• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB Aspek PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB Aspek PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

embahasan aspek pembiayaan dalam RPI2-JM pada dasarnya bertujuan untuk

Mengidentifikasi kapasitas belanja pemerintah daerah dalam melaksanakan

pembangunan bidang Cipta Karya,

Mengidentifikasi alternatif sumber pembiyaan antara lain dari masyarakat dan sektor swasta

untuk mendukung pembangunan bidang Cipta Karya, dan Merumuskan rencana tindak

peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya.

9.1. ARAHAN KEBIJAKAN PEMBIAYAAN BIDANG CIPTA KARYA

Pembiayaan pembangunan bidang Cipta Karya perlu memperhatikan arahan dalam peraturan

dan perundangan terkait, antara lain:

1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah: Pemerintah daerah

diberikan hak otonomi daerah, yaitu hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk

mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat

sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini, Pemerintah Daerah

menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan

pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat yaitu politik luar negeri, pertahanan,

keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.

2. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah

Pusat dan Daerah: untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah

didukung sumber-sumber pendanaan meliputi Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan,

P

BAB

Aspek PEMBIAYAAN

PEMBANGUNAN BIDANG

CIPTA KARYA

Book

Sale

(2)

Pendapatan Lain yang Sah, serta Penerimaan Pembiayaan Penerimaan daerah ini akan

digunakan untuk mendanai pengeluaran daerah yang dituangkan dalam Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah.

3. Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan: Dana Perimbangan

terdiri dari Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, dan Dana Alokasi Khusus.

Pembagian DAU dan DBH ditentukan melalui rumus yang ditentukan Kementerian

Keuangan. Sedangkan DAK digunakan untuk mendanai kegiatan khusus yang ditentukan

Pemerintah atas dasar prioritas nasional. Penentuan lokasi dan besaran DAK dilakukan

berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.

4. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan

Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah

Kabupaten/Kota: Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah,

terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib yang menjadi kewenangan

pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala

kabupaten/kota meliputi 26 urusan, termasuk bidang pekerjaan umum. Penyelenggaraan

urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal

dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. Urusan wajib pemerintahan

yang merupakan urusan bersama diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber

pendanaan, pengalihan sarana dan prasarana, serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang

didesentralisasikan.

5. Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah: Sumber pinjaman

daerah meliputi Pemerintah, Pemerintah Daerah Lainnya, Lembaga Keuangan Bank dan

Non-Bank, serta Masyarakat. Pemerintah Daerah tidak dapat melakukan pinjaman

langsung kepada pihak luar negeri, tetapi diteruskan melalui pemerintah pusat. Dalam

melakukan pinjaman daerah Pemda wajib memenuhi persyaratan:

a. total jumlah pinjaman pemerintah daerah tidak lebih dari 75% penerimaan APBD

tahun sebelumnya;

b. memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan

pinjaman yang ditetapkan pemerintah paling sedikit 2,5;

c. persyaratan lain yang ditetapkan calon pemberi pinjaman;

d. tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang bersumber dari

pemerintah;

e. pinjaman jangka menengah dan jangka panjang wajib mendapatkan

(3)

6. Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2005 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan

Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur (dengan perubahan Perpres 13/2010 & Perpres

56/2010): Menteri atau Kepala Daerah dapat bekerjasama dengan badan usaha dalam

penyediaan infrastruktur. Jenis infrastruktur permukiman yang dapat dikerjasamakan

dengan badan usaha adalah infrastruktur air minum, infrastruktur air limbah

permukiman dan prasarana persampahan.

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan

Keuangan Daerah (dengan perubahan Permendagri 59/2007 dan Permendagri 21/2011):

Struktur APBD terdiri dari:

a. Pendapatan daerah yang meliputi: Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan

Pendapatan Lain yang Sah.

b. Belanja Daerah meliputi: Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung.

c. Pembiayaan Daerah meliputi: Pembiayaan Penerimaan dan Pembiayaan

Pengeluaran.

8. Peraturan Menteri PU No. 15 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis

Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur: Kementerian PU menyalurkan DAK

untuk pencapaian sasaran nasional bidang Cipta Karya, Adapun ruang lingkup dan kriteria

teknis DAK bidang Cipta Karya adalah sebagai berikut:

a. Bidang Infrastruktur Air Minum

DAK Air Minum digunakan untuk memberikan akses pelayanan sistem penyediaan air

minum kepada masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan kumuh perkotaan dan di

perdesaan termasuk daerah pesisir dan permukiman nelayan. Adapun kriteria teknis

alokasi DAK diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan

memenuhi sasaran/ target Millenium Development Goals (MDGs) yang

mempertimbangkan:

- Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah;

- Tingkat kerawanan air minum.

b. Bidang Infrastruktur Sanitasi

DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah,

persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat

berpenghasilan rendah di perkotaan yang diselenggarakan melalui proses

pemberdayaan masyarakat. DAK Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan

(4)

teknis:

- kerawanan sanitasi;

- cakupan pelayanan sanitasi.

