• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Konflik Sosial Dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam Karya Maulana Syamsuri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Konflik Sosial Dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam Karya Maulana Syamsuri"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KONFLIK SOSIAL

DALAM NOVEL SETEGUK AIR ZAM ZAM

KARYA MAULANA SYAMSURI

SKRIPSI

OLEH

NILA EKA SARI

100701004

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini tidak pernah diajukan untuk

memperoleh gelar sarjana di perguruan tinggi. Sepengetahuan saya juga tidak

terdapat karya atau pendapat yang pernah di tulis maupun diterbitkan oleh orang

lain kecuali yang secara tertulis dijadikan sebagai sumber referensi pada skripsi

ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya buat ini

tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar

kesarjanaan yang saya peroleh.

(4)

ABSTRAK

ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL SETEGUK AIR ZAM-ZAM

KARYA MAULANA SYAMSURI

Nila Eka Sari

Fakultas Ilmu Budaya USU

Karya sastra diciptakan pengarang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk memberikan pandangan kepada pembaca mengenai kehidupan sosial pada saat karya itu diciptakan. Dalam karya satra, salah satunya novel, terdapat konflik sosial yang terkandung di dalamnya. Konflik yang terdapat dalam sebuah cerita berperan penting demi berjalannya alur cerita. Konflik yang tergambar dalam sebuah cerita akan membawa pembaca untuk ikut merasakan keadaan atau peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik sosial serta penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri. Penelitiaan ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif dengan metode baca catat dan tinjauan kepustakaan (library research). Dari hasil penelitian ditemukan bentuk-bentuk konflik sosial antarpribadi yang meliputi konflik sosial antartokoh, konflik sosial tokoh dengan lingkungan keluarga, dan konflik sosial tokoh dengan lingkungan masyarakat. Penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam adalah adanya perbedaan pendapat, perselingkuhan, keuangan, dan keturunan.

(5)

PRAKATA

Penulis mengucapkan syukur alhamdulillah kehadirat Allah Swt. yang

telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada hambanya, sehingga

penelitian skripsi ini dapat diselesaikan. Begitu pula shalawat beriring salam

penulis sampaikan kepada Baginda Rasulullah Saw. yang telah membawa

petunjuk ke jalan yang diridhai-Nya. Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi

persyaratan di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas

Sumatera Utara, dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Budaya.

Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa adanya

dukungan dari berbagai pihak baik dalam bentuk ide atau gagasan, moral, maupun

materi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. M.

Husnan Lubis, M.A. selaku Pembantu Dekan I, Drs. Syamsul Tarigan

selaku Pembantu Dekan II, dan Drs. Yuddi Adrian Muliadi, M.A. selaku

Pembantu Dekan III.

2. Prof. Dr. Ikhwanudin Nasution, M.Si. selaku Ketua Departemen Sastra

Indonesia dan Drs. Haris Sutan Lubis, M.SP. selaku Sekretaris

Departemen Sastra Indonesia.

3. Dra. Nurhayati Harahap, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing I yang telah

memberi waktu, pengetahuan, dan arahan.

4. Dra. Yulizar Yunas, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing II, yang telah

(6)

5. Dr. Mulyadi, M.Hum. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah

memberikan motivasi dan nasehat selama masa perkuliahan.

6. Staf pengajar di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya,

Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi pengajaran dan

pengetahuan selama menjalankan perkuliahan.

7. Kedua orang tuaku tercinta, ayahanda Nurlan dan ibunda Juliani Lubis

yang telah menjadi alasan terkuat penulis untuk tetap semangat

menyelesaikan perkuliahan dan mengejar mimpi ke depannya. Kedua

sosok yang senantiasa memberikan dukungan baik berupa materi maupun

moril serta doa yang senantiasa mengiringi perjalanan studi penulis.

8. Kepada kakek, Burhanudin Lubis, Bumawang Wijaya, dan nenekku

Saringah yang senantiasa memberikan doa dan nasehat untuk selalu sabar

dalam meyelesaikan penelitian ini.

9. Untuk kakak dan adikku tersayang, Dwi Rahmadani S.Kep, Nuriyana,

Syutri Ningsih, M. Ardiansyah, dan Budi Satria yang selalu memberikan

semangat dan menghibur penulis. Semoga kelak dapat meraih mimpi dan

cita-cita yang membanggakan kedua orang tua.

10.Kepada ketiga sahabat terbaikku, Siti Aisyah, Pebri Lestari, dan Sri

Purwanti yang tidak pernah bosan membantu penulis dalam

menyelesaikan penelitian ini.

11.Kepada seluruh teman-teman seperjuangan di Departemen Bahasa dan

Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU angkatan 2010 yang

(7)

12.Seluruh pihak yang telah berperan member dukungan terhadap penulisan

skripsi ini.

Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna. Oleh karena itu,

Penulis mengharapkan kepada pembaca agar member kritik dan saran yang

bermanfaat demi penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat

menambah wawasan dan pengetahuan kita bersama.

Medan, Oktober 2014

Penulis,

Nila Eka Sari

(8)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ... i

PRAKATA ... ii

ABSTRAK ... v

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Batasan Masalah ... 3

1.4 Tujuan ... 4

1.5 Manfaat ... 4

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA.. 5

2.1 Konsep ... 5

2.1.1 Konflik Sosial ... 5

2.1.2 Tokoh ... 6

2.1.3 Sosiologi Sastra ... 6

2.2 Landasan Teori ... 7

2.2.1 Sosiologi Sastra ... 7

2.2.2 Konflik sosial ... 9

2.3 Tinjauan Pustaka ... 11

BAB III METODE PENELITIAN ... 14

3.1 Metode Penelitian ... 14

3.2 Sumber Data ... 14

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 15

(9)

BAB IV ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL SETEGUK

AIR ZAM-ZAM KARYA MAULAN SYAMSURI ... 16

4.1 Bentuk-Bentuk Konflik Sosial dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam Karya Maulana Syamsuri ... 16

4.1.1 Konflik Sosial Antartokoh ... 17

4.1.2 Konflik Sosial Tokoh dengan Lingkungan Keluarga ... 25

4.1.3 Konflik Sosial Tokoh dengan Lingkungan Masyarakat ... 28

4.2 Penyebab Terjadinya Konflik Sosial dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam Karya Maulana Syamsuri... 31

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 40

5.1 Simpulan ... 40

5.2 Saran ... 41

DAFTAR PUSTAKA ... 42

(10)

ABSTRAK

ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL SETEGUK AIR ZAM-ZAM

KARYA MAULANA SYAMSURI

Nila Eka Sari

Fakultas Ilmu Budaya USU

Karya sastra diciptakan pengarang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk memberikan pandangan kepada pembaca mengenai kehidupan sosial pada saat karya itu diciptakan. Dalam karya satra, salah satunya novel, terdapat konflik sosial yang terkandung di dalamnya. Konflik yang terdapat dalam sebuah cerita berperan penting demi berjalannya alur cerita. Konflik yang tergambar dalam sebuah cerita akan membawa pembaca untuk ikut merasakan keadaan atau peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik sosial serta penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri. Penelitiaan ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif dengan metode baca catat dan tinjauan kepustakaan (library research). Dari hasil penelitian ditemukan bentuk-bentuk konflik sosial antarpribadi yang meliputi konflik sosial antartokoh, konflik sosial tokoh dengan lingkungan keluarga, dan konflik sosial tokoh dengan lingkungan masyarakat. Penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam adalah adanya perbedaan pendapat, perselingkuhan, keuangan, dan keturunan.

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Karya sastradiciptakan pengarang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga

untuk memberikan pandangan kepadapembaca mengenai kehidupan sosial pada

saat karya itu diciptakan. Karya sastra, salah satunya novel, bukan hanya

merupakan proses imajinasi atau khayalan pengarang semata, melainkan proses

kreatif pengarang dalam menyampaikan hasilpengamatan, penglihatan, dan

perasaan pengarang terhadap sekitar lingkungan kehidupannya dalam bentuk

karya sastra. Di dalam karya sastra terungkap setiap fenomena yang terjadi pada

masyarakat sehingga antara sastra dan masyarakat memiliki hubungan yang

sangat erat.Masyarakat merupakan makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi

dengan sesama manusia. Interaksi yang dilakukan adakalanya menimbulkan

konflik.Misalnya, dalam lingkungan keluarga sering muncul konflik antara suami

dengan istri, ibu dengan anak maupun antarkeluarga. Konflik merupakan

pertikaian atau pertentangan yang terjadi antara dua orang atau lebih.

Setiap manusia memiliki kepentingan yang berbeda dalam memenuhi

kebutuhan hidupnya. Perbedaan kepentingan itu seringkali menimbulkan konflik,

baik konflik antarindividu atau kelompok

Konflik yang terdapat di dalam sebuah karya sastraberperan penting demi

berjalannya alur cerita. Konflik terdiri atas dua macam, yaitu konflik internal dan

(12)

seorang tokoh. Konflik eksternal yaitu konflik antara satu tokoh dengan tokoh

yang lain, atau antara tokoh dengan lingkungannya. Berpedoman pada kenyataan,

maka konflik eksternal dibedakan lagi atas konflik fisik dan konflik sosial.

