• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI ANTARA SISWA YANG BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DENGAN TIPE TPS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBANDINGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI ANTARA SISWA YANG BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DENGAN TIPE TPS"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

(Penelitian Kuasi Eksperimen di SMP Karya Pakuan Tamansari Bogor )

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh IWAN SASMITA NIM: 104016100407

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

i ABSTRAK

IWAN SASMITA (104016100407). “ Perbandingan Hasil Belajar Biologi antara Siswa yang Belajar Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Tipe Think-Pair-Share”. Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar biologi dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan tipe Think-Pair-Share. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Karyapakuan Tamansari Bogor, pada bulan Juli sampai Agustus 2010. Metode Penelitian yang digunakan metode kuasi eksperimen dan pengambilan sampel menggunakan sample random. Sampel Penelitian berjumal 32 orang siswa kelas IX.A sebagai kelas eksperimen Jigsaw dan 32 orang siswa sebagai kelas eksperimen Think-Pair-Share. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen tes hasil belajar dan lembar tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TPS, hasilnya menunjukan bahwa kelompok jigsaw lebih baik dibandingkan dengan kelompok Think-Pair-Share yang ditunjukan oleh hasil perhitungan uji t, nilai thitung sebesar 2,26, ternyata lebih lebih besar dari ttabel sebesar 2,00. Ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima pada taraf signifikansi α = 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi yang menggunakan tipe jigsaw dengan siswa yang menggunakan tipe Think-Pair-Share.

(3)

ii ABSTRACT

IWAN SASMITA (104016100407). "Comparation of Achievement Student Biology Through Cooperative Learning Jigsaw Type by Think-Pair-Share Type". Thesis Biology Education Studies Program, Department of Natural Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2010.

This research aims to determine differences in the results of learning biology by using cooperative learning jigsaw type and type of Think-Pair-Share. The research was conducted in Bogor SMP Karyapakuan Tamansari , in July and August 2010. Methods The research used a quasi experimental method and sampling using a random sample. The research sample amounted to 32 people graders Jigsaw IX.A as experimental class and 32 students as an experimental class Think-Pair-Share. The research instrument used is the result of the test instrument to learn and share student responses to the cooperative learning jigsaw type and Think-Pair-Share, the results showed that the group jigsaw better than the Think-Pair-Share is shown by the calculation results of t test, t count value of 2.26 , turns out to be larger than t table at 2.00. This means that Ho refused and Ha is accepted at significance level α = 0.05. So we can conclude that there are biological differences in learning outcomes using a type of jigsaw with students who use this type of Think-Pair-Share.

(4)

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, segala puji dan syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan berbagai macam rahmat dan nikmat-Nya, yang dengan itu semua akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah bidang pendidikan dalam bentuk skripsi ini. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, para Anbiya, keluarga, para sahabat, dan umat-Nya yang tetap istiqomah dalam syariat-Nya. Skripsi ini merupakan salah satu karya ilmiah bidang pendidikan yang harus ditempuh untuk memperoleh gelar sarjana (S1) pendidikan oleh mahasiswa FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah pada kesempatan pengantar ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Baiq Hana Susanti, M. Sc., Ketua Jurusan Pendidikan IPA. 3. Ibu Nengsih Juanengsih, M. Pd., Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA.

4. Bapak Prof. Dr. Aziz Fahrurozi, MA., sebagai dosen pembimbing satu skripsi atas segala kesabaran, perhatian, dan bimbingannya dalam penulisan skripsi ini.

5. Ibu Nengsih Juanengsih, M.Pd., sebagai dosen pembimbing dua skripsi atas segala kesabaran, perhatian, dan bimbingannya dalam penulisan skripsi ini. 6. Bapak dan Ibu Dosen, atas ilmu, pengalaman, dan bimbingannya selama

penulis mengikuti perkuliahan di Jurusan Pendidikan IPA.

(5)

iv

memberikan bantuan kepada penulis selama penelitian, dan staf pengajar, serta siswa-siswa SMP Karyapakuan atas kerjasamanya dalam pengajaran penelitian skripsi ini.

8. Orang tua (Bapak dan Ibu tercinta) penulis yang telah memberikan segenap kasih sayang dan do’a-do’anya untuk kesuksesan penulis. Kakak dan adik-adikku tercinta yang memberikan dorongan materil, spiritual, dan moril demi terselesaikannya skripsi ini.

9. KH. Bahrudin, S.Ag., Pimpinan Pondok Pesantren Darel-Hikam Pondok Ranji Ciputat yang telah membimbing dan memberikan ilmu-ilmu agamanya semoga bermanfaat dunia dan akhirat.

10.Kepada sahabat-sahabat seperjuangan pendidikan biologi angkatan 2004, semua pihak yang berperan dalam penulisan skripsi ini, dan santriawan dan santriawati di Pondok Pesantren Darel-Hikam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalas amal kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda dan mengampuni kesalahan yang telah diperbuat. Amin!

Semoga hasil karya ilmiah (skripsi) ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya, dan memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan.

Jakarta, November 2010

(6)

v DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Perumusan Masalah... 5

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka 1. Pembelajaran Konstruktivisme a. Pengertian Pembelajaran Kontruktivisme ... 7

b. Tujuan dan Karakteristik Kontruktivisme ... 9

c. Kelebihan Kontruktivisme ... 12

2. Pembelajaran Kooperatif a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif... 13

(7)

vi

c. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dan Konvensional .... 16

d. Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif ... 18

e. Tipe Jigsaw ... 19

f. Tipe Think-Pair-Share ... 21

3. Hasil Belajar a. Pengertian Belajar ... 22

b. Jenis-jenis Belajar ... 24

c. Hasil Belajar ... 28

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 30

B.Penelitian yang Relevan... 34

C.Kerangka Pikir... 35

D.Pengajuan Hipotesis Penelitian ... 37

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian... 38

B. Metode dan Desain Penelitian ... 38

C. Popullasi dan Sampel ... 39

D. Teknik Pengumpulan Data ... 39

E. Instrumen Penelitian... 40

F. Kalibrasi Instrumen ... 42

G. Teknik Analisis Data ... 46

H. Hipotesis Statistik... 50

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data 1. Hasil Pretest... 51

2. Hasil Posttest ... 52

3. Normal Gain ... 53

B. Ananlisis Data 1. Uji Normalitas ... 54

(8)

vii

3. Uji Hipotesis Statistik ... 57

4. Hasil Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan TPS... 58

C. Pembahasan ... 61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 64

B. Saran... 65

DAFTAR PUSTAKA... 66

(9)

viii DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 : Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dan Konvensional ... 16

