SISWA PADA KONSEP KEANEIURAGAMAN HAYATI
(Eksperimen di Madmsah Aliyah NegeJri 7 Jakarta)
Skripsi
Diajukan untuk Mcmcnuhi Pcrsyaratalil Mcmpcrolch Gclar Sarjana Pcndidikan (S.Pd)
l1li . . . . .
III
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
LEMI3AR PENGESAHAN PANITlA UJIAN
Skripsi yang bcrjuclul "pENGARUH pENDEKATAN KONTEKSTUAL
BERBASIS NILAI TERHADAp HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP
KEANEKARACiAMAN HAY ATI" (Eksperimcl'] eli iVlacirasah Aliyah Negeri 7
Jakarta) cliajukan kepacla Fakultas IImu Tarbiyah clan Keguruan U1N Syarif
I-lielayatullah Jakarta pacla. 20 April 2009 clihaclapan clewan penguji. Karena itll. pcnulis bcrbak mempcrolcb gelar Sarjana S I (S.pcI) pacla Jurusan Pencliclikan IImu
Pcngctabuan Al'am (lpA) Program Stucli Pcnclidikan Biologi.
Jakarta, 20 April2009
Panitia Ujian Munaqasyab
Tanggal Tanda' Tangan Kctua Panitia (Kctua Jurusan Pendidikan IPA)
Baig Hana Susant[. 1vI.Sc NIP. 150299475
Sekertaris (Sekertaris Jurusan Pendidikan IpA)
Nengsib JuanenQsib. M.pd NIP. 150377450
Penguj i I
Drs. Abmad Sofvan. 1vI.Pd NIP. 150231 502
Penguji II
Baig 1·lana sャャゥゥャャhゥNNBiセセL
NIP. 15029') 475·
2II("I/en.. ., .
Mcngetabui :
Dekan.
Prof. Dr. De95' Rosvada. mゥセ
l"JP.,150 31 356
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah-satu persyaratan memperoleh gelar strata I di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam pemulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN SyarifHidayatullah Jakarta.
NILAI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP
KEANEKARAGAMAN HAYATI
(Eksperimen di Madrasah Aliyah Negeri 7 Jakarta)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas IImu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar SaJjana Pendidikan (S.Pd)
OIelt:
DESI EKA SETIAWATI
NIM: 103016100399
Dosen Pembimbing I
Ir. H. Mahmud M. Siregar, M.Si NIP. 150222933
Dosen Pembimbing II
Eny S. Rosyidatun, MA NIP. 150377449
PROGRAM STUDI PENDIDlKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDlKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
Desi Elm Setiawati. Pengaruh Pendekatan Kontekstual Berbasis Nilai Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Keanekamgaman Hayati, Skripsi, Jurusan Pendidilmn IPA, Program StUldi Pendidikan Biologi, Fakultas Ihnu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan
kontekstual berbasis nilai terhadap hasil belajar siswa. Penelitian dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 7 Jakarta dengan menggwlakan penelitian quasi eksperimen. Instrumen dianalisis dengan menggunakan model Anates. Data
diperoleh dari berbagai alat yakni tes pemahaman konsep, observasi
pembelajaran, dan angket tentang nilai-nilai yang terkandung dalam
keanekaragaman hayati. Kategori N-gain yang diperoleh di kelas eksperimen yaitu kategori tinggi 25 %, sedang 44,4 %, dan rendah 30,56 %. Sedangkan kategori N-gain di kelas kontrol yaitu kategori tinggi 2,7 %, sedang 35,14 %, dan
rendah 62, I 6 %. Penelitian ini menggunakan uji "t" yang diperoleh thi[ung > ttabel
(4,16 > 1.99). Basil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pendekatan
kontekstual berbasis nilai terhadap hasil belajar siswa.
Kata Kunci: kontekstual, Nilai, Basil Belajar
ABSTRACT
Desi Eka SetiaJVllti. Effects of Value-Based Contextual Teaching and Learning (CTL) in Biodiversity Concept on Students Learning Achievement, Thesis, The Department of Science Education, Biology Education Program, The Faculty of Tarblyah and Teachers Training, State Islamic University Syarif Hidayatullah fa karta.
The aim ol this research was to determine the effect of value-based contextual teaching and learning (CTL) on students learning achievement. The research was conducted at Madrasah Aliyah Negeri (lvhlN) 7Jakarta using quasi experiment. The instruments were analyzed by Anatest model. Data were obtained ji'om various appliance namely test of understanding of concept, observation stu,).v. and questionnaire about values in biodiversity concept. The categOly ofN-gain obtained in the experiment class consisted ofhigh categOlY which was2,5 %,
middle categOlY which was 44,4 %, and low categOly which was 30,56%. While calegory of N-gain in lhe control class consisted of high category which was 2,7 %. middle categOlY which was 35,14 %, and low categOly which was 62,15 %.
The research used "t" test where Icount> tlable (4,16> 1,99). The result indicates
(hal there are e[lects ol value-based contextual teaching and learning (CTL) on sludenls learning achievement.
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga berhasil menyelesaikall skripsi yang berjudul "Pengaruh Pendekatan Kontekstual Berbasis Nilai Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa (Eksperil11en di MAN 7 Jakarta)".
Skripsi ini disusun guna memenuhi persyaratan untuk mendapatkan gelar smjana pendidikan (S.Pd).
Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik seem'a langsung maupun tidak Imlgsung. Oleh karena itu, penulis l11engueapkan teril1la kasih kepada:
I. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. Ketua Dekml Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN syarifHidayatullah Jakmia.
2. Bapak Ir. Mahmud M. Siregm', M.Si, Ketua Jurusan Pendidikan Ill1lu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dml Keguruan UIN syarif Hidayatullah Jakmia dan sekaligus sebagai pembimbing I yang telah l11embimbing, mel1lberikan pengarahml pada penulisall skripsi.
3. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Se. Sekertm'is Jurusan Pendiclikan IPA Biologi. 4. Bapak Ahmad Sofyan, M.Pd Ketua Program Studi Pendidikan Biologi.
5. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Biologi, yang telah dengan sabar dan ikhlas mendidik penulis, semoga ilmu yang diberikan kepada penulis dapat bermanfaat.
6. Ibu Eny S. Rosyidatun, MA dosen pembimbing kedua yang telah membimbing, memberikan saran-saran, kemudahan, pengarahan kepada penulis dan kesabarannya memotivasi penulis menyelesaikan skripsi ini. 7. Bapak Drs. Teguh Arminto, M.Pd kepala sekolah MAN 7 yang telah
mengizinkan peneliti untuk mengadakan penelitiml di MAN 7.
sehingga ananda dapat menyelesaikan skripsi ini. Adik-adikku (Bayu dan
Hoinmnisa) atas semangat dan dukungannya selama ini.
10. Lukman Hakim, S.os, MM dan keluarga yang telah memberikan bantuannya
hingga akhirnya penulis dapat menjadi sarjana.
II. Seluruh keluarga besar Umi Asmanah, yang selalu memberikan semangat dan
dukungan moril darl materil.
12. Kakanda tercinta Ahmad Tajuddin, ST yang telah memberikan kasih sayang,
motivasi dan bantuannya sebelum dan selama penulisan skripsi iill.
13. Segenap pimpinan dan karyawan/karyawati perpustakaan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan UNJ, Perpustakaan Nasioial Jakarta,
Perpustakaan Diknas Jakarta dan Perpustakaan UPI Bandung.
14. Sahabat-sahabat sepeljuarlgan Dwi, Nurrahmania, Nurrohmah, Tomi, Fatah,
Elly. Temtama sahabatku Ulfa Amalia atas kerjasamanya, motivasi, saran dan
bantuannya, akhirnya perjuangan kita membuahkan hasil yang manis.
15. Ternan-ternan Biologi Angkatan 2004 yang tidak bisa disebutkan satu persatu
serta Hanin Azzahra (Mba'eva, Very, Amy, Lina, ][ndri, Rini) yang telah
memberikan motivasinya, selama penulisan skripsi ini.
16. Semua pihak yang telah membantu penulis baik secar'a Iangsung maupun tidak
langsung dalam penyusunan skripsi.
Penulis berharap agar skripsi ini berguna bagi pembaca umum, khususnya
bagi penulis sendiri.
