test the discriminant, and multiple linear regression. SPSS application used to help test this model. The results show the use of decision-tech 3G mob

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGARUH GAYA HIDUP, PSIKOGRAFIS, LINGKUNGAN SOSIAL

DAN FISIK TERHADAP KEPUTUSAN PENGGUNAAN HANDPHONE

BERTEKNOLOGI 3G

Della Natalia dan Iman Murtono Soenhadji, Ph.D Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma

Jl. Margonda Raya 100, Pondok Cina

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor perilaku konsumen, yaitu gaya hidup, psikografis, lingkungan fisik dan sosial terhadap keputusan penggunaan teknologi 3G. Dalam persaingan yang kian ketat dengan semakin mudahnya fasilitas 3G didapat, produsen harus dapat memahami pengaruh faktor-faktor tersebut agar berhasil dalam pemasaran dan menjual sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen.

Teknik pengumpulan data dengan penyebaran kuesioner. Kuesioner yang berhasil dikumpulkan sebanyak 120 responden. Teknik penetapan responden menggunakan teknik sampel acak sederhana. Pada tahap analisis dilakukan uji reliabilitas dan validitas, uji faktor, uji diskriminan, dan regresi linier berganda. Aplikasi SPSS digunakan untuk membantu pengujian model ini.

Hasil penelitian menunjukan keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G (Y) dipengaruhi secara bersama-sama oleh faktor gaya hidup, psikografis, lingkungan sosial dan fisik (Fhitung = 17,859 lebih besar dari Ftabel = 2,6828). Gaya hidup mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G (Y). Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi pada uji T yang menunjukkan variabel gaya hidup memiliki tingkat signifikan yang paling kecil (0,000). Jenis kelamin (gender) bisa menjadi prediktor dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan handphone berteknologi 3G.

Kata kunci: gaya hidup, psikografis, lingkungan fisik dan sosial, keputusan penggunaan, handphone 3G.

EFFECT OF LIFESTYLE, PSYCHOGRAPHICS, SOCIAL AND

PHYSICAL ENVIRONMENTS ON THE DECISION OF USE

HANDPHONE 3G

ABSTRACT

Objective of the study was to determine the effect of consumer behavior factors, namely lifestyle, psychographics, social and physical environment of the decision to use 3G technology. In a competitive environment with increasingly easy to get 3G facility, the manufacturer must be able to understand the influence of these factors for success in marketing and selling according to your needs and desires of consumers. Collecting data by distributing questionnaires. The questionnaire collected a total of 120 respondents. Determination technique of respondents using simple random sampling technique. In the analysis phase to test the reliability and validity, test factors,

(2)

test the discriminant, and multiple linear regression. SPSS application used to help test

this model. The results show the use of decision-tech 3G mobile phones (Y) is influenced

jointly by a factor of lifestyle, psychographics, social and physical environment (F value = 17.859 greater than Ftable = 2.6828). Lifestyles have the most dominant influence on the decision to use 3G mobile phone (Y). It can be seen from the level of significance at which the T test has a lifestyle variables showed significant levels of the smallest (0.000). Sex (gender) can be a predictor in the decision to use a 3G mobile phone technology.

Keywords: lifestyle, psychographics, physical and social environment, the decision to use, 3G mobile phone

PENDAHULUAN

Memasuki era globalisasi, kebutuhan akan informasi yang cepat, tepat dan sesuai dengan perkembangan zaman sangat dibutuhkan sehingga tidak ketinggalan zaman. Di Indonesia yang merupakan negara berkembang, kebutuhan informasi akan sangat tinggi (Sujoko, 2007). Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh informasi tersebut, diantaranya dengan menggunakan teknologi yang bernama internet. Kemajuan dalam dunia telekomunikasi pun juga semakin pesat. Tentunya guna mendapat informasi yang tepat dan akurat dibutuhkan tidak hanya sekedar membaca, namun juga berkomunikasi. Dengan bertambah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, diperkenalkanlah suatu bentuk teknologi baru yang dipopulerkan dengan nama ‘3G’ (Third Generation).