Konflik fisik adalah konflik yang disebabkan adanya perbenturan antara tokoh

dengan lingkungan alam. Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan adanya

kontak sosial antarmanusia (Harizadika dkk, 2012: 1).Konflik sosial merupakan

gambaran tentang terjadinya percekcokan, perselisihan, ketegangan, atau

pertentangan sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan yang muncul dalam

kehidupan masyarakat, baik perbedaan secara individual maupun perbedaan

kelompok. Perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan pendapat, pandangan,

penafsiran, pemahaman, kepentingan, atau perbedaan yang lebih luas dan umum,

seperti perbedaan agama, ras, suku bangsa, bahasa, profesi, golongan politik, dan

kepercayaan (Frannsvela: 2010).

Di dalam novel, senantiasa tergambar konflik sosial yang ditimbulkan oleh

tiap-tiap tokoh cerita. Konflik sosial tersebut dapat membangkitkan emosi dan

memberikan kesan tersendiri kepada pembaca. Penelitian ini mengacu pada

bentuk-bentuk konflik sosial dan penyebab terjadinya konflik sosial yang terjadi

pada tokoh dalam novel Seteguk Air Zam-Zam. Bentuk konflik sosial yang dapat

dianalisis dalam novel tersebut,yaitu konflik antarpribadi. Konflik sosial tersebut

meliputi konflik sosial antar-tokoh, konflik sosialtokoh dengan lingkungan

keluarga, dan konflik sosial tokoh dengan lingkungan masyarakat.

Bentuk-bentuk konflik sosial yang terjadi pada tokoh serta penyebab

terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana

(13)

Zam-Zam menceritakan tentang kehidupan seorang guru bernama Nauli yang

bertempat tinggal di desa Mandailing. Nauli adalah seorang wanita yang sangat

sabar.Novel tersebut merupakan novel yang bernuansa islam serta

memperlihatkan budaya lokal, yaitu budaya Mandailing. Penelitian terhadap novel

tersebut sudah pernah dilakukan, tetapi mempergunakan pendekatan yang berbeda

dengan penulis. Judul penelitian ini adalah “Analisis Konflik Sosial dalam Novel

Seteguk Air Zam-Zam Karya Maulana Syamsuri: Pendekatan Sosiologi Sastra”.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini

adalah:

1. Bagaimanakah bentuk-bentuk konflik sosial yang terdapat dalam novel

Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri?

2. Apakah penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air

Zam-Zam karya Maulana Syamsuri?

1.3Batasan Masalah

Penelitian dalam sebuah karya ilmiah memerlukan adanya batasan masalah

sehingga penelitian tidak keluar dari topik permasalahan yang akan dibahas.

Penelitian ini hanya membahas tentang bentuk-bentuk konflik sosial (konflik

antarpribadi) dan penyebab terjadinya konflik sosial yang terdapat dalam novel

(14)

1.4Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan di atas, terdapat beberapa tujuan,

yaitu

1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik sosial yang terdapat dalam

novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri.

2. Mendeskripsikan penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel

Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri.

1.5Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan apresiasi mahasiswa pada karya-karya sastra Indonesia

khususnya karya-karya sastra Sumatera Utara.

2. Memberikan penjelasan kepada pembaca mengenai konflik sosial

dalam karya sastra umumnya dan dalam novel Seteguk Air Zam-Zam

karya Maulana Syamsuri khususnya.

(15)

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

2.1.1 Konflik Sosial

Konflik menurut Webster,dalam bahasa aslinya berarti suatu

“perkelahian, peperangan, atau perjuangan” yaitu berupa konfrontasi fisik

antara beberapa pihak. Lebih tepatnya konflik adalah persepsi mengenai

perbedaan kepentingan (Perceived divergence of interest), atau suatu

kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai

secara simultan (Pruitt dan Jeffery, 2004: 9).

Istilah “konflik” secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang

berarti bersama dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Dengan

demikian, “konflik” dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan,

keinginan, pendapat, dan lain-lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau

lebih (Setiadi dan Kolip, 2011: 347).

Konflik sosial adalah percekcokan, perselisihan, ketegangan atau

pertentangan dalam masyarakat akibat pengaruh adanya perbedaan-perbedaan

tertentu dalam masyarakat (kemajemukan masyarakat) (Ahmadi, 2007: 291).

Konflik sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur

kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok

sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga

(16)

sosial merupakan akibat dari interaksi sosial antara individu, antara individu

dengan kelompok, atau antar kelompok(Soekanto, 2012: 312).

Konflik-konflik dalam kehidupan sosial merupakan salah satu fenomena

yang terjadi di dalam masyarakat. Konflik sosial tersebut dijadikan pengarang

sebagai objek dalam menciptakan sebuah karya sastra. Dalam sebuah novel,

konflik menjadi hal yang sangat penting. Konflik yang ditimbulkan oleh tokoh

dalam sebuah novel mampu mendorong pembaca untuk ikut merasakan

bagaimana yang dalami oleh tokoh dalam novel tersebut.

2.1.2 Tokoh

Tokoh cerita (character), menurut Abrams adalah orang-orang yang

ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca

ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang

diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan

(Nurgiyantoro, 1994: 165).

2.1.3Sosiologi Sastra

Kata sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan, dan

kata Yunani logos yang berarti kata atau berbicara. Dengan demikian,

sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat (Soekanto, 2012: 4).

Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif.

Penelitian mengenai sosiologi sastra banyak diminati oleh peneliti yang ingin

melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Asumsi dasar penelitian

(17)

Kehidupan sosial akan menjadi pemicu lahirnya karya sastra. Karya sastra

yang berhasil atau sukses yaitu mampu merefleksikan zamannya (Endraswara,

2008: 77). Sosiologi sastra memandang karya sastra sebagai hasil interaksi

pengarang dengan masyarakat, sebagai kesadaran kolektif (Ratna, 2003: 13).

Sosiologi dan sastra adalah dua hal yang berbeda.Namun, dapat saling

melengkapi. Objek studi sosiologi adalah tentang manusia dan sastra pun

demikian. Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar

masyarakatnya. Sastra merupakan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya

yang merupakan hasil interaksi antara pengarang dengan situasi sosial yang

membentuknya atau merupakan penjelasan suatu sejarah yang dikembangkan

dalam karya sastra (Endraswara, 2008: 78).

Sosiologi sastra dapat meneliti sastra melalui tiga perspektif.Pertama,

perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisis sebagai sebuah refleksi

kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Teks biasanya dipotong-potong,

diklasifikasikan, dan dijelaskan makna sosiologisnya. Kedua, perspektif

biografis, yaitu peneliti menganalisis pengarang. Perspektif ini akan

berhubungan dengan life history seorang pengarang dan latar belakang

sosialnya. Ketiga, perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis penerimaan

masyarakat terhadap teks sastra (Endraswara. 2008: 80).

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra merupakan suatu pendekatan yang terfokus pada

(18)

manusia dalam menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan,

dan intuisi. Pendapat ini menunjukkan bahwa perjuangan panjang hidup

manusia akan selalu mewarnai teks sastra (Endraswara, 2008: 79).

Hubungan sosiologi dan sastra bukanlah hal yang dicari-cari. Keduanya

akan saling melengkapi hidup manusia. Hubungan keduanya terlihat dalam

refleksi sosial sastra, antara lain: (a) dunia sosial manusia dan seluk-beluknya,

(b) penyesuaian diri individu pada dunia lain, (c) bagaimana cita-cita untuk

mengubah dunia sosialnya, (d) hubungan sastra dan politik, dan (e)

konflik-konflik dan ketegangan dalam masyarakat (Endraswara, 2008: 88).

Penelitian ini membahas tentang bentuk-bentuk konflik sosial dalam

novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri. Bentuk konflik sosial

yang terdapat di dalam novel tersebut adalah konflik sosial antarpribadi.

Pengertian konflik sosial di sini adalah konflik yang terjadi akibat kontak

sosial antarmanusia yang diwarnai dengan adanya percekcokan, perselisihan,

perbedaan kepentingan, maupun perbedaan pendapat. Teori yang akan

dipergunakan pada penelitian ini adalah sosiologi sastra.

Sosiologi sastra merupakan gabungan dua disiplin yang berbeda yaitu

sosiologi dan sastra. Keduanya ditopang oleh dua teori yang berbeda yaitu

teori-teori sosiologi dan teori-teori sastra. Dalam sosiologi sastra yang

mendominasi jelas teori yang berkaitan dengan sastra, sedangkan

teori-teori yang berkaitan dengan sosiologi berfungsi sebagai komplementer

(pelengkap) (Ratna, 2003: 18).

Konflik sosial merupakan salah satu aspek ekstrinsik dalam karya sastra

(19)

sosiologi yang dapat menopang analisis sosiologis adalah teori-teori yang

dapat menjelaskan hakikat fakta-fakta sosial, sedangkan karya sastra sebagai

sistem komunikasi berkaitan dengan aspek-aspek ekstrinsik seperti:

kelompok sosial, kelas sosial, stratifikasi sosial, institusi sosial, sistem sosial,

interaksi sosial, konflik sosial, kesadaran sosial, mobilitas sosial, dan

sebagainya (Ratna, 2003: 18).Dengan mempergunakan pendekatan sosiologi

sastra, dapat dipahami bagaimana tokoh-tokoh dalam novel Seteguk Air

Zam-Zam karya Maulana Syamsuri berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan

masyarakat dan lingkungannya.

