• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persilangan Secara Bebas Beberapa Varietas Tanaman Jagung (Zae mays L.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Persilangan Secara Bebas Beberapa Varietas Tanaman Jagung (Zae mays L.)"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

PERSILANGAN SECARA BEBAS BEBERAPA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) UNTUK MENDAPATKAN VARIETAS KOMPOSIT

SKRIPSI

OLEH :

ABDUL KHAIRUL IS 050307027 BDP / PET

DEPARTEMEN BUDI DAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PERSILANGAN SECARA BEBAS BEBERAPA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) UNTUK MENDAPATKAN VARIETAS KOMPOSIT

SKRIPSI

OLEH :

ABDUL KHAIRUL IS 050307027 BDP / PET

Disetujui Oleh: Disetujui Oleh :

(Luthfi A.M. Siregar,SP.MSc.Ph.D) (Ir. Hasmawi Hasyim,MS.)

Ketua Dosen Pembimbing Anggota Dosen Pembimbing NIP : 132 315 867 NIP : 130 422 445

DEPARTEMEN BUDI DAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

ABSTRAK

ABDUL KHAIRUL IS : Persilangan Secara Bebas Beberapa Varietas Tanaman Jagung (Zae mays L.) Untuk Mendapatkan Varietas Komposit, dibimbing oleh LUTHFI A.M SIREGAR dan HASMAWI HASYIM. Untuk mendapatkan varietas omposit perlu dilakukan persilangan secara bebas/ acak (random matting) minimum lima kali. Penelitian ini bertujuan untuk mendaptkan varietas komposit dan untuk mengetahui perbedaan karakter generatif dan vegetatif tanaman jagung tanaman jagung (Zae mays L.) dengan persilangan secara bebas/acak (random matting). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok non factorial yang terdiri dari empat varietas (P 12, BISI 2, DK 3, JAYA 1). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakansidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah daun diatas tongkol, kelengkungan daun, umur berbunga jantan, umur berbunga betina, umur panen, laju pengisian biji, jumlah biji pertongkol, bobot 100 biji, produksi perplot. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa varietas berbeda nyata terhadap tinggi tanaman 2 mst, jumlah daun diatas tongkol, umur keluar bunga betina, umur panen dan produksi perplot.

Kata kunci: Varietas, bersari bebas, varietas komposit.

ABSTRACT

(4)

RIWAYAT HIDUP

Abdul Khairul IS, dilahirkan pada tanggal 04 agusutus 1987 di Aek Kanopan yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putra dari ayahanda Ibrahim

Ismin dan ibunda Supina Harahap.

Tahun 1999 penulis lulus dari SD Sultan Hasanuddin Aek Kanopan. Tahun

2002 penulis lulus dari SMP Negri 1 Aek Kanopan. Tahun 2005 penulis lulus dari

SMU Negeri 1 Aek Kanopan, dan pada tahun 2005 penulis terdaftar sebagai

mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pengalaman di bidang kemasyarakatan, penulis peroleh saat mengikuti

praktek kerja lapangan (PKL) di PTPN II Melati, Perbaungan pada bulan Juni sampai

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan

rahmatnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Adapun judul dari penelitian ini adalah “Persilangan Secara Bebas

Beberapa Varietas Tanaman Jagung (Zea mays L.) Untuk Mendapatkan Varietas Komposit” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada Luthfi A.M Siregar. SP. MSc. Ph.D. dan Ir. Hasmawi Hasyim, MS.

selaku ketua dan anggota komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan

kepada penulis dalam pelaksanaan penelitian serta dalam menyelesaikan skripsi ini.

Terima kasih yang tak terhingga penulis ucapkan kepada Ayahanda Ibrahim

Ismin dan Ibunda Supina Harahap, kepada teman-teman ARMYPLANT 05 yang

masih berada di kampus khusus dan yang telah meninggalkan kampus pada umum

nya. Kepada adikku tersayang kerting dan inunk. Kepada anak-anak PGS MDN. Dan

seluruh teman-teman, adik-adik, abang-abang, dan kakak-kakak yang senantiasa

banyak memberikan dukungan moril maupun materil.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena

itu penulis mengharapkan masukan dan saran yang membangun demi kesempurnaan

(6)

Semoga skripsi ini dapat bermamfaat bagi kita semua.

Medan, Juli 2011

(7)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRAK ... i

ABSTACK ... i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

PENDAHULUAN

Pemeliharaan Tanaman ... 18

(8)

Penyulaman ... 19

Pengamatan Parameter ... 20

(9)

DAFTAR TABEL

Hal 1. Rataan Parameter Karakter Vegetatif ... 23 2. Rataan Patameter Umur Berbunga Jantan, Umur Berbunga Betina, Dan

(10)

DAFTAR GAMBAR

Hal 1. Histrogram Hubungan Antara Varietas Dengan Karakter Vegetatif ... 24 2. Histrogram Hubungan Antara Varietas Dengan Umur Berbunga Jantan,

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Hal

1. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 2 MST ... 34

2. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman (cm) 2 MST ... 34

3. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 3 MST ... 35

4. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman (cm) 3 MST ... 35

5. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 4 MST ... 36

6. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman (cm) 4 MST ... 36

7. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 5 MST ... 37

8. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman (cm) 5 MST ... 37

9. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) 6 MST ... 38

10.Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman (cm) 6 MST ... 38

11.Tabel Pengamatan Jumlah Daun (helai) 2 MST ... 39

12.Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun (helai) 2 MST ... 39

13.Tabel Pengamatan Jumlah Daun (helai) 3 MST ... 40

14.Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun (helai) 3 MST ... 40

15.Tabel Pengamatan Jumlah Daun (helai) 4 MST ... 41

16.Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun (helai) 4 MST ... 41

17.Tabel Pengamatan Jumlah Daun (helai) 5 MST ... 42

18.Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun (helai) 5 MST ... 42

19.Tabel Pengamatan Jumlah Daun (helai) 6 MST ... 43

20.Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun (helai) 6 MST ... 43

21.Tabel Pengamatan Jumlah Daun di Atas Tongkol (helai) ... 44

22.Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun di Atas Tongkol (helai) ... 44

23.Tabel Pengamatan Kelengkunga Daun ... 45

24.Tabel Sidik Ragam Kelengkungan Daun ... 45

25.Tabel Pengamatan Umur Berbunga Jantan (hari) ... 46

26.Tabel Sidik Ragam Umur Berbunga Jantan (hari) ... 46

27.Tabel Pengamatan Umur Berbunga Betina (hari) ... 47

28.Tabel Sidik Ragam Umur Berbunga Betina (hari) ... 47

29.Tabel Pengamatan Umur Panen (hari) ... 48

30.Tabel Sidik Ragam Umur Panen (hari) ... 48

31.Tabel Pengamatan Berat Biji Pertongkol (gram) ... 49

32.Tabel Sidik Ragam Berat Biji Pertongkol (gram) ... 49

33.Tabel Pengamatan Laju Pengisian Biji (gr/hari) ... 50

34.Tabel Sidik Ragam Laju Pengisian Biji (gr/hari) ... 50

35.Tabel Pengamatan Jumlah Biji per Tongkol ... 51

36.Tabel Sidik Ragam Jumlah Biji per Tongkol ... 51

37.Tabel Pengamatan Bobot 100 Biji (gr) ... 52

38.Tabel Sidik Ragam Bobot 100 Biji (gr) ... 52

39.Tabel Pengamatan Produksi per Plot (kg) ... 53

40.Tabel Sidik Ragam Produksi per Plot (kg) ... 53

(12)

42.Deskripsi Tanaman Jagung Varietas DK3...55

43.Deskripsi Tanaman Jagung Varietas BISI2...56

44.Deskripsi Tanaman Jagung Varietas JAYA1...57

45.Bagan Penelitian...58

46.Jadwal Kegitan ...59

47.Gambar Tongkol Jagung ... ..60

48.Gambar Tanaman Menyimpang ... ..64

(13)

ABSTRAK

ABDUL KHAIRUL IS : Persilangan Secara Bebas Beberapa Varietas Tanaman Jagung (Zae mays L.) Untuk Mendapatkan Varietas Komposit, dibimbing oleh LUTHFI A.M SIREGAR dan HASMAWI HASYIM. Untuk mendapatkan varietas omposit perlu dilakukan persilangan secara bebas/ acak (random matting) minimum lima kali. Penelitian ini bertujuan untuk mendaptkan varietas komposit dan untuk mengetahui perbedaan karakter generatif dan vegetatif tanaman jagung tanaman jagung (Zae mays L.) dengan persilangan secara bebas/acak (random matting). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok non factorial yang terdiri dari empat varietas (P 12, BISI 2, DK 3, JAYA 1). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakansidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah daun diatas tongkol, kelengkungan daun, umur berbunga jantan, umur berbunga betina, umur panen, laju pengisian biji, jumlah biji pertongkol, bobot 100 biji, produksi perplot. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa varietas berbeda nyata terhadap tinggi tanaman 2 mst, jumlah daun diatas tongkol, umur keluar bunga betina, umur panen dan produksi perplot.

