• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA YANG BELAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DAN TIPE STUDENTS TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DI SMA NEGERI 1 SOSA TAHUN AJARAN 2014/2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA YANG BELAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DAN TIPE STUDENTS TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DI SMA NEGERI 1 SOSA TAHUN AJARAN 2014/2015."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BELAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DAN TIPE STUDENT TEAM

ACHIEVEMEN DIVISION DI SMA NEGERI 1 SOSA TAHUN AJARAN 2014/2015

Oleh :

Sundut Azhari Hasibuan NIM. 4101111051

Program Studi Pendidikan Matematika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya yang senantiasa dianugrahkan kepada penulis sehingga skripsi

ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai waktu yang direncanakan.

Skripsi berjudul “Perbedaan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa yang

Belajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan tipe

Students Team Achievement Division (STAD) di SMA Negeri 1 Sosa Tahun Ajaran

2014/2015”, disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika,

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unimed.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

Ibu Dr. Izwita Dewi, M.Pd sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah banyak

memberikan bimbingan dan saran - saran kepada penulis sejak awal sampai

selesainya penulisan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada

Bapak Drs. Zul Amry, M.Si,Ph.D, Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si, dan Ibu Dra.

Nerly Khairani, M.Si. yang telah memberikan masukan dan saran dalam

penyusunan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Bapak

Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd selaku dosen Pembimbing Akademik, kepada Bapak

Prof. Dr. Ibnu Hajar, M.Si, selaku Rektor Unimed, Bapak Prof. Drs. Motlan,

M.Sc, Ph.D, selaku Dekan FMIPA Unimed, dan Bapak Dr. Edy Surya, M.Si,

selaku Ketua Jurusan Matematika. Serta Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si selaku

Sekretaris jurusan dan Bapak Drs. Zul Amry, M.Si, Ph.D selaku Ketua Prodi

Jurusan Matematika FMIPA Unimed yang telah membantu penulis.

Penghargaan juga disampaikan kepada Bapak Drs. Parluhutan Siregar

selaku Kepala Sekolah dan Ibu Siti Masgorgor, S.Pd , Ibu Astita Siregar, S.Pd

selaku guru mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Sosa yang telah

membantu selama penelitian. Teristimewa penulis sampaikan terima kasih kepada

Ayahanda R. Baringin, Ibunda tersayang D. Harahap, dan Adinda Ahmad Zuhri

Hasibuan yang selalu memberikan dorongan beserta seluruh keluarga besar yang

sudah berdoa, memberikan kasih sayang yang dalam dan dorongan semangat serta

(4)

v

Terima kasih juga penulis ucapkan kepada teman terbaikku,

teman-teman seangkatan 2010 yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu,

khususnya buat kelas C Reguler. Terima kasih juga buat teman-teman kos di Jl.

Tombak No. 53 serta teman-teman PPL, adik-adik junior dan kakak-kakak senior

di jurusan Matematika Unimed yang selalu memberi doa, mendukung dan

menemani penulis dalam suka maupun duka.

Penulis telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam penyelesaian

skripsi ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan, baik isi maupun

tata bahasa, karenanya penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Kiranya skripsi ini bermanfaat dalam

memperkaya ilmu pendidikan.

Medan, Maret 2015

Penulis,

(5)

PERBEDAAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA YANG BELAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

THINK PAIR SHARE (TPS) DAN TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMEN DIVISION DI SMA NEGERI 1

SOSA TAHUN AJARAN 2014/2015 Sundut Azhari Hasibuan (NIM 410111051)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) lebih baik dari kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan tipe Students Team Achievement Division (STAD) di SMA Negeri 1 SOSA Tahun Ajaran 2014/2015.

Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan populasi seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 SOSA Tahun Ajaran 2014/2015, sebagai sampel diambil dua kelas secara acak yaitu satu sebagai kelas eksperimen I dan satu sebagai kelas eksperimen II. Kelas eksperimen I diberikan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan kelas eksperimen II dengan model pembelajaran kooperatif tipe Students Team Achievement Division (STAD). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji statistik-t. Aspek kemampuan komunikasi matematis yang diukur adalah aspek drawing/menggambar (membuat gambar dan membacai gambar), aspek writing text/menjelaskan, dan aspek mathematical expression (mengekspresikan).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata selisih kemampuan komunikasi matematis siswa di kelas eksperimen I sebesar 2,6544, dengan rincian rata-rata selisih kemampuan membuat gambar sebesar 2,7941, membaca gambar sebesar 2,7647, sedangkan kemampuan menjelaskan dan mengekspresikan berturut-turut sebesar 2,7054 dan 2,3525. Rata-rata selisih kemampuan komunikasi matematis siswa di kelas eksperimen II sebesar 2,1357, dengan rincian rata-rata selisih kemampuan membuat gambar sebesar 2,3143 membaca gambar sebesar 2,2286, sedangkan kemampuan menjelaskan dan mengekspresikan berturut-turut sebesar 2,2 dan 1,8.

(6)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan i

Riwayat Hidup ii

Abstrak iii

KataPengantar iv

Daftar Isi vi

Daftar Gambar viii

Daftar Tabel ix

Daftar Lampiran xi

BAB I : PENDAHULUAN 1

1.1.Latar Belakang Masalah 1

1.2.Identifikasi Masalah 6

1.3.Batasan Masalah 7

1.4.Rumusan Masalah 7

1.5.Tujuan Penelitian 7

1.6.Manfaat Penelitian 7

1.7. Defenisi Operasional 8

BAB II TINJAUAN TEORITIS 10

2.1.Kerangka Teoritis 10

2.1.1. Hakekat Matematika 10

2.1.2. Kemampuan Komunikasi Matematis 14

2.1.2.1.Pengertian Komunikasi 14

2.1.2.2.Komunikasi Matematis 16

2.1.2.3.Kemampuan Komunikasi Matematis 17

2.1.3. Model Pembelajaran Kooperatif 20

2.1.3.1.Model Pembelajaran 20

2.1.3.2.Model Pembelajaran Kooperatif 21

2.1.3.3.Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS 23

2.1.3.4.Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD 24

2.1.4. Materi Grafik Fungsi Kuadrat 31

2.2.Kerangka Konseptual 41

(7)

2.4.Hipotesis Penelitian 44

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 45

3.1.Tempat dan Waktu Penelitian 45

3.2.Populasi dan Sampel 45

3.2.1. Populasi Penelitian 45

3.2.2. Sampel Penelitian 46

3.3.Variabel Penelitian 46

3.4.Jenis dan Desain Penelitian 46

3.5.Prosedur Penelitian 47

3.6.Instrumen Pengumpulan Data 49

3.6.1. Validasi Ahli Terhadap Instrumen Penelitian 50

3.6.2. Uji Coba Instrumen Penelitian 50

3.7.Tehnik Analisa Data 57

3.7.1. Tehnik Analisa Data Awal 57

3.7.2. Tehnik Analisa Data Akhir 57

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN 62

4.1Deskripsi Hasil Penelitian 62

4.1.1 Data Kemampuan komunikasi matematis awal (pre-test) 62

4.1.2 Data Kemampuan komunikasi matematis akhir (post-test)66

4.2Uji Persyaratan Data 71

4.2.1 Uji Normalitas 71

4.2.2 Uji Homogenitas 71

4.3Uji Hipotesis 73

4.4Pembahasan 76

4.4.1Perbedaan Kemampuan Komunikasi Matematis Yang Belajar

dengan TPS dan STAD 76

4.4.2Faktor Pembelajaran 78

4.4.3Keterbatasan Penelitian 78

BAB V : KESIMPUALAN DAN SARAN 80

5.1Kesimpulan 80

5.2Saran 80

(8)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Perhitungan Skor Perkembangan Individu 27