2.2.2 Konflik Sosial

Teori konflik adalah salah satu perspektif dalam sosiologi yang

memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian atau

komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dimana

komponen yang satu berusaha menaklukkan kepentingan yang lain guna

memenuhi kepentingannya atau memperoleh keuntungan yang

sebesar-besarnya. Teori konflik sosial memandang antar-elemen sosial memiliki

kepentingan dan pandangan yang berbeda. Perbedaan kepentingan dan

pandangan tersebutlah yang memicu terjadinya konflik sosial yang berujung

saling mengalahkan, melenyapkan, memusnahkan di antara elemen tersebut.

Konflik sosial tidak hanya berakar dari ketidakpuasan batin, kecemburuan, iri

hati, kebencian, masalah perut, masalah tanah, tempat tinggal, pekerjaan,

uang, dan juga kekuasan tetapi emosi manusia sesaat pun dapat memicu

(20)

Manusia adalah makhluk konfliktis (homo conflictus), yaitu makhluk

yang selalu terlibat dalam perbedaan, pertentangan, baik pertentangan ide

maupun fisik antara dua belah pihak, dan persaingan yang disebabkan adanya

persinggungan dan pergerakan sebagai aspek tindakan sosial. Konflik terbagi

atas beberapa macam, yaitu konflik antarorang (interpersonal conflict),

konflik antarkelompok (intergroup conflict), konflik antara kelompok dengan

negara (vertical conflict), dan konflik antarnegara (interstate conflict) (Susan,

2009: 4-5).

Pruitt dan Rubin (2004) dalam bukunya yang berjudul Teori Konflik

Sosial, memberikan perhatian utama pada konflik yang terjadi antara dua

pihak. Dengan tetap disertai kesadaran bahwa konflik dapat terjadi pada

berbagai macam keadaan dan tingkat kompleksitas. Mereka beranggapan

bahwa kebanyakan penelitian yang relevan mengenai konflik sosial dilakukan

di laboratorium, dan biasanya mengenai konflik dua pihak.

Konflik merupakan gejala sosial yang selalu mewarnai kehidupan sosial,

sehingga bersifat inheren, artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap

ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Terdapat beberapa bentuk

konflik sebagai salah satu gejala sosial masyarakat, yaitu konflik gender,

konflik rasial dan antarsuku, konflik antar-umat agama, konflik

antargolongan, konflik kepentingan, konflik antarpribadi, konflik antarkelas

sosial, dan konflik antarnegara/bangsa. (Setiadi dan Kolip, 2011: 347).

Konflik sosial (pertentangan sosial) merupakan salah satu bentuk proses

(21)

(contravention) akibat adanya perbedaan-perbedaan tertentu dalam

masyarakat maupun pribadi, seperti akibat perbedaan ras, suku bangsa, agama,

bahasa, adat-istiadat, golongan politik, pandangan hidup, profesi, dan budaya

lainnya (Ahmadi, 2007: 291). Dilihat dari segi bentuknya, konflik sosial

mempunyai beberapa bentuk, yaitu konflik pribadi, konflik kelompok, konflik

antar-kelas sosial, konflik rasial, konflik politik, dan konflik budaya (Ahmadi,

2007: 295).

Beberapa pendapat di atas menyatakan berbagai macam bentuk konflik

sosial, tetapi jika dilihat dari pengklasifikasian mengenai bentuk konflik

sosial, maka terdapat beberapa persamaan pendapat antara Setiadi dan Kolip

dengan Ahmadi. Mereka sama-sama menyatakan bahwa konflik sosial

memiliki beberapa bentuk, yaitu konflik pribadi (antarpribadi), konflik

antar-kelas sosial, dan konflik rasial.Penelitian ini lebih cenderung mempergunakan

pendapat yang dikemukakan oleh Setiadi dan Kolip untuk meneliti konflik

sosial yang terdapat dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana

Syamsuri.

2.3 Tinjauan Pustaka

Novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri adalah novel yang

sangat bagus untuk dianalisis karena novel ini menampilkan masalah-masalah

sosial yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Novel ini juga identik dengan

budaya lokal, yaitu budaya Mandailing. Penelitian dengan mempergunakan teori

sosiologi sastra sudah banyak dilakukan sebelumnya. Namun, menurut

(22)

teori sosiologi sastra terhadap novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana

Syamsuri belum pernah ada sehingga penelitian ini dapat dilakukan.

Novel Seteguk Air Zam-Zam pernah diteliti oleh Irene S. mahasiswa

Departemen Sastra Indonesia Universitas Sumatera Utara. Penelitian yang

dilakukan oleh Irene S. terfokus pada analisis Strukturalisme Genetik. Irene S.

melakukan penelitian pada novel tersebut dengan judul Novel Seteguk Air

Zam-Zam Karya Maulana Samsuri: Tinjauan Strukturalisme Genetik. Pada penelitian

tersebut Irene mendeskripsikan karya sastra dari segi struktur yang menjelaskan

fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia.

Analisis mengenai konflik sosial berdasarkan pendekatan sosiologi sastra

pernah dilakukan oleh Amraini Sihotang mahasiswa Departemen Sastra Arab

Universitas Sumatera Utara dengan judul Analisis Konflik Sosial dalam Novel Ma

wara’a al-nahri “Kesaksian Sang Penyair” (Pendekatan Sosiologi Sastra). Pada

penelitiannya, Amraini cenderung mengambil konsep konflik sosial pendapat dari

Burhan Nurgiyantoro dan G. Pruitt. Penelitian tersebut bertujuan untuk

mengetahui bentuk konflik sosial yang terkandung dalam novel Ma wara’a

al-nahri “Kesaksian Sang Penyair” serta pendekatan apa yang dipergunakan oleh

para tokoh dalam novel tersebut.

Penelitian mengenai konflik sosial berdasarkan sosiologi sastra juga pernah

dilakukan oleh mahasiswa Universitas lain yaitu Febri Harizadika, Bakhtaruddin

Nasution, dan M. Ismail Nasution mahasiswa Departemen Bahasa dan Sastra

Indonesia Universitas Negeri Padang dengan judul Konflik Sosial dalam

(23)

Daye.Terdapat Sembilan cerpen yang mereka analisis dalam penelitian tersebut,

yaitu 1) Perempuan Bawang, 2) Kubah, 3) Jarak, 4) Bibir Pak Gur Bengkok, 5)

Seekor Anjing yang Menangis, 6) Rumah Lumut, 7) Lekuk Teluk, 8) Mungkin

Jibril Asyik Berzapin, 9) Rumah yang Mengigil.Berdasarkan pada pendapat

Soekanto dan dari hasil penelitian terhadap kumpulan cerpen Perempuan Bawang

dan Lelaki Kayu, mereka menemukan jenis-jenis konflik sosial yang terdapat

dalam ke-9 cerpen tersebut. Adapun jenis-jenis konflik sosial tersebut diantaranya

adalah : (1) masalah kemiskinan dan lapangan pekerjaan. (2) masalah kejahatan.

(3) masalah disorganisasi sosial. (4) masalah generasi muda dalam masyarakat

(24)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara atau strategi untuk memahami realitas,

langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat serta berfungsi

untuk menyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan

dipahami (Ratna, 2004: 34).

Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif. Penelitian

kualitatif dilakukan dengan tidak menggunakan angka-angka, tetapi dengan

mengutamakan penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara

empiris (Semi, 1993: 23).

3.2Sumber Data

Data penelitian ini adalah novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana

Syamsuri.

Judul : Seteguk Air Zam-Zam

Karya : Maulana Syamsuri

Tahun Terbit : 2005

Penerbit : Sastra Novela

Tempat Terbit : Bogor

Tebal : 165 halaman

(25)

3.3Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan mempergunakan metode baca catat dan

tinjauan kepustakaan (library research). Metode baca catat dipergunakan untuk

mengumpulkan data dengan cara membaca seluruh isi novel secara berulang

kemudian dicatat untuk mendapatkan data yang diperlukan. Metode kepustakaan

(library research) dipergunakan untuk memperoleh data dan informasi tentang

objek penelitian lewat buku-buku atau alat-alat audiovisual lainya (Semi, 1993:8).

3.4Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik

analisis deskriptif kualitatif. Teknik deskriptif kualitatif secara keseluruhan

memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk

deskriptif (Ratna, 2004: 46). Langkah-langkah menganalisis data dengan

mempergunakan metode ini adalah sebagai berikut:

1) Membaca dan memahami novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana

Syamsuri yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman mengenai cerita

yang disampaikan.

2) Mengumpulkan data-data konflik sosial dan penyebab terjadinya konflik

sosial pada novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri.

3) Data yang terkumpul ditafsirkan dan dimaknai sesuai dengan aspek

konflik sosial.

4) Menganalisis data yang diperoleh dan mengklasifikasikan berdasarkan

kelompoknya.

