UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI DIPLOMA IIIMANAJEMEN KEUANGAN
ANALISIS RASIO SOLVABILITASPADA PT. PLN (PERSERO) CABANG MEDAN
TUGAS AKHIR
DiajukanOleh: HARI SASI PRATIWI
112101060
GunaMemenuhi Salah SatuSyaratUntukMenyelesaikan PendidikanPada Program Diploma III
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI DIPLOMA IIIMANAJEMEN KEUANGAN
LEMBAR PERSETUJUAN TUGAS AKHIR
NAMA : HARI SASI PRATIWI
NIM : 112101060
PROGRAM STUDI : DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN
JUDUL : ANALISIS RASIO SOLVABILITAS PADA
PT PLN (PERSERO) CABANG MEDAN
TanggalJuli 2014 DOSEN PEMBIMBING
Dra. Nurzaimah, M.M., Ak NIP. 19581114 198703 2 001
TanggalJuli 2014 KETUA PROGRAM STUDI D-III ManajemenKeuangan
Dr. YeniAbsah, SE, M.Si NIP. 19741123 200012 2 001
TanggalJuli 2014 DEKAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrohim,,,
Syukur Alhamduliilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan tugas akhir ini dengan judul “Analisi Rasio Solvabilitas pada PT PLN
(Persero) Cabang Medan” tanpa ada halangan suatu apapun. Selawat berangkaikan salam juga penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW,
beserta keluarga dan para sahabat, karena dengan safaatnya kita dapat keluar dari
alam jahiliyah ke alam yang penuh pendidikan seperti yang kita rasakan sekarang.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kata sempurna
baik dari segi isi maupun dari segi penyajiannya. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar untuk ke depannya
penulis dapat menulis dengan lebih baik lagi.Dalam kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih penulis kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac, Ak, CA selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Yeni Absah, SE, M.Si selaku Ketua Program Studi D-III
Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera
Utara.
3. Bapak Syafrizal Helmi Situmorang, SE., M.Si, selaku sekretaris Program
Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
4. Ibu Dra. Nurzaimah, MM, Ak selaku dosen pembimbing penulis yang
telah banyak memberikan masukan dan arahan kepada penulis dan sabar
membimbing penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
5. Seluruh Dosen Pengajar dan Staff Pegawai pada Fakultas Ekonomi.
6. Kepada Bapak Pimpinan berserta Staf Pegawai Perusahaan PT. PLN
(Persero) Cabang Medan yang telah memberikan izin kepada penulis
untuk magang dan mengadakan riset dalam rangka penyelesaian tugas
akhir.
7. Teristimewa buat Ayahanda dan Ibunda yang sangat penulis hormati dan
sayangi yang telah membesarkan, mendidik dan yang tak henti-hentinya
banyak memberikan dukungan atas penulis baik moril maupun materil,
serta selalu mendoakan penulis disetiap kesempatan yang ada. Semoga
tugas akhir ini dapat membuat ayahanda dan ibunda tercinta bangga dan
bahagia terhadap penulis.
8. Teman-teman seperjuangan Yola, Diana, Ananda, Deni (@dydas) dan
Dwiria, buat semua terima kasih atas canda tawanya.
Akhir kata, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Wassalammualaikum, Wr. Wb
Medan, Juli 2014
DAFTAR ISI
A. LatarBelakangMasalah ... 1B. RumusanMasalah ...4
C. TujuanPenelitian ... 4
D. ManfaatPenelitian ... 4
BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. SejarahRingkas Perusahaan ... 7
B. StrukturOrganisasi Dan Personalia ... 10
C. Job Description ... 13
D. Kinerja Usaha Terkini ... 24
BAB III PEMBAHASAN A. Pengetian Laporan Keuangan ... 25
B. Analisis Laporan Keuangan ... 32
C. Analisis Rasio Keungan ... 34
D. Pengolahan Data ... 39
E. Persentase Rasio Solvabilitas ... 43
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 45
B. Saran ... 46 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel3.1Komponen laporan keuangan PT.PLN (Persero) Cabang Medan ...39
Tabel 3.2 Komponen laporan keuangan PT.PLN (Persero) Cabang Medan ...40
Tabel 3.3 Komponen laporan keuangan PT.PLN (Persero) Cabang Medan ...41
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berkembangnya dunia usaha yang sejalan dengan pertumbuhan
ekonomi baik yang bergerak dalam bidang perdagangan, jasa, maupun
industri. Setiap perusahaan yang didirikan masing-masing mempunyai maksud
dan tujuan tertentu. Pada umumnya tujuan utama sebuah perusahaan adalah
untuk mendapatkan laba atau keuntungan agar dapat mengembangkan dan
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan sampai masa yang akan
datang. Tujuan tersebut akan tercapai tentunya apabila setiap tingkat
operasional perusahaan dilakukan secara teliti dan akurat.
Perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, selalu
berkaitan erat dengan masalah keuangan. Untuk mengukur berhasil tidaknya
usaha yang dijalankan perusahaan, efek tidaknya dana yang diinvestasikan
bagi perkembangan perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan.
Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan
perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertantu. Laporan keungan
menggambarkan pos-pos keungan perusahaan yang diperoleh dalam suatu
periode.
Dalam hal laporan keuangan, sudah merupakan kewajiban setiap
perusahaan untuk membuat dan melaporkan keuangan perusahaanya pada
suatu periode tertentu. Hal yang dilaporkan kemudian dianalisis sehingga
Untuk mengetahui perkembangan perusahaan, perlu diadakannya
analisis terhadap data keuangan yang telah dikonfirmasi melalui laporan
keungan.Analisis berarti menguraikan laporan keungan tersebut lebih
terperinci sehingga bagian-bagian yang tercakup didalamnya dengan lebih
jelas dan mudah dipahami.Cara yang dapat dilakukan untuk menganalisa
laporan keuangan adalah dengan analisis rasio keuangan, yakni kegiatan
membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan.
Untuk menjalankan operasinya setiap perusahaan memiliki berbagai
kebutuhan, terutama yang berkaitan dengan dana agar perusahaan dapat
berjalan sabagaimana mestinya. Dalam mendanai usahanya, perusahaan
memiliki beberapa sumber dana. Sumber-sumber dana yang dapat diperoleh
adalah pinjaman atau modal sendiri.
Keputusan untuk memilih menggunakan modal sendiri atau modal
pinjaman haruslah digunakan beberapa perhitungan yang matang. Dalam hal
ini rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh
mana aktiva perusahaan dibiaya dengan utang.
Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sajauh
mana aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang. Artinya berapa besar beban
utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1994, status PLN
berubah menjadi perusahaan umum listrik negara (umum), perubahan status
tersebut dimaksudkan untuk dapat meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dan peningkatan pendapatan PT. PLN (Persero), mengingat
untuk meningkatkan kesejahteraan dan mendorong pertumbuhan ekonomi
masyarakat. Hakekat dari ketentuan tersebut adalah bahwa perusahaan PT.
PLN (Persero) dalam melakukan operasionalnya diberi wewenang dan
tanggung jawab mengelola dalam bidang energi listrik.Tujuan PLN dalam
melaksanakan tugas tersebut adalah dalam rangka turut membangun ekonomi,
ketahanan nasional serta mempertinggi derajat masyarakat Indonesia sesuai
dengan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pengusahaan tenaga listrik.