.r
akarta, Maret 2009ABSTRAK iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR lSI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR GRAFIK x
DAFTAR LAMPIRAN xi
BABI.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah I
B. Identifikasi Masalah 5
C. Pembatasan Masalah Penelitian 6
D. Rumusan Masalah Penelitian 6
E. Tujuan Penelitian 6
F. Manfaat Penelitian 6
BAB II. KAJIAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR DAN
HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Teoretik 8
I. Pendekatan Kontekstual 8
a. Pengeliian Pendekatan Kontekstual 8
b. Komponen Pendekatan KontekstuaI 9
c. Prinsip dan Strategi Pendekatan KontekstuaI 12 d. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan KontekstuaI 15
2. Pendekatan KontekstuaI Berbasis Nilai 17
a. Pengertian Nilai 17
b. Pembagian Nilai 18
c. Nilai Dalam Pembelajaran Biologi 20
d. Pembelajaran Kontekstual Berbasis Nilai 23
4. Hubungan Pendekatan Kontekstual Berbasis Nilai dan Hasil Belajar .34
5. Hasil Penelitian yang Relevan 35
B. Kerangka Belpikir 36
C. Hipotesis Penelitian 39
BABIII. METODOLOGIPENELITIAN
A. Waktn dan Tempat Penelitian 40
B. Metode dan Desain Penelitian 40
C. Populasi dan Sampel 42
D. Teknik Pengumpulan Data 42
E. Variabel Penelitian 44
F. Instrumen Penelitian 44
G. Uji Coba Instrumen 46
H. Teknik Analisis Data 50
1. Hipotesis Statistika 52
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data 53
1. Data Kuantitatif 53
2. Data Kualitatif 57
B. Pengujian Persyaratan Analisa Data 60
1. Uji Normalitas 60
2. Uji Homogenitas 61
C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan 62
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan 66
B. Saran 66
Tabel 2.1 Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Penclekatan
Konvensional 16
Tabe12.2 Materi Esensial IPA dan Matematika 21
TabeI3.1. Desain Pretes-Postes Kelompok Kontrol Tanpa Acak 42
Tabe13.2. Variabel Penelitian 44
Tabel3.3 Kisi-Kisi Instmmen Tes 45
Tabel 4.1 Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol 54
Tabel4.2 Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen 55
Tabe14.3 Kisi-Kisi Nilai-Nilai Yang Terkanclung Dalam Konsep
Keanekaragaman Hayati 59
Tabe14.4 Rekap Hasil Angket Tentang Nilai-Nilai yang Terkandung Dalam
Keanekaragaman Hayati 60
Tabe14.5 Uji Normalitas Kelompok Kontrol 61
Tabe14.6 Uji Normalitas Kelompok Eksperimen 61
Tabe14.7 Perhitungan Uji Homogenitas Hasil Belajar Pretes 62 Tabel 4.8 Perhitungan Uji Homogenitas Hasil Belajar Postes 62
[image:10.595.63.486.111.548.2]Gambar 2.1 Skema Proses Intemalisasi Nilai-Nilai 25
Lampiran L Media dan Perangkat Pe1l1belajaran 72
Lampiran 2 Denah Lokasi Madrasah Aliyah Negeri 7 Jakarta 112
Lampiran 3 Tes Penguasaan Konsep 113
Lampiran 4. Klmci Iawaban Tes Penguasaan Konsep 118
Lampiran 5. Kisi-kisi Penguasaan Konsep Keanekaragaman Hayatl 119
Lampiran 6. Lembar Observasi Pmbelajaran Kontekstual 121
Lampiran 7. Angket tentang Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam
Keanekaragaman Hayati 122
Lampiran 8. Penghitungan Daya Pembeda Menggunakan Model Anates 125
Lampiran 9. Penghitungan Tingkat Kesukaran Menggunakan Model Anates. 127
Lampiran 10. Penghitungan Validitas dengan KorelasiPoint Biserial 129
Lampiran 11. Hasil Validasi Butir Soal Kognitif 130
Lampiran 12. Penghitungan Reliabilitas Tes dengan jyfe11f,gypakan KR 20 131
Lampiran 13. Hasil Observasi Pembelajaran Kontekstual 132
Lampiran 14. Hasil Angket Tentang Nilai Yang Terkandung Dalam
Keanekaragaman Hayati 133
Lampiran 15. Penghitungan Nom1alitas dan Homogenitas 135
Lampiran 16. Tabel F 154
Lampiran 17. Tabel Z 158
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan cam sebuah イャZセァ。イ。 menyiapkan kualitas sumber daya manusia. Keberhasilan dan peningkatanll1utu penclidikan menjacli tujuan dan cita-cita kita bersanla. Cita-cita atau tujuan yang ingin dicapai harus dinyatakan secara jelas, sehingga semua pelaksana dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan seperti pendidikan. Sebagaimana dinyatakan dalan1 Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 pada Bab II pasal 3, yakni :
"Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalmn rangka membentuk kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab".l
Berdasarkan tujuan tersebut pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab mewujudkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang belmutu. Karena pendidikan merupakan kebutuhan yang diinginkan oleh masyarakat. Kebutuhan pendidikan merupakan hak asasi setiap manusia. Semua pihak perin memikirkan bagaimana mutu pendidikan setiap talImmya meningkat.
menjadi mata ujian akhir rata-rata masih rendah. Kualitas hasil belajar yang dimaksud dapat diwakili oleh nilai yang diperoleh siswa.
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar peserta didik, salah satunya adalah ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran yang digunakan guru di kelas. Kenyataan menunjukkan bahwa selama ini kebanyakan guru menggunakan model pembelajaran konvensional clan banyak didominasi guru.2Hal demikian teljadi karena pembelajaran yang digunakan tidak melibatkan dunia nyata atau disebut dengan pembelajaran konvensional, yaitu pembelajaran yang bersifat teoritis dan tidak memperhatikan pengalarnan siswa. Akibatnya, siswa merasa jenuh, malas dan pasif. Oleh karena itu, perlu ada perubahan dalarn proses pembelajaran. Siswa termotivasi jika pembelajarar1 yang dilakukan mengkaitkan antara materi dengan kehidupan sehari-hari, sehingga materi yang diterima terkonstruksi oleh siswa dengan sendirinya.
Penyebab mutu pcndidikan di Indonesia semakin merosot, salah satunya adalah pendidikan yang selama ini dilaksar1akan tidak diarahkan untuk membentuk manusia seutuhnya dan "paripurna", tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomistis, dan teknokratis, kering dari sentllhan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan budi pekerti] Akibatnya banyak teljadi hilangnya nilai-nilai di sekolah-sekolah.
Padahal sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar untuk membimbing, membina dan mengembangkan potensi anak didik untuk mencapai tlljuan pendidikan. Sebagai sllatll masyarakat belajar yang mempunyai karakteristik tersendiri, sekolah bukan hanya mengembangkan potensi siswa yang bcrsifat keilmuan dan perekayasaan belaka, melainkan juga mampll mcmbimbing mereka agar mempunyai perilaku dan kepribadian yang sesuai dengan tuntunan nilai-nilai.
Nilai dengan pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat. Nilai dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalam memilih maupun dalam
Nurhayali Abbas,Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkall Masalah
(Problem-based Instruction) Dalam Pembefajarall Matemalika di SMU, (JurnaJ Pendidikan dan
memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar.4 Nilai memiliki peran yang
sangat besar dalam membangun kepribadian dan identitas sosial siswa.5 Dengan
demikian melalui pendidikan yang berpedoman pada nilai diharapkan terciptanya
sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki budi pekerti luhur.
Sesuai dengan Undang-Undang Rl nomor 20 Tahun 2003 pada Bab II
pasal 3 yang telah dijelaskan di atas, pendidikan nasional bertujuan untuk
menjadikan manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan
berakhlak mulia. Dari pernyataan tersebut pendidikan rnemiliki nilai agama yang
dapat dikembangkan dalam pembelajaran. Sebagai manusia yang diciptakan
Tuharmya untuk dapat selalu beriman dan bertakwa sehingga memiliki akhlak
yang mulia. Selain itu, pendidikan juga bertujuan menjadikan manusia sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. NiIai tersebut mernpakan tujuall dari pelldidikan yang
mernpakan niIai praktis atau manfaat dalam pembelajaran dan nilai sosiaI sebagai
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Nilai perlu diperluas dan
diperkaya. Demikian pula aktivitas pembelajaran P(Jrlu dim·ahkan pada
pemahaman dan pengalaman nilai-nilai yang secara hmgsung berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari.6
Pendidikan IPA mempakan bidang studi yang memberikan banyak
kesempatan untuk mengungkap nilai-nilai. Kajian IPA menyentuh bmlyak aspek
dalalll kehidupan yang dapat menjadikan manusia terns bersyukur, beriman dan
bertakwa kepada Sang Pencipta. SeIain itu, dalalll pembelajaran sains juga dapat
dimllbil banyak manfaat dan pembelajaran dalmn kehidupan bersosial. Contohnya
dengan adanya keanekaragaman hayati di dunia ini menjadikan manusia
bersyukur kepada Tuhan yang menciptakannya. Dan manusia juga dapat
mengambil manfaat dari keanekaragalllan hayati yang ada di duniasehingga
manusia dapat bersosialisasi dengan yang laiffilya. Dengml pengungkapan
nilai-4 Rohmat Mulyana, Mengakiualisasikan Pendidikan Nitai, (Handung: Alfabeta, 2004),
nilai dalam pendidikan sains membuat pembelajaran sains menjadi lebih nyata dan bennakna bagi peserta didik.7
Seeat'a ideal, pembelajaran IPA mengembangkan pengetahuan agar dapat mengerti dan mengetahui pembeIajaran (kognitif); tingkah laku atau etika dan nilai (afektif) dan; meneiptaan hasil karya sebagai kreatifitas (psikomotor), itu semua merupakan komponen esensial. Dalam pemahaman seperti itu, maka pengembangan nilai dan etika dalam IPA tidak tepat Iagi jika hanya diposisikan sebagai komponen !a.·usial atau sebagai kurikulum tersembunyi. Nilai dan etika harus seeaI'a eksplisit dijabarkan dan diperkaya dalam setiap topik pembelajaran.
