• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGABDIAN MASYARAKAT PENDIDIKAN KESEHAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGABDIAN MASYARAKAT PENDIDIKAN KESEHAT"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT

PENDIDIKAN KESEHATAN GIZI PADA LANSIA DAN PEMERIKSAAN FISIK DI BRAJAN TAMANTIRTO KASIHAN BANTUL

Oleh :

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

JENDERAL AHMAD YANI YOGYAKARTA

TAHUN 2014 Elvika Fit Ari Shanti, SST., M. Kes Dewi Zolekhah, S. ST

(2)

2

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN PENERAPAN IPTEKS

1. Judul :Pendidikan Kesehatan Gizi Pada Lansia dan

d. Sedang melakukan pengabdian : Tidak

e. Fakultas : -

f. Jurusan : Kebidanan

g. Bidang keahlian : Kebidanan

h. Alamat kantor/Telp/Fax/E-mail : Stikes A.Yani Yogyakarta/ Jl. Ringroad barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta/ (0274) 3432000

i. Alamat rumah/Telp/Fax/E-mail : Rewulu Asri No C1 Argomulyo Sedayu Bantul

3. Personalia

a. Jumlah Anggota Pelaksana : 4 Dosen b. Jumlah Pembantu Pelaksana : 4 Mahasiswa

4. Jangka Waktu Kegiatan : 1 Hari Plh Prodi D3 Kebidanan STIKES A.Yani Yogyakarta

Dian Puspitasari.M.Keb NIDN :0604068202

Yogyakarta, 23 Mei 2014 Pelaksana

Elvika Fit Ari Shanti S.ST. M.Kes NIDN : 0513078601

Mengetahui,

Kepala LPPM STIKES A. Yani Yogyakarta

(3)

3

RINGKASAN

(4)

4 BAB I

PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN

Masa lanjut usia adalah masa dimana individu dapat merasakan kesatuan, integritas, dan refleksi dari kehidupannya. Jika tidak, ini akan menimbulkan ketimpangan dan bahkan dapat mengakibatkan patologis, semacam penyakit kejiwaan (Latifah, 2010). Lansia di Indonesia, menurut Depkomindo 2010, pada tahun 2008 berjumlah 23 juta orang, sedangkan lansia yang terlantar mencapai 1,7 juta sampai 2 juta orang.

Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal dari 4 aspek yaitu fisik, psikologik, sosial dan ekonomi. Masalah tersebut dapat berupa emosi labil, mudah tersinggung, gampang merasa dilecehkan, kecewa, tidak bahagia, perasaan kehilangan, dan tidak berguna. Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami gangguan psikiatrik seperti depresi, ansietas (kecemasan), psikosis (kegilaan) atau kecanduan obat. Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian. Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya (fisik masih kuat, bekerja dan berpenghasilan) menjadi kemunduran.

(5)

5

Pemberian nutrisi yang baik dan cukup sangat diperlukan lansia. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa lansia memerlukan nutrisi yang adekuat untuk mendukung dan mempertahankan kesehatan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi antara lain: berkurangnya kemampuan mencerna makanan, berkurangnya cita rasa, dan faktor penyerapan makanan.

Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal

Gangguan gizi yang dapat muncul pada usia lanjut dapat berbentuk gizi kurang maupun gizi lebih. Gangguan ini dapat menyebabkan munculnya penyakit atau terjadi sebagi akibat adanya penyakit tertentu. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah menetukan terlebih dahulu ada tidaknya gangguan gizi, mengevaluasi faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan gizi serta merencakan bagaimana gangguan gizi tersebut dapat diperbaiki

(6)

6

Menu yang disajikan untuk lansia harus mengandung gizi yang seimbang yakni mengandung sumber zat energi, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur. Dalam hal ini kita bisa mengacu pada makanan empat sehat lima sempurna. Karena lansia mengalami kemunduran dan keterbatasan maka konsistensi dan tekstur atau bentuk makanan harus disesuaikan. Mengingat kondisi dan permasalahan lanjut usia seperti diuraikan di atas, maka penanganan masalah gizi pada lanjut usia harus menjadi prioritas, karena permasalahannya terus meningkat sesuai dengan pertambahan jumlahnya. .

Dengan demikian penyuluhan kesehatan gizi pada lansia dan pemeriksaan fisik,penimbangan berat badan, serta pemantauan status gizi pada lansia sangat perlukan, sesuai dengan kebutuhannya dan pada lingkungan yang tepat, sehingga para lansia tidak merasa lagi terabaikan didalam masyarakat.

B. Tujuan Dan Sasaran : 1. Tujuan

Setelah dilaksanakan penyluhan kesehatan tentang gizi pada lansia dan pemeriksaan fisik pada lansia, diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan dan mutu pelayanan usia lanjut sebagai bagian proses deteksi dini dan peningkatan kesehatan serta pencegahan penyakit lansia .

2. Sasaran

(7)

7 C. Manfaat Kegiatan

1. Bagi profesi

Sebagai upaya meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat serta sebagai upaya pelayanan kesehatan .