Untuk mencapai tujuan tersebut PLN sebagai BUMN memerlukan
modal atau dana yang terdiri dari modal intern dan modal ekstern perusahaan
yaitu dari hasil operasi perusahaan dan salah satunya adalah penjualan tenaga
listrik. Penjualan tenaga listrik merupakan masalah yang harus dikelola dan
dilaksanakan secara baik dan tertib sesuai peraturan yang berlaku, sehingga
dapat dipertanggungjawabkan setiap saat dengan benar dan akurat, karena hal
itu merupakan aset dan pendapatan utama PLN disamping pendapatan di luar
penjualan listrik.Pengelola keuangan yang dijalankan oleh perusahaan
tergantung pada kemampuan dan kemandirian perusahaan. Untuk itu
diperlukan suatu perencanaan dan sistem keuangan yang baik, khususnya
dalam pengelolaanaktiva yang dimiliki (ekuitas), karena akan memengaruhi
kinerja dari usahanya. Semakin perusahaan memiliki rasio solvabilitas lebih
rendah tentu mempunyai risiko kerugian lebih rendah pula, maka semakin
baik dan leluasa pula perusahaan menjalankan dan meneruskan usahanya, dan
sebaliknya jika perusahaan memiliki rasio solvabilitas yang tinggi, hal ini
akan berdampak timbulnya risiko kerugian yang lebih besar, maka akan
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
analisis rasio solvabilitas, yaitu untuk mengetahui sejauh mana perusahaan
dibiayai dengan hutang, pada tahun 2012-2013 atas laporan keuangan pada
PT. PLN (Persero) Cabang Medan. Dalam hal ini penulis membuat suatu
penelitian dengan judul: “Analisis Rasio Solvabilitas pada PT. PLN
(Persero) Cabang Medan”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, terdapat
suatu masalah pokok yaitu “bagaimana kondisi keuangan PT PLN (Persero)
Cabang Medan, ditinjau dari sudut solvabilitas untuk periode 2012 dan 2013?”
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah “ untuk mengetahui
tingkat rasio solvabilitas pada PT PLN (Persero) Cabang Medan, selama tahun
2012 s.d tahun 2013”.
D. Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat dari penelitian yang dilakukan penulis
adalah :
a. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi untuk dipergunakan sebagai bahan masukan khususnya
solvabilitasperusahaan dari waktu ke waktu dengan
membandingkannya untuk beberapa periode.
b. Bagi pembaca, diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan
dalam menambah wawasan dan pengetahuan.
c. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
meningkatkan ilmu pengetahuan penulis dalam bidang keuangan
BAB II
PROFIL PT.PLN (PERSERO) CABANG MEDAN
A. Sejarah Ringkas
1. Listrik sebelum Kemerdekaan dan di awal Kemerdekaan sampai tahun 1965
Sejarah Kelistrikan di Sumatera Utara bukanlah baru. Kalau listrik
mulai ada di Wilayah Indonesia tahun 1893 didaerah Batavia (Jakarta
sekarang), maka 30 tahun kemudian (1923) listrik mulai ada di Medan.
Sentralnya dibangun ditanah pertapakan Kantor PLN Cabang Medan yang
sekarang di JL.Listrik No.12 Medan, dibangun oleh NV NIGEM/OGEM
perusahaan swasta di Belanda, kemudian menyusul pembangunan
kelistrikan di Tanjung Pura dan Pangkalan Brandan (1924), Tebing Tinggi
(1927), Sibolga (NV ANIWM) Brastagi dan Tarutung (1929), Tanjung
Balai tahun 1931 (milik Gameenta Kotapraja), Labuhan Bilik (1936) dan
Tanjung Tiram (1937).
Masa penjajahan Jepang, Jepang hanya mengambil alih pengelolaan
Perusahaan Listrik milik swasta Belanda tanpa mengadakan penambahan
mesin dan perluasan jaringan. Daerah kerjanya dibagi menjadi Perusahaan
Listrik Sumatera Utara, Perusahaan Listrik Jawa dan seterusnya sesuai
struktur organisasi pemerintahan tentara Jepang waktu itu.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945,
diseluruh penjuru tanah air untuk mengambil alih Perusahaan Listrik bekas
milik swasta Belanda dari tangan Jepang. Perusahaan Listrik yang sudah
diambil alih itu diserahkan kepada Pemerintah RI dalam hal ini
Departemen Pekerjaan Umum. Untuk mengenang peristiwa ambil alih itu,
maka dengan penetapan Pemerintah No.1 SD/45 ditetapkan tanggal 27
Oktober sebagai hari Listrik.
Sejarah memang membuktikan kemudian bahwa dalam suasana yang
makin memburuk dalam hubungan Indonesia-Belanda, tanggal 3 Oktober
1953 keluar Surat Keputusan Presiden No.163 yang membuat ketentuan
Nasionalisasi Perusahaan Listrik milik swasta Belanda sebagai bagian dari
perwujudan pasal 33 ayat (2) 1945.
Setelah aksi ambil alih itu, sejak tahun 1955 di Medan berdiri
Perusahaan Listrik Negara Distribusi Cabang Sumatera Utara (Sumatera
Timur dan Tapanuli) yang mula-mula dikepalai R.Sukarno (merangkap
Kepala di Aceh), tahun 1959 dikepalai oleh Ahmad Syaifullah. Setelah
BPU PLN berdiri dengan SK Menteri PUT No.16/1/20 tanggal Mei 1961,
maka organisasi kelistrikan dirubah. Sumatera Utara, Aceh, Sumatera
Barat dan Riau menjadi PLN Eksploitasi I.
Tahun 1965, BPU PLN dibubarkan dengan Peraturan Menteri PUT
No.9/PRT/64 dan dengan Peraturan Menteri No.1/PRT/65 ditetapkan
pembagian daerah kerja PLN menjadi 15 Kesatuan Daerah Eksploitasi I.
Sumatera Utara tetap menjadi Eksploitasi I, maka dengan Keputusan
Eksploitasi I dibagi menjadi 4 cabang dan 1 sektor, yaitu Cabang Medan,
Binjai, Sibolga, P Siantar (berkedudukan di Tebing Tinggi). PP No.18
tahun 19972 mempertegas kedudukan PLN sebagai perusahaan umum
Listrik Negara dengan hak, wewenang dan tanggung jawab
membangkitkan, menyalurkan dan mendistribisikan tenaga listrik
keseluruh Wilayah Negara RI.
Dalam SK Menteri tersebut PLN Eksploitasi I Sumatera Utara diubah
menjadi PLN Elsploitasi II Sumatera Utara. Kemudian menyusul
Peraturan Menteri PUTL No. 013/PRT/75 yang merubah PLN Eksploitasi
menjadi PLM Wilayah. PLN Eksploitasi II menjadi PLN Wilayah II
Sumatera Utara. Sesuai Keputusan Menteri Pertambangan dan energi No.
4564.K/702/M.PE/1993, Tanggal 17 Desember 1993 telah dibentuk Tim
Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum Listrik Negara menjadi PT PLN
(Persero) Listrik Negara.
2. Dari Eksploitasi I menjadi Elsploitasi II
Sebagai tindak lanjut dari pembentukan PLN Eksploitasi I Sumatera
Utara tersebut, maka dengan keputusan Direksi PLN No. Kpts
009/DIRPLN/66 tanggal 14 April 1996,PLN Eksploitasi I dibagi menjadi
4 cabang dan satu sektor, yaitu :
a. Cabang Medan
b. Cabang Binjai
c. Cabang Sibolga
Peraturan Perundang-undangan PP No.18 tahun 1972 mempertegas
kedudukan PLN sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dengan hak,
wewenang dan tanggung jawab membangkitkan, menyalurkan dan
mendistribisikan tenaga listrik keseluruh Wilayah Negara RI. Dalam SK
Menteri tersebut PLN Eksploitasi I Sumatera Utara diubah menjadi PLN
Eksploitasi I Sumatera Utara.
3. Dari Eksploitasi II menjadi Elsploitasi II
Kemudian menyusul peraturan Menteri Perusahaan Umum Tenaga
Listrik (PUTL) No. 013/PRT/75 yang merubah PLN Eksploitasi menjadi
PLN Wilayah. PLN Eksploitasi II menjadi PLN Wilayah II Sumatera
Utara.
4. Dari PERUM Menjadi PERSERO
Dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No. 231/1994 tanggal 16 Juni
1994 maka ditetapkan status PLN sebagai Persero. Adapun yang
membelakangi perubahan status tersebut adalah untuk mengantisipasi
kebutuhan listrik yang terus meningkat dewasa ini. Dimana pada abad 21
nanti, PLN tidak dapat tidak, harus mampu menghadapi tantanganyang
ada. PLN harus mampu menggunakan tolak ukur internasional , dan harus
mampu berswada tinggi, dengan manajemen yang berani transparan,
terbuka, disentralisasi, profit centre dan cost centre.
Untuk mencapai tujuan PLN meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dan mendorong perkembangan industri pada PJPT II yang
harmonis dengan instansi dan lembaga yang terkait, perlu dibina dan
ditingkatkan terus.
5. Pemisahan PT PLN (Persero) Wilayah II dan PT PLN (Persero) Pembangkitan dan Penyaluran Sumatera Bagian Utara
Perkembangan kelistrikan di Sumatera Utara terus mengalami
pertumbuhan dan perkembangan yang begitu pesat, hal ini ditandai dengan
semakin bertanbahnya jumlah pelanggan, perkembangan fasilitas
kelistrikan, kemampuan pasokan listrik dan ndikasi-indikasi pertumbuhan
lainnya. Untuk mengantisipasi pertumbuhan dan perkembangan kelistrikan
Sumatera Utara di masa-masa mendatang serta sebagai upaya untuk
meningkatkan kualitas palayanan jasa kelistrikan.
Maka berdasarkan syarat keputusan Nomor. 078.K/023.DIR/1996
Tanggal 9 Agustus 1996 ibentuk organisasi beru dibidang jasa pelayanan
kelistrikan yaitu PY PLN Persero) Penbangkitan dan Penyaluran Sumatera
Bagian Utara.Dengan pembentukan organisasi baru PLN Pembangkitan
dan Penyaluran Sumatera Bagian Utara yang terpisah dari PLN Wilayah
II, maka fungsi-fungsi Penbangkitan dan Penyaluran yang sebelumnya
dikelola PLN Wilayah II berpindah tanggungjawab pengelolaannya ke
PLN Pembangkitan dan Penyaluran Sumbagut. Sementara itu PLN
Wilayah II berkonsentrasi pada distribusi dan penjualan tenaga listrik.
B. Struktur Organisasi dan Personalia
Setiap perusahaan baik perusahaan pemerintah maupun swasta
mempunyai struktur organisasi, karena perusahaan juga merupakan
terorganisasi, yang dilaksanakan oleh sejumlah orang untuk mencapai
tujuan bersama.
Dalam struktur organisasi ditetapkan tugas- tugas, wewenang dan
tanggung jawab setiap orang dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
serta bagaimana hubungan satu dengan yang lain.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, PT.PLN memiliki struktur
organisasi yang tertata menurut fungsi dan golongannya. Tujuan adanya
struktur organisasi adalah untuk pencapaian kerja/ pendelegasian dalam
organisasi yang berdasarkan pada pola hubungan kerja serta lalu lintas
GAMBAR 2.1
STRUKTUR ORGANISASI
PT PLN (PERSERO) CABANG MEDAN
Sumber : PT PLN (Persero) Cabang Medan MANAJER
FUNGSIONAL AHLI
ASMAN JARINGAN ASMAN
ADMINISTRASI & NIAGA
PENGENDALIAN SUMUT KEUANGAN & SPV.
C. JOB DESCRIPTION
Uraian job description dan tugas pokok pada PT.PLN (Persero)
Cabang Medan,yaitu :
1. Manajer Cabang
Bertanggung jawab atas pengelolaan usaha melalui optimalisasi
seluruh sumber daya secara efisien, efektif dan sinergis.Pengelolaan
perusahaan pembangkit, pendistribusian dan penjualan tenaga listrik dalam
jumlah dan mutu yang memadai secara efisien, meningkatkan mutu dan
keandalan serta pelayanan pelanggan, dan memastikan terlaksananya
Good Corporate Governance (GCG) di PT.PLN (Persero) Cabang Medan.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Melakukan kegiatan pengusahaan pembangkit (skala kecil) secara
efisien, hemat energi, handal dan ramah lingkungan.
b. Mengusulkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)
Wilayah Sumatera Utara.
c. Memastikan program Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP) Wilayah Sumatera Utara, dilaksanakan sesuai penetapan
direksi.
2. Fungsional Ahli
Bertanggung jawab atas evaluasi pencapaian target kinerja dan
memberikan masukan pada manajemen untuk meningkatkan hasil
kinerja.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
b. Merancang langkah-langkah strategis untuk mencapai target kerja.
c. Mengawasi baca meter.
d. Mengawasi penjualan rekening.
3. Asman Jaringan
Bertanggung jawab atas rencana dan pelaksanaan Operasi dan
Pemeliharaan Jaringan Distribusi, Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan
(PDKB) dan Pembangkitan Tenaga Listrik Mikro Hidro (PLTMH) untuk
menjamin mutu dan keandalan jaringan distribusi. Hasil/Output
pendistribusian energi listrik yang kontiniu dan andal.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Menyusun program rencana kerja (PRK) untuk kegiatan Operasi dan
Pemeliharaan Jaringan Distribusi.
b. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Operasi dan
Pemeliharaan Jaringan Distribusi, PDKB, serta PLTMH.
c. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan anggaran Operasi
dan Pemeliharaan Jaringan Distribusi.
d. Melakukan analisa dan evaluasi kinerja operasi dan pemeliharaan
jaringan distribusi termasuk PDKB.
e. Melakukan monitoring dan evaluasi kinerja proteksi distribusi dan
pelayanan teknik.
f. Melakukan verifikas dan validasi asset distribusi secara periodik.
g. Mengkoordinasikan penyusunan dan mengendalikan pelaksanaan SOP
h. Melakukan koordinasi dalam rangka operasi dan pemeliharaan
Jaringan Distribusi dengan Rayon/instansi terkait termasuk PFK.
i. Menyusun pola operasi dan pemeliharaan jaringan distribusi yang
efisien.
4. Asman Transaksi dan Energi Listrik
Bertanggung jawab dalam kegiatan transaksi energi pelanggan dan
Area/Rayon/Unit terkait, pengendalian susut dan pemeliharaan meter
transaksi untuk memenuhi standar operasional yang berlaku.Hasil/Output
laporan transaksi energi listrik, susut, dan pemeliharaan meter transaksi.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Mengkoordinasikan dan mengevaluasi Pelaksanaan manajemen
billing.
b. Mengkoordinasikan dengan AP2T (Aplikasi Pelayanan Pelanggan
Terpusat) terkait dengan proses billing.
c. Menyusun biaya operasi dan investasi serta data pendukung RKAP.
d. Memonitoring dan mengendalikan realisasi penggunaan anggaran
SKKI/SKKO.
e. Mengkoordinasikan kegiatan operasional di bagian transaksi energi.
f. Mengevaluasi dan mengendalikan susut, PJU, P2TL, AMR,
pemeliharaan APP, pemeliharaan meter transaksi dan hasil ukur meter
transaksi.
g. Menyusun rencana program pemeliharaan meter transaksi.
h. Melaksanakan settlemen antar unit pelaksana dan P3B dalam
i. Mengkoordinasikan dan mengevaluasi pemasangan dan pemeliharaan
AMR.
j. Merencanakan dan mengevaluasi pekerjaan pemeliharaan APP dan
hasil penerapan metrologi secara berkala.
k. Memonitoring dan mengevaluasi manajemen APP.
l. Mengkoordinasikan kegiatan Wiring dan Setting APP.
m. Mengkoordinasikan dengan bagian dan instansi yang berwenang
untuk kegiatan P2TL.
5. Asman Administrasi dan Niaga
Bertanggung jawab atas kelancaran pengelolaan dan pengendalian
kegiatan bidang administrasi dan keuangan yang meliputi sumber daya
manusia, kesekretariatan, anggaran, keuangan dan akuntansi untuk
mendukung laporan keuangan yang akurat dan tepat waktu serta mencapai
target kinerja sesuai tujuan perusahaan.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Mengelola peningkatan Intergritas Layanan Publik (ILP).
b. Mengkoordinasikan dan mengevaluasi pengelolaan Tenaga kerja.
c. Mengkoordinasikan pengelolaan kegiatan administrasi umum, SDM
dan pelanggan.
d. Memonitor data pelanggan.
e. Memverifikasi dan validasi terhadap kelengkapan transaksi
pembayaran.
g. Mengkoordinir dan mengelola Anggaran Investasi, Anggaran Operasi
dan Cash Budget.
h. Mengevaluasi kontrak perjanjian dengan Pihak ketiga.
i. Menyusun kebutuhan rencana diklat dan evaluasi hasil diklat.
j. Melakukan monitoring operasional kendaraan dinas, fasilitas kantor
dan pemeliharaan Gedung.
k. Mengkoordinasikan proses pelanggaran disiplin pegawai.
l. Mengevaluasi fasilitas / sarana kerja, permintaan perlengkapan K3/
APK, tunjangan kecelakaan kerja dan permohonan SPPD.
m. Memonitor realisasi anggaran.
6. Sub. Bagian Spv. Operasi Distribusi
Bertanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan
pengoperasian jaringan distribusi sesuai SOP untuk menjamin keandalan,
keamanan, mutu dan efisiensi penyaluran tenaga listrik.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Menyusun Program Rencana Kerja (PRK) Operasi.
b. Merencanakan dan melaksanakan kegiatan Operasi Jaringan Distribusi
sesuai SOP.
c. Melaksanakan pemutakhiran data asset distribusi secara berkala.
d. Melakukan pengendalian pengoperasian jaringan distribusi.
e. Mengendalikan dan monitoring pelaksanaan operasional pelayanan
teknik.
f. Mengkoordinasikan dengan Area, Rayon dan Instansi terkait dalam
g. Mengevaluasi kinerja operasi.
7. Sub. Bagian Spv. Pemeliharaan Distribusi
Bertanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan
pemeliharaan jaringan distribusi untuk meningkatkan keandalan,
keamanan, mutu dan efisiensi jaringan distribusi.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Merencanakan penyusunan Program Rencana Kerja (PRK).
b. Melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pemeliharaan jaringan
distribusi sesuai SOP dan anggaran yang ditetapkan.
c. Merencanakan kebutuhan meterial operasi dan pemeliharaan untuk
meningkatkan keandalan dan keamanan jaringan distribusi termasuk
PRK.
d. Melaksanakan koordinasi dengan rayon dan bagian terkait dalam
pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan jaringan distribusi.
e. Menyiapkan peralatan kerja untuk operasi dan pemeliharan jaringan
distribusi.
8. Sub. Bagian Spv. PDKB
Bertanggung jawab dalam mengelola pekerjaan PDKB untuk
meningkatkan keandalan, keamanan, mutu dan efisiensi jaringan
distribusi.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pekerjaan PDKB.
c. Mengusulkan Surat Perintah Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan
(SP2B) dan Surat Penunjukan Pengawas Pekerjaan Dalam Keadaan
Bertegangan (SP3B) kepada Kepala Operasi.
d. Melaksanakan inventarisasi dan mengusulkan peremajaan peralatan
PDKB.
e. Memonitor masa berlaku dan mengusulkan sertifikat kompetensi/
brevet personil PDKB.
f. Mengusulkan revisi SOP atau mengajukan SOP baru ke komisi
PDKB.
g. Melaporkan penyelesaian pekerjaan kepada kepala Operasi.
9. Sub. Bagian Spv. Transaksi dan Energi
Bertanggung jawab atas kegiatan pemeliharaan meter transaksi untuk
akurasi pengukuran pemakaian energi listrik.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Memonitor program pemeliharaan meter transaksi yang disebabkan
oleh meter rusak, buram, macet dan tua.
b. Memonitor pelaksanaan pemasangan dan pemeliharaan AMR.
c. Merencanakan kebutuhan Kwh meter untuk pemeliharaan.
d. Memonitor pelaksanaan hasil penerapan metrologi secara berkala.
e. Menyiapkan data pendukung RKAP untuk kebutuhan pemeliharaan
meter transaksi.
f. Memonitor pekerjaan pemeliharaan dan tera ulang APP serta Meter
g. Melaksanakan pengujian alat ukur, pembatas dan kelengkapannya
untuk material baru atau bekas andal.
h. Memastikan hasil sampling penerapan APP-baru hasil Metrologi dan
rekondisi pihak ketiga.
i. Memonitor manajemen segel APP.
10. Sub Bagian Spv. Pengendalian Sumut
Bertanggung jawab atas kegiatan pengendalian susut jaringan,
menertibkan PJU / reklame liar dan pelaksanaan P2TL.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Memonitor pelaksanaan penekanan susut dan berkoordinasi dengan
bagian atau rayon terkait.
b. Memetakan dan melaporkan perkembangan susut Area dan Rayon
secara berkala.
c. Melakukan updating data PJU secara berkala.
d. Melakukan koordinasi dan pengawasan hasil P2TL yang telah
dilakukan dengan bagian atau Rayon terkait.
e. Melakukan evaluasi kinerja pihak ketiga berdasarkan SLA.
f. Membuat target operasi serta memonitor pelaksanaan P2TL secara
rutin.
g. Memastikan kelengkapan P2TL sesuai aturan.
h. Melaksanakan komunikasi dengan bagian terkait dan Instansi
berwenang untuk pelaksanaan P2TL.
11.Sub. Bagian Spv. Pemeliharaan APP
Bertanggung jawab atas kegiatan pengendalian dan keakuratan APP.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Memastikan antara data pelanggan dan APP terpasang.
b. Membuat laporan hasil berita acara pemeriksaan.
c. Berkoodinasi dengan bagian terkait tentang kelainan APP.
d. Memvalidasi data kelainan APP.
e. Memeriksa pemakaian energi listrik pelanggan prabayar secara
berkala.
f. Memeriksa dan mengecek pemakaian energi listrik pelanggan
prabayar secara berkala.
12. Sub. Bagian Spv. Pelayanan Pelanggan
Bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan fungsi Pelayanan
pelanggan, administrasi pelanggan, dan pengelolaan pendapatan untuk
meningkatkan kepuasan pelanggan dan pengamanan pendapatan.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Melaksanakan dan mensupervisi fungsi Pelayanan Pelanggan sesuai
proses bisnis.
b. Melaksanakan kunjungan pelanggan potensial (TM/TT).
c. Menyiapkan rencana Tingkat Mutu Pelayanan secara periodik dan
d. Menindak lanjuti pencapaian TMP.
e. Melaksanakan kegiatan Riset Pasar dan Menyusun Data Potensi
Pasar (Captive Power).
g. Melaksanakan supervisi untuk penyempurnaan layanan PB/PD di
Rayon.
h. Memastikan proses PB / PD dan SPJBTL pelanggan Potensial sesuai
kewenangannya.
i. Memonitor Penerbitan SIP / SPJBTL.
j. Memonitor Mutasi Data Induk Langganan dan memelihara Arsip
Induk Langganan.
k. Memonitor Laporan penagihan lain-lain (multi guna, P2TL, BP).
l. Memonitor dan mensupervisi pengendalian piutang pelanggan.
m. Memonitor proses pemutusan sementara, bongkar rampung, piutang
ragu-ragu dan usulan penghapusan piutang.
