• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Media Animasi dan Media Powerpoint terhadap Hasil Belajar pada Konsep Fluida Statis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Media Animasi dan Media Powerpoint terhadap Hasil Belajar pada Konsep Fluida Statis"

Copied!
315
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Oleh:

ANISAH NIM : 109016300011

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

Tipe STAD dengan Media Animasi dan Media Power point Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Fluida Statis. Skripsi Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media animasi dan media power point terhadap hasil belajar siswa SMA pada konsep fluida statis. Media animasi ini dibuat menggunakan software macromedia flash. Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 SMA Negeri 4 Tangerang Selatan. Penelitian berlangsung pada bulan Mei 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design dan teknik pengambilan sampel purpossive sampling. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes berupa soal pilihan ganda dan instrumen nontes berupa angket. Data hasil instrumen tes dan nontes dianalisis secara kuantitatif, namun hasil data nontes dikonversi ke dalam bentuk kualitatif. Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media animasi dan media power point terhadap hasil belajar siswa SMA pada konsep fluida statis. Hasil uji hipotesis terhadap data posttest menunjukkan nilai

�ℎ����� = 8,02 dan nilai ������ = 1,99. Nilai �ℎ����� >������, sehingga �0 ditolak. Rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media animasi lebih tinggi dibandingkan rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media power point. Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih unggul pada jenjang kognitif C1, C2, C3, dan C4. Pembelajaran menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media animasi ini memiliki daya dukung terhadap proses pembelajaran pada kategori baik dengan persentase sebesar 79%.

Kata kunci : Model pembelajaran kooperatif, media animasi, media powerpoint hasil belajar siswa, fluida statis.

(6)

Animation Media and Powerpoint Media on Learning Result on Static Fluid Concept. Skripsi of Physics Education Program, Science Education Department, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, State Islamic University of Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.

This research aims to determine the effect of cooperative learning with animation media on learning result of senior high school students on static fluid concept. Animation media was created using macromedia flash. This research was done in class XI-Science-4 and XI-Science-5 in SMAN 4 Tangerang Selatan. The research was done in May 2014. The method used in this research is a quasi experimental with nonequivalent control group design and the technique of sampling is purpossive sampling. Instrumen were used in this research are test instrument which is multiple choices and nontest instrument which is questionaire. Test instrumen and nontest instrument data will be analized quantitatively,but nontest instrument data will be converted to qualitative. Based on data analysis, the result obtained that there is an the effect of STAD cooperative learning with animation media on learning result of senior high school students on static fluid concept. The result of hypothesis testing against posttest data showed that value of ℎ����� is 8,02 and value of ����� is 1,99. Value of ℎ����� is higher so 0 is rejected. Average of student’s learning result that uses STAD cooperative learning with animation media is higher than the average of student learning result that uses conventional learning. The result of the experimental group student’s learning is superior in C1, C2, C3, and C4 cognitive levels. Audio-visual media (video) has carrying capacity of the learning process in good category with a percentage of 79%.

Key words : Cooperative learning, animation media, student’s learning result, Static fluid.

(7)

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Media Animasi Terhadap Hasil Belajar Siswa SMA pada Konsep Fluida Statis”. Skripsi ini menggambarkan bagaimana peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe stad dengan media animasi. Apresiasi dan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Secara khusus, apresiasi dan terima kasih tersebut disampaikan kepada:

1. Ibu Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc, selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Nengsih Juanengsih, M.Pd, selaku Sekertaris Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Iwan Permana Suwarna, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5. Bapak Drs.Hasian Pohan, M.Si selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, saran, dan pengarahan selama proses perkuliahan dan pembuatan skripsi.

6. Ibu Kinkin Suartini, M.Pd, selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, saran, dan pengarahan selama proses perkuliahan dan pembuatan skripsi.

7. Seluruh dosen, staf, dan karyawan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya jurusan pendidikan IPA yang telah memberikan ilmu pengetahuan, pemahaman, dan pelayanan selama proses perkuliahan.

(8)

10. Dewan guru, staf, karyawan, dan siswa-siswi SMA Negeri 4 kota Tangerang Selatan yang telah memberikan bantuannya selama penelitian berlangsung. 11. Ayahanda Nasrudin, Ibunda Hj.Nurlaelah dan seluruh keluarga yang tiada

henti memberikan kasih sayang, dukungan, dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

12. Teman-teman seperjuangan Fisika angkatan 2009, adik-adik Fisika angkatan 2010 dan 2011 yang telah memberi bantuan, inspirasi dan motivasi.

13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga segala bentuk bantuan, dorongan, saran, dan bimbingan yang diberikan kepada penulis mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Aamiin.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penyusunan skripsi ini sangat dinantikan. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Aamiin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, September 2014

Penulis

(9)

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Batasan Masalah ... 5

D. Rumusan Masalah ... 5

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS ... 7

A. Kajian Teoretis ... 7

1. Belajar ... 7

a. Belajar Menurut Skinner ... 7

b. Belajar Menurut Gagne ... 7

c. Belajar Menurut Piaget ... 7

d. Belajar Menurut Rogers ... 8

2. Pembelajaran Kooperatif ... 8

a. Model Pembelajaran Kooperatif ... 8

b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif ... 10

(10)

c. Jenis-jenis Media Pendidikan ... 14

d. Pengertian Animasi ... 15

e. Manfaat dan Keuntungan Animasi ... 18

f. Manfaat Animasi untuk Berbagai Kebutuhan ... 18

4. Analisis Hasil belajar ... 18

5. Kajian Materi Subjek Fluida Statis ... 23

a. Pengertian Fluida Statis ... 23

b. Tekanan Hidrostatis ... 23

c. Tekanan Mutlak ... 24

d. Tegangan Permukaan ... 24

e. Kapilaritas ... 25

f. Hukum Pascal ... 25

g. Hukum Archimedes ... 26

h. Viskositas ... 28

B. Penelitian yang Relevan ... 29

C. Kerangka Berpikir ... 30

D. Perumusan Hipotesis ... 33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34

A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 34

B. Metode dan Desain Penelitian ... 34

C. Variabel penelitian ... 35

D. Prosedur Penelitian ... 35

E. Populasi dan Sampel ... 38

F. Teknik Pengumpulan Data ... 38

G. Instrumen Penelitian ... 39

1. Instrumen Tes ... ... 39

(11)

b. Uji Reliabilitas ... 44

c. Taraf Kesukaran ... 45

d. Daya Pembeda ... 46

2. Kalibrasi Instrumen Nontes ... 46

I. Teknik Analisis Data ... 47

1.Prasyarat Analisis Data Tes ... 47

2.N-Gain ... 50

3.Analisis Data Tes ... 50

4.Analisis Data Nontes ... 52

J. Hipotesis Statistik ... 53

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 54

A. Hasil Penelitian ... 54

1. Hasil Pretest ... 54

2. Hasil Posttest ... 56

3. Rekapitulasi Data Hasil Belajar ... 58

a. Hasil Pretest dan Posttest ... ... 58

b. Kemampuan Berpikir Kognitif ... .... 60

4. Hasil Uji Prasyarat Analisis ... 62

a. Uji Normalitas ... 62

b. Uji Homogenitas ... 62

5. Hasil Uji Hipotesis ... 63

6. Hasil Analisis Data Observasi ... 64

7. Hasil Analisis Data Angket ... 65

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 66

(12)