2. Bagi Dosen

Sebagai upaya untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian terhadap masyarakat.

3. Bagi Masyarakat

Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan diri melalui pendidikan kesehatan pada Lansia

4. Bagi Lembaga

Untuk mengembangkan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian terhadap masyarakat bagi para dosen.

D. Metode Kegiatan

1. Penyuluhan Kesehatan Tentang Pengetahuan Gizi pada lansia

2. Pelaksanaan Pemeriksaan Fisik Pada lansia .

(8)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian A. Lansia

Penuaan (menjadi tua=aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Definisi lain menyatakan bahwa penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan terus-menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan memengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan (Basuki, 2008).

(9)

9 2. Gizi pada Usia Lanjut

Penuaan seringkali diiringi dengan munculnya berbagai gangguan kesehatan, mulai dari gangguan metabolisme hingga penurunan daya tahan tubuh. Salah satunya cara mengatasinya adalah dengan mengatur pola makan. Menurut pakar nutrisi, kebutuhan energi dan kapasitas pencernaan akan menurun di usia tua (50 tahun ke atas). Karena itu, lansia dianjurkan mengurangi asupan kalori.

Apabila seseorang berhasil mencapai usia lanjut, maka salah satu upaya utama adalah mempertahankan atau membawa status gizi yang bersangkutan pada kondisi optimum agar kualitas hidupan yang bersangkutan tetap baik. Perubahan status gizi pada lansia disebabkan perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Perubahan ini akan makin nyata pada kurun usia dekade 70-an. Faktor lingkunagn antara lain meliputi perubahan kondisi sosial ekonomi yang terjadi akibat memasuki masa pensiun dan isolasi sosial berupa hidup sendiri setelah pasangannya meninggal. Faktor kesehatan yang berperan dalan perubahan status gizi antara lain adalah naiknya insidensi penyakit degenerasi maupun non-degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan dalam absorpsi zat-zat gizi di tingkat jaringan, dan beberapa kasus dapat disebabkan oleh obat-obat tertentu yang harus diminim para lansia oleh karena penyakit yang sedang dideritanya.

(10)

10

yang terjadi akibat memasuki masa pensiun dan isolasi sosial berupa hidup sendiri setelah pasangannya meninggal. Faktor kesehatan yang berperan dalan perubahan status gizi antara lain adalah naiknya insidensi penyakit degenerasi maupun non-degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan dalam absorpsi zat-zat gizi di tingkat jaringan, dan beberapa kasus dapat disebabkan oleh obat-obat tertentu yang harus diminim para lansia oleh karena penyakit yang sedang dideritanya.

3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN GIZI PADA LANSIA 1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong.

2. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.

3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran. 4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.

5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. 6. Penyerapan makanan di usus menurun.

4. MASALAH GIZI PADA LANSIA 1. Gizi berlebih

Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan.

(11)

11 2. Gizi kurang

Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.

3. Kekurangan vitamin

Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

5. PEMANTAUAN STATUS NUTRISI 1. Penimbangan Berat Badan

a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.

b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa :

Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100)

Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus :

Berat badan ideal = TB dalam cm – 100

(12)

12 2. Kekurangan kalori protein

Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat.

3. Kekurangan vitamin D

Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

6. PERENCANAAN MAKANAN UNTUK LANSIA

1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. Contoh menu : Pagi : Bubur ayam Jam 10.00 : Roti Siang : Nasi, pindang telur, sup, papaya Jam 16.00 : Nagasari Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, dan pisang.

(13)

13

4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.

5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikanhal-hal sebagai berikut :

a. Makanlah makanan yang mudah dicerna

b. Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan

c. Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang

d. Makan dalam porsi kecil tetapi sering

e. Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan

6. Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.

7. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.

8. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng

(14)

14

Waktu Makan Pria (2200 kal) Wanita (1850 kal)

Pagi 1 ½ gls nasi/ pengganti

1 butir telur (Telur Mata Sapi) 100 gr sayuran (Cah Kangkung) 1 gls susu skim

1 gls nasi/ pengganti 1 btr telur

100 gr sayuran 1 gls susu skim Pukul 10.00 Snack/buah (Nagasari) Snack/buah

Siang 1 ½ gls nasi

50 gr daging/ikan/unggas (Pepes Ikan)

25 gr tempe/kacang-kacangan (Tempe bb Tomat)

150 gr sayuran (Sayur Asem) 1 ptg buah (Semangka)

Pukul 17.00 Snack/ buah (Bubur Kacang Hijau) Snack/ buah

Malam 1 ½ gls nasi

50 gr daging/ikan/unggas (Basho Daging)

(15)

15

(16)

16 BAB III

MATERI DAN METODE

A. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH

Gambar 1. Kerangka Pemecahan Masalah

B. REALISASI PEMECAHAN MASALAH

Pemecahan masalah dilakukan dengan melakukan pengkajian data pada lansia pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun ke atas) di Brajan Taman Tirto Kasian Bantul, Selanjutnya pemeriksaaan fisik (Penimbangan berat badan, Pengukuran tekanan darah, Reflek Pathela) memberikan pendidikan kesehatan mengenai gizi pada lansia serta mengadakan diskusi bersama. Dari hasil pengkajian tersebut lalu dilakukan penginterpretasian data dan melakukan pengkajian ulang bagi lansia yang gizi kurang

