PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN
HIV/AIDS PADA KEHAMILAN
Struktur HIV
Envelop ◦ gp 120 ◦ gp41 Enzym ◦ Reverse transcriptase ◦ Integrase ◦ Protease Inti ◦ P17 (matrix) ◦ P24 (kapsid) ◦ P7/P9 (nucleocapsid)BAGAIMANA PROSES YANG TERJADI SEJAK PAPARAN HIV HINGGA TERINFEKSI
18-Dec-18 5
Tempat invasi HIV Sublokasi Anatomick
Jenis Epitel Media transmisi Probabilitas transmisi per
paparan
Estimasi kontribusi kasus HIV dunia
(juta) Saluran Genital Wanita Vagina Ektoserviks Endoserviks Lainnya Skuamosa nonkeratin Skuamosa nonkeratin Kolumner selapis Berbagai epitel semen 1:200 -1:2000 12,6 Saluran Genital Pria Kulit kulup Uretra penis Lainnya Skuamosa sdkt keratin Kolumner berlapis Berbagai epitel Servikovaginal , sekresi retal dan deskuamasi
1:700 – 1:3000 10,2*
Saluran intestinal Rektum
Saluran cerna atas
Kolumner selapis Berbagai epitel Semen 1:20 – 1:300 1:2500 3,9~ 1,5
* Meliputi LSL, lelaki biseksual dan lelaki heteroseksual; ~ meliputi LSL, lelaki biseksual dan wanita terinfeksi anal reseptif seks
Hladik, McElrath, 2008
Replikasi HIV dan penurunan jumlah sel
Limfosit T CD4
18-Dec-18 6
Replikasi HIV dalam sel limfosit CD4 mencapai 107partikel infeksius per mm3per hari.
Hal ini berlangsung sangat cepat dan hebat dalam tubuh, sampai seluruh sel CD4
terinfeksi bahkan ketika sel-sel CD4 tersebut baru tumbuh dari steem pembentuknya, terutama pada orang yang sebelumnya tidak terinfeksi atau naive.
Setelah beberapa waktu, tergantung pada kemampuan sistem immun individual, tubuh mengenalinya sebagai kondisi membahayakan dan membentuk respons immun anti HIV berupa sel-sel mediated dan humoral
antibodi anti HIV
1 Virus bebas
2 Binding dan Fusion
Virus mengikat CD4 pada
1 dari 2 koreseptor (CCR5 dan CXCR4),
& melebur dengan sel
Reseptor CD4 Koreseptor CCR5 Koreseptor CXCR4 3 Infeksi S I K L U S H I D U P H I V
Virus menembus sel
mengosongkan isinya
kedalam sel
4 Reverse Transcription
ssRNAdiubah menjadi
dsRNAoleh enzim
reversetranscriptase
5 Integrasi
DNA virus menyatu
dgDNA sel oleh
enzim integrase
6 Transkripsi Pembentukan protein
rantai panjang DNA man DNA man DNA HIV DNA HIV RNA HIV 7 Assembly
Pembentukan rantai protein virus
8 Budding Virus immatur
mendorong ke luar,
mengambil sel membran
9 Virus immatur keluar
dari sel terinfeksi
10 Maturasi
Kerusakan sel mengakibatkan berkurangnya jumlah sel Limfosit T CD4 ini berlangsung terus-menerus
Kegiatan Komprehensif
1. Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduksi
WHO
2. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu dengan HIV
3. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil dengan HIV ke bayi yang dikandungnya 4. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan
perawatan kepada ibu dengan HIV beserta bayi & keluarganya
1 2 3
Permenkes (no21/2013 tentang
penganggulangan HIV/AIDS) tanggal 30 APRIL
2013 yang menyebutkan :
1. Tes HIV pada PPIA wajib ditawarkan pada semua ibu hamil dan termasuk dalam pelayanan rutin di KIA pada daerah epidemi meluas dan terkonsentrasi. Bila ada infeksi TB dan IMS pada daerah epidemi rendah
2. Tes dilakukan atas persetujuan pasien, namun bila pasien menolak harus dengan pernyataan tertulis
Standar Pelayanan Laboratorium Kesehatan
Pemeriksaan HIV/AIDS dan Infeksi Opertunistik
Diagnosis dgn strategi III (Rapid dan atau Elisa) Pertama : sensitivitas 99 %
Kedua : spesifisitas 98%
Ketiga : spesifisitas 99 %
Ketiga reagen memiliki preparasi antigen berbeda Diskordan tidak boleh lebih dari 5%
Petugas harus terlatih dan tersertifikasi
Harus melakukan Pemantapan Mutu Internal Harus mengikuti Pemantapan Mutu Eksternal
A1 pos A2 pos A3 pos
A3
Strategi III
A1 pos A2 pos A3 neg A1 pos A2 neg A3 pos A1 pos A2 neg A3 neg Lapor sebagai “reaktif” Lapor sebagai “Indeterm” Risti Anggap indeterm Risiko rendah Anggap negPerencanaan kehamilan
Persiapan pasangan dari perempuan dengan HIV yang ingin hamil :
1. Bila dipastikan serologis HIV non-reaktif (negatif), maka kapan pun boleh sanggama tanpa kondom, setelah pihak perempuan dipastikan layak untuk hamil.