Tabel 2.2. Perhitungan Skor Perkembangan Kelompok 27

Tabel 2.3. Keunggulan Model Pembelajaran TPS dan STAD 29

Tabel 3.1. Jadwal Penelitian 45

Tabel 3.2. Populasi Penelitian 45

Tabel 3.3. Desain Penelitian two group 46

Tabel 3.4. Hasil Validasi Tes Kemampuan Komunikasi Matematis 50

Tabel 3.5. Hasil Validasi Uji Coba Inetrumen 51

Tabel 3.6. Klasifikasi Reliabilitas 52

Tabel 3.7. Klasifikasi Indeks Kesukaran 53

Tabel 3.8. Hasil Indeks Kesukaran 53

Tabel 3.9. Klasifikasi Daya Pembeda 54

Tabel 3.10. Hasil Daya Pembeda 54

Tabel 3.11. Rekapitulasi Hasil Analisis Instrumen Keseluruhan 55

Tabel 3.12. Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis 55

Tabel 3.13. Pedoman Pemberian Skor Kemampuan Komunikasi 56

Tabel 4.1. Rekaitulasi Hasil Pre-test Eksperimen I 63

Tabel 4.2. Predikat Hasil Pre-test Eksperimen I 63

Tabel 4.3. Rekaitulasi Hasil Pre-test Eksperimen II 64

Tabel 4.4. Predikat Hasil Pre-test Eksperimen II 65

Tabel 4.5. Rekaitulasi Hasil Post-test Eksperimen I 66

Tabel 4.6. Predikat Hasil Post-test Eksperimen I 67

Tabel 4.7. Rekaitulasi Hasil Post-test Eksperimen II 68

Tabel 4.8. Predikat Hasil Post-test Eksperimen II 68

Tabel 4.9. Hasil Analisis Normalitas Data Penelitian 71

Tabel 4.10. Hasil Analisis Homogenitas Data Penelitian 72

Tabel 4.11. Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Membuat Gambar 73

Tabel 4.12. Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Membaca Gambar 74

Tabel 4.11. Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Menjelaskan 74

Tabel 4.11. Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Mengekspresikan 75

(9)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 3.1. Skema Prosedur Penelitian 49

Gambar 4.1. Persentase Perolehan Predikat Nilai Pre-test Eksperimen I 64

Gambar 4.2. Persentase Perolehan Predikat Nilai Pre-test Eksperimen II 65

Gambar 4.3. Persentase Perolehan Predikat Nilai Post-test Eksperimen I 67

Gambar 4.4. Persentase Perolehan Predikat Nilai Post-test Eksperimen II 69

Gambar 4.5. Perbandingan Nilai Pre-test-Post-test Eksperimen I 69

Gambar 4.6. Perbandingan Nilai Pre-test-Post-test Eksperimen II 70

(10)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Silabus 83

Lampiran 2. RPP 1 Kelas Eksperimen 1 87

Lampiran 3. RPP 2 Kelas Eksperimen 1 92

Lampiran 4. RPP 3 Kelas Eksperimen 1 98

Lampiran 5. RPP 1 Kelas Eksperimen 2 103

Lampiran 6. RPP 2 Kelas Eksperimen 2 108

Lampiran 7. RPP 3 Kelas Eksperimen 2 114

Lampiran 8. LAS 1 119

Lampiran 9. LAS 2 124

Lampiran 10. LAS 3 128

Lampiran 11. Perhitungan Skor Perkembangan Individu Kelas STAD 132

Lampiran 12. Kisi-Kisi Komunikasi Matematis 133

Lampiran 13. Pedoman Pemberian Skor Kemampuan Komunikasi 134

Lampiran 14. Kisi-Kisi Tes dan Butir Soal Komunikasi 135

Lampiran 15. Lembar Soal Pre-Test 136

Lampiran 16. Alternatif Jawaban Pre-Test 138

Lampiran 17. Lembar Soal Pos-Test 141

Lampiran 18. Alternatif Jawaban Pos-Test 143

Lampiran 19. Hasil Uji Coba Instrumen 147

Lampiran 20. Analisis Validitas Uji Coba 148

Lampiran 21. Analisis Realibilitas 149

Lampiran 22. Analisis Indeks Kesukaran Soal 150

Lampiran 23. Analisis Daya Beda 152

Lampiran 24. Daftar Nilai Pre-test Kelas Eksperimen I 155

Lampiran 25. Daftar Nilai Pre-test Kelas Eksperimen II 156

Lampiran 26. Daftar Nilai Post-test Kelas Eksperimen I 157

Lampiran 27. Daftar Nilai Post-test Kelas Eksperimen II 158

Lampiran 28. Perbandingan Pre-test dan post-test Eksperimen I dan II 159

(11)

Lampiran 30. Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen II 161

Lampiran 31. Hasil Uji Homogenitas 162

Lampiran 32. Hasil Uji Hipotesis 163

Lampiran 33. Hasil Validasi Instrumen 164

Lampiran 34. Tabel Harga Kritis r Product Momen 165

Lampiran 35. Tabel Nilai Kritis Uji Lilliefors 166

Lampiran 36. Tabel Distribusi F 167

Lampiran 37. Tabel Nilai Kritis t 168

(12)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dan

berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai aplikasi

matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.