3G adalah salah satu teknologi yang menggabungkan antara dunia komunikasi dan internet. Fasilitas ini mulai banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang, misalnya dalam bidang komunikasi. Banyaknya alat komunikasi yang dilengkapi dengan fasilitas 3G memberikan keuntungan tersendiri bagi pemakainya.

Salah satu alat komunikasi yang banyak memanfaatkan teknologi 3G adalah telepon selular. Banyak fasilitas yang terdapat pada telepon seluler 3G

yang dapat digunakan, seperti internet dan percakapan menggunakan video, yang tentunya didukung pula oleh operator seperti Indosat, XL, Simpati, dan sebagainya. Teknologi 3G banyak digunakan diberbagai kalangan usia, mulai dari pelajar, mahasiswa, bahkan para eksekutif muda. Banyak faktor yang menyebabkan konsumen menggunakan fasilitas teknologi 3G.

Dalam proses pengambilan keputusan untuk menggunakan handphone berteknologi 3G, konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya bauran pemasaran, individu konsumen, dan pengaruh lingkungan. Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1994) proses keputusan dipengaruhi oleh perbedaan individu, proses psikologis, pengaruh lingkungan dan strategi pemasaran. Dalam persaingan yang kian ketat dengan semakin mudahnya fasilitas 3G didapat, produsen harus dapat memahami faktor-faktor tersebut agar berhasil dalam pemasaran dan menjual sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor gaya hidup, faktor psikografis, dan faktor pengaruh lingkungan sosial dan fisik terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G, dan mengetahui pengaruh paling dominan dari faktor gaya hidup, faktor psikografis, dan faktor pengaruh lingkungan sosial dan

(3)

fisik terhadap pengambilan keputusan penggunaan handphone teknologi 3G.

TELAAH PUSTAKA

Perilaku Konsumen

Ada beberapa definisi perilaku konsumen yang dikemukakan oleh para pakar. Diantaranya menurut Engel (1995), perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini. Sementara, Loudon dan Bitta (1988) lebih menekankan perilaku koonsumen sebagai suatu proses pengambilan keputusan yang mensyaratkan individu untuk mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau mengatur barang dan jasa.

Kotler dan Amstrong (2006) mengartikan perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga yang membeli produk untuk konsumsi personal.

Memahami perilaku konsumen meliputi perilaku yang dapat diamati seperti jumlah yang dibelanjakan, kapan, dengan siapa, oleh siapa, dan bagaimana barang yang sudah dibeli dikonsumsi. Juga termasuk variabel-variabel yang tidak dapat diamati seperti nilai-nilai yang tidak dimiliki oleh konsumen, kebutuhan pribadi, persepsi, bagaimana mereka mengevaluasi alternatif dan apa yang mereka rasakan tentang kepemilikan dan penggunaan produk yang bermacam-macam.

Proses terjadinya pengambilan keputusan oleh pelanggan untuk membeli diawali dari rangsangan pemasaran, yang terdiri dari produk, harga, distribusi, dan promosi. Rangsangan pemasaran ini dilengkapi dengan rangsangan lain-lain, seperti

ekonomi, pendapatan, teknologi, politik, dan budaya. Rangsangan ini membentuk karakteristik pembeli, yaitu kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi, yang dapat mendorong konsumen untuk melakukan proses pengambilan keputusan membeli barang sehingga konsumen mendapatkan manfaat.dari pemilihan produk yang dibeli. Budaya merupakan unsur yang sangat penting, yang mempengaruhi keinginandan perilakuseseorang.