(26)

BAB IV

ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL SETEGUK AIR ZAM-ZAM KARYA MAULANA SYAMSURI

4.1 Bentuk-Bentuk Konflik Sosial dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam Karya

Maulana Syamsuri

Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu merefleksikan

zamannya sehingga pembaca tidak hanya merasakan keindahan yang terkandung

dalam karya tetapi juga memperoleh gambaran mengenai kehidupan sosial pada

saat karya itu diciptakan. Proses penciptaan karya sastra oleh pengarang tidak

hanya berdasarkan imajinasi semata melainkan sesuai dengan pengamatan

pengarang terhadap fenomena yang terjadi pada kehidupan sosial. Salah satunya

adalah konflik yang senantiasa terjadi pada masyarakat. Konflik-konflik tersebut

dijadikan objek oleh pengarang dalam meciptakan sebuah karya sastra.

Konflik dalam sebuah karya sastra, salah satunya novel, menjadi hal yang

sangat penting untuk diperlihatkan. Konflik yang muncul dalam novel akan

membawa pembaca untuk ikut merasakan keadaan atau peristiwa yang dialami

oleh tokoh-tokoh dalam cerita serta membawa pembaca untuk memahami

kehidupan sosial pada saat karya itu diciptakan.

Dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri terdapat konflik

yang terjadi pada tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Bentuk konflik sosial yang

terdapat dalam novel tersebut adalah konflik sosialantarpribadi.Konflik sosial

antarpribadi atau konflik antar-individu adalah konflik sosial yang melibatkan

(27)

Masing-masing individu bersikukuh untuk mempertahankan tujuannya atau

kepentingannya masing-masing (Setiadi dan Kolip, 2011: 353).

Ahmadi (2007), dalam bukunya yang berjudul Psikologi Sosial menyatakan

bahwa konflik pribadi yaitu pertentangan yang terjadi secara perorangan seperti

petentangan antara dua orang teman, suami isteri, pedagang dan pembeli, atasan

dan bawahan, dan sebagainya (Ahmadi, 2007: 295).

Konflik sosial antarpribadi yang akan diteliti pada novel Seteguk Air

Zam-Zam tersebut akan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu konflik sosial antartokoh,

konflik sosial tokoh dengan lingkungan keluarga, dan konflik sosial tokoh dengan

masyarakat.

4.1.1 Konflik Sosial Antartokoh

Konflik menurut Meredith dan Fitzgerald, merupakan sesuatu yang bersifat

tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami oleh tokoh (-tokoh) cerita, yang,

jika tokoh (-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak

akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Nurgiyantoro, 1994:122).

Tokoh dalam sebuah cerita diciptakan pengarang layaknya seorang tokoh

yang hidup secara wajar, sebagaimana kehidupan manusia sebenarnya. Manusia

dalam kehidupan sosialnya tidak akan terlepas dari konflik, begitu juga dengan

tokoh yang terdapat dalam sebuah cerita. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam

sebuah cerita senantiasa mengalami konflik. Konflik yang terjadi antartokoh

(28)

kepada pembaca. Pembaca seolah-olah ikut merasakan keadaan ataupun peristiwa

yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita tersebut.

Di dalam novel Seteguk Air Zam-Zam terdapat empat tokoh utama yang

mengalami konflik yaitu tokoh Nauli, Lindung, Tiurma, dan Pandapotan. Tokoh

Nauli mengalami konflik sosial dengan Tokoh Lindung, tokoh Tiurma mengalami

konflik sosial dengan tokoh pandapotan, dan tokoh Tiurma mengalami konflik

sosial dengan tokoh Lindung. Berikut gambaran konflik sosial yang terjadi

antartokoh dalam novel Seteguk Air Zam-Zam:

A.Konflik Sosial antara Tokoh Nauli dengan Lindung

Novel Seteguk Air Zam-Zam menggambarkankonflik sosial yang terjadi antara

tokoh Nauli dengan suaminya yang bernama Lindung.Dalam novel tersebut,

tokoh Nauli digambarkan sebagai seorang guru yang bertempat tinggal di daerah

Mandailing. Ia merupakan seorang isteri yang patuh teradap suami dan juga

termasuk wanita yang taat dalam agamanya. Nauli juga merupakan seorang guru

yang sangat sabar dalam mendidik murid-muridnya serta sabar dalam menghadapi

persoalan dalam rumah tangganya sedangkan tokoh Lindung digambarkan sebagai

seorang suami yang memiliki watak keras, tetapi sangat sayang terhadap isterinya.

Tokoh Lindung juga digambarkan sebagai seorang suami yang lebih percaya

kepada orang pintar (dukun) dalam hal menyembuhkan penyakit ataupun dalam

meminta pertolongan daripada seorang dokter. Tokoh Nauli sendiri sebenarnya

lebih percaya kepada dokter daripada orang pintar (dukun). Adanya perbedaan

pendapat mengenai keahlian seorang dokter dan orang pintar (dukun) antara Nauli

(29)

“Bang Lindung harus ingat pernah terbaring sakit selama hampir tigabulan. Penyebabnya adalah rokok!”

“Siapa bilang?” “Dokter Puskesmas!” “Bohong besar!”

“Lalu apa penyebab Bang Lidung terbaring selama hampir tiga bulan?”

“Ompung Marlaut bilang ada orang yang dengki kepada kita. Karena aku seorang petani dan mendapatkan isteri seorang guru yang cantik. Malah Ompung Marlaut bilang, yang membuatku jatuh sakit adalah seorang laki-laki yang pernah jatuh hati padamu lalu ingin membuatku supaya cepat masuk liang kubur.”....

“Yang menyembuhkan abang bukan dukun itu, tapi dokter puskesmas!,” Nauli meyakinkan suaminya.

“Bukan, tapi Ompung Marlaut!” “Bukan!. Bukan!”

“Terserah kepadamu, tapi aku tetap yakin, Ompung Marlautmemang orang pintar.”

“Ingat nasihat dokter, Bang Lindung. Rokok dapat menyebabkan penyakit paru-paru, juga dapat menyebabkan kanker dan kemandulan!”

“Akh, masak bodoh dengan ucapan dokter. Semua itu Cuma mengada-ada!”(SAZZ: 21-22).

Cerita di atas menggambarkan percekcokan yang terjadi antara tokoh Nauli

dengan Lindung. Tokoh Lindung tidak sependapat dengan Nauli. Lindung yang

memiliki watak keras terpancing emosi saat Nauli mengatakan bahwa yang

menyebabkan ia sakit adalah karena terlalu banyak mengonsumsi rokok danyang

menyembuhkannya bukanlah seorang dukun yang bernama Ompung Marlaut

melainkan seorang dokter.Lindung yang lebih mempercayai keahlian seorang

dukun daripada dokter membantah perkataan Nauli.Tokoh Nauli dan tokoh

Lindung saling mempertahankan pendapatnya masing-masing. Lindung bersikeras

mengatakan bahwa ia sakit bukan disebabkan terlalu banyak mengonsumsi rokok

dan yang menyembuhkannya adalah Ompung Marlaut. Ia juga mengabaikan

nasihat Nauli untuk berhenti merokok. Nauli yang lebih mempercayai keahlian

(30)

pendapat di antara kedua tokoh tersebut melahirkan konflik sosial di antara

keduanya.

Konflik sosial yang terjadi antara tokoh Nauli dengan Lindung juga

tergambar ketika Nauli ingin melepas azimat yang diberikan oleh seorang dukun

kepadanya.Lindung sangat marah ketika Nauli merasa risih perutnya dilingkari

azimat dari seorang dukun. Ia melarang Nauli untuk melepas azimat tersebut

sedangkan Nauli merasa bahwa azimat tersebut tidak memiliki khasiat apa-apa.

Nauli yang taat dalam agamanya sebenarnya tidak ingin terlalu percaya kepada

dukun dan merasa keberatan jika memakai benda seperti itu karena dalam agama

islam, mempercayai seorang dukun dan memakai azimat sudah termasuk syirik.

Keinginan yang sangat besar untuk segera memiliki anak membuat Nauli terpaksa

memakai benda tersebut. Konflik sosial itu juga tergambar ketika Nauli

memaksakan keinginannya kepada Lindung untuk tetap mendatangi dokter ahli.

Berikut penggalan ceritanya:

Bang Lindung sangat marah, ketika Bu Nauli merasa risih di perutnya dilingkari azimat itu.

“Ingat pesan Ompung Datu, empat puluh hari azimat ini harus tetap melekat pada diri kita.”

“Tapi rasanya tidak ada khasiat apa-apa!” “Kita harus meyakini!”

Bu Nauli hanya menghela nafas panjang.

“Bukankah kita sudah amat ingin hadirnya seorang anak?. bukankah kita sudah sangat ingin dari rahimmu akan lahir anak kita yang mungil?.”

“Rasanya belum ada perubahan meski pun sudah lebih empat bulan kita mendatangi orang pintar itu.”

“Tunggu saja beberapa minggu lagi. mudah-mudahan ada perobahan pada dirimu.”

“Kalau tidak ada perobahan apa pun, Bang Lindung mau mengantar aku ke dokter ahli?”

(31)

“Terserah Bang Lindung, tapi saya tetap berkeinginan kita berdua mendatangi dokter ahli. Yang penting kehadiran anak di antara kita.”(SAZZ: 45-46).

Selanjutnya konflik sosial yang terjadi antara tokoh Nauli dengan Lindung

juga tergambar ketika Nauli mengetahui Lindung berselingkuh dengan seorang

janda pendatang baru di desanya. Berikut penggalan ceritanya:

“Mulai hari ini tidak ada lagi kopi hangat!” “Bah!. Kenapa?. Kenapa?.”

“Seorang isteri yang hatinya hancur tidak akan dapat membuatkan kopi hangat lagi untuk suaminya.” Suara Nauli tinggi.

“Bah!. Kenapa begitu?”

“Tanya dirimu sendiri, pasti Bang Lindung tahu jawabnya!”

“Demi Tuhan, aku tidak tahu, Nauli. Adakah sesuatu yang sangat menyakitkan hatimu hari ini?”

“Ya!, ada!. Perempuan yang ada di mobil Bang Lindung siang tadi. Itulah yang menghancurkan hatiku. Orang menyebutnya pendatang dan pemilik warung sembako. Aku sudah tahu!”....

“Tidak usah sentuh lagi kalau memang sudah ada niat di hati Bang Lindung untuk kawin dengan orang lain.”

“Maafkan aku, Nauli. Kalau aku harus menikah lagi karena banyak famili memang menghendaki aku punya keturunan.”

“Lalu banyak famili juga meminta agar aku dilemparkan ke sungai sebagai benda busuk?”

“Tidak!. Kau tetap sebagai isteriku, Nauli. Aku tetap cinta kepadamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin?. Kita sudah hidup bersama hampir sepuluh tahun sebagai suami isteri dan tidak pernah ada gempa dahsyat. Aku sudah tahu benar pribadimu, kesetiaanmu, kasih sayangmu. Tapi aku sungguh sangat ingin punya anak. Hanya keturunan!. Yang kucari tidak lebih dari itu.”

Bu Nauli menangis lagi.

“Demi Tuhan, aku bersumpah, kau tetap isteriku yang kucintai. Aku akan selalu berada di sisimu.”

“Lalu setelah lahir seorang anak dari rahim perempuan itu lambat laun aku akan terbuang, bukan?”

“Demi Tuhan, tidak!”(SAZZ: 65-66).

Cerita di atas menggambarkan pertengkaran yang terjadi antara tokoh Nauli

dengan Lindung. Konflik sosial itu terjadi ketika Nauli mengetahui Lindung

(32)

dan kecewa atas tindakan perselingkuhan yang dilakukan oleh Lindung. Emosi

Nauli memuncak ketika Lindung mengatakan bahwa ia akan menikah lagi. Nauli

yang ketika itu sedang dalam keadaan emosi tidak mau mendengarkan alasan

Lindung menikahi Tiurma.Kecemburuan tokoh Nauli serta tindakan

perselingkuhan yang dilakukan oleh Lindung melahirkan emosi dalam dirinya.

Sehingga menimbulkan pertengkaran di antara keduanya.

B.Konflik Sosial antara Tokoh Tiurma dengan Pandapotan

Tokoh Tiurma dalam novel Seteguk Air Zam-Zam, digambarkan sebagai

seorang janda pendatang baru di desa di kaki bukit daerah Mandailing. Ia seorang

janda yang memiliki usaha warung sembako yang cukup besar sebagai

matapencahariannya dan belum memiliki anak sedangkan tokoh Pandapotan

digambarkan sebagai mantan suami Tiurma yang selama ini menghilang. Konflik

sosial yang terjadi antara tokoh Tiurma dengan Pandapotan dilatarbelakangi oleh

masalah keuangan. Konflik itu terjadi ketika Pandapotan mendatangi rumah

Tiurma. Tiurma selama ini mengira bahwa Pandapotan telah meninggal dunia

karena amukan warga ketika Pandapotan membakar traktor milik Haji Sulaiman.

Ternyata Pandapotan masih hidup dan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia

menyamar menjadi seorang pengemis.

Konflik sosialitu tergambar ketika tokoh Pandapotan meminta uang kepada

Tiurma. Tiurma adakalanya mendapatkan ancaman dari Pandapotan apabila ia

tidak dapat memberikan apa yang diinginkan oleh Pandapotan terutama jika

Pandapotan meminta uang kepadanya. Berikut penggalan ceritanya:

(33)

“Bukan dua puluh ribu, Tiur!,” lelaki itu mengembalikan uang itu kepada Tiur.

“Laluberapa harus kuberikan?”

“Banyak!. Aku butuh uang banyak untuk bersembunyi dari satu desa ke desa lainnya, juga sampai ke kota.”....

“Tambah lagi. Tiur!”

“Aku tidak punya uang lagi” tubuh Tiur gemetar menatap sorot mata lelaki itu teramat tajam, seperti menyemburkan api.

“Jangan bohong kepadaku!” “Sungguh aku tidak punya lagi!”

“Atau aku sendiri yang akan mengambilnya dan membongkar isi lemarimu?.”

“Demi tuhan aku tidak punya uang lagi!”

“Kalau begitu aku yang harus mengambil sendiri uang itu!”.... “Masih kurang, Tiur. Aku perlu uang untuk pergi jauh!” “Tidak ada lagi sisa uang!”

Lelaki itu tidak percaya dan tatapannya tetap saja seperti menyemburkan api yang amat panas. Setelah jadi buronan polisi, Bang Dapot jadi amat bringas dan kasar.

“Jangan bohong, Tiur. Bukankah kau sudah membuka warung dan langgananmu banyak!”

“Tapi aku tidak punya uang banyak!”

“Jangan bohongi aku. Bukankah kau sudah kawin dan suamimu memberi nafkah?. Berikan aku uang yang cukup!”

“Demi Tuhan tidak ada yang lain!” tubuh Tiur makin gemetar. “Ingat, kalau kau tidak memberiku uang yang cukup, aku akan tetap di sini, aku tidak akan pergi dari rumah ini!”(SAZZ: 90-91).

Tindakan pemaksaan serta ancaman yang dilakukan oleh tokoh Pandapotan

kepada Tiurma membuat Tiurma merasa ketenangannya terganggu. Dengan

perasaan terpaksa ia memberikan uang miliknya kepada Pandapotan. Tiurma yang

tidak memiliki pilihan lain serta rasa takut yang menyelimuti dirinya melahirkan

konflik sosial antara dirinya dengan Padapotan.

Konflik sosial yang terjadi antara Tiurma dengan Pandapotan juga tergambar

ketika Pandapotan merampas dompet Tiurma dan mengambil semua isi uang yang

ada dalam dompet itu. Berikut penggalan ceritanya:

(34)

“Aku butuh uang, Tiur!. Kau harus sadar, aku butuh uang. Tanpa uang aku akan mati kelaparan.” Tukas lelaki itu dan bersiap-siap untuk melangkah pergi.

“tapi uang itu untuk modal.” Tiurma berusaha merebut dompet itu dari tangan Bang Dapot, tapi sia-sia. “Warung ini akan bangkrut kalau Bang Dapot mengambilnya.”(SAZZ: 146).

Selain itu, konflik sosial yang terjadi antara tokoh Tiurma dengan Pandapotan

juga tergambar pada penggalan cerita berikut:

“Tidak usah kau beri aku uang, tapi berikan kalung ini kepadaku,” lelaki itu berkata setengah berbisik.

“Tidak!. Tidak, Bang Dapot. Aku tidak dapat memberikan kalung ini kepada siapa pun!,” Tiurma mencegah.

“Aku butuh biaya untuk pergi ke ujung dunia.”

“Tapi kalung ini tidak akan kuberikan kepada siapa pun. Kalung ini adalah kenang-kenangan dari ibuku. Kalung ini tidak akan terlepas dari diriku sampai kapan pun!”

“Kalau kalung ini tidak kau berikan, itu artinya aku gagal untuk menyeberangi laut. Itu artinya aku akan tetap tinggal disini bersamamu....”(SAZZ: 100-101).

Cerita di atas menggambarkan bahwa tokoh Pandapotan saat itu tengah

memaksa Tiurma untuk memberikan kalungnya tetapi Tiurma tidak mau

memberikan kalung itu karena kalung itu merupakan peninggalan dari ibunya.

Pandapotan yang senantiasa memberikan ancaman kepada Tiurma membuat

Tiurma terpaksa menuruti keinginannya. Dengan sangat terpaksa Tiurma

memberikan kalung peninggalan ibunya kepada Pandapotan.

C. Konflik Sosial antara Tokoh Lindung dengan Tiurma

Novel Seteguk Air Zam-Zammenggambarkan tentang sosok Lindung yang

(35)

dengan menikahi Tiurma, ia akan mendapatkan keturunan karena selama delapan

tahun usia pernikahannya dengan Nauli belum juga dikaruniai seorang anak.

Konflik sosial yang terjadi antara tokoh Lindung dengan Tiurma tergambar

ketika Lindung mengetahui bahwa anak yang dilahirkan oleh Tiurma bukanlah

darah dagingnya melainkan darah daging Pandapotan yaitu mantan suami Tiurma.

Lindung sangat marah kepada Tiurma ketika mengetahui bahwa anak yang

dilahirkan oleh Tiurma ternyata bukannlah darah dagingnya. Ia pun meninggalkan

Tiurma dan anaknya. Lindung yang merasa sudah dibohongi selama ini tidak

memperdulikan permohonan maaf dari Tiurma. Ia tetap saja pergi dengan penuh

kekesalan dan amarah. Berikut penggalan ceritanya:

Wajah itu tampak tegang. Dia amat marah. Ingin rasanya dia menampar wajah Tiurma. Ingin rasanya dia menarikkan rambutnya lalu menghempaskannya ke tanah. Bahkan ingin rasanya lelaki itu mencekik batang lehernya. Seorang isteri yang melayani lelaki lain, pasti pantas mati!.

Tapi lelaki itu masih memiliki kesabaran di hatinya. Sama sekali lelaki itu tidak menyentuh tubuh Tiurma yang mendadak bersujud di kakinya.

“Maafkan aku, Bang Lindung!. Ampuni aku!,” Tiur menghiba dan berusaha mencium kaki lelaki itu.

“Aku sudah tahu apa yang terjadi!. Aku sudah tahu rumah ini penuh dosa. Rumah ini penuh noda!,” suara lelaki itu menggelegar dan melangkah pergi. “Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah yang penuh dosa.”

“Jangan pergi, Bang Lindung!. Jangan pergi!.” Tangis Tiurma berderai-derai dan mencegah Bang Lindung agar tidak meninggalkannya. Tapi lelaki itu tidak peduli.

“Demi Tuhan, aku tidak kembali ke rumah ini lagi!,” lelaki itu melangkah ke arah mobilnya dan tidak sekali pun menoleh lagi (SAZZ:151-152).

4.1.2 Konflik Sosial Tokoh dengan Lingkungan Keluarga

Setiap keluarga harus dapat menjaga keutuhan keluarganya. Keutuhan

(36)

samping adanya seorang ayah, ibu beserta anak-anaknya, juga adanya

keharmonisan dalam keluarga di mana di antara anggota keluarga itu saling

bertemu muka dan saling berinteraksi satu dengan yang lainnya (Narwoko dan

Suyanto, 2004: 237).

Konflik sosial tidak hanya terjadi antara seseorang dengan orang lain di luar

lingkungan keluarga tetapi juga dapat terjadi di dalam lingkungan keluarga.

Interaksi yang dilakukan oleh anggota keluarga adakalanya menimbulkan

terjadinya konflik sosial dalam keluarga tersebut bahkan konflik dalam

lingkungan keluarga lebih sering terjadi. Konflik sosial yang terjadi dalam

lingkungan keluarga, misalnya konflik sosial yang terjadi antara suami dengan

istri, orangtua dengan anak, maupun dengan anggota keluarga lainnya.

Konflik sosial yang terjadi antara tokoh dengan lingkungan keluarga dalam

novel Seteguk Air Zam-Zam tergambar pada tokoh Nauli dengan keluarga

suaminya. Berikut penggalan ceritanya:

“Carilah seorang gadis yang benar-benar subur, Lindung!,” kata-kata itu pernah terngiang di telingan Bu Nauli yang diucapkan Inang Boru.

“Kawin sekali lagi juga tidak ada salahnya, Lindung. sebab Nauli tidak mampu memberimu keturunan. Anak dalam keluarga dari suku Mandailing sangat penting artinya,” ucapan Inang Tua benar-benar menyakitkan hati Bu Nauli.

“Siapa yang akan melanjutkan keturunanmu kalau kau tidak punya anak seorang pun?.”

“Bagimu untuk kawin sekali lagi tidak terlalu susah, sebab kau punya mata pencaharian dan siterimu Nauli punya gaji tetap. Dia tidak akan kelaparan meskipun kau menikah lagi.” kata-kata yang diucapkan Nan Tulang Naposo lebih menyakitkan lagi. terkadang Bu Nauli menitikkan air mata karena kata-kata itu.

(37)

“Memang nasib Nauli untuk selamanya tidak punya anak!,” ujar salah seorang kerabat.

“Nauli memang bukan seorang ibu yang pintar merawat anak,” itulah komentar yang amat menyakitkan hati.

“andainya anak itu tetap diasuh ibu kandungnya, pasti umurnya masih panjang,” sambung famili yang lain.

“Nauli memang bukan seorang ibu yang tangannya dingin dalam mengasuh anak,” itulah komentar salah seorang kerabat dari suaminya.

“Kalau tahu ibu kandungnya bahwa anak itu akan meninggal di tangan Nauli, pasti tidak mengizinkan anak itu diambil sebagai anak angkat.”

“Sekarang tidak ada alasan lagi bagi Lindung untuk mencari seorang isteri yang benar-benar dapat memberikan keturunan!,” itulah kata-kata yang amat menyakitkan dan sekaligus seperti beling tajam yang menggores relung hati Bu Nauli.

“Lalu bagaimana dengan Bu Nauli?”

“Dia tidak akan terlantar karena punya gaji yang cukup untuk menghidupi dirinya.”

“Kalau Lindung mau, biar kami yang akan mencarikan seorang gadis yang benar-benar subur. Mau lulusan pesantren juga ada. Ingat Habibah yang baru lulus dari pesantren Mustafawiyah?. Dia cantik, putih, pintar memasak dans ekarang jadi guru mengaji. Gadis itu pasti pas dan tepat untuk Lindung!,” ujar salah seorang famili yang bermukim di Muara Soma.

Tangis Bu Nauli tidak hanya karena kehilangan seorang bocah yang pernah diasuhnya dan kini menghadap Tuhan, tapi karena banyak famili dari suaminya yang menganjurkan agar Bang Lindung menikah lagi (SAZZ: 56-57).

Cerita di atas menggambarkan bahwa keluarga Lindung tidak menyukai

Nauli.Meskipun konflik sosial antara Nauli dengan keluarga Lindung tidak

diwarnai dengan adanya percekcokan atau adu mulut di antara keduanya, tetapi

kata-kata yang menyinggung perasaan Nauli serta rasa tidak senang yang

ditunjukkan keluarga Lindung terhadap Nauli melalui kata-kata yang dilontarkan

secara tidak langsung memicu terjadinya konflik sosial.

Konflik sosial antara Nauli dengan Keluarga Lindung terjadi dikarenakan

Nauli belum dapat memberikan Lindung seorang anak. Keluarga Lindung sangat

mengharapkan agar ia dapat segera memiliki anak guna meneruskan keturunannya

(38)

dapat memberikan seorang anak. Keluarga Lindung mengatakan bahwa Nauli

bukanlah wanita yang baik dan subur sehingga mereka selalu mendesak agar

Lindung mau menikah lagi.

4.1.3 Konflik Sosial Tokoh dengan Masyarakat

Konflik lahir dari kenyataan akan adanya perbedaan-perbedaan baik ciri

badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, maupun pola-pola

perilaku antarindividu atau kelompok dalam masyarakat. Perbedaan-perbedaan ini

memuncak menjadi konflik ketika sistem sosial masyarakatnya tidak dapat

mengakomodasi perbedaan-perbedaan tersebut. Hal ini mendorong

masing-masing individu atau kelompok untuk saling menghancurkan (Ahmadi, 2007:

282).

Dalam kehidupan sosial, setiap manusia senantiasa berinteraksi dengan

sesama manusia. Adakalanya interaksi yang dilakukan menimbulkan konflik.

Konflik dapat terjadi apabila antara individu satu dengan individu yang lain

merasakan ketidakcocokan diantara keduanya. Selain itu, ketidaknyamanan serta

tindakan-tindakan yang dapat mengganggu ketenangan masyarakat juga dapat

memicu terjadinya konflik sosial antara individu dengan masyarakat sekitar.

Konflik sosial antara tokoh dengan masyarakat tergambar pada tokoh

Pandapotan dengan masyarakat desa di pinggiran Sungai Aek Godang.Berikut

penggalan ceritanya:

“Kebakaran!. Kebakaran!!”

(39)

yang meninggal, pasti yang memimpin pelaksanaan fardhu kifayah adalah pemilik traktor itu.juga dalam hal melaksanakan berbagai adat mulai dari menyambut kelahiran bayi, pernikahan, mengkhitankan anak dan kenduri lainnya, pasti Haji Sulaiman adalah pemegang peran utama.

“Itu orang yang membakar!. Kejaaar!,” teriak salah seorang warga dan menunjuk ke arah sungai Aek Godang dan melihat Bang Dapot sedang berlari menghindar, menghilangkan jejak. Warga yang segera datang dari berbagai penjuru segera mengejar dan mengepung lelaki bringas itu.

Seorang warga dengan parang terhunus berusaha menebas batang leher Bang Dapot, sementara belasan warga mengepung. Lelaki yang baru saja bertindak anarkhis itu merasa dalam keadaan terdesak. Tanpa berpikir panjang dia menusuk warga yang berusaha menangkapnya. Warga yang malang itu tersungkur berlumur darah.

Seorang korban telah tersungkur, tapi Bang Dapot tidak mampu menghindar karena warga yang mengepungnya. Dalam waktu sesaat saja Bang Pandapotan tidak dapat berkutik lagi.

“Patahkan lehernya!,” teriak salah seseorang. “Pecahkan kepalanya!”, sambut yang lain. “Tusuk perutnya, biar mati!”

“Cincang saja!” “Jadikan sate!”

“Bakar hidup-hidup biar jadi abu!” “Buang mayatnya ke sungai!”

Teriakan-teriakan itu terus terdengar. Orang-orang yang membawa parang, pisau, kapak dan pacul segera menghajar tubuh lelaki itu hingga babak belur, hingga dari hidung keluar darah, juga dari kepalnya mengucur darah segar (SAZZ: 82).

Penggalan cerita di atas, menggambarkan kemarahan masyarakat desa

tersebut akibat tindakan anarkhis yang dilakukan oleh Pandapotan. Ia membakar

traktor milik Haji Sulaiman. Pandapotan menganggap bahwa traktor itulah yang

menyebabkan ia jatuh melarat. Adanya traktor itu, maka warga desa di pingggiran

Sungai Aek Godang lebih memilih menyewa traktor milik Haji Sulaiman untuk

membajak sawah daripada menyewa sapi milik Pandapotan. Akhirnya

penghasilan yang didapatkan oleh Pandapotan tidak cukup untuk memenuhi

kebutuhan hidup ketiga isterinya. Pandapotan sangat marah kepada Haji Sulaiman

(40)

matapencahariannya. Kemarahannya membuat ia nekat membakar traktor

tersebut.Tindakan anarkhis yang dilakukan Pandapotan membuat masyarakat desa

tersebut mengamuk dan menghajar pandapotan hingga belumuran darah dan

kemudian membuangnya ke sungai.

“Lelaki itu telah menjadi korban kemarahan belasan warga yang menyaksikan saudara mereka terbunuh. Itulah yang membuat warga desa itu menghakimi lelaki itu. Tidak ada ampun lagi bagi lelaki yang telah membakar traktor milik Haji Sulaiman dan melukai seorang warga desa hingga tersungkur mencium bumi. Bang Dapot benar-benar menjadi korban kemarahan massa. Pukulan bertubi-tubi diarahkan pada dirinya, hingga dia roboh. Setelah lelaki itu tidak berdaya lalu jasadnya dilempar ke Sungai Aek Godang. Jasad lelaki itu tenggelam dan dihanyutkan air hingga ke hilir, hingga ke muara dan mungkin hingga ke tengah laut.”(SAZZ: 83).

Selain Pandapotan, Tiurma juga mengalami konflik sosial dengan

masyarakat desa di pinggirang Sungai Aek Godang. Berikut penggalan ceritanya:

Sejak saat itu pula warga yang bermukim di desa sekitar Sungai Aek Godang itu memandang Tiur amat sinis. Tiur dianggap ikut bersekongkol dengan suaminya dan dikucilkan masyarakat. Dimana saja, pasti terlihat wajah-wajah sinis yang memandangnya. Bahkan banyak kenalan dan handai tolan yang tidak menyahut atau berpaling dan menghindar ketika Tiur menyapanya.

“Giotna disumbayang hajat kon do alai sude na mombaen na so pade di Mandailing on!” Itulah hujatan para tetangga yang ditujukan kepada Tiurma yang maknanya agar yang berbuat tidak baik di kawasan Madina mendapat murka Tuhan (SAZZ: 83-84).

Cerita di atas menggambarkan bagaimana masyarakat desa tersebut

menghujat serta menjauhi Tiurma. Tiurma adalah isteri Pandapotan sehingga

mereka mengangap Tiurma bersekongkol dengan Pandapotan untuk membakar

traktor milik Haji Sulaiman.Setelah kejadian itu, Tiurma menjual seluruh

perhiasan miliknya kemudian ia memilih untuk pindah ke desa lain dan memilih

(41)

4.2 Penyebab Terjadinya Konflik Sosial dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam

Karya Maulana Syamsuri

Konflik tidak dapat terjadi begitu saja tanpa adanya penyebab. Terjadinya

sebuah konflik dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya dengan adanya

perbedaan antaranggota masyarakat. Perbedaan antaranggota masyarakat, yaitu

perbedaan baik secara fisik maupun mental, atau perbedaan kemampuan,

pendirian, dan perasaan sehingga mampu menimbulkan pertikaian atau bentrokan

antara mereka (Ahmadi, 2007: 291).

Setiadi dan Kolip (2011) dalam bukunya yang berjudul Pengantar

Sosiologi, menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya konflik sosial

adalah adanya perbedaanantar-individu. Perbedaan antar-individu di antaranya

yaitu perbedaan pendapat, tujuan, keinginan, dan pendirian tentang objek yang

dipertentangkan. Dalam realitas sosial tidak ada satu pun individu yang memiliki

karakter yang sama sehingga perbedaan karakter tersebutlah yang memengaruhi

timbulnya konflik sosial.

Dalam sebuah novel, terdapat beberapa tokoh cerita. Masing-masing tokoh

memiliki karakter yang berbeda, selain karakter yang berbeda-beda, setiap tokoh

cerita juga memiliki kemampuan, tujuan, keinginan, serta pendapat yang

berbeda-beda pula. Perberbeda-bedaan-perberbeda-bedaan tersebut dapat menimbulkan terjadinya konflik

antara satu tokoh dengan tokoh yang lain.

Di dalam novel Seteguk Air Zam-Zam terdapat beberapa konflik sosial yang

terjadi antara satu tokoh dengan tokoh yang lain dan antara tokoh dengan

lingkungannya. Terjadinya konflik sosial tersebut disebabkan oleh beberapa hal,

(42)

A. Perbedaan Pendapat

Konflik dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan, pendapat,

keinginan, tujuan, dan bahkan emosi sesaat yang dialami oleh seseorang juga

dapat memicu terjadinya konflik sosial. Dalam novel, setiap tokoh memiliki

pendapat atau pandangan yang berbeda-beda mengenai suatu hal karena setiap

tokoh ditampilkan dengan karakter yang berbeda.

Terjadinya konflik sosialyang disebabkanadanya perbedaan pendapat

tergambar pada konflik sosial yang terjadi antara tokoh Nauli dengan Lindung.

Perbedaan pendapat mereka mengenai keahlian seorang dokter dengan seorang

dukun. Tokoh Nauli lebih mempercayai keahlian seorang dokter dalam

menganalisa dan menyembuhkan penyakit sedangkan tokoh Lindung sama sekali

tidak mempercayai keahlian seorang dokter. Lindung lebih mempercayai keahlian

seorang dukun. Perbedaan pendapat antara Nauli dan Lindung megenai keahlian

seorang dokter dan seorang dukun juga dapat dilihat pada penggalan cerita

berikut:

“Senin depan aku harus ke dokter lagi!,” cetusnya sebelum sampai ke rumah.

“Untuk apa?”

“Untuk apa lagi kalau tidak untuk memohon bantuan dokter ahli itu?”

“Tidak usah!. Berobat ke dokter itu sama saja dengan membuang uang ke sungai,” Bang Lindung mencegah.

“Kenapa membuang uang?. Bukankah dokter itu seorang ahli?” “Sudah lima kali kita membuang uang, hasilnya tetap kosong!” “Lalu apa yang harus kita lakukan?. Kita akan seperti ini terus?. Mendatangi orang pintar lagikah?. Dukun mana lagi yang akan kita datangi?.”

(43)

Cerita di atas menggambarkan adanya perbedaan pendapat antara Nauli

dengan Lindung. Lindung beranggapan bahwa melakukan pengobatan dengan

dokter ahli merupakan perbuatan yang sia-sia. Ia tetap memaksakan kehendaknya

kepada Nauli untuk melakukan pengobatan dengan meminta bantuan kepada

seorang dukun.

B. Perselingkuhan

Perselingkuhan merupakan penyebab lain yang dapat menimbulkan terjadinya

konflik sosial. Di dalam rumah tangga, keharmonisan yang tercipta antara suami

dengan isteri adalah faktor yang sangat penting. Apabila di antara salah satunya,

baik itu suami ataupun isteri ada yang melakukan tindakan yang tidak dapat

diterima oleh salah satu pihak, maka akan menimbulkan konflik di antara

keduanya. Salah satu tindakan yang tidak dapat diterima oleh seseorang yang

sudah memiliki pasangan adalah perselingkuhan. Seorang isteri akan marah dan

tidak akan bisa menerima apabila suaminya berselingkuh dengan wanita lain,

begitu juga sebaliknya. Tindakan tersebut dapat menyebabkan keretakan dalam

rumah tangga.

Konflik sosial yang disebabkan dengan adanya perselingkuhan dalam novel

Seteguk Air Zam-Zamtergambar pada konflik sosial yang terjadi antara tokoh

Lindung dengan Nauli. Pada penggalan cerita tersebut Nauli tergambar

kemarahan Nauli ketika mengetahui suaminya yang bernama Lindung

berselingkuh dengan seorang janda bernama Tiurma yang merupakan pendatang

(44)

“Mulai hari ini tidak ada lagi kopi hangat!” “Bah!. Kenapa?. Kenapa?.”

“Seorang isteri yang hatinya hancur tidak akan dapat membuatkan kopi hangat lagi untuk suaminya.” Suara Nauli tinggi.

“Bah!. Kenapa begitu?”

“Tanya dirimu sendiri, pasti Bang Lindung tahu jawabnya!”

“Demi Tuhan, aku tidak tahu, Nauli. Adakah sesuatu yang sangat menyakitkan hatimu hari ini?”

“Ya!, ada!. Perempuan yang ada di mobil Bang Lindung siang tadi. Itulah yang menghancurkan hatiku. Orang menyebutnya pendatang dan pemilik warung sembako. Aku sudah tahu!”....

“Tidak usah sentuh lagi kalau memang sudah ada niat di hati Bang Lindung untuk kawin dengan orang lain.”

“Maafkan aku, Nauli. Kalau aku harus menikah lagi karena banyak famili memang menghendaki aku punya keturunan.”

