ANALISIS KONFLIK SOSIAL
DALAM NOVEL SETEGUK AIR ZAM ZAM
KARYA MAULANA SYAMSURI
SKRIPSI
OLEH
NILA EKA SARI
100701004
DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini tidak pernah diajukan untuk
memperoleh gelar sarjana di perguruan tinggi. Sepengetahuan saya juga tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah di tulis maupun diterbitkan oleh orang
lain kecuali yang secara tertulis dijadikan sebagai sumber referensi pada skripsi
ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya buat ini
tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar
kesarjanaan yang saya peroleh.
ABSTRAK
ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL SETEGUK AIR ZAM-ZAM
KARYA MAULANA SYAMSURI
Nila Eka Sari
Fakultas Ilmu Budaya USU
Karya sastra diciptakan pengarang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk memberikan pandangan kepada pembaca mengenai kehidupan sosial pada saat karya itu diciptakan. Dalam karya satra, salah satunya novel, terdapat konflik sosial yang terkandung di dalamnya. Konflik yang terdapat dalam sebuah cerita berperan penting demi berjalannya alur cerita. Konflik yang tergambar dalam sebuah cerita akan membawa pembaca untuk ikut merasakan keadaan atau peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik sosial serta penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri. Penelitiaan ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif dengan metode baca catat dan tinjauan kepustakaan (library research). Dari hasil penelitian ditemukan bentuk-bentuk konflik sosial antarpribadi yang meliputi konflik sosial antartokoh, konflik sosial tokoh dengan lingkungan keluarga, dan konflik sosial tokoh dengan lingkungan masyarakat. Penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam adalah adanya perbedaan pendapat, perselingkuhan, keuangan, dan keturunan.
PRAKATA
Penulis mengucapkan syukur alhamdulillah kehadirat Allah Swt. yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada hambanya, sehingga
penelitian skripsi ini dapat diselesaikan. Begitu pula shalawat beriring salam
penulis sampaikan kepada Baginda Rasulullah Saw. yang telah membawa
petunjuk ke jalan yang diridhai-Nya. Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi
persyaratan di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Sumatera Utara, dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Budaya.
Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa adanya
dukungan dari berbagai pihak baik dalam bentuk ide atau gagasan, moral, maupun
materi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. M.
Husnan Lubis, M.A. selaku Pembantu Dekan I, Drs. Syamsul Tarigan
selaku Pembantu Dekan II, dan Drs. Yuddi Adrian Muliadi, M.A. selaku
Pembantu Dekan III.
2. Prof. Dr. Ikhwanudin Nasution, M.Si. selaku Ketua Departemen Sastra
Indonesia dan Drs. Haris Sutan Lubis, M.SP. selaku Sekretaris
Departemen Sastra Indonesia.
3. Dra. Nurhayati Harahap, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing I yang telah
memberi waktu, pengetahuan, dan arahan.
4. Dra. Yulizar Yunas, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing II, yang telah
5. Dr. Mulyadi, M.Hum. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah
memberikan motivasi dan nasehat selama masa perkuliahan.
6. Staf pengajar di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi pengajaran dan
pengetahuan selama menjalankan perkuliahan.
7. Kedua orang tuaku tercinta, ayahanda Nurlan dan ibunda Juliani Lubis
yang telah menjadi alasan terkuat penulis untuk tetap semangat
menyelesaikan perkuliahan dan mengejar mimpi ke depannya. Kedua
sosok yang senantiasa memberikan dukungan baik berupa materi maupun
moril serta doa yang senantiasa mengiringi perjalanan studi penulis.
8. Kepada kakek, Burhanudin Lubis, Bumawang Wijaya, dan nenekku
Saringah yang senantiasa memberikan doa dan nasehat untuk selalu sabar
dalam meyelesaikan penelitian ini.
9. Untuk kakak dan adikku tersayang, Dwi Rahmadani S.Kep, Nuriyana,
Syutri Ningsih, M. Ardiansyah, dan Budi Satria yang selalu memberikan
semangat dan menghibur penulis. Semoga kelak dapat meraih mimpi dan
cita-cita yang membanggakan kedua orang tua.
10.Kepada ketiga sahabat terbaikku, Siti Aisyah, Pebri Lestari, dan Sri
Purwanti yang tidak pernah bosan membantu penulis dalam
menyelesaikan penelitian ini.
11.Kepada seluruh teman-teman seperjuangan di Departemen Bahasa dan
Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU angkatan 2010 yang
12.Seluruh pihak yang telah berperan member dukungan terhadap penulisan
skripsi ini.
Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna. Oleh karena itu,
Penulis mengharapkan kepada pembaca agar member kritik dan saran yang
bermanfaat demi penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat
menambah wawasan dan pengetahuan kita bersama.
Medan, Oktober 2014
Penulis,
Nila Eka Sari
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ... i
PRAKATA ... ii
ABSTRAK ... v
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Batasan Masalah ... 3
1.4 Tujuan ... 4
1.5 Manfaat ... 4
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA.. 5
2.1 Konsep ... 5
2.1.1 Konflik Sosial ... 5
2.1.2 Tokoh ... 6
2.1.3 Sosiologi Sastra ... 6
2.2 Landasan Teori ... 7
2.2.1 Sosiologi Sastra ... 7
2.2.2 Konflik sosial ... 9
2.3 Tinjauan Pustaka ... 11
BAB III METODE PENELITIAN ... 14
3.1 Metode Penelitian ... 14
3.2 Sumber Data ... 14
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 15
BAB IV ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL SETEGUK
AIR ZAM-ZAM KARYA MAULAN SYAMSURI ... 16
4.1 Bentuk-Bentuk Konflik Sosial dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam Karya Maulana Syamsuri ... 16
4.1.1 Konflik Sosial Antartokoh ... 17
4.1.2 Konflik Sosial Tokoh dengan Lingkungan Keluarga ... 25
4.1.3 Konflik Sosial Tokoh dengan Lingkungan Masyarakat ... 28
4.2 Penyebab Terjadinya Konflik Sosial dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam Karya Maulana Syamsuri... 31
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 40
5.1 Simpulan ... 40
5.2 Saran ... 41
DAFTAR PUSTAKA ... 42
ABSTRAK
ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL SETEGUK AIR ZAM-ZAM
KARYA MAULANA SYAMSURI
Nila Eka Sari
Fakultas Ilmu Budaya USU
Karya sastra diciptakan pengarang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk memberikan pandangan kepada pembaca mengenai kehidupan sosial pada saat karya itu diciptakan. Dalam karya satra, salah satunya novel, terdapat konflik sosial yang terkandung di dalamnya. Konflik yang terdapat dalam sebuah cerita berperan penting demi berjalannya alur cerita. Konflik yang tergambar dalam sebuah cerita akan membawa pembaca untuk ikut merasakan keadaan atau peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik sosial serta penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri. Penelitiaan ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif dengan metode baca catat dan tinjauan kepustakaan (library research). Dari hasil penelitian ditemukan bentuk-bentuk konflik sosial antarpribadi yang meliputi konflik sosial antartokoh, konflik sosial tokoh dengan lingkungan keluarga, dan konflik sosial tokoh dengan lingkungan masyarakat. Penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam adalah adanya perbedaan pendapat, perselingkuhan, keuangan, dan keturunan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Karya sastradiciptakan pengarang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga
untuk memberikan pandangan kepadapembaca mengenai kehidupan sosial pada
saat karya itu diciptakan. Karya sastra, salah satunya novel, bukan hanya
merupakan proses imajinasi atau khayalan pengarang semata, melainkan proses
kreatif pengarang dalam menyampaikan hasilpengamatan, penglihatan, dan
perasaan pengarang terhadap sekitar lingkungan kehidupannya dalam bentuk
karya sastra. Di dalam karya sastra terungkap setiap fenomena yang terjadi pada
masyarakat sehingga antara sastra dan masyarakat memiliki hubungan yang
sangat erat.Masyarakat merupakan makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi
dengan sesama manusia. Interaksi yang dilakukan adakalanya menimbulkan
konflik.Misalnya, dalam lingkungan keluarga sering muncul konflik antara suami
dengan istri, ibu dengan anak maupun antarkeluarga. Konflik merupakan
pertikaian atau pertentangan yang terjadi antara dua orang atau lebih.
Setiap manusia memiliki kepentingan yang berbeda dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Perbedaan kepentingan itu seringkali menimbulkan konflik,
baik konflik antarindividu atau kelompok
Konflik yang terdapat di dalam sebuah karya sastraberperan penting demi
berjalannya alur cerita. Konflik terdiri atas dua macam, yaitu konflik internal dan
seorang tokoh. Konflik eksternal yaitu konflik antara satu tokoh dengan tokoh
yang lain, atau antara tokoh dengan lingkungannya. Berpedoman pada kenyataan,
maka konflik eksternal dibedakan lagi atas konflik fisik dan konflik sosial.