13. Sub. Bagian Spv. Keuangan Dan Admnistrasi
Bertanggung jawab atas proses administrasi SDM, kegiatan
kesekretariatan, proses Akuntansi dan Keuangan untuk menjamin
terpenuhinya tertib administrasi yang sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
Rincian tugas pokok sebagai berikut :
a. Melaksanakan pengelolaan Tenaga Kerja.
b. Melaksanakan pengelolaan K3.
c. Melaksanakan investigasi kejadian kecelakaan kerja, kebakaran,
kebanjiran dan musibah lain terkait dengan K3.
d. Melaksanakan pengelolaan sarana kerja dan administrasi
perkantoran.
f. Melaksanakan fungsi bagian keuangan.
g. Menyiapkan data pendukung RKAP untuk bagian Keuangan dan
Administrasi.
h. Melaksanakan rekonsiliasi data dengan fungsi terkait atas
pendapatan, bank, Hutang-Piutang, Persekot Dinas dan
PUMP-KPR/BPRP.
i. Menyiapkan rincian biaya di Rayon untuk rencana alokasi dana
operasional.
Rayon Belawan : JL.Medan-Belawan km 20,5 Telp (061) 6940847 KANTOR PLN TERDEKAT
Rayon Labuhan : JL.Medan-Belawan Telp (061) 6857934
Rayon Medan Timur : JL.Pasar III No.54 Krakatau Telp (061) 6618120
Rayon Medan Kota : JL.Listrik No.8 Medan Telp (061) 4144205
Rayon Medan Selatan : JL.Sakti Lubis No.20 Medan Telp (061) 7861911
Rayon Medan Baru : JL.Sei Batu Gingging No.9 Telp (061) 8213885
Rayon Johor : JL.Karya Wisata Telp (061) 7871778
Rayon Helvetia : JL.Kemuning Raya Helvetia Telp (061) 8453039
Rayon Sunggal : JL.Bunga Raya Sunggal Telp (061) 8456064
Visi PT.PLN (Persero) Cabang Medan
Visi perusahaan adalah : “Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang
bertumbuh kembang, unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi
Misi PT.PLN (Persero) Cabang Medan
1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait,
berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan
pemegang saham.
2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
Motto PT.PLN (Persero) Cabang Medan
Motto perusahaan adalah : “Listrik untuk kehidupan yang lebih baik
(Electricity for a Better Life)”.
D. Kinerja Usaha Terkini
Kinerja usaha yang dilakukan pada PT.PLN (Persero) Cabang Medan
adalah sebagai berikut :
1. Pelanggan.
2. Produk dan layanan.
3. Proses bisnis internal.
4. Sumber Daya Manusia (SDM).
5. Keuangan dan pasar.
BAB III PEMBAHASAN
A. Pengertian Laporan Keuangan
Setiap perusahaan yang telah menerapkan manajemen pengelolaan
perusahaan menuangkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan dalam bentuk
laporan. Diantara laporan yang dibuat adalah laporan keuangan yang berisi
informasi keuangan perusahaan yang memungkinkan manajer untuk
menelaah kinerja dari perusahaan tersebut.
Laporan Keuangan adalah laporan pertanggungjawaban menajer atau
pimpinan perusahaan atas pengelolaan perusahaan yang dipercayakan
kepanya kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) terhadap
perusahaan, yaitu pemilik perusahaan (pemegang saham), pemerintah
(instansi pajak), kreditor (Bank atau Lembaga Keuangan), maupun pihak
yang berkepingan lainnya.
Dalam pengertian yang sederhana, laporan keuangan adalah laporan yang
menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam periode
tertentu, laporan keuangan menggambarkan pos-pos keuangan perusahaan
yang diperoleh dalam suatu periode.
1. Tujuan Laporan Keuangan
Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi
tertentu. Menurut Kasmir (2008 : 11) terdapat 8 tujuan pembuatan atau
penyusunan laporan keuangan, yaitu :
1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang
dimiliki perusahaan pada saat ini.
2. Memberikan infromasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal
yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang
diperoleh pada suatu periode tertentu.
4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang
dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.
5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi
terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan.
6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam
suatu periode.
7. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan.
8. Informasi keuangan lainnya.
2. Sifat Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2008 : 12) laporan keuangan memiliki dua sifat yaitu :
1) Bersifat historis, artinya bahwa laporan keuangan dibuat dan disusun
dari data masa lalu atau masa yang sudah lewat dari masa sekarang.
2) Bersifat menyeluruh, artinya laporan keuangan disusun sesuai dengan
3. Keterbatasan Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2008 : 16) ada 5 keterbatasan laporan keuangan yang
dimiliki perusahaan yaitu :
1) Pembuatan laporan keuangan disusun berdasarkan sejarah (historis),
dimana data yang diambil dari data masa lalu.
2) Laporan keuangan dibuat umum, artinya untuk semua orang, bukan
hanya untuk pihak tertentu saja.
3) Proses penyusunan tidak terlepas dari taksiran-taksiran dan
pertimbangan-pertimbangan tertentu.
4) Laporan keuangan bersibat konservatif dalam menghadapi situasi
ketidakpastian.
5) Laporan keuangan selalu berpegang teguh kepada sudut pandang
ekonomi dalam memandang peristiwa-peristiwa yang terjadi bukan
kepada sifat formalnya.
4. Pihak – Pihak yang Memerlukan Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2008 : 19) ada 5 pihak yang berkepentingan terhadap
laporan keuangan yang meliputi pemilik, manajemen, kreditor, pemerintah,
dan investor.
1) Pemilik
Kepentingan bagi para pemegang saham yang merupakan pemilik
perusahaan terhadap hasil laporan keuangan yang telah dibuat adalah :
b. Untuk melihat perkembangan dan kemajuan perusahaan dalam
suatu periode.
c. Untuk menilai konerja manajemen atas target yang telah
ditetapkan.
2) Manajemen
Bagi pihak manajemen laporan keuangan yang dibuat merupakan
cermin kinerja mereka dalam suatu periode tertentu. Berikut ini nilai
penting lapporan keuangan bagi manajemen.
a. Dengan laporan keuangan yang dibuat, manajemen dapat menilai
dan mengevaluasi kinerja mereka dalam suatu periode apakah
telah mencapai target-target atau tujuan yang telah ditetapkan
atau tidak.
b. Manajemen juga akan melihat kemampuan mereka
mengoptimalkaan sumber daya yang dimiliki perusahaan yang
ada selama ini.
c. Laporan keuangan dapat digunakan untuk melihat kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki perusahaan saat ini sehingga dapat
menjadi dasar pengambilan keputusan di masa yang akan datang.
d. Laporan keuangan dapat digunakan untuk mengambil keputusan
keuangan ke depan berdasarkan kekuatan dan kelemahan yang
dimiliki perusahaan, baik dalam hal perencanaan, pengawasan,
dan pengendalian ke depan sehingga target-target yang diinginkan
3) Kreditor
Kepentingan pihak kreditor terhadap laporan keuangan perusahaan
adalah dalam hal memberi pinjaman atau pinjaman yang telah berjalan
sebelumnya. Bagi pihak kreditor, prinsip kehati-hatian dalam
menyalurkan dana (pinjaman) kepada berbagai perusahaan sangan
diperlukan. Kepentingan pihak kreditor antara lain sebagai berikut.
a. Pihak kreditor tidak ingin usaha yang dibiayainya mengalami
kegagalan dalam hal pembayaran kembali pinjaman tersebut
(macet). Oleh karena itu, pihak kreditor, sebelum mengucurkan
kreditnya, terlebih dulu melihat kemampuan perusahaan untuk
membayarnya. Salah satu ukuran kemampuan perusahaan dilihat
dari laporan keuangan yang telah dibuat.
b. Pihak kreditor juga perlu memantau terhadap kredit yang sudah
berjalan untuk melihat kepatuhan perusahaan membayar
kewajibannya.
c. Pihak kreditor juga tidak ingin kredit atau pinjaman yang
diberikan justru menjadi beban nasabah dalam pengembaliannya
apabila ternyata kemampuan perusahaan di luar dari yang
diperkirakan.
4) Pemerintah
Arti penting laporan keuangan bagi pihak pemerintah adalah :
a. Untuk menilai kejujuran perusahaan dalam melaporkan seluruh
b. Untuk mengetahui kewajiban perusahaan terhadap negara dari
hasil laporan keuangan yang dilaporkan. Dari laporan ini akan
terlihat jumlah pajak yang harus dibayarkan kepada negara secara
jujur dan adil.
5) Investor
Bagi investor yang ingin menanamkan dananya dalam suatu usaha
sebelum memutuskan untuk membeli saham, perlu
mempertimbangkan banyak hal secara matang. Dasar pertimbangan
investor adalah dari laporan keuangan yang disajikan perusahaan yang
akan ditanamnya. Dalam hal ini investor akan melihat prospek yang
dimaksud adalah keuntungan yang akan diperolehnya (deviden) serta
perkembangan nila saham kedepan. Setelah itu, barulah investor dapat
mengambil keputusan untuk membeli saham suatu perusahaan atau
tidak.
5. Jenis Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2008 : 28) dalam praktiknya, secara umum ada 5
macam jenis laporan keuangan yang biasa disusun, yaitu neraca, laporan laba
rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, laporan catatan atas laporan
keuangan.
1. Neraca
Neraca (balance sheet) merupakan laporan yang menunjukkan posisi
keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Artinya dari posisi
keuanagan dimaksudkan adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta)
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi (income statement) merupakan laporan keuangan
yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode
tertentu. Di dalam laporan laba rugi ini tergambar jumlah pendapatan
dan sumber-sumber pendapatan yang diperoleh. Kemudian, juga
tergambar jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan selama
periode tertentu. Dari jumlah pendapatan dan jumlah biaya ini terdapat
selisih yang disebut laba atau rugi.
3. Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal merupakan laporan yang berisi jumlah dan
jenis modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga
menjelaskan perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan
modal di perusahaan.
4. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek
yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang berpengaruh
langsung atau tidak langsung terhadap kas. Laporan kas terdiri arus kas
masuk (cash in) dan arus kas keluar (cash out) selama periode tertentu.
Kas masuk terdiri dari uang yang masuk keperusahaan, seperti hasil
penjualan atau penerimaan lainnya, sedangkan kas keluar merupakan
sejumlah jumlah pengeluaran dan jenis-jenis pengeluarannya seperti
5. Laporan Cacatan atas Laporan Keuangan
Laporan cacatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang
memberikan informas apabila ada laporan keuangan yang memerlukan
penjelasan tertentu. Artinya terkadang ada komponen atau nilai dalam
laporan keungan yang perlu diberi penjelasan terlebih dulu sehingga
jelas.
B. Analisis Laporan Keuangan
Menurut Wild, dalam Analisis Laporan Keuangan (2005,3)
mendefenisikan Analisis Laporan Keuangan sebagai berikut :
“Analisis laporan keuangan (financial statement analysis) adalah aplikasi dari alat dan teknik analisis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis”
Menurut Bernstein (1983 : 3):
“Analisis laporan keuangan mencakup penerapan metode dan teknik analisis untuk laporan keuangan dan data lainnya untuk melihat dari laporan itu ukuran-ukuran dan hubungan tertentu yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan”
Agar Laporan keuangan menjadi lebih berarti sehingga dapat dipahami
dan dimengerti oleh berbagai pihak, perlu dilakukan analisis laporan
keuangan. Bagi pihak pemilik dan manajemen tujuan utama analisis laporan
keuangan adalah agar dapat mengetahui posisi keuangan perusahaan saat ini.
Dengan mengetahui posisi keuangan, setelah dilakukan analisis laporan
keuangan secara mendalam, akan terlihat apakah perusahaan dapat mencapai
Hasil analisis laporan keuangan juga akan memberikan informasi
tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan. Dengan
mengetahui kelemahan ini, manajemen akan dapat memperbaiki atau
menutupi kelemahan tersebut. Kemudian kekuatan yang dimiliki perusahaan
harus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Dengan adanya kelemahan
dan kekuatan yang dimiliki, akan tergambar kinerja manajemen selama ini.
Pada akhirnya bagi pihak pemilik dan manajemen, dengan mengetahui
posisi keuangan dapat merencanakan dan mengambil keputusan yang tepat
tentang apa yang harus dilakukan ke depan. Perencanaan ke depan dengan
cara menutupi kelemahan yang ada, mempertahankan posisi yang sudah
sesuai dengan yang diinginkan dan berupaya untuk meningkatkan lagi
kekuatan yang sudah diperolenya selama ini.
Analisis laporan keungan perlu dilakukan secara cermat dengan
menggunakan metode dan teknik analisis yang tepat sehingga hasil yang
diharapkan benar-benar tepat pula. Kesalahan dalam memasukkan angka atau
rumus akan berakibat pada tidak akuratnya hasil yang hendak dicapai.
Kemudian, hasil perhitungan tersebut, dianalisis dan diinterpretasikan
sehingga diketahui posisi keuangan yang sesungguhnya. Kesemuanya ini
1. Tujuan dan Manfaat Analisis
Menurut Kasmir (2008 : 68) ada 6 tujuan dan manfaat bagi berbagai
pihak dengan adanya analisis laporan keuangan, yaitu :
a. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode
tertentu, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil usaha yang telah
dicapai untuk beberapa periode.
b. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi
kekurangan perusahaan.
c. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki.
d. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang pelu
dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan
saat ini.
e. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu
penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.
f. Dapat juga digunakan sebagai pembandingan dengan perusahaan
sejenis tentang hasil yang mereka capai.
C. Analisis Rasio Keuangan
Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk menganalisa laporan
keuangan adalah analisis rasio. Analisis rasio adalah cara analisa dengan
menggunakan perhitungan-perhitungan perbandingan atas data kuantitatif
yang ditujukkan dalam neraca maupun laba rugi. Pada dasarnya perhitungan
rasio-rasio keungan adalah untuk menilai kinerja keuangan perusahaan di
Menurut Irawati (2005 : 22) rasio keuangan merupakan teknik analisis
dalam bidang manajemen keuangan yang dimanfaatkan sebagai alat ukur
kondisi keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu , ataupun
hasil-hasil usaha dari suatau perusahaan pada satu periode tertentu dengan jalan
membandingkan dua buah variabel yang diambil dari laporan keuangan
perusahaan, baik daftar neraca maupun laba rugi.
1. Jenis-Jenis Rasio Keuangan
Menurut Rahardjo (2007 : 104) rasio keuangan perusahaan
diklasifikasikan menjadi lima kelompok, yaitu :
a. Rasio Likuiditas (liquidity ratios), yang menunjukkan kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.
b. Rasio Solvabilitas (leverage atau solvency ratios), yang menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya baik
jangka pendek maupun jangka panjang.
c. Rasio Aktivitas (activity ratios), yang menunjukkan tingkat efektifitas
penggunaan aktiva atau kekayaan perusahaan.
d. Rasio Profitabilitas dan Rentabilitas (profitability ratios), yang
menunjukka tingkat imbalan atau perolehan (keuntungan) dibanding
penjualan atau aktiva.
e. Rasio Investasi (investment ratios), yang menunjukkan rasio investasi
2. Analisis Rasio Solvabilitas a. Pengertian Rasio Solvabilitas
Menurut Kasmir (2008 : 151) rasio solvabilitas atau leverage
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva
perusahaan dibiaya dengan hutang. Artinya berapa besar beban utang yang
ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas
dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik
jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan
(dilikuidasi).
b. Tujuan dan Manfaat Rasio Solvabillitas
Menurut Kasmir (2008 : 153) ada 8 tujuan perusahaan dengan
menggunakan rasio solvabillitas, yaitu :
1. Untuk mengetahui posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada
pihak lainnya (kreditor).
2. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
yang bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga)
3. Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva
tetap dengan modal.
4. Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
5. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap
6. Untuk menilai atau mengukur berapa bagian dari setiao rupiah modal
sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.
7. Untuk menilai berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih,
terdapat sekian kalinya modal sendiri yang dimiliki.
8. Tujuan lainnya.
Sementara itu, manfaat rasio solvabilitas menurut Kasmir (2008 : 154)
terdapat 8 manfaat, yaitu :
1. Untuk menganalisis kemampuan posisi perusahaan terhadap
kewajiban kepada pihak lainnya.
2. Untuk menganalisis kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
yang bersifat tetap ( seperti angsuran pinjaman termasuk bunga)
3. Untuk menganalisis keseimbangan antara nilai aktiva khususnya
aktiva tetap dengan modal.
4. Untuk menganalisis seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh
hutang.
5. Untuk menganalisis seberapa besar utang perusahaan berpengaruh
terhadap pengelolaan aktiva.
6. Untuk menganalisis atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah
modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.
7. Untuk menganalisis berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih
ada terdapat sekian kalinya modal sendiri.
c. Jenis Rasio Solvabilitas
Biasanya penggunaan rasio solvabilitas atau leverage disesuaikan
dengan tujuan perusahaan. Artinya perusahaan dapat menggunakan rasio
leverage secara keseluruhan atau sebagian dari masing-masing jenis rasio
solvabilitas yang ada. Penggunaan rasio secara keseluruhan, artinya
seluruh jenis rasio yang dimiliki perusahaan, sedangkan sebagian artinya
perusahaan hanya menggunakan beberapa jenis rasio yang dianggap perlu
untuk diketahui.
Adapun jenis-jenis rasio yang ada dalam rasio solvabilitas antara lain :
1. Debt to Asset Ratio (Debt Ratio)
Debt ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur
perbandingan antara total hutang dengan total aktiva. Dengan kata
lain, seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau
seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan
aktiva.
Rumus untuk mencari Debt Ratio dapat digunakan sebagai berikut :
Debt to asset ratio = ���������
����������x 100%
2. Debt to Equity Ratio
Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai
utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan
Rumus untuk mencari debt to equity ratio dapat digunakan
perbandingan antara total hutang dengan total ekuitas sebagai berikut :
Debt to equity ratio =�����ℎ����� (����)
������� (������) x 100%
3. Long Term Debt to Equity Ratio
Long term debt to equity ratio merupakan rasio antara hutang jangka
panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengukur
berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan
hutang jangka panjang dengan cara membandingkan antara hutang
jangka panjang dengan modal sendiri yang disediakan oleh
perusahaan.
Rumus untuk mencari long term debt to equity ratio adalah dengan
menggunakan perbandingan antara hutang jangka panjang dengan
modal sendiri, yaitu :
Long term debt to equity ratio = ������������
komponen laporan keuangan 2012 2013
Untuk tahun 2012 :
Debt to asset ratio =429.416.634.514
715.794.563.615 × 100% = 59 %
Untuk tahun 2013 :
Debt to asset ratio = 558.895.631.909
1.026.861.078.594 X 100%
= 54 %
Debt ratio tahun 2012 sebesar 59 % dan tahun 2013 sebesar 54 %. Hal
tersebut berarti setiap Rp. 100,- hutang dijamin oleh aktiva sebesar
Rp. 59,- untuk tahun 2012 dan Rp. 54,- untuk tahun 2013. Nilai debt
ratio mengalami penurunan sebesar 5 %. Penurunan ini terjadi karena
pada tahun 2013 mengalami peningkatan jumlah aktivanya. Namun
jika dibandingkan dengan rata-rata industri 35%, kondisi perusahaan
untuk tahun 2012 dan 2013 di nilai kurang baik. Artinya perusahaan
dibiayai dengan utang melebihi rata-rata industri.
2. Debt to Equity Ratio
Debt to equity ratio =�����ℎ����� (����)
������� (������) x 100%
Tabel 3.2
Komponen laporan keuangan
komponen laporan keuangan 2012 2013
Untuk tahun 2012 :
Debt to equity ratio = 429.416.634.514
2.312.390.332.359X 100 %
= 19 %
Untuk tahun 2013 :
Debt to equity ratio = 558.895.631.909
1.616.410.278.222X 100 %
= 35 %
Debt to equity ratio tahun 2012 sebesar 19 % dan tahun 2013 sebesar
35 % . nilai debt to equity ratio mengalami peningkatan sebesar 16 %.
Peningkatan nilai debt to equity ratio tersebut menunjukkan semakin
berat hutang perusahaan yang dijamin dengan modal yang dimiliki.
Hal ini disebabkan total hutang pada tahun 2012 sebesar Rp.
429.416.634.514 dan total ekuitas sebesar Rp. 2.312.390.332.359
artinya semakin kecil operasional perusahaan yang dibiayai dengan
pinjaman. Sedangkan pada tahun 2013 total hutang sebesar Rp.
558.895.631.909 dan total ekuitas sebesar Rp. 1.616.410.278.222
berarti pada tahun 2013 menunjukkan peningkatan jumlah total hutang
dan semakin kecil jumlah total ekuitasnya. Debt to equity ratio untuk
tahun yang dianalisis belum memenuhi syarat perusahaan jasa karena
debt to equity ratio yang baik yaitu 100% (1:1), sebaiknya perusahaan
menghindari hutang lancar yang berlebihan.
3. Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER)
Long term debt to equity ratio = ������������
Tabel 3.3
Komponen laporan keuangan
komponen laporan keuangan 2012 2013
Total utang jangka panjang 257.401.356.976 313.215.141.715 Total equity 2.312.390.332.359 1.616.410.278.222
Sumber : PT PLN (Persero) Cabang Medan
Untuk tahun 2012 :
LTDtER = 257.401.356.976
2.312.390.332.359X 100 %
= 11%
Untuk tahun 2013 :
LTDtER = 313.215.141.715
1.616.410.278.222X 100 %
= 19%
Dari perhitungan di atas dapat dilihat rasio jangka panjang pada tahun
2012 sebesar 11 % artinya, bahwa Rp. 100,00 pendanaan perusahaan,Rp.
11,00 dibiayai dengan hutang dan Rp. 89,00 di sediakan oleh pemegang
saham sedangkan pada tahun 2013 sebesar 19 % yang bararti setiap Rp.
100,00 pendanaan perusahaan, Rp. 19,00 dibiayai dengan utang dan Rp.
81,00 disediakan oleh pemegang saham. Jika dibandingkan tahun 2012
dengan tahun 2013 terjadi peningkatan rasio sebesar 8 %. Hal ini terjadi
karena pada tahun 2013 mengalami peningkatan jumlah utang jangka
berpengaruh bagi perusahaan sehingga perusahan mengalami kesulitan
dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
E. Persentase Rasio Solvabilitas
Dari pengolahan data di atas Rasio Solvabilitas dapat di persentasekan
sebagai berikut :
Tabel 3.4
Presentase rasio solvabilitas
Jenis Rasio S olvabilitas 2012 2013
Debt Ratio 59% 54%
Debt to Equity Ratio 19% 35%
Long Term Debt to Equity Ratio 11% 19%
1. Debt ratio tahun 2012 sebesar 59 % dan tahun 2013 sebesar 54 %. Hal
tersebut berarti setiap Rp. 100,- hutang dijamin oleh aktiva sebesar
Rp. 59,- untuk tahun 2012 dan Rp. 54,- untuk tahun 2013. Nilai debt
ratio mengalami penurunan sebesar 5 %. Jika dibandingkan dengan
rata-rata industri 35%, kondisi perusahaan untuk tahun 2012 dan 2013
di nilai kurang baik. Artinya perusahaan dibiayai dengan utang
melebihi rata-rata industri.
2. Debt to Equity Ratio tahun 2012 sebesar 19 % dan tahun 2013 sebesar
35 % . nilai debt to equity ratio mengalami peningkatan sebesar 16 %.
Peningkatan nilai debt to equity ratio tersebut menunjukkan semakin
berat hutang perusahaan yang dijamin dengan modal yang dimiliki.
Hal ini disebabkan total hutang pada tahun 2012 sebesar Rp.
429.416.634.514 dan total ekuitas sebesar Rp. 2.312.390.332.359
pinjaman. Sedangkan pada tahun 2013 total hutang sebesar Rp.
558.895.631.909 dan total ekuitas sebesar Rp. 1.616.410.278.222
berarti pada tahun 2013 menunjukkan peningkatan jumlah total hutang
dan semakin kecil jumlah total ekuitasnya. Debt to equity ratio untuk
tahun yang dianalisis belum memenuhi syarat perusahaan jasa karena
debt to equity ratio yang baik yaitu 100% (1:1), sebaiknya perusahaan
menghindari hutang lancar yang berlebihan.
3. Dapat dilihat rasio jangka panjang pada tahun 2012 sebesar 11 %
artinya, bahwa Rp. 100,00 pendanaan perusahaan,Rp. 11,00 dibiayai
dengan hutang dan Rp. 89,00 di sediakan oleh pemegang saham
sedangkan pada tahun 2013 sebesar 19 % yang bararti setiap Rp.
100,00 pendanaan perusahaan, Rp. 19,00 dibiayai dengan utang dan
Rp. 81,00 disediakan oleh pemegang saham. Jika dibandingkan tahun
2012 dengan tahun 2013 terjadi peningkatan rasio sebesar 8 %. Hal ini
terjadi karena pada tahun 2013 mengalami peningkatan jumlah utang
jangka panjangnya sebesar Rp. 313.215.141.715 peningkatan rasio ini
berpengaruh bagi perusahaan sehingga perusahan mengalami
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dan analisis serta evaluasi yang telah di
uraikan pada bab sebelumnya, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Di lihat dari Debt Ratio PT PLN pada tahun 2012 ke tahun 2013, Nilai
debt ratio mengalami penurunan sebesar 5 %. Penurunan ini terjadi
karena pada tahun 2013 mengalami peningkatan jumlah aktiva.
Namun jika dibandingkan dengan rata-rata industri 35%, kondisi
perusahaan untuk tahun 2012 dan 2013 di nilai kurang baik. Artinya
perusahaan dibiayai dengan utang melebihi rata-rata industri.
2. Debt to equity ratio pada tahun 2012 ke tahun 2013, perusahaan ini
mengalami kenaikan nilai debt to equity ratio sebesar 16%.
Peningkatan nilai ini menunjukkan semakin berat hutang perusahaan
yang dijamin dengan modal yang dimiliki. Hal ini disebabkan total
hutang pada tahun 2012 sebesar Rp. 429.416.634.514 dan total ekuitas
sebesar Rp. 2.312.390.332.359 artinya semakin kecil operasional
perusahaan yang dibiayai dengan pinjaman. Sedangkan pada tahun
2013 total hutang sebesar Rp. 558.895.631.909 dan total ekuitas
sebesar Rp. 1.616.410.278.222 berarti pada tahun 2013 menunjukkan
peningkatan jumlah total hutang dan semakin kecil jumlah total
ekuitasnya. Debt to equity ratio untuk tahun yang dianalisis belum
yaitu 100% (1:1), sebaiknya perusahaan menghindari hutang yang
berlebihan.
3. Long Term Debt to Equity Ratio padatahun 2012 dengan tahun 2013
terjadi peningkatan rasio sebesar 8 %. Hal ini terjadi karena pada
tahun 2013 mengalami peningkatan jumlah utang jangka panjangnya
sebesar Rp. 313.215.141.715 peningkatan rasio ini berpengaruh bagi
perusahaan sehingga perusahan mengalami kesulitan dalam memenuhi
kewajiban jangka panjangnya.
B. Saran
Saran yang di ajukan sehingga dapat menjadi masukan bagi PT
PLN(persero) Cabang Medan antara lain :
1. Terlihat bahwa nilai debt ratio berada di atas rata-rata industri kondisi
perusahaan untuk tahun 2012 dan 2013 di nilai kurang baik. Artinya
perusahaan dibiayai dengan utang melebih rata-rata industri.
Sebaiknya kinerja manajemen keuangan diperbaiki kembali agar
kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya dapat
dicapai dengan baik.
2. Untuk nilai debt to equity ratio ini perusahaan mengalami kenaikan
hutang yang menunjukkan semakin berat hutang perusahaan yang
dijamin dengan modal yang dimiliki. Debt to equity ratio untuk tahun
yang dianalisis belum memenuhi syarat karena debt to equity yang
baik yaitu 100% (1:1), Sebaiknya perusahaan menghindari hutang
3. Untuk nilai long term debt to equity ini perusahaan mengalami
peningkatan hutang jangka panjangnya sebesar 8%. Hal ini terjadi
disebabkan pada tahun 2013 mengalami peningkatan jumlah hutang
jangka panjang. Sebaiknya perusahaan menghindari jumlah hutang
jangka panjang yang berlebihan. Agar perusahaan bisa memenuhi
DAFTAR PUSTAKA
Harahap, Syofyan Syafri, 2002, Analisis Kritis Terhadap Laporan Keuangan, Edisi 1, Cetakan 4, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Irawati Susan, 2005, Manajemen Keuangan, Pustaka, Bandung.
Kasmir, 2008, Analisis Laporan Keuangan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Melyny, Hernyta Hema, 2007, Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan PT. Aerowisata Catering, Fakultas Ekonomi, USU, Medan.
Munawir,s, 2007, Analisis Laporan Keuangan, Edisi keempat, Penerbit Liberty Yogyakarta, Yogyakarta.
Rahardjo, Budi, 2007, Keuangan dan Akuntansi, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Syahrial, Dermawan dkk, 2013,Analisis Laporan Keuangan, Edisi 2, MitraWacana Media, Jakarta.