TEKNIK JIGSAW DI MI KENTENG KEC. SUSUKAN
KAB. SEMARANG
SKRIPSI
D ia ju k a n u n tu k M em p ero leh G ela r S arjan a P en d id ik a n Islam (S .P d .I)
N U R A L IM A H N IM . 11407007
J U R U S A N T A R B IY A H
P R O G R A M S T U D I P E N D ID IK A N A G A M A IS L A M S E K O L A H T IN G G I A G A M A IS L A M N E G E R I
W ebsite : www .stainsalatiga.ac.id E -m a il: [email protected]
PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi saudari : NUR ALIMAH dengan Nomor Induk Mahasiswa : 11407007
yang berjudul : "PENINGKATAN HASIL BELAJAR AL QUR’AN HADITS MELALUI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIG SA W
DI MI KENTENG KEC. SUSUKAN KAB. SEMARANG". Telah dimunaqasahkan dalam sidang panitia ujian Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga pada hari: Sabtu, 29 Agustus 2009 M
yang bertepatan dengan tanggal 8 Ramadhan 1430 H dan telah diterima sebagai bagian syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd. I).
29 Agustus 2008 M Salatiga,
---8 Ramadhan 1430 H
Panitia Ujian
Moh Khusen, M. Ag.. M. A. Dra. Ulfah Susilowati, M.Si.
NfP. 19741212 199903 1 003 NIP. 19660407 199403 2 001
Pembimbing
Prof. Dr. H. MUH. ZUHRL M.A
NIP. 19530326 197803 1 001
n o t a p e m b i m b i n g
Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan
sepelunya, maka skripsi saudari:
PENINGKATAN HASIL BELAJAR AL QUR’AN HADITS M ELALUI PENDEKATAN COOPERATIF LEARNING TEKNIK JIGSAW DI MI KENTENG KEC. SUSUKAN KAB. SEMARANG
Sudah dapat diajukan pada sidang munaqosyah.
Demikian surat ini dibuat, harap menjadikan perhatian dan digunakan
N am a : N ur Alimah
NIM : 11407007
Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya
sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang
terdapat dalam skripsi ini dikutip dan dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Salatiga, Juli 2009
Yang menyatakan,
W ebsite : w ww .stainsalatiga.ac.id E -m a il: [email protected]
PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi saudari : NUR ALIMAH dengan Nomor Induk Mahasiswa : 11407007
yang berjudul : "PENINGKATAN HASIL BELAJAR AL QUR’AN HADITS MELALUI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIG S A W
DI MI KENTENG K E C. SUSUKAN KAB. SEMARANG". Telah dimunaqasahkan dalam sidang panitia ujian Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga pada hari: Sabtu, 29 Agustus 2009 M
yang bertepatan dengan tanggal 8 Ramadhan 1430 H dan telah diterima sebagai bagian syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd. I).
29 Agustus 2008 M Salatiga,
---8 Ramadhan 1430 H
Panitia Ujian
Prof. Dr. H. MUH. ZUHRL M.A
NIP. 19530326 197803 1 001
Cooperative Learning Teknik Jigsaw D i M I K enteng Kec. Susukan Kab.
Semarang. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Sekolah Tinggi Agama Islam Negei Salatiga. Pembimbing: Prof. Dr. H. Muh.
Zuhri, MA
Kata kunci: hasil belajar dan cooperative learning teknik jigsaw
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengembangkan model pembelajaran yang
reatif baru bagi pengajaran pelajaran Al Qur’an Hadits di Madrasah Ibtidaiysh.
Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah (1) Apakah metode
pembelajaran cooperative learning teknik jig sa w mampu meningkatkan keaktifan belajar
Al Qur’an Hadits siswa MI Kenteng Kec. Susukan Kab. Semarang? (2) Apakah metode
pembelajaran cooperative learning teknik jig sa w mampu meningkatkan iiusa
Q ur'an Hadits siswa Ml Kenteng Kec. Susukan Kab. Semarang?.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Q > Metuuc pam--. .
mampu meningkatkan kcaktiian belajar Ai Q ur'an Iiacnts s j s v w
M l Kenteng Kec. Susukan Kab. Semarang u ; M ctoac pemoviajami
tcKiiui jig sa w mampu m e m u la ik a n nasu oeiajar Ai Qur an Hauns siswa ivii Kenteng
Alhamdulillahi robbil 'alaamin, kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik dan lancar tanpa halanagan suatu apapun. Shalawat serta salam semoga
selelu tercurahkan kepada junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa Nur Illahi yang menyinari segenap alam dan yang semoga kita
tergolong ummatnya yang akan mendapatkan syafaatnya besuk di hari qiyamah. Amin
AHahumma Amin.
Dalam penyelesaian skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan,
bimbingan dan pengerahan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal tersebut
penulis hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih, dan dengan iringan doa
semoga amal baik yang telah diberikan, mendapat pahala disisi Allah SWT.
Untuk itu penulis ucapkan banyak terima kasih kepada Yth:
1. Bapak Imam Sutomo selaku Ketua STAIN Salatiga.
2. Bapak Prof. Dr. Muh. Zuhri, M.A selaku pembimbing yang telah meluangkan
waktu, tenaga dan pikirannya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaannya
dalam memberikan bimbingan, pengarahan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
3. Bapak Muh Maftah selaku Kepala Madrasah MI Kenteng kec. Susukan kab.
Semarang yang memberikan waktu kepada penulis, untuk melakukan
penelitian tindakan kelas guna menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Ibu guru MI Kenteng kec. Susukan kab. Semarang yang telah
memberikan semangat dan keijasamanya.
5. Bapak, Ibu dan segenap keluarga yang telah memberikan doa restunya kepada
kekurangan. Untuk itu sumbang saran dan kritik untuk terciptanya tulisan yang lebih
sempurna sangat penulis harapkan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca
pada umumnya dan menjadi amal jariyah bagi penulis. Amiiin..
