Variabilitas konsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan laut dari citra satelit MODIS serta hubungannya dengan hasil tangkapan ikan pelagis di perairan Laut Jawa

197  70  Download (2)

Full text

(1)

1 1.1Latar Belakang

Keberadaan ikan di perairan bersifat dinamis dan secara alamiah ikan akan bermigrasi untuk memilih habitat yang sesuai akibat perubahan parameter

oseanografi perairan seperti suhu, arus, dan kesuburan perairan. Keberadaan ikan di perairan sangat dipengaruhi oleh suhu. Suhu perairan adalah salah satu faktor penting dalam kehidupan organisme di laut, dapat mempengaruhi aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme tersebut, juga menjadi indikator dari fenomena perubahan iklim (Hutabarat dan Evans,1986). Namun demikian, keberadaan ikan juga diduga dipengaruhi oleh parameter-parameter lingkungan lain seperti penyebaran fitoplankton. Sebagaimana diketahui bahwa fitoplakton berperan sebagai produsen primer dalam rantai makanan di perairan, yang selanjutnya dapat mempengaruhi kesuburan perairan dan keberadaan ikan. Menurut Nybakken (1988), indikator kesuburan perairan dapat diukur dari kandungan klorofil-a. Klorofil-a merupakan pigmen yang paling umum terdapat pada fitoplankton dan berperan dalam proses fotosintesis.

(2)

parameter oseanografi seperti kandungan klorofil-a dan suhu permukaan yang berdampak pada pola musim penangkapan ikan di Laut Jawa.

Penginderaan jauh merupakan suatu teknik yang dapat diaplikasikan untuk pengamatan parameter oseanografi perairan seperti kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut (SPL) baik secara spasial maupun temporal. Teknik penginderaan jauh memiliki kemampuan yang tinggi dalam menganalisis area yang luas dan sulit ditempuh dengan cara konvensional dalam waktu yang

singkat. Salah satu satelit penginderaan jauh yang dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi kandungan klorofil-a dan sebaran SPL pada perairan adalah satelit AquaModerate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS).

Data satelit Aqua MODIS dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi klorofil-a dan sebaran SPL di perairan Laut Jawa. Variasi kondisi oseanografi Laut Jawa berhubungan dengan variasi hasil tangkapan ikan. Oleh karena itu, pemantauan karakteristik parameter oseanografi seperti kandungan klorofil-a dan SPL penting dilakukan sebagai salah satu aspek dalam mengkaji pengelolaan perikanan di Laut Jawa.

1.2Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis variasi spasial dan temporal konsentrasi klorofil-a dan sebaran SPL di perairan Laut Jawa dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya.

(3)

3 2.1Kondisi Umum Perairan Laut Jawa

Keadaan umum perairan Laut Jawa dipengaruhi oleh kondisi geografis dan lingkungan oseanik dimana pada bagian timur berhubungan dengan perairan Selat Makassar dan Laut Flores, sedangkan pada bagian barat berhubungan dengan Samudera Hindia melalui Selat Sunda sebagai terusan dan Laut Cina Selatan melalui Selat Karimata. Batasan geografis Laut Jawa berada diantara 3⁰-7⁰ LS dan 108⁰-116⁰ BT dengan kedalaman rata-rata 40 meter. Keadaan geografis tersebut menggambarkan bahwa kondisi bio-ekologis perairan Laut Jawa dengan luasan sekitar 450.000 km² secara fisik sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu siklus musiman yang berkaitan dengan perubahan karakteristik lingkungan sebagai dari proses perubahan internal badan air Laut Jawa, serta perubahan jangka panjang parameter iklim dan faktor osilasi internal yang berkaitan dengan perubahan curah hujan sebagai dampak terjadinya El-Nino (Potier,1998 dalam Atmadja et al., 2003)

Atmadja et al. (2003) menyatakan perubahan kondisi bio-ekologis sebagai akibat siklus musiman sangat berkaitan dengan dua faktor utama yaitu:

1) Masukkan massa air tawar yang berasal dari lingkungan terestrial terutama dari sungai-sungai besar di Pulau Kalimantan dan pada kurun waktu musim barat daya yang berakibat pada terjadinya pencampuran massa air Laut Jawa sehingga terjadinya penurunan salinitas.

(4)

Karakteristik massa air dan iklim Laut Jawa dipengaruhi langsung oleh dua angin muson, yaitu angin muson barat yang berlangsung antara bulan

September-Februari dan angin muson timur yang berlangsung antara bulan Maret –Agustus. Pada muson timur, massa air bersalinitas tinggi (>34 ‰) memasuki Laut Jawa melalui Selat Makassar dan Laut Flores, sedangkan pada muson barat, selain terjadi pengenceran oleh air sungai juga masuk air bersalinitas rendah (<34 ‰) yang berasal dari Laut Cina Selatan mendorong massa air bersalinitas tinggi kebagian Timur Laut Jawa (Veen, 1953; Wyrtki, 1961; dalam Atmadja ed al., 2003).

Pada musim barat salinitas maksimum di perairan Laut Jawa berasal dari Laut Cina Selatan menuju ke Laut Jawa dan saat musim timur salinitas maksimum berasal dari perairan Laut Flores dan Selat Makassar menuju ke Laut Jawa sampai sebelah Utara Selat Karimata. Saat musim barat perairan Indonesia bagian barat dari Laut Cina Selatan sampai Laut Banda nilai suhu dan salinitas permukaan menurun, dan proses ini akan menghambat laju Arlindo dari Selat Makassar dan Laut Flores. Sebaliknya saat musim timur massa air dari arah Selat Makassar dan Laut Flores sebagian akan menuju Laut Jawa dan selanjutnya suhu akan menurun dan salinitas akan meningkat (Hadikusumah, 2008).

(5)

2.2Fitoplankton dan Klorofil-a

Fitoplakton adalah tumbuhan berukuran sangat kecil dan hidupnya terapung atau melayang-layang dalam kolom perairan, sehingga pergerakannya dipengaruhi oleh pergerakan air (Odum,1971). Fitoplankton sebagai tumbuhan sel tunggal berukuran mikroskopik yang sangat berperan dalam menunjang

kehidupan di dalam perairan dan berfungsi sebagai sumber makanan organisme perairan dapat digunakan sebagai salah satu kajian untuk menduga sebaran konsentrasi klorofil-a pada perairan. Menurut Nontji (1984), berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi besarnya biomassa, produktifitas ataupun suksesi fitoplankton adalah suhu, salinitas, cahaya, dan hara.

Klorofil-a adalah zat hijau daun yang terkandung dalam fitoplankton yang berperan sebagai pigmen terpenting karena berfungsi untuk melakukan proses fotosintesis. Sebaran klorofil-a di laut bervariasi secara geografis maupun kedalaman perairan. Variasi ini disebabkan oleh perbedaan intensitas cahaya matahari dan konsentrasi nutrien di perairan. Sebaran konsentrasi klorofil-a lebih tinggi pada perairan pantai dan pesisir, serta rendah diperairan lepas pantai, namun pada daerah-daerah tertentu di perairan lepas pantai dijumpai konsentrasi klorofil-a dalam jumlah yang cukup tinggi. Keadaan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi nutrien yang dihasilkan melalui proses terangkatnya nutrien dari lapisan dalam ke lapisan permukaan (Valiela,1984 dalam Masrikat et al., 2009).

Kandungan klorofil-a juga digunakan sebagai ukuran jumlah fitoplankton pada suatu perairan dan dapat digunakan sebagai petunjuk produktifitas perairan. Melimpahnya nutrien dari runoff dan pendaurulangan di daerah pantai

(6)

thn-1) merupakan penyangga populasi zooplankton dan organisme bentos (Nybakken, 1988).

Dari distribusi vertikal klorofil di laut dapat terlihat secara keseluruhan konsentrasi klorofil maksimal ditemukan di daerah permukaan atau dekat daerah permukaan dan diwaktu yang lain dapat ditemukan di daerah kedalaman ephotik atau di bawahnya. Zona eufotik tebalnya bervariasi dari beberapa puluh sentimeter pada perairan yang keruh hingga lebih dari 150 meter pada perairan yang jernih (Parsons et al., 1984).

Menurut Robinson (1985) perairan berdasarkan sifat optisnya dibagi menjadi dua tipe yaitu tipe perairan 1 dan tipe perairan 2. Perairan tipe 1 merupakan perairan dimana komponen optik didominasi oleh fitoplankton dan produk-produk degradasinya. Perairan tipe 2 didominasi oleh sedimen tersuspensi (suspended sediment) non organik atau yellow substant. Gaol dan Sadhotomo (2007) menyatakan distribusi horizontal klorofil-a rata-rata bulanan di Laut Jawa menunjukkan konsentrasi klorofil-a lebih tinggi di perairan sekitar pantai dan semakin jauh dari pantai konsentrasi klorofil semakin kecil. Konsentrasi klorofil-a dibagian timur Laut Jawa yakni di sekitar pantai Kalimantan lebih tinggi

dibandingkan dengan wilayah Laut Jawa bagian tengah.

(7)

2.3Suhu Permukaan Laut

Suhu merupakan suatu besaran fisika dimana banyaknya bahang (energi panas) terkandung dalam suatu benda. Suhu air laut pada daerah permukaan sangat tergantung dari jumlah bahang yang diterima dari sinar matahari. Menurut Hutabarat dan Evans (1986) pembagian SPL secara horizontal akan sangat

tergantung pada letak lintangnya. Semakin tinggi letak lintangnya, maka nilai SPL nya akan semakin rendah, karena daerah ekuator menerima lebih banyak radiasi matahari dari pada di daerah berlintang tinggi. Nilai suhu mengalami perubahan terhadap kedalaman. Hal ini diakibatkan oleh adanya variasi antara bahang yang diserap, efek konduksi dari bahang, permukaan air yang selalu bergerak oleh arus, dan gerak vertikal air laut (Hutabarat dan Evans, 1986)

Menurut Hutabarat dan Evans (1986) ada tiga faktor yang menyebabkan daerah tropik lebih banyak menerima bahang dari pada daerah kutub, yaitu:

1. Sinar matahari yang merambat melalui atmosfer sebelum sampai di daerah kutub akan banyak kehilangan bahang dibandingkan dengan daerah ekuator akibat jarak yang ditempuh sinar matahari ke daerah kutup lebih jauh dibandingkan dengan daerah ekuator.

