• Tidak ada hasil yang ditemukan

D ia ju k a n u n tu k M em p ero leh G ela r S arjan a P en d id ik a n Islam (S .P d .I)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "D ia ju k a n u n tu k M em p ero leh G ela r S arjan a P en d id ik a n Islam (S .P d .I)"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK JIGSAW DI MI KENTENG KEC. SUSUKAN

KAB. SEMARANG

SKRIPSI

D ia ju k a n u n tu k M em p ero leh G ela r S arjan a P en d id ik a n Islam (S .P d .I)

N U R A L IM A H N IM . 11407007

J U R U S A N T A R B IY A H

P R O G R A M S T U D I P E N D ID IK A N A G A M A IS L A M S E K O L A H T IN G G I A G A M A IS L A M N E G E R I

(2)

W ebsite : www .stainsalatiga.ac.id E -m a il: [email protected]

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi saudari : NUR ALIMAH dengan Nomor Induk Mahasiswa : 11407007

yang berjudul : "PENINGKATAN HASIL BELAJAR AL QUR’AN HADITS MELALUI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIG SA W

DI MI KENTENG KEC. SUSUKAN KAB. SEMARANG". Telah dimunaqasahkan dalam sidang panitia ujian Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi

Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga pada hari: Sabtu, 29 Agustus 2009 M

yang bertepatan dengan tanggal 8 Ramadhan 1430 H dan telah diterima sebagai bagian syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd. I).

29 Agustus 2008 M Salatiga,

---8 Ramadhan 1430 H

Panitia Ujian

Moh Khusen, M. Ag.. M. A. Dra. Ulfah Susilowati, M.Si.

NfP. 19741212 199903 1 003 NIP. 19660407 199403 2 001

Pembimbing

Prof. Dr. H. MUH. ZUHRL M.A

NIP. 19530326 197803 1 001

(3)

n o t a p e m b i m b i n g

Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan

sepelunya, maka skripsi saudari:

PENINGKATAN HASIL BELAJAR AL QUR’AN HADITS M ELALUI PENDEKATAN COOPERATIF LEARNING TEKNIK JIGSAW DI MI KENTENG KEC. SUSUKAN KAB. SEMARANG

Sudah dapat diajukan pada sidang munaqosyah.

Demikian surat ini dibuat, harap menjadikan perhatian dan digunakan

(4)

N am a : N ur Alimah

NIM : 11407007

Jurusan : Tarbiyah

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya

sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang

terdapat dalam skripsi ini dikutip dan dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Salatiga, Juli 2009

Yang menyatakan,

(5)

W ebsite : w ww .stainsalatiga.ac.id E -m a il: [email protected]

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi saudari : NUR ALIMAH dengan Nomor Induk Mahasiswa : 11407007

yang berjudul : "PENINGKATAN HASIL BELAJAR AL QUR’AN HADITS MELALUI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIG S A W

DI MI KENTENG K E C. SUSUKAN KAB. SEMARANG". Telah dimunaqasahkan dalam sidang panitia ujian Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi

Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga pada hari: Sabtu, 29 Agustus 2009 M

yang bertepatan dengan tanggal 8 Ramadhan 1430 H dan telah diterima sebagai bagian syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd. I).

29 Agustus 2008 M Salatiga,

---8 Ramadhan 1430 H

Panitia Ujian

Prof. Dr. H. MUH. ZUHRL M.A

NIP. 19530326 197803 1 001

(6)

Cooperative Learning Teknik Jigsaw D i M I K enteng Kec. Susukan Kab.

Semarang. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Sekolah Tinggi Agama Islam Negei Salatiga. Pembimbing: Prof. Dr. H. Muh.

Zuhri, MA

Kata kunci: hasil belajar dan cooperative learning teknik jigsaw

Penelitian ini merupakan upaya untuk mengembangkan model pembelajaran yang

reatif baru bagi pengajaran pelajaran Al Qur’an Hadits di Madrasah Ibtidaiysh.

Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah (1) Apakah metode

pembelajaran cooperative learning teknik jig sa w mampu meningkatkan keaktifan belajar

Al Qur’an Hadits siswa MI Kenteng Kec. Susukan Kab. Semarang? (2) Apakah metode

pembelajaran cooperative learning teknik jig sa w mampu meningkatkan iiusa

Q ur'an Hadits siswa Ml Kenteng Kec. Susukan Kab. Semarang?.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Q > Metuuc pam--. .

mampu meningkatkan kcaktiian belajar Ai Q ur'an Iiacnts s j s v w

M l Kenteng Kec. Susukan Kab. Semarang u ; M ctoac pemoviajami

tcKiiui jig sa w mampu m e m u la ik a n nasu oeiajar Ai Qur an Hauns siswa ivii Kenteng

(7)

Alhamdulillahi robbil 'alaamin, kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan baik dan lancar tanpa halanagan suatu apapun. Shalawat serta salam semoga

selelu tercurahkan kepada junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang

telah membawa Nur Illahi yang menyinari segenap alam dan yang semoga kita

tergolong ummatnya yang akan mendapatkan syafaatnya besuk di hari qiyamah. Amin

AHahumma Amin.

Dalam penyelesaian skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan,

bimbingan dan pengerahan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal tersebut

penulis hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih, dan dengan iringan doa

semoga amal baik yang telah diberikan, mendapat pahala disisi Allah SWT.

Untuk itu penulis ucapkan banyak terima kasih kepada Yth:

1. Bapak Imam Sutomo selaku Ketua STAIN Salatiga.

2. Bapak Prof. Dr. Muh. Zuhri, M.A selaku pembimbing yang telah meluangkan

waktu, tenaga dan pikirannya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaannya

dalam memberikan bimbingan, pengarahan, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

3. Bapak Muh Maftah selaku Kepala Madrasah MI Kenteng kec. Susukan kab.

Semarang yang memberikan waktu kepada penulis, untuk melakukan

penelitian tindakan kelas guna menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Ibu guru MI Kenteng kec. Susukan kab. Semarang yang telah

memberikan semangat dan keijasamanya.

5. Bapak, Ibu dan segenap keluarga yang telah memberikan doa restunya kepada

(8)

kekurangan. Untuk itu sumbang saran dan kritik untuk terciptanya tulisan yang lebih

sempurna sangat penulis harapkan.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca

pada umumnya dan menjadi amal jariyah bagi penulis. Amiiin..

