Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai
Gelar Sarjana Syariah (S. Sy)
Oleh : Rizky Fajriah NIM: 1110043100007
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM KONSENTRASI PERBANDINGAN MADZHAB FIQH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH
CERAI
GUGAT
KARENA PERZINAAN
(Studi
PutusanNomor
1S3B/Pdt.G/pA.Tgrs)SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)
Oleh:
RIZKY F'AJRIAH
NIM.1110043100007
Di Bawah Bimbinga+
Hi. Siti Hanna. S.Ae. Lc.. MA
NrP. 1 974021 620080 r20 t3 NIP. 1 9771 2172007 r0r002
KONSENTRASI PERBANDINGAN MADZHAB FIQH PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakartapadatanggal22 September 2015. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana program Strata Satu (S-l) pada Program studi PerbandinganMazhab dan Hukum
J akarta, 22 Septemb er 20 I 5
Mengesahkan Dekan
PANITIA UJIAI\I MUNAQASYAH
Ketua
Sekretaris
Pembimbingl
Pembimbingll
Penguji I
Penguji II
Fahmi Muhammad Ahmadi. M.Si NIP. 197412132003121002 Hj. Siti Hanna. S. Ag. Lc. MA
NIP. 197402162008012013
Hj. Siti Hanna.. S. Ag. Lc. MA
NIP. 1 97402 162008012013 Ismail Hasani. S.Ag. S.H..MH
NIP. 1977 1 2172007 t01002
: Dr. H.Mujar Ibnu Syarif.M.Ag NrP. 1 97 1 l2t2t99 503100t FIj. Hotnida Nasution. S.Ag..M.A
NrP. 1 97 I 0 6301997 032002
)
)
l.
Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persayaratan memperoleh gelar strata 1 (S1) Universitas Islam Negeri (UIN)Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber saya gunakan dalam penulisan ini saya cantumkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri
Of$
Syarif HidayatullahJakarta.
3. Jika
di
kemudian hari karyaini
bukan hasil karya saya atau merupakan hasiljiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku
di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
22 September 2015M 08 Dzulhijjah 1436H
Penu hs
v ABSTRAK
Rizky Fajriah, NIM: 1110043100007, Cerai Gugat Karena Perzinaan (Studi Putusan Nomor 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs), program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum, Konsentrasi Perbandingan Mazhab Fiqih, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1436 H/2015 M.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas tentang proses cerai gugat karena pezinaan dengan menganalisis putusan nomor 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs dan bagaimana peranan Hakim dalam memutuskan perkara tersebut. Karena di dalam Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebutkan bahwa perzinaan menjadi salah satu alasan perceraian, akan tetapi pada kenyataannya Hakim menolak gugatan tersebut dikarenakan Penggugat tidak bisa membuktikan dalil-dalil gugatannya.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif yang mana melakukan pengkajian ataupun analisis yang berhubungan dengan tema skripsi ini yaitu dengan mengambil referensi pustaka dan dokumen yang relevan dengan masalah ini serta wawancara Hakim yang menangani perkara ini.
Hasil penelitian mengenai putusan tersebut Hakim menolak gugatan Penggugat, karena bukti-bukti tidak menunjukkan adanya perzinaan sehingga Penggugat tidak bisa membuktikan dalil-dalil dan alasan dari gugatannya baik mengenai perzinaan maupun adanya perselisihan secara terus menerus.
Pembimbing : Hj. Siti Hanna, S. Ag.,Lc,MA Ismail Hasani, S.Ag.,S.H.,MH
vi
سِب
ِم
ٱ
َِّ
ٱ
حَرل
م
ِن
ٱ
ميِحَرل
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur yang tiada hentinya dipanjatkan kepada sang Penguasa Allah
SWT, yang telah memberikan nikmat dan petunjuk-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Salawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta
keluarganya, para sahabatnya dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Berkat rahmat dan hidayah dari Allah SWT, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan karya ilmiah dengan judul CERAI GUGAT KARENA PERZINAAN
(Studi Putusan Nomor 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs). Semoga skripsi ini bermanfaat
bagi penulis dan bagi yang membacanya.
Selama penulisan skripsi ini peneliti banyak kesulitan dan hambatan untuk
mencapai data dan refrensi. Namun berkat kesungguhan hati dan bantuan dari
berbagai pihak, sehingga segala kesulitan itu dapat teratasi. Untuk itu peneliti
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Asep Saepudin Jahar, MA.. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Fahmi Muhammad Ahmadi, M.Si Ketua Program Studi Perbandingan
vii
Studi Perbandingan Mazhab Hukum sekaligus Pembimbing skripsi yang telah
banyak memberi arahan, saran serta petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Bapak Ismail Hasani, S.Ag.,SH.,MH, pembimbing skripsi yang telah banyak
memberi arahan, saran serta petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Dr. Khamami Zada, MA dan Dr. Muhammad Taufiki, M.Ag, yang telah
menjadikan bagian dari Program Studi Perbandingan Mazhab Hukum dalam
masa jabatan sebelum Program Studi Perbandingan Mazhab Hukum periode
baru.
5. Para Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada penulis semasa kuliah,
semoga amal kebaikannya mendapatkan balasan dari Allah SWT.
6. Seluruh staf dan karyawan Perpustakaan Utama dan staf karyawan Fakultas
Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas pelayanan yang baik
dikala penulis mengumpulkan data dan materi skripsi.
7. Rusdianto Matulatuwa, SH. yang telah memberikan putusan sebagai bahan
pertama dalam penulisan skripsi, semoga amal kebaikannya mendapatkan
balasan dari Allah SWT.
8. Ketua Pengadilan Agama Tigaraksa beserta para stafnya, khususnya Drs Muhyar,
SH., M.Si. selaku Hakim yang telah meluangkan waktunya untuk wawancara
sehingga memudahkan penulis menyelesaikan skripsi ini
9. Keluarga tercinta terutama kepada ayahanda dan ibunda tercinta (Ibrahim dan
viii
pernah berhenti untuk selalu berdoa serta memberi nasihat dan motivasi kepada
penulis sehingga skripsi ini selesai.
10. Teman-teman seperjuangan, Dian Hasanah, Umayah, Jubaedah, Liana, Ida,
Fauziah, Restu, Nabila, Sigit, Saidah dan seluruh sahabat PMH angkatan 2010
yang selalu memberikan semangat, dukungan, saran dan masukan kepada
penulis. Terima kasih teman-teman, dengan kebersamaan kita selama ini dalam
suka dan duka. Bagi penulis itu adalah pengalaman berharga yang takkan pernah
terlupakan.