(17)

17

C. KHALAYAK SASARAN ANTARA YANG STRATEGIS

Pada lansia pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun ke atas) di Brajan Taman Tirto Kasian Bantul di Dukuh Plotengan Desa Pondokrejo Sleman Yogyakarta

D. METODE KEGIATAN

(18)

18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENGABDIAN

Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan dalam 3 tahapan yaitu : tahapan persiapan, pelaksanaan, dan tahapan evaluasi. Tahapan persiapan meliputi pengurusan ijin, observasi lapangan, pengumpulan bahan dan persiapan materi penyuluhan serta koordinasi dengan pihak terkait. Tahapan pelaksanaan kegiatan adalah tahap dilaksanakannya program yang telah ditetapkan. Tahapan ketiga adalah tahap akhir yang meliputi interpretasi hasil dan penyusunan laporan.

(19)

19

B. PEMBAHASAN

1. Sebelum diberi Pendidikan Kesehatan

Dari hasil pengkajian pada 12 lansia belum mengetahui tentang gizi pada lansia serta pentingnya pemeriksaan fisik pada lansia, hasil 3 orang mempunyai tingkat pengetahun tinggi atau ada peningkatan pengetahuan berdasarkan pengkajian melalui diskusi dan sudah mengetahui tentang gizi yang tepat bagi lansia dan manfaat pemeriksaan fisik , 3 ibu sudah mengetahui tentang gizi pada lansia dan bagaimana cara mengolah makanan yang bergizi .

2. Perkembangan

(20)

20 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Hasil pengkajian sebelum dilakukan pendidikan kesehatan sebagian lansia belum mengetahui gizi pada lansia serta pentingnya pemeriksaan fisik

2. Hasil pengkajian setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang gizi pada lansia dan bersedia melakukan pengolahan makanan yang bergizi

3. Terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan

kesehatan tentang gizi pada lansia serta kesadaran untuk melakukan pemeriksaan fisik setiap bulan sekali

B. SARAN

1. Bagi profesi Bidan

a. Bagi profesi bidan diharapkan dapat memberikan pelayanan terutama penyuluhan sesuai kebutuhan masyarakat .

2. Bagi Dosen

Lebih sering untuk melakukan pengabdian dalam bidang kesehatan masyarakat 3. Bagi Responden

(21)

21

DAFTAR PUSTAKA

Darmojo, R. Boedhi.,dkk.1999. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Gallo, Joseph.1998. Buku Saku Gerontologi. Jakarta : EGC

Nugroho, Wahjudi.2000. Keperawatan Gerontik.Jakarta : EGC

Potter & Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4.Jakarta :EGC

(22)

22 Lampiran 1

DAFTAR KEPANITIAAN

Ketua : Elvika Fit Ari Shanti, SST., M. Kes Anggota : Dewi Zolekhah, S. ST

Yuli Astuti SST Arum Margi K SST Mahasiswa

Rifky Nia

Lusi Kusumaningtyas Yuliana dewi

(23)
(24)

24 Lampiran 3

REKAPITULASI ANGGARAN

NO URAIAN HARGA

@

JUMLAH

1 KONSUMSI

a. Penyuluhan dan Pemeriksaan

1.Snack Peserta 100 Orang 400,000 400.000

2.Transportasi @50.000 100.000 100.000

(25)

25

(26)
(27)
(28)
(29)

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pemecahan Masalah

Referensi

Dokumen terkait

Tingkat kehadiran berperan penting terhadap status gizi anak balita, penting bagi ibu untuk aktif berkunjung ke posyandu untuk memantau kesehatan dan gizi

Determinan antara yang meliputi status kesehatan ibu (status gizi, riwayat penyakit, riwayat komplikasi pada keha milan sebelumnya, riwayat persalinan

Determinan antara yang meliputi status kesehatan ibu (status gizi, riwayat penyakit, riwayat komplikasi pada keha milan sebelumnya, riwayat persalinan

Pemahaman seluruh peserta mengenai penanganan awal diare pada anak di rumah serta pengenalan tanda bahaya penyakit diare yang harus dibawa ke tempat pelayanan

Jelaskan sertakan contohnya, penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat dari kelebihan atau kekurangan zat gizi, yang merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya

Metode Penyuluhan Membuka wawasan kader tentang pentingnya variasi menu PMT untuk meningkatkan kunjungan posyandu dan status gizi balita Pelatihan Peragaan /praktek

Determinan antara yang meliputi status kesehatan ibu (status gizi, riwayat penyakit, riwayat komplikasi pada keha milan sebelumnya, riwayat persalinan

Tingkat kehadiran berperan penting terhadap status gizi anak balita, penting bagi ibu untuk aktif berkunjung ke posyandu untuk memantau kesehatan dan gizi