• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh pembelajaran kimia berbasis inkuiri terhadap pemahaman konsep siswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh pembelajaran kimia berbasis inkuiri terhadap pemahaman konsep siswa"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS INKUIRI

TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP SISWA

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh:

Khasanah

NIM. 104016200440

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)

iii

ABSTRAK

KHASANAH. Pengaruh Pembelajaran Kimia Berbasis Inkuiri Terhadap Pemahaman Konsep Siswa. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan Ilmu Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Juli 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pembelajaran kimia berbasis inkuiri terhadap pemahaman konsep siswa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lemah dengan desain one group

pretest-posttest yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Tangerang Selatan pada

16-30 Mei 2010. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 3 Tangerang Selatan tahun ajaran 2019/2010 . Teknik pengambilan sampel dengan

purposive sampling. Teknik pengumpulan data variabel pemahaman konsep

dengan menggunakan tes formatif, dan angket.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kimia berbasis inkuiri mempengaruhi pemahaman konsep koloid siswa. Hasil analisis data menggunakan statistik uji “t” diperoleh nilai thitung = 4,84 sedangkan nilai ttabel pada taraf signifikansi α = 0,05 (derajat kebebasan 40) adalah 2,68, maka nilai thitung lebih besar dari nilai ttabel, sehingga Ha diterima.

(5)

iv

ABSTRACT

KHASANAH. The Effect of Chemistry Inquiry Based Learning to The

Student’s Understanding of Concepts. Thesis, Chemistry Education,

Departement of Natural Science Education, Faculty of Science and Teacher July 2011.

This study is aimed to find out is there are affect of chemistry inquiry based

learning to the student’s understanding of concept. This research uses the

weak experimental method with one group pretest-posttest which was held in SMA Negeri 3 Tangerang Selatan on 16 to 30 May 2010. The population of this study are all students of class XI SMA Negeri 3 Tangerang Selatan 2009/2010 school year. The sampling technique with the purposive sampling. The data collection techniques using formative tests,and questionnaires.

Based on the result of this study concluded that chemistry inquiry based

learning can affect the student’s understanding of colloidal concepts. It’s can

look from the result of data analysis using t-test obtained score of thitung =

4,84 and ttabel = 2,86 with significant standar 95%, thitung>ttabel. It can be

concluded Ha accepted and Ho rejected.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmaanirrahiim

Alhamdulillah , segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan begitu

banyak nikmat kasih dan sayang-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Pemahaman Konsep Siswa pada Pembelajaran Kimia Berbasis Inkuiri”. Sahalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan

pengikutnya yang setia hingga hari akhir nanti.

Begitu banyaknya hambatan yang telah dilewati oleh penulis untuk proses

penyelesaian skripsi ini, namum begitu banyak dukungan dari berbagai pihak

kepada penulis. Oleh sebab itu dengan segala ketulusan hati ini penluis

menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang

telah berjasa dalam membantu penulis, khusunya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah

dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ayah dan Ibu yang telah selalu memberikan doa dan dukungannya selama ini.

3. Keluarga Bapak Karmana Putra yang telah membiayai study penulis,

sehingga penulis berkesempatan menikmati pendidikan di jenjang perguruan

tinggi.

4. Kakak-kakak, dan semua saudara penulis yang selalu memberikan semangat

kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc. dan Ibu Nengsih Juanengsih, m.Pd, selaku

Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA.

6. Bapak Dedi Irwandi M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia.

7. Ibu Dra. Etty Sofyatiningrum, M.Ed., selaku dosen pembimbing I dan Bapak

Tonih Feronika, M.Pd., sebagai dosen pembimbing II yang telah meluangkan

waktu disela-sela kesibukannya untuk memberikan bimbingan dan

pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

8. Bapak Drs.H. Sujana, M.Pd., selaku Kepala SMA Negeri 3 Tangerang

Selatan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk

(7)

vi

9. Ibu Dewimarhelly, S.Pd., selaku guru mata pelajaran kimia di SMA Negeri 3

Tangerang Selatan yang telah memberikan informasi dan masukan terhadap

penelitian yang penulis lakukan.

10. Seluruh siswa kelas XI IPA 5 sebagai sampel dalam penelitian ini.

11. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan bimbingan ilmu yang sangat

berguna sebagai bekal penulis dalam menjalani tantangan ke depan.

12. Semua teman baik di Program S1 Pendidikan Kimia angkatan 2004, teman

pengajar di bimbingan belajar yang telah memberikan bantuan dan semangat

kepada penulis hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah

membantu penyelesaian skripsi ini.

Semoga setiap bantuan, dukungan semangat yang telah diberikan diberikah

balasan yang berlipat ganda oleh Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata

sempurna, hal ini disebabkan karena keterbatasan pengetahuan penulis. Oleh

karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan

demi perbaikan.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga karya tulis ini dapat memberikan

manfaat khususnya bagi diri sendiri dan dunia pendidikan pada umumnya. Amiin Yaa Rabbal ‘Alamin.

Jakarta, Juli 2011

(8)

vii

DAFTAR ISI

ABSTRAK ……… i

KATA PENGANTAR ………. iii

DAFTAR ISI ………. v

DAFTAR TABEL ……… vii

DAFTAR GAMBAR ……… vii

DAFTAR LAMPIRAN ……… viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Perumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA,KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka ……….. 7

1. Hakikat Konstruktivisme... 7

2. Hakikat Inkuiri ………... 9

a. Pengertian Inkuiri ………. 9

b. Jenis-jenis Inkuiri ………. 12

c. Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis Inkuiri … 13 3. Hakikat Pemahaman Konsep ……….. 14

4. Konsep Koloid ……… 17

B. Kerangka Berpikir ……… 25

(9)

viii

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 27

B. Metode Penelitian ... 27

C. Teknik Pengambilan Sampel ... 27

D. Teknik Pengumpulan Data ... 28

E. Instrumen Penelitian ... 28

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 30

1. Pengolahan Data ………. 30

2. Kalibrasi Instrumen ……… 30

3. Teknik Analisis Data ……….. 33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ……… 38

1. Hasil Belajar Kognitif ……….. 38

2. Data Kualitatif ……… 41

B. Pengujian Prasyarat Analisis ………. 43

1. Uji Normalitas ………. 43

2. Uji Homogenitas ……….. 44

3. Uji N-Gain ………... 45

4. Uji Hipotesis ……….... 47

C. Pembahasan ………... 47

D. Keterbatasan Penelitian ………. 51

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ……… 52

B. Saran ……….. 52

DAFTAR PUSTAKA ………. 53

(10)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Desain Penelitian ……….. 27

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar ……….. 29

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pretest………. 38

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Posttesti ………... 39

Tabel 4.3 Persentase Pemahaman Siswa ………... 40

Tabel 4.4 Hasil Angket Pemahaman Konsep Siswa ………. 41

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas ……….……… 43

Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas ………. 44

Tabel 4.7 Hasil N-Gain Siswa ……….. 45

Table 4.8 Hasil Uji Hipotesis ……… 47

(11)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ……….. 55

Lampiran 2 Lembar Kerja Siswa………... 68

Lampiran 3 Instrumen Validasi ………. 71

Lampiran 4 Soal Ulangan Harian ……….. 76

Lampiran 5 Lembar Respon Siswa Setelah Melakukan Kegiatan Pembelajaran ………. 80

Lampiran 6 Perhitungan Analisis Validasi Instrumen ………... 81

Lampiran 7 Hasil Belajar Siswa ……… 82

Lampiran 8 Diatribusi Frekuensi Pretest……….. 83

Lampiran 9 Distribusi frekuensi Posttest………... 85

Lampiran 10 Perhitungan Uji Normalitas……….. 87

Lampiran 11 Perhitungan Uji Homogenitas ……… 89

Lampiran 12 Perhitungan Uji t……….. 92

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 1 UU

RI N.20 th.2003) dinyatakan bahwa

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara1.