Salatiga, Juli 2009

<

Nur Alimah

(9)

Sampul...i

Lembar Berlogo...ii

Judul... iii

N ota Pembimbing... i v Pengesahan Kelulusan...v

Pernyataan Keaslian Tulisan...vi

Motto dan Persembahan... vii

Kata Pengantar...viii

Abstrak... ix

Daftar Isi...x

Daftar Tabel... xi

Daftar Lampiran... xii

BAB PEN D A H U LU A N A. Latar Belakang M asalah...1

B. Rumusan M asalah... 3

C. Tujuan Penelitian... 4

D. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan... 4

E. Kegunaan Penelitian... 5

F. Definisi Operasional...6

G. Metode Penelitian... 10

(10)

B. Metode Pembelajaran Cooperative Leam ig Teknik Jigsaw... 33

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Deskripsi Pelaksanaan Siklus 1... 45

B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus II... 47

C. Deskripsi Pelaksanaan Siklus III...50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Per Siklus... 52

B. Pembahasan... 68

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan... 74

B. Saran- S aran ...74

C. Penutup...75

Daftar Pustaka

Lampiran-Lampiran

(11)

Tabel 3.1

D&ftar nama siswa kelas 5 MI Kenteng Kec. Susukan Kab. Semarang tahun ajaran

2008/2009

Tabel 4.1

Hasil Nilai Pengamatan Siklus I

Tabel 4.2

Hasil Penilaian terhadap Keaktifan siswa Siklus I

Tabel 4.3

Analisis Ulangan Harian Siklus I

Tabel 4.4

Hasil Nilai Pengamatan Siklus II

Tabel 4.5

Hasil Penilaian terhadap keaktifan siswa Siklus II

Tabel 4.6

Analisis Ulangan Harian Siklus II

Tabel 4.7

Hasil Nilai Pengamatan Siklus III

Tabel 4.8

Hasil penilaian terhadap keaktifan siswa Siklus III

Tabel 4.9

(12)

Tabel 4.11

Rekap Efektivitas Kelompok

Tabel 4.12

(13)

LAMPIRAN 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS I DAN II

LAMPIRAN 2

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS III

LAMPIRAN 3

LEMBAR TUGAS SIKLUS I

LAMPIRAN 4

LEMBAR TUGAS SIKLUS II

LAMPIRAN 5

(14)

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat

dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang

berlangsung di sekolah dn di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan

peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup

secara tepat di masa yang akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-

pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan tormai dan non tormai,

oan inrormai oi sekoiah, dan di iuar sekolah, yang berlangsung seumur hidup

yang bertujuan opiimaiisasi pertimbanagan kemampuan-kemampuan individu,

ugar u; Kcmuuian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepai.

: ntuk mencapai tujuan tersebut, banyak pihak menggantungkan

— ^ .i...:j-'.i. -z•:capaiaamu beraoa di pundak guru sebagai pendidik. Hal ini tentu

m e ia k s n n rcsanatum tugas mumi terseout dengan

. ... i wrmasuk ui uaiamnya aaaian penaiaik atau guru agama.

salah satu pelajaran yang sangai penung uaiam pendidikan agama

n aaau*a mata peiakaran aiquran naans. Mengingat ai quran dan hadits

upaKan -aua sumner nuKum uiuma oagi umai isiam. Penguasaan materi

mi menjaai sangai mutlak dibutuhkan mengingat akan sangai

enu-kan sag; perilaku keagamaan anak didik selanjutnya.

. . n ... usana guru >auu uengan melalui pemilihan metode yang

.. remoeiajaran aengan metoae yang benar oeram membantu guru agar

(15)

tercapai peningkatan evektivitas dalam mengelola kelas. Metode yang tepat

akan sangat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran dengan lebih baik

sehingga hasil belajar yang diharapkan juga akan lebih baik pula.

Dengan demikian dalam penggunaan metode yang menarik dalam

pelajaran al qur’an hadits diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar

siswa, sebab ada variasi yang menarik bagi siswa, dan tidak monoton.

Disamping itu dapat untuk menghilangkan kesan abstrak atau melalui hafalan

yang tidak praktis dan ini sesuai dengan kurikulum saat ini, yaitu KTSP

(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Selama ini metode yang banyak dipakai oleh guru mapel al qur'an hadits

adalah methode ceramah, hafalan dan sedikit diskusi. Hal ini tentu sangat

membosankan dan melelahkan bagi anak didik khususnya siswa MI.

Sebenarnya dalam konteks Kurikulum Berbasis Komptensi (KBK), mengajar

tidak hanya diartikan sebagai proses penyampaian ilmu pengetahuan kepada

siswa, yang menempatkan siswa sebagai objek belajar dan guru sebagai subjek,

akan tetapi mengajar harus dipandang sebagai proses pengaturan

-agar siswa beiajar. Yang dimaksud belajar itu sendiri bukan hanya sekedn*

menumpuk pengetahuan akan tetapi merupakan proses perubaz?;t:

meiaiui pengalaman Deiajar sehingga diharapkan terjaai pengemoangan

berbagai aspek yang terdapat daiam individu, seperu aspek minat. a

kemampuan, potensi dan lain sebagainya’.

Faktor kekurang tepatan dalam memilih metode pemoc aja

sering dijumpai di tapangan yang ditengarai aengan masin aaanya guru yang

Wina Sanjava. Pembelajaran Dalam Implementasi kurikulum Berbasis kn/np-ju

(16)

hanya terpaku menggunakan satu atau dua metode mengajar secara terus

menerus saja tanpa pernah memodifikasinya atau menggantikannya dengan

metode lain walaupun tujuan pembelajaran yang hendak dicapai berbeda.

Akibatnya, pencapaian tujuan pembelajaran oleh para siswa tidak optimal.

Metode yang jarang dicoba dalam menyampaikan materi al qur'an hadits

alah methode kooperatif learning atau belajar kelompok khususnya teknik

Jigsaw dimana anak akan belajar secara berkelompok dan mandiri memahami

materi dan menyelesaikan masalah. Metode ini pernah dicoba dalam mata

pelajaran Matematika dan IPA hasilnya cukup memuaskan. Hanya untuk

pelajaran al qur'an hadits belum pernah dicoba.

Untuk itulah penulis tertarik untuk melakukan penelitian

“PENINGKATAN HASIL BELAJAR AL QUR’AN HADITS MELALUI

PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW DI MI

KENTENG KEC. SUSUKAN KAB. SEMARANG”

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakan di atas maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai

berikut:

1. Apakah penerapan penggunaan metode cooperatitive learning teknik

jigsaw dapat meningkatkan aktifitas belajar pada pelajaran al qur’an hadits

MI Kenteng kec. Susukan Kabupaten Semarang ?

2. Apakah penerapan penggunaan metode cooperative learning teknik jigsaw

dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran al qur’an hadits Ml

(17)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk apakah mengetahui penggunaan metode cooperative learning

teknik jigsaw dapat meningkatkan aktifitas belajar pada pelajaran Al

Qur’an Hadits MI Kenteng kec. Susukan Kabupaten Semarang?

2. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode cooperative learning

teknik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran Al Qur’an

Hadits MI Kenteng kec. Susukan Kabupaten Semarang?

D. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan

Hipotesis adalah “suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap

permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul”2.

1. Penerapan penggunaan metode cooperative learning teknik jigsaw dapat

meningkatkan aktifitas belajar pada pelajaran Al Qur’an Hadits MI

Kenteng Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang.

2. Penerapan penggunaan metode cooperative learning teknik jigsaw dapat

meningkatkan hasil belajar pada pelajaran Al Qur’an Hadits Ml Kenteng

Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang.

Adapun yang menjadi tolok ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas

ini adalah apabila hasil belajar Al Qur'an Hadits kelas V MI Kenteng Kec.