Kata kunci: Varietas, bersari bebas, varietas komposit.

ABSTRACT

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

(Linneus-1737) seorang ahli botani dalam bukunya Genera Plantarum,

memberikan nama Zea mays untuk tanaman jagung. Tanaman jagung termasuk dalam

famili Gramineae. Zea mays berasal dari kata zea bahasa Yunani yang digunakan

untuk mengklassifikasikan beberapa tanaman sereal, sedangkan mays berasal dari

bahasa Indian yaitu mahi–mahi atau marisi (Tobing, dkk, 1995).

Produksi jagung di Indonesia tahun 2008 sebesar 15.860.299 ton pipilan

kering atau naik sebesar 2.572.772 ton dibandingkan dengan produksi tahun 2007

yaitu 13.287.527 ton. Kenaikan produksi jagung terutama disebabkan oleh kenaikan

produktivitas dengan adanya perubahan varietas yang ditanam petani dari varietas

lokal ke varietas komposit atau hibrida dan teknik budidaya yang baik (Biro Pusat

Statistik, 2008).

Dengan demikian, usaha peningkatan produktivitas jagung di dalam negeri

perlu dilakukan dengan berbagai cara seperti penggunaan varietas unggul,

pemupukan, dan pengaturan jarak tanam yang baik. Varietas sangat perlu di

perhatikan untuk menunjang peningkatan produksi tanaman jagung. Selain varietas

upaya lain yang dapaat diterapkan untuk meningkatkan produksi tanaman jagung di

antaranya memperluas areal penanaman. Bila berhasil menambah areal baru sampai

ratusan ribu hektar per tahun maka akan terjadi lonjakan produksi jagung secara nyata

(15)

Salah satu cara untuk meningkatkan produksi jagung adalah dengan

menggunakan varietas unggul hibrida. Hibrida dapat menghasilkan biji lebih tinggi

dari pada varietas bersari bebas. Namun, harga varietas hibrida jauh lebih mahal dari

pada benih bersari bebas dan setiap kali tanam petani harus membeli benih baru.

Selain itu, produksi benih varietas bersari bebas juga sederhana dan mudah

dilaksanakan oleh kelompok petani atau kelompok tani (Dahlan, 1988).

Yang dimaksud dengan varietas bersari bebas adalah varietas yang benihnya

diambil dari pertanaman sebelumnya, atau dapat dipakai terus-menerus dari setiap

pertanamannya dan belum tercampur atau diserbuki oleh varietas lain. Benih yang

digunakan tentunya berasal dari tanaman atau tongkol yang mempunyai ciri-ciri dari

varietas tersebut. Berdasarkan bahan penyusunnya, varietas jagung bersari bebas

dibedakan menjadi varietas komposit dan varietas sintetik.

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik melakukan penelitian tentang

persilangan secara bebas beberapa varietas tanaman jagung (Zea mays L.) untuk mendapatkan varietas komposit.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui perbedaan karakter vegetatif dan generatif tanaman jagung

(Zea mays L.) dengan persilangan secara bebas.

Hipotesis Penelitian

1. Diduga ada perbedaan pertumbuhan dan produksi dari varietas tanaman jagung

(16)

2. Ada perbedaan karakter vegetatif dan generatif dari beberapa varietas tanaman

jagung yang diuji melalui persilangan bebas.

Kegunaan Penelitian

1. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Menurut Sharma (2002) dalam taksonomi tumbuhan, tanaman jagung

termasuk dalam kelas monocotyledoneae, ordo poales, famili graminae, genus zea

dan spesies Zea mays L.

Sistem perakaran tanaman jagung mempunyai perakaran yang tersebar

kesetiap jurusan akan tetapi bagian yang tersebar tumbuh kearah bawah pada saat

tanaman berkecambah. Penyebaran sistem perakaran tergantung pada genotif,

keadaan fisis dan khermis serta biologis tanah. Keadaan aerasi yang baik, keadaan

kelembaban yang sedang dan tanah yang subur akan cenderung berkembangnya akar.

Akar-akar penguat berkembang pada pangkal ruas. Akar permanen mulai tumbuh

setelah berkecambah berumur 6-10 hari dan tumbuh secara laternal samapi umur 9-12

hari, kemudian tumbuh kearah bawah (Rukmana, 1997).

Batang tanaman jagung termasuk herbaceus dan terdiri dari ruas-ruas. Jumlah

ruas berkisar antara 6-20 ruas dan tinggi antara 1,5-3 meter diatas permukaan tanah.

Ruas batang pendek dan tebal pada bagian bawah dan sebelah atas ruasnya lebih

panjang dan tebal kemudian meruncing sampai pada ujung bunga jantan (poros

malai). Diameter batang dapat mencapai 3-4 cm (Rubatzky and Yamaguchi, 1995).

Pada setiap buku terdapat daun, terdiri dari atas kelopak daun, lidah daun

(18)

higrokopis. Apabila mengalami kekeringan maka turgor dari sel-sel tersebut tidak

ada, sehingga sel mengerut sehingga daun menjadi mengerut dan daun menggulung

demikian penguapan dapat dikurangi. Jumlah stomata per cm2 pada bagian bawah

daun berkisar 10-15 ribu, sedangkan pada bagian paling atas daun berkisar antara

8-10 ribu stomata. Pada umumnya daun bagian atas menyerap CO2 dalam jumlah yang

lebih banyak dibandingkan dengan daun bagian bawah sehingga dapat meningkatkan

fotosintesis (Dahlan dan Sugiayanti, 1992).

Pola distribusi luas daun mulai dari daun bagian bawah hingga daun bagian

atas pada tanaman sangat menentukan produktivitas tanaman. Posisi daun jagung

pada tanaman, baik sudut maupun kelengkungannya, mempengaruhi intersepsi

cahaya yang akhirnya juga menetukan produktivitas tanaman. Evaluasi bentuk kanopi

tanaman melalui distribusi daun hingga saat masih sangat jarang diungkap. Oleh

karena itu, evaluasi bentuk-bentuk tanaman jagung yang ada perlu evaluasi, sehingga

diperoleh informasi yang dapat dijadikan sebagai dasar perekayasaan bentuk tanaman

jagung yang ideal. Gambaran bentuk tanaman untuk menghasilakan tanaman yang

mempunyai produktivitas yang tinggi (Mayo, 1987).

Tanaman jagung termasuk golongan berumah satu (monocius) dimana bunga

jantan dan bunga betina terdapat pada tanaman yang sama. Bunga jantan lebih dulu

masak dari bunga betina (protandry). Bunga jantan terdapat pada bagian ujung batang

dalam bentuk bunga majemuk. Bunga betina terletak pada bagian tengah batang dan

pada salah satu ketiak daun. Bunga betina masak bila pada ujungnya terdapat tangkai

(19)

pada rambut dan segera berkecambah, sehingga terjadi pembuahan, pertumbuhan

rambut terhenti dan rambut menjadi kering. Rambut berfungsi sebagai menerima

serbuk sari sehingga terjadi penyerbukan. Biasanya tanaman menghasilkan 1-2

tongkol yang berbentuk pada buku keenam atau kedelapan dari atas (Dahlan dan

Sugiayanti, 1992).

Tongkol bentuknya selindris dimana pistil dan style dapat berkembang.

Panjang tongkol bervariasi berkisar antara 5-40 cm dan jumlah biji berkisar 200-1000

butir. Buah jagung adalah bulir/biji yang terbentuk dari pembuahan sel telur. Dalam

keadaan normal buah masak lebih kurang 50 hari sesudah pembuahan. Ukuran dan

berat biji berbeda dan tergantung pada varietas. Berat 1000 biji berkisar antara

200-300 gram. Biji jagung berbeda dalam hal warna, struktur dan komposisi kimia. Warna

biji tergantung dari kulit lapisan aleuron, pada umumnya kuning dan putih. Perbedaan

warna biji pada tongkol yang sama disebabkan oleh zenia. Zenia adalah pengaruh dari

tepung sari yang langsung dapat dilihat pada biji yang sedang berkembang. Jagung

berbiji putih mendapat tepung sari dari jagung berbiji kuning, maka biji yang

dihasilkan akan berwarna kuning muda. Peristiwa ini terjadi karena warna kuning

terdapat pada pati bagian endosprem (Dahlan dan Sugiayanti, 1992).

Salah satu fase pertumbuhan tanaman jagung yaitu fase vegetatif, periode

vegetatif adalah fase yang diawali perkecambahan benih dan diakhiri dengan inisiasi

bunga. Dalam keadaan normal jumlah daun telah terbentuk pada kurang lebih 30 hari.