9. Peraturan Menteri PU No. 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan

Kementerian Pekerjaan Umum yang Merupakan Kewenanangan Pemerintah dan

Dilaksanakan Sendiri: Dalam menyelenggarakan kegiatan yang dibiayai dana APBN,

Kementerian PU membentuk satuan kerja berupa Satker Tetap Pusat, Satker Unit

Pelaksana Teknis Pusat, dan Satuan Non Vertikal Tertentu. Rencana program dan usulan

kegiatan yang diselenggarakan Satuan Kerja harus mengacu pada RPIJM bidang

infrastruktur ke-PU-an yang telah disepakati. Gubernur sebagai wakil Pemerintah

mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan kementerian yang dilaksanakan di daerah

dalam rangka keterpaduan pembangunan wilayah dan pengembangan lintas sektor.

Berdasarkan peraturan perundangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkup sumber dana

kegiatan pembangunan bidang Cipta Karya yang dibahas dalam RPI2JM meliputi:

1. Dana APBN, meliputi dana yang dilimpahkan Ditjen Cipta Karya kepada Satuan Kerja di

tingkat provinsi (dana sektoral di daerah) serta Dana Alokasi k husus bidang Air Minum

dan Sanitasi.

2. Dana APBD Provinsi, meliputi dana daerah untuk urusan bersama (DDUB) dan dana

lainnya yang dibelanjakan pemerintah provinsi untuk pembangunan infrastruktur

permukiman dengan skala provinsi/regional.

3. Dana APBD Kabupaten/Kota, meliputi dana daerah untuk urusan bersama (DDUB)

dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah kabupaten ntuk pembangunan

infrastruktur permukiman dengan skala kabupaten/kota.

4. Dana Swasta meliputi dana yang berasal dari skema kerjasama pemerintah dan swasta

(KPS), maupun skema Corporate Social Responsibility (CSR).

5. Dana Masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat.

6. Dana Pinjaman, meliputi pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri.

9.2 PROFIL APBD KABUPATEN TANA TIDUNG

(5)

berpedoman pada Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor

58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri

(Permendagri) Nomor 21 Tahun 2011 tentang perubahan kedua permendagri 13 tahun 2006

tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Arah kebijakan keuangan daerah Kabupaten Tana Tidung meliputi arah pengelolaan pendapatan

daerah, arah pengelolaan belanja daerah dan kebijakan umum anggaran. Adapun penjelasan

lebih lanjut adalah sebagai berikut:

1. Arah Pengelolaan pendapatan Daerah

Pendapatan daerah dalam struktur APBD masih merupakan elemen yang cukup penting

peranannya baik untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan maupun pemberian

pelayanan kepada publik. Apabila dikaitkan dengan pembiayaan, maka pendapatan daerah

masih merupakan alternatif pilihan utama dalam mendukung program dan kegiatan

penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik di Kabupaten Tana Tidung. Arah

pengelolaan pendapatan daerah Kabupaten Tana Tidung tahun 2010-2014 yaitu mobilitas

sumber-sumber PAD, dana perimbangan dan penerimaan daerah lainnya. Dalam

pengelolaan anggaran pendapatan daerah akan diperhatikan upaya untuk peningkatan

pendapatan pajak dan retribusi daerah tanpa harus menambah beban bagi masyarakat dan

menimbulkan keengganan berinvestasi.

Melalui pola kebijakan yang tepat untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerah,

Kabupaten Tana Tidung secara bertahap akan mampu keluar dari berbagai persoalan yang

selama ini dihadapi seperti tingkat pengangguran yang tinggi dan jumlah penduduk miskin

yang cukup besar.

2. Arah Pengelolaan Belanja Daerah

Belanja daerah diarahkan pada peningkatan proposi belanja yang memihak kepentingan

publik, disamping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam

penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan efisiensi, efektifitas dan

penghematan sesuai dengan prioritas, yang diharapkan dapat memberikan dukungan

program-program strategis daerah.

3. Arah Pengelolaan Pembiayaan

Pembiayaan yang terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan

(6)

periode 2010-2014 pemerintah Kabupaten Tana Tidung mengambil kebijakan anggaran

defisit mengingat masih banyaknya kebutuhan untuk pemenuhan kebutuhan Barang-barang

publik.Meskipun investasi ini tidak langsung menghasilkan pendapatan, namun diharapkan

dapat meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat.

4. Kebijakan Umum Anggaran

a. Pendapatan Daerah Kabupaten Tana Tidung

Formulasi kebijakan dalam mendukung pengelolaan anggaran pendapatan daerah akan

lebih difokuskan pada upaya untuk mobilisasi pendapatan asli daerah. Kebijakan

pendapatan daerah diperkirakan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 12% per

tahun.

Pertumbuhan komponen pajak daerah retribusi daerah dan hasil perusahaan daerah

akan menjadi faktor yang penting dalam mendorong pertumbuhan PAD nanti.

Sedangkan untuk dana perimbangan komponen bagi Hasil Pajak dari bagi Hasil Bukan

Pajak serta Bantuan Propinsi adalah dua unsur yang penting dalam mendorong

pertumbuhan Dana Perimbangan yang akan diperoleh nantinya.