LAMPIRAN

(13)

Gambar 3.1 Benda Tenggelam ... 27 Gambar 2.2 Benda Melayang ... 28 Gambar 3.1 Prosedur Penelitian ... 37

DAFTAR TABEL

(14)

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Tes ... 39

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Lembar Observasi Aktifitas Siswa ... 41

Tabel 3.5 Kisi-Kisi Angket Respon siswa ... 42

Tabel 3.6 Interpretasi Koefisien Korelasi ... 41

Tabel 3.7 Interpretasi Kriteria Reliabilitas Instrumen ... 44

Tabel 3.8 Kategori Derajat Kesukaran ... 45

Tabel 3.9 Kriteria Daya Pembeda ... 46

Tabel 3.10 Validitas Instrumen Non Tes ... 47

Tabel 3.11 Kategori N-Gain ... 50

Tabel 3.12 Kriteria Nilai t ... 52

Tabel 3.13 Nilai Pernyataan Positif dan Negatif ... 52

Tabel 3.14 Kriteria Interval ... 49

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelas Eksperimen ... 54

Tabel 4.2 Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data Hasil Pretest Kelas Eksperimen ... 55

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelas Kontrol ... 55

Tabel 4.4 Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data Hasil Pretest Kelas Kontrol ... 56

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Nilai Postttest Kelas Eksperimen ... 56

Tabel 4.6 Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data Hasil Posttest Kelas Eksperimen ... 57

Tabel 4.7 Hasil Frekuensi Nilai Posttest Kelas Kontrol ... 57

Tabel 4.8 Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data Hasil Posttest Kelas Kontrol ... 58

Tabel 4.9 Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data Hasil Pretest Dan Posttest ... 58

Tabel 4.10 Hasil Uji N-Gain Hasil Belajar ... 60

(15)

Tabel 4.14 Hasil Perhitungan Uji Hipotesis ... 63 Tabel 4.15 Hasil Lembar Observasi Aktifitas Siswa ... 64 Tabel 4.16 Hasil Angket Respon Siswa ... 65

(16)

1. RPP Kelas Eksperimen ... 76

2. RPP Kelas Kontrol ... 139

Lampiran B Instrumen Penelitian ... 202

1. Instrumen Tes ... 202

a. Kisi-Kisi Instrumen Tes ... 202

b. Instrumen Tes ... 205

2. Analisis Hasil Uji Instrumen ... 226

a. Uji Validasi Butir Soal ... 226

b. Uji Reliabilitas Instrumen ... 227

c. Uji Taraf Kesukaran ... 228

d. Uji Daya Pembeda ... 229

3. Rekapitulasi Hasil Uji Instrumen ... 230

4. Instrumen Tes Valid ... 231

5. Soal Instrumen Penelitian ... 232

6. Lembar Jawaban ... 235

7. Lembar Observasi Aktifitas Siswa ... 236

8. Kisi-Kisi Instrumen Nontes (Angket) ... 240

9. Instrumen Nontes (Angket) ... 241

10.Lembar Validasi Ahli Media ... 242

11.Lembar Validasi Ahli Materi ... 244

Lampiran C Analisis Data Hasil Penelitian ... 250

1. Hasil Pretest ... 250

2. Hasil Posttest ... 257

3. Uji Normalitas Hasil Pretest ... 264

a. Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen ... 264

(17)

5. Uji Homogenitas Hasil Pretest ... 268

6. Uji Homogenitas Hasil Posttest ... 271

7. Uji Hipotesis Hasil Pretest ... 274

8. Uji Hipotesis Hasil Posttest ... 276

9. Data Hasil Angket Respon Siswa ... 280

Lampiran D Print Screen Media ... … 281

Lampiran E Surat-Surat Penelitian ... 285

1. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 285

2. Surat Keterangan Wawancara ... 286

3. Biodata Penulis ... 288

4. Lembar Uji Referensi ... 289

(18)

Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Tujuan pendidikan nasional merupakan hal yang penting untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang kreatif. Hal ini dirumuskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, yaitu:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembang potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1

Pendidikan adalah bagian khususnya komunikasi. Pendidikan merupakan himpunan kultural yang sangat kompleks yang dapat digunakan sebagai perencanaan kehidupan manusia.2 Dalam pembelajarannya, pendidikan harus kreatif dan inovatif untuk menciptakan pembelajaran efektif yang berpusat pada siswa. Dalam metode ini, siswa dituntut terlibat aktif, kreatif dan mampu berfikir kritis.

Namun pada kenyataannya, dalam kegiatan belajar mengajar saat ini masih banyak menghadapi kendala. Kendala tersebut antara lain (1) pemilihan model pembelajaran yang kurang cocok, (2) kurangnya penggunaan media

1

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif, (Jakarta:Kencana Media Grup, 2009), h 1

2

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada, 2010), h. 4

(19)

pembelajaran, dan (3) kondisi kelas yang cenderung berpusat kepada guru.3 Hal ini kemudian menciptakan pembelajaran fisika yang kurang efektif. Kondisi tersebut juga tidak akan menumbuh kembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan. Akibatnya nilai-nilai yang didapat tidak seperti yang diharapkan.

Fakta tersebut tercermin dari hasil observasi. Peneliti telah melakukan observasi di sekolah untuk meninjau mengenai sistem komunikasi pembelajaran selama proses belajar mengajar di sekolah. Hasil observasi menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa kelas XI masih rendah dengan rata-rata nilai fisika 60. Nilai ini berada dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75, ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan kurang berhasil. Selain itu, dari hasil observasi itu dapat diketahui beberapa kendala yaitu (1) metode pembelajaran fisika kurang inovatif. Guru lebih sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan mengerjakan soal latihan; (2) tidak adanya variasi dalam penggunaan media pembelajaran.

Hasil belajar siswa masih rendah juga disebabkan karena guru hanya menyajikan materi dengan menggunakan media powerpoint sehingga siswa kurang banyak mengerjakan latihan soal dan kurang mampu memahami aplikasi materi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari hasil observasi ditemukan pula fakta bahwa pada saat pembelajaran berlangsung sebagian siswa mengerjakan latihan soal diskusi sendiri-sendiri, yang seharusnya ada keterkaitan kerjasama antara siswa satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada sifat individualisme.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu model pembelajaran baru yang mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Peningkatan tersebut diharapkan berkorelasi dengan peningkatan hasil belajar siswa. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student TeamAchievement Division) yang disertai media animasi.

Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah model aktifitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran 3

Op.cit, h 6

(20)

harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota lain. STAD adalah salah satu tipe dalam model pembelajaran cooperative learning, yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang pembelajarannya melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Sehingga siswa lebih berperan aktif dalam sistem pembelajaran ini.

Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan dunia komunikasi tersendiri. Pada tingkat ini kata-kata merupakan alat komunikasi yang utama. Proses belajar mengajar pada level ini, guru menyampaikan informasi kepada siswa hanya dengan berbicara. Keterbatasan komunikasi dengan kata-kata sering menimbulkan kesulitan dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa. Kadang-kadang guru tidak sadar sehingga maju terus dengan kata-kata yang diucapkannya tanpa memperhatikan siswa sehingga cenderung terjadi verbalisme (serba kata).