Perkembangan akar berlangsung cepat dan fungsi akar primer dan sekunder telah

(20)

mencapai lebih kurang 45 cm. Tinggi rendah nya hasil suatu tanaman merupakan

hasil akhir dari suatu proses fisiologis. Proses fisiologis ini terdiri dari periode

vegetatif, generatif dan pengisian biji sehingga secara langsung maupun tidak

langsung karakter-karakter pada periode-periode tersebut akan mempengaruhi hasil

akhir suatu tanaman. Hal ini disebabkan karena periode-periode ini mempengaruhi

distribusi bahan kering yang merupakan fotosinfat yang ditransfer dari sumber

pembentukan fotosintat limbung. Produksi fotosintat dari jagung sangat bergantung

pada kemampuan tanaman untuk menangkap energi radiasi matahari yang akan

digunakan dalam proses fotosintesis (Bastari, 1988).

Fase generatif adalah fase yang diawali dari inisiasi bunga sampai dengan

masak fisiologis. Pada saat ini ruas bagian bawah yaitu ruas mulai keenam

memanjang dengan cepat dan pertumbuhan daun berjalan dengan cepat. Tongkol

terdapat pada batang ruas ke 6 sampai ke 8 dari atas pada ruas di bawah 5-7 tongkol

yang tidak berkembang dengan sempurna. Selama 2-3 minggu perkembangan tongkol

sangat kecil sekali. Dari inisiasi tasel sampai keluarnya serbuk sari lebih kurang 30

hari, sehingga tanaman menyerbuk pada umur kurang lebih 60 hari. Ukuran tongkol

ditentukan 3 minggu sejak inisiasi. Mula-mula terbentuk jumlah baris dan jumlah

bakal biji per baris (Tohari, 1995).

Tanaman jagung termasuk golongan yang menyerbuk silang. Hal ini

disebabkan bunga jantan dan bunga betina yang berada di satu tanaman tidak sama

masaknya. Bunga jantan terlebih dahulu masak dari bunga betina (protandry). Bunga

(21)

diterbangkan melalui angin. Pecahnya serbuk sari dimulai 1-3 hari sebelum silk

muncul dari tongkol pada tanaman yang sama dan biasanya dilanjutkan beberapa

waktu sampai silk siap untuk menerima serbuk sari. Pada percabangan kering

pecahnya serbuk sari berkahir dengan cepat dan perkembangan tongkol tertunda. Hal

ini sering menyebabkan kegagalan penyerbukan karena terlambat munculnya tongkol.

Dalam keadaan yang sesuai serbuk sari variabel selama 24 jam, sedangkan rambut

(silk) dapat menerima 7-10 hari. Peluang terjadinya penyerbukan silang kurang lebih

95% dan penyerbukan dan 5% penyerbukan sendiri (Tohari, 1995).

Syarat Tumbuh Iklim

Daerah yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung yaitu daerah

beriklim sedang hingga daerah beriklim subtropis/tropis basah. Jagung dapat tumbuh

baik di daerah yang terletak antara 500

LU - 400LS. Pada lahan yang tidak beririgasi,

memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan selama masa pertumbuhan.

Distribusi curah hujan yang tidak teratur didaerah tropis meyebabkan terjadinya

penurunan produksi mencapai 15%. Keadaan air tanah yang sesuai untuk

pertumbuhan dan perkembangan jagung, serta menghasilkan produksi biji yang tinggi

yaitu kandungan air 60-70% dari kapasitas lapang ait tanah. Pada keadaan kering,

tingkat pertumbuhan tertunda terutama pembentukan rambut, sehingga pembentukan

dan pengisian biji mengalami gangguan dan produksi menurun (Purwono dan

(22)

Biji tanaman jagung dapat berkecambah pada temperatur 10 C.

Perkecambahan akan lebih cepat apabila temperatur tanah berkisar antara 16-18 C.

Suhu 25-30 C adalah optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman

jagung. Tanaman tidak dapat tumbuh bila rata-rata temperatur dibawah 13 C pada

malam hari dan suhu diatas 45 C pada siang hari. Temperatur diatas 35 C dapat

mengurangi produksi karena temperatur yang sangat tinggi diikuti kelembaban udara

yang sangat rendah selama stadia berbunga dapat merugikan terjadinya penyerbukan

dan pembuahan. Jika pada saat yang sama kadar air tanah rendah pembentukan

rambut tertunda sehingga mengganggu pembentukan biji dan produksi menjadi

rendah. Pada waktu tanaman mulai tua terutama waktu menuju masaknya biji,

tanaman jagung memerlukan keadaan yang panas dan sinar matahari yang cukup.

Keadaan suhu di Indonesia sudah optimal bagi pertumbuhan jagung, akan tetapi

waktu panen yang jatuh pada musim kemarau lebih baik dari pada pemanenan yang

jatuh pada musim hujan (Rukmana, 1997).

Cahaya merupakan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Bagian hijau daun menggunakan cahaya matahari,CO2 dari udara dan air dari tanah

untuk menghasilkan persenyawaan organik untuk fotosintesis yang diperlukan untuk

perkembangan tanaman dan untuk akumulasi dalam tongkol biji. Pada mulanya

tanaman jagung merupakan tanaman berhari pendek, tetapi adanya perkembangan

dalam budidaya, maka tanaman jagung dikenal dengan tanaman berhari netral.

Jagung merupakan tanaman C4 yang sangat efisien dalam pemamfaatan radiasi surya.

(23)

1. Aktivitas fotosintesis pada keadaan normal relatif tinggi.

2. Fotorespirasi sangat rendah.

3. Transpirasi rendah serta efisien dalam penggunaan air.

Sifat ini merupakan sifat fisiologis dan anatomis yang sangat menguntungkan dalam

kaitan produksi. Ditinjau dari segi kondisi lingkungan tanaman C4 teradaptasi pada

terbatasnya banyak faktor, seperti intensitas radiasi surya yang tinggi disertai suhu

tinggi, serta kesuburan tanah yang relatif rendah (Najiyati dan Danarti, 1999).

Tanah

Pada tanah andosol banyak mengandung humus, tanaman jagung dapat

tumbuh dengan baik asalkan pH-nya memenuhi syarat. Demikian juga pada tanah

latosol, yang mengandung bahan organik yang cukup banyak. Pada tanah berpasir

pun tanaman jagung bisa tumbuh dengan baik asalkan kandungan unsur hara yang

ada di dalamnya tersedia dan mencukupi. Pada tanah berat atau sangat berat,

misalnya tanah grumosol, jagung masih dapat tumbuh dengan baik asalkan drainase

dan aerase diperhatikan. Adapun tanah yang paling baik untuk ditanami jagung

hibrida adalah tanah lempung berpasir, lempung berdebu dan lempung (Warisno,

1998).

Tanaman jagung toleran terhadap reaksi keasaman tanah pada kisaran pH

5,5-7,0. Tingkat keasaman tanah yang paling baik untuk tanaman jagung adalah pada pH

6,8. Pada tanah yang memiliki keadaan pH 7,5 dan 5,7 produksi jagung cenderung

(24)

Perbedaan kondisi lingkungan memberikan kemungkingan munculnya variasi

yang akan menentukan hasil akhir tanaman tersebut, bila ada variasi yang timbul atau

tampak pada populasi tanaman yang ditanam pada kondisi lingkungan yang sama

maka variasi tersebut merupakan variasi atau perbedaan yang berasal dari genotif

individu anggota populasi (Mangoendidjojo,2003).

Varietas

Varietas adalah sekelompok tanaman yang memiliki sifat yang dapat

dipertahankannya setelah melewati berbagai proses pengujian keturunan. Varietas

berdasarkan teknik pembentukannya dibedakan atas varietas hibrida, varietas sintetik

dan varietas komposit (Mangoendidjojo, 2003).

Hibrida dibuat dengan mempersilangkan dua inbrida yang unggul. Karena itu

pembuatan inbrida unggul merupakan langkah pertama dalam pembuatan hibrida.

Varietas hibrida memberikan hasil yang lebih tinggi dari pada varietas bersari bebas

karena hibrida menggabungkan gen-gen dominan karakter yang diinginkan dari galur

penyusunnya, dan hibrida mampu memanfaatkan gen aditif dan non aditif. Varietas

hibrida memberikan keuntungan yang lebih tinggi bila di tanam pada lahan yang

produktivitasnya tinggi (Kartasapoetra, 1988).

Perbedaan susunan genetik merupakan salah satu faktor penyebab keragaman

penampilan tanaman. Program genetik yang akan diekspresikan pada suatu fase

pertumbuhan yang berbeda dapat diekspresikan pada berbagai sifat tanaman yang

(25)

tanaman. Keragaman penampilan tanaman akibat perbedaan susunan genetik selalu

mungkin terjadi sekalipun tanaman yang digunakan berasal dari jenis yang sama

(Sitompul dan Guritno, 1995).

Varietas Bersari Bebas

Yang dimaksud dengan varietas bersari bebas adalah varietas yang benihnya

diambil dari pertanaman sebelumnya, atau dapat dipakai terus-menerus dari setiap

pertanamannya dan belum tercampur atau diserbuki oleh varietas lain. Benih yang

digunakan tentunya berasal dari tanaman atau tongkol yang mempunyai ciri-ciri dari

varietas tersebut. Berdasarkan bahan penyusunnya, varietas jagung bersari bebas

dibedakan menjadi varietas komposit dan varietas sintetik.