Tabel 2.2 : Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif ... 18

Tabel 2.3 : Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 34

Tabel 3.1 : Desain Penelitian... 38

Tabel 3.2 : Langkah-langkah Pengumpulan Data ... 40

Tabel 3.3 : Kisi-Kisi Uji Instrumen Tes... 41

Tabel 3.4 : Kriteria Normal Gain... 46

Tabel 4.1 : Pemusatan dan Pengukuran Data Pretest ... 51

Tabel 4.2 : Pemusatan dan Pengukuran Data Posttest ... 52

Tabel 4.3 : Nilai Normal Gain Kelompok Jigsaw dan TPS ... 53

Tabel 4.4 : Hasil Uji Normalitas Pretest Kelompok Jigsaw dan TPS ... 54

Tabel 4.5 : Hasil Uji Normalita Posttest Kelompok Jigsaw dan TPS ... 55

Tabel 4.6 : Hasil Uji Homogenitas Pretest Kelompok Jigsaw dan TPS... 56

Tabel 4.7 : Hasil Uji Homogenitas Posttest Kelompok Jigsaw dan TPS ... 56

Tabel 4.8 : Hasil Uji “t” Pretest, posttest dan N-Gain... 57

Tabel 4.9 : Hasil Tentang Respon Siswa Terhadap Jigsaw ... 58

(10)

ix

DAFTAR GAMBAR

[image:10.612.101.515.125.551.2]

Halaman Gambar 2.1 : Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw ... 19 Gambar 4.1 : Diagram Batang Frekuensi Kategori N-Gain Kelas

(11)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tipe Jigsaw dan TPS... 68

Lampiran 2 : Lembar Kerja Siswa Kelompok Jigsaw dan TPS ... 111

Lampiran 3 : Uji Coba Tes Hasil Belajar pada Konsep Sistem ekskresi Pada Manusia ... 117

Lampiran 4 : Lembar Tanggapan Siswa Terhadap Tipe Jigsaw dan TPS ... 124

Lampiran 5 : Perhitungan Validitas Insrtumen Tes Uji Coba... 126

Lampiran 6 : Perhitungan Realibilitas Instrumen Tes Uji Coba ... 127

Lampiran 7 : Taraf Kesukaran dan Daya Beda Instrumen Tes Uji Coba ... 128

Lampiran 8 : Rekapitulasi Kalibrasi Instrumen... 129

Lampiran 9 : Skor Posttest Kelompok TPS ... 130

Lampiran 10 : Skor Posttest Kelompok Jigsaw ... 131

Lampiran 11 : Perhitungan Distribusi Frekuensi mean, median, modus, standar deviasi dan varians ... 132

Lampiran 12 : Uji Normal Gain Kelompok Jigsaw dan TPS... 144

Lampiran 13 : Uji Normalitas Pretest dan Posttest Kelompok Jigsaw dan TPS ... 146

Lampiran 14 : Uji Homogenitas Kelompok Jigsaw dan TPS ... 154

Lampiran 15 : Uji Hipotesis Pretest Kelompok Jigsaw dan TPS ... 156

Lampiran 16 : Uji Hipotesis Posttest Kelompok Jigsaw dan TPS ... 158

(12)

1 A. Latar Belakang Masalah

Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi salah satu cita-cita dari perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Cita-cita ini ditindaklanjuti dengan menempatkan pendidikan sebagai sektor pembangunan yang sangat penting dan selalu memperoleh prioritas dalam program-program pembangunan yang dirancang pemerintah.

Sangat wajar jika bidang pendidikan mendapatkan perhatian maksimal dari kita semua. Hal ini mengingat ranah pendidikan menjadi jantung bagi kehidupan sebuah bangsa. Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan dengan berhasil tidaknya bangsa itu dalam mendidik warganya. Jika pendidikan yang dilakukan berhasil niscaya sebuah bangsa akan maju, jika pendidikan yang dilakukan gagal niscaya bangsa itu akan mengalami kemandekan atau kegagalan.

Proses pembelajaran merupakan bagian dari sistem pendidikan. Harold Spear dalam Martinis Yamin mendefinisikan bahwa belajar terdiri dari pengamatan, pendengaran, membaca, dan meniru.1 Belajar menghasilkan perubahan perilaku dalam diri individu sebagai akibat interaksi individu dengan individu lainnya atau dengan lingkungannya. Mengajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk membimbing siswa dalam kegiatan belajar dalam hal ini guru berperan untuk mengorganisasikan lingkungan yang berhubungan dengan anak didik dan bahan pelajaran dalam rangka pencapaian tujuan belajar.

Belajar-mengajar adalah suatu kegiatan edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa. Interaksi tersebut terjadi karena kegiatan belajar mengajar diarahkan untuk mencapai tujuan

1

(13)

tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Rumusan tersebut dibuat untuk menuju perubahan pada diri siswa secara terencana dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal

(sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini

nampak rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat

memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran

yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta

didik itu sendiri (belajar untuk belajar). Dalam arti yang lebih subtansial,

bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi

guru dan tidak mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.2

Proses pembelajaran biologi berlangsung di sekolah saat ini masih banyak didominasi oleh guru, dimana guru sebagai sumber utama pengetahuan. Dalam proses pembelajaran ini metode ceramah menjadi pilihan utama strategi pembelajaran. Pola pembelajaran yang dilakukan, diawali penjelasan singkat materi oleh guru dilanjutkan dengan pemberian contoh soal, dan diakhiri dengan latihan soal. Pola ini dilakukan secara monoton dari waktu ke waktu. Dalam pembelajaran ini, konsep yang diterima siswa hampir semuanya berasal dari “kata guru”.

Di pihak lain secara empiris, berdasarkan hasil analisis penelitian terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik, hal tersebut disebabkan proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran ini suasa kelas cenderung teacher-centered sehingga siswa menjadi pasif.3

2

Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berioentasi Konstruktivisme, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), Cet. Ke-1, hlm. 1

(14)

Dalam dunia pendidikan saat ini, peningkatan kualitas pembelajaran

baik dalam penguasaan materi maupun metode pembelajaran selalu

diupayakan. Salah satu upaya yang dilakukan guru dalam peningkatan kualitas

pembelajaran yaitu dalam penyusunan berbagai macam skenario kegiatan

pembelajaran di kelas.

Pembelajaran merupakan perpaduan antara kegiatan pengajaran yang

dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Dalam

kegiatan pembelajaran tersebut, terjadi interaksi antara siswa dengan siswa,

interaksi antara guru dan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber

belajar. Diharapkan dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun

pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara interaktif,

inspiratif, menyenangkan, menantang, serta dapat memotivasi peserta didik

sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan. Kelas yang bernuansa

interaktif ini terdapat pada pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar yang berbasis kelompok. Model pembelajaran ini sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kritis dan kemampuan membantu teman. Pembelajaran ini akan menciptakan siswa untuk berpartisipasi aktif ikut serta secara aktif dan turut serta bekerja sama sehingga antara siswa akan berpikir bersama, berdiskusi bersama, melakukan penyelidikan bersama dan berbuat ke arah yang sama.4 Pembelajaran kooperatif dapat merangsang siswa supaya lebih bersemangat dalam belajar, jika sistem belajar dalam pembelajaran kooperatif disajikan dengan menarik dan terarah dalam mengkaji sesuatu permasalahan atau materi yang akan disampaikan.