Sukojo (2007: 9-20) menguji pengaruh faktor perilaku konsumen yang terdiri dari bauran pemasaran

(produk, harga, promosi, tempat/distribusi, proses dan bukti fisik),

individu konsumen (motivasi, persepsi, sikap, pembelajaran), dan pengaruh lingkungan (budaya, kelas sosial, kelompok acuan) terhadap keputusan pemakaian jasa warnet di Kota Jember baik secara simultan maupun secara parsial. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan baik secara simultan maupun secara parsial antara variabel bauran pemasaran (produk, harga, tempat/distribusi, dan proses), individu konsumen (motivasi, persepsi), dan pengaruh lingkungan (budaya, kelompok acuan), terhadap keputusan pemakaian jasa warnet di Kota Jember. Variabel dominan dalam penelitian ini adalah harga yang mempengaruhi keputusan pemakaian jasa warnet di Kota Jember.

Tedjakusuma, Sri Hartini, dan Muryani (2001: 48-58) menguji pengaruh faktor perilaku konsumen yang terdiri dari konsumen individu yang terdiri dari pendidikan, penghasilan dan faktor-faktor strategi pemasaran yang terdiri dari harga, kualitas, distribusi, dan promosi terhadap pembelian air minum mineral di Kotamadya Surabaya secara bersama-sama, serta mengetahui variabel perilaku konsumen yang mempunyai pengaruh dominan terhadap pembelian air minum.

(4)

Mereka membuktikan bahwa perilaku konsumen dalam pembelian air minum mineral dipengaruhi secara bersama-sama dan bermakna oleh faktor pendidikan, penghasilan, harga, kualitas, distribusi dan promosi.

Selain faktor budaya dan sub budaya, kelas sosial juga memiliki pengaruh penting pada perilaku konsumen, yang biasanya merupakan strata sosial. Kelas sosial mencerminkan penghasilannya, yang sekaligus sebagai indikator pekerjaan, pendidikan dan tempat tinggal. Tiap-tiap kelas sosial memiliki ciri yang berbeda-beda, preferensi produk dan merek.

Keputusan membeli dipengaruhi pula oleh karakteristik pribadi, yaitu usia, dan tahap hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri pembeli Selera terhadap konsumsi barang-barang jasa yang dibeli berhubungan dengan usia seseorang.

Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opininya, yang menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup seorang pegawai negeri umumnya adalah mencari status dirinya dalam lingkungan birokrasi, sedangkan gaya hidup seorang kyai adalah menggambarkan seorang yang moralis.

Kepribadian biasanya dijelaskan dengan menggunakan ciri-ciri seperti kepercayaan diri, dominasi, otonomi, ketaatan bersosialisasi, daya tahan dan kemampuan beradaptasi. Kepribadian yang diklasifikasikan dengan akurat dan terdapat korelasi yang kuat antara jenis kepribadian tertentu dengan pilihan produk atau merek.

Faktor psikologis yang mempengaruhi seseorang untuk membeli terdiri dari empat faktor yaitu motivasi (dorongan seseorang untuk bertindak guna memuaskan kebutuhannya sehingga dapat

mengurangi ketegangan yang dimilikinya), persepsi (proses seseorang individu memilih, mengorganisasi dan mengintepretasi masukan untuk menciptakan gambaran yang bermakna), pengetahuan (pembelajaran yang meliputi perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman).serta keyakinan dan pendirian yang dapat diperoleh seseorang melalui bertindak dan belajar.

Pengambilan Keputusan

Konsumen

Untuk sampai ke tahap pembelian, konsumen melalui beberapa proses, yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, dan evaluasi terhadap merek kompetitif. Setelah pembelian, pembelian konsumen akan mengalami kepuasan atau ketidak puasan kemudian melakukan tindakan untuk mendapatkan perhatian dari pemasar (Kotler, 2000).

Pembelian konsumen sangat dipengaruhi oleh faktor kultural, sosial, pribadi, dan psikologis. Faktor kultural “tidak terkendali” oleh pemasar tetapi harus diperhitungkan. Faktor kultural mempunyai pengaruh yang paling luas dan paling dalam terhadap perilaku konsumen. Pemasar harus memahami peran yang dimainkan oleh kultur, subkultur, dan kelas sosial pembeli. Kultur adalah factor penentu paling pokok dari keinginan dan perilaku seseorang. Makhluk yang lebih rendah umumnya dituntun oleh naluri. Perilaku manusia umumnya dipelajari. Anak-anak yang tumbuh menjadi dewasa di dalam suatu masyarakat mempelajari serangkaian nilai pokok, persepsi, preferensi, dan perilaku melalui suatu proses sosialsasi yang melibatkan keluarga dan lembaga inti lainnya.