11. Seluruh pihak yang terkait dengan penyusunan skripsi ini yang penulis tidak bisa
sebutkan satu persatu. Semoga Allah Swt membalas kebaikan yang telah
diberikan dengan balasan yang berlipat ganda.
Semoga skripsi ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat khususnya
bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya. Semoga Allah senantiasa
meridhai setiap langkah kita. Amin
Jakarta, 22 September 2015 M
08 Dzulhijjah 1436 H
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
D. Review Studi Terdahulu ... 6
E. Metode Penelitian ... 8
F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II PERCERAIAN DAN ZINA A. Perceraian ... 12
1. Pengertian Perceraian ... 12
2. Dasar Hukum Perceraian ... 13
3. Putusnya Perkawinan... 14
4. Hukum Perceraian ... 21
5. Perbedaan Cerai Talak Dengan Cerai Gugat ... 24
B. Zina Dalam Konsep Hukum Islam dan Hukum Positif ... 26
1. Pengertian Zina ... 26
2. Larangan Perzinaan ... 28
3. Sanksi Jarimah Zina ... 29
x
5. Zina Dalam Hukum Positif di Indonesia ... 36
BAB III PROFIL PENGADILAN AGAMA TIGARAKSA A. Sejarah ... 40
B. Tugas dan Fungsi ... 41
C. Visi dan Misi ... 43
D. Wilayah Yuridiksi ... 45
E. Struktur Organisasi ... 49
BAB IV ANALISIS PUTUSAN NOMOR 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs. A. Kronologi Putusan Nomor 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs ... 51
a. Analisis Putusan Nomor 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs ... 80
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 87
B. Saran-saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 89
1
A. Latar Belakang Masalah
Pertalian nikah adalah pertalian yang seteguh-teguhnya dalam hidup dan
kehidupan manusia, bukan saja antara suami-istri dan keturunannya, melainkan
antara dua keluarga. Dari baiknya pergaulan antara suami dengan istrinya, akan
berpindahlah kebaikan itu kepada semua keluarga dari kedua belah pihak,
sehingga mereka menjadi satu dalam segala urusan tolong-menolong dalam
menjalankan kebaikan dan mencegah segala kejahatan. 1
Pernikahan merupakan ikatan suci dua insan yang saling mencintai dan
mengharapkan kebahagiaan yang kekal dalam menjalani kehidupan rumah
tangganya. Namun, untuk mencapai cita-cita tersebut sangatlah tidak mudah,
karena di dalam membina sebuah keluarga yang sakinah akan banyak ujian dan
rintangan yang menghalangi terwujudnya suatu keluarga yang kekal dan bahagia.
Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat
atau mitsaqaan ghalidzan untuk menaati perintah Allah melaksanakannya
merupakan ibadah.2
Tujuan pokok dari kehidupan rumah tangga, bahwa rumah tangga itu
dibangun di atas landasan cinta dan kasih sayang diantara suami istri serta di atas
1
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1996), h.374.
2
prinsip keadilan dan saling pengertian dimana masing-masing pihak dari suami
istri harus melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya.
Meski Islam telah mewajibkan para penganutnya supaya menjaga dan
memelihara keutuhan dan kelanggengan akad nikah, namun tidak semua
pasangan yang terikat dalam pernikahan tersebut dapat menyelesaikan misinya
dengan sempurna. Dalam pernikahan akan terjadi pergolakan dalam rumah tangga
yang berawal dari faktor-faktor tertentu. Pergolakan itu akan membawa
perceraian antara suami dan istri yang tidak menemui jalan penyelesaianya. Islam
sebagai agama yang inklusif dan toleran memberi jalan keluar, ketika suami isteri
tidak dapat meneruskan perkawinan, dalam arti adanya ketidak cocokan
pandangan hidup dan percekcokan.3 Suami istri sendiri dalam ajaran Islam tidak
boleh terlalu cepat mengambil keputusan bercerai walaupun perceraian tersebut
dibolehkan, dan perceraian ini merupakan jalan terakhir.4
Banyak hal yang memyebabkan terjadinya perceraian misalnya saja
perceraian karena perzinaan. Perzinaan (Adultery) merupakan hubungan kelamin
antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan tanpa ikatan perkawinan,
tidak menjadi masalah apakah salah seorang atau kedua belah pihak telah
memiliki pasangan hidupnya masing-masing ataupun belum menikah sama
3 Butsa’nah As
-Sayyid Al-Iraqi, Menyingkap Tabir Perceraian, Penerjemah: Abu Hilmi Kamaluddin, (Jakarta: Pustaka Al Sofwa, 2005), h.19.
4
sekali.5 Perbuatan zina (hubungan seks di luar nikah yang sah) dengan lain jenis
kelamin dilarang keras oleh Allah meskipun atas dasar suka sama suka antara
kedua jenis kelamin itu karena perbuatan tersebut mempunyai dampak yang
sangat buruk bagi pelakunya dan bagi masyarakat banyak. Perbuatan zina juga
berdampak pada keluarga karena perzinaan itu dapat menimbulkan keretakan
dalam rumah tangga atau menimbulkan perceraian.6
Sebagaimana yang telah tercantum dalam pasal 116 KHI (Kompilasi
Hukum Islam) bahwa perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:
1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan
lain sebagainya yang sukar disembuhkan ;
2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut
tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar
kemampuannya ;
3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang
lebih berat setelah perkawinan berlangsung ;
4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang
membahayakan pihak lain ;
5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat
menjalani kewajibannya sebagai suami istri ;
5
A. Rahman I Doi, Syariah II: Hudud dan Kewarisan, Penerjemah: Zaimudin dan Rusydi Sulaiman, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h.35.
6
6. Antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran;
7. Suami melanggar taklik talak ; dan
8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan
dalam rumah tangga.7
Dalam kasus gugat cerai antara suami dan istri di Pengadilan Agama
Tigaraksa antara Penggugat (umur 46 th) dengan Tergugat (Umur 49 th),
sebelumnya pada tahun 2012 sang istri pernah mengajukan gugatan cerai di
tingkat pertama dengan putusan nomor 0051/Pdt.G/2012/PA.Tgrs Hakim
mengabulkan gugatan istri, selanjutnya suami mengajukan banding dan pada
tingkat banding dengan putusan nomor 8/Pdt.G/2013/PTA.Btn Hakim
membatalkan perceraian.
