, orang-orang Barat yang maju secara teknologi dan berlimpah materi itu tetap memerlukan satu hal yang tidak mereka dapati di kawasan itu dengan baik, yaitu kesyahduan hidup.
Perikehidupan Muslim lebih asyik dengan kesyahduan non-materiil dengan (mungkin) keterbelakangan teknologi dan kemiskinan (kecuali mereka yang tinggal di bumi minyak). Sementara kawasan Barat yang sekuler berlimpah materi, hidup nyaman dengan jalan-jalan yang mulus dan transportasi yang lancar tapi boleh jadi gersang ketika dunianya habis bagai tanpa sisa. Pelajar dan himah dari kisah singkat tersebut di atas ialah perlunya memetafisikkan kembali materialisme-positifitis peradaban Barat yang merambah ke seluruh kawasan jagad bersamaan dengan memanusiakan kajian-kajian sufistik yang metafisik dan spiritual. Sehingga berfungsi bagi penyejahteraan masyarakat di kawasan bangsa-bangsa Muslim. Di wilayah kemanusiaan universal yang banyak menjadi perhatian kaum sufi ini, bangsa-bangsa sekuler bisa membuka diri bagi dialog konstruktif dengan bangsa-bangsa yang selama ini asyik dengan dunia rohaninya.
Banyaknya kasus bunuh diri yang seringkali terjadi bagi masyarakat miskin bukan semata karena kemiskinannya, melainkan juga akibat ketiadaan ruang spiritual ketika agama pun
sering terperangkap rumus-rumus materiil matematika yang positifis seperti hukum fikih yang hanya dipahami pada aspek legal tanpa menyentuh maqasidnya bagi kemanusiaan. Dakwah Islam selama ini juga lebih mengedepankan logika fikih pada aspek legal positifnya tanpa atau kurang menyentuh aspek maqasidnya yang manusiawi dan sufistik dan spiritual-rohaniah. Di sinilah kembali pentingnya mengingat hakikat atau substansi ajaran puasa yang bukan sekedar menahan diri untuk tidak makan dan minum di siang hari karena jika demikian itu hanyalah puasa dalam arti materiil pada ranah sekulernya. Puasa kaffah dan sumul jika bersama itu juga dilakukan dengan mesu jiwo (menahan nafsu) yang wujudnya ialah kesantunan, kerendah-hatian (tawadldlu), selalu membela mereka yang tertindas dan menderita (dalam arti sempit maupun dalam arti luas).
Di sinilah makna pernyataan kritis seorang Filsuf berkebangsaan Jerman, Nietscze bahwa “Tuhan telah mati” ketika menyaksikan pemimpin agama sibuk dengan dirinya sendiri berebut kuasa melupakan rakyat jelata yang tertindas dan kelaparan. Inilah pula makna gerakan teologi pembebasan dari Amerika Latin ketika para elite pemimpin agama berkolaborasi dengan penguasa yang korup. Karl Marx melakukan kritik serupa ketika fungsi agama lebih sebagai candu yang meninabobokan manusia untuk trimo ing pandum