Menurut Ibrahim, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok atas maupun siswa kelompok bawah yang bekerja bersama dalam menyelesaikan tugas. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. Jadi siswa memperoleh bantuan khusus dari

4

Nurropiq Achmad, Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan

(15)

teman sebaya yang mempunyai orientasi dan bahasa yang sama. Siswa kelompok atas juga akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor memerlukan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.5

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokkan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda ke dalam kelompok-kelompok kecil, selama bekerja dalam kelompok, setiap anggota kelompok berkesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan memberikan respon terhadap pendapat temannya.6

Kegiatan-kegiatan di dalam pembelajaran biologi merupakan upaya untuk bagaimana siswa dapat memahami konsep-konsep. Pemahaman yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang diukur dengan memberikan tes kepada siswa sehingga perlu diadakan penelitian untuk mencari metode yang efektif dalam proses belajar di kelas sehingga dapat memberikan alternatif pendekatan atau metode yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran biologi dengan kekhususan konsep pada pelajaran biologi.

Berdasarkan uraian di atas penulis mencoba melakukan penelitian dengan mengangkat judul penelitian. “PERBANDINGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI ANTARA SISWA YANG BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DENGAN TIPE TPS”.

5

Zulfah, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Materi Pengelolaan Lingkungan Dengan

Pendekatan Jas Melalui Pembelajaran Kooperatif Think-Pair-ShareDan Penilaian Autentik Di Smpn 37 Semarang, (Universitas Negeri Semarang:2006), hl. 18

6

(16)

B. Identifikasi Masalah

Bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Pendekatan dan metode yang diterapkan masih mengarahkan kepada teacher centered

2. Rendahnya motivasi siswa dalam belajar 3. Rendahnya hasil belajar siswa

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang luas dan tidak seluruhnya diteliti, maka penelitian hanya dibatasi pada :

1. Pendekatan pembelajaran yang digunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Think-Pair-Share

2. Hasil belajar siswa pada ranah kognitif

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan sebelumnya di atas, maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagi berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang belajar melalui pendekatan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan tipe Think-Pair-Share

(17)

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa antara yang menggunakan tipe Jigsaw dengan tipe Think-Pair-Share

Hasil penelitian ini, diharapkan memberikan sejumlah manfaat antara lain: 1. Secara teoritis/akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat

memperkaya khasanah kepustakaan pendidikan dan dapat menjadi bahan masukan bagi mereka yang berminat untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini dengan mengambil kancah penelitian yang berbeda dan dengan sampel penelitian yang lebih banyak.

(18)

7 A. Tinjauan Pustaka

Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan kontruktivisme adalah pembelajaran kooperatif,1 relevansi dari teori kontruktivisme, siswa secara aktif membangun pengetahuan sendiri yang dicirikan oleh suatu struktur, tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Oleh karena itu pada bab ini penulis akan terlebih dahulu membahas tentang pembelajaran konstruktivisme, pembelajaran kooperatif, tipe jigsaw, tipe Think-Pair-Share, dan hasil belajar biologi

1. Pembelajaran konstruktivisme

a. Pengertian Pembelajaran Konstruktivisme

Teori Piaget sebagaimana yang dikutip oleh Zurinal menyatakan bahwa pembelajaran konstruktivisme merupakan salah satu perkembangan model pembelajaran mutakhir yang mengedepankan aktivitas siswa dalam setiap interaksi edukatif untuk dapat melakukan eksplorasi dan menemukan pengetahuanya sendiri.2

Teori pembelajaran konstruktivisme (constructivist theories of learning) menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Menurut teori kontruktivise, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa sendiri yang harus membangun pengetahuan didalam benaknya.3 Pembelajaran kontruktivisme adalah siswa

1

Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta:Prestasi Pustaka Publisher, 2007), hlm.41.

2

Zurinal Z, Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan: Pengantar dan Dasar-dasar Pelaksanaan

Pendidikan, (Jakarta : UIN Jakarta Press, 2006), h. 119

3

(19)

secara aktif membangun pengetahuan yang telah dimilikinya, pendidik berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Perlakuan dalam hal ini adalah pengajaran dengan model kontruktivisme supaya siswa dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.4 Konstruktivisme merupakan teori pembelajaran yang berdasarkan pada pengamatan dan studi ilmiah mengenai bagaimana seseorang belajar.5 Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkontruksi bukan menerima pengetahuan.

Konstruktivisme adalah satu pandangan bahwa siswa sendiri pengetahuan bahwa siswa membina sendiri pengetahuan konsep secara aktif berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada. Dalam proses ini, siswa akan menyesuaikan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan yang ada untuk membina pengetahuan baru.6

Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru. Untuk itu tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan :

1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan terhadap siswa,

2. Memberi kesempatan kepada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan

3. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.7

Konteks pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode kontruktivisme, guru tidak dapat mengdoktrinasi gagasan ilmiah supaya peserta didik mau mengganti dan memodifikasi gagasanya yang non ilmiah menjadi gagasan atau pengetahuan ilmiah. Dengan demikian arsitek

4

Prihatiningsih Nanik, Perbedaan Hasil Belajar Matematika Antara Siswa Yang Diberi

Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Kontruktivisme Dan Pendekatan Ekspositori Pada Pokok Bahasan Lingkaran SiswaKelas Viii Smp N 3 Cepiring, (Skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2008), hlm.2.

5

Educational Broadcasting Corporation, 2004, Contructivism as a Paradigma for Teaching

and Learning: What is Contructivism? tersedia: http://www.thirteen.org.

6

Isjoni, Cooperative Learning : Efektivitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 30-31.

7

(20)

pengubah gagasan peserta didik adalah peserta didik itu sendiri dan guru hanya berperan sebagai fasilitator dan penyedia kondisi supaya proses pembelajaran dapat berlangsung.