Seperti diungkapkan Cornelius (dalam Abdurrahman, 2009 ) bahwa :

Lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan (1) sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana untuk mengembangkan kreativitas. Dan (5) sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

Matematika sebagai ilmu yang sangat penting harusnya menjadi pelajaran

yang disenangi oleh siswa yang sedang mempelajarinya. Namun, pada

kenyataannya matematika termasuk pelajaran yang tidak disukai banyak siswa.

Ketakutan-ketakutan dari siswa tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri,

melainkan kurangnya kemampuan guru dalam menciptakan situasi yang dapat

membawa siswa tertarik pada matematika. Penyebab utama dari kegagalan dari

seorang guru dalam menjalankan tugas mengajar di depan kelas adalah

kedangkalan pengetahuan guru terhadap siapa siswa dan bagaimana cara

belajarnya. Sehingga setiap tindakan pembelajaran yang diprogramkan justru

lebih banyak kesalahan daripada kebenaran dari kebijakan yang diambil. Akibat

ketakutan-ketakutan siswa tersebut maka tujuan pendidikan matematika tidak

tercapai. (Bahri: 2011)

Komunikasi merupakan bagian penting dalam setiap kegiatan manusia.

Setiap saat orang melakukan kegiatan kumunikasi. Untuk dapat berkomunikasi

secara baik orang memerlukan bahasa. Matematika merupakan salah satu bahasa

yang juga dapat digunakan dalam berkomunikasi. Tetapi kenyataannya banyak

siswa yang mengalami kesulitan dalam bermatematika. Matematika dianggap

(13)

memilikinya. Dilain pihak, siswa-siswa yang cerdas dalam matematika seringkali

kurang mampu menyampaikan hasil pemikirannya. Mereka kurang mampu

berkomunikasi dengan baik, seakan apa yang mereka pikirkan hanyalah untuk

dirinya sendiri. Suatu keadaan yang sangat kontradiksi, dimana matematika itu

sendiri merupakan bahasa, tatapi banyak siswa yang kurang mampu

berkomunikasi dengan matematika. (Armiati:2009)

Komunikasi diperlukan dalam proses pembelajaran di sekolah. Dalam hal

ini komunikasi sangat diperlukan siswa dalam berinteraksi dengan siswa lain

maupun dengan guru. Bila seorang siswa mampu menguasai komunikasi belajar

dengan baik, maka hal ini akan berdampak positif pada hasil belajar siswa itu

sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Umar (2012) yang menyatakan bahwa “kemampuan komunikasi merupakan aspek yang sangat penting yang perlu dimiliki oleh siswa yang ingin berhasil dalam studinya”.

Kemampuan komunikasi matematis siswa sangat perlu untuk

dikembangkan, karena melalui komunikasi matematis siswa dapat melakukan

organisasi berpikir matematisnya baik secara tulisan, siswa bisa memberi respon

dengan tepat, baik di antara siswa itu sendiri maupun antara siswa dengan guru

selama proses pembelajaran berlangsung. Komunikasi matematis berperan untuk

memahami ide-ide matematis secara benar. Siswa yang memiliki kemampuan

komunikasi matematis yang baik, cenderung dapat membuat berbagai representasi

yang beragam, sehingga lebih memudahkan siswa dalam mendapatkan

alternatif-alternatif penyelesaian berbagai permasalahan matematis. (Suhaedi:2012)

Tujuan pendidikan matematika yang dirumuskan oleh National Council of

Teachers of Mathematics (NCTM:2000) (dalam Ansari :2009) yang dikenal dengan kemampuan matematis (mathematical Power) yaitu:

1. Kemampuan pemecahan masalah (problem solving)

2. Kemampuan penalaran (reasoning)

3. Kemampuan berkomunikasi (communication)

4. Kemampuan membuat koneksi (connection)

(14)

3

Salah satu tujuan tersebut adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara

matematis. Kemampuan komunikasi matematis dapat diartikan sebagai suatu

kemampuan siswa dalam menyampaikan sesuatu ide atau gagasan yang

diketahuinya secara matematis melalui tulisan yang terjadi di lingkungan kelas

Komunikasi tersebut dapat berlangsung antara siswa dengan guru, siswa dengan

siswa ataupun siswa dengan buku.