Salatiga, Juli 2009
<
Nur Alimah
Sampul...i
Lembar Berlogo...ii
Judul... iii
N ota Pembimbing... i v Pengesahan Kelulusan...v
Pernyataan Keaslian Tulisan...vi
Motto dan Persembahan... vii
Kata Pengantar...viii
Abstrak... ix
Daftar Isi...x
Daftar Tabel... xi
Daftar Lampiran... xii
BAB PEN D A H U LU A N A. Latar Belakang M asalah...1
B. Rumusan M asalah... 3
C. Tujuan Penelitian... 4
D. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan... 4
E. Kegunaan Penelitian... 5
F. Definisi Operasional...6
G. Metode Penelitian... 10
B. Metode Pembelajaran Cooperative Leam ig Teknik Jigsaw... 33
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Deskripsi Pelaksanaan Siklus 1... 45
B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus II... 47
C. Deskripsi Pelaksanaan Siklus III...50
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Per Siklus... 52
B. Pembahasan... 68
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan... 74
B. Saran- S aran ...74
C. Penutup...75
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
Tabel 3.1
D&ftar nama siswa kelas 5 MI Kenteng Kec. Susukan Kab. Semarang tahun ajaran
2008/2009
Tabel 4.1
Hasil Nilai Pengamatan Siklus I
Tabel 4.2
Hasil Penilaian terhadap Keaktifan siswa Siklus I
Tabel 4.3
Analisis Ulangan Harian Siklus I
Tabel 4.4
Hasil Nilai Pengamatan Siklus II
Tabel 4.5
Hasil Penilaian terhadap keaktifan siswa Siklus II
Tabel 4.6
Analisis Ulangan Harian Siklus II
Tabel 4.7
Hasil Nilai Pengamatan Siklus III
Tabel 4.8
Hasil penilaian terhadap keaktifan siswa Siklus III
Tabel 4.9
Tabel 4.11
Rekap Efektivitas Kelompok
Tabel 4.12
LAMPIRAN 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS I DAN II
LAMPIRAN 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS III
LAMPIRAN 3
LEMBAR TUGAS SIKLUS I
LAMPIRAN 4
LEMBAR TUGAS SIKLUS II
LAMPIRAN 5
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat
dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang
berlangsung di sekolah dn di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan
peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup
secara tepat di masa yang akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-
pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan tormai dan non tormai,
oan inrormai oi sekoiah, dan di iuar sekolah, yang berlangsung seumur hidup
yang bertujuan opiimaiisasi pertimbanagan kemampuan-kemampuan individu,
ugar u; Kcmuuian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepai.
: ntuk mencapai tujuan tersebut, banyak pihak menggantungkan
— ^ .i...:j-'.i. -z•:capaiaamu beraoa di pundak guru sebagai pendidik. Hal ini tentu
m e ia k s n n rcsanatum tugas mumi terseout dengan
. ... i wrmasuk ui uaiamnya aaaian penaiaik atau guru agama.
salah satu pelajaran yang sangai penung uaiam pendidikan agama
n aaau*a mata peiakaran aiquran naans. Mengingat ai quran dan hadits
upaKan -aua sumner nuKum uiuma oagi umai isiam. Penguasaan materi
mi menjaai sangai mutlak dibutuhkan mengingat akan sangai
enu-kan sag; perilaku keagamaan anak didik selanjutnya.
. . n ... usana guru >auu uengan melalui pemilihan metode yang
.. remoeiajaran aengan metoae yang benar oeram membantu guru agar
tercapai peningkatan evektivitas dalam mengelola kelas. Metode yang tepat
akan sangat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran dengan lebih baik
sehingga hasil belajar yang diharapkan juga akan lebih baik pula.
Dengan demikian dalam penggunaan metode yang menarik dalam
pelajaran al qur’an hadits diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar
siswa, sebab ada variasi yang menarik bagi siswa, dan tidak monoton.
Disamping itu dapat untuk menghilangkan kesan abstrak atau melalui hafalan
yang tidak praktis dan ini sesuai dengan kurikulum saat ini, yaitu KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
Selama ini metode yang banyak dipakai oleh guru mapel al qur'an hadits
adalah methode ceramah, hafalan dan sedikit diskusi. Hal ini tentu sangat
membosankan dan melelahkan bagi anak didik khususnya siswa MI.
Sebenarnya dalam konteks Kurikulum Berbasis Komptensi (KBK), mengajar
tidak hanya diartikan sebagai proses penyampaian ilmu pengetahuan kepada
siswa, yang menempatkan siswa sebagai objek belajar dan guru sebagai subjek,
akan tetapi mengajar harus dipandang sebagai proses pengaturan
-agar siswa beiajar. Yang dimaksud belajar itu sendiri bukan hanya sekedn*
menumpuk pengetahuan akan tetapi merupakan proses perubaz?;t:
meiaiui pengalaman Deiajar sehingga diharapkan terjaai pengemoangan
berbagai aspek yang terdapat daiam individu, seperu aspek minat. a
kemampuan, potensi dan lain sebagainya’.
Faktor kekurang tepatan dalam memilih metode pemoc aja
sering dijumpai di tapangan yang ditengarai aengan masin aaanya guru yang
Wina Sanjava. Pembelajaran Dalam Implementasi kurikulum Berbasis kn/np-ju
hanya terpaku menggunakan satu atau dua metode mengajar secara terus
menerus saja tanpa pernah memodifikasinya atau menggantikannya dengan
metode lain walaupun tujuan pembelajaran yang hendak dicapai berbeda.
Akibatnya, pencapaian tujuan pembelajaran oleh para siswa tidak optimal.
Metode yang jarang dicoba dalam menyampaikan materi al qur'an hadits
alah methode kooperatif learning atau belajar kelompok khususnya teknik
Jigsaw dimana anak akan belajar secara berkelompok dan mandiri memahami
materi dan menyelesaikan masalah. Metode ini pernah dicoba dalam mata
pelajaran Matematika dan IPA hasilnya cukup memuaskan. Hanya untuk
pelajaran al qur'an hadits belum pernah dicoba.
Untuk itulah penulis tertarik untuk melakukan penelitian
“PENINGKATAN HASIL BELAJAR AL QUR’AN HADITS MELALUI
PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW DI MI
KENTENG KEC. SUSUKAN KAB. SEMARANG”
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakan di atas maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai
berikut:
1. Apakah penerapan penggunaan metode cooperatitive learning teknik
jigsaw dapat meningkatkan aktifitas belajar pada pelajaran al qur’an hadits
MI Kenteng kec. Susukan Kabupaten Semarang ?
2. Apakah penerapan penggunaan metode cooperative learning teknik jigsaw
dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran al qur’an hadits Ml
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk apakah mengetahui penggunaan metode cooperative learning
teknik jigsaw dapat meningkatkan aktifitas belajar pada pelajaran Al
Qur’an Hadits MI Kenteng kec. Susukan Kabupaten Semarang?
2. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode cooperative learning
teknik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran Al Qur’an
Hadits MI Kenteng kec. Susukan Kabupaten Semarang?
D. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan
Hipotesis adalah “suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap
permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul”2.
1. Penerapan penggunaan metode cooperative learning teknik jigsaw dapat
meningkatkan aktifitas belajar pada pelajaran Al Qur’an Hadits MI
Kenteng Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang.
2. Penerapan penggunaan metode cooperative learning teknik jigsaw dapat
meningkatkan hasil belajar pada pelajaran Al Qur’an Hadits Ml Kenteng
Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang.