Tiap kultur mempunyai subkultur yang lebih kecil, atau kelompok orang dengan system nilai yang sama berdasarkan pengalaman dan

(5)

situasi hidup yang sama. Subkultur mencangkup asal kebangsaan, agama, kelompok rasial, and wilayah geografik. Banyak subkultur ini merupakan segmen pasar yang penting, dan pemasar sering menemukan bahwa ada manfaatnya merancang produk dan program yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok subkultur ini.

Kelas sosial adalah susunan yang relatif permanen dan teratur dalam suatu masyarakat yang anggotanya mempunyai nilai, minat, dan perilaku yang sama. Kelas sosial tidak ditentukan oleh faktor tunggal seperti pendapatan tetapi diukur sebagai suatu kombinasi pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kekayaan, dan variabel lainnya. Dalam beberapa sistem sosial, anggota berbagai kelas “ditakdirkan” untuk memegang peran tertentu dan tidak mengubah posisi sosial mereka.

Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang berpengaruh langsung dan padanya seseorang menjadi anggotanya disebut kelompok keanggotaan. Ada yang merupakan kelompok primer yang dengannya seseorang berinteraksi secara regular tetapi interaksi yang sifatnya tidak resmi (informal) seperti keluarga, teman, tetangga, dan rekan sepekerjaan. Ada lagi yang dikenal sebagai kelompok sekunder, dengannya seseorang berinteraksi secara lebih resmi (formal) tetapi kurang atau tidak regular. Termasuk dalam kelompok ini adalah organisasi seperti kelompok keagamaan, ikatan profesi, dan serikat dagang. Kelompok rujukan (kelompok referensi) adalah kelompok yang merupakan titik perbandingan atau rujukan langsung (tatap muka) atau tak langsung dalam pembentukan sikap atau perilaku seseorang. Kelompok aspirasional adalah suatu kelompok yang padanya seseorang ingin atau bercita-cita menjadi anggotanya.

Anggota keluarga pembeli dapat menanamkan suatu pengaruh yang kuat

pada perilaku pembeli. Dalam kehidupan pembeli dapat dibedakan dua keluarga. Keluarga orientasi yang terdiri dari orang tua. Dari orang tua, seorang memperoleh suatu orientasi kea rah agama, politik dan ekonomi dan suatu perasaan akan ambisi pribadi, harga diri dan cinta kasih. Kelurga prokreasi yakni suami-isteri dan anak-anak mempunyai suatu pengaruh yang lebih langsungterhadap perilaku pembelian sehari-hari.

Seseorang berperan serta dalam banyak kelompok, seperti keluarga, perkumpulan, organisasi. Posisi seseorang dalam tiap kelompok dapat ditentukan dari segi peran dan status. Suatu peran adalah kegiatan yang diharapkan untuk dilakukan seseorang sesuai dengan orang-orang di sekelilingnya. Tiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan umum oleh masyarakat sesuai dengan status itu.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan metode penelitian survey yaitu suatu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan mengandalkan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Dengan demikian penelitian ini dikategorikan sebagai

explanatory research, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis (Singarimbun, 1995).