Susukan Kab. Semarang dalam menyelesaikan soal-soal hadits tentang ciri-ciri

orang munafik dan shatat berjamaah serta mampu mencapai nilai rata-rata

minimal 60, dan banyaknya siswa yang memperoleh nilai 60 ke atas minimal

75%.

(18)

E. Kegunaan Penelitian

1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang

metode pembelajaran cooperative learning teknik jigsaw

2. Sebagai salah satu strategi atau upaya meningkatkan prestasi belajar siswa

khususya pada mata pelajaran Al Qur’an Hadits.

3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran

yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.

4. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis.

5. Sumbangan pemikiran mengembangkan sistem kegiatan belajar mengajar

di sekolah.

F. Definisi Operasional

Agar tidak menyimpang dari pokok masalah yang menjadi inti dari judul

tersebut peneliti memberi batasan sebagai berikut

1. Peningkatan Hasil Belajar

Adapaun yang penulis dengan hasil belajar di sini tentu sangat erat

dengan hasil belajar mat apelajaran al Qur’an Hadits. Sering kali istilah ini

disebut juga prestasi belajar. Prestasi belajar adalah suatu rangkaian

pegertian yang terdiri dari rangkaian dua kata yaitu prestasi dan belajar.

Prestasi berasal dari kata belanda yaitu prestatie. Kemudian dalan bahasa

Indonesia menjadi prestasi yang berarti “ hasil usaha”.

Kata "peningkatan" berasal dari kata "tingkat" yang berarti

(19)

berarti usaha atau proses meningkatkan3. Sedangkan kata "hasil" berarti

sesuatu yang diadakan oleh suatu usaha4. Sedangkan kata "belajar" berasa!

dari kata "ajar" yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang untuk

diketahui. Sedangkan "belajar" berusaha memperoleh kepandaian atau

ilmu5.

Sedangkan Menurut W.J.S Poerwodarminto prestasi adalah hasil

yang telah di capai, di lakukan dikeijakan dan sebagainya6. Kata prestasi

banyak di gunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan, antara lain dalarn

kesenian, olah raga, dan pendidikan, khususnya pengajaran. Bahwa yang

dimaksud prestasi adalah kemampuan, ketrampilan, dan sikap seseorang

dalam menyelesaikan suatu hal. Dengan demikian yang penulis maksud

hasil belajar di sini adalah prestasi yang dicapai oleh anak didik setelah

mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas.

2. Pelajaran Al qur’an Hadits

Kata pelajaran berasal dari kata "ajar" yang telah dijelaskan di

awal. Sedangkan kata pelajaran sendiri berarti sesuatu yang dipelajari7.

Sedangkan al Qur'an adalah kitab suci umat Islam8. Dan hadits adalah

sabda atau perbuatan nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat untuk

menjelaskan atau menentukan hukum Islam9.

3 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994, hal. 1060.

4 Ibid., hal. 343. 5 Ibid., hal. 14

6 W.J.S Poerwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1983, hal. 108

7 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit.. hal. 15. 8 Ibid., hal. 805.

(20)

Pelajaran alqur’an hadits dalam kurikulum madrasah ibtidaiyyah

adalah salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

yang di arahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal,

memahami, menghayati dan mengamalkan kandingan al qur’an dan hadits

nabi, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way’ o f life)

melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman

dan pembiasaan.

Al Qur’an Hadits di madrasah ibtidaiyah bertujuan untuk

membekali peserta didik agar dapat:

a. Mengetahui dan memahami pokok keimanan islam secara terperinci

dan menyeluruh, baik berupa dalil Naqli dan Aqli. Pengetahuan dan

pemahaman tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam

keghidupan pribadi dan sosial.

b. Melaksanakan dan mengamalkan norma, etika dan akhlaq islam

dengan benar. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan

ketaatan menjalankan akhlaq islam, dengan disiplin dan tanggung

jawab social yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun

sosialnya10.

2. Cooperative learning teknik jigsaw

Cooperative Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran

yang mengutamakan siswa untuk saling bekerjasama satu dengan lainnya

untuk memahami dan mengeijakan segala tugas belajar mereka.

Pendekatan kooperatif digunakan oleh para pendidik dalam pembelajaran

(21)

di kelas dengan menciptakan situasi atau kondisi bagi kelompok untuk

mencapai tujuan masing-masing anggota atau kelompok mencapai tujuan

tergantung pada kerjasama yang kompak dan serasi dalam kelompok.

Cooperative Learning merupakan satu strategi pembelajaran yang

terbaik yang telah diteliti. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki

kesempatan untuk bekeija bersama-sama, belajar lebih cepat dan efisien,

memiliki daya ingat yang lebih besar dan mendapat pengalaman belajar

yang lebih positif. Pembelajaran kooperatif siswa belajar dan membentuk

pengalaman dan pengetahuannya sendiri secara bersama-sama dalam

kelompoknya11.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran

yang berdasarkan faham construktivis. Pembelajaran kooperatif

merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota

kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam

menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus

saling bekeija sama dan saling membantu untuk memahami materi

pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai

jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran

Namun dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas

cooperative learning dengan teknik jigsaw saja. Jigsaw adalah suatu

struktur multifungsi struktur kerjasama belajar. Jigsaw dapat digunakan

dalam beberapa hal untuk mencapai berbagai tujuan tetapi terutama

11 Bennet B Rollheiser.C, Cooperative Learning,

(22)

digunakan untuk persentasi dan mendapatkan materi baru, struktur ini

menciptakan saling ketergantungan.12

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan mode!

pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang

terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling

ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian

materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut

kepada anggota kelompok yang lain. Untuk lebih jelas perhatikan gambar

1.1 berikut.

Gambar 1.1 Diagram Pelaksanaan Cooperetive Learning Teknik

Jigsaw

G. Metode Penelitian 1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action

research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah

(23)

pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab

menggambarkan bagaimana suatu bentuk teknik pembelajaran diterapkan dan

bagaimana hasil yang diinginkan dapat tercapai.

PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan

pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai:

a. Alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi

pembelajaran di kelas;

b. Alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan

metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui

pengajaran sejawat;

c. Alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami)

pendekatan tambahan atau inovatif;

d. Alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru

dan peneliti;

e. Alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif,

impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas13.

Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian

tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang

menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang

pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung

diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan

sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan14.

13 Suwarsih Madya, Penelitian Tindakan Kelas,

(24)

Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang

ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang

dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang

menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan kelas’ atau PTK.

Menurut Suharsimi Arikunto berdasarkan tujuannya, penelitian tindakan

dibagi menjadi 4 yaitu:

a. Penelitian tindakan partisapatisi {participatory action research) yang

menekankan keterlibatan masyarakat agar merasa memiliki program

tersebut.

b. Penelitian tindakan kritis {critical action research) yang menekankan

adanya niat yang tinggi untuk memecahkan bertindak memecahkan

masalah kritis.

c. Penelitian tindakan institusi {institutional action research) yaitu yang

dilakukan pihak pengelola sekolah.

d. Penelitian tindakan kelas {classroom action research) yaitu penelitian

yang dilakukan oleh guru baik sendiri maupun bekeijasama dengan

peneliti lain14.

Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, di mana

guru sangat berpengaruh sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam

bentuk ini tujuan utama penelitian kelas ini ialah untuk meningkatkan praktik-

praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara

penuh dalam proses perencanaan tindakan, observasi dan refleksi. Kehadiran

14

(25)

pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil. Hal ini

bertujuan agar guru dapat:

a. Mengkaji/ meneliti sendiri praktek mengajarnya

b. Melakukan PTK tanpa mengganggu tugasnya

c. Mengkaji pemasalahan yang dialami

d. Mengembangkan profesionalismenya15.

Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan.

Kemmis dan Taggart menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk

spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan,

pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika

sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup

Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal

yang teijadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung dapat

dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan16. Ciri atau karakteristik utama dalam

penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi dengan anggota

kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang

memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang

dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya

pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama

lain.

Sedangkan tujuan penelitian tindakan kelas harus memenuhi beberapa

prinsip sebagai berikut:

(26)

a. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu benar-benar

nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam jangkauan

peneliti untuk melakukan perubahan.

b. Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak

boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.

c. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien artinya terpilih dengan

tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.

d. Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dan

tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap

penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.

e. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang

berkelanjutan (on-going) mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan

terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan

sepanjang waktu17.

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan maka

penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart,

yaitu berbentuk spiral dan siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap

siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan)

dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang

sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada sikius I

dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus

spiral dan tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 1.2

(27)

Gambar 1.2 Skema Tahap Penelitian Tindakan Kelas

Putaran 1

Refleksi -Jj Rencana g awal/ranconaan Tindakan/

Observasi

< y \

<

Refleksi P ‘1 Rencana yang

Tindakan/ Observasi

Refleksi

Tindakan/

Observasi

direvisi

Putaran 2

Putaran 2

Penjelalasan alur di atas adalah:

1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian menyusun rumusan

masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan termasuk di dalamnya

instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.

2. Kegiatan dan pengamatan meliputi timdakan yang dilakukan oleh peneliti

sebagai upaya membangun pemahaman konsepsi siswa serta mengamati hasil

atau dampak dan diterapkannya metode cooperative learning teknik jigsaw.

3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau

dampak dan tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang

(28)

4. Rancangan/rencana yang direvisi berdasarkan hasil refleksi dari pangamat

membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus

berikutnya19.

Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2, dan 3 dimana

masing-masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama)

dan membahas satu bab pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir

masing-masing putaran. Sikius ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai

dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

2. Subyek Penelitian

a. Tempat penelitian

Penelitian ini bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Kenteng kec. Susukan

Kabupaten Semarang.

b. Waktu penelitian

Penelitiatian ini penulis lakukan selama tiga minggu sejak akhir

Mei sampai awal Juni. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir semester

genap tahun pelajaran 2008/2008 selama 3 kali pertemuan yaitu antara

akhir Mei dan awal Juni 2009.

Untuk siklus I tanggal 23 Mei 2009 dan siklus II tanggal 30 Mei

2009 dan siklus III pada tanggal 6 Juni 2009.

c. Subyek penelitian

Subyek penelitian adalah siswa siswi kelas V Madrasah Ibtidaiyah

Kenteng kec. Susukan Kabupaten Semarang tahun pelajaran 2008/2009

sebanyak 20 siswa. Secara rinci dapat di lihat dalam tabel 3.1:

(29)

3. Langkah- Langkah

Dalam penelitian ini penulis mengikuti prosedur penilitian tindakan

kelas yang sudah baku. Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri 3 siklus .

Tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan

tindakan, pemantauan, evaluasi individu dan kelompok serta refleksi tindakan.,

analisis dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan19.

a. Perencanaan

1) Menyusun tujuan instruksional

2) Membuat skenario pembelajaran

3) Menyusun pre-tes dan post-tes

4) Mendesain pedoman pemantauan pembelajaran untuk individu

maupun kelompok

5) Mendesain pedoman observasi sistematis bagi kerja guru selama

pelaksanaan tindakan

b. Tindakan

1) Melaksanakan pre-tes

2) Melaksanakan wawancara pada siswa

3) Analisis pre-tes dan wawancara untuk menempatkan siswa dalam

kelompok kooperatif

4) Penyusunan lembaran keija/ tugas bagi siswa

5) Mempersiapkan media dan alat bantu yang diperlukan.

6) Memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang operasional

pembelajaran dan tentang tugas yang akan diberikan

(30)

7) Melaksanakan skenario yang direncanakan

8) Memberikan beberapa topik bahasan (sebanyak anggota kelompok

awal) kepada kelompok untuk kemudian dibagikan sesuai dengan

kemampuan, minat, dll

9) Presentasi dan diskusi kelompok ahli untuk mematangkan penguasaan

materi

10) Presentasi dan diskusi kelompok asal

11) Observasi.

Pada tahap ini, siswa melakukan tindakan dan guru melakukan

pemantauan (dengan pedoman pemantauan) terhadap kerja siswa,

Selanjutnya menganalisis nilai pre-tes dan post-tes serta memberikan

penilaian kelompok

c. Refleksi

Hasil yang diperoleh pada tahap tindakan dan observasi

dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh peneiiti dan

mitra, kemudian guru dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya

tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari

aspek internal dan eksternal guru dan siswa. Kemudian untuk siklus

berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilaman perlu secara kualitas

dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi20.

4. Instrumen Penelitian

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

(31)

akan dilaksanakan guru dalam proses belajar mengajar.

b. Soal tes untuk per kelompok dan soal tes formatif untuk mengetahui

peningkatan prestasi belajar siswa, juga dilengkapi dengan alat-alat

pengajaran yang mendukung.

c. Lembar observasi pengamatan pengelolaan metode kooperatif model

struktural dan lembar pengamatan perhatian siswa. Lembar pengamatan ini

digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran

kooperatif learning teknik jigsaw dalam meningkatkan prestasi belajar siswa

dan untuk mengukur perhatian siswa dalam penggunaan metode ini.

d. Buku materi pelajaran.

e. Peralatan pendukung.

f. Intrumen Manusia

1) Peneliti

Dalam penelitian tidakan kelas sebenarnya peneliti juga masuk

sebagai intrumen penelitian. Sebagai intrumen penelitian seorang peneliti

haruslah memiliki karakter sebagai berikut:

a) Responsif

b) Adaptif

c) Menekankan aspek holistic

d) Pengembangan berbasis pengetahuan

e) Memproses dengan segera

(32)

g) Kesempatan eksplorasi21.

2. Mitra

Dalam penelitian tindakan kelas diperlukan peran mitra sejawat

untuk melakukan observasi terhadap guru sebagai peneliti22. Hal ini

diperlukan untuk menilai efektifitas jalannya kegiatan belajar- mengajar.

5. Pengumpulan Data

a. sumber data

1) Dokumentasi.