Adapun yang menjadi tolok ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas
ini adalah apabila hasil belajar Al Qur'an Hadits kelas V MI Kenteng Kec.
Susukan Kab. Semarang dalam menyelesaikan soal-soal hadits tentang ciri-ciri
orang munafik dan shatat berjamaah serta mampu mencapai nilai rata-rata
minimal 60, dan banyaknya siswa yang memperoleh nilai 60 ke atas minimal
75%.
E. Kegunaan Penelitian
1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang
metode pembelajaran cooperative learning teknik jigsaw
2. Sebagai salah satu strategi atau upaya meningkatkan prestasi belajar siswa
khususya pada mata pelajaran Al Qur’an Hadits.
3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran
yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
4. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis.
5. Sumbangan pemikiran mengembangkan sistem kegiatan belajar mengajar
di sekolah.
F. Definisi Operasional
Agar tidak menyimpang dari pokok masalah yang menjadi inti dari judul
tersebut peneliti memberi batasan sebagai berikut
1. Peningkatan Hasil Belajar
Adapaun yang penulis dengan hasil belajar di sini tentu sangat erat
dengan hasil belajar mat apelajaran al Qur’an Hadits. Sering kali istilah ini
disebut juga prestasi belajar. Prestasi belajar adalah suatu rangkaian
pegertian yang terdiri dari rangkaian dua kata yaitu prestasi dan belajar.
Prestasi berasal dari kata belanda yaitu prestatie. Kemudian dalan bahasa
Indonesia menjadi prestasi yang berarti “ hasil usaha”.
Kata "peningkatan" berasal dari kata "tingkat" yang berarti
berarti usaha atau proses meningkatkan3. Sedangkan kata "hasil" berarti
sesuatu yang diadakan oleh suatu usaha4. Sedangkan kata "belajar" berasa!
dari kata "ajar" yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang untuk
diketahui. Sedangkan "belajar" berusaha memperoleh kepandaian atau
ilmu5.
Sedangkan Menurut W.J.S Poerwodarminto prestasi adalah hasil
yang telah di capai, di lakukan dikeijakan dan sebagainya6. Kata prestasi
banyak di gunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan, antara lain dalarn
kesenian, olah raga, dan pendidikan, khususnya pengajaran. Bahwa yang
dimaksud prestasi adalah kemampuan, ketrampilan, dan sikap seseorang
dalam menyelesaikan suatu hal. Dengan demikian yang penulis maksud
hasil belajar di sini adalah prestasi yang dicapai oleh anak didik setelah
mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas.
2. Pelajaran Al qur’an Hadits
Kata pelajaran berasal dari kata "ajar" yang telah dijelaskan di
awal. Sedangkan kata pelajaran sendiri berarti sesuatu yang dipelajari7.
Sedangkan al Qur'an adalah kitab suci umat Islam8. Dan hadits adalah
sabda atau perbuatan nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat untuk
menjelaskan atau menentukan hukum Islam9.
3 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994, hal. 1060.
4 Ibid., hal. 343. 5 Ibid., hal. 14
6 W.J.S Poerwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1983, hal. 108
7 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit.. hal. 15. 8 Ibid., hal. 805.
Pelajaran alqur’an hadits dalam kurikulum madrasah ibtidaiyyah
adalah salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
yang di arahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
memahami, menghayati dan mengamalkan kandingan al qur’an dan hadits
nabi, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way’ o f life)
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman
dan pembiasaan.
Al Qur’an Hadits di madrasah ibtidaiyah bertujuan untuk
membekali peserta didik agar dapat:
a. Mengetahui dan memahami pokok keimanan islam secara terperinci
dan menyeluruh, baik berupa dalil Naqli dan Aqli. Pengetahuan dan
pemahaman tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam
keghidupan pribadi dan sosial.
b. Melaksanakan dan mengamalkan norma, etika dan akhlaq islam
dengan benar. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan
ketaatan menjalankan akhlaq islam, dengan disiplin dan tanggung
jawab social yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun
sosialnya10.
2. Cooperative learning teknik jigsaw
Cooperative Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran
yang mengutamakan siswa untuk saling bekerjasama satu dengan lainnya
untuk memahami dan mengeijakan segala tugas belajar mereka.
Pendekatan kooperatif digunakan oleh para pendidik dalam pembelajaran
di kelas dengan menciptakan situasi atau kondisi bagi kelompok untuk
mencapai tujuan masing-masing anggota atau kelompok mencapai tujuan
tergantung pada kerjasama yang kompak dan serasi dalam kelompok.
Cooperative Learning merupakan satu strategi pembelajaran yang
terbaik yang telah diteliti. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki
kesempatan untuk bekeija bersama-sama, belajar lebih cepat dan efisien,
memiliki daya ingat yang lebih besar dan mendapat pengalaman belajar
yang lebih positif. Pembelajaran kooperatif siswa belajar dan membentuk
pengalaman dan pengetahuannya sendiri secara bersama-sama dalam
kelompoknya11.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran
yang berdasarkan faham construktivis. Pembelajaran kooperatif
merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota
kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam
menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus
saling bekeija sama dan saling membantu untuk memahami materi
pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai
jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran
Namun dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas
cooperative learning dengan teknik jigsaw saja. Jigsaw adalah suatu
struktur multifungsi struktur kerjasama belajar. Jigsaw dapat digunakan
dalam beberapa hal untuk mencapai berbagai tujuan tetapi terutama
11 Bennet B Rollheiser.C, Cooperative Learning,
digunakan untuk persentasi dan mendapatkan materi baru, struktur ini
menciptakan saling ketergantungan.12
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan mode!
pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang
terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling
ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian
materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut
kepada anggota kelompok yang lain. Untuk lebih jelas perhatikan gambar
1.1 berikut.
Gambar 1.1 Diagram Pelaksanaan Cooperetive Learning Teknik
Jigsaw
G. Metode Penelitian 1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action
research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah
pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab
menggambarkan bagaimana suatu bentuk teknik pembelajaran diterapkan dan
bagaimana hasil yang diinginkan dapat tercapai.
PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan
pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai:
a. Alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi
pembelajaran di kelas;
b. Alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan
metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui
pengajaran sejawat;
c. Alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami)
pendekatan tambahan atau inovatif;
d. Alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru
dan peneliti;
e. Alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif,
impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas13.
Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian
tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang
menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang
pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung
diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan
sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan14.
13 Suwarsih Madya, Penelitian Tindakan Kelas,
Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang
ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang
dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang
menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan kelas’ atau PTK.