Pada kenyataaImya perkembangan nilai-nilai be!um menjadi fokus utama, padahal nilai-nilai sains merupakan komponen yang SaIlgat penting untuk dikel11bangkaIl dalam kegiatan pembelajaran dan sangat berpengaI'uh terhadap ranah afektif siswa.8 Strategi yang tepat untuk mengembangkan nilai yaitu pel11belajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
Pendekatan kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan para slswa l11ampu menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahUaIl dan keterampilan akadel11ik mereka dalam berbagai maeam tatanan dalal11 sekolah dan
,
luar sekolah agar dapat memeeahkan masalah-masalah dunia nyata.9 Pel11belajaran ini berawal dari asumsi bahwa anak belajar lebih baik melalui kegiatan belajar sendiri dalam lingkungan yang a1amiah. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa beketja dan mengalami, bukan transfer pengetahuanlO• Dengan demikian, siswa dapat mengerti malcna belajar, l11anfaat dan eara meneapai pelajaran agar pembelajaraIl dapat berguna bagi kehidupan.
Proses pembelajaran yang l11enghubungkan antam materiー・ャセ。ュョ dengan dunia sehari-hari difasilitasi melalui pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru dalam mengaitkan lSI materi dengan aktivitas siswa sehari-hari, memotivasi pat'a pelajar untuk
7 Sumaji, dkk., Pendidikan Sains rang Humanistis,(Yogyakarta: Kanisius, 1998), h. 42
, AlanJ. Bishop,Op. Cit.,hal.
47
.
9 Mochamad Enoh, Implementasi Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam
Kurikulum Berbasis Kompetens! Mota Pelajaran Geografl SMUlMA,(Jurnal I1mu PendidikanWid
membuat hubungan antara ilmu pengetahuan dan mengapliksikannya dalarn kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga, warga negara, maupun pekerja. Pendekatan tersebut dapat digunakan dengan sunggnh·sungguh untuk keperluan proses pembelajaran.11
Salah satu pokok bahasan yang erat kaitarmya dengan kehidupan sehari-hari yaitu keanekaragarnan hayati. Materi keanekaragarnan hayati selain membutuhkan pemahaman, juga membutuhkan keterarnpilan siswa dalam mengarnati lingkungan sekitarnya. Melalui pengarnatan Iingkungan sekitarnya dapat ditumbuhkan jiwa kepedulian dan semangat kerjasama. Terkait dengan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian pada materi keanekaragarnan hayati.
Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian yang dalarn kegiatannya berusaha mengembangkan pendekatan kontekstual berbasis nilai yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar blologi siswa. Pengembanganpendekatan kontekstual pada proses pembelajaran diharapkan dapat memunculkannilai-nilai yang siswa miliki sehingga memiliki budi pekerti yang baik dan menjadikan manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengadakan peneJitian yangberjudul: "Pengaruh
Pendekatao Kontekstual Berbasis Nilai Terhadap HasH BelajarSiswa Pada
Koosep Keanekaragaman Hayati"
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi yaitu :
I. Apakah pendekatan kontekstual berbasis nilai dapat digunakan dalam pembelajaran biologi pada konsep keanekaragarnan hayati?
2. Bagaimana pendekatan kontekstual berbasis nilai dalampendidikan sains? 3. Bagaimana hasil belajar siswa setelah menerapkan ーLセョ、・ォ。エ。ョャ」ッョエ・ォウエオ。ャ
berbasis nilai?
C. Pembatasan Masalah Penelitian
Mengingat luasnya permasalahan yang telah diungkapkan l11aka perlu dibatasi, di antaranya adalah:
1. Penelitian ini dibatasi pada pengaruh pendekatan kontekstual berbasis nilai terhadap hasil belajar siswa.
2. Nilai yang alcan dilcembanglcan dalanl pembelajaran dibatasi pada nilai religius, praktis dan sosial dan diulcur dengan menggunakan anglcet mengenai tanggapan siswa tentang nilai-nilai yang terkandung dalam lconsep lceanelcaragaman hayati.
D. Rumusan Masalah Penelitian
Masalah yang alcan diteliti dirumuslcan sebagai berilcut: Apakall ada pengaruh pendekatan kontekstual berbasis nilai terhadap hasil belajar siswa pada konsep keanelcaragaman hayati di lcelas X MAN 7 Jakarta Selatan?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarlcan masalall yang telah dirul11uskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui pengaruh pelldekatan lcontekstual berbasis nilai terhadap hasil belajar siswa pada konsep keanekaragaman hayati.
b. Mengetahui penguasaan lconsep siswa pada konsep keanekaraganlan hayati setelah pel11belajaran menggunakan ーLセョ、・ォ。エ。ョ kontelcstual berbasis nilai.
c. Mengetahui tanggapan Slswa tentang nilai-nilai yang terkandung dalam keanelcaragaman hayati.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
dapat menanaman nilai-nilai yang baik kepada siswa melalui pembelajaran biologi.
b. Bagi siswa, dapat memotivasi dan memudahkan siswa dalam memahami mata pelajaran biologi.
DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Teoretik
1. Pendekatan Kontekstnal
a. Pengel,tian Pendekatan Kontekstual
Kontekstual berasal dari bahasa Latin con artinya dengan dan textum
adalah merangkai.1Menurut E. B. Jolmson kontekstual berarti "teralami" oleh siswa2 Pendekatan kontekstual (Contextual Teachiflg and Learning/CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya Galam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelqjaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari
I . 3
guru <e slswa.
Pendekatan kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan para slswa mampu menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macamtatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalahdunia nyata.4 Pendekatan kontekstual bukan merupakan ォッョウHセー banl. Penetapan pendekatan kontekstual di kelas-kelas Amerika pertal1la-pertal1la diusulkan oleh John Dewey. Pada tahun 1916, Dewey mengusulkan suatukurikulum
Anonim, Kaedah Pembelajaran Konstektual, tersedia
QQiエェjセAAGiG||G|yjセエッイNc|QiQQNュカOャ。、。OャッオイゥウュO・、オMォッョエ・ォウエオ。ャNィャュ [] 8 juli 2008]
2 Elaine B. Johnson,Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Keg/atan
Eelajar-Mengajar Mengasyikkan dan Berll/akna(Terjemahan IbnLl Setiawan), (BandLlng: MizaJl Learning
Cenler, 2007) hal. 20
) Elaine B. Johnson, What It Is and Why It's Here to Stay. Tersedia http:/www.corwinpress.com/booksprodDesc.nav?prodld=Book220765 [16 Maret 2008]
dan metode pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman sisw_a:5 Pendekatan kontekstual menjadi alternatif karena SUdall cukup lama disadari bahwa kelas-kelas menjadi tidak produktif bila pembelajaran hanya diisi dengan ceramah. Sementara siswa dipalcsa untuk rnenerima atau menghafal. Pembelajaran pendekatan kontekstual menyadari hakikat bahwa pembelajaran ialah suatu proses berbagai bentuk yang kompleks dengan memperhatikan kaedah-kaedah uerbagai jenis latihan, rangsangan dan tindakan.
Berbagai penjelasan mengenai pendekatall kontekstual dapat disimpulkan terdapat tiga hal yang hams dipallami:6
I) Pendekatan kontekstual menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
2) Pendekatan kontekstual mendorong agar SlSwa dapat menemukan hubungan antara yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
3) Pendekatan kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, hal demikian bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-had.
b. Komponen Pendekatan Kontekstual
Ada beberapa komponen pendekatan kontekstual antara lain:7 I) Konstmktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun ataumenyususn pengetahuan baru dalam stuktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Melalui proses pengamatan dan pengalaman, pengetahuan yang dibangun
5 Trianto, Alodel-model Pembelajaran fnovatlf BerorientasiKonstruktivistik: Konsep,
Landasan Teorilis-Praklis dan Implementasin)'a. (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), hal.
oleh siswa alean fungsional. MaIm penerapan asas konstruletivisme dalam pembelajaran melalui pendeleatan kontekstual, siswa didorong untuk mampu mengleonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengamatan nyata.
Hal yang perIu diperhatikan dalam pembelajaran konstruktivisme adalah guru dapat membawa siswa ke dalam situasi belajar yang dapat menghubungkan apa saja yang diperoleh siswa di sekolah atau kelas dan dapat menghubungkan materi tersebut dengan kehidupan sehari-hari mereka8 Pengetahuan harus dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Melainkan manusia harus mengkonstruksi dan mencerna pengetahuan tersebut dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Begitu juga dengan leeterarnpilan, bulean merupakan hasil menghafal melainkan dari pencarian pengetahuan dan penemuan-penemuan yang dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui pergaulannya dalam kehidupannya sehari-hari yang dibimbing oleh guru.
2) Menemukan(Inquiry)
Inkuiri merupalean bagian inti dari kegialan pembelajaran berbasis kontelestual. Pengetahuan dan keterarnpilan yang diperolehsiswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangleat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatanyang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Siklus penting dalam "menemukan" atau inkuiri adalah; observasi, bertanya, mengajukan hipotesis, pengumpulan data, dan membuat kesimpulan.
Pembelajaran inkuiri diraneang untuk mengajak siswa seem-a langsung lee dalam proses ilmiah dalam waletu yang relatif singkat. Seperti yang dikutip Triyanto, hasil penelitian Schlenker., mellUnjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahmnan sains, produktif dalam berpikir kreatif, dan siswa memadi terampildalam l11emperoleh dan menganalisis informasi9
3) Bertanya
Kegiatan bertanya dilakukan dalam nmgka menggali informasi, mengkomunikasikan apa yang sudah diketahui, serta wltuk membangkitkan lebih banyak lagi pelianyaan dari siswa dan untuk menyegarkan kembali ingatan siswa.
Pengetahuan yang dimiliki oleh siswa selalu bermula dad bertanya. Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru tmtuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang
belumdiketahuinya.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Pembelqjaran yang diperoleh melalui kerja sama. Ke1ja sama dapat teljadi antal'a siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru bahkan alltara siswa dengan kakak kelasnya, dengan orang tua atau sumber lain sehingga semuanya itu disebut sebagai masyarakat belajar.
5) Pemodelan (Modelling)
Pemodelan adalah adanya sesuatu yang dapat ditiru dalam suatu proses pembelajaran. Sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu terdapat model yang bisa ditiru. Model tersebut bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu misalnya penggunaan mikroskop, cara membuat sesuatu, misalnya membuat preparat baik dari tumbuhan maupun hewan dan lain sebagainya. Guru bukan satu-satunya model dalam pembelajaran. Model pembelajaran dapat dirancang sesuai harapall dan kualitas daya serap siswa dalam memahailli mated pelajaran dan yang lebih penting adalah model yang digunakan dalam belajar dibuat denganmelibatkan siswa. Sehingga siswa dapat mengikuti pelaj aran seCal'a optimal.
6) RefJeksi (Reflection)
Pada akhlr pembelajaran guru menylsakan waktu sejenak agar siswa melakuka:l refleksi. Realisasinya berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperolehnya hari Itu, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan atau saran siswa tentang pembel1\iaran har! Itu dan lain-lain. Dalam tataran pelaksanaannya refleksi bisa dilakukan dengan menggunakan angket ataupun wawancara. Tujuan dari refleksi agar pembelajaran yang sudah dilakukan bisa terlihat seberapa jauh siswa termotivasi dalam belajar agar pembelajaran selanjutnya dapat lebih meningkatkan belajar siswa.
7) Penllalan Nyata(Authentic Assessment)
Penilaian keberhasilan pembelajaran dilakukan dengan jalan mengumpulkan semua data yang ada dari siswa baik selama proses pembelajaran berlangsung, maupun setelal1 proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini data tentang aspek kognitif siswa, afektif siswa clan tentar.g psikomotornya.
Penilaian autentik clapat clilakukan terhadap beragam aletivitas yang dilakukan siswa yang dapat memberikan informasi tentang pemal1aman siswa terhaclap konsep yang cliberikan. Penilaian autentik memiliki karakteristlk alami, berguna dan belmakna, objektif serta valid.10
c. Prinsip dan Strategi Pendekatan Kontekstual
Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:II
I) Keterkaltan, Relevansi (Relating)
Proses pembelajaran henclaknya ada keterkaitan (relevance)
dengan bekal pengetahuan (prerequisite knowledge) yang telah ada pada diri siswa, clengan konteks pengalaman dalam kehidupan dunia sebenarnya sepertl manfaat untuk bekal bekerja di kemudian hari dalam kehidupan masyarakat.
10 Matlhew Clifford and Mariea Wilson,Contextual Teaching Professional Learning and
2) Pengalaman Langsung(Experiencing)
Da1am proses pembelajaran siswa perin mendapatkan pengalaman langsung melalui kegiatan eksplorasi, penemnan, investigasi, penelitian, dan lain-lain. "Experiencing dipandang sebagai jantung pendekatan kontekstual". Proses pembelajaran akan ber1angsung cepat jika siswa diberi kesempatan untuk memanipulasi pera1atan, memanfaatkan sumber be1ajar,'dan melakukan bentuk-bentuk kegiatan pene1itian yang lain secara aktif.
3) Aplikasi (Applying)
Menerapkan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang dipelajari dalam situasi dan konteks yang lain merupakan pembe1ajaran tingkat tinggi, lebih dari sekedar menghafal.
4) Kelja Sarna(Cooperating)
Kerja sarr.a dalam konteks saling tukar pikiran, mengajukan dan menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa, antar siswa dengan guru, ant'll' guru dengan siswa, darl siswa dengan narasumber. Memecahkan masalah dan mengerjakan tugas bersama merupakan strategi pokok pembelajaran dalam pendekatan kontekstual. 5) Alih Pengetahuan (Transferring)
Pendekatan kontekstual menekankan pada kcmampuan siswa untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dimi1iki pada situasi lain. Dengan kata lain pengctahuan dan keterampilan yang tclah dimiliki bukan sckedar untuk menghafal tetapi dapat digunakan atau dialihkan pada situasi dan kondisi lain.
Menurut A. Chaedar (Guru Besar UPI) dalam E.B Johnson, ada bcberapa strategi yang mesti ditempuh dalam pcndekatan kontekstual secara proporsional dan rasional adalah:12
2.) Menggunakan konteks yang beragam. Makna itu ada di mana-mana dalam konteks fis:k dan sosial. Se1ama ini ada yang keliru, menganggap bahwa malma pengetahuan adalah yang tersaji dalrun materi ajar atau buku teks saja. Dalam Contextual Teaching and Learning (CTL), guru membermaknakan ragam konteks (sekolah, keluarga, masyarakat, tempat kerja, dan sebagainya), sehingga makna pengetahuan yang diperoleh siswa menjadi semakin berkualitas.
3.) Mempertimbangkan kebinekaan siswa, dalam konteks Indonesia, kebinekaal1 baru sekedar pengakuan politik yang tidak bermalma eduk\ltif. Dalam kontekstual, guru mengayomi individu dan meyakini bahwa perbedaan individual dan sosial seyogyanya dibennalmakan menjadi mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan membangun toleransi demi terwujudnya keterampilan interpersonal. 4.) Mel11berdayakrul siswa untuk belajar sendiri. Setiap manusia mesti
l11enjadi pembelajar aktif sepanjang hayat. ladi, pendidilcan formal merupakan lcawah candradimulca bagi siswa untuk menguasai cara belajar mandiri di kel11udian hari. Untuk itu, mencari dan menganalisis informasi dengan sedikit bantuan atau bahkan secara mandiri.
5.) Belajar melalui kolaborasi. Siswa seyogyanya dibiasakan saling belajar dari dan dalam kelompok untuk berbagi pengetahuan dan menemukan fohls belajar. Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol clibandingkan dengan koleganya. Siswa ini dapat clijadikan fasilitator dalam kelompolmya. Apabila komunitas belajar sudah terbina sedemikian rupa di sekolah, guru tentu akan lebih berperan sebagai pelatih, fasilitator, dan mentor.
secm'a terpadu dan kontekstual, dan memberi kesempatan kepacta siswa untuk maju terus sesuai denl',an potensi ymlg dimilikinya.