2. Apabila serologis reaktif (positif), perlu dilakukan pemeriksaan viral load, untuk mengetahui risiko penularan.
3. Apabila VL tidak terdeteksi sanggama tanpa kontrasepsi dapat dilakukan pada masa subur pasangan.
4. Apabila VL masih terdeteksi atau kadar CD4 kurang dari 350 sel/mm3, maka sebaiknya rencana kehamilan ditunda dulu.
MODUL 4, Halaman 13
Risiko penularan HIV dari ibu ke bayi
tanpa intervensi PMTCT
Periode transmisi
Risiko
•Kehamilan
5 - 10 %
•Persalinan
10 - 20 %
•Menyusui
10 - 15 %
Total
25 - 45 %
Risiko tertinggi
Mazami Enterprise© 2009 Sumber: de Cock dkk, 2000Source: De Cock KM, et al. JAMA. 2000; 283 (9): 1175-82 Kourtis et al. JAMA 2001; DeCock et al. JAMA 2000
Semua tanpa ASI 15-25 %
Semua dg pemberian ASI sampai 6 bln 25-30 %
Semua dg pemberian ASI sampai 18-24 bln 30-45 %
Masa kehamilan
Selama persalinan
4% 12%
Post partum melalui ASI
1% 0-14 mg 14-36 mg kelahiran36 mg-Persalinan 8% 7% 0-6 bln 6-24 bln 3%
WAKTU & RISIKO PENULARAN HIV
DARI IBU KE ANAK
MODUL 4, Halaman 15
Penatalaksanaan Antenatal
Mazami Enterprise© 2009
Pelihara kesehatan secara umum
Pola hidup sehat (diit seimbang, tidak merokok, tidak minum alkohol, olahraga teratur, istirahat cukup)
Minum roboransia
Asuhan Antenatal seperti biasanya
Ukur Tinggi Badan, Berat Badan, Tinggi Fundus Uteri, Tekanan Darah, Status Tetanus Toksoid
Laboratorium: DL, UL, GD puasa, Golongan darah, HIV, HBsAg, Thallasemia (bila ada faktor risiko), vag swab.
MODUL 4, Halaman 16
Penatalaksanaan Antenatal
Mazami Enterprise© 2009
Kurangi jumlah virus (Viral Load)
Deteksi dini dan terapi faktor penyulit
Minum ARV secara teratur, sedini mungkinInfeksi Menular Seksual (Sifilis, Gonore, Kondiloma akuminata, Hepatitis B & C dll),
Malaria
Tuberkulosis
MODUL 4, Halaman 17
Penatalaksanaan Antenatal
Mazami Enterprise© 2009
Hindari penularan ke pasangan
Konseling persiapan persalinan
Perilaku seksual sehat, setia pada pasangan Selalu menggunakan kondom
Periksa status serologis HIV pasangan seksual
Perlu dilakukan konseling kepada ibu, pasangan
dan keluarga mengenai manfaat dan risiko
persalinan pervaginam dan persalinan dengan seksio sesarea berencana
Cara persalinan: Seksio sesarea/ pervaginam Tempat persalinan dianjurkan di RS/Puskesmas yang tersedia pelayanan PPIA
MODUL 4, Halaman 18
Perlu dilakukan konseling kepada ibu, pasangan dan keluarga mengenai manfaat dan risiko pemberian ASI Eksklusif dan Susu Formula Eksklusif
Perlu diberikan dukungan terhadap ibu mengenai keputusan terhadap pilihan pemberian makanan bayi.