Menurut Suharsimi Arikunto berdasarkan tujuannya, penelitian tindakan
dibagi menjadi 4 yaitu:
a. Penelitian tindakan partisapatisi {participatory action research) yang
menekankan keterlibatan masyarakat agar merasa memiliki program
tersebut.
b. Penelitian tindakan kritis {critical action research) yang menekankan
adanya niat yang tinggi untuk memecahkan bertindak memecahkan
masalah kritis.
c. Penelitian tindakan institusi {institutional action research) yaitu yang
dilakukan pihak pengelola sekolah.
d. Penelitian tindakan kelas {classroom action research) yaitu penelitian
yang dilakukan oleh guru baik sendiri maupun bekeijasama dengan
peneliti lain14.
Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, di mana
guru sangat berpengaruh sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam
bentuk ini tujuan utama penelitian kelas ini ialah untuk meningkatkan praktik-
praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara
penuh dalam proses perencanaan tindakan, observasi dan refleksi. Kehadiran
14
pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil. Hal ini
bertujuan agar guru dapat:
a. Mengkaji/ meneliti sendiri praktek mengajarnya
b. Melakukan PTK tanpa mengganggu tugasnya
c. Mengkaji pemasalahan yang dialami
d. Mengembangkan profesionalismenya15.
Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan.
Kemmis dan Taggart menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk
spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan,
pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika
sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup
Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal
yang teijadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung dapat
dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan16. Ciri atau karakteristik utama dalam
penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi dengan anggota
kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang
memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang
dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya
pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama
lain.
Sedangkan tujuan penelitian tindakan kelas harus memenuhi beberapa
prinsip sebagai berikut:
a. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu benar-benar
nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam jangkauan
peneliti untuk melakukan perubahan.
b. Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak
boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.
c. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien artinya terpilih dengan
tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.
d. Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dan
tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap
penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.
e. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang
berkelanjutan (on-going) mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan
terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan
sepanjang waktu17.
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan maka
penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart,
yaitu berbentuk spiral dan siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap
siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan)
dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang
sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada sikius I
dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus
spiral dan tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 1.2
Gambar 1.2 Skema Tahap Penelitian Tindakan Kelas
Putaran 1
Refleksi -Jj Rencana g awal/ranconaan Tindakan/
Observasi
< y \
<
Refleksi P ‘1 Rencana yang
Tindakan/ Observasi
Refleksi
Tindakan/
Observasi
direvisi
Putaran 2
Putaran 2
Penjelalasan alur di atas adalah:
1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian menyusun rumusan
masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan termasuk di dalamnya
instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
2. Kegiatan dan pengamatan meliputi timdakan yang dilakukan oleh peneliti
sebagai upaya membangun pemahaman konsepsi siswa serta mengamati hasil
atau dampak dan diterapkannya metode cooperative learning teknik jigsaw.
3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau
dampak dan tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang
4. Rancangan/rencana yang direvisi berdasarkan hasil refleksi dari pangamat
membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus
berikutnya19.
Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2, dan 3 dimana
masing-masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama)
dan membahas satu bab pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir
masing-masing putaran. Sikius ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai
dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
2. Subyek Penelitian
a. Tempat penelitian
Penelitian ini bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Kenteng kec. Susukan
Kabupaten Semarang.
b. Waktu penelitian
Penelitiatian ini penulis lakukan selama tiga minggu sejak akhir
Mei sampai awal Juni. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir semester
genap tahun pelajaran 2008/2008 selama 3 kali pertemuan yaitu antara
akhir Mei dan awal Juni 2009.
Untuk siklus I tanggal 23 Mei 2009 dan siklus II tanggal 30 Mei
2009 dan siklus III pada tanggal 6 Juni 2009.
c. Subyek penelitian
Subyek penelitian adalah siswa siswi kelas V Madrasah Ibtidaiyah
Kenteng kec. Susukan Kabupaten Semarang tahun pelajaran 2008/2009
sebanyak 20 siswa. Secara rinci dapat di lihat dalam tabel 3.1:
3. Langkah- Langkah
Dalam penelitian ini penulis mengikuti prosedur penilitian tindakan
kelas yang sudah baku. Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri 3 siklus .
Tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan
tindakan, pemantauan, evaluasi individu dan kelompok serta refleksi tindakan.,
analisis dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan19.
a. Perencanaan
1) Menyusun tujuan instruksional
2) Membuat skenario pembelajaran
3) Menyusun pre-tes dan post-tes
4) Mendesain pedoman pemantauan pembelajaran untuk individu
maupun kelompok
5) Mendesain pedoman observasi sistematis bagi kerja guru selama
pelaksanaan tindakan
b. Tindakan
1) Melaksanakan pre-tes
2) Melaksanakan wawancara pada siswa
3) Analisis pre-tes dan wawancara untuk menempatkan siswa dalam
kelompok kooperatif
4) Penyusunan lembaran keija/ tugas bagi siswa
5) Mempersiapkan media dan alat bantu yang diperlukan.
6) Memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang operasional
pembelajaran dan tentang tugas yang akan diberikan
7) Melaksanakan skenario yang direncanakan
8) Memberikan beberapa topik bahasan (sebanyak anggota kelompok
awal) kepada kelompok untuk kemudian dibagikan sesuai dengan
kemampuan, minat, dll
9) Presentasi dan diskusi kelompok ahli untuk mematangkan penguasaan
materi
10) Presentasi dan diskusi kelompok asal
11) Observasi.
Pada tahap ini, siswa melakukan tindakan dan guru melakukan
pemantauan (dengan pedoman pemantauan) terhadap kerja siswa,
Selanjutnya menganalisis nilai pre-tes dan post-tes serta memberikan
penilaian kelompok
c. Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap tindakan dan observasi
dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh peneiiti dan
mitra, kemudian guru dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya
tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari
aspek internal dan eksternal guru dan siswa. Kemudian untuk siklus
berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilaman perlu secara kualitas
dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi20.
4. Instrumen Penelitian
Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
akan dilaksanakan guru dalam proses belajar mengajar.
b. Soal tes untuk per kelompok dan soal tes formatif untuk mengetahui
peningkatan prestasi belajar siswa, juga dilengkapi dengan alat-alat
pengajaran yang mendukung.
c. Lembar observasi pengamatan pengelolaan metode kooperatif model
struktural dan lembar pengamatan perhatian siswa. Lembar pengamatan ini
digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran
kooperatif learning teknik jigsaw dalam meningkatkan prestasi belajar siswa
dan untuk mengukur perhatian siswa dalam penggunaan metode ini.
d. Buku materi pelajaran.
e. Peralatan pendukung.
f. Intrumen Manusia
1) Peneliti
Dalam penelitian tidakan kelas sebenarnya peneliti juga masuk
sebagai intrumen penelitian. Sebagai intrumen penelitian seorang peneliti
haruslah memiliki karakter sebagai berikut:
a) Responsif
b) Adaptif
c) Menekankan aspek holistic
d) Pengembangan berbasis pengetahuan
e) Memproses dengan segera
g) Kesempatan eksplorasi21.
2. Mitra
Dalam penelitian tindakan kelas diperlukan peran mitra sejawat
untuk melakukan observasi terhadap guru sebagai peneliti22. Hal ini
diperlukan untuk menilai efektifitas jalannya kegiatan belajar- mengajar.
5. Pengumpulan Data
a. sumber data
1) Dokumentasi.
2) Hasil tes tertulis kelas V MI Kenteng kec. Susukan kab. Semarang.
3) Hasil pengamatan teman sejawat yang membantu sebagai observer
b. Cara Pengambilan Data
1) Metode dokumentasi
2) Lembar keija siswa pada siklus I, II dan III.
3) Tes formatif I.
4) Lembar pengamatan dari teman sejawat sebagai kolaborasai dalam
penelitian
6. Analisis data
Dalam rangka menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga
dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan maka
digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data
kualitatif cara perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam
proses belajar mengajar sebagai berikut:
21 Rachiati Wiraatmadja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2004, hal. 96-97
a. Merekapitulasi hasil tes .Dalam penelitian tindakan kelas, peningkatan
prestasi belajar siswa sebagai hasil tindakan merupakan aspek paling
diharapkan berkaitan erat dengan analisis tentang prestasi belajar siswa seperti
: analisis daya serap, ketuntasan belajar, dan nilai rata-rata.
b. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-
masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti: yang
terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas
secara individual jika mendapatkan nilai minimal 60, sedangkan secara
klasikal mencapai 85 % yang telah mencapai daya serap lebih dan sama
dengan 60 %.
c. Menganalisis hasil observasi yang dilakukan oleh teman sejawat pada
kegiatan pengelolaan pembelajaran dan lembar pengamatan perhatian siswa,
penggunaan metode cooperative learning teknik jigsaw
H. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terdiri atas lima bab yang tersusun dengan sistematika
sebagai berikut:
1. Bagian Awal
Cakupan bagian awal, meliputi:
a. Sampul
b. Lembar Berlogo
c. Judul
d. Persetujuan Pembimbing.
h. Kata Pengantar
i. Abstrak
j. Daftar Isi
k. Daftar Tabel
l. Daftar Gambar
m. Daftar Lampiran
2 . Bagian Inti
Cakupan bagian ini meliputi:
Bab I : Pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, hipotesis tindakan dan indikator keberhasilan, kegunaan
penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika penulisan
skripsi.
Bab II: Merupakan kajian pustaka yang meliputi pembelajaran al qur an
hadits, serta metode coopetaif learning teknik jigsaw
Bab III: Merupakan laporan penelitian yang meliputi waktu pelaksanaan,
tempat penelitian, subyek penelitian, intrumen penelitian, deskripsi pelaksanaan
siklus I, deskripsi pelaksanaan siklus II dan deskripsi pelaksanaan siklus III
Bab IV: Merupakan hasil penelitian meliputi gambaran setting penelitian,
penjelasan per siklus, proses analisis data, deskripsi per siklus, pembahasan dan
Bab V : Merupakan bagian penutup yang meliputi kesimpulan, saran- saran
dan penutup.
3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir termuat: Daftar Pustaka, Lampiran-Lampiran d a n
Daftar Riwayat Hidup.23
A. Belajar dan Hasil Belajar Al Qur’an Hadits 1. Belajar
Mengapa manusia harus belajar? Mungkin itu pertanyaan yang
jarang kita dengar karena dianggap pertanyaan yang mudah. Namun
demikian tidak semua manusia memahami falsafah yang mendasarinya.
Manusia adalah makhluk yang istimewa. Hal ini secara jelas tersurat dalam
al Qur'an surah at Tiin: 5
Sesungguhnya kami jadikan manusia sebaik- baik kejadian.
Kemampuan belajar dan mengolah informasi pada manusia
merupakan ciri penting yang membedakan manusia dengan makhluk lain'.
Belajar merupakan suatu proses yang berkelanjutan untuk
mengembangkan potensi diri seseorang. Proses belajar diperlukan untuk
dapat mengembangkan kemampuan seseorang secara optimal. Proses
belajar pada diri seseorang mengandung tiga proses simultan. Pertama,
proses untuk mendapatkan perolehan sesuatu dari informasi baru. Hal yang
diperoleh dari informasi baru sering merupakan pengganti atau perbaikan
atas pengetahuan sebelumnya. Kedua, proses tranformasi pengetahuan
yang diperoleh disesuaikan dengan kebutuhan atau tugas. Dalam proses ini
terjadi analisis atas informasi lalu diubah dalam bentuk lain seperti simbol-
simbol. 1
1 Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, GP Press, Jakarta, 2005, hal 104
Ketiga adalah evaluasi yaitu penilaian apakah transformasi yang dilakukan
sudah sesuai dengan kebutuhan atau tugas yang akan dihadapi. Proses belajar
pada dasarnya adalah proses simultan dari ketiga hal tersebut
Belajar adalah perubahan, namun bagaimana proses perubahan
tersebut terjadi berbeda aliran psikologis yang dipakai sebagai landasan untuk
menjelaskan perilaku manusia, termasuk perubahannya, tidak sama. Ahli-ahli
yang menganut aliran Kognitif berpendapat bahwa belajar adalah peristiwa
internal, artinya belajar baru dapat teijadi bila ada kemampuan dalam diri
orang yang belajar. Kemampuan tersebut ialah kemampuan mengenal yang
disebut dengan istilah kognitif. Berbeda dengan kosep belajar behavioristik,
yang sangat mengandalkan pada lingkungan (stimulus), penganut aliran
Kognitif memandang orang yang belajar sebagai makhluk yang memiliki
potensi untuk memahami obyek-obyek yang berada di luar dirinya (stimulus)
dan mempunyai kemampuan untuk melakukan suatu tindakan (respons)
sebagai akibat pemahamannya itu. Perubahan dapat terjadi bila ada proses
berfikir lebih dahulu dalam diri seseorang, yang kemudian menimbulkan
respon berupa tindakan2. Adapun memenurut Uzer Usman belajar diartikan
sebagai proses perubahan tingak laku pada diri individu berkat adanya
interaksi antara individu dan individu, individu dan lingkunganya3. Pada
umumnya belajar belajar dapat di artikan kegiatan-kegiatan fisik dan psikis,
kedua aspek itu saling melengkapi dan bertalian satu sama lain. Kegiatan
manusia dalam pembuatanya selalu menuntut kegiatan jasmani dan rohani
Sedangkan menurut Hilgard belajar bukan hanya hasil, namun juga proses
2 Ibid., hal. 118
perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, baik dilakukan di
laboratorium maupun lingkungan alamiah. Sehingga dapat dirangkum bahwa
belajar adalah:
a. Aktivitas yang dirancang dan bertujuan.
b. Perubahan perilaku secara utuh.
c. Bukan hanya hasil namun proses.
d. Proses memecahkan masalah4.