Dengan demikian pendidikan harus mampu menguak dan

mengembangkan keseluruhan potensi kemanusiaan seorang peserta didik

sehingga ia sanggup untuk hidup di era mendatang yang lebih kompleks

dan rumit permasalahannya.

Pendidikan memiliki misi tidak hanya mendidik namun juga

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak bangsa. Dalam UU

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.2

Pendidikan merupakan sebuah cara untuk meningkatkan derajat

suatu bangsa di mata dunia. Itulah yang dapat kita ambil dari sejarah

keberlangsungan suatu bangsa yang maju. Sejarah Jepang telah

membuktikan bahwa setelah hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki pada

Perang Dunia 1, hal pertama yang mereka lakukan adalah memperbaiki

1

UU RI No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ( Jakarta: Sinar Grafika, 2009),h.3 2

(13)

sistem pendidikan mereka untuk mencetak ilmuan baru di berbagai bidang.

Begitu juga Amerika ketika kalah dari Rusia dalam bidang teknologi luar

angkasa, Amerika memperbaiki pendidikan bangsanya untuk menciptakan

ilmuan-ilmuan baru yang bisa menyaingi Rusia dalam bidang teknologi

luar angkasa. Pengutamaan pendidikan juga dipesankan oleh presiden

Sukarno untuk meningkatkan taraf kehidupan bangsa Indonesia setelah

kemerdekaan.

Begitu pentingnya pendidikan bagi suatu bangsa menunjukkan

belajar adalah suatu hal yang penting bagi seseorang untuk menjadi lebih

baik dari hari kemarin. Islam juga mengajarkan hal yang serupa jauh

sebelum Amerika, Jepang dan Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan wahyu

yang pertama kali turun kepada nabi Allah Muhammad SAW yaitu surat

Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:



“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan

Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan

perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al- „Alaq : 1-5)

Ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya membaca dalam hal

ini berarti betapa pentingnya belajar. Besarnya perhatian Islam terhadap

ilmu juga ditunjukkan dengan mewajibkan setiap muslim laki-laki dan

(14)

sendiri menjanjikan bahwa orang yang berilmu itu akan dibedakan

beberapa derajat dari orang yang tidak berilmu. Bukankah ini suatu

kemuliaan bagi orang yang berilmu.

Permasalahan mutu pendidikan seringkali dikaitkan dengan

merosotnya prestasi belajar yang dicapai siswa. Sehubungan dengan hal

tersebut diatas, maka hal semacam itu harus dikaji secara cermat melalui

komponen-komponen penting dalam sistem pendidikan yang berkaitan

agar dapat dilakukan upaya penanggulangannya. Banyak faktor yang

menyebabkan rendahnya pencapaian hasil belajar mata pelajaran kimia

diantaranya yang cukup dikenal adalah: (1) sifat ilmu itu; (2) pelaksanaan

pembelajaran yang kurang baik/tepat; dan (3) karakter pembelajarnya.

Pada umumnya siswa cenderung belajar dengan hafalan daripada

secara aktif mencari tahu untuk membangun pemahaman mereka sendiri

terhadap konsep ilmu kimia tersebut. Hal ini menyebabkan sebagian besar

konsep-konsep kimia menjadi konsep yang abstrak bagi siswa dan bahkan

mereka tidak dapat mengenali konsep-konsep kunci atau hubungan antar

konsep yang diperlukan untuk memahami konsep tersebut. Akibatnya,

siswa tidak dapat membangun pemahaman konsep kimia yang

fundamental pada awal mereka mempelajari ilmu kimia.

Seorang guru atau tenaga pendidik tugas pokok dan misi utama

mereka adalah memberikan pendidikan dan pengajaran. Pada umumnya

metode pembelajaran yang dikembangkan guru kimia dalam kegiatan

belajar mengajar adalah pembelajaran yang masih konvensional, dalam

prosesnya guru menerangkan materi dengan metode ceramah, siswa

mendengarkan kemudian mencatat hal yang dianggap penting. Sumber

utama dalam pembelajaran ini adalah penjelasan guru, siswa hanya pasif

mendengarkan uraian materi, menerima dan “menelan” begitu saja ilmu

atau informasi dari guru. Hal ini berakibat informasi yang didapat kurang

(15)

bosan, jika perasaan ini terus bertambah tentu akan berdampak buruk bagi

siswa, misalnya minat siswa untuk belajar kimia akan turun.

Dalam dunia pendidikan banyak pendekatan pembelajaran yang

bisa diterapkan oleh guru untuk menyampaikan materi yang dapat

disesuaikan dengan karakter dari kelas dan siswa yang beragam.

Pembelajaran yang diterapkan di sekolah hendaknya membiasakan siswa

untuk berpikir sendiri, mereka membangun pemahaman konsep dan

pengetahuan sendiri. Sehingga pengetahuan yang mereka peroleh dapat

membekas lama dalam pikiran mereka.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk

membangun pemahaman konsep siswa adalah pembelajaran inkuiri.

Dalam pendekatan pembelajaran inkuiri dilibatkan semua kemampuan

siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan

analisis layaknya seorang ilmuan. Pada pembelajaran inkuiri siswa

diberikan kesempatan untuk menggali potensinya sendiri dan membangun

konsep dari materi yang diajarkan. Selain itu mereka bertindak layaknya

seorang ilmuan yang diharapkan dapat menemukan sesuatu hal yang baru

bagi mereka sehingga ilmu yang mereka peroleh bukan hanya dari guru

tetapi berdasarkan apa yang mereka alami dan temukan sendiri.

Kimia merupakan ilmu yang termasuk rumpun IPA, oleh

karenanya kimia mempunyai karakteristik sama dengan IPA. Karakteristik

tersebut adalah objek ilmu kimia, cara memperoleh, serta kegunaannya.

Kimia merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan

berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selanjutnya

kimia juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif).

Kimia termasuk ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa,

mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan

komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energitika zat.

Oleh sebab itu, mata pelajaran kimia di SMA/MA mempelajari

segala sesuatu tentang zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat,

(16)

penalaran. Ada dua hal yang berkaitan dengan kimia yang tidak

terpisahkan, yaitu kimia sebagai produk (pengetahuan kimia yang berupa

fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori) temuan ilmuwan dan kimia

sebagai proses (kerja ilmiah). Oleh sebab itu, pembelajaran kimia dan

penilaian hasil belajar kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia

sebagai proses dan produk.

Konsep koloid yang diajarkan ditingkat SMA menuntut siswa

untuk dapat membuat berbagai macam sistem koloid dengan bahan-bahan

yang ada di sekitarnya. Dalam kompetensi ini berarti siswa harus dapat

memahami terlebih dahulu apa itu koloid, melakukan percobaan mana

yang termasuk bahan yang dapat menjadi sistem koloid, menganalisis

apakah benar sistem yang mereka buat adalah sistem koloid atau bukan,

dan menyimpulkan mana zat-zat dalam kehidupan sehari-hari mereka yang

dapat menjadi sistem koloid dan mana yang bukan.

Sesuai dengan kompetensi dasar pada konsep koloid maka

pembelajaran inkuiri mempunyai kriteria yang cocok digunakan pada

pembelajaran konsep koloid. Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti

ingin memfokuskan diri pada penelitian tentang “Pengaruh

Pembelajaran Kimia Berbasis Inkuiri terhadap Pemahaman Konsep Siswa ”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi ada

beberapa masalah yang muncul yaitu :

1. Kurang bervariasinya metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru.

2. Keaktifan siswa di dalam proses pembelajaran masih kurang.

3. Kebosanan yang dialami siswa dengan metode ceramah yang

diterapkan guru.