2) Hasil tes tertulis kelas V MI Kenteng kec. Susukan kab. Semarang.

3) Hasil pengamatan teman sejawat yang membantu sebagai observer

b. Cara Pengambilan Data

1) Metode dokumentasi

2) Lembar keija siswa pada siklus I, II dan III.

3) Tes formatif I.

4) Lembar pengamatan dari teman sejawat sebagai kolaborasai dalam

penelitian

6. Analisis data

Dalam rangka menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga

dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan maka

digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data

kualitatif cara perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam

proses belajar mengajar sebagai berikut:

21 Rachiati Wiraatmadja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Remaja Rosdakarya,

Bandung, 2004, hal. 96-97

(33)

a. Merekapitulasi hasil tes .Dalam penelitian tindakan kelas, peningkatan

prestasi belajar siswa sebagai hasil tindakan merupakan aspek paling

diharapkan berkaitan erat dengan analisis tentang prestasi belajar siswa seperti

: analisis daya serap, ketuntasan belajar, dan nilai rata-rata.

b. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-

masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti: yang

terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas

secara individual jika mendapatkan nilai minimal 60, sedangkan secara

klasikal mencapai 85 % yang telah mencapai daya serap lebih dan sama

dengan 60 %.

c. Menganalisis hasil observasi yang dilakukan oleh teman sejawat pada

kegiatan pengelolaan pembelajaran dan lembar pengamatan perhatian siswa,

penggunaan metode cooperative learning teknik jigsaw

H. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini terdiri atas lima bab yang tersusun dengan sistematika

sebagai berikut:

1. Bagian Awal

Cakupan bagian awal, meliputi:

a. Sampul

b. Lembar Berlogo

c. Judul

d. Persetujuan Pembimbing.

(34)

h. Kata Pengantar

i. Abstrak

j. Daftar Isi

k. Daftar Tabel

l. Daftar Gambar

m. Daftar Lampiran

2 . Bagian Inti

Cakupan bagian ini meliputi:

Bab I : Pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, hipotesis tindakan dan indikator keberhasilan, kegunaan

penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika penulisan

skripsi.

Bab II: Merupakan kajian pustaka yang meliputi pembelajaran al qur an

hadits, serta metode coopetaif learning teknik jigsaw

Bab III: Merupakan laporan penelitian yang meliputi waktu pelaksanaan,

tempat penelitian, subyek penelitian, intrumen penelitian, deskripsi pelaksanaan

siklus I, deskripsi pelaksanaan siklus II dan deskripsi pelaksanaan siklus III

Bab IV: Merupakan hasil penelitian meliputi gambaran setting penelitian,

penjelasan per siklus, proses analisis data, deskripsi per siklus, pembahasan dan

(35)

Bab V : Merupakan bagian penutup yang meliputi kesimpulan, saran- saran

dan penutup.

3. Bagian Akhir

Pada bagian akhir termuat: Daftar Pustaka, Lampiran-Lampiran d a n

Daftar Riwayat Hidup.23

(36)

A. Belajar dan Hasil Belajar Al Qur’an Hadits 1. Belajar

Mengapa manusia harus belajar? Mungkin itu pertanyaan yang

jarang kita dengar karena dianggap pertanyaan yang mudah. Namun

demikian tidak semua manusia memahami falsafah yang mendasarinya.

Manusia adalah makhluk yang istimewa. Hal ini secara jelas tersurat dalam

al Qur'an surah at Tiin: 5

Sesungguhnya kami jadikan manusia sebaik- baik kejadian.

Kemampuan belajar dan mengolah informasi pada manusia

merupakan ciri penting yang membedakan manusia dengan makhluk lain'.

Belajar merupakan suatu proses yang berkelanjutan untuk

mengembangkan potensi diri seseorang. Proses belajar diperlukan untuk

dapat mengembangkan kemampuan seseorang secara optimal. Proses

belajar pada diri seseorang mengandung tiga proses simultan. Pertama,

proses untuk mendapatkan perolehan sesuatu dari informasi baru. Hal yang

diperoleh dari informasi baru sering merupakan pengganti atau perbaikan

atas pengetahuan sebelumnya. Kedua, proses tranformasi pengetahuan

yang diperoleh disesuaikan dengan kebutuhan atau tugas. Dalam proses ini

terjadi analisis atas informasi lalu diubah dalam bentuk lain seperti simbol-

simbol. 1

1 Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, GP Press, Jakarta, 2005, hal 104

(37)

Ketiga adalah evaluasi yaitu penilaian apakah transformasi yang dilakukan

sudah sesuai dengan kebutuhan atau tugas yang akan dihadapi. Proses belajar

pada dasarnya adalah proses simultan dari ketiga hal tersebut

Belajar adalah perubahan, namun bagaimana proses perubahan

tersebut terjadi berbeda aliran psikologis yang dipakai sebagai landasan untuk

menjelaskan perilaku manusia, termasuk perubahannya, tidak sama. Ahli-ahli

yang menganut aliran Kognitif berpendapat bahwa belajar adalah peristiwa

internal, artinya belajar baru dapat teijadi bila ada kemampuan dalam diri

orang yang belajar. Kemampuan tersebut ialah kemampuan mengenal yang

disebut dengan istilah kognitif. Berbeda dengan kosep belajar behavioristik,

yang sangat mengandalkan pada lingkungan (stimulus), penganut aliran

Kognitif memandang orang yang belajar sebagai makhluk yang memiliki

potensi untuk memahami obyek-obyek yang berada di luar dirinya (stimulus)

dan mempunyai kemampuan untuk melakukan suatu tindakan (respons)

sebagai akibat pemahamannya itu. Perubahan dapat terjadi bila ada proses

berfikir lebih dahulu dalam diri seseorang, yang kemudian menimbulkan

respon berupa tindakan2. Adapun memenurut Uzer Usman belajar diartikan

sebagai proses perubahan tingak laku pada diri individu berkat adanya

interaksi antara individu dan individu, individu dan lingkunganya3. Pada

umumnya belajar belajar dapat di artikan kegiatan-kegiatan fisik dan psikis,

kedua aspek itu saling melengkapi dan bertalian satu sama lain. Kegiatan

manusia dalam pembuatanya selalu menuntut kegiatan jasmani dan rohani

Sedangkan menurut Hilgard belajar bukan hanya hasil, namun juga proses

2 Ibid., hal. 118

(38)

perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, baik dilakukan di

laboratorium maupun lingkungan alamiah. Sehingga dapat dirangkum bahwa

belajar adalah:

a. Aktivitas yang dirancang dan bertujuan.

b. Perubahan perilaku secara utuh.

c. Bukan hanya hasil namun proses.

d. Proses memecahkan masalah4.

2. Hasil Belajar

Akibat terjadinya proses belajar pada diri seseorang adalah

teijadinya perubahan perilaku yang dapat mencakup kawasan (domain)

kognitif, afektif maupun psikomotorik. Perubahan perilaku sebagai akibat

teijadinya proses belajar disebut hasil belajar atau prestasi belajar. Hasil

belajar tidah hanya satu macam saja, kan tetapi ada bermacam- macam.

Menurut Gegne dengan tujuan yang bermacam- macam itu untuk mempelajari

macam- macam itu diperlukan kondisi belajr tertentu yang khusus untuk

mencapai hasil belajr yang diharapkan.5

Belajar akan membawa perubahan bila orang yang belajar bebas

menentukan bahan pelajaran dan cara yang dipakai untuk mempelajarinya.

Dengan demikian pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa

untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat

dan kemampuannya. Tentu saja kebebasan yang dimaksud tidak keluar dari

kerangka belajar. Pembelajaran yang bersifat humanistik ini mungkin sukar

4 Wina Sanjaya., Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kencana Jakarta, 2008, hal. 89- 80

(39)

menerapkannya secara penuh, mengingat kondisi sosial dan budaya yang tidak

menunjang. Setidaknya guru yang humanis atau siapapun guru tersebut

dengan konsep humanistik dapat memberikan layanan belajar yang

menyenangkan bagi murid, sedangkan bahan belajar tetap berasal dari

kurikulum yang berlaku, hanya gaya-gaya mengajar dengan penuh tekanan

dan ancaman dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

Secara sederhana prestasi belajar adalah tingkat pengetahuan,

keterampilan, atau capaian yang diperoleh peserta didik untuk bidang studi

tertentu. Prestasi belajar seperti itu diukur melalui tes. Tes semacam itu bukan

hanya untuk mengukur kemampuan individual melainkan juga untuk

mengevaluasi keefektifan suatu program pembelajaran. Tes biasa dilakukan

setelah peserta didik mengikuti suatu program pembelajaran. Oleh karena itu,

skor yang diperoleh dari tes seperti itu cenderung sebagai akibat dilakukannya

proses pembelajaran bukan karena pengaruh tingkat intelegensi. Dari skor

tersebut dapat diperoleh informasi tentang pengetahuan dan keterampilan

yang telah diperoleh siswa.

Dengan demikian, prestasi belajar memiliki fungsi untuk

memperlihatkan sejauh mana peserta didik mampu menampilkan

keterampilan tertentu atau dengan kata lain memiliki fungsi untuk mengukur

capaian kompetensi tertentu. Prestasi belajar juga dapat berfungsi untuk

memberikan rangsangan belajar, di samping fungsi yang lain lagi yakni untuk

dijadikan petunjuk seberapa jauh telah teijadi peningkatan kualitas pendidikan

(40)

Terdapat hubungan yang erat antara tujuan pembelajaran, kegiatan

pembelajaran, dan evaluasi. Kegiatan pembelajaran harus mengacu pada

tujuan pembelajaran yang ditetapkan, sedangkan evaluasi harus mengacu pada

tujuan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Kegiatan

pembelajaran yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh

guru dengan mengacu pada tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan

namun sebaliknya dengan ada tujuan pembelajaran yang telah terumuskan

akan memberikan arah dari kegiatan pembelajaran. Evaluasi merupakan

kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran

telah tercapai. Dilihat dari segi proses langkah penyusunan alat evaluasi sudah

barang tentu harus mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan. Selain

mengacu pada tujuan, evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan

kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Sebaliknya, kegiatan

pembelajaran juga harus mempunyai arah untuk keberhasilan evaluasi yang

nantinya akan dilakukan.

Hasil belajar siswa harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian

standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional. Penilaian pencapaian

kompetensi siswa harus dilakukan secara komprehensif selama proses

pembelajaran berlangsung antara lain melalui ujian/ulangan harian, mingguan,

bulanan atau akhir semester. Hasil pencapaian kompetensi siswa perlu

dianalisis secara berkesinambungan, yang hasilnya digunakan sebagai acuan

d a la m p e la k s a n a a n p ro g ra m tindak lanjut berupa program pembelajaran

remidial atau program pengayaan. Penggunaan sistem penilaian berkelanjutan

(41)

akhirnya diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan secara

menyeluruh. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap peserta didik harus belajar

tuntas untuk mencapai kompetensi yang diharapkan6. BS Bloom sebagaimana

dikutip Martinis Yamin mengatakan:

a. Jika peserta didik dikelompokkan berdasarkan tingkat kemampuannya

untuk beberapa mata pelajaran dan diajar sesuai dengan karakteristik

mereka maka sebagian besar dari mereka akan mencapai ketuntasan.

b. Apabila proses pembelajaran dilaksanakan secara sistematis dan

terstruktur maka semua peserta didik akan mampu menguasai semua

bahan yang disajikan kepadanya. Sehingga belajar tuntas membutuhkan

proses pembelajaran yang sistematis, terstruktur berkesinam-bungan untuk

mencapai kompetensi yang disyaratkan7.

Dari uraian teori belajar dapatlah dimengerti bahwa banyak hal yang

dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang, meliputi:

a. Faktor internal siswa, meliputi:

1) Bakat

Dasar kepandaiaan dan sifat pembawaan dari lahir yang

dimiliki siswa sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa

terhadap suatu bidang tertentu.

2) Minat

Minat dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, kalau

seseorang menyenangi dan berminat terhadap matematika maka ia

akan berusaha untuk berhasil dalam mengikuti seluruh proses

(42)

pembelajaran sebaliknya apabila tidak menyenanginya maka ia akan

belajar dengan perasaan terpaksa, mengikuti proses pembelajaran

hanya sekedar formalitas dan pembelajaran menjadi tidak bermakna.

3) Kemauan belajar.

Salah satu tugas guru mengubah yang tidak mau belajar

menjadi antusias belajar dan menyenangi pelajaran tersebut.

4) Sikap mental siswa

Sikap mental siswa sangat mempengaruhi dalan proses

pembelajaran, sikap mental ini meliputi kematangan sosial emosional

siswa dan pengetahuan prasarat yang dimilikinya untuk meningkatkan

prestasi belajarnya,

b. Faktor Eksternal Siswa

1) Metode Pembelajaran

Terdapat kaitan yang erat antara belajar dan pembelajaran.

Tujuan utama pembelajaran adalah mendorong peserta didik

belajar. Pembelajaran adalah upaya pengaturan informasi dan

lingkungan sedemikian rupa untuk memfasilitasi terjadinya proses

belajar pada diri peserta didik. Lingkungan pembelajaran meliputi

metode, media, dan peralatan yang diperlukan dalam penyampaian

informasi dalam proses pembelajaran. Pengaturan atau pemilihan

metode, media, dan peralatan serta informasi dalam proses

pembelajaran menjadi tanggung jawab dari guru untuk merancang

atau mendesainnya. Dengan demikian, metode pembelajaran

(43)

langkah-langkah taktis bagi guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran

untuk mencapai tujuan.

2) Kepribadian guru.

Kepribadian guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan

proses pembelajaran siswa. Guru menurut tokoh pendidikan

Nasional Ki Hajar Dewantoro, dihadapan mata anak harus dapat

menjadi suri tauladan yang baik, ditengah aktivitas dengan siswa

dapat membangun keinginan dan minat siswa untuk belajar dan

dibelakang layar mampu memberdayakan siswanya untuk belajar

lebih baik.

3) Lingkungan belajar.

Lingkungan belajar siswa sangat mendukung keberhasilan

proses pembelajaran, jika lingkungan belajar siswa tertata dengan

baik maka proses pembelajaran akan dapat berlangsung dengan

baik, agar lingkungan pembelajaran dapat mendukung usahakan:

a) Suasana pembelajaran memberi kesempatan siswa untuk

melakukan penelitian

b) Bersikap yang tidak berlebihan (wajar) jika mendapatkan

jawaban yang tidak benar dari siswa

c) Meningkatkan kompetensi keguruan dari guru agar

keberhasilan siswa dalam belajar meningkat

3. Pelajaran Al Qur’an Hadits

Mempelajari al Qur'an dan hadits merupakan kewajiban bagi setiap

(44)

Islam. Sehingga hampir mustahil seorang muslim dapat menjalankan

agamanya dengan baik tanpa mempelajari al Qur'an dan hadits. Karena al

Qur'anlah yang menjadi pembeda antara yang benar dan salah. Sebagaimana

firmanNya dalam QS Al. Baqarah: 185

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di

dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan

penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan

yang bathil).

Menurut bahasa kata Al-Qur'an merupakan mashdar yang maknanya

dengan kata Qiro'ah (bacaan). Dalam definisi Al-Qur'an banyak perbedaan

pendapat diantara ulama', Kata Al-Qur'an itu dipindahkan dari masdar dan

dijadikan sebagai nama dari kalam Allah yang mu'jiz, diturunkan kepada Nabi

Muhammad SAW. Jadi, kata Al-Qur'an adalah bentuk mengucapkan masdar

(bacaan) tetapi yang dikehendaki dari kata maful (yang dibaca). Adapun

pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah dari kata Qar'u yang

artinya kumpul.

Al-Qur'an secara istilah menurut manna' Al-Qathkhan adalah kitab

yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan orang yang membaca

akan memperoleh pahala. Menurut Al-Jurjani, Al-Qur'an wahyu yang

diturunkan kepada rasulullah SAW, yang ditulis dalam mushhaf dan

(45)

Adapun menurut kalangan pakar ushul fiqih, fiqih, dan bahasa arab,

adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, lafadz-lafadznya

mengandung mukjizat, membacanya nilai ibadah, diturunkan secara

mutawatir, dan ditulis pada dari surat Al-Fatihah (1), sampai akhir surat An-

Nas (114). Selain dinamakan Al-Qur'an, kitab ini juga dinamakan Al-Furqon

merupakan bagian yang ikut wazan fu’lan dari lafal faraqa yang artinya ialah

pembeda (fa'il). Nama Al-Qur'an dan Al-Furqon merupakan sebagian nama di

antara sekian banyak nama-nama Al-Qur’an yang paling terkenal.

Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya ulama —seperti definisi

Al-Sunnah- sebagai "Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad

saw., baik ucapan, perbuatan dan taqrir (ketetapan), maupun sifat fisik dan

psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya." Ulama ushul

fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada "ucapan-ucapan Nabi

Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum"; sedangkan bila mencakup

pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga

hal ini mereka namai Al-Sunnah. Pengertian hadis seperti yang dikemukakan

oleh ulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai bagian dari wahyu Allah

SWT yang tidak berbeda dari segi kewajiban menaatinya dengan ketetapan-

ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu Al-Quran8

Sedangkan yang akan menjadi pembahasan penulis kali ini adalah

pelajaran Al Qur'an hadits yang merupakan salah satu mata pelajaran dalam

kurikulum Madrasah Ibtiaiyyah. Sehingga penulis tidak memberikan penulis

panjang lebar pada bahasan ini.

(46)

B. Metode Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw

1. Metode Cooperative Learning

Falsafah yang mendasari metode pembelajaran kooperatif adalah

falsafah homo homini socius. Berlawanan dengan teori Darwin falsafah Ini

menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial9. P e m b e la ja r a n

kooperatif (Cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang

berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama

dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta harapan

masa depan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itu, manusia dapat

saling asah, asih, dan asuh (saling mencerdaskan). Pembelajaran

kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, asuh sehingga tercipta

masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya belajar dari

guru, tetapi juga teman dari siswanya.

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara sadar dan

sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindarkan

ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan

permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat. Pembelajaran

kooperatif adalah pembelajaran yang didalamnya terdapat elemen-elemen

yang saling terkait. Elemen-elemen itu adalah

a. Saling ketergantungan positif

b. Interaksi tatap muka

c. Akuntabilitas individual

(47)

d. Keterampilan untuk menjalain hubungan antar pribadi

e. Evaluasi Proses Kelompok10

Keterangan:

a. Saling ketergantungan positif

Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa

saling membutuhkan. Saling ketergantungan dapat dicapai melalui:

1. Saling ketergantungan mencapai tujuan

2. Saling ketergantungan menyelesaikan tugas

3. Saling ketergantungan bahan atau sumber

4. Saling ketergantungan peran

5. Saling ketergantungan hadiah

b. Interaksi tatap muka

Interaksi tatap muka akan memaksa saling tatap muka dalam

kelompok sehingga dapat berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan

dengan guru terhadap siswa tetapi juga siswa dengan siswa.

c. Akuntabilitas individual

Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar

kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa

terhadap materi pelajaran secara individual. Hasilnya selanjutnya

disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok

mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang akan

membantu. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua

anggotanya. Penilaian kelompok yang didasrkan atas rata-rata

(48)

penguasaan semua anggota kelompok secara individual ini yang

dimaksud dengan akuntabilitas individual.

d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi

Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap

teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani

mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri

tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang

tidak dapat menjalin hubungan antarpribadi akan memperoleh teguran

dari guru juga dari sesama.

e. Evaluasi Proses kelompok

Semua kegiatan pembelajarandalam metode ini harus dievaluasi

keefektifannya selang beberapa waktu setelah keija kelompok selesai.

Adapun hal- hal yang perlu dievaluasi adalah sikap saling membantu, saling

memperhatikan, saling mendengarkan dan sebagainya."

Abraham Maslow mengajarkan bahwa kebutuhan manusia yang

paling mendasar adalah kebutuhan rasa aman. Kebutuhan tersebut harus

terpenuhi sebulum mencapai sesuatu atau menggali hal- hal baru. Dan dia

mengajarkan bahwa untuk mendapatkan rasa aman tersebut jalan

utamanya adalah menjalin hubungan dengan orang lain dan menjadi

bagiab dari kelommpok. Perasaan saling memeliki inimemungkinkan

siswa untuk menghadapi tantangan.* 12

Struktur tujuan kooperatif teijadi jika siswa dapat mencapai tujuan

mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai

" Ibid., 30-35

(49)

tujuan tersebut. Tiap-tiap individu ikut andil menyumbang pencapaian itu.

Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa

lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Pola pencapai tujuan dalam

pembelajaran kooperatif ini dapat digambarkan seperti dua orang yang

memikul balok. Balok akan dapat dipikul bersama-sama jika dan hanya

jika kedua orang tersebut berhasil memikulnya. Demikian pula halnya

dengan tujuan yang akan dicapai oleh suatu kelompok siswa tertentu.

Tujuan kelompok akan tercapai apabila semua anggota kelompok

mencapai tujuannya secara bersama-sama.

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut:

a. Siswa dalam kelompoknya harus merasakan bahwa mereka

“sehidup semati”;

b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam

kelompoknya, seperti milik mereka sendiri

c. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam

kelompoknya memiliki tujuan yang sama

d. Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama

diantara anggota kelompoknya

e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan

yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok;

f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan

keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya;

g. Siswa akan diminta mempertangungjawabkan secara individu

(50)

Sementara itu, pembelajaran yang menggunakan model kooperatif

pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk

menuntaskan materi belajarnya

b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,

sedang, dan rendah

c. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya,

suku, jenis kelamin berbeda-beda

d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai

setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar

akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan

keterampilan sosial. Efek penting yang pertama pembelajaran kooperatif

bertujuan untuk meningkatkan kineija siswa dalam tugas-tugas akademik.

Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu

siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Di samping mengubah norma

yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat

memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun

kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas

akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi totur bagi siswa kelompok

bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang

memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Pelaksaanaan tutorial ini, siswa

kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi

(51)

hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu. Efek penting

yang kedua dari model pembelajaran kooperatif ialah penerimaan yang

luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial,

kemampuan, maupun ketidak mampuan.

Telah diketahui bahwa hanya kontak fisik s tua di antara orang»

orang yang berbeda ras atau kelompok etnik tidak cukup untuk

mengurangi kecurigaan dan perbedaan ide. Pembelajaran kooperatif

memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi

untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama,

dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk

menghargai satu sama lain. Efek penting yang ketiga dari model

pembelajaran kooperatif ialah ketrampilan sosial, salah satunya

mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.

Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat di

mana banyak aktivitas sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang

saling bergantung satu sama lain dan di mana masyarakat secara budaya

semakin beragam. Langkah-langkah utama di dalam pelajaran yang

menggunakan pembelajaran kooperatif adalah pelajaran dimulai dengan

guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.

Langkah ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan

bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke

dalam tim-tim belajar. Tahap menyelesaikan tugas bersama mereka. Tahap

terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja

(52)

memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun

individu. Peningkatan belajar teijadi tidak bergantung pada usia siswa,

mata pelajaran, atau aktivitas belajar. Tugas-tugas belajar yang kompleks

seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, dan pembelajaran konseptual

meningkat secara nyata pada saat digunakan strategi-strategi kooperatif.

Siswa lebih memiliki kemungkinan mengunakan tingkat berpikir yang

lebih tinggi selama dan setelah diskusi dalam kelompok kooperatif

daripada mereka bekeija secara individual atau kompetitif. Jadi materi

yang dipelajari siswa akan melekat untuk periode waktu yang lebih lama.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa alam “setting” kelas kooperatif,

siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman yang lain diantara

sesama siswa daripada belajar dari guru. Konsekuensinya, pengembangan

komunikasi yang efektif seharusnya tidak ditinggalkan demi kesempatan

belajar itu. Model pembelajaran kooperatif memanfaatkan kecenderungan

siswa untuk berinteraksi.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa suatu kerangka teoritis

dan empirik yang kuat untuk pembelajaran kooperatif mencerminkan

pandangan bahwa manusia belajar dari pengalaman mereka dan partisipasi

aktif dalam kelompok kecil membantu siswa belajar keterampilan sosial

yang penting sementara itu secara bersamaan mengembangkan sikap

demokratis dan keterampilan berfikir logis.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi hasil belajar model

(53)

a. Kecerdasan individu

b. Hubungan emosional antar individu

c. Familiaritas dalam masalah yang dikerjakan.

d. Familiaritas metode yang dipakai13.

2. Teknik Jigsaw a. Pengertian

Salah satu model pembelajaran koopetif learning adalah

cooperative learning teknik Jigsaw. Model pembelajaran kooperatif

Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson tahun 1971 di Austin, Texas14.

Jigsaw merupakan pembelajaran kooperatif yang memungkinkan masing-

masing siswa membentuk satu kelompok yang mengkhususkan diri pada

satu materi pembelajaran 15 Eliot sendiri mengatakan mengatakan:

Jigsaw is a cooperative learning strategy that enables each student o f a “home ” group to specialize in one aspect o f a learning unit. Students meet with members from other groups who are assigned the same aspect, and after mastering the material, return to the “home ” group and teach the material to their group members.16

(Jigsaw adalah sebuah strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa pada kelompok asal untuk mempelajari secara khusus salah satu pokok pembelajaran. Para siswa bertemu dengan anggota kelompok lain yang mempelajari materi ayg sama, dan setelah selesai membahas materi, kembali ke kelompok asal dan mengajarkannya kepada anggota kelompoknya)

Srategi yang dipakai sangat menarik karena semacam ada unsur

pemainan sebagaimana namanya jigsaw (sejenis permainan bongkar

pasang) menuntut siswa untuk bergeser saling bertukar tempat untuk

melakukan diskusi. Setiap siswa mempelajari materi yang berbeda-beda

13 W inam o Surakhmad, Pengantar Interaksi Belajar Mengajar, Tarsito, Bandung, 1980, hal. 118

14 Elliot Aronson. The Jigsaw Classroom, W eb Site Copyright 2000-2006, Social Psycology Network, http://www.jigsaw.org (2 0 m ei 2009)

5 Anita Lie, op. cit., hal. 35

Gambar

Tabel 4.10Rekap Partisipasi Siswa
Gambar 1.1 Diagram Pelaksanaan Cooperetive Learning Teknik
Gambar 1.2 Skema Tahap Penelitian Tindakan Kelas
Tabel 4.1 Hasil Penilaian terhadap Keaktifan siswa Siklus I
+5

Referensi

Dokumen terkait

menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJ ARAN COOPERATIVE LEARNING DENGAN STRATEGI INDEX CARD MATCH UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJ AR SEJ

...yang diusulkan dalam skema …..(tulis skema penelitian)…… untuk tahun anggaran 2017 bersifat original dan belum pernah dibiayai oleh lembaga / sumber dana lain. Bilamana di

[r]

Sejak dahulu lagi umat Islam telah memberi perhatian kepada hadith Rasulullah s.a.w dan mereka telah mencurahkan usaha yang paling besar untuknya, dengan itu ia

Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar

gcsgocaaitoa QdaUh pslaalp ycog oca^iaad Stl bah ca lqposan yaaa Olcaaan lta hsmdaimyo acamjCdm tua*osl yaw nsnyta^aaa darl QtanSasd ataa twdc*t qya.. nsfixod darl ptiaalp la l

[r]

Bina Index Consult Rp 300,000.00 Pengembanga n Sistem Pekerjaan Studi Teknik dan Desain Perbaikan Stabilitas Jalan KA di Km 24+800 Pekerjaan Studi Teknik dan Desain