Beberapa bentuk belajar yang sesuai dengan filosofis konstruktivisme antara lain diskusi (yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan), pengujian hasil penelitian sederhana, demonstrasi, peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang bagi peserta didik untuk mempertajam gagasanya. Pembelajaran konstruktivisme lebih menekankan keaktifan siswa dalam menemukan pengetahuan baru berdasarkan apa yang dialami oleh siswa dan apa yang telah mereka tahu, meskipun pengetahuannya tersebut belum tentu benar.8 Pengetahuan yang diperoleh adalah hasil konstruksi siswa, bukan hasil transfer dari orang yang tahu yang mengakibatkan siswa menjadi pasif.

b.Tujuan dan Karakteristik Pembelajaran Konstruktivisme

Tujuan proses pengajaran dan pembelajaran konstruktivis adalah memungkinkan siswa mendapatkan informasi dalam cara yang membuat informasi tersebut dapat dipahami dan dipergunakan dengan mudah. Pembelajaran konstruktivis memiliki beberapa karakteristik, yaitu:

1. Active learning (peserta didik terlibat secara aktif) bukan passive learning (peserta didik sebagai penerima informasi dari guru).

2. Pembelajaran yang otentik dan sesuai dengan situasi. 3. Aktivitas siswa harus menarik dan menantang.

4. Siswa harus menghubungkan informasi baru dengan apa yang telah mereka ketahui.

5. Siswa harus merefleksikan atau memikirkan apa yang telah mereka pelajari.

6. Pembelajaran berlangsung dalam masyarakat belajar, yaitu situasi kelompok atau sosial.

8

(21)

7. Guru tidak memberikan informasi langsung kepada siswa tapi memfasilitasi temuan siswa.

8. Guru harus memberikan siswa bantuan atau bimbingan yang mungkin dibutuhkan untuk kemajuan peserta didik. 9

Berdasarkan karakteristik di atas, pembelajaran konstrukutivisme menuntut siswa berperan aktif dalam pembelajaran mereka sendiri. Dengan demikian pembelajaran konstruktivisme merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa sudent-centered instruction. Karena pengajarannya terpusat pada siswa, maka peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta, konsep, atau prinsip, bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan di kelas.

Di samping itu, pembelajaran konstruktivisme juga memiliki beberapa budaya yang harus dikembangkan yaitu :

1. Membangun suasana pembelajaran

2. Membuat kesepakatan akan peraturan dan tanggung jawab kepada siswa 3. Proses pembelajaran dilakukan dengan kerjasama antara siswa

4. Proses pembelajaran mengedepankan kemampuan metakognitif siswa. 5. Membuat tugas dan tanggung jawab guru.

6. Menjadi guru yang reflektif. 10

Dalam konteks pembelajaran di kelas, pembelajaran konstruktivime memiliki beberapa prinsip, yaitu:

1. Constructed (membangun)

Dalam belajar siswa tidak dalam keadaan blank. Siswa datang ke situasi pembelajaran dengan siap telah merumuskan pengetahuan, gagasan, dan pemahaman. Pengetahuan sebelumnya ini merupakan materi mentah yang akan mereka ciptakan menjadi pengetahuan yang baru.

2. Active (aktif)

Siswa adalah orang yang menciptakan pengetahuan untuk dirinya sendiri. Guru menyediakan siswa ruang untuk bereksperimen, membuat

9

Educational Broadcasting Corporation, 2004, Contructivisme as a Paradigma for Teaching

and Learning: What are Benefit of Contructivisme?, tersedia: http://www.thirteen.org

10

(22)

pertanyaan, dan mencoba sesuatu hal. Aktivitas pembelajaran mengharuskan siswa berpartisipasi penuh.

3. Reflective (refleksi)

Siswa mengontrol proses pembelajarannya sendiri, dan mengadakan refleksi pada pengalamannya. Proses ini membuat mereka ahli dalam pembelajarannya. Guru membantu menciptakan situasi dimana siswa merasa aman membuat pertanyaan dan mengadakan refleksi pada proses belajarnya, baik sendiri maupun secara berkelompok.

4. Collaborative (kerja sama)

Kelas konstruktivisme berdasarkan pada kerja sama antar siswa. Banyak alasan mengapa kerja sama memberikan kontribusi dalam pembelajaran. Alasan utamanya adalah bahwa siswa belajar tidak hanya dari dirinya sendiri, tetapi juga dari temannya.

5. Inquiry-Based (berdasarkan inkuiri)

Aktivitas pokok dalam kelas konstruktivisme adalah memecahkan masalah. Siswa menggunakan metode inkuiri untuk membuat pertanyaan, menyelidiki topik, dan menggunakan sumber yang bervariasi untuk menemukan solusi dan jawaban. Siswa mengeksplor topik dan membuat kesimpulan.

6. Evolving (menyusun)

Siswa memiliki gagasan-gagasan yang mungkin nantinya akan invalid, tidak benar atau tidak cukup untuk menjelaskan pengalaman baru. Gagasan-gagasan ini merupakan tahap sementara dalam menyusun atau menggabungkan pengetahuan. 11

Berdasarkan ciri-ciri di atas pembelajaran konstruktivisme merupakan pembelajaran yang melibatkan peranan aktif siswa dalam membentuk pengetahuan baru dengan apa yang telah mereka ketahui di dunia nyata melalui proses inkuiri. Pembelajaran konstruktivisme membentuk pembelajaran koperatif serta terjadi interaksi antara sesama siswa dan

11

Educational Broadcasting Corporation, 2004, Contructivisme as a Paradigma for

(23)

interaksi dengan guru. Pada pembelajaran konstruktivisme proses dan hasil belajar sama pentingnya.

c. Kelebihan Pembelajaran Konstruktivisme

Menurut Zurinal kelebihan yang dimiliki dari penerapan pembelajaran model kontruktivisme ini adalah sebagai berikut :

1. Siswa dapat berpikir untuk menyelesaikan masalah, merumuskan ide dan mengambil keputusan.

2. Siswa dapat mengaplikasikan pemahaman dan pengetahuanya dalam situasi apapun atas dasar keterlibatan mereka secara aktif dalam proses pembelajaran.

3. Siswa mampu mengingat konsep dan pengetahuan baru yang diperoleh dalam proses pembelajaran, karena mereka sendiri yang menemukan pengetahuan tersebut dengan guru sebagai fasilitator. 4. Siswa memiliki keyakinan sekaligus keterampilan untuk dapat

menyelesaikan masalah yang dihadapi

5. Siswa memiliki keterampilan untuk berinteraksi dengan masyarakat (dunia nyata), karena mereka sudah terbiasa dengan interaksi dan partisipasi di kelas dengan sesama siswa atau guru.

6. Siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar, karena terangsang untuk menemukan pengetahuan yang baru.12

Alberta Learning Center juga mengungkapkan bahwa kelebihan pembelajaran konstruktivisme adalah :

1. Siswa dapat belajar dengan lebih mendalam, rileks dan siswa cenderung aktif.

2. Proses pembelajaran didasarkan bagaimana siswa dapat berfikir dan mengerti apa yang telah dipelajari.

3. Adanya proses transfer belajar dan siswa diberi kebebasan dalam pengorganisasian “setting” pembelajaran.

12

Zurinal Z, Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan: Pengantar dan Dasar-dasar Pelaksanaan

(24)

4. Pembelajaran kontruktivisme memberikan kebebasan siswa untuk belajar, membuat pertanyaan dan mengeksplorasi proses pembelajaran.

5. Proses pembelajaran didasarkan atas realita kondisi yang ada di alam. 6. Pembelajaran kontruktivisme mengembangkan kerjasama dan

komunikasi sosial diantara semua komponen pembelajaran.13 2. Pembelajaran Kooperatif

a. Pengertian pembelajaran kooperatif

Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.14

Menurut Muslimin dkk, pembelajaran kooperatif merupakan

pendekatan pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama

antarsiswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Sementara itu menurut Wina , model pembelajaran kelompok adalah

rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam

kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Ada

empat unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yaitu

adanya peserta dalam kelompok, adanya aturan kelompok, adanya upaya

belajar setiap anggota kelompok, dan adanya tujuan yang harus dicapai.15

Menurut Anita Lie dalam Isjoni menyebutkan cooperative learning

dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran

yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama

dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur. Lebih jauh

dikatakan, cooperative learning hanya berjalan kalau sudah terbentuk

suatu kelompok atau suatu tim yang di dalamnya siswa bekerja secara

13

Educational Broadcasting Corporation, 2004, Contructivism as a Paradigma for Teaching

and Learning:What are Benefit of Constructivisme?, tersedia: http://www.thirteen.org

14

Isjoni, Cooperative Learning : Efektivitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 15.

15

Widyantini Th, Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran

(25)

terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah

anggota kelompok terdiri dari 4-6 orang saja.16

Menurut Johnson & Johnson, seperti yang dikutip Isjoni pembelajaran koperatif adalah mengelompokan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.17

Menurut Eggen dan Kauchak, seperti yang dikutip Trianto, “Pembelajaran koperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama”. Pembelajaran koperatif merupakan sebuah model pembelajaran yang mempunyai tujuan, langkah-langkah dan lingkungan belajar serta pengelolaan yang khas. 18

Roger dan David Johnson dalam Lie mengatakan bahwa tidak semua kelompok dapat dianggap Cooperative Learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan, yaitu :

1) Saling Ketergantungan Positif

Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan anggota kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.

2) Tanggung Jawab Perseorangan

Pada Pembelajaran Cooperative Learning guru menyusun tugas dan diberikan kepada siswa, maka siswa bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya dengan baik.

3) Tatap Muka

Setiap kelompok diberi kesempatan berdiskusi dengan kelompok lain. Hal ini bertujuan untuk mengisi kekurangan pada masing-masing

16

Isjoni, Cooperative Learning : Efektivitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 16.

17

Ibid,. hlm. 17.

18

(26)

kelompok, Kerena setiap kelompok mempunyai pendapat dan pemikiran yang berbeda-beda, sehingga terjadi pertukaran pendapat antara anggota kelompok satu dengan yang lainnya.

4) Komunikasi Antar Anggota

Dalam berdiskusi tidak setiap siswa dapat berkomunikasi dengan baik, disini guru bertugas untuk mengajarkan cara-cara berkomunikasi dengan baik dan efektif, misalnya bagaimana cara menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggung pendapatnya.

5) Evaluasi Proses Kelompok

Evaluasi ini dilakukan setelah beberapa kali diadakan kerja kelompok. Evaluasi ini berupa evaluasi proses kerja kelompok dan hasil kelompok. Ini bertujuan agar siswa dapat bekerja sama lebih efektif. 19

b. Tujuan Pembelajaran Koperatif

Menurut Trianto pembelajaran koperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Pembelajaran koperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep yang sulit, dan membantu siwa menumbuhkan kemampuan berfikir kritis. Selanjutnya Ibrahim, dkk, struktur tujuan koperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain bekerja sama mencapai tujuan tersebut. Tujuan – tujuan pembelajaran ini mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.20

19

Anita Lie, Cooperative Learning : Mempraktekkan Cooperative Learning di

Ruang-Ruang Kelas, (Jakarta : Gramedia, 2003), hal.31-34.

20

(27)

c. Perbedaan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran konvensional

perbedaan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran konvensional dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

[image:27.612.101.518.95.674.2]

Tabel 2.1

Perbedaan Kelompok Belajar dengan Kelompok Belajar Konvensial21 Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Konvensional Adanya saling ketergantungan

positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.

Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau mengantungkan diri pada kelompok.

Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.

Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh seorang anggota kelompok sedangkan anggota

kelompok lainnya hanya

“mendompleng”keberhasilan pemborong”

Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan.

Kelompok belajar biasanya homogen.

Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir

Pemimpin kelompok biasanya dipilih oleh

guru atau kelompok dibiarkan untuk

21

(28)

Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Konvensional untuk memberikan pengalaman

memimpin kepada anggota yang lainnya.

memilih pemimpinnya dengan cara

masing-masing

Keterampilan social yang diperlukan dalam kerja gotong-royong seperti kepemimpinan, kemampuan, berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola komflik secara langsung diajarkan.

Keterampilan sosial sering tidak secara

langsung diajarkan

Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dana melakukan intervensi jika terjadai masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok.

Pemantauan melalui observasi dan

intervensi sering dilakukan oleh guru pada

saat belajar kelompok sedang berlangsung.

Guru memperhatikan secara proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar

Guru sering tidak memperhatikan proses

kelompok yang terjadi dalam

kelompok-kelompok belajar.

Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai)

Penekanan sering hanya pada penyelesaian

(29)

d. Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif dalam Kelas

[image:29.612.100.516.118.634.2]

Terdapat enam langkah utam atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Langkah – langkah itu ditunjukan pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.2

Langkah Langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru

Fase-1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan

pelajaran yang ingin dicapai pada

pelajaran tersebut dan memotivasi siswa

belajar.

Fase-2

Menyajikan informasi

Guru menyajkan informasi kepada siswa

dengan jalan demontrasi atau lewat

bacaan.

Fase-3

Mengorganisakan siswa ke dalam kelompok kooperatif

Guru menjelaskan kepada siswa

bagaimana caranya membentuk kelompok

belajar dan membantu setiap kelompok

agar melakukan transisi efisien.

Fase -4

Membimbing kelopok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok

belajar pada saat mereka mengerjakan

tugas mereka.

Fase-5 Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang

materi yang telah dipelajari atau

masing-masing kelompok mempresentasikan hasil

kerjanya.

Fase-6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai

baik upaya maupun hasil belajar individu

(30)

e. Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw

Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (2001).22

Pembelajaran kooperatif jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi maksimal.

Kooperatif tipe jigsaw adalah pembelajran dimana siswa belajar dalam kelompok bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar yang ditugaskan kepadanya lalu mengajarkan bagian tersebut pada anggota kelompok lain. Dalam tipe ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan utuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Langkah-langkah dalam penerapan tipe Jigsaw adalah sebagai berikut :

1. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

2. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi

22

(31)
[image:31.612.99.518.116.542.2]

pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

Gambar 2.1 Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw

3. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.23

4. Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.

23

(32)

5. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.

6. Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.

7. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. f. Pembelajaran Kooperatif tipe TPS

Tipe Think –Pair-Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Tipe Think-Pair-Share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya di Universitas Maryland.

Tipe Think-Pair-Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam Think-Pair-Share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu.

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share menurut Ibrahim ada tiga tahap.24

Tahap 1: Thinking (berpikir)

Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

Tahap 2: Pairing (berpasangan)

Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama.

24

(33)

Interaksi pada tahap ini diharapkan dapar berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi.

Tahap 3: Sharing (berbagi)

Guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

3. Hasil belajar Biologi a. Pengertian belajar

Belajar merupakan suatu proses dari tidak tahu menjadi tahu, dan biasanya siswa dikatakan belajar apabila siswa mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku merupakan proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri yang disebut dengan hasil belajar.

Menurut Muhibbin Syah, belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.25 Sedangkan menurut Wasti Sumanto, belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar manusia melakukan perubahan-perubahan kualitas individu sehingga tingkah lakunya berkembang.26

Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern, Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah The Process of Acquiring Knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, A relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced

25

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja

Rosda Karya, 2002), Cet. Ke-7, hlm.92.

26

(34)

practice, yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.27 Jadi menurut Reber belajar adalah suatu proses memperoleh pengetahuan yang dapat mengubah kemampuan bereaksi seseorang yang bersifat permanen jika dilakukan dengan suatu latihan.

Morgan berpendapat bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.28 Hal yang senada dengan pernyataan Morgan, Witheringtun mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.29

Secara psikologi, menurut Slameto, belajar dapat didefinisikan seabagai suatu usaha perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungannya. Definisi ini menyebutkan dua makna yaitu :

1. Belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku.

2. Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. 30

Menurut Gagne dalam Martinis belajar merupakan sebagai suatu proses dimana organisme berubah perilakunya melibatkan pengalaman. Demikian juga Harold Spear dalam Martinis mendefinisikan bahwa belajar terdiri dari pengamatan, pendengaran, membaca, dan meniru.31

27

Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan: dengan pendekatan baru, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2004), h.lm. 91

28

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Remaja Rosda Karya, 2003), hlm.

84

29 Ibid,.

30

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,2010), hlm. 2.

31

Martinis Yamin, Srategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Ciputat: Gaung Persada

(35)

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, maka dapat dikemukakan adanya beberapa batasan/elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu bahwa:

a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, perubahan itu dapatt mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk. b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau

pengalaman, ini berarti proses belajar dilakukan dengan penuh kesadaran.

c. Perubahan dalam belajar bersifat relative mantap, artinya perubahan yang trjadi karena proses belajar bukan bersifat sementara.

d. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, ini berarti perubahan dalam tingkah laku itu terjadi karena adanya tujuan yang akan dicapai.

e. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Positif bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan perubahan, yakni diperolehnya suatu yang baru yang lebih baik dari pada yang telah ada sebelumnya. Aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena adanya proses pematangan.

f. Perubahan dalam belajar mencakup seluruh aspek tingkah laku dan kepribadian, baik fisik maupun psikis.32

Berdasarkan definisi para ahli di atas bisa kita katakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku akibat pengalaman seseorang ke arah yang lebih baik yang dilakukan atau didapatkan perubahan itu melalui pengamatan, pendengaran, membaca dan meniru.

32

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Remaja Rosda Karya, 2003), hlm.

(36)

b. Jenis – Jenis Belajar

Ada beberapa jenis belajar yang dikemukan oleh Slameto yaitu : 1. Belajar bagian (part learning, fractioned learning)

Umumnya belajar bagian dilakukan oleh seseorang bila dihadapkan pada materi belajar yang bersifat luas dan ekstensif, misalnya mempelajari sajak ataupun gerakan-gerakan motoris seperti bermain silat. Dalam hal ini individu memecah seluruh materi pelajaran menjadi bagian-bagian yang satu sama lain berdiri sendiri.

2. Belajar dengan wawasan (learning by insight)

Konsep ini diperkenalkan oleh W. Kohler, salah seorang tokoh psikologi Gestalt pada permulaan tahun 1971. Sebagai suatu konsep, wawasan (insight) ini merupakan pokok utama dalam pembicaraan psikologi belajar dan proses berpikir.33 Dan meskipun W. Kohler sendiri menerangkan wawasan berorientasi pada data yang bersifat tingkah laku (perkembangan yang lembut dalam menyelesaikan suatu persoalan dan kemudian secara tiba-tiba terjadi reorganisasi tingkah laku) namun tidak urung wawasan ini merupakan konsep yang secara prinsipil ditentang oleh penganut aliran neo-behaviorisme. Menurut Gestalt teori wawasan merupakan proses mereorganisasikan pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian atau persoalan. Sedangkan bagi kaum neo-behaviorisme (antara lain C.E Osgood) menganggap bahwa wawasan sebagai salah satu bentuk atau wujud dari asosiasi stimulus-respons (S-R). Jadi masalah bagi penganut ne-bihaviorisme ini justru bagaimana menerangkan reorganisasi pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk tadi menjadi satu tingkah laku yang erat hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan. Dalam pertentangan ini barang kali jawaban yang menuaskan adalah jawaban yang dikemukakan oleh G.A. Miller, yang menganjurkan Behaviorisme subjektif.

33

(37)

Menurut perndapatnya wawasan barangkali merupakan kreasi dari ‘rencana penyelesaian” (meta program) yang mengontrol rencana-rencana subordinasilain (pola tingkah laku) yang telah terbentuk. 3. Belajar diskriminatif (discriminatif learning)

Belajar diskrimatif diartikan sebagai suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi/stimulus dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam tingkah laku. Dengan pengertian ini maka eksperimen, subyek diminta untuk berespon secara berbeda-beda terhadap stimulus yang berlainan.

4. Belajar global/keseluruhan (global whole learning)

Disini bahan pelajaran dipelajari secara keseluruhan berulang sampai pelajar menguasainya; lawn dari belajar bagian. Metode belajar ini sering juga disebut metode Gestalt.

5. Belajar insidental (incidental learning).

Konsep ini bertentangan dengan anggapan bahwa belajar itu selalu berara-tujuan (intensional). Sebab dalam belajar insidental pada individu tidak ada sama sekali kehendak utuk belajar. Atas dasar ini maka untuk kepentingan penelitian, disusun rumusan masalah sebagai berikut : belajar disebut incidental bila tidak ada intruksi atau petunjuk yang diberikan pada individu mengenai materi belajar yang akan diujikan kelak. Dalam kehidupan sehari-hari, belajar insidental ini merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu di antara para ahli belajar incidental ini merupakan bahan pembicaraan yang sangat menarik, khususnya sebagai bentuk belajar yang beretentangan dengan belajar intensional. Dari salah satu penelitian ditemukan bahwa dalam belajar incidental (dibandingkan dengan belajar intensional), jumlah frekuensi materi belajar yang diperhatikan tidak memegang peranan penting, prestasi individu menurun dengan meningkatnya motivasi.34

34

(38)

6. Belajar instrumental (instrumental learning)

Pada belajar instrumental, reaksi-reaksi seseorang siswa yang diperlihatkan diikuti oleh tanda-tanda yang mengarah pada apakah siswa tersebut akan mendapat hadiah, hukuman, berhasil atau gagal. Oleh karena itu cepat atau lambatnya seseorang belajar dapat diatur dengan jalan memberikan penguat (reinforcement) atas dasar tingkat-tingkat kebutuhan. Dalam hal ini maka salah satu bentuk belajar instrumental adalah “pembentukan tingkah laku”. Di sini individu diberi hadiah bila bertingkah laku sesuai dengan tingkah laku yang dikehendaki, dan sebaliknya ia dihukum bila memperlihatkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki. Sehingga akhirnya akan terbentuk tingkah laku tertentu

7. Belajar intensional (intentional learning)

Belajar dalam arah tujuan, merupakan lawan dari belajar insidental. 8. Belajar laten (latent learning)

Dalam belajar laten, perubahan-perubahan tingkah laku yang terlihat tidak tejadi secara segera, dan oleh karena itu disebut laten. Selanjutnya eksperimen yang dilakukan terhadap binatang mengenai belajar laten, meimbulkan pembicaraan yang hangat di kalangan penganut bihaviorisme, khususnya mengenai peranan faktor penguat (reinforcement) dalam belajar.

9. Belajar mental ( mental learning)35

Perubahan kemungkinan tingkah laku yang terjadi di sini tidak nyata terlihat, melainkan hanya berupa proses kognitif karena ada bahan yang dipelajari. Ada tidaknya belajar mental ini sangat jelas terlihat pada tugas-tugas yang sifatnya motoris. Sehingga perumusan operasional juga menjadi sangat berbeda. Ada yang mengartikan

35

(39)

belajar mental sebagai belajar dengan cara melakukan observasi dari tingkah laku orang lain, membayangkan gerakan-gerakan orang dan lain-lain.

10.Belajar produktif (productive learning)

R. Berguis (1964) memberikan arti belajar produktif sebagai belajar dengan transfer yang maksimum. Belajar adalah mengatur kemungkinan untuk melakukan transfer tingkah laku dari satu situasi ke situasi lain. Belajar disebut prosduktif bila individu mampu mentranfer prinsip menyelesaikan satu persoalan dalam satu kondisi ke kondisi yang lain.

11.Belajar Verbal (verbal learning)

Belajar verbal adalah belajar mengenai materi verbal dengan melalui latihan dan ingatan. Dasar dari belajar verbal diperlihatkan dalam elsperimen klasik dari Ebbinghaus. Sifat eksperimen ini meluas dari belajar asosiatif mengenai hubungan dua kata yang tidak bermaknasampai pada belajar dengan wawasan mengenai penyelesaian persoalan yang kompleks yang harus diungkapkan secara vebal.36

d. Hasil belajar

Hasil Belajar mencerminkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan di setiap studi. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu usaha, kemampuan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal di bidang pendidikan.

Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa melalui usaha (pengalaman dan latihan) dalam mempelajari pokok bahasan tertentu yang dialami atau dirancang.37

36

Ibid,. hlm.8.

37

Azizah Bahriyatul, Studi Komparasi Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan

(40)

Skiner dengan teori operant conditioning sebagaimana dikutip Grendler mengatakan bahwa hasil belajar merupakan respon (tingkah laku) yang baru, namun pada dasarnya respon yang baru itu sama pengertiannya dengan tingkah laku (pengetahuan, sikap, keterampilan) yang baru. Gagne berpendapat belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi dari lingkungan menjadi beberap tahapan pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapabilitas baru. Kapabilitas inilah yang disebut dengan hasil belajar. Dengan kata lain belajar itu menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berlainan, seperti pengetahuan, tingkah laku, sikap, keterampilan, kemampuan, informasi, dan nilai. Bebagai macam tingkah laku ini yang disebut kapabilitas sebagai hasil belajar.38

Menurut Winkel hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada tujuan pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom (Nana Sudjana) 39yang mengatakan bahwa hasil belajar siswa dapat berupa perubahan dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Menurut Bagne dan Briggs dalam Heriyanto ada lima kategori kapabilitas hasil belajar yaitu; 1) Keterampulan intelektual (Intelectual skill), 2) Strategi kognitif (Kognitif strategis), 3) Informasi verbal (Verbal information), 4) Keterampilan motorik (Motor skill), 5) Sikap (attitude). Sedangkan berdasarkan Bloom dan kawan-kawanya mengklasifikasikan hasil pengajaran (belajar) menjadi tiga ranah atau domain, yaitu; ranah kognitif, ranah psikomotor, dan ranah afektif.40 Ranah kognitif, menaruh perhatian pada pengembangan kapabilitas dan keterampilan intelektual, ranah psikomotorik berkaitan dengan

38

Heriyanto, Skripsi Mahasiswa Strata 1, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,2006), hlm.41-42

39

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Rosdakarya, 2008), hlm: 22.

40

(41)

kegiatan atau keterampilan, dan ranah afektif berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap, nilai, dan emosi.

Dari pendapat para ahli di atas dapat diasumsikan bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan baik yang bersifat kognitif, psikomotorik maupun afektif yang dialami oleh siswa, indikasi dari semua perubahan yang dialami siswa akan memperoleh suatu kapabilitas dalam belajar yang disebut dengan hasil belajar. Dengan terciptanya hasil belajar yang baik seorang siswa mampu untuk mencapai tujuannya dalam belajar. Jadi hasil belajar biologi adalah perubahan baik yang bersifat koginitif, psikomotorik maupun afektif yang dialami oleh siswa, indikasi dari semua perubahan yang dialami siswa akan memperoleh suatu kapabilitas dalam pembelajaran biologi.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik.