Apabila pilihan adalah ASI Eksklusif maka dijelaskan mengenai manajemen laktasi.
Apabila pilihan adalah Susu Formula Eksklusif maka dijelaskan mengenai syarat AFASS (affordable, feasible, acceptable,
sustainable, safe) dan cara mencapainya.
Penatalaksanaan Antenatal
Mazami Enterprise© 2009
TERAPI ARV
Empat tahap yang dapat diintervensi dengan obat
antiretroviral; yaitu:
1.Transkripsi balik (reverse transcription), yang dihambat
dengan reverse transcriptase inhibitor (RTI). RTI terbagi
atas analog nukleosida (nucleoside reverse transcriptase
inhibitors, NRTI) dan analog nonnukleosida
(non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors, NNRTI).
2. Protease, yang dihambat protease inhibitors (PI)
3. Fusi membran, yang dihambat oleh fusion
inhibitors (FI).
4. Integrasi materi genetik (DNA), yang dihambat
oleh integrase inhibitors (II).
MODUL 3A, Halaman 21 Mazami Enterprise© 2009
Reverse
Transcriptase
Inhibitor
Protease
Inhibitor
Integrase
Inhibitor
Entry Inhibitor
PI NRTI. NtRTI NNRTI Attachment Inhibitor, Co-receptor Antagonist Fusion Inhibitor
Obat yang termasuk NRTI antara lain zidovudin,
zalcitabine, abacavir, didanosine, stavudine,
lamivudine, dan tenofovir
Obat yang termasuk NNRTI antara lain efavirenz,
nevirapine, delavirdine, dan etravirine.
Yang termasuk golongan PI antara lain saquinavir,
amprenavir, ritonavir, indinavir, lopinavir, dan
Manfaat Terapi ARV :
1. Memperbaiki status kesehatan dan kualitas hidup
2. Menurunkan rawat inap akibat HIV
3. Mencegah Infeksi oportunistik
4. Menurunkan angka penularan HIV dari ibu ke anak
dan kepada orang lain
Prinsip pemberian ARV selama kehamilan,
persalinan, dan setelah melahirkan
Untuk PPIA , kehamilan adalah indikasi pemberian ARV tanpa
melihat nilai CD4. Akan tetapi pemeriksaan CD4 tetap harus dilakukan
apabila ada sarana sebagai base line (data awal) yang diperlukan
untuk follow up pengobatan.
Jika
perempuan
dengan
HIV
sudah
menerima
ARV,
maka
PRINSIP PEMBERIAN ARV SELAMA KEHAMILAN,
PERSALINAN, DAN NIFAS
Perempuan dewasa dengan HIV yang sudah mendapatkan ARV,
saat hamil, teruskan ARV dengan rejimen yang sama.
Perempuan dengan HIV yang diketahui statusnya pada saat
kehamilannya, segera mulai terapi ARV sedini mungkin tanpa
memandang umur kehamilan, stadium klinis dan jumlah
CD4 (Panel ahli tahun 2013)
•
Pengobatan pencegahan kotrimoksasol (PPK) pada ibu
hamil hanya diberikan apabila ibu hamil berada pada
stadium klinis 2 , 3 atau 4
•
PPK tersebut diberikan selama 2 minggu, dilanjutkan
dengan terapi ARV. Bila kondisi klinis baik, maka ibu
hamil dapat langsung diberikan ARV.