2. Di daerah kutub, sinar matahari yang sampai di permukaan bumi akan tersebar pada daerah yang lebih luas daripada daerah ekuator. Hal ini terjadi akibat bentuk bumi yang bulat sehingga pada daerah ekuator sinar matahari akan terpusat sedangkan pada daerah kutup sinar matahari akan menyebar. 3. Permukaan bumi di daerah kutub banyak menerima bahang yang

(8)

Fluktuasi SPL di Laut Jawa relatif kecil, perbedaan antara suhu maksimum dan minimum kurang dari 2⁰C dengan rata-rata berkisar antara 27⁰C-29⁰C (Potier, 1998 dalam Atmadja et al, 2003). Distribusi SPL secara horizontal biasanya berhubungan dengan fenomena musiman. Pada musim angin timur terlihat jelas SPL lebih dingin, hal ini menunjukkan adanya massa air dari bagian laut dalam, yaitu: Samudera Pasifik masuk ke Laut Jawa melalui Laut Flores dan Selat Makassar. Laut Jawa relatif lebih panas pada angin muson barat dibandingkan pada muson timur (Potier, 1998 dalam Atmadja et al, 2003).

Gaol dan Sadhotomo (2007) menyatakan pergerakan angin muson menyebabkan variasi SPL Laut Jawa, dimana pada saat periode muson tenggara (musim timur), angin dan arus di Laut Jawa bergerak dari timur ke barat

membawa massa air yang relatif lebih dingin masuk ke arah barat. Rata-rata SPL di Laut Jawa adalah 27.25o-28.25oC dengan SPL yang lebih tinggi berada di sebelah barat sedangkan pada periode muson barat laut (musim barat) massa air dari Laut Cina Selatan mengisi Laut Jawa dan mendorong massa air ke arah timur sesuai dengan arah pergerakan angin dan arus.

2.4Penginderaan Jauh untuk Mendeteksi Klorofil-a dan SPL

Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau fenomena dengan jalan menganalisis data yang diperoleh melalui alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1994).

(9)

menerima pantulan radiasi sinar matahari dari permukaan dan kolom perairan. Proses yang terjadi dalam sistem penginderaan jauh ocean color adalah transfer radiasi dalam sistem sinar matahari-perairan-sensor satelit. Sistem penginderaan jauh ocean color secara skematik dapat dilihat pada Gambar 1.

(Sumber : Sathyendranath, 1986 in IOCCG Report Number 3, 2000) Gambar 1. Sistem Penginderaan Jauh Ocean Color

Keterangan :

A = Pemantulan cahaya matahari oleh atmosfer sebelum dan sesudah dipantulkan oleh permukaan laut

B = Pemantulan cahaya matahari oleh permukaan laut C = Pemantulan cahaya matahari oleh partikel di permukaan

(10)

Perjalanan radiasi sinar matahari pada saat menuju perairan dipengaruhi oleh atmosfer, dimana sebelum sinar matahari mencapai perairan akan diserap atau dihamburkan oleh awan, molekul udara dan aerosol. Sinar matahari yang masuk ke dalam kolom perairan akan diserap atau dipantulkan oleh partikel-partikel yang ada di perairan seperti fitoplankton, sedimen tersuspensi (suspended sediment) dan substansi kuning (yellow substances). Cahaya matahari yang dipantulkan oleh partikel-partikel yang ada di perairan dan ditangkap oleh sensor satelit secara skematik dapat dilihat pada Gambar 2.

(Sumber : IOCCG Report Number 3, 2000)

Gambar 2. Pemantulan Cahaya Matahari oleh Partikel-Partikel di Perairan

Keterangan :

(11)

C = Penyerapan cahaya matahari oleh material yellow-substances D = Pemantulan cahaya matahari oleh dasar perairan

E = Pemantulan cahaya matahari oleh fitoplankton F = Material inorganic tersuspensi

G = Material yellow-substances H = Fitoplankton

Satelit memanfaatkan sifat optis air untuk menangkap pantulan gelombang elektromagnetik dari klorofil-a. Dalam perjalanannya menuju sensor, pantulan tersebut tidak hanya gelombang dari klorofil-a itu sendiri tetapi juga dari material-material atmosfer serta konfigurasi permukaan dimana klorofil-a itu berada. Klorofil-a mengabsorbsi cahaya dengan baik pada kanal biru (430 nm) dan kanal merah (660 nm), sedangkan pantulan maksimum dari cahaya terdapat fitoplankton terjadi pada kanal hijau karena klorofil-a sangat sedikit menyerap radiasi

gelombang elektromagnetik (Curan, 1985).

(12)

2.5Karakteristik Satelit Aqua MODIS

Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) merupakan sensor utama pada satelit Terra (EOS AM) dan Aqua (EOS PM) yang merupakan bagian dari program antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA). Sensor MODIS pertama kali diluncurkan bersama satelit Terra pada tanggal 18 Desember 1999 dengan spesifikasi lebih fokus untuk daerah daratan. Pada tanggal 4 Mei 2002 diluncurkan satelit Aqua yang membawa sensor MODIS dengan spesifikasi daerah laut. Satelit Aqua MODIS dapat dilihat pada Gambar 3.

(Sumber : Gambar 3. Satelit Aqua MODIS

Satelit Aqua MODIS merupakan satelit ilmu pengetahuan tentang bumi kepunyaan NASA yang memiliki misi untuk mengumpulkan informasi

(13)

awan, presipitasi, kelembaban tanah, es yang ada di darat, serta salju yang menutupi daratan. Variabel yang diukur oleh satelit Aqua antara lain aeserol, tumbuhan yang menutupi daratan, fitoplankton dan bahan organik terlarut di lautan, serta suhu udara, daratan dan air.

Satelit Aqua MODIS mempunyai orbit near-polarsun-synchronus, yaitu: orbit yang melewati daerah kutup dan satelit yang mengelilingi bumi dari Kutup Utara ke Kutup Selatan atau sebaliknya. Spesifikasi dari satelit Aqua MODIS dapat dilihat pada Tabel 1:

Tabel 1. Spesifikasi Satelit Aqua MODIS. Orbit

705 km, 1:30 p.m, node ascending (Aqua), sun-synchronous, near-polar, sirkular Rataan scan 20,3 rpm

Luas sapuan 2330 km (jalur yang bersinggungan) dengan lintang 10 derajat lintasan pada nadir

Dimensi teleskop 17,78 cm

Ukuran satelit 1,0 x 1,6 x 1,0 m

Berat 228,7 kg

Daya 162,5 Watt (rata-rata satu orbit)

Data 10,6 Mbps (per hari); 6,1 Mbps (per orbit) Resolusi radiometrik 12 bit = 4096

Resolusi spasial

250 m (band 1-2), 500 m (band 3-7), 1000 m (band 8-36)

Umur 6 tahun

Sumber:

(14)

Tabel 2. Kegunaan Utama dan Panjang Gelombang Kanal-Kanal Sensor MODIS Kegunaan utama Kanal Panjang gelombang (nm)

Batasan daratan/awan/aerosol 1 620 – 670

2 841 – 876

Kajian tentang sifat daratan/ awan/ aerosol

3 459 – 479

Menganalisa kandungan uap air dari atmosfer

Menganalisa tentang suhu atmosfer 24 4433 – 4498

25 4482 – 4549

Menganalisa kandungan uap air awan cirrus

26 1360 – 1390

27 6535 – 6895

28 7175 – 7475

Menganalisa sifat awan 29 8400 – 8700

Menganalisa sifat ozon 30 9580 – 9880

(15)

2.6Ikan Pelagis di Laut Jawa

Sumber daya ikan pelagis di Laut Jawa terdiri dari komunitas ikan pelagis pantai (Sardinella spp, Rastrelliger branchysoma, Dusumieria acuta, Selar spp), ikan pelagis neritik dan oseanik (Decapterus russelli, Selar crumenophthalmus, Rastrelliger kanagurta, Decapterus macrosoma, Amblygaster sirm, Megalaspis cordyla, Scomberomorus spp, Auxis thazard). Lima spesies utama hasil

tangkapan pukat cincin (purse seine), yaitu: ikan layang (Decapterus russelli dan Decapterus macrosoma), bentong (Selar crumenophthalmus), banyar

(Rastrelliger kanagurta), dan ikan siro (Amblygaster sirm). Kelompok jenis ikan layang (Decapterus spp) merupakan komponen utama di Laut Jawa. Dominasi ikan ini terjadi pada daerah penangkapan yang dipengaruhi oleh massa air yang bersifat oseanik. Penyebaran ikan pelagis berdasarkan hasil tangkapan pukat cincin menunjukkan konsentrasi ikan pelagis berada di bagian timur Laut Jawa (Atmadja et al., 2003)

Keberadaan dan jenis ikan layang sebagai tujuan penangkapan sangat menentukan pola aktifitas penangkapan armada pukat cincin dimana pukat cincin merupakan alat tangkap utama yang digunakan oleh nelayan di perairan Laut Jawa. Konsentrasi D. macrosoma berada di bagian Timur Laut Jawa dan Selat Makassar. Sedangkan D. russelli memperlihatkan sebaliknya, ikan ini

(16)

Jawa dan Selat Makassar terjadi pada bulan September-Februari, konsentrasi R. Kanagurta tertinggi pada bulan Juni-Agustus dan konsentrasi A. sirm tertinggi pada bulan Desember-Mei (Atmadja dan Sadhotomo, 2000)

Perubahan komposisi ikan hasil tangkapan umum terjadi pada perikanan multi-spesies. Selain dominasi ikan pelagis kecil yang disebut di atas, kerap kali tertangkapnya spesies yang tidak biasa dalam jumlah banyak, seperti ikan sawanggi (Priacanthus macracanthus) pada tahun 1991-1992, ikan cekong (Sardinella sp) di daerah penangkapan Selat Sunda dan Utara Indramayu pada tahun 1997-1998 dan terakhir kemunculan ikan ayam-ayaman (Leather jacket, Alesterus monoceros) selama bulan Oktober-Desember 2002 di daerah Timur Laut Jawa. Kemunculan spesies-spesies tersebut belum diketahui penyebabnya secara pasti, namun dugaan awal berkaitan dengan perubahan lingkungan yang anomaly (Atmadja et al., 2003)

Ikan pelagis memiliki respon yang berbeda-beda terhadap faktor

oseanografi seperti SPL, konsentrasi klorofil-a dan salinitas perairan. Ikan layang merupakan ikan yang mempunyai sifat stenohalin, artinya hidup pada perairan dengan salinitas yang sempit. Salinitas yang optimal untuk ikan layang berkisar antara 31‰ - 33‰ (Nontji, 2005). Ikan kembung lelaki hidup optimal di daerah perairan lepas pantai yang merupakan perairan terbuka dengan kadar garam 33‰ - 35‰ dengan kondisi arus yang tidak begitu kuat. Ikan kembung lelaki

(17)
(18)

18 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Lokasi kajian untuk mendapatkan nilai konsentrasi klorofil-a dan SPL dari citra satelit terletak di perairan Laut Jawa (Gambar 4). Perairan ini terletak pada koordinat 106⁰ BT – 117⁰ BT dan 3⁰ LS - 7⁰ LS. Pengambilan data hasil

tangkapan ikan dilakukan di PPN Pekalongan, Jawa Tengah. Kegiatan

pengambilan data ini (data hasil tangkapan ikan) dilakukan pada bulan Juni 2011 – bulan Juli 2011.

Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian.

3.2. Alat dan Data Penelitian

(19)

1. SeaDas dengansistem operasi Linux Ubuntu 10.04 untuk mendapatkan nilai konsentrasi klorofil-a dan SPL dalam bentuk ASCII dari citra Aqua MODIS.

2. Microsoft Word 2007 dan Microsof Excel 2007.

3. WinRAR 3.42 untuk mengekstrak citra Aqua MODIS level 3 konsentrasi klorofil dan SPL mingguan.

4. Surfer 8.0 untuk menampilkan pergerakan angin musson dan perubahan musim di lokasi penelitian.

5. ODV 3 untuk menampilkan sebaran SPL dan konsentrasi klorofil-a secara spasial.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

1. Citra satelit Aqua MODIS level-3 dengan resolusi 4x4 km. Citra yang digunakan merupakan composite data mingguan selama 5 tahun (2006-2010) yang diperoleh dari webside National Aeronatic Space Agency

(NASA)

informasi tentang lintang, bujur, daratan, garis pantai, nilai rata-rata klorofil-a dan nilai rata-rata SPL.

2. Data angin bulanan selama 5 tahun (2006-2010) dengan resolusi spasial 1.5⁰x1.5⁰ yang diperoleh dengan cara mengunduh dari situs

3. Data curah hujan bulanan yang diperoleh dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika).

(20)

3.3. Metode Pengolahan Data

3.3.1. Konsentrasi Klorofil-a dan SPL

Pemrosesan citra satelit Aqua MODIS untuk mendapatkan nilai

konsentrasi klorofil-a dan SPL melalui beberapa tahapan, yaitu: pengumpulan citra (downloat citra level 3), pemotongan citra (cropping), dan konversi data. Data satelit Aqua MODIS level-3 berupa data digital compressed dalam format Hierarchical Data Format (HDF) yang sudah terkoreksi radiometrik dan atmosferik. Data tersebut kemudian diekstrak menggunakan perangkat lunak WinRAR 3.42. Pengolahan data dilanjutkan dengan menggunakan perangkat lunak SeaWIFS Data Analisys System (SeaDas) dengansistem operasi Linux Ubuntu 10.04. Pada tahap ini dilakukan pemotongan citra (cropping ) berdasarkan wilayah penelitian. Hasil (output) dari pemotongan citra dikonversi kedalam bentuk berupa data American Standard Code for Information Interchange (ASCII) yang didalamnya memiliki variabel bujur, lintang, nilai estimasi konsentrasi klorofil-a dan SPL.

Data ASCII kemudian dibuka diperangkat lunak Microsof Excel 2007. Tahap selanjutnya adalah kontrol data ASCII yang bertujuan untuk

(21)

Perata-rataan data mingguan menjadi data bulanan dilakunan dengan menggunakan perangkat lunak Microsof Excel 2007.

Selanjutnya untuk menampilkan sebaran spasial SPL dan klorofil-a

menggunakan perangkat lunak ODV 3. Data yang sudah terkontrol diolah kembali dengan menggunakan ODV 3. Tampilan dari sebaran spasial SPL dan konsentrasi klorofil-a berupa tampilan gambar dengan ekstensi *JPAGE. Secara garis besar tahapan pengolahan data disajikan pada Gambar 5.

(22)

3.3.2. Data Hasil Tangkapan

Data hasil tangkapan ikan diolah dengan menggunakan Microsof Excel 2007 untuk mengetahui fluktuasi bulanan hasil tangkapan ikan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan, Jawa Tengah. Data hasil tangkapan disajikan dalam bentuk grafik time series dan diinterpretasikan berdasarkan jumlah tertinggi dan terendah hasil tangkapan ikan bulanan.

Produktifitas suatu alat tangkap dapat diduga dengan melihat hubungan antar hasil tangkapan (catch) dengan upaya penangkapan (effort), yang disebut Catch Per Unit Effort (CPUE). Dalam penelitian ini data catch merupakan data hasil tangkapan ikan pelagis yang didaratkan dari sejumlah kapal yang merupakan upaya penangkapan (effort). Hal ini dapat digambarkan melalui persamaan

sebagai berikut (Gulland, 1983 dalam Syarif et al., 2009):

CPUE = ... (1) Keterangan :

CPUE = Hasil per upaya tangkap

Ct = Hasil tangkapan pada bulan ke-t

Et = Upaya penangkapan pada bulan ke-t

(23)

tangkap standar. Rumus yang dipakai untuk menghitung FPI adalah sebagai

Perhitungan upaya penangkapan standar diperoleh dari hasil kali antara nilai FPI masing-masing alat tangkap yang distandarisasi dengan upaya

penangkapan yang akan distandarisasi.

fs = FPI x fdst ... (3)

Keterangan :

fs = upaya penangkapan hasil standarisasi

fdst = upaya penangkapan yang akan distandarisasi

Nilai CPUE dihitung kembali dengan upaya penangkapan yang baru yaitu niai upaya penangkapan setelah dilakukan standarisasi upaya penangkapan.

=

... (4) Keterangan :

CPUESi = Hasil per upaya tangkap yang telah distandarisasi bulan ke i

Ci = Hasil tangkapan pada bulan ke i Ei = Upaya penangkapan pada bulan ke i

(24)

3.4. Analisis Data

3.4.1. Analisis Konsentrasi Klorofil-a dan Sebaran SPL

Sebaran konsentrasi klorofil-a dan SPL dari citra Aqua MODIS dianalisis secara spasial dan temporal. Analisis spasial dilakukan secara visual dengan melihat pola persebaran konsentrasi klorofil-a dan SPL setiap bulannya di Laut Jawa. Pola persebaran ini terlihat dari pola degradasi warna konsentrasi klorofil-a dan SPL. Analisis temporal konsentrasi klorofil-a dan SPL dilakukan secara serial tahunan dimana kedua nilai rata-rata parameter ini dimasukkan kedalam grafik. Fluktuasi dari nilai rata-rata kedua parameter ini memperlihatkan fenomena yang terjadi selama periode penelitian.

3.4.2. Analisis Korelasi Konsentrasi Klorofil-a dan Sebaran SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan

Hubungan antara konsentrasi klorofil-a dan sebaran SPL dengan hasil tangkapan ikan dilakukan dengan analisis korelasi linear. Analisis korelasi linear merupakan ukuran hubungan linear antara dua peubah acak X dan Y, dan

dilambangkan dengan r (Walpole, 1982). Peubah acak X merupakan nilai dari konsentrasi klorofil-a dan SPL. Sedangkan peubah acak Y merupakan nilai CPUE hasil tangkapan. Ukuran korelasi linear antara dua peubah yang paling banyak digunakan adalah koefisien korelasi momen-hasil kali Pearson atau korelasi Pearson. Adapun rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Walpole, 1982):

r =

... (5)

Keterangan :

(25)

X = SPL dan klorofil-a Y = CPUE ikan pelagis

(26)

26

4.1Distribusi SPL secara Spasial dan Temporal

Pola distribusi SPL sangat erat kaitannya dengan pola angin yang bertiup pada suatu daerah. Wilayah Indonesia sendiri dipengaruhi oleh angin musim (monsoon) yaitu angin musim barat dan angin musim timur. Pada saat musim barat (Desember – Februari) SPL di Laut Jawa dipengaruhi oleh massa air yang berasal dari Laut Cina Selatan dan bergerak mendorong massa air yang berasal dari Laur Flores dan Selat Makassar. Hal ini berdampak pada distribusi SPL di Laut Jawa (Gambar 6). Musim barat adalah musim dimana bumi belahan utara sedang berlangsung musim dingin dan bumi belahan selatan sedang berlangsung musim panas (Nontji, 2005).

(27)

27 Musim Barat Musim Peralihan 1

Catatan : (A. = Januari) (B. = Februari)(C. = Maret) (D. = April) (E. = Mei) (L. = Desember)

(28)

Bulan Januari SPL Laut Jawa menunjukkan penurunan suhu yang cukup signifikan. Bulan ini SPL rata-rata berkisar antara 27°C - 29°C. Penurunan ini terlihat jelas dengan adanya massa air yang bersuhu dibawah 28°C yang berada di Laut Jawa bagian tengah, sedangkan massa air dengan suhu besar dari 30°C hanya berada di perairan di Selatan Kalimantan Selatan.(Gambar 6). Bulan Februari SPL di Laut Jawa menunjukkan terjadinya peningkatan dengan rata-rata SPL berkisar antara 29°C – 31°C dengan SPL yang lebih hangat yang berada di Laut Jawa bagian timur.