Dalam kasus ini sang istri kembali menggugat cerai suaminya dikarenakan
suaminya telah melakukan pesta seks (perzinaan), sang isteri memberikan bukti
berupa foto-foto suaminya bersama WIL (Wanita Idaman Lain) yang telah
dibuktikan keasliannya oleh ahli dari ITB namun dengan putusan nomor
1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs Hakim menolak gugatan istri. Selanjutnya penggugat
mengajukan banding, dengan melihat kejadian dan fakta hukum yang sama
Hakim sependapat mengenai hukum di tingkat pertama dengan menetapkan
menolak gugatan dari istri. Sedangkan kalau kita merujuk pada KHI pasal 116 (a)
maka perzinaan dapat menjadi alasan untuk bercerai.
7
Berdasarkan uraian singkat di atas penulis tertarik membahas masalah ini
dan merumuskannya dalam karya tulis dalam bentuk skripsi dengan judul :
“CERAI GUGAT KARENA PERZINAAN (Studi Putusan Nomor
1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs)”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan ini lebih terarah, maka penulis membatasi dengan
objek penelitian adalah terbatas pada putusan nomor
1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs .
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pandangan hukum Islam dan hukum positif mengenai
perzinaan?
b. Bagaimana pembuktian zina dalam Pengadilan Agama Tigaraksa?
c. Bagaimana pertimbangan Hakim dalam putusan perkara nomor
1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin penulis capai dari penelitian skripsi ini
adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam dan hukum positif mengenai
b. Untuk mengetahui pembuktian zina dalam Pengadilan Agama Tigaraksa
c. Untuk mengetahui dasar pertimbangan Hakim dalam putusan perkara
nomor 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin penulis dari penelitian skripsi ini adalah
sebagai berikut:
a. Bagi Program Studi PMH/Fakultas Syariah dan Hukum
Memberikan sumbangan Karya Ilmiah dan menambah literature
perpustakaan dalam memberi informasi dan ilmu pengetahuan akan
pertimbangan-pertimbangan Hakim dalam memutus sengketa cerai gugat
karena perzinaan
b. Bagi Masyarakat Umum
Bermanfaat dalam memberi informasi mengenai penyelesaian perkara cerai
gugat karena perzinaan.
c. Bagi Penulis
Untuk menambah khazanah keilmuan bagi penulis serta pembentukan pola
berfikir kritis untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana
syariah.
D. Review Studi Terdahulu
Dalam karya ilmiah ini, penulis menemukan data yang berhubungan
Untuk menentukan arah pembahasan dalam skripsi ini penulis menelaah yang
pernah membahas tentang judul yang akan penulis kemukakan dalam penulisan
skripsi.
1. “Tinjauan Hukum Islam Dan Hukum Positif terhadap Perkawinan Yang
Didahului Oleh Perbuatan Zina” oleh Anna Ratna Utami, 0043219180
Tahun 2004. Dalam skripsi ini membahas mengenai status hukum dari
perkawinan yang didahului oleh perbuatan zina baik dari perspektif hukum
Islam maupun hukum positif. Sedangkan penulis membahas pertimbangan
Hakim dalam memutuskan perkara kasus cerai gugat karena perzinaan.
2. “Penyelesaian Cerai Gugat Istri Hamil (Analisis Putusan Pengadilan
Agama Kota Bogor Nomor 532/Pdt.G/2008/PA.Bgr.)” oleh Zainuddin,
204044103065 Tahun 2009. Dalam skripsi ini hakim berpendapat
perselisihan yang menjadi akar dari permasalahan bagi pasangan sehingga
mengabulkan gugatan Istri. Sedangkan penulis membahas mengenai
perzinaan yang menjadi akar permasalahan namun Hakim menolak gugatan
tersebut.
3. “Rekaman Video Sebagai Alat Bukti Tindak Pidana Perzinaan Dalam
Perspektif Hukum Islam Dan Hukum Positif” oleh Mohamad Awaludin,
1110045100040 Tahun 2014. Dalam skripsi ini membahas mengenai
keabsahan dan kekuatan video sebagai bukti perzinaan baik dari segi hukum
Islam maupun hukum positif. Sedangkan penulis membahas pertimbangan
E. Metode Penelitian
1. Metode Penelitian dan Pendekatan Masalah
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif
analisis yang dilakukan melalui pendekatan kualitatif. Metode deskriptif
analisis yaitu metode yang menggambarkan dan memberikan analisis terhadap
kenyataan dilapangan.
Sedangkan yang dimaksud dengan penelitian yang menggunakan
pendekatan kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan dari orang atau perilaku yang
diamati.8
a. Sumber Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan
data sekunder yaitu:
1. Data Primer
Didapatkan dari Pengadilan Agama Tigaraksa berupa putusan-putusan
cerai gugat karena perzinaan dimana dalam hal ini penulis merujuk pada
putusan perkara Nomor 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan jalan mengadakan
Wawancara terhadap Hakim atau Panitera. Wawancara merupakan salah satu
8
metode pengumpulan data dengan jalan komunikasi, yakni melalui kontak atau
hubungan pribadi antara pengumpul data dengan sumber data.9 Data juga
diperoleh dari studi kepustakaan atas dokumen-dokumen yang berhubungan
dengan masalah yang diajukan. Dokumen yang dimaksud adalah Quran,
Al-Hadits, buku-buku ilmiah, UU, KHI, serta peraturan yang erat kaitannya
dengan masalah yang diajukan.
Kemudian data tersebut dianalisis dengan cara menguraikan dan
menghubungkan dengan masalah yang dikaji.
2. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
a. Menganalisis terhadap putusan Pengadilan Agama Tigaraksa.
b. Interview atau wawancara yaitu pengumpulan data yang dilakukan penulis
dengan jalan mengadakan dialog dengan responden yaitu Hakim atau
Panitera Pengadilan Agama Tigaraksa.
3. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
analisa kualitatif, yaitu menganalisis dengan cara menguraikan dan
mendeskripsikan putusan permohonan cerai gugat karena perzinaan, yaitu
dengan perkara nomor 1538/Pdt.G/2013/PA.Tgrs dan menghubungkan dengan
hasil interview yang didapatkan dari Hakim atau Panitera yang menangani
9
perkara tersebut. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah, dianalisis
dan diberikan interprestasi untuk menjawab permasalahan yang telah
dirumuskan sedangkan data yang telah diperoleh berupa peraturan
perundang-undangan yang berkaitan akan ditinjau lebih jauh untuk mendapatkan hasil
yang diinginkan dengan didukung oleh referensi-referensi lain yang dapat
memperkuat data dari bahan hukum di atas, sehingga didapatkan suatu
kesimpulan yang objektif, logis, konsisten, dan sistematis sesuai dengan
tujuan yang dilakukan data penulis dalam penulisan penelitian ini.
4. Teknik Penulisan
Adapun teknik penulisan skripsi ini, penulis mengacu pada buku
“Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah Dan Hukum Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012”.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang arah dan tujuan penulisan
penelitian, maka secara garis besar dapat digunakan sistematika penulisan sebagai
berikut:
Bab I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, pembatasan
dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode
Bab II : PERCERAIAN DAN ZINA
Dalam bab ini diuraikan tentang teori-teori yang digunakan sebagai
dasar pembahasan selanjutnya yaitu pengertian perceraian, dasar hukum
perceraian, putusnya perkawinan, hukum perceraian, perbedaan cerai
gugat dengan cerai talak, pengertian zina, dasar hukum larangan zina,
sanksi jarimah zina, pembuktian zina dan zina dalam hukum positif di
Indonesia.
Bab III : PROFIL PENGADILAN AGAMA TIGARAKSA
Dalam bab ini diuraikan tentang profil Pengadilan Agama Tigaraksa,
sejarah, tugas dan fungsi, wilayah yuridiksi dan struktur organisasi
Pengadilan Agama Tigaraksa.
Bab IV : PUTUSAN PERKARA NOMOR 1538/PDT.G/2013/PA.TGRS .
Dalam bab ini diuraikan tentang kronologis perkara, putusan Hakim dan
analisis penulis.
Bab V : PENUTUP
12
A. Perceraian
1. Pengertian Perceraian
Secara Etimologi, kata talak berasal dari kata
اقاط
-
قلطي
-
قلط
yangberarti melepaskan tali, meninggalkan atau bercerai (perempuan) dari
suaminya.1
Adapun arti thalaq secara terminologi, penulis mengemukakan
beberapa pendapat ulama’ fiqh, di antaranya adalah:
Wahbah Az-Zuhaily, dalam Kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu,
mengatakan; talak ialah melepaskan ikatan perkawinan dengan mengucapkan
lafadz talak atau yang seperti dengannya, atau menghilangkan ikatan
pernikahan disaat ini maupun akan datang dengan lafad tertentu.2
Sayid Sabiq dalam kitabnya Fiqih Sunnah mengatakan thalaq adalah
melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami isteri.3
Talak dalam KHI mendefinisikan talak sebagai ikrar suami dihadapan
sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu penyebab putusnya
1
Mahmud Yunus, Kamus Bahasa Arab Indonesia (Jakarta, PT. Hidakarya Agung, 1990), h.239.
2
Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), Juz VII, Cet. Ke- 3, h.356.
3
perkawinan. 4 Perceraian dalam hukum positif ialah suatu keadaan di mana
antara seorang suami dan seorang isteri telah terjadi ketidakcocokan batin
yang berakibat pada putusnya suatu perkawinan, melalui putusan pengadilan
setelah tidak berhasil didamaikan. 5
Dari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa thalak
adalah hilangnya hubungan antara suami istri dalam suatu ikatan atau lembaga
perkawinan, baik dengan mengucapkan secara rela dengan ucapan talak
kepada istrinya, dengan kata-kata yang jelas (sharih) ataupun dengan
kata-kata sindiran (kinayah) pada saat ini atau akan datang.
2. Dasar Hukum Perceraian
Mengenai dasar hukum perceraian penulis akan mengantumkan ayat
Al-Qur’an dan hadits yang menjadi landasan hukum perceraian antara lain :
Surat Al-Baqarah : 229
)
رق لا
:
٢
(
Artinya : “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak
4
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo, 1992) h.143.
5
halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim”. (Q.S. Al-Baqarah : 229)
Surat Ath-Thalaq ayat 1
) قاّطلا : (Artinya : “Hai nabi apabila kamu menceraikan Isteri-isteri mu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji dan terang. Itulah hukum-hukum Allah”.(Q.S Ath-Thalaq:1)
Berdasarkan sabda Rasulullah Saw.
ملسو هيلع ها ىلص ِهللَا ُلوُسَر َلاَق : َلاَق اَمُهْ َع ُهللَا َيِضَر َرَمُع ِنْبِا ِنَع
َدِْع ِل َََحْلَا ُضَغْ بَأ
ََدُواَد وُبَأ ُاَوَر ُ ُق ََطلَا ِهللَا
6
Artinya : “Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, perbuatan halal yang dibenci Allah adalah talak”.(H.R. Abu Daud)
3. Putusnya Perkawinan
Suatu perkawinan menjadi tidak hanya dengan thalaq tetapi juga
karena perceraian yang disebabkan khulu’, zhihar, ila dan li’an berikut ini
penjelasan masing-masingnya.
6
a. Thalaq
Ditinjau dari segi tegas atau tidaknya kata-kata yang dipergunakan
sebagai ucapan talak, maka talak dibagi menjadi dua macam yaitu :
1) Talak sharih yaitu talak yang dijatuhkan suami dengan menggunakan
kata-kata jelas dan tegas langsung dihadapan istrinya tanpa kiasan
misalnya sesorang berkata kepada isterinya “kamu diceraikan”, atau
“aku menceraikanmu”.
2) Talak kinayah yaitu talak yang menggunakan kata-kata sindiran atau
samar-samar misalnya “ kamu bebas”, tutupilah dirimu dariku”.
Dengan pertimbangan ungkapan yang jelas, maka talak dinyatakan
sah hanya dengan mengucapkannya, dalam ungkapan kiasan, talak tidak
dapat dinyatakan sah kecuali kepada salah satu dari tiga kondisi yaitu niat
talak, sebagai jawaban atas permintaan isteri, dan talak yang dinyatakan
saat suami dalam kondisi marah dan bertengkar dengan isteri. 7
Ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya maka talak dibagi menjadi
tiga macam yaitu :
1) Talak sunni adalah seorang menceraikan istrinya tanpa hubungan intim
dan dia menceraikannya dalam keadaan suci atau hamil atau sebelum
berhubungan intim secara mutlak. 8
7
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Penerjemah: Faisal Saleh dan Yusuf Hamdani, Shahih Fiqih Wanita Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Jakarta: Akbar Media, 2009), h.357.
8
2) Talak bid’i adalah talak yang dijatuhkan terhadap istri dalam keadaan
suci tetapi pernah digauli oleh suaminya dalam keadaan suci dimaksud.
Talak macam ini akan menimbulkan penyesalan suami, karena akan
muncul keraguan bahwa istri dalam masa kehamilan. Karena laki-laki
sering sekali mentalak istri yang belum bisa memberikannya seorang
anak. Kalau sudah terlanjur menyesal, dipertemukannya kembali dan
ini akan menyebabkan kesengsaraan bagi kehidupan si anak. 9
Ditinjau dari segi ada atau tidaknya kemungkinan bekas suami
kembali kepada bekas isteri maka talak dibagi menjadi dua yaitu :
1) Talak raj’i adalah talak yang suami boleh ruju’ kembali pada bekas
isterinya dengan tidak perlu melakukan perkawinan (akad baru) asal
isterinya masih dalam iddahnya seperti talak satu dan dua.
2) Talak ba’in adalah talak yang yang suami tidak boleh ruju’ kembali
pada bekas isterinya melainkan harus dengan akad baru.10Talak ba’in
dibagi menjadi dua yaitu :
a) Talak ba’in sughra ialah talak yang kurang dari tiga kali yang tidak
boleh dirujuk,tetapi boleh akad nikah baru dengan mantan
suaminya meskipun dalam masa iddah.11
b) Talak ba’in kubra sama dengan talak ba’in sughra, yaitu
memutuskan tali perkawinan antara suami dan isteri. Tetapi, talak
9
Abd. Rahman Ghazaly, Fikih Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 194
10
Moh. Rifa’I, Fiqih Islam Lengkap, (Kuala Lumpur: Pustaka Jiwa SDN BHD, 1996), h.489.
11
ba’in kubra tidak menghalalkan bekas suami merujunya kembali
bekas isteri, kecuali sesudah ia menikah dengan laki-laki lain dan
telah bercerai sesudah dikumpulinya (telah bersenggama), tanpa
ada niat tahlil.12
b. Khulu’
Khulu’ berasal dari kata khala’a, artinya menanggalkan.13 Khulu’
menurut istilah fiqih berarti menghilangkan atau membuka buhul akad
nikah dengan kesediaan istri membayar ‘ iwadl (tebusan) kepada pemilik akad nikah (suami) dengan menggunakan perkataan cerai/khulu’.
Khulu’ lazim juga disebut tebusan, karena isteri menebus dirinya
dari suaminya dengan mengembalikan apa yang pernah diterimanaya, baik
berupa mahar atau yang diterimanya. 14
Khulu’ disebut juga dengan talak tebus yang terjadi atas persetujuan
suami istri dengan jatuhnya talak satu dari pihak suami kepada istri dengan
tebusan harta atau uang dari pihak istri yang menginginkan cerai dengan
cara itu. Penebusan atau pengganti yang diberikan kepada suami disebut
juga dengan ‘iwadl.15 ‘Iwadl dapat berupa pengembali
an mahar atau
12
Tihami, Sohari. Fikih Munakat Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), h.311.
13
Ahmad Sunarto, Kamus Al-Fikr, (Surabaya: Halim Jaya, 2009), h.138.
14
Nawawi Rambe, Fiqh Islam, (Jakarta: Duta Pahala, 1994), h.339.
15
sejumlah barang, uang atau sesuatu yang dipandang mempunyai nilai yang
telah disepakati oleh kedua suami istri.16
Dasar hukum khulu’ terdapat dalam firman Allah :
)
رق لا
:
٢
(
Artinya : “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim". (Q.S Al-Baqarah: 229).
Hadits dari Ibnu Abbas, Katanya :
ُنْب ُتِباَث ! ِهللَا َلوُسَر اَي : ْتَلاَقَ ف ملسو هيلع ها ىلص يِب لَا ْتَتَأ ٍسْيَ ق ِنْب ِتِباَث َةَأَر
ُلوُسَر َلاَق , ِم ََْسَِْْا يِف َرْفُكْلَا َُرْكَأ يِِكَلَو , ٍنيِد َََو ٍقُلُخ يِف ِهْيَلَع ُبيِعَأ اَم ٍسْيَ ق
سو هيلع ها ىلص ِهللَا
مل
ُهَتَقيِدَح ِهْيَلَع َنيِدُرَ تَأ
؟
ْمَعَ ن : ْتَلاَق ,
ىلص ِهللَا ُلوُسَر َلاَق
ملسو هيلع ها
ةَقيِلْطَت اَهْقِلَطَو , َةَقيِدَحْلَا ِلَبْ قِا
17Artinya : Istri Tsabit bin Qais bin Syamman dating menghadap Rasulullah saw. Seraya berkata: ya Rasulullah saya tidak mencela akhalaknya dan agama tetapi saya tidak ingin mengingkari ajaran Islam. Rasulullah Saw.
16
Aris Bintania, Hukum Acara Peradilan Agama Dalam Kerangka Fiqh Al-Qadha, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), h.134.
17
Muhammad Nasir Al-Din Al-Al-Bani, Ghayat Al-Maram fi Takhrij Ahadith Al-Halal waal-Haram, ( Beirut: Al-Muktub Al-Islamiyah, 1980), juz 1, h.165.
Berkata maukah engkau mengembalikan kebunnya ? Jawabnya: mau, maka Rasulullah saw. Berkata (kepada Tsabit) : terimalah kebun itu dan thalaqlah dia satu kali.
c. Zhihar
Zhihar menurut bahasa Arab, berasal dari kata zhahrun yang
bermakna punggung.18 Dalam kaitannya dengan hubungan suami-isteri,
zhihar adalah ucapan suami kepada isteri yang berisi menyerupakan
punggung isteri dengan punggung ibunya, seperti ucapan suami kepada
istri: “Engkau bagiku adalah seperti punggung ibuku”. 19
Ucapan demikian membuat haram bersetubuh dengan isterinya,
sebagaimana ia haram bersetubuh dengan ibunya.20
Berdasarkan firman Allah :
) لداجملا : (Artinya : Orang-orang yang menzihar isteri mereka sebenarnya isteri-isteri itu bukanlah ibu-ibu mereka adapun ibu-ibu mereka hanyalah wanita-wanita melahirkan. Sungguh mereka telah berkata keji dan dusta. Tetapi Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun (Q.S Al-Mujadalah:2)
18
Ahmad Sunarto, Kamus Al-Fikr, h. 431.
19
Abd.Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2006), cet. 2, h. 228.
20
d. Ila’
Ila’ ialah ”sumpah suami dengan menyebut nama Allah SWT atau
sifat-Nya yang bertujuan kepada isterinya untuk tidak mendekati isteri”.
Baik secara mutlak maupun dibatasi dengan ucapan selamanya atau
dibatasi empat bulan atau lebih.
Allah SWT menentukan batas waktu empat bulan bagi suami yang
meng ila’ isterinya mengandung hikmah pengajaran bagi suami maupun
istri. Suami menyatakan ila’ kepada isterinya pastilah karena kebencian
yang timbul antara keduanya. Bagi suami yang meng ila’ istrinya wajib
meninggalkannya selama empat bulan karena dalam waktu tersebut akan
timbul rasa rindu diantara keduanya dan bisa saling mengkoresi diri untuk
melakukan perubahan-perubahan sikap dan sifat menjadi lebih baik.
Kemudian apabila ingin kembali suami wajib membayar kaffarah sumpah
karena telah menggunakan nama Allah untuk keperluan dirinya.21
e. Li’an
Li’an berasal dari kata la’a. Sebab suami-isteri yang bermula’anah
pada ucapan yang kelima kalinya berkata: ”sesungguhnya padanya akan
jatuh laknat Allah SWT, jika ia tergolong orang yang berbuat dusta”.
Menurut istilah hukum Islam, li’an ialah sumpah yang diucapkan oleh
suami ketika ia menuduh isterinya berbuat zina dengan empat kali
21
kesaksian bahwa ia termasuk orang yang benar dalam tuduhanya,
kemudian pada sumpah kesaksian kelima disertai persyaratan bahwa ia
bersedia menerima laknat Allah SWT jika ia berdusta dalam tuduhanya itu.
Terhadap tuduhan suami, isteri dapat menyangkal dengan kesaksian
sebanyak empat kali bahwa suaminya berdusta dalam tuduhannya. Pada
sumpah kesaksianya yang kelima disertai pernyataan bahwa ia bersedia
menerima laknat Allah SWT jika suami benar dalam tuduhannya. 22
4. Hukum Perceraian
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum asal dari perceraian.
Menurut mazhab Maliki hukum asal perceraian bukan makruh hanya
mendekati makruh saja yang dikatakan oleh sebagian mereka hal ini
tergantung pada kuat atau tidaknya penyebab terjadi perceraian. Hukumnya
berubah menjadi haram apabila berat dugaan akan terjadi perzinaan dengan
perempuan itu sesudah diceraikan atau sesudah diceraikannya atau dengan
perempuan lain.
Dalam mazhab Hanafi pendapat terpecah menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama menyatakan boleh (Jaiz) dan yang kedua adalah haram.
Yang benar dalam mazhab Hanafi antara kedua hukum itu ialah trlarang.
Antara hukum yang disebut makruh atau terlarang pada prinsipnya sama
karena sesuatu yang makruh adalah sesuatu yang terlarang juga sebaliknya
22
ada sesuatu yang dilarang yang tingkatan hukumnya makruh jadi tidak boleh
dikerjakan kecuali karena diperlukan.
Namun jika dilihat dari situasi, kondisi dan kemashlahatan dan
kemudharatan maka hukumnya dapat menjadi lima macam :
a. Wajib, apabila terjadi perselisihan diantara suami-isteri sedangkan dua
hakam yang mengurus perkara keduanya sudah memandang perlu
bercerai.23 Bahkan memandang bahwa perceraian itulah satu-satunya jalan
untuk pasangan suami isteri tersebut, kalau tidak terjadi perceraian, maka
salah seorang atau kedua-duanya akan masuk pada kondisi yang
membahayakan. demikian pula karena terjadi peristiwa “ila” (sumpah
suami untuk tidak menggauli istri), akan dijatuhkan sesudah 4 bulan
menunggu diucapakannya ila’. 24
b. Sunnat apabila suami tidak sanggup lagi membayar dan mencukupi
kewajibannya (nafkahnya) atau perempuan tidak menjaga kehormatan
dirinya.25 Atau talak kepada isteri yang menyia-nyiakan kewajibanya
terhadap Allah, seperti tidak mengerjakan ibadah, padahal suami sudah
memperingatkan isteri berulang-ulang.26
23
Ahmad Fuad Said, Perceraian Menurut Hukum Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1998), cet. XXX, h.400.
24
Yayan Sopyan, Islam Negara: Transformasi Hukum Perkawinan Islam Dalam Hukum Nasional, (Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah , 2011), h.180-181.
25
Ahmad Fuad Said, Perceraian Menurut Hukum Islam, h.400.
26
c. Mubah, yaitu suami boleh menceraikan isterinya karena isteri tidak dapat
menjaga diri dikala tidak ada suaminya di rumah, isteri yang berbahaya
terhadap suami atau yang tidak baik akhlaknya.
d. Haram, yaitu seperti suami yang menceraikan isterinya tanpa sebab yang
jelas. Kemudian menjatuhkan talak sewaktu isterinya dalam keadaan haid,
kedua menjatuhkan talak waktu suci tetapi sudah dicampuri ketika waktu
suci itu.
Berdasarkan hadits Rasulullah Saw.
ِا ِنَعَو
َمُع ِنْب
ُهَتَأَرْمِا َقلَط ُهنَأ اَمُهْ َع ُهللَا َيِضَر َر
ِهللَا ِلوُسَر ِدْهَع يِف ٌضِئاَح َيَِو
َلاَقَ ف ? َكِلَذ ْنَع ملسو هيلع ها ىلص ِهللَا َلوُسَر ُرَمُع َلَأَسَف ملسو هيلع ها ىلص
:
اَهْكِسْمُيْل مُث اَهْعِجاَرُ يْلَ ف ُْرُم
ْطَت ىتَح
َءاَش ْنِإ مُث , َرُهْطَت مُث , َضيِحَت مُث , َرُه
َأ ُهللَا َرَمَأ يِتلَا ُةدِعْلَا َكْلِتَف , سَمَي ْنَأ َدْعَ ب َقلَط َءاَش ْنِإَو , ُدْعَ ب َكَسْمَأ
اَهَل َقلَطُت ْن
ُءاَسِلَا
ُ
هْيَلَع ٌقَف تُم
َ
27Artinya : “Dari Ibnu Umar bahwa ia menceraikan istrinya ketika sedang haid pada zaman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Lalu Umar menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan beliau bersabda: "Perintahkan agar ia kembali padanya, kemudian menahannya hingga masa suci, lalu masa haid dan suci lagi. Setelah itu bila ia menghendaki, ia boleh menahannya terus menjadi istrinya atau menceraikannya sebelum bersetubuh dengannya. Itu adalah masa iddahnya yang diperintahkan Allah untuk menceraikan Allah untuk menceraikan istri." (Muttafaq Alaihi)
e. Makruh, yaitu suami yang menceraikan isterinya, padahal si isteri taat
kepada suami, rajin ibadah dan shalihah.28
27
Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah Al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Mishr: Wizarat Al Awqaf, t.th.,), juz 17, h.400.
28
5. Perbedaan Cerai Talak Dengan Cerai Gugat
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan
membedakan antara cerai talak dengan cerai gugat. Cerai gugat diajukan oleh
pihak isteri, sedangkan cerai talak diajukan oleh pihak suami ke Pengadilan
dengan memohon agar diberi izin untuk mengucapkan ikrar talak kepada
isterinya dengan suatu alasan yang dibenarkan oleh hukum.29
a. Cerai Talak
Sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan, cerai talak tidak diatur dalam perundang-undangan yang
berlaku, penyelesaiannya cukup dilaksanakan di Kantor Urusan Agama
Kecamatan. Cerai talak baru diatur secara rinci dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dalam bagian-bagian sendiri
dengan sebutan ”Cerai Talak”, demikian juga dengan Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1989, Undan-undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang
Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan
Agama lebih mempertegas lagi tentang keberadaan cerai talak ini. Jadi
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan merupakan tonggak
sejarah dimana cerai talak ini secara resmi diatur dalam peraturan
tersendiri.
29
Dalam pasal 14 sampai dengan pasal 18 Peraturan Pemerintah
Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974 Tentang Perkawinan dikemukakan bahwa seorang suami yang
hendak menceraikan isterinya berdasarkan perkawinan menurut agama
Islam, mengajukan permohonan ke Pengadilan berdasarkan tempat
tinggalnya. Permohonan tersebut berisi pemberitahuan bahwa ia bermaksud
menceraikan isterinya disertai dengan alasan-alasan serta meminta kepada
Pengadilan Agama agar membuka sidang untuk keperluan tersebut.
Pengadilan yang bersangkutan mempelajari isi surat yang dan dalam
waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari memanggil suami isteri
untuk didengar keterangannya dalam persidangan. Majelis Hakim apakah
permohonan talak itu beralasan atau tidak. Pengadilan Agama hanya
memutuskan untuk memberi izin ikrar talak jika alasan-alasan yang
diajukan oleh suami terbukti secara nyata dalam persidangan. Itupun
setelah Majelis Hakim berusaha secara maksimal untuk merukunkan
kembali dan Majelis Hakim berpendapat bahwa antara suami isteri tersebut
tidak mungkin lagi untuk didamaikan dan menjadi rukun lagi dalam suatu
rumah tangga. 30
b. Cerai Gugat
Khuluk adalah perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan
memberikan tebusan atau iwadl kepada dan atas persetujuan suaminya. Jadi
dengan demikian khulu’ termasuk kategori cerai gugat.31
30
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum perdata Islam di Indonesia, h.18.
31
Menurut Kompilasi Hukum Islam (pasal 1 huruf i) khuluk adalah
perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan memberikan tebusan
atau iwadl kepada dan atas persetujuan suaminya. Dalam perkawinan
menurut agama Islam dapat berupa gugatan karena suami melanggar
taklik-talak, gugatan karena syiqaq, gugatan karena fasakh, dan gugatan
karena alasan-alasan sebagaimana tersebut dalam pasal 19 Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.32
B. Zina Dalam Konsep Hukum Islam Dan Hukum Positif 1. Pengertian Zina
Secara Etimologi, kata zina berasal dari kata
ينزي
-
انز
yang berartiberbuat jahat. 33 Adapun arti zina secara terminologi, penulis mengemukakan
beberapa pendapat ulama’ fiqh, di antaranya adalah :
Menurut Al-Jurjani zina ialah memasukkan penis (zakar) ke dalam
vagina (Farj) bukan miliknya (bukan istrinya) dan tidak ada unsur syubhat
(keserupaan atau kekeliruan).34
Menurut pendapat Malikiyah sebagaimana dikutip oleh Abdul Qadir
Audah zina adalah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang mukalaf
32
Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h.81.
33
Mahmud Yunus, Kamus Bahasa Arab Indonesia, (Jakarta, PT. Hidakarya Agung, 1990), h.158.
34
terhadap farji manusia (wanita) yang bukan miliknya secara disepakati atau
dengan kesengajaan.35
Menurut pendapat Hanafiyah zina adalah nama bagi persetubuhan
yang haram dalam qubul (kemaluan) seorang perempuan yang masih hidup
dalam keadaan ikhtiar (tanpa paksaan) di dalam negeri yang adil yang
dilakukan oleh orang-orang kepadanya berlaku hukum Islam dan wanita
tersebut bukan miliknya dan tidak ada syubhat dalam miliknya.
Menurut pendapat Syafi’iyah zina ialah memasukkan zakar ke faraj
yang haram dengan tidak syubhat dan secara naluri memasukkan hawa
nafsu.36
Menurut pendapat Hanabilahh zina adalah perbuatan keji
(persetubuhan), baik terhadap qubul (farji) maupun dubur.37
Menurut M. Qurais Shihab zina adalah persentuhan dua alat kelamin
dari jenis yang berbeda dan tidak terikat oleh akad nikah atau kepemilikan,
dan tidak juga disebabkan oleh syubhat (kesamaran).38
Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa para ulama
memberikan definisi yang berbeda redaksinya namun dalam intinya sama
35
Abdul Al-Qadir Audah, At-Tasyri Al Jinaiy Al Islami, (Beirut: Daar Al Kitab Al-Arabi, t.th.,), juz 2, h.349.
36
Ahmad, Djazuli, Fiqih Jinayah, (Jakarta: Grafindo Persada, 1997) h.35
37
Abdur Rahman I Doi, Tindak Pidana Dalam Syariat Islam, (Jakarta: PT Rineka Cipta Anggota IKAPI, t.th.,), h.31.
38
yaitu bahwa zina adalah hubungan kelamin yang diharamkan dengan
memasukkan penis ke dalam vagina antara seorang laki-laki dan perempuan
di luar ikatan perkawinan.
2. Larangan Perzinaan
Perbuatan zina diharamkan berdasarkan firman Allah SWT dan hadits
Rasulullah Saw sehingga keharamannya bersifat mutlak dan tidak seorangpun
menentangnya. Dasar hukum keharaman zina di dalam Alqur’an, antara lain
terdapat dalam surah Al-Isra ayat 32. 39
) : ءارسإا (Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S Al-Isra: 32).
Dalam hadits Rasulullah pun disebutkan bahwa zina disebutkan bahwa
zina termasuk dosa besarberikut ini ;
ََ ُ ملسو هيلع ها ىلص ِهللَا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق ه ع ها يضر ٍدوُعْسَم ِنْبِا ْنَع
ىَدْحِإِب َِإ ,ِهللَا ُلوُسَر يِنَأَو ,ُهللَا َِإ َهَلِإ ََ ْنَأ ُدَهْشَي ;ٍمِلْسُم ٍئِرْمِا ُمَد لِحَي
زلَا ُبِي ثلَا : ٍث َََث
ِةَعاَمَجْلِل ُقِراَفُمْلَا ;ِهِيِدِل ُكِراتلاَو ,ِسْف لاِب ُسْف لاَو ,يِنا
ُ
ٌقَف تُم
هْيَلَع
َ
40Artinya : Dari Abdullah bin Mas’ud berkata berkata, Rasulullah bersabda tidak halal darah seorang musllim yang mengakui tiada tuhan selain Allah dan Aku (Muhammad adalah utusan Allah, kecuali terhadap salah satu dari tiga orang yaitu yang pernah kawin, melakukan perzinaan, orang yang
39
Nurul Irfan, Nasab dan Status Anak Dalam Hukum Islam, (Jakarta : Amzah, 2012), h.46.
40
menhilangkan nyawa (orang lain) dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad).(Muttafaq Alaihi).
Dari beberapa dalil nash baik yang terdapat dalam Alqur.an maupun
hadits, dapat ditegaskan bahwa zina merupakan perbuatan dosa dan
pelanggaran yang bersifat mutlak. Karena zina merupakan perbuatan yang
dilarang oleh Islam, maka bagi setiap muslim yang melanggar harus dikenai
hukuman hadd.
3. Sanksi Jarimah Zina
Dalam hukum Islam ada bentuk had yang diancamkan terhadapa
pelaku jarimah zina yaitu hukuman jilid (cambuk), rajam dan pengasingan
klasifikasi terhadap jarimah ini dilihat dari sudut berat/ringan, serta kriteria
pelaku. Bentuk hukuman tidak mengenal yang bersikap diskriminatif terhadap
wanita maupun laki-laki sebagai konsistensi implementasi terhadap
pelaksanaan aturan syariat karena perzinaan itu banyak menjadikan nilai
agama menjadi luntur. .
Pada dasarnya tujuan pemberian sanksi hukum menurut pidana Islam
adalah pencegahan (ar-rad-u waz-zajru), pengajaran dan pendidikan (al-islah
wat-tahzib) yang dimaksudkan agar pelaku tindak pidana dapat mengambil
hikmah terhadap apa yang di dapat pelaku kejahatan ketika mendapat
hukuman. 41
Islam mengklasifikasi pelaku zina menjadi dua macam untuk
mendapatkan jenis hukuman yang akan dilaksanakan, yaitu:
41
a. Zina Muhshan
Al-Muhshan adalah orang yang telah baligh, berakal merdeka
pernah bersetubuh di dalam nikah yang sah.42 Para ulama telah bersepakat,
Hukuman bagi pezina yang telah menikah adalah dirajam dengan batu
kerikil sampai dia mati. Penggunaan batu kerikil dimaksudkan agar
terpidana dapat merasakan kesakitan sedikit demi sedikit agar berlangsung
lama rasa sakit dari penyiksaaan tersebut. Hukuman itu setimpal dengan
kejahatan yang dia perbuat hukuman rajam dilakukan di depan umum
sebagai peringatan bagi masyarakat, sebagai perhatian dan pembelajaran
bagi umat pada umumnya.43 Pendapat ini didasarkan pada dalil-dalil
sebagai berikut :
َعَو
ُسَر َلاَق :َلاَق ه ع ها يضر ِتِماصلَا ِنْب َةَداَبُع ْن
هيلع ها ىلص ِهللَا ُلو
ملسو
ِرْكِبْلاِب ُرْكِبْلَا , َيِبَس نُهَل ُهللَا َلَعَج ْدَقَ ف ,يَِع اوُذُخ ,يَِع اوُذُخ
ِي ثلاِب ُبِي ثلاَو ,ٍةََس ُيْفَ نَو ,ٍةَئاِم ُدْلَج
اِم ُدْلَج ِب
ُمْجرلاَو ,ٍةَئ
ُ
مِلْسُم ُاَوَر
َ
44Artinya : Dari Ubadah Ibnu al-Shomit bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ambillah (hukum) dariku. Ambillah (hukum) dariku. Allah telah membuat jalan untuk mereka (para pezina). Jejaka berzina dengan gadis hukumannya seratus cambukan dan diasingkan setahun. Duda berzina dengan janda hukumannya seratus cambukan dan dirajam”(H.R Muslim).
42
Musthafa Dib Al Bugha, Fiqih Islam Lengkap Penjelasan Hukum-Hukum Islam Madzhab
Syafi’I, Penerjemah: DA Pakihsati, (Solo: Media Dzikir, 2009) h.443.
43
Al Faqih Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, Penerjemah: Imam Ghazali dan Ahmad Zaidun, (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), cet ke 2, h.608.
44
b. Ghairu Muhshan
Pezina yang tidak mencukupi persyaratan muhshan yaitu perbuatan
zina yang dilakukan oleh laki-laki dengan wanita yang tidak ada ikatan
perkawinan antar keduanya.45 Hukuman bagi pezina ghair muhshan adalah
hukuman jilid/cambuk 100 kali.46 Sebagaimana dalam firman Allah:
) روّنلا : (Artinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”. (Q.S An-Nur: 2).
Para Fuqaha sepakat bahwa pezina ghoiru muhsan masing-masing
dihukum dera seratus kali deraan, yang menjadi perselisihan di kalangan
mereka ialah, apakah di samping jilid (dera) itu masih harus diasingkan
dari negerinya selama satu tahun atau tidak.
Dalam sanksi hukum tambahan pada (hukuman pengasingan) para
fuqaha berbeda pendapat :
a. Menurut Imam Malik dalam hukuman pengasingan (buang) hukuman
dikenakan kepada laki-laki saja, sedang perempuan tidak.
45
Ashari Abdul Ghafar, Pandangan Islam Tentang Zina dan Perkawinan Sesudah Hamil (Jakarta: Andes Utama, 1996), cet. III, h.13.
46
b. Menurut Imam Ahmad Ibnu Hanbal menyetujui hukuman pengasingan
selama satu tahun sebagai hukuman tambahan terhadap hukuman dera.
c. Imam Abu Hanifah terhadap hukuman pengasingan sebagai hukamn
tambahan setelah pertimbangan hakim atau kebijaksanaannya yang
menangani perkara.
d. Sedangkan pendapat kebanyakan ulama sebagaimana pendapat Imam
Ahmad yang juga diantaranya Imam Syafi’i Al-Qurtubi, Athothowus
dan para Khulafa Rasyidun mengatakan perlunya diberikan hukuman
dera dan pengasingan bagi pelaku yang tidak muhsan.47
4. Pembuktian Zina
Zina merupakan kejahatan yang dihukum dengan hukuman berat,
sehingga syari’at Islam memberikan persyaratan yang yang berat pula dalam
pembuktiannya. Tujuannya persyaratan ini adalah untuk menutup jalan bagi
siapa saja yang sengaja menuduh orang baik-baik dengan semena-mena dan
dhalim.
Adapun pembuktian telah terjadinya perbuata