Golongan Nama Generik Singkatan Nama Dagang Sediaan Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI)
Zidovudin AZT, ZDV Retrovir, Zidovex, Reviral Kapsul/tablet 300mg;kapsu l 100mg Lamivudin 3TC Epivir, Lamivox, Hiviral Tablet 150 mg; Larutan 10 mg/mL; Tablet 150 Mg Stavudin d4T Zerit, Stavex Kapsul 30 mg, 40 mg
Didanosin ddI Videx Tabletkunyah: 100 mg Non Nucleoside ReverseTranscrip tase Inhibitor (NNRTI) Nevirapin NVP Viramune, Nevirex Tablet 200 mg
Efavirens EFV Stocrin,
MODUL 3A, Halaman 28
Penurunan CD4 & komplikasi HIV
ART
HAART= Highly Active Anti Retroviral Therapy
Pemakaian HAART akan mencegah terjadinya komplikasi infeksi oportunistik pada pasien dengan HIV
Pemberian ARV pada Ibu Hamil
Pedoman ARV 2007 Pedoman PPIA tahun 2012
Panel Ahli tahun 2013
• stadium klinis 1 dan 2 apabila CD4 < 200 sel/mm3 •Stadium klinis 3 apabila CD4 < 350 sel/mm3 •Stadium klinis 4 berapapun nila CD4 nya • mulai terapi ≥ 14 minggu kehamilan pada ibu hamil HIV dengan stadium klinis 1 atau CD4 >350 sel/mm3
• pada ibu hamil ≤ 14 minggu
kehamilan dengan stadium klinis 2,3,4 atau CD4 < 350
Mulai Terapi ARV sedini mungkin, tanpa
memandang
umur kehamilan, stadium klinis dan jumlah CD4
NO SITUASI KLINIS REKOMENDASI PENGOBATAN
1 ODHA hamil segera terapi ARV
Datang pd saat persalinan dan belum TX ARV, Tes reaktif ARV TDF (1X300 mg) + 3TC (atau FTC) (1X300 mg) + EFV (1X600 mg) Alternatif: AZT (2x300mg) + 3TC (2x150mg) + EFV* (1x600mg) TDF(1x300mg) + 3TC (atau FTC) (1x300mg) + EFV (1x600mg)
2 ODHA sedang menggunakan ARV dan kemudian hamil
Lanjutkan dengan ARV yang sama selama dan sesudah persalinan
3 ODHA hamil dengan hepatitis B yang memerlukan terapi
TDF (1x300mg) + 3TC (atau FTC) (2x150mg) + NVP (2x200mg) atau
TDF (1x300mg) + 3TC (atau FTC) (1x300mg) + EFV (1x600mg)
4 ODHA hamil dengan tuberkulosis aktif
Bila OAT sudah diberikan, maka dilanjutkan. Bila OAT belum, maka diberikan terlebih dahulu
sebelum ARV. Rejimen untuk ibu: Bila OAT sdh diberikan dan TB telah stabil: AZT (d4T) + 3TC + EFV
1. Minum Roboransia
2. Pola Hidup Sehat:
• Cukup nutrisi, cukup istirahat, cukup olahraga • Tidak merokok, tidak minum alkohol
3. Menggunakan kondom:
• Mencegah infeksi baru (bila pasangan non odha) • Mencegah superinfeksi (bila pasangan odha)
Sikap:
MODUL 4, Halaman 32
Kondisi ibu baik
Tidak terjadi penularan
Ke BayiKe Tim Penolong Ke Pasien lainnya
Tindakan efektif dan efisien
Tujuan Penatalaksanaan Obstetri
MODUL 4, Halaman 33
Risiko penularan masa persalinan
Mazami Enterprise© 2009
His tekanan pada plasenta meningkat
Terjadi sedikit pencampuran antara darah ibudengan darah bayi
Lebih sering terjadi jika plasenta meradang/ terinfeksi
Bayi terpapar darah dan lendir serviks
pada saat melewati jalan lahir
Bayi kemungkinan terinfeksi karena
menelan darah dan lendir serviks pada
saat resusitasi
MODUL 2,
1. Persalinan:
• Seksio sesarea
• Pervaginam BILA ARV teratur minimal 6 bulan, viral load tidak terdeteksi.
• Hindari vacum, forseps extraksi, bila terpaksa pilih forceps.
• Hindari amniotomi dan episiotomy. • Hati2 melakukan suction.