1. Varietas Komposit adalah varietas jagung yang berasal dari campuran lebih

dari dua varietas yang telah mengalami persilangan bebas/acak (random

mating) minimum lima kali.

2. Varietas Sintetik adalah varietas jagung yang berasal dari campuran beberapa

galur murni yang telah mengalami penyerbukan sendiri (selfing) minimal satu

kali penyerbukan.

Pengembangan tanaman jagung menekankan pada pembentukan varietas

bersari bebas. Beberapa alasan untuk melakukan hal ini adalah sebagai berikut

1. Pembentukan varietas baru memerlukan waktu yang lebih cepat dengan

(26)

2. Dari populasi yang lebih heterogen diharapkan lebih mudah membentuk

varietas yang kurang berinteraksi dengan linkungan.

3. Produksi benih lebih mudah sehingga harga benih menjadi menjadi lebih

murah.

4. Petani tidak harus membeli benih setiap akan menanam kembali.

Suatu varietas bersari bebas yang sudah dilepas dianggap sudah mencapai

keseimbangan genetik (genetic equilibrium), artinya frekuensi allel dan genotipe yang

dihasilkan selalu sama dari generasi ke generasi. Agar varietas tersebut tidak berubah

maka keseimbangan genetik dari varietas tersebut jangan terggangu. Susunan genetik

varietas tersebut tidak akan berubah apabila dipenuhi beberapa hal sebagai berikut.

1. Varietas tersebut ditanam dalam jumlah yang banyak. Minimal jumlah

tanaman tidak kurang dari 400-500 tanaman, lebih banyak lebih baik. Bila

varietas tersebut ditanam dalam jumlah hanya 100 tanaman, maka

kemungkinan varietas tersebut akan mengalami kemunduran dalam

sifat-sifatnya karena adanya tekanan inbreeding sebesar 0,5%. Bila hanya ditanam

200 tanaman, faktor inbreedingnya sebesar 0,25%.

2. Terjadinya perkawinan acak (random mating), artinya terjadi perkawinan

bebas secara alami di lapang.

3. Tidak ada seleksi ke arah perubahan sifat-sifat tertentu. Adanya seleksi akan

mengubah beberapa variabel dan nilai rata-rata suatu sifat. Tetapi seleksi

(27)

4. Tidak terjadi migrasi atau pencampuran varietas lain. Pertanaman harus

terisolasi dari kemungkinan tercampur dengan varietas lain.

5. Tidak terjadi mutasi. Kalaupun ada mutasi, kemungkinannya sangat kecil.

Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor (dulu) dalam penelitiannya telah

banyak menghasilkan varietas unggul bersari bebas. Varietas unggul berumur genjah

yang terbaik saat ini adalah varietas Arjuna, yang dilepas pada tahun 1980. Varietas

Arjuna dipanen pada umur 85-90 hari, dan mempunyai hasil rata-rata 4,3 ton/ha.

Varietas ini sudah tersebar luas dan banyak ditanam oleh petani. Varietas unggul

berumur dalam yang terbaik adalah varietas Kalingga, yang dilepas pada akhir tahun

1985, berumur 96 hari dan mempunyai hasil rata-rata 5,4 ton/ha atau sama dengan

93% dari hasil rata-rata varietas hibrida C-1 yang berumur 96-100 hari dengan hasil

rata-rata 5,8 ton/ha.

Heritabilitas

Menurut Poespodarsono (1998) nilai heritabilitas dinyatakan dalam bilangan

pecahan atau persentase. Nilainya berkisar antara 0-1. Heritabilitas dengan niali 0

berarti bahwa keragaman genotifnya hanya disebabkan lingkungan sehingga

heritabilitasnya rendah, sedangkan keragaman dengan nilai makin mendekati 1

dinyatakan heritabilitasnya tinggi karena keragaman fenotifnya disebabkan oleh

genetik.

Stansfield (1991) menyatakan bahwa suatu populasi yang secara genetik

(28)

nilai heritabilitas yang berbeda bagi sifat yang sama. Begitu pula populasi yang sama

kemungkinan besar memperlihatkan heritabilitas yang berbeda, karena suatu genotif

tertentu tidak selalu memberikan respon terhadap lingkungan-lingkungan yang

berbeda dengan cara yang sama. Tidak ada satu genotif pun yang mempunyai daya

adaptasi yang superior dalam segala macam lingkungan. Hal inilah yang

menyebabkan mengapa seleksi alam cenderung meninmbulkan populasi-populasi

yang secara genetik berbeda dalam suatu spesies. Setiap populasi beradaptasi

(29)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas

sumatera Utara, Medan dengan ketinggian + 25 meter diatas permukaan laut,

dilaksanakan mulai dari bulan februari sampai dengan bulan juni 2011.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih tanaman jagung

varietas hibrida yakni Pioneer 12, DK 3, BISI 2, JAYA 1 sebagai objek pengamatan.

Air untuk menyiram tanaman dan bahan - bahan lain yang mendukung penelitian ini.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul untuk membersihkan

lahan dari gulma dan sampah. Timbangan analitik, gembor, handsprayer, meteran,

plastik transparan 1 kg dan ¼ kg, papan nama, papan perlakuan, pacak sample, alat

tulis dan alat - alat lain yang mendukung penelitian ini.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penelitian

ini terdiri dari 4 varietas jagung yaitu :

Varietas (V) yang terdiri dari 4 varietas, yaitu :

V1 = Pioneer 12 (Hibrida)

V2 = DK 3 (Hibrida)

(30)

V4 = Jaya 1 (Hibrida)

Jumlah ulangan (Blok) : 3 ulangan

Jumlah plot : 12 plot

Jarak tanam : 25 cm x 75 cm

Luas plot : 125 cm x 375 cm

Jumlah tanaman per plot : 25 tanaman

Jumlah seluruh tanaman : 300 tanaman

Jumlah sampel per plot : 10 tanaman

Jumlah sampel seluruh nya : 120 tanaman

Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam dengan model linear aditif

sebagai berikut :

Yij = µ + ρi + βj + εij

i = 1,2,3 j = 1,2,3,4 Dimana :

Yij = Hasil pengamatan blok ke – i dalam perlakuan ke – j µ = Nilai rata-rata

ρi = Efek blik k - i

βj = Efek perlakuan ke - j

(31)

Data pengamatan dianalisis dengan sidik ragam rancangan acak kelompok

(RAK) non faktorial. Jika efek perlakuan berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda

(32)

PELAKSANAAN PENELITIAN

Persiapan Lahan

Lahan yang akan digunakan untuk penelitian terlebih dahulu dibersihkan dari

gulma dan sampah, lalu dilakukan pembuatan plot percobaan berukuran 125 cm x

375 cm, jarak antar blok 50 cm, jarak antar plot 30 cm dan sebagai drainase. Tanah

diolah dengan kedalaman 20 cm sampai tanah gembur.

Penanaman

Penanaman dilakukan sebanyak 4 kali dengan perbedaan 2 hari, hal ini

dilakukan untuk mencegah terjadi persilangan dengan plot yang lain. Penanaman

dilakukan langsung ke tanah. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang

tanam pada lahan penelitian sedalam ± 3 cm. Setiap plot dibuat lubang sebanyak 25

lubang tanam. Setiap lubang tanam, diberi 3 benih per lubang tanam. Kemudian

lubang tanam ditutup dengan tanah top soil.

Pemeliharaan Tanaman

Penjarangan

Penjarangan dilakukan saat tanaman berumur 1 MST. Penjarangan dilakukan

sehingga pada setiap lubang tanam hanya terdapat 1 tanaman. Penjarangan dilakukan

(33)

Penyulaman

Penyulaman dilakukan apabila ada tanaman yang tidak tumbuh atau

pertumbuhannya tidak baik. Tanaman diambil dari bibit tanaman cadangan yang

sama pertumbuhannya dengan tanaman yang di lapangan.

Pemupukan

Pemberian pupuk di lakukan dengan tujuan merangsang/membantu

pertumbuhan tanaman. Pupuk yang digunakan yaiu pupuk ABG-tablet diberikan pada

saat tanam tanaman berumur 2 MST dengan cara tablet dibenamkan di antara barisan

tanaman, untuk pupuk daun di berikan pupuk ABG-Daun dilakukan pada 2 MST dan

4 MST dan untuk pupuk bunga dan buah diberikan pupuk ABG-Bunga dan buah

diberikan pada 5 MST, 7 MST dan 8 MST dengan cara disiramkan ke tanaman

dengan konsentrasi 2 cc/ liter air.

Pembumbunan

Pembumbunan bertujuan untuk memperkokoh posisi batang sehingga

tanaman tidak mudah rebah. Pembumbunan dilakukan pada saat 1 MST dan 3 MST.