Konflik fisik adalah konflik yang disebabkan adanya perbenturan antara tokoh
dengan lingkungan alam. Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan adanya
kontak sosial antarmanusia (Harizadika dkk, 2012: 1).Konflik sosial merupakan
gambaran tentang terjadinya percekcokan, perselisihan, ketegangan, atau
pertentangan sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan yang muncul dalam
kehidupan masyarakat, baik perbedaan secara individual maupun perbedaan
kelompok. Perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan pendapat, pandangan,
penafsiran, pemahaman, kepentingan, atau perbedaan yang lebih luas dan umum,
seperti perbedaan agama, ras, suku bangsa, bahasa, profesi, golongan politik, dan
kepercayaan (Frannsvela: 2010).
Di dalam novel, senantiasa tergambar konflik sosial yang ditimbulkan oleh
tiap-tiap tokoh cerita. Konflik sosial tersebut dapat membangkitkan emosi dan
memberikan kesan tersendiri kepada pembaca. Penelitian ini mengacu pada
bentuk-bentuk konflik sosial dan penyebab terjadinya konflik sosial yang terjadi
pada tokoh dalam novel Seteguk Air Zam-Zam. Bentuk konflik sosial yang dapat
dianalisis dalam novel tersebut,yaitu konflik antarpribadi. Konflik sosial tersebut
meliputi konflik sosial antar-tokoh, konflik sosialtokoh dengan lingkungan
keluarga, dan konflik sosial tokoh dengan lingkungan masyarakat.
Bentuk-bentuk konflik sosial yang terjadi pada tokoh serta penyebab
terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana
Zam-Zam menceritakan tentang kehidupan seorang guru bernama Nauli yang
bertempat tinggal di desa Mandailing. Nauli adalah seorang wanita yang sangat
sabar.Novel tersebut merupakan novel yang bernuansa islam serta
memperlihatkan budaya lokal, yaitu budaya Mandailing. Penelitian terhadap novel
tersebut sudah pernah dilakukan, tetapi mempergunakan pendekatan yang berbeda
dengan penulis. Judul penelitian ini adalah “Analisis Konflik Sosial dalam Novel
Seteguk Air Zam-Zam Karya Maulana Syamsuri: Pendekatan Sosiologi Sastra”.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini
adalah:
1. Bagaimanakah bentuk-bentuk konflik sosial yang terdapat dalam novel
Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri?
2. Apakah penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel Seteguk Air
Zam-Zam karya Maulana Syamsuri?
1.3Batasan Masalah
Penelitian dalam sebuah karya ilmiah memerlukan adanya batasan masalah
sehingga penelitian tidak keluar dari topik permasalahan yang akan dibahas.
Penelitian ini hanya membahas tentang bentuk-bentuk konflik sosial (konflik
antarpribadi) dan penyebab terjadinya konflik sosial yang terdapat dalam novel
1.4Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan di atas, terdapat beberapa tujuan,
yaitu
1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik sosial yang terdapat dalam
novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri.
2. Mendeskripsikan penyebab terjadinya konflik sosial dalam novel
Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri.
1.5Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan apresiasi mahasiswa pada karya-karya sastra Indonesia
khususnya karya-karya sastra Sumatera Utara.
2. Memberikan penjelasan kepada pembaca mengenai konflik sosial
dalam karya sastra umumnya dan dalam novel Seteguk Air Zam-Zam
karya Maulana Syamsuri khususnya.
BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
2.1.1 Konflik Sosial
Konflik menurut Webster,dalam bahasa aslinya berarti suatu
“perkelahian, peperangan, atau perjuangan” yaitu berupa konfrontasi fisik
antara beberapa pihak. Lebih tepatnya konflik adalah persepsi mengenai
perbedaan kepentingan (Perceived divergence of interest), atau suatu
kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai
secara simultan (Pruitt dan Jeffery, 2004: 9).
Istilah “konflik” secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang
berarti bersama dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Dengan
demikian, “konflik” dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan,
keinginan, pendapat, dan lain-lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau
lebih (Setiadi dan Kolip, 2011: 347).
Konflik sosial adalah percekcokan, perselisihan, ketegangan atau
pertentangan dalam masyarakat akibat pengaruh adanya perbedaan-perbedaan
tertentu dalam masyarakat (kemajemukan masyarakat) (Ahmadi, 2007: 291).
Konflik sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur
kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok
sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga
sosial merupakan akibat dari interaksi sosial antara individu, antara individu
dengan kelompok, atau antar kelompok(Soekanto, 2012: 312).
Konflik-konflik dalam kehidupan sosial merupakan salah satu fenomena
yang terjadi di dalam masyarakat. Konflik sosial tersebut dijadikan pengarang
sebagai objek dalam menciptakan sebuah karya sastra. Dalam sebuah novel,
konflik menjadi hal yang sangat penting. Konflik yang ditimbulkan oleh tokoh
dalam sebuah novel mampu mendorong pembaca untuk ikut merasakan
bagaimana yang dalami oleh tokoh dalam novel tersebut.
2.1.2 Tokoh
Tokoh cerita (character), menurut Abrams adalah orang-orang yang
ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca
ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang
diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan
(Nurgiyantoro, 1994: 165).
2.1.3Sosiologi Sastra
Kata sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan, dan
kata Yunani logos yang berarti kata atau berbicara. Dengan demikian,
sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat (Soekanto, 2012: 4).
Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif.
Penelitian mengenai sosiologi sastra banyak diminati oleh peneliti yang ingin
melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Asumsi dasar penelitian
Kehidupan sosial akan menjadi pemicu lahirnya karya sastra. Karya sastra
yang berhasil atau sukses yaitu mampu merefleksikan zamannya (Endraswara,
2008: 77). Sosiologi sastra memandang karya sastra sebagai hasil interaksi
pengarang dengan masyarakat, sebagai kesadaran kolektif (Ratna, 2003: 13).
Sosiologi dan sastra adalah dua hal yang berbeda.Namun, dapat saling
melengkapi. Objek studi sosiologi adalah tentang manusia dan sastra pun
demikian. Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar
masyarakatnya. Sastra merupakan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya
yang merupakan hasil interaksi antara pengarang dengan situasi sosial yang
membentuknya atau merupakan penjelasan suatu sejarah yang dikembangkan
dalam karya sastra (Endraswara, 2008: 78).
Sosiologi sastra dapat meneliti sastra melalui tiga perspektif.Pertama,
perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisis sebagai sebuah refleksi
kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Teks biasanya dipotong-potong,
diklasifikasikan, dan dijelaskan makna sosiologisnya. Kedua, perspektif
biografis, yaitu peneliti menganalisis pengarang. Perspektif ini akan
berhubungan dengan life history seorang pengarang dan latar belakang
sosialnya. Ketiga, perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis penerimaan
masyarakat terhadap teks sastra (Endraswara. 2008: 80).
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra merupakan suatu pendekatan yang terfokus pada
manusia dalam menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan,
dan intuisi. Pendapat ini menunjukkan bahwa perjuangan panjang hidup
manusia akan selalu mewarnai teks sastra (Endraswara, 2008: 79).
Hubungan sosiologi dan sastra bukanlah hal yang dicari-cari. Keduanya
akan saling melengkapi hidup manusia. Hubungan keduanya terlihat dalam
refleksi sosial sastra, antara lain: (a) dunia sosial manusia dan seluk-beluknya,
(b) penyesuaian diri individu pada dunia lain, (c) bagaimana cita-cita untuk
mengubah dunia sosialnya, (d) hubungan sastra dan politik, dan (e)
konflik-konflik dan ketegangan dalam masyarakat (Endraswara, 2008: 88).
Penelitian ini membahas tentang bentuk-bentuk konflik sosial dalam
novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri. Bentuk konflik sosial
yang terdapat di dalam novel tersebut adalah konflik sosial antarpribadi.
Pengertian konflik sosial di sini adalah konflik yang terjadi akibat kontak
sosial antarmanusia yang diwarnai dengan adanya percekcokan, perselisihan,
perbedaan kepentingan, maupun perbedaan pendapat. Teori yang akan
dipergunakan pada penelitian ini adalah sosiologi sastra.
Sosiologi sastra merupakan gabungan dua disiplin yang berbeda yaitu
sosiologi dan sastra. Keduanya ditopang oleh dua teori yang berbeda yaitu
teori-teori sosiologi dan teori-teori sastra. Dalam sosiologi sastra yang
mendominasi jelas teori yang berkaitan dengan sastra, sedangkan
teori-teori yang berkaitan dengan sosiologi berfungsi sebagai komplementer
(pelengkap) (Ratna, 2003: 18).
Konflik sosial merupakan salah satu aspek ekstrinsik dalam karya sastra
sosiologi yang dapat menopang analisis sosiologis adalah teori-teori yang
dapat menjelaskan hakikat fakta-fakta sosial, sedangkan karya sastra sebagai
sistem komunikasi berkaitan dengan aspek-aspek ekstrinsik seperti:
kelompok sosial, kelas sosial, stratifikasi sosial, institusi sosial, sistem sosial,
interaksi sosial, konflik sosial, kesadaran sosial, mobilitas sosial, dan
sebagainya (Ratna, 2003: 18).Dengan mempergunakan pendekatan sosiologi
sastra, dapat dipahami bagaimana tokoh-tokoh dalam novel Seteguk Air
Zam-Zam karya Maulana Syamsuri berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan
masyarakat dan lingkungannya.
2.2.2 Konflik Sosial
Teori konflik adalah salah satu perspektif dalam sosiologi yang
memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian atau
komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dimana
komponen yang satu berusaha menaklukkan kepentingan yang lain guna
memenuhi kepentingannya atau memperoleh keuntungan yang
sebesar-besarnya. Teori konflik sosial memandang antar-elemen sosial memiliki
kepentingan dan pandangan yang berbeda. Perbedaan kepentingan dan
pandangan tersebutlah yang memicu terjadinya konflik sosial yang berujung
saling mengalahkan, melenyapkan, memusnahkan di antara elemen tersebut.
Konflik sosial tidak hanya berakar dari ketidakpuasan batin, kecemburuan, iri
hati, kebencian, masalah perut, masalah tanah, tempat tinggal, pekerjaan,
uang, dan juga kekuasan tetapi emosi manusia sesaat pun dapat memicu
Manusia adalah makhluk konfliktis (homo conflictus), yaitu makhluk
yang selalu terlibat dalam perbedaan, pertentangan, baik pertentangan ide
maupun fisik antara dua belah pihak, dan persaingan yang disebabkan adanya
persinggungan dan pergerakan sebagai aspek tindakan sosial. Konflik terbagi
atas beberapa macam, yaitu konflik antarorang (interpersonal conflict),
konflik antarkelompok (intergroup conflict), konflik antara kelompok dengan
negara (vertical conflict), dan konflik antarnegara (interstate conflict) (Susan,
2009: 4-5).
Pruitt dan Rubin (2004) dalam bukunya yang berjudul Teori Konflik
Sosial, memberikan perhatian utama pada konflik yang terjadi antara dua
pihak. Dengan tetap disertai kesadaran bahwa konflik dapat terjadi pada
berbagai macam keadaan dan tingkat kompleksitas. Mereka beranggapan
bahwa kebanyakan penelitian yang relevan mengenai konflik sosial dilakukan
di laboratorium, dan biasanya mengenai konflik dua pihak.
Konflik merupakan gejala sosial yang selalu mewarnai kehidupan sosial,
sehingga bersifat inheren, artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap
ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Terdapat beberapa bentuk
konflik sebagai salah satu gejala sosial masyarakat, yaitu konflik gender,
konflik rasial dan antarsuku, konflik antar-umat agama, konflik
antargolongan, konflik kepentingan, konflik antarpribadi, konflik antarkelas
sosial, dan konflik antarnegara/bangsa. (Setiadi dan Kolip, 2011: 347).
Konflik sosial (pertentangan sosial) merupakan salah satu bentuk proses
(contravention) akibat adanya perbedaan-perbedaan tertentu dalam
masyarakat maupun pribadi, seperti akibat perbedaan ras, suku bangsa, agama,
bahasa, adat-istiadat, golongan politik, pandangan hidup, profesi, dan budaya
lainnya (Ahmadi, 2007: 291). Dilihat dari segi bentuknya, konflik sosial
mempunyai beberapa bentuk, yaitu konflik pribadi, konflik kelompok, konflik
antar-kelas sosial, konflik rasial, konflik politik, dan konflik budaya (Ahmadi,
2007: 295).
Beberapa pendapat di atas menyatakan berbagai macam bentuk konflik
sosial, tetapi jika dilihat dari pengklasifikasian mengenai bentuk konflik
sosial, maka terdapat beberapa persamaan pendapat antara Setiadi dan Kolip
dengan Ahmadi. Mereka sama-sama menyatakan bahwa konflik sosial
memiliki beberapa bentuk, yaitu konflik pribadi (antarpribadi), konflik
antar-kelas sosial, dan konflik rasial.Penelitian ini lebih cenderung mempergunakan
pendapat yang dikemukakan oleh Setiadi dan Kolip untuk meneliti konflik
sosial yang terdapat dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana
Syamsuri.
2.3 Tinjauan Pustaka
Novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri adalah novel yang
sangat bagus untuk dianalisis karena novel ini menampilkan masalah-masalah
sosial yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Novel ini juga identik dengan
budaya lokal, yaitu budaya Mandailing. Penelitian dengan mempergunakan teori
sosiologi sastra sudah banyak dilakukan sebelumnya. Namun, menurut
teori sosiologi sastra terhadap novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana
Syamsuri belum pernah ada sehingga penelitian ini dapat dilakukan.
Novel Seteguk Air Zam-Zam pernah diteliti oleh Irene S. mahasiswa
Departemen Sastra Indonesia Universitas Sumatera Utara. Penelitian yang
dilakukan oleh Irene S. terfokus pada analisis Strukturalisme Genetik. Irene S.
melakukan penelitian pada novel tersebut dengan judul Novel Seteguk Air
Zam-Zam Karya Maulana Samsuri: Tinjauan Strukturalisme Genetik. Pada penelitian
tersebut Irene mendeskripsikan karya sastra dari segi struktur yang menjelaskan
fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia.
Analisis mengenai konflik sosial berdasarkan pendekatan sosiologi sastra
pernah dilakukan oleh Amraini Sihotang mahasiswa Departemen Sastra Arab
Universitas Sumatera Utara dengan judul Analisis Konflik Sosial dalam Novel Ma
wara’a al-nahri “Kesaksian Sang Penyair” (Pendekatan Sosiologi Sastra). Pada
penelitiannya, Amraini cenderung mengambil konsep konflik sosial pendapat dari
Burhan Nurgiyantoro dan G. Pruitt. Penelitian tersebut bertujuan untuk
mengetahui bentuk konflik sosial yang terkandung dalam novel Ma wara’a
al-nahri “Kesaksian Sang Penyair” serta pendekatan apa yang dipergunakan oleh
para tokoh dalam novel tersebut.
Penelitian mengenai konflik sosial berdasarkan sosiologi sastra juga pernah
dilakukan oleh mahasiswa Universitas lain yaitu Febri Harizadika, Bakhtaruddin
Nasution, dan M. Ismail Nasution mahasiswa Departemen Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Negeri Padang dengan judul Konflik Sosial dalam
Daye.Terdapat Sembilan cerpen yang mereka analisis dalam penelitian tersebut,
yaitu 1) Perempuan Bawang, 2) Kubah, 3) Jarak, 4) Bibir Pak Gur Bengkok, 5)
Seekor Anjing yang Menangis, 6) Rumah Lumut, 7) Lekuk Teluk, 8) Mungkin
Jibril Asyik Berzapin, 9) Rumah yang Mengigil.Berdasarkan pada pendapat
Soekanto dan dari hasil penelitian terhadap kumpulan cerpen Perempuan Bawang
dan Lelaki Kayu, mereka menemukan jenis-jenis konflik sosial yang terdapat
dalam ke-9 cerpen tersebut. Adapun jenis-jenis konflik sosial tersebut diantaranya
adalah : (1) masalah kemiskinan dan lapangan pekerjaan. (2) masalah kejahatan.
(3) masalah disorganisasi sosial. (4) masalah generasi muda dalam masyarakat
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara atau strategi untuk memahami realitas,
langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat serta berfungsi
untuk menyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan
dipahami (Ratna, 2004: 34).
Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif. Penelitian
kualitatif dilakukan dengan tidak menggunakan angka-angka, tetapi dengan
mengutamakan penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara
empiris (Semi, 1993: 23).
3.2Sumber Data
Data penelitian ini adalah novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana
Syamsuri.
Judul : Seteguk Air Zam-Zam
Karya : Maulana Syamsuri
Tahun Terbit : 2005
Penerbit : Sastra Novela
Tempat Terbit : Bogor
Tebal : 165 halaman
3.3Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan mempergunakan metode baca catat dan
tinjauan kepustakaan (library research). Metode baca catat dipergunakan untuk
mengumpulkan data dengan cara membaca seluruh isi novel secara berulang
kemudian dicatat untuk mendapatkan data yang diperlukan. Metode kepustakaan
(library research) dipergunakan untuk memperoleh data dan informasi tentang
objek penelitian lewat buku-buku atau alat-alat audiovisual lainya (Semi, 1993:8).
3.4Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis deskriptif kualitatif. Teknik deskriptif kualitatif secara keseluruhan
memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk
deskriptif (Ratna, 2004: 46). Langkah-langkah menganalisis data dengan
mempergunakan metode ini adalah sebagai berikut:
1) Membaca dan memahami novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana
Syamsuri yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman mengenai cerita
yang disampaikan.
2) Mengumpulkan data-data konflik sosial dan penyebab terjadinya konflik
sosial pada novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri.
3) Data yang terkumpul ditafsirkan dan dimaknai sesuai dengan aspek
konflik sosial.
4) Menganalisis data yang diperoleh dan mengklasifikasikan berdasarkan
kelompoknya.
BAB IV
ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL SETEGUK AIR ZAM-ZAM KARYA MAULANA SYAMSURI
4.1 Bentuk-Bentuk Konflik Sosial dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam Karya
Maulana Syamsuri
Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu merefleksikan
zamannya sehingga pembaca tidak hanya merasakan keindahan yang terkandung
dalam karya tetapi juga memperoleh gambaran mengenai kehidupan sosial pada
saat karya itu diciptakan. Proses penciptaan karya sastra oleh pengarang tidak
hanya berdasarkan imajinasi semata melainkan sesuai dengan pengamatan
pengarang terhadap fenomena yang terjadi pada kehidupan sosial. Salah satunya
adalah konflik yang senantiasa terjadi pada masyarakat. Konflik-konflik tersebut
dijadikan objek oleh pengarang dalam meciptakan sebuah karya sastra.
Konflik dalam sebuah karya sastra, salah satunya novel, menjadi hal yang
sangat penting untuk diperlihatkan. Konflik yang muncul dalam novel akan
membawa pembaca untuk ikut merasakan keadaan atau peristiwa yang dialami
oleh tokoh-tokoh dalam cerita serta membawa pembaca untuk memahami
kehidupan sosial pada saat karya itu diciptakan.
Dalam novel Seteguk Air Zam-Zam karya Maulana Syamsuri terdapat konflik
yang terjadi pada tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Bentuk konflik sosial yang
terdapat dalam novel tersebut adalah konflik sosialantarpribadi.Konflik sosial
antarpribadi atau konflik antar-individu adalah konflik sosial yang melibatkan
Masing-masing individu bersikukuh untuk mempertahankan tujuannya atau
kepentingannya masing-masing (Setiadi dan Kolip, 2011: 353).
Ahmadi (2007), dalam bukunya yang berjudul Psikologi Sosial menyatakan
bahwa konflik pribadi yaitu pertentangan yang terjadi secara perorangan seperti
petentangan antara dua orang teman, suami isteri, pedagang dan pembeli, atasan
dan bawahan, dan sebagainya (Ahmadi, 2007: 295).
Konflik sosial antarpribadi yang akan diteliti pada novel Seteguk Air
Zam-Zam tersebut akan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu konflik sosial antartokoh,
konflik sosial tokoh dengan lingkungan keluarga, dan konflik sosial tokoh dengan
masyarakat.
4.1.1 Konflik Sosial Antartokoh
Konflik menurut Meredith dan Fitzgerald, merupakan sesuatu yang bersifat
tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami oleh tokoh (-tokoh) cerita, yang,
jika tokoh (-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak
akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Nurgiyantoro, 1994:122).
Tokoh dalam sebuah cerita diciptakan pengarang layaknya seorang tokoh
yang hidup secara wajar, sebagaimana kehidupan manusia sebenarnya. Manusia
dalam kehidupan sosialnya tidak akan terlepas dari konflik, begitu juga dengan
tokoh yang terdapat dalam sebuah cerita. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam
sebuah cerita senantiasa mengalami konflik. Konflik yang terjadi antartokoh
kepada pembaca. Pembaca seolah-olah ikut merasakan keadaan ataupun peristiwa
yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita tersebut.
Di dalam novel Seteguk Air Zam-Zam terdapat empat tokoh utama yang
mengalami konflik yaitu tokoh Nauli, Lindung, Tiurma, dan Pandapotan. Tokoh
Nauli mengalami konflik sosial dengan Tokoh Lindung, tokoh Tiurma mengalami
konflik sosial dengan tokoh pandapotan, dan tokoh Tiurma mengalami konflik
sosial dengan tokoh Lindung. Berikut gambaran konflik sosial yang terjadi
antartokoh dalam novel Seteguk Air Zam-Zam:
A.Konflik Sosial antara Tokoh Nauli dengan Lindung
Novel Seteguk Air Zam-Zam menggambarkankonflik sosial yang terjadi antara
tokoh Nauli dengan suaminya yang bernama Lindung.Dalam novel tersebut,
tokoh Nauli digambarkan sebagai seorang guru yang bertempat tinggal di daerah
Mandailing. Ia merupakan seorang isteri yang patuh teradap suami dan juga
termasuk wanita yang taat dalam agamanya. Nauli juga merupakan seorang guru
yang sangat sabar dalam mendidik murid-muridnya serta sabar dalam menghadapi
persoalan dalam rumah tangganya sedangkan tokoh Lindung digambarkan sebagai
seorang suami yang memiliki watak keras, tetapi sangat sayang terhadap isterinya.
Tokoh Lindung juga digambarkan sebagai seorang suami yang lebih percaya
kepada orang pintar (dukun) dalam hal menyembuhkan penyakit ataupun dalam
meminta pertolongan daripada seorang dokter. Tokoh Nauli sendiri sebenarnya
lebih percaya kepada dokter daripada orang pintar (dukun). Adanya perbedaan
pendapat mengenai keahlian seorang dokter dan orang pintar (dukun) antara Nauli
“Bang Lindung harus ingat pernah terbaring sakit selama hampir tigabulan. Penyebabnya adalah rokok!”
“Siapa bilang?” “Dokter Puskesmas!” “Bohong besar!”
“Lalu apa penyebab Bang Lidung terbaring selama hampir tiga bulan?”
“Ompung Marlaut bilang ada orang yang dengki kepada kita. Karena aku seorang petani dan mendapatkan isteri seorang guru yang cantik. Malah Ompung Marlaut bilang, yang membuatku jatuh sakit adalah seorang laki-laki yang pernah jatuh hati padamu lalu ingin membuatku supaya cepat masuk liang kubur.”....
“Yang menyembuhkan abang bukan dukun itu, tapi dokter puskesmas!,” Nauli meyakinkan suaminya.
“Bukan, tapi Ompung Marlaut!” “Bukan!. Bukan!”
“Terserah kepadamu, tapi aku tetap yakin, Ompung Marlautmemang orang pintar.”
“Ingat nasihat dokter, Bang Lindung. Rokok dapat menyebabkan penyakit paru-paru, juga dapat menyebabkan kanker dan kemandulan!”
“Akh, masak bodoh dengan ucapan dokter. Semua itu Cuma mengada-ada!”(SAZZ: 21-22).
Cerita di atas menggambarkan percekcokan yang terjadi antara tokoh Nauli
dengan Lindung. Tokoh Lindung tidak sependapat dengan Nauli. Lindung yang
memiliki watak keras terpancing emosi saat Nauli mengatakan bahwa yang
menyebabkan ia sakit adalah karena terlalu banyak mengonsumsi rokok danyang
menyembuhkannya bukanlah seorang dukun yang bernama Ompung Marlaut
melainkan seorang dokter.Lindung yang lebih mempercayai keahlian seorang
dukun daripada dokter membantah perkataan Nauli.Tokoh Nauli dan tokoh
Lindung saling mempertahankan pendapatnya masing-masing. Lindung bersikeras
mengatakan bahwa ia sakit bukan disebabkan terlalu banyak mengonsumsi rokok
dan yang menyembuhkannya adalah Ompung Marlaut. Ia juga mengabaikan
nasihat Nauli untuk berhenti merokok. Nauli yang lebih mempercayai keahlian
pendapat di antara kedua tokoh tersebut melahirkan konflik sosial di antara
keduanya.
Konflik sosial yang terjadi antara tokoh Nauli dengan Lindung juga
tergambar ketika Nauli ingin melepas azimat yang diberikan oleh seorang dukun
kepadanya.Lindung sangat marah ketika Nauli merasa risih perutnya dilingkari
azimat dari seorang dukun. Ia melarang Nauli untuk melepas azimat tersebut
sedangkan Nauli merasa bahwa azimat tersebut tidak memiliki khasiat apa-apa.
Nauli yang taat dalam agamanya sebenarnya tidak ingin terlalu percaya kepada
dukun dan merasa keberatan jika memakai benda seperti itu karena dalam agama
islam, mempercayai seorang dukun dan memakai azimat sudah termasuk syirik.
Keinginan yang sangat besar untuk segera memiliki anak membuat Nauli terpaksa
memakai benda tersebut. Konflik sosial itu juga tergambar ketika Nauli
memaksakan keinginannya kepada Lindung untuk tetap mendatangi dokter ahli.
Berikut penggalan ceritanya:
Bang Lindung sangat marah, ketika Bu Nauli merasa risih di perutnya dilingkari azimat itu.
“Ingat pesan Ompung Datu, empat puluh hari azimat ini harus tetap melekat pada diri kita.”
“Tapi rasanya tidak ada khasiat apa-apa!” “Kita harus meyakini!”
Bu Nauli hanya menghela nafas panjang.
“Bukankah kita sudah amat ingin hadirnya seorang anak?. bukankah kita sudah sangat ingin dari rahimmu akan lahir anak kita yang mungil?.”
“Rasanya belum ada perubahan meski pun sudah lebih empat bulan kita mendatangi orang pintar itu.”
“Tunggu saja beberapa minggu lagi. mudah-mudahan ada perobahan pada dirimu.”
“Kalau tidak ada perobahan apa pun, Bang Lindung mau mengantar aku ke dokter ahli?”
“Terserah Bang Lindung, tapi saya tetap berkeinginan kita berdua mendatangi dokter ahli. Yang penting kehadiran anak di antara kita.”(SAZZ: 45-46).
Selanjutnya konflik sosial yang terjadi antara tokoh Nauli dengan Lindung
juga tergambar ketika Nauli mengetahui Lindung berselingkuh dengan seorang
janda pendatang baru di desanya. Berikut penggalan ceritanya:
“Mulai hari ini tidak ada lagi kopi hangat!” “Bah!. Kenapa?. Kenapa?.”
“Seorang isteri yang hatinya hancur tidak akan dapat membuatkan kopi hangat lagi untuk suaminya.” Suara Nauli tinggi.
“Bah!. Kenapa begitu?”
“Tanya dirimu sendiri, pasti Bang Lindung tahu jawabnya!”
“Demi Tuhan, aku tidak tahu, Nauli. Adakah sesuatu yang sangat menyakitkan hatimu hari ini?”
“Ya!, ada!. Perempuan yang ada di mobil Bang Lindung siang tadi. Itulah yang menghancurkan hatiku. Orang menyebutnya pendatang dan pemilik warung sembako. Aku sudah tahu!”....
“Tidak usah sentuh lagi kalau memang sudah ada niat di hati Bang Lindung untuk kawin dengan orang lain.”
“Maafkan aku, Nauli. Kalau aku harus menikah lagi karena banyak famili memang menghendaki aku punya keturunan.”
“Lalu banyak famili juga meminta agar aku dilemparkan ke sungai sebagai benda busuk?”
“Tidak!. Kau tetap sebagai isteriku, Nauli. Aku tetap cinta kepadamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“Tidak mungkin!”
“Kenapa tidak mungkin?. Kita sudah hidup bersama hampir sepuluh tahun sebagai suami isteri dan tidak pernah ada gempa dahsyat. Aku sudah tahu benar pribadimu, kesetiaanmu, kasih sayangmu. Tapi aku sungguh sangat ingin punya anak. Hanya keturunan!. Yang kucari tidak lebih dari itu.”
Bu Nauli menangis lagi.
“Demi Tuhan, aku bersumpah, kau tetap isteriku yang kucintai. Aku akan selalu berada di sisimu.”
“Lalu setelah lahir seorang anak dari rahim perempuan itu lambat laun aku akan terbuang, bukan?”
“Demi Tuhan, tidak!”(SAZZ: 65-66).
Cerita di atas menggambarkan pertengkaran yang terjadi antara tokoh Nauli
dengan Lindung. Konflik sosial itu terjadi ketika Nauli mengetahui Lindung
dan kecewa atas tindakan perselingkuhan yang dilakukan oleh Lindung. Emosi
Nauli memuncak ketika Lindung mengatakan bahwa ia akan menikah lagi. Nauli
yang ketika itu sedang dalam keadaan emosi tidak mau mendengarkan alasan
Lindung menikahi Tiurma.Kecemburuan tokoh Nauli serta tindakan
perselingkuhan yang dilakukan oleh Lindung melahirkan emosi dalam dirinya.
Sehingga menimbulkan pertengkaran di antara keduanya.
B.Konflik Sosial antara Tokoh Tiurma dengan Pandapotan
Tokoh Tiurma dalam novel Seteguk Air Zam-Zam, digambarkan sebagai
seorang janda pendatang baru di desa di kaki bukit daerah Mandailing. Ia seorang
janda yang memiliki usaha warung sembako yang cukup besar sebagai
matapencahariannya dan belum memiliki anak sedangkan tokoh Pandapotan
digambarkan sebagai mantan suami Tiurma yang selama ini menghilang. Konflik
sosial yang terjadi antara tokoh Tiurma dengan Pandapotan dilatarbelakangi oleh
masalah keuangan. Konflik itu terjadi ketika Pandapotan mendatangi rumah
Tiurma. Tiurma selama ini mengira bahwa Pandapotan telah meninggal dunia
karena amukan warga ketika Pandapotan membakar traktor milik Haji Sulaiman.
Ternyata Pandapotan masih hidup dan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia
menyamar menjadi seorang pengemis.
Konflik sosialitu tergambar ketika tokoh Pandapotan meminta uang kepada
Tiurma. Tiurma adakalanya mendapatkan ancaman dari Pandapotan apabila ia
tidak dapat memberikan apa yang diinginkan oleh Pandapotan terutama jika
Pandapotan meminta uang kepadanya. Berikut penggalan ceritanya:
“Bukan dua puluh ribu, Tiur!,” lelaki itu mengembalikan uang itu kepada Tiur.
“Laluberapa harus kuberikan?”
“Banyak!. Aku butuh uang banyak untuk bersembunyi dari satu desa ke desa lainnya, juga sampai ke kota.”....
“Tambah lagi. Tiur!”
“Aku tidak punya uang lagi” tubuh Tiur gemetar menatap sorot mata lelaki itu teramat tajam, seperti menyemburkan api.
“Jangan bohong kepadaku!” “Sungguh aku tidak punya lagi!”
“Atau aku sendiri yang akan mengambilnya dan membongkar isi lemarimu?.”
“Demi tuhan aku tidak punya uang lagi!”
“Kalau begitu aku yang harus mengambil sendiri uang itu!”.... “Masih kurang, Tiur. Aku perlu uang untuk pergi jauh!” “Tidak ada lagi sisa uang!”
Lelaki itu tidak percaya dan tatapannya tetap saja seperti menyemburkan api yang amat panas. Setelah jadi buronan polisi, Bang Dapot jadi amat bringas dan kasar.
“Jangan bohong, Tiur. Bukankah kau sudah membuka warung dan langgananmu banyak!”
“Tapi aku tidak punya uang banyak!”
“Jangan bohongi aku. Bukankah kau sudah kawin dan suamimu memberi nafkah?. Berikan aku uang yang cukup!”
“Demi Tuhan tidak ada yang lain!” tubuh Tiur makin gemetar. “Ingat, kalau kau tidak memberiku uang yang cukup, aku akan tetap di sini, aku tidak akan pergi dari rumah ini!”(SAZZ: 90-91).
Tindakan pemaksaan serta ancaman yang dilakukan oleh tokoh Pandapotan
kepada Tiurma membuat Tiurma merasa ketenangannya terganggu. Dengan
perasaan terpaksa ia memberikan uang miliknya kepada Pandapotan. Tiurma yang
tidak memiliki pilihan lain serta rasa takut yang menyelimuti dirinya melahirkan
konflik sosial antara dirinya dengan Padapotan.
Konflik sosial yang terjadi antara Tiurma dengan Pandapotan juga tergambar
ketika Pandapotan merampas dompet Tiurma dan mengambil semua isi uang yang
ada dalam dompet itu. Berikut penggalan ceritanya:
“Aku butuh uang, Tiur!. Kau harus sadar, aku butuh uang. Tanpa uang aku akan mati kelaparan.” Tukas lelaki itu dan bersiap-siap untuk melangkah pergi.
“tapi uang itu untuk modal.” Tiurma berusaha merebut dompet itu dari tangan Bang Dapot, tapi sia-sia. “Warung ini akan bangkrut kalau Bang Dapot mengambilnya.”(SAZZ: 146).
Selain itu, konflik sosial yang terjadi antara tokoh Tiurma dengan Pandapotan
juga tergambar pada penggalan cerita berikut:
“Tidak usah kau beri aku uang, tapi berikan kalung ini kepadaku,” lelaki itu berkata setengah berbisik.
“Tidak!. Tidak, Bang Dapot. Aku tidak dapat memberikan kalung ini kepada siapa pun!,” Tiurma mencegah.
“Aku butuh biaya untuk pergi ke ujung dunia.”
“Tapi kalung ini tidak akan kuberikan kepada siapa pun. Kalung ini adalah kenang-kenangan dari ibuku. Kalung ini tidak akan terlepas dari diriku sampai kapan pun!”
“Kalau kalung ini tidak kau berikan, itu artinya aku gagal untuk menyeberangi laut. Itu artinya aku akan tetap tinggal disini bersamamu....”(SAZZ: 100-101).
Cerita di atas menggambarkan bahwa tokoh Pandapotan saat itu tengah
memaksa Tiurma untuk memberikan kalungnya tetapi Tiurma tidak mau
memberikan kalung itu karena kalung itu merupakan peninggalan dari ibunya.
Pandapotan yang senantiasa memberikan ancaman kepada Tiurma membuat
Tiurma terpaksa menuruti keinginannya. Dengan sangat terpaksa Tiurma
memberikan kalung peninggalan ibunya kepada Pandapotan.
C. Konflik Sosial antara Tokoh Lindung dengan Tiurma
Novel Seteguk Air Zam-Zammenggambarkan tentang sosok Lindung yang
dengan menikahi Tiurma, ia akan mendapatkan keturunan karena selama delapan
tahun usia pernikahannya dengan Nauli belum juga dikaruniai seorang anak.
Konflik sosial yang terjadi antara tokoh Lindung dengan Tiurma tergambar
ketika Lindung mengetahui bahwa anak yang dilahirkan oleh Tiurma bukanlah
darah dagingnya melainkan darah daging Pandapotan yaitu mantan suami Tiurma.
Lindung sangat marah kepada Tiurma ketika mengetahui bahwa anak yang
dilahirkan oleh Tiurma ternyata bukannlah darah dagingnya. Ia pun meninggalkan
Tiurma dan anaknya. Lindung yang merasa sudah dibohongi selama ini tidak
memperdulikan permohonan maaf dari Tiurma. Ia tetap saja pergi dengan penuh
kekesalan dan amarah. Berikut penggalan ceritanya:
Wajah itu tampak tegang. Dia amat marah. Ingin rasanya dia menampar wajah Tiurma. Ingin rasanya dia menarikkan rambutnya lalu menghempaskannya ke tanah. Bahkan ingin rasanya lelaki itu mencekik batang lehernya. Seorang isteri yang melayani lelaki lain, pasti pantas mati!.
Tapi lelaki itu masih memiliki kesabaran di hatinya. Sama sekali lelaki itu tidak menyentuh tubuh Tiurma yang mendadak bersujud di kakinya.
“Maafkan aku, Bang Lindung!. Ampuni aku!,” Tiur menghiba dan berusaha mencium kaki lelaki itu.
“Aku sudah tahu apa yang terjadi!. Aku sudah tahu rumah ini penuh dosa. Rumah ini penuh noda!,” suara lelaki itu menggelegar dan melangkah pergi. “Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah yang penuh dosa.”
“Jangan pergi, Bang Lindung!. Jangan pergi!.” Tangis Tiurma berderai-derai dan mencegah Bang Lindung agar tidak meninggalkannya. Tapi lelaki itu tidak peduli.
“Demi Tuhan, aku tidak kembali ke rumah ini lagi!,” lelaki itu melangkah ke arah mobilnya dan tidak sekali pun menoleh lagi (SAZZ:151-152).
4.1.2 Konflik Sosial Tokoh dengan Lingkungan Keluarga
Setiap keluarga harus dapat menjaga keutuhan keluarganya. Keutuhan
samping adanya seorang ayah, ibu beserta anak-anaknya, juga adanya
keharmonisan dalam keluarga di mana di antara anggota keluarga itu saling
bertemu muka dan saling berinteraksi satu dengan yang lainnya (Narwoko dan
Suyanto, 2004: 237).
Konflik sosial tidak hanya terjadi antara seseorang dengan orang lain di luar
lingkungan keluarga tetapi juga dapat terjadi di dalam lingkungan keluarga.
Interaksi yang dilakukan oleh anggota keluarga adakalanya menimbulkan
terjadinya konflik sosial dalam keluarga tersebut bahkan konflik dalam
lingkungan keluarga lebih sering terjadi. Konflik sosial yang terjadi dalam
lingkungan keluarga, misalnya konflik sosial yang terjadi antara suami dengan
istri, orangtua dengan anak, maupun dengan anggota keluarga lainnya.
Konflik sosial yang terjadi antara tokoh dengan lingkungan keluarga dalam
novel Seteguk Air Zam-Zam tergambar pada tokoh Nauli dengan keluarga
suaminya. Berikut penggalan ceritanya:
“Carilah seorang gadis yang benar-benar subur, Lindung!,” kata-kata itu pernah terngiang di telingan Bu Nauli yang diucapkan Inang Boru.
“Kawin sekali lagi juga tidak ada salahnya, Lindung. sebab Nauli tidak mampu memberimu keturunan. Anak dalam keluarga dari suku Mandailing sangat penting artinya,” ucapan Inang Tua benar-benar menyakitkan hati Bu Nauli.
“Siapa yang akan melanjutkan keturunanmu kalau kau tidak punya anak seorang pun?.”
“Bagimu untuk kawin sekali lagi tidak terlalu susah, sebab kau punya mata pencaharian dan siterimu Nauli punya gaji tetap. Dia tidak akan kelaparan meskipun kau menikah lagi.” kata-kata yang diucapkan Nan Tulang Naposo lebih menyakitkan lagi. terkadang Bu Nauli menitikkan air mata karena kata-kata itu.
“Memang nasib Nauli untuk selamanya tidak punya anak!,” ujar salah seorang kerabat.
“Nauli memang bukan seorang ibu yang pintar merawat anak,” itulah komentar yang amat menyakitkan hati.
“andainya anak itu tetap diasuh ibu kandungnya, pasti umurnya masih panjang,” sambung famili yang lain.
“Nauli memang bukan seorang ibu yang tangannya dingin dalam mengasuh anak,” itulah komentar salah seorang kerabat dari suaminya.
“Kalau tahu ibu kandungnya bahwa anak itu akan meninggal di tangan Nauli, pasti tidak mengizinkan anak itu diambil sebagai anak angkat.”
“Sekarang tidak ada alasan lagi bagi Lindung untuk mencari seorang isteri yang benar-benar dapat memberikan keturunan!,” itulah kata-kata yang amat menyakitkan dan sekaligus seperti beling tajam yang menggores relung hati Bu Nauli.
“Lalu bagaimana dengan Bu Nauli?”
“Dia tidak akan terlantar karena punya gaji yang cukup untuk menghidupi dirinya.”
“Kalau Lindung mau, biar kami yang akan mencarikan seorang gadis yang benar-benar subur. Mau lulusan pesantren juga ada. Ingat Habibah yang baru lulus dari pesantren Mustafawiyah?. Dia cantik, putih, pintar memasak dans ekarang jadi guru mengaji. Gadis itu pasti pas dan tepat untuk Lindung!,” ujar salah seorang famili yang bermukim di Muara Soma.
Tangis Bu Nauli tidak hanya karena kehilangan seorang bocah yang pernah diasuhnya dan kini menghadap Tuhan, tapi karena banyak famili dari suaminya yang menganjurkan agar Bang Lindung menikah lagi (SAZZ: 56-57).
Cerita di atas menggambarkan bahwa keluarga Lindung tidak menyukai
Nauli.Meskipun konflik sosial antara Nauli dengan keluarga Lindung tidak
diwarnai dengan adanya percekcokan atau adu mulut di antara keduanya, tetapi
kata-kata yang menyinggung perasaan Nauli serta rasa tidak senang yang
ditunjukkan keluarga Lindung terhadap Nauli melalui kata-kata yang dilontarkan
secara tidak langsung memicu terjadinya konflik sosial.
Konflik sosial antara Nauli dengan Keluarga Lindung terjadi dikarenakan
Nauli belum dapat memberikan Lindung seorang anak. Keluarga Lindung sangat
mengharapkan agar ia dapat segera memiliki anak guna meneruskan keturunannya
dapat memberikan seorang anak. Keluarga Lindung mengatakan bahwa Nauli
bukanlah wanita yang baik dan subur sehingga mereka selalu mendesak agar
Lindung mau menikah lagi.
4.1.3 Konflik Sosial Tokoh dengan Masyarakat
Konflik lahir dari kenyataan akan adanya perbedaan-perbedaan baik ciri
badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, maupun pola-pola
perilaku antarindividu atau kelompok dalam masyarakat. Perbedaan-perbedaan ini
memuncak menjadi konflik ketika sistem sosial masyarakatnya tidak dapat
mengakomodasi perbedaan-perbedaan tersebut. Hal ini mendorong
masing-masing individu atau kelompok untuk saling menghancurkan (Ahmadi, 2007:
282).
Dalam kehidupan sosial, setiap manusia senantiasa berinteraksi dengan
sesama manusia. Adakalanya interaksi yang dilakukan menimbulkan konflik.
Konflik dapat terjadi apabila antara individu satu dengan individu yang lain
merasakan ketidakcocokan diantara keduanya. Selain itu, ketidaknyamanan serta
tindakan-tindakan yang dapat mengganggu ketenangan masyarakat juga dapat
memicu terjadinya konflik sosial antara individu dengan masyarakat sekitar.
Konflik sosial antara tokoh dengan masyarakat tergambar pada tokoh
Pandapotan dengan masyarakat desa di pinggiran Sungai Aek Godang.Berikut
penggalan ceritanya:
“Kebakaran!. Kebakaran!!”
yang meninggal, pasti yang memimpin pelaksanaan fardhu kifayah adalah pemilik traktor itu.juga dalam hal melaksanakan berbagai adat mulai dari menyambut kelahiran bayi, pernikahan, mengkhitankan anak dan kenduri lainnya, pasti Haji Sulaiman adalah pemegang peran utama.
“Itu orang yang membakar!. Kejaaar!,” teriak salah seorang warga dan menunjuk ke arah sungai Aek Godang dan melihat Bang Dapot sedang berlari menghindar, menghilangkan jejak. Warga yang segera datang dari berbagai penjuru segera mengejar dan mengepung lelaki bringas itu.
Seorang warga dengan parang terhunus berusaha menebas batang leher Bang Dapot, sementara belasan warga mengepung. Lelaki yang baru saja bertindak anarkhis itu merasa dalam keadaan terdesak. Tanpa berpikir panjang dia menusuk warga yang berusaha menangkapnya. Warga yang malang itu tersungkur berlumur darah.
Seorang korban telah tersungkur, tapi Bang Dapot tidak mampu menghindar karena warga yang mengepungnya. Dalam waktu sesaat saja Bang Pandapotan tidak dapat berkutik lagi.
“Patahkan lehernya!,” teriak salah seseorang. “Pecahkan kepalanya!”, sambut yang lain. “Tusuk perutnya, biar mati!”
“Cincang saja!” “Jadikan sate!”
“Bakar hidup-hidup biar jadi abu!” “Buang mayatnya ke sungai!”
Teriakan-teriakan itu terus terdengar. Orang-orang yang membawa parang, pisau, kapak dan pacul segera menghajar tubuh lelaki itu hingga babak belur, hingga dari hidung keluar darah, juga dari kepalnya mengucur darah segar (SAZZ: 82).
Penggalan cerita di atas, menggambarkan kemarahan masyarakat desa
tersebut akibat tindakan anarkhis yang dilakukan oleh Pandapotan. Ia membakar
traktor milik Haji Sulaiman. Pandapotan menganggap bahwa traktor itulah yang
menyebabkan ia jatuh melarat. Adanya traktor itu, maka warga desa di pingggiran
Sungai Aek Godang lebih memilih menyewa traktor milik Haji Sulaiman untuk
membajak sawah daripada menyewa sapi milik Pandapotan. Akhirnya
penghasilan yang didapatkan oleh Pandapotan tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup ketiga isterinya. Pandapotan sangat marah kepada Haji Sulaiman
matapencahariannya. Kemarahannya membuat ia nekat membakar traktor
tersebut.Tindakan anarkhis yang dilakukan Pandapotan membuat masyarakat desa
tersebut mengamuk dan menghajar pandapotan hingga belumuran darah dan
kemudian membuangnya ke sungai.
“Lelaki itu telah menjadi korban kemarahan belasan warga yang menyaksikan saudara mereka terbunuh. Itulah yang membuat warga desa itu menghakimi lelaki itu. Tidak ada ampun lagi bagi lelaki yang telah membakar traktor milik Haji Sulaiman dan melukai seorang warga desa hingga tersungkur mencium bumi. Bang Dapot benar-benar menjadi korban kemarahan massa. Pukulan bertubi-tubi diarahkan pada dirinya, hingga dia roboh. Setelah lelaki itu tidak berdaya lalu jasadnya dilempar ke Sungai Aek Godang. Jasad lelaki itu tenggelam dan dihanyutkan air hingga ke hilir, hingga ke muara dan mungkin hingga ke tengah laut.”(SAZZ: 83).
Selain Pandapotan, Tiurma juga mengalami konflik sosial dengan
masyarakat desa di pinggirang Sungai Aek Godang. Berikut penggalan ceritanya:
Sejak saat itu pula warga yang bermukim di desa sekitar Sungai Aek Godang itu memandang Tiur amat sinis. Tiur dianggap ikut bersekongkol dengan suaminya dan dikucilkan masyarakat. Dimana saja, pasti terlihat wajah-wajah sinis yang memandangnya. Bahkan banyak kenalan dan handai tolan yang tidak menyahut atau berpaling dan menghindar ketika Tiur menyapanya.
“Giotna disumbayang hajat kon do alai sude na mombaen na so pade di Mandailing on!” Itulah hujatan para tetangga yang ditujukan kepada Tiurma yang maknanya agar yang berbuat tidak baik di kawasan Madina mendapat murka Tuhan (SAZZ: 83-84).
Cerita di atas menggambarkan bagaimana masyarakat desa tersebut
menghujat serta menjauhi Tiurma. Tiurma adalah isteri Pandapotan sehingga
mereka mengangap Tiurma bersekongkol dengan Pandapotan untuk membakar
traktor milik Haji Sulaiman.Setelah kejadian itu, Tiurma menjual seluruh
perhiasan miliknya kemudian ia memilih untuk pindah ke desa lain dan memilih
4.2 Penyebab Terjadinya Konflik Sosial dalam Novel Seteguk Air Zam-Zam
Karya Maulana Syamsuri
Konflik tidak dapat terjadi begitu saja tanpa adanya penyebab. Terjadinya
sebuah konflik dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya dengan adanya
perbedaan antaranggota masyarakat. Perbedaan antaranggota masyarakat, yaitu
perbedaan baik secara fisik maupun mental, atau perbedaan kemampuan,
pendirian, dan perasaan sehingga mampu menimbulkan pertikaian atau bentrokan
antara mereka (Ahmadi, 2007: 291).
Setiadi dan Kolip (2011) dalam bukunya yang berjudul Pengantar
Sosiologi, menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya konflik sosial
adalah adanya perbedaanantar-individu. Perbedaan antar-individu di antaranya
yaitu perbedaan pendapat, tujuan, keinginan, dan pendirian tentang objek yang
dipertentangkan. Dalam realitas sosial tidak ada satu pun individu yang memiliki
karakter yang sama sehingga perbedaan karakter tersebutlah yang memengaruhi
timbulnya konflik sosial.
Dalam sebuah novel, terdapat beberapa tokoh cerita. Masing-masing tokoh
memiliki karakter yang berbeda, selain karakter yang berbeda-beda, setiap tokoh
cerita juga memiliki kemampuan, tujuan, keinginan, serta pendapat yang
berbeda-beda pula. Perberbeda-bedaan-perberbeda-bedaan tersebut dapat menimbulkan terjadinya konflik
antara satu tokoh dengan tokoh yang lain.
Di dalam novel Seteguk Air Zam-Zam terdapat beberapa konflik sosial yang
terjadi antara satu tokoh dengan tokoh yang lain dan antara tokoh dengan
lingkungannya. Terjadinya konflik sosial tersebut disebabkan oleh beberapa hal,
A. Perbedaan Pendapat
Konflik dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan, pendapat,
keinginan, tujuan, dan bahkan emosi sesaat yang dialami oleh seseorang juga
dapat memicu terjadinya konflik sosial. Dalam novel, setiap tokoh memiliki
pendapat atau pandangan yang berbeda-beda mengenai suatu hal karena setiap
tokoh ditampilkan dengan karakter yang berbeda.
Terjadinya konflik sosialyang disebabkanadanya perbedaan pendapat
tergambar pada konflik sosial yang terjadi antara tokoh Nauli dengan Lindung.
Perbedaan pendapat mereka mengenai keahlian seorang dokter dengan seorang
dukun. Tokoh Nauli lebih mempercayai keahlian seorang dokter dalam
menganalisa dan menyembuhkan penyakit sedangkan tokoh Lindung sama sekali
tidak mempercayai keahlian seorang dokter. Lindung lebih mempercayai keahlian
seorang dukun. Perbedaan pendapat antara Nauli dan Lindung megenai keahlian
seorang dokter dan seorang dukun juga dapat dilihat pada penggalan cerita
berikut:
“Senin depan aku harus ke dokter lagi!,” cetusnya sebelum sampai ke rumah.
“Untuk apa?”
“Untuk apa lagi kalau tidak untuk memohon bantuan dokter ahli itu?”
“Tidak usah!. Berobat ke dokter itu sama saja dengan membuang uang ke sungai,” Bang Lindung mencegah.
“Kenapa membuang uang?. Bukankah dokter itu seorang ahli?” “Sudah lima kali kita membuang uang, hasilnya tetap kosong!” “Lalu apa yang harus kita lakukan?. Kita akan seperti ini terus?. Mendatangi orang pintar lagikah?. Dukun mana lagi yang akan kita datangi?.”
Cerita di atas menggambarkan adanya perbedaan pendapat antara Nauli
dengan Lindung. Lindung beranggapan bahwa melakukan pengobatan dengan
dokter ahli merupakan perbuatan yang sia-sia. Ia tetap memaksakan kehendaknya
kepada Nauli untuk melakukan pengobatan dengan meminta bantuan kepada
seorang dukun.
B. Perselingkuhan
Perselingkuhan merupakan penyebab lain yang dapat menimbulkan terjadinya
konflik sosial. Di dalam rumah tangga, keharmonisan yang tercipta antara suami
dengan isteri adalah faktor yang sangat penting. Apabila di antara salah satunya,
baik itu suami ataupun isteri ada yang melakukan tindakan yang tidak dapat
diterima oleh salah satu pihak, maka akan menimbulkan konflik di antara
keduanya. Salah satu tindakan yang tidak dapat diterima oleh seseorang yang
sudah memiliki pasangan adalah perselingkuhan. Seorang isteri akan marah dan
tidak akan bisa menerima apabila suaminya berselingkuh dengan wanita lain,
begitu juga sebaliknya. Tindakan tersebut dapat menyebabkan keretakan dalam
rumah tangga.
Konflik sosial yang disebabkan dengan adanya perselingkuhan dalam novel
Seteguk Air Zam-Zamtergambar pada konflik sosial yang terjadi antara tokoh
Lindung dengan Nauli. Pada penggalan cerita tersebut Nauli tergambar
kemarahan Nauli ketika mengetahui suaminya yang bernama Lindung
berselingkuh dengan seorang janda bernama Tiurma yang merupakan pendatang
“Mulai hari ini tidak ada lagi kopi hangat!” “Bah!. Kenapa?. Kenapa?.”
“Seorang isteri yang hatinya hancur tidak akan dapat membuatkan kopi hangat lagi untuk suaminya.” Suara Nauli tinggi.
“Bah!. Kenapa begitu?”
“Tanya dirimu sendiri, pasti Bang Lindung tahu jawabnya!”
“Demi Tuhan, aku tidak tahu, Nauli. Adakah sesuatu yang sangat menyakitkan hatimu hari ini?”
“Ya!, ada!. Perempuan yang ada di mobil Bang Lindung siang tadi. Itulah yang menghancurkan hatiku. Orang menyebutnya pendatang dan pemilik warung sembako. Aku sudah tahu!”....
“Tidak usah sentuh lagi kalau memang sudah ada niat di hati Bang Lindung untuk kawin dengan orang lain.”
“Maafkan aku, Nauli. Kalau aku harus menikah lagi karena banyak famili memang menghendaki aku punya keturunan.”
“Lalu banyak famili juga meminta agar aku dilemparkan ke sungai sebagai benda busuk?”
“Tidak!. Kau tetap sebagai isteriku, Nauli. Aku tetap cinta kepadamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“Tidak mungkin!”
“Kenapa tidak mungkin?. Kita sudah hidup bersama hampir sepuluh tahun sebagai suami isteri dan tidak pernah ada gempa dahsyat. Aku sudah tahu benar pribadimu, kesetiaanmu, kasih sayangmu. Tapi aku sungguh sangat ingin punya anak. Hanya keturunan!. Yang kucari tidak lebih dari itu.”
Bu Nauli menangis lagi.
“Demi Tuhan, aku bersumpah, kau tetap isteriku yang kucintai. Aku akan selalu berada di sisimu.”
“Lalu setelah lahir seorang anak dari rahim perempuan itu lambat laun aku akan terbuang, bukan?”
“Demi Tuhan, tidak!”(SAZZ: 65-66).
Terjadinya konflik sosial yang disebabkan oleh perselingkuhan juga terlihat
pada konflik sosial yang terjadi pada tokoh Lindung dan Tiurma.
Wajah itu tampak tegang. Dia amat marah. Ingin rasanya dia menampar wajah Tiurma. Ingin rasanya dia menarikkan rambutnya lalu menghempaskannya ke tanah. Bahkan ingin rasanya lelaki itu mencekik batang lehernya. Seorang isteri yang melayani lelaki lain, pasti pantas mati!....
“Maafkan aku, Bang Lindung!. Ampuni aku!,” Tiur menghiba dan berusaha mencium kaki lelaki itu.
“Jangan pergi, Bang Lindung!. Jangan pergi!.” Tangis Tiurma berderai-derai dan mencegah Bang Lindung agar tidak meninggalkannya. Tapi lelaki itu tidak peduli.
“Demi Tuhan, aku tidak kembali ke rumah ini lagi!,” lelaki itu melangkah ke arah mobilnya dan tidak sekali pun menoleh lagi (SAZZ: 151-152).
Cerita di atas menggambarkan kemarahan Lindungkepada Tiurma saat
mengetahui isteri keduanya itu berselingkuh dengan mantan suaminya. Tiurma
yang sudah menikah dengan Lindung tergoda dengan rayuan Pandapotan mantan
suaminya yang pada suatu malam datang menemuinya. Terjadilah hubungan intim
antara Tiurma dan Pandapotanpada malam itu hingga menyebabkan Tiurma
Hamil.
“Banyak kata-kata rayuan yang diucapkan lelaki itu dan juga belaiannya masih perkasa seperti itu. itulah yang membuat sebuah benteng yang amat kokoh akhirnya roboh. Bujuk rayu dan sentuhan lelaki itu membuat Tiurma harus pasrah. Ia tidak berdaya ketika lelaki itu melepas dasternya. Hubungan teramat intiem itu pun akhirnya terjadi di malam yang kelam, sepi dan dingin. Angin yang berhembus terasa semakin dingin”(SAZZ: 102-103).
Lindung yang tidak mengetahui kejadian itu merasa bahagia setelah
mengetahui Tiurma hamil karena selama ini ia sangat menginginkan seorang
anak. Lindung mengira bahwa anak yang dikandung oleh Tiurma adalah
benihnya. Hingga pada suatu pagi saat ia kembali ke rumah Tiurma, ia dikejutkan
dengan perkataan Pandapotan yangmengatakan bahwa anak itu adalah anaknya,
darah dagingnya. Lindung yang mendengar perkataan Pandapotan sangat marah.
Terjadilah konflik antara Lindung dan Tiurma. Ia tidak menghiraukan Tiurma
yang bersujud memohon ampun kepadanya. Ia tetap meninggalkan Tiurma dan
C.Keuangan
Masalah keuangan juga dapat memicu terjadinya konflik sosial. Setiap
manusia pasti memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya apalagi
jika seseorang tidak memiliki pekerjaan, maka sangat sulit untuk mendapatkan
uang. Kebutuhan yang semakin meningkat membuat setiap orang berusaha sekuat
tenaga untuk mendapatkan uang. Adakalanya, demi mendapatkan uang seseorang
rela melakukan berbagai cara, tidak peduli cara itu baik atau tidak.
Konflik sosial yang disebabkan oleh masalah keuangan dalam novel Seteguk
Air Zam-Zamtergambar pada konflik sosial yang terjadi antara tokoh Tiurma
dengan Pandapotan. Ketiga bentuk konflik sosial yang terjadi pada tokoh Tiurma
dengan Pandapotan disebabkan oleh masalah keuangan. Tokoh Pandapotan yang
menjadi buronan polisi harus hidup menyamar menjadi pengemis dan
berpindah-pindah tempat. Sehingga ia kesulitan untuk makan dan pergi dari desa itu.
Pandapotan sering mendatangi Tiurma untuk meminta uang. Pandapotan selalu
meminta uang yang banyak. Terkadang ia tidak segan-segan mengancam Tiurma
bahkan sampai merampas dompet milik Tiurma demi mendapatkan uang.
“Jangan ambil semua uang itu, Bang Dapot1. Jangan ambil semua!,” Tiurma berusaha untuk meminta kembali dompet itu.
“Aku butuh uang, Tiur!. Kau harus sadar, aku butuh uang. Tanpa uang aku akan mati kelaparan.” Tukas lelaki itu dan bersiap-siap untuk melangkah pergi.
“tapi uang itu untuk modal.” Tiurma berusaha merebut dompet itu dari tangan Bang Dapot, tapi sia-sia. “Warung ini akan bangkrut kalau Bang Dapot mengambilnya.”(SAZZ: 146).
Konflik sosial yang disebabkan oleh masalah keuangan selain yang terjadi
pada tokoh Tiurma dengan Pandapotan juga terjadi pada tokoh Pandapotan
bahwa dengan adanya traktor milik Haji Sulaiman, makadapat mematikan
matapencahariannya. Masyarakat desa tersebut lebih memilih menyewa traktor
milik Haji Sulaiman untuk membajak sawah mereka daripada menyewa sapi-sapi
miliknya sehingga penghasilannya pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidup ketiga isterinya. Pandapotan dengan emosinya mengatakan bahwa adanya
traktor itu lah yang menyebabkan ia jatuh melarat.
“Traktor itulah yang menyebabkan aku jatuh melarat. Traktor itu harus dibakar!. Traktor itu harus jadi abu!,” gerutu Bang Dapot ketika keluar dari rumah Tiur dengan membawa bensin dan korek api”.(SAZZ: 81).
Kemarahan Pandapotan ditunjukkan dengan membakar traktor itu sehingga
mengundang kemarahan masyarakat desa dan kemudian terjadilah konflik antara
Pandapotan dengan masyarakat desa tersebut.
D.Keturunan
Keluarga adalah suatu kesatuan sosial yang terkecil yang terdiri atas suami
dengan isteri dan jika ada anak-anak dan didahului oleh perkawinan. Dari
pengertian tersebut berarti ketiadaan anak tidaklah menggugurkan status keluarga,
jadi faktor anak bukanlah faktor mutlak untuk terwujudnya suatu keluarga. Suatu
keluarga yang kebetulan tidak dikaruniai anak, tetap mempunyai status sebagai
keluarga. Atau dengan kata lain keluarga itu tetap berhak menyebut dirinya
sebagai keluarga. Bukan berarti bahwa ketiadaan anak lalu menggugurkan ikatan
keluarga. Memang salah satu faktor mengapa individu itu membentuk keluarga
adalah mengharapkan anak atau keturunan. Tetapi itu bukan satu-satunya faktor