2. Laktasi:
• Susu Formula Eksklusif (bila memenuhi syarat AFASS) • ASI Eksklusif (max 6 bln) dgn ARV bagi ibu dan bayi
Tidak boleh Makanan Campuran (Mix Feeding) !!!
Meminimalkan paparan janin/bayi dengan cairan
tubuh ibu HIV positif
Pemilihan rute persalinan tergantung
Indikasi obstetri
Status PPIA: ARV & viral load
Kesiapan petugas medis: Kewaspadaan
universal, SDM, sarana medis & non medis
Penatalaksanaan Persalinan
Persyaratan untuk persalinan pervaginam
Ibu minum ARV teratur lebih dari 6 bulan,
dan/atau
MODUL 4, Halaman 36
Mazami Enterprise© 2009
Kewaspadaan standar
Dilakukan pada SEMUA penatalaksanaan
persalinan baik per vaginam maupun seksio sesaria
Penatalaksanaan Persalinan
Prinsip kewaspadaan standar
Cuci tanganPenggunaan alat pelindung diri (topi, kacamata, masker, apron, sarung tangan, sepatu) untuk
mencegah transmisi infeksi melalui cairan Penanganan alat medis tajam, baik dalam
penggunaan, serah terima, penyimpanan maupun pembuangan sebagai limbah medis
Penerapan budaya aman dalam kamar operasi dan kamar bersalin
MODUL 4, Halaman 39
Mazami Enterprise© 2009
Seksio sesarea elektif
Merupakan cara persalinan yang memiliki risiko transmisi terkecil Akan mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi sebesar 50-66%
Persalinan pervaginam
Risiko penularan meningkat apabila terjadi Proses Persalinan (inpartu) dan Ketuban Pecah Dini
Bila terjadi KPD 4 jam atau lebih, pertimbangkan percepat persalinan
MODUL 4, Halaman 40
Mazami Enterprise© 2009
Perawatan nifas umum
Pemeriksaan tanda vital, involusi uterus Higiene genitalia dan payudara
Nutrisi cukup, istirahat cukup
Perawatan nifas khusus
Pastikan ibu telah menentukan pilihan pemberian makanan untuk bayi
Supresi laktasi apabila ibu memilih untuk tidak menyusui
MODUL 4, Halaman 41
Mazami Enterprise© 2009
Perawatan berkelanjutan pasca nifas
Hasil pemeriksaan/tes HIV pada bayi diinformasikan kepada dokter spesialis obsgin yang merawat ibu, sebagai bagian penilaian keberhasilan penerapan PMTCT dalam institusi kesehatan, serta
memperkuat kinerja Tim PMTCT
Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (CST) lanjutan bagi Odha, termasuk penatalaksanaan infeksi oportunistik
Pemeriksaan ginekologi rutin, Inspeksi Visual Asam asetat (IVA) dan Pap smear (bila memungkinkan)
Prinsip Kontrasepsi
1.
Setiap perempuan dengan HIV diberikan konseling mengenai
risiko penularan HIV terhadap bayi yang dikandungnya
2.
Tundalah kehamilan sampai kesehatan secara umum baik
3.
Sebaiknya perempuan dengan HIV tidak hamil lagi, kontrasepsi
mantap dianjurkan
Pencegahan dan penundaan kehamilan pada
ibu dengan HIV
Pilihan kontrasepsi berdasarkan urutan prioritas untuk ibu
dengan HIV :
1.
Kontrasepsi mantap atau sterilisasi: dengan adanya risiko
penularan HIV ke bayi, bila ibu dengan HIV sudah memiliki
jumlah anak yang cukup, dipertimbangkan kontrasepsi
mantap.
2. Kontrasepsi jangka panjang:
a.
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR): metoda ini
disarankan bila risiko IMS rendah
dan pasangannya
tidak berisiko IMS. Sebaiknya pemasangan dilakukan
segera setelah plasenta lahir, walaupun tidak tertutup
kemungkinan dipasang pada fase interval.
Pilihan Kontrasepsi Berdasarkan urutan Prioritas
Kontrasepsi hormonal
Perempuan HIV
Dalam terapi ARV Tidak dalam terapi ARV
Pil KB kombinasi √
Pil progesteron √
Suntik progesteron jangka panjang (DMPA)
√ √
Implan progesteron √
Hormon estrogen mempunyai efek menurunkan efektivitas ARV. Progesteron mempunyai efek sedikit meningkatkan efektivitas ARV. Namun, sebaiknya tetap diperhatikan pada penggunaan polifarmasi (misalnya perempuan HIV dengan
tuberkulosis), karena semua kontrasepsi hormonal dimetabolisme di hati, demikian juga ARV. Penggunaan keduanya dalam jangka panjang memperberat fungsi hati.
Outcome
PMTCT Bayi HIV (-) Follow up rutin Bayi HIV (+) PCR kedua untuk konfirmasi Lanjutkan kotrimoksasol Konseling utk ARTWaktu Pemeriksaan
4-6 minggu:
PCR HIV
4-6 bulan:
PCR HIV
18 bulan:
Antibodi HIV
Nutrisi bayi yang belum diketahui status
HIV-nya
1.
Didahului konseling terkait risiko penularan HIV sejak sebelum
persalinan
2.
Pengambilan keputusan oleh ibu/keluarga setelah konseling
lengkap → harus didukung
3.
Pilihan harus antara ASI saja atau susu formula saja
4.
Sangat tidak dianjurkan pemberian ASI bersama susu formula
(menyusui campur/mixed feeding)
5. Ibu boleh memberikan susu formula bagi bayinya yang HIV atau
tidak diketahui status HIVnya jika seluruh syarat AFASS terpenuhi
(affordable, feasible, acceptable, sustainable, safe)
6.
Bila syarat AFASS terpenuhi maka ASI dihentikan dan diberikan
susu formula dengan penyiapan yang baik
Metode pemanasan ASI
1. Cara cepat (flash heating)
Letakkan ASI perah dalam wadah terbuka berbahan gelas dalam panci berisi air, panaskan panci sampai air mendidih. Matikan api, segera angkat ASI
perah, tutup dan biarkan berangsur dingin
2. Pasteurisasi cara Pretoria
letakkan ASI dalam tempat berbahan gelas, tutup,
masukkan dalam air panas yang sudah dididihkan selama 20 menit, lalu angkat dan biarkan dingin
ARV profilaksis pada bayi
Pemberian AZT (Zidovudine) pada bayi prematur:
Bayi prematur <30 minggu : 2 mg/kgBB/12 jam selama 4 minggu, kemudian 2 mg/KgBB/8 jam selama 2 minggu terakhir
Bayi prematur 30-35 minggu: 2 mg/kgBB/12 jam selama 2
minggu pertama, kemudian 2 mg/kgBB /8 jam selama 2 minggu diikuti 4 mg/KgBB/12 jam selama 2 minggu terakhir
Nevirapine tidak lagi diberikan: berkaitan dengan risiko resistensi jika kemudian bayi perlu mendapatkan ART
Profilaksis Kotrimoksasol
Diberikan pada semua bayi terekspos HIV (bayi lahir dari ibu HIV) dari usia 6 minggu (termasuk atau tidak dalam program PMTCT) sampai usia 12 bulan bila klinis baik atau sampai terbukti bayi tidak terinfeksi HIV
Pemberian dilanjutkan bila bayi terinfeksi HIV
Mencegah Pneumocystis Jirovecii Pneumonia dan juga efektif mencegah toxoplasmosis dan beberapa infeksi bakteri seperti
Salmonella, Haemophilus, Staphylococcus
Imunisasi
Bayi yang terpapar HIV harus mendapat imunisasi
sesuai dgn jadwal Kemkes RI atau IDAI untuk melindungi
dari berbagai penyakit
Prinsip umum: tidak memberi vaksin hidup bila sudah
terdapat gejala infeksi HIV
Dukungan psikologis, sosial dan
perawatan kepada ibu dengan HIV
beserta bayi & keluarganya
Halaman 56
Multiple medications/multiple
doses and ADHERENCE IS
CRITICAL resistances of ARV
HIV is a CHRONIC ILLNESS
that requires long term
treatment (for life)
Individuals with HIV disease
may be STIGMATIZED
CLINICAL AND LABORATORY
MONITORING are necessary
to demonstrate
effectiveness and identify
side effects
MODUL 4,