Variabel penelitian meliputi variabel dependen (Y) yaitu keputusan konsumen menggunakan handphone berteknologi 3G dan variabel independen (X) adalah faktor-faktor perilaku konsumen (faktor gaya hidup, faktor psikografis, dan faktor lingkungan social dan fisik).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa pemakai

(6)

teknologi 3G bagi pengguna Indosat di Kampus Universitas Gunadarma. Penelitian ini adalah penelitian primer dan bersifat kualitatif dengan menyebarkan kuesioner. Penelitian ini jumlah populasinya tidak bisa diketahui secara pasti, maka berdasarkan Malhotra (1999), untuk menentukan jumlah sampel dapat ditentukan yaitu minimum 4 atau 5 kali jumlah variabel yang digunakan. Kuesioner yang telah disebar berjumlah 200 kuesioner, dan yang kembali berjumlah 120 kuesioner. Jumlah responden yang diambil sebanyak 120 orang mahasiswa.

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuisioner. Skala yang digunakan adalah skala interval, pengukuran skala menggunakan tipe likert yang pendekatan ratingnya 1 sampai 5 yang menunjukkan derajat. Derajat 1 menunjukkan kurang setuju hingga 5, sangat setuju. Sebelum digunakan sebagai instrumen penelitian, kuesioner divalidasi dan diuji reliabilitasnya. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji t dua sampel bebas dan analisis faktor. Kekuatan pengaruh diukur menggunakan metode statistik regresi berganda. Gender di ukur dengan menggunakan analisis diskriminan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Kuesioner

Hasil uji validitas instrumen penelitian menunjukkan bahwa semua item penelitian adalah valid. Hal ini dapat diketahui dari signifikansi hasil perhitungan korelasi lebih kecil dari 0,05. Hasil pengujian reliabilitas instrumen penelitian, menunjukkan bahwa semua penelitian adalah reliabel. Hal ini dapat diketahui bahwa semua variable penelitian ini mempunyai koefisien keandalan/alpha sama atau

lebih besar dari 0.6. Dalam pengolahan data dengan menggunakan regresi linier berganda, dilakukan beberapa tahapan untuk mencapai hubungan antar variabel dependen dengan variabel independen.

Pada signifikansi 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 120, didapat r tabel sebesar 0.192. Jika r lebih besar dari r tabel,maka butir item (instrumen) tersebut valid (Priyatno, 2008). Pada hasil statistik dapat dilihat bahwa semua butir item (instrumen) nilainya lebih besar dari 0,192. Ini berarti semua butir item (instrumen) adalah valid. Uji signifikansi dilakukan pada taraf signifikansi 0.05, artinya instrumen dapat dikatakan reliabel bila nilai alpha lebih besar dari r kritis

product moment (Priyatno, 2008), atau dengan menggunakan batasan tertentu. Menurut Sekaran (1992) reliabilitas kurang dari 0.6 adalah kurang baik, sedangkan 0.7 dapat diterima, dan di atas 0.8 adalah baik. Nilai reliabilitas sebesar 0.894 menjelaskan bahwa butir item (instrumen) adalah baik atau dapat dipercaya.

Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini merupakan pengguna handphone berteknologi 3G. Responden adalah mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di kota Depok. Kuesioner yang disebar berjumlah 200, namun yang kembali berjumlah 120 kuesioner, sehingga jumlah responden yang di ambil sebanyak 120 orang. Pada penyebaran kuisioner juga informasi data responden. Hal tersebut berguna untuk mengetahui karakteristik responden yang pada penelitian ini didasarkan pada nama, alamat, usia, jenis kelamin, dan pendapatan/uang saku per bulan, serta frekuensi mengakses teknologi 3G.

Dilihat dari usia, responden berada pada kisaran usia 19-25 tahun (78,3%). Sebanyak 42 responden atau

(7)

(35,0%) adalah perempuan dan sisanya adalah responden laki-laki, yaitu sebanyak 78 responden (65,0%). Dilihat dari besarnya uang saku, 38,3% dari responden memiliki uang saku Rp. 500,000,- sampai dengan Rp. 1,000,000,- per bulan. Peringkat kedua adalah responden dengan uang saku sebesar Rp. 150,000,- sampai dengan Rp. 500,000,- per bulan, yaitu sebanyak 28,3%. Ada 14,2% yang mendapatkan uang saku sebesar Rp. 1,000,000,- sampai dengan Rp. 2,000,000,- per bulan dan 9,2% dengan uang saku kurang dari Rp. 150,000,-.