Kehadiran media pembelajaran merupakan alat bantu bagi guru dalam komunikasi atau penyampaian materi pelajaran. Kata media pendidikan digunakan secara bergantian dengan istilah alat bantu atau media komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1986), ia melihat bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi.4 Dengan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi maka penjelasan guru akan lebih visualistik, lebih menarik serta siswa mendapatkan pengalaman baru. Media pembelajaran adalah alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjelas dan mempermudah konsep yang kompleks dan abstrak menjadi lebih sederhana, konkrit serta mudah dipahami.

4

(21)

Pembelajaran Fisika khususnya konsep Fluida Statis adalah salah satu pelajaran yang perlu adanya visualisasi. Pada fluida statis, tidak hanya hasil belajar siswa saja yang diukur, melainkan proses pembelajarannya pada konsep fluida satis ini pun harus diukur. Selain itu, dibandingkan konsep-konsep lain yang ada di kelas sebelas, konsep ini lebih menyeluruh dan lebih kompleks sehingga penyampaiannya akan lebih mudah jika disampaikan dengan model atau metode yang pas dan bisa pula dikombinasikan dengan media pembelajaran yang tepat. Alat bantu media yang tepat guna dalam pembelajaran Fisika adalah media gambar yang disajikan berisi tentang materi fluida statis dengan ilustrasi-ilustrasi gambar. Gambar yang digunakan tentu ada hubungannya dengan pelajaran atau permasalahan yang sedang dihadapi. Guru dapat mengarahkan siswa yang sedang melihat gambar untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang timbul dalam pikirannya. Gambar harus dapat merangsang perhatian siswa agar dapat memahami dan mampu menciptakan argumen dari dari gambar yang dilihatnya. Sehingga dari sebuah gambar dapat lahir sebuah ide-ide kreatif siswa tentang permasalahan yang dibicarakan, yang termasuk dalam media visual adalah animasi dan media powerpoint.

Siswa lebih tertarik belajar ketika menggunakan media pembelajaran berupa animasi daripada menggunakan media powerpoint, hal ini dikarenakan media pembelajaran animasi adalah suatu rangkaian gambar diam dengan jumlah banyak, bila kita proyeksikan akan terlihat seolah-olah hidup (bergerak). Jadi biasa disimpulkan animasi yaitu menghidupkan benda diam diproyeksikan menjadi bergerak. Dengan belajar melalui animasi mampu menjelaskan suatu konsep atau proses yang sukar dijelaskan dengan media lain yang berupa powerpoint. Animasi juga memiliki daya tarik estetika sehingga tampilan yang menarik akan memotivasi pengguna untuk terlibat di dalam proses pembelajaran.

(22)

animasi siswa akan lebih dapat memvisualisasikan konsep fisika agar tidak cenderung verbal ataupun abstrak.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis bermaksud untuk meneliti “Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Media Animasi dan Media Powerpoint Terhadap Hasil Belajar pada Konsep Fluida Statis.”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1. Hasil belajar pada konsep fluida statis rata-rata tidak mencapai KKM 2. Kurangnya pengembangan model yang diterapkan

3. Terbatasnya media pembelajaran dengan teknologi

4. Metode yang digunakan masih menggunakan metode konvensional.

C. Batasan Masalah

Agar tidak melebar dari masalah penelitian, maka dalam penelitian ini penyusun membatasi masalah pada :

1. Model yang digunakan dalam penelitian skripsi ini adalah model pembelajaran kooperatif yang lebih mengerucut pada model kooperatif tipe STAD.

2. Hasil belajar siswa yang diamati hanya pada aspek kognitif pada tingkatan C1 sampai C4.

3. Media pembelajaran dengan menggunakan teknologi IT berupa animasi pada konsep fluida statis

D. Rumusan Masalah

(23)

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media animasi dan media powerpoint terhadap hasil belajar pada konsep fluida statis.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sejumlah manfaat diantaranya untuk :

1. Siswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar untuk membenahi diri dalam meningkatkan kegiatan belajar terutama dalam memperlajari kesulitan siswa dalam memahami konsep fluida statis . Agar mendapatkan cara belajar yang lebih menyenangkan, serta diharapkan ada pengaruh yang positif terhadap hasil belajar fisika.

2. Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu guru mengenali tingkat pemahaman siswa mengenai konsep fluida statis baik pada konsepnya secara menyeluruh ataupun pada bagian khusus dalam konsep tersebut, sehingga guru dapat melakukan tindak lanjut yang tepat jika terdapat siswa yang kurang memahami konsep.

3. Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman informasi dan motivasi bagi peneliti khususnya, dan umumnya peneliti lain untuk terus melakukan perbaikan dalam sistem pengajaran yang baik dan tepat sehingga peneliti dapat mengembangkan keterampilan model pembelajaran dengan menggunakan media dalam pembelajaran fisika.

4. Sekolah

(24)

1. Belajar

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu siswa. Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu.1 Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap.2 Belajar juga merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks.3 Selain itu belajar juga dapat artikan Berikut ini dikemukakan pengertian belajar menurut beberapa ahli.

a. Belajar menurut Skinner

Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya akan menjadi baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:

1) Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons siswa 2) Respons siswa

3) Konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut.4 b. Belajar Menurut Gagne

Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.5

c. Belajar Menurut Pandangan Piaget

Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.

1

Rusman. Belajar dan pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta.2012. h. 83 2

Margaret E.Beller Gredler.Belajar dan Membelajarkan.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,1994, Cet.2, h. 1

3

(25)

Belajar pengetahuan meliputi tiga fase. Fase-fase itu adalah eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Dalam fase eksplorasi, siswa memplajari gejala dengan bimbingan. Dalam fase pengenalan konsep, siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dengan gejala. Dalam fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep untuk meneliti gejala lain lebih lanjut.6

d. Belajar Menurut Rogers

Menurut pendapat Rogers, praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran. Bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.7

2. Pembelajaran Kooperatif

a. Model Pembelajaran Kooperatif

1) Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, maka diperlukan alternatif yang dapat memecahkan masalah rendahnya hasil belajar siswa, misalnya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dimana siswa dibentuk ke dalam beberapa kelompok kecil dan bekerja bersama-sama dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan semua potensi yang ada pada masing-masing individu dalam kelompok.8

Cooperative Learning atau model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar.9 Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi

6

Ibid, 13 7

Ibid, 16 8

Alfando rorong, Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Hasil Belajar Menganalisa Rangkaian Listrik dengan Mengontrol kemampuan Awal Siswa,.2012. h 2

9

Trianto. Mendesain Model pembelajaran Inovatif-progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.2009. h 22

(26)

pelajaran.10 Semua pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu membuat diri mereka belajar sama baiknya.11

Pembelajaran kooperatif merupakan aktifitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaburasi untuk mencapai tujuan bersama.12

2) Tipologi Pembelajaran Kooperatif

Metode pembelajaran alternatif memiliki berbagai macam perbedaan, tetapi dapat dikategorisasikan menurut enam karakteristik prinsipil berikut ini:

a) Tujuan Kelompok

Kebanyakan metode pembelajaran kooperatif menggunakan beberapa bentuk tujuan kelompok. Dalam metode pembelajaran tim siswa, ini biasa berupa sertifikat atau rekognisi lainnya yang diberikan kepada tim yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan sebelumnya; dalam metode Johnson, kelas kelompok sering kali diberikan.

b) Tanggung Jawab Individual

Ini dilaksanakan dalam dua cara. Yang pertama adalah dengan menjumlah skor kelompok atau nilai rata-rata kuis individual atau penilaian lainnya, seperti dalam model pembelajaran siswa. Yang kedua adalah spesialisasi tugas, dimana tiap siswa diberikan tanggung jawab khusus untuk sebagian tugas kelompok.13 c) Kesempatan Sukses yang Sama

Karakteristik unik dari metode pembelajaran tim siswa adalah penggunaan metode skor yang memastikan semua siswa mendapat kesempatan yang sama

10

(27)

untuk berkontribusi dalam timnya. Metode tersebut terdiri atas poin kemajuan (STAD), kompetisi dengan yang setara (TGT), atau adaptasi tugas terhadap tingkat kinerja individual (TAI dan CIRC)

d) Kompetisi Tim

Studi tahap awal dari STAD dan TGT menggunakan kompetisi antar tim sebagai sarana untuk memotivasi siswa untuk bekerja sama dengan anggota timnya.14

e) Spesialisasi Tugas

Unsur utama dari jigsaw, grup investigation, dan metode spesialisasi tugas lainnya adalah tugas untuk melaksanakan sub tugas terhadap masing-masing anggota kelompok.

f) Adaptasi Terhadap kebutuhan Kelompok

Pembelajaran kooperatif menggunakan pengajaran yang mempercepat langkah kelompok, tetapi ada dua Team Assisted Individualization (TAI) dan

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) yang mengadaptasi

pengajaran terhadap kebutuhan individual.15

b. Tujuan Pembelajaran kooperatif

Ide utama dari belajar kooperatif adalah siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab pada kemajuan belajar temannya. Tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok.16

c. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Student Team Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu

metode pemelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru baru menggunakan pendekatan kooperatif.17

(28)

Model STAD adalah salah satu model belajar kooperatif yang paling sederhana, sehingga model belajar tersebut dapat digunakan oleh guru-guru yang baru memulai menggunakan model belajar kooperatif. 18Slavin (1994) menyatakan bahwa dalam STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima orang yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah. Selain itu, berimbang jumlah laki-laki dan perempuannya. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja di dalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok telah menguasai pelajaran tersebut.

Davidson (1991) memberikan sejumlah implikasi positif dalam pembelajaran dengan menggunakan strategi kooperatif, yaitu sebagai berikut:19 1) Kelompok kecilmemberikan dukungan sosial untuk belajar

2) Kelompok kecil menawarkan kesempatan untuk sukses bagi semua siswa 3) Suatu masalah idealnya didiskusikan secara kelompok, sebab memiliki solusi

yang dapat didemonstrasikan secara objektif.

4) Siswa dalam kelompok dapat membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan prosedur perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teka-teki atau pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.

5) Ruang lingkup materi dipenuhi ole hide-ide menarik dan menantang yang bermanfaat bila didiskusikan.

Langkah-langkah mengaplikasikan tipe STAD dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:20

1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi 2) Menyajikan/menyampaikan informasi

3) Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar

4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar ( memberikan tugas kelompok) 5) Memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa yang dikerjakan secara mandiri 6) Menghitung skor tugas kelompok dan pertanyaan mandiri

(29)

7) Evaluasi

8) Memberikan penghargaan berdasarkan hasil belajar individu dan kelompok

3. Media Pembelajaran a. Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara dari pengirim ke penerima pesan.21 Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan (Association

of Education and Communication Technologi/ AECT) di Amerika Serikat

misalnya, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Gagne(1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Contohnya: Buku, film, kaset, film bingkai.

Agak berbeda dengan itu semua adalah batasan yang diberikan oleh Asosiasi Pendidikan (National Education Association / NEA), dikatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca. Apapun batasan yang diberikan, ada persamaan-persamaan diantaranya yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.22

Media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan

21

Arief,Rahardjo, Anung H, Media pendidikan, ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h 6

22

Arief S Sadiman, dkk. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan pemanfaatannya, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h . 6

(30)

proses secara efisien dan efektif.23 Media adalah sesuatu yang penting bagi kelancaran pembelajaran.24 Media visual memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman (misalnya melalui elaborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.25

Leslie J. Briggs menyatakan bahwa media pembelajaran adalah alat-alat fisik untuk menyampaikan materi pelajaran dalam bentuk buku, film,rekaman video, dan lain sebagainya.Ia juga berpendapat bahwa media merupakan alat untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar.26

b. Kegunaan Media Pembelajaran

Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut :

1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis ( dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)

2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti misalnya:

a) objek yang terlalu besar bisa, bisa digantikan dengan realita, gambar, film, atau model;

b) objek yang kecil, dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau gambar;

c) gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography

d) kejadian atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal;27

23

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada, 2010), h 8 24

Moh.Soleh Hamid, Metode Edu Tainmen, (Yogyakarta: Diva Press, 2011), h 149 25

Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada), 1997, h 89 26

Hamid, opcit 150

27

(31)

e) objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain, dan

f) konsep yang terlalu luas dapat divisualisasikan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-lain.28

3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif siswa. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk : a) Menimbulkan kegairahan belajar

b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkungan dan kenyataan.

c) Memungkinkan siswa belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya

4) Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Apalagi bila latar-belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam :

a) Memberikan perangsang yang sama b) Mempersamakan pengalaman c) Menimbulkan persepsi yang sama29

c. Jenis-jenis Media Pendidikan 1) Media hasil teknologi audio-visual

Teknologi audio-visual adalah cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronika atau menyajikan pesan-pesan secara audio dan visual. Pengajaran dengan menggunakan audio-visual memiliki ciri khas pemakaian perangkat kerja selama proses belajar, seperti mesin proyektor film.

2) Media hasil teknologi yang berdasarkan komputer

28

ibid, h 16 29

(32)

Teknologi berbasis komputer merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor. Perbedaan antara media yang dihasilkan oleh teknologi berbasis komputer dengan yang dihasilkan dari dua teknologi lainnya adalah informasi atau materi yang disimpan dalam bentuk digital, bukan dalam bentuk cetakan atau visual dan pada dasarnya teknologi berbasis komputer menggunakan layar kaca untuk menyajikan inforamsi kepada siswa.

3) Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer

Teknologi media gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa untuk media yang dikendalikan komputer. Perpaduan beberapa jenis teknologi ini dianggap teknis yang paling canggih apabila oleh komputer yang memiliki kemampuan hebat jumlah random acces memory (RAM) yang besar, hard disk yang besar dan monitor yang beresolusi tinggi ditambah dengan periperal (alat-alat tambahan seperti videodisc player, perangkat keras untuk tergabung dalam satu jaringan dan sistem audio).30

d. Pengertian Animasi

Animasi merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan. Animasi mewujudkan ilusi (illusion) bagi pergerakkan dengan memaparkan atau menampilkan satu urutan gambar yang berubah sedikit demi sedikit (progressively) pada kecepatan yang tinggi. Animasi digunakan untuk memberi gambaran pergerakan bagi sesuatu objek. Ia membolehkan sesuatu objek yang tetap atau statik dapat bergerak dan kelihatan seolah-olah hidup.

Animasi multimedia merupakan proses pembentukan gerak dari berbagai media atau objek yang divariasikan dengan efek-efek dan filter, gerakan transisi, suara-suara yang selaras dengan gerakan animasi tersebut

30

Jurnal Rilia Iriani dkk, Penggunaan Animasi 3D Dalam pembelajaran Struktur Atom, 2009,h 1

(33)

Animasi di dalam sebuah aplikasi multimedia dapat menjanjikan suatu visual yang lebih dinamik serta menarik kepada penonton karena ia memungkinkan sesuatu yang mustahil atau kompleks berlaku di dalam kehidupan sebenar direalisasikan di dalam aplikasi tersebut.

Animasi dapat berbentuk dua dimensi, tiga dimensi ataupun melalui berbagai kesan khas. Walaupun apa juga bentuk animasi yang digunakan, ia mampu menghasilkan perbedaan dalam program yang mendukungnya karena sifat manusia menyukai sesuatu yang dinamik dan bukannya statik. Walaupun demikian, proses penghasilan animasi bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan pengalaman, kemahiran serta kepakaran yang tinggi bagi tujuan penghasilan. Pakar animasi yang juga sering dikenali sebagai animator diperlukan dalam jumlah yang banyak bagi menghasilkan suatu animasi yang berkualitas tinggi. Animasi komputer melanjutkan grafik komputer untuk menambahkan dimensi massa untuk menunjukkan pergerakan (motion).31

Animasi adalah salah satu dari media pembelajaran berbasis visual. Visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar ilustrasi, sketsa/gambar garis, grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu objek atau situasi. Animasi sebenarnya adalah rangkaian gambar yang disusun berurutan atau dikenal dengan istilah frame. Satu frame terdiri dari satu gambar. Jika susunan gambar tersebut ditampilkan bergantian dengan waktu tertentu maka akan terlihat bergerak. Satuan yang dipakai adalah frame per second (fps). Misalkan animasi diset 25 fps berarti animasi tersebut terdiri dari 25 gambar dalam satu detik. Semakin besar nilai fps, maka akan terbentuk animasi yang terkesan halus.

Animasi adalah daya tarik utama di dalam program multimedia interaktif. Animasi mampu menjelaskan suatu konsep atau proses yang sukar dijelaskan dengan media lain. Animasi juga memiliki daya tarik estetika sehingga tampilan yang menarik dan eye-catching akan memotivasi pengguna untuk terlibat di dalam

31

Agus Suheri, Animasi Multimedia Pembelajaran, 2006, h 29

(34)

proses pembelajaran. Animasi merupakan penggunaan komputer untuk menciptakan gerak pada layar. Bisa pula animasi diartikan sebagai tampilan cepat dari urutan gambar 2-D atau karya seni 3-D atau posisi model untuk menciptakan sebuah ilusi gerakan. Efeknya adalah ilusi optik gerak karena fenomena mata yaitu gambar yang telah ditangkap mata diperkirakan bertahan sekitar satu per dua puluh lima detik pada retina, dan dapat dibuat serta ditampilkan dalam berbagai cara, misalnya dalam film atau program video.

Menurut Reiber (1994) bagian penting lain pada multimedia adalah animasi. Animasi berasal dari bahasa latin yaitu “anima” yang berarti jiwa, hidup, semangat. Selain itu kata animasi juga berasal dari kata animation yang berasal dari kata dasar to anime di dalam kamus Indonesia Inggris berarti menghidupkan. Secara umum animasi merupakan suatu kegiatan menghidupkan, menggerakkan benda mati. Suatu benda mati diberi dorongan, kekuatan, semangat dan emosi untuk menjadi hidup atau hanya berkesan hidup. Animasi bisa diartikan sebagai gambar yang memuat objek yang seolah-olah hidup, disebabkan oleh kumpulan gambar itu berubah beraturan dan bergantian ditampilkan. Objek dalam gambar bisa berupa tulisan, bentuk benda, warna atau efek.

Animasi dapat digunakan untuk menarik perhatian siswa jika digunakan secara tepat. Sebaliknya animasi juga dapat mengalihkan perhatian dari substansi materi yang disampaikan ke hiasan animatif yang justru tidak penting. Animasi dapat membantu proses pembelajaran jika peserta didik hanya akan dapat melakukan proses kognitif jika dibantu dengan animasi, sedangkan tanpa animasi proses kognitif tidak dapat dilakukan. Berdasarkan penelitian, peserta didik yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengetahuan rendah cenderung memerlukan bantuan, salah satunya animasi tujuannya untuk menangkap konsep materi yang disampaikan. Jadi seorang guru hendaknya segera mengetahui pengetahuan sebelumnya (prior knowledge) siswa sebelum memutuskan akan menggunakan animasi atau tidak pada tampilan penyajiannya.32

32

(35)

e. Manfaat Dan Keuntungan Animasi Manfaat animasi adalah sebagai berikut:

1) Menunjukkan obyek dengan idea (misalnya efek grafitasi pada suatu obyek) 2) Menjelaskan konsep yang sulit

3) Menjelaskan konsep yang abstrak menjadi konkret (misalnya menjelaskan tegangan arus bolak-balik dengan bantuan animasi grafik sinus yang bergerak) 4) Menunjukkan dengan jelas suatu langkah procedural (misalnya cara melukis

suatu segitiga sama sisi dengan bantuan jangka)

f. Manfaat animasi untuk berbagai kebutuhan

Animasi pada saat ini banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan dalam berbagai kegiatan. Animasi dibangun berdasarkan manfaatnya sebagai media yang digunakan untuk berbagai keperluan, diantaranya media hiburan, media presentasi, media iklan, media lmu pengetahuan, media bantu, atau media pelengkap.

4. Analisis Hasil Belajar

Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan pengukuran dan penilaian.

Dari dua kalimat diatas kita sudah menemukan tiga buah istilah yaitu: evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Sementara orang memang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama sehingga dalam memakainya hanya tergantung dari kata mana yang sedang siap untuk diucapkannya. Akan tetapi sementara orang yang lain, membedakan ketiga istilah tersebut.

(36)

Meskipun kini memiliki makna yang lebih luas, namun pada awalnya pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan prestasi belajar siswa. Definisi yang pertama dikembangkan oleh Ralph Tyler (1950). Ahli ini mengatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa dan bagai mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum dan apa sebabnya. Definisi yang lebih luas dikemukakan oleh dua orang ahli lain, yakni Croncach dan Sufflebeam. Tambahan definisi tersebut adalah bahwa proses evaluasi bukan sekadar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan.

Menurut pengertian lama, pencapaian tujuan pembelajaran yang berupa prestasi belajar, merupakan hasil dari kegiatan belajar-mengajar semata. Dengan kata lain, kualitas kegiatan belajar-mengajar adalah satu-satunya faktor penentu bagi hasilnya.33

Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.34 Indikator digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan siswa, ditentukan dari tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Menurut morison, hasil belajar merupakan perubahan sungguh-sungguh dalam prilaku dan pribadi seseorang yang bersifat permanen. Menurut Winkel, hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa akibat belajar. Perubahan itu diupayakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan.

Menurut Reigeluth, hasil belajar adalah pengaruh yang memberi suatu ukuran nilai dari metode (strategi) alternatif dalam kondisi yang berbeda. Hasil belajar didefinisikan sebagai kemapuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Menurut Rini, hasil belajar adalah tingkat penguasaan siswa

33

Suharsismi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara), cet ke-9 200ke-9, h 3-4

34

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 22.

(37)

terhadap materi pelajaran sebagai akibat dari perubahan perilaku setelah mengikuti proses belajar mengajar berdasarkan tujuan pengajaran yang ingin dicapai.

Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses pembelajaran yang optimal cenderung mewujudkan hasil yang berciri sebagai berikut:35

a. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar instrinsik pada diri siswa

b. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya c. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya

d. Hasil belajar diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif).

e. Kemampuan siswa untuk mengontrol/menilai dan mengendalikan dirinya terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya

Adapun hasil belajar yang dimaksud disini adalah sesuatu yang diketahui, diperoleh atau didapat setelah melalui proses belajar, baik karena ada guru yang mengajar ataupun siswa sendiri yang memanfaatkan lingkungannya untuk belajar.

Hasil belajar menurut Gagne seperti yang dikutip oleh W.S Winkel, dapat dikaitkan dengan terjadinya perubahan kepandaian dan hasil belajar yang bertahap itu diwujudkan dalam lima kategori hasil belajar, yaitu: informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, keterampilan motorik, dan sikap. Lima kemampuan tersebut lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:

a. Kemampuan Intelektual (Intelectual Skill), kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membedakan, mengabstraksikan suatu objek, menghubung-hubungkan konsep dan dapat menghasilkan suatu pengertian, serta memecahkan suatu persoalan.

b. Strategi Kognitif (Cognitive Strategic), yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengarahkan aktifitas mentalnya sendiri dalam memecahkan persoalan yang dihadapi.

c. Informasi Verbal (Verbal Informasi), yaitu kemampuan seseorang untuk menuangkan dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tertulis.

35

(38)

d. Kemampuan Motorik, yaitu kemampuan seseorang untuk melakukan serangkaian gerakan jasmani dari anggota badan secara terpadu dan terkoordinasi.

e. Sikap (Attitude), yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang berupa kecenderungan untuk menerima dan menolak suatu objek berdasarkan penelitian atas objek itu.

Sedangkan menurut Zikri Neni Iska, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar, di antaranya:

a. Faktor Internal/ dalam, yakni:

1) Fisiologi, yang terdiri dari kondisi fisik dan panca indera

2) Psikologi, yang terdiri dari bakat, minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognisi.

b. Faktor Eksternal/ luar, yakni:

1) Lingkungan, yang terdiri dari alam dan sosial.

2) Instrumental, yang terdiri dari kurikulum, guru, sarana prasarana, administrasi dan manajemen.

Dengan demikian, hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek–aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh siswa. Oleh karena itu apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep.

Fisika merupakan salah satu cabang sains yang mempelajari gejala-gejala alam melalui penelitian,percobaan dan pengukuran yang disajikan secara matematis berdasarkan hukum-hukum dasar untuk menemukan hubungan antara kenyataan yang ada di alam. Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar fisika merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami aktivitas pembelajaran berupa penguasaan konsep fisika.

(39)

Ranah kognitif meliputi kemampuan pengembangan keterampilan intelektual (knowledge) dengan tingkatan-tingkatan sebagai berikut:36

1) Mengetahui (C1), mencakup ingatan mengenai hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, akan digali pada saat dibutuhkan dengan cara mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition).

2) Memahami (C2), mencakup kemampuan untuk mengkonstruk makna dan arti dari sesuatu yang dipelajari. Kemampuan ini ditampilkan dalam bentuk: menguraikan isi pokok bacaan, mengubah rumus fisika dalam bentuk yang lain.

3) Mengaplikasikan (C3), mencakup penggunaan suatu prosedur untuk menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Kemampuan iniditampilkan dalam bentuk: mengaplikasikan suatu rumus pada pesoalan yang belum dihadapi.

4) Menganalisis (C4), mencakup kemampuan untuk menguraikan suatu permasalahan atau objek keunsur-unsurnya dan menentukan bagaimana keterkaitan antara unsur-unsur tersebut.

5) Mengevaluasi (C5), mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai suatu hal, disertai pertanggungjawaban pendapat itu, berdasarkan kriteria tertentu.

6) Membuat (C6), mencakup kemampuan untuk menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan.

Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.37

Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni (a) gerakan refleks, (b) keterampilan gerak dasar, (c) kemampuan perceptual, (d)

36

Sudjana, ibid ., h.22. 37

(40)

keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.

5. Kajian Materi Subjek Fluida Statis a. Pengertian Fluida Statis

Fluida adalah kemampuan zat untuk mengalir. 38 Kata Fluida mencakup zat cair, air dan gas karena kedua zat ini dapat mengalir, sebaliknya batu dan benda-benda keras atau seluruh zat padat tidak digolongkan kedalam fluida karena tidak bisa mengalir.

Susu, minyak pelumas, dan air merupakan contoh zat cair, dan semua zat cair itu dapat dikelompokkan ke dalam fluida karena sifatnya yang dapat mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain. Selain zat cair, zat gas juga termasuk fluida. Zat gas juga dapat mengalir dari satu satu tempat ke tempat lain. Hembusan angin merupakan contoh udara yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Fluida merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari manusia menghirupnya, meminumnya, terapung atau tenggelam di dalamnya. Setiap hari pesawat udara terbang melaluinya dan kapal laut mengapung di atasnya. Demikian juga kapal selam dapat mengapung atau melayang di dalamnya. Air yang diminum dan udara yang dihirup juga bersirkulasi di dalam tubuh manusia setiap saat meskipun sering tidak disadari.

Dalam statistika fluida kita mempelajari fluida yang ada dalam keadaan diam (tidak bergerak). Fluida yang diam disebut fluida statis. Jika yang diamati adalah zat cair, disebut hidrostatis.39

b. Tekanan Hidrostatis

Tekanan hidrostatis yang dialami oleh suatu titik di dalam fluida diakibatkan oleh gaya berat fluida yang berada di atas titik tersebut. Tekanan zat cair yang hanya disebabkan oleh beratnya sendiri disebut tekanan hidrostatis. Persamaan tekanan hidrostatis adalah sebagai berikut:

38

Giancoli, Fisika Edisi Kelima, (Jakarta:Erlangga, 2001), h 324 39

(41)

Jika tekanan hidrostatis dilambangkan dengan ph, persamaannya dituliskan sebagai berikut.

ph = ρ g h

h = kedalaman titik dari permukaan fluida (m).

c. Tekanan Mutlak

Tekanan mutlak adalah selisih antara tekanan yang tidak diketahui dengan tekanan atmosfer (tekanan udara luar). Nilai tekanan yang diukur oleh alat pengukur tekanan adalah tekanan gauge. Adapun tekanan sesungguhnya disebut tekanan mutlak.

tekanan mutlak = tekanan gauge + tekanan atmosfer p = pgauge + patm

p = ρ g h + patm

Tekanan pada permukaan zat cair adalah tekanan atmosfer . Tekanan hidrostatis

zat cair pada kedalaman h adalah ρgh . Tekanan hidrostatis zat cair ρgh dapat

disamakan dengan tekanan gauge. Dengan demikian, tekanan mutlak pada kedalaman mutlak h dirumuskan oleh:40

p = pgauge + patm

d. Tegangan Permukaan

Tegangan permukaan zat cair adalah kecenderungan permukaan zat cair untuk menegang sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastis.41

Tegangan permukaan dalam larutan didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya tegangan permukaan dan panjang permukaan di mana gaya itu bekerja. Secara matematis ditulis:

40

kanginan, ibid , hal 231 41

Ibid, hal 252

(42)

ɤ = Fd , karena d = 2l

maka ɤ = 2lF

Keterangan:

d = panjang permukaan (m)

e. Kapilaritas

Kapilaritas disebabkan oleh interaksi molekul-molekul di dalam zat cair. Di dalam zat cair molekul-molekulnya dapat mengalami gaya adhesi dan kohesi. Kapilaritas ialah gejala naik atau turunnya zat cair ( y ) dalam tabung kapiler yang dimasukkan sebagian ke dalam zat cair karena pengaruh adhesi (tidak sejenis) dan kohesi.(sejenis).

h = �ɤ ��� ɵ ���

Keterangan :

h = kenaikan/penurunan zat cair pada pipa (m)

ɤ = tegangan permukaan zat cair (N/m)

ɵ = sudut kontak (derajat)

ρ = massa jenis zat cair (kg / m3) g = percepatan gravitas (m /s2) r = jari-jari tabung kapiler (m)

f. Hukum Pascal

Hukum pascal menyatakan bahwa tekanan yang diberikan pada fluida dalam suatu tempat akan menambah tekanan keseluruhan dengan besar yang sama.42

Pada ruang tertutup tekanan akan diteruskan ke segala arah dengan sama besar tanpa pengurangan.

Contoh penerapan Hukum Pascal adalah dongkrak hidrolik, mesin pengangkat mobil dan rem hidrolik.

(43)

g. Hukum Archimedes

Air memberikan gaya ke atas yaitu berupa gaya apung (FA), dimana besar

gaya apung adalah selisish dari berat benda di udara dengan berat benda tercelupkan seperti persamaan berikut ini:

FA = berat benda di udara – berat benda tercelupkan

Hukum Achimedes menyatakan gaya apung yang bekerja pada benda yang dimasukkan dalam fluida sama dengan berat fluida yang dipindahkannya.

Secara matematis ditulis sebagai berikut.

FA= ρ.Vf.g

Dengan: FA = gaya apung (N), ρ = massa jenis zat cair (kg/m3), Vf =

volume benda yg tercelup (m3), g = konstanta gravitasi atau percepatan gravitasi (m/s2).43

1) Mengapung

Benda dikatakan terapung jika sebagian benda tercelup di dalam zat cair. Jika volume yang tercelup sebesar Vf, maka gaya ketas oleh zat cair yang

disebabkan oleh volume benda yang tercelup sama dengan berat benda. Contoh peristiwa benda terapung dapat dilihat pada Gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1 Benda terapung wb < FA

mb.g < .g.Vf

��.g.Vb < ��.g.Vf

43

(44)

Karena Vb < Vf maka < �. Jadi benda akan terapung jika massa jenis benda lebih kecil daripada massa jenis fluida. Apabila volume benda tercelup dalam zat cair Vf dan volume total Vb berikut:

�� ��

=

�� ��

Dimana:

�� = massa jenis benda (Kg/m3)

�� = massa jenis zat cair (Kg/m3)

�� = Volume benda (m3)

�� = volume benda tercelup (m3) 2) Tenggelam

Benda dikatakan tenggelam, jika benda berada di dasar zat cair. Sebuah benda akan tenggelam ke dalam suatu zat cair apabila gaya ke atas yang bekerja pada benda lebih kecil daripada berat benda. Contoh peristiwa benda tenggelam dapat dilihat pada Gambar 2.2 di bawah ini.

Gambar 2.2 Benda tenggelam wb > FA

mb.g > .g.Vf

��.g.Vb > ��.g.Vf

Karena Vb > Vf, maka: �� > ��. Jadi, benda tenggelam jika massa jenis benda

lebih besar daripada massa jenis fluida. 3) Melayang

(45)

Gambar 2.3 Benda melayang

wb = FA

mb.g = ��.g.Vf

��.g.Vb = ��.g.Vf

Karena Vb = Vf maka = �. Jadi benda akan melayang jika massa jenis benda sama dengan massa jenis fluida.

Contoh Penerapan hukum Archimedes adalah pada kapal laut dan galangan kapal untuk memperbaiki kapal.

h. Viskositas

Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya gesekan didalam fluida. Semakin besar viskositas fluida maka semakin sulit suatu fluida untuk mengalir dan juga semakin sulit suatu benda bergerak dalam fluida dengan koefisien viskositasnya �, maka benda tersebut akan mengalami gaya gesekan fluida yang dikenal sebagai hukum Stokes sebesar:44

Fs = 6�r�v

Dengan:

Fs = gaya gesek stokes (N) r = jari-jari bola (m)

� = koefisien viskositas fluida (Pa s) v = kelajuan bola (m/s) Saat mencapai kecepatan konstan, bola dalam keadaan seimbang

Fa + Fs = Wb

��Vg + 6�r�v = ��Vg v = 2�2�

9� (�� - ��) v = kecepatan konstan = kecepatan terminal

44

(46)

B. Penelitian yang Relavan

Banyak penelitian dilakukan terkait dengan model pembelajaran kooperatif tersebut diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Fatma BOLUKBAS (2011) yang berjudul “The Effectiveness Of Cooperative Learning On The Reading Comprehension Skills In Turkish As A Foreign Language

“,penelitiannya menyatakan bahwa penerapan Keefektifan model pembelajaran kooperatif mampu membuat belajar menarik dan membuat siswa tidak bosan dalam belajar, sehingga membantu siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar. Dengan kata lain pembelajaran kooperatif sangat baik digunakan untuk membuat siswa belajar aktif dan menumbuhkan sikap kemandirian.45

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Norma Asiyah, dkk yang berjudul “Peningkatan Aktivitas Dan Ketuntasan Hasil Belajar Fisika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD disertai Media Animasi 3D”. hasil penelitiannya menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model

STAD disertai media animasi 3D dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam

mengikuti proses belajar mengajar terutama pada saat menyelesaikan lembar kerja siswa dan dengan adanya media animasi 3D memudahkan siswa memahami materi. Hal tersebut dikarenakan penerapan model ini dalam pembelajaran selain berfungsi meningkatkan kemampuan siswa yang dapat dilihat dari hasil posttest setelah pembelajaran dilaksanakan juga untuk menumbuhkan kemampuan siswa dalam berinteraksi dan saling bekerja sama, sehingga dapat mengembangkan ketrampilan sosial siswa.46

Penelitian Toto Gusbandono, dkk yang berjudul “Pengaruh Metode Pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) dilengkapi Media Animasi Macromedia Flash dan Plastisin terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Ikatan Kimia Kelas X Semester 1 SMA Negeri 1 Sambungmacan Tahun Pelajaran 2012/2013”. Penelitian ini menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu menumbuhkan dan

45

Dr. Fatma Bolukbas,dkk, The Effectiveness Of Cooperative Learning On The Reading Comprehension Skills In Turkish As A Foreign Language, Vol 10, 2011 h. 5.