Ditinjau dari komposisi Pendapatan Daerah trend kenaikan peranan PAD dan trend

penurunan dari peranan Dana Perimbangan sampai dengan 2014 diperkirakan akan

terus berlangsung meskipun dalam kaitan tersebut dominasi peranan dana perimbangan

dalam membentuk total perolehan Pendapatan Daerah akan tetap diatas peranan PAD.

Terdapat beberapa hal yang cukup penting terkait dengan prospek keuangan daerah

kedepan antara lain adalah :

 Perkembangan public saving untuk Kabupaten Tana Tidung pada tahun 2013 sangat

fluktuatif dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun anggaran 2013 untuk

pendapatan asli daerah tercatat sebesar 34 Milyar lebih besar dari pada tahun 2010

yaitu sebesar Rp. 24 Milyar. Untuk dana perimbangan di tahun 2013 sebesar 867

milyar, meningkat dari tahun 2009 sebesar 774 Milyar.

 Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tana Tidung, yang terdiri dari pajak daerah,

retribusi daerah, penerimaan dinas-dinas, bagian laba BUMD, dan penerimaan

lain-lain, selama kurun waktu tahun 2010-2014 diperkirakan tetap mengalami

peningkatan. Sumber-sumber penerimaan pajak daerah di Kabupaten Tana Tidung

(7)

jalan umum, pajak pengambilan dan pengolehan bahan galian golongan C serta

pajak pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan.

 Upaya ekstensifikasi pajak tidak cukup hanya mengandalkan kondisi sarana dan

prasaran kota saat ini. Untuk itu, kedepan prioritas pembangunan kota harus

benar-benar fokus pada sektor-sektor yang mampu menarik investasi guna mendorong

pertumbuhan ekonomi kota dalam upaya untuk meningkatkan daya beli masyarakat

dilakukan dengan tanpa mengesampingkan konsistensi dalam menekan ketimbangan

pendapatan masyarakat sebagai bentuk upaya untuk menekan angka kemiskinan,

serta tetap memperhatikan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan masyarakat

Kabupaten Tana Tidung.

b. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tana Tidung

Secara teoritis, pendapatan daerah akan dipengaruhi oleh kondisi perekonomian

daerah. Dengan kata lain, bahwa perkembangan ekonomi harus berkorelasi positif

dengan pendapatan daerah.

Pertumbuhan nilai PDRB atas Dasar Harga Berlaku dan Harga konstan tahun 2011-2012,

masing-masing tumbuh sebesar 6 %. Kondisi ini menunjukkan bahwa di Kabupaten

Tana Tidung terjadi peningkatan pendapatan masyarakat, sehingga daya beli

masyarakat juga mengalami peningkatan.

Selama lima tahun terakhir ini, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tana Tidung

selalu mengalami pertumbuhan positif meskipun terjadi fluktuasi di setiap tahunnya.

Pada periode tahun 2009, kondisi perekonomian sangat baik dengan capaian

pertumbuhan 9,17 persen. Sedangkan dua tahun berikutnya meskipun pertumbuhannya

positif namun mempunyai kecenderungan yang menurun hingga mencapai 4,26 persen

pada tahun 2010. Di tahun 2011 situasi perekonomian Kabupaten Tana Tidung kembali

mengalami peningkatan dengan ditandai oleh laju pertumbuhan ekonomi 5,20 persen.

Hingga kini di tahun 2012 perekonomian di Kabupaten Tana Tidung kokoh dengan

pertumbuhan ekonomi sebesar 5,16 persen.

Nilai PDRB perkapita Tana Tidung setiap tahunnya mengalami fluktuasi seiring dengan

perkembangan nilai PDRB yang tercipta. Di tahun 2011 dan 2012, PDRB perkapita

mengalami peningkatan hingga mencapai level 24,41 juta rupiah dan 25,66 juta rupiah

seiring dengan peningkatan komoditas unggulan seperti sub sektor pertambangan

(8)

Perkembangan perekonomian Kabupaten Tana Tidung tidak terlepas dari kontribusi

sektor – sektor ekonomi yang mendukungnya. Dari hasil penghitungan PDRB

kabupaten Tana Tidung diperoleh nilai tambah yang tercipta akibat kegiatan ekonomi

sebesar 438,36 milyar rupiah pada tahun 2012, lebih tinggi dibanding tahun lalu

(399,31 milyar rupiah). Secara riil ekonomi Kabupaten Tana Tidung tumbuh 5,91

persen.

Tabel 9.1 Perkembangan Pendapatan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir (dalam Ribu Rupiah)

N

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah

yang dipisahkan

C LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH

Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan

Pemerintah Daerah Lainnya

Bantuan Keuangan dari Provinsi atau

Pemerintah Daerah Lainnya

Gambaran mengenai perkembangan Pendapatan Daerah Kabupaten Tana Tidung selama

kurun waktu tahun (2010-2014) terlihat pada tabel 6.1 diatas. Analisis terhadap

perkembangan pendapatan daerah ini dapat dijelaskan antara lain:

1. Realisasi pendapatan daerah terjadi kenaikan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar

6%. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya kenaikan semua unsur-unsur pendapatan

(9)

2. Realisasi pendapatan asli daerah (PAD) cenderung naik dengan rata-rata pertumbuhan

sebesar 12%. Beberapa unsur PAD menunjukan trend meningkat (pajak daerah, hasil

pengelolaan kekayaan daerah, lain-lain PAD yang sah), kecuali unsur hasil retribusi

daerah yang cenderung menurun dengan rata-rata penurunan sebesar -8%. Kenaikan

sebagian besar unsur PAD menggambarkan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi PAD

yang telah dilakukan, khususnya pajak daerah yang merupakan unsur yang dominan

memberikan kontribusi terhadap PAD. Hal ini juga dapat merupakan indikasi

tumbuhnya ekonomi daerah, karena meningkatnya pajak daerah berarti telah terjadi

peningkatan pendapatan dunia usaha di daerah.

3. Realisasi penerimaan dana perimbangan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan

sebesar 4%. Kenaikan ini karena pengaruh unsur dana bagi hasil pajak/dan bukan pajak

dan DAK yang cenderung meningkat. Sedangkan unsur lainnya, yaitu DAU terjadi

penurunan rata-rata sebesar -15%. Kenaikan dana bagi hasil pajak/dan bukan pajak

menggambarkan meningkatnya pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat dan

meningkatnya pendapatan dari ekplorasi/eksploitasi SDA yang dibagihasilkan kepada

daerah. Disisi lain, menurunnya DAU disebabkan oleh adanya pelaksanaan formula

DAU secara murni oleh Pemerintah Pusat, sehingga mendapatkan DAU yang semakin

kecil karena secara menyeluruh mempunyai kapasitas fiskal yang cenderung lebih besar

dari kebutuhan fiskalnya.

Tabel 9.2 Perkembangan Belanja Daerah dalam 5 Tahun Terakhir (dalam Juta Rupiah)

URAIAN 2010 2011 2012 2013 2014*

Rata-rata Pertumbuhan

(%) BELANJA TIDAK

LANGSUNG 184.433 207.416 213.627 237.699 83.419 9%

Belanja Pegawai 109.200 132.488 155.408 156.727 63.386 13%

Belanja Hibah 4.000 14.139 19.183 36.634 11.540 108%

Belanja Bantuan Sosial 21.797 12.243 5.051 4.558 - -40%

Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi / Kabupaten / kota dan Pemerintahan Desa

47.373 46.913 33.599 39.779 2.492 -6%

Belanja Tidak Terduga 2.061 1.631 383 - 6.000 42%

BELANJA LANGSUNG 473.452 567.269 825.248 892.185 128.714 23%

Belanja Pegawai 26.399 23.412 23.659 34.233 1.786 9%

Belanja Barang dan Jasa 152.945 162.969 174.589 224.498 50.174 14%

Belanja Modal 294.107 380.887 626.999 633.454 76.753 29%

(10)

Analisis terhadap pertumbuhan realisasi belanja selama tahun anggaran 2010 -2014 dapat

dijelaskan sebagai berikut:

1) Rata-rata pertumbuhan realisasi total belanja daerah selama 5 tahun yaitu sebesar 20%.

Peningkatan belanja daerah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan daerah.

2) Realisasi Belanja tidak langsung cenderung meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata

pertumbuhan sebesar 9 %. Hal ini disebabkan meningkatnya unsur belanja pegawai, belanja

hibah walaupun belanja bantuan sosial dan belanja bantuan keuangan mengalami

penurunan. Dengan pertumbuhan ini, sangat wajar terjadi karena perkembangan

pemerintah Kabupaten Tana Tidung sebagai daerah otonomi baru yang masih banyak

mengalami perkembangan dalam belanja aparatur dan bantuan keuangan ke desa.

3) Persentase realisasi belanja langsung cenderung meningkat karena kenaikan unsur belanja

barang dan jasa, belanja pegawai, dan belanja modal.

4) Terjadinya kenaikan porsi realisasi belanja langsung menggambarkan bahwa semakin

besarnya porsi penggunaan anggaran pembangunan untuk kepentingan pelayanan kepada

masyarakat.

Tabel 9.3 Perkembangan Pembiayaan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir

URAIAN 2010 2011 2012 2013 2014*

Rata-rata Pertumbuhan

(%)

PENERIMAAN PEMBIAYAAN

DAERAH 239.541.639 432.955.235 687.901.510 803.729.902 - 49%

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya

239.541.639 432.955.235 687.901.510 803.729.902 - 49%

PENGELUARAN PEMBIAYAAN

DAERAH 20.100.000 - 30.000.000 2.285.400 20.000.000 -51%

Penyertaan Modal (Investasi)

Pemerintah Daerah 20.100.000 - 30.000.000 - 20.000.000 -100%

Pembayaran Pokok Utang 2.285.400

PEMBIAYAAN NETTO 219.441.639 432.955.235 657.901.510 801.444.502 * 53%

Analisis terhadap pertumbuhan pembiayaan daerah selama tahun anggaran 2010 -2014

dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Rata-rata pertumbuhan pembiayaan daerah selama 5 tahun yaitu sebesar 53%, hal ini

dipengaruhi oleh unsur penerimaan pembiayaan yang cenderung naik dan tinggi,

(11)

2. Pertumbuhan penerimaan pembiayaan daerah cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Hal ini disebabkan unsur sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya dengan

rata-rata pertumbuhan tiap tahun naik sebesar 49 %. Tentu angka ini cukup sangat besar

mengingat berarti kemampuan penyerapan anggaran dalam penyelenggaraan

pemerintahan sangat kecil.

3. Anggaran pengeluaran pembiayaan dalam penyertaan modal tiap tahunnya mengalami

fluktuatif seiring dengan kemampuan daerah.

9.3 PROFIL INVESTASI PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA

9.3.1. Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber Dari APBN dalam 4 tahun Terakhir

Pembangunan infratruktur permukiman merupakan tanggung jawab Pemda dan Ditjen

Cipta Karya dalam melakukan pembangunan infrastruktur sebagai stimulan kepada

daerah agar dapat memenuhi SPM. Setiap sektor yang ada di lingkungan Ditjen

Cipta Karya menyalurkan dana ke daerah melalui Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT)

sesuai dengan peraturan yang berlaku (PermenPU No. 14 Tahun 2011).

Data dana yang dialokasikan di Kabupaten Tana Tidung perlu dianalisis untuk melihat trend alokasi anggaran Ditjen Cipta Karya dan realisasinya di daerah tersebut.

Tabel 9.4. Pendanaan Bidang Cipta Karya 2011-2015 Kab. Tana Tidung

Tahun Kegiatan

APBN

RM PHLN

2011

BANKIM

PBL

PLP

AM

TOTAL

2012

BANKIM

PBL

PLP

AM

TOTAL

2013

BANKIM

PBL

PLP

AM

TOTAL

(12)

PBL

PLP

AM

TOTAL

2015

BANKIM

PBL

PLP

AM

TOTAL

Sumber : Profil Cipta Karya Kab. Tana Tidung 2014

Selama lima tahun terakhir, Kabupaten Tana Tidung belum pernah mendapatkan bantuan

dana APBN dalam bidang cipta karya khususnya di sector air minum, PLP, permukiman

dan PBL,di samping APBN yang disalurkan Ditjen Cipta Karya kepada SNVT di daerah,

untuk mendukung pendanaan pembangunan infrastruktur permukiman juga dilakukan

melalui penganggaran Dana Alokasi Khusus. DAK merupakan dana APBN yang

dialokasikan ke daerah tertentu dengan tujuan mendanai kegiatan khusus yang

merupakan urusan daerah sesuai prioritas nasional.

Prioritas nasional yang terkait dengan sektor Cipta Karya adalah pembangunan air minum

dan sanitasi. DAK Air Minum digunakan untuk memberikan akses pelayanan sistem

penyediaan air minum kepada masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan kumuh

perkotaan dan di perdesaan termasuk daerah pesisir dan permukiman nelayan. Sedangkan

DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah,

persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan

rendah di perkotaan dan perdesaan termasuk daerah pesisir dan permukiman

nelayan.Sedangkan DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasi

(air limbah, persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat

berpenghasilan rendah di perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan

masyarakat. Besar DAK ditentukan oleh Kementerian Keuangan berdasarkan Kriteria

Umum, Kriteria Khusus dan Kriteria Teknis. Dana DAK ini perlu dilihat alokasi dalam 5

tahun terakhir sehingga bisa dianalisis perkembangannya.

Tabel 9.5.

Perkembangan DAK Infrastruktur Cipta Karya di Kab. Tana Tidung 5 Tahun Terakhir

(Dalam ribuan rupiah)

Jenis DAK 2011 2012 2013 2014 2015

(13)

DAK Sanitasi

Jumlah

9.3.2. Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber dari APBD dalam 5 Tahun Terakhir

Proporsi belanja pembangunan Cipta Karya terhadap total belanja daerah dalam 5

tahun terakhir disajikan dalam tabel dibawah ini.

Tabel 9.6

Perkembangan Alokasi APBD Kab. Tana Tidung untuk Pembangunan Bidang Cipta Karya dalam 5 Tahun Terakhir

Dalam ribuan rupiah

Sektor

Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015

Alokasi APBD % Alokasi APBD % Alokasi APBD % Alokasi APBD % Alokasi APBD %

APBD I

AM

PLP

Bangkim

PBL

Total Belanja APBD I Bid, CK

Total Belanja APBD I

Pengembangan Air Minum

Pengembangan PPLP

Pengembangan Permukiman

Penataan Bangunan dan Lingkungan

Total Belanja APBD Bidang Cipta Karya

Total Belanja APBD

9.3.3. Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber Perusahaan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir

Proporsi belanja pembangunan Cipta Karya terhadap total belanja Perusda dalam 5

(14)

Dalam ribuan rupiah

Sektor

Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015

Alokasi % Alokasi % Alokasi % Alokasi % Alokasi %

AM

PLP

Bangkim

PBL

Total Belanja

Pengembangan Air Minum

Pengembangan PPLP

Pengembangan Permukiman

Penataan Bangunan dan Lingkungan

Total Belanja Bidang Cipta Karya

9.3.4. Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber dari Swasta dalam 5 Tahun Terakhir

Proporsi belanja pembangunan Cipta Karya terhadap total belanja Swasta dalam

5 tahun terakhir disajikan dalam tabel dibawah ini.

Dalam ribuan rupiah

Sektor

Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015

Alokasi % Alokasi APBD % Alokasi % Alokasi % Alokasi %

AM

PLP

Bangkim

PBL

Total Belanja

Pengembangan Air Minum

Pengembangan PPLP

(15)

Selain itu, pemerintah daerah juga didorong untuk mengalokasikan Dana Daerah untuk

Urusan Bersama (DDUB) sebagai dana pendamping kegiatan APBN di Kab. Tana Tidung.

DDUB ini menunjukan besaran komitmen pemerintah daerah dalam melakukan

pembangunan bidang Cipta Karya. Oleh sebab itu, perkembangan besaran DDUB dalam

5 tahun terakhir untuk melihat komitmen pemerintah daerah.

Perkembangan DDUB dapat dijabarkan dalam tabel berikut.

Tabel 9.7.Perkembangan DDUB dalam 4 Tahun Terakhir

Sekt or

2011 2012 2013 2014 2015

Alokasi APBN

DD UB

Alokasi APBN

DD UB

Alokasi APBN

DD UB

Alokasi APBN

DD UB

Alokasi APBN

DD UB

Pengembangan Air Minum

Pengembangan PPLP

Pengembangan Permukiman

Penataan Bangunan & Lingkungan

Total

9.4 PROYEKSI DAN RENCANA INVESTASI PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA

Untuk melihat kemampuan keuangan daerah dalam melaksanakan pembangunan bidang Cipta

Karya dalam lima tahun ke depan (sesuai jangka waktu RPI2-JM) maka dibutuhkan analisis

proyeksi perkembangan APBD, rencana investasi perusahaan daerah, dan rencana kerjasama

pemerintah dan swasta. Namun berhubung di Kabupaten Tana Tidung belum ada kerjasama

pemerintah-swasta dan memiliki perusahaan daerah yang tidak sehat, maka analisis proyeksi

yang dilakukan hanyalah terhadap perkembangan APBD.

Permukiman

Penataan Bangunan dan Lingkungan

(16)

9.4.1 Proyeksi APBD 5 tahun ke depan

Proyeksi APBD dalam lima tahun ke depan dilakukan dengan melakukan perhitungan

regresi terhadap kecenderungan APBD dalam lima tahun terakhir menggunakanasumsi atas dasar

trend historis. Setelah diketahui pendapatan dan belanja makadiperkirakan alokasi APBD

terhadap bidang Cipta Karya dalam lima tahun ke depan dengan asumsi proporsinya sama

dengan rata-rata proporsi tahun-tahun sebelumnya.

Adapun langkah-langkah proyeksi APBD ke depan adalah sebagai berikut sebagaiberikut:

1. Menentukan presentase pertumbuhan per pos pendapatan Setiap pos pendapatan

dihitung rata-rata pertumbuhannya dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan: Y0 = Nilai tahun ini

Y-1 = Nilai 1 tahun sebelumnya

Y-2 = Nilai 2 tahun sebelumnya

Dalam menentukan presentase pertumbuhan dihitung setiap pos pendapatan yang terdiri

dari PAD, Dana Perimbangan (DAU, DAK, DBH), dan Lain-lain pendapatan yang sah.

2. Menghitung proyeksi sumber pendapatan dalam 5 tahun ke depan Setelah diketahui

tingkat pertumbuhan pos pendapatan maka dapat dihitung nilai proyeksi pada 5 tahun

ke depan dengan menggunakan rumus proyeksi geometris sebagai berikut:

Keterangan: Yn = Nilai pada tahun n r = % pertumbuhan

Y0 = Nilai pada tahun ini n = tahun ke n (1-5)

3. Menjumlahkan Pendapatan dalam APBD tiap tahun dan menghitung kapasitas daerah

dalam pendanaan pembangunan bidang Cipta Karya.

Setelah didapatkan nilai untuk setiap pos pendapatan, dapat dihitung total pendapatan.

Apabila diasumsikan bahwa total pendapatan sama dengan total belanja dan diasumsikan

pula bahwa proporsi belanja bidang Cipta Karya terhadap APBD sama dengan eksisting

(Tabel 7.6) maka dapat diketahui proyeksi kapasitas daerah dalam mengalokasikan

anggaran untuk bidang Cipta Karya dalam lima tahun ke depan.

(17)

Tabel 9.8 Proyeksi Pendapatan APBD dalam 5 Tahun ke Depan

Sumber : Analisis data, 2014

9.4.2 Rencana Pembiayaan Daerah

Rencana pendanaan dijabarkan dari ketersediaan dana masing-masing daerah. Ketersediaan dana

dihitung dari besarnya public saving yang dihitung sebelumnya. Besarnya public saving yang telah

(18)

dihitung adalah proyeksi jumlah dana yang tersedia untuk untuk semua proyek pemerintah

daerah kabupaten dan kota. Dari perhitung tersebut dilakukan perhitungan untuk proyek-proyek

Pekerjaan Umum dan secara khusus untuk proyek-proyek Keciptakaryaan. Data proporsi

program ciptakarya umumnya tidak tersedia untuk kabupaten/ kota sehingga dalam perhitungan

dilakukan perhitungan melalui proporsi belanja program ciptakarya di pemerintah provinsi.

Ini bermakna jumlah-jumlah dana tersebut diproyeksikan dapat digunakan untuk pembelanjaan

untuk pengoperasian dan pemeliharaan prasarana yang telah terbangun, pembelanjaan untuk

rehabilitasi dan peningkatan prasarana yang telah ada dan pembelanjaan untuk pembangunan

prasarana baru.

Untuk menghitung dana yang tersedia untuk kegiatan Cipta Karya mata tabel tersebut harus

disesuaikan dengan tren belanja Cipta Karya. Dengan asumsi Belanja kegiatan keciptakaryaan

sebesar ...% dari belanja pekerjaan Umum, maka tabel berikut dapat digunakan sebagai acuan

dalam memprediksi pendanaannya.

Untuk menentukan besarnya dana yang digunakan untuk program-program kegiatan daerah baik

yang didanai sendiri atau didanai oleh pemerintahan atau pemerintah provinsi harus disesuaikan

dengan kesepatakan daerah sendiri dan kesesuaian dengan Peraturan Pemerintah nomor 38

tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah

Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

Dengan kondisi tersebut terlihat bahwa beban pembiayaan program Cipta Karya dengan realisasi

belanja langsung yang paling besar terkonsentrasi pada pembiayaan program pada tahun 2008

yang mencapai ...% sedangkan beban pembiayaan program Cipta Karya dengan realisasi

belanja langsung yang paling rendah atau berkurang yakni terlihat pada 3 tahun terakhir

khususnya pada tahun proyeksi 2014 yakni sebesar ...%. Untuk lebih jelasnya pembiayaan

program Cipta Karya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 9.9.

Proyeksi Pendanaan Program-program Kegiatan Bidang Cipta Karya (Rp. Juta)

Pemerintah 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Kabupaten Tana Tidung

(19)

9.4.3 Rencana Kerjasama Pemerintah dan Swasta Bidang Cipta Karya 5 Tahun ke depan

Rencana pendanaan kerjasama dengan pihak swasta dalam pembangunan pada Bidang Cipta

Karya untuk saat ini belum ada.

9.5 ANALISIS TINGKAT KETERSEDIAAN DANA DAN STRATEGI PENINGKATAN INVESTASI PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA

Sebagai kesimpulan dari analisis aspek pembiayaan, dilakukan analisis tingkat ketersediaan dana

yang ada untuk pembangunan bidang infrastruktur Cipta Karya yang meliputi sumber

pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan daerah, serta dunia usaha dan masyarakat.

Kemudian, dirumuskan strategi peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya dengan

mendorong pemanfaatan pendanaan dari berbagai sumber.

9.5.1 Analisis Kemampuan Keuangan Daerah

Formulasi kebijakan dalam mendukung pengelolaan anggaran pendapatan daerah akan lebih

difokuskan pada upaya untuk mobilisasi pendapatan asli daerah. Kebijakan pendapatan daerah

diperkirakan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 6,25%.

Pertumbuhan komponen pajak daerah retribusi daerah dan hasil perusahaan daerah akan

menjadi faktor yang penting dalam mendorong pertumbuhan PAD nanti. Sedangkan untuk dana

perimbangan komponen bagi Hasil Pajak dari bagi Hasil Bukan Pajak serta Bantuan Propinsi

adalah dua unsur yang penting dalam mendorong pertumbuhan Dana Perimbangan yang akan

diperoleh nantinya.

Ditinjau dari komposisi Pendapatan Daerah trend kenaikan peranan PAD dan trend penurunan

dari peranan Dana Perimbangan sampai dengan 2014 diperkirakan akan terus berlangsung

meskipun dalam kaitan tersebut dominasi peranan dana perimbangan dalam membentuk total

perolehan Pendapatan Daerah akan tetap diatas peranan PAD.

Terdapat beberapa hal yang cukup penting terkait dengan prospek keuangan daerah kedepan

antara lain adalah :

1. Perkembangan penerimaan yang berasal dari dana perimbangan diperkirakan akan terus

meningkat. Sumber utama dana perimbangan berasal dari bagi hasil pajak dan bukan pajak

sumberdaya alam. Besarnya bagi hasil pajak dan bukan pajak sumberdaya dalam

memberikan kontribusi sebesar 23,24 % terhadap penerimaan dana perimbangan dan

(20)

2. Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tana Tidung, yang terdiri dari pajak daerah, retribusi

daerah, penerimaan dinas-dinas, bagian laba BUMD, dan penerimaan lain-lain, selama

kurun waktu tahun 2007-2011 diperkirakan tetap mengalami peningkatan. Peningkatan

penerimaan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan pajak daerah yang merupakan 20%

dari total penerimaan PAD. Sumber-sumber penerimaan pajak daerah di Kabupaten Tana

Tidung meliputi pajak hotel dan restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak pengambilan

dan pengolehan bahan galian golongan C serta pajak pemanfaatan air bawah tanah dan air

permukaan. Dari beberapa sumber tersebut, memberikan kontribusi terhadap penerimaan

pajak daerah yaitu 20% tahun 2013.

3. Upaya ekstensifikasi pajak tidak cukup hanya mengandalkan kondisi sarana dan prasaran

kota saat ini. Untuk itu, kedepan prioritas pembangunan kota harus benar-benar fokus

pada sektor-sektor yang mampu menarik investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi

kota dalam upaya untuk meningkatkan daya beli masyarakat yang dalam ini tentunya harus

dilakukan dengan tanpa mengesampingkan konsistensi dalam menekan ketimbangan

pendapatan masyarakat sebagai bentuk upaya untuk menekan angka kemiskina, serta tetap

memperhatikan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan masyarakat Kabupaten Tana

Tidung.

Secara teoritis, pendapatan daerah akan sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian daerah

atau dengan kata lain, bahwa perkembangan ekonomi harus berkorelasi positif dengan

pendapatan daerah.

Perkembangan kondisi perekonomian dapat ditunjukan dengan pertumbuhan ekonomi yang

diukur melalui PDRB. Khusus untuk Kabupaten Tana Tidung struktur PDRB didominasi oleh

pertanian yaitu 42,71 %.. Dengan demikian angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tana

Tidung sangat ditentukan oleh hasil pertanian.

Tabel 9.10

Proyeksi Pendanaan Program Pekerjaaan Umum (Rp. Juta)

Uraian Belanja 2011 2012 2013 2014 2015

Belanja Langsung PU

Belanja Langsung CK

(21)

9.5.2 Strategi Peningkatan Investasi Bidang Cipta Karya

Dalam rangka percepatan pembangunan bidang Cipta Karya di daerah dan untuk memenuhi

kebutuhan pendaanan dalam melaksanakan usulan program yang ada dalam RPI2-JM, maka

Pemerintah Daerah menyusun strategi untuk meningkatkan pendanaan bagi pembangunan

infrastruktur permukiman.

S a t g a s R P I 2 - J M D a erah merumuskan strategi peningkatan investasi pembangunan

infrastruktur bidang Cipta Karya, sebagai berikut :

1. Strategi peningkatan DDUB oleh kabupaten/kota dan provinsi;

2. Strategi peningkatan penerimaan daerah dan efisiensi pengunaan anggaran;

3. Strategi peningkatan kinerja keuangan perusahaan daerah;

4. Strategi peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pembiayaan pembangunan

bidang Cipta Karya;

5. Strategi pendanaan untuk operasi, pemeliharaan dan rehabiltasi infrastruktur permukiman

yang sudah ada;

6. Strategi pengembangan infrastruktur skala regional.

APBD merupakan sumber pendanaan utama dalam pembangunan dan pengembangan

infrastruktur di Kabupaten Tana Tidung. Secara umum APBD merupakan penerimaan daerah

dalam pelaksanaan desentralisasi yang terdiri dari Pendapatan Daerah, Belanja, dan Pembiayaan.

Berdasarkan kondisi dan kecenderungan pengalokasian anggaran, maka diperlukan strategi dalam

Pengoptimalan penggunaan APBD dengan menetapkan kebutuhan program pembangunan dan

pengembangan infrasrtuktur Kabupaten Tana Tidung dengan mengintegrasikan langkah-langkah

pembangunan infrastruktur di Kabupaten Tana Tidung yang ditetapkan berdasarkan target-target

pembangunan infrastruktur sebagaimana telah ditetapkan didalam RPJMD, RPJMN, SPM,

Gambar

Tabel 9.1 Perkembangan Pendapatan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir (dalam Ribu Rupiah)
Tabel 9.2 Perkembangan Belanja Daerah dalam 5 Tahun Terakhir (dalam Juta Rupiah)
Tabel 9.3 Perkembangan Pembiayaan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir
Tabel 9.4.  Pendanaan Bidang Cipta Karya 2011-2015 Kab. Tana Tidung
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui penerapan metode planted question untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pelajaran Fiqih di. MTs N 2 Kudus tahun

Dua poin ini dipilih karena apabila kabel Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) sudah terpelihara dan tidak ada pencurian terhadap peralatan sistem jaringan maka sistem

This research was aimed at finding out the correlation between Indonesian passive voice mastery and English passive voice mastery of the third semester of English

Dalam penilaian tingkat kesehatan bank umum berdasarkan prinsip syariah yang disempurnakan ini telah diakomodasi pengakuan terhadap karakteristik operasional masing-masing bank,

Kandungan zat bioaktif (tanin, saponin, flavonoid, kurkumin dan minyak astiri) yang terdapat dalam bahan herbal pada perlakuan belum memberikan pengaruh terhadap

MUHAMMAD NADHIF ILYASA NABILA PUTRI LISANDRINA NABILAH

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran

Tetapi, bila koordinat dari suatu vektor disajikan sebagai baris atau kolom dalam suatu matriks, maka secara esensi penyajian bergantung pada urutan vektor-vektor basis. Begitu