2. Hasil Belajar
Akibat terjadinya proses belajar pada diri seseorang adalah
teijadinya perubahan perilaku yang dapat mencakup kawasan (domain)
kognitif, afektif maupun psikomotorik. Perubahan perilaku sebagai akibat
teijadinya proses belajar disebut hasil belajar atau prestasi belajar. Hasil
belajar tidah hanya satu macam saja, kan tetapi ada bermacam- macam.
Menurut Gegne dengan tujuan yang bermacam- macam itu untuk mempelajari
macam- macam itu diperlukan kondisi belajr tertentu yang khusus untuk
mencapai hasil belajr yang diharapkan.5
Belajar akan membawa perubahan bila orang yang belajar bebas
menentukan bahan pelajaran dan cara yang dipakai untuk mempelajarinya.
Dengan demikian pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa
untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat
dan kemampuannya. Tentu saja kebebasan yang dimaksud tidak keluar dari
kerangka belajar. Pembelajaran yang bersifat humanistik ini mungkin sukar
4 Wina Sanjaya., Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kencana Jakarta, 2008, hal. 89- 80
menerapkannya secara penuh, mengingat kondisi sosial dan budaya yang tidak
menunjang. Setidaknya guru yang humanis atau siapapun guru tersebut
dengan konsep humanistik dapat memberikan layanan belajar yang
menyenangkan bagi murid, sedangkan bahan belajar tetap berasal dari
kurikulum yang berlaku, hanya gaya-gaya mengajar dengan penuh tekanan
dan ancaman dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
Secara sederhana prestasi belajar adalah tingkat pengetahuan,
keterampilan, atau capaian yang diperoleh peserta didik untuk bidang studi
tertentu. Prestasi belajar seperti itu diukur melalui tes. Tes semacam itu bukan
hanya untuk mengukur kemampuan individual melainkan juga untuk
mengevaluasi keefektifan suatu program pembelajaran. Tes biasa dilakukan
setelah peserta didik mengikuti suatu program pembelajaran. Oleh karena itu,
skor yang diperoleh dari tes seperti itu cenderung sebagai akibat dilakukannya
proses pembelajaran bukan karena pengaruh tingkat intelegensi. Dari skor
tersebut dapat diperoleh informasi tentang pengetahuan dan keterampilan
yang telah diperoleh siswa.
Dengan demikian, prestasi belajar memiliki fungsi untuk
memperlihatkan sejauh mana peserta didik mampu menampilkan
keterampilan tertentu atau dengan kata lain memiliki fungsi untuk mengukur
capaian kompetensi tertentu. Prestasi belajar juga dapat berfungsi untuk
memberikan rangsangan belajar, di samping fungsi yang lain lagi yakni untuk
dijadikan petunjuk seberapa jauh telah teijadi peningkatan kualitas pendidikan
Terdapat hubungan yang erat antara tujuan pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, dan evaluasi. Kegiatan pembelajaran harus mengacu pada
tujuan pembelajaran yang ditetapkan, sedangkan evaluasi harus mengacu pada
tujuan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Kegiatan
pembelajaran yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh
guru dengan mengacu pada tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan
namun sebaliknya dengan ada tujuan pembelajaran yang telah terumuskan
akan memberikan arah dari kegiatan pembelajaran. Evaluasi merupakan
kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran
telah tercapai. Dilihat dari segi proses langkah penyusunan alat evaluasi sudah
barang tentu harus mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan. Selain
mengacu pada tujuan, evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan
kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Sebaliknya, kegiatan
pembelajaran juga harus mempunyai arah untuk keberhasilan evaluasi yang
nantinya akan dilakukan.
Hasil belajar siswa harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian
standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional. Penilaian pencapaian
kompetensi siswa harus dilakukan secara komprehensif selama proses
pembelajaran berlangsung antara lain melalui ujian/ulangan harian, mingguan,
bulanan atau akhir semester. Hasil pencapaian kompetensi siswa perlu
dianalisis secara berkesinambungan, yang hasilnya digunakan sebagai acuan
d a la m p e la k s a n a a n p ro g ra m tindak lanjut berupa program pembelajaran
remidial atau program pengayaan. Penggunaan sistem penilaian berkelanjutan
akhirnya diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan secara
menyeluruh. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap peserta didik harus belajar
tuntas untuk mencapai kompetensi yang diharapkan6. BS Bloom sebagaimana
dikutip Martinis Yamin mengatakan:
a. Jika peserta didik dikelompokkan berdasarkan tingkat kemampuannya
untuk beberapa mata pelajaran dan diajar sesuai dengan karakteristik
mereka maka sebagian besar dari mereka akan mencapai ketuntasan.
b. Apabila proses pembelajaran dilaksanakan secara sistematis dan
terstruktur maka semua peserta didik akan mampu menguasai semua
bahan yang disajikan kepadanya. Sehingga belajar tuntas membutuhkan
proses pembelajaran yang sistematis, terstruktur berkesinam-bungan untuk
mencapai kompetensi yang disyaratkan7.
Dari uraian teori belajar dapatlah dimengerti bahwa banyak hal yang
dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang, meliputi:
a. Faktor internal siswa, meliputi:
1) Bakat
Dasar kepandaiaan dan sifat pembawaan dari lahir yang
dimiliki siswa sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa
terhadap suatu bidang tertentu.
2) Minat
Minat dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, kalau
seseorang menyenangi dan berminat terhadap matematika maka ia
akan berusaha untuk berhasil dalam mengikuti seluruh proses
pembelajaran sebaliknya apabila tidak menyenanginya maka ia akan
belajar dengan perasaan terpaksa, mengikuti proses pembelajaran
hanya sekedar formalitas dan pembelajaran menjadi tidak bermakna.
3) Kemauan belajar.
Salah satu tugas guru mengubah yang tidak mau belajar
menjadi antusias belajar dan menyenangi pelajaran tersebut.
4) Sikap mental siswa
Sikap mental siswa sangat mempengaruhi dalan proses
pembelajaran, sikap mental ini meliputi kematangan sosial emosional
siswa dan pengetahuan prasarat yang dimilikinya untuk meningkatkan
prestasi belajarnya,
b. Faktor Eksternal Siswa
1) Metode Pembelajaran
Terdapat kaitan yang erat antara belajar dan pembelajaran.
Tujuan utama pembelajaran adalah mendorong peserta didik
belajar. Pembelajaran adalah upaya pengaturan informasi dan
lingkungan sedemikian rupa untuk memfasilitasi terjadinya proses
belajar pada diri peserta didik. Lingkungan pembelajaran meliputi
metode, media, dan peralatan yang diperlukan dalam penyampaian
informasi dalam proses pembelajaran. Pengaturan atau pemilihan
metode, media, dan peralatan serta informasi dalam proses
pembelajaran menjadi tanggung jawab dari guru untuk merancang
atau mendesainnya. Dengan demikian, metode pembelajaran
langkah-langkah taktis bagi guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan.
2) Kepribadian guru.
Kepribadian guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
proses pembelajaran siswa. Guru menurut tokoh pendidikan
Nasional Ki Hajar Dewantoro, dihadapan mata anak harus dapat
menjadi suri tauladan yang baik, ditengah aktivitas dengan siswa
dapat membangun keinginan dan minat siswa untuk belajar dan
dibelakang layar mampu memberdayakan siswanya untuk belajar
lebih baik.
3) Lingkungan belajar.
Lingkungan belajar siswa sangat mendukung keberhasilan
proses pembelajaran, jika lingkungan belajar siswa tertata dengan
baik maka proses pembelajaran akan dapat berlangsung dengan
baik, agar lingkungan pembelajaran dapat mendukung usahakan:
a) Suasana pembelajaran memberi kesempatan siswa untuk
melakukan penelitian
b) Bersikap yang tidak berlebihan (wajar) jika mendapatkan
jawaban yang tidak benar dari siswa
c) Meningkatkan kompetensi keguruan dari guru agar
keberhasilan siswa dalam belajar meningkat
3. Pelajaran Al Qur’an Hadits
Mempelajari al Qur'an dan hadits merupakan kewajiban bagi setiap
Islam. Sehingga hampir mustahil seorang muslim dapat menjalankan
agamanya dengan baik tanpa mempelajari al Qur'an dan hadits. Karena al
Qur'anlah yang menjadi pembeda antara yang benar dan salah. Sebagaimana
firmanNya dalam QS Al. Baqarah: 185
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil).
Menurut bahasa kata Al-Qur'an merupakan mashdar yang maknanya
dengan kata Qiro'ah (bacaan). Dalam definisi Al-Qur'an banyak perbedaan
pendapat diantara ulama', Kata Al-Qur'an itu dipindahkan dari masdar dan
dijadikan sebagai nama dari kalam Allah yang mu'jiz, diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW. Jadi, kata Al-Qur'an adalah bentuk mengucapkan masdar
(bacaan) tetapi yang dikehendaki dari kata maful (yang dibaca). Adapun
pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah dari kata Qar'u yang
artinya kumpul.
Al-Qur'an secara istilah menurut manna' Al-Qathkhan adalah kitab
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan orang yang membaca
akan memperoleh pahala. Menurut Al-Jurjani, Al-Qur'an wahyu yang
diturunkan kepada rasulullah SAW, yang ditulis dalam mushhaf dan
Adapun menurut kalangan pakar ushul fiqih, fiqih, dan bahasa arab,
adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, lafadz-lafadznya
mengandung mukjizat, membacanya nilai ibadah, diturunkan secara
mutawatir, dan ditulis pada dari surat Al-Fatihah (1), sampai akhir surat An-
Nas (114). Selain dinamakan Al-Qur'an, kitab ini juga dinamakan Al-Furqon
merupakan bagian yang ikut wazan fu’lan dari lafal faraqa yang artinya ialah
pembeda (fa'il). Nama Al-Qur'an dan Al-Furqon merupakan sebagian nama di
antara sekian banyak nama-nama Al-Qur’an yang paling terkenal.
Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya ulama —seperti definisi
Al-Sunnah- sebagai "Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad
saw., baik ucapan, perbuatan dan taqrir (ketetapan), maupun sifat fisik dan
psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya." Ulama ushul
fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada "ucapan-ucapan Nabi
Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum"; sedangkan bila mencakup
pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga
hal ini mereka namai Al-Sunnah. Pengertian hadis seperti yang dikemukakan
oleh ulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai bagian dari wahyu Allah
SWT yang tidak berbeda dari segi kewajiban menaatinya dengan ketetapan-
ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu Al-Quran8
Sedangkan yang akan menjadi pembahasan penulis kali ini adalah
pelajaran Al Qur'an hadits yang merupakan salah satu mata pelajaran dalam
kurikulum Madrasah Ibtiaiyyah. Sehingga penulis tidak memberikan penulis
panjang lebar pada bahasan ini.
B. Metode Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw
1. Metode Cooperative Learning
Falsafah yang mendasari metode pembelajaran kooperatif adalah
falsafah homo homini socius. Berlawanan dengan teori Darwin falsafah Ini
menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial9. P e m b e la ja r a n
kooperatif (Cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang
berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama
dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta harapan
masa depan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itu, manusia dapat
saling asah, asih, dan asuh (saling mencerdaskan). Pembelajaran
kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, asuh sehingga tercipta
masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya belajar dari
guru, tetapi juga teman dari siswanya.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara sadar dan
sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindarkan
ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan
permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat. Pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran yang didalamnya terdapat elemen-elemen
yang saling terkait. Elemen-elemen itu adalah
a. Saling ketergantungan positif
b. Interaksi tatap muka
c. Akuntabilitas individual
d. Keterampilan untuk menjalain hubungan antar pribadi
e. Evaluasi Proses Kelompok10
Keterangan:
a. Saling ketergantungan positif
Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa
saling membutuhkan. Saling ketergantungan dapat dicapai melalui:
1. Saling ketergantungan mencapai tujuan
2. Saling ketergantungan menyelesaikan tugas
3. Saling ketergantungan bahan atau sumber
4. Saling ketergantungan peran
5. Saling ketergantungan hadiah
b. Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka akan memaksa saling tatap muka dalam
kelompok sehingga dapat berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan
dengan guru terhadap siswa tetapi juga siswa dengan siswa.
c. Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar
kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa
terhadap materi pelajaran secara individual. Hasilnya selanjutnya
disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok
mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang akan
membantu. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua
anggotanya. Penilaian kelompok yang didasrkan atas rata-rata
penguasaan semua anggota kelompok secara individual ini yang
dimaksud dengan akuntabilitas individual.
d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap
teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani
mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri
tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang
tidak dapat menjalin hubungan antarpribadi akan memperoleh teguran
dari guru juga dari sesama.
e. Evaluasi Proses kelompok
Semua kegiatan pembelajarandalam metode ini harus dievaluasi
keefektifannya selang beberapa waktu setelah keija kelompok selesai.
Adapun hal- hal yang perlu dievaluasi adalah sikap saling membantu, saling
memperhatikan, saling mendengarkan dan sebagainya."
Abraham Maslow mengajarkan bahwa kebutuhan manusia yang
paling mendasar adalah kebutuhan rasa aman. Kebutuhan tersebut harus
terpenuhi sebulum mencapai sesuatu atau menggali hal- hal baru. Dan dia
mengajarkan bahwa untuk mendapatkan rasa aman tersebut jalan
utamanya adalah menjalin hubungan dengan orang lain dan menjadi
bagiab dari kelommpok. Perasaan saling memeliki inimemungkinkan
siswa untuk menghadapi tantangan.* 12
Struktur tujuan kooperatif teijadi jika siswa dapat mencapai tujuan
mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai
" Ibid., 30-35
tujuan tersebut. Tiap-tiap individu ikut andil menyumbang pencapaian itu.
Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa
lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Pola pencapai tujuan dalam
pembelajaran kooperatif ini dapat digambarkan seperti dua orang yang
memikul balok. Balok akan dapat dipikul bersama-sama jika dan hanya
jika kedua orang tersebut berhasil memikulnya. Demikian pula halnya
dengan tujuan yang akan dicapai oleh suatu kelompok siswa tertentu.
Tujuan kelompok akan tercapai apabila semua anggota kelompok
mencapai tujuannya secara bersama-sama.
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut:
a. Siswa dalam kelompoknya harus merasakan bahwa mereka
“sehidup semati”;
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam
kelompoknya, seperti milik mereka sendiri
c. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam
kelompoknya memiliki tujuan yang sama
d. Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama
diantara anggota kelompoknya
e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan
yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok;
f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya;
g. Siswa akan diminta mempertangungjawabkan secara individu
Sementara itu, pembelajaran yang menggunakan model kooperatif
pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk
menuntaskan materi belajarnya
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,
sedang, dan rendah
c. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya,
suku, jenis kelamin berbeda-beda
d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai
setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar
akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan
keterampilan sosial. Efek penting yang pertama pembelajaran kooperatif
bertujuan untuk meningkatkan kineija siswa dalam tugas-tugas akademik.
Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu
siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Di samping mengubah norma
yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat
memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun
kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas
akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi totur bagi siswa kelompok
bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang
memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Pelaksaanaan tutorial ini, siswa
kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi
hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu. Efek penting
yang kedua dari model pembelajaran kooperatif ialah penerimaan yang
luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial,
kemampuan, maupun ketidak mampuan.
Telah diketahui bahwa hanya kontak fisik s tua di antara orang»
orang yang berbeda ras atau kelompok etnik tidak cukup untuk
mengurangi kecurigaan dan perbedaan ide. Pembelajaran kooperatif
memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi
untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama,
dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk
menghargai satu sama lain. Efek penting yang ketiga dari model
pembelajaran kooperatif ialah ketrampilan sosial, salah satunya
mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat di
mana banyak aktivitas sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang
saling bergantung satu sama lain dan di mana masyarakat secara budaya
semakin beragam. Langkah-langkah utama di dalam pelajaran yang
menggunakan pembelajaran kooperatif adalah pelajaran dimulai dengan
guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.
Langkah ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan
bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke
dalam tim-tim belajar. Tahap menyelesaikan tugas bersama mereka. Tahap
terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja
memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun
individu. Peningkatan belajar teijadi tidak bergantung pada usia siswa,
mata pelajaran, atau aktivitas belajar. Tugas-tugas belajar yang kompleks
seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, dan pembelajaran konseptual
meningkat secara nyata pada saat digunakan strategi-strategi kooperatif.
Siswa lebih memiliki kemungkinan mengunakan tingkat berpikir yang
lebih tinggi selama dan setelah diskusi dalam kelompok kooperatif
daripada mereka bekeija secara individual atau kompetitif. Jadi materi
yang dipelajari siswa akan melekat untuk periode waktu yang lebih lama.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa alam “setting” kelas kooperatif,
siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman yang lain diantara
sesama siswa daripada belajar dari guru. Konsekuensinya, pengembangan
komunikasi yang efektif seharusnya tidak ditinggalkan demi kesempatan
belajar itu. Model pembelajaran kooperatif memanfaatkan kecenderungan
siswa untuk berinteraksi.
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa suatu kerangka teoritis
dan empirik yang kuat untuk pembelajaran kooperatif mencerminkan
pandangan bahwa manusia belajar dari pengalaman mereka dan partisipasi
aktif dalam kelompok kecil membantu siswa belajar keterampilan sosial
yang penting sementara itu secara bersamaan mengembangkan sikap
demokratis dan keterampilan berfikir logis.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi hasil belajar model
a. Kecerdasan individu
b. Hubungan emosional antar individu
c. Familiaritas dalam masalah yang dikerjakan.
d. Familiaritas metode yang dipakai13.
2. Teknik Jigsaw a. Pengertian
Salah satu model pembelajaran koopetif learning adalah
cooperative learning teknik Jigsaw. Model pembelajaran kooperatif
Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson tahun 1971 di Austin, Texas14.
Jigsaw merupakan pembelajaran kooperatif yang memungkinkan masing-
masing siswa membentuk satu kelompok yang mengkhususkan diri pada
satu materi pembelajaran 15 Eliot sendiri mengatakan mengatakan:
Jigsaw is a cooperative learning strategy that enables each student o f a “home ” group to specialize in one aspect o f a learning unit. Students meet with members from other groups who are assigned the same aspect, and after mastering the material, return to the “home ” group and teach the material to their group members.16
(Jigsaw adalah sebuah strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa pada kelompok asal untuk mempelajari secara khusus salah satu pokok pembelajaran. Para siswa bertemu dengan anggota kelompok lain yang mempelajari materi ayg sama, dan setelah selesai membahas materi, kembali ke kelompok asal dan mengajarkannya kepada anggota kelompoknya)
Srategi yang dipakai sangat menarik karena semacam ada unsur
pemainan sebagaimana namanya jigsaw (sejenis permainan bongkar
pasang) menuntut siswa untuk bergeser saling bertukar tempat untuk
melakukan diskusi. Setiap siswa mempelajari materi yang berbeda-beda
13 W inam o Surakhmad, Pengantar Interaksi Belajar Mengajar, Tarsito, Bandung, 1980, hal. 118
14 Elliot Aronson. The Jigsaw Classroom, W eb Site Copyright 2000-2006, Social Psycology Network, http://www.jigsaw.org (2 0 m ei 2009)
5 Anita Lie, op. cit., hal. 35