Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
OLEH
RIZAL GUNTARA
108016100060
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
108016100060. Jurusan Pendidikan IPA Program Studi Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqosah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta, 24 April 2014
Yang Mengesahkan,
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Ahmad Sofyan, M.Pd NIP. 19650115 198703 1 020
i
Jakarta Selatan. Skripsi, Program Studi Biologi, Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media audio visual terhadap retensi biologi siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 56 Jakarta Selatan pada bulan Januari 2013. Metode penelitian yang digunakan
adalah quasi eksperimen dengan rancangan penelitian nonequivalent control
group design. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
purposive sampling. Adapun sampel penelitian adalah siswa kelas VIII yang
terdiri dari kelas VIII-F sebagai kelas eksperimen dan VIII-E sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar dan daya ingat
siswa berupa tes pilihan ganda (objektif). Analisis data posttest kedua kelompok
menggunakan uji-t, dan persentase retensi. Data hasil perhitungan hipotesis diperoleh hasil thitung sebesar 4,486 dan ttabel pada taraf signifikan 0,05 sebesar 2,000, maka thitung>ttabel. Data hasil perhitungan retensi diperoleh hasil rata-rata kelompok eksperimen sebesar 99% dan rata-rata kelompok kontrol sebesar 95%. Maka dapat disimpulkan menolak Ho dan Ha diterima, yang menyatakan terdapat pengaruh media audio visual terhadap retensi siswa pada konsep fotosintesis.
ii ABSTRACT
Rizal Guntara, NIM 108016100060, “The Effect of Using Audio Visual Media through Student’s Retention in Photosynthesis (at SMP Negeri 56 South Jakarta ). Skripsi, Biology Program, Natural Science Department, Faculty of Tarbiyah and Teachers Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta.
The objective of this reseach is to find the effect of using audio visual
media through student’s biology retention. This research was held in SMP Negeri 56 South Jakarta on January 2013. This a quasi exsperiment research with nonequivalent control group design. The writer use purposive sampling to obtain the sample in this reseach. The sample in this research is students in class VIII-F as the experiment class and class VIII-E as the control class. The instrument used
to measure student’s retention and achievement in this research is an objective
test. The post-test score from both experiment and control class was analyze by using t-test, and the retention prosentage. The data interpreation of the hypothesis
found that the value of is 4,486. The value of t-table at significance 5 is 2000,
means . The data finding of student’s retention in experiment class 99%
meanwhile in the control class is 95%. The research finding showed that is
rejected and is accepted, that there is a significant effect of using audio visual
media through student’s retention in photosyntesis.
iii
Alhamdulillah wa syukrulillah, puji dan syukur penulis panjatkan ke
hadirat Allah SWT. Karena atas segala karunia dan rahmat-Nya, hingga skripsi ini dapat terselesaikan. Salawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat dan para pengikutnya yang setia pada ajarannya.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar S1 pada Jurusan Pendidikan IPA Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ibu Nurlena Rifa’i, MA. Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc., Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Zulfiani, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan
Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
4. Bapak Dr. Ahmad Sofyan, M.Pd., Dosen Pembimbing I, yang telah
memberikan arahannya dan Ibu Meiry Fadilah Noor, M.Si., Dosen Pembimbing II yang telah memberikan arahannya dan selalu ada ketika peneliti kesulitan dalam penelitian ini.
5. Bapak Dr. Ahmad Otjin Kusnadie, M.Pd., Kepala SMP Negeri 56 Jakara yang
telah memberikan izin penelitian dan Ibu QGN. Lely Abul, S.Pd., guru mata pelajaran IPA, yang telah membantu dan memberikan saran selama penelitian.
6. Orang tua tercinta, yang telah mendukung penulis dalam penelitian ini
7. Kawan-kawan kelas Program Studi Pendidikan Biologi Angkatan 2008, Iqbal, Lita, Udin, Irfan, dll, yang telah mendukung penyusun dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat: Rian dan Yogie. Terima kasih atas bantuan karena telah
mengijinkan peneliti menginap di kontrakan kalian. Juga kepada Fitri yang telah sabar memberikan motivasi dan semangat agar skripsi ini cepat selesai.
Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca baik sebagai referensi maupun untuk menambah wawasan mengenai pengaruh media
audio visual terhadap retensi siswa pada konsep fotosintesis.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Jakarta, 24 April 2014
v
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Pembatasan Masalah ... 4
D. Perumusan Masalah ... 5
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS A. Landasan Teori ... 6
1. Media Pembelajaran ... 6
a. Pengertian Media Pembelajaran... 6
b. Ciri-ciri Media Pembelajaran ... 9
c. Prinsip-prinsip Penggunaan Media ... 10
d. Fungsi Media Pembelajaran ... 11
2. Media Audio Visuak (Video)... 14
a. Pengertian Media Audio Visual (Video) ... 14
b. Sejarah Perkembangan Media Audio Visual (Video) ... 16
c. Sifat-sifat Bahan Audio Visual ... 19
3. Belajar ... 19
a. Pengertian Belajar ... 19
b. Prinsip-prinsip Pembelajaran ... 21
vi
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ingatan ... 30
d. Prinsip-prinsip Ingatan Dalam Belajar ... 30
5. Fotorsintesis ... 31
B. Hasil Penelitian yang relevan ... 37
C. Kerangka Berpikir ... 38
D. Perumusan Hipotesis ... 40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitain ... 41
B. Metode dan Desain Penelitian... 41
C. Populasi dan Sampel ... 42
D. Teknik Pengumpulan Data ... 43
E. Instrumen Penelitian ... 43
F. Kalibrasi Instrumen ... 44
G. Teknik Analisis Data ... 49
H. Hipotesis Statistik ... 52
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 54
1. Deskripsi Data Pretes Hasil Belajar Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 54
2. Deskripsi Data Postes Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 55
3. Deskripsi Data Retes Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 56
4. Deskripsi Data Nilai N-Gain Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 57
B. Analisis Data Tes Hasil Belajar ... 58
vii
a. Uji Normalitas ... 59
b. Uji Homogenitas ... 60
3. Uji Prasyarat Retensi ... 61
a. Uji Normalitas ... 61
b. Uji Homogenitas ... 61
4. Pengujian Hipotesis ... 62
a. Uji Hipotesis Pretes ... 62
b. Uji Hipotesis Postes ... 63
c. Uji Hipotesis Retes ... 64
C. Pembahasan ... 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 68
B. Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 69
viii
Group Degign ... 41
Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data ... 43
Tabel 3.3 Pemetaan Kisi-kisi Instrumen ... 44
Tabel 3.4 Kriteria Reabilitas Soal ... 46
Tabel 3.5 Kriteria Taraf Kesukaran ... 47