Bulan Maret merupakan awal dari musim peralihan 1 (Maret – Mei) dimana angin barat masih berhembus tetapi kecepatannya sudah berkurang. Pada daerah Ujung Timur Laut Jawa terjadi benturan arah angin yang menuju ke arah barat yang berbenturan dengan arah angin yang menuju ke arah timur. Pada bulan Maret SPL Laut Jawa penyebarannya sudah tidak beraturan dengan kisaran SPL antara 29°C – 30°C. SPL yang masih tinggi terdapat pada daerah-daerah disekitar Pesisir Utara Jawa dan Selatan Kalimantan dan semakin rendah SPL menuju perairan lepas pantai.

Bulan April dan bulan Mei arah angin sudah tidak menentu. Khususnya pada bulan Mei angin musim timur sudah mulai masuk ke perairan Laut Jawa sedangkan angin musim barat peranannya sudah sangat lemah. Hal ini

(29)

Masih tingginya SPL ini disebabkan karena sedikitnya pergerakan air yang melintasi Laut Jawa akibat hilangnya pengaruh dari angin musim barat dan belum besarnya pengaruh dari angin musim timur. Air laut ini terkesan diam menempati kolom perairan Laut Jawa sehingga pengaruh dari faktor meteorologi seperti suhu udara dan intensitas sinar matahari menyebabkan perlahan-lahan SPL Laut Jawa meningkat. Nontji (2005), menyatakan pada musim peralihan arus sudah mengalir ke arah barat di pantai Selatan Kalimantan dan di lepas pantai Utara Jawa arus sudah mengalir ke arah timur sehingga dibeberapa tempat terjadi olakan (eddies).

Bulan Mei memperlihatkan terjadinya penurunan SPL dengan rentang nilai 30°C - 31°C. Penurunan ini terjadi di daerah perairan Laut Jawa bagian timur. Hal ini diduga terjadi karena mulai adanya pengaruh dari musim timur yang membawa massa air yang bersuhu lebih rendah. Musim timur (Juni – Agustus) ditandai dengan terjadinya tekanan udara yang tinggi di atas daratan Australia dan tekanan udara yang rendah di atas daratan Asia sehingga arah angin pada musim timur bergerak dari timur ke barat. Pergerakan arah angin ini

menyebabkan arus yang membawa massa air dari Laut Flores dan Selat Makassar melintasi perairan Laut Jawa menuju Laut Cina Selatan. Massa air yang bergerak ini mempunyai SPL yang cukup rendah jika dibandingkan dengan SPL pada musim barat (Gambar 7).

(30)
(31)

Pada bulan Juli SPL Laut Jawa berkisar antara 28°C - 29°C . Massa air dengan SPL sebesar 28°C yang berasal dari Selat Makassar dan Laut Flores memasuki Laut Jawa sampai ke perairan Selatan Kalimantan Tengah. Massa air ini mendorong massa air dengan SPL sebesar 29°C sampai ke perairan Utara Jawa Barat. Bulan Agustus merupakan bulan puncak dari musim timur yang ditandai dengan turunnya SPL Laut Jawa sampai suhu 27°C pada perairan Utara Pulau Madura. Massa air dengan suhu 28°C terdorong oleh angin sampai ke perairan Utara Jawa Tengah. Massa air dengan suhu 29°C hanya terlihat disebagian kecil pesisir Utara Jawa Barat.

Musim peralihan 2 terjadi antara bulan September – November. Bulan September dan Oktober musim peralihan 2, angin masih didominasi oleh angin musim timur dan pada bulan November yang merupakan akhir dari musim peralihan 2, angin di Laut Jawa arahnya sudah tidak menentu karena adanya dorongan angin yang berasal dari arah barat sebagai pertanda akan dimulainya angin barat. Bulan September SPL Laut Jawa masih stabil dikisaran suhu 28°C. Penyebaran SPL yang relatif rendah ini mencapai perairan lepas pantai Utara Jawa Barat. Pada daerah perairan Utara Pulau Madura SPL yang terlihat lebih rendah dengan suhu sekitar 27°C. SPL dengan suhu 29°C hanya terlihat di daerah pesisir pantai. Hal ini diduga terjadi akibat adanya pengaruh suhu dari daerah daratan.

(32)

pantai menunjukkan suhu yang lebih hangat dan penurunan suhu massa air semakin turun menuju parairan lepas pantai. Bulan November merupakan akhir dari musim peralihan 2. dan pada bulan berikutnya siklus pergerakan massa air di Laut Jawa kembali berulang setiap tahunnya.

Perbedaan yang signifikan antara musim peralihan 1 dan 2 dapat dilihat pada SPL rata-rata yang mendominasi perairan. Pada musim peralihan 2, SPL yang terdapat di Laut Jawa lebih rendah jika dibandingkan dengan SPL pada musim peralihan 1. Hal ini terjadi karena pada musim timur, massa air yang bergerak masuk perairan Laut Jawa yang berasal dari Selat Makassar dan Laut Flores mempunyai SPL lebih rendah jika dibandingkan dengan massa air yang masuk ke Luat Jawa pada musim barat. Sehingga pemanasan massa air yang tertahan di Laut Jawa pada musim peralihan 1 dan 2 dalam jangka waktu yang sama menyebabkan SPL pada musim peralihan 2 lebih rendah jika di bandingkan dengan SPL pada musim peralihan 1.

Siklus pergerakan massa air di Laut Jawa selama rentang waktu penelitian menunjukkan pola yang hampir sama setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan penyebaran SPL di Laut Jawa tahun 2007-2010 (Lampiran 1) menunjukkan pola yang hampir sama dengan tahun 2006 (Gambar 6 dan Gambar 7). Perbedaan yang terlihat terdapat adanya kecenderungan naiknya SPL di Laut Jawa dari tahun 2009-2010. Kanaikkan SPL ini menyebabkan naiknya suhu rata-rata di Laut Jawa setiap bulannya.

(33)

ini hampir sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Karif (2010), dimana rata-rata SPL Laut Jawa dari citra satelit MODIS yang terekam berkisar antara 27,11°C – 31,73°C. Hal ini tidak berbeda jauh juga dilaporkan oleh Nontji (2005), dimana SPL Laut Jawa berkisar antara 28°C - 31°C. Rata-rata SPL mengikut i pola pergerakan angin musim yang ada di perairan Laut Jawa. SPL terendah terjadi pada saat musim barat dan musim timur sedang SPL tertinggi terjadi pada musin Peralihan 1 dan 2.

Gambar 8. Fluktuasi SPL rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010

(34)

Dari Gambar 8, terlihat ada beberapa bulan yang menunjukkan nilai SPL yang cukup tinggi atau cukup rendah dibandingkan dengan bulan-bulan

sebelumnya. SPL tertinggi terlihat terjadi pada bulan Maret 2007, Maret 2009, dan Maret 2010. Bulan-bulan in merupakan bulan dimana puncak dari musim peralihan 1. Sebagai mana yang telah dijelaskan diatas, musim peralihan 1 merupakan musim dengan nilai SPL tertinggi setiap tahunnya. Untuk SPL terendah terlihat terjadi pada bulan Agustus 2006, Agustus 2007, Agustus 2008. Bulan-bulan ini merupakan bulan dari puncak musim timur yang membawa massa air yang lebih dingin dari Selat Makassar dan Laut Flores menuju Laut Jawa.

Dalam kurun waktu 5 tahun, pergerakan rata-rata SPL di Laut Jawa cenderung mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat pada trend SPL pada Gambar 8 dimana terjadi trend SPL yang naik dari tahun 2006 – 2010. Kenaikan SPL di Laut Jawa ini berkisar 1°C dalam jangka waktu 5 tahun atau 0.2°C setiap tahunnya. Siregar dan Gaol (2010) menyebutkan telah terjadi kenaikan SPL di perairan Laut Jawa sebesar 0,1°C setiap tahunnya dari tahun 2001-2010.

(35)

4.2Distribusi Klorofil-a secara Spasial dan Temporal

Fitoplankton dapat hidup subur pada perairan disekitar muara sungai atau diperairan lepas pantai dimana terjadi air naik (upwelling). Pada dua lokasi ini terjadi proses penyuburan lingkungan perairan akibat masuknya zat hara dari luar kelingkungan tersebut. Perairan Laut Jawa merupakan perairan yang relatif dangkal dengan rata-rata kedalaman Laut Jawa sekitar 40 meter. Laut Jawa merupakan laut yang kaya akan kandungan zat hara kerena disepanjang pesisir pantai yang berada di Laut Jawa bermuara sungai-sungai besar yang membawa zat hara dari daratan ke wilayah perairan laut khususnya di pesisir pantai Selatan Kalimantan (Hadikusumah, 2008).

Musim barat merupakan musim angin yang membawa banyak hujan sedangkan musim timur sedikit membawa hujan (Nontji, 2005). Pada awal musim barat sekitar bulan Desember penyebaran klorofil-a di Laut Jawa berkisar antara 0.1 mg/m³ – 3 mg/m³ (Gambar 9). Penyebaran klorofil-a terkonsentrasi di

perairan Selatan Pulau Kalimantan dan konsentrasi klorofil-a akan terus menurun menuju perairan lepas pantai. Perairan lepas pantai sendiri menunjukkan

konsentrasi klorofil yang kecil dari 0,5 mg/m³. Untuk perairan Utara Pulau Jawa, penyebaran konsentrasi klorofil-a relatif kecil.

Bulan Januari dan Februari merupakan puncak dari musim barat. Intensitas curah hujan yang tinggi pada bulan-bulan ini mempengaruhi penyebaran

(36)
(37)

Daerah penyebaran klorofil-a dengan konsentrasi kecil dari 0,5 mg/m³ pada bulan Januari menyempit dan hanya terdapat di Tengah Laut Jawa. Untuk bulan Februari, penyebaran klorofil-a terlihat memiliki kontur yang lebih rapat. Konsentrasi klorofil-a paling besar terdapat di perairan Selatan Kalimantan Selatan dengan konsentrasi besar dari 3,5 mg/m³. Perairan Laut Jawa bagian barat yang berbatasan langsung dengan Pulau Sumatera mengalami kenaikan

konsentrasi klorofil-a. Hal ini terlihat dengan adanya sebaran klorofil-a sampai konsentrasi 3 mg/m³ pada perairan ini.