Pada proses kegiatan belajar sesungguhnya yang terjadi adalah proses perubahan dalam diri seseorang untuk terciptanya kepribadian yang sempurna. Pada anak didik proses itu akan terus berlangsung hingga mencapai kedewasaan.

Perkembangan manusia akan berlanjut fase ke fase, setiap fase akan selalu di isi dengan proses pendidikan, dan belajar sehingga perkembangan dalam diri anak yaitu; terjadinya keseimbangan pertumbuhan jasmani dan rohani yang memiliki kecakapan, yaitu : kecakapan yang sesuai dengan tingkat umurnya dalam perkembangan kognitif, konatif, afektif, sosial, dan motorik.

Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :41

41

(42)

1. Faktor internal

Faktor ini berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek yaitu : 1) aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah); 2) aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).42

a. Aspek Fisiologis

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas rana cipta kognitif sehingga materi pelajaran yang di pelajari tidak akan bisa maksimal diserap.

b. Aspek Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa pada umumnya dapat dirangkum sebagai berikut :

1. Intelegensi siswa

Itelegensi siswa pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Tingkat kecerdasan atau itelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa. Ini bermakna, semankin tinggi itelegensi siswa maka tingkat keberhasilanya semankin tinggi dan begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat itelegensi seseorang maka semankin kecil peluang kesuksesanya.

2. Sikap Siswa

Sikap adalah gejalah internal yang berdimensi afektif berupa kecendrungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) 42

(43)

dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.

Sikap (attitude) siswa positif dapat menjadi pertanda awal yang baik dalam kelangsungan proses belajar dan mengajar tetapi sebaliknya sikap siswa yang negatif dapat menjadi penghambat dalam kegiatan belajar. Untuk mengantisipasi kemunkinan munculnya sikap negatif siswa, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajarnya yang menjadi bidangya.

3. Bakat siswa

Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang . Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ketingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat itu mirip dengan itelegensi.

4. Minat siswa

Secara sederhana, minat (interest) berarti kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginanyang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber , minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor iternal lainya seperti : pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.43

5. Motivasi siswa

Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah (Gleitman, 1986; Reber, 1988). Dalam perkembanganya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : 1) motivasi intrinsik; 2) motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Adapun motivasi ekstrinsik

43

(44)

adalah hal dan keadaan yang berasal dari luar individu siswa yang mendorongnya untuk melakukan tindakan belajar.

2. Faktor Eksternal

Secara garis besar faktor eksternal dapat dibagi menjadi dua yaitu :44 a. Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial siswa dimulai dari dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan seluruh perangkatanya serta lingkungan sosial masyarakat memiliki pengaruh bagi yang sangat signifikan dalam semangat belajar siswa. Terlebih lagi lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang cukup penting dalam mempengaruhi semangat belajar. Perhatian, kasih sayang dan dorongan kedua orang tua adalah sugesti yang paling utama yang dapat dijadikan siswa sebagai motivasi semangat belajar, disamping lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat yang juga cukup berpengaruh.

b) Lingkungan Non Sosial

Faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.

3. Faktor Pendekatan Belajar

Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai cara atau setrategi yang digunakan siswa untuk menunjang keefektifan dan efesiensi dalam proses pembelajaran materi tertentu. Setrategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk mmemecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu. Disamping faktor internal dan eksternal, pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses belajar siswa tersebut. Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

44

(45)
[image:45.612.102.517.149.578.2]

Tabel 2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar45 Ragam Faktor dan Unsurnya-unsurnya

Internal Siswa Eksternal Siswa Pendekatan 1. Aspek Fisiologis :

- tonus jasmani - mata dan telinga 2. Aspek Psikologis - itelegensi - sikap - minat - bakat - motivasi

1. Lingkungan Sosial : - keluarga

- guru dan staf - masyarakat - teman 2.Lingkungan Nonsosial : - rumah - sekolah - peralatan - alam

1. Pedekatan Tinggi : - speculative - achieving 2.Pendekatan Menengah : - analitical - deep

3. Pendekatan Rendah : - reprosuctive - surface

B. Bahasan Penelitian yang Relevan

Efi dalam skripsinya yang berjudul “Perbedaan Hasil Belajar Biologi Antara Siswa Yang Diajar Melalui Pendekatan Cooperatif Learning Teknik Jigsaw Dengan Teknik STAD”, memberikan kesimpulan terdapat perbedaan antara hasil belajar biologi siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dan teknik STAD. Hasil belajar pada kelas yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw lebih baik dibandingkan dengan kelas yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik STAD.46 Maka pembelajaran dengan teknik jigsaw memberi dampak kepada hasil belajar yang lebih baik.

Yeti Sulastri dan Diana Rochintaniawati dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Pembelajaran Biologi di SMPN 2 Cimalaka” menyatakan bahwa Hasil penelitian dengan uji Z rerata tunggal menunjukkan bahwa pada kelas penelitian

45

Muhibin Syah, Psikologi Belajar, (Penerbit : PT raja Grafindo Persada, edisi revisi ke tujuh, 2008), h. 156

46

Efi, “Perbedaan Hasil Belajar Biologi Antara Siswa Yang Diajar Melalui

(46)

nilainya sudah memenuhi ketuntasan belajar dengan prosentase ketuntasan belajar sebesar 89,74%. Dari penghitu

Gambar

Gambar 2.1 : Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw .................................. 19
Perbedaan Kelompok Belajar dengan Kelompok Belajar KonvensialTabel 2.1 21
Tabel  2.2 Langkah Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Gambar 2.1 Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw
+7

Referensi

Dokumen terkait

yg diberikan o/ salah 1 pihak dlm suatu perkara perdata di luar persidangan u/ membenarkan pernyataan-pernyataan yg. diberikan

Pembelajaran Quantum (SPQ) terhadap pencapaian akademik Bahasa Indonesia, Sains, dan Matematik, (2) mengukur dampak SPQ terhadap pencapaian akademik

Pada penelitian ini, akan dilakukan perancangan filter pasif single tuned pada salah satu model yang dianggap mewakili tingkat harmonisa terbesar yaitu model III

Donc, Nous allons analyser les idéologies du roman « Perburuan » en utilisant à la théorie de l’hégémonie de Gramsci et la traduction de « Perburuan » ayant

Hasil uji F diperoleh F hitung = 21,746 dan ρ = 0,000artinya terdapat pengaruh yang signifikan kualitas pelayanan, kualitas produk, harga produk terhadap kepercayaan

Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui waste kritis yang terjadi dalam pelayanan paket REG beserta CTQ potensialnya, mengukur tingkat kinerja pelayanan

Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan.. sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak

Kita sebagai manusia yang memiliki akal dan berpegang teguh dalam ajaran islam, kita. harus meluruskan niat kita dalm mencari ilmu dan mengamalkannya nanti agar