Untuk mengejar standar tinggi, standar unggul sering dipersepsi sebagai jaminan untuk mendapat pekerjaan, atau minimal membuat siswa merasa percaya diri untuk menentukml pilihan masa depan. Standar unggul semestinya terus menerus dibisikkan pada telinga siswa untuk mengingatkan agar menjadi manusia kompetitif pada abad persaingan seperti sekarang ini. Dengan demikian, sekolah semestinya menentukan kompetensi lulusan dari waktu ke waktu terus ditingkatkan dan melakukan benchmarking (uji mutn) dengan melakukml studi banding ke berbagai sekolah dalam dan Inar negeri.
d. Kelebihan dan Kelmrangan Pendekatan Kontekstual
Berbagai hasil penelitian mcnyebutkan bahwa pendekatan kontekstual memiliki kelebihan dan keknrangan. Mennrut Damriani (2006), pendekatan kontekstualmerupakan salah satu pembelajaran alternatif dalam pembelajaran IImu Pengetahuan Alam. Seperti hasil penelitian yang telah dilakukannya, pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa.13
Mennrut Lili Nnrlaili, pendekatan kontekstual sangat bermanfaat bagi siswa karena memfokuskan pembelajaran pada lingkungan sekitar siswa dan siswa lebih berkesan dalam pembelajaran karena mereka mengalami sendiri secanl langsung dan menghubungkan pengetahuan yang dipelajari dengan pengalamannya.14
Menurut M. Enoh, pendekatan kontekstual sudah tepat dan akan lebih bermakna, namun guru dituntut mampu mellyikapi secara jeli mengaIlalisis indikator pencapaian hasil belajarnya, karena semua indikator di dalam kurikulum bisa dilaksanakan dengan pola pendekatan kontekstual.15 Sehubungan dengan itu, guru hendaknya menganalisis materi dengan tepat,
" Damriani, Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Be/ajar Siswa Melalui Pendekatan
Contexlual Teaching and Learning Mata Pe/ajatan Fisika di SMAN3 Bandarlampw1f!.. JPMIPA.
indikator-indikator mana saja yang tepat digunakan dengan pola pendekatan
kontekstual. Tentunya disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.
Kelebihan pendekatan kontekstual dapat terlihat pada tabel perbedaan
pendekatan kontekstual dengan pendekatan konvensional dalam pembelajaran.
Tabel2.1 Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Konveusional No Pendekatan Kontekstual Pendllkatan Konvensional
1. Menyandarkan pada pemaharnan Menyandarkan pada hafalan
makna
2. Pemilihan informasi berdasarkan Pemilihan infOImasi ditentukan
kebutuhan siswa oleh guru
3. Siswa terlibat secara aktif dalam Siswa secara pasif menerima
proses pembelajaran informasi
Pembelajaran dikaitkan dengan
Pembelaj:rran sangat abstrak dan
4. kehidupan nyata/masalah yang
teoritis disimulasikan
Selalu mengkaitkan informasi Memberikan tumpukan informasi
5. dengan pengetahuan yang telah kepada •. siswa sampai saatnya
dimiliki siswa diperlukaIl
6. Cenderung mengintegrasikan Cenderung terfokus pada satu
beberapa bidang bidang (disiplin) tertentu
Siswa mengglmakan waktu Waktu belajar siswa sebagian
belajarnya untuk menemukan, besaI' digunakan untuk
mengaitkaIl, berdiskusi, berpikir mengerjakan buku tugas,
7. mendengarkan ceramall, dan
kritis, atau mengerjakan proyek
mengisi Iatihan yang
dan pemahanlan masalah
membosankan (melalui kerja
(melalui kelja kelompok)
individu)
8. Perilaku dibangun atas kesadaran Perilaku dibangun atas dasar
diri kebias!UlIl
9. Keterampilan dikembangkan atas KeterampiJan dikembangkan atas
dasar pemahaman dasar Iatihan
10. Hadiah dari perilaku baik adalah Hadiah dari perilaku baik adalah
kepuasan diri pujian atau nilai angka rapor
Siswa tidak melakukan hal yang
Siswa tidak melakukan hal yang
11. buruk karena sadar hal tersebut
keliru dan merugikan buruk karena takut akan hukuman
12. Perilaku baik berdasarkan Perilalcu baik berdasarkan
motivasi intrinsik motivasi ekstrinsik
13. Pembelajaran teljadi di berbagai Pembelajar:m hanya teljadi dalam
tempat, konteks, dan setting kelas
Hasil belajar diukur melalui Hasil belojar diukur melalui
14. kegiatan abof'.mlii rlolom 1-.0"+""
2. Pendekatan Kontekstual Berbasis Nilai
a. Pengertian Nilai
Kata nilai yang berasal dari kata value berasal dari bahasavalere atau bahasa Perancis hl110 valoir. Sebatas arti denotatifnya, nilai dapat dimaknai sebagai harga. Namun ketika kata tersebut sudah dihubungkan dengan suatu objek atau persepsi dari suatu sudut pandang tertentu, harga yang terkandung di da1amnya memiliki tafsiran yang bermacam-macam. Ada harga menurut ekonomi, psikologi, sosiologi, antropologi, maupun agarna.16
Nilai didefinisikan dengan cara yang berbeda-beda oleh banyak ahli. Healstead dan Taylor dalam Nik Pa mendefinisikan nilai sebagai prinsip atau pegangan yang berperan sebagai pemandu tingkah lak.'ll manusia, dan sebagai standar khusus atas tindakan yang baik atau sesuai untuk dimiliki seseorang.17 Nilai bukan hanya meliputi aspek lcepercayaan tetapi juga aspelc pemahaman, perasaan, dan tinglcah lalcu manusia. Dalam pendidilciUl, istilah nilai pada umumnya digunakan untuk merujuk Icriteria menentukan arah kebaikan, harga, keindahan, mutu, atau kepentingan sesuatu perkara. Nilai meliputi pemikiran yang penuh dengan perasaaan tentang benda, ide, tingkah lalcu dan sebagainya yang memandu perbuatan individu.1S
Sea dan Bishop (2001) menggan1barkan bahwa nilai yang diberikan oleh guru adalah proses representasi atas "kesadaran" dari lcomponen afektif seperti keyakinan dan tingkah lalcu. Kemudian proses tert:ebut terintegrasi atas aspek kognitif dan psikomotor individu siswa. Dalam proses pendidilcan sains, nilai dalam proses belajar tidak hanya terfokus pada proses pencarian kognitif saja tetapi juga proses afektif yang dapat memberilcan pengaruh bagaimana siswa mcncari jalan llntlilc memilih dan menggunakan komponen beiajar yang ada c1alam proses pembelajaran.19
16lndra Venita, lurnal Guru No.2 Vol.2 Desember,Konslruktivisme Da/am Pembelajaran
Bahasa Inggris Dengan Penginlegrasian Ni/ai /mlaq Pada 8MP Negeri i X Kola Kelas11, (lurnal
Guru. No.2 Vol. 2 Desember, 2005) hal. 96
17 Nik Aziz Nik Pa. Pengembangan Ni/ai do/am Pendidikan Malemalika CabOl'on dan
Keperluan, International Seminar on Development of Values in Mathematics and Science
Menurut Bertens yang dikutip Supartini, mengemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu y,mg dicari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan dan sesuatu yang baik. Bertens juga mengemukakan bahwa nilai sekurang-kurangnya memiliki tiga ciri, yakni: nilai berkaitan dengan subjek; nilai tampil dalam suatu konteks praktis; dan nilai menyangkut sifat-sifat yang ditambah oleh subyek pada sifat-sifat yang dimiliki oleh obyek.20
Menurut Mulyana, nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Definisi tersebut mencakup keseluruhan aspek, walaupun ciri-ciri spesifik seperti norma, keyakinan, cara, tujuan, sifat dan ciri-ciri nilai tidak di ungkap secara eksplisit.2J
Dari definisi nilai oleh para ahii dapat disimpulkan bahwa nilai mendasari sikap dan tindakan seseorang, karena nilai dapat dijadikan patokan dan prinsip-prinsip sebagai lcriteria dalam menjalani kehiciupan.
b. Pembagian Nilai
Para ahli teori nilai menganalisis nilai dalam cimmya masil1g-masing, cara mengklasifikasi nilai juga cukup beragam tergantung pada sudut pandang dan disiplin ilmu yang mereka miliki. Dalam ilmu-ilmu behavior nilai dipertimbangkan dalam perilaku (behavioral value). Nilai-nilai yang dimaksud merupakan petunjuk-petunjuk yang terintemalisasi di dalam ekspresi perilaku yang ditampilkan seseorang.22
Secara garis besar nilai terdiri dari nilai nut"ani (value of being) dan nilai-nilai memberi (value of giving). Nilai murni merupakan nilai yang terdapat dalam diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku serta cara kita memperlakukan orang lain. Adapun macam nilai nurani adalah kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, disiplin, tahu batas kemurnian, dan kesesuaian. Sedangkan nilai-nilai memberi adalah nilai yang perIl! dipraktikkan dan akhirnya diterima sebanyak yang diberikan. Yang
20 Elis Supartini, Pendidikan Nilai di Sekolah Dan Keluarga, Fasilitator, Edisi 1,2006, hal. 41
tennasuk nilai-nilai memberi adalah setia, dapat dipercaya, honnat, cinta, kasih sayang, peka tidak egois, baik hati, ramah, adil, murah hati.23
Menurut teori nilai yang digagas Spranger dalam Mulyana menjelaskan adanya enam orientasi nilai yang sering dijadikan rujukan oleh manusia dalam kehidupan, di antaranya: 24
1.) Nilai teoritik
Nilai teoritik adalah nilai yang melibatkan pertimbangalllogis dan rasional dalam memikirkan dan membuktikan kebenaran sesuatu. Nilai teoritik memiliki kadar benm'-salah menurut timbangan aleal pileiran. Nilai ini erat dengan konsep, aksioma, dalil, prinsip, teori, dan generalisasi yang diperoleh dari sej umlah pengamatan dan pembuktian ilmiah.
2.) Nilai ekonomis
Nilai ini terleait dengan peliimbangan nilai yang berkadar untung-rugi. Karena pertimbangan nilai ini relatif pragmatis, Sprmlger me1ihat bahwa dalam leehidupan manusia seringleali teljadi konflik antar kebutuhan nilai dengan lima nilai lainnya (teoritile, estetika, sosial, politik, dan religius).
3.) Nilai estetik
Nilai estetik menempatlean nilai tertingginya pada bentuk dan leeharmonisan. Apabila nilai ini ditilik dm'i sisi subjek yang memilikinya, malea alean muneul kesan indah tidak indah. Nilai estetile berbeda dari nilai teoretik. Nilai estetile lebih meneerminkan pada keragaman,sementara nilai teoretik meneerminlean identitas pengalaman.
4.) Nilai sosial
Nilai sosial bergerale pada rentang antara kehidupan yang individualistile dengan altruistik. Silmp tidak berpraduga jelek terhadap orang lain, sosiabilitas, keramahan, dan perasaan simpati dan empati merupakan perilaku yang menjadi kunei keberhasilan dalam meraih nilai sosial.
5.) Nilai politik
Nilai tertinggi dalam nilai ini adalah kekuasaan. Karena· itu, kadar nilainya akan bergerale dmi intensitas pengaruh yang rendah sampai pada
pengaruh yang tinggi. Kekuatan merupakan faktor penting yang berpengaruh
terhaclap pemilikan nilai politik pada cliri seseorang. Sebaliknya keler,lahan
adalah bukti clari seseorang yang kurang teliarik pacla nilai ini.
6,) Nilai agama
Secara hakikatnya sebenarnya nilai ini merupakan nilai yang memliki
clasar kebenaran yang paling kuat dibanding dengan nilai-nilai sebelumnya.
Nilai ini bersumber dari kebenaran tertinggi yang datangnya clari Tuhan.
Cakupan nilainya pun lebih luas.
Namun menurut Syaiful Anwar dalam studium general yang cliadakan
pacla tanggal 20 juni 2008 tentang pendidikan nilai dalam sains mengatakan
bahwa pendiclikan nilai yang berkembang pacla saat ini acla tiga nilai yaitu:
nilai keaganlaan (imtaq), nilai bucli pekerti clan nilai kebangsaan
(pel11bentukan karakter bangsa atau cinta tanah air).25
Mengingat begitu luas cakupan clan banyaknya pembagian nilai
mcnurut para ahli, nilai yang akan cliukur pada penelitian ini hanyapacla nilai
religius atau keagamaan, nilai praktis clan nilai sosial.
c. Nilai dalam Pembelajaran Biologi
Kemajuan ihnu pengetahuan dan teknologi berpengaruh besar
terhaclap dinamika masyarakat. Sepelii sering dirasakan dalam kehidupan
sehari-hari, ill11u pengetahuan dan teknologi seringkali berdampak pada
perubahan tatanan sosial, ekonomi, budaya, politik, dan keagamaan
masyarakat. Namum dalam fenomena pendidikan yang teljadi saat ini,
penclidikan IImu Pellgetahuan Alam (IPA) sebagai ilmu penopang
pengembangall teknologi kerap diajarkan hanya ウ・「。エ。セZ ill11u dan untuk ilmu.
Pembelajaran tersebut belum banyak mengembangkan wilayah afektif peserta
cliclik,
Maklla pendidikan pacla dasamya merupakan suatu perbuatan atau
tinclakan yang dilakukan dengan maksucl agar anak atau orang tua yang
dihadapi itu akan meningkat pengetahuannya, akhlakllya, bahkan seluruh
suatu proses membantu siswa menjajaki nilai-nilai yang mereka miliki secara
krilis agar meningkatkan mulu pemikiran dan perasaml mereka tentang
nilai-'I '26
111 m,
Menurut UNESCO yang dikutip Mulyana mencatat bahwa
pembelqiaran IPA dan Matematika yang dilakubm secm'a terpadu deng8l1
kebutuhan pendidikan nilai alcan mampu mengubah makna belajar dan
meningkatkan kemampuan peselia didik dalam menghargai kontribusi iptek,
mengembangkan minat mereka dalam belajar, dan memiliki sikap ilmiah yang
jelas, Materi pembelajaran yang dikembangkan harus sampai pada
materi-materi esensial yang terkandung di dalamnya.27 Materi-materi esensial yang
dimaksud dijelaskan dalam tabel 2.2,
Tabe12.2 Mater! Esensial IPAdan Matematika
Nilai dalam Calmpan Luas Tujuall Kurilmlum
Nalar Rasional Untuk memahami logika IPA dan
Matematika serta menggunakan
konsep-konsep angka
Logika sebab-akibat Untuk menilai hubungan antm'a peristiwa
yang mendahului dengan peristiwa
berikutnya, selia implikasinya bagi
pengawasan terhadap akibat-akibat yang
muncul
IPA dan Matematika sebagai Unluk menilai penggunaan IPA dan
cara meningkatkan matematika dalam kehidupan sehari-hari
kehidupan masyarakal yang teIjadi di masyarakat
Modernisasi dan teknologi Unluk menyiapkan peserta didik agar
memperoleh pendidikan yang sesuai dengan
GMMMMNセ kebutuhan kelja danperkembangan teknologi
Sumber: Mulyana (2004)
Biologi sebagai salah satu mata pelajm'an kelompok sains mempunyai
karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Biologi memiliki
slruklur keilmuan dan metode pembelajaran tersendiri sertaterdapatnya
produk-produk keilmuan seperti konsep, teorl, postulat dan lain-lain. Adapun
struktur keilmuan biologi terdiri atas tiga dimensi keilmuan yaitu objek, tema
atau persoalan dan tingkatan organisasi kehidupan28
Menurut Einstein yang dikutip Suroso l11engatakan bahwa sall1S
mengandung lima nilai, di antaranya:29
I.) Nilai intelektual
Nilai intelektual suatu bahan ajar sains biologi adalah nilai yang l11elandasi
kecerdasan dalam l11enggunakan akalnya untuk memahami sesuatu dengan
tidak mempercayai tahayul. Bahan ajar biologi. baik secara morfologi,
anatomi, l11aupun fisiologi dapat menanamkan nilai kecerdasan.
2.) Nilai praktis
Nilai praktis suatu bahan ajar adalah berhubungan dengan aspek-aspek
manfaat sains untuk kehidupan manusia. Dalam hal ini sains dapat
berkembang dengan pesat karena banyak' memiliki nilai praktis bagi
kehidupan.
3.) Nilai Pendidikan
Nilai pendidikan suatu bahan ajar sains merupakan kandungan nilai yang
dapat memberikan inspirasi atau gagasan yang muncul untuk pemenuhan
kebutuhan hidup manusia.
4.) Nilai sosial-politik-ekonomi
Konsep-konsep dalam sains biologi memberikan banyak petunjuk untuk
dijadikan pelajaran bagi hubungan manusia di bidang sosial, politik, dan
ekonomi. Nilai sosial suatu bahan ajar l11erupakan suatu model tentang jalinan
hubungan peran manusia sebagai ll1ald1luk sosial yang bisa hidup sendiri,
tetapi mell1crlukan peran orang lain dalam mewujuclkan misi politik clan
kemajmm ekonomi.
5.) Nilai religius
Nilai religius suatu bahan ajar clalan1 IPA aclalah kandungan nilai yang
dapat meningkatkan keyakinan terhaclap Tuhan. Keturunan, keseimbangan,
peristiwa sebab akibat dan lain sebagainya merupalcan aspek yang dapat
18 Rini Prisma Gusti, Upaya Peningkatan Pemahaman KOl1sep Biologi Ale/alul
Pendekalan Kontekstual dengan Alode! Pembelajaran Berbasis Gambar (Picture and P;('/1wp)
menumbuhkan kesadaran bahwa segala hal yang mesti ada yang menciptakan
dan mengaturnya.
Banyak nilai penting yang dapat dipelajari dari sams, memberi
konsekuensi kepada para pendidik untuk dapat mengembangkan sains sebagai
salah satu media dalam membentuk pribadi siswa. Dalam hal ini, siswa dapat
diajak menelaah serta l11el11pelajari nilai-nilai dalal11 sains yang bergLma dalam
kehidupan bermasyarakat.30
Dari nilai-nilai yang terdapat dalam pembelajaran biologi dapat
disimpulkan bahwa berbasis nilai tidak hanya terdapat pada pembelajaran
yang mengandung nilai seperti kewarganegaraan dan agama, tetapi dalarn
pembelqjaran biologi juga terdapat banyak nilai yang dapat dipelajari dan
terungkap.
d. Pembelajaran Kontekstual Berbasis Nilai
Pembelajaran dikatakan efektif apabila mencapaL hasil yang
diinginkan. Tentunya hasil pembelajaran bukan sekedar siswa mampu
mengembangkan potensi untuk mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga l11ampu
mengembangkan potensi untuk l11eningkatkan kecakapan hidup yang
diperlukan guna l11engatasi dan l11euyelesaikan masalah kehiclupan yang
dihadapi. Oleh karena itu, proses pel11belajaran tidak boleh berhenti sal11pai
penguasaan bahan ajar saja, tetapi harns sal11pai terakul11ulasi l11enjadi
kecakapan hiclup (life skills). Cakap di sini tetap berpecloman kepada
nilai-nilai yang positif sesuai clengan pahal11 yang dianutnya.
Nilai l11erupakan bagian yang selalu melekat dalam proses pencliclikan
pacla setiap jenjang. Nilai mel11iliki peran yang sangat besar clalal11
membangun kepribaclian dan identitas sosial siswa.31 Dengan del11ikian
melalui pencliclikan IPA yang berpecloman pacla nilai agarna, nilai budaya
bangsa diharapkan terciptanya sumber claya manusia yang berkualitas clan
mel11iliki budi pekerti luhur.
]0Slimaji el aI., Pendidikan Sains yang Humanistis, (Yogyakarta : Kanisills, 1998), hal.
Pengel11bangan nilai di dalam proses belajar l11engajar pada pendidikan
IPA l11erupakan kOl11ponen yang sangat penting untuk domain afektif karena
akan l11el11berikan pengaruh kepada siswa dalal11 bersikap.32 Dengan del11ikian
l11elalui pengalal11an belajar yang diperoleh siswa l11al11pu l11enemukan
nilai-nilai yang diinternalisasikan dalam sikap sehari-hari.,
Suatu pendekatan dalam perkembangan nilai adalah proses
l11enanamkan nilai langsung kepada siswa dengan cara guru dituntut
l11engidentifikasi nilai apa yang dapat diberikan kepada siswa. Perlu diketahui
bahwa nilai adalah konsep sederhana bagail11ana sesuatu dapat dilakukan
kel11udian dipel1\iari dan diteliti sesuai dengan pendapat yang selanjutnya akan
dihasilkan kesimpulan berupa peneril11aan atau penolakan akan hasil yang
dikeljakan. Dengan demikian nilai dalam sains lebih cenderung dihasilkan
dari ranah aiektif setelah itu baru mempengaruhi ranah kognitif dan
psikomotor siswa.33
Menurut Alan J. Bishop, mengel11bangkan suatu nilai terlihat dalam
prosesnya, artinya gagasan akan tumbuh dan berkembang melalui teori-teori
alternatif. Pengembangan dapat melalui metode-metode yang baru dan tanya
jawab yang memiliki gagasan. Metode tersebut dapat l11emperkenalkan suatu
nilai pada kebebasan dan kreativitas individu.34 Dengfm demikian nilai dapat
terintegrasi melalui suatu pembelajaran yang dapat mengembangkan suatu
nilai. Salah satu pendekatan kontekstual yang digunakan untuk l11enul11buhkan
dan mengembangkan kepribadian yang menginternalisasikan nilai-nilai dalam
diri siswa adalah pendekatan kontekstual dengan teori. konstruktivisme yaitu
peserta didik aktif membangun pengetahuan sendiri.
Menurut Alan J. Bishop pengajaran nilai tidak seperti mengajarkan
suatu materi pecahan yang mendapatkan jawaban langsung, tetapi bagaimana
nilai-nilai tersebut dapat l11empengaruhi siswa. Mengerti suatu nilai
32 Ibid.
33 Rohaida Mohd. Saat& Ahmad Hozi H. A Rahman,The Role afValues in Science
Education: Implications to Teacher Training, (International Seminar on Developmentof Values
merupakan kunei untuk membangkitkan berbagai kemungkinan untuk
meningkatkan eara mengajar.35
Pendidikan nilai merupakan suatu proses yang panjang. Diawali
dengan memperkenalkan nilai-nilai, kemudian membimbing siswa untuk
memahami dan menghayati nilai-nilai tadi, lalu rnerangsang tumbuhnya
keinginan untuk mengamalkan nilai-nilai tadi, dan akhirnya mendorong
mereka untuk benar-benar mengamalkan nilai-nilai tadi pada kesempatan yang
tepat36Proses internalisasi nilai-nilai dapat dilihat pada GambaI' 2.1
Skema Hubungan Antara Pengetahuan dan Pengalaman Nilai
Mengetahui
(cognition)
Menghayati
(Affection)
Keinginan lemah
(valitio)
Sumber : Fasilitator Edisi I tahun 2006
Pengalaman II
(Praxis)
[
Motivasi
(motivum)
I
Keinginan yang kuat(conatio)
GambaI' 2.1 Skema Pl"OSes Internalisasi Nilai-Nilai
Dari skema pada Gambar 2.1 dapat terlihat bahwa pendidikan nilai
tidak clapat clilaksanakan hanya melalui pengajaran yang bersifat kognitif
semata-mata. Penclidikan nilai berupa tinclakan yang perlu clilakukan. Tanpa
langkah-Iangkah tadi pendidikan nilai tidak akan berhasil. Dengan demikian,
pendekatan kontekstual merupakan pembelajaran yang dapat mengembangkan
suatu nilai, karena pada pendekatan kontekstual siswa diajak langsung untuk
mengalami "belajar bermakna" sehingga nilai dapat dengan mudah tertanam
clalam pembelajaran.
35 Alan. J Bishop, What values do you teach when teach you teach mathematics?,
Menurut Mulyana pengembangan pendiclikan nilai melalui IPA
diperlukan strategi yang tepaL Nilai perlu cliperluas dan diperkaya. Dengan
demikian, aktivitas pembelajaran perlu diarahakan pada pemahaman dan
pengembangan nilai-nilai yang langsung berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari37 Pendekatan kontekstual berbasis nilai sangat tepat dalam
pengembangan pendidikan nilai. Dengan menghubungkan kehidupan
sehari-hari maka nilai akan tertananl clalam diri siswa.
Dalam memahami nilai, anak akan tumbuh clan berkembang sesuai
dengan pengalamannya. Hal ini ticlak berarti Gemua pengalaman anak
berlangsung dalam suatu kejaclian clan kesatuan yang utuh. Pengalaman pada
diri anak pada umumnya merupakan petunjuk ke arah perkembangan persepsi
clan tindakan yang gilirannya menuntut proses belf\jm' untuk membangun
pengalaman itu. Karena itu strategi dasar yang harns dikembangkan oleh guru
meliputi: (1) identifikasi nilai dan tujuan yang henclak clicapai oleh anak, (2)
menyusun pengalaman kehidupan yang menantang terhadap pertimbangml
yang memperluas kemampuan anak clalam membm1gun nilai secara mancliri.38
Pendekatan kontektual berbasis nilai yaitu pembelaj aran yang
menggunakan penclekatan belajar bermakna clengan memasukkan nilai ke
dalam suatu materi yang clif\iarkan, melalui pengalaman-pengalmnan belajar
siswa dan proses clapat bermanfaat dan bermakna bagi siswa clan dapat
mengalami langsung tentang nilai yang diajarkan, proses tersebut dalan1
kontekstual clisebut konstruktivisme (Constructivism). Hal yang perlu
cliperhatikan aclalah guru dapat membawa siswa ke clalam situasi belajar yang
clapat menghubungkan apa saja yang cliperoleh di sekolah atau cli kelas clengan
apa saja yang ada di kehiclupan nyata mereka, dengan demikian mereka clapat
mengaplikasikan nilai clalam kehidupml11ya sehari-hari. Seringkali terjadi atau
timbul pertanyaan di benak siswa atas apa yang teljacli di sekelilingnya
(questioning), sehingga timbul keingintahuan (inquily) dengan ticlak
melupakan untuk melakukan refleksi (reflection) atas apa yang tdah
clikerjakan. Proses pembelajaran yang mencerminkan kontekstual, baik guru
yang dapat ditiru. Guru juga dapat memfasilitasi dan mendorong para siswa
untuk saling membantu dan berbagi pengalaman dalam kelompok mayarakat
belajar (learning community), dan dengan cara demikian akan teljadi hasil
pembelajaran yang diperoleh berkat keljasama antar ternan, kelompok, antar
yang tahu dan yang tidak tahu. Dalam pendekatan kontekstual kemajuan
belajar dinilai dari proses. Karena itu penilaian yang sebenarnya (authentic
assessment) l11erupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa
mel11berikan Gambaran perkembangan belajar siswa agar dia dapat
l11el11astikan bahwa siswa mengalami proses pel11belajaran dengan benar.39
Dari tahapan-tahapan pendekatan kontekstual terlihat bahwa di dalam
pel11belajaran yang menggunakan kontekstual berbasis nilai sangat tepat
digunakan dalan1 pembelajaran, sehingga dengan pel11belajaran tersebnt siswa
benar-benar l11engalal11i belajar, bukan. hanya dapat meningkatkan kognitif
siswa dalal11 pel11belajaran tetapi juga yang dapat meningkatkan afektif dan
psikonrotor siswa. Dengan demikian pembelajaran yang l11enggunakan
pendekatan berbasis nilai dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik dalam
aspek kognitif, afektif l11aupun psikomotor.