Memasuki musim peralihan 1 (Maret – Mei) penyebaran konsentrasi klorofil-a di Laut Jawa masih cukup besar. Hal ini terjadi karena masih adanya pengaruh dari musim barat. Pada bulam Maret terlihat penyebaran klorofil-a masih cukup besar khususnya di daerah perairan Selatan Kalimantan dan Barat Laut Jawa (Gambar 9). Perairan Laut Jawa sudah didominasi oleh konsentrasi klorofil-a kecil dari 0,5 mg/m³.

(38)
(39)

Memasuki musim timur (Juni – Agustus), penyebaran klorofil-a terlihat cukup besar pada bulan Juni. Klorofil-a dengan konsentrasi berkisar antara 0,5 mg/m³ - 1 mg/m³ memasuki perairan lepas pantai Laut Jawa. Akibatnya perairan dengan konsentrasi klorofil-a kecil dari 0,5 mg/m³ terlihat luasannya menyempit. Pada bulan Juli dan Agustus, Laut Jawa perlahan-lahan kembali didominasi oleh konsentrasi klorofil-a dengan nilai kecil dari 0,5 mg/m³. Konsentrasi klorofil-a yang cukup besar hanya tersebar di parairan Selatan Pulau Kalimantan.

Musim Peralihan 2 (September – November) merupakan musim dengan curah hujan yang cukup sedikit (Gambar 12). Hal ini berdampak pada penyebaran konsentrasi klorofil di Laut Jawa. Pada bulan September terlihat penyebaran konsentrasi klorofil-a hampir merata dengan nilai kecil dari 0,5 mg/m³ (Gambar 10). Konsentrasi klorofil cukup besar hanya terlihat di perairan Selatan Kalimantan saja. Untuk penyebaran klorofil-a bulan Oktober dan November hampir sama dengan bulan September. Penyebaran konsentrasi klorofil-a di Laut Jawa akan berulang setiap tahunnya mengikuti musim angin dan curah hujan yang turun di Indonesia khususnya di Pulau Kalimanatan yang memiliki banyak sungai besar yang bermuara di Laut Jawa. Pola penyebaran konsentrasi klorofil-a di Laut Jawa tahun 2007-2010 (Lampiran 2) hampir sama dengan pola penyebaran konsentrasi klorofil-a pada tahun 2006 (Gambar 9 dan Gambar 10).

Secara multi waktu kandungan klorofil-a yang dapat terdeteksi dari citra satelit Aqua MODIS dapat dilihat pada Gambar 11. Kandungan konsentrasi

(40)

konsentrasi klorofil setiap bulannya berfluktuasi mengikuti musim angin yang sedang berlangsung.

Gambar 11. Fluktuasi Klorofil-a rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010

(41)

Curah hujan yang terjadi di Luat Jawa diperoleh dari Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Data Curah hujan didapat dari 2 stasiun pengamatan, yaitu: stasiun meteorologi Serang Banten dan stasiun meteorologi Maritim Perak II, Surabaya. Dari data curah hujan yang terekam pada kedua stasiun meteorologi dari Januari 2005 – Desember 2010 memiliki pola curah hujan yang hampir sama pada setiap musim angin. Intensitas curah hujan pada kedua stasiun pengamatan dan konsentrasi klorofil-a di Laut Jawa dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Curah Hujan dan Konsentrasi Klorofil-a di Laut Jawa

(42)

konsentrasi klorofil-a sebesar 1,15 mg/m³ (Lampiran 4). Hal ini diduga terjadi karena besarnya intensitas curah hujan seperti yang terekam pada stasiun Perak II dimana bulan Februari 2009 merupakan bulan dengan nilai curah hujan terbesar dalam rentang waktu 2006 – 2010 yaitu 458 mm (Lampiran 5).

Memasuki musim peralihan 1, curah hujan sedikit bervariasi. Pada stasiun Serang Banten terjadi fluktuasi rata-rata curah hujan yang menggambarkan kenaikan pada bulan-bulan tertentu. Sedangkan untuk stasiun Perak II pada musim peralihan 1, curah hujan cenderung turun dari tahun-ketahunnya. Secara garis besar terjadi penurunan rata-rata curah hujan pada saat musim peralihan 1 jika dibandingkan dengan rata-rata curah hujan pada musim barat. Keadaan ini juga berdampak pada konsentrasi klorofil-a dimana terjadi fluktusi nilai rata-rata klorofil-a di Laut Jawa pada bulan-bulan musim peralihan 1 setiap tahunnya.

Musim timur dan awal bulan dari musim peralihan 2, rata-rata curah hujan pada kedua stasiun meteorologi mengalami penurunan yang sangat drastis. Dapat dilihat rata-rata curah hujan terendah terjadi sekitar bulan Juli – September dimana rata-rata curah hujan bisa mencapai angka 0 mm. Bulan-bulan ini merupakan puncak dari bulan musim kemarau di Indonesia. Untuk konsentrasi klorofil-a pada musim timur memperlihatkan terjadinya peningkatan pada bulan Juni dan kembali menurun pada bulan Juli dan Agustus. Peningkatan konsentrasi klorofil-a pada awal musim timur diduga terjadi karena masih adanya pengaruh dari musim peralihan 1 dimana curah hujan pada musim angin ini masih cukup tinggi.

(43)

minimum klorofil-a terjadi pada bulan November 2010 dengan nilai 0,22 mg/m³. Bulan-bulan pada musim peralihan 2 merupakan bulan-bulan kering dimana pengaruh dari musim timur sudah mulai hilang sedangkan curah hujan yang turun

disekitar perairan Laut Jawa mencapai titik minimumnya (Gambar11). Secara garis besar intensitas curah hujan dapat menggambarkan

bulan-bulan basah (curah hujan ≥ 150 mm/bulan) dan bulan-bulan kering (curah hujan < 150 mm/bulan) di perairan Laut Jawa. Bulan basah yang terekam oleh kedua stasiun BMKG berkisar antara bulan Desember – April (musim barat dan

peralihan 1) sedangkan bulan kering terjadi antara bulan Mei – November (musim timur dan peralihan 2). Peristiwa ini menyebabkan konsentrasi klorofil-a di

perairan Laut Jawa akan menurun secara drastis (musim timur dan peralihan 2) karena material-material atau zat hara yang masuk ke parairan melalui aliran sungai akan berkurang akibat berkurangnya debit air yang mengalir di sungai menuju laut. Sedangkan keadaan sebaliknya terjadi pada musim barat dan awal musim peralihan 1 dimana konsentrasi klorofi-a mencapai nilai maksimumnya. Runoff dari daratan yang kaya akan zat hara masuk ke perairan laut melalui aliran sungai yang debit airnya cukup besar akibat dari curah hujan yang tinggi.

(44)

hasil tangkapan ikan di Laut Jawa. Ikan yang didaratkan di PPN Pekalongan didominasi oleh ikan pelagis yang sebagian besar ditangkap menggunakan alat tangkap pukat cincin (purse seine), pukat cincin kecil (mini purse seine) dan jaring insang (gill net) (Lampiran 6). Menurut Chodriyah dan Tuti (2010), daerah penangkapan purse seine Pekalongan meliputi perairan Laut Jawa (Utara Tegal, Karimunjawa, Bawean, Masalembo, Matasiri, dan Kangean), perairan Laut Cina Selatan, dan Perairan Selat Makassar.

Produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Pekalongan didominasi oleh lima jenis ikan, yaitu: ikan layang (Decapterus Spp.), lemuru (Sardinella sirm), tongkol (Enthynnus affinis), banyar/kembung lelaki (Rastrelliger

kanagurta), dan tembang (Sardinella Spp)(Lampiran 7). Selain ikan-ikan tersebut hasil tangkapan lainnya berupa ikan demersal dan ikan pelagis kecil lainya. Nilai produksi hasil tangkapan kelima spesies ikan berfluktusi berdasarkan musim penangkapan ikan dimana setiap spesies ikan memiliki musim penangkapan ikan yang berbeda-beda. Laju produksi hasil tangkapan yang didaratkan setiap

bulannya dihitung dengan membagi total produksi ikan yang didaratkan dengan jumlah kapal yang melakukan penurunan hasil tangkapan di PPN Pekalongan. Nilai ini lebih dikenal dengan istilah Catch per Unit Effort (CPUE). Nilai CPUE didapatkan setelah dilakukan standarisasi alat tangkap yang digunakan.

(45)

58% dari total hasil tangkapan. Musim penangkapan ikan layang terjadi antara bulan Mei – September dan November – Desember (Chodriyah dan Tuti, 2010). Nilai CPUE ikan layang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Layang (Decapterus Spp.)

Berdasarkan Gambar 13 dapat dilihat nilai CPUE ikan layang terbesar terjadi pada bulan September 2009 dengan nilai 11,94 ton/trip sedangkan nilai CPUE terendah ikan layang terjadi pada bulan Juni 2010 dengan nilai 0,12 ton/trip (Lampiran 8). Secara umum dari tahun 2006 – 2010 nilai CPUE ikan layang terlihat meningkat pada bulan Juli – Desember dan terus mengalami

(46)

menyatakan bahwa telah terjadi penurunan produksi ikan layang yang berasal dari perikanan pukat cincin yang tertangkap di perairan Laut Jawa dan sekitarnya.

Ikan lemuru yang terdapat di Laut Jawa merupakan spesies Sardinella sirm dimana tubuhnya memiliki bintik-bintik berderet memanjang dari kepala ke ekor. Penyebaran lemuru jenis ini terkonsentrasi di pantai Utara Jawa (Nontji, 2005). Musim penangkapan ikan lemuru terjadi pada bulan Desember - Januari dan berlanjut sampai bulan Maret. Nilai CPUE ikan lemuru tahun 2006 – 2010 dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Lemuru (Sardinella sirm)

(47)

ton/trip. Hal ini hampir sama dengan yang disampaikan oleh Nontji (2005), yang menyatakan lemuru yang berada di Selat Bali muncul sekitar bulan September – Oktober dan mencapai puncaknya bulan Desember – Januari. Ikan lemuru berkurang jumlahnya pada bulan Februari – Maret dan akan hilang populasinya pada bulan berikutnya hingga muncul pada musim selanjutnya.

Gambar 15. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Tongkol (Enthynnus affinis)

Ikan tongkol menempati urutan ke tiga ikan dengan jumlah terbanyak yang didaratkan di PPN Pekalongan. Nilai CPUE ikan tongkol bervariasi setiap

(48)

tongkol berfluktuasi dalam kurun waktu 2006-2010 dimana terdapat kecenderungan kenaikan nilai CPUE dari tahun-ketahunnya.

Ikan banyar atau lebih dikenal dengan nama ikan kembung lelaki memiliki daerah penyebaran yang luas. Ikan ini sering dijumpai di perairan yang jernih dan agak jauh dari pantai. Menurut Chodriyah dan Tuti (2010), musim penangkapan ikan banyar terjadi pada bulan Januari – Mei. Dari Gambar 16 dapat dilihat nilai CPUE tertinggi ikan banyar rata-rata tiap tahunnya terjadi sekitar bulan Maret – Mei (musim peralihan 1) dan bulan Juli – Agustus (musim timur). Musim peceklik ikan banyar terjadi sekitra bulan Desember – Februari (musim barat). Dari tahun 2006 – 2010, nilai CPUE ikan banyar di PPN Pekalongan

memperlihatkan trend menurun dimana terlihat terjadi fluktuasi nilai CPUE pada setiap bulannya mengikuti bulan-bulan penangkapan ikan banyar.

Gambar 16. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Banyar (Rastrelliger kanagurta)

(49)

Laut Jawa, Selat Malaka, Sulawesi Selatan dan Laut Arafuru. Musim penangkapan ikan tembang terjadi sekitar bulan Juni atau Juli dan bulan

September – November. Bulan Desember – Mei merupakan bulan yang kurang baik untuk penangkapan ikan tembang (Chodriyah dan Tuti, 2010).

Gambar 17. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Tembang (Sardinella Spp)

Dari Gambar 17 dapat dilihat nilai CPUE tertinggi ikan tembang terjadi sekitar bulan April – Juli. Untuk bulan-bulan paceklik ikan tembang terjadi sekitar bulan Desember – Februari yang ditandai dengan turunnya nilai CPUE ikan tembang. Dalam jangka waktu 5 tahun terakhir terlihat trend nilai CPUE ikan tembang terjadi peningkatan. Peningkatan hasil tangkapan ikan tembang yang signifikan terjadi pada bulan Oktober 2008 dan Juni 2010.

4.4Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan

Secara tidak langsung SPL berpengaruh terhadap nilai CPUE hasil

(50)

peralihan 2 membawa dampak kenaikan salinitas perairan dan penurunan SPL di Laut Jawa. Masuknya massa air dari samudera pasifik melalui Selat Makassar dan Laut Flores yang memiliki salinitas yang tinggi dan suhu air yang rendah

mempengaruhi hasil tangkapan ikan layang secara keseluruhan.

Ikan layang merupakan tangkapan utama di Laut Jawa. Dari Gambar 18 dapat dilihat secara umum nilai CPUE ikan layang akan menurun disaat nilai SST meningkat yang mengindikasikan terjadinya penurunan salinitas perairan.

Fenomena ini terlihat jelas saat bulan Januari – Juni (musim barat dan peralihan 1) yang merupakan bulan-bulan dimana hasil tangkapan ikan layang mencapai nilai minimumnya seperti yang terjadi pada bulan April 2008, April 2009, April 2010. Pada bulan Juli – Desember merupakan musim penangkapan ikan layang.

Meningkatnya salinitas perairan dan penurunan SPL menyebabkan pada bulan-bulan ini nilai CPUE ikan layang cenderung naik seperti pada bulan-bulan Juli-September 2006 dan Agustus-Oktober 2009.

(51)

Secara tidak langsung terdapat hubungan antara SPL dengan nilai CPUE ikan layang yang dapat dilihat dengan menggunakan korelasi pearson yang dilambangkan dengan (r). Korelasi antara SPL dengan CPUE ikan layang paling besar terjadi pada musim timur dengan nilai r sebesar -0,83 dengan koefisien determinasi sebesar 0,69. Hal ini menunjukkan adanya korelasi yang cukup erat antara SPL dengan CPUE ikan layang pada musim timur dimana pada musim ini SPL Laut Jawa rendah dan salinitas perairan tinggi. Musim peralihan 1

merupakan musim dengan nilai korelasi yang paling kecil dengan nilai r sebesar -0,24 dengan koefisien determinasi sebesar 0,06.

Gambar 19. Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Banyar

(52)

kenaikan SPL. Bulan-bulan ini merupakan bulan musim peralihan 1 dimana masih ada pengaruh dari musim barat yang memiliki salinitas perairan yang rendah.

Bulan April – Juli 2008 memperlihatkan terjadinya kenaikan nilai CPUE ikan banyar. Kenaikan nilai CPUE ini diikuti dengan penurunan SPL Laut Jawa dimana bulan-bulan ini sedang berlangsung akhir dari musim peralihan 1 dan awal dari musim timur. Sebagaimana telah diketahui, musim timur membawa massa air bersuhu rendah ke perairan Laut Jawa tetapi memiliki salinitas yang tinggi. Untuk komoditas ikan banyar, korelasi antara SPL dengan nilai CPUE paling besar terjadi pada musim timur dengan nilai r sebesar -0.42 dan nilai r ² sebesar 0.17. Sedangkan korelasi terendah terjadi pada musim peralihan 1 dengan nilai korelasi pearson sebesar -0,1.

Ikan tongkol merupakan ikan pelagis yang hidup pada perairan hangat dan hidup bergerombol. Ikan tongkol dewasa hidup maksimal pada suhu 29°C.

Perairan Indonesia khususnya Laut Jawa merupakan perairan yang relatif hangat sepanjang tahunnya. Keberadaan ikan tongkol di perairan Laut Jawa cukup stabil. Hal ini terlihat seperti pada Gambar 20 dimana sepanjang dari tahun 2006-2010 nilai CPUE ikan tongkol di Laut Jawa cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan. Terdapat fluktuasi nilai CPUE ikan tongkol setiap bulannya dimana SPL Laut Jawa juga berfluktuasi mengikuti musim angin yang sedang berlangsung.

(53)

-0.12 denga koefisien determinasi sebesar 0.01.

Gambar 20. Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Tongkol

Ikan lemuru dan ikan tembang merupakan jenis ikan pelagis yang

keberadaannya tergantung pada plankton yang merupakan makanan utama kedua jenis ikan ini (Nontji, 2005). Korelasi antara SPL dengan Nilai CPUE ikan lemuru dan ikan tembang terlihat kurang jelas seperti yang terlihat pada Gambar 21 dan Gambar 22. Berbeda-bedanya respon ikan pelagis terhadap SPL ini menunjukkan bahwa setiap ikan memiliki karakteristiknya sendiri terhadap SPL dan pola angin musim yang berpengaruh terhadap musim penangkapan ikan di Laut Jawa.

(54)

Gambar 21. Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Lemuru

Gambar 22. Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Tembang

(55)

yang menunjang produktifitas ikan diperairan. Tingginya konsentrasi klorofil dapat mengindikasikan perairan tersebut kaya akan sumberdaya ikan.

Ikan pelagis umumnya merupakan ikan filter feeder, yaitu: jenis ikan pemakan plankton. Ikan lemuru dan ikan tembang merupakan ikan-ikan yang dikenal dengan istilah ikan sardine (Nontji, 2005). Keberadaan plankton sebagai makanan utama sangat mempengaruhi keberadaan kedua ikan ini. Hubungan antara rata-rata konsentrasi klorofil-a di Laut Jawa dengan nilai CPUE ikan lemuru dapat dilihat pada Gambar 23. Nilai CPUE ikan lemuru akan meningkat pada musim barat dan musim peralihan 1 dimana pada bulan-bulan tersebut memiliki konsentrasi klorofil-a yang tinggi. Hal ini dapat dilihat terjadi pada bulan Desember-Februari 2008, 2009 dan 2010. Sebaliknya nilai CPUE ikan lemuru akan menurun pada musim timur dan musim peralihan 2 seperti yang terlihat pada bulan Juni-Oktober 2010.

(56)

Korelasi antara konsentrasi klorofil-a dengan CPUE ikan lemuru paling besar terjadi pada musim barat dengan nilai r sebesar 0.61 dan nilai sebesar 0.37. Sedangkan korelasi terendah terjadi pada musim peralihan 2 dengan korelasi pearson sebesar -0,01. Hal ini dapat terjadi karena pada musim barat dan musim peralihan 1 merupakan musim yang memiliki curah hujan yang tinggi sehingga masukkan zat hara dari aliran sungai yang bermuara di Laut Jawa membawa dampak meningkatnya konsentrasi klorofil-a.

Naiknya nilai konsentrasi klorofil-a tidak langsung berdampak pada naiknya nilai CPUE, tetapi membutuhkan beberapa waktu sehingga fitoplankton yang mengandung klorofil-a telah dimanfaatkan oleh zooplankton sebagai sumber makanan. Berikutnya zooplankton akan dimanfaatkan oleh ikan-ikan kecil sebagai bahan makanan atau dimakan langsung oleh ikan pelagis. Kejadian ini dapat terlihat pada hubungan antara konsentrasi klorofil-a dengan nilai CPUE ikan tembang (Gambar 24).

(57)

Dari Gambar 24 dapat dilihat terdapat jeda waktu antara naiknya nilai konsentrasi klorofil-a dengan naiknya nilai CPUE ikan tembang. Pada Bulan Februari 2009, konsentrasi klorofil-a di Laut Jawa mencapai nilai maksimum sedangkan nilai CPUE ikan tembang mulai naik pada bulan Maret dan mencapai puncaknya pada bulan April tahun yang sama. Terdapat rentang waktu sekitar satu sampai dua bulan antara mulai naiknya nilai CPUE ikan tembang dengan

konsentrasi klorofil-a maksimum diperairan Laut Jawa. Untuk korelasi antara kedua variabel paling besar terjadi pada musim peralihan 1 dengan nilai sebesar -0.76 dan koefisien korelasi sebesar 0.57. Hubungan antara klorofil-a dengan ikan tembang memiliki hubungan yang berbanding terbalik. Hal ini diduga terjadi karena adanya rentang waktu antara puncak dari konsentrasi klorofil-a dengan nilai maksimum CPUE ikan tembang sehingga menyebabkan korelasi antara kedua variabel bernilai minus.

Ikan tongkol merupakan ikan yang dapat hidup optimal pada suhu 29°C. Keberadaan ikan tongkol secara langsung kurang dipengaruhi oleh keberadaan konsentrasi klorofil-a. Dari Gambar 25 dapat dilihat kenaikan nilai CPUE ikan tongkol pada musim timur diiringi dengan penurunan konsentrasi klorofil-a. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pada musim timur merupakan musim dimana konsentrasi klorofil-a rendah di perairan Laut Jawa. Pada bulan Juli – September 2006 dan bulan Agustus – Oktober 2010 terlihat terjadi kenaikan nilai CPUE ikan tongkol yang diikuti dengan penurunan konsentrasi klorofil-a.

(58)

Gambar 25. Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Tongkol

Ikan layang dan ikan banyar merupakan jenis ikan yang hidup pada perairan dengan salinitas tinggi dan merupakan faktor pembatas dalam

penyebaran kedua jenis ikan ini di Laut Jawa. Ikan layang dan ikan banyar akan meningkat nilai CPUEnya pada musim timur dimana perairan Laut Jawa

(59)

Gambar 26. Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Layang

(60)

60 5.1Kesimpulan

SPL rata-rata bulanan di Laut Jawa dari citra satelit Aqua MODIS tahun 2006 – 2010 berkisara antara 27,9°C – 31,4°C. SPL di Laut Jawa mengikut i pola angin musim yang terjadi di perairan Indonesia. Musim Barat memperlihatkan masuknya SPL bernilai rendah dari Laut Cina Selatan melewati Laut Jawa menuju Selat Makassar dan Laut Flores. Sedangkan Pada musim timur terjadi peristiwa sebaliknya dimana SPL bernilai rendah memasuki perairan Laut Jawa dari Selat Makassar dan Laut Flores dan mengarah ke Laut Cina Selatan. Secara umum SPL relatif lebih tinggi pada saat musim peralihan dibandingkan dengan musim barat dan musim timur. Sedangkan untuk musim barat, SPL lebih tinggi dari pada SPL musim timur. Secara derat waktu, terlihat terjadinya trend kenaikan SPL sebesar 1°C di Laut Jawa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Sebaran SPL sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan seperti angin.

(61)

sedang berlangsung. Nilai maksimum konsentrasi klorofil-a terjadi pada musim Barat dan nilai minimumnya terjadi pada musim peralihan 2.

Hasil tangkapan utama di Laut Jawa di dominasi oleh lima jenis ikan yaitu: ikan layang (Decapterus Spp.), lemuru (Sardinella sirm), tongkol

(Enthynnus affinis), banyar/kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), dan tembang (Sardinella Spp) dimana ikan layang merupakan komuditas dengan hasil

tangkapan yang paling besar. Nilai CPUE dari setiap jenis ikan hasil tangkapan berfluktuasi setiap bulannya mengikuti pola musim penangkapan ikan.

Analisis hubungan antara SPL dan konsentrasi klorofil-a dengan nilai CPUE ikan hasil tangkapan ikan pelagis menunjukkan respon yang berbeda antara satu jenis ikan dengan jenis ikan lainnya. Ikan layang, banyar dan tembang

memiliki respon yang negatif terhadap SPL terutama pada musim timur. Hal ini diduga disebabkan karena masuknya massa air yang bersuhu rendah dan

(62)

5.2Saran

(63)

VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-A DAN SUHU

PERMUKAAN LAUT DARI CITRA SATELIT MODIS

SERTA HUBUNGANNYA DENGAN HASIL TANGKAPAN

IKAN PELAGIS DI PERAIRAN LAUT JAWA

EGA PUTRA

SKRIPSI

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(64)

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:

VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-A DAN SUHU

PERMUKAAN LAUT DARI CITRA SATELIT MODIS SERTA

HUBUNGANNYA DENGAN HASIL TANGKAPAN IKAN

PELAGIS DI PERAIRAN LAUT JAWA

adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan didalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir Skripsi ini.

Bogor, April 2012

(65)

RINGKASAN

EGA PUTRA. Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut dari Citra Satelit MODIS serta Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Ikan Pelagis di Perairan Laut Jawa. Dibimbing oleh JONSON L. GAOL dan VINCENTIUS P. SIREGAR.

Laut Jawa merupakan salah satu perairan yang kaya akan potensi ikan pelagis kecil. Sumber daya ikan pelagis ini mengalami variasi dalam sebaran dan kelimpahan menurut jenisnya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi distribusi ikan pelagis antara lain suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi spasial dan temporal konsentrasi klorofil-a dan SPL dari citra satelit Aqua Moderate

Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) serta hubungannya dengan hasil tangkapan ikan pelagis di perairan Laut Jawa.

Lokasi penelitian terletak di perairan Lawa pada koordinat 106⁰ BT – 116⁰ BT dan 3⁰ LS - 7⁰ LS. Citra yang digunakan adalah citra Aqua MODIS level 3 yang memuat data SPL dan klorofil-a. Data perikanan yang digunakan diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan, Jawa Tengah. Analisis spasial dilakukan dengan cara melihat sebaran SPL dan klorofil-a setiap bulannya di Laut Jawa. Sedangkan analisis temporal dilakukan dengan melihat rata-rata bulanan parameter yang dikaji secara deret waktu. Untuk hubungan antara SPL dan klorofil-a dengan nilai Catch Unit per Effort (CPUE) hasil tangkapan dilakukan analisis secara deskriptif dan statistik dengan menggunakan korelasi Pearson.

SPL rata-rata bulanan di Laut Jawa dari citra satelit MODIS tahun 2006 – 2010 berkisar antara 27,9°C – 31,4°C. Penyebaran SPL di Laut Jawa mengikuti pola angin musim yang terjadi di perairan Indonesia dimana SPL cenderung turun pada musim barat dan timur serta naik pada musim peralihan 1 dan peralihan 2. Secara derat waktu, terlihat terjadinya trend kenaikan SPL di Laut Jawa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebesar 1°C. Konsentrasi klorofil-a berkisar antara 0,22 mg/m³ - 1,15 mg/m³. Nilai konsentrasi klorofil-a setiap bulannya berfluktuasi mengikuti musim angin yang sedang berlangsung. Konsentrasi klorofil-a tertinggi terjadi pada musim barat dan terendah terjadi pada musim peralihan 2.

Hubungan antara SPL dan konsentrasi klorofil-a dengan komoditas ikan pelagis menunjukkan respon yang berbeda antara satu jenis ikan dengan jenis ikan lainnya. Ikan layang, banyar dan tembang memiliki respon yang negatif terhadap SPL terutama pada musim timur. Hal ini diduga disebabkan karena masuknya massa air yang bersuhu rendah dan bersalinitas tinggi dari Laut Flores dan Selat Makassar pada musim timur. Sedangkan untuk ikan lemuru dan ikan tembang menunjukkan tidak adanya hubungan langsung antara SPL dengan nilai CPUE hasil tangkapan. Respon ikan pelagis terhadap konsentrasi klorofil-a menunjukkan adanya respon positif pada komoditas ikan lemuru dan ikan tembang dimana kenaikan konsentrasi klorofil-a diikuti dengan kenaikan nilai CPUE. Untuk ikan layang, banyar dan tongkol kenaikan nilai konsentrasi klorofil-a tidak langsung berdampak pada naiknya nilai CPUE ketiga jenis ikan ini.

(66)

© Hak cipta milik EGA PUTRA, tahun 2010

Hak cipta dilindungi

(67)

VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-A DAN SUHU

PERMUKAAN LAUT DARI CITRA SATELIT MODIS

SERTA HUBUNGANNYA DENGAN HASIL TANGKAPAN

IKAN PELAGIS DI PERAIRAN LAUT JAWA

EGA PUTRA

SKRIPSI

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kelautan pada

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(68)

Judul Skripsi : Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut dari Citra Satelit MODIS serta Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Ikan Pelagis di Perairan Laut Jawa

Nama Mahasiswa : Ega Putra Nomor Pokok : C54070052

Departemen : Ilmu dan Teknologi Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Mengetahui,

Tanggal Lulus : 19 Maret 2012

Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc NIP. 19580909 198303 1 003 Dr. Ir. Jonson L. Gaol, M.Si.

NIP. 19660721 199103 1 009

(69)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan semesta alam Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul VARIABILITAS

KONSENTRASI KLOROFIL-A DAN SUHU PERMUKAAN LAUT DARI

CITRA SATELIT MODIS SERTA HUBUNGANNYA DENGAN HASIL

TANGKAPAN IKAN PELAGIS DI PERAIRAN LAUT JAWA disusun

sebagai salah satu syarat kelulusan pada program sarjana.

Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Kedua orang tua (Bapak Herman Said dan Ibu Rosda) dan adik tercinta

Elvia Maulia yang telah memberikan semangat, motifasi dan kasih sayang. 2. Bapak Dr. Ir. Jonson L. Gaol, M.Si. dan Dr.Ir. Vincentius P. Siregar, DEA.

selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan dan masukkan kepada penulis.

3. Bapak Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc selaku dosen penguji tamu dan Dr. Henry M. Manik, M.T. selaku perwakilan dari Program Studi yang telah

memberikan kritik dan saran agar tulisan ini menjadi lebih baik.

4. Keluarga besar ITK 44 dan seluruh warga ITK yang telah memberikan pelajaran dan pengalaman hidup kepada penulis.

(70)

perbaikan di kemudian hari.

Bogor, April 2012

(71)

DAFTAR ISI

3.4.2 Analisis korelasi konsentrasi klorofil-a dan sebaran

(72)

x

DAFTAR TABEL

(73)

xi 5. Diagram alir pengolahan grafik konsentrasi klorofil-a dan sebaran

SPL ... 21 6. Distribusi SPL musim barat dan musim peralihan 1 tahun 2006 ... 27 7. Distribusi SPL musim timur dan musim peralihan 2 tahun 2006 ... 30 8. Fluktuasi SPL rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010 ... 33 9. Distribusi klorofil-a musim barat dan musim peralihan 1

tahun 2006 ... 36 10. Distribusi klorofil-a musim timur dan musim peralihan 2

(74)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Distribusi SPL tahun 2007 – 2010 ... 67 2. Distribusi klorofil-a tahun 2007 – 2010 ... 75 3. Rata-rata bulanan SPL tahun 2006 – 2010 ... 83 4. Rata-rata bulanan konsentrasi klorofil-a tahun 2006 – 2010 ... 83 5. Rata-rata curah hujan stasiun pengamatan BMKG Perak II dan

Serang tahun 2006 – 2010 ... 83 6. Jumlah kapal bongkar muatan bulanan di PPN Pekalongan tahun

2006 – 2010 ... 84 7. Hasil tangkapan ikan pelagis bulanan di PPN Pekalongan tahun 2006

– 2010 ... 85 8. Nilai CPUE ikan pelagis bulanan di PPN Pekalongan tahun

2006 – 2010 ... 90

(75)

1 1.1Latar Belakang

Keberadaan ikan di perairan bersifat dinamis dan secara alamiah ikan akan bermigrasi untuk memilih habitat yang sesuai akibat perubahan parameter

oseanografi perairan seperti suhu, arus, dan kesuburan perairan. Keberadaan ikan di perairan sangat dipengaruhi oleh suhu. Suhu perairan adalah salah satu faktor penting dalam kehidupan organisme di laut, dapat mempengaruhi aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme tersebut, juga menjadi indikator dari fenomena perubahan iklim (Hutabarat dan Evans,1986). Namun demikian, keberadaan ikan juga diduga dipengaruhi oleh parameter-parameter lingkungan lain seperti penyebaran fitoplankton. Sebagaimana diketahui bahwa fitoplakton berperan sebagai produsen primer dalam rantai makanan di perairan, yang selanjutnya dapat mempengaruhi kesuburan perairan dan keberadaan ikan. Menurut Nybakken (1988), indikator kesuburan perairan dapat diukur dari kandungan klorofil-a. Klorofil-a merupakan pigmen yang paling umum terdapat pada fitoplankton dan berperan dalam proses fotosintesis.

(76)

parameter oseanografi seperti kandungan klorofil-a dan suhu permukaan yang berdampak pada pola musim penangkapan ikan di Laut Jawa.

Penginderaan jauh merupakan suatu teknik yang dapat diaplikasikan untuk pengamatan parameter oseanografi perairan seperti kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut (SPL) baik secara spasial maupun temporal. Teknik penginderaan jauh memiliki kemampuan yang tinggi dalam menganalisis area yang luas dan sulit ditempuh dengan cara konvensional dalam waktu yang

singkat. Salah satu satelit penginderaan jauh yang dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi kandungan klorofil-a dan sebaran SPL pada perairan adalah satelit AquaModerate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS).

Data satelit Aqua MODIS dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi klorofil-a dan sebaran SPL di perairan Laut Jawa. Variasi kondisi oseanografi Laut Jawa berhubungan dengan variasi hasil tangkapan ikan. Oleh karena itu, pemantauan karakteristik parameter oseanografi seperti kandungan klorofil-a dan SPL penting dilakukan sebagai salah satu aspek dalam mengkaji pengelolaan perikanan di Laut Jawa.

1.2Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis variasi spasial dan temporal konsentrasi klorofil-a dan sebaran SPL di perairan Laut Jawa dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya.

(77)

3 2.1Kondisi Umum Perairan Laut Jawa

Keadaan umum perairan Laut Jawa dipengaruhi oleh kondisi geografis dan lingkungan oseanik dimana pada bagian timur berhubungan dengan perairan Selat Makassar dan Laut Flores, sedangkan pada bagian barat berhubungan dengan Samudera Hindia melalui Selat Sunda sebagai terusan dan Laut Cina Selatan melalui Selat Karimata. Batasan geografis Laut Jawa berada diantara 3⁰-7⁰ LS dan 108⁰-116⁰ BT dengan kedalaman rata-rata 40 meter. Keadaan geografis tersebut menggambarkan bahwa kondisi bio-ekologis perairan Laut Jawa dengan luasan sekitar 450.000 km² secara fisik sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu siklus musiman yang berkaitan dengan perubahan karakteristik lingkungan sebagai dari proses perubahan internal badan air Laut Jawa, serta perubahan jangka panjang parameter iklim dan faktor osilasi internal yang berkaitan dengan perubahan curah hujan sebagai dampak terjadinya El-Nino (Potier,1998 dalam Atmadja et al., 2003)

Atmadja et al. (2003) menyatakan perubahan kondisi bio-ekologis sebagai akibat siklus musiman sangat berkaitan dengan dua faktor utama yaitu:

1) Masukkan massa air tawar yang berasal dari lingkungan terestrial terutama dari sungai-sungai besar di Pulau Kalimantan dan pada kurun waktu musim barat daya yang berakibat pada terjadinya pencampuran massa air Laut Jawa sehingga terjadinya penurunan salinitas.

Figure

Gambar 7. Distribusi SPL Musim Timur dan Musim Peralihan 2 Tahun 2006

Gambar 7.

Distribusi SPL Musim Timur dan Musim Peralihan 2 Tahun 2006 p.30
Gambar 9. Distribusi Klorofil-a Musim Barat dan Musim Peralihan 1 Tahun 2006

Gambar 9.

Distribusi Klorofil-a Musim Barat dan Musim Peralihan 1 Tahun 2006 p.36
Gambar 10. Distribusi Klorofil-a Musim Timur dan Musim Peralihan 2 Tahun 2006

Gambar 10.

Distribusi Klorofil-a Musim Timur dan Musim Peralihan 2 Tahun 2006 p.38
Gambar 11. Fluktuasi Klorofil-a rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010

Gambar 11.

Fluktuasi Klorofil-a rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010 p.40
Gambar 12. Curah Hujan dan Konsentrasi Klorofil-a di Laut Jawa

Gambar 12.

Curah Hujan dan Konsentrasi Klorofil-a di Laut Jawa p.41
Gambar 13.

Gambar 13.

p.45
Gambar 14. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Lemuru (Sardinella sirm)

Gambar 14.

Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Lemuru (Sardinella sirm) p.46
Gambar 15. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Tongkol (Enthynnus affinis)

Gambar 15.

Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Tongkol (Enthynnus affinis) p.47
Gambar 16. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Banyar (Rastrelliger kanagurta)

Gambar 16.

Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Banyar (Rastrelliger kanagurta) p.48
Gambar 20. Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Tongkol

Gambar 20.

Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Tongkol p.53
Gambar 22. Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Tembang

Gambar 22.

Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Tembang p.54
Gambar 21. Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Lemuru

Gambar 21.

Hubungan antara SPL dengan Hasil Tangkapan Ikan Lemuru p.54
Gambar 23. Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Lemuru

Gambar 23.

Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Lemuru p.55
Gambar 25. Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Tongkol

Gambar 25.

Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Tongkol p.58
Gambar 27. Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Banyar

Gambar 27.

Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Banyar p.59
Gambar 26. Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Layang

Gambar 26.

Hubungan antara Klorofil-a dengan Hasil Tangkapan Ikan Layang p.59
Gambar 2. Pemantulan Cahaya Matahari oleh Partikel-Partikel di Perairan

Gambar 2.

Pemantulan Cahaya Matahari oleh Partikel-Partikel di Perairan p.84
Gambar 3. Satelit Aqua MODIS

Gambar 3.

Satelit Aqua MODIS p.86
Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian.

Gambar 4.

Peta Lokasi Penelitian. p.92
Gambar 5.  Diagram Alir Pengolahan  Grafik Konsentrasi Klorofil-a dan Sebaran

Gambar 5.

Diagram Alir Pengolahan Grafik Konsentrasi Klorofil-a dan Sebaran p.95
Gambar 6. Distribusi SPL Musim Barat dan Musim Peralihan 1 Tahun 2006

Gambar 6.

Distribusi SPL Musim Barat dan Musim Peralihan 1 Tahun 2006 p.101
Gambar 7. Distribusi SPL Musim Timur dan Musim Peralihan 2 Tahun 2006

Gambar 7.

Distribusi SPL Musim Timur dan Musim Peralihan 2 Tahun 2006 p.104
Gambar 8. Fluktuasi SPL rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010

Gambar 8.

Fluktuasi SPL rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010 p.107
Gambar 9. Distribusi Klorofil-a Musim Barat dan Musim Peralihan 1 Tahun 2006

Gambar 9.

Distribusi Klorofil-a Musim Barat dan Musim Peralihan 1 Tahun 2006 p.110
Gambar 10. Distribusi Klorofil-a Musim Timur dan Musim Peralihan 2 Tahun 2006

Gambar 10.

Distribusi Klorofil-a Musim Timur dan Musim Peralihan 2 Tahun 2006 p.112
Gambar 11. Fluktuasi Klorofil-a rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010

Gambar 11.

Fluktuasi Klorofil-a rata-rata bulanan Januari 2006 – Desember 2010 p.114
Gambar 12. Curah Hujan dan Konsentrasi Klorofil-a di Laut Jawa

Gambar 12.

Curah Hujan dan Konsentrasi Klorofil-a di Laut Jawa p.115
Gambar 13.

Gambar 13.

p.119
Gambar 14. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Lemuru (Sardinella sirm)

Gambar 14.

Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Lemuru (Sardinella sirm) p.120
Gambar 15. Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Tongkol (Enthynnus affinis)

Gambar 15.

Fluktuasi dan Trend CPUE Ikan Tongkol (Enthynnus affinis) p.121

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in