46

(47)

meningkatkan pemahaman siswa sehingga hasil belajar siswa meningkat. Terutama adanya penghargaan yang diberikan guru pada kelompok terbaik. Pemberian penghargaan ini telah memunculkan efek positif pada siswa. Siswa semakin antusias untuk belajar.47

Febri Devi Yanti dan Siska Narita yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Animasi Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI SMAN 1 Padang Gelugur Kabupaten Pesaman”. Hasil peneletiannya menyatakan bahwa penggunaan media animasi dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan siswa lebih termotivasi dan berminat dalam belajar, motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya.48

Penelitian yang dilakukan oleh Kadek Sukiyasa dan Sukoco yang berjudul “Pengaruh Media Animasi Terhadap Hasil Belajar dan Motivasi Belajar Siswa Materi Sistem Kelistrikan Otomotif”. Penelitian ini menyatakan bahwa penggunakan media animasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Melalui media animasi, proses kerja atau prinsip kerja suatu sistem kelistrikan dapat dicermati lebih nyata daripada media gambar diam.49

C. Kerangka Pikir

Keberhasilan seorang siswa dalam belajar sangat didukung oleh kemampuannya dalam memahami dan menguasai konsep dari materi yang telah dipelajari. Namun pada kenyataannya masih banyak siswa yang belum bisa memahami dan menguasai konsep tersebut dan hasil belajar siswapun menjadi rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan siswa belum bisa memahami konsep yang dipelajarinya dan rendahnya hasil belajar fisika adalah guru masih mendominasi kelas, siswa hanya datang, duduk, mendengar, dan melihat tanpa

47

Toto gusbandono , Pengaruh Metode Pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) dilengkapi Media Animasi Macromedia Flash dan Plastisin

terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Ikatan Kimia Kelas X Semester 1 SMA Negeri 1 Sambungmacan Tahun Pelajaran 2012/2013 vol 4,2013, h 4.

48

Febri Devi Yanti dan Siska Narita, Pengaruh Penggunaan Media Animasi Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI SMAN 1 Padang Gelugur Kabupaten Pesaman, 2011 h.3.

49

Kadek Sukiyasa dan Sukoco, Pengaruh Media Animasi Terhadap Hasil Belajar dan Motivasi Belajar Siswa Materi Sistem Kelistrikan Otomotif, vol 3, 2013 h 10.

(48)

mengerti dengan materi yang telah diajarkan oleh guru. Guru tampaknya lebih banyak menanamkan konsep-konsep melalui transfer informasi tetapi setelah itu siswa lupa tentang informasi yang baru saja mereka terima.

Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan penerapan strategi dan teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga siswa tidak menjadi objek dalam pembelajaran menjadi subjek dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran aktif adalah salah satu strategi yang berpusat pada siswa, dimana siswa dituntut untuk saling kerjasama antar siswa, sehingga siswa aktif dan berpikir kritis dalam pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah). Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajara siswa.

(49)

STAD adalah salah satu tipe dalam model pembelajaran cooperative learning, yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang pembelajarannya melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Sehingga siswa lebih berperan aktif dalam sistem pembelajaran ini.

Pada konsep fluida statis, treatment model kooperatif tipe STAD diberikan dengan tujuan pada siklus berikutnya hasil belajar siswa meningkat. Kegiatan belajar mengajar dikelas merupakan dunia komunikasi. Keterbatasan komunikasi dengan kata-kata sering menimbulkan kesulitan dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa. Kehadiran media pembelajaran merupakan alat bantu bagi guru dalam komunikasi atau penyampaian materi pelajaran. Dengan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi maka penjelasan guru akan lebih visualistik, lebih menarik dan siswa dapat pengalaman baru. Media pembelajaran adalah alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu berupa sasaran yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjelas dan mempermudah konsep yang kompleks dan abstrak menjadi lebih sederhana, konkrit serta mudah dipahami.

(50)

rangkaian gambar diam dengan jumlah banyak, bila kita proyeksikan akan terlihat seolah-olah hidup (bergerak). Jadi biasa disimpulkan animasi yaitu menghidupkan benda diam diproyeksikan menjadi bergerak. Dengan belajar melalui animasi mampu menjelaskan suatu konsep atau proses yang sukar dijelaskan dengan media lain yang berupa powerpoint. Animasi juga memiliki daya tarik estetika sehingga tampilan yang menarik akan memotivasi pengguna untuk terlibat di dalam proses pembelajaran.

D. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kerangka pikir dan dekskripsi teoritis di atas, maka perumusan hipotesis adalah sebagai berikut:

Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat perbandingan yang signifikan penggunaan

model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media animasi dan media powerpoint terhadap hasil belajar siswa pada konsep Fluida Statis

Hipotesis nol (H0) :Tidak terdapat perbandingan yang signifikan Pengguna

Gambar

Gambar 2.1 Benda terapung
Gambar 2.2 Benda tenggelam
Gambar 2.3 Benda melayang
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jenis ayam lokal yang umum dipelihara pemilik ayam kabupaten Bogor dan Wonosobo yaitu ayam kampung, pelung, bangkok, gaga’, birma, arab, dan kate.. Preferensi masyarakat terhadap

Berkenaan dengan hal tersebut diatas, diminta kepada Saudara untuk membawa seluruh data asli perusahaan yang sesuai dengan Data Isian Kualifikasi Perusahaan yang saudara kirimkan

Dalam tulisan ini akan dibahas lebih dalam mengenai arsitektur Desa Sidatapa sebagai bangian dari Arsitektur Tradisional khusunya di Bali yang menitik beratkan pada

Meskipun secara formal jenis tanah ini belum sepenuhnya dapat diintegrasikan dalam pola penguasaan hak atas tanah hukum nasional, namun pada kenyataannya tanah ini

dengan hasil uji statistik bernilai p=0.891 lebih besar dari alpha berarti tidak terdapat terdapat hubungan yang bermakna antara cara kerja mengangkat, memasukan, dan

Berdasarkan dari beberapa pengujian-pengujian yang dilakukan terhadap hipotesis dan masalah yang ada, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Metode ANP digunakan

geodetic dan serta pengolahan data, yang bertujuan untuk titik kontrol pemetaan topografi. untuk pembuatan jalur

Tujuan penelitian ini untuk : (1) Mengetahui pengaruh komposisi dan struktur mikro daerah las hasil repair welding dengan metode pengelasan TIG dengan perlakuan