Tabel 3.6 Klasifikasi Daya Pembeda ... 48
Tabel 4.1 Hasil PretesKelompok Eksperimen dan Kontrol ... 54
Tabel 4.2 Hasil PostesKelompok Eksperimen dan Kontrol ... 55
Tabel 4.3 Hasil RetesKelompok Eksperimen dan Kontrol ... 56
Tabel 4.4 Hasil Rata-rata N-gain dan Retensi ... 58
Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Pretes Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 58
Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Pretes Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 59
Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Postes Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 60
Tabel 4.8 Hasil Uji Homogenitas Postes Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 60
Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Posttes Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 61
ix
Tabel 4.11 Uji Kesamaan Rata-rata Hasil Pretes Kelompok
Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 62
Tabel 4.12 Uji Kesamaan Rata-rata Hasil Postes Kelompok
Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 64
Tabel 4.13 Uji Kesamaan Rata-rata Hasil Retes Kelompok
x
Gambar 2.1 Kerucut Pengalaman E. Dale ... 8 Gambar 2.2 Proses Komunikasi yang Gagal Tanpa Bantuan
Media ... 13 Gambar 2.3 Proses Komunikasi yang Berhasil Dengan
xi
Lampiran 2 RPP Kelas Kontrol... 87
Lampiran 3 Soal Latihan ... 102
Lampiran 4 Bentuk Media Power Point ... 106
Lampiran 5 Kisi-kisi Instrumen ... 114
Lampiran 6 Soal Instrumen yang Dipakai Penelitian ... 126
Lampiran 7 Data Hasil Pretes Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 133
Lampiran 8 Data Hasil Postes Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 148
Lampiran 9 Data Hasil Retes Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 163
Lampiran 10 Daftar Nilai N-Gain dan Retensi ... 178
Lampiran 11 Hasil Anates ... 186
1 A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM). Proses pendidikan diimplementasikan melalui lembaga pendidikan formal seperti pendidikan dasar sampai tingkat tinggi. Pendidikan dapat menjadi sarana untuk mengembangkan potensi agar menjadi manusia yang beriman, berakhlakul mulia, kreatif, dan bertanggung jawab. Tentang pendidikan nasional tertuang dalam Undang-Undang RI
Nomor: 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 (1) yaitu:“Pendidikan adalah usaha
dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajardan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya,
masyarakat, bangsa, dan Negara.”
Pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan merupakan sarana penerus nilai-nilai dan gagasan-gagasan sehingga setiap orang mampu berperan serta dalam transformasi nilai demi kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu, untuk mewujudkan pendidikan berkualitas, salah satu yang harus ada adalah guru yang berkualitas.
“Guru yang berkualitas ini adalah guru yang memiliki kemampuan
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni yang memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi professional”.1
Pada pelaksanaan kompetensi pedagogik, guru dituntut memiliki kemampuan secara metodologis dalam hal perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Termasuk di dalamnya penguasaan dalam penggunaan media pembelajaran. Bahkan dalam era reformasi yang ditandai dengan tersedianya informasi yang makin banyak dan bervariasi, informasi tersebar meluas dan seketika. Oleh karena itu, guru perlu menyajikan informasi dalam berbagai
1
bentuk dalam waktu yang cepat. Karena semua usaha pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan penyajian informasi senantiasa menggunakan media, maka era ini dapat pula disebut lingkungan bermedia.
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong pembaharuan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi kedalam pembelajaran. Dengan keadaan itu guru dituntut agar mampu menggunakan atal-alat yang sesuai dengan perkembangan zaman. Guru juga dituntut sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat-alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana tetapi dapat mencapai tujuan pembelajaran yang
diharapkan.2
Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah
mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.3
Media pembelajaran juga merupakan sarana dan prasarana untuk menunjang terlaksananya kegiatan pembelajaran serta menunjang pendidikan dan pelatihan. Keberadaan media tidak dapat diabaikan begitu saja dalam proses pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan tanpa adanya media pembelajaran, pelaksanaan pendidikan tidak akan berjalan dengan baik, termasuk dalam proses pembelajaran biologi. Pemilihan penggunaan media pembelajaran yang tepat akan membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan merasa senang dalam mengikuti pelajaran. Jika pembelajaran yang diselenggarakan tersebut membuat siswa merasa senang, maka siswa dapat dengan mudah menangkap dan mencerna materi pelajaran tersebut. Dengan demikian, tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan efektif dan efisien.
2
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009), h. 2 3
Pembelajaran biologi menuntut siswa untuk menguasai kemampuan
berdaya visualisasi yang tinggi, dan kemahiran dalam menggambarkan objek
keseluruhan. Siswa juga dituntut untuk menjelaskan pelajaran biologi secara visual konsep, prinsip, dan langkah dalam setiap objek biologi. Namum pada dasarnya beberapa konsep yang terdapat dalam biologi merupakan konsep yang abstrak (tidak dapat dilihat langsung baik secara ukuran maupun secara proses biologinya). Oleh karena itu, pembelajaran biologi yang memerlukan
daya imajinasi tinggi, dapat dibantu dengan media bergambar dan ber-audio
visual. Media yang bergambar dan bersuara (audio visual) dapat membantu
pembelajaran yang membutuhkan demonstrasi yang sulit menjadi mudah, dan sebaliknya, sehingga pada waktu mengajar guru lebih mudah menyajikan konsep. Demonstrasi yang sulit bisa dipersiapkan dan direkam sebelumnya, sehingga pada waktu mengajar guru bisa memusatkan perhatian pada penyajiannya.
Penggunaan media audio visual akan menuntun siswa dalam
meningkatkan kemampuan persepsi dan meningkatkan pengertian siswa.
Tidak hanya itu, media video yang bersifat dapat dilihat dan didengar (audio
visual) juga akan membantu untuk mengalihkan perhatian siswa kepada materi
yang diajarkan. Sehingga media video dapat meningkatkan kemampuan
retensi (daya ingat siswa).4
Mata pelajaran biologi yang sebagian besar materinya berisikan pengertian-pengertian, istilah-istilah, dan bahasa-bahasa yang pada umumnya sulit untuk dilafalkan dan diingat. Seperti pada konsep fotosintesis yang menggunakan istilah-istilah berdasarkan letak terjadinya beserta senyawa kimia yang berperan dalam proses tersebut. Proses yang terjadi pada konsep fotosintesis tidak dapat dilihat secara langsung, oleh karena itu perlu media video agar penyampaian konsep menjadi mudah. Sehingga, penggunaan media selain menarik perhatian siswa, media dapat dibuat untuk mempercepat proses
4
belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang dijelaskan guru.
Dengan demikian, seorang guru harus mampu menggunakan media pembelajaran yang mutakhir, sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran, tidak membosankan dan dapat meningkatkan retensi (daya ingat) siswa. Namun, media pembelajaran tidak semua efektif diterapkan terhadap semua materi dan mata pelajaran. Oleh karena itu, untuk mengetahui peranan media video terhadap retensi, maka
penelitian ini dilakukan dengan judul “Pengaruh Penggunaan Media Audio
Visual Terhadap Retensi Siswa Pada Konsep Fotosintesis”.
B. Identifikasi Masalah
1. Biologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam yang sering
dikatakan sebagai mata pelajaran yang sukar untuk dimengerti dan dipelajari.
2. Kurangnya minat siswa untuk belajar biologi dikarenakan tidak
digunakannya media untuk menunjang pembelajaran.
3. Tidak semua media efektif digunakan terhadap semua materi dan mata
pelajaran.
C. Pembatasan Masalah
Luasnya cakupan masalah yang muncul, maka diperlukan pembatasan masalah. Penelitian ini dibatasi beberapa hal, yaitu:
1. Media audio visual yang dimaksud adalah media video yang dibuat oleh
peneliti sendiri dengan mengedit video yang berasal dari yuotube.
2. Materi biologi dibatasi pada konsep fotosintesis.
3. Retensi yang dimaksud adalah daya ingat peserta didik terhadap hasil
D. Perumusan Masalah
Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah “Apakah Media
Audio Visual berpengaruh terhadap retensi siswa?”
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media audio
visual pada konsep Fotosintesis. Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi Masyarakat
a. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan dalam pengembangan
kurikulum dan media pembelajaran sains SMP serta
merekomendasikan beberapa faktor pendukung kepada pihak penentu kebijakan.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran mengenai pengembangan media pembelajaran yang inovatif sebagai wahana pendidikan siswa SMP serta dalam pengembangan kurikulum IPA.
c. Sebagai bahan pertimbangan pembuatan program pembelajaran IPA
yang dapat memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran.
2. Bagi Peneliti
a. Bertambahnya wawasan tentang penggunaan media pembelajaran
dalam proses belajar mengajar.
b. Hasil penelitian maupun beberapa keterbatasan yang dihadapi dapat
6
A. Landasan Teori
1. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara
harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟ atau „pengantar‟. Gerlach dan Ely
mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mempu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam hal ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual atau verbal.5
“Media merupakan alat yang harus ada apabila ingin memudahkan
sesuatu dalam pekerjaan. Media merupakan alat bantu yang dapat memudahkan pekerjaan. Setiap orang pasti ingin pekerjaan yang dibuatnya
dapat diselesaikan dengan baik dan dengan hasil yang memuaskan”.6
Rossi dan Breidle seperti dikutip Wina Sanjaya mengemukakan bahwa
“media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai
untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran,
majalah, dan sebagainya. Menurut Rossi alat-alat semacam radio dan televisi
kalau digunakan dan diprogram untuk pendidikan maka merupakan media
pembelajaran.”7
Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association
of Education and Communication Technology/AECT) memberi batasan
tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyampaikan pesan/informasi. Di samping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata
mediator menurut Fleming adalah, “penyebab atau alat yang turut
5
Azhar Arsyad,op. cit., h. 3 6
Iif Khoiru Ahmadi, Sofan Amri, Strategi Pebelajaran sekolah Berstandar Internasional dan Nasional, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya, 2010), h. 115
7
campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah
mediator media menunjukan fungsi atau perannya, yaitu mengatur
hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses
belajar-siswa dan isi pelajaran.8
Yudhi Munadi dalam bukunya yang berjudul “Media Pembelajaran:
Sebuah Pendekatan Baru” mengemukan bahwa, “media pembelaran dapat
dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan
pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar
yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara
efisien dan efektif”.9
Selain pengertian di atas, ada juga yang berpendapat bahwa media
pembelajaran meliputi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak
(software). Hardware adalah alat-alat yang dapat mengantarkan pesan seperti
overhead projector, radio, televisi, dan sebagainya. Sedangkan software
adalah isi program yang mengandung pesan seperti informasi yang terdapat pada transparansi atau buku dan bahan-bahan cetak lainnya, cerita yang terkandung dalam film atau materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan,
grafis, diagram, dan lain sebagainya.10
“Sasaran penggunaan media adalah agar peserta didik mampu
menciptakan sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna dalam kehidupannya. Dengan demikian peserta didik dengan mudah mengerti dan
memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada mereka”.11
Berdasarkan uraian di atas, media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.
Bermacam-macam alat dapat digunakan oleh guru untuk
pendengaran untuk menghidari verbalisme yang masih mungkin terjadi kalau hanya digunakan alat bantu visual semata. Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alat bantu ini Edgar Dale yang dikutip Wina Sanjaya menyatakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling kongkret ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan kerucut
pengalaman (cone of experience) dari Edgar Dale dan pada saat itu dianut
secara luas dalam menentukan alat bantu apa yang paling sesuai untuk pengalaman belajar tertentu.
abstrak Verbal
Gambar 2.1 Kerucut Pengalaman E. Dale12 konkret
Apabila memperhatikan kerucut pengalaman yang dikemukakan Edgar Dale, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan itu dapat diperoleh melalui pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Semakin langsung objek yang dipelajari, maka semakin konkret pengetahuan diperoleh;
12
Wina Sanjaya, op. cit., h. 166
Lambang visual Visual
Radio Film
Tv Karyasata Demonstasi
Pengamatan Melalui Drama Pengamatan Melalui Benda Tiruan
semakin tidak langsung pengetahuan itu diperoleh, maka semakin abstrak pengetahuan siswa.
Ada beberapa jenis media pembelajaran yang biasa digunakan dalam proses pengajaran:
1) Media grafis, seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster,
kartun, komik, dan lain-lain. Media grafik sering disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunya ukuran panjang dan lebar.
2) Media tiga dimensi, yaitu dalam bentuk model seperti padat (soled model),
model penampang, model susun, model kerja, model mock up, diorama,
dan lain-lain.
3) Media proyeksi, seperti slide, filmstrip, film, penggunaan OHP, dan
lain-lain.
4) Pengguanaan lingkungan sebagai media pendidikan.
Penggunaan media di atas dilihat atau dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting adalah fungsi dan peranannya dalam membantu mempertimbangkan proses pengajaran.
b. Ciri-ciri Media Pendidikan
Gerlach dan Ely seperti dikutip Azhar Arsyad mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya.
1) Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Dengan ciri fiksatif ini, media memungkinkan suatu rekaman kejadian atau objek yang terjadi pada satu tertentu ditransportasikan tanpa mengenal waktu.
2) Ciri Manipulatif (manipulative Property)
disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik
pengambilan gambar time-lapse recorcing.
3) Ciri Distributif (Distributive property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu obyek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu, sekali informasi direkam dalam format media apa saja, ia dapat diproduksi seberapa kali pun dan siap digunakan secara bersamaan diberbagai tempat atau digunakan secara berulang-ulang
disuatu tempat.13
c. Prinsip-prinsip Penggunaan Media
Prinsip-prinsip pokok yang harus diperhatikan dalam penggunaan media pada setiap kegiatan belajar mengajar adalah bahwa media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah siswa belajar dalam upaya memahami materi pelajaran. Dengan demikian, penggunaan media harus dipandang dari sudut kebutuhan siswa. Hal ini perlu ditekankan sebab sering media dipersiapkan hanya dilihat dari sudut kepentingan guru.
Agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk
membelajarkan siswa, Azhar Arsyad mengemukakan sejumlah prinsip yang harus diperhatikan, di antaranya:
1) Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media tidak digunakan sebagai
alat hiburan, atau tidak semata-mata dimanfaatkan untuk
mempermudah guru menyampaikan materi, akan tetapi benar-benar untuk membantu siswa belajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
2) Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.
Setiap materi pembalajaran memiliki kekhasan dan kekompleksan.
13
3) Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa. Siswa yang memiliki kemampuan mendengar yang kurang baik, akan sulit mamahami pelajaran manakala digunakan media yang bersifat auditif.
4) Media yang akan digunakan harus memperhatikan efektivitas dan
efisien. Media yang memperlukan peralatan yang mahal belum tentu efektif untuk mencapai tujuan tertentu.
5) Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam
mengoprasikannya. Sering media yang kompleks terutama media-media mutakhir seperti media-media komputer, LCD, dan media-media elektronik
lainnya memerlukan kemampuan khusus dalam mengoperasikannya.14
d. Fungsi Media pembelajaran
Analisis terhadap fungsi media pembelajaran ini lebih difokuskan pada dua hal, yakni analisis fungsi yang didasarkan pada medianya dan didasarkan
pada pengguanaannya. Pertama, analisis fungsi yang didasarkan pada media
terdapat tiga fungsi media pembelajaran, yakni (1) media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar; (2) fungsi semantik; (3) fungis manipulatif.
Kedua, analisis fungsi yang didasarkan pada penggunanya (anak didik)
terdapat dau fungsi, yakni (4) fungsi psikologis dan (5) fungsi sosio-kultural.15
Hamalik mengemukakan bahwa:”pemakaian media pembelajaran
dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan
bahkan membawa pengaruh-pengarug psikologis terhadap siswa.”16
Sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar, media mempunyai beberapa fungsi. Nana Sudjana merumuskan fungsi media pembelajaran menjadi enam kategori, sebagai berikut:
1) Media merupakan alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar yang efektif.
2) Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari
seluruh situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh guru.
3) Penggunaan (pemanfaatkan) media harus melihat kepada tujuan dan
bahan pelajaran.
4) Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan,
dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5) Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk
mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
6) Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi
mutu belajar mengajar. Dengan kata lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa, sehingga
mempunyai nilai tinggi.17
Dari beberapa fungsi di atas, maka media pembelajaran memiliki nilai praktis sebagai berikut:
1) Pertama, media dapat mengatasi keterbatasan yang dimiliki siswa.
2) Kedua, media dapat mengatasi batas ruang kelas. Hal ini terutama
untuk menyajikan bahan belajar yang sulit dipahami secara langsung oleh peserta.
3) Ketiga, media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung
antara peserta dan lingkungan.
4) Keempat, media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
5) Kelima, media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata, dan
tepat.
6) Keenam, media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang
peserta untuk belajar dengan baik.
17
7) Ketujuh, media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru.
8) Kedelapan, media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa.
9) Kesembilan, media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh
dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak.18
Di bahwa ini merupakan ilustrasi proses belajar mengajar tanpa menggunakan media.
1
2
Guru 3
4
Gambar 2.2 Proses Komunikasi yang Gagal Tanpa Bantuan Media19
Penafsiran yang gagal atau kurang berhasil berarti kegagalan dan kekurang berhasilan dalam memahami apa yang didengar, dibaca, atau dilihat dan diamatinya. Terlepas dari siapa yang bodoh dan siapa yang pintar, keadaan seperti inilah yang terjadi pada kasus ilustrasi di atas. Siswanya tidak
atau kurang berhasil mengencode pesan-pesan yang disampaikan olehnya.
Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat menyalurkan pesan sehingga membantu mengatasi masalah-masalah belajar
18
Wina Sanjaya, op. cit., h. 171-172 19
Arief S. Sadiman, at.al., Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), h. 13
A
A
A1
A2
mengajar. Perbedaan gaya belajar, minta, intelegensi, keterbatasan daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain dapat dibantu diatasi dengan pemanfaatan media pendidikan. Di bawah ini merupakan ilustrasi belajar mengajar dengan bantuan media.
1
Guru
2
3
Sumber Pesan 4
Gambar 2.3 Proses Komunikasi yang Berhasil Dengan Bantuan Media20
2. Media Audio Visual (Video)
a. Pengertian Media Audio Visual (Video)
“Video adalah teknologi pemprosesan sinyal elektronik meliputi
gambar gerak dan suara. Piranti yang berkaitan dengan video adalah play
back, storage media (seperti pita magnetic dan dist), dan monitor”.21
“Teknologi audio visual cara menghasilkan atau menyampaikan materi
dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan
20
Ibid., h. 15 21
Yudhi Munadi, op. cit., h. 132 MEDIA
A
A
A
A
A A
pesan-pesan audio dan visual. Pengajaran melalui audio-visual jelas bercirikan pemakaian perangkat keras selama proses belajar, seperti mesin proyektor
film, tape recorder, dan proyektor visual yang lebar”.22
Media audio visual ini dapat dibagi menjadi dua jenis. Jenis
pertama, dilengkapi fungsi peralatan suara dan gambar dalam satu unit,
dinamakan media audio visual murni, seperti film gerak (movie)
bersuara, televisi, dan video. Jenis kedua adalah media audio visual
tidak murni yakni apa yang kita kenal dengan slide, opaque, OHP, dan peralatan visual lainya bila diberi unsur suara dari rekaman kaset yang dimanfaatkan secara bersamaan dalam satu waktu atau satu proses
pembelajaran.23
”Compact video disc adalah sistem penyimpanan dan rekaman video
di mana signal audio-visual direkam pada disket plastik, bukan pada pita
magnetik.”24 Pada tahun 1992, Philips mempromosikan Video Compact Disk
yang kebanyakan orang mengenalnya sebagai VCD. Vidoe digital ini memanfaatkan format medium CD yang sebelumnya sudah dikenal luas dalam
format Audio CD.25
Berikut ini merupakan kelebihan dari video, antara lain:
1) Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu.