Dilihat dari frekuensi akses yang dilakukan, 40,8% responden menjawab jarang melakukan akses teknologi 3G. Sedangkan untuk jawaban sangat sering, sering, dan cukup sering secara berturut-turut adalah 13,3%, 19,2%,d an 26,7%. Dapat dinyatakan, bahwa persentase terbanyak adalah responden yang melakukan akses ke teknologi indosat 3G cukup sering.

Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Perilaku

Konsumen dalam Penggunaan

Teknologi 3G

Pengukuran terhadap pengaruh produk terhadap perilaku konsumen pengguna handphone teknologi 3G menghasilkan nilai t hitung,variabel gaya hidup dan psikografis memiliki probabilitas lebih kecil dari 0,05, maka kedua variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap keputuan penggunaan. Sedangkan variabel lingkungan sosial dan fisik memiliki probabilitas lebih besar dari 0,05, maka variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan penggunaan.

Pada analisis faktor yang dilakukan, faktor gaya hidup menunjukkan KMO MSA (Kaiser Meyer Oikin Measure of Sampling Adequacy) adalah sebesar 0,722 dengan

signifikansi sebesar 0,000. Angka 0,722 berada di atas 0,5 dan signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,005 , maka proses analisis dapat dilanjutkan. Sedangkan pada kolom loading menunjukkan bahwa ada 4 butir pernyataan yang terbentuk dari variabel gaya hidup, yang menunjukkan korelasi antara suatu variabel dengan faktor yang terbentuk. Pendapat bahwa penggunaan teknologi 3G sesuai dengan gaya hidup yang modern (butir 2) memiliki nilai loading yang dominan, yaitu sebesar 0,829. artinya, faktor gaya hidup butir 2 sudah dapat mewakili variabel gaya hidup dari keempat butir gaya hidup yang ada.

Analisis faktor pada faktor psikografis menunjukkan KMO MSA

(Kaiser Meyer Oikin Measure of

Sampling Adequacy) adalah sebesar

0,791 dengan signifikansi sebesar 0,000. Angka 0,791 berada di atas 0,5 dan signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,005 , maka proses analisis dapat dilanjutkan. Sedangkan pada kolom loading

menunjukkan bahwa ada 5 butir pernyataan yang terbentuk dari variabel psikografis, yang menunjukkan korelasi antara suatu variabel dengan faktor yang terbentuk. Pendapat bahwa relasi dan kerabat adalah pendukung kesuksesan (butir 10) memiliki nilai loading yang dominan, yaitu sebesar 0,825. artinya, faktor psikografis butir 10 sudah dapat mewakili variabel psikografis dari kelima butir psikografis yang ada.

Angka KMO MSA (Kaiser Meyer Oikin Measure of Sampling Adequacy) pada faktor lingkungan sosial dan fisik adalah sebesar 0,719 dengan signifikansi sebesar 0,000. Angka 0,719 berada di atas 0,5 dan signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,005 , maka proses analisis dapat dilanjutkan. Sedangkan pada kolom loading menunjukkan bahwa ada 4 butir pernyataan yang terbentuk dari variabel lingkungan sosial & fisik, yang menunjukkan korelasi antara suatu variabel dengan faktor yang terbentuk. Pendapat bahwa penggunaan

(8)

teknologi 3G karena pengaruh teman (butir 11) memiliki nilai loading yang dominan, yaitu sebesar 0,844. artinya, faktor lingkungan sosial & fisik butir 11 sudah dapat mewakili variabel lingkungan sosial & fisik dari keempat butir lingkungan sosial & fisik yang ada.

Pada variabel keputusan penggunaan, KMO MSA (Kaiser Meyer Oikin Measure of Sampling Adequacy) adalah sebesar 0,500 dengan signifikansi sebesar 0,000. Angka 0,500 = 0,5 dan signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,005 , maka proses analisis dapat dilanjutkan. Sedangkan pada kolom loading

menunjukkan bahwa ada 2 butir pernyataan yang terbentuk dari variabel keputusan penggunaan, yang menunjukkan korelasi antara suatu variabel dengan faktor yang terbentuk. Pendapat bahwa penggunaan handphone 3G beeguna (butir 16) dan akan terus menggunakan handphone 3G memiliki nilai loading yang sama besar, yaitu

sebesar 0,893. artinya, faktor keputusan penggunaan butir 16 dan 17 sudah dapat mewakili variabel keputusan penggunaan.

Untuk analisis diskriminan, hasil klasifikasi menunjukkan bahwa dari 42 orang yang berjenis kelamin perempuan, 14 di antaranya masuk dalam klasifikasi laki karena memiliki nilai rata-rata rasio pada variabel diskriminan lebih mendekati kelompok laki. Dari 78 orang yang berjenis kelamin laki-laki 31 di antaranya masuk ke dalam klasifikasi perempuan karena memiliki nilai rata-rata rasio pada variabel diskriminan lebih mendekati kelompok perempuan. Jadi dari 120 sampel mampu menjelaskan ketepatan klasifikasi sebesar 62,5%. Ketepatan model tersebut di anggap tinggi apabila angka di atas 50,0%, sehingga fungsi diskriminan ini dapat memprediksikan kategori gender (perempuan dan laki-laki) terhadap keputusan penggunaan.

MODEL HASIL ANALISIS

Sumber: Asseal dimodifikasi

Ket: Signifikan Tidak Signifikan

Gambar 1. Model Penelitian Keputusan Penggunaan Handphone

Berteknologi 3G

Model di atas menunjukkan bahwa pengaruh psikografis signifikan terhadap keputusan penggunaan. Sedangkan pengaruh psikografis tidak signifikan terhadap gaya hidup. Pengaruh

lingkungan sosial dan fisik terhadap keputusan gaya hidup adalah signifikan, sedangkan pengaruh lingkungan sosial dan fisik tidak signifikan terhadap keputusan penggunaan. Gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap keputusan penggunaan.

Psikografi s

Psikografis mempengaruhi langsung keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G, namun psikografis tidak mempengaruhi gaya hidup seseorang untuk menggunakan handphone berteknologi 3G. Berkebalikan dengan lingkungan sosial dan fisik yang mempengaruhi gaya hidup seseorang yang akhirnya memutuskan untuk menggunakan handphone 3G. Namun lingkungan sosial dan fisik tidak bisa mempengaruhi secara langsung keputusan seseorang untuk menggunakan handphone berteknologi 3G. Dan gaya hidup berpengaruh secara langsung dalam keputusan seseorang untuk

Lingkung an Gaya Hidup Keputusan Penggunaan 0,176 0.057 0,555 0,421 - 0,117

(9)

menggunakan handphone berteknologi 3G.

Faktor psikografis yang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis yang utama, yaitu motivasi, persepsi, belajar, kepercayaan dan sikap, berpengaruh secara langsung terhadap keputusan penggunaan, namun ini tidak mempengaruhi gaya hidup. Lingkungan Sosial dan fisik tidak bisa mempengaruhi secara langsung keputusan penggunaan, ini harus sesuai dulu dengan gaya hidup seseorang, baru kemudian konsumen bisa memutuskan pilihannya. Sedangakan gaya hidup yang modern dan serba cepat sekarang ini, bisa jadi menjadi kebutuhan yang paling dominan dalam mencari informasi, dalam penelitian ini berarti mendorong keputusan untuk menggunakan handphone berteknologi 3G yang dapat dengan mudah mencari informasi dengan cepat.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu, faktor Psikografis mempengaruhi langsung keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G. Faktor Lingkungan sosial dan fisik tidak mempengaruhi secara langsung keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G. Bahwa gaya hidup mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G (Y). Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi pada uji T yang menunjukkan variabel gaya hidup memiliki tingkat signifikan yang paling kecil (0,000). Ternyata keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G (Y) dipengaruhi secara bersama-sama oleh faktor gaya hidup, psikografis, lingkungan sosial dan fisik. Hal ini

ditunjukkan oleh Fhitung = 17,859 lebih besar dari Ftabel = 2,6828. Ternyata jenis kelamin (gender) bisa menjadi prediktor dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan handphone berteknologi 3G.

Sehubungan dengan penelitian ini hanya memperhatikan tiga faktor yang mempengaruhi keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G, maka sangat perlu dilaksanakan penelitian lebih lanjut untuk melibatkan lebih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam menggunakan handphone berteknologi 3G, sehingga dapat diketahui efektivitas faktor-faktor tersebut terhadap keputusan penggunaan.

IMPLIKASI

Dengan model yang terbentuk pada penelitian ini mengenai variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G, ternyata variabel gaya hidup merupakan variabel yang memiliki pengaruh paling dominan dan berpengaruh secara langsung terhadap keputusan penggunaan. Gaya hidup seseorang sangat beragam, bahkan jika memiliki pekerjaan yang sama, gaya hidup seseorang bisa berbeda-beda. Gaya hidup seseorang menunjukkan pola kehidupan yang tercermin dalam kegiatan, minat, dan pendapatnya. Karena itu, gaya hidup berpengaruh secara langsung terhadap keputusan pembelian seseorang atau dalam penelitian ini adalah keputusan penggunaan terhadap handphone 3G. Gaya hidup merupakan faktor pribadi dalam perilaku konsumen. Pengaruh gaya hidup yang paling dominan dalam penelitian ini mungkin disebabkan karena responden (konsumen) mempunyai gaya hidup yang mengikuti perkembangan jaman yang serba cepat dan modern, sehingga mendorong

(10)

konsumen (responden) memilih handphone berteknologi 3G yang dapat mengakses informasi dengan cepat.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Assael, Henry. 1995. Customer

Behaviour And Marketing Action, Keat Publishing Company,Boston.

Engel, James F, Roger D Blackwell dan Paul W. Miniard. 1994. Perilaku Konsumen, Jilid 1, Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Engel, James and Robert. 1995. Perilaku Konsumen ,Alih Bahasa Budijanto, Edisi Keenam, Binarupa Aksara, Jakarta.

Jowma W., Visza. 2008. Model Pembelian Ulang Dan Prediksi Perilaku Konsumen Pada Produk Air Mineral Aqua.

Skripsi. Universitas Gunadarma, Depok.

Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran, Edisi Milenium Jilid 1 & 2, Jakarta: Prentice Hall. Kotler, Philip, and Armstrong, Gary.

2004. Principles of Marketing 10th Edition. New Jersey : Prentince Hall

Louden, David L and Albert. J. Della Betta. 1988. Consumer Behavior Concepts and Application, McGraw Hill, Inc, New York.

Mowen, C. John and Michael Minor. 2002. Perilaku konsumen, Jakarta: Erlangga.

Nugroho, Bhuono Agung. 2005. Strategi Jitu memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS, Yogyakarta: Andi.

Priyatno, Dwi. 2008. Mandiri Belajar SPSS, Yogyakarta: MediaKom.

Priyatno, Duwi. 2009. SPSS Untuk Analisis Korelasi, Regresi, dan multivariate. Yogyakarta: Gava Media.

Schiffman, L.G., dan Kanuk, L.L. 2000. Consumer Behaviour. USA : Prentice Hall.

Sudjana. 1992. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Sujoko. 2007. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pemakaian Jasa Warnet Di Kota Jember, Jurnal Manajemen Pemasaran, Vol. 2 No.1, April : 9-20.

Tedjakusuma, Ritawati, Sri Hartini, Muryani. 2001. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Pembelian Air Minum Mineral Di Kotamadya Surabaya, Jurnal Penelitian Dinamika Sosial, Vol. 2, No. 3, Desember : 48-58.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :