BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) yang menjadi komitmen 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Millenium pada bulan September tahun 2000 yang lalu menetapkan 8 kelompok tujuan yang akan dicapai pada tahun 2015 yaitu:
(1) Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, (2) Mencapai pendidikan dasar untuk semua, (3) Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, (4) Menurunkan angka kematian anak, (5) Meningkatkan kesehatan ibu,(6) Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit menular lainnya, (7) Memastikan kelestarian lingkungan hidup, (8) Mengembangkan kemitraan global.
Pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan UNICEF telah menyusun dan melaksanakan program yang terkait dengan MDGs tersebut. Salah satunya adalah Penguatan data Sektoral MDGs 2007 yang dilaksanakan pada 2 (dua) Provinsi yakni Sulawesi Selatan sebanyak tiga Kabupaten yakni Bantaeng, Takalar dan Bone. Sedangkan di Provinsi Sulawesi Barat yakni Polewali Mandar,dan Mamuju. Kegiatan laporan penguatan Data Sektoral MDGs ini masih dalam uji coba dan diharapkan hasilnya akan direplikasi oleh kabupaten/kota di kedua provinsi dan pada akhirnya juga akan diterapkan di seluruh kabupaten/kota lainnya di Indonesia. Penguatan Data Sektoral ini merupakan bagian dari Program Monitoring MDGs yang baru dilaksanakan di Kab. Polewali Mandar untuk periode kerjasama Pemerintah Kab. Polewali Mandar dengan United Nation Children Fund (UNICEF) 2006-2010, yang bertujuan membantu pemerintah untuk mewujudkan tujuan dalam meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di daerah yang sangat diharapkan agar setiap daerah mampu membangun sistem pendataan guna memenuhi kebutuhan data dan informasi pembangunannya.
Sejak Tahun 2007 sampai Tahun 2010 salah satu kegiatan untuk mendukung Monitoring MDGs Pemerintah Kab. Polewali Mandar telah melakukan Penguatan Data Sektoral melalui Pengumpulan Data, Pengolahan dan Analisis di SKPD Kab. Polewali Mandar terkait MDGs Yakni : Bappeda selaku Koordinator Kegiatan, Badan Pusat Statistik (BPS) selaku Koordinator Teknis, Dinas Kesehatan. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP3KB), Dinas Sosial, Tenaga Kerja & Transmigrasi, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kantor Lingkungan Hidup. Penguatan Data Sektoral menjadi kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya untuk mengetahui perkembangan percapaian indicator MDGs khususnya yang dikumpulkan melalui sektoral kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman yang baku mengenai pengumpulan dan penghitungan indikator MDGs berdasarkan data sektoral pada tingkat kabupaten dan kecamatan bagi aparat di daerah, dengan meningkatkan pemahaman yang baku diharapkan di kabupaten menyadari pentingnya peran sektor sehingga dapat menyambungkan datanya masing-masing untuk memantau pencapai target MDGs, yang ditargetkan dicapai pada tahun 2015.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Laporan Analisis Data Sektoral MDGs 2008 - 2010 ini adalah untuk:
a. Mendapatkan gambaran sejauhmana pencapaian dari 8 Tujuan Pembangunan
Milenium, 11 target dan 54 indikator yang telah disepakati di Kab. Polewali Mandar.
b. Mengetahui kendala dan hambatan dari data yang telah diperoleh di masing-masing SKPD yang terkait dengan indikator-indikator yang yang telah disepakati dalam MDGs.
1.3 Sumber Data
Sumber data analisis ini berasal dari hasil penguatan data sektoral MDGs 2008-2010 sebagai koordinator kegiatan Bappeda dan BPS sebagai penanggung jawab teknis bersama Tim Kelangsungan Hidup Perkembangan Perlindungan Ibu dan Anak (KHPPIA) / MDGs Kab. Polewali Mandar.
Data yang akan diolah menjadi data indikator MDGs adalah data Sektoral oleh karena itu sumber data yang dibutuhkan adalah pendataan sektor yang menyangkut MDGs. Sumber data ini masih banyak tidak berada di satu Unit dalam SKPD terkait MDGs, melainkan tersebar di beberapa unit lain. Sumber data yang lainnya juga diperoleh:
SKPD di luar SKPD terkait MDGs Misalnya; Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Perhubungan, Kantor Cabang Dinas/ UPT.
Ditempat lain seperti petugas Kecamatan, Pengawas, lembaga Sosial/Organisasi Kemasyarakatan yang ada di daerah, Dokter Praktek Swasta, Bidan Praktek Swasta, Rumah Sakit/Klinik Swasta.
Penguatan data sektoral MDGs ini dilaksanakan mulai pada bulan Januari sampai pada pertengahan bulan Mei 2011.
BAB II
ANALISIS DATA SEKTORAL MDGs KAB. POLEWALI MANDAR TAHUN 2009 - 2010
2.1 Gambaran Umum Kab. Polewali Mandar
Kab. Polewali Mandar dengan luas wilayah 2.022,30 km2 yang meliputi 16 kecamatan. Pemerintahan Kab. Polewali Mandar menaungi 16 kecamatan dengan 167 desa/kelurahan. Diantara 16 kecamatan di Kab. Polewali Mandar, ibukota kecamatan yang letaknya terjauh dari kabupaten adalah ibukota Kecamatan Tutar yaitu 72 km dan ibukota kecamatan yang terdekat dari kabupaten adalah ibukota Kecamatan Anreapi yang berjarak 5 km dari Polewali.
Berdasarkan BPS pada Tahun 2009 penduduk usia kerja di Kab. Polewali Mandar yang aktif dalam kegiatan ekonomi yang disebut dengan angkatan kerja sebanyak 63,68%. Dari seluruh angkatan kerja tersebut tercatat 8.05% dalam status pencari kerja.
Dilihat dari segi lapangan usaha, sebagian besar penduduk Kab. Polewali Mandar bekerja di sektor pertanian yakni 105.488 orang (61,10% dari jumlah penduduk yang bekerja) setelah sektor pertanian, sektor perdagangan dan industri yang masing-masing menyerap tenaga kerja sebesar 16.085 (12,14%) dan 13.132 (9,34%). Penduduk Usia Kerja (PUK) di definisikan sebagai penduduk yang berusia 10 Tahun keatas. Penduduk Usia Kerja terdiri dari Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Mereka yang termasuk dalam Angkatan Kerja adalah penduduk yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan, sedangkan Bukan Angkatan Kerja adalah mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lainnya.
Pendidikan merupakan salah satu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu upaya pemerintah daerah dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan SDM melalui pendidikan adalah mencanangkan program Wajib Belajar 9 Tahun. Dengan program ini diharapkan akan tercipta Sumber Daya Manusia yang siap bersaing dalam era globalisasi. Demikian juga dengan Kab. Polewali Mandar yang berupaya menciptakan suatu masyarakat yang berpendidikan.
Pembangunan kesehatan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka akan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara langsung. Upaya pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas kesehatan terutama puskesmas pembantu terus mengalami peningkatan. Tenaga kesehatan seperti dokter dan bidan merupakan sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan. Berdasarkan dari data Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar pada Tahun 2009 ada 32 orang dokter umum, 11 orang dokter gigi, 10 orang dokter ahli dan 110 orang bidan.
Selama Tahun 2010 di Kab. Polewali Mandar tercatat 36.376 peserta Keluarga Berencana (KB) yang baru. Jumlah ini meningkat dari Tahun sebelumnya sebesar 31.024 akseptor. Peningkatan jumlah akseptor terjadi pada peserta KB laki-laki, dari 3,42% pada Tahun 2009 menjadi 5,45% Tahun 2010. Sedangkan peserta KB perempuan terjadi penurunan dari 96,58% tahun 2009 menjadi 94,28% pada Tahun 2010.
Pada Tahun 2010 di Kab. Polewali Mandar terdapat 3 rumah sakit, yang terdiri dari 1 Rumah Sakit Umum dan 1 Rumah Sakit ABRI dan 1 Rumah Sakit Swasta. Sedangkan jumlah puskesmas pada Tahun 2010 adalah 20 unit, poskes 17, pustu 59.
2.2 Kependudukan
Penduduk merupakan salah satu unsur penting yang ikut berperan dalam proses pembangunan. Unsur penduduk tidak dapat diabaikan karena penduduk merupakan objek sekaligus subjek dalam proses pembangunan itu sendiri. Penduduk tidak saja menjadi sasaran tetapi juga menjadi pelaksana dari pembangunan. Dengan demikian pemahaman akan dinamika kependudukan yang meliputi jumlah, komposisi dan distribusi penduduk menjadi suatu hal yang penting untuk diketahui sebagai data dasar pada tahapan perencanaan pembangunan.
Jumlah penduduk Kab. Polewali Mandar Tahun 2009 sebesar 373.263 jiwa yang tersebar di 16 Kecamatan dengan perkiraan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,5%, terdiri dari 181.660 jiwa laki-laki dan 191.603 jiwa perempuan. Sementara itu jumlah penduduk Kab. Polewali Mandar Tahun 2010 yang diambil dari hasil Sensus Penduduk 2010 (SP 2010) sebesar 396.120 jiwa (angka Sementara) yang terdiri dari
193.108 jiwa laki-laki dan 203.012 jiwa perempuan. Rasio jenis kelamin relatif tetap baik pada Tahun 2009 maupun 2010 sebesar 95, yang artinya bahwa dari 100 perempuan terdapat 95 laki-laki.
Ditinjau dari persebaran tempat tinggalnya, sebesar 106.688 jiwa (26,9%) tinggal di perkotaan dan 289.432 jiwa (73,1%) jiwa tinggal di perdesaan. Sementara itu, kepadatan penduduk di Kab. Polewali Mandar sebesar 196 jiwa/km.
Jumlah rumah tangga di Kab. Polewali Mandar pada Tahun 2009 sebesar 80.162 rumah tangga dan pada Tahun 2010 melalui Sensus Penduduk meningkat menjadi sebesar 87.948 rumah tangga. Sementara itu, rata-rata jumlah anggota rumah tangga baik pada Tahun 2009 maupun 2010 diperkirakan sama yaitu sebesar 4 sampai 5 jiwa per rumah tangga.
Tabel. 2.2
Karakteristik Penduduk di Kab. Polewali Mandar Tahun 2009 - 2010
Keadaan 2009 2010
Jumlah Penduduk Total 373.263 396.120
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin:
a. Laki-laki 181.660 193.108
b. Perempuan 191.603 203.012
Rasio Jenis Kelamin 95 95
Jumlah Rumah Tangga 80 162 87.948
Rata-rata Jumlah Anggota Rumah Tangga 5 4 s/d 5
Pertumbuhan Penduduk (%) 0,5 0,5
Kepadatan Penduduk/km² 185 196
Sumber: Badan Pusat Statistik
Sejalan dengan adanya pertumbuhan penduduk, kepadatan penduduk di Kab. Polewali Mandar meningkat dari 185 jiwa/km pada Tahun 2009 menjadi 196 jiwa/km pada Tahun 2010.
Grafik. 2.2 Piramida Penduduk
Kab. Polewali Mandar Tahun 2010
Sumber : Badan Pusat Statistik Tahun 2010
Struktur penduduk Kab. Polewali Mandar tergolong penduduk muda. Persentase penduduk umur muda relatif lebih banyak dari pada penduduk umur tua. Hal ini dapat dilihat dari bentuk Piramida Penduduk diatas Grafik 2.2.
2.3 Pendidikan
Memastikan semua anak laki-laki maupun perempuan di manapun untuk dapat menyelesaikan pendidikan dasar pada Tahun 2015 merupakan target MDGs yang utama di bidang pendidikan. Pengukuran pencapaian target ini menggunakan beberapa indikator.
Data yang digunakan untuk memenuhi perhitungan beberapa indikator tersebut diambil dari Laporan Individu Sekolah Tahun 2009 dan 2010 yang dirangkum di Dinas Pendidikan dan Kantor Departemen Agama Kabupaten. Rangkuman Laporan individu sekolah ini disebut RC/RK-TK/RA, RC/RK-SD/MI, RC/RK-SMP/MTs dan RC/RK-SM. Untuk data penduduk digunakan data dari BPS.
2.3.1 Angka Partisipasi Pendidikan Pra Sekolah (4 -6 Tahun)
Pendidikan pra sekolah adalah pendidikan anak sebelum memasuki bangku sekolah dasar (SD), dimana anak tersebut terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di
taman kanak-kanak (TK)/Bustanul Athfal (BA), Raudatul Athfal (RA), kelompok bermain, taman penitipan anak, PAUD, dan Lembaga lainnya.
Angka partisipasi murni prasekolah adalah perbandingan antara jumlah siswa prasekolah (TK, RA, BA) usia 4-6 Tahun dengan jumlah penduduk usia 4-6 Tahun dan dinyatakan dalam persentase.
Tabel. 2.3.1
APM Pendidikan Pra Sekolah Usia 4-6 Tahun di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 20109
Uraian Data Tahun
2008
Tahun 2009
Tahun 2010
Jumlah Siswa Pra Sekolah Usia 4-6 Tahun 6.070 5.909 5.844 Jumlah Penduduk Usia 4-6 Tahun 25.487 26.757 28.417
APM (Persen) 23.82 22.08 20.57
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor Grafik. 2.3.1
APM Pendidikan Pra Sekolah Usia 4-6 Tahun di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Berdasarkan hasil pengumpulan data sektor pada tahun 2008 sampai 2010, Angka Partisipasi Pendidikan Pra Sekolah di Kab. Polewali Mandar masih sangat rendah walaupun terdapat kenaikan dari 22.08% tahun 2009 menjadi 20.57% di tahun 2010. Hal ini menunjukkan adanya keinginan sebahagian orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke pendidikan prasekolah.
2.3.2 Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar (7-12 Tahun)
Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar adalah perbandingan antara siswa SD, usia 7-12 Tahun termasuk MI setara SD dan Ula dengan jumlah penduduk usia 7 – 12 Tahun dinyatakan dalam persentase.
Tabel. 2.3.2
Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar (7-12 Tahun) di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Grafik. 2.3.2
Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar (7-12 Tahun) di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 – 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Persentase partisipasi Sekolah Dasar usia 7 - 12 tahun di Kab. Polewali Mandar adalah 94.63% tahun 2009 dan 97.41% di tahun 2010. Berdasarkan tabel di atas, APM SD 7-12 tahun sudah melampaui target nasional sebesar 95%, ini menunjukkan bahwa penduduk usia 7-12 tahun hampir semuanya seudah bersekolah di jenjang Sekolah Dasar.
2.3.3 Angka Partisipasi Murni di Sekolah Lanjutan Pertama
Nilai APM SMP yang tinggi menunjukkan partisipasi siswa SMP dan sederajat terhadap pendidikan usia resmi SMP. Nilai maksimum APM SMP adalah 100%. Pencapaian APM SMP Tahun 2010 sebesar 56.54%, hal tersebut menunjukkan bahwa masih ada sekitar 43.44% anak usia 13-15 tahun yang tidak bersekolah di tingkat SMP dan sederajat.
Uraian Data Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Siswa SD/MI Sederajat
Usia 7-12 Th 26.967 25.405 52.372 26.514 25.009 51.523 26.937 25.282 52.219 Penduduk Usia 7-12 Th 27.680 25.334 53.014 28.326 26.118 54.444 27.611 25.995 53.606
Tabel. 2.3.3
APM SMP Usia 13-15 Tahun
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Uraian Data Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Siswa SMP/MTs Sederajat
Usia 13-15 Th 7.779 8.031 15.810 6.764 7.325 14.089 6.887 7.373 14.260
Penduduk Usia 13-15 Th 12.607 12.078 24.685 12.504 11.942 24.446 12.797 12.424 25.221
APM (Persentase) 61.704 66.493 64.047 54.095 61.338 57.633 53.817 59.345 56.540
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Grafik. 2.3.3
APM SMP Usia 13-15 Tahun
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa APM SMP Usia 13-15 Tahun 2008 sebesar 64.047% dan 57.633% pada tahun 2009. Sampai akhir tahun 2010 masih terdapat 43.44% anak usia 13-15 Tahun yang tidak bersekolah di jenjang SMP sederajat, hal ini antara lain disebabkan adanya anak lulus SD/MI sederajat tetapi tidak melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs sederajat.
2.3.4 Angka Partisipasi Murni AnakCacat
Angka partisipasi murni anak tuna adalah perbandingan antara jumlah siswa SLB usia 7-15 Tahun dengan jumlah penduduk tuna usia 7-15 Tahun, dinyatakan dalam persentase. Indikator ini untuk memantau partisipasi anak cacat atau yang memiliki kebutuhan khusus dan sedang mengikuti pendidikan di Sekolah Luar Biasa.
Data sektor Tahun 2007 dan 2008 hanya dapat mengumpulkan jumlah siswa di Jenjang SLB sebagai berikut :
Tabel. 2.3.4
Jumlah Anak Cacat usia 7-15 Tahun di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Uraian Data Tahun 2007 Tahun 2008
L P Total L P Total
Siswa Anak Cacat Usia 7-15 Th yang
bersekolah di SLB 8 6 14 41 25 66 Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
2.3.5 Proporsi Murid Kelas I yang Berhasil Mencapai Kelas V
Proporsi murid kelas I yang berhasil mencapai kelas V adalah proporsi murid pada cohort murid kelas I sekolah dasar yang memasuki jenjang sekolah dasar pada Tahun ajaran tertentu dan berhasil mencapai kelas V dan dinyatakan dalam
Persentase, digunakan untuk mengetahui berapa lama sistem pendidikan dapat mempertahankan siswa di sekolah baik dengan atau tanpa mengulang dan putus sekolah. Juga digunakan untuk mengukur hasil mengulang dan putus s ekolah pada efisiensi internal.
Untuk melihat gambaran persentase murid kelas I yang berhasil mencapai kelas V di Kab. Polewali Mandar berdasarkan hasil pengumpulan data sektoral Tahun 2009-2010 dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel. 2.3.5
Proporsi Murid Kelas 1 yang Berhasil Mencapai Kelas V di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Uraian Data
Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Siswa Kelas V SD/MI
Sederajat 4.468 4.499 8.967 4.642 4.695 9.337 4.535 4.438 8.973 Siswa Kelas 1 SD/MI
Sederajat (Th – 4) 4.852 4.528 9.380 5.952 5.453 11.405 4.811 4.518 9.329
Persentase 92.09 99.36 95.60 77.99 86.10 81.87 94.26 98.23 96.18
Grafik. 2.3.5
Proporsi Murid Kelas 1 yang Berhasil Mencapai Kelas V di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 – 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Persentase siswa kelas I yang bertahan sampai kelas V sampai 95.50% tahun 2008 dan turun menjadi 81.87% di akhir tahun 2009. Pada tahun 2010 sebanyak 3.82% anak tidak bertahan sampai dengan kelas V yang antara lain disebabkan adanya mutasi dan siswa yang putus sekolah.
2.3.6 Proporsi Murid Kelas I yang Berhasil Menamatkan Sekolah Dasar
Indikator ini didapatkan dari perbandingan jumlah siswa yang berhasil meluluskan pendidikan pada jenjang SD/MI sederajat dengan jumlah penduduk usia 7-12 Tahun.
Nilai proporsi siswa tingkat I yang berhasil menamatkan Sekolah Dasar yang tinggi menunjukkan makin sesuai antara siswa bersekolah dengan usia resmi. Seperti diketahui bahwa usia resmi masuk SD adalah 7 Tahun sehingga lulus SD seharusnya usia 12 Tahun. Dari data sektor Tahun 2007 dan 2009 didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel. 2.3.6
Proporsi Murid di Kelas I yang Berhasil Menamatkan Sekolah Dasar di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Uraian Data Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Lulusan SD/MI Sederajat 3.789 3.864 7.653 3.799 3.795 7.594 3.897 3.998 7.895 Penduduk Usia 12 Tahun 4.587 4.353 8.940 4.606 4.405 9.011 4.553 4.311 8.864
Persentase 82.60 88.77 85.60 82.48 86.15 84.27 85.59 92.74 89.07
Grafik. 2.3.6
Proporsi Murid di Kelas I yang Berhasil Menamatkan Sekolah Dasar di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 – 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Berdasarkan tabel di atas, Proporsi Murid Kelas I yang berhasil menamatkan Sekolah Dasar pada tahun 2008 sebesar 85.60% dan pada tahun 2009 sebesar 84.72%. Sampai dengan akhir tahun 2010 terdapat 10.93% penduduk usia 12 tahun yang tidak mengenyam pendidikan dasar atau tidak menyelesaikan pendidikan di SD/MI sederajat.
2.3.7 Proporsi Murid Kelas I yang Berhasil Menyelesaikan Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.
Proporsi siswa tingkat I yang berhasil menyelesaikan Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Jenjang SD dan SMP) adalah banyaknya siswa tingkat 1 SD yang berhasil menyelesaikan Pendidikan 9 Tahun (tamat SMP termasuk MTs, Wustha/ setara SMP) pada Tahun tertentu terhadap jumlah penduduk berusia 15 Tahun.
Berdasarkan hasil pengumpulan data sektoral di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 dan 2010 Proporsi Murid kelas I yang berhasil menyelesaikan pendidikan dasar sembilan Tahun dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :
Tabel 2.3.7
Proporsi Murid Kelas I yang Berhasil Menyelesaikan Pendidikan Dasar Sembilan Tahun
di Kab. Polewali MandarTahun 2008 - 2010
Uraian Data Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Lulusan SMP/MTs
Sederajat 2.096 2.228 4.324 2.127 2.270 4.397 2.849 2.955 5.804 Penduduk Usia 15
Tahun 3.965 3.813 7.778 3.910 3.716 7.626 4.112 4.058 8.170
Persentase 52.86 58.43 55.59 54.40 61.09 57.66 69.29 72.82 71.04
Grafik. 2.3.7
Proporsi Murid Kelas I yang Berhasil Menyelesaikan Pendidikan Dasar Sembilan Tahun
di Kab. Polewali MandarTahun 2008 - 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Dari Persentase 55.59% Tahun 2008 dan 57.66% pada Tahun 2009, dan terus meningkat menjadi 71.04% penduduk usia 15 tahun yang tidak menyelesaikan Pendidikan Dasar 9 tahun atau tamat SMP/MTs sederajat pada tahun 2010.
2.3.7.1 Angka Kelulusan SD
Angka kelulusan dianggap perlu untuk memonitor kemajuan pencapaian target 3 MDGs guna memantau kemajuan siswa dalam menamatkan pendidikannya di SD/MI sederajat.
Angka kelulusan adalah perbandingan antara siswa yang lulus jenjang tertentu terhadap siswa tingkat tertinggi pada jenjang yang sama dinyatakan dalam Persentase. Capaian pada Tahun 2008 – 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 2.3.7.1 Angka Kelulusan SD
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Uraian Data Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Lulusan SD/MI Sederajat 3.789 3.864 7.653 3.799 3.795 7.594 3.897 3.998 7.895
Siswa Tk.6 SD/MI
Sederajat 3.855 3.918 7.773 4.114 4.225 8.339 4.289 4.333 8.622
Persentase 98.29 98.62 98.46 92.34 89.82 91.07 90.86 92.27 91.57
Grafik. 2.3.7.1 Angka Kelulusan SD
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Capaian Tahun 2008 sebesar 98.46% , Tahun 2009 sebesar 91.07% dan siswa Tk.6 SD/MI sederajat yang tidak lulus mengikuti ujian akhir pada jenjang SD/MI sederajat sebesar 8.43% pada Tahun 2010.
2.3.7.2 Angka Kelulusan SMP
Angka kelulusan SMP adalah perbandingan antara siswa yang lulus jenjang tertentu terhadap siswa tingkat tertinggi pada jenjang yang sama. Indikator ini juga untuk memantau tingkat keberhasilan siswa menamatkan pendidikannya di jenjang SMP/MTs sederajat.
Capaian dari data sektor yang dikumpulkan pada Tahun 2008 – 2010 adalah sebagai berikut :
Tabel. 2.3.7.2 Angka Lulusan SMP
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Uraian Data Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Lulusan SMP/MTs
Sederajat 2.096 2.228 4.324 2.127 2.270 4.397 2.849 2.955 5.804 Siswa Tk.3 SMP/MTs
Sederajat 2.836 2.930 5.766 2.753 2.968 5.721 3.528 3.547 7.075
Grafik. 2.3.7.2 Angka Lulusan SMP di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 – 2010
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Pada tahun 2008 sebanyak 74.99% dan 76.86% di tahun 2009, sedangkan anak lulus di SMP/MTs sederajat. Terdapat penurunan 7.96% siswa SMP/MTs sederajat yang lulus tahun 2010.
2.3.8 Angka Putus Sekolah
Angka Putus Sekolah memberikan gambaran mengenai efisiensi proses belajar-mengajar dan merupakan indikator proses dalam pendidikan. Dengan mengetahui Angka Putus Sekolah, dapat dilakukan upaya pencegahan bagi siswa yang memiliki potensi untuk putus sekolah, dan mengembalikan ke sekolah bagi anak yang putus sekolah. Angka putus sekolah di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010 sebagai berikut:
Tabel. 2.3.8 Angka Putus Sekolah
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 – 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Uraian Data Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Siswa Putus Sekolah
SD/MI Sederajat 178 83 261 154 120 274 225 208 433 Siswa Seluruhnya
SD/MI Sederajat 30.420 28.686 59.106 27.076 25.546 52.622 30.308 28.744 59.052
Grafik. 2.3.8 Angka Putus Sekolah
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 – 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Tabel di atas menunjukkan capaian bahwa tidak sampai 1% dari total siswa yang putus sekolah, dilihat dari Persentase sangatlah kecil, namun dari angka absolutnya ini juga memprihatinkan. Proses belajar mengajar di sekolah serta faktor Lingkup sangatlah mendukung agar siswa dapat terus bersekolah.
2.3.9 Angka Melanjutkan ke SMP
Angka melanjutkan ke SMP adalah perbandingan antara lulusan jenjang SD/MI sederajat terhadap siswa baru tingkat 1 pada jenjang SMP/MTs sederajat yang dinyatakan dalam persentase. Indicator ini untuk menggambarkan kemajuan siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP/MTs sederajat setelah lulus dari jenjang pendidikan SD/MI Sederajat. Angka melanjutkan ke SMP di Kab. Polewali Mandar dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel. 2.3.9
Angka Melanjutkan ke SMP
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 – 2010
Uraian Data
Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Siswa Baru SMP/MTs
Sederajat 3623 3794 7417 3.731 3.794 7.525 3.434 3.572 7.006 Jumlah Lulusan SD/MI
Sederajat 3789 3864 7653 3.799 3.795 7.594 3.897 3.998 7.895
Persentase 95.62 98.19 96.92 98.21 99.97 99.09 88.12 89.34 88.74
Grafik. 2.3.9
Angka Melanjutkan ke SMP di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 – 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Persentase yang tinggi menunjukkan tingginya lulusan SD/MI sederajat yang melanjutkan ke tingkat SMP/MTs sederajat. Capaian kurang dari 100% menunjukkan bahwa masih ada lulusan SD/MI sederajat yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP/MTs sederajat.
2.3.10 Angka Melanjutkan ke SM
Indikator ini juga untuk memantau siswa yang menyelesaikan pendidikan dasar dan melanjutkan ke pendidikan menengah. Angka melanjutkan ke SM adalah perbandingan Siswa Baru di tingkat SMA/MA sederajat dengan banyaknya lulusan SMP/MTs sederajat.
Capaian di bawah 100% menunjukkan bahwa adanya siswa yang menyelesaikan pendidikan dasar tidak melanjutkan ke pendidikan menengah. Capaian Tahun 2008 – 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 2.3.10
Angka Melanjutkan ke SM
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Uraian Data Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
L P Total L P Total L P Total
Siswa Baru SMA/MA
Sederajat 2494 2631 5125 2.662 2.740 5.402 2.735 2.713 5.448 Lulusan SMP/MTs
Sederajat 2096 2228 4324 2.127 2.270 4.397 2.849 2.955 5.804
Persentase 118.99 118.09 118.52 125.15 120.70 122.86 96.00 91.81 93.87
Grafik. 2.3.10
Angka Melanjutkan ke SM
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2008 - 2010
Sumber :Hasil Pengolahan Data Sektor
Capaian Pada tahun 2008 sebesar 118.52%, pada tahun 2009 sebesar 122.89%. Hal ini disebabkan pencatatan yang kurang bagus pada tingkat kecamatan, selain itu terdapat siswa baru tingkat 1 pada jenjang SMA/MA sederajat yang bukan lulusan SMP/MTs sederajat dari Kab. Polewali Mandar. Adanya Subsidi Sekolah Menengah yang tidak berlaku di Kab. sekitar menjadi salah satu factor adanya siswa dari kabupaten luar yang bersekolah di Kab. Polewali Mandar.
Selain itu juga di tahun 2010 pencatatan data siswa di tiap sekolah untuk menghitung capaian indikator ini hanya akan digunakan yang berbasis kecamatan di Kab. Polewali Mandar, siswa dari kabupaten lain tidak akan di ikutkan dalam penghitungan capaian.
2.4 Kesehatan
2.4.1 Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran status kelangsungan hidup di suatu wilayah. AKI diperoleh dari Jumlah Kematian Ibu per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian ibu di Kab. Polewali Mandar dinyatakan dalam bentuk jumlah karena jumlah kelahiran hidup tidak mencapai 100.000. Di Tahun 2007 ada sekitar 6.985 kelahiran hidup dan pada Tahun 2008 ada 6.839 kelahiran hidup. Pada Tahun 2009 sebanyak 7.172 kelahiran hidup dan
pada Tahun 2010 ada 7.193 kelahiran hidup. Berdasarkan hasil pengumpulan data sektor dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 2.4.1
Angka Kematian Ibu (AKI)
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Kecamatan Jumlah Kematian Ibu
2007 2008 2009 2010 Tinambung 0 0 0 0 Balanipa 2 1 0 1 Limboro 0 0 0 0 Tubbi Taramanu 1 0 1 0 Allu 4 0 0 0 Campalagian 2 3 1 0 Luyo 1 3 3 2 Wonomulyo 0 0 2 1 Mapilli 1 1 1 1 Tapango 0 2 1 1 Matakali 1 2 0 2 Bulo - - 1 0 Polewali 1 2 1 3 Binuang 1 1 1 2 Anreapi 1 2 0 0 Matangnga 0 0 0 0
Kab. Polewali Mandar 15 17 12 13
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Berdasarkan tabel di atas, jumlah Kematian Ibu di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 sebanyak 15 kematian dan pada Tahun 2008 mengalami kenaikan menjadi 17 kematian, Tahun 2009 turun menjadi 12 kematian dan Tahun 2010 naik menjadi 13 kematian. Bila dibandingkan dengan standar Nasional (MDGs) yaitu 250 per 100.000 kelahiran hidup dikali dengan kelahiran hidup Tahun 2007 di Polewali Mandar sebesar 6.985 maka diperoleh jumlah batasan sebesar 17, Namun demikian target ini harus diturunkan sampai 3/4nya diTahun 2015, jadi posisi normalnya adalah hanya sekitar 5 kematian ibu. Posisi kematian di Polewali Mandar sebanyak 15 kematian masih terlalu tinggi, demikian juga kematian di Tahun 2008 dan 2009 masih terlalu tinggi, bila dibandingkan dengan batasan Target MDGs.
2.4.2 Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi adalah Angka Kematian Bayi per 1.000 kelahiran hidup yang dapat memberikan gambaran salah satu indikator status kelangsungan hidup di suatu wilayah. Angka Kematian Bayi di Kab. Polewali Mandar per 6.985 kelahiran
hidup di Tahun 2007 dan per 6.839 kelahiran hidup di Tahun 2008 serta 7.172 kelahiran hidup di Tahun 2009. Dan Tahun 2010 ada 7.193 kelahiran hidup, berdasarkan pengumpulan data sektor dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.2
Angka Kematian Bayi (AKB)
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Kecamatan Jumlah Kematian Bayi
2007 2008 2009 2010 Tinambung 0 1 9 5 Balanipa 2 7 8 8 Limboro 0 1 0 0 Tubbi Taramanu 0 2 2 4 Allu 5 4 1 3 Campalagian 11 5 5 7 Luyo 3 6 15 8 Wonomulyo 10 13 12 9 Mapilli 1 1 4 7 Tapango 3 4 4 5 Matakali 3 5 8 10 Bulo - - 1 2 Polewali 3 4 16 9 Binuang 3 5 11 13 Anreapi 2 3 2 5 Matangnga 0 0 0 1
Kab. Polewali Mandar 46 61 98 96
Sumber: Hasil Pengolahan Data Sektor
Berdasarkan batasan Capaian Indikator MDGs Angka Kematian Bayi diharapkan berada dibawah 35 per 1000 kelahiran hidup. Dengan jumlah kematian di Kab. Polewali Mandar diTahun 2010 sebanyak 96 dibagi dengan jumlah kelahiran hidup 7.193 di kali 1000 ribu maka diperoleh 13 kematian, masih berada dibawah standar MDGs.
2.4.3 Angka Kematian Anak Balita (AKABA)
Angka Kematian Anak Balita (AKABA) adalah Angka Kematian anak balita per 1.000 kelahiran hidup yang dapat memberikan gambaran salah satu indikator status kelangsungan hidup di suatu wilayah. Angka Kematian anak balita di Kab. Polewali Mandar per kelahiran hidup diTahun 2007 - 2010 berdasarkan pengumpulan data sektor dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 2.4.3
Angka Kematian Anak Balita (AKABA) di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Kecamatan Jumlah Kematian Anak Balita
2007 2008 2009 2010 Tinambung 0 0 0 0 Balanipa 1 0 0 0 Limboro 0 0 0 0 Tubbi Taramanu 1 1 0 0 Allu 1 0 3 0 Campalagian 0 0 0 1 Luyo 2 0 0 0 Wonomulyo 0 0 0 0 Mapilli 0 0 0 0 Tapango 0 1 0 0 Matakali 0 0 0 0 Bulo - - 0 3 Polewali 1 0 0 0 Binuang 0 1 0 0 Anreapi 0 0 0 0 Matangnga 0 0 0 0
Kab. Polewali Mandar 6 3 3 4
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
2.4.4 Persentase Balita dengan Bawah Garis Merah (BGM)
Balita dengan BGM (Bawah Garis Merah) adalah balita dengan berat badan menurut umur (BB/U) berada dibawah garis merah pada KMS (Kartu Menujuh Sehat). Persentase balita dengan BGM di Kab. Polewali Mandar berdasarkan hasil pengumpulan data sektor dari Tahun 2007 - 2010 dapat dilihat pada gambar grafik berikut :
Grafik. 2.4.4
Persentase Balita dengan Bawah Garis Merah (BGM) di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Pada Tahun 2010 persentase Balita dengan BGM - KMS adalah 3.2%. mengalami penurunan bila dibandingkan dengan presentase 3 Tahun terakhir. Capaian ini sebagaimana capaian dari Tahun 2007-2010 sudah dibawah target Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang merupakan kewenangan wajib yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten yakni <15 %. Untuk melihat persentase Balita BGM pada masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut :
Tabel. 2.4.4
Persentase Balita dengan Bawah Garis Merah (BGM) di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Kecamatan % BALITA BGM 2007 2008 2009 2010 Tinambung 1.7 13.6 2.9 2.92 Balanipa 4.2 1.5 5.6 5.63 Limboro 2.2 1.1 3.0 2.84 Tubi Taramanu 0.5 6.4 3.6 3.34 Allu 4.4 3.2 0.7 2.66 Campalagian 14.6 5.8 3.5 2.38 Luyo 1.2 6.2 3.2 5.36 Wonomulyo 0.7 1.3 1.1 2.76 Mapili 4.7 1.7 0.8 3.06 Tapango 1.1 5.0 4.1 2.84 Matakali 0.4 1.1 2.2 5.33 Bulo - - 6.4 3.22 Polewali 2.9 0.8 4.0 1.27 Biruang 3.6 3.2 16.7 4.09 Anreapi 3.1 7.9 6.4 0.85 Matangnga 2.7 6.4 3.1 6.12
Kab. Polewali Mandar 3.2 3.6 3.8 3.17
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Terlihat pada Tabel diatas persentase BGM di masing masing kecamatan sudah dibawah target SPM. Namun jika dilihat persentase tertinggi Balita BGM di Tahun 2010 yang berada diatas capaian kabupaten dan masih perlu mendapat perhatian adalah Kec. Balanipa (5.62%), Kec. Luyo (5,36%), Kec. Matakali (5.33 %) dan Kec. Matangga 6.12 % Salah satu sebab terjadinya Berat Badan BGM - KMS di daerah ini adalah intake zat gizi makanan kurang dan ketidaktahuan ibu - ibu balita tentang gizi balita. Oleh karena itu perlu upaya peningkatan pelayanan kesehatan di wilayah tersebut dengan meningkatkan program perbaikan gizi, Penyuluhan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi yang lebih diintensifkan.