2) Video dapat diulang bila perlu untuk menambah kejelasan.
3) Pesan yang disampaikan cepat dan mudah diingat.
4) Mengembangkan pikiran dan pendapat para siswa.
5) Mengembangkan imajinasi peserta didik.
6) Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang lebih
realistis.
7) Sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang.
8) Sangat baik menjelaskan suatu proses dan keterampilan.
9) Semua peserta didik dapat belajar dari video, baik yang pandai maupun
yang kurang pandai.
10)Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
11)Dengan video penampilan siswa dapat segera dilihat kembali untuk
evaluasi.26
b. Sejarah Perkebangan Media Audio Visual (Video)
Video Disc diperkenalkan di pasar tidak lama setelah perekaman vita
video menjadi populer . Video Disc pertama kali dipasarkan oleh Philips dari
Belanda di tahun 1972, dan berikutnya oleh Thompson-CSF di Prancis, JVC di Jepang, dan RCA di Amerika Serikat. Sistem yang dipakai adalah
capacitance system, yakni sistem pemindaian (scan) informasi gambar dan
suara dengan menggunakan Tracking arm dan Stylus, sebagaimana layaknya
pada turn table audio. Kemudian mengalami perubahan menjadi sistem optik.
Produsen yang pertama kali menggunakan optical tracking signal system yang
menghubungkan ke sinyal video adalah JVC dari Jepang, produk ini kemudian
dikenal dengan sebutan Laser Disc (LD)
Teknologi ini berbeda dari teknologi pita video dalam arti informasinya desimpan sebagai spiral lubang-lubang mikro yang dapat dibaca
secara optic; galurnya diatur rapat-rapat dipermukaan cakram (disc) datar,
bukan dalam bentuk magnetic di permukaan pita; dan dibaca menggunakan
laser, bukan oleh head magnetic. Perbedaan utama yang lain adalah player
pita video juga sekaligus recorder. Kita dapat merekam di pita video,
sedangkan video disc tersedia dalam bentuk yang sudah direkam. Dengan
alasan ini, video disc tidak terlalu populer ketika pertama kali diperkenalkan
dan belum diterima konsumen dalam skala besar awal tahun 1990-an.
Tidak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 1992, Philips
mempromosikan video dalam tampilan baru yang disebut Video Compact
Disc, yang kebanyakan orang mengenalnya sebagai VCD. Video digital ini
memanfaatkan format dalam medium yang sebelumnya sudah dikenal luas dalam format audio CD. Dengan memasukkan informasi dan audio untuk memenuhi ruang 650 MB yang disediakan dalam medium ini, format
diperkenalkan untuk menjadi tandingan Laser Disc (LD), yang secara fisik
26
bentuknya lebih besar dan lebih berat . teknologi digital yang digunakan adalah teknologi MPEG-1 yang diprakarsai oleh Motion picture Expert Group, sebuah badan internasional yang mengembangkan teknologi kompresi audio dan video. Teknologi MPEG-1 ini agar file yang dihasilkannya dapat efektif memenuhi ruang 650 MB yang disediakan medium . Dengan menggunakan standar VCD ini, sebuah medium dapat menampung muatan audio visual sepanjang 74 menit. Kualitas setara dengan HVS video, dan suara setara dengan kualitas Audio. Baik LD maupun VCD, bukanlah media penyimpan
pada kamera, tetapi hanya untuk diputar pada play back-nya masing-masing.
Beberapa tahun kemudian, teknologi video cakram ini pun mengalami perkembangan yakni setelah munculnya DVD (1997). DVD adalah sebuah cakram optis yang dapat digunakan untuk menyimpan data kurang lebih 4,7 GB, termasuk film dengan kualitas video dan audio yang lebih baik dari
kualitas VCD. DVD pada awalnya adalah singkatan dari Digital Video Disc,
namun beberapa pihak ingin agar kepanjangannya diganti menjadi Digital
Versatile Disc, arti Versatile adalah serab guna, dengan demikian format DVD
ini bukan hanya untuk video saja. Tidak seperti LD dan VCD, DVD
merupakan salah satu storage yang digunakan dalam kamera (handycame).
Daya tampung DVD 8 cm hingga saat ini penggunaan DVD memang lebih didominasi oleh Industri Personal Computer dan juga industri perfilman untuk mendistribusikan film mereka ke rumah-rumah dan rental. Teknologi media penyimpan dalam bentuk kepingan DVD ini mengalami pengembangan yang dilakukan Perusahaan Toshiba dan NEC yang pada tahun 2003 melahirkan teknologi baru yaitu HD-DVD yang memiliki daya tampung lebih besar dari
DVD biasa hingga 30 GB . HD-DVD (singkatan dari High-Definition DVD)
adalah sebuah cakram optik berkepadatan tinggi yang didisain untuk menyimpan data termasuk video definisi tinggi.
Pada 2007 ini mulai dipasarkan cakram Blu-ray (Blu-ray Disc
ray dapat menyimpan data yang lebih banyak dari format DVD yang lebih umum karena panjang gelombang laser biru-ungu yang dipakai hanya 405 nm dimana lebih pendek dibandingkan laser merah, 650 nm yang dipakai DVD dan piringan kompak. Format saingan Blu-ray yaitu HD-DVD juga menggunakan laser jenis yang sama. Cakram Blu-ray dapat menyimpan 25 GB pada setiap lapisannya dibandingkan dengan 4,7 GB pada DVD. Beberapa pabrik bahkan telah membuat cakram Blu-ray satu lapis dan dua lapis (50 GB) yang dapat ditulis ulang. Beberapa studio film yang mendukung format Blu-ray bahkan telah merilis film pada cakram berkapasitas 50 GB.
Disamping Storage yang telah diuraikan di atas, masih ada beberapa
storage yang bisa dimanfaatkan video, yakni hard disk drive (HDD) dan chip
memori. Pemanfaatan terhadap keduanya adalah sebagai media penyimpan pada camcorder yang tersedia dipasaran adalah 30, 40, dan 60 GB. Analoginya, untuk kapasitas 60 GB bisa merekam 14 jam 40 menit dengan
setting-an high quality (9 Mbps). Bila dibandingkan dengan storage lainnya,
kelebihan HDD adalah memiliki kapasitas atau daya tampung yang besar dan pemakaian ulang tidak mempengaruhi kualitas gambar. Walaupun HDD lebih efisien, tapi kemungkinan besar ia kena virus (layaknya terjadi di komputer).
Penggunaan chip memori pada camcorder didasarkan pada
pertimbangan bahwa selain ukurannya yang kecil, durasi respon perekaman ke
memoti ini lebih cepat dibandingkan dengan ke storage lain, seperti DVD
atau miniDV. Selain itu, konsumsi batrei juga hemat daya, fleksibel, dan resiko kehilangan datanya lebih kecil. Dalam kata lain, daya tahan batrei bisa lebih panjang karena daya yang dibutuhkan lebih sedikit dibandingkan jika
menggunakan storage lain, sebab, tidak ada bagian yang harus diputar di sini.
Kapasitas chip memori tertinggi saat ini adalah chip memori SDHC (Dual
Memory Flash) sebesar 16 GB, yakni mampu merekam video selama 20 jam
terhadap guncangan daripada HDD karena ia tidak memiliki sistem mekanik,
alias 100% digital.27
c. Sifat-Sifat Bahan Audio Visual
Guru biasanya dihadapkan dengan demikian banyaknya bahan audio
visual, sehingga sering sulit bagi mereka untuk memilih hal-hal yang paling
banyak untuk menolongnya dalam tugas-tugasnya. Namun demikian, sekali tujuan-tujuan belajar serta struktur bahannya telah ditentukan, guru lebih
mudah memilih bahan-bahan audio visual yang dapat lebih membantu para
siswa untuk mencapai tingkat penguasaan yang dibuttuhkan.
Untuk memutuskan bahan audio visual mana yang digunakan,
biasanya diajukan pertanyaan ”Bagaimana alat bantu ini bisa digunakan
sehingga sifat-sifat serta atributnya bisa dimanfaatkan?”. Secara umum Ivor K.
Davies menyatakan bahan audio visual mempunyai lima sifat yaitu:
1) Kemampuan untuk meningkatkan persepsi.
2) Kemampuan untuk meningkatkan pengertian.
3) Kemampuan untuk meningkatkan transfer/pengalihan belajar.
4) Kemampuan untuk memberi penguatan (reinforcement) atau pengetahuan
hasil yang dicapai.
5) Kemampuan untuk meningkatkan retensi.28
3. Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu. Yaitu proses bertambahnya pengetahuan dan perubahan tingkah laku seseorang menjadi lebih baik. Arief S Sadiman dalam bukunya berpendapat
bahwa: “belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua
orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga keliang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorag telah belajar adalah adanya
27
Ibid., h. 137-140 28
perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif)”.29
“Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman
belajar, mengolah kegiatan belajar mengajar, menilai proses, dan hasil belajar, kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi, hakikat
belajar adalah perubahan”.30 Skinner berpendapat bahwa “belajar adalah
suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik.
Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responya menurun.”31
Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:
1) kesempatan terjadinya peritiwa yang menimbulkan respons pebelajar,
2) respon si pebelajar, dan
3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. Pemerkuat terjadi
pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pebelajar yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku
respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.32
Menurut Gagne dalam buku Dimyati, belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilias. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (1) stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan (2) proses kognitif yang dilakukan pebelajar. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi,
menjadi kapabilitas baru.33
Dari beberapa definisi dari para ahli di atas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar, yaitu:
29
Arief S. Sadiman, at.al.,op. cit., h. 2 30
Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain, op. cit., h. 11 31
Dimyati, Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006) cet ke-3, h. 9
32
Ibid.
33
1) Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior). Ini berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak tidak terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar, kita tidak akan mengetahui ada tidaknya hasil belajar.
2) Perubahan prilaku (Relative Permanent). Ini berarti, bahwa perubahan
tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-rubah. Tetapi, perubahan tingkah laku tersebut tidak akan terpancang seumur hidup.
3) Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses
belajar sedang berlangsung, perubahan tingkah laku tersebut bersifat potensial.
4) Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
5) Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang
memperkuat itu akan memberi semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.
b. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lainya memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dimyati dan Murjiono menulis dalam bukunya bahwa prinsip-prinsip belajar berkaitan dengan:
1) Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian tori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil.
2) Keaktifan
Kecendrungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan, dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksa oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. John Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah.
3) Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.
4) Pengulangan
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan,
barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi
Daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada
manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan mengadakan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.
5) Tantangan
artinya tujuan belajar telah tercapai. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan ajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya.
6) Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan
terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F.
Skinner. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar.
7) Perbedaan Individual
Siswa merupakan individu yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru
dalam upaya pembelajaran.34
c. Faktor-Faktor Belajar
Prinsip-prinsip belajar yang hanya memberikan petunjuk umum tentang belajar. Tetapi prinsip-prinsip itu tidak dapat dijadikan hukum belajar bersifat mutlak, kalau tujuan belajar berbeda maka dengan sendirinya cara belajar juga harus berbeda, contoh: belajar untuk memperoleh sifat berbeda dengan belajar untuk mengembangkan kebiasaan dan sebagainya. Karena itu, belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kondisional yang ada.
34
Oemar Hamalik menyebutkan faktor-faktor belajar sebagai berikut:
1) Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan; siswa yang belajar melakukan
banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat, mendengar,
merasakan, berpikir, kegiatan motoris, dan sebagainya maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu digunakan secara praktis dan diadakan ulangan secara kontinu di bawah kondisi yang serasi, sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih mantap.
2) Belajar memerlukan latihan, dengan jalan: relearning, recalling, dan
reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali dan
pelajaran yang belum dikuasai akan dapat lebih mudah dipahami.
3) Belajar siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa
berhasil dan mendapatkan kepuasannya. Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.
4) Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam
belajarnya. Keberhasilan menimbulkan kepuasan dan men-dorong belajar lebih baik, sedangakan kegagalan akan menimbulkan frustrasi.
5) Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman
belajar antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan pengalaman.
6) Pengalaman masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian
yang telah dimiliki oleh siswa, besar peranannya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan pengertian-pengertian baru.
7) Faktor kesiapan belajar. Murid yang telah siap belajar akan dapat
melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor kesiapan ini erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat, kebutuhan, dan tugas-tugas perkembangan.
8) Faktor minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa
merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari dirasakan bermanfaat bagi dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga sulit untuk berhasil.
9) Faktor-faktor fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat
berpengaruh dalam proses belajar. Badan yang lemah, lelah akan menyebabkan perhatian tak mungkin akan melakukan kegiatan belajar yang sempurna. Karena itu faktor fisiologis sangat menentukan berhasil atau tidaknya murid yang belajar.
10)Faktor intelegensi. Murid yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan
belajar, karena ia lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran dan lebih mudah mengingat-ingatnya. Anak yang cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan lebih cepat mengambil keputusan. Hal ini berbeda
dengan siswa yang kurang cerdas, para siswa yang lamban.35
4. Retensi (Daya Ingat).
a. Pengertian Retensi.
Informasi secara tetap masuk pikiran kita melalui indera. Sebagian besar informasi ini segera kita buang tanpa kita sadari. Sedangkan beberapa kita simpan dalam ingatan kita untuk beberapa saat, dan kemudian terlupakan. Bagaimanapun juga, beberapa informasi akan tetap kita simpan bahkan kita simpan untuk selama-lamanya. Yang penting dalam pendidikan adalah memasukan informasi yang berguna, keterampilan, dan sikap ke dalam pikiran siswa dengan cara apapun, sehingga siswa dapat mengingat kembali pengetahuan yang telah mereka simpan jika mereka membutuhkannya.
Ingatan merupakan alih bahasa dari memory. Maka dari itu di samping ada yang menggunakan ingatan ada pula yang menggunakan istilah memori sesuai dengan ucapan dari memory. Pada umumnya para ahli memandang ingatan sebagai hubungan antara pengalaman dengan masa lalu. Proses manusia memunculkan kembali tiap kejadian pengalaman pada masa lalunya, membutuhkan kemampuan mengingat
35
kembali yang baik. Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia maka ini menunjukan bahwa manusia mampu menerima, menyimpan dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang
dialaminya.36
“Retensi adalah kemampuan untuk mengingat materi (seperti:
konsep-konsep, teorema-teorema) yang telah dipelajari. Seperti ingatan, retensi sangat
menentukan hasil yang diperoleh siswa dalam proses belajarnya”.37
Daya ingat yang baik merupakan kebutuhan setiap siswa untuk belajar optimal. Ini karena hasil belajar siswa di sekolah diukur berdasarkan penguasaan siswa atas materi pelajaran, yang prosesnya tidak terlepas dari kegiatan mengingat (kemampuan menggunakan daya ingat). Maka dengan daya ingat yang baik, siswa akan dapat belajar dengan mudah dan mencapai hasil optimal. Namun, tidak setiap siswa memiliki daya ingat yang baik. Dalam setiap kelas, misalnya, pasti ada siswa yang memiliki daya ingat baik dan ada pula yang
memiliki daya ingat buruk.38
Para ahli mencoba untuk mendefinisikan retensi itu sendiri. Berikut ini definisi Retensi menurut beberapa ahli, antara lain:
1) De Porter & Hernacki, menjelaskan bahwa memori atau ingatan
adalah suatu kemampuan untuk mengingat apa yang telah diketahui. Seseorang dapat mengingat sesuatu pengalaman yang telah terjadi atau pengetahuan yang telah dipelajari pada masa lalu. Kegiatan seseorang untuk memunculkan kembali atau mengingat kembali pengetahuan yang dipelajarinya pada masa lalu dalam ilmu psikologi
disebut recall memory.
2) Santrock, ingatan sebagai retensi informasi yang telah diterima
melalui tahap : penkodean (encoding), penyimpanan (storage), dan pemanggilan kembali (retrieval).
36
Heru Setyawan, Memory (Ingatan), Guidance dan Counseling, 2013, (http://denmasngabeihadiningrat.blogspot.com/2013/06/memori-ingatan.html), diakses: 5 Januari 2014
37
Muhammad Yusuf, Teori Pembelajaran: Retensi, artikel, 2011, (http://yusufsila. blogspot.com/2011/10/teori-pembelajaran-retensi.html), diakses: 5 Januari 2014
38
3) Irwanto, ingatan sebagai kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan lagi di masa yang akan datang.
4) Walgito, ingatan adalah kemampuan psikis untuk memasukan,
menyimpan, dan menimbulkan kembali hal-hal yang lampau.39
Ada 3 tahap yang terjadi pada proses ingatan, yaitu proses memasukkan informasi atau pengkodean, proses penyimpanan, dan proses mengingat.
1) Proses Memasukkan Informasi atau Pengkodean
Pada tahap ini terjadi proses memasukkan informasi yang ada dengan mengubah sifat informasi ke dalam bentuk yang sesuai dengan sifat-sifat organisme, seperti simbol-simbol atau gelombang-gelombang listrik tertentu yang sesuai dengan sifat organisme.
2) Proses Penyimpanan
Tahap kedua ini disebut juga retensi. Pada tahap ini terjadi pengendapan informasi yang telah terkode dalam suatu tempat tertentu. Ketika telah mempelajari sesuatu biasanya akan tersimpan dalam
bentuk jejak-jejak (traces) dan bisa ditimbulkan kembali. Jejak-jejak
tersebut biasa juga disebut dengan tilas ingatan (memory traces).
3) Proses Pengingatan Kembali
Proses pengingtatan adalah proses mengingat kembali dari apa yang telah disimpan pada tahap kedua tadi. Mengingat kembali merupakan suatu proses mencari dan menemukan informasi yang disimpan dalam
ingatan untuk suatu keperluan atau kebutuhan.40
Jadi, diperoleh kesimpulan bahwa retensi adalah kegiatan belajar mengajar yang berhubungan dengan keterampilan daya ingat siswa dari materi yang telah disampaikan dalam rentang waktu tertentu.
39
Heru Setyawan, op. cit., diakses: 5 Januari 2014 40
b. Jenis-Jenis Ingatan
1) Ingatan Jangka Pendek (short Term Memory)
Ingatan jangka pendek (IJpe), yaitu suatu sistem penyimpanan sementara yang dapat menyimpan informasi secara terbatas. Ingatan jangka pendek ini adalah bagian dari ingatan, dimana informasi yang baru saja didapat disimpan. Pikiran memberikan kesempatan kepada informasi untuk disimpan sebentar dalam ingatan jangka pendek kita. Jika kita berhenti memikirkan sesuatu, informasi ini akan hilang dari
jangka pendek kita.41
Jumlah informasi yang bisa disimpan dalam IJPe sangat terbatas,hanya lima hingga sembilan informasi saja yang dapat berada di dalamnya sekaligus. Setiap kali memberikan perhatian ke informasi baru yang berasal dari ingatan sensorial, harus didorong keluar sesuatu yang telah diperhatikan sebelumnya. Misalnya, jika ada sesuatu yang mengganggu konsentrasi seseorang ketika berlatih mengulang nomor telepon sebelum informasi nomor tersebut mencapai ke IJPa, maka informasi akan terlempar keluar dan seseorang
tersebut harus melihat dan mengingat kembali.42 Suatu proses informasi
meliputi bagaimana informasi itu dikodekan, ditransformasikan, diasosiasikan, disimpan, dijaga, ditimbulkan lagi, dan dilupakan. Informasi di ingatan jangka pendek dikodekan secara akustik dan dapat disimpan dalam bentuk suatu, arti, dan penampilan fisik.
“Ingatan jangka pendek hanya dapat atau mampu mengingat lima
sampai tujuh informasi”.43 Ini sesuai dengan penelitian Yacobs tentang
ingatan jangka pendek, Tacobs yang mengadakan penelitian dengan menyebutkan beberapa angka pada pendengar tanpa pola urutan tertentu, kemudian pendengar disuruh menulis kembali kata-kata tersebut, ternyata yang dapat diingat hanya tujuh angka. Dengan menggunakan tanda titik angka, kata dan lainnya menunjukkan hasil yang sama yakni memori jangka
pendek terbatas hanya 7 +/- 2 unit.44
41
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : PT. Grasindo, 2002), hal. 153
42
Bambang Susanto, op. cit., diakses: 5 Januari 2014 43
Sri Esti Wuryani Djiwandono, op.cit.., hal. 154 44
2) Ingatan Jangka Panjang (Long Term Memory)
Ingatan jangka panjang adalah bagian dari sistem ingatan kita di mana seseorang menyimpan informasi untuk jangka waktu yang lama. Ingatan jangka panjang diperkirakan mempunyai daya tampung yang tidak terbatas, baik dari segi jumlah informasi yang dapat disimpan maupun dari segi lama waktunya informasi akan disimpan. Kenyataannya yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin tidak pernah lupa suatu informasi yang pernah kita dapat, sebaliknya kita mungkin kehilangan kemampuan untuk menemukan informasi dalam ingatan kita.
Davidoff dalam artikel Heru Setyawan menjelaskan bahwa memori jangka panjang (long term memory) diartikan sebagai tempat penyimpanan informasi yang bersifat permanen dibandingkan memori
jangka pendek. Memori jangka panjang disebut juga sebagai “gudang”
atau tempat penyimpanan informasi yang kapasitasnya tidak terbatas. Memori jangka panjang memungkinkan manusia mengingat kembali informasi masa lalu dan menggunakan informasi yang ada untuk
mengerti apa yang terjadi sekarang.45
Craik dan Lockhart menyebutkan bahwa ada satu perbedaan penting antara informasi yang diambil dari ingatan jangka pendek dan informasi yang sudah lama diingat. Perbedaannya adalah seberapa dalam dan telitinya informasi yang telah diproses. Kemudian, Craik dan Lockhart pertama-tama mengusulkan teori pemprosesan informasi mereka sebagai suatu alternatif
untuk tiga tahap model. Pertama, elaboration (elaborasi) yaitu menambahkan
arti dengan menghubungkan suatu informasi baru dengan kumpulan-kumpulan lain atau dengan pengetahuan yang sudah ada. Hubungan ini terjadi ketika
informasi baru digabungkan ke dalam kerangka kerja dan schemata (skema)
yang proporsional. Kedua, organization (pengorganisasian) yang dihubungkan
dengan elaboration. Informasi yang diorganisasi dengan baik seperti mata
pelajaran lebih mudah untuk diingat dari pada informasi yang
sepotong-sepotong atau sedikit. Ketiga, context (konteks), secara jelas aspek-aspek
tertentu dari konteks fisik dan emosi dari bahan pelajaran yang dipelajari
45
bersamaan dengan informasi menjadi bagian dari kerangka kerja yang proporsional. Kemudian, jika siswa mencoba mengingat informasi, belajar
akan lebih mudah jika konteksnya sama.46
c. Faktor yang Mempengaruhi Ingatan
Di dalam kenyataanya, memang banyak hal yang telah dipelajari sukar sekali bahkan tida dapat lagi direproduksikan dari daya ingatan kita. Peristiwa
ini yang disebut lupa. Ada hal yang begitu cepat kita lupakan. Ada pula hal
yang baru setelah beberapa lama muncul lagi dalam ingatan kita. Whiterington (1952) melaporkan secara singkat beberapa hasil studi yang menunjukan bahwa hal-hal yang bersifat hapalan (substansi-material) mudah cepat dilupakan dibandingkan hasil proses mental (fungsional-struktural) ,yang lebih
tinggi, atau hasil-hasil pengalaman praktik yang berarti (meaningful).
Sedangkan hal-hal yang kurang berarti (nama-nama, fakta) atau less
maeningful mudah cepat dilupakan. Faktor-faktor yang dapat membawa
gangguan dalam daya ingat, atau menjurus kepada kelupaan, antara lain:
1. kalau hasil belajar yang baru mengganggu untuk me-recall hasil
terdahulu (retroactive inhibition);
2. kalau hasil belajar terdahulu mengganggu untuk me-recall hasil belajar
yang baru (associative inhibition);
3. resency effect, hal-hal yang secara mendadak kita hafalkan menjelang
memproduksi lagi (beberapa saat sebelum ujian, misalnya).47
d. Prinsip-Prinsip Ingatan Dalam Belajar
Slameto menulis tentang beberapa prinsip ingatan, yaitu:
1. Belajar yang berarti lebih mudah terjadi dan lebih lama diingat
dibanding dengan belajar yang tampaknya tidak ada artinya. Menghafal deretan huruf-huruf yang tidak ada hubungan arti adalah
46
Sri Esti Wuryani Djiwandono, op. cit., hal.155 47
sangat sulit dan lama. Untuk memudahkannya guru perlu membubuhkan suatu arti sehingga mudah dihafal.
2. Belajar menghubungkan atau merangkaikan dua obyek atau peristiwa
menjadi lebih mudah apabila kedua obyek atau peristiwa itu terjadi atau dijumpai dalam urutan yang berdekatan, baik ditinjau dari segi waktu maupun ruang.
3. Belajar dipengaruhi oleh frekuensi atau perjumpaan dengan
rangsangan dan tanggapan yang sama atau serupa yang dibuat. Dalam pelajaran, siswa menjadi makin baik penguasaannya jika mereka diberikan lebih banyak kesempatan untuk mengulang atau berlatih.
4. Belajar tergantung pada akibat yang ditimbulkannya. Ini berarti bahwa
pelajaran yang memberikan kesan menyenangkan, menarik,
mengurangi ketegangan, bermanfaat, atau memperkaya pengetahuan lebih efisien dan tersimpan atau memberi kesan yang lebih lama.
5. Belajar sebagai suatu keutuhan yang dapat diukur tidak hanya
tergantung pada proses bagaimana belajar itu terjadi, tetapi juga pada
cara penilaiannya atau penggunaannya.48
5. Fotosintesis
Manusia dan hewan tidak dapat membuat makanan sendiri sehingga bergantung pada tumbuhan. Tumbuhan dapat membuat makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari. Peristiwa ini disebut fotosintesis. Fotosintesis adalah proses penyusunan atau pembentukan senyawa kompleks dari senyawa sederhana dengan menggunakan energi cahaya (foton). Tumbuhan mendapatkan energi cahaya ini dari cahaya matahari. Tumbuhan yang dapat memanfaatkan energi
cahaya matahari adalah tumbuhan yang memiliki klorofil.
Tumbuhan hijau dan alga hijau mampu melakukan proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari. Proses fotosintesis ini menghasilkan zat makanan yang diperlukan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Jika telah mencukupi,
48