“Lalu banyak famili juga meminta agar aku dilemparkan ke sungai sebagai benda busuk?”

“Tidak!. Kau tetap sebagai isteriku, Nauli. Aku tetap cinta kepadamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin?. Kita sudah hidup bersama hampir sepuluh tahun sebagai suami isteri dan tidak pernah ada gempa dahsyat. Aku sudah tahu benar pribadimu, kesetiaanmu, kasih sayangmu. Tapi aku sungguh sangat ingin punya anak. Hanya keturunan!. Yang kucari tidak lebih dari itu.”

Bu Nauli menangis lagi.

“Demi Tuhan, aku bersumpah, kau tetap isteriku yang kucintai. Aku akan selalu berada di sisimu.”

“Lalu setelah lahir seorang anak dari rahim perempuan itu lambat laun aku akan terbuang, bukan?”

“Demi Tuhan, tidak!”(SAZZ: 65-66).

Terjadinya konflik sosial yang disebabkan oleh perselingkuhan juga terlihat

pada konflik sosial yang terjadi pada tokoh Lindung dan Tiurma.

Wajah itu tampak tegang. Dia amat marah. Ingin rasanya dia menampar wajah Tiurma. Ingin rasanya dia menarikkan rambutnya lalu menghempaskannya ke tanah. Bahkan ingin rasanya lelaki itu mencekik batang lehernya. Seorang isteri yang melayani lelaki lain, pasti pantas mati!....

“Maafkan aku, Bang Lindung!. Ampuni aku!,” Tiur menghiba dan berusaha mencium kaki lelaki itu.

(45)

“Jangan pergi, Bang Lindung!. Jangan pergi!.” Tangis Tiurma berderai-derai dan mencegah Bang Lindung agar tidak meninggalkannya. Tapi lelaki itu tidak peduli.

“Demi Tuhan, aku tidak kembali ke rumah ini lagi!,” lelaki itu melangkah ke arah mobilnya dan tidak sekali pun menoleh lagi (SAZZ: 151-152).

Cerita di atas menggambarkan kemarahan Lindungkepada Tiurma saat

mengetahui isteri keduanya itu berselingkuh dengan mantan suaminya. Tiurma

yang sudah menikah dengan Lindung tergoda dengan rayuan Pandapotan mantan

suaminya yang pada suatu malam datang menemuinya. Terjadilah hubungan intim

antara Tiurma dan Pandapotanpada malam itu hingga menyebabkan Tiurma

Hamil.

“Banyak kata-kata rayuan yang diucapkan lelaki itu dan juga belaiannya masih perkasa seperti itu. itulah yang membuat sebuah benteng yang amat kokoh akhirnya roboh. Bujuk rayu dan sentuhan lelaki itu membuat Tiurma harus pasrah. Ia tidak berdaya ketika lelaki itu melepas dasternya. Hubungan teramat intiem itu pun akhirnya terjadi di malam yang kelam, sepi dan dingin. Angin yang berhembus terasa semakin dingin”(SAZZ: 102-103).

Lindung yang tidak mengetahui kejadian itu merasa bahagia setelah

mengetahui Tiurma hamil karena selama ini ia sangat menginginkan seorang

anak. Lindung mengira bahwa anak yang dikandung oleh Tiurma adalah

benihnya. Hingga pada suatu pagi saat ia kembali ke rumah Tiurma, ia dikejutkan

dengan perkataan Pandapotan yangmengatakan bahwa anak itu adalah anaknya,

darah dagingnya. Lindung yang mendengar perkataan Pandapotan sangat marah.

Terjadilah konflik antara Lindung dan Tiurma. Ia tidak menghiraukan Tiurma

yang bersujud memohon ampun kepadanya. Ia tetap meninggalkan Tiurma dan

(46)

C.Keuangan

Masalah keuangan juga dapat memicu terjadinya konflik sosial. Setiap

manusia pasti memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya apalagi

jika seseorang tidak memiliki pekerjaan, maka sangat sulit untuk mendapatkan

uang. Kebutuhan yang semakin meningkat membuat setiap orang berusaha sekuat

tenaga untuk mendapatkan uang. Adakalanya, demi mendapatkan uang seseorang

rela melakukan berbagai cara, tidak peduli cara itu baik atau tidak.

Konflik sosial yang disebabkan oleh masalah keuangan dalam novel Seteguk

Air Zam-Zamtergambar pada konflik sosial yang terjadi antara tokoh Tiurma

dengan Pandapotan. Ketiga bentuk konflik sosial yang terjadi pada tokoh Tiurma

dengan Pandapotan disebabkan oleh masalah keuangan. Tokoh Pandapotan yang

menjadi buronan polisi harus hidup menyamar menjadi pengemis dan

berpindah-pindah tempat. Sehingga ia kesulitan untuk makan dan pergi dari desa itu.

Pandapotan sering mendatangi Tiurma untuk meminta uang. Pandapotan selalu

meminta uang yang banyak. Terkadang ia tidak segan-segan mengancam Tiurma

bahkan sampai merampas dompet milik Tiurma demi mendapatkan uang.

“Jangan ambil semua uang itu, Bang Dapot1. Jangan ambil semua!,” Tiurma berusaha untuk meminta kembali dompet itu.

“Aku butuh uang, Tiur!. Kau harus sadar, aku butuh uang. Tanpa uang aku akan mati kelaparan.” Tukas lelaki itu dan bersiap-siap untuk melangkah pergi.

“tapi uang itu untuk modal.” Tiurma berusaha merebut dompet itu dari tangan Bang Dapot, tapi sia-sia. “Warung ini akan bangkrut kalau Bang Dapot mengambilnya.”(SAZZ: 146).

Konflik sosial yang disebabkan oleh masalah keuangan selain yang terjadi

pada tokoh Tiurma dengan Pandapotan juga terjadi pada tokoh Pandapotan

(47)

bahwa dengan adanya traktor milik Haji Sulaiman, makadapat mematikan

matapencahariannya. Masyarakat desa tersebut lebih memilih menyewa traktor

milik Haji Sulaiman untuk membajak sawah mereka daripada menyewa sapi-sapi

miliknya sehingga penghasilannya pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan

hidup ketiga isterinya. Pandapotan dengan emosinya mengatakan bahwa adanya

traktor itu lah yang menyebabkan ia jatuh melarat.

“Traktor itulah yang menyebabkan aku jatuh melarat. Traktor itu harus dibakar!. Traktor itu harus jadi abu!,” gerutu Bang Dapot ketika keluar dari rumah Tiur dengan membawa bensin dan korek api”.(SAZZ: 81).

Kemarahan Pandapotan ditunjukkan dengan membakar traktor itu sehingga

mengundang kemarahan masyarakat desa dan kemudian terjadilah konflik antara

Pandapotan dengan masyarakat desa tersebut.

D.Keturunan

Keluarga adalah suatu kesatuan sosial yang terkecil yang terdiri atas suami

dengan isteri dan jika ada anak-anak dan didahului oleh perkawinan. Dari

pengertian tersebut berarti ketiadaan anak tidaklah menggugurkan status keluarga,

jadi faktor anak bukanlah faktor mutlak untuk terwujudnya suatu keluarga. Suatu

keluarga yang kebetulan tidak dikaruniai anak, tetap mempunyai status sebagai

keluarga. Atau dengan kata lain keluarga itu tetap berhak menyebut dirinya

sebagai keluarga. Bukan berarti bahwa ketiadaan anak lalu menggugurkan ikatan

keluarga. Memang salah satu faktor mengapa individu itu membentuk keluarga

adalah mengharapkan anak atau keturunan. Tetapi itu bukan satu-satunya faktor

Referensi

Dokumen terkait

BAB IV PAPARAN DATA 4.1 Bentuk Penindasan Konflik Sosial Tokoh Utama Dalam Novel Antariksa Karya Tresia

Begitu pula dalam novel ditemukan empat macam penyebab konflik yakni penyebab konflik dalam hubungan intim atau akrab yang terjadi pada beberapa tokoh yaitu:

1) Bentuk konflik sosial pada tokoh utama Yùmĭ 玉 米 dalam novel Yùmĭ 玉米 karya Bì fēiyŭ ( 毕飞宇 ) adalah sebagai berikut. Bentuk konflik sosial peranan sosial,

Oleh karena itu, dengan adanya bentuk-bentuk konflik sosial yang disertai dengan adanya faktor penyebab terjadinya konflik sosial yang dialami oleh tokoh-tokoh di

Dari hasil analisis diperoleh hasil bahwa bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Rosa van Hogendrop ada dua yaitu pertama konflik atau pertentangan pribadi dengan jumlah data

3 Penyebab konflik sosial yang dialami tokoh utama dalam novel I Am Malala Karya Christina Lamb ditinjau dari segi sosiologi sastra, dan 4 Penyelesaian konflik sosial yang dialami tokoh

Pertama, bentuk konflik batin yang dialami tokoh utama pada novel Bukan Semillah karya Nadine T, tokoh utama mengalami tiga tipe konflik batin yang ditinjau dari teori Kurt Lewin yakni

Konflik Sosial berupa Pertengkaran Konflik sosial berupa pertengkaran ini dialami oleh ibu dan anak dari 2 keluarga yang berbeda yaitu, Endo Mayu dengan Endo Ayaka dan Takahashi