2.4.5 Proporsi Anak yang di Imunisasi Campak Sebelum Usia 1 Tahun
Imunisasi Campak memberikan kekebalan Aktif terhadap penyakit campak, imunisasi ini diberikan sebayak 2 kali yakni pada usia 9 bulan (sebelum usia 1 Tahun dan campak 2 pada usia 5 - 7 Tahun. Proporsi yang diimunisasi campak pada usia 9 bulan di Kab. Polewali Mandar berdasarkan hasil pengumpulan data sektor dapat dilihat selama Tahun 2007-2010 pada grafik berikut :
Grafik. 2.4.5
Proporsi Anak yang di Imunisasi Campak Sebelum Usia 1 Tahun di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Persentase anak usia 9 bulan yang diimunisasi Campak di Kab. Polewali Mandar Tahun 2010 adalah 92.44%, kalau diproporsikan dari 100 anak usia bayi 9 bulan, 92 bayi diantaranya telah diimunisasi campak dan 8 bayi yang belum diimunisasi campak. Capaian ini telah berada diatas standar pelayanan minimal (SPM) yang dipersyaratkan yaitu 80%. Hanya Tahun 2007 dan Tahun 2009 yang capaiannya dibawah target SPM. Pencapaian tersebut dapat juga menunjukkan pencapaian target imunisasi lengkap. Untuk melihat persentase Cakupan Imunisasi Campak di tiap kecamatan selama Tahun 2007 - 2010 adalah :
Tabel. 2.4.5
Anak yang di Imunisasi Campak sebelum Usia 1 Tahun di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
Kecamatan % Imunisasi Campak
2007 2008 2009 2010 Tinambung 73.7 74.05 99.8 80.35 Balanipa 79.6 89.31 65.0 67.04 Limboro 94.8 31.66 86.8 78.97 Tubbi Taramanu 36.6 86.01 0 100.0 Allu 100.0 99.40 92.3 100.0 Campalagian 100.0 60.62 37.8 100.0 Luyo 62.2 83.48 42.0 100.0 Wonomulyo 100.0 100.00 79.1 95.50 Mapilli 43.0 100.00 81.4 83.20 Tapango 79.6 100.00 87.3 100.0 Matakali 100.0 100.00 82.6 87.27 Bulo - - 100 100.0 Polewali 100.0 99.66 78.1 97.67 Binuang 84.2 84.31 100 94.83 Anreapi 100.0 54.55 71.9 100.0 Matangnga 22.7 85.12 9.7 89.81
Kab. Polewali Mandar 73.5 85.12 75.3 92.44
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Dari tabel diatas Pemberian Imunisasi campak hanya kecamatan Balanipa yang belum mencapai target 80%. 14 Kecamatan lainnya telah berada diatas 80%. Tingginya capaian disebabkan sistem ditsribusi vaksin campak dari Propinsi ke Kabupaten dan ke Puskesmas sudah berjalan dengan baik, dimana Tahun-Tahun sebelumnya selalu mengalami keterlambatan sampai ke pusat-pusat pelayanan puskesmas dan jaringannya.
2.4.6 Persentase Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Bayi Lahir Rendah adalah bayi yang lahir mempunyai berat badan Kurang dari 2,5 Kg. Penyebabnya adalah Kekurangan suplai zat gizi dari ibu ke pada janin pada masa kehamilan, karena sang ibu menderita kekurangan energi kronis atau ketidak tahuan ibu dalam konsumsi makanan yang tepat (kualitas dan kuantas zat gizi) pada masa kehamilan. Terjadinya BBLR adalah faktor resiko terjadinya kematian pada bayi umur yang sangat dini atau lebih lanjut cenderung akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan di bawah normal.
Berbagai studi mengungkapkan bahwa anak yang dilahirkan dengan BBLR mengalami gangguan fungsi kognitif dan kecerdasan inteletual pada masa usia sekolah sehingga mengalami kesulitan belajar.
Pemenuhan kebutuhan gizi pada masa kehamilan dan/atau janin merupakan modal dasar bagi tumbuh kembang anak pada usia selanjutnya. Terpenuhinya zat gizi bagi pertumbuhan janin tergantung pada konsumsi zat gizi, status gizi dan kesehatan ibu hamil. Selain faktor gizi, pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan juga dipengaruhi oleh faktor psikososial ibu hamil.
Gambaran Persentase Berat Badan Balita Waktu lahir Di Kab. Polewali Mandar berdasarkan hasil pengumpulan data sektoral MDGs Tahun 2007 - 2010 dan gambaran perkecamatannya, menunjukkan bahwa hampir setiap Tahunnya dalam setiap 100 Kelahiran terdapat 2 bayi lahir dengan BBLR.
Untuk melihat persentase BBLR pada masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.6
Persentase Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
KECAMATAN % Berat Bayi Lahir Rendah
2007 2008 2009 2010 Tinambung 3.48 0.99 3.51 4.61 Balanipa 0.97 2.51 2.36 2.86 Limboro 0.95 0.53 1.47 1.04 Tubi Taramanu 3.19 4.53 2.80 0.64 Allu 0.93 1.87 1.89 3.39 Campalagian 2.42 0.26 0.74 2.24 Luyo 1.28 2.92 2.70 1.44 Wonomulyo 3.51 4.27 3.19 4.54 Mapili 1.08 0.39 0.39 0.81 Tapango 1.48 3.44 0.74 1.04 Matakali 1.63 2.90 3.32 3.65 Bulo - - 0.71 6.66 Polewali 2.58 2.86 1.95 3.28 Binuang 6.72 1.52 3.35 4.01 Anreapi 0.00 1.49 1.94 1.00 Matangnga 1.22 1.25 3.51 4.23
Kab. Polewali Mandar 2.09 2.21 2.15 2.95
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Hanya Kec. Bulo dari 16 Kecamatan yang ada di Kab. Polewali Mandar, yang menunjukkan capaian bayi BBLR Lebih Tinggi dari kecamatan lainnya yaitu 9.66% dan 7 kecamatan lainnya ( Kec. Tinambung, Kec. Allu, Kec. Wonomulyo, Kec. Matakali, Kec. Polewali, Kec. Binuang dan Kec. Anreapi) masih berada diatas capaian
kabupaten dimana masih sangat perlu mendapat perhatian, terutama pemenuhan zat gizi bagi pertumbuhan janin yang sangat dipengaruhi konsumsi zat gizi, status gizi dan kesehatan ibu hamil. Selain faktor gizi, pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan juga dipengaruhi oleh faktor psikososial ibu hamil.
Oleh karena itu perlu upaya peningkatan pelayanan kesehatan di wilayah tersebut dengan meningkatkan program seperti Penyuluhan bagi Ibu Hamil tentang pentingnya Pemenuhan kebutuhan gizi pada masa kehamilan dan/atau janin yang merupakan modal dasar bagi tumbuh kembang anak pada usia selanjutnya dan yang paling penting adalah penanganan pada bayi yang BBLR seluruhnya sesuai target SPM.
Gambar.2.4.6
Peta Wilayah dengan Persentase Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Kecamatan Diatas dan Dibawah Capaian di Kab. Polewali Mandar Tahun 2010
2.4.7 Pemantauan Pertumbuhan Menggunakan Data SKDN
Data SKDN : (S) adalah Seluruh balita yang ada di wilayah kerja, (K) adalah Jumlah balita yang terdaftar dan memiliki KMS atau buku KIA, (D) adalah jumlah seluruh balita yang Ditimbang, (N) adalah balita yang naik berat badannya sesuai dengan garis pertumbuhan. Persentase N/D merupakan indikator yang digunakan
B GM - KM S dia ta s Ka b. (> 2. 95 % ) = pe rlu pe rh atian L im b o r o T in a m b u n g P o l e w a li T a p a n g o W o n o m u ly o A n r e a p i A l lu M a t a n g a M a t a k a li B a t u p a n g a B in u a n g B a l a n ip a C a m p a la g i a n M a p ill i T u t a r B u lo L okas i Pu ske sm as Te luk M an da r Kab . P inran g Sul- Se l Kab . M am as a Kab . M a jen e
Jalan Pro p ins i
untuk melihat keberhasilan program dan dapat menunjukan wilayah-wilayah dengan tingkat konsumsi makanan yang rendah, yang oleh karenanya terjadi penurunan atau tidak naik berat badan pada balita.
Persentase balita yang naik berat badannya sesuai garis pertumbuhan dari seluruh balita yang ditimbang pada Tahun 2010 di Kab. Polewali Mandar adalah 73.85% naik sesuai garis pertumbuhan. Untuk melihat gambaran pemantauan pertumbuhan dengan menggunakan Persentase N/D di tiap kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.7
Persentase Balita yang Naik Berat Badannya Sesuai Garis Pertumbuhan di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Kecamatan
% Naik Sesuai Garis Pertumbuhan 2007 2008 2009 2010 Tinambung 56.96 85.84 69.4 75.84 Balanipa 88.67 77.66 50.0 88.60 Limboro 49.53 56.14 44.8 52.79 Tubbi Taramanu 59.90 77.46 57.5 70.73 Allu 58.55 58.62 44.4 57.72 Campalagian 48.94 54.47 22.0 56.40 Luyo 86.72 87.65 50.8 74.40 Wonomulyo 67.17 66.04 54.1 78.49 Mapilli 50.98 62.80 30.9 67.62 Tapango 82.95 80.10 52.1 73.96 Matakali 65.91 72.08 45.0 68.25 Bulo - - 21.4 61.39 Polewali 75.77 74.53 75.2 92.82 Binuang 66.29 65.34 45.2 68.69 Anreapi 88.63 71.17 49.0 60.26 Matangnga 59.84 73.71 31.1 73.98
Kab. Polewali Mandar 68.17 71.37 47.2 73.85
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Dari Tabel diatas pencapaian N/D di Kab. Polewali Mandar yang hanya sebesar 73,59%, capaian tersebut belum mencapai target SPM yaitu 80%. Kalau dilihat perwilayah kecamatan, hanya ada 2 kecamatan ( Kec. Balanipa dan Kec. Polewali) yang capainnya berada di atas 80%. Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan berat badan balita di sebagian besar wilayah di Kab. Polewali Mandar masih belum berjelan sesuai dengan pola pertumbuhan yang normal pada Kartu Menujuh Sehat.
Grafik. 2.4.7
Jumlah Kecamatan dengan N/D di Atas 80% dan di Bawah 80% di Kab. Polewali Mandar Tahun 2010
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Upaya-upaya untuk meningkatkan cakupan N/D diatas 80% terutama 13 kecamatan diantaranya : Penyuluhan Pemberian Gizi pada Balita, dan pemberian makanan tambahan perlu ditingkatkan serta program lainnya yang dapat menekan jumlah balita yang berat badannya tidak sesuai dengan garis pertumbuhan.
2.4.8 Cakupan Kunjungan Bayi
Kunjungan bayi adalah kunjungan bayi umur 1 - 12 Bulan termasuk neonatus umur 1 – 28 hari untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter, bidan, perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan paling sedikit 4 kali (bayi), 2 kali (Neonatus) di satu wilayah dalam kurun waktu tertentu.
Grafik. 2.4.8
Proporsi Kunjungan Bayi dengan Pelayanan Kesehatan Standar di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Tabel. 2.4.8
Persentase Cakupan Kunjungan Bayi di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
Kecamatan % Kunjungan Bayi
2007 2008 2009 2010 Tinambung 100.0 97.02 84.2 88.55 Balanipa 100.0 93.72 79.8 72.85 Limboro 100.0 94.41 96.1 87.44 Tubbi Taramanu 85.7 62.14 49.0 44.93 Allu 84.2 88.79 77.1 80.26 Campalagian 100.0 98.96 68.8 83.80 Luyo 80.6 92.71 83.8 100 Wonomulyo 100.0 98.36 85.5 97.40 Mapilli 100.0 93.10 95.8 92.49 Tapango 100.0 97.94 60.5 83.84 Matakali 98.5 81.03 80.3 84.32 Bulo - - 59.0 85.16 Polewali 95.4 93.39 85.4 83.02 Binuang 100.0 99.81 83.5 92.63 Anreapi 100.0 95.02 79.0 83.58 Matangnga 100.0 95.00 52.3 73.15
Kab. Polewali Mandar 96.60 93.60 79.19 84.55
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Di Tahun 2010 kunjungan semua bayi dalam pemeriksaan kesehatan 4 kali minimal dengan capaian yang diinginkan 90%, hanya di 3 Kecamatan yang telah mencapainya yaitu : Kec. Wonomulyo (97.40%), Kec. Mapilli (92.49%), Kec. Luyo (100%) dan Kec. Binuang (92.63%). Hal ini disebabkan karena penyebaran tenaga kesehatan khususnya bidan dan kompetensi klinis pemeriksaan kesehatan bayi yang kurang dan belum merata di wilayah tersebut. Oleh Karena itu Program peningkatan kompetensi klinis pemeriksaan bayi dan pemerataan penempatan tenaga, khususnya tenaga kesehatan Bidan dengan prioritas wilayah yang cakupan kunjungan bayi masih rendah.
2.4.9 Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Balita
Pemberian Vitamin A pada Balita dapat mencegah terjadinya
kelainan/penyakit pada mata (Xeroftalmia). Kata Xeroftalmia berarti “mata kering” (Bahasa Mandar : Buta Rarang) karena terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata dan apabila tidak segera diobati dapat menimbulkan kebutaan, Pemberian Vitamin A diberikan setiap 6 bulan sekali yaitu tiap bulan Februari dan Agustus setiap Tahunnya.
Persentase Balita yang diberi Vitamin A Dosis tinggi Tahun 2010 di Kab. Polewali Mandar adalah sebanyak 87.19 % dari target 80 %. Untuk melihat Persentase Balita yang diberi Vitamin A dosis tinggi menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.9
Persentase Cakupan Pemberian Vitamin A pada Balita di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Tabel diatas memberikan gambaran persentase pemberian Vitamin A pada tiap kecamatan, dari 15 Kecamatan hanya 4 kecamatan yang belum mencapai target 80%, yaitu Kec. Balanipa, Kec. Limboro, Kec. Tubbi Taramanu dan Kec. Matangnga. Namun demikian secara keseluruhan di Tahun 2010 telah mencapai target dalam pelaksanaan program Pemerintah yakni pemberian kapsul Vitamin A secara periodik pada bulan februari dan agustus di Kab. Polewali Mandar.
2.4.10 Cakupan Pemberian ASI Ekslusif
ASI adalah makanan sekaligus minuman bernutrisi dan berenergi tinggi untuk bayi, mudah untuk dicerna. ASI memiliki kandungan yang dapat membantu menyerapan nutrisi. Pada bulan-bulan awal, saat bayi dalam kondisi yang paling rentan, ASI eksklusif membantu melindunginya bayi dari diare, Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) - sindrom kematian tiba-tiba pada bayi, infeksi telinga dan penyakit
Kecamatan % Pemberian Vitamin A
2007 2008 2009 2010 Tinambung 97.1 91.65 91.22 90.21 Balanipa 95.7 95.16 76.77 75.93 Limboro 100.0 97.55 96.01 69.76 Tubbi Taramanu 95.7 88.91 75.20 63.42 Allu 99.2 98.03 96.01 93.49 Campalagian 81.6 87.13 88.51 85.54 Luyo 97.1 95.91 84.00 81.09 Wonomulyo 96.9 98.63 99.62 95.67 Mapilli 83.3 81.96 80.27 86.08 Tapango 99.3 97.92 98.37 84.61 Matakali 100.0 93.02 100.0 92.39 Bulo - - 83.00 100 Polewali 100.0 97.23 98.21 100 Binuang 95.5 92.82 92.45 95.50 Anreapi 100.0 90.58 92.13 100 Matangnga 90.0 88.36 89.58 66.96
infeksi lain yang biasa terjadi. Riset medis mengatakan bahwa ASI eksklusif membuat bayi berkembang dengan baik pada 6 bulan pertama bahkan pada usia lebih dari 6 bulan.
Pemberian ASI Ekslusif adalah pemberian hanya Air Susu Ibu saja kepada bayi sejak lahir sampai berumur enam bulan tanpa makanan atau minuman lain kecuali obat, vitamin dan mineral.
Persentase Cakupan pemberian ASI Ekslusif di Kab. Polewali Mandar pada Tahun 2010 adalah sebanyak 55,2%, masih jauh dari target SPM yakni 80%. Dari Hasil pengumpulan data sektoral MDGs diatas menunjukkan bahwa masih kurangnya Ibu yang melakukan pemberian ASI Ekslusif (Asi saja) pada bayinya sampai dengan usia 6 Bulan.
Untuk melihat Persentase Cakupan pemberian ASI Ekslusif menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.10
Persentase Cakupan Pemberian ASI Ekslusif di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Kecamatan % Pemberian ASI Ekslusif
2007 2008 2009 2010 Tinambung 0.0 38.61 54.0 49.46 Balanipa 0.0 17.51 48.2 53.75 Limboro 43.2 15.98 8.5 45.38 Tubbi Taramanu 29.1 31.16 29.7 39.13 Allu 39.1 38.83 48.4 34.63 Campalagian 80.8 28.79 37.5 75.84 Luyo 0.0 26.44 20.2 50.50 Wonomulyo 50.3 59.68 43.3 67.99 Mapilli 42.2 0.00 26.5 20.51 Tapango 19.6 23.06 18.0 52.18 Matakali 71.8 3.43 24.9 74.09 Bulo - - 62.7 86.26 Polewali 46.2 56.06 39.4 38.96 Binuang 57.3 44.59 46.3 65.16 Anreapi 1.9 23.00 40.0 87.56 Matangnga 58.9 53.27 72.9 44.44
Kab. Polewali Mandar 41.0 32.49 39.7 55.22
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Dari Tabel diatas persentase pemberian Asi Ekslusif menunjukkan capaian yang bervariasi cakupan tertinggi ditahun 2010 di Kec. Anreapi 87.56 % dan yang terendah adalah Kec. Mapilli 20.51%. Capaian ini menunjukkan bahwa masih rendahnya kesadaran Ibu untuk memberikan ASI Ekslusif kepada bayinya. Faktor
yang menyebabkan rendahnya cakupan tersebut terlihat dari adanya Kecamatan yang tidak melaporkan, serta pencatatan dan pelaporan yang dilakukan oleh bidan/petugas kesehatan tidak mencakup seluruh wilayah kerja atau pencatatan tidak merata.
Diperlukan upaya peningkatan pelayanan kesehatan dengan meningkatkan program seperti Penyuluhan bagi Ibu tentang pentingnya Pemberian ASI Ekslusif pada bayi serta perbaikan sistem Pencatatan dan Pelaporan di setiap Tingkatan.
2.4.11 Desa UCI
Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) adalah Desa / Kelurahan dimana ≥ 80% dari jumlah bayi yang ada di Desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap pada satu kurun waktu tertentu.
Persentase Desa/Kelurahan UCI di Kab. Polewali Mandar pada tahun 2010 adalah 57.83 %, cakupan tersebut masih sangat jauh dari target SPM yakni 100 %. Hal ini menunjukkan bahwa Dari 167 Desa/kelurahan di Kab. Polewali Mandar hanya 96 Desa/Kelurahan lebih atau sama dengan 80 % dari jumlah bayi yang ada di Desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap pada satu kurun waktu tertentu.
Untuk Melihat cakupan di masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.11
Persentase Desa UCI di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
Kecamatan Jumlah Desa UCI % Desa UCI
Jumlah Desa 2010 2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010 Tinambung 0 0 6 6 0.0 0.0 75.0 75.00 8 Balanipa 0 4 4 4 0.0 40.0 36.4 36.36 11 Limboro 0 6 8 8 0.0 60.0 72.7 72.73 11 Tubbi Taramanu 0 0 0 0 0.0 0.0 0 0.00 13 Allu 5 5 7 7 83.3 83.3 87.5 87.50 8 Campalagian 0 8 6 6 0.0 57.1 33.3 33.33 18 Luyo 0 0 3 3 0.0 0.0 27.3 27.27 11 Wonomulyo 4 6 12 14 28.6 42.9 85.7 100 14 Mapilli 8 14 7 7 57.1 100.0 58.3 58.33 12 Tapango 0 6 9 9 0.0 60.0 64.3 64.29 14 Matakali 1 4 6 6 16.7 66.7 85.7 85.71 7 Bulo - - 7 7 - - 77.8 77.78 9 Polewali 2 6 9 6 22.2 66.7 100 100 9 Binuang 0 5 7 4 0.0 71.4 70.0 70 10 Anreapi 0 2 3 8 0.0 40.0 60.0 60 5 Matangnga 0 1 0 0 0.0 25.0 0 0 7
Kab. Polewali Mandar 20 67 94 96 15.2 50.8 56.6 57.83 167
Dari Tabel diatas Desa/Kelurahan UCI pada masing masing kecamatan menunjukkan capaian yang masih jauh dari target SPM yaitu 100%, hanya 2 Kecamatan yaitu : Kec. wonomulyo dan Kec. Polewali yang capaiannya 100%, yang laininya belum mencapai angka 100%. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor diantaranya : Ketersediaan Vaksin dan tempat penyimpanan vaksin, Kondisi geografis yang sulit dijangkau serta, Penyebaran tenaga yang belum merata.
Oleh karena itu Program Pelayanan Kesehatan dengan Pengadaan Vaksin yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, propinsi dan daerah yang sesuai dengan kebutuhan cakupan yang ada di wilayah menjadi prioritas agar cakupan desa UCI di tahun yang akan datang dapat mencapai target 100 %.
2.4.12 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan atau Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan
Pertolongan persalinan oleh Bidan Atau Tenaga Kesehatan yang memiliki Kompetensi Kebidanan yang biasa di sebut dengan persalinan nakes, presentasenya di Kab. Polewali Mandar Berdasarkan hasil pengumpulan data sektoral MDGs selama tahun 2007 - 2010 menunjukkan presentase yang cenderung naik, hasil terakhir di Tahun 2010 tercapai dengan proporsi 81.94% ditolong oleh tenaga kesehatan dan masih ada 18,06% masih ditolong oleh bidan atau tenaga non kesehatan misalnya dukun.
Grafik. 2.4.12
Persalinan Tenaga Kesehatan dan Non Tenaga Kesehatan di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Untuk melihat Persentase Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan Atau Tenaga Kesehatan yang memiliki Kompetensi Kebidanan menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.12
Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan atau Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
Kecamatan % Pertolongan Persalinan oleh Nakes
2007 2008 2009 2010 Tinambung 91,3 79,68 90.3 90.12 Balanipa 64,5 67,47 77.4 60.22 Limboro 87,3 86,18 100 82.40 Tubbi Taramanu 44,8 38,92 43.9 41.55 Allu 60,4 97,00 67.6 80.28 Campalagian 50,5 62,72 67.6 82.49 Luyo 54,4 57,02 68.1 62.85 Wonomulyo 90,4 94,89 93.4 97.95 Mapilli 57,7 50,84 88.4 88.85 Tapango 57,8 54,84 57.2 68.91 Matakali 82,0 80,87 79.3 85.43 Bulo - - 56.8 91.18 Polewali 74,2 85,03 97.2 91.13 Binuang 77,0 74,50 80.5 97.12 Anreapi 78,4 76,36 73.3 79.62 Matangnga 43,6 44,07 52.2 63.72
Kab. Polewali Mandar 68,7 71,87 77.17 81.94
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Cakupan Pertolongan persalinan oleh Bidan Atau Tenaga Kesehatan yang memiliki Kompetensi Kebidanan menurut kecamatan yang cakupannya masih rendah dibawah 90% ada 11 kecamatan, 4 kecamatan lainnya telah mencapai target 90% yaitu Kec. Tinambung, Wonomulyo, Polewali, Binuang dan Bulo. Daerah yang cakupannya masih rendahnya disebabkan karena penyebaran tenaga kesehatan pada tiap daerah atau wilayah tidak merata disamping masih kurangnya tenaga kesehatan yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk serta adanya kecenderungan tenaga kesehatan lebih banyak ditempatkan atau berdomisili di daerah perkotaan.
2.4.13 Cakupan Kunjungan K4
Kunjungan K4 adalah Kunjungan pemeriksaaan kehamilan yang memenuhi standar paling sedikit empat kali dengan distribusi sekali pada Triwulan I dan II, Dua kali pada Triwulan III. Pelayanan Kesehatan yang diberikan oleh petugas kesehatan pada Ibu hamil yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan atau Antenatal Care
(ANC) yang meliputi: Pemeriksaan kehamilan, Penimbangan Berat Badan, Pemberian Tablet Besi, pemberian Imunisasi TT.
Persentase balita yang ibunya melakukan pemerikasaan kehamilan yang memenuhi K4 di Kab. Polewali Mandar selama empat tahun terakhir cenderung terlihat meningkat, capaian terakhir ditahun 2010 adalah 81.34% walaupun belum mencapai standar pelayanan minimal yang targetkan 95%, capaian ini sudah cukup mempengaruhi presentanse persalinan dengan ANC yang standar. Untuk melihat persentase cakupan kunjungan K4 pada tiap kecamatan di Kab. Polewali Mandar dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.13
Cakupan Kunjungan K4
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
Kecamatan % Kunjungan K4 2007 2008 2009 2010 Tinambung 90.5 76.33 73.7 82.80 Balanipa 61.0 83.22 98.4 77.28 Limboro 91.2 92.04 93.7 95.58 Tubbi Taramanu 49.5 52.32 63.5 51.97 Allu 78.3 79.33 84.3 88.77 Campalagian 57.8 65.01 75.2 100.0 Luyo 67.6 63.79 72.4 71.06 Wonomulyo 83.9 84.38 86.3 79.49 Mapilli 51.6 54.45 81.5 89.49 Tapango 89.7 75.60 84.0 90.20 Matakali 69.6 70.06 84.1 77.87 Bulo - - 75.0 83.33 Polewali 77.0 78.23 75.8 73.48 Binuang 70.1 77.57 76.1 80.72 Anreapi 83.4 89.55 100 81.02 Matangnga 75.6 51.69 63.0 61.81
Kab. Polewali Mandar 71.5 73.19 80.31 81.34
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Persentase Kunjungan K4 menurut kecamatan pada umumya sudah menunjukkan diatas capaian kabupaten 81,34% kecuali di 7 kecamatan yakni : Kec. Balanipa (77.28%), Kec. Tubbi Taramanu (51.97%), Kec. Luyo (71.06%), Kec. Wonomulyo (79.49%), Kec. Matakali (77.87%), Kec. Polewali (73.48%) dan Kec. Matang (61.81%). Adanya perbedaan pada daerah tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi, diantaranya tingkat pengetahuan Ibu hamil yang masih rendah, Penyebaran tenaga Kesehatan yang memiliki kompotensi yang belum merata serta kondisi geografis daerah yang sulit dijangkau.
2.4.14 Cakupan Pelayanan Nifas
Ibu Nifas adalah ibu Nifas 6 jam pasca persalinan sampai dengan 42 hari yang telah memperoleh 3 kali pelayanan nifas sesuai standar.
Grafik. 2.4.14 Cakupan Pelayanan Nifas
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Pada grafik diatas Persentase Cakupan Pelayanan Nifas Kab. Polewali Mandar dari Tahun 2007 - 2010 walau belum mencapai standar pelayanan minimal 90% cenderung terlihat meningkat dari tahun ke tahun.
Untuk melihat persentase Cakupan Pelayanan Nifas pada kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.4.14
Cakupan Pelayanan Nifas
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 – 2010
Kecamatan % Pelayanan Nifas
2007 2008 2009 2010 Tinambung 64.6 75.21 80.6 76.13 Balanipa 32.2 64.99 80.1 73.30 Limboro 92.2 84.56 95.1 81.17 Tubbi Taramanu 51.8 40.97 38.3 48.79 Allu 54.0 60.98 71.4 80.62 Campalagian 49.5 63.85 63.7 76.44 Luyo 78.7 77.13 91.5 78.87 Wonomulyo 85.0 89.30 84.8 85.93 Mapilli 52.5 63.19 88.9 78.75 Tapango 61.1 57.59 58.4 71.85 Matakali 78.8 69.28 78.0 79.13 Bulo - - 53.3 67.65 Polewali 68.7 72.83 84.6 77.24 Binuang 81.9 79.26 81.9 87.38 Anreapi 86.7 81.43 70.5 70.62 Matangnga 56.4 62.83 26.5 69.03
Kab. Polewali Mandar 65.8 70.84 73.6 77.16
Persentase Cakupan Pelayanan Nifas menurut kecamatan yang menunjukkan dibawah capaian Kabupaten 77.16%, ada 8 Kecamatan dari 15 kecamatan, hanya 7 kecamatan yang berada di atas capain kabupaten.. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi, diantaranya Penyebaran tenaga Kesehatan yang memiliki kompotensi yang belum merata serta kondisi geografis daerah yang sulit dijangkau.
2.4.15 Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani
Ibu hamil dengan komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil dengan komplikasi di satu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas Perawatan dan Rumah Sakit pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergency Dasar dan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Komprehensif). Persentase Cakupan Komplikasi Kebidanan yang ditangani Di Kab. Polewali Mandar tahun 2010 adalah 93.3% dari Target 80% Untuk melihat gambaran pada tiap kecamatan dapat dilihat pada grafik berikut :
Tabel. 2.4.15
Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Kecamatan % Komplikasi Kebidanan yang ditangani
2007 2008 2009 2010 Tinambung 74.0 81.19 62.07 100 Balanipa 43.6 82.91 62.00 100 Limboro 19.1 48.24 64.37 100 Tubbi Taramanu 17.3 50.00 66.67 42.17 Allu 63.9 66.67 75.00 93.75 Campalagian 35.3 47.76 70.65 85.49 Luyo 47.2 73.73 62.64 100 Wonomulyo 32.6 81.37 68.33 100 Mapilli 21.1 60.26 66.67 100 Tapango 23.3 41.41 80.19 64.86 Matakali 38.0 81.25 61.11 100 Bulo - - 84.62 88.24 Polewali 25.2 100.00 67.83 100 Binuang 67.1 94.66 83.39 100 Anreapi 54.6 93.18 93.18 100 Matangnga 20.3 58.33 75.00 100
Kab. Polewali Mandar 37.5 72.25 69.45 93.03
Dari Tabel diatas hanya 2 Kecamatan yang belum mencapai target 80 % yakni : Kec. Tubbi Taramanu (42.17%) dan Kec. Tapango (64.86%). Pencapaian dibawah target ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya, kurangnya sarana pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan sesuai dengan standar dan dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih di kedua kecamatan tersebut dan penyebaran tenaga kesehatan yang berkompotensi yang belum merata serta kondisi geografis daerah yang sulit dijangkau.
2.4.16 Prevalensi Malaria dan Angka Kematiannya
Prevalensi Malaria atau angka kesakitan Malaria adalah banyaknya kasus malaria yang baru maupun yang lama yang dihitung per- 10.000 penduduk.
Tabel. 2.4.16 Prevalensi Malaria
di Kab. Polewali Mandar Tahun 2007 - 2010
Kecamatan Jumlah Prevalensi Malaria
2007 2008 2009 2010 Tinambung 15 19 2 4.03 Balanipa 55 47 0 0.83 Limboro 0 0 0 6.48 Tubbi Taramanu 3 3 0 0 Allu 0 0 0 1.67 Campalagian 21 0 8 0.19 Luyo 20 22 0 0.37 Wonomulyo 31 13 25 0 Mapilli 0 0 0 0 Tapango 0 0 0 0 Matakali 42 11 0 1.41 Bulo - - 5 0 Polewali 6 34 8 2.01 Binuang 72 0 2 0 Anreapi 0 0 0 0 Matangnga 0 0 0 0
Kab. Polewali Mandar 21 12 5 1.14
Sumber : Hasil Pengolahan Data Sektor
Pada tabel prevalensi malaria di Kab. Polewali Mandar selama tahun 2007 -2010 ini menunjukkan bahwa di Kab. Polewali Mandar pada tahun 2007 prevalensi malaria mencapai 21 kasus per 10.000 penduduk dan pada tahun 2008 terjadi penurunan prevalensi malaria yaitu 12 kasus per 10.000 penduduk. Dan pada tahun 2009 terjadi lagi penurunan menjadi 5 per 10.000 penduduk. Dan turun lagi ditahun 2010 yaitu menjadi 1.41.
Keberhasilan dalam menurunkan prevalensi malaria di Kab. Polewali Mandar ini tidak terlepas dari program pencegahan dan penanggungalan penyakit malaria yang dicanangkan pemerintah kabupaten Polewali Mandar melalu foggingisasi kasus-kasus malaria yang ditemukan dan survei jentik dilokasi tertentu untuk program pencegahan dan penanggulangan penyakit malaria melalui partisipasi masyarakat. Namun demikian lokasi-lokasi yang masih dikatakan endemik seperti yang diperlihatkan pada gambar dibawah ini, perlu mendapat perhatiab lebih.
Gambar. 2.4.16
Peta Wilayah dengan Endemik Malaria di Kab. Polewali Mandar Tahun 2010
Pada gambar di atas wilayah-wilayah masih dikatakan endemic yang Kec. Polewali, Kec. Tinambung dan Kec. Wonomulyo. Upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan masih sangat diintensipkan diwilayah-wilayah tersebut, melalui foggingisasi wilayah yang menjadi sarang nyamuk malaria melalui survei jentik program pencegahan dan penanggulangan penyakit malaria yang melibatkan partisipasi masyarakat.
2.4.17 Penderita Malaria yang Mendapat Pengobatan Efektif
Penderita Malaria yang mendapat pengobatan efektif adalah Penderita Malaria yang diobati dengan Artemisinin Combination Therapy (ACT). Untuk melihat
K e c . D e n g a n k a s u s e n d e m i k m a l a r i a Li m b o r o T in a m b u n g P o le w a li T a p a n g o W o n o m u ly o A n r e a p i A l lu M a t a n g a M a t a k a li B a t u p a n g a B in u a n g B a la n ip a C a m p a la g ia n M a p il li T u t a r B u lo L o k a s i P u s k e s m a s Te l u k M a n d a r K a b . P i n r a n g S u l - S e l K a b . M a m a s a K a b . M a j e n e Ja l a n P r o p i n s i K e c . D e n g a n k a s u s n o n e n d e m i k