Penyiraman

Penyiraman dilakukan pada pagi hari dan sore hari. Penyiraman dilakukan

sesuai dengan kondisi di lapangan. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan

(34)

Penyiangan

Untuk menghindari persaingan antara gulma dan tanaman, maka dilakukan

penyiangan. Penyiangan gulma dilakukan secara manual untuk membersihkan gulma

dengan menggunakan cangkul untuk membersihkan gulma yang terdapat di areal

penelitian. Penyiangan dilakukan setiap minggu.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dilakukan dengan menyemprotkan insektisida dengan

dosis 0,5-2 cc/liter air, disemprotkan pada saat tanaman menunjukkan gejala

serangan. Sedangkan pengendalian penyakit dilakukan dengan menyemprotkan

fungisida dengan dosis 1 cc/liter, dilakukan apabila telah ada tanaman yang terserang

hama atau penyakit.

Panen

Panen dilakukan setelah biji pada tongkol mencapai kriteria panen dengan

tanda-tanda (silk) berwarna kehitaman dan telah mengering, kelobot berwarna

kuning, biji kering dan mengkilat dan jika ditekan dengan kuku tidak meninggalkan

(35)

Pengamatan Parameter

Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur mulai dari leher akar sampai dengan titik tumbuh

tertinggi tanaman dengan menggunakan meteran. Pengukuran tinggi tanaman

dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 2 MST hingga muncul bunga jantan.

Jumlah Daun (helai)

Jumlah daun dihitung dengan menghitung seluruh daun yang telah membuka

sempurna. Pengukuran jumlah daun dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur

2 MST hingga muncul bunga jantan.

Jumlah Daun di Atas Tongkol (helai)

Jumlah daun dihitung setelah tongkol muncul. Jumlah daun yang dihitung

sampai daun yang telah membuka sempurna.

Kelengkungan Daun

Kelengkungan daun dihitung dengan rumus :

Kelengkungan daun = a/b

Dimana a : panjang daun.

b : jarak ujung daun dengan batang utama pada posisi melenkung.

(36)

Umur keluar bunga jantan dihitung apabila telah mulai membukanya daun

bendera yang membungkus malai. Dan 75% bunga jantan setiap tanaman pertama

kali muncul

Umur Berbunga Betina (hari)

Umur berbunga betina dihitung apabila telah muncul rambut tongkol

sepanjang 2 cm. Dan 75% bunga betina setiap tanaman pertama kali muncul.

Umur Panen (hari)

Umur panen dihitung mulai awal penanaman hingga tanaman menampakan

kriteria panen.

Laju Pengisian Biji (hari)

Laju pengisian biji dihitung dengan dihitung dengan membagi bobot biji tiap

tongkol dengan selisih umur panen dengan umur keluar rambut.

LPB= Berat biji (gram)

Umur Panen (hari) - Umur Keluar Rambut (hari)

Jumlah Biji per Tongkol (biji)

Jumlah biji per tongkol dihitung pada semua tanaman sampel.

Bobot 100 Biji (gram)

Diambil 100 biji dari masing-masing varietas, pada tanaman sampel

kemudian ditimbang dengan timbangan analitik.

(37)

Berat biji per tongkol ditimbang setelah biji dikeringkan dan dipipil, dari

masing-masing varietas, pada tanaman sampel.

Produksi per Plot (kg)

Produksi per plot diambil dengan menimbang hasil panen setiap varitas

(38)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Karakter Vegetatif

Dari data penelitian dan pengujian sidik ragam ternyata tinggi tanaman,

jumlah daun dan kelengkungan daun varietas tidak berbeda nyata sedangkan jumlah

daun di atas tongkol menunjukan perbedaan nyata.

Untuk mengetahui pengaruh varietas terhadap parameter tersebut dapat di

lihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan parameter karakter vegetatif

Varietas pada uji beda nyata jujur dengan taraf 5%

Dari Tabel 1, tinggi tanaman menunjukan varietas tidak berbeda nyata

terhadap tinggi tanaman, rataan tertinggi pada Varietas Bisi2 (184,93 cm) dan

terendah pada Varietas P12 (176,97 cm).

Jumlah daun menunjukan varietas tidak berbeda nyata, rataan tertinggi pada

(39)

Jumlah daun diatas tongkol menunjukan varietas berbeda nyata, dengan rataan

tertinggi pada Varietas DK3 (5.80 helai) dan terendah pada Varietas BISI2 dan

JAYA1 (5.30 helai).

Kelengkungan daun menunjukan varietas tidak berbeda nyata, rataan tertinggi

pada Varietas BISI2 dan JAYA1 (1,63) dan terendah pada Varietas DK3 (1.50).

Jumlah daun pertanaman, jumlah daun diatas tongkol dan kelengkungan daun

berkaitan dengan berat biji pertongkol. Jumlah daun diatas tongkol merupakan

parameter yang penting, karena jumlah daun diatas tongkol merupakan tolak ukur

dalam pembentukan tongkol.

Histrogram rataan karakter vegetatif pada masing-masing varietas dapat

dilihat pada Gambar 1.

0 50 100 150 200

A B C D

Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun (helai)

Jumlah daun diatas tongkol (helai) Kelengkungan daun

Berat biji pertongkol

(40)

Umur Berbunga Jantan, Umur Berbungan Betina Dan Umur Panen

Dari hasil pengujian sidik ragam tenyata umur berbunga jantan menunjukan

varietas tidak berbeda nyata, sedangkan pada umur berbunga betina dan umur panen

varietas menunjukan berbeda nyata.

Untuk mengetahui pengaruh varietas terhadap parameter tersebut dapat di

lihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan parameter umur berbunga jantan, umur berbunga betina Dan umur

panen

Keterangan : angka yang diikutin oleh huruf yang tidak sama tidak berbeda nyata pada uji beda nyata jujur dengan taraf 5%

Dari Tabel 2, umur berbunga jantan menunjukan varietas tidak berbeda nyata,

yaitu dengan rataan umur berbunga jantan tertinggi pada Varietas P12 (51,63 hari)

dan terendah pada Varietas JAYA1 (49,27 hari).

Umur beberbunga betina menunjukan varieras berbeda nyata, dengan rataan

tertinggi pada Varietas P12 (56.27 hari) dan yang terendah pada Varietas BISI2

(41)

Umur panen menunjukan varietas berbeda nyata, dengan rataan tertinggi pada

Varietas DK3 (101,20 hari) dan terendah pad Varietas P12 (95,13 hari).

Histrogram hubungan antara varietas dengan umur berbunga jantan, umur

berbunga betina, umur panen dan laju pengisian biji dapat dilihat pada Gambar 2.

0 20 40 60 80 100 120

A B C D

Umur berbunga jantan (hari) Umur berbunga betina (hari)

umur panen (hari) Laju pengisian biji (gr/hari)

Gambar 2. Histrogram hubungan antara varietas dengan umur berbunga jantan, umur berbunga betina, umur panen dan laju pengisian biji

Laju pengisian biji merupakan perbandingan berat biji pertongkol dengan

selisih antara umur panen dan umur keluar bunga betina. Laju pengisian biji

menunjukan varietas tidak berbeda nyata, dengan rataan tertinggi pada Varietas P12

(2.53 gr/hari) dan yang terendah pada Varietas BISI2 (1.97 gr/hari). Umur berbunga

betina (silk/rambut) sangat mempegaruhi waktu pengisian biji. Semakin pendek umur

berbunga betina, maka proses pengisian biji semakin panjang sehingga

(42)

Karakter Generatif

Dari data penelitian dan pengujian sidik ragam ternyata bobot 100 biji dan

jumlah biji pertongkol varietas tidak berbeda nyata sedangkan produksi per plot

menunjukan varietas berbeda nyata.

Untuk mengetahui pengaruh varietas terhadap parameter tersebut dapat di

lihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan parameter karakter generatif

Varietas Bobot Jumlah Biji Produksi berat biji 100 biji (gr) per Tongkol per Plot (kg) Pertongkol(gr)

A=P 12 30.40 329.47 1.36 b 100.32

B=DK 3 32.87 335.73 1.42 b 110.27

C=BISI2 31.17 304.17 1.74 a 94.86

D=JAYA 31.53 323.50 1.38 b 102.10

BNJ.05 - - 0.29

Keterangan : angka yang diikutin oleh huruf yang tidak sama tidak berbeda nyata pada uji beda nyata jujur dengan taraf 5%

Dari Tabel 3 dapat dilihat Bobot 100 biji menunjukan varietas tidak berbeda

nyata, dengan rataan tertinggi pada Varietas DK3 (32.87 gr) dan terendah pada

Varietas P12 (30.40 gr).

Jumlah biji pertongkol menunjukan varietas tidak berbeda nyata, dengan

rataan tertinggi pada Varietas DK3 (335.73 biji) dan yang terendah pada Varietas

BISI2 (304.17 biji).

Produksi perplot menunjukan varietas berbeda nyata, dengan rataan tertinggi

(43)

Histrogram hubungan antara varietas dengan dengan karakter generatif dapat

dilihat pada Gambar 3.

0

Bobot 100 biji (gr) Jumlah bij pertongkol Produksi perplot Berat biji pertongkol

Gambar 3. Histrogram hubungan antara varietas dengan bobot 100 biji jumlah biji per tongkol berat biji per tongkol dan produksi perplot

Pembahasan

Varietas berbeda nyata terhadap jumlah daun diatas tongkol. Dari rataan

jumlah daun diatas tongkol, dengan rataan tertinggi pada Varietas DK3 (5.80 helai)

dan terendah pada Varietas BISI2 dan JAYA1 (5.30 helai). Hal ini dikarenakan

jumlah daun diatas tongkol mempunyai peranan penting dalam pembentukan biji.

Menurut Dahlan dan Sugiayanti, (1992), bahwa pada umumnya daun bagian atas

menyerap CO2 dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan daun bagian

bawah sehingga dapat meningkatkan fotosintesis.

Dari hasil sidik ragam untuk pengamatan umur berbunga betina berbeda nyata

terhadap varietas. Dengan rataan tertinggi pada Varietas P12 (56.27 hari) dan yang

terendah pada Varietas BISI2 (52,27 hari). Jika dibandingkan dengan deskripsi

(44)

hari dan varietas BISI2 kurang lebih 56 hari. Diduga adanya kombinasi dari genetik

dan pengaruh lingkungan, hal ini sesuai dengan menurut Sitompul dan Guritno

(1995) perbedaan susunan genetik merupakan salah satu faktor penyebab keragaman

penampilan tanaman. Program genetik yang akan diekspresikan pada suatu fase

pertumbuhan yang berbeda dapat diekspresikan pada berbagai sifat tanaman yang

mencakup bentuk dan fungsi tanaman yang menghasilkan keragaman pertumbuhan

tanaman. Keragaman penampilan tanaman akibat perbedaan susunan genetik selalu

mungkin terjadi sekalipun tanaman yang digunakan berasal dari jenis yang sama.

Dari hasil analisis sidik ragam diketahui, varietas tidak berbeda nyata terhadap

jumlah biji per tongkol dan berat 100 biji sedangkan varietas berbeda nyata terhadap

umur panen. Hal ini dikarenakan, adanya perbedaan sifat dari dalam tanaman

(genetik) dan kondisi lingkungan tempat tanaman tersebut berada, sehingga

mempengaruhi tanaman tersebut. Hal ini sesuai dengan literatur Mangoendijojo

(2003) yang menyatakan perbedaan kondisi lingkungan memberikan kemungkingan

munculnya variasi yang akan menentukan hasil akhir tanaman tersebut. Juga sesuai

dengan literatur Sitompul dan Guritno (1995) yang menyatakan keragaman

penampilan tanaman akibat perbedaan susunan genetik selalu mungkin terjadi.

Produksi per plot menunjukan varietas berbeda nyata, dengan rataan tertinggi

pada Varietas BISI2 (1.74 kg) dan terendah pada Varietas P12 (1.36 kg). Produksi

perplot dipengaruhi oleh banyak faktor baik genetik maupun lingkungan. Salah satu

faktor yang sangat mempengaruhi adalah jumlah daun, jumlah daun diatas tongkol

(45)

dari daun bagian bawah hingga daun bagian atas pada tanaman pada tanaman sangat

menentukan produktifitas tanaman. Posisi daun jagung pada tanaman, baik sudut

maupun kelengkungannya mempengaruhi intersepsi cahaya yang akhirnya juga

menentukan produktifitas tanaman.

Pada lampiran 48 gambar 1-4 halaman 64-65 didapati gambar tanaman jagung

yang menyimpang. Hal ini kemungkinan bisa disebabkan oleh karena perubahan

susunan kromosom pada tanaman jagung. Perubahan susunan kromosom dapat

disebabkan oleh delesi (penghilangan), duplikasi (penggandaan), inverse

(pembalikan), dan translokasi. Delesi terjadi ketika sebuah fragmen kromosom yang

tidak memiliki sentromer hilang pada saat pembelahan sel. Kromosom tempat

fragmen tersebut berasal kemudian akan kehilangan gen-gen tertentu. Namun dalam

beberapa kasus, fragmen tersebut dapat berikatan dengan kromosom homolog

menghasilkan duplikasi. Fragmen tersebut juga dapat melekat kembali pada

kromosom asalnya tetapi arahnya terbalik, menghasilkan inversi. Hasil keempat yang

bisa terjadi akibat pecahnya kromosom adalah fragmen tersebut bergabung dengan

suatu kromosom non homolog, menyebabkan penyusunan ulang yang disebut

translokasi. Tiga translokasi yang paling umum adalah translokasi resiprok, yaitu

kromosom non homolog saling bertukar fragmen. Translokasi non resiprok terjadi

dengan adanya kromosom yang mentransfer fragmen tanpa menerima fragmen

kembali. Atau kemungkinan lainnya bisa disebabkan karena varietas yang ditanam

berupa varietas hibrida (F1) hasil dari persilangan dua galur murni. Sehingga ada

(46)

tetua tersebut (menyimpang dari sifat heterosis yang diharapkan)

(47)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Pada pengamatan karakter vegetatif varietas menunjukan berbeda nyata pada

parameter jumlah daun diatas tongkol, dimana jumlah daun diatas tongkol

tertinggi pada Varietas DK3 (5.80 helai) dan terendah pada Varietas BISI2

dan JAYA1 (5.30 helai). Sedangkan pada parameter tinggi tanaman, jumlah

daun dan kelengkungan daun varietas tidak menunjukan perbedaan yang

nyata.

2. Pada karakter generatif varietas menunjukan tidak berbeda nyata pada

parameter umur berbunga jantan, laju pengisian biji, bobot100 biji, jumlah biji

pertongkol dan berat biji pertongkol. Pada parameter umur berbunga betina

dimana yang tertinggi pada Varietas P12 (56.27 hari) dan yang terendah pada

Varietas BISI2 (52.27 hari), pada parameter umur panen yang tertinggi

terdapat pada Varietas DK3 (101.20 hari) yang terendah pada Varietas P12

(95.13 hari), dan produksi perplot varietas menunjukan berbeda nyata.

3. Perbedaan produksi dapat dilihat pada pengamatan produksi perplot, dimana

produksi tertinggi terdapat pada Varietas BISI2 (1.74 kg) dan yang terendah

pada Varietas P12 (1.36 kg).

Saran

Sebaiknya dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap generasi berikutnya guna

(48)

DAFTAR PUSTAKA

Bastari, Thamrin. 1988. Program Pengembangan Jagung di Indonesia. Pusat dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor.

Biro Pusat Statistik. 2008. Production of Secondary Food Crops in Indonesia. Diakses dari http://bps.go.id/Food Crop Statistics.

Dahlan, M., 1988. Pembentukan dan Produksi Benih Varietas Bersari Bebas. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Malang.

Dahlan, Marsum dan Sugiyanti Selamet. 1992. Pemuliaan Tanaman Jagung. Proeding Simposium Pemuliaan Tanaman I. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang.

http://binaukm.com/2010/06/varietas-bersari-bebas-non-hibrida-dalam-usaha-budidaya-jagung/

http://idkf.bogor.net/yuesbi/e-DU.KU/edukasi.net/SMA/Biologi/Mutasi/materi03.html

Kartasapoetra, A.G., 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropik. Bina Angkasa, Jakarta.

Mayo, O., 1987. The Theory Of Plant Breeding. Oxford Science Publication, claredon.

Mangoendidjojo, W., 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius, Yogyakarta.

Najiyati, S. Dan Danarti. 1999. Palawija Budidaya dan Analisis Usaha tani. Penebar Swadaya, Jakarta.

Poespodarsono, S., 1998. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. IPB Press, Bogor.

Purwono dan R. Hartono. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rubatzky, V. E. and Yamaguchi. 1995. World Vegetables. Van Nostrand Reinhold a Division of International Thompson Publishing.

Rukmana, R., 1997. Bercocok Tanam Jagung Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta.

(49)

Stainsfield, W. D., 1991. Genetika. Diterjemahkan Oleh Machidin Afandi dan Lanny. T.H. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Sitompul, S. M., dan B. Guritno, 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G., 2001. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tobing, M.P.L, Ginting, O. Ginting, S dan R.K Damanik, 1995. Agronomi Tanaman Makanan I. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Tohari, Soedharoedjian. 1995. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Terjemahan dari Peter R. Goldworthy dan NM. Fisher dari The Physiology of Tropical Field Crobs. Gajah Mada University Press.

(50)

Lampiran 1. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman 2 MST (cm)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 23.8 26.2 22.2 72.2 24.07

B 20.8 18.9 20.8 60.5 20.17

C 26.3 29.1 24.4 79.8 26.60

D 28.1 24.6 25.6 78.3 26.10

Total 99 98.8 93 290.8

Rataan 24.75 24.70 23.25 24.23

Lampiran 2. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman 2 MST (cm)

Sumber Keragaman db JK KT F. Hitung F.tabel

Blok 2 5.81 2.90 0.78 tn 5.14

Varietas 3 76.95 25.65 6.87 * 4.76

Error 6 22.39 3.73

Total 11 105.15

(51)

Lampiran 3. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman 3 MST (cm)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 62,5 73,5 52,2 188,2 62,73

B 55,1 57,7 55,6 168,4 56,13

C 70,6 77,8 54,6 203 67,67

D 74,8 59,5 56,5 190,8 63,60

Total 263 268,5 218,9 750,4

Rataan 65,75 67,13 54,73 62,53

Lampiran 4. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman 3 MST (cm) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 369,60 184,80 3,30 tn 5,14

Varietas 3 205,47 68,49 1,22 tn 4,76

Error 6 335,82 55,97

Total 11 910,89

Ket : KK = 11,96%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(52)

Lampiran 5. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman 4 MST (cm)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 94,6 109,1 91,5 295,2 98,40

B 118,6 103,4 107,7 329,7 109,90

C 126,3 119,1 105,5 350,9 116,97

D 121,3 92,9 87,6 301,8 100,60

Total 460,8 424,5 392,3 1277,6

Rataan 115,20 106,13 98,08 106,47

Lampiran 6. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman 4 MST (cm)

SIDIK RAGAM

Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 587,23 293,62 2,98 tn 5,14

Varietas 3 664,58 221,53 2,25 tn 4,76

Error 6 592,02 98,67

Total 11 1843,83

Ket : KK = 9,33%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(53)

Lampiran 7. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman 5 MST (cm)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 137,1 158,3 129,5 424,9 141,63

B 150,6 142,9 141,1 434,6 144,87

C 163,5 150,1 149,8 463,4 154,47

D 163,1 138,1 124,8 426 142,00

Total 614,3 589,4 545,2 1748,9

Rataan 153,58 147,35 136,30 145,74

Lampiran 8. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman 5 MST (cm) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 612,37 306,19 2,41 tn 5,14

Varietas 3 323,31 107,77 0,85 tn 4,76

Error 6 762,81 127,13

Total 11 1698,49

Ket : KK = 7,74%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(54)

Lampiran 9. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman 6 MST (cm)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 174,8 190,3 165,8 530,9 176,97

B 182,2 184,6 179,6 546,4 182,13

C 190,8 180,4 183,6 554,8 184,93

D 187,7 176,9 170,8 535,4 178,47

Total 735,5 732,2 699,8 2167,5

Rataan 183,88 183,05 174,95 180,63

Lampiran 10. Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman 6 MST (cm) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 194,59 97,30 1,78 tn 5,14

Varietas 3 116,64 38,88 0,71 tn 4,76

Error 6 328,31 54,72

Total 11 639,54

Ket : KK = 4,10%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(55)

Lampiran 11. Tabel Pengamatan Jumlah Daun 2 MST (helai)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 5,1 5,2 4,9 15,2 5,07

B 4,5 5,3 6,2 16 5,33

C 4,9 5,2 5,4 15,5 5,17

D 3,8 5,3 4,9 14 4,67 Total 18,3 21 21,4 60,7

Rataan 4,58 5,25 5,35 5,06

Lampiran 12. Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun 2 MST (helai) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 1,42 0,71 3,04 tn 5,14

Varietas 3 0,72 0,24 1,03 tn 4,76

Error 6 1,40 0,23

Total 11 3,55

Ket : KK = 9,57%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(56)

Lampiran 13. Tabel Pengamatan Jumlah Daun 3 MST (helai)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 7,8 7,9 6,8 22,5 7,50

B 7,4 7,1 8,2 22,7 7,57

C 7,7 7,2 8,1 23 7,67

D 8,2 7,6 6,8 22,6 7,53

Total 31,1 29,8 29,9 90,8

Rataan 7,78 7,45 7,48 7,57

Lampiran 14. Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun 3 MST (helai) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 0,26 0,13 0,31 tn 5,14

Varietas 3 0,05 0,02 0,04 tn 4,76

Error 6 2,52 0,42

Total 11 2,83

Ket : KK = 8,56%

* = Nyata

(57)

FK = 687,0533

Lampiran 15. Tabel Pengamatan Jumlah Daun 4 MST (helai)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 10,4 9,8 8,5 28,7 9,57

B 9,9 9,5 10,1 29,5 9,83

C 10,1 10,4 9,5 30 10,00

D 10,1 9,8 8,7 28,6 9,53

Total 40,5 39,5 36,8 116,8

Rataan 10,13 9,88 9,20 9,73

Lampiran 16. Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun 4 MST (helai) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 1,83 0,92 3,14 tn 5,14

Varietas 3 0,45 0,15 0,51 tn 4,76

(58)

Total 11 4,03 Ket : KK = 5,55%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

FK = 1136,853

Lampiran 17. Tabel Pengamatan Jumlah Daun 5 MST (helai)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 12,2 12,1 9,8 34,1 11,37

B 12,6 11,1 11,6 35,3 11,77

C 12,6 11,3 11,1 35 11,67

D 12,1 12,2 10,4 34,7 11,57

Total 49,5 46,7 42,9 139,1

Rataan 12,38 11,68 10,73 11,59

Lampiran 18. Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun 5 MST (helai)

(59)

Keragaman Hitung

Blok 2 5,49 2,74 6,01 * 5,14

Varietas 3 0,26 0,09 0,19 tn 4,76

Error 6 2,74 0,46

Total 11 8,49

Ket : KK = 5,83%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

FK = 1612,401

Lampiran 19. Tabel Pengamatan Jumlah Daun 6 MST (helai)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 14,1 13,5 12,3 39,9 13,30

B 13,4 12,4 12,8 38,6 12,87

C 13,5 12,9 12,2 38,6 12,87

D 13,5 13,6 12,5 39,6 13,20

Total 54,5 52,4 49,8 156,7

(60)

Lampiran 20. Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun 6 MST (helai) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 2,77 1,39 8,30 * 5,14

Varietas 3 0,46 0,15 0,91 tn 4,76

Error 6 1,00 0,17

Total 11 4,23

Ket : KK = 3,13%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

FK = 2046,241

Lampiran 21. Tabel Pengamatan Jumlah Daun di Atas Tongkol (helai)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 6,1 5,8 5,4 17,3 5,77

B 6,3 5,5 5,6 17,4 5,80

(61)

D 5,6 5,2 5,1 15,9 5,30 Total 23,7 21,8 21 66,5

Rataan 5,93 5,45 5,25 5,54

Lampiran 22. Tabel Sidik Ragam Jumlah Daun di Atas Tongkol (helai) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 0,96 0,48 23,08 * 5,14

Varietas 3 0,70 0,23 11,24 * 4,76

Error 6 0,13 0,02

Total 11 1,79

Ket : KK = 2,60%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

FK = 368,5208

Lampiran 23. Tabel Pengamatan Kelengkungan Daun

(62)

I II III

A 1,53 1,61 1,47 4,61 1,54

B 1,65 1,35 1,51 4,51 1,50

C 1,51 1,67 1,71 4,89 1,63

D 1,69 1,58 1,61 4,88 1,63

Total 6,38 6,21 6,3 18,89

Rataan 1,60 1,55 1,58 1,57

Lampiran 24. Tabel Sidik Ragam Kelengkungan Daun Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 0,00 0,00 0,14 tn 5,14

Varietas 3 0,04 0,01 0,92 tn 4,76

Error 6 0,08 0,01

Total 11 0,12

Ket : KK = 7,34%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(63)

Lampiran 25. Tabel Pengamatan Umur Keluar Bunga Jantan (hari)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 50,3 51,2 53,4 154,9 51,63

B 51,6 50,7 48,3 150,6 50,20

C 49,8 48,9 51,7 150,4 50,13

D 48,3 49,2 50,3 147,8 49,27

Total 200 200 203,7 603,7

Rataan 50,00 50,00 50,93 50,31

Lampiran 26. Tabel Sidik Ragam Umur Keluar Bunga Jantan (hari) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 2,28 1,14 0,47 tn 5,14

Varietas 3 8,65 2,88 1,18 tn 4,76

Error 6 14,72 2,45

Total 11 25,65

Ket : KK = 3,11%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(64)

Lampiran 27. Tabel Pengamatan Umur Keluar Bunga Betina (hari)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 55,3 55,6 57,9 168,8 56,27

B 53,9 55,2 52,9 162 54,00

C 52,3 50,8 53,7 156,8 52,27

D 51,6 53,5 52,7 157,8 52,60

Total 213,1 215,1 217,2 645,4

Rataan 53,28 53,78 54,30 53,78

Lampiran 28. Tabel Sidik Ragam Umur Keluar Bunga Betina (hari) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 2,10 1,05 0,59 tn 5,14

Varietas 3 29,74 9,91 5,60 * 4,76

Error 6 10,63 1,77

Total 11 42,48

Ket : KK = 2,48%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(65)

Lampiran 29. Tabel Pengamatan Umur Panen (hari)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 94,9 93,8 96,7 285,4 95,13

B 101,4 103,5 98,7 303,6 101,20

C 100,6 100,1 99,8 300,5 100,17

D 99,7 96,9 100,7 297,3 99,10

Total 396,6 394,3 395,9 1186,8

Rataan 99,15 98,58 98,98 98,90

Lampiran 30. Tabel Sidik Ragam Umur Panen (hari) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 0,69 0,35 0,09 tn 5,14

Varietas 3 63,37 21,12 5,45 * 4,76

Error 6 23,26 3,88

Total 11 87,32

Ket : KK = 1,99%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(66)

Lampiran 31. Tabel Pengamatan Laju Pengisian Biji (gr/hari)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 4,9 5,5 6,3 16,7 5,57

B 6,1 5,7 4,2 16 5,33

C 5,5 5,9 6,1 17,5 5,83

D 5,2 4,8 5,9 15,9 5,30

Total 21,7 21,9 22,5 66,1

Rataan 5,43 5,48 5,63 5,51

Lampiran 32. Tabel Sidik Ragam Laju Pengisian Biji (gr/hari) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 0,09 0,04 0,07 tn 5,14

Varietas 3 0,55 0,18 0,30 tn 4,76

Error 6 3,71 0,62

Total 11 4,35

Ket : KK = 14,28%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(67)

Lampiran 33. Tabel Pengamatan Biji Per Tongkol (biji)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 322,8 351,4 314,2 988,4 329,47

B 320,9 352,7 333,6 1007,2 335,73

C 295,8 301,3 315,4 912,5 304,17

D 298,6 350,4 321,5 970,5 323,50

Total 1238,1 1355,8 1284,7 3878,6

Rataan 309,53 338,95 321,18 323,22

Lampiran 34. Tabel Sidik Ragam Biji Per Tongkol (biji) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 1756,67 878,34 4,94 tn 5,14

Varietas 3 1676,14 558,71 3,14 tn 4,76

Error 6 1066,39 177,73

Total 11 4499,20

Ket : KK = 4,12%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

(68)

Lampiran 35. Tabel Pengamatan Bobot 100 Biji (gr)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 28,9 32,1 30,2 91,2 30,40

B 35,6 33,5 29,5 98,6 32,87

C 31,4 29,5 32,6 93,5 31,17

D 33,2 33,8 27,6 94,6 31,53

Total 129,1 128,9 119,9 377,9

Rataan 32,28 32,23 29,98 31,49

Lampiran 36. Tabel Sidik Ragam Bobot 100 Biji (gr) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 13,81 6,90 1,07 tn 5,14

Varietas 3 9,57 3,19 0,49 tn 4,76

Error 6 38,85 6,48

Total 11 62,23

Ket : KK = 8,08%

* = Nyata

(69)

FK = 11900,7

Lampiran 37. Tabel Pengamatan Produksi Per Plot (kg)

Varietas Blok Total Rataan

I II III

A 1,25 1,47 1,35 4,07 1,36

B 1,45 1,37 1,45 4,27 1,42

C 1,84 1,66 1,71 5,21 1,74

D 1,51 1,29 1,35 4,15 1,38

Total 6,05 5,79 5,86 17,7

Rataan 1,51 1,45 1,47 1,48

Lampiran 38. Tabel Sidik Ragam Produksi Per Plot (kg) Sumber

Keragaman db JK KT F.

Hitung F.tabel

Blok 2 0,01 0,00 0,43 tn 5,14

Varietas 3 0,28 0,09 8,96 * 4,76

(70)

Total 11 0,35 Ket : KK = 6,93%

* = Nyata

tn = Tidak Nyata

FK = 26,1075

Lampiran 39. Deskripsi Tanaman Jagung Varietas PIONEER 12

Tanggal dilepas : 22 Juni 1999

(71)

F30A97. M30A97 dan F30A97 adalah galur murni tropis yang Dikembangkan secara berurutan oleh Pioneer Hi-red Philippines, Inc. dan Pioneer Hi-Bred, (Thailand) Co. Ltd. Umur : Berumur dalam Keragaman tanaman : Sangat seragam Perakaran : Baik dan kuat Kerebahan : Tahan rebah

Bentuk malai : Tidak terbuka, ujung terkulai Warna sekam : Hijau

Warna anthera : Kuning

Warna rambut : Putih dengan merah muda di ujungnya Tongkol : Panjang dan silindris

Kedudukan tongkol : Agak tinggi, di pertengahan tinggi tanaman (+ 91 cm) Kelobot : Menutup biji dengan baik

Tipe biji : Mutiara (flint) Warna biji : Oranye

Baris biji : Lurus dan rapat Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris Bobot 1000 biji : + 289 g

Kandungan nutrisi : 5,6% minyak, 10,6% protein, dan 71,2% tepung Rata-rata hasil : 8,1 t/ha pipilan kering

Potensi hasil : 10 - 12 t/ha pipilan kering

Ketahanan : Tahan terhadap penyakit karat daun, busuk tongkol Diplodia, dan busuk batang bakteri; agak tahan terhadap

bulai, hawar daun H.turcicum, dan busuk batang Pythium Daerah adaptasi : Beradaptasi luas pada dataran rendah dan tinggi

Pengusul : PT. Pioneer Hibrida Indonesia

(72)

Tanggal dilepas : 17 Maret 2004

Asal : Jagung hibrida Monsanto TB 9001 adalah persilangan ganda (doble cross) TB840134FF/TB840134MF) dengan

(TB840134FM/TB840134MM), tetua betina (TB840134FF/TB840134MF) dan tetua jantan

(TB840134FM/TB840134MM) adalah persilangan tunggal. Galur-galur TB840134FM, TB840134MM, TB840134FF, TB840134MF berasal dari populasi yang berbeda. Galur ini dikembangkan oleh Departemen Penelitian Perbenihan Monsanto, Thailand

Kelobot : Menutup tongkol dengan baik Tipe biji : Semi mutiara

Warna biji : Oranye kuning Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris Bobot 1000 biji : + 300 g

Rata-rata hasil : 9,25 t/ha pipilan kering Potensi hasil : 11,94 t/ha pipilan kering

Ketahanan : Tahan terhadap penyakit karat, toleran terhadap penyakit bulai

(73)

Lampiran 41. Deskripsi Tanaman Jagung Varietas BISI 2

Tahun dilepas : 1995

Asal : F1 dari silang tunggal antara FS 4 dengan FS 9. FS 4 dan FS 9 merupakan tropical inbred yang dikembangkan oleh

Charoen Seed Co., Ltd. Thailand dan Dekalb Plant Genetic, USA. Kedudukan tongkol : Di tengah-tengah batang Kelobot : Menutup tongkol dengan baik

Ketahanan : Toleran terhadap penyakit bulai dan karat daun

(74)

Lampiran 42. Deskripsi Tanaman Jagung Varietas JAYA 1

Tanggal dilepas : 25 April 2002

Asal : F1 dari silang tiga jalur (three way cross) antara silang tunggal TSG 81 F dengan galur murni TSG 81 M, yang

dikembangkan oleh PT. Asian Hybrid Seed Technologies, di Filipina

Kedudukan tongkol : Di tengah-tengah tinggi tanaman Kelobot : Menutup tongkol sangat baik Ketahanan : Tahan terhadap penyakit bulai

Daerah pengembangan : Beradaptasi baik pada dataran rendah sampai ketinggian 1200 m dpl.

Pengusul : P.T. Asian Hybrid Seed Technologies

(75)
(76)

Lampiran 45. Gambar Tongkol Jagung

Gambar 1. Tongkol Jagung ABCBD

(77)

Gambar 3. Tongkol Jagung BCACD

(78)

Gambar 5. Tongkol Jagung BDCDA

(79)

Gambar 7. Tongkol Jagung CBADB

Gambar 8. Tongkol Jagung CDADB

(80)

Gambar 10. Tongkol Jagung DABAC

(81)
(82)

Lampiran 47. Gambar Lahan Penelitian

Gambar

Tabel 1. Rataan parameter karakter vegetatif
Gambar 1. Histrogram hubungan antara varietas dengan karakter vegetatif
Tabel 2. Rataan parameter umur berbunga jantan, umur berbunga betina Dan umur
Gambar 2. Histrogram hubungan antara varietas dengan umur berbunga jantan, umur berbunga betina, umur panen dan laju pengisian biji
+7

Referensi

Dokumen terkait

melaksanakan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan langkah – langkah pembelajaran yang terdapat dalam RPP. Kegiatan pembelajaran ini menggunakan model pembelajaran

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah terdapat perbedaan tingkat efektivitas antara model

Hasil Belajar siswa kelas V SD Negeri Sampaka dalam proses belajar mengajar Bahasa Indonesia melalui pembelajaran metode diskusi kelompok secara efektif mengalami

Kepemimpinan camat dalam Meningkatkan Motivasi Kerja Pegawai di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya,

Solusi yang ditawarkan adalah dengan melakukan modifikasi pada kulkas sehingga pengguna dapat mengecek isi kulkas melalui handphone dengan mengirim pesan singkat (SMS)

bertujuan untuk menghindari berkaratnya peralatan yang terbuat dari besi, semua peralatan yang kontak dengan makanan harus disimpan dalam keadaan kering dan bersih agar tidak

talam tergantung kepada jenis lagu yang dibawakan atau diJajikan. pada lagu imbauan dulang atau talam belum dimainkan berarti belum ada pengiring dari lagu imbauan

Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah,