• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Developer dalam Perjanjian Jual Beli Rumah Melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) (Studi pada Perumahan Syukur Indah)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peranan Developer dalam Perjanjian Jual Beli Rumah Melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) (Studi pada Perumahan Syukur Indah)"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN DEVELOPER DALAM PERJANJIAN JUAL BELI

RUMAH MELALUI KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR)

(Studi pada Perumahan Syukur Indah)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh :

DEVI OLISA BTR-BTR

NIM : 080200390

DEPARTEMEN : HUKUM KEPERDATAAN

Program Kekhususan Hukum Perdata Dagang

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PERANAN DEVELOPER DALAM PERJANJIAN JUAL-BELI RUMAH MELALUI KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR)

(Studi pada Perumahan Syukur Indah)

S K R I P S I

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh :

DEVI OLISA BTR-BTR NIM : 080200390

DEPARTEMEN : HUKUM KEPERDATAAN Program Kekhususan Hukum Perdata Dagang

Disetujui Oleh :

Ketua Departemen Hukum Keperdataan

Dr. H. Hasim Purba, SH., M.Hum NIP. 19660303 198508 1 001

Pembimbing I Pembimbing II

Sinta Uli, SH, M.Hum Puspa Melati SH, M.Hum 195506261986012001 196801281994032001

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi robbil alamin, segala puji dan syukur Penulis ucapkan pada

Allah SWT sang Khalik, Sang Maha Pemberi Jalan kepad umat, yang telah

mencurahkan rahmat dan karunia yang begitu besar kepada Penulis sehingga

penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Begitu pula shalawat dan

salam Penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW semoga

kita menfdapat syafaatnya di hari akhirat kelak.

Adapun judul skripsi yang penulis kemukakan ialah “PERANAN DEVELOPER DALAM PERJANJIAN JUAL-BELI RUMAH MELALUI KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) (Studi pada Perumahan Syukur Indah)” Skripsi ini membahas tentang bagaimana syarat, pelaksanaan dan hubungan developer dalam perjanjian jual beli rumah melalui kredit pemilikan

rumah (KPR). Skripsi ini disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas dan

syarat untuk meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara, dimana

hal tersebut merupakan kewajiban setiap mahasiswa/I yang ingin menyelesaikan

perkuliahannya.

Penulis telah mencurahkan segenap hati, pikiran dan kerja keras dalam

penyusunan skripsi ini. Namun penulis menyadari bahwa di dalam penulisan

skripsi ini masih banyak kekurangannya, baik isi maupun kalimatnya. Oleh sebab

itu skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.

Di dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dan bimbingan

(4)

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum., selaku Pembantu Dekan I

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Syafriddin Hasibuan, SH, M.H, DFM, selaku Pembantu Dekan II

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Muhammad Husni, SH, M.H, selaku Pembantu Dekan III, selaku

Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Dr. H. Hasim Purba, SH, M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum

Keperdataan.

6. Ibu Rabiatul Syahriah, SH, M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum

Keperdataan.

7. Ibu Sinta Uli SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak

meluangkan waktunya dalam memberikan bantuan, bimbingan dan

arahan-arahan kepada penulis pada saat penulisan skripsi ini.

8. Ibu Puspa Melati SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang telah

meluangkan waktunya dalam memberikan bantuan, bimbingan dan

arahan-arahan kepada penulis pada saat penulisan skripsi ini.

9. Bapak Makdin Munte, selaku Dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih

atas perhatian, dukungan serta bimbingannya yang telah bapak berikan

(5)

10.Seluruh staf pengajar dan pegawai administrasi Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara yang telah mencurahkan ilmunya dan membantu penulis

selama menjalani perkuliahan.

11.Teristimewa kepada Orangtua tercinta, Ayahanda H. J. Butar-Butar SH,

M.Hum, Ibunda tercinta Almh. Samiyah Sinaga SS, dan Ibunda saya tercinta

juga Ir. Hj. Nurma Ani Mp, yang telah membesarkan dan mendidik Penulis

dengan kasih sayang yang tak hentinya memberikan motivasi , semangat dan

mendo’akan setiap langkah Penulis dalam menggapai cita-cita.

12.Kepada kakak-kakak Penulis Dina Maya Sarah SS, Destiny Octrina S.Kep,

kak Atik dan abangku Deni SH yang telah memberikan motivasi, semangat

serta do’a kepada Penulis.

13.Sahabat-sahabatku : Rida Maya Sari Nst, Dwi Nurul Amalia, Ariesya Amalia

Hrp, Dirga Syahputra, dan Ari Wibowo, juga sahabat kecilku Anwar Hafiz

dan Desi Novita Sari yang telah begitu banyak membantu, memberi

dorongan semangat selama penulis menjadi mahasiswa hingga penyelesaian

skripsi ini.

14.Semua pihak yang belum sempat penulis sebutkan dan telah banyak

membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan masih

jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik

yang membangun dan menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat

(6)

mengahrapkan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Semoga Allah SWT selalu memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga Allah

SWT selalu memberikan Rahmat dan KaruniaNya kepada kita semua. Amiin.

Medan, Juni 2012

penulis

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... v

ABSTRAK ... vii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penulisan ... 9

E. Metode Penelitian ... 10

F. Keaslian Penulisan ... 13

G. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II : HUKUM PERJANJIAN SECARA UMUM... ... 16

A. Pengertian Umum tentang Perjanjian... 16

B. Syarat Sahnya Perjanjian ... 32

C. Asas-asas yang terkandung dalam perjanjian ... 37

D. Hapusnya Perjanjian ... 40

BAB III : KAJIAN HUKUM TENTANG JUAL BELI RUMAH SECARA KRDIT PEMILIKAN RUMAH ... 43

A. Perjanjian Jual Beli Kredit Pemilikan Rumah ... 43

B. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian Kredit Pemilikan Rumah………. ... 48

(8)

D. Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Kredit Pemilikan Rumah

... 55

E. Berakhirnya Perjanjian Kredit Pemilikan Rumah ... 60

BAB IV: PERANAN DEVELOPER DALAM PERJANJIAN JUAL BELI RUMAH MELALUI KREDIT PEMILIKAN RUMAH .. 64

A. Syarat- syarat Perjanjian Jual-Beli Rumah Secara Kredit Pemilikan Rumah (KPR) antara Pihak Pembeli dan Pihak Developer ... 64

B. Pelaksanaan Perjanjian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) antara Pihak Developer Dengan Pihak Pembeli... 72

C. Peran Developer Dalam Perjanjian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) antara Pihak Pembeli dan Pihak Bank ... 78

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 82

a. Kesimpulan ... 85

b. Saran ... 87

DAFTAR PUSTAKA ... 88 LAMPIRAN

1.Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor

7/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan

Pemukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan

Melalui KPR Sarusun Bersubsidi

2.Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor

(9)

ABSTRAK

Devi Olisa Butar-Butar*) Sinta Uli**)

Puspa Melati***)

Rumah adalah kebutuhan primer bagi sebagian besar keluarga, baik yang tinggal di pedesaan maupun di perkotaan yang merupakan suatu kebutuhan primer. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut, tidak dapat dipenuhi oleh semua orang untuk membeli secara tunai. Oleh karena itu, diperlukan suatu lembaga keuangan untuk memberikan bantuan dana dalam bentuk penyaluran kredit terutama dalam Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pengaturan mengenai perumahan ini terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman. Judul dari skripsi ini adalah “peranan developer dalam perjanjian jual beli rumah melalui kredit pemilikan rumah” sementara permasalahan yang dibahas adalah peranan developer dalam jual beli rumah melalui kredit pemilikan rumah yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pihak pembeli, bagaimana pelaksanaannya, dan peranan developer kepada pembeli dan pihak bank.

Dengan alasan di atas, dalam penulisan skripsi ini penulis melakukan penelitian yang dilakukan di perumahan Syukur Indah dengan menggunakan metode pendekatan penelitian hukum normatif dan yuridis empiris yaitu suatu cara atau prosedur yang digunakan untuk memecahkan masalah dengan terlebih dahulu menggunakan meneliti data sekunder yang ada kemudian dilanjutkan dengan penelitian data primer dilapangan.

(10)

Pengadaan Perumahan dan Pemukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Sarusun Bersubsidi.

Kata Kunci : Developer, Perjanjian jual-Beli, Kredit Pemilikan Rumah

*) Mahasiswa

(11)

ABSTRAK

Devi Olisa Butar-Butar*) Sinta Uli**)

Puspa Melati***)

Rumah adalah kebutuhan primer bagi sebagian besar keluarga, baik yang tinggal di pedesaan maupun di perkotaan yang merupakan suatu kebutuhan primer. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut, tidak dapat dipenuhi oleh semua orang untuk membeli secara tunai. Oleh karena itu, diperlukan suatu lembaga keuangan untuk memberikan bantuan dana dalam bentuk penyaluran kredit terutama dalam Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pengaturan mengenai perumahan ini terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman. Judul dari skripsi ini adalah “peranan developer dalam perjanjian jual beli rumah melalui kredit pemilikan rumah” sementara permasalahan yang dibahas adalah peranan developer dalam jual beli rumah melalui kredit pemilikan rumah yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pihak pembeli, bagaimana pelaksanaannya, dan peranan developer kepada pembeli dan pihak bank.

Dengan alasan di atas, dalam penulisan skripsi ini penulis melakukan penelitian yang dilakukan di perumahan Syukur Indah dengan menggunakan metode pendekatan penelitian hukum normatif dan yuridis empiris yaitu suatu cara atau prosedur yang digunakan untuk memecahkan masalah dengan terlebih dahulu menggunakan meneliti data sekunder yang ada kemudian dilanjutkan dengan penelitian data primer dilapangan.

(12)

Pengadaan Perumahan dan Pemukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Sarusun Bersubsidi.

Kata Kunci : Developer, Perjanjian jual-Beli, Kredit Pemilikan Rumah

*) Mahasiswa

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perumahan dan pemukiman merupakan kebutuhan dasar manusia dan

mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta pribadi

bangsa. Dan perlu dibina serta dikembangkan demi kelangsungan dan

peningkatan hidup dan penghidupan masyarakat. Perumahan dan pemukiman

tidak dapat dilihat sebagai sarana kebutuhan kehidupan semata-mata, tetapi lebih

dari pada itu merupakan proses bermukim manusia dalam menciptakan ruang

kehidupan untuk memasyarakatkan dirinya dan merupakan jati diri.

Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, di tetapkan bahwa pembangunan

perumahan dan pemukiman merupakan upaya untuk memenuhi salah satu

kebutuhan dasar manusia, sekaligus untuk meningkatkan mutu lingkungan

kehidupan, memberi arah pada pertumbuhan wilayah, memperluas lapangan kerja

serta menggerakkan kegiatan ekonomi dalam rangka peningkatan dan pemerataan

kesejahteraan rakyat. Sehubungan dengan itu upaya pembangunan perumahan

dan pemukiman terus ditingkatkan untuk menyediakan perumahan dengan jumlah

yang makin meningkat, dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat terutama

(14)

persyaratan minimum bagi perumahan dan pemukiman, termasuk pembangunan

kota-kota baru, perlu diperhatikan kondisi dan pengembangan nilai-nilai sosial

budaya masyarakat, laju pertumbuhan penduduk dan penyebarannya, pusat-pusat

produksi dan tata guna tanah dalam rangka membina kehidupan masyarakat yang

maju. Pembangunan perumahan dan pemukiman harus dapat pula mendorong

perilaku hidup sehat dan tertib serta ikut mendorong kegiatan pembangunan di

sektor lain. Pembangunan perumahan dan pemukiman perlu dilaksanakan secara

terpadu dan untuk itu perlu di tingkatkan kerja sama antara pemerintah pusat dan

daerah, usaha swasta, koperasi dan masyarakat luas. Untuk membiayai

pembangunan perumahan dan pemukiman, maka lembaga pembiayaan yang

melayani pembangunan perumahan perlu ditingkatkan dan dikembangkan

perannya sehingga dapat mendorong terhimpunnya modal yang memungkinkan

pembangunan rumah milik dan rumah sewa dalam jumlah besar. Sejalan dengan

itu perlu di ciptakan iklim yang menarik bagi pembangunan perumahan baik oleh

masyarakat maupun oleh perorangan antara lain dengan penyediaan kredit yang

memadai, pengaturan persewaan dan hipotik perumahan. Di samping itu perlu di

dorong partisipasi masyarakat dalam pemupukan dana bagi perumahan.1

Perbankan merupakan salah satu sumber dana diantaranya dalam bentuk

perkreditan bagi masyarakat perorangan atau badan usaha untuk memenuhi

kebutuhan konsumsinya atau untuk meningkatkan produksinya. Kebutuhan yang

1

Dr. Andi Hamzah, SH, I wayan Suandra, B.A Manalu, Dasar-dasar Hukum Perumahan,

(15)

menyangkut kebutuhan produktifnya misalnya untuk memperluas kegiatan

usahanya, sedangkan kepentingan yang bersifat konsumtif misalnya untuk

membeli rumah sehingga masyarakat dapat memanfaatkan pendanaan dari Bank

yang di kenal Kredit Pemilikan Rumah atau sering dikenal dengan singkatan

KPR. Salah satu Bank Milik Negara yang secara luas telah menyediakan

pendanaan bagi masyarakat untuk membeli rumah dengan berbagai type dan

harga adalah Bank Tabungan Negara (BTN). Bank ini telah membuktikan ikut

memberi kontribusi dalam pembangunan Negara, turut mensejahterakan warga

negaranya dengan menyediakan Kredit Pemilikan Rumah untuk memenuhi salah

satu pokok dalam hidup seseorang, sehingga jutaan masyarakat Indonesia telah

memiliki rumah yang memadai dan layak sehingga hidupnya menjadi lebih

tentram dan sejahtera. 2 Dalam Undang- Undang Perbankan sendiri pengertian kredit dijabarkan dalam Pasal 1 angka 11, kredit adalah penyediaan uang atau

tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau

kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan

pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan

pemberian bunga. Jadi kredit adalah penyediaan uang ataupun tagihan-tagihan

yang dapat disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan pinjam meminjam

antara bank dengan pihak lain dalam hal mana pihak peminjam berkewajiban

melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.3

2

Sutarno, SH.M.M, Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank, C.V Alfabeta, 2003, Hal 1

3

(16)

Perlu dipahami bahwa sumber dana perbankan yang dipinjamkan kepada

masyarakat dalam bentuk kredit tersebut bukan dana milik bank sendiri, karena

modal perbankan juga sangan terbatas, tetapi merupakan dana-dana masyarakat

yang dipinjam pada bank tersebut sehingga perbankan berusaha dan

berlomba-lomba menarik dan mengumpulkan dana masyarakat agar bersedia menyimpan

dananya pada bank tersebut dengan berbagai undian, hadiah dan iming-iming

lainnya dengan tujuan semata-mata agar masyarakat menyimpan dananya dalam

bank untuk waktu yang lama. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia ini,

kegiatan bank terutama dalam pemberian kredit merupakan salah satu kegiatan

bank yang sangat penting dan utama sehingga pendapatan dari kredit yang berupa

bunga merupakan komponen pendapatan paling besar dibandingkan dengan

pendapatan jasa-jasa diluar bunga kredit yang biasa disebut fee base income.

Berbeda dengan bank-bank di negara-negara yang sudah maju laporan keuangan

menunjukkan bahwa komponen pendapatan bunga dibanding dengan pendapatan

jasa-jasa perbankan lainnya sudah cukup berimbang.4

Jika dilihat dari hukum bisnis sektor perumahan/properti adalah usaha

yang beresiko tinggi dengan modal yang cukup besar tentulah memerlukan

perencanaan dan strategi yang jitu dan tepat untuk menghindari kerugian, mulai

dari penetapan lokasi, pembebasan tanah, pematangan tanah, izin-izin administrasi

pembangunannya sampai kepada masalah pemasarannya.

4

(17)

Pemasaran perumahan ini dilakukan dengan banyak cara antara lain

pemasangan iklan, penerbitan brosur-brosur dan juga melalui pemasaran

penawaran dipameran-pameran perumahan. Pemasaran ini sudah berlangsung

sejak rumah masih dalam bentuk rancangan/belum selesai dibangun dan sesudah

selesai dibangun. Hebatnya sistem pemasaran yang dilakukan membuat

konsumen kadang kala tidak berpikir jauh kedepan dan meneliti dengan seksama

status rumah yang sedang dibangun bagaimana keberadaan tanahnya secara

hukum dan bagaimana juga status hukum dari si penjual yang dalam hal ini adalah

developer. Yang penting bagi si konsumen kadangkala hanyalah bagaimana

bentuk rumah yang dipasarkan, fasilitasnya, lokasinya, kenyamanannya tanpa

mempertimbangkan keabsahan dari rumah yang ditawarkan tersebut. Sehingga

terdengarlah adanya kasus-kasus perumahan fiktif, dimana konsumen telah

memesan rumah yang ditawarkan dan membayar cicilannya tetapi rumah tak

kunjung dibangun dan tak jarang pula kemudian si developer melarikan diri

sehingga tinggalah konsumen yang kebingungan harus menuntut kepada siapa.

Masalah lain yang juga sering timbul adalah telah selesainya rumah dibangun

namun tidak memenuhi persyaratan tehnis dan administrasi. Dan ada kalanya

juga tanah tempat perumahan dibangun ternyata masih dalam sengketa karena si

developer belum memenuhi seluruh kewajibannya sebagai developer sebelum

(18)

Dari pihak developer sendiri tak jarang pula mendapat kerugian dimana

rumah telah selesai di bangun namun konsumen kurang berminat, karena

harganya terlalu mahal, lokasi yang kurang strategis dan banyak hal lain lagi. Hal

ini dapat terjadi jika pemasaran dilakukan setelah rumah selesai dibangun.

Bagi masyarakat dengan golongan menengah ke bawah, membeli rumah

secara kontan atau tunai adalah suatu hal yang cukup berat. Apabila tersedia

rumah dengan fasilitas kredit pemilikan rumah di komplek yang terkenal cukup

elit harga satuan rumah otomastis melebihi rumah jika di jual diluar komplek. Di

bangunnya Perumahan Syukur Indah ini sengaja untuk orang-orang yang ingin

memiliki rumah pribadi dengan harga yang relatif lebih rendah dari harga jual

rumah di komplek lainnya. Perumahan Syukur Indah ini bekerja sama dengan

pihak bank yaitu bank BTN yang memang terkenal banyak membantu

usaha-usaha ataupun melakukan pinjaman kredit. Di sini penulis ingin mengetahui

apa-apa saja syarat yang harus dipenuhi oleh pihak pembeli (konsumen) kepada pihak

Penjual (Developer), Bagaimana pelaksanaan perjanjian pembelian rumah secara

kredit pemilikan rumah ini oleh pihak developer kepada pihak konsumen, dan

apa-apa saja peran si developer ini baik terhadap pembeli dan bagaimana

peranannya di bank. Tujuan penulis mengangkat judul ini agar menambah

wawasan dan pengetahuan dibidang jual-beli rumah secara kredit perumahan dan

(19)

yang hendak akan membeli rumah, pihak developer, para praktisi hukum bahkan

untuk penulis sendiri. Dari hal-hal di atas akhirnya Penulis tertarik untuk

mengangkat bagaimana jual-beli dengan pihak developer secara kredit pemilikan

rumah, dan penulis mengangkat judul Peran developer Dalam Perjanjian Jual-Beli

Rumah Melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Peraturan mengenai keberadaan

developer dan jual beli rumah antara konsumen dan developer terdapat di dalam

Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 09/KPTS/M/1995 tentang

Pedoman Pengikatan Jual Beli Rumah. Pengaturan mengenai perjanjian terdapat

di dalam Buku III Bab Kedua Bagian kesatu dan pengaturan mengenai jual-beli

terdapat di dalam Buku III Bab Kelima Bagian Kesatu. Pengaturan mengenai

sektor perumahan dapat ditemui dalam UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perubahan

Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Ketentuan Pokok Perumahan

dan Pemukiman dan UU No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun yang mana

keduanya mengacu pada UU No. 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok Agraria.

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kredit pemilikan rumah ini

terdapat di dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat (Permen) Nomor

7/PERMEN/M/2007 Tentang Pengadaan Perumahan dan Pemukiman Dengan

Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Sarusun Bersubsidi.

Peraturan dan/atau Undang-Undang di atas dapat menjadi kepastian hukum

(20)

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian dan latar belakang yang telah di paparkan oleh penulis

di atas maka penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas pada skripsi

ini yakni sebagai berikut:

1. Syarat-syarat apa saja yang harus di penuhi oleh pihak pembeli agar dapat

membeli rumah secara Kredit Pemilikian Rumah (KPR) pada pihak

developer?

2. Bagaimana pelaksanaan perjanjian pembelian Kredit Pemilikan rumah (KPR)

oleh pihak developer kepada pihak pembeli ?

3. Apa-apa saja peran developer dalam sahnya suatu perjanjian jual-beli rumah

secara KPR baik terhadap pembeli maupun pihak Bank?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan secara umum yang hendak dicapai dalam penelitian ini

adalah sesuai dengan pokok permasalahan yang ada maka tujuan penulisan skripsi

ini adalah:

1. Untuk mengetahui syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh pihak

pembeli selaku konsumen agar dapat membeli rumah secara Kredit

(21)

2. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan perjanjian pembelian Kredit

Pmilikan Rumah (KPR) oleh pihak pembeli kepada pihak developer.

3. Untuk mengetahui apa-apa saja peran developer dalam sahnya suatu

perjanjian jual-beli rumah secara Kredit Pemilikan Rumah (KPR) baik

terhadap pembeli maupun pihak bank.

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat secara teoritis, yakni berupa :

Hasil penelitian ini akan dapat menambah wawasan dan pengetahuan

dibidang karya ilmiah serta diharapkan dapat melengkapi dan mengembangkan

perbendaharaan ilmu hukum perdata bagi penulis khususnya di bidang hukum

perjanjian yang berkaitan dengan “peranan developer dalam perjanjian jual-beli

rumah secara Kredit Pemilikan Rumah (KPR)”.

Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi penulis dalam melakukan

perjanjian jual-beli rumah secara Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terhadap pihak

developer.

2.Manfaat secara praktis berupa:

Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi

(22)

gambaran bagi berbagai pihak tentang peranan developer dalam perjanjian

jual-beli rumah secara Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Penelitian ini merupakan latihan dan pembelajaran dalam menerapkan

teori yang diperoleh sehingga menambah pengetahuan, pengalaman dan

dokumentasi ilmiah.

E. Metode Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis berusaha untuk mengumpulkan

informasi dan data-data yang di perlukan untuk menjadi bahan dalam penulisan

skripsi ini. Bahan-bahan yang telah dikumpulkan tersebut haruslah mempunyai

hubungan satu sama lainnya yang berhubungan dengan judul skripsi ini. Dalam

penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode:

1. Jenis penelitian

Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian non doktrinal, yaitu

penelitian berupa studi empiris untuk menemukan teori-teori mengenai proses

terjadinya dan mengenai proses bekerjanya hukum di dalam masyarakat.5

Soerjono Soekanto menyebut penelitian ini sebagai penelitian hukum empiris.6

5

Bambang Sugono,Metodogi Penelitian Hukum, Jakarta, PT. Rajagrafindo Persada,2007, hal 42

6 Ibid.

Penulis juga melakukan metode Library Research (Penelitian Kepustakaan) yang

(23)

sekunder.

7

2.

Data dan Sumber data

Penelitian ini bertujuan menemukan landasan hukum yang jelas

dalam meletakkan persolan ini dalam perspektif hukum perikatan yakni

tentang terhadap jual-beli melalui kredit pemilikan rumah.

Pada umumnya data dibagi dalam dua jenis data yakni data primer

dan data sekunder. Data primer (

primary data

) adalah data yang diperoleh

peneliti langsung dari sumber pertama, yakni perilaku individu atau

masyarakat. Untuk memperoleh data primer, perlu dilakukan pengumpulan

data langsung kepada

masyarakat dengan cara wawancara,

quisioner/angket, pengamatan (observasi) baik secara partisipasi maupun

nonpartisipatif. Data sekunder adalah data yang tidak diperoleh dari

sumber pertama. Data sekunder bisa diperoleh dari dokumen-dokumen

resmi, buku-buku, hasil penelitian, laporan, buku harian,surat kabar,

makalah, dan lain sebagainya.

8

3.

Alat pengumpul data

Pada skripsi ini digunakan 2 (dua) alat pengumpul data yakni:

7

Prof. Dr. Soerjono Soekamto, SH, M.A, Sri Mamudji, SH, M.L.L, Penelitian Hukum

Normatif, Jakarta, PT. Rajagrafindo Persada, 2003, hal 12

8

Edy Ikhsan dan Mahmul siregar, Bahan Ajar Metode Penelitia dan Penulisan Hukum,

(24)

a) Studi kepustakaan, yakni penelitian yang dilakukan berdasarkan

bahan-bahan bacaan, dengan cara membaca buku-buku, literatur-literatur, dan

peraturan-peraturan yang berhubungan dengan materi yang di bahas dalam

skripsi ini.

b) Studi lapangan, yakni penelitian yang dilakukan secara langsung pada

objeknya. Pada penulisan skirpsi ini penulis mengadakan penelitian secara

langsung dengan mendatangi objek penelitian untuk mendapatkan data-data,

informasi-informasi, dan juga keterangan-keterangan yang diperlukan yang

dilakukan penulis pada Perumahan Syukur Indah. Wawancara dilakukan

pada developer Perumahan Syukur Indah yang bernama H. Jawakil untuk

memperoleh informasi-informasi yang dibutuhkan penulis untuk penulisan

skripsi ini.

4. Analisis data

Metode yang di gunakan dalam menganalisis data adalah analisis

kualitatif, yaitu menganalisis data yang didasarkan atas kualitas data yang

digunakan untuk memecahkan permasalahan di dalam penelitian ini yang

kemudian dituangkan dalam bentuk deskriptif. Alasannya bahwa penelitian ini

bertujuan untuk menggambarkan atau melukiskan secara jelas dan rinci,

sistematis dan menyeluruh.

Data primer dan data sekunder yang telah di susun secara sistematis

(25)

Metode kualitatif adalah cara penelitian yang menghasikan penelitian yang

bersifat deskriptif analitis.

F.

Keaslian Penulisan

Penulisan ini didasarkan oleh ide, gagasan, dan pemikiran penulis

secara pribadi dan telah ditelusuri di Kepustakaan dan tidak ada judul yang

sama, kalaupun ada judul yang sama tetapi berbeda dalam permasalahan

dan tempat riset. Oleh karena itu skripsi ini adalah hasil dari karya penulis

sendiri yang disusun dengan cara mempelajari, membaca, mengutip

data-data yang ada pada buku-buku, literatur-literatur, dan peraturan-peraturan

yang berkaitan dengan judul skripsi penulis. Disamping itu juga penulis

melakukan penelitian ke lapangan yaitu Perumahan Syukur Indah. Oleh

karena itu skripsi ini adalah asli.

G.

Sistematika Penulisan

Di dalam penulisan skripsi ini sangatlah diperlukan suatu sistematika

penulisan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penulis dalam melakukan

penulisan ini, dan juga untuk memudahkan pembaca untuk mengerti dan

memahami isi dari skripsi ini. Skripsi ini dibahas dalam lima bab yang

masing-masing terdiri dari sub-sub bab. Adapun rinciannya adalah sebagai

(26)

BAB I:PENDAHULUAN

Pendahuluan merupakan gambaran terhadap masalah-masalah yang akan

dibahas pada bab-bab selanjutnya. Pada bab ini terdiri atas 7 (tujuh) sub

bab yakni latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat

penulisan, metode penulisan, keaslian penulisan, sistematika.

BAB II : HUKUM PERJANJIAN SECARA UMUM

Di dalam bab ini penulis membahas tentang Pengertian Umum Tentang

Perjanjian, Objek dan Subjek Perjanjian, Lahirnya Perjanjian, Asas-asas

Perjanjian, dan Hapusnya Perjanjian.

BAB III KAJIAN HUKUM TENTANG JUAL-BELI RUMAH SECARA

KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR)

Di dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang Perjanjian Jual-Beli

Kredit Pemilikan Rumah, Syarat Sahnya Suatu Perjanjian Jual-Beli Kredit

Pemilikan Rumah, Subjek dan Objek Perjanjian Jual-Beli Kredit

Pemilikan Rumah, Hak dan Kewajiban para Pihak dalam Perjanjian

Jual-Beli Kredit Pemilikan Rumah, Berakhirnya Perjanjian Jual-Jual-Beli Kredit

Pemilikan Rumah.

BAB IV: PERANAN DEVELOPER DALAM PERJANJIAN JUAL-BELI

(27)

Di dalam bab ini penulis akan berusaha menjelaskan dengan urutan

sebagai berikut: Syarat Sahnya Perjanjian Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

antara Pihak Pembeli dengan Pihak Developer, Pelaksanaan Perjanjian

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) oleh Pihak Pembeli kepada Pihak

Developer, dan Peran Developer dalam Perjanjian Jual-Beli Rumah secara

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Kepada Pihak Pembeli dan Pihak Bank.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dari hal-hal yang telah diuraikan

dan beberapa saran mengenai peranan developer dalam perjanjian jual-beli

(28)

BAB II

HUKUM PERJANJIAN SECARA UMUM A. Pengertian Umum Tentang Perjanjian

Sebelum penulis menguraikan apa itu perjanjian, ada baiknya jika penulis

membicarakan dulu apa yang dimaksud dengan perikatan. Perikatan melahirkan

kewajiban dalam lapangan harta kekayaan. Rumusan tersebut membawa

konsekuensi bahwa seluruh harta kekayaan seseorang atau badan yang di akui

oleh badan hukum, akan dipertaruhkan dan di jadikan jaminan atas setiap

perikatan orang perorangan dan atau badan hukum tersebut.9

Perikatan yang bersumber dari Undang-Undang semata-mata adalah

perikatan yang dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu, ditetapkan

melahirkan suatu hubungan hukum diantara pihak-pihak yang bersangkutan,

terlepas dari kemauan pihak-pihak tersebut. Perikatan yang bersumber dari

Undang-Undang sebagai akibat dari perbuatan orang maksudnya ialah bahwa

dengan dilakukannya serangkaian tingkah laku oleh seseorang, maka

Undang-Undang melekatkan akibat hukum berupa perikatan terhadap orang tersebut.

Tingkah laku seseorang tadi mungkin perbuatan yang menurut hukum (di Perjanjian adalah

sumber dari perikatan. Lahirnya suatu perikatan dapat dibagi atas dua yaitu

perikatan yang lahir dari perjanjian dan perikatan yang lahir dari Undang-Undang.

9

(29)

bolehkan Undang-Undang) atau mungkin pula merupakan perbuatan yang

tidak di bolehkan Undang-Undang (melawan hukum).

10

Perikatan yang lahir dari perjanjian pada umumnya yang paling

banyak terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari, dan yang ternyata juga

banyak di pelajari oleh ahli hukum, serta dikembangkan secara luas oleh

para legislator, para praktisi hukum, serta juga para cendikiawan hukum,

menjadi aturan hukum positif yang tertulis, yurisprudensi dan

doktrin-doktrin hukum yang dapat kita temui dari waktu ke waktu.

Perikatan yang

lahir dari Undang-Undang diatur dalam Pasal 1352-1353 KUHpdt.

11

Berbeda

dengan perikatan yang lahir dari Undang-Undang, perikatan yang lahir dari

perjanjian ini tidak mungkin terjadi tanpa dikehendaki oleh para pihak yang

terlibat atau membuat perjanjian tersebut, sedangkan perikatan yang lahir

dari Undang-Undang yang menerbitkan kewajiban bagi salah satu pihak

dalam perikatan tersebut, meskipun sesungguhnya para pihak tidak

menghendakinya.

12

Perikatan dan perjanjian menunjuk pada dua hal yang berbeda.

Perikatan adalah suatu istilah atau pernyataan yang bersifat abstrak, yang

10

Ibid, hal 7-8

11

Kartini Muljadi, Gunawan Widjaja, perikatan yang lahir dari perjanjian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,2003

12

(30)

menunjuk pada hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan pada dua

atau lebih orang atau

pihak, dimana hubungan hukum tersebut melahirkan

kewajiban pada salah satu pihak yang terlibat dalam hubungan hukum tersebut.13

Perjanjian merupakan sumber dari perikatan. Perjanjian melahirkan

perikatan, yang menciptakan salah satu pihak atau lebih pihak dalam perjanjian.

Kewajiban yang dibebankan pada debitor dalam perjanjian, memberikan pada

kreditor dalam perjanjian untuk menuntut pelaksanaan prestasi dalam perikatan

yang lahir dari perjanjian.14

Jika kita lihat kembali dengan seksama pada Pasal 1313 KUHPdt tersebut

ternyata menegaskan kembali bahwa perjanjian mengakibatkan seseorang

mengikatkan dirinya terhadap orang lain. Ini berarti dari suatu perjanjian lahirlah

kewajiban atau prestasi dari satu atau lebih orang (pihak) kepada satu atau lebih

orang (pihak) lainnya, yang berhak atas prestasi tersebut. Rumusan tersebut

memberikan konsekuensi hukum bahwa dalam suatu perjanjian akan selalu ada

dua pihak, dimana satu pihak adalah pihak yang wajib berprestasi (debitor) dan

pihak lainnya adalah pihak yang berhak atas prestasi tersebut (kreditor).

Masing-masing pihak tersebut dapat terdiri atas satu atau lebih orang, bahkan dengan

13

Ibid,hal 1

14

(31)

berkembangnya ilmu hukum, pihak tersebut dapat juga terdiri dari badan

hukum.15

Pasal ini menerangkan secara sederhana tentang pengertian perjanjian

yang menggambarkan tentang adanya dua pihak yang saling mengikatkan diri.

Pengertian ini sebenarnya tidak begitu lengkap, tetapi dengan pengertian ini sudah

jelas bahwa dalam perjanjian itu terdapat satu pihak mengikatkan diri kepada

pihak lain.

Perjanjian adalah salah satu sumber perikatan. Untuk lebih jelasnya lagi

kita dapat melihat Pasal 1313 KUHPdt yang berbunyi sebagai berikut :

“suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan nama satu orang atau

lebih mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih”

16

Ketentuan Pasal ini dikatakan kurang memuaskan karena dianggap

memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah seperti

diuraikan sebagai berikut 17

a.Hanya menyangkut sepihak saja. Hal ini diketahui dari perumusan “satu

orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih

lainnya”. Kata kerja “mengikatkan” sifatnya hanya datang dari satu :

15

Ibid, Hal 92 16

Prof. Dr. Ahmadi Miru, S.H, M.S dan Sakka Pati S.H, M.H, Hukum Perikatan

Penjelasan Makna Pasal 1233 sampai 1456 BW,PT RajaGrafindo Persada,Jakarta, 2008, hal 63

17

(32)

pihak saja. Tidak dari kedua belah pihak. Seharusnya perumusan itu

“saling mengikatkan diri”, jadi ada konsensus antara pihak-pihak.

b. Kata perbuatan mencakup juga tanpa konsensus. Dalam pengertian

“perbuatan” termasuk juga tindakan melaksanakan tugas tanpa kuasa

(zaakwaarneming), tindakan melawan hukum (onrechtmatige daad) yang

tidak mengandung suatu konsensus seharusnya dipakai kata

“persetujuan”.

c. Pengertian perjanjian terlalu luas. Pengertian perjanjian di Pasal tersebut

terlalu luas, karena mencakup juga pelangsungan perkawinan, janji kawin,

yang diatur di lapangan hukum keluarga. Padahal yang di maksud adalah

hubungan antara kreditur dan debitur dalam lapangan harta kekayaan saja.

Perjanjian yang dikehendaki oleh Buku Ketiga KUHPdt sebenarnya

hanyalah perjanjian yang bersifat kebendaan, bukan perjanjian yang

bersifat personal.

d.Tanpa menyebut tujuan alam perumusan Pasal itu tidak disebutkan tujuan

mengadakan perjanjian, sehingga pihak-pihak mengikatkan diri itu tidak

jelas untuk apa.

Atas dasar alasan-alasan yang dikemukakan di atas, maka perlu

dirumuskan kembali apa yang dimaksud dengan perjanjian itu. Berdasarkan

(33)

dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam

lapangan kekayaan”. Hukum yang mengatur tentang perjanjian ini disebut hukum

perjanjian (law of contrac). Perumusan ini erat kaitannya dengan pembicaraan

tentang syarat-syarat perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUHpdt yang akan

dibicarakan kemudian.

Perjanjian juga mengandung pengertian suatu hubungan kekayaan harta

benda antara dua orang atau lebih yang memberikan kekuatan hak pada satu pihak

untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak yang lain untuk

menunaikan prestasi.

Kalau demikian perjanjian adalah hubungan hukum yang telah ada

ketentuan Undang-Undangnya, dimana salah satu pihak atau lebih mengikatkan

diri dengan satu pihak atau lebih dalam suatu lingkup harta kekayaan dengan

memperoleh keuntungan serta memenuhi suatu syarat sahnya perjanjian. Setiap

perjanjian baik tertulis maupun tidak tertulis adalah sah dan mengikat bagi kedua

belah pihak sehingga masing-masing dari mereka harus menerima hak dan

menjalankan kewajiban sesuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam suatu

perjanjian tersebut.

Di dalam suatu perjanjian hubungan hukum antara pihak yang satu

dengan pihak yang lain tidak bisa timbul dengan sendirinya. Hubungan itu

(34)

yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menimbulkan hubungan hukum

perjanjian,sehingga terhadap satu pihak diberi hak oleh pihak yang lain untuk

memperoleh prestasi sedangkan pihak yang lain itupun menyediakan diri dibebani

dengan kewajiban untuk menunaikan prestasi.

Dalam perjanjian, apa yang di perjanjikan tidak hanya merupakan untuk

melakukan sesuatu hal saja, tetapi juga dapat berupa menyerahkan suatu barang,

atau tidak berbuat sesuatu hal saja, hal ini merupakan prestasi dari suatu

perjanjian.18

Perjanjian dapat dibedakan menurut berbagai cara. Pembedaan tersebut

adalah sebagai berikut : 19

1. Pejanjian Timbal Balik

Perjanjian timbal balik adalah perjanjian yang menimbulkan kewajiban

pokok bagi kedua belah pihak. Misalnya perjanjian jual-beli

2. Perjanjian Cuma-Cuma (Pasal 1314 KUHPdt)

Pasal 1314:

“suatu persetujuan dibuat dengan Cuma-Cuma atau atas beban, suatu persetujuan dengan Cuma-Cuma adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu memberikan suatu keuntungan kepada, pihak yang lain,

18

Ibid, hal 78-79

19

(35)

tanpa menerima suatu manfaat bagi dirinya sendiri. Suatu persetujuan atas beban, adalah suatu persetujuan yang mewajibkan masing-masing pihak memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu”

Perjanjian Cuma-Cuma adalah perjanjian yang memberikan keuntungan

bagi salah satu pihak saja, misalnya hibah.

3. Perjanjian Atas Beban

Perjanjian atas beban adalah perjanjian dimana terhadap prestasi dari pihak

yang satu selalu terdapat kontra prestasi dari pihak lain, dan antara kedua

prestasi itu ada hubungannya menurut hukum.

4. Pejanjian Bernama (Benoemd)

Perjanjian khusus adalah perjanjian yang mempunyai nama sendiri,

maksudnya ialah bahwa pejanjian-perjanjian tersebut diatur dan diberi nama

oleh pembentuk Undang-Undang berdasarkan tipe yang paling banyak

terjadi sehari-hari. Perjanjian khusus terdapat dalam Bab V sampai dengan

Bab XVII KUHPdt.

5. Perjanjian Tidak Bernama

Diluar perjanjian bernama, tumbuh pula perjanjian tidak bernama, yaitu

perjanjian-perjanjian yang tidak diatur di dalam KUHPdt, tetapi terdapat di

(36)

disesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak yang mengadakannya, seperti

perjanjian kerjasama, perjanjian pemasaran, perjanjian pengelolaan.

Lahirnya perjanjian ini di dalam praktek adalah berdasarkan asas kebebasan

berkontrak mengadakan perjanjian atau partij otonomi.

6. Perjanjian Obligatoir

Perjanjian obligatoir adalah perjanjian dimana pihak-pihak sepakat

mengikatkan diri untuk melakukan penyerahan suatu benda kepada pihak

lain. Menurut KUHPdt perjanjian jual-beli saja belum lagi mengakibatkan

beralihnya hak milik atas suatu benda dari penjual kepada pembeli. Fase ini

baru merupakan kesepakatan (konsensual) dan harus dilakukan dengan

perjanjian penyerahan (perjanjian kebendaan).

7. Perjanjian Kebendaan (Zakelijk)

Perjanjian kebendaan adalah perjanjian dengan mana seseorang

menyerahkan haknya atas suatu benda kepada pihak lain, yang memberikan

kewajiban (oblige) pihak itu untuk menyerahkan benda tersebut kepada

pihak lain (lavering,transfer). Penyerahan itu sendiri merupakan perjanjian

kebendaan. Dalam hal perjanjian jual-beli benda tetap, maka perjanjian itu

belinya disebutkan juga perjanjian jual-beli sementara (voorling

koopcontract) untuk perjanjian jual-beli benda-benda bergerak, maka

(37)

8. Perjanjian Konsensual

Perjanjian konsensual adalah perjanjian dimana diantara kedua belah pihak

telah tercapai persesuaian kehendak untuk mengadakan perikatan. Menurut

KUHPdt perjanjian ini sudah mempunyai kekuatan mengikat (Pasal 1338

KUHPdt).

9. Perjanjian Riil

Di dalam KUHPdt ada juga perjanjian-perjanjian yang hanya berlaku

sesudah terjadi penyerahan barang, misalnya perjanjian penitipan barang

(Pasal 1694 KUHpdt), pinjam pakai (Pasal 1740 KUHPdt). Perjanjian yang

terakhir ini dinamakan perjanjian riil. Perbedaan antara perjanjian

konsensual dan riil ini adalah sisa dari hukum Romawi yang untuk

perjanjian-perjanjian tertentu diambil alih oleh Hukum Perdata kita.

10. Perjanjian Liberatoir

Perjanjian dimana para pihak membebaskan diri dari kewajiban yang ada,

misalnya pembebasan hutang (Kwijtschelding) Pasal 1438 KUHPdt.

11. Perjanjian Pembuktian (Bewijsovereenkomst)

Perjanjian dimana para pihak menentukan pembuktian apakah yang berlaku

diantara mereka.

(38)

Perjanjian yang objeknya ditentukan kemudian, misalnya perjanjian

asuransi Pasal 1774 KUHPdt.

13. Perjanjian Publik

Perjanjian publik yaitu perjanjian yang sebagian atau seluruhnya di kuasai

oleh hukum publik, karena salah satu pihak yang bertindak adalah

pemerintah, dan pihak lainnnya swasta. Diantara keduanya terdapat

hubungan atasan dengan bawahan, (subordinated jadi tidak berada dalam

kedudukan yang sama (Co-ordinated), misalnya perjanjian ikatan dinas.

14. Perjanjian Campuran (contractus sui Generis)

Perjanjian campuran ialah perjanjian yang mengandung berbagai unsur

perjanjian, misalnya pemilik hotel yang menyewakan kamar

(sewa-menyewa) tapi pula menyediakan makanan (jual-beli) dan juga memberikan

pelayanan. Terhadap perjanjian campuran itu terdapat berbagai paham,

paham pertama mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan mengenai

perjanjian khusus di terapkan secara analogis sehingga setiap unsur dari

perjanjian khusus tetap ada (contractus kombinasi) dan paham kedua

mengatakan ketentuan-ketentuan yang dipakai adalah ketentuan-ketentuan

(39)

Unsur-unsur perjanjian menurut Asser dalam perjanjian terdiri dari bagian

inti (essensialia) dan bagian bukan inti (Naturaliadan Accidentalia). Unsur

Essensialia yaitu unsure yang mutlak harus ada. Unsur ini sangat erat berkaitan

dengan syarat sahnya perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata) dan untuk mengetahui

ada atau tidaknya perjanjian serta untuk mengetahui jenis perjanjiannya. Contoh :

Kesepakatan. Unsur Naturalia yaitu unsure yang lazimnya ada/sifat bawaan

perjanjian, sehingga secara diam-diam melekat pada perjanjian, misalnya :

Menjamin terhadap cacat tersembunyi, Unsur Accidentalia yaitu unsur yang harus

tegas diperjanjikan, Misalnya Pemilihan tempat kedudukan.20

Subjek dalam hukum perjanjian termasuk subyek hukum yang di atur

adalah KUHPerdata. Sebagaimana diketahui bahwa hukum perdata

mengkualifikasi subjek hukum terdiri dari dua bagian yaitu manusia dan badan

hukum. Sehingga yang membentuk perjanjian menurut hukum perdata bukan

hanya manusia secara individual ataupun kolektif, tetapi juga badan hukum atau

rechtpersoon. Badan hukum itu sendiri dapat di katakan sesuatu yang menjadi

pendukung hak dan kewajiban.21

20

Handri raharjo, SH, Hukum Perjanjian di Indonesia, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2009, hal 46

21

KamusHukum, J.C.T Simorangkir, sinar Grafika, Jakarta,2000, hal. 111

Menurut R. Surbekti, badan hukum pada

pokoknya adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak dan

kewajiban melakukan perbuatan seperti orang atau manusia, serta memiliki

(40)

Soemitro mengemukakan badan hukum adalah suatu badan yang dapat

mempunyai harta, hak serta kewajiban seperti orang pribadi. Contoh badan

hukum itu sendiri adalah koperasi, yayasan dan PT.

Subyek yang memenuhi manusia harus memenuhi syarat yang ditentukan

oleh KUHPerdata. Salah satunya adalah kecakapan untuk membuat suatu

perikatan. Kecakapan dalam hal ini harus mampu dan berwenang untuk

melakukan perjanjian. hal ini telah diatur dalam Pasal 1329 KUHPerdata.

Dengan demikian orang tersebut harus sudah dewasa, sehat pikirannya, tidak

dibawah pengampuan dan tidak ada larangan atau batasan oleh peraturan hukum

untuk melakukan perbuatan hukum yang sah. Dalam KUHPerdata kedewasaan

seseorang diatur dalam Pasal 330 KUHPerdata yang berbunyi belum dewasa

adalah meraka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun, dan tidak

lebih dulu kawin. Dalam Pasal tersebut di jelaskan bahwa seseorang di katakan

telah dewasa apabila telah berusia 21 tahun atau telah menikah.22

Dalam KUHPerdata juga ada larangan bagi sebagian pihak untuk

melakukan perjanjian. walaupun perjanjian dalam pihak telah dewasa dan Dalam

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dalam Pasal 7 dijelaskan

bahwa seseorang boleh melangsungkan perkawinan apabila pihak pria telah

mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita telah mencapai umur 16 tahun.

22

(41)

memiliki kata sepakat, tetapi ada larangan dalam KUHPerdata. Dalam Pasal 1476

KUHPerdata melarang jual-beli antara suami istri apabila diantara mereka ada

perjanjian kawin (huwelijke woorwaden) yang mengakibatkan pisahnya harta

kekayaan (sceiding van goederen). Pasal 1468 KUHPerdata melarang hakim,

jaksa, panitera, pengacara, jurusita dan notaris untuk memiliki hak-hak dan

piutang-piutang yang menjadi perkara dimuka pengadilan. Pasal 1469

KUHPerdata melarang pegawai jabatan umum dalam suatu penjualan, ikut serta

membeli barang-barang yang di jual itu, baik langsung maupun dengan perantara

orang lain, kecuali ada izin istimewa dari presiden khusus untuk benda-benda

bergerak. Pasal 1470 KUHPerdata begitu pula mereka di larang menjadi pembeli

pada penjual di bawah tangan secara langsung atau perantara, juga dilarang

menjadi pembeli terhadap pengurus-pengurus barang-barang milik Negara.

Namun dengan izin presiden mereka bebas dari larangan-larangan tersebut.

Objek dalam perjanjian adalah sesuai dengan apa yang tertera dalam

kontrak atau perjanjian yang telah disepakati. Misalnya perjanjian jual-beli mobil,

maka yang menjadi objek perjanjian tersebut adalah mobil. Dalam perjanjian

sewa menyewa rumah, maka yang menjadi objek adalah rumah. Oleh karena itu

objek perjanjian dapat dilihat dari isi perjanjian itu.

Menurut Pasal 1457 KUHPerdata memakai istilah zaak (barang/benda)

untuk menentukan apa yang menjadi objek perjanjian. objek dari perjanjian ialah

(42)

hak milik. Pasal 1332 KUHPerdata mengatakan yang menjadi pokok persetujuan

adalah barang-barang yang dapat diperdagangkan. Juga Pasal 1333 KUHPerdata

mengatakan suatu perjanjian harus mempunyai pokok suatu barang yang paling

sedikit ditentukan jenisnya, hal ini terkait dengan syarat ketiga dari Pasal 1320

KUHPerdata yaitu suatu hal terentu, yang sahnya suatu perjanjian itu harus

menyangkut objek perjanjian dengan benda-benda atau barang-barang tertentu.

Menurut Pasal 1334 KUHPerdata barang-barang yang akan ada dikemudian hari

juga dapat menjadi objek persetujuan, kecuali warisan yang terbuka.23

a. Syarat tentang barang

Syarat-syarat objektif ada beberapa macam yaitu :

Suatu perjanjian haruslah mempunya objek tertentu, sekurang-kurangnya

dapat ditentukan bahwa objek tertentu itu dapat berupa benda yang sekarang

ada dan nanti akan ada.

1) Barang itu adalah barang yang dapat diperdagangkan.

2) Barang-barang yang di pergunakan untuk kepentingan umum antara lain

seperti jalan umum, pelabuhan umum, gedung-gedung umum dan

sebagainya tidaklah dapat dijadikan objek perjanjian.

3) Dapat di tentukan jenisnya.

23

(43)

4) Barang yang akan datang.

Pasal 1332

“Hanya barang-barang yang dapat di perdagangkan saja dapat menjadi

pokok persetujuan-persetujuan

5) Objek perjanjian

Pasal 1333:

“Suatu persetujuan harus mempunyai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya.

Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu asal saja jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung”

6) Barang yang akan ada.

Pasal 1334:

“Barang yang baru, akan ada di kemudian hari dapat menjadi pokok suatu persetujuan. Tetapi tidaklah diperkenankan untuk melepaskan suatu warisan yang belum terbuka, ataupun untuk meminta diperjanjikan sesuatu hal mengenai warisan itu, sekalipun dengan sepakatnya orang yang dinantinya akan meninggalkan warisan yang menjadi pokok persetujuan itu; dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan Pasal 169, Pasal 167 dan Pasal 178 yang dilarang oleh Undang-Undang untuk dijadikan pokok perjanjian adalah benda-benda yang berada diluar perdagangan dan warisan yang belum terbuka.

b. Causa dan ketertiban umum

(44)

Pasal 1335:

“Suatu persetujuan tanpa sebab, atau telah dibuat karena sesuatu sebab

yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan”

2. Sebab yang halal

Pasal 1336:

“Jika tak dinyatakan sesuatu sebab, tetapi ada suatu sebab yang halal,

ataupun jika ada sesuatu sebab lain, dari pada yang dinyatakan,

persetujuannya namun demikian adalah sah”

3. Sebab terlarang

Pasal 1337 :

”Suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh Undang-Undang,

atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum”24

Misalnya apabila seseorang membeli tanah karena mencegah nilai uangnya

jangan turun tidak menjadi perhatian hukum. Yang menjadi perhatian hukum Undang-Undang tidak memberikan pengertian mengenai “sebab”

(oorzaak, causa). Sudah jelas bahwa yang dimaksud dengan kausa bukanlah

hubungan sebab akibat, sehingga pengertian kausa disini tidak mempunyai

hubungan sama sekali dengan ajaran kausaliteit. Yang dimaksud dengan

pengertian kausa bukan sebab yang mendorong para pihak untuk mengadakan

perjanjian, karena apa yang menjadi motif dari seseorang untuk mengadakan

perjanjian itu menjadi perhatian hukum.

24

(45)

adalah bahwa dengan membeli tanah tersebut si pembeli ingin memiliki tanah itu

dan si penjual ingin memperoleh uang dari penjualan tersebut.25

Menurut yurisprudensi yang di tafsirkan dengan kausa adalah isi atau

maksud dari perjanjian. Melalui syarat kausa, di dalam praktek maka ia

merupakan upaya untuk menempatkan perjanjian di bawah pengawasan Hakim.

Hakim dapat menguji apakah tujuan dari perjanjian tidak bertentangan dengan

Undang-Undang ketertiban umum dan kesusilaan (Pasal 1335 sampai dengan

Pasal 1337 KUHpdt).26

B. Syarat Sahnya Perjanjian

Untuk sahnya suatu perjanjian di dalam kitab Undang-Undang hukum

perdata diperlukan empat (4) syarat:

1. Adanya kata sepakat dari mereka yang mengadakan perjanjian.

2. Adanya kecakapan untuk membuat perjanjian (perikatan).

3. Perjanjian yang diadakan harus mempunyai objek tertentu.

4. Yang diperjanjikan itu adalah suatu sebab yang halal.27

Ad.1 Kesepakatan Mereka Yang Mengikatkan diri.

25

Ibid, hal 81 26

Ibid

27

Mariam Darus Badrulzaman, Penerbit Alumni bandung,KUHPerdata buku III Hukum

(46)

Sepakat maksudnya adalah bahwa dua belah pihak yang mengadakan

perjanjian setuju atau seiya sekata mengenai hal-hal pokok dari perjanjian, dengan

kata lain mereka saling menghendaki sesuatu yang sama secara timbal balik.

Adanya kemauan atas kesesuaian kehendak oleh kedua belah pihak yang

membuat perjanjian, jadi tidak boleh hanya kemauan satu pihak saja, ataupun

terjadinya kesepakatan oleh karena tekanan salah satu pihak yang mengakibatkan

adanya cacat bagi perwujudan kehendak. Kesepakatan itu di tatanya bebas,

artinya tidak ada paksaan, tekanan dari pihak manapun, betul-betul atas kemauan

sukarela pihak-pihak. Berpedoman kepada ketentuan Pasal 1321KUHPerdata

bahwa: Tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena : kekhilafan

atau kekeliruan (dwaling), pemerasan dan paksaan (dwang), penipuan (bedrog)”.

Unsur kekhilafan dan kekeliruan di bagi dalam dua bagian, yakni

kekhilafan mengenai orangnya di namakan error in persona. Dan kekhilafan

mengenai barangnya dinamakan error in subsantia. Mengenai

kekhilafan/kekeliruan yang dapat dibatalkan, harus mengenai intisari pokok

perjanjian. jadi harus mengenai objek atau prestasi yang dikehendaki. Mengenai

kekhilafan/kekeliruan mengenai orangnya tidak menyebabkan perjanjian dapat

batal (1322 KUHPdt).

Paksaan (dwang) terjadi jika seseorang memberikan persetujuannya karena

ia takut pada suatu ancaman. Dalam hal ini paksaan tersebut harus benar-benar

(47)

atau akan dibuka rahasianya jika ia tidak menyetujui perjanjian (Pasal 1324

KUHPdt).

Mengenai penipuan (bedrog) ini terjadi,apabila menggunakan perbuatan

secara muslihat sehingga pada pihak lain menimbulkan suatu gambaran yang

tidak jelas dan benar mengenai suatu hal. Untuk mengatakan terjadi suatu

penipuan, maka harus kompleks dari muslihat-muslihat itu.

Surbekti mengatakan penipuan (bedrog) terjadi apabila suatu pihak dengan

sengaja memberikan keterangan yang tidak benar disertai dengan

kelicikan-kelicikan, sehingga pihak lain terbujuk karenanya untuk memberi perizinan.28

Subjek yang melakukan perjanjian harus cakap (bekwaam) merupakan

syarat umum untuk melakukan perbuatan hukum secara sah, yaitu harus sudah Suatu penuipuan adalah apabila ada keterangan-keterangan yang tidak

benar (palsu) di sertai dengan kelicikan-kelicikan atau tipu muslihat harus ada

rangkaian kebohongan-kebohongan yang mengakibatkan orang jadi percaya,

dalam hal ini pihak tersebut bertindak secara aktif untuk menjerumuskan

seseorang. Misalnya, perbuatan memperjual-belikan sebuah rumah yang bukan

merupakan hak miliknya dengan memalsukan surat-surat.

Ad.2. Kecakapan Para Pihak Pembuat Perjanjian

28

(48)

dewasa, sehat akal pikiran dan tidak dilarang oleh suatu peraturan

perUndang-Undangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu.

Subjek hukum terbagi dua yaitu manusia dan badan hukum. Dalam hal ini

kita akan membahas subjek hukum manusia. Menurut Pasal 1329 KUHPerdata

“setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan, jika oleh Undang-Undang

tidak di nyatakan tidak cakap”.

Jadi menurut ketentuan Pasal di atas, semua orang di anggap mampu atau

cakap untuk mengikatkan diri dalam suatu persetujuan. Hal ini memberikan

kebebasan bagi setiap orang untuk melakukan perbuatan hukum.

Ketidakmampuan seseorang untuk melakukan perbuatan hukum harus di nyatakan

oleh Undang-Undang.

Ad.3. Mengenai suatu hal tertentu

Mengenai suatu hal tertentu, maksudnya membicarakan tentang objek

perjanjian-perjanjian tertentu. Mengenai perjanjian yang menyangkut tentang

barang, paling sedikit di tentukan jenisnya “bahwa barang itu sudah ada atau

sudah berada di tangan si berutang pada waktu perjanjian dibuat, tidak diharuskan

Undang-Undang”. Mengenai jumlahnya juga dapat apa yang menjadi objeknya

(49)

Dalam perjanjian pinjam meminjam, kalau seserorang meminjam uang

kepada orang lain harus jelas berupa benda uang yang dipinjamkan dan harus jelas

kapan harus dikembalikan uang tersebut. Demikian pula dengan perjanjian kredit,

pihak pemberi kredit atau pihak bank harus menyebutkan secara jelas jumlah uang

yang di pinjamkan dan harus dikembalikan uang tersebut.

Suatu perjanjian yang tidak memiliki atau memenuhi syarat seperti di atas

berakibat perjanjian itu batal demi hukum, artinya perjanjian itu tidak ada atau

tidak terjadi.

Ad.4. Suatu sebab yang halal

Pengertian sebab yang halal pada syarat keempat ini untuk suatu perjanjian

tiada lain daripada isi perjanjian. Jadi dalam hal ini harus di hilangkan salah

sangka bahwa yang dimaksud sebab disini adalah suatu sebab yang

menyebabkan seseorang membuat perjanjian tersebut. Bukan hal ini yang

dimaksud oleh Undang-Undang dengan sebab yang halal.

Sesuatu yang menyebabkan seseorang membuat perjanjian atau dorongan

jiwa untuk membuat suatu perjanjian pada asasnya tidak di hiraukan oleh

Undang-Undang. Undang-Undang hanya menghiraukan tindakan orang-orang

dalam masyarakat. Jadi yang dimaksud dengan sebab atau causa dari suatu

(50)

Yang dimaksud dengan halal atau yang diperkenankan Undang-Undang

menurut Pasal 1337 KUHPerdata adalah persetujuan yang tidak bertentangan

dengan Undang-Undang, ketertiban umum dan kesusilaan. Akibat hukum

terhadap perjanjian bercausa tidak halal, perjanjian tersebut batal demi hukum

atau perjanjian itu dianggap tidak pernah ada. Dengan demikian tidak ada dasar

untuk menuntut pemenuhan perjanjian dimuka Hakim. Dalam hal syarat sahnya

suatu perjanjian sebagaimana di atas, harus di bedakan antara syarat objektif dan

syarat subjektif, bahwa dalam syarat objektif tidak di penuhi maka perjanjian

batal demi hukum yang dianggap dari semula tidak pernah ada perjanjian atau

perjanjian tersebut tidak pernah di lahirkan. Dengan kata lain bahwa tujuan yang

mengadakan perikatan semula adalah gagal, maka dari itu tidak ada suatu alasan

bagi pihak untuk menuntut dimuka hakim.

Dalam hal syarat subjektif tidak dipenuhi, perjanjian bukan batal demi

hukum tetapi salah satu pihak mempunyai hak untuk membatalkan perjanjian itu.

Dalam hal ini yang berhak meminta pembatalan adalah yang merasa dirinya di

tipu oleh suatu hal.

Dari keempat syarat sahnya perjanjian di atas tidak ada diberikan suatu

formalitas yang tertentu disamping kata sepakat para pihak mengenai hal-hal

pokok perjanjian tersebut. Tetapi ada pengecualiannya terhadap Undang-Undang

(51)

berlaku dengan sautu formalitas tertentu yang dinamakan perjanjian formal.

Misalnya perjanjian perdamaian harus dilakukan secara tertulis.

C. Asas-Asas Yang Terkandung Dalam Perjanjian

Di dalam Buku III KUHPerdata mengatur mengenai asas dalam Hukum

Perjanjian. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut:

a. Asas Kebebasan berkontrak

Asas ini menyatakan bahwa setiap orang di perbolehkan mengadakan

perjanjian yang berupa dan berisi apa saja asalkan tidak bertentangan

dengan kesusilaan dan ketertiban umum. Seperti yang diketahui di

halaman sebelumnya bahwa asas ini diatur dalam Pasal 1338 KUHperdata

b. Asas Konsensualisme

Asas ini diatur dalam Pasal 1320 dan Pasal 1338 KUHPerdata. Dalam

asas ini di jelaskan bahwa perjanjian itu merupakan kesepakatan bersama

dari dua belah pihak. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain

dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang

oleh Undang-Undang di nyatakan cukup untuk itu. Suatu perjanjian harus

dilaksanakan dengan itikad baik.

(52)

Seseorang yang mengadakan perjanjian dengan pihak lain harus

menumbuhkan rasa saling percaya. Tanpa ada kepercayaan, maka

perjanjian itu tidak akan mungkin akan diadakan oleh para pihak.

d. Asas Kekuatan Mengikat

Dalam perjanjian terkandung suatu asas kekuatan mengikat. Terikatnya

para pihak pada perjanjian itu tidak semata-mata terbatas pada apa yang di

perjanjikan tetapi juga terhadap unsur lain sepanjang di kehendaki oleh

kebiasaan dan kepatutan serta moral.

e. Asas Persamaan Hukum

Asas ini menempatkan para pihak di dalam persamaan derajat, tidak ada

perbedaan, walaupun perbedaan warna kulit, bangsa, kekayaan, ras, dan

lain sebagainya. Masing-masing pihak harus saling menghormati sesama

makhluk tuhan.

f. Asas Keseimbangan

Asas ini menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan

perjanjian itu. Salah satu pihak menuntut prestasi, sedangkan pihak

lainnya berkewajiban untuk memenuhi perjanjian tersebut.

(53)

Kepastian hukum ini terungkap dari kekuatan mengikat perjanjian itu yaitu

sebagai Undang-Undang bagi para pihak.

h. Asas Moral

Asas ini berdasarkan kesusilaan atau moral seseorang sebagai panggilan

dari hati nuraninya.

i. Asas Kepatutan

Asas ini di tuangkan dalam Pasal 1339 KUHPerdata. Asas kepatutan ini

berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian. melalui asas ini

ukuran tentang hubungan ditentukan juga oleh rasa keadilan dalam

masyarakat.

j. Asas Kebiasaan

Asas ini menyatakan bahwa perjanjian itu dapat timbul dikarenakan

adanya kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dari asas

ini timbul perjanjian-perjanjian yang tidak ada diatur dalam perdata

misalnya beli sewa.

29

29

Mariam Darus, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya bakti, Bandung, 2001, Hal. 83-89

(54)

Jika dalam pembahasan mengenai musnahnya kebendaan yang

terutang sebagai salah satu alasan hapusnya perikatan, kita berbicara syarat

objektif dalam suatu perjanjian, maka dalam pembahasan mengenai

kebatalan dan pembatalan sebagai alasan untuk menghapus perikatan, kita

berbicara soal syarat subjek perjanjian. Tidak terpenuhinya syarat subjektif

yang dimaksudkan dalam angka 1 dan angka 2 Pasal 1320 KUHPdt,

memberikan alasan kepada salah satu pihak dalam perjanjian untuk

membatalkan perjanjian yang telah dibuat olehnya. Jadi pembatalan atas

suatu perjanjian dapat dimintakan jika tidak telah terjadi kesepakatan bebas

dari para pihak yang membuat perjanjian, baik karena telah terjadi

kekhilafan, paksaan atau penipuan pada salah satu pihak dalam perjanjian

pada saat perjanjian dibuat (Pasal 1321 sampai dengan Pasal 1328

KUHPdt) dan salah satu pihak dalam perjanjian tidak cakap untuk bertindak

dalam hukum (Pasal 1330 sampai dengan Pasal 1331 KUHPdt), dan atau

tidak memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan atau perbuatan

hukum tertentu.

30

30

(55)

Dalam hal ini tidak terjadi kesepakatan secara bebas, maka pihak yang

telah khilaf, dipaksa, ditipu tersebut, memiliki hak untuk meminta pembatalan

perjanjian pada saat ia mengetahui telah terjadi kekhilafan, paksaan, atau

penipuan pada dirinya. Sedangkan dalam hal terdapat ketidakcakapan pada salah

satu pihak dalam perjanjian, maka pihak yang tidak cakap (setelah ia cakap), dan

atau wakilnya yang sah berhak untuk memintakan pembatalan perjanjian yang

tidak memenuhi kedua persyaratan subjektif tersebut, maka berarti perjanjian

tersebut pun hapus demi hukum.31

Dari pelbagai Pasal dari KUHPdt dapat di simpulkan bahwa pengertian

pembatalan perjanjian harus di gambarkan sebagai berikut : ada suatu pembatalan

mutlak (absolute nietigheid), apabila suatu perjanjian harus dianggap batal,

meskipun tidak di minta oleh suatu pihak. Dan perjanjian seperti ini dianggap

tidak ada sejak semula dan terhadap siapaun juga. Batal mutlak adalah suatu

perjanjian yang diadakan dengan tidak mengindahkan cara yang di kehendaki Perjanjian yang dibuat tidak dengan kesepakatan bebas yaitu karena terjadi

kekhilafan, paksaan dan penipuan, di dalam KUHPdt dalam rumusan Pasal 1449

secara tegas menyatakan bahwa perjanjian tersebut dapat dibatalkan, berdasarkan

tuntutan. Ini berarti perjanjian membawa akibat bahwa perjanjian tersebut

diancam dengan kebatalan, dan dapat dibatalkan oleh pihak yang telah mengalami

kekhilafan

31

(56)

oleh Undang-Undang secara mutlak, misalnya suatu pemberian hadiah menurut

KUHPdt yang tidak dilakukan dengan akte notaris (Pasal 1682 KUHPdt). Juga

batal mutlak adalah suatu perjanjian yang causanya bertentangan dengan

(57)

BAB III

KAJIAN HUKUM TENTANG JUAL-BELI RUMAH SECARA KREDIT PEMILIKAN RUMAH

A. Perjanjian Jual Beli Kredit Pemilikan Rumah

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) adalah kredit yang diberikan oleh Bank

kepada Debitur untuk di gunakan membeli rumah dan/atau berikut tanah guna di

miliki dan di pergunakan sendiri. Perjanjian kredit pemilikan rumah itu sendiri

adalah perjanjian yang di buat oleh pihak bank (kreditur) dengan nasabah

(debitur) guna terlaksananya pelepasan KPR. Jadi KPR baru dapat terlaksana

apabila telah terjadi akad kredit diantara para pihak.

Perjanjian KPR ini dibuat secara tertulis. Hal ini berdasarkan isi dari

Instruksi Presidium Kabinet No. 15/EK/10 tanggal 3 Oktober 1966 jo surat

Edaran Bank Indonesia Unit I No. 2/539/UPK/Pemb tanggal 8 Oktober 1966 yang

menginstruksikan kepada masyarakat perbankan bahwa dalam memberikan kredit

dalam bentuk apapun bank-bank wajib mempergunakan akad perjanjian kredit.

1. Unsur-unsur Kredit Pemilikan Rumah

Pada dasarnya yang menjadi unsur KPR adalah sama dengan

unsur-unsur kredit yang dikenal pada umumnya, yakni terdiri atas kepercayaan ;

yang berarti bahwa suatu persetujuan kredit haruslah di landasi atas

(58)

kepada debitur (pemohon) dimana pelunasannya akan diberikan debitur

sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan. Waktu ; yang berarti

adanya jangka waktu tertentu antara pemberian kredit yang dilakukan kreditur

dengan pelunasannya dimasa akan datang. Jangka waktu ini terlebih dahulu

disepakati oleh para pihak yang mengadakan perjanjian kredit. Prestasi;

yakni adanya objek tertentu berupa prestasi dan juga kontra prestasi pada saat

tercapainya kesepakatan para pihak pada perjanjian pemberian kredit yang

diadakan. Risiko ; yakni risiko yang mungkin terjadi selama jangka waktu

antara pemberian kredit dengan pelunasannya. Semakin lama jangka waktu

kredit maka semakin besar pula tingkat risikonya. Untuk mengamankan

pemberian kredit dan mencegah wanprestasi dari debitur maka diadakanlah

pengikatan agunan.32

2. Prinsip –prinsip Pemberian Kredit Pemilikan Rumah

Dalam melakukan pemberian kredit pemilikan rumah (KPR), pihak

kreditur juga memperhatikan prinsip-prinsip pemberian kredit. Hal ini karena

setiap kredit yang diberikan oleh kreditur (bank) selalu mengandung resiko.

Berdasarkan penjelasan Pasal 8 Undang-Undang perbankan Nomor 10 tahun 1998

tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 (selanjutnya

32

(59)

disebut Undang-Undang Perbankan) yang harus dinilai oleh bank sebelum

memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah watak,

kemampuan, ,modal, agunan dan prospek usaha dari nasaba

Referensi

Dokumen terkait

Tanggungjawab hukum dalam kaitanya dengan adanya kesalahan yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam kredit pemilikan rumah (KPR) dapat didasarkan pada Wanprestasi diatur dalam

yang berjudul “ Kajian Yuridis Asas Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Konsumen pada Perjanjian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ” , dengan

Sedangkan kendala dalam perjanjian Kredit Pemilikan Rumah untuk Pegawai Negeri adalah wanprestasi,dimana sebab terjadinya wanprestasi tersebut adalah Pegewai Negeri Sipil

Adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimanakah pelaksanaan proses perjanjian jual beli rumah dalam proses kredit antara debitur dengan pihak PT..

Penulisan bertujuan untuk menjelaskan perjanjian jual beli dengan kartu kredit, penerapan prinsip itikad baik pemegang kartu kredit dikaitkan dengan perjanjian jual beli serta

Permasalahan yang diambil dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana tanggung jawab developer dalam perjanjian pengikatan jual beli perumahan pada Perumahan Graha

Akibat Hukum Perjanjian Jual Beli Rumah Perseorangan Yang Tidak Menyerahkan Objek Jual Beli Oleh Penjual Setelah Membuat Perjanjian Pengikatan Jual Beli Bahwa berdasarkan analisis

Rentannya permasalahan yang dihadapi konsumen atas pemilikan rumah tinggal dan rumah toko, dari developer, sehingga hubungan hukum jual beli seringkali menjadi tidak harmonis, dan