Menurut Baroody (Ansari,2009) sedikitnya ada 2 alasan penting yang menjadikan komunikasi dalam pembelajaran matematika perlu menjadi fokus perhatian yaitu (1) mathematics as language (matematika sebagai bahasa); matematika tidak hanya sekedar alat bantu berpikir (a tool to aid thinking), alat untuk menemukan

pola, atau menyelesaikan masalah namun matematika juga “an invaluable tool for

communicating a variety of ideas clearly, precisely, and succintly, dan (2)mathematics learning as social activity; sebagai aktivitas sosial, dengan adanya interaksi antar siswa, serta dengan guru dalam mengkomunikasikan ide matematika.

Kendatipun kemampuan komunikasi matematika itu penting, namun

ironisnya,pembelajaran matematika selama ini masih kurang memberikan

perhatian terhadap pengembangan kemampuan ini, sehingga penguasaan

kompetensi ini bagi siswa masih rendah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh

Fauzan(2008), (dalam Izzati: 2010) menunjukkan bahwa kemampuan

berkomunikasi secara matematis masih menjadi titik lemah siswa dalam

pembelajaran matematika. Jika kepada siswa diajukan suatu pertanyaan, pada

umumnya reaksi mereka adalah menunduk, atau melihat kepada teman yang

duduk di sebelahnya. Mereka kurang memiliki kepercayaan diri untuk

mengomunikasikan ide yang dimiliki karena takut salah dan ditertawakan teman

Lebih jauh Fauzan (2008) mengemukakan rendahnya kemampuan

komunikasi matematik siswa disebabkan oleh praktik pembelajaran di sekolah

yang menunjukkan adanya “pergeseran” tujuan pembelajaran matematika. Guru

-guru matematika cenderung “melupakan” tujuan yang tercantum dalam kurikulum sewaktu merancang pembelajaran. Akibatnya, indikator-indikator pencapaian

yang dirumuskan dalam rencana pembelajaran lebih banyak berbentuk

pemahaman fakta-fakta dan konsep-konsep matematik. Disamping itu, guru juga

lebih terfokus untuk menyajikan materi dan soal-soal yang kiranya nanti akan

(15)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Nugraha (dalam Solikhah: 2012),

bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa masih rendah, Hal ini terbukti

dari hasil penelitian eksperimen yang dilakukannya bahwa kemampuan

komunikasi matematis siswa masih di bawah KKM. Berbagai perlakuan dilakukan

untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis tetapi tidak terdapat

perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang signifikan.

Dengan kata lain, pengaruh perlakuan yang diberikan tidak memiliki perbedaan

yang signifikan dalam peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa.

Dalam kegiatan diskusi ada beberapa siswa yang kesulitan dalam menyampaikan

hasil pemikirannya, siswa kurang memahami apa yang disampaikan siswa lain,

siswa hanya mampu menyelesaikan soal sejenis dengan soal yang sudah

diselesaikan oleh guru. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi

matematis beberapa siswa masih kurang.

Disamping itu siswa terlihat kurang terampil berkomunikasi untuk

menyampaikan informasi seperti menyatakan ide, mengajukan pertanyaan, dan

menanggapi pertanyaan/pendapat orang lain. Mereka cenderung bersikap

pasif/diam ketika guru mengajukan pertanyaan untuk mengecek pemahaman

siswa, padahal sebenarnya mereka sudah memahami materi yang telah diajarkan

dilihat dari tugas yang diberikan, baik disekolah maupun dirumah. Situasi tersebut

terjadi kemungkinan karena siswa jarang diberikan kesempatan untuk berbicara,

karena kebanyakan guru mengajar siswa dengan yang konvensional seperti model

ceramah dan mencatat di papan tulis.

Ini berarti masih terjadi pelaksanaan proses pembelajaran dikelas jarang

melatihkan dan mengembangkan keterampilan komunikasi dan proses interaksi

antar siswa, seperti bekerja sama, menyatakan ide, mengajukan pertanyaan, dan

menanggapi pertanyaan/pendapat siswa lain. Para guru memang sudah

menerapkan model pembelajaran diskusi, namun yang dilakukan adalah model

pembelajaran diskusi yang konvensial. Dalam mengarahkan diskusi, guru hanya

memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa/kelompok yang memuat hampir

(16)

5

siswa menjadi tidak berkembang dan tidak dirangsang untuk berpikir kritis. Tentu

paradigma pembelajran ini perlu direnovasi.

Kenyataan yang sama juga ditemukan di SMA Negeri 1 SOSA. Hal ini

ditunjukkan oleh nilai matematika siswa pada tahun ajaran 2013/2014 semester 2

kelas X memilki rata-rata 2,21. Nilai tersebut masih di bawah KKM matematika

yaitu 2,67. Hasil ini menunjukkan kemampuan matematika siswa yang masih

rendah termasuk kemampuan komunikasi matematis yang ada di dalamnya.

Salahh satu faktor yang mempengaruhi hasil tersebut adalah faktor pembelajaran

yang masih bersifat konvensional.

Untuk itu, adapun usaha yang harus dilakukan untuk memperbaiki

kemampuan komunikasi matematis siswa tersebut adalah dengan meningkatkan

kompetensi guru dalam memilih model pembelajaran. Sebaiknya model

pembelajaran yang dipilih adalah yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa

dalam proses pembelajaran karena sampai sekarang ini masih banyak siswa yang

mengeluh bahkan menjadikan matematika sebagai momok yang menakutkan.

Sehingga mereka menjadi malas untuk lebih mendalami lagi pelajaran

matematika. Hal ini membuat siswa cenderung kurang aktif yang menyebabkan

perbuatan-perbuatan atau tingkah laku dari siswa kurang terampil dalam

menyampaikan ide dan gagasan mereka.

Berkaitan dengan uraian tersebut maka perlu dipikirkan cara dan strategi

untuk mengatasi permasalahan di atas. Salah satu model pembelajaran yang

diterapkan dalam belajar matematika adalah model pembelajaran kooperatif tipe

Think Pair Share (TPS). Think Pair Share (TPS) pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dan koleganya di Universitas Maryland. Menurut Arends (2001)

(dalam Ansari: 2009) Menyatakan bahwa:

Think Pair Share (TPS) merupakan suatu cara yang efektif untuk

(17)

Model pembelajaran yang lain yang dapat diterapkan dalam belajar

matematika adalah model pembelajaran kooperatif tipe Student Team

Achievement Division (STAD). Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan

menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok

4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan

pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan

kelompok.

Model pembelajaran TPS dan STAD diharapkan dapat memperbaiki

kemampuan komunikasi matematis siswa yang rendah khususnya pada materi

fungsi kuadrat. Mempelajari fungsi kuadrat bukan hanya kemampuan menemukan

kebenaran jawaban akhir dan mutlak tetapi juga untuk memperoleh ketangkasan

dan keterampilan berkomunikasi. Namun, diantara kedua model tersebut pasti

terdapat salah satu model yang lebih baik diterapkan pada materi fungsi kuadrat.

Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul

“Perbedaan kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan

model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan tipe Student Team Achievement Division (STAD) di SMA Negeri 1 SOSA Tahun Ajaran 2014/2015.”

1.2Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat

diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

1. Matematika merupakan pelajaran yang tidak disukai oleh siswa.

2. Kemampuan komunikasi matematis siswa di SMA N 1 SOSA masih

rendah.

3. Siswa tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

4. Guru cenderung melupakan tujuan pembelajaran sewaktu merancang

pembelajaran.

(18)

7

6. Proses pembelajaran dikelas jarang melatih dan mengembangkan

keterampilan komunikasi dan proses interaksi antar siswa.