4. Pemahaman siswa terhadap pelajaran kimia masih belum baik.

(17)

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini dapat terarah dan tidak terlalu luas jangkauannya maka

diperlukan pembatasan masalah, adapun pembatasan masalah dalam

penelitian ini adalah:

1. Pendekatan mengajar yang digunakan adalah pendekatan inkuiri yaitu

inkuiri terbimbing

2. Pemahaman konsep siswa tentang koloid dalam hal ini akan ditinjau

dari aspek kognitif dan psikomotor.

3. Subjek penelitian adalah siswa kelas X1 semester II SMA Negeri 3

Tangerang Selatan tahun pembelajaran 2009/2010.

D. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat pengaruh pembelajaran kimia berbasis inkuiri terhadap pemahaman siswa?”

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran

berbasis inkuiri terhadap pemahaman konsep siswa.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi

perorangan maupun bagi instansi pendidikan sebagai berikut:

1. Bagi peneliti; hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan

dalam menggunakan pembelajan berbasis inkuiri pada pembelajaran

kimia untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, kelak jika

peneliti sudah menjadi seorang pendidik.

2. Bagi para pendidik; khususnya guru kimia, akan memperoleh masukan

tentang adanya variasi strategi pembelajaran sehingga dapat

menggunakannya sebagai salah satu alternatif dalam memperbaiki dan

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR,

DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. TINJAUAN PUSTAKA

1. Hakikat Konstruktivisme

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang

kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu

proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi,

menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Dilihat

dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan

pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan

(2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered

approach).1

Pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan yang berpangkal dari

kombinasi antara psikologi kognitif dengan psikologi sosial. Huitt W dalam

Conctructivism, Educational Psychology Interactive menyatakan bahwa: the basic in

constructivisme is that an individual lerner must actively “build” knowladge and skill an

information exists within this buili construcs rather than in external environtment.2 Jadi

dalam pendekatan konstruktivisme ini pengetahuan dibangun atau di konstruksi oleh orang

itu sendiri. John Dewey adalah tokoh filsafat yang memperkenalkan pendekatan ini. Inti

teori konstruktivis adalah gagasan bahwa pelajar masing-masing harus menemukan dan

mengubah informasi yang rumit kalau mereka ingin menjadikannya milik sendiri.3

Menurut pandangan para konstruktivis belajar adalah suatu proses dimana

pengetahuan diperoleh dengan jalan mengkaitkan informasi baru kepada pengetahuan yang

telah dimiliki sebelumnya secara individu.4 Dalam pembelajaran siswa dipandang telah

1

Akhmad Sudrajat, Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran. (Oktober 2008) Diakses dari http://www.psb-psma.org. pada 27 Januari 2009.

2

Huitt, W, Constructivism. Educational Psychology Interactive. (Valdosta State University, 2009) diakses dari http://teach.valdosta.edu/whuitt/col/cogsys/construct.html pada Juni 2009

3

Robert E Slavin, Psikologi Pendidikan Teori dan Praktek, jilid 2, (Jakarta: PT Indeks, 2009), h.6

4

(19)

memiliki pengetahuan awal kemudian dalam pembelajaran siswa akan membangaun

pemahamannya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang ia miliki kemudian dipadukan

dengan pengetahuan baru yang ia peroleh. Sehingga dalam pembelajaran, siswa menjadi

aktif dan bukan pasif. Fungsi guru dalam pembelajaran konstruktivisme adalah sebagai

fasilitator, artinya guru membantu siswa menemukan makna mereka sendiri bukannya

mengajari dan menguasai semua kegiatan di ruang kelas.

Implikasi konstruktivisme bagi pembelajaran menurut Wesley A. Hoover

setidaknya ada empat hal.5 Pertama, pembelajaran tidak dipandang sebagai hanya sebuah proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Guru dalam pembelajaran

konstruktivisme bukanlah pemeran utama dalam pembelajaran, guru hanya berfungsi

sebagai fasilitator yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat tingkat

pemahamannya. Kedua, pembelajaran berdasar pada pengetahuan awal siswa, guru harus

mengetahui bahwa pengetahuan dan lingkungan belajar siswa sangat mempengaruhi

pembelajaran. Ketiga, siswa harus menggunakan pemahaman yang mereka miliki pada

situasi untuk membangun pengetahuan baru, guru harus melibatkan siswa dalam

pembelajarannya. Keempat, jika pengetahuan baru benar-benar di bangun maka dibutuhkan

waktu untuk membangunnya.

Senada dengan hal di atas, Widodo mengemukakan lima pandangan

konstruktivisme tentang belajar dan mengajar, yaitu:6

a. Pembelajar telah memiliki pengetahuan awal. Tidak ada pembelajar yang otaknya

benar-benar kosong. Pengetahuan awal yang dimiliki oleh pembelajar memainkan

peranan penting pada saat ia belajar tentang sesuatu hal yang ada kaitannya dengan apa

yang telah diketahui.

b. Belajar merupakan proses pengkonstruksian suatu pengetahuan berdasarkan

pengetahuan yang telah dimiliki. Pengetahuan tidak dapat ditransfer dari satu sumber

ke penerima, namun pembelajar sendirilah yang mengkonstruk pengetahuan.

c. Belajar adalah perubahan konsepsi pembelajar. Karena pembelajar telah memiliki

pengetahuan awal, maka belajar adalah proses mengubah pengetahuna awal siswa

5

Wesley A.Hoover, The Practice Implications of construstivism, diakses dari

http://www.sedl.org/pubs/sedletter/v09n03/practice.html pada Juni 2009

6

(20)

sehingga sesuai dengan konsep yang diyakini “benar” atau agar pengetahuan awal

siswa bisa berkembang menjadi suatu konstruksi pengetahuan yang lebih besar.

d. Proses pengkonstruksian pengetahuan berlangsung dalam suatu konteks sosial tertentu.

Sekalipun proses pengkonstruksian pengetahuan berlangsung dalam otak

masing-masing individu, namun sosial memainkan peran penting dalam proses tersebut sebab

individu tidak terpisah dari individu lainnya.

e. Pembelajar bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Guru atau siapapun tidak

dapat memaksa siswa untuk belajar sebab tidak ada seorangpun yang bisa mengatur

proses berpikir orang lain. Guru hanyalah menyiapkan kondisi yang memungkinkan

siswa belajar, namun apakah siswa benar-benar belajar tergantung sepenuhnya pada

diri pembelajar itu sendiri.

Jadi pada intinya pembelajaran konstruktivisme adalah pembelajaran yang

menyerahkan semua proses belajar kepada siswa dimana siswa membangun

pemahamannya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang ia miliki.

2. Hakikat Inkuiri

a. Pengertian Inkuiri

Inquire” berarti menanyakan, meminta keterangan, atau menyelidiki. Inkuiri

dalam bahasa Inggris “Inquiry” berarti pertanyaan atau pemeriksaan atau penyelidikan. Suchman mengembangkan model pembelajaran dengan pendekatan Inkuiri. Pendekatan

pembelajaran ini melatih siswa dalam proses untuk menginvestigasi dan menjelaskan

suatu fenomena yang tidak biasa. Proses-proses mental yang terdapat pada inkuiri ini

antara lain: merumuskan masalah, membuat hipotesis, mendesain eksperimen, melakukan

eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan.7

Menurut Ratna Wilis Dahar, “metode inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan

menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan

sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri”. 8

7

Abu Ahmadi, Strategi Belajar Mengajar, ( Bandung: Pustaka Setia, 2005), h. 76

8

(21)

Pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di

mana kelompok-kelompok siswa dihadapkan pada suatu persoalan atau mencari jawaban

terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang

digariskan secara jelas.

Menurut Hacket, di dalam Standar Nasional Pendidikan Sains di Amerika Serikat,

inkuiri digunakan dalam dua terminologi yaitu sebagai pendekatan pembelajaran

(scientific inquiry) oleh guru dan sebagai materi pelajaran sains (science as inquiry) yang

harus dipahami dan mampu dilakukan oleh siswa. .9 Sebagai strategi pembelajaran, inkuiri dapat diimplementasikan secara terpadu dengan strategi lain sehingga dapat

membantu pengembangan pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan melakukan

kegiatan inkuiri oleh siswa. Jadi inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan yang melibatkan

semua kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki suatu permasalah dengan cara

yang sistematis dengan metode ilmiah untuk merumuskan penemuan.

Menurut Randy L.Bell dan kawan-kawan dalam “Simplifiying Inquary Instructions” mengenai inkuiri adalah

At its heart, inquiry is an active learning process in which students answer research questions through data analysis. One might argue that the most authentic inquiry activities are those in which students answer their own questions through analyzing data they collect independently. However, an activity can still be inquiry based when the questions and data are provided, as long as students are conducting the analysis and drawing their own conclusions. Furthermore, most students need substantial scaffolding before they are ready to develop scientific questions and design effective data collection procedures to answer

these questions.10

Dari pengertian inkuiri di atas, untuk melaksanakan pembelajaran inkuiri ada tiga

kondisi yang perlu diperhatikan, yaitu siswa berhadapan dengan suatu masalah real dan

bermakna bagi siswa dari suatu kejadian tertentu yang belum dikenalnya, siswa bebas

untuk mengumpulkan data dan menemukan urutannya sesuai dengan yang diinginkannya,

dan siswa berhadapan dengan lingkungan yang responsif, fleksibel, dan bebas untuk

berinteraksi sehingga informasi yang diperlukan siswa dapat diberikan dengan tepat.

9

Prof.Dr. Muslimin Ibrahim, Pembelajaran Inkuiri, diakses dari

http://herfis.blogspot.com/2009/07/pembelajaran-inkuiri.html pada November 2009

10

Randy L. Bell, Lara Smetana, and Ian Binns, Simplifiying Inquiry Instructions, diakses dari

(22)

Proses inkuiri akan berlangsung terus menerus sehingga temuan baru itu

mempunyai arti bagi diri siswa. Guru sebagai fasilitator harus mempunyai

langkah-langkah tertentu untuk mendorong jenis inkuiri pada siswa. Langkah yang dapat diambil

oleh guru menurut Roestiyah harus:

1) Menstimulus dan menantang siswa untuk berpikir.

2) Memberikan fleksibilitas atau kebebasan untuk berinisiatif dan bertindak.

3) Memberikan dukungan untuk menemukan sesuatu.

4) Mendiagnosa kesulitan-kesulitan siswa dan membantu mengatasinya.

5) Mengidentifikasi dan menggunakan teach able moment sebaik-baiknya. 11

Sedangkan urutan pembelajaran berbasis inkuiri yang diajukan oleh NRC,

langkah-langkahnya sebagai berikut:

a) Tahap undangan untuk berinkuiri, dalam hal ini guru memberikan rangsangan agar

memotivasi dan menimbulkan rasa ingin tahu siswa sehingga siswa mengajukan

pertanyaan yang diminati untuk diteliti. Oleh karena itu pada tahap ini diperlukan

keterampilan guru dalam mengajukan pertanyaan (keterampilan bertanya).

b) Tahap perencanaan percobaan, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan

dipersilahkan untuk merencanakan percobaan yang akan dilakukan berdasarkan

pertanyaan yang diajukan sendiri.

c) Tahap pelaksanaan percobaan, setelah rencana matang pelaksanaan penelitian pun

dilakukan melalui proses merakit dan menguji alat-alat, mendesain dan menguji

bentuk-bentuk pengumpulan data, mengembangkan data dan menguji jadwal

pengumpulan data, kelompok melakukan pengumpulan, penyusunan, dan

interpretasi data.

d) Tahap mengkomunikasikan hasil, pada tahap ini kelompok menciptakan laporan

tertulis untuk menjelaskan dan mempresentasikannya kepada kelompok lain.12 Agar pembelajaran inkuri ini berjalan dengan sukses, bukan hanya bergantung

pada silabus atau kurikulumnya saja. Guru menjadi kunci dalam pembelajarannya,

dimana guru harus mempunyai kemampuan untuk mengelola kelas agar pemelajaran

inkuri itu berhasil. Yang pertama guru harus menguasai instruksi atau perintah untuk

11

Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), h.79-80.

12

(23)

melakukan inkuiri. Guru harus percaya pada kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa.

Untuk lebih menyukseskan pelaksanaan inkuiri maka guru membutuhkan kemampuan

untuk berpikir operasional, tentang materi yang akan diselidiki siswa, dan juga

pengatahuan tentang gaya belajar siswa.

Beberapa tindakan yang dapat perlu dilaksanakan guru pada pembelajaran inkuiri

yang sukses menurut Alan Colburn antara lain:

1) Menggunakan kalimat terbuka ketika bertanya kepada siswa.

2) Menunggu beberapa saat setelah pertanyaan itu diberikan untuk memberikan

kesempatan bagi siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

3) Menanggapi jawaban siswa tanpa bermaksud untuk mengkritisi atau menghakimi.

4) Memberikan saran kepada siswa atas ide yang diberikan oleh siswa.

5) Mengelola kedisiplinan kelas.13

b. Jenis-jenis Inkuiri

Alan Colburn seorang professor di Universitas Negeri California membagi jenis

inkuiri menjadi empat yaitu inkuiri terstruktur (Structured inqury), inkuiri terbimbing

(Guided inquiry), inkuiri bebas (open inquiry), dan siklus belajar (learning cycle)14.

1) Structured Inquiry

Pada pembelajaran inkuiri terstruktur guru memberikan permasalahan melalui

hands-on untuk diselidiki, berikut dengan bahan dan prosedur kerjanya. Tetapi guru tidak

memberitahukan hasil yang diharapkan dari kegiatan yang siswa lakukan. Siswa bertugas

menghubungkan antar variabel dan menyimpulkan data yang mereka peroleh.

2) Guide Inquiry

Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang

dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada

siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh provides only the materials and problem to

investigate. Students devise their own procedure to solve the problem.”

Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing guru tidak melepas begitu saja

kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan

kepada siswa dalam melakukan kegiatan-kegiatan sehingga siswa yang berifikir lambat

13

Alan Colburn, An Inquiry Primer, (Science Scope, 2000) diakses dari

http://www.nsta.org/main/news/pdf/ss003_42.pdf. 2008. h. 44

14

(24)

atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan

yang sedang dilaksanakan dan siswa mempunyai intelegensi tinggi tidak memonopoli

kegiatan oleh sebab itu guru harus memiiki kemampuan mengelola kelas yang bagus.

Inkuiri terbimbing biasanya digunakan terutama bagi siswa-siswa yang belum

berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Pada tahap-tahap awal pengajaran

diberikan bimbingan lebih banyak yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan pengarah agar

siswa mampu menemukan sendiri arah dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan

untuk memecahkan permasalahan yang disodorkan oleh guru. Pertanyaan-pertanyaan

pengarah selain dikemukakan langsung oleh guru juga diberikan melalui pertanyaan

yang dibuat dalam LKS. Oleh sebab itu LKS dibuat khusus untuk membimbing siswa

dalam melakukan percobaan dan menarik kesimpulan.

3) Open Inquiry

Pendapat Alan Colburn tentang inkuiri jenis ini adalah “This approach is similar to guided inquiry, with the addition that students also formulate their own problem to investigate. Open inquiry, in many ways, is analogous to doing science. Science fair

activities are often examples of open inquiry.”

Pada model ini siswa harus mengidentifikasikan dan merumuskan macam

problema yang dipelajari dan dipecahkan. Jenis model inkuiri ini lebih bebas daripada

kedua jenis inkuiri sebelumnya.

4) Learning Cycle

Dalam siklus belajar, siswa mengikuti prosedur inkuiri terbimbing diikuti diskusi

yang dipimpin guru mengenai penemuan mereka. Siswa diberikan konsep yang akan

dibahas secara paralel. Siswa diberikan terlebih dahulu pengetahuan sebelum mereka

mengenalnya. Kemudian mereka kembali lagi ke laboratorium untuk menerapkan apa

yang telah mereka pelajari pada situasi yang baru.

c. Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis Inkuiri

Seperti halnya metode pembelajaran yang lain, inkuiri juga mempunyai beberapa

keunggulan dan kelemahan. Diantara keunggulan itu menurut Wina Sanjaya adalah

(25)

1) Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada

pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang,

sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.

2) Inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan

gaya belajar mereka.

3) Inkuiri dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang

menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya

pengalaman.

4) Inkuiri dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan belajar di

atas rata-rata. 15

Di samping keuntungan ada juga kelemahan-kelemahan dalam metode inkuiri.

Menurut Jerome Bruner kelemahan itu antara lain:

a) Diperlukan keharusan kesiapan mental untuk cara belajar. Dengan percaya diri yang

kuat. Pembelajar harus mampu menghilangkan hambatan.

b) Jika pendekatan inkuiri diterapkan dalam kelas dengan jumlah pembelajar yang besar,

kemungkinan besar tidak berhasil.

c) Pembelajar yang terbiasa belajar dengan pengajaran tradisional yang telah dirancang

pengajar, biasanya agak sulit untuk memberi dorongan. Lebih-lebih kalau harus

belajar mandiri. Dampaknya dapat mengecewakan pengajar dan pembelajar sendiri.

d) Lebih mengutamakan dan mementingkan pengertian, sikap dan keterampilan

memberi kesan terlalu idealis. Ada kesan dananya terlalu banyak, lebih-lebih kalau

penemuannya kurang berhasil, hanya merupakan suatu pemborosan belaka. 16

3. Pemahaman Konsep

Arti pemahaman dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” adalah proses, cara,

perbuatan memahami atau memahamkan.17 Pemahaman juga diartikan dari kata

“understanding” Michener menyatakan bahwa pemahaman merupakan salah satu aspek dalam Taksonomi Bloom. Pemahaman diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi

15

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,Cet. Ke 5, 2008), h.206

16

Anonimous, Pendekatan Inquiri dalam Mengajar, artikel diakses dari

http://pakdesofa.blog.plasa.com/archives/24 pada Oktober 2009

17

(26)

bahan yang dipelajari. Pemahaman adalah kemampuan untuk menjelaskan suatu situasi

atau suatu tindakan. Untuk memahami suatu objek itu sendiri, relasinya dengan objek lain

yang sejenis, relasinya dengan objek lain yang tidak sejenis, dan relasinya dengan objek

dalam teori lainnya.

Dalam kamus ilmiah popular, konsep bermakna ide umum, pengertian, pemikiran,

rancangan, rencana dasar.18 Menurut Syaiful Sagala, konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau kelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga melahirkan

produk pengetahuan yang meliputi prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari

fakta, peristiwa, pengalaman, melalui generalisasi dan berpikir abstrak.19

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan pemahaman konsep adalah kemampuan

untuk menjelaskan suatu situasi atau tindakan yang dinyatakan dalam definisi sehingga

melahirkan produk pengetahuan yang meliputi prinsip, hukum, dan teori.

Bloom memyebutkan bahwa ada tiga kategori pemahaman, yakni penerjemahan

(translation), penafsiran (interpretation), dan ekstrapolasi (extrapolation).20 Adapun

masing-masing kategori pemahaman mengandung pengertian sebagai berikut :

a. Penerjemahan (translation) yaitu pemahaman yang berkaitan dengan kemampuan

siswa dalam menerjemahkan kalimat dalam soal menjadi bentuk lain, misalnya

menyebutkan variable-variabel yang diketahui dan yang ditanyakan atau mengubah

dari lambing ke arti.

b. Penafsiran (interpretation) yaitu pemahaman yang berkaitan dengan kemampuan

siswa dalam menentukan konsep-konsep yang tepat untuk digunakan dalam

menyelesaikan masalah/soal.

c. Pembuatan ekstrapolasi (extrapolation), yaitu pemahaman yang berkaitan dengan

kemampuan siswa menyimpulkan konsep yang telah diketahui dengan

menerapkannya dalam perhitungan matematis untuk menyelesaikan soal.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, pemahaman konsep kimia

yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kemampuan siswa dalam menentukan

konsep-konsep yang tepat untuk digunakan dalam menyelesaikan soal.

18

Ahmad Maulana, dkk, Kamus Ilmiah Populer lengkap Edisi Terbaru, (Yogyakarta:Absolut, 2004), h.239.

19

Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2006), cet. Ke 4, h. 71.

20

(27)

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemahaman siswa menurut

Wahyudi adalah sebagai berikut:21 a. Tingkat Usia

Pada tahap usia SD, kebanyakan pemahaman mereka ditekankan tingkat hafalan

(role learning), tanpa tekanan untuk menjelaskan mengapa atau bagaimana.

Sedangkan pada tahap usia SLTP maupun SMU, pembelajaran haruslah dipusatkan

pada pemberdayaan (empowerment) siswa untuk mencapai tingkat pemahaman yang

lebih tinggi yaitu pemahaman relasional.

b. Pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar

(KBM).

Pemilihan terhadap penggunaan pendekatan sangat mempengaruhi pemahaman

siswa. Jika kita mengharapkan pembelajaran yang menekankan kepada pencapaian

tingkat pemahaman siswa yang lebih tinggi atau pembelajaran bermakna bagi siswa,

kita harus dapat memilih dan menggunakan cara-cara atau pendekatan pembelajaran

yang sesuai dengan bahan ajar. Dengan demikian akan tercapailah tujuan akhir

pembelajaran.

c. Motivasi Siswa.

Siswa dapat dikelompokkan menjadi tiga, kelompok pertama adalah kelompok siswa

yang benar-benar ingin belajar (willing to learn), ingin memahami apa yang akan

dipelajari selama proses belajar mengajar. Kelompok ini memiliki motivasi yang

sangat tinggi. Kelompok kedua adalah kelompok siswa yang hanya ingin nilai terbaik

(to gain a good mark). Siswa dikelompok ini biasanya punya motivasi dan tingkat

partisispasi yang tinggi dalam proses kegiatan belajar mengajar, namun labbil. Dan

kelompok yang ketiga adalah kelompok siswa yang sekedar ikut sekolah (to have fun

at school) atau lebih tepatnya kelompok penggembira. Bagi mereka yang penting

adalah masuk sekolah dan baik kelas.

Kriteria yang digunakan untuk mengetahui persentase pemahaman siswa menurut

Suharsimi Arikunto dalam Dwi Yulianti adalah22 :

21

(28)

1) Persentase antara 0 – 30 termasuk kategori persentase pemahaman kurang sekali.

2) Persentase antara 31 – 55 termasuk kategori persentase pemahaman kurang.

3) Persentase antara 56 – 65 termasuk kategori persentase pemahaman cukup.

4) Persentase antara 66 – 79 termasuk kategori persentase pemahaman baik.

5) Persentase antara 80 – 100 termasuk kategori persentase pemahaman baik sekali.

4. Konsep Koloid

Sistem dispersi adalah sistem dimana suatu zat tersebar merata (fase terdispersi)

di dalam zat lain (fase pendispersi atau medium). Fase terdispersi bersifat diskontinu

(terputu-putus) sedangkan medium disperse bersifat kontinu. Ada tiga jenis sistem

dispersi yaitu larutan, suspensi, dan koloid.

Larutan adalah keadaan dimana zat terlarut (molekul, atom, ion) terdispersi secara

homogen dalam zat pelarut. Larutan bersifat stabil dan tak dapat disaring, tidak ada

endapan. Diameter partikel zat terlarut lebih kecil dari 10-7 cm. Contoh : larutan sirup, larutan garam. Suspensi adalah keadaan dimana zat terlarut terdipersi secara

heterogendalam zat pelarut, sehingga partikel-partikel zat terlarut cenderung mengendap

dan dapat dibedakan dari zat pelarutnya. Suspensi bersifat diskontinu, dapat disaring dan

merupakan sistem 2 fase. Diameter partikel zat terlarut lebih besar dari 10-5 cm. Contoh: air sungai, air kapur. Koloid adalah suatu campuran yang keadaannya berada diantara

larutan dan suspensi/larutan kasar. Koloid terlihat sebagai campuran homogen, namun

digolongkan sebagai campuran heterogen secara mikrokopis. Koloid umumnya bersifat

stabil dan tidak dapat disaring, campuran 2 fase. Diameter zat terlarut antar 10-7-10-5 cm. Pada umumnya zat yang ditemukan pada kehidupan sehari-hari berada dalam

keadaan koloid sehingga semua cabang ilmu kimia sangat berkepentingan dengan kimia

koloid, diantaranya:

1. Semua jaringan bersifat koloidal

2. Tanah terdiri dari bagian-bagian yang bersifat koloid sehingga ilmu tanah, pertanian

dan sebagainya harus mencakup penerapan kimia koloid pada tanah

22

(29)

3. Pengetahuan tentang koloid sangat diperlukan dalam industri cat, keramik, plastik,

tekstil, kertas, lem, tinta, semen, karet, kulit, penyedap, mentega, keju, susu dan

makanan lain, pelumas, sabun, obat semprot pertanian dan insektisida, gel, selai dan

lain-lain.

Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaanya terletak antara

larutan dan suspensi (campuran kasar). Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas yang

berbeda dari sifat larutan atau suspensi. Keadaan koloid bukan ciri dari zat tertentu karena

semua zat, baik padat, cair, maupun gas, dapat dibuat dalam keadaan koloid. Karena

sistem koloid sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari, kita harus mempelajarinya

lebih mendalam agar kita dapat menggunakannya dengan benar dan dapat bermanfaat

untuk diri kita.

Berdasarkan fase mediumnya, sol, emulsi, dan buih masih terbagi atas beberapa

jenis yaitu sol padat, sol cair, sol gas, emulsi padat, emulsi cair, emulsi gas, buih padat,

dan buih cair. Secara jelaskan akan dipaparkan sebagai berikut, koloid terdiri atas

bagian-bagian berikut:

1. Sol padat (padat-padat)

Sol padat ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat.

Contoh:' logam paduan, kaca berwama, intan hitam, permata (gem) dan baja.

2. Sol cair (padat-cair)

Sol cair ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair.

Berarti, Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase cair. Contoh: cat,

tinta, dan kanji.

3. Sol gas (padat-gas)

Sol gas (aerosol padat) ialah koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase

gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase gas. Contoh: asap dan

debu.

4. Emulsi padat (cair-padat)

Emulsi padat (gel) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat.

Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase padat. Contoh: mentega, keju,

(30)

5. Emulsi cair (cair-cair)

Emulsi cair (emulsi) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair.

Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase cair. Contoh emulsi minyak

dalam air : susu , minyak ikan, dan santan kelapa.

6. Emulsi gas (cair-gas)

Emulsi gas (aerosol cair) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase

gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase gas. Contoh: obat-obat

insektisida (semprot), kabut, dan hair spray.

Emulsi adalah suatu sistem koloid dimana fase terdispersi dan medium

pendispersinya tidak dapat bercampur. Untuk membentuk emulsi digunakan zat

pengemulsi atau emulgator yang berfungsi sebagai zat penstabil. Misalnya saja sabun

untuk mengemulsi minyak dan air, kasein sebagai emulgator dalam susu (lemak

dalam air).

7. Buih padat (gas-padat)

Buih padat ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini

berarti zat terdispersi fase gas dan medium fase padat. Contoh: busa jok dan batu

apung, styrofoam, nasi, marshmallow.

8. Buih cair (gas-cair)

Buih cair (buih) ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase cair.

Berarti, zat terdispersi faso gas dan medium fase cair. Contoh: buih sabun, ombak,

buih soda, dan krim kocok.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa koloid mempunyai perbedaan dengan

suspense dan larutan diantara perbedaan itu, koloid mempunyai sifat yang khas yaitu:

1. Efek Tyndall

Adalah sifat penghamburan cahaya oleh koloid. Ditemukan oleh John tyndall,

oleh karena itu sifat ini dinamakan Tyndall. Efek Tyndall digunakan untuk

membedakan sistem koloid dari larutan sejati. Salah satu cara mengenali koloid adalah

menjatuhkan seberkas cahaya kepada objek. Larutan bersifat meneruskan cahaya,

sedangkan koloid bersifat menghamburkan cahaya. Berkas cahaya yang melalui koloid

dapat diamati dari arah samping walaupun partikel koloidnya tidak tampak. Jika

(31)

sorot lampu proyektor di ruangan yang berasap dan berkas sinar matahari melalui

celah daun pohon pada pagi hari yang berkabut.

2. Gerak Brown

Merupakan gerak lurus yang tidak beraturan (zig-zag) dari partikel koloid

dalam medium pendispersi. Gerak ini terjadi akibat tabrakan antara partikel koloid

dengan medium pendispersinya. Gerak brown dipengaruhi oleh ukuran partikel dan

suhu, semakin kecil ukuran partikel koloid akan semakin cepat pula gerakannya.

Semakin tinggi sushu sistem koloid, semakin besar energi kinetik yang dimiliki

partikel medium. Akibatnya, gerak Brown dri partikel fase terdispersinya semakin

cepat. Gerak brown menyebabkan sistem koloid stabil.

3. Adsorpsi koloid

Adsorpsi adalah proses penyerapan suatu zat di permukaan zat lain. Zat yang

diserap disebut fase terserap dan zat yang menyerap disebut adsorpen. Hal ini karena

adanya gaya tarik molekul-molekul pada permukaan adsorpen. Daya adsorpsi partikel

koloid tergolong besar, karena pertikelnya memiliki permukaan yang luas.

Pemanfaatan adsorpsi dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

1. Proses pemutihan gula pasir.

2. Penyembuhan sakit perut dengan serbuk karbon atau norit.

3. Penjernihan air keruh dengan menggunakan tawas (Al2(SO4)3).

4. Penggunaan arang aktif pda masker untuk menyerap gas yang beracun, dan filter.

pada rokok yang berfungsi mengikat asap nikotin dan tar.

4. Koagulasi

Partikel koloid memiliki sifat stabil karena memiliki muatan listrik yang

sejenis. Apabila muatan listrik itu hilang, maka partikel koloid tersebut akan

bergabung membentuk gumpalan. Proses penggumpalan partikel koloid dan

pengendapannya disebut Koagulasi.

(32)

a. Secara mekanik melalui pengadukan cepat, pendinginan (pembuatan agar-agar,

pembuatan es lilin), dan pemanasan (larutan sagu dipasakan, perebusan telur, santan

dipanaskan, pembuatan tahu).

b. Penambahan elektrolit (asam, basa, garam) misalnya penambahan susu dengan

sirup masam, penambahan tawas pada air sungai. Jika bagian tubuh mengalami

luka maka ion Al3+ atau Fe3+ segera menetralkan partikel albuminoid yang dikandung darah sehingga terjadi penggumpalan darah yang menutupi luka. Pada

pengolahan karet, partikel-partikel karet dalam lateks digumpalkan dengan

penambahan asam asetat atau asam format sehingga karet dapat dipisahkan dari

lateksnya.

c. Pencampuran antara dua koloid yang berlawanan muatan. Misalnya Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur dengan As2S3 yang bermuatan negatif.

5. Elektroforesis

Partikel-partikrl koloid mempunyai muatan listrik yan g berbeda, pertikel ini

akan bergerak dalam medan listrik. Pergerakan partikel koloid dalam medan listriik

disebut dengan elektroforesisi. Elketroforesis ini dapat digunakan untuk menentukan

jenis muatan partikel koloid.

Manfaat dari elektroforesis:

a. Untuk menentukan muatan partikel koloid

b. Untuk mengidentifikasi DNA

c. Untuk memproduksi barang industri yang terbuat dari karet.

d. Untuk mengurangi zat pencemar udara yang dikeluarkan dari cerobong asap pabrik

dengan alat yang disebut Cottrel.

6. Dialisis

Dialaisis adalah suatu proses penghilangan ion-ion pengganggu kestabilan

dengan menggunakan selaput membran semipermiabel. Suatu koloid biasanya

bercampur dengan ion-ion pengganggu, karena partikel koloid memiliki sifat

(33)

koloid dalam membran semipermiabel (selofan), baru kemudian akan dialiri air yang

mengalir. Karena diameter ion pengganggu jauh lebih kecil daripada koloid, maka ion

pengganggu akan merembes melewati pori-pori kertas selofan, sedangkan partikel

koloid akan tertinggal.

Aplikasi proses dialisis dalam kehidupan sehari-hari adalah proses cuci darah

untuk penderita gagal ginjal. Jaringan ginjal bersifat semipermiabel, selaput ginjalnya

hanya dapat dilewati oleh air dan molekul sederhana seperti urea, tetapi menahan

partikel-partikel koloid seperti sel-sel darah merah.

7. Koloid pelindung

Koloid pelindung adalah sistem koloid yang ditambahakan pada koloid lain

agar diperoleh koloid yang stabil. Koloid pelindung ini anak membungkus partikel

terdispersi sehingga tidak dapat lagi berkelompok dan menggumpal.

Contoh koloid pelindung antara lain:

- gelatin yang digunakan pada pembuatan es krim untuk mencegah pembentukan

kristal es yang keras dan kasar,

- cat dan tinta dapat bertahan lama juga karena adanya koloid pelindung

- zat-zat pengemulsi seperti sabun dan detergen juga tergolong koloid pelindung.

8. Koloid Liofil dan Liofob

Koloid liofil adalah koloid yang partikelnya menarik (suka) medium

pendispersinya. Contohnya agar-agar, kanji, lem, gelatin. Koloid liofob adalah koloid

yang pertikelnya tidak menarik (tidak suka) medium pendispersinya. Contohnya

adalah koloid logam. Koloid liofil lebih stabil jika dibandingkan dengan koloid liofob.

Suatu zat dapat dibuat menjadi koloid dengan beberapa cara. Pembuatan partikel

koloid dapat dilakukan dengan memperbesar partikel larutan atau memperkecil partikel

suspensi. Maka dari itu ada dua metode dasar dalam pembuatan system koloid yaitu

disperse dan kondensasi.

Dispers i

Larutan Koloid Suspensi

(34)

1. Cara kondensasi

Merupakan cara pembuatan koloid dengan cara menggabungkan larutan sejati

menjadi partikel koloid. Pembuatan koloid dengan metode kondensasi biaanya

dilakukan dengan cara reaksi redoks, hidrolisis, penggantian pelarut dekomposisi

rangkap. Untuk lebih jelasnya simak pemaparan berikut ini;

a. Reaksi dekomposisi rangkap

Misalnya:

- Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-lahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang;

As2O3 (aq) + 3H2S(g) → As2O3 (koloid) + 3H2O(l)

(Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2-)

- Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Al dalam air mendidih; AlCl3 (aq) + 3H2O(l) → Al(OH)3 (koloid) + 3HCl(aq)

b. Reaksi reduksi-oksidasi (redoks)

Misalnya:

- Sol belerang dapat dibuat dengan mereduksi SO2 yang terlarut dalam air dengan mengalirinya gas H2S ;

2H2S(g) + SO2(aq) → 3S(s) + 2H2O(l)

c. Penggatian pelarut

Cara ini dilakukan dengan mengganti medium pendispersi sehingga fasa terdispersi

yang semulal arut setelah diganti pelarutanya menjadi berukuran koloid. Misalnya;

- untuk membuat sol belerang yang sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam

alkohol seperti etanol dengan medium pendispersi air, belarang harus terlebih dahulu

dilarutkan dalam etanol sampai jenuh. Baru kemudian larutan belerang dalam etanol

tersebut ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk. Sehingga

belerang akan menggumpal menjadi pertikel koloid dikarenakan penurunan kelarutan

(35)

2. Cara dispersi

Merupakan cara pembuatan koloid dengan memecah partikel-partikel kasar (besar)

menjadi partikel koloid. Proses disperse ini dapat dilakukan dengan beberapa cara

yaitu cara mekanik, peptisasi, dan busur bredig. Simak penjelasan berikut ini.

a. Cara Mekanik

Cara mekanik adalah penghalusan partikel-partikel kasar zat padat dengan proses

penggilingan untuk dapat membentuk partikel-partikel berukuran koloid. Alat yang

digunakan untuk cara ini biasa disebut penggilingan koloid, yang biasa digunakan

dalam:

- industri makanan untuk membuat jus buah, selai, krim, es krim,dsb.

- Industri kimia rumah tangga untuk membuat pasta gigi, semir sepatu, deterjen, dsb.

- Industri kimia untuk membuat pelumas padat, cat dan zat pewarna.

- Industri-industri lainnya seperti industri plastik, farmasi, tekstil, dan kertas.

b. Cara peptisasi.

Cara peptisasi adalah pembuatan koloid/sistem koloid dari butir-butir kasar atau dari

suatu endapan/proses pendispersi endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi

(pemecah). Zat pemecah tersebut dapat berupa elektrolit khususnya yang

mengandung ion sejenis ataupun pelarut tertentu.

Contoh:

- Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh bensin.

- Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ; endapan Al(OH)3 oleh AlCl3. - Sol Fe(OH)3 diperoleh dengan mengaduk endapan Fe(OH)3 yang baru terbentuk dengan sedikit FeCl3. Sol Fe(OH)3 kemudian dikelilingi Fe+3 sehingga bermuatan positif.

- Beberapa zat mudah terdispersi dalam pelarut tertentu dan membentuk sistem kolid.

Contohnya; gelatin dalam air.

c. Cara Busur Bredig

Cara busur Bredig ini digunakan untuk membuat sol-sol logam, sperti Ag, Au, dan Pt.

Dalam cara ini, logam yang akan diubah menjadi partikel-partikel koloid akan

(36)

pendispersinya (air suling dingin) sampai kedua ujungnya saling berdekatan.

Kemudian, kedua elektrode akan diberi loncatan listrik. Panas yang timbul akan

menyebabkan logam menguap, uapnya kemudian akan terkondensasi dalam medium

pendispersi dingin, sehingga hasil kondensasi tersebut berupa pertikel-pertikel kolid.

Karena logam diubah jadi partikel kolid dengan proses uap logam, maka metode ini

dikategorikan sebagai metode dispersi.

B. KERANGKA BERPIKIR

Kimia termasuk rumpun IPA, oleh karenanya kimia mempunyai karakteristik

sama dengan IPA. Karakteristik tersebut adalah objek ilmu kimia, cara memperoleh, serta

kegunaannya. Pada awalnya kimia diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan

(induktif), namun pada perkembangan selanjutnya kimia juga diperoleh dan

dikembangkan berdasarkan teori (deduktif). Kimia merupakan ilmu yang mencari

jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan

dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat yang

melibatkan keterampilan dan penalaran. Kimia termasuk pelajaran yang mempunyai sifat

abstrak, juga bahan/materinya banyak sehingga sebagian besar siswa menganggap kimia

sebagai satu pelajaran yang sulit.

Keberhasilan pembelajaran sehingga siswa dapat memahami konsep yang

dipelajari memerlukan suatu perencanaan pembelajaran yang baik. Pemilihan

pendekatan, metode, dan model pembelajaran dapat mempengaruhi keberhasilan

pembelajaran. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kesulitan siswa

dalam memahami kimia adalah dengan menggunakan pendekatan belajar yang

memberikan pengalaman nyata bagi siswa dan melibatkan siswa lebih aktif dalam proses

pembelajaran.

Pembelajaran berbasis inkuiri memberikan kesempatan kepada siswa untuk

menggali potensi yang mereka miliki. Dalam pembelajaran berbasis inkuiri siswa

diberikan kesempatan untuk bertindak layaknya seorang ilmuwan yang ingin menemukan

sebuah hal baru yang belum mereka ketahui. Pembelajaran berbasis inkuiri merupakan

sebuah alternatif bagi guru untuk menghindari rasa bosan siswa ketika menerima

(37)

pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya. Jadi guru bertindak sebagai

fasilitator dalam pembelajaran inkuiri.

Dengan pembelajaran berbasis inkuiri siswa diharapkan akan lebih cepat

memahami konsep-konsep pelajaran yang diharapkan pahami siswa. Karena seperti yang

telah diketahui jika seseorang mengalami dan melaksanan sendiri suatu proses

pembelajaran maka kemungkinan ia memahami pelajaran atau konsep akan lebih besar

dan lebih tahan lama melakat dalam daya ingatannya.

C. PENGAJUAN HIPOTESIS

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir di atas, maka dapat dirumuskan

hipotesisnya sebagai berikut: “Terdapat pengaruh pembelajaran kimia berbasis inkuiri

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di SMA Negeri 3 Tangerang Selatan

pada bulan Mei, semester dua tahun ajaran 2009-2010.

B.Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan ekperimental lemah. Desain

penelitian yang digunakan adalah one-group pretest-postest design. Desain ini

dapat digambarkan seperti berikut1:

Table 3.1 Desain Penelitian

Pretest Perlakuan Posttest

O1 X O2

Keterangan :

X : perlakuan dengan menggunakan pembelajaran kimia berbasis inkuiri

O1 : nilai pretest sebelum diberikan pembelajaran inkuiri O2 : nilai posttest setelah diberikan pembelajaran inkuiri

C.Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan

purposive sampling yaitu pengambilan unsur sampel atas dasar tujuan tertentu

sehingga memenuhi keinginan dan kepentingan peneliti.2

1

Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 110-111

2

(39)

1. Populasi target

Seluruh siswa SMA N 1 Pamulang yang terdaftar pada semester dua

tahun ajaran 2009-2010 yang mendapat pelajaran kimia.

2. Populasi terjangkau

Seluruh siswa kelas XI SMA N 1 Pamulang yang terdaftar pada semester

dua tahun ajaran 2009-2010 dan mendapat konsep koloid.

3. Sampel

Sampel yang diambil adalah kelas XI-A yang berjumlah sebanyak 40

siswa.

D.Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa

tes tertulis, adapun angket sebagai data pendukung.

E.Instrumen Penelitian

Instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data pada

penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu :

1. Instrumen Pembelajaran

Instrumen pembelajaran terdiri atas silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP). Selain itu digunakan juga Lembar Kerja Siswa

(LKS) yang digunakan untuk membuat siswa lebih aktif dalam belajar.

2. Instrumen Pengumpulan Data

a. Tes Hasil Belajar

Tes ini diberikan untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep dan

pemahaman siswa pada konsep koloid. Tes yang digunakan berupa tes

(40)

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar

Angket digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa tentang proses

(41)

siswa pada konsep koloid dengan pendekatan inkuiri yang digunakan

dalm proses pembelajaran. Selain itu digunakan untuk mendapatkan

data sekunder yang mendukung dari data primer.

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

1. Teknik Pengolahan Data

Untuk mengolah data yang telah diperoleh dari lapangan, maka

dipergunakan teknik sebagai berikut :

a. Editing

Editing adalah tahap pertama dalam pengolahan data yang

dilakukan untuk pengecekan terhadap pengisian lembar observasi dan tes

tulis yang diberikan, setiap lembar observasi dan lembar jawaban dari

soal tes diperiksa satu per satu untuk memastikan pengisiannya sesuai

dengan petunjuk.

b. Skoring

Setelah dilakukan editing, maka penulis melakukan pemberian

skor terhadap butir indikator-indikator yang ada pada lembar observasi.

c. Tabulating

Adalah proses mengubah data ke dalam bentuk tabel,

selanjutnya dinyatakan dalam bentuk frekuensi dan persentase.

2. Kalibrasi Instrumen

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan analisis kuantitatif.

Sebelum soal pada tes pilihan ganda digunakan terlebih dahulu

dilakukan uji pendahuluan berupa uji validitas, reliabilitas, daya pembeda,

dan taraf kesukaran.

a. Uji validitas

Validitas berasal dari kata validity, dapat diartikan tepat atau

(42)

melakukan fungsi ukurnya.3 Rumus yang diguanakan untuk menghitung koefisien korelasi biserial antara skor butir dengan skor total tes adalah4:

rbis = X −i Xt St

pi

qi

Keterangan :

rbis adalah koefisien korelasi

Xi adalah rata-rata skor total responden menjawab benar butir soal nomor Xt adalah rata-rata skor total semua responden

St adalah standar deviasi skor total semua responden pi adalah proporsi jawaban benar untuk butir nomor i qi adalah proporsi jawaban salah untuk butir nomor i

Soal dikatakan valid jika nilai r hitung lebih besar dari r table.

b. Uji reliabilitas

Reliabilitas bermakna keterpercayaan, keterandalan, keajegan,

kestabilan, atau konsistensi, dapat diartikan sejauhmana hasil suatu

pengukuran dapat dipercaya dan konsisten.5

rii =

rii adalah koefisien realibilitas tes k adalah jumlah butir soal

Si adalah varians skor butir soal St adalah varians skor total c. Uji daya pembeda

3

Ahmad Sofyan dkk, Evaliuasi Pelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), cet. Ke 1, h. 105

4

Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi ... , h. 109

5

(43)

Daya beda dugunakan untuk mengetahui kemampuan butir

dalam membedakan kelompok siswa antara kelompok siswa yang pandai

dengan kelompok siswa yang kurang pandai.

Rumus yang digunakan adalah6

= (� − ��)

0,5

Keterangan:

D adalah daya beda soal

Ba adalah jumlah siswa yang menjawab benar pada kelompok atas

Bb adalah jumlah siswa yang menjawab benar pada kelompok bawah

N adalah jumlah siswa

Taraf kesukaran merupakan salah satu analisis kuantitatif

konvensional paling sederhana dan mudah. Hasil hitungnya merupakan

proporsi atau perbandingan antara siswa yang menjawab benar dengan

keseluruhan siswa yang mengikuti tes.

Rumus yang digunakan adalah 8

� = �

��

Keterangan :

P adalah proporsi atau indeks kesukaran

B adalah jumlah siswa yang menjawab benar

6

Ahmad Sofyan dkk Evaluasi ...., h.105

7

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2002), h.221

8

Gambar

Tabel 3.1 Desain Penelitian ………………………………………………….. 27
Table 3.1 Desain Penelitian
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar
Tabel 4.1. Distribusi frekuensi pretest
+7

Referensi

Dokumen terkait

Data yang diperoleh dari tes dan lembar self assessment, digunakan untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep siswa setelah penggunaan model pembelajaran inkuiri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman konsep siswa yang signifikan antara kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri bebas

Berdasarkan hasil penelitian, pemahaman konsep siswa kelas eksperimen (X MIA 5) yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik dari pada kelas

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pemahaman konsep IPA siswa kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan minat baca dan pemahaman konsep IPA antara kelompok siswa yang dibelajarkan model pembelajaran inkuiri dengan kelompok

M asalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah apakah metode pembelajaran eksperimen berbasis inkuiri dapat meningkatkan pemahaman konsep

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diketahui bahwa pemaha- man konsep matematis siswa dengan pembelajaran inkuiri terbimbing lebih tinggi dari pemahaman

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1 menganalisis perbedaan pemahaman konsep IPA antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing dan yang