3. Belajar dan HasH Belajar
a. Pengel·tian Belajar
Dalam perspektif agama Islam, belajar l11erupakan kewajiban bagi
seliap orang beriman agar mel11peroleh ill11u pengetahuan dalam rangka
meningkalkan derajal kehidupan mereka. Bel'liar adalah kegiatan yang
berproses dan merupakan IInsur yang sangat fundamental/mendasar dalam
penyelenggaraan seliap jenis dan jenjang pendidikan.40
Belajar merupalcan usaha yang dilakllkan setiap manusia cJalam rangka
l11encapai sesuatu yang ingin dicapai. Belajar akan menimbulkan perubahan
perilaku yang diperoleh melallli pengetahuan dan wawasan. Belajar
merupakan aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan
lingkllngan yang l11enghasilkan perubahan dalal11 pengetahuan, pemahaman,
kemampuan dan nilai (sileap), perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas41.
Gagne dalam Ngalim Purwanto menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatal1l1ya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi42•
Cronbach yang dikutip Syaiful Bahri Djamarah berpendapat bahwa
learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Howard L. Kingskey mengatakan bahwa learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed
through practice or training. Belftiar adalah proses di mana tingkah laku (c1alam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan. Seclangkan Geoch memmuskan learning is change is pelformance as a result ofpractice.43
Belajar adalah serangkaian kegiatanjiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalatn interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.44
Belajar merupakan perubahan tingkah laku ata.u penampilan denga.n serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar akan lebih baik, kalau si subjek belajar itu mengalami atau melakukarmya, jadi tidak ber"ifat verbalistik.45
Menurut pengertian secara psikologis, belajar adalah suatu proses llsaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
"' Supraptama, Meningkalkan Motivasi Betajar Siswa dahun Mala Pelajaran Geograji
Metatui Pendekalan Cooperalive Learning,(Buletin Pelangi Pendidikan, Volume 4 No. 1,2001),
hal.23
42 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003),
Cel ke-19, hal. 84
4] Syaiful Bahrl Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Cet-I, hal.
laku yang baru seem'a keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interalcsi dengan linglcungannya. Perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar, yaitu: perubahan terjadi seeal'a sadar, seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah teljadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Dan perubahan dalam beIajar bersifat kontinu dan fungsional, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung seem'a berkesinmnbungan atau tidak statis. Satu perubahan yang teljadi akan menyebabkan perubahan berikutnya yang akan berguna bagi kehidupan atau proses belfliar berikutnya:16
b. Faktor-FaktoryangMempengaruhi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dibedakan menjadi 3 maeam, yakni:47
I) Faktor internal (faktor dari dalmn siswa), meliputi dua aspek: a) aspek fisiologis yang bersifat jasmaniah. Kondisi umum jasmani dan tonus
(tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa daIam mengikuti pelajaran. Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat Juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan khususnya yang disajikan di kelas, b) aspek psikologis yang bersifat rohaniah. Banyak falctor yang termasuk aspek psikologis yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah yang dipandang lebih esensial adalah tingkat keeerdasan/inteligensi siswa, sikap siswa, baht siswa, minat siswa, dan motivasi siswa.
2) Falctor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal terdiri atas dua maearn yaitu: a) lingkungan sosial. Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi,
,16 Siameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), Cet-3, hal. 2-3
dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Lingkungan belajar siswa yaitu masyarakat dan tetangga selia teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri. b) lingkungan nonsosial. Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah letak gedung sekolah, rumah tempat tinggal keluarga siswa, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan siswa.
3) Faktor pendekatan pembelajaran(approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran dalam materl-materi pelajaran.
c. Pcngukuran HasH Bclajar
Salah satu indikator pendidikan berkualitas adalah perolehan nilai hasH belajar siswa. Nilai hasil belajar siswa dapat lebih ditingkatkan apabila pembelajaran berlangsnng secm'a efektif dan efisien dengan ditunjang oleh tersedianya sarana dan prasarana pendukung serta kecakapan guru dalam Pengelolaan kelas dan penguasaan materi yang cukup memadai.48
Crow dalam Ahmad Sofyan mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Pemerolehan ini termasuk suatu cara baru melakukan sesuatu dan cara mengatasi masalah pada situasi baru49
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler l11aupun tujuan instruksional l11enggunakan klasifikasi hasil belajar dari Bloom yang secm'a garis besar membaginya menjadi 3 (tiga) ranah. yakni:
I) Ranah kognitif, pel11belajaran-pembelajaran kognitif tentang belajar
mel11usatkan pada proses perolehan konsep-konsep, sifat dm'i konsep-konsep, dan bagaimana konsep-konsep itu disajikan dalam struktur kognitif. tャセオュャᆳ
berpikirlintelektual. Menurut Benjamin Bloom ada enam tingkatan dalam pembelajeran dimulai dari tingkatan paling bawah yaitu ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya terrnasuk kognitif tingkat tinggi50 Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yalmi:
a) Pengetahuan/ingatan (knowledge), aspek ini mengacu pada kemampuan mengenal dan mengingat materi yang sudah dipelajad dad yang sederhana sampai pada hal yang sukar. Pada umumnya unsur pengetahuan ini menyangkut hal-hal yang perlu diingat seperti rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam unang-undang, nama-nama tokoh, nama-nama kota. Dilihat dari segi proses belajar, istilah-istilah tersebut memang perlu dihafal dan diingat agar dapat dikuasainya sebagai dasar bagi pengetahuan atau pemahaman konsep-konsep laianya.
b) Pemahaman, aspek pemahaman ini mengacu pada kemampuan untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah hal tersebut diketahui atau diingat, serta memalmai arti dad bahan maupun mated yang dipelajari. Aspek ini setingkat lebih tinggi dad pengetahuan sehingga untuk mencapai tujuan dalam tingkatan pemahaman ini dituntut keaktifan belajar yang lebih banyak.
c) Penerapan/aplikasi, aspek ini mengacu pada kernampuan dalam menerapkan pengetahuan dalam memecahkan masalah tertentu.
d) Analisis (analysis), aspek ini mengacu pada usaha memilih suatu integritas menjacli unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hakikatnya atau sllsunannya.
f) Evaluasi (evaluation), aspek ini mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangar atau penilaian terhadap gejala atau peristiwa berdasarkan norma-norma dengan kriteria-kriteria tertentu.51
2) Ranah afektif, エオェオ。ョMエャセオ。ョ afektif adalah tujuan-tujuan yang banyak
berkaitan dengan aspek perasaan, nilai, sikap, dan minat perilaku peserta didik/siswa. Ciri-ciri belajar afektif akan tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku, seperti perhatiannya terhadap pelajaran etika dan moral yang akan meningkatkan kedisiplinannya dalam mengikuti pelajaran lainnya di sekolah. Ranah afektifterdiri dari lima aspek, yakni:
a) Penerimaan (receiving), yakni semacam kesepakatan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala dll. Dalam tipe ini termasuk kesadaran, keadaaan untuk menerima stimulus, kontrol, dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
b) Pemberian respon (responding), yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab, stimulus dari luar yang dating kepada dirinya.
c) Penilaian(valuing), yakni berkenaan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus. Dalam evaluasi ini tennasuk di dalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.
d) Pengorganisasian (organization), yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Yang termasuk dalam organisasi ialah konsep tentang nilai, organisasi sistem nilai, dan lainnya
tingkah lakunya. Yang termasuk kedalamnya adalah keselumhan nilai dan karakteristiknya. 52
3) Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil-hasil belajar keterampilan
dan kemampuan bertindak. Namun pengukuran ranah psikomotorik biasanya clisatukan atau dimulai dengau pengukurau ranah kognitif sekaligus. 53
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh pm'a guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalmn menguasai isi
-4
bahan pengajaran. )
Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhaclap hasil belajar yang clicapai siswa dengan kriteria tertentu. Ba