1.3Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka batasan masalah pada

penelitian ini yaitu:

1. Kemampuan komunikasi matematis siswa di SMA N 1 SOSA masih

rendah.

2. Model pembelajaran masih bersifat konvensional.

1.4Rumusan Masalah

Sesuai pembatasan masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)

lebih baik dari kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan tipe

Student Team Achievement Division (STAD) di SMA N 1 SOSA Tahun Ajaran 2014/2015?

1.5Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah “Untuk mengetahui apakah kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think

Pair Share (TPS) lebih baik dari kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan tipe Student Team Achievement Division (STAD) di SMA N 1 SOSA Tahun Ajaran 2014/2015.”

1.6Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi guru: Sebagai bahan masukan kepada guru matematika tentang

perbedaan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan tipe

Student Team Achievement Division (STAD).

2. Bagi siswa: Sebagai pengalaman belajar dan memberikan variasi

(19)

siswa dalam memahami dan menguasai konsep demi mencapai prestasi

yang lebih baik.

3. Bagi peneliti: Sebagai bahan masukan dan bekal ilmu pengetahuan bagi

peneliti dalam mengajar matematika dimasa yang akan datang.

4. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melakukan

penelitian sejenis.

1.7Defenisi Operasional

Penelitian ini berjudul perbedaan kemampuan komunikasi matematis

siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

(TPS) dan tipe Student Team Achievement Division (STAD) di SMA Negeri 1 SOSA Tahun Ajaran 2014/2015.

Untuk menghindari kesalahpahaman penelitian ini memberi batasan

definisi operasional sebagai berikut :

1. Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi

suasana diskusi kelas. Dengan saumsi bahwa semua resitasi atau diskusi

membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan

prosedur yang digunakan dalam Think Pair Share dapat memberi siswa lebih

banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Pada penelitian

ini, Think Pair Share digunakan pada siswa kelompok eksperimen satu.

2. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model

pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil

dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen.

Diawali dengan penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan

penghargaan kelompok, STAD digunakan pada siswa kelompok eksperimen

dua.

3. Komunikasi Matematis

Komunikasi matematis adalah suatu kemampuan siswa

dalam menyampaikan sesuatu ide atau gagasan yang diketahuinya secara

(20)

9

4. Kemampuan komunikasi matematis

Indikator kemampuan komunikasi matematis siswa pada pembelajaran

matematika dapat diukur dengan indikator:

a. Kemampuan menyajikan dan memvisualisasikan masalah matematika ke

dalam gambar dan memaknai gambar,dan menyajikannya dalam ide

matematika (Drawing).

b. Kemampuan membaca dan menafsirkan data ke dalam model matematika

atau dengan kata lain mengexpresikan ide matematika (Mathematical

Expression).

c. Kemampuan menjelaskan/menulis (Written text) permasalahan matematika

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman.Mulyono.(2009). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Ansari, Bansu. (2005). Komunikasi Matematik.Banda Aceh: PeNa

Armiati. (2009). Komunikasi Matematis dan Kecerdasan Emosiaonal. Prosiding

UNY. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

Asmin. (2012). Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar dengan Analisis Klasik dan Modern. Medan : Larispa.

Bahri,Syaiful.(2011).Psikologi Belajar.Banjarmasin:Rineka Cipta

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar Isi. Jakarta : BSNP.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan. (2012). Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi Mahasiswa Program Studi Kependidikan FMIPA Universitas Negeri Medan: FMIPA UNIMED Harianto, Erwin. (2013). Penerapan Model Pembelajaran Tipe Student Team

Achievement Divisiaon (STAD) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Di SMP Trisakti 2 Medan Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi. Medan: UNIMED

Izzati,Nur.(2010). Komunikasi Matematik dan Pendidikan Matematika Realistik.Prosiding UNY. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Kemendikbud. (2013). Kurikulum 2013. Jakarta : Badan Penelitian dan

Pengembangan.

Hudojo, Herman. (2005). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang : Universitas Negeri Malang.

Mahmudi, Ali.(2009). Komunikasi Dalam Pembelajaran Matematika. Makalah UNY. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

Mudjiono.(2009).Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Rineka Cipta

NCTM. (2000). Principles and Standards for School Mathematics. Tersedia : http://www.k12academics.com/education-reform. Diakses : 20 September 2014.

Nurbaidhia’ah. (2010). Perbedaan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan

Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS Dan Tipe STAD Pada Pokok Bahasan Persamaan Kuadrat Di Kelas X SMA Al-Washliyah 1 Medan Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi. Medan: UNIMED

(22)

82

Sanjaya,Wina.(2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Saputri, Andrayana.(2013). Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Diajar Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Piar Share (TPS) Dan Tipe Student Team Achievement Divisiaon (STAD) Pada Materi Relasi Dan Fungsi Di Kelas VIII SMP Swasta Brigjend Katamso Medan Tahun Ajaran 2013/2014. Skripsi. Medan:UNIMED

Sinaga, Sakiben.(2009). Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Yang Diajar Dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

Dan Tipe STAD Di Kelas X SMK-BM Raksana Medan T.A 2009/2010.

Skripsi. Medan:UNIMED

Sipangkar, Teodora.(2012). Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Melalui Model Pembelajaran Think Pair Share di kelas VIII SMP Swasta St.Thomas 3 Medan Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi. Medan:UNIMED

Slavin,R,E. (2005). Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung:Nusa Dua

Soedjadi ,R. (2000). Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidian Nasional.

Solikhah, Umdatus. (2012). Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa smp melalui penerapan metode accelerated learning Document Transcript. Jurnal UPI. Bandung:Universitas Pendidikan Indonesia

Sudjana.(2002). Metoda Statistika.Tarsito:Bandung

Sugiono.(2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.

Suhaedi,Didi. (2012). Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa smp Melalui Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik. Jurnal UIB. Bandung: Universitas Islam Bandung

Suherman, E. (2001). Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Penerbit

Universitas Terbuka Depdikbud.

Sumardyono. (2004). Karakteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika. Yogyakarta : Departemen Pendidikan Nasional. Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif dan Progresif.

Jakarta:Kencana Prenada Media Group.

(23)

RIWAYAT HIDUP

Sundut Azhari Hasibuan lahir di Aer Bale, 29 Desember 1991. Ayah bernama Ranto Baringin, Ibu bernama Deliner Harahap dan merupakan anak

pertama dari dua bersaudara. Pada tahun 1998 penulis masuk SD Negeri 148053

Ujung Batu/Aer Bale dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun 2004 penulis

diterima di SMP Negeri 1 Sosa dan lulus pada tahun 2007. Selanjutnya penulis

bersekolah di SMA Negeri 1 Sosa dan selesai pada tahun 2010. Pada tahun 2010

penulis melanjutkan pendidikan di Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas

Gambar

Gambar 3.1. Skema Prosedur Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Secara garis besar, ilmu fisika dapat dipelajari lewat 3 jalan, yaitu pertama, dengan meng- gunakan konsep atau teori fisika yang akhirnya melahirkan fisika teori. Kedua, dengan

Hal ini ditunjukan dari proses pembelajaran kedua kelas, dimana kelas eksperimen lebih aktif dalam bertanya dan memberi umpan balik kepada guru dibandingkan kelas

Pokja ULP PB-24/POKJA SKPD09pada Pemerintah Kabupaten Banjar akan melaksanakan Pelelangan Umumdengan pascakualifikasi secara elektronik untuk paket pekerjaan pengadaan barang

Berdasarkan hasil evaluasi penawaran dan evaluasi teknis yang kami lakukan pada proses Seleksi Sederhana untuk Pengadaan Jasa Konsultansi dan Sertifikasi ISO 9001:2008

Penggunaan Antibiotik Ceftriaxone yang diberikan pada pasien sirosis dengan Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP) di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah

Renstorm dan Roux yang dikutip oleh (Giriwijoyo, dkk. 93) mengemukakan bahwa “terdapat bukti-bukti kuat bahwa remaja yang terlibat dalam olahraga, memperlihatkan hasil

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hambatan kewirausahaan dengan jiwa kewirausahaan petani padi sawah di daerah penelitian, mengetahui apa faktor internal

Polychaeta pada kawasan mangrove muara sungai kali Lamong-pulau Galang memiliki komposisi spesies yang berbeda di setiap stasiun dan kedalaman substrat..